PROGRAM KERJASAMA INDONESIA, MALAYSIA, THAILAND GROWTH TRIANGLE TERKAIT PERKEMBANGAN WISATA
HALAL DI INDONESIA PERIODE 2017-2018 Berlian Rizqiany Dewi Maria
Abstract
The purpose of this research is to analyse the Cooperation of Indonesia, Malaysia, Thailand- Growth Triangle (IMT-GT) Program on the Development of Halal Tourism in Indonesia Period 2017-2018. This research is using qualitative method. The technique of data collections are library research from books, journals, websites and interview. This research is using International Economy Cooperation, Halal Tourism and Tourism. The result of this research describe The results of this study explain how the sub-regional cooperation, implementation, strategy, understanding, implementation until the results of IMT-GT to encourage Halal Tourism in Indonesia especially in the cross border region of Sumatra by carrying the concept halal tourism and Muslim friendly. From the results of this research it can be concluded that the Halal Tourism conducted by the government to Indonesian halal tourism supported by IMT-GT is a successful to get the high attention of the Indonesian society and give the culture understanding of halal living to the people in Indonesia.
Keywords: IMT-GT, Program Cooperation IMT-GT, Halal Tourism IMT-GT, Working Group of Halal Products.
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan Program Kerjasama Indonesia, Malaysia, Thailand Growth Triangle (IMT-GT) Terkait Perkembangan Wisata Halal Periode 2017-2018.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data yaitu studi kepustakaan berupa buku, jurnal, situs web, dan wawancara. Di dalam penelitian ini, teori atau konsep yang digunakan antara lain kerjasama ekonomi internasional, wisata halal, dan Pariwisata.
Hasil penelitian ini menjelaskan bagaimana kerjasama sub- regional IMT-GT, pelaksanaan program kerjasama, strategi, pemahaman, penerapan, pelaksanaan hingga hasil program kerjasama yang dilakukan IMT-GT dalam mendorong wisata halal di Indonesia terutama di wilayah perbatasan lintas Sumatera dengan mengusung konsep muslim friendly, halal tourism, dan wisata halal. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa wisata halal yang dilakukan oleh pemerintah terhadap wisata halal Indonesia yang di dukung oleh IMT-GT berhasil untuk dapat mendapatkan perhatian dari masyarakat Indonesia yang tinggi dan memberikan kesadaran halal living kepada masyarakat Indonesia.
Kata Kunci: IMT-GT, Program Kerjasama IMT-GT, Halal Tourism IMT-GT, Working Group of Halal Products.
PENDAHULUAN
Kerjasama internasional sangat dibutuhkan di era globalisasi ekonomi seperti yang sedang terjadi pada globalisasi ini, terutama untuk negara- negara yang sedang berkembang karena dengan bekerjasama negara-negara tersebut dapat mempercepat proses pembangunan negara tersebut.
Kerjasama sub-regional Indonesia, Malaysia, Thailand – Growth Triangle dibentuk oleh pemerintah dari perwakilan ketiga negara tersebut.
Terjadinya pemebentukan kerjasama sub- regional ini dikarenakan adanya konektivitas antar lintas bantas yang melibatkan 32 provinsi yaitu 14 provinsi di Thailand selatan, 8 negara dibagian
Semenanjung Malaysia, dan 10 provinsi Sumatera di Indonesia. Kegiatan ini mencakup mengenai pengembangan ekonomi terutama pada industri halal di sektor pariwisata halal.
Kerjasama sub regional di Indonesia salah satunya diawali oleh bagian utara ASEAN, yakni kerjasama sub-regional IMT-GT. Sejak tahun 1993 negara- negara anggota IMT-GT mulai melakukan pertemuan-pertemuan untuk perencanaan kerjasama IMT-GT kedepannya. IMT-GT menyediakan kerangka kerja untuk mempercepat kerjasama ekonomi dan integrasi negara- negara anggota dan provinsi ditiga negara tersebut. IMTGT terbentuk karena adanya persamaan budaya, semangat serumpun dan struktur geografis yang sangat mendukung adanya kerjasama tiga negara ini.
Salah satunya kerjasama IMT- GT dalam sektor wisata halal yang fokusnya untuk meningkatkan standarisasi halal terutama di Indonesia.
Pada tahun 2017 Indonesia mulai untuk serius meningkatkan sector wisata halalnya, hal ini di sadari oleh Indonesia bahwa wisatawan Muslim butuh adanya pengakuan label halal di setiap makanan dan minuman. Pada tahun 2018 lalu, Indonesia menempati urutan kedua sebagai negara tujuan wisata halal berdasarkan data yang dihimpun dari dokumen Global Muslim Travel Index 2018 (GMTI 2018) hanya kalah dari Malaysia yang menempati urutan pertama sebagai destinasi wisata halal yang paling diminati bagi para wisatawan Muslim dunia (Global Muslim Travel Index, 2018).
Berdasarkan dokumen tersebut ada sejumlah kriteria dalam penilaian suatu negara dalam menjadikannya sebagai destinasi wisata halal dan muslim friendly seperti kemudahan dalam mengakses kunjungan dan faktor
komunikasi yang mana menjadi hal penting bagi wisatawan untuk interaksi.
Selain dua kriteria tersebut ada pula penilaian kualitas pelayanan dan keadaan faktor lingkungan. Dari keempat kriteria yang telah disebutkan Malaysia menjadi negara nomor satu sementara Indonesia berada di urutan kedua. Kriteria yang mengangkat Indonesia adalah komunikasi dan kualitas pelayanan yang diberikan.
