41
Universitas Kristen Petra
3. KONSEP PEMOTRETAN
3.1 Planning & Time Table Planning
Perancangan ini dikerjakan dimulai dari Bulan Desember 2010 sampai April 2011. Dimana proposal tugas akhir sudah mulai dibuat dan dilanjutkan dengan berbagai survei ke lokasi – lokasi yang diperkirakan adanya habitat serangga. Kemudian dilakukanlah pemotretan di lokasi – lokasi tersebut sesuai dengan konsep pemotretan yang ada. Data – data hasil pemotretan kemudian di review apakah sudah memenuhi konsep atau belum. Setelah semua tahap pemotretan dilakukan, mulailah masik ke tahap editing melalui komputer. Proses cropping dan penyesuaian warna dilakukan pada tahap ini agar tampilan foto lebih estetis. Tahapan selanjutnya masuk ke pencetakan hasil pemotretan pada photo paper dan kemudian dibingkai untuk siap dipamerkan.
Tabel 3.1 Tabel Timeline Perancangan
Time Table
Tanggal Des 2010 Jan 2011 Feb 2011 Mar 2011 Apr 2011 Mei 2011 Kegiatan 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
Survei
Survei
Pemotretan I
dan review hasil
Pemotretan II
dan review hasil
Survei
Pemotretan III
dan review hasil
Pemotretan IV
dan review hasil
Survei
Pemotretan V
dan review hasil
Proses editing
Pengumpulan karya
42
Universitas Kristen Petra
3.2 Konsep Pemotretan
Konsep dari perancangan ini adalah discover naturalis. pengertian discover adalah menemukan/mendapati sesuatu/area yang baru, namun pada pemotretan ini maksud dari discover adalah mengangkat sesuatu yang luput dari penglihatan mata normal manusia, dalam hal ini serangga yang menjadi objeknya. Karena serangga berukuran relatif kecil yang terkadang gerakannya sangat cepat, bahkan waktu serangga itu diam sekalipun akan sangat susah melihat detail dari tubuhnya bila tidak dari jarak yang sangat dekat. Sedangkan maksud dari naturalis adalah pemotretan ini dilakukan di habitat asli dari serangga tersebut dan sebisa mungkin tidak membuat serangga tersebut merasa terganggu atau bahkan sampai menyakiti serangga tersebut. Sehingga hasil yang didapat dari pemotretan sangat natural dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Konsep ini dipilih berdasarkan apa yang telah dilakukan oleh seorang fotografer makro asal Birmingham, Alabama bernama Frank Phillips. Ia banyak menjelajah lokasi untuk menemukan dan memotret makhluk kecil (serangga) yang seringkali diabaikan oleh manusia. Pemotretan yang dilakukannya adalah pemotretan on the spot di habitat asli serangga tersebut. Karena menurut pendapatnya yang tertulis di website miliknya, www.beautifulbugs.com, bahwa serangga merupakan makhluk ciptaanNya yang memiliki hak untuk menikmati hidup. Frank Phillips memiliki motto “We may ignore, but we can nowhere evade, the presence of God. The world is crowded with Him. He walks everywhere incognito” yang bisa diartikan Keteragan :
: Survei daerah sekitar perumahan
: Survei Telaga Sarangan dan sekitarnya
: Pemotretan di Sarangan - Tawangmangu - Air terjun 5 tingkat
: Pemotretan di daerah sekitar perumahan
: Survei daerah kota Solo - Jogja
: Pemotretan di daerah Candi Prambanan
: Pemotretan daerah Kenjeran, Surabaya
: Survei daerah Kebun Raya Purwodadi
: Pemotretan di Kebun Raya Purwodadi
: Proses croping dan penyesuaian warna dari hasil pemotretan
: Pengumpulan karya
43
Universitas Kristen Petra
bahwa kita dapat mengabaikan serangga – serangga tersebut, tapi kita tidak bisa menghindarinya, kehadiran dari Tuhan dengan penyamaran – penyamarannya yang luar biasa. Oleh karena itu, diharapkan dengan fotografi dapat menunjukkan eksistensi dari serangga – serangga tersebut tanpa mengganggu kehidupan mereka sebagai makhluk hidup.
