• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menghadapi Quarter Life Crisis Berdasarkan Sudut Pandang Alkitab

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Menghadapi Quarter Life Crisis Berdasarkan Sudut Pandang Alkitab"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Teologi Gracia Deo, e-ISSN: 2655-6863 | 1

Menghadapi Quarter Life Crisis Berdasarkan Sudut Pandang Alkitab

Michael Salomo Hahuly

Sekolah Tinggi Teologi Baptis Jakarta [email protected]

DOI: https://doi.org/10.46929/graciadeo.v4i1.102

Abstract: In this article, we discuss all things related to one phase in life that is the quarter-life crisis, and how to deal with it from a biblical point of view. A quarter-life crisis is a situation where everyone will definitely experience it. The explanation in this article covers the meaning, an indication of a person being present during the quarter-life crisis, to which aspect of life is vulnerable when a person is present during this quarter-life crisis, also how to deal with the quarter-life crisis. Looking at it from the point of view of the peace that God has given to the nation of Israel, it is hoped that it can provide motivation for everyone who is in the phase of the quarter- life crisis.

Keywords: peace, quarter-life crisis, transition

Abstrak: Dalam artikel ini membahas tentang segala hal yang berhubungan dengan salah satu fase dalam kehidupan yaitu adalah quarter-life crisis dan bagaimana cara menghadapinya berdasarkan sudut pandang Alkitab. Quarter life crisis adalah suatut keadaan dimana semua orang pasti akan mengalaminya. Penjelasan dalam artikel ini meliputi pengertian, indikasi seseorang sedang ada dalam masa quarter-life crisis, hingga aspek kehidupan mana yang rawan ketika seseorang sedang ada dalam masa quarter-life crisis ini, juga bagaimana cara menghadapi masa quarter life crisis.

Dengan melihat dari sudut pandang bagaimana damai sejahtera yang Allah berikan kepada bangsa Israel, diharapkan dapat memberikan motivasi bagi setiap orang yang sedang berada dalam fase quarter life crisis.

Kata kunci: damai sejahtera, masa peralihan, quarter-life crisis

Pendahuluan

Manusia pada hakikatnya akan mengalami beberapa tahap kehidupan, mulai dari lahir, kemudian bertumbuh menjadi dewasa, hingga sampai lanjut usia.1 Di dalam setiap melewati tahapan kehidupan tersebeut, manusia memiliki tugas serta tanggung jawab yang harus dipenuhi yang disebut sebagai perkembangan. Di dalam perkembangan tersebut, ada satu masa peralihan dari masa remaja menuju masa dewasa, dimana masa peralihan tersebut menjadi satu masa yang penting bagi setiap individu.

Pada saat ada di masa peralihan ini, seseorang mulai diperhadapkan akan kebutuhan untuk mencari tahu segala sesuatu yang ada di dalam dirinya, munculnya hasrat untuk hidup mandiri dari orang tua, adanya keinginan untuk mengembangkan

1 P. B. Baltes, U. Lindenberger, and M. U. Staudinger, “Life Span Theory In Developmental Psychology,” in Handbook of Child Psychology: Theoretical Models of Human Development, ed. R. M. Lerner and W. Damon (New Jersey: John Wiley & Sons Inc, 2006), 569–664.

(2)

Jurnal Teologi Gracia Deo, e-ISSN: 2655-6863 | 2

system nilai dalam kehidupan, serta mulai untuk menjalin hubungan dengan individu lainnya.2 Bahkan ada beberapa orang yang menganggap bahwa masa peralihan ini disebut sebagai fase yang rawan masalah, fase yang didalmnya ada banyak perubahan, fase dimana seseorang dapat mencari dan menemukan jati diri- nya, fase yang penuh dengan angan, serta fase penting untuk mencapai sebuah kedewa-saan baik jasmani maupun secara psikis.3 Biasanya di tahap ini setiap individu akan mengalami perubahan, baik kecenderungan maupun tuntutan dari yang awalnya ada dalam masa kanak-kanak beralih menjadi masa remaja.

Masa dalam tahapan tersebut disebut sebagai emerging adulthood oleh Arnett. 4 Fase ini dialami oleh individu yang berada di rentang usia 18 hingga 29 tahun.

Menurut Arnett, pada masa ini, seseorang sudah dianggap dapat meninggalkan ketergantungan yang terjadi saat masa remaja mereka, akan tetapi belum memasuki masa untuk mengemban tanggung jawab sepert yang umum dijumpai pada masa dewasa.5 Fase peralihan ini bagi sebagian besar orang dianggap cukup sulit sebab biasanya akan menghadapi berbagai problematika kehidupan. Baik dalam hal asmara, pekerjaan, pandangan hidup, maupun keuangan. Hal yang paling mendasar dalam fase ini adalah adanya peralihan dari kondisi yang sudah terbiasa dengan kebebasan menuju kondisi yang menuntut sebuah tanggung jawab besar. Di periode ini orang biasanya akan dituntut untuk bersikap lebih dewasa dalam menentukan arah tujuan hidup mereka.

Berdasarkan beberapa anggapan serta pandangan di atas, maka penulis bermak- sud untuk memberikan penjelasan tentang apa itu Quarter Life Crisis, serta bagaimana cara menghadapi masa Quarter Life Crisis apabila ditinjau dari sudut pandang Alkitab.

Metode

Dalam penulisan karya ilmiah ini, penulis menggunakan metode penelitian sebagaimana yang lazim digunakan dalam penelitian kualitatif yang terdiri dari pendekatan dan jenis penelitian, kehadiran peneliti, data dan sumber data, prosedur pengumpulan data, pengecekan keabsahan data, analisis data, tahap penelitian dan lokasi penelitian. Adapun yang dimaksud dengan penelitian kualitatif yaitu penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata- kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan meman- faatkan berbagai metode ilmiah.6

Adapun jenis pendekatan penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif kualitatif yakni penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan

2 D. E. Papalia and R. D. Feldman, Menyelami Perkembangan Manusia, 2nd ed. (Jakarta: Salemba Humanika, 2014), 74.

3 Sri Yulia Sari, “Tinjauan Perkembangan Psikologi Manusia Pada Usia Kanak-Kanak Dan Remaja,” Primary Educational Journal (PEJ), 2017, 48, http://pej.ftk.uinjambi.ac.id/index.php/PEJ/index.

