1 BAB I PENGANTAR I. Latar Belakang
Alasan utama yang melandasi pengambilan judul skripsi ini adalah adanya trend baru di dalam ilmu hubungan internasional, terutama dibidang analisa kebijakan luar negeri atau Foreign Policy Analysis. Pada awal pembentukan ilmu HI, teori Realisme merupakan teori yang mendominasi analisa kebijkan luar negeri. Teori tersebut menghasilkan beberapa konsep analisa kebijakan luar negeri seperti Rational Actor Theory dan Game Theory, dimana teori tersebut menggunakan variabel materi sebagai alat analisa fenomena internasional.
Namun seiring berkembangnya jaman, variabel materi sudah tidak lagi relevan untuk dijadikan satu – satunya variabel analisa fenomena internasional. Oleh karena itu munculah beberapa teori baru seperti teori Konstruktivisme yang menawarkan variabel baru dalam menganalisa fenomena internasional. Variabel baru tersebut termanifestasi dalam bentuk variabel idealis; variabel dalam bentuk konsep identitas, norma, budaya, dan ide – ide sosial lainnya. Fokus utama dalam skripsi ini adalah terhadap konsep identitas itu sendiri, serta pengaruhnya terhadap kebijakan luar negeri. Contoh fenomena internasional yang dapat dijelaskan dengan variabel idealis ini antara lain adalah fenomena perubahan kebijakan luar negeri Jepang dari yang bersifat militer menjadi pacifist.
Kebijkan luar negeri Jepang yang baru dapat dijelaskan melalui identitas baru Jepang sebagai negara ekonomi yang pacifist akibat kekalahannya di perang dunia.1Teori konstruktivisme sendiri mengatakan bahwa kepentingan suatu negara dipengaruhi oleh identitas yang terbentuk melalui interaksi sosial. Akibat interaksi sosial Jepang dengan AS, muncullah identitas baru Jepang sebagai negara pasifis – merkantilis dimana kepentingan mereka fokus terhadap perkembangan ekonomi.
Namun, fokus dalam skripsi ini adalah kebijakan baru negara Federasi Rusia yang sifatnya jauh lebih asertif di dalam politik internasional. Ada kalanya ketika kebijakan luar negeri Rusia memiliki orientasi militer di era Soviet sebelum bertransformasi menjadi kebijakan yang berorientasi ekonomi di bawah Boris Yeltsin. Di bawah kepemimpinan Yeltsin, Rusia menjalani reformasi ekonomi dan politik dengan aspirasi utama menjadi negara liberal seperti negara barat. Namun, kebijakan reformasi ―Shock Therapy‖ tersebut
1 Linus Hagström. "Identity politics and Japan's foreign policy." Statsvetenskaplig Tidskrift 108, no. 2 (2006)
2
justru berdampak negatif bagi Rusia pada saat itu. Reformasi pasar yang dilakukan secara mendadak melalui liberalisasi harga dan proses privatisasi menyeluruh justru mendatangkan inflasi.
