Tahun Sidang Masa Persidangan Jenis Rapat Sifat Rapat Hari/tanggal Pukul KetuaRapat Sekretaris Hadir A car a
RAP AT PANITIA KERJA RUU TENTANG PANAS BUMI
: 2003-2004 : I
: Rapat Panitia Kerja : Tertutup
: Jumat/5 September 2003 : 19.30 - 22.00 WIB : Ir. Zainal Arifin : Drs. Muhono Basuki
: 2' dari 33 orang Anggota Panja Komisi VIII DPR RI : Pembahasan DIM RUU Panas Bumi
Ir. ZAINAL ARIFIN (KETUA PANJA/F-PDIP):
Seperti yang kita rencanakan malam ini kita lanjutkan rapat Panja kita, dan seperti yang kita sepakati terakhir bahwa rapat itu adalah kita skors. Dengan demikian pada malam ini skors kami cabut.
KETOKPALU 1 X
Terakhir kita telah menyelesaikan Dirn No. 49, sekarang kelihatannya kita akan memasuki Dim No. 50 sampai dengan Dim No. 72. Ini adalah semua hal-hal yang baru yang diusulkan oleh Pemerintah khusus mengenai soal yang sebelumnya menjadi diskusi panjang yaitu kewenangan Pemerintah, kewenangan propinsi, dan kewenangan Pemerintah Daerah. Apakah kita perlu Pemerintah dulu memberikan penjelasan secara garis besar dulu semuanya, baru nanti kita Dim per Dim kami usulkan demikian setuju ?.
Kami persilakan Pemerintah.
PEMERINTAH :
Terima kasih Pak Ketua, Assalaamu'alaikum Wr. Wb.
Sehubungan dengan pembahasan kita yang lalu bahwa kita memang menganut nuansa otonomi daerah, dengan demikian maka pasal-pasal yang akan kita bahas ini merupakan suatu dampak dari persetujuan kita dalam melaksanakan pengelolaan panas bumi ini dalam era: otonomi"°daerah. Oleh karena itu di dalam Pasal 3, 4, dan 5 ini yang merupakan pertanyaan dari pihak DPR bagaimana membuat suatu batasan-batasan kewenangan-kewenangan antara Pemerintah, Pemerintah Propinsi maupun Pemerintah Kabupaten, maka pada Dim No. 51 sampai dengan Dim No. 72 ini, itu semua yang menyangkut kewenangan-kewenangan yang pemisahan kewenangan-kewenangan antara pusat, pemerintah, daerah, pemerintah propinsi, dan pemerintah kabupaten/kota. Oleh karena itu kalau diijinkan maka kita akan masuk bahwa kita akan membuat satu bab barn yaitu kewenangan pengelolaan pertambangan panas bumi yang menyangkut semua hal-hal yang scsuai dengan Undang-undang No. 22 Tahun 1999 maupun PP No. 25 Tahun 2000, dan ini saya kira yang diusulkan kemarin oleh !bu Evita dengan Pak Syamsul yang meminta dengan keras, kita bilang ada dibelakang Pak, jadi inilah yang akan kita bahas Pak.
KETUA RAPAT:
Koreksi sedikit, kelihatannya Dim No. 81 sampai Dim No. 88 m1 yang soal Pemerintah Daerahnya-Pak.
PEMERINTAH :
Kita sebenarnya berhenti sampai di Dim No. 90, jadi kewenangan itu dari Dim No. 51 sampai dengan Dim No. 90.
KETUARAPAT:
Jadi secara garis besar itu, kewenangan ini bagaimana membaginya Pak, propinsi itu apa, dasar pembagiannya begitu.
PEMERINTAH:
Misalnya Pasal 3 adalah kewenangan Pemerintah, yang dimaksud disini adalah kewenangan Pemerintah Pusat. Kemudian dari Pasal 4 itu kewenangan propinsi dalam pengelolaan pertambangan panas bumi yaitu mulai Dim No. 65. Jadi Dim No. 51 sampai dengan Dim No. 64 merupakan kewenangan Pemerintah Pusat yang dielaborasi satu.persatu dengan a, b, c, d sampai dengan huruf f.
Demikianpun juga nanti untuk propinsi pada Dim No. 65 sampai dengan Dim No. 80, dan seterusnya Dim No.81 sampai dengan Dim No. 90 adalah kewenangan Pemerintah Kabupaten/Kota.
KETUARAPAT:
Jadi nanti ini Pasal 5 dari DPR ini "wilayah kerja" itu akan di pindahkan kemana Pak "di geser kebawah". Jadi kita melompat nanti pembicaraannya, ada bab baru "ya". Ada yang ingin menanggapi dari Pemerintah, silakan.
ANGGOTA : PROF. DR. H. RUSTAM E. TAMBURAKA, MA (F.PG) : T erima kasih Pak Ketua,
Rekan-rekan Anggota Panja,
Pak Dirjen yang mewakili Pemerintah dan seluruhjajarannya yang saya hormati, Assalaamu'alaikum Wr. Wb.
Saya sangat tertarik dengan usulan Pemerintah untuk menambahkan satu bab, jadi bukan lagi Bab III tapi disini Bab IV dengan judulnya "kewenangan pengelolaan pertambangan panas bumi".
Ada beberapa hal yang perlu dicermati disini, kalau kita mau bicara tentang kewenangan Pemerintah apa itu pusat dan daerah saya kira' itu sudah tertampung di Bab VIII konsep DPR yaitu di "perijinan" disana ada porsinya, kapan Pemerintah Pusat keluarkan ijin itu antara lain itu Pak, kemudian Pemerintah Propinsi dan Kabupaten/K.ota kalau ada itu sumber panas bumi disana. Saya kira itu yang perlu saya jelaskan kepada Pak Dirjen. Tapi.. kalau ini bisa di pilah-pilah bahwa kewenangan ini tidak akan mengambil porsi pada bab-bab yang lain saya kira itu bisa-bisa saja tapi harus secara keseluruhan dari berapa Dim tadi di bicarakan Pak Ketua.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Saya kira itu bagus usul yang baik. Jadi sebenarnya kita harus hati-hati ada yang di dalam soal perijinan sudah ada di Bab VIII, jadi pada waktu nanti kita membahas Pasal 3, 4, 5 ini seyogyanya bahwa kita harus berhati-hati bahwa kalau yang mengenai masuk ijin itu kita kiranya sudah ditampung di dalam Bab VIII. Begitu saja kira-kira kita proses membahasnya. Jadi nanti kalau kita lihat itu adalah sudah tertampung di VIII kita caret disini kita masukkan di dalam perijinan, jadi ini hal-hal yang di luar perijinannya kelihatan begitu Pak.
T erima kasih. ·
PEMERINTAH :
Perlu kita informasikan juga bahwa dampak dari diskusi kita kemarin maka kita mengelaborasi sebenarnya dari Pasal IV usul DPR, jadi ini elaborasi dari Pasal IV usul DPR dimana di dalam usul DPR Pasal 4 itu sangat umum maka kita elaborasi menjadi yang sudah lebih detail agar supaya tidak terjadi lagi suatu tumpang tindih pelaksanaan dikemudian hari. Kalau tidak, maka k:ita hams membuat lagi PP-PP barn lagi sedangkan ini sebenarnya sudah baku.
ANGGOTA : HJ. EVITA ASMALDA, SH (F.PG) : Interupsi Ketua,
Jadi supaya pembahasannya mudah kita pahami juga kalau mungkin dari staf sekretariat bisa menyusun. Ini usulan barn bab Pemerintah kemudian tolong disandingkan dengan yang tadi Pak Tamburaka sampaikan sehingga nanti tergambar begitu dimana berbedanya. ·
Pertanyaan selanjutnya sebenarnya berbeda Pak, jadi keinginan kalau saya tanggap dari usulan Pemerintah ini merinci secara penuh, jadi dia sifatnya tidak teknis kepada kewenangan-kewenangan itu menyangkut masalah ijin-ijinnya yang memang di elaborasi itu ada di Bab VIII. Jadi Bab VIII itu sudah langsung ke teknisnya perijinan peruntukkannya itu kalau saya melihat itu. Ijin itu dikeluarkan apa saja-apa saja kemudian mana yang memang itu merupakan kewenangan dari propinsi dan mana yang kabupaten. Kalau yang usulan Pemerintah ini gambaran secara umum yang memang ada keterkaitan dengan yang Bab VIII itu. Kalau dibuku kita ini-kan agak bolak-balik, kalau bisakan sedikit ini tidak banyak print out misalnya atau paling tidak infocus ini bisa tergambar sehingga mudah kita.
Tapi sebelum itu rasanya memang perlu kita urai dan kaji betul apakah memang hubungan nanti karenakan ini satu kesatuan dari judul konsideran ini-kan kesatuan sehingga bab per bab itu sasaran yang dimaksudkan dari bab itu jelas. Jadi menurut saya kalau memang melihat dari usulan Pemerintah ini mengenai kewenangan pengelolaan pertambangan bicara mengenai pengelolaan kewenangannya yang dibagi antara pusat, tingkat propinsi dan kabupaten, kemudian kalau kita melihat di bab usulan DPR itu adalah mengenai perijinan.
Kalau kita lihat yang umum Pemerintah itu-kan disitu menyangkut memang nanti ujung- ujungnya teknis tadi yang Bab VIII ada bicara masalah ijin. Misalnya disini di Pasal 3-nya misalnya pembuatan kebijakan nasional yaitu yang sekarang akan kita susun dalam bentuk Undang-undang di b-nya, pembuatan peraturan perundang-undangan itu melalui PP-nya. Jadi pembuatan kebijakan secara nasional ini tentunya Pemerintah dengan DPR begitu, itu masuk yang sekarang kita sedang bahas.
Kemudian yang b-nya pembuatan peraturan, perundang-undangan dibawah tentunya dari Undang-undang itu sendiri, ada PP-nya, ada mungkin Ianjutannya Kepmen dan sebagainya.
Kemudian pembuatan standarisasi, memang ini sifatnya nasional yang itu adalah pekerjaan dari amanah Undang-undang ini.