3.3 Metode Pemotretan
Metode pemotretan yang dipakai dalam perancangan ini adalah pemotretan langsung (on the spot) pada habitat tempat ditemukannya serangga.
Eksekusi pemotretan dilakukan dari jarak yang sangat dekat dengan objek, sekitar 12 cm – 40 cm. Sedangkan mode yang dipakai /disetting pada kamera adalah ‘M’
(manual program) dan ‘A’ (aperture priority program). Mode ‘A’ digunakan bila ingin mengambil gambar dari serangga yang terus bergerak seperti lebah yang sedang terbang. Karena pada mode tersebut, fotografer hanya menentukan nilai bukaan diafragma saja, sedangkan shutter speednya disesuaikan otomatis oleh kamera. Pemotretan dilakukan setenang mungkin dan sebisa mungkin tidak menimbulkan gerakan yang tiba – tiba yang dapat berakibat hilangnya objek dari pandangan. Pemotretan pada perancangan ini dilakukan dalam beberapa tahap sesuai dengan kebutuhan apakah objek serangga yang didapat sudah memenuhi kriteria atau belum.
Setelah dilakukan tahap pemotretan, tahapan selanjutnya adalah menyeleksi foto - foto yang telah didapat. Dari puluhan atau ratusan foto yang ada, akan dipilih 5 – 10 buah foto per jenis serangga sesuai dengan teori fotografi yang ada ( komposisi, sudut pemotretan, dan warna) untuk dikonsultasikan dengan pembimbing. Kemudian masuk ke tahap editing untuk membenahi tampilan foto agar lebih sempurna seperti proses cropping untuk membenahi komposisi dan membuang bagian foto yang tidak perlu serta proses color adjust untuk menyesuaikan tampilan warna agar lebih estetis. Yang kemudian akan dipilih beberapa foto terbaik sebagai foto untuk tampilan final yang akan dicetak pada photo paper.
44
Universitas Kristen Petra
3.4 Pemotretan
3.4.1 Pemotretan Tahap I
Berikut adalah beberapa hasil pemotretan pada tahap pertama. Foto yang ditampilkan belum melalui proses editing. Pemotretan tahap pertama dilakukan di beberapa lokasi di sekitar daerah Telaga Sarangan – Magetan :
Gambar 3.1 Beberapa foto pemotretan tahap I ( foto oleh Allan Richardo)
1 2
3 4
5 6
45
Universitas Kristen Petra
3.4.1.1 Analisa Hasil Pemotretan Tahap I
Pemotretan tahap pertama ini dilakukan di daerah Telaga Sarangan – Magetan pada tanggal 20 Januari – 24 Januari 2011. Beberapa foto yang ditampilkan adalah karya dari penulis sendiri. Secara teknis, pemotretan tahap pertama ini mendapatkan hasil yang baik. Pemotretan juga sesuai dengan konsep yang diangkat, serta detail dan tingkah laku serangga tersebut dapat diamati dengan jelas melalui foto – foto tersebut. Cukup banyak jenis serangga yang didapat di daerah Sarangan tersebut. Seperti beberapa contoh yang ditampilkan diatas, foto jenis lalat hutan (1), kumbang perisai (3) dan kumbang pembom (Bombardier Beetle) (4) didapatkan pada perjalanan menuju air terjun, sedangkan kepik bunga (5) dan kumbang daun (6) didapat di daerah pedesaan sekitar air terjun. Beberapa foto diatas dapat dikatakan foto yang berhasil. Semua foto yang ditampilkan di atas semuanya tajam dan jelas terlihat objeknya. Hanya foto nomor 6 yang kurang baik sudut pengambilannya dan bisa dikatakan bahwa foto nomor 6 termasuk pemotretan yang gagal, karena dari foto tersebut, sang kumbang terkesan membelakangi fotografer.
Untuk komposisi gambar pada beberapa foto diatas cukup baik, namun ada beberapa yang akan dibantu pada proses editing di komputer nantinya, terutama gambar nomor 1. Karena tidak semua serangga diam tak bergerak saat hinggap, salah satunya lalat hutan tersebut, terus bergerak dengan jeda berdiam yang sangat singkat. Sehingga fotografer lebih memprioritaskan untuk mengambil gambar terlebih dahulu daripada mengatur komposisinya, karena fotografer dikejar oleh waktu sebelum lalat hutan tersebut terbang menjauh.