Krisis ekonomi di Rusia mengalami penurunan yang lebih drastis ketika mereka ikut diserang oleh krisis finansial global 1998. Tentu saja krisis ekonomi ini berdampak pada penurunan popularitas Yeltsin baik di pemerintahan Kremlin maupun di antara masyarakat Rusia. Pada masa ini Rusia telah menjadi Weak state atau negara lemah yang pemerintahannya dikuasai oleh oligarki opportunis dan elit yang korupsi.2 Bahkan GDP Rusia mengalami penurunan drastis dari US$ 500 miliar di awal 1991 menjadi sekitar US$
190 miliar di akhir kepemimpinan Yeltsin.3 Dalam arena internasional, Rusia era Yeltsin dikenal sebagai negara yang gagal dan penuh korupsi. Korupsi yang dilakukan oleh para elit lokal maupun nasional tersebut menjadikan Rusia negara yang tidak memiliki suara di arena internasional.4
Komunitas politik internasional mulai menyadari adanya perubahan di Rusia ketika Vladimir Putin muncul sebagai pemimpin Kremlin yang baru. Naiknya Vladimir Putin ke kursi kepemimpinan baru Rusia juga bersamaan dengan munculnya kembali status Rusia sebagai pemain aktor internasional yang signifikan. Hal tersebut dalam dilihat dari perkembangan pesat yang dialami Rusia dalam sektor ekonomi maupun diplomasi. Dalam bidang ekonomi, Putin berhasil memperbaiki perekonomian Rusia dengan signifikan. Sebagai contoh, Rusia berhasil menjadi 10 besar ekonomi dunia bersama negara – negara anggota BRICS lainnya.5 Rusia juga berhasil melunasi sebagian besar hutangnya yang terkumpul dari era Uni Soviet kepada Paris Club.6
Transformasi positif Rusia dibidang ekonomi tentunya dipengaruhi juga dengan adanya profit industri minyak dan gas. Penghasilan dari sektor minyak dan gas inilah yang kemudian menurunkan rasio kemiskinan di Rusia, beserta kenaikan GDP tahunan Rusia yang
2Daniel Treisman, 2011. ―Presidential Popularity in a Hybrid Regime: Russia under Yeltsin and Putin.‖
American Journal of Political Science. Vol. 55, No. 3 July 2011 Hal. 590
3GDP Growth of Russia. Trading Economics. http://www.tradingeconomics.com/russia/gdp. Diakses pada 14 September 2014
4Jeffrey Mankoff, 2009, Russian Foreign Policy: The Return of Great Power Politics. UK: Rowman &
Littlefield Publishing, Inc. Hal. 86
5Anton Golubev. 2013. ―Russia breaks into top 5 world economies, displacing Germany.‖ Russian Today, http://rt.com/business/russia-gdp-5th-largest-158/ Diakses pada 15 September 2014.
6Edmund Conway. 2006. ―Reborn Russia Clears Soviet Debts.‖ The Telegraph.
http://www.telegraph.co.uk/finance/2945924/Reborn-Russia-clears-Soviet-debt.html Diakses pada15 September 2014
3
dipertahankan sebelum terkena krisis ekonomi si 2009 yang lalu.7 Namun, perekonomian Rusia berhasil meraih kembali momentumnya pada tahun 2010 yang kemudian dipertahankan hingga sekarang.
Gambar 1. GDP Rusia (2004 – 2014)
Meskipun begitu, fokus utama dalam skripsi ini adalah perubahan Rusia di dalam sektor diplomatik dan bagaimana identitas mempengaruhinya. Secara tidak langsung, pertanyaan utama dalam skripsi ini adalah bagaimana identitas mempengaruhi kebijakan luar negeri Rusia yang sifatnya jauh lebih asertif dibandingkan era – era sebelumnya. Dua studi kasus yang akan dianalisa adalah kebijakan luar negeri Rusia di dalam konflik Suriah dan Ukraina Timur. Keterlibatan erat Rusia di dalam kedua konflik tersebut seakan menandakan keasertifan Rusia dalam politik internasional, terutama relasinya terhadap dunia Barat.
Tentunya keterlibatan Rusia di kedua konflik tersebut tidak bisa hanya dijelaskan menggunakan variabel materi. Oleh karena itu skripsi ini ditujukan untuk menganalisa bagaimana identitas berpengaruh terhadap kebijakan luar negeri Rusia di kedua konflik tersebut.
Di dalam konflik Suriah, Rusia memiliki peran sebagai partner atau aliansi politik yang suportif. Kebijakan luar negeri Rusia di Suriah secara garis besar ditujukan untuk mencegah adanya intervensi barat terhadap pemerintahan Basar Al – Assad. Sedangkan di
7Anders Aslund. 2008. ―An Assesments of Putin‘s Economic Policy‖ Peterson Institute for International Economics, http://www.iie.com/publications/papers/paper.cfm?ResearchID=974 Diakses pada 16th September 2014.
4
Ukraina Timur, Rusia berperan sebagai lawan yang mencoba untuk mempertahankan wilayahnya di wilayah Ukraina Timur.
