• Tidak ada hasil yang ditemukan

Prosedur Pemotongan Hewan di RPH pada Situasi Wabah PMK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Prosedur Pemotongan Hewan di RPH pada Situasi Wabah PMK"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

Prosedur Pemotongan Hewan di RPH pada Situasi Wabah PMK

DIREKTORAT KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER

DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN

TAHUN 2022 KEMENTERIAN PERTANIAN

REPUBLIK INDONESIA INDONESIA 2022

(2)

UNDANG-UNDANG Nomor 18 tahun 2009 Jo UNDANG-UNDANG Nomor 41 tahun 2014

tentang

PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN

Pasal 61

(1)Pemotongan hewan yang dagingnya diedarkan harus:

a. dilakukan di rumah potong; dan

b. mengikuti cara penyembelihan yang memenuhi kaidah kesehatan masyarakat veteriner dan kesejahteraan hewan.

(2)Dalam rangka menjamin ketenteraman batin masyarakat, pemotongan hewan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b harus memerhatikan kaidah agama dan unsur kepercayaan yang dianut masyarakat.

(3)Menteri menetapkan persyaratan rumah potong dan tata cara pemotongan hewan yang baik.

(4)Ketentuan mengenai pemotongan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dikecualikan bagi pemotongan untuk kepentingan hari besar keagamaan, upacara adat, dan pemotongan darurat.

(3)

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 95 TAHUN 2012

TENTANG

KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER DAN KESEJAHTERAAN HEWAN

Pasal 11

Pemotongan Hewan potong dapat dilakukan di luar rumah potong Hewan dalam hal untuk:

a. upacara keagamaan;  termasuk Hari Raya Kurban b. upacara adat; atau

c. pemotongan darurat.

Pasal 12

Pemotongan Hewan potong untuk keperluan upacara keagamaan dapat dilakukan apabila di suatu kabupaten/kota:

a. belum memiliki rumah potong Hewan; atau

b. kapasitas pemotongan di rumah potong Hewan yang ada tidak memadai.

(4)

Pemotongan hewan kurban Peraturan Menteri Pertanian Republik Indonesia Nomor 114/permentan/pd.410/9/2014 tentang

Pasal 2

(1) Pemotongan hewan kurban harus dilakukan di RPH-R dan memenuhi kaidah kesehatan masyarat veteriner dan kesejahteraan hewan.

(2) Dalam hal suatu kabupaten/kota belum memiliki RPH-R atau kapasitas pemotongan RPH- R yang ada belum memadai, pemotongan hewan kurban dapat dilakukan di luar RPH-R.

Pasal 3 Ruang Lingkup Peraturan Menteri meliputi:

a. persyaratan dan penanganan hewan kurban;

b. persiapan pemotongan hewan kurban;

c. penyembelihan hewan kurban dan penanganan produknya;

d. pembinaan dan pengawasan.

(5)
(6)
(7)
(8)

Cara Penularan Virus PMK

• Di luar tubuh hospes, pada daerah dingin, virus PMK dapat bertahan hidup dan masih

infektif untuk beberapa minggu atau bahkan beberapa bulan pada tinja, straw, rambut, kulit, sekresi hewan yang telah mengering atau di tanah.

• Cara Penularan :

– kontak langsung antara hewan tertular dengan hewan rentan (cairan tubuh vesikuler dan sekresi lesion)

– kontak tidak langsung : melalui kontak virus pada manusia, sarana dan alat transportasi akibat kontaminasi dari hewan tertular di peternakan yang terdampak wabah

– Penyebaran melalui udara dapat terbawa angin (tergantung kecepatan) hingga 10 km atau lebih)

Metode penularan : aerosol (udara) melalui inhalasi (pernapasan), cairan tubuh ingesti (pencernaan)

Dapat bertahan hidup di tulang dan kelenjar getah bening (120 hari)

(9)

Surat Edaran Menteri Pertanian terkait wabah PMK 2022

• Surat Edaran Mentan Nomor 03/SE/PK.300/M/5/2022 tentang

Pelaksanaan Kurban dan Pemotongan Hewan dalam Situasi Wabah Penyakit Mulut Dan Kuku

