INTI PERSADA DENGAN CJR HOLDINGS SDN BHD)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Melengkapi Tugas Akhir Dan Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Dalam Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara
Oleh
Azalia Salsabila Pilo Daulay 180200168
DEPARTEMEN HUKUM PERDATA
PROGRAM KEKHUSUSAN HUKUM PERDATA BW
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2022
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIAT
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Azalia Salsabila Pilo Daulay
NIM : 180200168
DEPARTEMEN : HUKUM KEPERDATAAN (BW)
Judul Skripsi : Tinjauan Hukum Kontrak Bidang Pertambangan dalam Perspektif Hukum Perdata (Studi Kerja Sama PT
Cosmos Inti Persada dengan CJR Holdings Sdn Bhd) Dengan Ini menyatakan
1. Skripsi yang saya tulis ini benar tidak merupakan jiplakan skripsi atau karya ilmiah orang lain
2. Apabila terjadi di kemudian hari skripsi tersebut adalah jiplakan, maka segala akibat hukum yang timbul menjadi tanggung jawab saya
Demikian pernyataan ini saya buat dengan seharusnya tanpa paksaan dan tekanan dari pihak manapun
Medan, Januari 2022
Azalia Salsabila Pilo Daulay NIM. 180200168
ABSTRAK
Azalia Salsabila Pilo Daulay * Tan Kamello **
Abd. Harris ***
Kontrak berasal dari perbedaan kepentingan yan dipertemukan melalui kontrak. Pihak PT. Cosmos Inti Persada dianggap tidak menerapkan asas iktikad baik dalam hukum kontrak, karena PT Cosmos Inti Persada tidak melakukan kewajibannya dalam meneliti lokasi rencana pertambangan dan menyampaikannya informasi secara rinci kepada CJR Holdings Sdn Bhd sebelum dilakukan penandatanganan kontrak. Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana tipe hukum kontrak dalam bidang pertambangan, bagaimana proses penerbitan izin pertambangan sesuai ketentuan yang berlaku,bagaimana akibat hukum pembatalan kontrak yang disebabkan penolakan pemberian izin oleh pemerintah daerah.
Metode penelitian yang digunakan adalah yuridis normatif. Sumber data meliputi dua jenis yaitu sumber data primer dan data sekunder. Data primer dilakukan dengan melakukan wawancara dengan informan dan analisis terhadap kontrak kerja sama antara PT Cosmos Inti Persada dengan CJR Holdings Sdn Bhd dan data sekunder dilakukan dengan mengolah data dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tersier. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif
Berdasarkan hasil penelitian dipahami bahwa tipe hukum kontrak dalam bidang pertambangan ketentuannya sama dengan kontrak pada umumnya yang didasarkan pada Pasal 1320 KUHPerdata. Proses penerbitan izin didasarkan pada Pasal 2 Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 dan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah (Undang-Undang No.22 Tahun 1999) karena kontrak ini dibuat dan ditandatangi pada tahun 2008. Akibat hukum pembatalan kontrak kerja sama ialah tergantung apakah klasula pembatalan sudah diatur secara tersendiri oleh para pihak dalam kontrak. Salah satu cara penyelesaian perselisihan ialah musyawarah mufakat. Kontrak ini berakhir dikarenakan kesepakatan kedua belah pihak dengan alasan izin pertambangan tidak dapat dikeluarkan oleh Bupati Halmahera Tengah karena rencana wilayah pertambangan berada di hutan lindung.
Kata Kunci: Kontrak, Kerja Sama, Izin, Pertambangan _______________________________
* Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
** Pembimbing I, Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
*** Pembimbing II, Dosen Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menuliskan skripsi dengan judul: “Tinjauan Hukum Kontrak Bidang Pertambangan dalam Perspektif Hukum Perdata (Studi Kerja Sama PT Cosmos Inti Persada dengan CJR Holdings Sdn Bhd).” Disusun untuk memenuhi tugas dan memenuhi persyaratan untuk mencapai gelar Sarjana Hukum di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyusunan dan penulisan skiripsi ini tidak terlepas dari bantuan, dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih kepada yang terhormat:
1. Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara;
2. Dr. Mahmul Siregar, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan nasihat dan arahan kepada penulis untuk menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera;
3. Dr. Agusmidah, S.H., M.Hum, selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universita Sumatera Utara;
4. Ibu Puspa Melati Hasibuan, S.H., M.Hum, selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
5. Dr. Mohammad Ekaputra, S.H., M.Hum, selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
6. Dr. Yefrizawati SH., M.Hum selaku Ketua Program Studi Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
7. Prof. Dr Tan Kamello S.H., M.S, selaku Dosen Pembimbing I;
8. Dr. Abd. Harris, S.H., M.Kn, selaku Dosen Pembimbing II;
9. Seluruh Dosen di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah mengajar dan memberikan ilmu terbaik, serta membimbing penulis dalam menjalani studi di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
10. Seluruh staff pegawai dan tata usaha yang ada di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan urusan administrasi;
11. Seluruh pihak dan teman-teman seperjuangan yang tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penghargaan dan terima kasih yang sebesarnya kepada Ayahanda tercinta Ir Abdurrahim Daulay, Mama Suryani Pilo S.H,. S.E., Mkn., Ayahtuo Prof. Dr.
Zainul Daulay S.H. M.H., Mami Eli Satria S.H, Abang Syafriadi Lubis ST., M.Si yang senantiasa memberikan kasih sayang dan memberikan segala kebutuhan penulis.Akhir kata, semoga skripsi ini memberi manfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi kita semua dalam rangka menambah wawasan pengetahuan dan pemikiran kita.
Penulis,
Azalia Salsabila Pilo Daulay NIM. 180200168
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI ... v
DAFTAR TABEL... vii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 14
C. Tujuan Penelitian ... 14
D. Manfaat Penelitian ... 14
E. Keaslian Penelitian ... 16
F. Metode Penelitian ... 17
G. Tinjauan Pustaka ... 23
H. Sistematika Penulisan ... 26
BAB II TIPE HUKUM KONTRAK DALAM BIDANG PERTAMBANGAN ... 28
A. Kontrak ... 28
B. Jenis-Jenis Kontrak ... 41
C. Memorandum Of Understanding (Nota Kesepahaman) ... 44
D. Memorandum of Agreement (Nota Kesepakatan) ... 48
BAB III PROSES PENERBITAN IZIN DALAM BIDANG PERTAMBANGAN SESUAI KETENTUAN YANG BERLAKU... 56
A. Sejarah Pengusahaan Pertambang di Indonesia ... 56
B. Kewenangan Pengelolaan dan Pengusahaan Pertambangan ... 64
C. Prosedur Permohonan Izin Pertambangan ... 74
BAB IV AKIBAT HUKUM PEMBATALAN KONTRAK YANG DISEBABKAN PENOLAKAN PEMBERIAN IZIN OLEH
PEMERINTAH DAERAH ... 89
A. Penerapan Asas Iktikad Baik dalam Kontrak Kerja Sama ... 89
B. Jangka Waktu dan Jaminan ... 104
C. Akibat Hukum yang Timbul Apabila Terjadi Force Majeure dalm Kontrak Kerja Sama ... 107
D. Konsekuensi Terhadap Pembatalan Kontrak Kerja Sama ... 112
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 117
A. Kesimpulan ... 117
B. Saran ... 118
DAFTAR PUSTAKA ... 119
PERJANJIAN KERJA SAMA ... 124
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Perbandingan Pengaturan Perizinan Pertambangan dan Mineral ... 85
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada awalnya kerja sama bisa dilakukan secara tidak tertulis, namun seiring berkembangnya zaman ketika satu pihak menjalin kerja sama dengan pihak lain di kemudian hari bisa saja terjadi konflik. Konflik ini bisa menimbulkan keretakan hubungan antara dua pihak dan munculnya perselisihan.
Bagaimanapun, tidak cukup kehendak para pihak ditunjukan pada timbulnya akibat hukum. Salah satu bidang hukum yang sangat penting dalam mengatur aktivitas ekonomi itu adalah hukum kontrak, dimana hampir semua aktivitas ekonomi itu adalah hukum kontrak.