Argumen utama yang dicoba untuk disampaikan oleh si penulis adalah bahwa identitas memiliki pengaruh yang besar dalam kebijakan luar negeri Rusia dibawah Vladimir Putin. Dalam relasinya dengan Ukraina dan Suriah, terdapat dua konsep identitas yang menonjol yang diasumsikan berpengaruh terhadap kebijakan luar negeri Rusia. Konsep identitas pertama adalah identitas Great Power yang menggabungkan unsur Nasionalisme dan ideologi Sosialisme dalam pembangunan Rusia sebagai negara yang kuat dan berpengaruh di dunia internasional. Konsep identitas yang kedua adalah identitas Rusia sebagai negara Konservatif. Sifat – sifat konservatif tersebut merupakan akar dari nilai – nilai Kristen Ortodoks yang merupakan agama signifikan di Rusia dan negara – negara tetangganya, termasuk di Ukraina dan Suriah. Pembahasan mengenai definisi dan munculnya kedua konsep identitas Rusia ini dalam interaksi sosialnya dengan kedua negara konflik tersebut akan dibahas lebih lanjut dalam bab selanjutnya.
Skripsi ini akan dibagi menjadi empat bab utama. Bab pertama didedikasikan kepada pembahasan latar belakang skripsi beserta kerangka konseptual yang digunakan untuk menganalisa rumusan masalah utama. Bab kedua merupakan data dan penemuan yang telah dikumpulkan oleh penulis berkaitan dengan kedua konflik tersebut. Bab dua juga akan diawali dengan penjelasan mengenai terbentuknya identitas yang mempengaruhi kebijakan luar negeri Rusia. Bab ketiga merupakan bab analisa utama, dimana hubungan antara identitas dan kebijakan luar negeri via kepentingan akan dielaborasikan lebih lanjut. Dan bab keempat ditujukan untuk menyimpulkan hasil penemuan dan analisa skripsi tersebut.
II. Rumusan Masalah
Bagaimana identitas mempengaruhi kebijakan luar negeri Rusia pada konflik Suriah dan Ukraina Timur dibawah kepemimpinan Vladimir Putin?
III. Kerangka Konseptual
1. Analisa Berbasis Identitas dalam Teori Konstruktivisme
Teori Konstruktivisme telah menaikkan kepopuleran konsep identitas dan penggunaannya dalam menganalisa fenomena HI. Beberapa peneliti dan akademis yang mengadvokasi pendekatan berbasis identitas cenderung menggunakan konsep tersebut untuk menganalisa kebijakan luar negeri suatu negara. Sebagai contoh, Renner dan Horelt menghubungkan
5
identitas Kroasia sebagai negara Balkan dan negara Eropa dengan kebijakan dilematis mereka terhadap International Crime Tribune for Yugoslavia (ICTY). Dalam analisanya, Renner & Horelt berpendapat bahwa interaksi baru kroasia dengan Uni Eropa menimbulkan identitas baru Kroasia sebagai bangsa Eropa. Hal tersebut memicu sifat dilematis dalam kebijakan mereka, terutama jika dikaitkan dengan identitas lama mereka sebagai bangsa balkan, dengan kata lain solidaritas etnis Balkan. Dua identitas Kroasia tersebut saling berkompetisi dan mempengaruhi sifat dilematis kebijakan luar negeri mereka. Dalam kasus lain, Ashizawa menganalisa kebijakan luar negeri Jepang terhadap negara – negara Asia Tenggara pasca perang dingin, terutama dalam kasus APEC dan ARF. Kebijakan luar negeri ini dijelaskan oleh Ashizawa dengan adanya konstruksi identitas baru bangsa Jepang sebagai partner yang pasifist. Dengan identitas baru tersebut, Kepentingan utama Jepang adalah berusaha meraih kembali kepercayaan dari bangsa – bangsa Asia Tenggara yang juga merupakan bekas jajahan Jepang. Kepentingan inilah yang menurut Ashizawa mendasari tindakan Jepang untuk bergabung dalam APEC dan ARF.