• Surat Edaran Mentan Nomor 02/SE/PK.300/M/5/2022 tentang Penataan

Lalu Lintas Hewan Rentan, Produk Hewan dan Media Pembawa Lainnya

di Daerah Wabah Penyakit Mulut dan Kuku

(10)

Kementerian Pertanian Republik Indonesia

10

PERKEMBANGAN PMK (24 Mei 2022)

REKAPITULASI POPULASI SAPI DAN KERBAU TERDAMPAK PENYAKIT MULUT DAN KUKU (PMK)

SAKIT SEMBUH

POTONG PAKSA MATI

27.326

+ 5.374 0,47% + 458

8.657

31,62%

+ 12

261

0,96

% + 4

193

0,71%

Provinsi

Kab./Kota

17 86

+ 1

+ 4 - 1

6.257 6.898 8.199 8.657

17.211

20.723 21.952

27.377

146 162

249 261

133 142

189 193

- 50 100 150 200 250 300

- 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000

5/21/22 5/22/22 5/23/22 5/24/22

Sembuh Sakit Potong paksa Mati

(11)

Kementerian Pertanian Republik Indonesia

11

PUSVETMA TELAH MENEMUKAN SEROTIPE VIRUS PMK LAPANGAN

Jenis virus PMK yang beredar di Indonesia O/ME-SA/Ind-2001 e Serotipe : O

Topotipe : ME-SA Lineage : Ind-2001 Sublineage : e

sedang membuat vaksin PMK dan ditargetkan selesai Minggu-IV Agustus

2022

(12)

SIFAT VIRUS DAN DAYA TAHAN HIDUP VIRUS PMK

(Kiatvetindo PMK)

(13)

SIFAT VIRUS DAN DAYA TAHAN HIDUP VIRUS PMK

(Kiatvetindo PMK)

(14)

Proses inaktivasi virus PMK

Temperatur

 Virus PMK mati pada suhu diatas 50°C pH

 Virus PMK mati pada ph <6,0 atau ph > 9,0 Desinfektan

Virus PMK mati dengan desinfektan seperti:

1. sodium hydroxide (2%), 2. sodium carbonate (4%), 3. citric acid (0.2%), a

4. cetic acid (2%),

5. sodium hypochlorite (3%),

6. potassium peroxymonosulfate/sodium chloride (1%), dan chlorine dioxide

(15)

PMK pada hewan tidak

membahayakan kesehatan manusia Daging dan susu tetap aman dikonsumsi

Produk hewan yang diolah dengan penanganan yang benar, mampu membunuh virus & aman untuk

diedarkan

(16)

 Prosedur inaktivasi virus PMK dalam penanganan/pengolahan daging:

- Pelayuan

- Perebusan dalam air mendidih (merebus) selama paling sedikit 30 menit - Pengalengan (pemanasan sterilisasi komersial) dengan suhu minimal

121 °C minimal 10 menit dan tekanan udara 1 bar; atau 3) Penggaraman dan pengeringan sehingga aktivitas air (Aw) tidak lebih dari 0,85.

- Pengeringan setelah penggaraman: dilakukan penggaraman (NaCl) lalu dikeringkan sempurna (aktivitas water/Aw tidak lebih dari 0,85

Perlakuan Daging

(17)

1. Pemotongan Hewan di RPH pada Daerah Wabah atau Tertular

2. Pemotongan Hewan di RPH pada Daerah Terduga

3. Pemotongan Hewan di RPH pada Daerah Bebas

4. Pemotongan Bersyarat

1. Petunjuk pelaksanaan pemotongan hewan dan penanganan karkas/daging dan jeroan di rumah potong hewan (RPH) dalam situasi status PMK

2. Untuk mencegah risiko penyebaran PMK

yang terjadi pada proses pemotongan hewan

maupun yang berisiko terbawa pada

karkas/daging dan jeroan hewan

(18)