4 J.J. Arnett, “Conceptions of the Transition to Adulthood: Perspective from Adolescence through Midlife,” Journal of Adult Development 8 (2) (2001): 51.

5 J.J. Arnett, “Emerging Adulthood: A Theory Of Development From The Late Teens Through The Twenties,” American Psychologist 55 (5) (2000): 37.

6 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), 6.

(3)

Jurnal Teologi Gracia Deo, e-ISSN: 2655-6863 | 3

masalah yang ada sekarang berdasarkan data-data. Jenis penelitian deskriptif kualita- tif yang digunakan pada penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh informasi mengenai bagaimana menghadapi masa Quarter Life Crisis dalam perspektif Alkitab.

Pengumpulan data merupakan salah satu tahapan sangat penting dalam penelitian.

Cara pengumpulan data yang benar akan menghasilkan data yang memiliki kredibilitas tinggi, dan sebaliknya. Oleh karena itu, tahap ini tidak boleh salah dan harus dilakukan dengan cermat sesuai prosedur dan ciri-ciri penelitian deskriptif kualitatif. Sebab, kesalahan atau ketidaksempurnaan dalam metode pengumpulan data akan berakibat fatal, yakni berupa data yang tidak kredibel, sehingga hasil penelitiannya tidak bisa dipertanggungjawabkan. Hasil penelitian tersebut sangat berbahaya, apalagi jika dijadikan dasar kebijakan publik. Dengan demikian, informasi yang ingin diperoleh menentukan jenis cara yang dipakai.

Penggunaan istilah “data” sebenarnya meminjam istilah yang lazim dipakai dalam metode penelitian kuantitatif yang biasanya berupa tabel angka. Namun, di dalam metode penelitian kualitatif yang dimaksudkan dengan data adalah segala informasi baik lisan maupun tulis, bahkan bisa berupa gambar atau foto, yang berkontribusi untuk menjawab masalah penelitian sebagaimana dinyatakan di dalam rumusan masalah atau fokus penelitian.

Hasil dan Pembahasan

Pengertian Quarter Life Crisis

Quarter Life Crisis atau krisis di usia seperempat abad adalah suatu kondisi krisis akan diri sendiri yang biasanya terjadi pada seseorang yang berusia sekitar 20 hingga 29 tahun. Seseorang yang mengalami quarter life crisis pada umumnya akan mengalami kekuatiran, tekanan mental, bahkan kekecewaan sebab dirinya merasa terjebak dalam sebuah kegelisahan yang terdapat di dalam dirinya sendiri.

Istilah quarter life crisis seperti yang disampaikan oleh Robbins dan Wilner adalah sebuah perasaan pada saat masa peralihan dari masa dalam pendidikan perguruan tinggi ke “dunia nyata”, yang biasanya mulai dari masa akhir remaja hingga pertengahan usia 30 tahun, akan tetapi perasaan tersebut biasanya lebih intens dirasakan saat usia 20 tahunan.7 Menurut beberapa para pakar psikologi seperti Atwood dan Scholtz menyebutkan bahwa quarter life crisis adalah sebuah bagian dari gejolak di quarter-life period, yaitu sebuah masa perkembangan psikis yang muncul di usia 18 hingga 29 tahun, dan biasa disebut sebagai masa transisi antara masa remaja (adolescence) ke masa dewasa (adulthood).8

Quarter life crisis adalah sebuah fenomena yang dialami oleh setiap individu yang merupakan respon terhadap munculnya ketidakstabilan, adanya perubahan yang terjadi secara terus menerus, diperhadapkan dengan banyaknya pilihan, dan

7 R. J. Nash and M. C. Murray, Helping College Students Find Purpose : The Campus Guide to Meaning-Making (San Fransisco: Jossey-Bass, 2010), 89.

8 J.D. Atwood and C. Scholtz, “The Quarter-Life Time Period: An Age of Indulgence, Crisis or Both?,” Contemporary Family Therapy 30 (4) (2008): 235, https://doi.org/https://10.1007/s10591-008-9066-2.

(4)

Jurnal Teologi Gracia Deo, e-ISSN: 2655-6863 | 4

juga rasa gelisah akibat merasa tidak berdaya.9 Ketidakstabilan tersebut dapat menyebabkan seseorang sering merasa resah, akan tetapi disaat yang bersamaan juga rasa percaya diri cenderung meningkat. Tidak jarang seseorang dapat begitu optimis pada satu jam yang lalu, dan satu jam kemudian berubah menjadi murung.

Indikasi Quarter Life Crisis

Masa quarter life crisis bisa menimbulkan bermacam berbagai tekanan serta kecemasan tertentu meliputi keraguan atas pencapaian karir, kasus finansial, meningkatnya persaingan antar anggota dalam sesuatu kelompok, maraknya isu- isu psikologi, dan ketakutan menjalakan ikatan, sehingga memunculkan reaksi stress, takut, apalagi tekanan mental.10 Agung Setiyo Wibowo dalam bukunya Mantera Kehidupan, Refleksi Melewati Fresh Graduate Syndrome dan Quarter-Life Crisis membahas sebagian cerita quarter life crisis yang dirasakan oleh sebagian orang.

Terdapat perasaan risau, pesimis, rendah, tidak berdaya, pula cerminan yang kelewatan atas kelemahan keadaan dirinya yang belum banyak melaksanakan suatu hal yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.11

Keadaan di atas menampilkan jika quarter life crisis memanglah dapat melanda siapa saja, terutama bagi mereka yang akan merambah masa emerging adulthood pada kisaran umur 18- 29 tahun, atau dapat dikatakan akan menimpa seseorang yang hendak ataupun baru menuntaskan masa belajar di universitas. Robins dan Wilner menyebutnya sebagai masa transisi dari dunia akademis ataupun academic world menuju kepada dunia yang sesungguhnya ataupun real world, dimana orang hendak diriuhkan dengan persoalan tentang bagaimana masa depannya serta apa yang sudah ataupun belum dikerjakannya di masa saat ini yang mempengaruhi bagi masa depannya.12

Menurut sebuah artikel yang dimuat oleh Urban Hire, 13, ternyata perempuan jauh lebih rentan mengalami quarter life crisis apabila dibandingkan dengan laki-laki.