Kemudian langsung kita lihat yang Pasal 4, itu-kan penetapan kerjasama dan kemitraan di bidang pertambangan panas bumi. Ini apakah di dalam Pasal 3 nanti kita temukan hal yang sama sehingga maksudnya begini tidak berbenturan dia itu nanti, jadi ini memang perlu kita cermati satu persatu disamping mensejajarkan atau membandingkan dengan Bab VIII tadi tapi yang pertama juga perlu dibandingkan juga dengan isi dari masing-masing Pasal 3, Pasal 4, dan Pasal 5 sehingga jangan nanti kita harap itu kewenangan memang pusat tapi propinsi bisa, ini yang kemarin dikhawatirkan oleh Pak Syamsul dan sebagian besar teman-teman yang lain mengkhawatirkan jangan sampai nanti terjadi duplikasi. "toh" sama-sama Pemerintah hanya bedanya adalah pusat kemudian propinsi dan kabupaten, tapi juga jangan terjadi seperti kondisi sekarang air saja misalnya
air sungai sampai dibendung kan sudah kelewatan istilahnya, sebetulnya Undang-undang itu-kan bukan mengatur begitu. Kita menghindari hal-hal yang semacam itu.
Terima kasih.
ANGGOTA : KH. MACHRUS USMAN (F.KB) : Ketua,
Saya' seperti Thu Evita, saya lihat dari Pasal 3, Pasal 4 dan mungkin juga Pasal 5 ini, abcde itu seperti kelihatannya itu sama, memang ini perlu dijelaskan bagaimana dipilah-pilah supaya jangan ada duplikasi pembenturan antara mana yang nasional, mana yang kabupaten, mana yang propinsi saya kira perlu ini Pak.
KETUARAPAT:
Tapi juga memang saya ajak bahwa tiap-tiap ini kita telaah satu persatu Dim-nya, nanti kita lihat apakah dia ada bagian-bagian yang sudah tercantum di dalam Bab VIII, sekiranya ada itu kita keluarkan atau bagaimana. Tapi sekarang kita mulai saja membahas apa yang menjadi usulan dari Pemerintah ini Dim per Dim tentunya, dan kalau ini tadi secara teknis memungkinkan bahwa kita mendapat pesandingannya kita lebih bagus lagi tapi saya menyayangkan mempersandingkannya itu juga susah sebab itu lain sama sekali sudah disandingkan begitu. Tapi sebagai background kita itu kalau apa bentuknya apa di copy supaya kita lebih gampang jadi kita tidak balik-balik begini itu barangkali bisa begitu. Tapi jelas sepertinya sebenarnya lain soal perijinan dengan kewenangannya disini itu agak lain, cuma dengan catatan pada waktu kita membawa sini satu persatu kalau ada yang menyangkut perijinan itu langsung kita keluarkan dari susunan Dim ini dari wewenang ini.
Bagaimana kalau begitu, kita jadi bisa mulai.
Silakan Pak Syamsul.
ANGGOTA : SYAMSUL BACHRI, M.Sc (F.PG) : Terima kasih Pak Ketua,
Jadi saya kira memang bisa dipahami bahwa strnktur kewenangan ini diatur di Pasal 3, Pasal 4, dan Pasal 5. Memang ada hal yang memang harns kita pertegas disini supaya tidak overlap antara kewenangan pusat dan kewenangan daerah membuat kebijakan nasional, saya kira ini harns jelas kebijakan yang berkaitan dengan panas bumi. Yang kedua pembuatan peraturan pernndang- undangan di bidang pertambangan panas bumi, pembuatan penetapan standarisasi, pembuatan dan penetapan sistem perijinan Gadi bukan dalam kaitan ijin tapi sistem perijinannya), pengelolaan pengusahaan, dan pengawasan pertambangan panas bumi.
..
Kesan saya yang berkaitan dengan point' e ini adalah pelaku bisnis. Point e itu menggambarkan bahwa Pemerintah juga sebagai pelaku bisnis dalam kegiatan pertambangan panas bumi, jadi dia melakukan pengelolaan usaha. Dia pemain bukan lagi regulator.
KETUARAPAT:
Saya kira bisa mulai dengan Dim No. 52.
ANGGOTA HJ. EVITA ASMALDA, SH (F.PG) : Internpsi Ketua,
Mulai dari bab-nya dulu, kita sepakat semua ada penambahan usul bab barn Pemerintah itu dok dulu nanti barn kita bicarakan. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Jadi ini ada satu penambahan, cuma ~ekarang-kan isinya belum kita lihat. Kalau ternyata isinya nanti kita tidak sepakati babnya tidak ada, tapi kalau kita sudah sepakati nanti isinya babnya kita bicarakan barn kita tambahkan.
PEMERINTAH:
'
Jatli' bab ini muncul untuk pengganti Pasal 4 ayat ( 4) dari versi DPR, versi DPR yang saya bacakan disini adalah yang sudah kita sepakati juga kemarin bahwa disini Pasal 4 ayat ( 4) Pemerintah dapat melimpahkan wewenang kuasa pertambangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). Oleh karena itu ayat ( 4) ini adalah menyangkut masalah kewenangan, sedangkan kita sekarang sudah tidak melimpahkan tapi diletakkan kepada masing-masing baik di propinsi maupun di kabupaten/kota. Oleh karena itu bab ini muncul untuk mengganti dari Pasal 4 ayat ( 4) dari versi DPR.
Kemudian masalah perijinan versi DPR itu·· adalah di Pasal 21, versi Pemerintah berada di Pasal 22 beda itu sama itu yang bisa disandingkan. Kalau ini sesuatu hal yang barn hasil kesepakatan kita kemarin bahwa bukan dilimpahkan tetapi diletakkan kepada masing-masing propinsi, kabupaten, dan Pemerintah sesuai dengan kewenangannya. Kalau lintas propinsi berada di pusat, kalau lintas kabupaten di propinsi, dan kalau di kabupaten "ya" kabupaten. Jadi ini penjelasannya Pak.
KETUARAPAT:
Jelas Pak,
ANGGOTA : PROF. DR. H. RUSTAM E. TAMBURAKA, MA (F.PG) : Ketua, ini mengenai judul bab dulu ini Pak, kalau bisa dikasih kesempatan.
KETUA RAPAT:
Jadi saya usulkan bab ataupun judulnya bagaimana tapi dengan satu catatan bahwa kita akan memberikan bab dan judul setelah dibahas setelah kita lihat isinya sehingga kita tahu nanti judulnya dan semuanya karena ini silatu yang barn.
Dim No. 52 langsung Pak silakan.
PEMERINTAH :
Jadi yang pertama adalah kewenangan Pemerintah Pusat disini adalah pembuatan kebijakan nasional karena peraturan-peraturan daerah itu hams mengikut peraturan-peraturan yang lebih tinggi, oleh karena itu semua petunjuk-petunjuk, kriteria-kriteria, norma-norma walaupun kewenangannya itu berada di kabupaten maupun propinsi hams mengikut standar-standar kebijakan nasional, inilah yang mengikat kita sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia.
ANGGOTA : PROF. DR. H. RUSTAM E. TAMBURAKA, MA (F.PG) : Saya tidak setuju,
Kami usulkan bukan kebijakan tapi membuat Undang-undang bersama DPR sebab kebijakan itu bisa saja menyimpang dari Undang-undang, ini yang paling tinggi Pak Dirjen. Kami ganti ini bukan membuat kebijakan tapi pembuatan Undang-undang tentang Panas Bumi bersama DPR, itu kewajiban Pemerintah dengan DPR.
6
KETUARAPAT:
Jadi soal itu jangan kita ganti <lulu yang lain tapi ketidaksetujuan yang ini, dasarnya apa Pak?
ANGGOTA : PROF. DR. RUSTAM E. TAMBURAKA, MA (F.PG) :
Dasarnya kebijakan itu bisa saja dia menyimpang dari Undang-undang. Tetapi kalau yang butir b bis.a saja membuat peraturan dan PP sebagai penjabaran dari tentang Panas Bumi itu yang betul, tapi kebijakan bisa keluar dari itu.
KETUA RAPAT:
Kami persilakan barangkali Pemerintah bisa memberikan penjelasan.
PEMERINTAH:
Saya kira kalau dalam pembuatan kebijakan nasional itu selalu ditindaklanjuti dengan peraturan perundang-undangan, itu bukan kebijakan kalau misalnya tidak ditindaklanjuti dengan peraturan perundang-undangan. Selama ini semua standar-standar itu berdasarkan peraturan perundang-undangan.
KETUA RAPAT:
Lebih spesifik ini kebijaksanaan nasional sehingga dimaksudkan tidak akan bertentangan dengan Undang-undang, ini yang ditakutkan beliau ini tadi-kan bertentangan dengan Undang- undang.
ANGGOTA : SY AMSUL BACHRI, M. Sc ( F.PG) : Pimpinan,
Saya kira mungkin ini dibalik Pak, jadi peraturan perundang-undangan <lulu itu-kan termasuk Undang-undang (PP dan seterusnya), lalu pembuatan kebijakan nasional. Saya kira point c lalu point d itu sebenarnya merupakan kebijakan nasional. Jadi kebijakan nasional itu bisa dalam bentuk standarisasi, bisa sistem perijinan, bisa aturan-aturan perusahaan dan sebagainya, jadi saya kira tidak perlu terlalu banyak. Kalau dirinya seperti ini malah orang akan bertanya apa yang dimaksud dengan kebijakan nasional. Semua hal yang ditetapkan oleh Pemerintah Nasional itu-kan kebijakan nasional namanya. Jadi saya kira cukup dua, b jadi satu, lalu a jadi b cukup, kemungkinan f bisa masuk pemberian ijin dan pengawasan.
Jadi saya ulangi lagi Saudara Ketua,
Pertama a "pembuatan peraturan perundang-undangan dibidang pertambangan panas bumi", b.
pembuatan kebijakan nasional di bidang pertambangan panas bumi, c. pemberian ijin (bicaranya tanpa mic) tingkat nasional atau pada wilayah lintas propinsi.
Jadi hampir semuanya ini kecuali yang point f itu pemberian ijin dan pengawasan, jadi ada tiga menurut saya Pak Ketua.
KETUA RAPAT:
Jadi semua ini sudah ditelaah oleh Pak Syamsul bahwa semuanya dianggap ini kebijaksanaan
·nasional. Bagaimana pendapat Pemerintah kafau misalnya biar kita lebih jelas.