PEMOTONGAN HEWAN DI RPH

1) Bupati/wali kota menetapkan atau menunjuk RPH sebagai tempat pemotongan hewan;

2) Penempatan dokter hewan atau paramedik veteriner yang ditunjuk;

3) Hewan yang masuk RPH harus disertai dengan SKKH/SV;

4) Pelaksanaan pemeriksaan antemortem dan postmortem oleh dokter hewan atau paramedik veteriner yang ditunjuk di bawah pengawasan dokter hewan berwenang;

5) Dokter hewan atau paramedik veteriner yang ditunjuk memastikan kesehatan hewan melalui pemeriksaan antemortem dan dilakukan maksimal 12 jam sebelum dipotong;

6) RPH dilengkapi dengan fasilitas perebusan kepala, jeroan, kaki, ekor/buntut dan

tulang, fasilitas penggaraman kulit serta memiliki penampungan/penanganan

limbah

(19)

APD, Pembersihan dan Desinfeksi

RPH daerah tertular, terduga dan bebas, pemotongan bersyarat

a) Semua orang di RPH, diluar RPH harus menggunakan Alat Pelindung Diri (APD); Setelah digunakan, APD harus dibersihkan dan didisinfeksi atau dimusnahkan

b) Pembersihan dan desinfeksi

1. dilakukan setiap hari pada kandang penampungan dan jalur penggiringan (gangway);

2. lantai dan peralatan RPH setelah proses pemotongan selesai;

3. semua orang yang kontak dengan hewan, proses pemotongan, hasil pemotongan, dan limbah harus sebelum keluar dari RPH;

4. pakaian dan sepatu petugas atau orang yang kontak dengan hewan atau produk hewan selama proses pemotongan;

5. alat angkut dan petugas saat memasuki dan keluar area RPH;

(20)

Pemotongan Hewan di Daerah Wabah atau Tertular

1. Perlakuan terhadap karkas dan jeroan:

a. Dilakukan pemisahan kelenjar getah bening/ limfoglandula (deglanding), pelayuan, pemeriksaan pH, dan pemisahan tulang dari daging (deboning). Kepala, jeroan, kaki, ekor/buntut dan tulang harus direbus dalam air mendidih minimal selama 30 (tiga puluh) menit; atau

b. Daging, kepala, jeroan, kaki, ekor/buntut dan tulang harus direbus dalam air mendidih minimal selama 30 (tiga puluh) menit.

2. Daging/karkas dan kepala/jeroan/kaki/ekor (buntut)/ tulang yang

telah direbus hanya boleh beredar dalam kabupaten/kota yang

sama

(21)

Pemisahan limfoglandula

dari karkas

(22)

Pemotongan Hewan di Daerah Terduga

1. Hewan yang teridentifikasi atau terduga PMK berdasarkan pemeriksaan antemortem dilaporkan ke dokter hewan berwenang dan dipisahkan (diisolasi) untuk dipotong setelah selesai pemotongan hewan sehat;

2. Dokter hewan berwenang mengambil spesimen hewan yang teridentifikasi/terduga PMK di kandang isolasi;

3. Terhadap hewan yang terduga PMK dapat dilakukan alternatif tindakan sebagai berikut a. Hewan dipotong tanpa menunggu hasil pemeriksaan dengan mengikuti prosedur

pemotongan di RPH daerah wabah atau tertular. Apabila hasil pemeriksaan postmortem teridentifikasi atau terduga PMK maka kepala, jeroan, kaki, ekor/buntut dan tulang harus direbus dalam air mendidih minimal selama 30 (tiga puluh) menit; atau

b. Hewan dimusnahkan tanpa menunggu hasil pemeriksaan. Kemudian dilakukan tindakan sanitasi di area tersebut.

c. Jika ditemukan hewan yang terduga PMK maka seluruh pemotongan pada hari yang sama mengikuti prosedur pemotongan hewan di daerah wabah atau;

(23)

4. Perlakuan terhadap karkas dan jeroan dari seluruh hewan pada pemotongan dimana ditemukan kasus dugaan PMK:

a. Dilakukan pemisahan kelenjar getah bening/ limfoglandula (deglanding), pelayuan, pemeriksaan pH, dan pemisahan tulang dari daging (deboning). Kepala, jeroan, kaki, ekor/buntut dan tulang harus direbus dalam air mendidih minimal selama 30 (tiga puluh) menit; atau

b. Daging, kepala, jeroan, kaki, ekor/buntut dan tulang harus direbus dalam air mendidih minimal selama 30 (tiga puluh) menit.