Hal ini disebabkan secara umum perempuan lebih banyak menggunakan perasaan daripada logika. Akan tetapi hal tersebut tidak menutup kemungkinan bahwa laki- laki juga dapat mengalami keadaan quarter life crisis.

Urban Hire juga menguraikan suatu riset tentang kondisi laki- laki kala hadapi quarter life crisis. Memanglah laki- laki tidak mudah terkena quarter life crisis, tetapi pada saat dia menghadapi quarter life crisis, malah kalangan laki- laki yang perlu usaha lebih keras untuk dapat keluar dari zona tersebut. Para laki- laki ini

9 Alexandra Robbins and Abby Wilner, Quarterlife Crisis: The Unique Challenges Of Life In Your Twenties (New York: Tarcher Penguin, 2001), 3.

10 Allisson S. Black, “Halfway Between Somewhere And Nothing: An Exploration Between Quarterlife-Crisis And Life Satisfaction Among Graduate Student” (2010), 17, ProQuest Dissertations And Theses.

11 Agung Setiyo Wibowo, “Refleksi Melewati Fresh Graduate Syndrome Dan Quarter-Life Crisis,”

in Mantra Kehidupan (Jakarta: Elex Media Computindo, 2017), 151.

12 Black, “Halfway Between Somewhere And Nothing: An Exploration Between Quarterlife-Crisis And Life Satisfaction Among Graduate Student,” 18.

13 “Mengenal Quarter Life Crisis Dalam Karir | Urbanhire,” accessed January 9, 2021, https://www.urbanhire.com/blog/mengenal-quarter-life-crisis-dalam-karir/.

(5)

Jurnal Teologi Gracia Deo, e-ISSN: 2655-6863 | 5

memerlukan jauh lebih banyak bantuan dan juga dorongan supaya dapat keluar segera dari kondisi quarter life crisis yang mereka.

Ketika sedang berada di masa ini seringkali membuat orang yang pernah mengalami kehidupan ini menjadi orang yang penuh dengan pertanyaan tentang dirinya. Beberapa diantaranya antara lain berkenaan dengan apa dan bagaimana nanti tujuan hidupnya, motivasi yang membuat dirinya dapat mewujudkan tujuan hidupnya, serta ke mana arah hidupnya di masa sekarang maupun nanti di masa depan. Menurut survei tentang quarter life crisis yang dilakukan oleh LinkedIn 14 pada tahun 2017, mengenai quarter life crisis menunjukan hasil penelitian bahwa sebanyak 75% individu berusia antara 25 dan 33 tahun pernah mengalami quarter life crisis, dengan rata-rata usia 27 tahun. Menurut penelitian LinkedIn, 61% responden percaya bahwa saat mereka akan mencari sebuah pekerjaan yang disukai adalah penyebab utama dari quarter life crisis. Hampir 48% responden mengatakan bahwa kebiasaan sering membandingkan kehidupan mereka dengan teman yang lebih sukses membuat mereka cenderung mudah cemas.

Beradasarkan riset yang dilakukan oleh LinkedIn dapat menjelaskan bahwa orang yang telah mengalami quarter life crisis memiliki kecenderungan untuk mencari saran atau mencari nasihat dari orang lain yang sudah pernah merasakan atau pernah mengalami krisis yang sama. Hal tersebut biasa dilakukan untuk memberi masukan bagi dirinya, supaya dapat melewati masa quarter life crisis yang sedang mereka hadapi. Dan menurut survei tersebut diatas, biasanya orang yang telah mengalami masa quarter life crisis akan tetap merasa kesulitan untuk dapat menentukan arah hidup mereka. Mereka cenderung masih tidak mengetahui ke mana arah hidup mereka dan apa yang mereka cari dalam kehidupan mereka.

Area Rawan Quarter Life Crisis

Ketika seseorang sedang mengalami masa quarter life crisis semua aspek kehidu- pan terlibat dalam pikiran mereka. Aspek-aspek ini juga merupakan bidang masalah yang dihadapi oleh individu, seperti yang dipaparkan oleh Nash dan Murray15:

Mimpi dan Ambisi

Setiap individu pasti akan bertanya tentang mimpi serta ambisi akan hidupnya di masa depan, termasuk didalamnya bagaimana mereka menemukan minatnya, bagaimana apabila seseorang sudah menginjak usia tertentu dirinya belum dapat mencapai sesuatu yang menjadi mimpi dan ambisinya, sampai muncul pertanyaan dalam benak mereka bahwa apakah telah terlambat atau apakah ada cara untuk dia mengubah atau me-reset kembali mimpi dan ambisi mereka.

Tantangan Akademis

Seseorang akan mulai mempertanyakan mengapa dia harus terus belajar dan meraih karir yang luar biasa, sedangkan di sisi lain dia sudah tertarik dengan bidang

14 “New LinkedIn Research Shows 75 Percent of 25-33 Year Olds Have Experienced a Quarter-Life Crisis,” accessed January 9, 2021, https://news.linkedin.com/2017/11/new-linkedin-research-shows-75- percent-of-25-33-year-olds-have-e.

15 Nash and Murray, Helping College Students Find Purpose : The Campus Guide to Meaning-Making, 34.

(6)

Jurnal Teologi Gracia Deo, e-ISSN: 2655-6863 | 6

yang lain. Selain itu, bagaimana individu akan menghadapi kebebasan setelah menyelesaikan studi di universitas juga menjadi masalah tersendiri, apalagi jika pengalaman universitas yang ulung tidak dapat mengakomodasi perwujudan impian pribadinya.

