• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINGKAT KEPEDULIAN NELAYAN JARING DI PPN AMBON TERHADAP PENDIDIKAN ABSTRAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "TINGKAT KEPEDULIAN NELAYAN JARING DI PPN AMBON TERHADAP PENDIDIKAN ABSTRAK"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

TINGKAT KEPEDULIAN NELAYAN JARING DI PPN AMBON TERHADAP PENDIDIKAN

Meitha Monita Kaihatu1, Rinda Noviyanti2, Lilian Sarah Hiariey3

1,3Unit Program Belajar Jarak Jauh Universitas Terbuka Ambon

2Program Studi Agribisnis Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Terbuka

email korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Sebagai sebuah komunitas, nelayan memiliki karakteristik yang berbeda dengan komunitas lainnya. Komunitas nelayan tinggal, menetap, dan melakukan aktivitas di pesisir laut. Mereka memiliki kebiasaan dan kebudayaan hidup individu dan komunitasnya sendiri. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli sampai September 2018 di pelabuhan perikanan nusantara (PPN) kota Ambon. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kepedulian nelayan terhadap pendidikan, baik pendidikan formal maupun nonformal. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dan wawancara pada 26 nelayan yang berkegiatan di PPN Ambon. Data primer yang diperoleh dari kuesioner dan wawancara di lapangan disajikan dalam bentuk tabulasi, grafik, dan uraian. Analisis data dilakukan secara diskriptif.

Hasil analisis menunjukkan bahwa 96,15% nelayan menyatakan bahwa pendidikan formal merupakan sesuatu yang sangat penting. Untuk pendidikan nonformal, 57,69% nelayan menyatakan sangat penting. Untuk simpanan pendidikan formal 92,31% nelayan memilikinya, sedangkan untuk pendidikan non formal ada 61, 54% nelayan yang memilikinya.

Kesimpulan penelitian ini adalah nelayan sudah memiliki tingkat kepedulian yang baik terhadap pendidikan.

Kata kunci: tingkat peduli, nelayan, pendidikan, ambon.

PENDAHULUAN

Sebagai kota yang dikeliling laut, sektor perikanan menjadi salah satu sektor unggulan di Ambon. Pemanfaatan sumber daya perikanannya baru mencapai angka 38,68% dari total potensi lestari (BPS, 2016). Masih ada peluang besar untuk nelayan dan investor untuk melakukan aktivitas penangkapan. Peningkatan produksi perikanan ini harus memperhatikan potensi lestari yang ada, jangan sampai proses eksploitasi sumber daya perikanan berlebihan, tetapi tidak perhatikan kapasitas potensi lestari.

Nelayan adalah ujung tombak dari tersedianya sumber daya ikan yang dibutuhkan oleh masyarakat. Mereka memiliki peran yang sangat strategis pada sektor kelautan dan perikanan, yaitu dalam hal ketahanan pangan, dalam penciptaan lapangan kerja, keberlanjutan sumber daya, peran geopolitik, dan peran dalam peningkatan devisa (Satria, 2002). Dalam proses penangkapan ikan, mereka melakukan dengan berbagai cara dan menggunakan alat tangkap yang bermacam-macam. Salah satu alat tangkap yang digunakan nelayan di Ambon adalah jaring.

Nelayan jaring di Ambon bukan merupakan mayoritas, tetapi keberadaan mereka membawa pengaruh terhadap keberlangsungan sumber daya perikanan di Ambon. Kehidupan komunitas nelayan di Ambon tidak berbeda dengan di daerah lain. Keluarga nelayan umumnya tinggal di pesisir laut dengan alasan jarak yang dekat dengan tempat mereka mencari ikan.

Dengan kesamaan mata pencaharian dan lingkungan yang homogen, maka apapun yang terjadi di komunitas nelayan akan berpengaruh terhadap individu nelayan. Masalah yang umum ditemui

(2)

pada suatu komunitas nelayan adalah pendidikan. Tingkat pendidikan rata-rata nelayan Indonesia masih tergolong rendah. Untuk melihat sejauh mana kepedulian nelayan jaring terhadap pendidikan, maka dilakukan penelitian terhadap mereka. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kepedulian nelayan terhadap pendidikan, baik pendidikan formal maupun nonformal.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilakukan selama bulan Juli sampai dengan September 2018. Tempat penelitian adalah di pelabuhan perikanan nusantara (PPN) kota Ambon. Penelitian dilakukan secara survei, mengamati dan mewawancari 26 nelayan serta membagikan kuesioner kepada mereka. Analisis data dilakukan secara deskriptif.