PEMERINTAH:
Kami setuju saja kalau mau disquise tetapi sebelumnya kami ingin menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kebijakan nasional disini ada keterarigan di belakang di Dim 387 merupakan kebij akan umum yang bersifat teknis maupun administratif di bi dang pertambangan panas bumi yang dapat digunakan sebagai pedoman oleh Pemerintah Daerah dalam pengelolaan pertambangan panas bumi sesuai kewenangannya. Jadi disini akan berbentuk dengan pedoman-pedoman yang mengikat ·untuk supaya mereka laksanakan panas bumi tidak semaunya masing-masing daerah, jadi kira-kira demikian yang mengikat.
Kemudian ada beberapa hal yang saya kira yang tidak perlu kita tidak bisa lakukan suatu penggabungan. Yang pertama adalah pengelolaan penguasaan clan pengawasan pertambangan panas bumi pada wilayah lintas propinsi, lintas propinsinya ini yang menyebabkan berbeda nanti denga propmsi.
Kemudian yang f pemberian ijin ini juga itu lintas propinsi, jadi disini semua akan muncul kata-kata ini, yang satu nanti lintas kabupaten satu dalam wilayah kabupaten, semua mempunyai suatu kewenangan yang sama sesuai dengan kewenangannya di daerahnya masing-masing.
Kemudian yang d ini mungkin bisa digabung dengan a yaitu pembuatan dan penetapan sistem perijinan pertambangan panas bumi nasional. Kenapa kami mencantumkan ini memisahkan, untuk lebih menjelaskan bahwa ini sangat teknis sedangkan kebijakan nasional adalah bersifat umum. Ini teknis sekali jadi misalnya tata cara perijinan itu bagaimana dan sebagainya, tidak seenaknya saja tanpa dokumen mereka keluarkan, jadi ini mengikat semua. Jadi ini semua dicantumkan dalam rangka semuanya Negara Kesatuan, jadi inilah otonomi yang benar. Karena kalau tidak mereka akan bikin semua peraturan tidak ada cantolannya, dia harus bikin cantolan setiap peraturan daerah.
Pak Syamsul, jadi saya setuju saja kalau yang pertama b menjadi a pembuatan peraturan perundang-undangan di bidang perfambangan panas bumi baru kemudian masuk ke kebijakan nasional karena ini hai-hal yang sangat berbeda, yang satu kebijakan nasional itu umum, yang lain ini agak lebih teknis. Seperti standarisasi, kita harus masuk semua SNI jadi tidak bisa dia demikian saja, kebijakan-kan tidak mengikat di SNI. Misalnya huruf c pembuatan penetapan standarisasi nasional, ini selalu sudah ada peraturannya harus masuk Standar Nasional Indonesia, kalau tidak ada kita tidak bisa mengakomodir standar nasional, jadi kira-kira demikian.
Kalau misalnya tidak ada yang artinya bisa digabung-gabung tapi kalau bisa diperjelas lebih jelas mungkin jauh lebih baik menurut pandangan Pemerintah.
ANGGOTA: DRS. ASNAWI LATIEF (F.PDU) :
Pimpinan, . "~
Saya kira detail seperti ini dalam satu Undang-undang itu sangat teknis sekali. Apabila akan dicantumkan juga barangkali masuk dalam penjelasan yang menyangkut soal kebijaksanaan nasional itu sebab ini-kan sudah detail sekali sebab disitu ada peraturan perundang-undangan nanti dituangkan dalam PP. Jadi banyak cantolannya sudah apa yang diutarakan oleh Pak Beny tadi itu supaya ada secara teknis terinci seperti itu berdasarkan cantolannya kebijaksanaan pembuatan kebijaksanaan nasional. Jadi dalam penjelasan bisa dijelaskan antara lain ini-ini.
Terima kasih.
8
KETUA RAPAT:
Sudah mengakomodir kita semua, jadi kita masukkan saja semua di penjelasan yaitu kita akan masukkan nanti ke Dim 387 tiga Dim, jadi kita kasih catatan akan memasukkan beberapa Dim 387.
Jadi yang a-nya hidup Pak "ya", b hidup tapi jadi a. Jadi b, a, e, dan f yang hidup Pak "ya".
ANGGOTA : HJ. EVITA ASMALDA, SH (F.PG) :
'
Interupsi Pak Ketua,
Tadi-kan satu persatu, kita kalau sepakat nanti penempatan mau a, b, sekarang substansinya dulu setuju semua baru dok, satu-satu Ketua.
KETUA RAPAT:
Saya tadi mau dok tapi kita kesepakatannya itutetap terikat kepada yang lainnya itu pengertian pada yang lainnya, yang lainnya ini mau ditaruh di penjelasan akhirnya kita satu solusi, jadi syarat setujunya itu ada dengan hubungannya dengan pasal-pasal yang berikutnya, maka saya buka pasal berikutnya untuk dibicarakan, silakan.
ANGGOTA : SYAMSUL BACHRI, M.Sc (F.PG) :
Jadi yang saya usulkan tadi untuk muncul di Pasal 3 ini adalah b, a, dan f. Yang saya masih butuh penjelasan dari Pemerintah adalah point e, yang point b jadi a, a jadi b, kemudian f jadi c, yang lainnya gabung.
Point e "pengelolaan pengusahaan" kesan saya 1ru sebagai pelaku, apa itu maksud Pemerintah ?.
PEMERINTAH :
Bukan pelaku Pak, jadi musti mereka itu semua usaha-usaha apapun juga itu harus ada principalnya. Seperti saja seumpamanya di bidang Migas principalnya itu-kan berada di Direktorat Jenderal Migas. Misalnya Pertambangan Umum Principalnya berada di kita. Jadi aplikasinya dia harus masuk ke siapa yang aplikasi, misalnya ada dispute, kemudian dia pengambilan saham dan lain sebagainya itu yang dimaksud dengan pengelolaan, jadi sama sekali bukan sebagai pelaku usaha dan sama sekali tidak melakukan pelaku usaha.
Jadi memang selalu ada unsur pemerintahnya yang mengawasi dan kemudian yang melakukan pembinaan dan pembinaan itulah yang disebut dengan pengelolaan.
KETUA RAPAT:
Saya kira penjelasan itu tidak seperti yang tertera disini, yang tertera disini itu mempunyai interpretasi seperti Pak Syamsul tadi katakan'.
Silakan.
ANGGOTA : JULIDS BOBO, SE,MM (F.PDIP) :
Saya kira nyambung seperti apa Ketua sampaikan persis, artinya kalau memang seperti ini tetapi di penjelasannya harus ada. Penjelasan seperti tadi jadi bukan dalam rangka penguasaan, jadi bagaimana mengatur.
PEMERINTAH :
Ada kata sebenarnya lebih bagus Pak Julius, kalau kita ganti "pengelolaan" "pembinaan" itu yang paling cocok. Kalau mau itu lebih luas, kami sebenarnya tidak mau terlalu luas.
ANGGOTA : HJ. EVITA ASMALDA, SH (F.PG) : Interupsi Ketua,
Sebelum kesana tolong dilihat Dim No. 22 yang sudah kita sepakati bersama, itu yang kemarin sebetulnya saya tanya "ini kita sudah sepakat apa belum" dan Ketua katakan "belum, kita masih bicara belum putus".
Dim No. 22 disitukan ijin usaha panas bumi, itu saya katakan kalau usulan DPR itu-kan langsung tahu subjek hukumnya itu jelas, kalau di Pemerintah ini bisa kedua-duanya (Pemerintah
"ya" juga pelaku badan usaha lain).
Kalau ini sudah setuju sebetulnya ini ada korelasinya Dim No. 56 karena memang konsep awal Pemerintah sudah mengatakan lebih efektif kalau itu pendanaan oleh Pemerintah itu akan mengurangi beban kepada masyarakat, tapi juga tidak menutup kemungkinan pihak di luar itu.
Maksudnya pemain itu dia sebagai regulator dan dia juga operator untuk hal-hal jangka waktu
tertentu. ·
Terima kasih.
ANGGOTA: PROF. DR. SYACHRUDIN KASENG (F.PG):
Ketua, Saya mohon perhatian kita semua soal istilah pertambangan panas bumi disini. Kalau pertambangan itu maksudnya berjenis-jenis tambang, kalau disini khusus menambang panas bumi, jadi sebaiknya disini penambangan panas bumi, itu sesuai dengan Dim Ketentuan Umum tentang panas bumi.
Saya bacakan disini "panas bumi adalah sumber energi panas yang terkandung di dalam air panas, uap, air, dan batuan bersama mineral dan gas lainnya secara genetik kesemuanya tidak dapat dipisahkan dalam satu sistem panas bumi dan untuk pemanfaatannya diperlukan proses penambangan". Jadi saya kirn kita harus taat asas semua penambangan panas bumi, kalau pertambangan itu istilah yang umum untuk pertama.
PEMERINTAH :
Ini memang hati-hati Pak masalah penambangan dengan pertambangan beda artinya. Kalau penambangan itu action untuk melakukan penambangan, kalau pertambangan pengusahaan tambang panas bumi. Jadi mengusahakan sesuatu tambang panas bumi, Jadi ini sudah dirundingkan oleh ahli bahasa ini kenapa muncul ada pertambangan, outputnya adalah melakukan penambangan panas bumi. Kalau pertambangan disini kita katakan adalah pengusahaan tambang.
Makanya kemarin ada mengatakan yang sudah salah kita itu ada selalu di bilang bahan galian.
Kalau bahan galian itu lebih salah lagi karena kalau gali itu menggali, ini menambang "ko"' bahan galian. Jadi ibaratnya bahan yang digali itu adalah tambang. Jadi kalau begitu wanit hamil saya bilang begitu bukan disebut sebagai barang galian, mestinya kita sebut manusia adalah wanita hamil karena ini tambang adalah bahan galian, jadi bahan hamil adalah manusia.