Agama dan Spiritualitas

Hampir sebagian besar individu akan mulai mempertanyakan hal yang menyang-kut dengan masalah spiritualitasnya. Beberapa dari antaranya seperti, apakah keyakinan agamanya adalah pilihan yang tepat. Jika individu tersebut tidak lagi taat atau bahkan berubah menjadi keyakinan atau keyakinan seperti apa yang akan dianut individu di masa depan, bagaimana respon keluarga dan orang-orang terdekatnya. Atau apakah anak-anaknya nanti juga akan menganut kepercayaan yang sama seperti dengan dirinya.

Pekerjaan dan Karier

Orang biasanya akan jatuh ke dalam masalah ini, mereka ingin terlibat dalam pekerjaan atau pekerjaan yang mereka minati untuk memenuhi kebutuhan dan persyaratan pekerjaan tersebut agar mendapatkan penghasilan yang besar dan pada akhirnya dapat mandiri secara finansial. Selain itu, individu juga mulai memper- tanyakan tekanan atau tekanan pekerjaan yang merintangi kehidupan mereka, serta kekhawatiran lain tentang mengkhawatirkan ketidakmampuan mereka untuk menca- pai diri mereka sendiri dan merasa ragu-ragu untuk menunjukkan potensi mereka yang sebenarnya.

Teman, Asmara dan Keluarga

Orang-orang mulai mempertanyakan apakah ada jodoh yang cocok untuknya, bagaimana dia tahu apakah pasangannya saat ini adalah orang yang tepat, dan dia bingung saat menyelesaikan masalah, dan pada saat yang sama dia ingin terkekang dalam hubungan interpersonal. Hubungan dengan anggota keluarga juga penuh dengan pertanyaan tentang kemandirian dan keinginan lepas dari orang tua. Pada saat yang sama, sejauh menyangkut persahabatan, individu mempertanyakan cara mereka mendapatkan teman sejati dan siapa yang dapat mereka percayai dan andalkan.

Jati Diri

Individu mulai mempertanyakan hakikat kedewasaan, karena periode ini akan memberikan rasa semangat, namun disisi lain mereka juga akan merasa terancam.

Dalam hal jati diri, individu mulai memberikan perhatian khusus pada penampilan, ekspresi diri dari reaksi emosional yang diekspresikan di lingkungannya, seperti mengapa mereka mudah khawatir tentang satu hal dan mudah disibukkan oleh hal lain. Identitas diri juga dapat membangun kesadaran individu tentang pilihan politik orientasi seksual.

(7)

Jurnal Teologi Gracia Deo, e-ISSN: 2655-6863 | 7

Lima Tahap Quarter Life Crisis

Terdapat 5 (lima) tahapan yang akan dilalui oleh individu dalam menghadapi quarter life crisis16 antara lain:

Pada tahap pertama, biasanya akan muncul perasaan terjebak oleh berbagai pilihan dan tidak mampu memutuskan cara hidup. Pada tahap ini seseorang akan terjerumus ke dalam gaya hidup yang seolah-olah sudah diatur, sehingga sulit bagi mereka untuk berbuat lebih baik; pada prinsipnya seseorang akan hidup dengan cara dipaksa.

Pada tahap kedua, akan muncul sebuah keinginan untuk dapat mengubah situasi ini. Setelah mengalami kesulitan, seseorang akan mencoba mencari jalan keluarnya. Pada fase ini rasa percaya diri mulai meningkat dan biasanya akan merasa mampu melakukannya.

Tahap ketiga biasanya akan muncul sebuah pengambilan tindakan yang sangat penting, seperti meninggalkan pekerjaan atau memutuskan hubungan saat ini, dan kemudian mulai mencoba pengalaman baru. Pada tahap ini, sebagian orang mulai berani memutuskan untuk melepaskan diri dari belenggu yang selama ini menghantui mereka dan mencoba sesuatu yang baru. Orang ini akan mengeksplorasi apa yang sebenarnya dia inginkan di sini.

Pada tahap keempat, landasan baru didirikan agar individu dapat mengontrol arah tujuan hidupnya. Ketika orang mulai memutuskan untuk keluar dari zona aman, dirinya pasti akan mulai dari awal. Baik dari segi keuangan, karier, atau hubungan dengan orang lain.

Tahap kelima adalah membangun kehidupan baru dan lebih fokus pada memperhatikan hal-hal yang menjadi minat pribadi dan sejalan dengan nilai-nilai pribadi. Setelah membangun segala sesuatu dari awal, seseorang merasa terdorong untuk membuat pilihan yang telah dibuat, dan memulai dengan semangat baru.

Cara Mengahadapi Quarter Life Crisis

O’Hanlon (dalam Atwood & Scholtz, 2008) menjelaskan bahwa salah satu cara yang dapat digunakan oleh seseorang yang sedang mengalami masa quarter-life crisis adalah dengan terus berpusat kepada pembahasan tentang bermacam probabilitas untuk menyelesaikan suatu permasalahan.17 Selain itu, cara lain yang dapat dipakai dan diharapkan dapat memberikan penghargaan atas pengalaman dan kekuatan bagi individu yang sedang berada dalam masa quarter life crisis, serta juga memiliki keyakinan dalam tindakan. Dengan memiliki hal tersebut diharapkan akan membantu mereka tumbuh dan membangun masa depan yang mereka inginkan.

Salah satu cara untuk mengatasi masalah ini mungkin dengan terapi yang berfokus pada solusi yang diyakini efektif dalam membantu individu mengatasi perasaan dan persepsi negatif tentang diri mereka sendiri dan masalah saat ini. Terapi yang berpusat pada solusi dapat diterapkan pada berbagai jenis masalah, baik di

16 Oliver C Robinson, “Emerging Adulthood, Early Adulthood And Quarter-Life Crisis: Updating Erikson For The Twenty-First Century,” in Emerging Adulthood in a European Context, ed. R. Žukauskiene (New York: Routledge, 2015), 17–33.

17 Atwood and Scholtz, “The Quarter-Life Time Period: An Age of Indulgence, Crisis or Both?,”

233–50.

(8)

Jurnal Teologi Gracia Deo, e-ISSN: 2655-6863 | 8

sekolah, maupun di lingkungan kerja. Atau berbagai jenis klien mulai dari kasus anak, remaja, pasangan, keluarga hingga individu dewasa.