Meskipun kalah dari Malaysia, dua faktor kriteria tersebut yang mampu membantu Indonesia berada di urutan kedua. Menjadi negara dengan urutan kedua sebagai destinasi wisatawan muslim bukanlah hal yang buruk bagi Indonesia. sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim di dunia membuat Indonesia terus mengembangkan potensi wisata halal yang ramah bagi wisatawan Muslim.
Dalam upayanya
mengembangkan potensi wisata halalnya, Indonesia memanfaatkan koneksi dengan Malaysia dan Thailand yang mana ketiganya membentuk forum organisasi sub-regional IMT-GT.
Indonesia tidak sungkan dalam kapasitasnya sebagai pesaing terdekat Malaysia terkait wisata halal dengan mencoba mempelajari bagaimana Malaysia dapat memaksimalkan potensi wisata halalnya dalam menarik wisatawan Muslim. Dua negara teratas itupun bekerjasama membantu pengembangan potensi wisata halal di Indonesia dengan sejumlah program yang membuka kesempatan untuk berbagi informasi. Dengan adanya langkah tersebut Indonesia mencoba mengikuti informasi yang diberikan oleh Malaysia.
Dalam pangsa pasar halal global Malaysia menempati urutan ketiga dari sepuluh negara terbesar di dunia yang paling diminati di antara sejumlah negara Islam di dunia. Pasar halal global
terus tumbuh dan berkembang pesat di tengah keadaan ekonomi global yang berubah. Hal itu dikarenakan salah satu pasar wisatawan dengan pengeluaran tertinggi di dunia, destinasi, bisnis, dan entitas terkait perjalanan perlu mengembangkan strategi secara efektif untuk melibatkan dan menarik segmen ini ke tujuan mereka. Pasar halal Muslim berada pada jalur untuk melanjutkan pertumbuhannya yang cepat untuk mencapai USD 220 miliar pada tahun 2020. Diperkirakan akan tumbuh USD 80 miliar hingga USD 300 miliar pada tahun 2026. Pada tahun 2017, diperkirakan ada 131 juta pengunjung Muslim. kedatangan secara global - naik dari 121 juta pada tahun 2016 dan ini diperkirakan akan tumbuh menjadi 156 juta pengunjung pada tahun 2020 yang mewakili 10 persen dari segmen perjalanan (Global Muslim Travel Index, 2018).
Ada beberapa faktor kunci yang membantu peningkatan pasar halal global seperti meningkatnya pertumbuhan penduduk Muslim dunia, usia populasi muslim dunia yang paling muda di antara pemeluk agama lain di dunia, kelas menengah yang terus bertambah, meningkatnya akses informasi di tengah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi terkait perjalanan wisata, pelayanan yang baik pada skema muslim friendly, wisata Ramadan, hingga perjalanan bisnis bagi pengusaha.
KERANGKA ANALISIS
Dengan menganalisa penelitian skripsi yang berjudul “Program Kerjasama Indonesia-Malayasia- Thailand Growth Triangle Terkait Perkembangan Wisata Halal di Indonesia Periode 2017-2018”, konsep pertama yang digunakan penulis adalah kerjasama ekonomi internasional merupakan pertukaran aktivitas dalam
berbagai bidang maupun negara, dan kerjasama dalam produksi, ilmiah dan kerjasama teknologi, transportasi internasional, pariwisata, hubungan keuangan, layanan domain. Jika kita melihat kerjasama ekonomi internasional dalam arti sempit, kita dapat mendefinisikannya sebagai bentuk kolaborasi, antara dua atau lebih negara atau entitas dari berbagai negara yang menggunakan berbagai cara untuk tujuan mencapai industri tertentu, seperti pertanian, komersial, teknis ilmiah, tujuan wisata atau lainnya. Dalam pengertian ini, kerjasama ekonomi bukanlah pertukaran komersial atau transfer barang, jasa dan modal dari satu negara ke negara lain untuk mewakili yang umum dalam penggunaan sumber daya dan sarana semua mitra (Caraiani &
Georgescu, 2013). Pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan orang untuk sementara waktu, yang diselenggarakan tempatnya semula, dengan suatu perencanaan dan dengan maksud bukan untuk berusaha atau mencari nafkah di tempat yang dikunjungi, tetapi semata-mata untuk menikmati kegiatan pertamasyaan dan rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beraneka ragam (Marpaung, 2002).
Hal yang menjadi penting bagi wisatawan muslim adalah kebutuhan privasi sebagai seorang muslim seperti disediakan tempat renang, fasilitas olah raga, serta tempat wisata yang dapat memberikan batasan antara laki-laki dan perempuan. Beberapa hal yang penting diperhatikan dalam layanan wisata halal, yaitu: (1) harus meme nuhi setidaknya dua aspek seperti fasilitas sholat dan makanan halal, (2) terpenuhi fasilitas toilet dengan air yang baik dan ada layanan maupun fasilitas saat bulan puasa, (3) selain itu dianjurkan untuk tidak ada aktivitas minuman beralkohol serta tentunya layanan rekreasi yang baik (Global Muslim Travel Index , 2017).