ANGGOTA : PROF. DR. H. RUSTAM E. TAMBURAKA, MA (F.PG) : Klarifikasi ini Pak Dirjen,
Sebenarnya istilah pertambangan juga tidak cocok disini, mungkin Bapak menggunakan keahlian Bapak di geofisika. Tapi kalau dari pendekatan geotermal ini tidak cocok karena panas bumi itu tidak ditambang, beda dengan batubara atau nikel misalnya dibongkar itu kita keluarkan, tapi ini-kan di bor. Jadi yang betul disini kalau menurut saya itu pengusahaan.
'
Jadi ·judulnya ini nanti Bab III saya usulkan "Kewenangan Pengelolaan Pengusahaan Panas Bumi" saya kira itu yang benar. Jadi bukan penambangan, bukan pertambangan tapi pengusahaan panas bumi. Panas bumi tidak ditambang Pak, ini menurut apa yang sudah saya ikuti di seminar- seminar itu.
Terima kasih.
PEMERINTAH:
Kalau begitu minyak tidak ditambang Pak "ya", itu pertambangan Minyak dan Gas Bumi Pak.
Jadi yang keluar ini semua apapun yang diambil dari bawah itu namanya ditambang Pak.
KETUA RAPAT:
Dari diskusi ini semua sudah cukup untuk beberapa kesimpulan dan kita bisa mengambil beberapa keputusan. Jadi sesuai usul dari Pak Syamsul tadi bagaimana kalau misalnya pembuatan kebijakan nasional kita terima tapi kita pindahkan menjadi b, setuju ?.
RAPAT SETUJU:
ANGGOTA : DRS. MAKSUM ZAILADRY (F.PPP) :
Ketua, Saya agak terlambat menanggapi ini Pak. Tadi kalau tidak salah adanya suatu pemikiran dari runtut Pasal 3 dari Pemerintah ini akan dimasukkan nanti di dalam dipindahk.an ketempat yang lain.
Tapi menurut pemikiran saya bahwa dalam kita membuat Undang-undang sekarang ini, itu sejauh bahwa rincian ini akan memperjelas kepada pelaksanaannya tentang kewenangannya disini itu saya kira tidak apa-apa Pak kita masukkan saja supaya rinciannya jelas.
Selama ini kita sering berpikir dalam Undang-undang itu cukup yang simple-simple saja atau yang pokok-pokok saja, tapi kita ingin Undang-undang ini memiliki kejelasan. Kalau yang diatur oleh Peraturan Pemerintah nanti hal-hal yang mengenai yang lebih teknis lagi dan lebih detail lagi yang tidak mungkin dimasukkan dalam Undang-undang. Tapi sejauh yang saya lihat Pasal 3 ini secara umum ini telah merinci kewenangan darip.ada Pemerintah, kenapa harus kita pindahkan begitu Pak. Ini satu hal yang saya ambilkan dalam pertemuan ini.
Yang kedua, karena konsep Pemerintah mengenai Pasal 3 tentang kewenangan Pemerintah ini saya berpikir bahwa Pemerintah itu satu lembaga negara, kalau dia hanya berwenang untuk pembuatan kebijakan nasional yang tanda kutip secara khusus mengenai ini sejauh ukuran-ukuran tertentu saya sepakat saja. Tapi kalau kebijakan nasional ini kaitan masalah Undang-undang saya kira akan bekerjasama dengan DPR.
Maka tadi yang diungkap tentang point b ini pembuatan peraturan perundang-undangan saya kira ini tidak menjadi hak kewenangan mutlak Pemerintah. Maka kalau kita bicara soal lingkup kewenangan pengelolaan pertambangan panas bumi yang oleh Pemerintah (karena ini sudah mengatur Pasal 3 ini mengenai Pemerintah) maka tidak termasuk membuat Undang-undang karena yang berhak membuat Undang-undang itu adalah tidak hanya Pemerintah tapi juga DPR.
Saya cenderung untuk dipikirkan mengenai b ini Pak justru apakah layak disimpan disini. Tapi memang perlu mengenai perundangan ini juga ada terkait dengan kebijakan tadi. Mungkin dia posisinya setelah ini menjadi milik negara, negara melimpahkan dalam pengelolaannya kepada Pemerintah. Tapi kaitan dengan masalah pengaturan Undang-undang ini ada satu ayat lagi mungkin disini kalau kita mau mengangkat bahwa kewenangan tadi itu berkenaan dengan masalah Undang- undang ini adalah antara Pemerintah dengan DPR atau DPR bersama dengan Pemerintah.
Selanjutnya adalah bahwa apa yang diuraikan oleh Pemerintah disini sampai kepada huruf m disini merijadi kewenangan pusat. Saya kira tinggal kita cari kira-kira mana yang tidak perlu kita cantumkan disini rincian ini, jangan kita gusur semua ke tempat yang lain begitu.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Jadi kalimat yang disampaikan oleh Pak Maksum yang terakhir bahwa jangan digusur semua dipilih, itulah rencana kita sekarang Pak. Nantinya mana yang kita masukkan di dalam pasal dan mana yang kita masukkan di dalam penjelasan, itu kesepakatan kita terakhir itu Pak. Kan tadi saya m,inta bagaimana kalau yang a ini kita setujui tapi dengan catatan kalau dia menjadi huruf b, itu sudah kita setujui tadi Pak.
Silakan Ibu Evita.
ANGGOTA : HJ. EVITA ASMALDA, SH (F.PG) :
Terima kasih Ketua. Jadi saya sependapat Pak Maksum tadi yang kedua Pak bahwa memang sebenarnya produk Undang-undang yang kita keluarkan yang baik Pak kalau kita bandingkan dengan beberapa negara itu lebih rinci itu lebih bagus, hanya permasalahannya kita lebih rinci itu kadang sulit sekali. Sekarang kalau usulan Pemerintah bisa menguraikan itu malah baik. Karena kalau tidak itu kita selalu berikan blank eek, itu kenyataan Pak. Itu bisa di belok-belokkan sedikit dari sebetulnya panduan Undang-undang itu sendiri. Jadi kalau memang disini bisa lebih rinci saya mau mendukung, tadi saran Pak Maksum itu betul Ketua kalau pas tidak usah dimasukin penjelasan, masukkan saja dalam pasalnya.
Terima kasih.
KETUARAPAT:
Kita kesepakatannya begitu sudah bahwa kita satu-satu, kalau dia berada disini kita tetap disini, kalau kita pindahkan ke penjelasan ke penjelasan. Kalau keterangan ini cukup jelas saya mau teruskan. Apa ada penjelasan lain Pak Askin?
ANGGOTA : PROF. DR MOH. ASKIN, SH (F.REF) : Terima kasih.
Assalaamu'alaikum Wr. Wb.
Jadi ini adalah usulan baru Pemerintah kita mesti ingin mengetahui latar belakang atau sumber pembuatan ini, kita acuannya darimana sehingga muncul yang demikian ini.
Yang kedua, saya setuju dari Pak Maksum tadi itu tentang pembuatan peraturan perundang- undangan ini. Ini bukan Undang-undang maksudnya memang, mungkin yang dimaksud adalah bagaimana mengatur kebijakan tersebut, tanpa inipun bisa jalan ini. Jadi tanpa disebutkan butir b dari Pasal
3
ini, ini mengikut ke butir a sebenarnya ini karena kebijakan itu pasti ada peraturan yang dibuat oleh Pemerintah. Jadi hemat saya tanpa b ini bisa jalan, itu komentar saya Pak.v
Kemudian mekanisme pembahasan kita ini di luar dari konteks ini apakah memang setiap kita ini bebas bicara atau per-fraksi, itu yang saya tanya Pak supaya bisa cepat selesai.
KETUA RAPAT:
Saya pikir saya tidak keberatan kalau tidak per-fraksi tapi topiknya jangan dikembalikan karena kelihatannya ini topiknya kembali-kembali begitu.
' Silakan Pak Julius.
ANGGOTA : JULIUS BOBO, SE,l\!IM (F.PDI) : Terima kasih Pak Ketua,
Jadi kalau kita lihat itu saya kira cocok tadi itu sudah seperti semula saja Pak mana yang kita masukkan penjelasan bahwa disini disampaikan masalah peraturan perundang-undangan jadi bukan pembuat Undang-undangnya saya kira disini yang dimaksudkan oleh Pemerintah. Ini sebagai penjelasan daripada tadi kita bicara mulai yang. c, d, ini-kan menurut pembuatan sistem dan sebagainya, ini-kan yang dimaksudkan saya kira. Jadi ini menjadi bagian daripada mekanisme barangkali peraturan-peraturan sebagai turunan dari Undang-undangnya ini sendiri. Jadi tadi sudah di "tok" itu sudah cocok, ini kita masukkan.
Saya kira ini juga mengenai peraturan perundangan ini saya kira juga tidak ada masalah Pak Ketua, pengertian saya begitu.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih.Pak Darmansyah silakan .
ANGGOTA: IR. DARMANSYAH HUSEIN (F.PBB):
.
Terima kasih Pak Ketua. Jadi dua hal ini, yang pertama memang pengertian peraturan perundang-undangan memang tidak selalu berarti Undang-undang sebetulnya. Apalagi disini dipertegas bahwa di dalam pertambangan panas bumi, jadi tidak mungkin lagi ada Undang-undang lain karena ini sudah turunan dari Undang-undang yang kita buat sekarang ini.
Yang kedua, Tadi ada saran bahwa yang a menjadi b. Ini saya agak sedikit ragu artinya kurang jelas. Kadang-kadang kita membuat kebijaksanaan nasional. Ini kekuatan hukumnya berada dimana, posisinya dimana begitu terhadap peraturan perundang-undangan ini. Kalau misalnya Repeta itu jelas ada Undang-undangnya diundangkan.
Kemudian kita rancu juga di bidang energi, ,misalnya- ada KUBE. Karena tidak diikat oleh peraturan perundang-undangan dia tidak punya kekuatan mengikat. Tapi kalau kita cantumkan disini saya kira kebijaksanaan nasional itu sendiri sebetulnya sudah dirinci ke dalam kebijaksanaan- kebijaksanaan dan payungnya adalah Undang-undang ini, kemudian dibawahnya adalah Peraturan Pemerintah yang merinci pelaksanaan itu per bagian-bagian sehingga saya jadi bingung kebijaksanaan nasional itu dimana kita taruh, diantara dua ini atau dibawah itu, ini-kan persoalan yang harus ditanyakan kepada para pakar hukum ini tata urutan itu.