Beberapa teknik yang dapat digunakan dalam pendekatan berpusat pada solusi termasuk diantaranya adalah dengan mengeksplorasi masalah, mengajukan perta- nyaan, menemukan pengecualian ketika masalah yang sedang dibahas tidak muncul, dan menggunakan masalah yang diperpanjang untuk membuat individu yang sedang ada di masa quarter life crisis lebih realistis dan berorientasi pada masa depan.

Individu yang sedang di terapi biasanya akan dapat mengevaluasi kembali hubungan interpersonal mereka, seperti hubungan mereka dengan keluarga, teman, lingkungan kerja, orang-orang penting, dan lingkungan sosial dan budaya tempat mereka tinggal.

Hal tersebut diatas serupa dengan yang telah dilaksanakan oleh Agustin (2012) terhadap 3 orang dewasa yang berusia antara 22-29 tahun, hasilnya adalah bahwa pendekatan berpusat pada solusi cenderung lebih efektif akan tetapi masih belum dapat membawa keluar dari keadaan quarter life crisis secara sepenuhnya. Seiring perkembangan waktu, mengingat kebutuhan akan penanganan yang komprehensif dalam waktu singkat untuk mengurangi tekanan biaya, pendekatan berpusat pada solusi juga dapat diterapkan dalam waktu singkat, dikenal dengan istilah Solution- Focused Brief Therapy (SFBT).18

Penulis memberikan kesimpulan sementara bahwa pada dasarnya masa quarter life crisis adalah suatu masa dimana semua orang pasti akan mengalami dan juga melewati masa tersebut. Jadi tidak perlu timbul perasaan aneh ketika sedang ada dalam fase tersebut. Kemudian dengan memiliki pemahaman yang baik akan kebenaran Firman, terutama mengenai janji Allah bagi umatNya, niscaya fase ini akan dapat dilewati oleh semua orang.

Pandangan Alkitab tentang Quarter Life Crisis

Alkitab sebagai dasar iman orang percaya juga memberikan pesan kepada setiap individu yang membacanya ketika memasuki masa quarter life crisis. Seperti yang dituliskan diatas bahwa masa quarter life crisis adalah masa dimana seseorang yang mengalami pada umumnya akan merasa kuatir, mental merasa tertekan, bahkan kecewa sebab dirinya merasa terjebak dalam sebuah kegelisahan yang terdapat di dalam dirinya sendiri.

Tidak dapat dipungkiri bahwa perasaan kuatir tersebut tidak dapat lepas dari kehidupan semua orang, termasuk di dalamnya adalah orang percaya. Dan apabila rasa kuatir tersebut terus dibiarkan, dapat melumpuhkan jiwa seseorang. Dan jika terus dibiarkan, tidak mustahil keimanan orang percaya dapat mulai goyah. Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Waharman, bahwa orang yang dikuasai oleh kekuatiran adalah orang yang kurang mempercayakan pemeliharan dari Allah, bahkan sampai menganggap bahwa janji penyertaan Allah adalah isapan jempol belaka.19

18 Inayah Agustin, “Therapy with Solution-Focused Approach for Individuals Who Experienced Quarter Life Crisis” (Universitas Indonesia, 2012), 17–22.

19 Waharman, “Manna Rafflesia,” Studi Eksegetis Tentang Kekuatiran Menurut Matius 6:25-34 1 (2014): 3.

(9)

Jurnal Teologi Gracia Deo, e-ISSN: 2655-6863 | 9

Rasa kekuatiran yang cukup hebat juga dialami oleh bangsa Yehuda sebelum mereka dibawa ke Babel sebagai sebuah bangsa buangan. Bangsa yang oleh Allah sendiri disebut sebagai umat pilihan-Nya,20 harus mengalami pembuangan dan menjadi tawanan disana. Dan mereka sadar bahwa situasi yang mereka alami terasa sangat berat bagi mereka.

Ditengah rasa ketakutan dan kekuatiran tersebut, Allah melalui nabi-Nya, Yeremia, memberikan sebuah pesan yang bersisi penghiburan dan penguatan bagi mereka.21 “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan (Yer. 29:11). Pesan tersebut mengandung sebuah janji akan pemulihan yang secara langsung ditujukan kepada bangsa Israel pada masa itu.22

Analisis Kontekstual Yeremia 29:11

Dalam upaya untuk menganalisis sebuah nats, langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan melakukan pengamatan bentuk gaya atau tutur (genre).23 Pengamatan ini bertujuan untuk mengetahui gaya penulisan serta latar belakang budaya saat itu. Sebab melalui hamba-Nya, para nabi, Tuhan akan membuka tirai yang menutupi zaman baru dan membiarkan anak-anak-Nya melihat kemuliaan yang telah disiapkan bagi mereka.24 Hal serupa disampaikan oleh Osborne bahwa dalam usaha penafsir menafsirkan nats Alkitab penting untuk menentukan genre atau gaya panulisan yang digunakan dalam nats tersebut.25

Bila diperhatikan dalam nats ini, terdapat kekhususan dalam gaya penu- lisannya. Kitab Yeremia masuk ke dalam golongan kitab para nabi, sehingga meng- gunakan bentuk penulisan yang berbeda bila dibandingkan dengan kitab dalam golongan lain seperti kitab pentatukh maupun kitab sejarah. Yang menjadi pembeda adalah penggunaan gaya penulisan profetis dalam pemberitaannya yang ditujukan kepada seluruh umat, para raja, para imam, bahkan para nabi itu sendiri.26

Berdasarkan fakta tersebut maka sangat penting penentuan genre dalam penafsiran Alkitab. Apabila penafsir salah dalam menentukan genre suatu nats, dapat dipastikan penafsir tersebut akan melakukan sebuah kesalahan. Hal ini disebabkan adanya perbedaan genre penulisan dalam Alkitab yang memiliki kekhususan tersendiri.