METODE PENELETIAN
Dalam menyusun penelitian ini, peneliti akan menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif analitis. Pengertian deskriptif analitis, yaitu suatu cara untuk membuat gambaran dan situasi yang menjadi bagian permasalahan yang akan diteliti.
Menurut Creswell, pendekatan kualitatif adalah suatu proses penelitian dan pemahaman yang berdasarkan pada fenomena sosial dan masalah manusia.
Selanjutnya, untuk memaparkan tentang bagaimana program kerjasama IMT-GT terkait perkembangan wisata halal di Indonesia periode 2017-2018 menggunakan penelitian kualitatif (Creswell, 1997).Jenis dan Sumber Data yang digunakan berupa data Sekunder dalam penelitiannya. Data Sekunder diambil dari studi pustaka berupa online maupun offline dari pengumpulan data dan informasi melalui buku, artikel jurnal, ataupun media cetak dan media elektronik yang dianggap memiliki bobot yang tinggi dan relevan dalam data informasi yang ditulisnya.
PEMBAHASAN
Berdasarkan isi dari hasil blueprint 2012-2016 yang kerap dilakukan di berbagai daerah perbatasan Indonesia, Malaysia, Thailand yaitu dengan tujuan untuk menambah jumlah kunjungan para wisatawan asing maupun wisatawan Muslim mancanegara untuk berwisata ke Indonesia. Perkembangan pariwisata halal muncul sebagai sebuah tonggak baru dalam mewujudkan sebuah jaminan produk halal menjadi suatu kebutuhan bagi masyarakat. Halal tidak hanya milik masyarakat muslim saja, melainkan telah menjadi kebutuhan banyak lapisan masyarakat dunia.
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan dalam sebuah
forum kerjasama Indonesia, Malaysia, Thailand-Growth Triangle yang merupakan sebuah forum kerjasama yang tujuannya untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi negara anggota agar terjadi pemerataan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat (Wisnubro, 2017). Seperti yang dibahas dalam implementation blueprint 2012-2016 bahwa perdagangan global produk dan layanan halal dapat menghasilkan peluang pertumbuhan lebih lanjut, karena kesadaran yang lebih besar dan ketersediaan alternatif halal yang dapat dipromosikan (ADB, 2012).
Produk dan layanan halal penting bagi sub-regional IMT-GT karena jumlah penduduk Muslimnya yang besar. Karena meningkatnya permintaan makanan halal maka perusahaan- perusahaan di seluruh dunia mencari sertifikasi halal otentik untuk mendapatkan kepercayaan konsumen dan memperluas pasar mereka yang ada.
untuk menanggapi permintaan global maka negara-negara IMT-GT telah mengakui perlunya mengembangkan standar halal yang diterima secara internasional dalam produksi, pemasaran, dan logistik, termasuk produksi dan fasilitas transportasi.
Kerjasama sub-regional IMT-GT merupakan langkah lanjutan dalam pengembangan peluang pendapatan negara yang signifikan di bidang sektor pariwisata khususnya di Indonesia.
Melalui Joint Statement IMT-GT ke-8 yang berisi bahwa dengan adanya kemajuan yang dibuat dalam implementation blueprint 2012-2016 para Menteri bertugas untuk mempercepat proyek kerjasama di bidang produk dan layanan halal terutama sains dan teknologi halal, kolaborasi dalam kesesuaian halal terutama dalam membuat standard pariwisata halal (ASEAN, 2017).
Menurut data World Islamic Economic Forum Foundation 2016, jumlah wisatawan dan pelancong Muslim telah meningkat setiap tahun.
Pengeluaran yang berhubungan dengan perjalanan mereka diperkirakan tumbuh dari USD 145 Milyar pada 2014 menjadi USD 200 Milyar pada tahun 2020.
Dengan tren pengunjung Muslim yang mengalami peningkatan maka melalu kerjasama IMT- GT, Kementerian Pariwisata Indonesia berusaha menarik untuk memenuhi kebutuhan sektor Muslim Friendly Tourism dengan memperluas pasar dan menyediakan kebutuhan wisatawan Muslim dari seluruh dunia (WIEF, 2016). Di IMT-GT sendiri terdapat working groupnya sendiri yaitu ada wisata dan ada halalnya. Dalam wisata halal ini Kemenag lebih terlibat pada agenda produk halalnya dan juga sebagai pengakomodir. Pengertian halal di Indonesia lebih luas dari luar negeri, bila diluar halal hanya sebatas makanan namun di Indonesia lebih menyeluruh hingga pada produk dan jasa yang halal.
Sesuai dengan tugasnya Kementerian Pariwisata untuk menyusun program pemasaran wisata halal strategis, maka di tahun 2017 diadakan Working Group of Halal Products and Services yang berlangsung di Jakarta merupakan kelompok kerja yang bertugas untuk menindaklanjuti dan mengimplementasikan kesepakatan kerja sama sektor pariwisata halal di wilayah IMT-GT seperti di Aceh dan Bangka Belitung. Working Group of Halal Product sendiri dalam mengembangkan ekonomi halal.
Indonesia memiliki pasar halal internal yang besar mengingat fakta bahwa ia memiliki populasi Muslim terbesar di dunia dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Ini juga merupakan sumber bahan baku penting. Malaysia memiliki ekosistem halal yang relatif berkembang
dan merek halal yang kuat. Kekuatan Thailand terletak pada sains dan teknologi halalnya.Ketiga pemerintah Indonesia, Malaysia, dan Thailand memberikan dukungan kuat untuk mempromosikan industri Halal masing- masing.Membangun kekuatan satu sama lain, seperti melalui berbagi pengetahuan dan praktik terbaik, transfer teknologi, mengembangkan rantai nilai lintas batas, dan penerimaan standar halal, subregion memiliki potensi kuat untuk menjadi pusat halal yang penting.