46
Universitas Kristen Petra
3.4.2 Pemotretan Tahap II
Berikut adalah beberapa hasil pemotretan pada tahap kedua. Foto yang ditampilkan belum melalui proses editing komputer. Pemotretan tahap kedua dilakukan di beberapa lokasi di daerah sekitar rumah tempat tinggal :
Gambar 3.2 Beberapa foto pemotretan tahap II ( foto oleh Allan Richardo)
1 2
3 4
5 6
47
Universitas Kristen Petra
3.4.2.1 Analisa Hasil Pemotretan Tahap II
Pemotretan tahap kedua ini dilakukan di daerah sekitar perumahan tempat tinggal. Lokasi tepatnya pada daerah perumahan Kenjeran Indah, Surabaya.
Pemotretan dilakukan pada tanggal 5 Februari – 10 Februari 2011 namun tidak selama lima hari berturut – turut. Waktu selama pemotretan tahap kedua cukup fleksibel karena lokasi yang dekat dengan tempat tinggal, sehingga bila hasil kurang memuaskan dapat kembali memotret lagi. Beberapa foto yang ditampilkan adalah karya dari penulis sendiri. Pada pemotretan kedua ini, serangga yang didapatkan adalah serangga yang biasa beraktifitas di daerah tempat tinggal penduduk seperti Lebah madu biru (1), lalat hijau (2), Kumbang perisai (3), Berbagai jenis belalang, salah satunya pada gambar nomor 4, capung (5), dan beberapa jenis kupu – kupu (6). Secara teknis, pemotretan tahap kedua mendapatkan hasil foto yang baik. Berbagai jenis serangga didapatkan dari lokasi yang areanya sempit dan kebanyakan foto yang didapat memiliki ketajaman yang baik pula.
Komposisi pemotretan juga cukup baik. Foto yang diambil mengikuti kaidah rule of third seperti ditunjukkan pada foto nomor 4 dan 6. Namun beberapa foto lainnya perlu melalui proses cropping pada komputer agar kaidah rule of third lebih tampak. Untuk kondisi pencahayaan pada pemotretan kedua ini, pada foto nomor 3 dan 4 mengandalkan cahaya alami (available light) sesuai dengan kondisi intensitas cahaya matahari pada saat pemotretan dilakukan. Sedangkan untuk foto nomor 1,2,5, dan 6 memakai bantuan flash off camera (external flash Nikon SB-800 speedlight) dari posisi samping lensa untuk menangkap gerakan yang cukup cepat dari serangga tersebut. Banyak efek menarik yang timbul dari penggunaan external flash. Dapat dilihat pada foto nomor 2, external flash membantu menampakkan warna tubuh dari lalat hijau. Sedangkan pada foto nomor 6, external flash membantu memberikan hilight pada kuncup bunga tempat kupu – kupu itu hinggap.
48
Universitas Kristen Petra
3.4.3 Pemotretan Tahap III
Berikut adalah beberapa hasil pemotretan pada tahap ketiga. Foto yang ditampilkan belum melalui proses editing komputer. Pemotretan tahap ketiga dilakukan di lokasi daerah Candi Prambanan – Jawa Tengah :
Gambar 3.3 Beberapa foto pemotretan tahap III ( foto oleh Allan Richardo)
5 6
3 4
1 2
49
Universitas Kristen Petra
3.4.3.1 Analisa Hasil Pemotretan Tahap III
Pemotretan tahap ketiga ini dilakukan di daerah sekitar Candi Prambanan, Jawa Tengah. Tepatnya di sebelah timur candi setelah pintu keluar. Pemotretan dilakukan satu hari saja yaitu pada tanggal 23 Februari 2011, pada pukul 13.00.
kebetulan cuaca mendung sehingga cahaya matahari tidak begitu terik. Namun karena kondisi cuaca itu pula membuat pemotretan mengandalkan external flash sebagai bantuan penambah cahaya. Tidak banyak jenis serangga yang didapat di daerah tersebut karena daerahnya hanya ditumbuhi hamparan rumput. Serangga yang dipotret antara lain ngengat yang menghisap nektar (1 & 2), belalang (3), kumbang perisai besar (4), dan bebrapa jenis kepik rumput (5 & 6).