Secara umum, Yeremia adalah sebuah bentuk prosa panjang yang didalamnya memuat surat dari Nabi Yeremia kepada bangsa Israel yang sedang berada di dalam

20 R. Laird Harris, Theological Wordbook of The Old Testament (Michigan: Moody Publisher, 1980).

21 Adam Clarke, Clarke’s Commentary: Isaiah - Malachi (New York: Abingdon – Cokesbury Press, n.d.), 326.

22 Roy Beaman and Jimmy Millikin, “An Introduction And Analysis Of The Book Of Jeremiah,”

Mid America Theological Journal : Studies in Jeremiah 5 (1981): 17.

23 Willem A. VanGemeren, Penginterpretasian Kitab Para Nabi (Surabaya: Momentum, 2016), 67.

24 VanGemeren, 72.

25 Grant R. Osborne, The Hermeneutical Spiral (Illionis: Inter Varsity Press, 1991), 354.

26 VanGemeren, Penginterpretasian Kitab Para Nabi, 69–70.

(10)

Jurnal Teologi Gracia Deo, e-ISSN: 2655-6863 | 10

pembuangan di Babel.27 Holladay memiliki anggapan bahwa Yeremia 29:11 ini berbentuk nubuat keselamatan, yang juga sekaligus berfungsi sebagai sebuah jaminan akan sebuah janji penyertaan Allah.28

Nubuat keselamatan yang terdapat dalam nats ini secara garis besar ingin menyampaikan kepada bangsa Israel, bahwa setelah masa pembuangan selama tujuh puluh tahun di Babel, bangsa Israel akan kembali. Allah sendiri yang akan membawa mereka kembali dari pembuangan di Babel, mengumpulkan kembali bagian dari bangsa mereka yang terserak ke berbagai tempat dan akan dikembalikan pulang ke tanah leluhur mereka.29

Dari beberapa pernyataan dapat disimpulkan bahwa nats yang ditulis oleh Yeremia secara khusus dalam pasal 29 ayat 11 merupakan sebuah kesatuan prosa profetis yang ditujukan kepada bangsa Israel ketika mereka sedang dalam pembuangan di Babel. Adapun maksud dari nats tersebut ditulis adalah untuk mem- berikan peneguhan iman kepada bangsa Israel yang sedang berada dalam pem- buangan di Babel bahwa janji damai sejahtera yang Allah berikan bagi mereka akan tetap ada meskipun mereka berstatus sebagai tawanan, juga Allah berjanji bahwa mereka akan dikembalikan dari tanah perbudakan menuju tanah nenek moyang mereka.

Analisis Gramatikal & Leksikal Yeremia 29:11

Dalam bagian analisis gramatikal dan leksikal ini dimaksudkan untuk menyampaikan kata-kata obyektif yag terdapat dalam nats. Analisis ini menggunakan teks Ibrani dalam versi Leningrad Hebrew Old Testament (WTT) dan kemudian diperbandingkan dengan berbagai terjemahan seperti Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam terjemahan baru (TB), Alkitab dalam Bahasa Indonesia Sehari- hari (BIS), Holy Bible King James Version (KJV) serta The Bible New International Version (NIV). Referensi lain yang digunakan dalam analisis ini menggunakan berbagai kamus bahasa Ibrani dan juga leksikon bahasa Ibrani, kamus bahasa Inggris serta kamus bahasa Inggris-Indonesia.

Teks Ibrani (WTT) Teks Bahasa Indonesia (ITB)

כִּ

י֩

אָ

נֹ

כִ֙

יָי דַ֜

ﬠְ

תִּ

י אֶ

ת

־ הַ

מַּ

חֲ

שָׁ

בֹ֗

ת אֲ

שֶׁ֧

ר אָ

נֹ

כִ֛

י חֹ

שֵׁ֥

ב ﬠֲ

לֵ

י כֶ֖

ם

נְ

אֻ

ם

־ יְ

ה וָ֑

ה מַ

חְ

שְׁ

ב֤

ת שָׁ

ל וְם֙

לֹ֣

א לְ

רָ

ﬠָ֔

ה לָ

תֵ֥

ת לָ

כֶ֖

ם אַ

חֲ

רִ֥

י ת

וְ

תִ

קְ

וָֽ

ה

׃

Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.

27 J.A. Thompson, The Book of Jeremiah: The New International Commentary on the Old Testament (NICOT) (Grand Rapids, Michigan: Eedermans Publishing, 1980), 545.

28 William Lee Holladay, A Commentary on the Book of the Prophet Jeremiah Chapter 26-52 (Minneapolis: Fortress Press, 1989), 138.

29 John F. Walvoord, Pedoman Lengkap Nubuat Alkitab (Bandung: Kalam Hidup, 2003), 176.

(11)

Jurnal Teologi Gracia Deo, e-ISSN: 2655-6863 | 11

Kata יתִּﬠְדַ֜יָ (yada)30 adalah sebuah kata kerja dengan stem Qal tunggal. Qal memiliki 2 fungsi yakni fungsi statif dan juga fungsi fientif, bila diperhatikan dalam penggunaan nats, kata yang dimaksud menggunakan fungsi statif. Fungsi statif dapat dijelaskan: mengekspresikan suatu keadaan atau kondisi, yang secara sintaksis tidak dapat terbentuk, dan secara sistematis menyatakan keadaan dan bukan perbuatan atau proses. (Reed and Sedi 2004, 3) Kata יתִּﬠְדַ֜יָ dapat diartikan dengan

“mengetahui”31. Dalam terjemahan versi lain menggunakan kata “tahu” dalam versi terjemahan (BIS), serta “know” seperti yang terdapat dalam versi NIV dan KJV.

Kata הבָשָׁחֲמַ (mahšebồt)32 adalah sebuah kata benda umum jamak feminism yang bersifat mutlak, dapat diartikan “rancangan,” “pikiran,” “ide,” “tujuan” dan

“rencana.”33 Versi lainnya menerjemahkannya dengan “rancangan” (TB), “rencana- rencana” (BIS), “plans” (NIV) serta “thoughts” (KJV). Berdasarkan data literal dan kamus bahasa Ibrani, penulis mengusulkan agar kata ini diterjemahkan dengan

“rancangan-rancangan” seperti yang ada pada terjemahan versi BIS, NIV dan KJV.