Menurut Caraiani dan Georgescu, Kerjasama ekonomi internasional didefinisikan menjadi suatu pertukaran aktivitas dalam berbagai bidang. Dalam hal ini, negara- negara yang tergabung dalam IMT-GT bekerjasama dalam bidang industri pariwisata dengan melakukan beberapa kerjasama terkait bidang tersebut.
Industri pariwisata IMT-GT adalah keanekaragaman budayanya, keindahan alam dan ekosistemnya yang unik. Ini ditambah dengan peningkatan konektivitas transportasi dan infrastruktur pariwisata telah menjadikan IMT-GT salah satu tujuan wisata top di dunia. Tempat-tempat seperti Aceh, Penang, Melaka, Phuket dan Krabi selalu menjadi salah satu daya tarik terbesar bagi pengunjung IMT-GT.
Kekuatan sektor ini dimanifestasikan oleh pertumbuhan yang stabil dalam kedatangan pengunjung domestik.
Dengan intervensi yang tepat, industri ini dapat berkontribusi secara signifikan terhadap pembangunan berkelanjutan dan tujuan inklusif Visi 2036. IMT-GT memiliki berbagai target yang harus dicapai dalam langkah pengembangan pariwisata khususnya pada bagian pembatasan tiga negara. Upaya awalnya adalah meningkatkan jumlah penerimaan pada sektor datangnya turis asing di wilayah perbatasan. Diketahui melalui WGT, IMT-GT telah
meningkatkan jumlah wisatawan asing ke wilayahnya sehingga pada 2021 nanti di perkirakan jumlah wisatawan tersebut kian meningkat. Selama periode Implementation Blueprint 2017-2021 IMT-GT bertujuan untuk menjadi tujuan wisata top yang berkelanjutan, inklusif dan kompetitif.
Sail Sabang merupakan salah satu yang ada di agenda IMT-GT dan langkah awal Indonesia di sektor pariwisata dalam bidang maritim yaitu hadir melalui acara wisata yang berada di salah satu destinasi pariwisata. Agenda ini sudah lama terjalin dan juga mendorong kebangkitan pariwisata di Indonesia. Aceh merupakan salah satu dari sepuluh provinsi di Indonesia yang menjadi bagian dari program IMT-GT yang berdiri 1991 dan diresmikan di Langkawi, Malaysia pada tahun 1993.
Tujuan dari Sail Sabang ini adalah percepatan. Sail Sabang sendiri merupakan tradisi rally maritime yang rutin diselenggarakan setiap tahun oleh Yayasan Cinta Bahari Indonesia (YCBI).
Sail Sabang merupakan acara tahunan yang digelar sejak 2009 yang tidak saja bertujuan untuk meningkatkan wisata bahari dan menjadikan Sabang sebagai tujuan wisata bahari kelas dunia, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal. Terdapat empat Kementerian yang berperan dalam meyukseskan Sail Sabang yaitu Kementerian Pariwisata, Kementerian Perhubungan, Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman, dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Merdeka, 2017).
Pemerintah Aceh telah melakukan berbagai persiapan dan rangkaian acara dalam menyambut perhelatan Sail Sabang termasuk diantaranya dengan membenahi dan membangun hotel-hotel baru serta mengembangkan berbagai tempat tujuan wisata. Diantara beberapa kegiatan
persiapan Pemerintah Aceh melakukan promosi Sail Sabang 2017 melalui media-media. Puncak kegiatan diselenggarakan pada tanggal 2 Desember 2017 yang langsung dibuka oleh wakil presiden Republik Indonesia.
Sail Sabang 2017 merupakan acara Sail yang kesembilan digelar di Indonesia.
Sail Sabang 2017 diselenggarakan pada 28 November - 5 Desember 2017 di Teluk Sabang dan Gapang Resort di Aceh. Acara yang rutin digelar sejak tahun 2009 ini menampilkan pagelaran budaya Aceh dengan sejarah Islam yang kental. Dalam rangka mempromosikan interaksi sosial dan budaya intra ASEAN yang lebih dalam. Pariwisata Aceh semakin berkembang hal ini terbukti dengan semakin membaiknya branding wisata Aceh di mata wisatawan maka semakin banyak ragam paket wisata sesuai keunikan daerah dan semakin tinggi minat masyarakat untuk terlibat dalam industri pariwisata. Beragam acara diselenggarakan untuk meramaikan acara Sail Sabang.
Sejumlah kegiatan sebagai acara pendukung juga digelar antara lain Jambore Iptek, International Freediving Competition, Sabang Underwater Contest, Sabang Carnival, Kapal Pemuda Nusantara, Aceh Culinary and Coffee Festival, Sabang Wonderful Expo and Marine Expo, Sales Mission Cruise Operator and Yacht, juga Seminar Wisata Bahari.
Sabang merupakan salah satu destinasi unggulan di Aceh bagi para yachter dunia karena memiliki taman laut yang indah dan lokasi strategis.
Selain karena keindahan Sabang, Kementerian Pariwisata ungkap tujuan menghadirkan gelaran Sail Sabang 2017.