Apakah itu berupa peraturan menteri misalnya, bisa tidak itu. Kalau dia berupa satu keputusan menteri itu berada dibawah PP dia posisinya. Tapi kalau diatas PP berarti diatas b ini tidak ada lagi.
Setelah Undang-undang itu PP, setelah PP apa-apa begitu-kan.
Saya kira demikian yang perlu kita pertanyakan sebelum nanti saya sebetulnya ada setuju sebab kadang-kadang justru yang sebaliknya Pemerintah tidak ingin dirinci-rinci, kita ingin dirinci- rinci, Pemerintah biasanya ingin agak umum supaya nanti bikin PP-nya agak longgar. Tapi sekarang sebaliknya, Pemerintah ingin rinci dan kita ingin longgar kan terbalik. Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Saya kira yang tadi Pak Darmansyah katakan itu sudah kita diskusikan tadi termasuk bahwa penjelasan tadi sudah kita bongkar disini apa yang dimaksudkan dengan kebijaksanaan nasional, oleh karena itu kita letakkan dia dibawah sesudah peraturan perundang-undangan ini Pak, itu sudah kita diskusikan. Dan kita sudah sepakati tadi bahwa kebijaksanaan nasional kita turunkan menjadi Pasal b supaya dia turun.
ANGGOTA: IR. DARMANSYAHHUSEIN (F.PBB):
Yang saya tanyakan kekuatan hukumnya dimana, kekuatan mengikatnya itu dimana.
ANGGOTA: SYAMSUL BACHRI, MSc (F.PG):
Ketua, jadi yang dimaksud dengan peraturan perundang-undangan dan seterusnya adalah antara lain Peraturan Pemerintah yang diamanat oleh Undang-undang yang kita buat ini. Lalu peraturan perundang-undangan dan berupa Peraturan Pemerintah itu bisa saja di elaborasi lagi menjadi Kebijakan Pemerintah.
Seperti saya katakan tadi urutannya seperti itu bahwa b itu adalah payungnya, kemudian a elaborasi dari b elaborasi dari Peraturan Pemerintah. Kebijakan nasional itu bisa berupa pembuatan dan penetapan standarisasi, pembuatan dan penetapan sistem perijinan dan seterusnya. Oleh karena itu tadi saya sarankan supaya dibuat sedemikian rupa sehingga tidak terlalu teknis sifatnya. Apa yang ingin kita uraikan di Pasal 3 ini seperti yang dikatakan oleh Pak Asnawi tadi itu ditegaskan di penjelasan sehingga tidak terlalu teknis Undang-undang ini.
Saya sependapat dengan Pak Dirjen tadi bahwa supaya menghindari istilah pelaku,
"pengelolaan" diganti dengan "pembinaan". Jadi sebenarnya sudah clear tadi Ketua, tinggal kita sahkan dan pindah ke bagian yang lain.
T erima kasih.
ANGGOTA. : DRS. MAKSUM ZAILADRY (F.PPP) :
Ketua, Saya mencermati apa yang disampaikan oleh rekan-rekan tadi, dari Pak Darmansyah clan juga Pak Syamsul. Ini tampaknya bahwa semua yang runtut dari c sampai k ini semua bentuknya adalah kebijakan dan berlaku secara nasional. Tentang 1 dam mini, itu barangkali yang sifatnya internal daripada Pemerintah tapi juga inenjadi kewenangan Pemerintah, ini untuk kewenangan internal Pemerintah artinya Pemerintah Pusat Pak. Sedangkan dari c sampai k ini berlaku secara nasional, inipun juga merupakan kebijakan nasional dari Pemerintah.
Jadi kalau boleh saya mengusulkan pembuatan kebijakan nasional ini dihilangkan saja Pak karena dibawahnya itu juga kebijakan nasional hanya dirinci bidang apa-bidang apa. Sedangkan pembuatan peraturan perundang-undangan di bidang pertambangan panas bumi yang point b tadi itu saya kira nanti bentuknya adalah Peraturan Pemerintah mungkin juga Keputusan Menteri yang lebih detail. Oleh karena itu pembuatan peraturan perundang-undangan atau di bidang pertambangan panas bumi sebagaimana point b inipun juga direalisir dengan point-point berikutnya Pak. Tapi kalau kita ingin dipayungi saja yang c sampai selanjutnya ini maka mungkin disini adalah istilahnya pembuatan peraturan di bidang pertambangan panas bumi saja, ini payung untuk sampai kepada huruf m yang terakhir itu. Itu saran saya supaya tidak terulang-ulang clan ada bagian huruf atau sub
ayat yang tidak jelas posisinya begitu karena a dan b ini payung sebetulnya menurut penglihatan say a.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Apa yang diusulkan oleh Pak Maksum itu seperti yang diutarakan oleh Pak Syamsul tadi bahwa kebijaksanaan nasional kita masukkan maka ada beberapa pasal-pasal yang tidak perlu kita masukkan. Jadi saya pikir sudah cukup jelas kalau begitu.
PEMERINTAH :
Pimpinan, Saya kira selama kita hearing dengan DPR khususnya Bapak-bapak sekalian selalu menanyakan ini Departemen Energi tidak punya energi policy. Energy policy itu berbeda sekali dengan peraturan-peraturan yang berada di bawah ini dan inilah yang kita sebut dengan geothermal policy itulah yang disebut dengan kebijakan nasional._
Artinya apa, menyangkut masalah kewilayahan, menyangkut masalah resources, menyangkut pricing dan sebagainya ini yang harus ditaati. Jadi ini hal yang tidak sama dengan apa yang dibawa dengan yang kebijakan nasional. Oleh karena itu penjelasannya kita mengatakan bahwa ini adalah suatu kebijakan umum. Kebijakan umum itulah makanya tadi ditanyakan Pak Darmansyah publik, publik tidak berlaku makanya tidak jalan itu bukan kebijakan nasional. Harusnya dia itu adalah energi policy atau electrical policy, coal policy, sekarang kita lagi menyelesaikan apa yang namanya kebijakan batubara nasional, inilah yang kita maksud kebijakan. Jadi dua hal yang berbeda Pak, jadi hati-hati. Jadi kalau tidak ada ini lagi kita tidak akan punya lagi kebijakan panas bumi atau geothermal policy, jadi ini sebenarnya maknanya tambahannya disitu.
ANGGOTA : JR. HM. NAZARUDDIN (F.PDPI) :
Pemerintah membuat kebijaksanaan beras nasional, tidak ada peraturan perundang- undangannya. Tapi kalau ini tidak dilaksanakan ada sebagian propinsi yang kelaparan.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Terima kasih. Kalau begitu kita menuju ke b-nya, setuju atau tidak kalau yang b-nya kami bacakan "pembuatan peraturan perundang-undangan di bidang pertambangan panas bumi" ini kita menjadikan huruf a, setuju ?.
RAPAT SETUJU:
Selanjutnya untuk c ini tadi usul bahwa c dan
d
ini di drop, bagaimana setuju ?. Saya ulangi"pembuatan peraturan perundang-undangan di bidang pertambangan panas bumi" setuju?
RAPAT SETUJU :
Kemudian c "pembuatan dan penetapan standarisasi nasional di bidang pertambangan panas bumi" kita jadikan penjelasan, setuju ?
RAJ,>AT SETUJU:
d) "pembuatan dan penetapan sistem perijinan dan pertambangan panas bumi nasional"
dijadikan penjelasan" setuju?
RAPAT SETUJU:
e) "pembinaan, pengusahaan dan pengawasan pertambangan panas bumi pada wilayah lintas propinsi" setuju dimasukin sudah kita ganti dengan pembinaan istilahnya, setuju?
RAPAT SETUJU:
f) "pemberian ijin dan pengawasan pertambangan panas bumi pada wilayah lintas propinsi"
setuju?
RAPAT SETUJU:
g) "penetapan kebijakan pemanfaatan dan konservasi" penjelasan, setuju?
RAPAT SETUJU:
h) "penetapan kebijakan kerjasama dan kemitraan" penjelasan, setuju?
RAPAT SETUJU:
i) "penetapan kriteria kawasan pertambangan panas bumi" penjelasan, setuju?
RAPAT SETUJU:
j) "perumusan dan penetapan tarif iuran tetap dan iuran produksi" penjelasan, setuju?
RAPAT SETUJU:
k) "pembinaan dan pengawasan pelaksanaan pengelolaan dan penyusunan peraturan daerah di bidang pertambangan panas bumi" di drop, setuju ?
RAPAT SETUJU:
1) "pengelolaan informasi geosign dan potensi panas bumi".
ANGGOTA : DRS. MAKSUM ZAILADRY (F.PPP) :
Interupsi Ketua, Saya hanya ingin mengingatkan pengalaman yang ada bahwa penjelasan itu tidak sepenting pasal dan ayat, dan orang senantiasa melihat pasal ayat lebih dulu daripada penjelasan, itu saja Pak Ketua.
KETUA RAPAT:
Jadi ini pengelolaan informasi geosign dan potensi panas bumi silakan Pemerintah memberikan penjelasan tadi ada pertanyaan soal itu.
PEMERINTAH :
Jadi kita harus mengetahui dengan baik mengenai semua informasi geologi, geosign im sebenarnya lebih detail lagi jadi ke ilmuan. Kalau geologi secara umum, jadi geologi dan potensi panas bumi demi kewajiban buat kita semua untuk mengetahui kekayaan alam kita. Jadi inilah yang sebenarnya makanya kita harus mengelola informasi ini yang mana perlu kita serahkan untuk dijadikan pengusahaan yang mana tidak diperlukan untuk di pengusahaan. Jadi ini semua kita harus tahu, oleh karena itu informasi geologi ini semua harus betul-betul menjadi suatu sistem informasi manajemen untuk pengelolaan panas bumi.
ANGGOTA: DRS. ASNAWI LATIEF (F.PDU) :
Pimpinan, Saya tidak sependapat bahwa penjelasan itu tidak ada artinya, memang orang membuka dulu pasal atau bab. Kesan bahwa saya tadi usul penjelasan seakan-akan penjelasan itu nanti, kita tahu KPU itu saja menetapkan daerah-daerah propinsi itu berapa, itu dipenjelasan ada bukan di pasal. Propinsi-propinsi ini dapat berapa-dapat berapa itu dasamya adalah dalam penjelasan. Jadi oleh karena itu sama bobotnya itu merupakan satu kesatuan supaya Pemerintah dalam rangka membuat kebijaksanaan itu ada cantolannya di penjelasan.