Kata םוֹלשָׁ (šalôm) 34 adalah sebuah kata benda maskulin tunggal dan bersifat mutlak, dapat diartikan sebagai “damai sejahtera’, “kemudahan”, “tidak terpengaruh”, “kemakmuran”, “kesuksesan”, “keutuhan”.35 Versi lainnya menerjemahkan kata tersebut dengan “kesejahteraan” (BIS), “peace” (KJV) dan juga

“prosper” dalam versi (NIV) Analisis Teologis: Janji Allah

Salah satu tema pokok dalam kitab-kitab Perjanjian Lama adalah janji antara bangsa Israel dengan Allah.36 Secara umum manusia memahami kata perjanjian sebagai keterlibatan antara dua pihak yang mengadakan ikatan atau kontrak kerjasama yang disertai dengan syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh pihak- pihak yang membuat perjanjian itu.

Dalam perjanjian antara Allah dengan manusia, Allah-lah yang memanggil untuk mengadakan perjanjian dan inti dari perjanjian itu adalah penyaluran kasih karunia dan keselamatan yang akan diberikan Allah berdasarkan kedaulatan-Nya.

Berbeda dengan perjanjian yang dibuat oleh manusia yang berdasarkan kesepakatan bersama, perjanjian Allah disusun dan ditetapkan oleh Allah sendiri, bersifat umum dan juga khusus.

Perjanjian yang diadakan oleh Allah dan manusia bersifat unik dan berbeda dari perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh manusia. Perjanjian Allah itu istimewa sebab memiliki tiga unsur atau sifat, yakni bersifat nubuatan, yaitu mengenai rencana Allah yang akan datang. Kedua, pembangunan pribadi-pribadi melalui iman kepada janji

30 LLC, “Bible Work 10,” 2015.

31 Ludwig Kohler, The Hebrew And Aramaic Lexicon Of The Old Testament (California: Brill Publisher, 2001), 228.

32 LLC, “Bible Work 10.”

33 William Lee Holladay, A Concise Hebrew And Aramaic Lexicon Of The Old Testament: Based Upon the Lexical of Ludwig Koehler and Walter Baumgartner (Michigan: Eedermans Publishing, 1971), 191.

34 LLC, “Bible Work 10.”

35 Kohler, The Hebrew And Aramaic Lexicon Of The Old Testament, 274.

36 Roy B. Zuck, A Biblical Theology Of The Old Testament (Malang: Gandum Mas, 2005), 116.

(12)

Jurnal Teologi Gracia Deo, e-ISSN: 2655-6863 | 12

Allah. Ketiga, penggenapan maupun penyampaian yang pasti, persis dan spesifik yang dijamin oleh pernyataan Allah sendiri.37

Abraham Park mengatakan paling tidak ada ada dua ciri khusus perjanjian yang dibuat Allah kepada manusia. Pertama, perjanjian tersebut satu arah dan berdaulat.

Kedua, perjanjian ini adalah kekal yang tidak akan pernah berubah dan sama sekali tidak dapat dibatalkan.38

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa, meskipun bangsa Israel sedang dalam kondisi yang tidak baik, penuh dengan rasa kuatir, terlebih ketika mereka diperhadapkan dengan kenyataan bahwa mereka sedang ada dalam pembuangan di Babel, janji Allah kepada mereka tidak akan pernah dibatalkan.39

Peristiwa pembuangan ke Babel adalah penggenapan dari janji Allah kepada bangsa Israel 40. Janji Allah akan rancangan yang penuh dengan damai sejahtera dan bukan kecelakaan tidak hanya semata ketika mereka akan kembali dari tanah Babel menuju negeri mereka sendiri, melainkan juga ketika sedang ada dalam masa pembuangan pun, janji Allah tersebut digenapi di dalam hidup mereka. 41

Berdasarkan pemaparan diatas, penulis menyimpulkan bahwa Allah tidak pernah sekalipun tidak menepati janjiNya dalam memberikan damai sejahtera kepada bangsa Israel. Sekalipun di dalam kondisi paling buruk pun, Allah tetap menggenapi janji yang sudah Dia berikan bagi umat-Nya.

Kesimpulan

Quarter life crisis adalah tahap di mana seseorang merasa cemas tentang masa depannya. Kebanyakan orang khawatir bahwa apakah tujuan hidupnya beberapa tahun ke depan akan seperti yang diharapkan. Tidak hanya tujuan, keadaan ini juga bisa terjadi pada orang yang memiliki pertanyaan tentang masa depan dan kualitas hidup, seperti pekerjaan, cinta, hubungan dengan orang lain, dan keraguan tentang keuangan. Krisis semacam ini sering terjadi ketika seseorang mulai memasuki usia 20- 30 tahun.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan penulis, dapat disimpulkan bahwa, Tuhan terkadang seolah mengijinkan umatNya untuk berada di masa yang penuh dengan kekuatiran bukan semata menyatakan bahwa Dia adalah pribadi yang tidak mempedulikan keadaan umatNya. Melainkan dengan seseorang ada di masa tersebut, Tuhan ingin menyatakan kepada umatNya bahwa Dia turut bekerja, menjaga janji yang sudah Dia tetapkan, dan janjiNya tidak pernah tidak Dia genapi.

Meskipun bangsa Israel diijinkan selama 70 tahun berada di dalam masa pem- buangan, akan tetapi penyertaan Allah tidak pernah lalu dari mereka. Rancangan

37 Chris Marantika, Masa Depan Dunia Ditinjau Dari Sudut Alkitab (Yogyakarta: Iman Press, 2007), 17.

38 Abraham Park, Pelita Perjanjian Yang Tak Terpadamkan (Jakarta: Yayasan Damai Sejahtera Utama, 2012), 35.

39 James A. Sanders, Interpretation 29 (Waldron: Scott, 1975), 372.

40 W.D. Davies, The Gospel and the Land: Early Christianity and Jewish Territorial Doctrine (California:

University of California, 1974), 39.

41 Robert M. Paterson, Tafsiran Alkitab: Kitab Yeremia, 3rd ed. (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2000), 272.