Melalui event Sail Sabang membuat jalur Regatta Yachting Golden Triangle Saphula. Yaitu dengan membuat Aceh sebagai jalur awal melalui Sabang yang mencakup kehadiran tiga negara dengan
singkatan Saphula, yaitu Sabang- Phuket-Langkawi. Regatta merupakan kumpulan dari balapan kapal pesiar yang jumlahnya sangat banyak dan didominasi wisatawan mancanegara.
Ketiga titik ini akan didorong menjadi Triangular Sailing Passage atau segitiga emas. Jalur yang memasuki tiga negara dan tiga destinasi dalam satu paket kunjungan yang ada di jalur pesiar akan menumbuhkan kunjungan wisata ke Aceh (Prodjo, 2017).
Dari adanya kegiatan Yacht Club di Phuket yang kemudian di adakan di Sabang dan Langkawi inilah yang akan membantu untuk mempromosikan tiga lokasi tersebut ke dunia internasional.
Selain itu Sabang mempercepat pembangunan ekonomi kota Aceh dengan cara membangkitkan objek wisata yang sempat tenggelam dengan dillakukannya pelabuhan bebas Sabang.
Salah satu kegiatan yang di adakan oleh Walikota Sabang dan Wakil Walikotanya ialah dengan menjadikan kota Sabang sebagai kota seribu event.
Seperti muncul kompetisi Freediving Kelas Dunia Nuansa laut tropis dan wisata bahari yang strategis. Sabang menjadi andalan dari kota dengan julukan Serambi Mekkah tersebut.
Setelah lahir di Sabang maka daerah ini akan menjadi andalan masyarakat lokal dan dan dunia dalam atraksi wisata juga semakin banyak wisatawan yang mensejahterakan area pariwisata di Sabang dan sekitar Aceh. Selain itu Sumber Daya Alam (SDA) di bidang kemaritiman terutama perikanan menjadi potensi perkembangan provinsi Aceh.
Menurut Arief Yahya, jumlah 80 persen ikan di dunia berasal dari hasil budidaya dan 20 persen dari ikan tangkap atau ikan yang dipancing oleh manusia. Pihak terkait rencananya akan membuat keramba ikan di laut dan akan dibuat di Sabang sekitar 30 meter dengan
tunjangan teknologi perikanan. Aceh International Surfing Championship 2017 yang berlangsung 26-28 Oktober di Pantai Matanurung, Kabupaten Simeulue. Sport tourism ini selain menampilkan aksi uji adrenalin para surfer juga menyuguhkan perpaduan penampilan tim seni masyarakat setempat yang menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Menteri Pariwisata, Arief Yahya menyebut bahwa dengan adanya Sail Sabang 2017 akan melahirkan dampak hebat bagi dunia pariwisata Aceh. Gaungnya bakal mendunia dan mendorong Sabang semakin kuat, maju dan bermanfaat untuk masyarakat (Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, 2017).
Di tahun 2018 Aceh dianggap sukses dan menjadi tuan rumah pelaksanaan dari (IMT-GT WGT) ke-11.
Dari pertemuan forum Working Group on Tourism membahas tentang bagaimana perkembangan pariwisata di tiga negara khususnya Aceh dalam mengembangkan program wisata Sail Sabang. Melalui forum tersebut Pemerintah Aceh akan lebih memfokuskan dalam pengembangan potensi dalam poros Sabang-Phuket- Langkawi (Saphula) untuk meningkatkan program pariwisata di tiga negara tersebut. Seperti hal yang di usulkan dalam forum tersebut yaitu pembukaan jalur penerbangan langsung dari Phuket-Krabi (Thailand) ke Sabang, dan selanjutnya ada kapal roro dengan rute Ranong (Thailand)-Sabang-Krueng Geukeuh (Aceh)-Penang/Port Klang (Malaysia), serta usulan pembukaan rute pariwisata Langkawi-Krabi-Sabang.
Pasar wisata halal sendiri semakin pesat di seluruh dunia, terutama di Asia. Oleh karena itu IMT-GT menjadi sangat penting dalam mempromosikan pariwisata halal di Aceh. Hal ini dilihat dengan adanya peningkatan pada tahun 2017 Aceh
menargetkan 2,2 juta orang wisatawan Nusantara dan 100 wisatawan asing. Dan realisasinya sebesar 2.015.838 orang merupakan pencapaian yang luar biasa yang harus terus Pemerintah Aceh tingkatkan. Kunjungan yang datang ke Sabang sebanyak 530.415 orang, Banda Aceh 672.972 orang dan Aceh Besar 582.765 orang (Wulandari, 2018).
Prestasi tersebut sekaligus juga menjadi tantangan bagi Pemerintah Aceh untuk terus memperbaiki sarana dan prasarana pendukung agar para wisatawan semakin nyaman dalam kunjungannya. Sektor ini juga diharapkan menjadi penyumbang devisa atau menjadi penyumbang Pendapatan Asli daerah (PAD).
Perbaikan sarana prasarana kemudian harus didukung dengan konsep pengembangan pariwisata yang terintegrasi antar komponennya. Sejak di Bandara maupun dipelabuhan para wisatawan sudah disiapkan rencana kunjungannya, baik untuk kunjungan langsung ke situs wisata maupun untuk menikmati kuliner atau mencari oleh- oleh untuk buah tangan sepulang dari kunjungan wisatanya. Kunjungan yang berkesan akan menjadi keuntungan bagi Aceh, apalagi Aceh Sebagai daerah dengan syariah yang kuat, semestinya harus meninggalkan kesan bahwa Aceh dengan syariatnya adalah sebuah daerah tujuan wisata yang ramah bagi siapa saja.