Gambar 1 & 2 menunjukkan aktivitas dari ngengat saat menusukkan alat penghisapnya ke dalam putik bunga dan kemudian menariknya keluar. Gambar yang dihasilkan foto ini cukup tajam dengan komposisi yang cukup baik. Untuk gambar nomor 3 & 4, komposisi pemotretannya sangat baik, ketajaman gambarnya juga sangat baik. Untuk gambar nomor 4 warnanya terlihat sangat menarik dan pas. Sedangkan untuk gambar nomor 3 diperlukan editing komputer untuk menyesuaikan warna agar belalang tersebut dapat lebih menonjol dan menjadi point of interest. Sedangkan untuk gambar 5 & 6, foto tersebut dapat dibilang foto yang gagal. Pada foto nomor 5, komposisi objek kurang sesuai dan depth of field gambarnya sangat sempit, yaitu sebatas mata dari serangga tersebut saja, sedangakan area lain disekitar gambar tersebut terlalu blur. Untuk foto nomor 6, sebenarnya dapat menjadi foto yang baik apabila objek diambil fotonya dari jarak yang lebih dekat dan dari angle yang lebih rendah sehingga kepala dari kepik tersebut lebih terlihat. Dan hal utama yang membuat foto ini gagal adalah terhalangnya kepala kepik tersebut oleh bunga rumput yang tertiup angin pada saat tombol shutter ditekan. Faktor angin sangatlah besar pengaruhnya pada saat memotret makro outdoor. Sedikit saja angin bertiup, akan menggoyangkan tempat serangga berpijak atau benda lain yang ada di sekitar objek tersebut.
50
Universitas Kristen Petra
3.4.4 Pemotretan Tahap IV
Berikut adalah beberapa hasil pemotretan pada tahap keempat. Foto yang ditampilkan belum melalui proses editing komputer. Pemotretan tahap keempat dilakukan di lokasi sekitar Pantai Kenjeran, Surabaya :
Gambar 3.4 Beberapa foto pemotretan tahap IV ( foto oleh Allan Richardo) 1 2
3 4
51
Universitas Kristen Petra
3.4.4.1 Analisa Hasil Pemotretan Tahap IV
Pemotretan tahap keempat ini dilakukan di daerah sekitar Pantai Kenjeran, Surabaya. Tepatnya di Kenpark atau yang biasa disebut Kenjeran Baru. Daerah tersebut merupakan daerah hamparan padang rumput dengan sedikit bunga – bunga kecil Pemotretan dilakukan pada tanggal 1 Maret 2011 pada pukul 09.00 dengan kondisi cuaca cerah. Karena kondisi yang mendukung, pemotretan dilakukan tanpa menggunakan flash. Pemotretan pada saat pagi hari merupakan saat yang cukup tepat untuk memburu foto mereka. Dan sebagian besar objek yang diambil gambarnya adalah kupu – kupu seperti pada gambar 1 & 2, namun ada juga beberapa jenis ngengat (3) dan belalang. Pencarian objek cukup mudah dilakukan karena banyaknya kupu – kupu yang ada sehingga fotografer tidak kesusahan untuk mencari apa yang akan dipotret. Kendala yang cukup besar adalah pergerakan kupu – kupu yang cukup cepat sehingga memberikan kesulitan pada fotografer untuk mengunci fokus pada kupu – kupu. Ditambah dengan hembusan angin yang cukup kencang membuat penguncian fokus dua kali lebih susah karena pergerakan dari tangkai bunga tersebut.
Diatas adalah beberapa foto yang diambil di lokasi pemotretan. Komposisi pada foto cenderung jelek karena pemotretan menggunakan lensa 50mm dengan jarank kunci fokus terdekat adalah lebih kurang 50 cm dari objek sehingga objek terlihat kecil. Pengaturan komposisi akan dilakukan kemudian melalui proses editing pada komputer. Beberapa foto juga mengalami kegagalan seperti contoh pada foto nomor 4. Pada foto tersebut, bagian sayap dari kupu – kupu terhalang oleh tangkai dari bunga yang berada di depannya. Kesalahan ini bersumber dari fotografer sendiri yang kurang jeli dalam mengamati unsur apa yang mengganggu objek pada saat pemotretan.