5. Jika daging/karkas akan diedarkan di luar kabupaten/ kota tersebut kecuali daerah bebas, maka daging/karkas tersebut harus melalui perlakuan sebagai berikut:

a. Dilakukan pemisahan kelenjar getah bening/limfoglandula (deglanding), pelayuan, pemeriksaan pH, dan pemisahan tulang dari daging (deboning). Kepala, jeroan, kaki, ekor/buntut dan tulang harus direbus dalam air mendidih minimal selama 30 menit;

atau

b. Pengalengan (pemanasan sterilisasi komersial) dengan suhu minimal 121°C minimal 10 menit dan tekanan udara 1 bar; atau

c. Penggaraman dan pengeringan sehingga aktivitas air (Aw) tidak lebih dari 0,85.

Pemotongan Hewan di Daerah Terduga Lanjutan…

(24)

Pemotongan Hewan di Daerah Bebas

1. Hewan yang teridentifikasi atau terduga PMK berdasarkan pemeriksaan antemortem dilaporkan ke dokter hewan berwenang dan dipisahkan (diisolasi) untuk dimusnahkan

2. Jika pada pemeriksaan postmortem, teridentifikasi atau terduga PMK maka:

a. Dilaporkan ke dinas yang menyelenggarakan fungsi peternakan dan kesehatan hewan provinsi/ kabupaten/kota baik setempat maupun daerah asal;

b. Kepala, jeroan, kaki, ekor/buntut dan tulang harus dimusnahkan;

c. Jika memungkinkan dilakukan pemisahan kelenjar getah bening/limfoglandula (deglanding), pelayuan, pemeriksaan pH, dan pemisahan tulang dari daging (deboning) atau daging direbus dalam air mendidih minimal selama 30 menit;

dan

d. Pembersihan dan disinfeksi harus dilakukan terhadap lantai, peralatan RPH-R

dan petugas RPH-R yang kontak setelah diketahui ada hewan terduga PMK

yang dipotong.

(25)

Pemotongan Bersyarat

1. Pemotongan bersyarat hanya berlaku di daerah wabah, tertular, atau terduga.

2. Pemotongan bersyarat hanya dapat dilakukan di tempat hewan berada, jika hasil pemeriksaan dokter hewan yang ditunjuk oleh dokter hewan berwenang, dinyatakan bahwa hewan tidak dapat diobati atau hewan dalam kondisi ambruk;

3. Pelaksanaan pemotongan bersyarat harus memperhatikan kesejahteraan hewan, keselamatan petugas dan keamanan lingkungan;

4. Proses pemotongan diusahakan dilaksanakan pada tempat terpisah (isolasi) dari hewan hidup;

5. Proses pemotongan harus dilaksanakan di bawah pengawasan dokter hewan atau paramedik veteriner yang ditunjuk di bawah pengawasan dokter hewan berwenang;

6. Semua orang yang terlibat dalam pelaksanaan pemotongan bersyarat dan

penanganan karkas dan jeroan harus memakai Alat Pelindung Diri (APD);

(26)

Pemotongan Bersyarat Lanjutan…

7. Pemeriksaan postmortem dilaksanakan oleh dokter hewan atau paramedik veteriner yang ditunjuk di bawah pengawasan dokter hewan berwenang;

8. Jika memungkinkan tulang dan kelenjar getah bening/ limfoglandula utama dipisahkan dari daging (deboning and deglanding) jika tidak memungkinkan daging harus direbus minimal 30 (tiga puluh) menit;