Dalam IMT-GT blueprint 2017- 2021 bahwa area fokus produk dan layanan halal dibangun untuk mempromosikan dan transfer pengembangan kapasitas maupun jaringan di antara pusat-pusat penelitian halal berbasis universitas. Hal ini berkaitan dengan diselenggarakannya kegiatan forum pertemuan IMT-GT yang ke 23 dari ketiga negara pada 25-29 September 2017 di Bangka Belitung.
Indonesia menjadi tuan rumah khususnya di Sivitas Akademi Universitas Bangka Belitung (UBB)
yang mendapatkan literasi dalam kiat pengelolaan pariwisata dari delegasi Malasyia. Diantaranya yaitu disampaikannya konsep “Halal Food and Tourism” yang disampaikan oleh Dr.
Nor Lelawati Jamaludin, dosen dari Universiti Teknologi MARA (UiTM), Selanggor, Malaysia. UBB menjadi tuan rumah University Network (Uninet) atau jaringan kerjasama antar universitas yang tergabung dalam negara anggota IMT- GT, salah satu bentuk konkret dari Uninet IMT-GT yaitu dengan menggelar stadium generale (kuliah umum).
Dalam pertemuan itu Nor Lelawati Jamludin menyampaikan bahwa sejumlah negara yang berpenduduk Muslim menerapkan halal food sebagai salah satu kiat dalam memikat wisatawan. Hal ini dilihat cukup untuk mendorong pada kemajuan sesktor pariwisata maupun di sektor jasa lainnya. Sejauh ini praktik atau upaya menerapkan halal food di semua sub sektor pariwisata misalnya perhotelan, usaha perjalanan, dan lain-lain. UiTM mendirikan Halalmas yang merupakan lembaga yang bukan hanya melakukan penelitian yang berkaitan dengan produk halal saja. Tapi juga terlibat aktif dalam memberikan konsultasi mengenai isu-isu halal serta pelatihan dan pengembangan bagi usaha besar, sedang dan skala kecil dalam hal memproduksi makanan halal (Gumilang, 2017).
Dijelaskan bahwa proses halal yang diterapkan tak cuma menitikberatkan tentang praktis syar’i melainkan secara keseluruhan dapat menghasilkan suatu kebersihan, kesehatan dan ketentraman bagi semua wisatawan. Manfaat yang di dapat pada semua usaha yang menerapkan konsep halal akan mendapatkan faedah dan manfaat yang besar. Adanya University Network merupakan wadah yang sangat strategis dalam hal berbagai ilmu dan teknis dalam menerapkan konsep halal di
banyak usaha dan produk di antara anggota IMT-GT. UiTM juga membuka diri bagi semua kalangan usaha manapun untuk mendapatkan ilmu dan teknis dalam menerapkan konsep halal.
Di dirikannya IMT-GT, negara- negara anggota IMT-GT bekerjasama untuk mewujudukan industri halal terutama terkait dengan konsep halal.
Adanya kerjasama ini untuk saling melengkapi kebutuhan satu sama lainnya. Sehingga dapat menjadi sebuah nilai tambah dalam mewujudkan produktivitas ASEAN. yang artinya di adakannya IMT-GT untuk memenuhi kebutuhan bersama antara Indonesia, Malaysia dan Thailand. Malaysia dalam IMT-GT merupakan negara dengan kemampuan produksi dan advokasinya yang paling unggul. Dibandingkan dengan negara lain, Indonesia dipandang kuat hanya dari segi pemenuhan bahan baku, sertifikasi dan pasar yang besar namun belum berperan penting sebagai pelaku agroindustri halal global. Maka Malaysia membantu Indonesia dengan mengikutsertakan Indonesia untuk mempromosikan wisata halalnya di acara Malaysia International Halal Showcase (MIHAS) 2018 guna untuk mempertahankan eksistensi pariwisata Indonesia di dunia, khususnya kawasan Asia Tenggara.
MIHAS menjadi perangkat penting bagi industri halal dengan melibatkan banyak pihak termasuk Indonesia yang tergabung dalam anggota IMT-GT. Hal ini menjadi kesempatan emas untuk Indonesia mengingat bahwaMIHAS merupakan platform yang tepat bagi pengusaha untuk menjangkau pasar yang lebih luas. Pada acara ini Indonesia mengirimkan 82 perusahaan dan memamerkan produk-produk terbaiknya yang sudah bersertifikat halal (Halal Corner, 2018). Adanya framework IMT- GT Blueprint 2017-2021 bahwa pada tiap anggota IMT-GT harus memberi
dukungan kuat kepada sesama anggota IMT-GT guna dalam meningkatkan wisata halal di ke tiga negara. Hal ini dilakukan dengan cara memberikan pengetahuan dengan cara belajar mengembangkan wisata halal kepada pemain industri halal yang dipaparkan oleh Malaysia. Dihadiri Mantan Perdana Menteri Malaysia keempat Tun Dr.