Terima kasih.
ANGGOTA : DRS. MAKSUM ZAILADRY (F.PPP) :
Pak Ketua, Saya tadi yang menyampaikan itu Pak Ketua, tapi saya mohon koreksi atau klarifikasi. Saya tidak mengatakan bahwa penjelasan itu embel-embel atau nothing, saya hanya mengatakan bahwa pasal dan ayat itu pasti lebih dulu dibaca daripada penjelasan. Tapi mungkin orang lebih dulu membaca ayat dan pasal daripada penjelasan. Oleh karena itu kalau dalam pasal dan ayat itu tidakjelas barn orang melihat kepada penjelasan.
Terima kasih.
KETUARAPAT:
Saya kira melanjutkan tadi penjelasan dari Pemerintah. Kalau begitu misalnya kenapa informasi geologi kenapa tidak geosign Pak pertanyaannya, bagaimana supaya lebih jelas untuk kita semuanya. Jadi pengelolaan informasi geologi dan potensi panas bumi, ini kita masukkan di dalam point d.
RAPAT SETUJU:
Terima kasih.
m) inventarisasi dan penyusunan neraca sumberdaya dan cadangan panas bumi tingkat nasional.
ANGGOTA : PROF. DR. H. RUSTAM E. TAMBURAKA, MA (F.PG) : . PakKetua,
Tidak sama artinya dengan yang diatas itu, saya anggap ini menyangkut data tentang informasi tentang panas bumi. Kalau bisa ini dibuang saja karena maknanya hampir sama saja.
KETUA RAPAT:
Bagaimana Pemerintah, saya kira bisa di dropt ini. Silakan Pemerintah menjelaskan.
ANGGOTA : PROF. DR. H. RUSTAM E. TAMBURAKA, MA (F.PG) :
Asal Pemerintah mampu membuat semua ini tidak ada masalah, cuma di ini lantas hanya di atas kertas saja, dalam pelaksanaannya tidak ada yang dibuat.
Terima kasih.
PEMERINTAH :
Pemerintah itu memang melakukan inventarisasi keseluruhan. Setelah dari inventarisasi ini kita melakukan suatu penyusunan neraca. Setelah dari semuanya ini dengan berbagai faktor yang
· lain kita masukkan sebagai suatu pengelolaan informasi geologi dan potensi panas bumi, jadi dual
hal yang berbeda. Yang satu adalah action langsung termasuk dia menginventori semua potensi- potensi kekayaan kita yang ada di daratan kita. Jadi ini bank data yang e ini.
ANGGOTA : PROF. DR. H. RUSTAM E. TAMBURAKA, MA (F.PG) :
Asal konsisten dilaksanakan tidak ada masalah dan ini di penjelasan saja Pak.
KETUA RAPAT :
Jadi yang m kita sepakati untuk ditamh di penjelasan, setuju?
RAPAT SETUJU:
Sebelum kami tutup mengenai ini, kita bicara mengenai bab ini adalah kita sepakati bahwa ini Bab III.
Silakan Pak.
ANGGOTA : PROF. DR. MOH. ASKIN, SH (F.REF) : Tunggul dulu Ketua,
Kalau disebutkan masuk di penjelasan masuk dimana itu, sekarang kalau norma memang dipasang disini kalau norma. Lain soal kalau menjelakan butir 1, tapi kalau memang berdiri sendiri hams pasang di m, itu hams dilakukan demikian.
Yang lain,. mo hon cara penulisan ini diperbaiki Pak. Ada ahli bahasa nanti kenapa kapital
"panas bumi" hams humf besar, "sumberdaya" itu hams terpisah cara pemisahannya, jadi nanti diperbaiki.
Jadi saya kembali kepada butir m itu mohon kita koreksi kembali, kalau memang terpisah antara butir 1 dan m dia masuk norma di depan ini.
Terima kasih.
KETUARAPAT:
Ada usul walaupun sudah kita sepakati tadi bagaimana kalau m ini dimunculkan sebagai norma bagaimana, kelihatannya beralasan juga usul Pak Askin itu.
Setuju?
RAPAT SETUJU:
Dengan demikian Bab III ini dengan isi seperti yang tadi itu, judul apakah kiranya tepat untuk kita berikan disini. U sul Pemerintah sendiri "kewenangan pengelolaan pertambangan panas bumi"
usul ini masih tepat atau tidak.
Pemerintah tolong penjelasannya dulu apakah isi mau tetap dengan judul ini Pak, kami minta tanggapan dari para Anggota silakan. Jadi tetap saja sesuai dengan usul Pemerintah.
Dim No. 50 kami bacakan : Bab III "Kewenangan Pengelolaan Pertambangan Panas Bumi"
setuju ?
RAPAT SETUJU:
Kemudian Dim No. 51 Pasal 3 "Kewenangan Pemerintah dalam pengelolaan pertambangan panas bumi meliputi ", setuju?
RAPAT SETUJU:
Dan kemudian kita tadi menyepakati bahwa ini masuk di dalam Timsin semuanya, terima kasih.
Selanjutnya kita berangkat kepada Pasal 4, kami persilakan Pemerintah mulai.
PEMERINTAH :
Pasal 4 ini hanya merupakan suatu pemisahan kewenangan antara Pemerintah dan Pemerintah Propinsi, jadi ini juga merupakan suatu elaborasi dari Pasal 4 versi DPR ayat (4). Oleh karena itu kita menyebutkan sebagai Pasal 4 ini adalah kewenangan propinsi dalam pengelolaan pertambangan panas bumi meliputi dan seterusnya baru kita nanti lihat lagi kembali Pak. Yang pertama tadi Pasal 3 adalah "kewenangan Pemerintah", sekarang cuma kita mengganti "kewenangan propinsi".
KETUA RAPAT:
Jadi kami minta persetujuan Pasal 4 ayat (I) "Kewenangan Propinsi dalam pengelolaan pertambangan panas bumi meliputi", setuju?
RAPAT SETUJU:
Terima kasih.
Kemudian Dim No. 66 a), kami persilak:m Pemerintah.
PEMERINTAH :
Yang point a kita memberikan memang kewenangan kepada propinsi untuk melakukan penetapan kerjasama dan kemitraan di bidang pertambangan panas bumi tentu ·yang menyangkut di dalam wilayah kewenangannya. Dengan demikian tidak selalu harus melalui dari pusat, jadi ini kita membebaskan mereka bisa melakukan suatu kemitraan dan sesuai dengan Undang-undang Otonomi Daerah. Dan yang terutama adalah bahwa mereka lebih bisa bersifat aktif di dalam mengelola panas bumi di daerahnya masing-masing.
ANGGOTA : ROYANI HAMINULLAH (F.PDI) :
Interupsi Ketua, Jadi kalau menurut Undang-undang Otonomi itu bahwa kewenangan itu lebih berwewenang kabupaten/kota daripada propinsi di dalam hal ini, ini ada yang menjelaskan tadi Pak.
KETUA RAPAT:
,.
Terima kasih.
Silakan Pak Syamsul.
ANGGOTA: SYAMSUL BACHRI, MSc (F.PG):
Pertanyaan saja Pak Ketua, Penetapan kerjasama dan kemitraan di bidang pertambangan.
Pertanyaan saya adalah apakah kerjasama antara Pemda dengan pengusaha atau pengusaha dengan pengusaha yang diatur mekanismenya oleh Pemda atau segitiga.
PEMERINTAH :
Jadi ini bisa dilakukan antara Pemerintah Daerah dengan Pemerintah Daerah, dan sebenarnya juga bisa melakukan kemitraan dengan pihak swasta semuanya terbuka di dalam wilayah dia di
dalam wilayah propinsi, kalau di kabupaten di dalam wilayah kabupaten.
ANGGOTA : IR. DARMANSYAH HUSEIN (F.PBB) :
Jadi kalau kita lihat konsistensi kita dengan Pasal 3 tadi bahwa penetapan kerjasama kemitraan bidang pertambangan panas bumi itu kalau di tingkat nasional itu masuknya di penjelasan.
Sekarang kita masukk:an ini apakah ini dimasukkan di penjelasan juga ini, itu-kan sama diatasnya ada juga point h. Untuk nasional saja kita masukkan ke penjelasan, kalau kita sejalan dengan itu kita masukkan penjelasan dan bunyinya sama persis.
'
ANGGOTA: SYAMSUL BACHRI, MSc (F.PG) :
Disamping itu bayangan saya adalah sudah ada peraturan kebijakan nasional tentang panas bumi, sudah ada peraturan perundang-undangannya, PP-nya, Kempen-nya. Apalagi kira-kira yang akan diatur oleh Pemda khusus masalah panas bumi, kira-kira substansi apa yang akan diatur lagi oleh Perda, apa tidak cukup dengan payung nasional. Kekhawatiran say a adalah bisa j adi antara propinsi a dengan propinsi b berbeda padahal yang diolah adalah sama persis.
ANGGOTA : JULIUS BOBO, SE, MM (F.PDI) :
Interupsi Ketua, Jadi tadi itu mengenai kewenangan propinsi dalam pengelolaan. Tadi-kan disampaikan Pak Dirjen tadi artinya termasuk kerjasama lintas propinsi, padahal kalau kita lihat Undang-undang No. 22 itu-kan lintas propinsi kewenangan pusat mestinya Pak. Ini menurut saya apa bagaimana kita menjelaskan disini kewenangan daripada tingkat pusat, ini berarti-kan hanya sampai di propinsi saja kewenangan ini tidak ada kewenangan pusat sama sekali walaupun lintas propinsi padahal Undang-undang No. 22 kalau lintas propinsi itu-kan kewenangan pusat.
Terima kasih.