9. Kepala, jeroan, kaki, ekor/buntut dan tulang harus direbus mendidih selama minimal 30 (tiga puluh) menit; i. Limbah (air bekas pemotongan, darah, isi jeroan, eksudat, dan kelenjar getah bening/limfoglandula) harus ditampung dan tidak boleh dibuang ke lingkungan. Limbah tersebut harus ditampung di dalam lubang atau wadah yang dapat didisinfeksi;

10. Tempat pemotongan dan peralatan harus dibersihkan dan didisinfeksi setelah proses pemotongan;

11. APD harus ditanggalkan dan dibuang dalam lubang untuk dibakar;

12. Semua orang yang menangani pemotongan bersyarat harus selalu menjaga higiene personal serta kebersihan dan sanitasi.

(27)

1. Pemeriksaan Gejala klinis PMK harus dilakukan pada saat pemeriksaan antemortem, maksimal 12 jam sebelum penyembelihan.

2. Untuk PMK gejala klinis saat sebelum pembentukan vesikel dan setelah pembentukan vesikel dapat menunjukkan gejala yang berbeda.

3. Gejala Klinis Sebelum pembentukan vesikel a. Demam hingga 41,7°C;

b. Kelambanan/ lemas;

c. Kurang nafsu makan;

d. Penurunan drastis dalam produksi susu;

e. Kegelisahan dan tremor otot.

Pemeriksaan Antemortem

(28)

4. Gejala Klinis setelah pembentukan vesikel a. Bibir menggigil;

b. Air liur keluar berlebihan (hipersalivasi);

c. Kaki gemetar dan pincang;

d. Vesikel dan erosi biasanya ditemukan pada moncong, lidah, rongga mulut/gusi, puting dan pada kulit di antara dan di atas kuku kaki.

Dalam kasus yang lebih kronis pada sapi, kuku menjadi longgar dan hewan dapat berjalan dengan bunyi “klik” yang khas (slippering).

5. Pada babi, domba, dan kambing menyebabkan erosi, bukan vesikel.

Pemeriksaan Antemortem

(29)

Temuan Antemortem a) Kelainan berjalan

 Apabila hewan menujukkan kelainan berjalan atau menolak untuk berjalan biasanya mengindikasikan adanya luka pada kaki atau teracak.

 Untuk dugaan PMK maka hewan segera diperiksa kuku (korona) dan celah antara kuku. Terduka PMK bila dijumpai adanya erosi di bagian tersebut.

b) Kelainan pada postur

 Tidak mampu/sulit bangkit;

 Berbaring dengan kepala menengok kebelakang.

Pemeriksaan Antemortem…

(30)

c) Kelainan pada tampilan

• Apabila ada perubahan dari keadaan normal, yang dapat dicurigai sebagai suspek PMK, yaitu:

• Mulut berbusa dengan liur berlebih yang menggantung.

• Adanya erosi dan/atau vesikel di mukosa hidung, gusi, lidah

• Bila mau berjalan, terlihat pincang.

• Ambing, untuk melihat adanya pembengkakan, lepuh-lepuh pada puting yang perlu diperhatikan sebagai salah satu gejala klinis suspek PMK

Pemeriksaan Antemortem…

(31)

Keputusan antemortem

a)Hewan sehat, bila tidak ditemukan gejala fisik dan klinis mengarah ke PMK.

Hewan dengan kondisi ini diijinkan untuk dipotong;

b)Hewan diduga PMK, apabila hasil temuan antemortem berdasarkan mengarah ke PMK, maka dapat dilakukan pilihan tindakan sbb :

a. hewan tidak diijinkan untuk dipotong dan diisolasi di kandang isolasi atau area isolasi yang terpisah dari kandang penampungan hewan sehat.

b. hewan diobati sampai gejala klinis hilang.

c. Setelah sembuh, diijinkan untuk dipotong di bawah pengawasan Dokter Hewan

Pemeriksaan Antemortem…

(32)

Dilakukan secara berurutan diawali dari kepala; leher; bahu dan kaki depan; daerah punggung dan perut; daerah sekitar pinggul, paha dan kaki belakang.