Mahathir bin Mohaad dan Ketua Tim Percepatan Pengembangan Pariwisata Halal, Kementerian Pariwisata Republik Indonesia, Riyanto Sofyan, BSEE. MBA (MES, 2017), Dalam diskusi tersebut dikatakan hal yang dilakukan oleh Malaysia dalam mengembangkan wisata halalnya adalah dalam pengembangan Pariwisata di Malaysia, upaya pertama yang mereka lakukan adalah menciptakan produk yang menarik untuk dijual, karena mereka sadar Malaysia tidaklah sekaya Indonesia yang memiliki banyak potensi produk wisata yang menjual seperti Borobudur, Bali, dan lain sebagainya. Upaya kedua, pengembangan connectivity (the ease of travel throughout and to Malaysia) sehingga Malaysia mudah diakses dan destinasi-destinasi bisa berkembang sehingga kesempatan bekerja dan ekonomi dapat berkembang. Ketiga, pelestarian kearifan lokal yang kental dengan gaya hidup Islami dengan pengembangan Homestay di daerah- daerah destinasi wisata yang dikembangkan sehingga dapat melibatkan semua elemen masyarakat dalam pengembangan ekonomi.
Dalam kegiatan program kerjasama yang berlangsung, Indonesia banyak belajar dari Malaysia dan Thailand dalam mengembangkan potensi wisata halal seperti meningkatkan efisiensi proses sertifikasi halal. Malaysia yang memiliki ekosistem halal yang relatif berkembang dan disertai dengan merek halal yang kuat menjadi kekuatan Malaysia dalam
menembus pasar halal dunia. Sedangkan kekuatan Thailand terletak pada sains dan teknologi halalnya.
Indonesia menyediakan pembuatan sertifikasi secara online yaitu CEROL SS-23000, yang merupakan pembuatan sertifikasi secara online tanpa batas waktu dan tempat sehingga para pelaku usaha di Indonesia dapat lebih mudah dalam melaksanakan pembuatan sertifikasi halal. Dalam setiap perusahaan yang mengajukan permohonan sertifikasi halal untuk produknya memiliki kewajiban untuk menerapkan Sistem Jaminan Halal (SJH) sesuai Standar HAS 23000 dari LPPOM MUI (LPPOM-MUI, 2018). Sistem ini dimaksudkan untuk menjaga konsistensi kehalalan produk yang dihasilkan. Selain itu diberikan juga pelatihan agar peserta memahami tahapan proses sertifikasi halal, mampu dalam pembuatan SJH dan menggunakan program aplikasi CEROL-SS23000 untuk perusahaan.
Para peserta pelatihan ini adalah anggota Tim Manajemen Halal (TMH) Usaha Masyarakat Kecil Menengah (UMKM) atau perusahaan atau bagian lain yang terkait dengan pengurusan input data dalam proses sertifikasi halal di perusahaan atau para pelaku usaha. Dari adanya pengenalan CEROL- SS23000 diharapkan masyarakat dapat mengetahui bagaimana cara membuat sertifikat halal dan perkembangan dari sertifikat halal itu sendiri.
KESIMPULAN
Berdasarkan Program Kerjasama IMT-GT Terkait Perkembangan Wisata Halal di Indonesia pada Periode 2017- 2018. Melalui rangkaian program kerjasama ini Indonesia berusaha untuk memanfaatkan keberadaan IMT-GT dalam Program Kerjasama IMT-GT Terkait Perkembangan Wisata Halal di Indonesia pada Periode 2017-2018.
Melalui rangkaian program kerjasama
ini Indonesia berusaha untuk memanfaatkan keberadaan IMT-GT dalam meningkatkan jumlah wisatawan Muslim mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia. meningkatkan jumlah wisatawan Muslim mancanegara untuk berkunjung ke Indonesia. Hal ini dilakukan dengan cara IMT-GT membantu untuk mempromosikan konsep wisata hala di Indonesia.
Dalam penyusunan kerangka kerja IMT-GT membentuk sebuah Working Group of Halal Product Services untuk mempermudah pelaksanaan serta pemantauan program halal IMT-GT. Program kerjasama ini di implementasikan dalam Festival Sail Sabang 2017 yang dilakukan di Aceh.
Tujuan adanya festival ini adalah percepatan. Sail Sabang sendiri merupakan tradisi rally maritime yang rutin diselenggarakan setiap tahun oleh Yayasan Cinta Bahari Indonesia (YCBI).
Dalam acara ini melibatkan daerah Sabang-Phuket-Langkawi. Selain itu IMT-GT juga menggelar kegiatan forum pertemuan IMT-GT yang ke 23 dari ketiga negara. Dari pertemuan itu membahas tentang bagaimana Malaysia memberikan bantuan melalui sharing program halal.
Dalam melasungkan program terkait konsep halal terutama pada lintas batas Sumatera, Indonesia mencoba memanfaatkan keberadaan kerjasama IMT- GT dalam membantu meningkatkan kualitas standarisasi wisata halal lewat strategi perkembangan industri halal yang dilakukan oleh IMT-GT. Adanya kerjasama ini untuk saling melengkapi kebutuhan satu sama lain seperti hal nya strategi dalam mempromosikan acara promosi perdagangan terkait halal dalam IMT-GT. Dengan mengikutsertakan Indonesia untuk mempromosikan wisata halalnya di acara Malaysia International Halal Showcase (MIHAS) 2018 guna
untuk mempertahankan eksistensi pariwisata Indonesia di dunia.