Dalam studi politik Rusia sendiri, penggunaan konsep identitas biasanya dikaitkan dengan hubungan Rusia vis-a-vis negara Barat. Kasianova melakukan analisa komparatif mengenai dua identitas berbeda yang hadir dalam kebijakan luar negeri Rusia di era Yeltsin dan Putin. Hasil interaksi Rusia dengan Uni Eropa di era Yeltsin menimbulkan konstruksi identitas Rusia sebagai negara ―Eropa‖ yang kapitalis dan liberal. Dengan identitas tersebut, alhasil kepentingan utama Rusia adalah untuk menjadi partner dan juga bagian dari Uni Eropa. Namun di era Putin, Kasianova menyoroti peran identitas Great Power dalam kebijakan luar negeri Rusia. Era Putin didasari dengan adanya keinginan Rusia untuk menjadi Great Power yang dapat mengimbangi kekuatan Uni Eropa dan AS sebagai kekuatan dominan di politik internasional.
Fenomena adanya perubahan signifikan di dalam kebijakan luar negeri Rusia akan dianalisa dibawah kerangka teori konstruktivisme, dimana teori tersebut berargumen bahwa perilaku negara selayaknya difahami melalui substansi atau ide yang terbentuk secara sosial.8 Identitas merupakan salah satu substansi yang dimaksud dalam argumen tersebut. Oleh karena itu, muncul lah pendekatan analisa berbasis identitas, dimana ―identitas dan budaya
8Judith Renner & Michel-Andre Horelt, 2008, ―Of Heroes and Villains: Competing Identity Construction in Post – War Croatia.‖ Munich Working Papers in IR. No.1 (January 2008) Hal.9
6
bersama memiliki peran yang penting di dalam kebijakan luar negeri.”9 Menurut Alexander Wendt, terdapat tiga klaim utama yang menjadi esensi teori konstruktivisme, mereka adalah:
―(1) state are the principal units of analysis in international political theory; (2) The key structures in the state system are intersubjective rather than material; (3) state identities and interest are important part constructed by these social structures, rather than given exogenously to the system by human nature or domestic politics.‖10
Dalam pandangan ilmu realis, identitas dan juga kepentingan merupakan suatu variable yang sifatnya statis ataupun tetap. Dengan kata lain, variabel tersebut akan selalu sama sepanjang masa, yaitu dalam bentuk Powersebagai kepentingan utama yang mempengaruhi perilaku suatu aktor. Oleh karena itu, analisa melalui teori realis cenderung memiliki unsur prediktabilitas yang kuat. Hal inilah yang kemudian dikritik oleh pemikir konstruktivis seperti Wendt. Dalam klaim konstruktivisme di atas, Wendt menekankan pentingnya variable idealis yang terbentuk secara sosial dalam analisa fenomena Hubungan Internasional. Dengan kata lain, identitas yang terbentuk melalui proses interaksi antar negara inilah yang kemudian mendasari perilaku aktor politik internasional dalam menentukan kebijakan luar negerinya.11Untuk memahami konsep identitas dan pengaruhnya dalam HI secara lebih mendalam, perlu dipahami bahwa identitas itu sifatnya dinamis. Berikut merupakan definisi dan penjelasan sifat – sifat identitas menurut teori konstruktivisme.
a) Definisi Konsep dan Sifat Dinamis Identitas dalam HI
Konsep identitas mulai muncul sebagai pendekatan analisa kebijakan luar negeri di awal tahun 1990an, bersamaan dengan naiknya kepopuleran teori konstruktivisme dalam ilmu HI.12 Dalam teori konstruktivisme sendiri, terdapat berbagai macam cabang pemikiran yang juga menghasilkan pengertian berbeda terhadap konsep identitas. Namun, dalam pengertiannya yang paling luas, Wendt mendefinisikan konsep identitas sebagai ―pada dasarnya, adalah sebuah kualitas subyektif atau level – unit yang berakar dari self – understanding aktor tersebut.‖13 Pada dasarnya identitas menjawab pertanyaan ―Siapa‖
dalam hubungan internasional.Apabila sebuah aktor atau agen menegetahui siapa dia, barulah
9Umut Uzer .2011. Identity and Turkish foreign policy: The Kemalist Influence in Cyprus and the Caucasus.