(13)

Jurnal Teologi Gracia Deo, e-ISSN: 2655-6863 | 13

yang penuh damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan tetap ada beserta dengan mereka. Demikian juga ketika seseorang sedang berada pada titik paling rendah sekalipun, damai sejahtera Allah senantiasa ada beserta. Termasuk di dalam keadaan seseorang masih berjuang di masa quarter life crisis, janji damai sejahtera Allah juga bersama dengan dirinya, sampai nanti dia berhasil melewati masa quarter life crisis.

Daftar Pustaka

Agustin, Inayah. “Therapy with Solution-Focused Approach for Individuals Who Experienced Quarter Life Crisis.” Universitas Indonesia, 2012.

Arnett, J.J. “Conceptions of the Transition to Adulthood: Perspective from Adolescence through Midlife.” Journal of Adult Development 8 (2) (2001).

https://doi.org/https://doi.org/10.1023/A:1026450103225.

———. “Emerging Adulthood: A Theory Of Development From The Late Teens Through The Twenties.” American Psychologist 55 (5) (2000).

https://doi.org/https://doi.org/10.1037/0003-066X.55.5.469.

Atwood, J.D., and C. Scholtz. “The Quarter-Life Time Period: An Age of Indulgence, Crisis or Both?” Contemporary Family Therapy 30 (4) (2008).

https://doi.org/https://10.1007/s10591-008-9066-2.

Beaman, Roy, and Jimmy Millikin. “An Introduction And Analysis Of The Book Of Jeremiah.” Mid America Theological Journal : Studies in Jeremiah 5 (1981): 1–10.

Black, Allisson S. “Halfway Between Somewhere And Nothing: An Exploration Between Quarterlife-Crisis And Life Satisfaction Among Graduate Student,”

2010. ProQuest Dissertations And Theses.

Clarke, Adam. Clarke’s Commentary: Isaiah - Malachi. New York: Abingdon – Cokesbury Press, n.d.

Davies, W.D. The Gospel and the Land: Early Christianity and Jewish Territorial Doctrine.

California: University of California, 1974.

Harris, R. Laird. Theological Wordbook of The Old Testament. Michigan: Moody Publisher, 1980.

Holladay, William Lee. A Commentary on the Book of the Prophet Jeremiah Chapter 26-52.

Minneapolis: Fortress Press, 1989.

———. A Concise Hebrew And Aramaic Lexicon Of The Old Testament: Based Upon the Lexical of Ludwig Koehler and Walter Baumgartner. Michigan: Eedermans Publishing, 1971.

Kohler, Ludwig. The Hebrew And Aramaic Lexicon Of The Old Testament. California: Brill Publisher, 2001.

LLC. “Bible Work 10,” 2015.

Marantika, Chris. Masa Depan Dunia Ditinjau Dari Sudut Alkitab. Yogyakarta: Iman Press, 2007.

“Mengenal Quarter Life Crisis Dalam Karir | Urbanhire.” Accessed February 9, 2021.

https://www.urbanhire.com/blog/mengenal-quarter-life-crisis-dalam-karir/.

Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011.

(14)

Jurnal Teologi Gracia Deo, e-ISSN: 2655-6863 | 14

Nash, R. J., and M. C. Murray. Helping College Students Find Purpose : The Campus Guide to Meaning-Making. San Fransisco: Jossey-Bass, 2010.

“New LinkedIn Research Shows 75 Percent of 25-33 Year Olds Have Experienced a Quarter-Life Crisis.” Accessed February 9, 2021.

https://news.linkedin.com/2017/11/new-linkedin-research-shows-75-percent-of- 25-33-year-olds-have-e.

Osborne, Grant R. The Hermeneutical Spiral. Illionis: Inter Varsity Press, 1991.

P. B. Baltes, U. Lindenberger, and M. U. Staudinger. “Life Span Theory In

Developmental Psychology.” In Handbook of Child Psychology: Theoretical Models of Human Development, edited by R. M. Lerner and W. Damon. New Jersey: John Wiley & Sons Inc, 2006.

Papalia, D. E., and R. D. Feldman. Menyelami Perkembangan Manusia. 2nd ed. Jakarta:

Salemba Humanika, 2014.

Park, Abraham. Pelita Perjanjian Yang Tak Terpadamkan. Jakarta: Yayasan Damai Sejahtera Utama, 2012.

Paterson, Robert M. Tafsiran Alkitab: Kitab Yeremia. 3rd ed. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2000.

Robbins, Alexandra, and Abby Wilner. Quarterlife Crisis: The Unique Challenges Of Life In Your Twenties. New York: Tarcher Penguin, 2001.

Robinson, Oliver C. “Emerging Adulthood, Early Adulthood And Quarter-Life Crisis:

Updating Erikson For The Twenty-First Century.” In Emerging Adulthood in a European Context, edited by R. Žukauskiene. New York: Routledge, 2015.

Sanders, James A. Interpretation 29. Waldron: Scott, 1975.

Sari, Sri Yulia. “Tinjauan Perkembangan Psikologi Manusia Pada Usia Kanak-Kanak Dan Remaja.” Primary Educational Journal (PEJ), 2017, 48.

http://pej.ftk.uinjambi.ac.id/index.php/PEJ/index.

Thompson, J.A. The Book of Jeremiah: The New International Commentary on the Old Testament (NICOT). Grand Rapids, Michigan: Eedermans Publishing, 1980.

VanGemeren, Willem A. Penginterpretasian Kitab Para Nabi. Surabaya: Momentum, 2016.

Waharman. “Manna Rafflesia.” Studi Eksegetis Tentang Kekuatiran Menurut Matius 6:25- 34 1 (2014): 25–34.

Walvoord, John F. Pedoman Lengkap Nubuat Alkitab. Bandung: Kalam Hidup, 2003.

Wibowo, Agung Setiyo. “Refleksi Melewati Fresh Graduate Syndrome Dan Quarter- Life Crisis.” In Mantra Kehidupan. Jakarta: Elex Media Computindo, 2017.

Zuck, Roy B. A Biblical Theology Of The Old Testament. Malang: Gandum Mas, 2005.

Referensi

Dokumen terkait