Selain itu Malaysia juga memberikan pengetahuan halal kepada pemain industri yaitu dengan mengedepankan dan menjaga nilai-nilai Islami dan kearifan lokal.
Mengedepankan perilaku atau akhlak yang baik, yaitu baik dalam memberikan pelayanan maupun menciptakan produk
wisata. Dari adanya strategi ini Indonesia berusaha untuk meningkatkan standarisasi halalnya melalui meningkatkan efisiensi proses sertifikasi halal. CEROL SS-23000, merupakan pembuatan sertifikasi secara online tanpa batas waktu dan tempat sehingga para pelaku usaha di Indonesia dapat lebih mudah dalam melaksanakan pembuatan sertifikasi halal.
DAFTAR PUSTAKA BUKU
Caraiani, G., & Georgescu, C. (2013).
Cooperare economica internationala. Bucuresti: Pro Universitaria.
Creswell, J. W. (1997). Qualitative inquiry and research design:
choosing among five traditions.
SAGE Publications, Inc.
Marpaung, H. H. (2002). Pengantar Pariwisata. Bandung: Bandung Alfabeta.
JURNAL
ADB. (2012). Implementation blueprint 2012-2016. IMTGT, 23.
Global Muslim Travel Index . (2017).
Global Muslim Travel Index. GMTI , 2.
IMTGT. (2015). Indonesia, Malaysiaa, Thailand Growth Triangle. IMTGT.org.
Siregar, A. (2015). Peran IMT-GT Dalam Meningkatkan Sektor Pariwisata Indonesia. Skripsi FISIP Universitas Riau, 25.
Sofyan, R. (2012). Prospek Bisnis Pariwisata Syariah. Republika, WEBSITE
ASEAN. (2017, May 3). ASEAN.
Diambil kembali dari ASEAN.org:
https://asean.org/joint- statement-tenth-indonesia- malaysia-thailand- growth- triangle-summit/
Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh.
(2017, Oktober 6). Promosikan Daerah, Simeulue Gelar Aceh International Surfing Championship 2017. Dipetik Juni 3, 2019, dari disbudpar.acehprov.go.id:
https://disbudpar.acehprov.go.i d/promosikan-daerah-
simeulue-gelar- aceh- international-surfing-
championship-2017/
Global Muslim Travel Index. (2018, April 1). Global Muslim Travel Index 2018. Diambil kembali dari www.crescentrating.com:
file:///C:/Users/ASUS/Downlo ads/X7UrOM8Y_GMITI-
Report-2018- web-
version(1)%20(1).pdf
Gumilang, L. (2017, September 27).
IMT-GT Babel, Malaysia Paparkan Konsep "Halal Food and Tourism" dalam Majukan Industri Pariwisata. Diambil kembali dari rri.co.id:
m.rri.co.id/post/berita/439060/
daerah/imtgt_babel_malaysia_
paparka
n_konsep_halal_food_and_tour ism_dalam_majukan_industri_
pariwisa ta.html
Halal Corner. (2018, April 4). Indonesia Ikut Serta MIHAS 2018.
Diambil kembali dari Halalcornenr.id:
https://halalcorner.id/indonesia -ikut- serta-mihas-2018/
Kementerian Luar Negeri RI. (2012, November 22). Kementerian Luar Negeri RI. Diambil kembali dari kemlu.go.id:
https://www.kemlu.go.id/id/ke bijakan/kerjasama-
regional/Pages/IMT- GT.aspx LPPOM-MUI. (2018, Mei 12).
Kesadaran Meningkat, Target Peserta Pelatihan Sistem Jaminan Halal (SJH) & CEROL 2018 Tercapai. Diambil
kembali dari
Halalmuibali.or.id:
https://www.halalmuibali.or.id/
kesadaran- meningkat- pelatihan-sjh-cerol-lppom-mui- bali-diminati-perusahaan/
Merdeka. (2017, November 27).
Kemenpar promosi skala internasional. Diambil kembali
dari Merdeka.com:
https://www.merdeka.com/peri stiwa/sukseskan-sail-sabang- 2017kemenpar-promosi-skala- internasional.html
MES. (2017, Agustus 18). Belajar Cara Kembangkan Wisata Halal dari Malaysia. Diambil kembali dari Ekonomisyariah.org:
http://www.ekonomisyariah.or
g/6499/belajar-cara-
kembangkan-wisata- halal-dari- malaysia/
Prodjo, W. A. (2017, Desember 02).
Setelah Sail Sabang 2017, Apa Lagi Acara Lanjutannya?
Diambil kembali dari Kompas.com:
https://travel.kompas.com/read/
2017/12/02/100700327/setelah -sail- sabang-2017-apa-lagi- acara-lanjutannya-
WIEF. (2016, April 17). Ten Muslim- Friendly Destinations. Diambil kembali dari wief.org:
http://foundation.wief.org/news /ten-muslimfriendly-
destinations/
Wisnubro. (2017, Agustus 15). JPP.
Diambil kembali dari jpp.go.id:
https://jpp.go.id/humaniora/sos ial-budaya/309542-indonesia- malaysia- thailand-bersinergi- kembangkan-produk-halal Wulandari, R. (2018, Agustus 2).
IMTGT WGT melejitkan Pariwisata Aceh. Diambil
kembali dari
bandaacehkota.go.id:
https://bandaacehkota.go.id/ja wara/imt-gt-wgt-melejitkan- pariwisata- aceh/