Mariam Darus Badrulzaman menerangkan kontrak adalah sebuah perbuatan hukum yang menimbulkan perikatan, yaitu hubungan hukum yang terjadi di antara dua orang atau lebih, yang terletak di dalam lapangan kekayaan dimana pihak yang satu berhak atas prestasi dan pihak lainnya wajib memenuhi prestasi.1 Wirjono Prodjodikoro, menurutnya persetujuan adalah suatu perhubungan hukum mengenai harta benda antara dua pihak dalam mana suatu pihak berjanji untuk melakukan sesuatu hal atau tidak melakukan sesuatu hal, sedang pihak lain berhak untuk menuntut kontrak itu.2 Herlien Budiono menjelaskan kontrak atau perjanjian adalah perbuatan hukum yang menimbulkan, berubahnya, hapusnya hak, atau menimbulkan suatu hubungan hukum dan dengan cara demikian, kontrak atau perjanjian menimbulkan akibat hukum yang
1 Mariam Darus Badrulzaman, Kompilasi Hukum Perikatan, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 2016), h.3
2 R. Wirjono Prodjodikoro, Azas-Azas Hukum Perjanjian, (Bandung: Refika Aditama, 2003), h.1
2
merupakan tujuan para pihak. Jika suatu perbuatan hukum adalah kontrak atau perjanjian, orang-orang yang melakukan tindakan hukum disebut pihak-pihak. 3
Dalam praktik istilah kontrak atau perjanjian terkadang masih dipahami secara rancu. Banyak pelaku bisnis mencampuradukkan kedua istilah tersebut seolah merupakan pengertian yang berbeda. Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata) menggunakan istilah overenkomst dan contract untuk pengertian yang sama. Hal ini secara jelas dapat disimak dari judul III BAB II KUHPerdata tentang “Perikatan-perikatan yang lahir dari Kontrak atau Perjanjian” yang dalam Bahasa aslinya (Bahasa Belanda) yakni, “van verbintenissen die uit contract of overeencomst geboren worden“. Pengertian ini juga didukung pendapat banyak sarjana seperti Jacob Hans Niewenhuis, Hofman, J.Satrio, Soetojo Prawirohamidjojo, Mariam Darus Badrulzaman, Puwahid Patrik dan Tirtodiningrat yang menggunakan istilah kontrak dan perjanjian dalam pengertian yang sama.4
Kontrak disinonimkan dengan perjanjian atau persetujuan. Kontrak melahirkan hubungan hukum bagi para pihak berupa pengikatan, lahir hak dan kewajiban, mengenai sesuatu hal yang dapat dinilai, mengenai sesuatu hal yang dapat dinilai atau berharga dan tidak bertentangan dengan peraturan perundang- undangan. Merujuk daripada itu pengertian kontrak dan perjanjian adalah sama.
Hal ini disebabkan fokus kajian skripsi berlandaskan pada Kitab Undang-Undang
3 Herlien Budiono, Asas Keseimbangan bagi Hukum Perjanjian Indonesia,(Bandung: Citra Aditya Bakti, 2006), h.67-72
4 Agus Yudha Hernoko, Hukum Perjanjian Asas Proporsionalitas dalam Kontrak Komersial, (Yogyakarta:
Lakbang Mediatama, 2010), h.1
Hukum Perdata, di mana perjanjian atau persetujuan (overeenkomst) mempunyai pengertian yang sama dengan kontrak (contract) 5
Teori kehendak atau teori hukum kontrak klasik yang berasal dari prinsip private autonomy, kemudian bermakna bahwa kehendak para pihak yang menentukan hubungan hukum kontrak mereka. Prinsip yang demikian memiliki beberapa konsekuensi sebagai berikut:
1. Hukum yang berlaku bagi mereka tersebut semata-mata berkaitan dengan maksud yang sebenarnya dari pihak yang berjanji
2. Maksud para pihak harus “bertemu” pada saat sebelum dibuatnya kontrak;
3. Hakim tidak memiliki kewenangan untuk mengisi celah dalam suatu kesepakatan dan tidak berdaya menghadapi kemungkinan hal yang tidak terduga
4. Pihak yang berjanji bebas mengungkapkan kemauannya. 6
Sunaryati Hartono juga menunjukkan bahwa hukum kontrak dapat merupakan sumber hukum kebiasaan disebabkan hukum tertulis (peraturan perundang-undangan) tidak akan dapat mengejar perubahan dalam masyarakat akibat pembangunan yang berencana.7 Di Jerman, Max Weber mengamati bahwa hal yang paling istimewa dari hukum material modern adalah sangat meningkatnya signifikansi transaksi hukum, khususnya kontrak sebagai suatu sumber hak yang dijamin (pelaksanaanya) oleh paksaan hukum. Hukum Kontrak utamanya mengatur mekanisme bagaimana suatu sumber daya ekonomi digunakan untuk memberikan manfaat yang besar bagi pemilik dan pemakai
5 Dwi Agus http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/131168-T%2027450-Analisis%20yuridis-Pendahuluan.pdf diakses tanggal 30 Agustus 2021, pukul 12.45 WIB
6 Ridwan Khairandy Hukum Kontrak Indonesia dalam Perspektif Perbandingan,( Yogyakarta: FH UII Press,2013), h.46
7 Sunaryati Hartono, Perspektif Politik Hukum Nasional dan Pembangunan Hukum Dalam Perspektif Politik Hukum Nasional, (Jakarta: CV Rajawali, 1986), h.21
4
kepada orang lain.8 Dalam kontrak ini sumber daya ekonomi dapat dikuasakan.
Dengan kata lain, dikatakan bahwa lembaga perikatan, khususnya kontrak, merupakan suatu cara yang dipakai mengelola sumberdaya masyarakat guna mencapai kesejahteraan.9
Agar terjadi kontrak, diperlukan bahwa akibat hukum ini dibuat untuk keuntungan salah satu pihak dan atas beban pihak lain, atau untuk keuntungan salah satu pihak dan atas beban pihak lain, atau untuk keuntungan dan beban masing-masing pihak satu sama lainnya. 10 Oleh karena itu dibutuhkan adanya kontrak agar kerja sama bisa berjalan dengan baik sehingga hubungan masing- masing individu yang melakukan kerja sama akan selalu harmonis.11Tujuan kontrak adalah mempertegas hak dan kewajiban antar para pihak agar masing- masing pihak bisa menjalankan kewajibannya masing-masing dan mendapatkan hak sesuai porsinya. Bentuk kerja sama antara pihak satu dan pihak lainnya dituangkan dalam bentuk kontrak kerja sama.
Pada dasarnya kontrak berawal dari perbedaan atau ketidaksamaan kepentingan di antara para pihak. Perumusan hubungan kontraktual tersebut pada umumnya senantiasa diawali dengan proses negosiasi di antara para pihak.
Melalui negosiasi para pihak berupaya menciptakan bentuk-bentuk kesepakatan untuk saling mempertemukan sesuatu yang diinginkan (kepentingan) melalui proses tawar menawar.12 Kontrak berasal dari perbedaan kepentingan yang dicoba dipertemukan melalui kontrak. Melalui kontrak perbedaan kepentingan para pihak
8 Max Weber, On Law in Economy and Society, (New York: Simon and Schcuster,1987), h.10
9 Aufa Atila, https://www.google.co.id/amp/s/www.jojonomic.com/blog/kontrak-kerjasama-usaha/ diakses 30 Agustus 2021, pukul 12.37 WIB
10 MR. A. S. Hartkamp, Hukum Perikatan Ajaran Umum Perjanjian, (Bandung, Yramawidya, 2020), h.16
11HasnaWijayanti,Bentuk Kerja Sama Antar Perusahaan https://www.portal-ilmu.com/2020/01/4-bentuk- kerjasama-=1antarperusahaan.9.html?m- perusahaan_9.html?m=1diakses 30 Agustus 2021, pukul 12.39 WIB
12 Agus Yudha Hernoko, Loc. Cit
dapat dibingkai dengan hukum sehingga bersifat mengikat para pihak. Kontrak terjadi ketika para pihak sudah mengetahui kehendak-kehendak mereka masing- masing. Ciri utama dari kontrak adakah kesesuaian kehendak (wilsovereenstemming) dari pihak-pihak berbeda (duorum vel plurium in idem placitum consensus). 13
Menurut Lyons suatu iklim kontrak yang sesungguhnya, pada hakikatnya memberi peluang bagi perbedaan-perbedaan yang relevan di antara para pihak.