52
Universitas Kristen Petra
3.4.5 Pemotretan Tahap V
Berikut adalah beberapa hasil pemotretan pada tahap kelima. Foto yang ditampilkan belum melalui proses editing komputer. Pemotretan tahap kelimadilakukan di lokasi Kebun Raya Purwodadi :
Gambar 3.5 Beberapa foto pemotretan tahap V ( foto oleh Allan Richardo)
5 6
3 4
1 2
53
Universitas Kristen Petra
3.4.5.1 Analisa Hasil Pemotretan Tahap V
Pemotretan tahap kelima ini dilakukan di Kebun Raya Purwodadi. Daerah tersebut merupakan daerah dengan pohon – pohon rindang layaknya hutan kecil yang menjadi habitat para serangga. Pemotretan dilakukan pada tanggal 12 Maret 2011 pada pukul 08.30 dengan kondisi cuaca sedikit berawan. Kebun Raya Purwodadi merupakan tempat yang sangat baik untuk mencari berbagai jenis serangga. Kondisi kebun yang cukup alami dan banyak spot berbeda (seperti kolam teratai, rawa, daerah berbatu, rerumputan, pepohonan, dll) menjadikan tempat bernaung bagi banyak serangga sehingga tidak begitu susah untuk menemukan mereka di sana seperti beberapa contoh di atas, jenis lalat hutan (3), belalang hijau (2), lebah lumpur (5), dan capung (6). Pemotretan di Purwodadi memetik hasil yang cukup memuaskan bagi fotografer. Keanekaragaman serangga dan warna – warna dari tubuh mereka yang menarik perhatian dapat menghasilkan foto yang menarik. Namun ada juga beberapa foto yang kurang pas atau kurang estetis antara komposisi dan backgroundnya, seperti pada foto nomor 6. Pada foto tersebut, objeknya sangat menarik yaitu sepasang capung yang sedang kawin, namun lokasi mereka hinggap adalah di pinggir kolam, sangat tidak sesuai dengan kebiasaan capung yang biasa hinggap di helaian rumput atau ujung bunga.
Karena terlalu luasnya lokasi Kebun raya Purwodadi, tidak semua wilayah kebun dapat ditelusuri keanekaragaman serangganya. Dan lagi setelah mencapai siang hari mulai turun hujan di area Kebun Raya Purwodadi. Untuk komposisi gambar yang didapatkan dirasa cukup baik. Acuan komposisi rule of third/golden mean cukup dapat dirasakan walaupun nantinya tetap akan melalui proses editing pada komputer untuk mengatur kembli komposisi foto yang dirasa kurang sesuai.
54
Universitas Kristen Petra
3.5 Editing
Secara tidak langsung, proses editing sangat perlu untuk dilakukan setelah proses pengambilan gambar. Karena, melalui proses editing dapat membantu memperbaiki gambar - gambar yang dihasilkan agar mendapatkan hasil yang lebih baik. Kebanyakan proses editing yang dilakukan adalah proses perbaikan secara visual seperti pengaturan komposisi, penyesuaian warna, memperbesar atau memperkecil ukuran gambar, penggabungan dua gambar atau lebih, bahkan sampai penambahan atau penguran unsur – unsur yang sudah ada pada gambar atau yang biasa disebut Digital Imaging.
Secara teknis, editing yang dilakukan dalam perancangan ini hanya sebatas proses cropping untuk mengatur dan meyesuaikan komposisi sesuai dengan acuan rule of third/golden mean sehingga gambar yang dihasilkan memiliki tampilan komposisi yang lebih baik dan menarik, proses color adjust untuk mengatur dan menyesuaikan warna sehingga warna yang dihasilkan lebih menarik dari warna yang ada pada tampilan gambar originalnya, serta proses menghilangkan beberapa unsur yang dirasa mengganggu pada tampilan foto. Proses cropping dan color adjust perlu dilakukan pada perancangan ini adalah untuk membantu menghasilkan gambar akhir yang lebih baik. Karena dalam fotografi makro khususnya serangga, terkadang fotografer harus mendahulukan untuk mengambil gambar daripada mengautur komposisi pemotretan dikarenakan kebanyakan serangga terutama yang bersayap dapat bergerak dengan cepat dan tiba – tiba.