New York: Palgrave Macmillan. hal.4
10Alexander Wendt, ―Collective Identity Formation and the International State,‖ American Political Science Review 88 (1994): 385
11Bulent Aras. ―Turkish Foreign Policy and Jerusalem: toward a Socital Construction of Foreign Policy.‖ Arab Studies Quarterly. Vol. 22, No. 4 (Fall 2000) Hal.33
12Lihat Renner & Horelt, hal. 9
13 Alexander Wendt, 1999, Social Theory of International Politics. Cambridge: Cambridge University Press.
Hal.224
7
dia dapat mengetahui apa yang dia inginkan dan bagaimana dia bisa mewujudkannya melalui kapabilitas yang dimilikinya. Namun Wendt juga menekankan bahwa identitas yang hanya dipahami secara pribadi oleh aktor tersebut tidak akan bisa dijadikan variabel dalam analisa HI. Agar konsep identitas menjadi valid, pandangan terhadap konsep tersebut harus menjadi pandangan bersama (kolektif) bagi aktor yang terlibat. Dalam skripsi ini, aktor yang terlibat adalah Rusia, Suriah dan Ukraina. Namun dalam eksten teretentu, negara barat seperti UE dan AS juga terlibat dalam konstruksi identitas Rusia.
Dua konsep identitas inilah yang terdapat dalam tulisan – tulisan alexander Wendt mengenai peran identitas dalam HI. Konsep identitas pertama merupakan identitas yang terbentuk secara internal, melalui sejarah dan nilai – nilai civilisasi bangsa tersebut. Dengan kata lain, identitas tersebut bersifat inherent dan hanya dipahami secara internal oleh bangsa tersebut. Sedangkan konsep identitas kedua adalah identitas yang terbentuk secara eksternal melalui interaksi sosial antar negara. Identitas inilah yang menjadi variabel utama dalam analisa fenomena HI, dimana identitas muncul ―hanya dalam relasinya dengan aktor lain.‖14 Dengan kata lain, suatu negara dapat memiliki berbagai macam identitas yang saling berdampingan. Berbagai macam identitas ini tentunya terbentuk akibat berbagai macam interaksi dengan berbagai macam aktor. Berbagai macam interpretasi identitas inilah yang kemudian saling berkompetisi dan mencoba mendominasi dalam suatu aktor.15
Apabila identitas dimaknai sebagai suatu ide yang terbentuk melalui interaksi sosial, maka dapat dikatakan bahwa identitas memiliki sifat yang dinamis atau tidak pasti. Kata dinamis mengacu pada tendensi identitas untuk berubah bentuk mengikuti pola waktu dan jenis interaksi negara tersebut. Banyak peneliti HI menggunakan teori konstruktivisme dan konsep identitas yang dinamis dalam analisa fenomena internasional. Sebagian besar dari mereka menyoroti bagaimana identitas memiliki pengaruh yang signifikan dalam kebijakan luar negeri mereka. Dari beberapa peniliti ini, penulis dapat menemui bagaimana identitas suatu negara dapat berubah seiring dengan berubahnya jenis interaksi sosial yang dihadapi aktor tersebut.
Negara Turki merupakan salah satu contoh subyek analisa yang menarik terutama dalam kaitannya dengan identitas dan dinamikanya dalam mempengaruhi kebijakan luar negeri.
Peneliti Umut Uzer menganalisa peran identitas sebagai variabel utama yang mempengaruhi
14Christian Thorun. 2009, Explaining Change in Russian Foreign Policy, US: Palgrave MacMillan. Hal.228.
15Alexander Wendt. 1994: Collective Identity Formation and the International State, in:
American Political Science Review 88:2, 385.