Argumen kontrak menuntut pertukaran gagasan secara bebas dan melalui proses, meminjam istilah Gadamed, to-and-for, pada akhirnya semua pihak akan sampai pada kesepakatan bersama mengenai prinsip-prinsip keadilan yang tepat bagi mereka. Hanya dalam proses seperti ini hasil suatu kesepakatan sungguh-sungguh merefleksikan kepentingan semua pihak14
Sesuai dengan prinsip ekonomi, maka suatu perusahaan akan berusaha untuk mengeluarkan pengorbanan yang minimal untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal. Untuk melakukan efisiensi kerja perusahaan bisa mendapatkan laba dengan cara yang dibenarkan oleh undang-undang. Salah satu hal yang dilakukan oleh perusahaan dalam melakukan efisiensi kerja ialah memaksimalkan laba perusahaan dengan melakukan kerja sama antar perusahaan. Kerja sama ini dituangkan dalam bentuk kontrak kerja sama. Sebagaimana halnya kontrak pada umumnya, salah satu substansi dari kontrak kerja sama ialah memuat hak dan kewajiban dari masing-masing pihak yang terlibat di dalamnya. Begitu pula halnya dengan kontrak kerja sama dalam pertambangan nikel, mensyaratkan adanya prestasi yang harus dipenuhi oleh kontraktor kepada pemilik modal dan
13 MR. A. S. Hartkamp, Op.Cit., h. 17
14 Agus Yudha Hernoko, Op. Cit., h.86
6
begitu pula sebaliknya, Oleh karena itu, kewajiban kontraktor ialah hak dari pemberi modal.
Kebebasan berkontrak berkembang sejak lama seiring dengan berkembangnya ajaran laissez faire-nya Adam Smith yang menekankan prinsip non intervensi oleh negara terhadap kegiatan ekonomi dan bekerjanya pasar.
Smith menginginkan suatu political economy, agar perundang-undangan tidak digunakan untuk mencampuri kebebasan berkontrak, karena kebebasan ini sangat penting bagi kelanjutan perdagangan dan industri. Ajaran para filosof ekonom pada abad XIX seperti dinyatakan oleh Adam Smith dan Jeremy Bentham tersebut, berpandangan bahwa tujuan utama legislasi dan pemikiran sosial harus mampu menciptakan the greatest happiness for the greatest number. Oleh karena itu, dapatlah dikatakan bahwa sumber dari kebebasan berkontrak adalah kebebasan individu yang titik tolaknya adalah kepentingan individu pula, dengan demikian dapat dipahami bahwa kebebasan individu memberikan kepadanya kebebasan untuk berkontrak 15
Adanya asas kebebasan berkontrak sebagai salah satu prinsip dalam hukum kontrak, dirasakan oleh masyarakat betapa luwesnya ketentuan hukum itu untuk dijadikan landasan bisnis yang wujudnya sangat beraneka ragam, dengan laju perkembangan yang pesat pula. Berarti bisnis yang berkembang pesat dari waktu ke waktu dengan berbagai variasi yang beraneka ragam, hukum akan tetap dipakai sebagai landasan bisnis sampai kapanpun. Justru dengan adanya era globalisasi, asas kebebasan berkontrak juga memungkinkan untuk mengadopsi jenis-jenis kontrak yang ada dan tumbuh di negara-negara lain, misalnya dari
15 Sutan Remy Sjahdeini. Kebebasan Berkontrak dan Perlindungan yang Seimbang bagi para Pihak dalam Perjanjian Kredit Bank di Indonesia, (Jakarta: Institut Bankir Indonesia,1993), h.23
sistem commom law. Jelas sekali keluwesan aturan hukum dalam Buku III KUHPerdata seperti itu, benar-benar dapat mendukung transaksi-transaksi niaga yang dilakukan oleh anggota masyarakat. Inilah satu situasi yang kondusif yang sangat diperlukan dunia bisnis agar efisiensi yang dituntut oleh dunia niaga tetap dapat dipenuhi. 16
Dalam perkembangannya ternyata asas kebebasan berkontrak dapat mendatangkan ketidakadilan, karena asas ini hanya dapat mencapai tujuannya, yaitu mendatangkan kesejahteraan seoptimal mungkin, bila para pihak memiliki bargaining power yang seimbang. Jika salah satu pihak lemah, maka pihak yang memiliki bargaining position lebih kuat dapat memaksakan kehendaknya untuk menekan pihak lain, demi keuntungan dirinya sendiri. Syarat-syarat atau ketentuan-ketentuan dalam kontrak yang semacam itu akhirnya akan melanggar aturan-aturan yang adil dan layak. Dalam perkembangannya asas ini, menimbulkan kepincangan dalam kehidupan masyarakat, sehingga negara perlu turut campur tangan melakukan pembatasan terhadap pelaksanaan dari asas kebebasan berkontrak untuk melindungi pihak yang lemah 17
Fenomena adanya ketidakseimbangan dalam berkontrak sebagaimana tersebut di atas dapat dicermati dari beberapa model kontrak, terutama kontrak-kontrak konsumen dalam bentuk standar/baku yang di dalamnya memuat klausul-klausul yang isinya (cenderung) berat sebelah. Dalam praktik pemberian kredit di lingkungan perbankan, misal terdapat klausul mewajibkan nasabah untuk tunduk terhadap segala petunjuk dan peraturan bank, baik yang sudah ada atau yang akan diatur kemudian, atau klausul yang membebaskan bank dari kerugian nasabah
16 Robensjah Sjachran, Hukum Properti Karakteristik Perjanjian Jual beli Properti dengan Sistem Inden, (Jakarta: Kencana, 2021), h.13
17 Sutan Remy Sjahdeini.Op.Cit., h.17
8
sebagai akibat tindakan bank. Dalam kontrak sewa beli, misalnya terdapat klausul yang berisi kewajiban pembayaran seluruhnya dan seketika apabila pembeli sewa menunggak pembayaran dua kali berturut-turut. Dalam kontrak jual-beli, misalnya terdapat klausul barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan 18
Pada praktiknya masih banyak kontrak yang mana hak dan kewajiban antar pihak tidak dilakukan secara seimbang.19 Urgensi keseimbangan hak dan kewajiban para pihak ditetapkan secara proporsional agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan oleh kontrak. Sependapat dengan Roscoe Pound yang mengemukakan mengenai fungsi hukum sebagai “a tool of social engineering”,Suatu perikatan harus dilaksanakan dengan iktikad baik. 20Ini berarti bahwa dalam suatu perikatan antara pihak-pihak yang melakukan kontrak bahwa setiap pihak melaksanakan hak dan kewajiban masing-masing sesuai dengan kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak. Dalam perkembangannya, asas iktikad baik dituangkan dalam Pasal 1339 KUHPerdata, yaitu:
“Perjanjian-perjanjian tidak hanya mengikat untuk hal-hal yang dengan tegas dinyatakan di dalamnya, tetapi juga untuk segala sesuatu yang menurut sifat perjanjian, diharuskan oleh kepatutan (bilijkeheid), kebiasaan, atau undang- undang”
Pasal ini menentukan bahwa dalam suatu kontrak, para pihak tidak hanya terikat terhadap apa yang secara tegas disetujui dalam kontrak tersebut, tetapi juga terikat oleh kepatutan, kebiasaan, dan undang-undang. Dengan demikian, yang mengikat para pihak dalam kontrak adalah isi kontrak, kepatutan, kebiasaan, dan undang-undang. Berdasarkan hal tersebut dapat dikatakan bahwa para pihak yang
18 Sutan Remy Sjahdeini.Op.Cit., h.193-239
19 Agus Yudha Hernoko. Op.Cit., h.193-239
20 Ibid
terikat dalam kontrak kerja sama harus menaati kontrak yang berlaku sejak saat kontrak tersebut disepakati dan ditanda-tangani para pihak yang bersangkutan.
Substansi Pasal 1339 KUHPerdata ini menggaris bawahi pentingnya kepatutan (equity, bilijkheid) dalam kaitannya dengan keterikatan kontraktual para pihak, selain dari apa yang telah disepakati dalam kontrak. Pasal 1339 KUHPerdata tersebut di atas, khususnya yang berhubungan dengan kepatutan (billijkheid), pada umumnya selalu dihubungkan dengan Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata, bahwa :
“Perjanjian harus dilaksanakan dengan iktikad baik”
Namun dalam perkembangannya asas iktikad baik yang dituangkan dalam Pasal 1338 KUHPerdata belum dianggap cukup melindungi kepentingan para pihak sehingga perlu dituangkan lebih jauh dan lebih rinci di dalam ketentuan kontrak itu sendiri. Hal mana dibenarkan dan sejalan dengan asas kebebasan berkontrak. Asas iktikad baik memang suatu asas yang valid dan harus dipertahankan dalam hukum kontrak, tetapi iktikad baik saja belum cukup dalam suatu kontrak. Iktikad baik seseorang bisa berubah dari waktu ke waktu mengingat keadaan dan kondisi serta hal yang mungkin mempengaruhi pikirannya.21
Hukum tidak ditempatkan di belakang permasalahan masyarakat, tetapi sebaliknya karena memiliki “daya paksa” hukum ditempatkan di depan sebagai motivator yang mendorong maysarakat menuju perubahan sosial yang lebih baik.22 Hukum berfungsi sebagai alat untuk mengatur dan mengelola masyarakat.