3.5.1 Proses Editing
Berikut adalah beberapa contoh proses editing yang dilakukan dari hasil pemotretan tahap I :
55
Universitas Kristen Petra
1
2
Gambar 3.6 Hasil editing foto Robberfly. ( editing oleh Allan Richardo)
Gambar 3.7 Hasil editing foto Soldier Beetle. (editing oleh Allan Richardo)
56
Universitas Kristen Petra
Gambar 3.8 Hasil editing foto Shield Bug. ( editing oleh Allan Richardo)
Gambar 3.9 Hasil editing foto kumbang perisai. (editing oleh Allan Richardo)
57
Universitas Kristen Petra
Gambar 3.10 Hasil editing foto kumbang daun (editing oleh Allan Richardo)
Gambar 3.11 Hasil editing foto Dimangsa Lana - Laba (editing oleh Allan Richardo)
58
Universitas Kristen Petra
3.5.2 Analisa Proses Editing
Sesuai dengan batasan perancangan yang ada, proses editing dilakukan sebatas cropping dan adjust color seperti yang tampak pada beberapa contoh di atas. Berikut adalah analisis dari tiap gambarnya :
1. Gambar 3.6
Pada gambar 3.7.1, proses editing yang dilakukan adalah cropping agar posisi objek tidak berada di tengah karena komposisinya kurang baik.
Oleh karena itu, bagian gambar dipotong agar posisi objek berada di sebelah kanan sekaligus memberi ruang semu ke arah pandangan serangga. Pada gambar ini tidak dilakukan proses color adjust karena warna yang didapat dari hasil jepretan kamera dirasa sudah cukup baik.
2. Gambar 3.7
Untuk gambar ini, editing yang dilakukan adalah proses cropping dengan memotong bagian luar/pinggir gambar agar objek terlihat lebih besar dan lebih dekat sehingga detail tubuhnya lebih terlihat. Sedangkan color adjust pada gambar ini dilakukan untuk lebih mematangkan warna hijau pada tangkai tempat pijakan serangga dan warna hijau pada backgroumd agar warna hijaunya terlihat lebih hidup. Color adjust juga digunakan untuk sedikit lebih mematangkan warna kuning pada bagian belakang kepala bombardier beetle tersebut.
3. Gambar 3.8
Pada gambar tersebut, proses cropping dilakukan untuk membuat kepik bunga menjadi fokus perhatian dalam foto. Karena ukuran kepik bunga yang terlalu kecil membuat serangga tenggelam dalam unsur – unsur lain di sekitarnya. Dengan cropping dapat membantu menonjolkan sang kepik sebagai point of interest. Untuk proses color adjust yang dilakukan adalah menggelapkan bagian background agar warna bunga dan sang kepik lebih menonjol keluar. Pematangan warna juga dilakukan pada bagian tubuh kepik sehingga warna hijaunya terlihat lebih hidup.
59
Universitas Kristen Petra
4. Gambar 3.9
Untuk gambar 3.7.4 sebenarnya komposisi gambar sudah bagus, namun cropping tetap dilakukan untuk menyesuaikan dengan ukuran kertas foto pada saat pencetakan gambar. Untuk proses color adjust, warna background sedikit digelapkan dan dilakukan penguatan warna coklat pada bagian tubuh dari kumbang perisai tersebut.
5. Gambar 3.10
Pada gambar ini proses cropping dilakukan untuk mengatur kembali komposisi serangga yang semula berposisi di tengah gambar dibuat menjadi di bagian kiri gambar sehingga komposisinya lebih pas. Color adjust dilakukan untuk lebih menguatkan warna hijau daun tempat serangga berpijak dan menguatkan warna oranye pada bagian tubuh serangga. Pada bagian kepala sedikit diterangkan karena kondisinya sedikit underexposed pada gambar originalnya.
6. Gambar 3.11
Pada gambar 3.7.6, cropping dilakukan untuk membuat komposisi gambar tepat di tengah agar terlihat seimbang karena pada gambar originalnya objek terkesan condong ke arah kanan. Sedangkan color adjust berperan dalam sedikit meningkatkan warna hijau pada background dan meningkatkan warna pada bagian abdomen (perut) lebah serta lebih mematangkan warna kuning pada bagian tengah bunga.