8
kebijakan luar negerinya terhadap intervensi Yunani dalam konflik Siprus. Dalam kasus ini, identitas yang mendominasi adalah identitas turki sebagai Etnis Turki. Bangsa Siprus-Yunani dan Siprus-Turki merupakan salah satu mayoritas etnis di Siprus, dimana selama ini pemerintahan Siprus-Yunani cenderung opresif terhadap rakyat Siprus beretnis Turki. Dalam relasi sosialnya terhadap pemerintahan Yunani, Turki memiliki kepentingan untuk melindungi bangsa Turki yang tertindas oleh pemerintahan bangsa Siprus-Yunani yang mendominasi. Oleh karena itu Turki mencegah intervensi yunani agar kepentingannya terjaga di Siprus. Di kasus ini, intervensi Turki dijustifikasi oleh ―...kedekatan geografis, hubungan sejarah, dan keberadaan populasi etnis Turki...‖16
Dalam contoh lain, Bulent Aras mengemukakan adanya identitas lain yang mempengaruhi kebijakan luar negeri Turki di konflik Jerusalem. Di dalam konflik tersebut, Turki memberikan dukungan terhadap umat palestina, bersamaan dengan kecamannya terhadap Israel yang dianggap mengopresi kaum Palestina. Aras berargumen bahwa dukungan Turki terhadap Palestina dipengaruhi oleh identitas Turki sebagai bangsa Islam.
Kepentingan Turki yang ada dibalik dukungan tersebut adalah keinginan untuk mempertahankan tanah suci Islam, beserta kaum islam yang ada di dalamnya. Dua contoh ini menunjukkan adanya sifat dinamis identitas dalam teori konstruktivisme. Relasi sosial suatu negara dengan negara lain melahirkan identitas yang khusus, yang sifatnya spesifik terhadap di dalam hubungan tersebut.
b) Neksus Identitas dan Interes
Untuk memahami hubungan antara identitas dan kepentingan (interest), perlu diketahui bahwa pendekatan analisa berbasis identitas terbentuk dari kritik kaum konstruktivis terhadap pendekatan rasionalis kaum realis.17 Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa kaum realis menganggap bahwa kebijakan luar negeri suatu negara didasari atau dipengaruhi oleh kepentingan yang bersifat tetap (fixed interest). Kelemahan yang ada dalam argumen tersebut terletak pada fakta bahwa kepentingan suatu negara tidak akan selalu bersifat tetap. Seperti yang disebutkan oleh Wendt dalam klaim konstruktivis diatas, kepentingan itu tidak muncul begitu saja secara sendirinya (given exogenously). Kepentingan hanya dapat tercipta melalui bagaimana suatu negara memahami dirinya sendiri atau dengan kata lain melalui identitas.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa identitas merupakan sumber yang mempengaruhi
16Kutipan dari Menteri Luar Negeri Turki, Fuat Koprulu. Lihat Uzer, hal. 117.
17Horelt & Renner. Hal.9
9
kepentingan, dan kepentingan merupakan sumber dasar kebijakan luar negeri.18 Untuk mempermudah kita dapat melihat gambar berikut;
Gambar 1. Analisa Kebijakan Luar Negeri Teori Realisme
Gambar 2. Analisa Kebijakan Luar Negeri Teori Konstruktivisme
Gambar satu merupakan representasi pendekatan teori rasionalis dalam menjelaskan kebijakan luar negeri suatu negara. Menurut mereka, kebijakan luar negeri hanya dapat dijelaskan dengan kepentingan yang sifatnya tetap bagi setiap negara, yaitu power. Oleh karena itu, pemikir realis cenderung menghentikan analisanya pada bagian ini. Sebagai hasilnya, para pemikir realis kehilangan kesempatan untuk menganalisa lebih dalam variabel yang mempengaruhi kebijakan luar negeri suatu negara.