Mengatur dan mengelola masyarakat akan membawa kepada pembaharuan-
21 Setiawan, Naskah Akademik Peraturan Perundang-undangan tentang Hukum Perikatan Pengganti Burgelijk Wetboek/Stb 1847-23 Buku Ketiga Titel 1-4,(Jakarta: BPHN Departemen Kehakiman, 1993), h.
84
22 O.C Kaligis. Antologi Tulisan Ilmu Hukum, (Yogyakarta: P.T Alumni, 2007), h. 4
10
pembaharuan, perubahan-perubahan struktur masyarakat dan penentuan pola berpikir menurut hukum yang menuju arah pembangunan. Hal ini akan menghasilkan kemajuan hukum, sehingga akan tercapai suatu suasana yang dapat dikategorikan sebagai masyarakat yang beradab.23
Problematika di atas tentunya merupakan tantangan bagi para yuris untuk memberikan jalan keluar terbaik demi terwujudnya kontrak yang saling menguntungkan para pihak (win-win solution contract), di satu sisi memberikan kepastian hukum dan di sisi lain memberikan keadilan. Meskipun disadari untuk memadukan kepastian hukum dan keadilan, merupakan perbuatan yang amat sulit, namun melalui instrumen kontrak yang mampu mengakomodir perbedaan kepentingan secara proporsional, maka dilema pertentangan “semu” antara kepastian hukum dan keadilan tersebut akan dapat dieliminir. Bahkan akan menjadi suatu keniscayaan terwujudnya kontrak yang saling menguntungkan para pihak 24
Salah satu bentuk kontrak kerja sama adalah kontrak kerja sama antara antara PT Cosmos Inti Persada dengan CJR Holdings Sdn Bhd. PT Cosmos Inti Persada berfokus pada bidang pertambangan nikel di Kecamatan Weda Utara, Kabupaten Halmahera Tengah berdasarkan kuasa Pertambangan Eksplorasi sebagaimana tertuang dalam Keputusan Bupati Kabupaten Halmahera Tengah No.540/KEP/428/2007 tanggal 22 Oktober 2007. CJR Holdings Sdn Bhd adalah perusahaan yang bergerak di bidang investasi didirikan berdasarkan hukum Negara Malaysia dengan No. 0458219-T pada tanggal 25 Februari 1998.
23 Nazzaruddin Lathif,”Teori Hukum Sebagai Sarana/Alat Untuk Memperbarui atau Merekayasa Masyarakat”, Pakuan Law Review (2017), 3 (1), Fakultas Hukum Universitas Pakuan
24 Agus Yudha Hernoko. Op.Cit., h.6
Keabsahan kontrak kerja sama antara PT Cosmos Inti Persada Dengan CJR Holdings Sdn Bhd sangat penting karena menyangkut kerja sama antara dua perusahaan yang sama-sama berusaha meningkatkan pendapatan perusahaan dengan cara melakukan kerja sama. Kedudukan para pihak yang seyogyanya berada dalam posisi seimbang harus dikaji lebih lanjut agar klusul kontrak tersebut berimbang dan tidak berat sebelah. Kesepakatan terhadap kontrak mengenai kepastian dan keadilan akan tercapai apabila perbedaan keinginan dan kesepakatan di antara para pihak dapat terakomodasi melalui mekanisme hubungan kontraktual yang bekerja secara proporsional karena kebebasan berkontrak memberikan makna bahwa para pihak berada di dalam posisi seimbang dan tidak melanggar hak dan kewajiban para pihak lainnya.
Penerbitan izin dalam melakukan kegiatan pertambangan, terkait dengan makna yang terkandung dalam Pasal 33 ayat (23) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Berdasarkan pada Pasal 33 ayat (3) UUD 1945.
Hal tersebut dinyatakan dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Undang-Undang No.4 Tahun 2009) bahwa mineral batubara sebagai sumber daya alam yang terkandung di wilayah hukum pertambangan Indonesia, merupakan kekayaan alam yang dikuasai oleh negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Namun untuk pengelolaanya diserahkan kepada Pemerintah dan Pemerintah daerah sesuai kewenangannya masing-masing. Hal tersebut berbeda dengan paradigma yang dianut dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Pertambangan (Undang-Undang No.11 Tahun 1967), dimana kewenangan pengelolaan pertambangan pada dasarnya berada di tangan Pemerintah Pusat,
12
kecuali bahan galian golongan c yang telah diserahkan kepada Pemerintah Daerah berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 1986 tentang Penyerahan Sebagian Urusan Pemerintahan di Bidang Pertambangan (Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 1986). Dengan demikian berdasarkan Undang-Undang No.11 Tahun 1967. Kewenangan penerbitan izin untuk melakukan kegiatan pertambangan, pada dasarnya berada di tangan Menteri (Pemerintah Pusat)25
Faktanya di lapangan terdapat permasalahan dan kendala yang dihadapi pelaku usaha dalam memenuhi persyaratan administratif. Beberapa permasalahan yang timbul misalnya, penerbitan izin pertambangan di Provinsi Maluku Utara yakni tidak terpenuhinya persyaratan administratif, persyaratan teknis, persyaratan lingkungan, dan persyaratan finansial. Permasalahan pertambangan yang ada di Kabupaten Halmahera Tengah dimana masih belum terpenuhinya beberapa persyaratan administratif, teknis, dan lingkungan. Pengusaha disinyalir tidak mengikuti peraturan perundang-undangan yang telah ditetapkan.
Sebelum melakukan kontrak, antara pihak yang melakukan kontrak biasanya menyepakati beberapa hal dan menyampaikan berbagai informasi yang berkaitan atas prestasi yang hendak dilaksanakan. Hal ini berkaitan dengan asas iktikad baik dari kedua belah pihak, sehingga tidak timbul perselisihan mengenai kontrak dan kontrak tersebut dapat dijalankan sesuai rencana awal kesepakatan.
Jika kedua belah pihak sudah sepakat dengan apa yang diperjanjikan dalam kontrak, maka dapat terjadi kesepakatan antara kedua belah pihak yang ditandai dengan ditanda-tanganinya kontrak.
25 Tri Hayati Era Baru Hukum Pertambangan di bawah Rezim UU No.4 Tahun 2009, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2015), h. 127
Sehubungan dengan hal tersebut PT. Cosmos Inti Persada dianggap tidak menyampaikan informasi mengenai rencana lokasi pertambangan secara rinci dan jelas kepada pihak CJR Holdings Sdn Bhd sebelum penandatanganan kontrak, bahwasanya lokasi rencana pertambangan bersinggungan dengan hutan lindung.
Hal ini menyebabkan tidak dikeluarkannya izin pertambangan oleh pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Halmahera karena lokasi pertambangan bersinggungan dengan kawasan hutan lindung. Pihak PT. Cosmos Inti Persada dianggap tidak menerapkan asas itikad baik dalam hukum kontrak, karena PT Cosmos Inti Persada tidak melakukan kewajibannya dalam meneliti lokasi rencana pertambangan dan menyampaikannya informasi secara rinci kepada CJR Holdings Sdn Bhd sebelum dilakukan penandatanganan kontrak.
Penelitian ini diharapkan individu/badan hukum yang akan membuat kontrak maka terhadap konsep lama kontrak yang cenderung tidak adil dan menguntungkan salah satu pihak akan berubah, artinya dalam membuat kontrak dapat selalu memikirkan selain bagaimana merasa aman dan diuntungkan dengan kontrak itu, maka mitra kontrak tersebut juga memperoleh hasil dan manfaat yang sama dengan dirinya. Jika menggunakan konsep ini, maka akan tercipta kondisi dimana kemitraan akan memiliki situasi yang saling menghargai, menguntungkan, mengamankan tujuan para pihak sebagaimana tertuang dalam kontrak. Situasi kondusif yang dilandasi sikap “win-win attitude” pada akhirnya akan bermuara pada situasi “win-win solution”. Terwujudnya aturan main yang fair bagi para pihak dalam membagi hak dan kewajibannya dapat menciptakan situasi yang kondusif dan adil. Berdasarkan uraian tersebut maka akan dibahas lebih lanjut dalam bentuk suatu skripsi dengan judul “Tinjauan Hukum Kontrak Bidang
14
Pertambangan dalam Perspektif Hukum Perdata (Studi Kerja Sama PT.