ANGGOTA : DRS. ZULKIFLI HALIM, Msi (F.REF) :
Jadi ini pembagian kewenangan propinsi dan kabupaten/kota ini sebenarnya perlu gambaran secara menyeluruh dan secara seimbang apa penekanannya kalau hanya selisihnya pada wilayahnya lintas. Cuma-kan kadang-kadang sumurnya itu ngebornya itu mencong Pak, permukaannya di kabupaten ini tapi kebawahnya itu sudah melintas kabupaten lain. Jadi hal-hal semacam itu-kan perlu diperjelas, yang dihitung itu dipermukaan atau dibawahnya padahal panas buminya-kan dibawah. Problem-problem semacam itu yang perlu dipertegas.
Kalau bisa sebenarnya ini-kan satu paket sebenarnya, ini-kan kewenangan pusat, propinsi, kabupaten/kota, kan. harus ada penekanan-penekanan. Kalau yang dibedakan hanya ke wilayahan saja atau letaknya saja, "ya" sudah memang analogi saja. Tapi kalau memang ada perbedaan penekanan tertentu itu yang perlu kita lihat sehingga kalau kita sudah ketok di propinsi nanti di kabupaten/kota tidak sinkron begitu, sebenamya di im;entarisi apa-apa yang tidak cocok dulu Pak.
Terima kasih.
ANGGOTA : HJ. EVITA ASMALDA, SH (F.PG) :
Terima kasih Ketua. Kalau saya melihat tadi yang butir a "penetapan kerjasama dan kemitraan" ini apakah itu tidak lebih baik digabung di b itu sendiri dalam pembuatan peraturan perundang-undangan karena saya pikir agak berbeda dengan Pasal 3 tadi kalau mengenai kebijakan nasional. Tapi kalau ini dia bisa dimasukkan karena kita berharap juga tidak tumpang tindih aturannya yang sebetulnya juga pengesahan dan sebagainya juga melibatkan juga legislatif.
Terima kasih.
20
ANGGOTA : DRS. MAKSUM ZAILADRY (F.PPP) : Terima kasih Ketua,
Kalau kita mau konsisten terhadap yang tadi maka saya kira cukup saja point b ini, yang Iain itu nanti penjelasan saja.
Kemudian dalam point b ini saya usulkan supaya tegas saja Pak "pembuatan peraturan daerah"
saja Pak karena di daerah itu hanya peraturan daerah saya kira, tidak ada peraturan perundang- undangan. Kemudian peraturan daerah yang dimaksud itu nanti dalam penj elasan kalau kita mau konsisten dengan sistematika tadi. Tapi kalau kita jelaskan satu persatu disini bisa juga.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Kalau kita mau konsisten dengan yang tadi maka tentunya b itu menjadi a, kemudian
"pembinaan" itu kita masukkan tadi jadi berarti adalah c itu jadi b jadi "pengelolaan" diganti dengan
"pembinaan'', kemudian d menjadi c, e menjadi d, dan f menjadi e, semuanya masuk kecuali yang a kalau kita mau konsisten dengan yang tadi.
Jadi kalau kita sepakati saya mau bacakan satu-satu ini untuk konsistensinya, bagaimana setuju akan saya bacakan ?
RAPAT SETUJU:
ANGGOTA : DRS. ZULKIFLI HALIM, Msi (F.REF) :
Sebentar Ketua saya tidakjelas, a itu maujadi penjelasan ?, penjelasan dari apa ?.
KETUA RAPAT:
a menjadi penjelasan, menjelaskan dari pasal yang misalnya di Pasal b pembuatan peraturan daerah ini penjelasannya adalah itu nantinya.
ANGGOTA : DRS. ZULKIFLI HALIM, Msi (F.REF) :
Apa setara begitu karena-kan dia design-nyakan sejajar begitu, kalau penjelasan-kan dia menjelaskan kalimat yang memang masih ada interpretasi.
KETUA RAPAT:
Saya · kira memang tadi juga pasal yang sebelumny~. ini begitu kelihatan penjelasan ini memang harus disusun begitu, Pemerintah minta folong kami untuk menyusun yang tadi kita masukkan di dalam penjelasan itu bagaimana, meletakkahnya dimana.
Silakan Pak Askin.
ANGGOTA : PROF. DR. MOH. ASKIN, SH (F.REF) :
Sa ya hanya mendukung harus konsisten dengan apa yang telah dirumuskan diatas, sepanj ang itu masih bisa kita selesaikan, ada penyusutan dari kepentingan daerah itu tentu wajar tapi harus sej alan dengan apa yang sudah diatas, tu gas dari Tims in yang akan melakukan hal terse but.
Kemudian mengenai istilah atau rumusan peraturan-peraturan daerah kita tidak temukan di dalam literatur kita yang ada peraturan perundang-undangan atau peraturan daerah. Peraturan perundang-undangan tidak salah karena itu peraturan perundang-undangan seluruh peraturan tertulis
dari pusat sampai ke daerah itu pengertian peraturan perundang-undangan termasuk peraturan daerah. Jadi kalau peraturan perundang-undangan itu luas pengertiannya, bisa peraturan di pusat dan tertulis mulai dari pusat sampai ke daerah. Jadi kalau disebutkan peraturan perundang-undangan daerah itu tidak kita temukan istilah demikian. Kalau peraturan daerah hanya peraturan daerah boleh kalau itu hanya dikenal, tapi kalau misalnya keputusan kepala daerah apakah masuk itu "tidak masuk".
KETUA RAPAT: '
J adi usul Pak Askin pembuatan peraturan daerah perundangan saj a.
ANGGOTA : PROF. DR. MOH. ASKIN, SH (F.REF) :
Perundang-undangan saja karena kalau peraturan daerah terbatas hanya daerah yang dibuat oleh DPR dengan Kepala Daerah atau Walikota itu peraturan daerah itu-kan yang dimaksud, tidak ada lain peraturan yang akan dibuat, peraturan daerah_kalau begitu.
ANGGOTA : DRS. MAKSUM ZAILADRY (F.PPP) :
Interupsi Ketua, Saya usulkan disini untuk lebih tegas kita yaitu pembuatan peraturan daerah di bidang pertambangan panas bumi. Dalam peraturan daerah itu disamping mengatur masalah mekanisme tapi boleh mengeluarkan keputusan apa, itu disitu peraturan daerah itu. Jadi dalam peraturan daerah itu bisa memutuskan disamping masalah mekanisme, kewenangan itu bupati itu bisa membuat surat keputusan atau instruksi itu boleh karena sudah diatur dalam peraturan daerah itu, jadi dengan peraturan daerahpun sudah tercakup di dalamnya itu tentang kewenangan- kewenangan yang boleh dilakukan oleh aparat di daerah dari Bupati sampai Kepala Dinas sampai kebawah, sampai ke Camat-pun ada. Jadi sudah meliputi kalau kita menggunakan istilah membuat peraturan daerah tentang panas bumi ini, jadi tidak akan tertutup kemungkinan bupati membuat keputusan, membuat instruksi dan sebagainya berkenaan dengan ini tidak ditutup dengan peraturan daerah itu karena diatur sendiri dalam batang tubuh peraturan daerah biasanya begitu.
Terima kasih.
ANGGOTA : PROF. DR. MOH. ASKIN, SH (F.REF) :
Interupsi Ketua, Kalau begitu saya bisa pahami kalau bukan hanya peraturan daerah tapi mungkin juga keputusan kepala daerah saya hanya mengusulkan ditambah ditambah "di" saja
"pembuatan peraturan perundang-undangan di daerah" itu masuk di luar hanya di luar peraturan daerah mungkin. Instruksi Kepala Daerah dan sebagainya bukan hanya peraturan yang dibikin hanya oleh DPRD dengan Kepala Daerah tapi juga yang lain juga bisa dilakukan perundang-undangan di daerah boleh.
...
KETUA RAPAT:
Kita dengar <lulu penjelasan dari Pemerintah Pak, silakan.
PEMERINTAH :
Terima kasih Pak. Jadi memang benar Pak yang disampaikan tadi bahwa disini pembuatan peraturan perundang-undangan di daerah, jadi itu nanti melingkup termasuk Perda, Keputusan Gubernur, Keputusan Bupati, maupun Keputusan Ketua DPRD.
Terima kasih.
22
ANGGOTA : DRS. ZULKIFLI HALIM, Msi (F.REF) :
Jadi kalau maunya begitu sebenarnya prinsip-prinsip yang ada dalam kewenangannya itu disebut baru lebih lanjut dirumuskan dalam peraturan daerah, jadi ada sebuah batasan-batasan kewenangannya lalu secara operasoinal masing-masing daerah membuat Perdanya, jadi dibuat kalimat sekalian yang sifatnya utuh. Pada tingkat propinsi kewenangannya meliputi ini, baru lebih lanjut diatur dalam peraturan daerah begitu.
ANGGOTA: DRS. ASNAWI LATIEF (F.PDU) :
Pimpinan. Saya kira tidak usah polemik lagi, kita-kan mengenal tata urutan aturan perundang- undangan, Perda itu adalah peraturan perundangan terbawah. Jadi kalau disebut peraturan perundang-undangan di daerah artinya itu yang dimaksud Perda kenapa harus dipersoalkan lagi.
Isinya apa itu dibidang pertambangan.
Terima kasih.
KETUARAPAT:
Terima kasih. Kalau begitu saya bisa langsung membuka beberapa kesimpulan yaitu untuk Dim No. 66 a) penetapan kerjasama di bidang pertambangan panas bumi seperti yang tadi kita taruh di penjelasan, setuju?
RAPAT SETUJU:
Konsistensi kita dengan yang pasal sebelumnya maka b) menjadi a) dengan bunyinya sebagai berikut "pembuatan peraturan perundang-undangan di daerah di bidang pertambangan panas bumi"
setuju?
RAPAT SETUJU:
Kemudian c) menjadi b) Dim No. 68 "Pembinaan, pengusahaan dan pengawasan pertambangan panas bumi pada wilayah lintas kabupaten/kota", setuju ?
RAPAT SETUJU:
Dim No. 69 d) "pemberian ijin dan pengawasan pertambangan panas bumi pada wilayah lintas kabupaten/kota" menjadi c) setuju?
RAPAT SETUJU:
Dim No. 70 e) "Pengelolaan informasi geologi dan potensi panas bumi pada wilayah lintas kabupaten/kota" ini menjadi b) setuju ? ·
RAPAT SETUJU:
Terakhir Dim No. 71 f) "Inventarisasi dan peyusunan neraca sumberdaya dan cadangan panas bumi tingkat propinsi" ini masuk dalam norma usulan Pak Askin tadi, setuju ?