Kita dapat melihat pendekatan analisa berbasis identitas milik pemikir konstruktivis pada gambar kedua. Kemiripan yang dimiliki oleh kaum konstruktivis dan realis terletak pada eksistensi neksus kepentingan dan kebijakan. Namun, kaum konstruktivis cenderung untuk menganalisa lebih jauh asal mula kepentingan. Seperti yang telah diutarakan sebelumnya, kepentingan terbentuk dari identitas negara, dimana identitas tersebut bersifat dinamis dan terbentuk melalui interaksi sosial. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kepentingan atau interes berfungsi sebagai variabel penghubung antara identitas dan kebijakan luar negeri.
Dengan menggunakan formula tersebut, penulis akan menganalisa bagaimana kebijakan luar negeri Rusia pada konflik Suriah dan Ukraina Timur dipengaruhi oleh identitas yang terbentuk dari interaksi Rusia dengan kedua negara konflik tersebut. Meskipun Suriah dan Ukraina menjadi dua aktor yang berhubungan langsung dengan Rusia, identitas sosial yang dinggunakan dalam skripsi ini juga terbentuk secara tidak langsung dari hubungan Rusia dengan negara Barat. Campur tangan negara barat – UE dan AS – menjadi memiliki
18Lihat Wendt, Hal.384.
Identitas
Kepentingan/Interest
Kebijakan Luar Negeri Kebijakan Luar
Negeri Kepentingan
bersifat tetap (Fixed Interest)
10
pengaruh tersendiri dalam konstruksi identitas Rusia di konflik Suriah dan Ukraina Timur.
Penjelasan mendetil mengenai proses pembentukan identitas tersebut akan dijelaskan lebih lanjut dalam bab dua.
2. Teori Elit
Kerangka konseptual kedua yang akan digunakan dalam analisa skripsi ini adalah teori elit milik Thomas R. Dye dan Harmon Zeigler. Teori elit berfungsi sebagai alat bantu analisa karena tendensinya untuk menggunakan konsep idealis seperti nilai dan norma. Oleh karena itu, teori elit dapat membantu menjelaskan bagaimana kebijakan luar negeri suatu negara dipengaruhi oleh identitas yang dikonstruksi oleh elit negara tersebut melalui interaksi sosialnya dengan negara lain. Asumsi utama teori elit adalah bahwa kebijakan luar negeri merupakan produk dari nilai – nilai dan preferensi yang dimiliki oleh elit negara tersebut.19Kebijakan luar negeri tidak dipengaruhi oleh massa, tetapi dipengaruhi oleh para elit yang memegang kekuasaan pada negara tersebut.20 Oleh karena itu teori ini pada umumnya sering digunakan untuk menganalisa kebijakan luar negeri di negara yang memiliki pemerintahan yang otoriter seperti Kuba, Iran, dan juga Rusia.
Teori elit dapat disingkat dalam lima point, yaitu:
1. Masyarakat terbagi dalam kaum elit yang memerintah dan memiliki kekuasaan untuk menentukan kebijakan yang berlaku, dan kaum massa yang tidak memiliki kekuasaan.
2. Para elit memiliki kesamaan dalam nilai – nilai mereka, kekayaan, edukasi, dan kekuatan dibandingkan dengan kaum masa yang cenderung apatetik dan kurang informasi. Anggota elit terbentuk secara tidak proporsionil dari kaum dengan status sosio – ekonomi yang lebih tinggi.
3. Kebijakan publik (termasuk kebijakan luar negeri) tidak mencerminkan tuntutan massa, tetapi merupakan cerminan dari nilai dan preferensi elit yang memerintah.
4. Basis kaum elit, yang memiliki konsensus bersama dalam nilai – nilai dasar dan sistem sosial, adalah sanktitas private property, pemerintaha tertutup, dan kebebasan individu.