Cosmos Inti Persada dengan CJR Holdings Sdn Bhd)”
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana tipe hukum kontrak dalam bidang pertambangan ?
2. Bagaimana proses penerbitan izin pertambangan sesuai ketentuan yang berlaku?
3. Bagaimana akibat hukum pembatalan kontrak yang disebabkan penolakan pemberian izin oleh pemerintah daerah?
C. Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan penelitian yang hendak dicapai dalam penulisan skripsi ini ini adalah sebegai berikut:
1. Untuk mengetahui tipe hukum kontrak dalam bidang pertambangan
2. Untuk mengetahui proses penerbitan izin pertambangan sesuai ketentuan yang berlaku
3. Untuk menganalisis akibat hukum pembatalan kontrak yang disebabkan penolakan pemberian izin oleh pemerintah daerah
D. Manfaat Penelitian
Dalam sebuah penelitian pastinya ada manfaat yang hendak dicapai dalam penelitian tersebut. Adapun manfaat penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian tersebut, yaitu:
1. Manfaat secara teoretis
a. Pembahasan pada penulisan skripsi ini diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagi pembaca mengenai tipe hukum kontrak dalam bidang pertambangan, proses penerbitan izin pertambangan sesuai ketentuan yang berlaku dan akibat hukum pembatalan kontrak yang disebabkan penolakan pemberian izin oleh pemerintah daerah
b. Pembahasan pada skripsi ini dapat dijadikan sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan pada umumnya dan ilmu hukum khususnya di bidang hukum perdata serta menambah khasanah perpustakaan
c. Penulisan skripsi ini diharapkan dapat menjadi bahan refrensi bagi peneliti selanjutnya yang bermaksud mengkaji hal yang relevan dengan penelitian ini
2. Manfaat secara praktis
a. Penulisan skripsi ini dapat bermanfaat bagi masyarakat umum khususnya masyarakat awam yang kurang mengerti terhadap cara membuat kontrak yang disesuaikan dengan asas-asas hukum kontrak sehingga ke depannya tidak ada tindakan yang dapat merugikan pihak lain dalam kontrak
b. Penulisan skripsi ini diharapkan dapat digunakan bagi pelaku usaha yang hendak melakukan kontrak kerja sama, Sehingga penelitian ini diharapkan bisa memberikan informasi kepada pelaku usaha bagaimana menerapkan asas iktikad baik dalam kontrak
16
E. Keaslian Penelitian
Skripsi ini berjudul “ ANALISIS KONTRAK KERJA SAMA DALAM BIDANG PERTAMBANGAN NIKEL ANTARA PT COSMOS INTI PERSADA DENGAN CJR HOLDINGS SDN BHD DALAM PERSPEKTIF HUKUM PERDATA”
Judul ini telah disetujui oleh Ketua Departemen Hukum Keperdataan dan Sekretaris Departemen Hukum Keperdataan serta telah melalui tahap pemgujian bersih di kepustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara dan tidak ada ditemukan judul yang sama dengan penulis .Adapun beberapa penelitian yang pernah dilakukan terkait dengan Kontrak Kerja Sama dalam perspektif Hukum Perdata antara lain:
1. Saudari Wenny Lestari Khosasi. NIM 130200034. Tahun 2018 dengan judul skripsi “Perjanjian Kerja Sama Sebagai Perjanjian Tidak Bernama Berdasarkan Perspektif Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (Studi Kasus Pada Perjanjian Kerja Sama Antara Universitas Terbuka Dengan PT. Garuda Terbuka. Tbk)”
Adapun rumusan masalah yang ditulis penulis adalah:
a. Bagaimana struktur kontrak dalam perjanjian kerja sama?
b. Bagaimana bentuk dan pengaturankontrak perjanjian kerja sama?
c. Bagaimana penyelesaian sengketa jika terjadi perselisihan antara para pihak dalam perjajian kerja sama?
2. Saudara Suhendri, NIM 130200254. Tahun 2017 dengan judul jurnal “ Tinjauan Yuridis Terhadap Perjanjian Kerja Sama Antara PT Asusindo Servistama dan MedanSelular (Studi pada PT. Asusindo Servistama Medan)”
Adapun rumusan masalah yang ditulis penulis adalah:
a. Apakah klausula perjanjian kerja sama antara PT. Asusindo Servistama dan Medan Seluler telah memenuhi asas kebebasan berkontrak dan keseimbangan para pihak?
b. Bagaimana tanggung jawab para pihak apabila terjadi risiko saat perjanjian kerja sama berlangsung?
c. Bagaimana penyelesaian dilaksanakan jika salah satu pihak melakukan wanprestasi?
F. Metode Penelitian
Metode penelitian dalam melakukan penelitian perlu mengikuti aturan atau kaidah yang berlaku, agar hasil penelitian berdasarkan data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan. Metode dalam sebuah penelitian dapat dijadikan pedoman bagi penulis dalam memperoleh data dengan tujuan tertentu.
Menurut Sugiyono, cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dapat dideskripsikan, dibuktikan, dikembangkan dan ditemukan pengetahuan, teori, untuk memahami, memecahkan, dan mengantisipasi masalah dalam kehidupan manusia. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian itu didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris, dan sistematis.26
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan data yang diperoleh melalui penelitian itu adalah data rasional, empiris (teramati) dan sistematis yang mempunyai kriteria tertentu yaitu valid. Valid menunjukkan derajat ketepatan antara data yang sesungguhnya terjadi pada obyek dengan data yang dapat dikumpulkan oleh peneliti. Skripsi merampungkan penyajian agar dapat memenuhi kriteria valid sebagai suatu karya ilmiah.
26 Sugiyono. Metode Penelitian Pendidikan : (Pendekatan kuantitatif, kualitatif dan R&D). (Bandung:
Alfabeta, 2008), h.4
18
Dalam upaya pengumpulan data yang diperlukan dalam penelitian diterapkan metode penelitian sebagai berikut:
1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang akan digunakan oleh adalah penelitian normatif.
Metode penelitian hukum normatif juga disebut penelitian hukum doktriner atau penelitian perpustakaan. Dinamakan penelitian hukum doktriner dikarenakan penelitian ini hanya ditujukan pada peraturan-peraturan tertulis sehingga penelitian ini sangat erat hubungannya pada perpustakaan karena akan membutuhkan data-data yang bersifat sekunder pada perpustakaan.
Dalam penelitian hukum normatif hukum yang tertulis dikaji dari berbagai aspek seperti aspek teori, filosofi, perbandingan, struktur/komposisi, konsistensi, penjelasan umum dan penjelasan pada tiap pasal, formalitas dan kekuatan mengikat suatu undang-undang serta bahasa yang digunakan adalah bahasa hukum. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada penelitian hukum normatif mempunyai cakupan yang luas. Penelitian hukum normatif dapat juga mengumpulkan data primer, tetapi peruntukan data primer tersebut hanyalah untuk memperkuat data sekunder. Metode penelitian hukum normatif biasanya dikenal dengan metode yang preskriptif, karena dalam metode ini harus selalu disertai dengan rekomendasi atau saran mencari norma baru atau melengkapi norma yang diteliti agar lebih baik. Selain itu, metode normatif ini juga merupakan metode yang murni karena menguji obyek yang diteliti, yaitu norma.27 Peneltian ini dilakukan terhadap data yang
27 http://repository.uph.edu/3562/6/Chapter%203.pdf diakses 29 Oktober 2021 pukul 16.06 WIB
bersifat sekunder seperti peraturan perundang-undangan, jurnal ilmiah, buku- buku hukum berkaitan dengan hukum kontrak.
2. Sifat Penelitian
Sifat Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analisis. Penelitian ini melakukan analisis dengan taraf deskripsi, yaitu menganalisis dan menyajikan fakta secara sistematis sehingga dapat lebih mudah untuk dipahami dan disimpulkan. Deskriptif dalam arti bahwa penelitian ini bermaksud untuk menggambarkan dan melaporkan secara rinci, sistematis dan menyeluruh mengenai segala sesuatu yang berkaitan dengan kontrak kerja sama antara PT Cosmos Inti Persada dengan CJR Holdings Sdn Bhd. Penelitian ini akan dibantu dengan kajian dari sisi normatif, yaitu nilai ideal sesuai dengan apa yang seharusnya berlaku menurut aturan hukum positif.