RAPAT SETUJU:
Dengan demikian sekarang kita bisa beralih pada Dim No. 72 "Kewenangan Propinsi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan yang berlaku", setuju ?
RAPAT SETUJU:
Selanjutnya "wilayah" kerja ini dipotong tersisip Pasal 5 ke Dim No. 81. Saya mulai dari Dim No. 81 Pasal 5 ayat (1) "Kewenangan Kabupaten!K.ota dan pengelolaan pertambangan panas bumi meliputi" setuju ?
RAPAT SETUJU:
Bagaimana kalau ini kita konkordan dengan yang tadi setuju, jadi ini seluruhnya dari Dim No.
82 sampai Dim No. 88 ini seluruhnya kepada Timsin.
ANGGOTA : KH. MAHCRUS USMAN (F.KB) :
Pimpinan, Ini apakah tidak timbul duplikasi di dalam pembuatan peraturan perundang- undangan daerah di bidang pertambangan panas bumi, apa nanti tidak bertentangan. Propinsi membikin peraturan perundang-undangan, nanti kabupaten bikin lagi, apa tidak timbul nanti -pertentangan antara peraturan yang dibikin oleh propi~si sebab obyeknya sama.
PEMERINTAH :
Jadi masing-masing daerah itu tingkat propinsi mereka membuat peraturan perundang- undangan ditingkat propinsi. Begitu pula dengan kabupaten mereka juga membuat peraturan perundang-undangan dalam bentuk Perda, Keputusan Bupati, Keputusan DPRD tingkat Bupati, jadi lingkup kewenangan masing-masing., jadi tidak akan duplikasi atau tumpang tindih.
ANGGOTA:
m.
DARMANSYAHHUSEIN (F.PBB):Pak Ketua, tadi sudah sampai mana Pak. Maksud saya begini, tadi-kan dikatakan keseluruhan ini kita konkordan-kan tetapi ada point-point yang tidak konkordan disini Pak (g, h). Ini perlu kita bahas ini apakah kita setuju, misalnya pendalaman tata ruang ataukah di propinsi tidak ada tata ruang itu persoalannya. Kemudian masyarakat disekitar wilayah usaha pertambangan panas bumi apakah propinsi tidak diberikan tugas untuk memberdayakan masyarakat itu yang antar propinsi. Itu saya kira satu hal yang perlu kita ini "ko" tiba-tiba muncul di kerjaannya kewajiban katakanlah dari kabupaten. Kalau ini tadi sudah di konkordankan barangkali dua soal ini harus kita bahas dulu.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Koreksinya bagus, kami setuju bahwa ini kita buka untuk yang dua ini untuk kita diskusikan.
Sebelumnya Pemerintah silakan memberikan penjelasan.
PEMERINTAH:
Point g) kenapa kita lakukan adalah pemberdayaan kenapa tidak ada di propinsi. Karena semua usaha-usaha pertambangan adalah yang berada di sekitar masyarakat itu dulu consem-nya.
Oleh karena itu yang namanya community development itu adalah pada sonasi satu, propinsi itu adalah sonasi tiga dan lain sebagainya. Kebetulan saja kalau di propinsi itu memang bisa menimbulkan ada lintas kabupaten.
Oleh karena itu dalam kondisi dia berada di propinsi maka tetap community development pada kabupaten masing-masing. Misalnya terdiri dari tiga kabupaten maka di kabupaten itulah yang sesuai dengan karakteristik dari masing-masing kabupatennya. Ini adalah memang pola bottom up.
Sehubungan juga dengan masalah huruf h). Kalau kita mengatakan bahwa propms1 menetapkan juga pola tata ruang maka dia tidak bisa tidak memperdulikan tata ruang yang berada di kabupaten, sedangkan pendekatan kita mengenai tata ruang sekarang adalah bottom up bukan lagi top down seperti <lulu.
Kenapa terdistorsi dulu tata ruang kita sampai hari ini yang 40 tahun kita terdistorsi dalam segala bidang karena pendekatannya adalah top down. Jadi hutan ternyata kota Teluk Betung itu hutan, inilah salah satu contoh. Jadi tidak bisa lagi akan terjadi kemudian hari, oleh karena itu selalu dari bawah ke atas dikabupaten naik keatas.
KETUARAPAT:
Sebelumnya saya ingin pendapat-pendapat dari rekan-rekan itu bahwa soal dua ini adalah selain daripada substansinya kemudian ini dimunculkan di dalam pasal ini sebagai norma atau sebagai penjelasan.
Silakan.
ANGGOTA : HJ. EVITA ASMALDA, SH (F.PG) :
Terima kasih Ketua, Kalau yang g) saya sependapat dengan uraian dari Pemerintah. Hanya untuk h) saya ingin ini di dropt. Mengapa, kita tahu ada undangnya yang mengatur sendiri mengenai tata ruang karena nanti Undang-undang ini tumpang tindih nanti.
Terima kasih.
ANGGOTA : DRS. ZULKIFLI HALIM, Msi (F.REF) :
Ketua, Tata ruang itu maksudnya dalam konteks community development-nya secara keseluruhan.
ANGGOTA : KH. MAHCRUS USMAN (F.KB) :
Mengenai g) ini Pak sekarang timbul m?-salah bagaimana terhadap panas bumi yang lintas antar kabupaten, apakah tidak di propinsi juga ada. Berarti memang yang antar kabupaten tadi yang tidak satu kabupaten saja tapi lintas kabupaten misalnya begitu.
KETUA RAPAT:
Tadi rasanya penjelasan cukup jelas soal ini adalah community development, jadi soal menyangkut masyarakatnya maka itu wewenangnya bupati untuk melakukan pembinaan terhadap masyarakatnya begitu. Walaupun nanti kegiatan itu menjadi dua lintas mengenai dua kabupaten tapi tetap community development-nya itu masing-masing ,orang tidak bisa dari propinsi justru.
ANGGOTA : KH. MAHCRUS USMAN (F.KB) :
Kalau yang tadi itu b,c,d,e,f, g itu adalah propinsi itu semua yang lintas kabupaten. Itu-kan diatur oleh propinsi mengenai soal pengelolaan, pembinaan, pengusahaan, pemberian ijin dan sebagainya itu yang lintas kabupaten itu diangkat ke propinsi tidak di kabupaten, mengapa yang d ini mengenai soal community development tidak, nanti jangan timbul ini umpamanya sumbernya disini, ini panas bumi itu ke kabupaten lain di bawahnya, apakah kabupaten disini atau disini, apakah itu tidak perh.i diatur oleh propinsi itu.
ANGGOTA : DRS. MAKSUM ZAILADRY .(F.PPP) :
Ketua, Pertama kita sedang membicarakan bahwa ini kaitan dengan kewenangan kabupaten/kota. Saya kira mengenai huruf g) ini pemberdayaan masyarakat di dalam maupun disekitar wilayah usaha pertambangan panas bumi saya oke.
Yang kedua yang a) Pak penetapan rencana tata ruang, tentu tata ruang ini tidak semata m·engenai masalah panas bumi karena setiap daerah kabupaten/kota itu punya tata ruang masing- masing. Tentu kita menginginkan supaya tata ruang daerah itu sesuai dengan tata ruang di tingkat propinsi. Biasanya memang daerah menyesuaikan dengan tata ruang tingkat propinsi, tapi tingkat propinsi membuat tata ruang tidak sedetail daerah kabupaten/kota. Dia punya hak malah diperintahkan oleh Menteri Dalam Negeri untuk membuat tata ruang. Hanya mungkin yang kita hindari tata ruang itu tidak bertentangan dengan yang diatasnya. Tapi kewenangan membuat tata ruang itu juga kewenangan daerah kabupaten/kota. Jadi kalau ini tidak kita hilangkan sepertinya kita menghilangkan kewenangan yang ada di daerah itu sendiri untuk membikin tata ruang karena tata ruang itu tidak hanya masalah pertambangan tapi meliputi yang sangat luas. Kalau saya tidak usul dropt, justru dihidupkan ini Pak. Terima kasih. ··
ANGGOTA : DRS. ZULKIFLI HALTh'.l, Msi (F.REF) :
Saya interupsi sedikit Pak, Ini yang pemberdayaan masyarakat itu saya kira esensi yang penting. Kalau investor masuk sudah ada masyarakat disekitar itu, itu jaminan bahwa mereka tidak disuruh pergi, bahkan mereka bisa tetap jumlah penduduknya itu bisa bertambah, jaminan itu yang lebih penting, kalau di kabupaten sudah.
Memang pertanyaan kalau di propinsi tidak diberikan ayat ini, itu nanti dia tidak power full karena yang memberi ijin adalah misalnya Pemerintah Propinsi, kemudian tugas investor yang beroperasi pada tingkat propinsi itu nanti tidak ada diberi kewenangan untuk propinsi memberdayakan masyarakat. Kalau diserahkan kepada kabupaten ini-kan tidak sinkron karena kewenangan ijinnya ada di propinsi, maka di kewenangan propinsi juga harus perlu ditambahkan pemberdayaan masyarakat itu. Sebab kalau proyeknya itu nanti lintas kabupaten kemudian tidak ada pemberdayaan masyarakat itu-kan nanti bisa kurang terjamin pelaksanaannya Pak.
KETUARAPAT:
Terima kasih. Pak Askin mau menambahkan, silakan.
ANGGOTA : PROF. DR MOH. ASKIN, SH (F.REF) :
Saya hanya menanggapi Pak Maksum tadi supaya jangan ada yang merasa ini. Jadi tata ruang memang sudah diatur Undang-undang No. 24 Tahun 1990,,.. jangan lagi duplikasi lagi ketentuan
yang ada. ·
Kemudian mengenai pengaturan yang dibuat tadi Pak Macrus itu saya kira kalau tidak lintas propinsi kabupaten tidak perlu ada, itu sudah diatur dalam ayat (2) ini bahwa ada sinkron dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku jadi sudah pas disitu sudah cocok itu dan saya setuju
llll.
Terima kasih.
KETUA RAPAT:
Silakan Pak Tunggul.