5. Elit membentuk opini masyarakat tentang isu – isu kebijakan, bukan sebaliknya.21
19Budi Winarno, 2012, Kebijakan Publik: Teori, Proses, dan Studi Kasus. Yogyakarta: CAPS. hal.45
20R.K. Sapru. 2011. Public Policy: Art and Craft of Policy Analysis. India: PHI Learning Pvt. Ltd. Hal.80
21Ibid Hal.81
11
Dalam kasus Rusia, dapat diasumsikan bahwa identitas mempengaruhi dan membentuk kepentingan melalui elit yang berkuasa. Dapat juga dikatakan bahwa elit di Rusia menjadi agen utama yang memanifestasikan identitas Rusia menjadi kebijkan luar negeri dalam konflik Suriah dan Ukraina Timur. Dengan kata lain, nilai – nilai identitas Rusia yang dipegang oleh kaun elit Rusia lah yang mempengaruhi kebijakan luar negeri di Rusia.
Dengan teori tersebut, penulis berharap untuk menganalisa bagaimana nilai – nilai identitas di Rusia mempengaruhi pembentukan kepentingan di Suriah dan Ukraina Timur melalui kaum elit sebagai agen utama.
IV. Hipotesa
Kebijakan luar negeri Rusia di dalam konflik Suriah dan Ukraina Timur dipengaruhi oleh dua identitas utama, yaitu identitas Rusia sebagai Great Power yang sosialis dan identitas Rusia sebagai negara Konservatif – Kristen Ortodoks. Identitas mempengaruhi kebijakan luar negeri Rusia melalui variabel kepentingan atau interest. Dengan kata lain, identitas mempengaruhi pembentukan kepentingan, dan kepentingan mempengaruhi kebijakan luar negeri Rusia di Suriah dan Ukraina Timur.
V. Metode Riset
Metode riset utama yang akan digunakan adalah metode riset literatur. Beberapa sumber yang digunakan untuk mendasari riset ini antara lain adalah buku, jurnal, artikel online, dan data resmi pemerintahan Rusia yang dapat diperoleh dari website pemerintahan Rusia. Data – data yang bersifat kuantitatif sebagian besar berfungsi sebagai fakta pendukung, sedangkan analisa utama akan bersifat kualitatif.
VI. Sistematika Penulisan
Skripsi berikut terbagi dalam lima bab utama. Bab pertama merupakan bab pengantar yang ditujukan untuk memberikan penjelasan atas latar belakang pemilihan judul, rumusan masalah, dan kerangka konseptual yang akan digunakan. Bab pertama tersebut berfungsi sebagai penyedia konteks penelitian yang dilakukan oleh penulis.
Bab kedua merupakan pemaparan data dan penemuan terkait kasus yang diangkat dalam skripsi ini. Data dan penemuan yang akan dipaparkan antara lain adalah latar belakang terjadinya konflik dan juga kebijakan luar negeri Rusia di dalam konflik tersebut.
12
Bab ketiga merupakan analisa awal terkait pembentukan identitas yang berpengaruh dalam kebijkan luar negeri Rusia di kedua konflik tersebut. Bab ini berisikan analisa konstruksi identitas Great Power dan identitas Kristen Ortodoks yang dimiliki Rusia terkait hubungannya dengan aktor yang berperan di kedua konflik tersebut. Aktor yang dimaksudkan antara lain adalah Ukraina, Suriah, dan negara – negara Barat.
Bab keempat ditujukan sebagai bab analisa yang akan menjawab rumusan masalah utama di dalam skripsi ini. Untuk menjawab pertanyaan bagaimana identitas mempengaruhi kebijakan luar negeri, analisa akan terbagi dalam dua langkah. Langkah pertama adalah menganalisa kepentingan yang ada dibalik kebijakan luar negeri Rusia di kedua konflik tersebut. Setelah relasi antara kepentingan dan kebijkan luar negeri terpaparkan, barulah penulis dapat menghubungkan bagaimana identitas termanifestasi menjadi kepentingan yang diubah menjadi kebijakan luar negeri.
Bab kelima, yang juga bab terakhir, merupakan sebuah penutup. Kesimpulan akan penelitian yang telah dilakukan akan ditulis di dalam bab tersebut. Selain itu, bab ini akan mengikut sertakan daftar pustaka yang digunakan dalam penelitian tersebut.