3. Pendekatan Penelitian
Pendekatan masalah dalam penelitian ini adalah pendekatan yuridis atau lebih dikenal dengan pendekatan perundang-undangan (statue approach) yaitu pendekatan yang mengacu pada peraturan perundang-undangan yang berlaku pada hukum kontrak dalam kontrak kerja sama antara PT Cosmos Inti Persada dengan CJR Holdings Sdn Bhd
4. Sumber Data
Dalam penelitian hukum terdapat dua jenis data yang diperlukan jenis data yang pertama disebut sebagai data primer dan jenis data yang kedua disebut data sekunder
20
a. Data primer
Data primer dalam penelitian hukum adalah data yang diperoleh terutama dari hasil penelitian empiris, yaitu penelitian yang dilakukan langsung di dalam masyarakat. Sumber data primer yaitu data yang diambil dari sumbernya atau dari lapangan melalui wawancara dengan informan yang dapat memberikan informasi yang dibutuhkan berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti
b. Data sekunder
Menurut Soerjono Soekanto menyatakan bahwa data sekunder merupakan data yang antara lain mencakup dokumen-dokumen resmi, buku-buku, bahkan hasil-hasil penelitian yang bersifat laporan. Soerjono Soekanto menyatakan bahwa data sekunder merupakan data yang antara lain mencakup dokumen-dokumen resmi, buku-buku, bahkan hasil-hasil penelitian yang bersifat laporan Soerjono Soekanto menyatakan bahwa data sekunder merupakan data yang antara lain mencakup dokumen- dokumen resmi, buku-buku, dan hasil-hasil penelitian yang berwujud laporan.28
1) Bahan Hukum Primer
Mukti Fajar dan Yulianto Achmad menjelaskan bahan hukum primer adalah bahan hukum yang bersifat autoritatif. Autoritatif artinya mempunyai otoritas, yaitu merupakan hasil dari tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh lembaga yang berwenang untuk itu. 29 Bahan hukum primer dalam skripsi ini ialah:
a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945 b. Kitab Undang-undang Hukum Perdata
c. Undang-Undang No. 11 Tahun 1967 d. Undang-Undang No. 4 Tahun 2009
28 Soerjono Soekanto. Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: UI Press, 2007), h.12
29 Mukti Fajar dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum: Normatif & Empiris, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 2010), h.6
e. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Undang-Undang No.3 Tahun 2020) f. Kontrak Kerja Sama antara PT Cosmos Inti Persada Dengan
CJR Holdings Sdn Bhd 2) Bahan Hukum Sekunder
Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang memberikan penjelasan terhadap bahan hukum primer. Bahan hukum sekunder dalam skripsi ini adalah:
a. Buku-buku hukum dan ilmiah yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti
b. Jurnal-jurnal hukum dan sosial yang berkaitan dengan permasalahan yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti
c. Hasil penelitian yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti
d. Makalah-makalah, artikel-artikel, dan karya tulis yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti
e. Website di internet yang berkaitan dengan permasalahan yang akan diteliti.
3) Bahan Hukum Tersier
Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang memberikan petunjuk merupakan penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, bahan hukum tersier terdiri dari:
a. Black’s Law Dictionary
22
b. Kamus Besar Bahasa Indonesia 5. Teknik Pengumpulan data
Teknik dan alat pengumpulan data pada penelitian ini, peneliti akan menggunakan beberapa metode yaitu:
a. Penelitian Pustaka (Library Research)
Teknik kepustakaan adalah penelitian kepustakaan yang dilaksanakan dengan cara membaca, menelaah dan mencatat berbagai literatur atau bahan bacaan yang sesuai dengan pokok bahasan, kemudian disaring dan dituangkan dalam kerangka pemikiran secara teoritis.30 Teknik ini dilakukan untuk memperkuat analisis mengenai kontrak kerja sama dalam kontrak kerja sama antara PT Cosmos Inti Persada dengan CJR Holdings Sdn Bhd dalam perspektif hukum perdata
b. Wawancara dengan Informan
Wawancara adalah teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan lisan melalui bercakap-cakap dan berhadapan muka dengan informan dapat memberikan keterangan pada peneliti. 31 Wawancara ini adalah kegiatan mendapatkan data dengan cara dimana mengajukan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan penelitian tersebut kepada informan untuk mendapatkan data-data yang diperlukan dalam penulisan skripsi ini.
c. Mengakses Situs Internet
Metode pengumpulan data ini dilakukan dengan mengakses situs internet yang mana situs tersebut relevan dengan topik yang akan dibahas, yaitu
30 Kartini Kartono, Pengantar Metodologi Research,( Bandung: Alumni, 1998), h.78
31 Mardalis, Metode Penelitian, (Jakarta: Bumi Aksara, 1989), h.65
situs mengenai kontrak kerja sama , syarat sah kontrak dan berbagai situs lainnya yang dijadikan sebagai referensi untuk mempelajari berbagai teori yang sedang diteliti.
6. Teknik Analisis Data
Data yang berupa data sekunder dianalisis menggunakan teknik analisis metode kualitatif, yaitu analisis data yang berasa dari data-data yang terjaring dari proses pengumpukan data. Cara menganalisis data tersebut berupa rekam dan catat, tinjauan pustaka, wawancara dengan informan. Teknik analisis data kualitatif ialah teknik analisis yang berfokus pada data-data yang bersifat kualitatif. Teknik ini menganalisis konsep-konsep permasalahan, melakukan pemilahan terhadap bahan-bahan hukum yang relevan, dan mempertautkan dengan bahan hukum yang ada. Mengolah dan menginterpretasikan data guna mendapatkan kesimpulan dari permasalahan serta memaparkan kesimpulan dan saran, yang dalam hal ini adalah kesimpulan kualitatif, yakni kesimpulan yang dituangkan dalam bentuk pernyataan dan tulisan32
G. Tinjauan Pustaka 1. Hukum Kontrak
a. Menurut Lawrence M. Friedman mengartikan hukum kontrak adalah perangkat hukum yang hanya mengatur aspek tertentu dari pasar dan mengatur jenis kontrak tertentu33
b. Menurut Michael D Bayles hukum kontrak adalah sebagai aturan hukum yang berkaitan dengan pelaksanaan kontrak.34
32 Edy Ikhsan dan Mahmul SIregar, Metode Penelitian dan Penulisan Hukum Sebagai Bahan Ajar, (Medan:
Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2009), h. 54
33 Salim H. S., Hukum Kontrak Teori & Teknik Penyusunan Kontrak, (Jakarta: Sinar Grafika, 2003), h.3
24
c. Menurut Charles L. Knapp and Nathan M. Crystal hukum kontrak adalah mekanisme hukum dalam masyarakat untuk melindungi harapan- harapan yang timbul dalam pembuatan persetujuan demi perubahan masa datang yang bervariasi kinerja, seperti pengangkutan kekayaan (yang nyata maupun yang tidak nyata), kinerja pelayanan, dan pembayaran dengan uang.35
d. Menurut Salim H.S hukum kontrak adalah keseluruhan dari kaidah- kaidah hukum yang mengatur hubungan hukum antara dua pihak atau lebih berdasarkan kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum.36 2. Pengertian Kontrak
Kontrak melahirkan suatu perikatan antara pihak yang mengikatkan dirinya, sehingga dari kontrak inilah lahir suatu perikatan di mana para pihak yang mengikatkan diri memiliki kewajibannya masing-masing sesuai yang ditentukan dalam kontrak
a. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Kontrak adalah perjanjian (secara tertulis) antara dua pihak dalam perdagangan, sewa-menyewa, dan sebagainya. 37
b. Menurut Pasal 1313 KUHPerdata suatu persetujuan adalah suatu perbuatan yang mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang/lebih
34 Ibid
35 Ibid
36 Ibid
37 Tim Penyusun, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008), h.751
c. Menurut terjemahan Black’s Law Dictionary defenisi kontrak adalah suatu perjanjian antara dua orang atau lebih yang menciptakana kewajiban untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu38
d. Menurut Tan Kamello defenisi kontrak adalah perbuatan hukum yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang saling mengikatkan diri berdasarkan kata sepakat mengenai objek tertentu dengan tujuan untuk menimbulkan akibat hukum.39
3. Pengertian Perizinan
a. Menurut N.M Splet dan J. B. J. M ten Berge izin merupakan suatu persetujuan dan penguasa berdasarkan undang-undang atau peraturan pemerintah untuk dalam keadaan tertentu menyimpang dari ketentuan larangan perundang-undangan (izin dalam arti sempit)40
b. Menurut Bagir Manan izin dalam arti luas yang berarti suatu persetujuan dari penguasa berdasarkan peraturan perundang-undangan untuk memperbolehkan melakukan tindakan atau perbuatan tertentu yang secara umum dilarang 41
4. Pengertian Pertambangan
Menurut Undang-Undang No. 4 Tahun 2009, Pertambangan Mineral dan Batubara adalah sebagian atau seluruh tahapan kegiatan dalam rangka penelitian, pengelolaan dan pengusahaan mineral atau batubara yang meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, konstruksi, penambangan,
38 Henry Campbell, Black’s Law Dictionary: Definitions of the Terms and Phrases of American and English Jurisprudence Ancient and Modern, (St. Paul. Minn: West Publishing, 1991), h.224
39 Bahan Materi Kuliah Hukum Perdata, 2019 tanggal 8 Oktober 2019 pukul 9.00 WIB
40 Helmi, Hukum Perizinan Lingkungan Hidup, (Jakarta: Sinar Grafika, 2012), h. 77
41 Andrian Sutedi, Hukum Perizinan dalam Sektor Pelayanan Publik, (Jakarta: Sinar Grafika, 2010). h.170
26
pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pasca-tambang
5. Pengertian Asas Iktikad Baik
Asas iktikad baik adalah asas dimana kontrak harus dilaksanakan dengan iktikad baik. Asas ini bermakna bagi masing-masing calon pihak dalam kontrak terdapat suatu kewajiban untuk mengadakan penyelidikan dalam batas-batas yang wajar terhadap pihak lawan sebelum menandatangani kontrak atau masing-masing pihak harus menaruh perhatian yang cukup dalam menutup kontrak yang berkaitan dengan iktikad baik.
H. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pembaca dalam membahami pembahasan dan memberikan deskripsi sistematika penulisan hukum yang sesuai dengan aturan dalam penelitian hukum, maka pembahasan penelitian ini dibagi ke dalam lima bab yang saling berhubungan. Setiap bab dibagi menjadi beberapa sub bab yang masing-masing merupakan pembahasan dari bab yang besangkutan. Adapun sistematika penulisan skripsi ini seacara singkat sebagai berikut:
BAB I PENDAHULUAN Dalam bab ini merupakan langkah awal dari penulisan yang berisikan mengenai latar belakang, perumusan masalah, tujuan dan manfaat penulisan, keaslian penulisan, metode penelitian, tinjauan pustaka dan sistematika penulisan.
BAB II TIPE HUKUM KONTRAK DALAM BIDANG PERTAMBANGAN Pada bab ini berisikan pembahasan mengenai tinjauan terhadap Kontrak secara umum, yang terdiri dari empat Sub bab yaitu; Pengertian Kontrak Jenis-jenis
Kontrak, Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding), dan Nota Kesepakatan (Memorandum of Agreement).
BAB III PROSES PENERBITAN IZIN DALAM BIDANG PERTAMBANGAN SESUAI KETENTUAN YANG BERLAKU Bab ini berisikan pembahasan mengenai penerbitan izin dalam bidang pertambangan, yang dibagi menjadi 3 (tiga) sub bab yaitu; Sejarah Pengusahaan Pertambangan di Indonesia, Kewenangan Pengelolaan dan Pengusahaan Pertambangan, dan Prosedur Permohonan Izin Pertambangan.
BAB IV AKIBAT HUKUM PEMBATALAN KONTRAK YANG DISEBABKAN OLEH PENOLAKAN PEMBERIAN IZIN OLEH PEMERINTAH DAERAH Pada bab ini berisikan pembahasan mengenai hukum kontrak dalam kerja sama antara PT Cosmos Inti Persada dengan CJR Holdings Sdn Bhd, yang dibagi dalam 4 (empat) sub bab pembahasan yaitu: Penerapan Asas Iktikad Baik dalam Kontrak Kerja Sama, Jangka Waktu dan Jaminan dalam Kontrak Kerja Sama, Akibat Hukum yang Timbul Apabila terjadi Force Majeure dalam Kontrak Kerja Sama, dan Konsekuensi Terhadap Pembatalan Kerja Sama.
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN Bab ini merupakan bab terakhir dalam skripsi in yang berisikan kesimpulan dan saran bagi pembahasan dari bab-bab sebelumnya.
BAB II
TIPE HUKUM KONTRAK DALAM BIDANG PERTAMBANGAN
A. Kontrak
1. Pengertian Kontrak
Suatu kontrak adalah tindakan hukum yang terjadi (dengan memenuhi ketentuan undang-undang) melalui pernyataan kehendak yang saling tergantung dan bersesuaian oleh dua atau lebih pihak dan ditujukan untuk menimbulkan akibat hukum untuk kepentingan salah satu pihak dan atau beban pihak lainnya, atau untuk kepentingan dan atas beban kedua belah pihak (seluruhnya) secara timbal balik.42 Kontrak merupakan spesies genus dari tindakan hukum. Tindakan hukum adalah ungkapan dari kehendak seseorang atau sekelompok orang yang berbuat, yang ditujukan untuk menciptakan akibat hukum. Hukum objektif menghubungkan tindakan ini dengan suatu tindakan yang dapat menimbulkan atau menghapuskan hak atau hubungan hukum, yang memang dikehendaki oleh orang (sekelompok orang) yang berbuat. Selain itu, ada pula yang mendefenisikan kontrak selain merupakan suatu tindakan, yaitu sebagai suatu janji (isi dari yang diperjanjikan) dan hubungan hukum yang timbul dari pihak-pihak yang berkontrak. 43
Kehendak dituangkan dalam perjanjian dengan mana pihak kesatu wajib menunaikan prestasi dan pihak kedua berhak atas prestasi yang ditunaikannya itu.
44 Pendapat yang menyatakan bahwa kesesuaian kehendak merupakan ciri utama
42Mr. A. S Hartkamp Hukum Perikatan Ajaran Umum Perjanjian terj. Rachmad Setiawam, (Bandung: Yrama Widya, 2020), h.10
43 Ibid
44 Ibid
kontrak, tidak secara langsung berarti bahwa kesesuaian kehendak itu semata- mata merupakan unsur dari kontrak. Hal ini tidak cukup hanya kesesuaian kehendak pada kedua belah pihak saja, mereka harus menyatakannya secara terbuka satu sama lain. Terhadap maksud yang disimpan saja dalam hati, para pihak dengan sendirinya tidak diikatkan suatu akibat hukum. Kontrak belum terjadi sampai para pihak saling mengetahui kehendak-kehendak mereka masing- masing.