1) Pemeriksaan Bagian Kepala dan Lidah

a) Kepala yang sudah dipisahkan dari badan hewan digantung dengan kait pada hidung dengan bagian rahang bawah menghadap ke arah pemeriksa. Seluruh bagian kepala, hidung dan telinga diinspeksi.

b) Lidah dikeluarkan dengan cara menyayat bagian bawah kepala dengan bentuk V dan dilakukan penyayatan pada pangkal ke dua sisi lidah kemudian ditarik ke bawah sehingga bagian pangkal lidah dapat terlihat. Lidah dan palatum (langit-langit) dan gusi di inspeksi, untuk melihat adanya lesi-lesi/tukak.

c) Pemeriksaan kelenjar getah bening/limfonodus (Ln.) utama, sesuai letak/posisinya yaitu Ln. retropharyngealis, tonsil, Ln. parotideus, Ln. submaxillaris, dan Ln. mandibularis Limfonodus, diinspeksi dan diinsisi. Ln yang normal dicirikan dengan konsistensi kenyal, ukuran normal, lokasi tidak terfiksir dan apabila disayat warna putih dikelilingi zona hitam.

Pemeriksaan Postmortem

(33)

Temuan Postmortem

a) Lesi/tukak ditemukan di langit-langit bagian dalam, lidah dan gusi. pada kepala yang mengarah ke gejala PMK.

b) Pemeriksaan Nekrosis otot jantung (tiger heart), biasanya terjadi pada hewan muda yang terinfeksi akut;

c) Jeroan tidak menunjukkan gejala yang spesifik. yang menjadi tempat predileksi virus seperti ginjal, hati, pankreas, limpa, dan usus, harus dimusnahkan dan dipisahkan dari produk hewan yang layak dikonsumsi.

Pemeriksaan Postmortem…

(34)

Kesimpulan Postmortem

a) Mengacu pada adanya Lesi/tukak ditemukan di langit-langit bagian dalam, lidah dan gusi serta hasil antemortem maka dapat disimpulkan bahwa hewan dimaksud adalah suspek PMK.

b) Perlakuan daging, kepala, jeroan, buntut, tulang sesuai dengan perlakuan pada hewan tertular PMK sesuai status daerah (wabah/tertular, terduga)

c) Memperhatikan pelaksanaan pembersihan dan desinfeksi.

d) Memperhatikan pembuangan limbah (padat, cair) dan APD.

Pemeriksaan Postmortem…

(35)

1. Limfoglandula (Lnn) utama yang dilepaskan dari karkas meliputi Lnn. Cervicalis superficialis (Prescapularis), Lnn. Axillaris, Lnn. Subiliacus (Prefemoralis), Lnn.

Inguinalis superficialis/supramammaria, Lnn. Ischiadicus, Lnn. Popliteus

2. Karkas digantung di ruang pendingin suhu 2-4oC selama 24 jam untuk proses pelayuan. Jarak antara karkas diatur minimal 10 cm agar tidak saling bersentuhan.

3. Setelah proses pelayuan selesai dilakukan pengukuran pH pada bagian tengah M.

Longissimus Dorsi dari setiap karkas untuk memastikan pH daging telah mencapai <

6,0;

4. Seluruh tulang, pembuluh darah utama, dan limfoglandula yang teridentifikasi secara visual, gumpalan darah dan sejumlah jaringan lemak dilepaskan dari daging

5. Pelepasan tulang dilakukan dengan suhu ruang ≤ 15oC 6. Pelaksanaan kegiatan diawasi oleh dokter hewan.

Prosedur Pemisahan Limfoglandula, Pelayuan dan

Pemisahan Tulang

(36)

Pengukuran pH pada bagian tengah M.

Longissimus Dorsi

setelah proses pelayuan daging

Pemisahan tulang

dari daging

(37)

TERIMA KASIH

http://kesmavet.ditjenpkh.pertanian.go.id

Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner

Direktorat Kesmavet

Referensi

Dokumen terkait