Kontrak biasanya terjadi dengan formalitas bebas (vormloos) namun terdapat beberapa jenis kontrak tertentu yang diatur oleh undang-undang. Hibah, kecuali pemberian dari tangan ke tangan hanya dapat terjadi apabila dilakukan dengan kata noktarial (Pasal 1682 KUHPerdata). Suatu perkawinan hanya terjadi jika dilakukan dihadapan perjabat publik, janji semata dari pasangan laki dan perempuan untuk menikah tidak menimbulkan perkawinan. Tidak dipenuhinya ketentuan menganai formalitas perundang-undangan, pada prinsipnya menyebabkan batalnya suatu tindakan hukum. 45
Suatu tindakan hukum harus terjadi dengan kerja sama antara dua atau lebih pihak. Kontrak tersebut disusun berdasarkan tindakan dari orang-orang yang berbeda, dan oleh karena itu disebut tindakan hukum banyak pihak. Suatu tindakan hukum sepihak yang merupakan pernyataan kehendak dari satu orang dan menimbulkan akibat hukum, bukanlah kontrak. Contoh tindakan hukum sepihak dan bukan merupakan kontrak ialah pembuatan surat wasiat, pengakuan anak kandung, penarikan diri dari kontrak, pernyataan wanprestasi.46 Kehendak para pihak harus ditunjukan pada timbulnya akibat hukum. Akibat hukum yang
45 Ibid
46 Ibid h.12
30
dituju oleh kehendak para pihak dapat bersifat hukum keperdataan (hukum keluarga, harta kekayaan, pembuktian) atau hukum publik. Bagaimanapun tidak cukup hanya ada kehendak para pihak yang ditujukan pada timbulnya akibat hukum. Agar terjadi kontrak, diperlukan bahwa akibat hukum ini dibuat untuk keuntungan salah satu pihak lain, atau untuk keuntungan dan beban masing- masing pihak satu sama lainnya. Ini adalah prinsip umum hukum kontrak bahwa kontrak hanya mengikat pada diri masing-masing pihak yang berkontrak. 47
Hubungan hukum yang timbul di antara pihak-pihak yang terlibat dalam perikatan tersebut melahirkan hak dan kewajiban yang kemudian menimbulkan istilah “prestasi”, yaitu sesuatu yang dituntut oleh salah satu pihak kepada pihak yang satu lainnya. Kontrak mengandung pengertian yaitu suatu hubungan hukum kekayaan/harta benda antara dua orang atau lebih, yang memberi kekuatan hak pada satu pihak untuk memperoleh prestasi dan sekaligus mewajibkan pada pihak lain untuk menunaikan prestasi.48
Menurut Pasal 1313 KUHPerdata mengatur bahwa suatu kontrak adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih. Pengertian ini sebenarnya tidak begitu lengkap, tetapi dengan pengertian ini, sudah jelas bahwa dalam kontrak itu terdapat satu pihak mengikatkan diri kepada pihak lain. Pengertian ini sebenarnya seharusnya menerangkan juga tentang adanya dua pihak yang saling mengikatkan diri tentang sesuatu hal 49
47 Ibid h.14
48 M. Yahya Harahap, Segi-Segi Hukum Perjanjian, (Bandung: Alumni, 1986), h. 6.
49 Ahmadi Miru dan Sakka Pati, Hukum Perikatan (Penjelasan Makna Pasal 1233 Sampai1456 BW), (Jakarta: Rajagrafindo Persada, 2008), h. 63.
Mengenai peristilahan makna kontrak dan perjanjian beberapa ahli menggunakan istilah kontrak dan perjanjian dalam pengertian yang sama. Salah satunya adalah Pothier yang tidak memberikan pembedaan antara kontrak dan perjanjian, menurutnya kontrak adalah perjanjian yang mengharapakan terlaksananya perjanjian. 50
Pasal 1313KUHPerdata memberikan rumusan tentang “kontrak atau perjanjian” adalah suatu perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhada satu orang lain atau lebih 51
Mariam Darus Badrulzaman menerangkan kontrak adalah sebuah perbuatan hukum yang menimbulkan perikatan, yaitu hubungan hukum yang terjadi di antara dua orang atau lebih, yang terletak di dalam lapangan kekayaan dimana pihak yang satu berhak atas prestasi dan pihak lainnya wajib memenuhi prestasi.52
Herlien Budiono menjelaskan kontrak atau perjanjian adalah Perbuatan hukum yang menimbulkan, berubahnya, hapusnya hak, atau menimbulkan suatu hubungan hukum dan dengan cara demikian, kontrak atau perjanjian menimbulkan akibat hukum yang merupakan tujuan para pihak. Jika suatu perbuatan hukum adalah kontrak atau perjanjian, orang-orang yang melakukan tindakan hukum disebut pihak-pihak.53 Berdasarkan rumusan di atas maka dapat disimpulkan bahwa kontrak adalah suatu persetujuan yang mana dua orang atau lebih saling mengikatkan diri untuk melaksanakan suatu hal mengenai harta kekayaan
50 Agus Yudha Hernoko Op.Cit.,h.14
51 Ibid h.15
52Litigasi, https://litigasi.co.id/hukum-perdata/20/kontrak-menurut ahli diakses tanggal 22 September 2021 pukul.19.52 WIB
53 Ibid
32
Dari berbagai defenisi di atas dapat dikemukan unsur-unsur yang tercantum dalam hukum kontrak, sebagaimana dikemukan berikut ini 54
a. Adanya Kaidah Hukum
Kaidah dalam hukum kontrak tertulis ialah kaidah-kaidah yang terdapat di dalam peraturan perundang-undangan, traktat, dan yurisprudensi. Sedangkan kaidah hukum kontrak yang tidak tertulis adalah kaidah-kaidah hukum yang timbul, tumbuh dan hidup dalam masyarakat
b. Subjek Hukum
Yang menjadi subjek hukum dalam hukum kontrak adalah kreditur dan debitur. Kreditur adalah orang yang berpiutang, sedangkan debitur adalah orang yang berutang
c. Adanya Prestasi
Prestasi adalah apa yang menjadi hak kreditur dan kewajiban debitur. Prestasi terdiri dari:
1) Memberikan sesuatu 2) Berbuat sesuatu dan 3) Tidak berbuat sesuatu d. Kata Sepakat
Kesepakatan adalah persesuaian pernyataan kehendak antara para pihak e. Akibat Hukum
Setiap kontrak yang dibuat oleh para pihak akan menimbulkan akibat hukum.
Akibat hukum adalah timbulnya hak dan kewajiban. Hak adalah suatu kenikmatan dan kewajiban adalah suatu beban. 55
54 Salim H. S., Op. Cit., h. 4
55 Ibid
2. Asas-Asas Kontrak 56 a. Asas kebebasan berkontrak
Asas kebebasan berkontrak dapat dianalisis dari Pasal 1338 ayat (1) KUHP Perdata.
Asas kebebasan berkontrak adalah suatu asas yang memberikan kebebasan kepada para pihak untuk:
1) Membuat atau tidak membuat kontrak 2) Mengadakan kontrak dengan siapapun
3) Menentukan isi kontrak, pelaksanaan dan persyaratannya 4) Menentukan bentuknya kontrak, yaitu tertulis atau lisan
Latar belakang lahirnya asas kebebasan berkontrak adalah adanya paham individualisme yang secara embrional lahir dalam zaman Yunani, yang diteruskan oleh kaum Epicuristen dan berkembang pesat dalam zaman reinaisance melalui antara lain ajaran-ajaran Hugo de Grecht, Thomas Hobbes, Jhon Locke dan Rosseau. Menurut paham individualisme setiap orang bebas untuk memperoleh apa yang dikehendakinya. Dalam hukum kontrak asas ini diwujudkan dalam
“kebebasan berkontrak”. 57
Pada akhir abad ke-19, masyarakat ingin pihak yang lemah lebih banyak mendapatkan perlindungan. Oleh karena itu kehendak bebas tidak lagi diberi arti mutlak , akan tetapi diberi arti relatif dikaitkan selalu dengan kepentingan umum.
Pengaturan substansi kontrak tidak semata-mata dibiarkan kepada para pihak namun perlu diawasi. Pemerintah sebagai pengemban kepentingan umum menjaga keseimbangan kepentingan individu dan kepentingan masyarakat. Melalui
56 Ibid h.9
57 Ibid
34
penerobosan hukum kontrak oleh pemerintah terjadi pergeseran hukum kontrak di bidang hukum publik. Melalui campur tangan pemerintah ini terjadi permasyarakatan (vermastcheppelikjking) hukum kontrak. 58
b. Asas Konsensualisme
Asas konsesualisme dapat disimpulkan dalam Pasal 1320 ayat (1) KUHPerdata. Dalam pasal itu ditentukan bahwa salah satu syarat sahnya kontrak, yaitu adanya kesepakatan kedua belah pihak. Asas konsesualisme merupakan asas yang menyatakan bahwa kontrak pada umumnya tidak diadakan secara formal, tetapi cukup dengan adanya kesepakatan kedua belah pihak. Kesepakatan merupakan persesuaian kehendak antara kehendak dan pernyataan yang dibuat oleh kedua belah pihak. 59
c. Asas pacta sunt servanda
Asas pacta sunt servanda disebut juga dengan asas kepastian hukum. Asas ini berhubungan dengan akibat kontrak. Asas pacta sunt servanda merupakan asas bahwa hakim atau pihak ketiga harus menghormati substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak, sebagaimana layaknya sebuah undang-undang.
Mereka tidak boleh melakukan intervensi terhadap substansi kontrak yang dibuat oleh para pihak. Asas pacta sunt servanda dapat disimpulkan dalam Pasal 1338 ayat (1) KUHPerdata, yangberbunyi: “Perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang-undang
d. Asas Iktikad Baik
Asas iktikad baik dapat disimpulkan dari Pasal 1338 ayat (3) KUHPerdata berbunyi:
58 Ibid
59 Ibid h.10