HASIL DAN PEMBAHASAN

karakteristik individu adalah ciri khas yang menunjukkan perbedaan seseorang tentang motivasi, inisiatif, kemampuan untuk tetap tegar menghadapi tugas sampai tuntas atau memecahkan masalah atau bagaimana menyesuaikan perubahan yang terkait erat dengan lingkungan yang mempengaruhi kinerja individu (Rahman, 2013). Karakteristik individu responden yang dianalisis meliputi 3 bagian, yaitu (1) sebaran umur; (2) sebaran tingkat pendidikan; (3) ada tidaknya pekerjaan samping. Karakteristik individu responden perlu dikenali, karena responden merupakan bagian dari komunitas nelayan yang akan merepresentasikan nelayan jaring di Ambon. Karakteristik yang pertama adalah umur (Tabel 1).

Tabel 1 

Sebaran Responden Berdasarkan Umur 

Kategori Umur Jumlah Responden (n) Persentase (%) 

Remaja (umur 15 – 21 thn) 6 23,08

Dewasa dini (umur 21 – 40 thn)  15  57,69 

Dewasa madya (umur 41 – 60 thn)  19,23 

Lanjut usia (umur > 60 thn) 

Total  26  100 

Sumber: Hasil Analisis Data

Sebaran usia responden terbesar adalah usia dewasa dini, yaitu 57,69%. Hal ini memperlihatkan bahwa sebagian besar dari mereka termasuk dalam usia produktif, usia dimana mereka mampu menjalankan aktifitas keseharian sebagai nelayan. Hal ini sejalan dengan (Tanto et,al (2012), Mahendra dan Woyanti (2014)) yang menyatakan salah satu faktor yang mempunyai pengaruh terhadap produktivitas karyawan adalah faktor usia. Usia yang masih dalam masa produktif biasanya mempunyai tingkat produktivitas lebih tinggi dibandingkan dengan tenaga kerja yang sudah berusia tua sehingga fisik yang dimiliki menjadi lemah dan terbatas. Rentang

(3)

usia ini juga merupakan fase dimana mereka memiliki kemauan yang tinggi untuk mempelajari hal-hal baru, serta dapat berinteraksi dengan masyarakat/komunitas nelayan.

Karakteristik kedua yang dianalisis adalah tingkat pendidikan responden (Tabel 2).

       Tabel 2 

Sebaran responden berdasarkan tingkat pendidikan 

  Tidak tamat SD  Tamat SD  Tamat SMP  Tamat SMA  Jumlah 

Jumlah responden (n)  15  26 

Persentase (%)  11,54  11,54  19,23  57,69  100 

Sumber: Hasil Analisis Data

Tingkat pendidikan nelayan jaring di Ambon memperlihatkan kecenderungan yang berbeda dengan nelayan pancing. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 2, dimana makin tinggi jenjang pendidikannya, makin banyak jumlah respondennya. Persentase tertinggi (57,68%) adalah tamat SMA. Keadaan ini kebalikan dengan yang terjadi di Desa Pasirbaru dan Cidadap Kabupaten Sukabumi (Noviyanti dkk, 2015). Penelitian Noviyanti dkk (2015) menyatakan bahwa jumlah nelayan di Desa Pasirbaru dan Cidadap semakin menurun pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Salah satu penyebabnya adalah faktor budaya atau kebiasaan mereka. Dengan tingkat pendidikan nelayan pancing yang tinggi, diharapkan tidak menjadi faktor penghambat transfer teknologi penangkapan ikan. Mereka juga diharapkan memiliki tingkat disiplin yang lebih tinggi, serta rasa tanggungjawab terhadap keberlangsungan sumber daya perikanan yang lebih besar.

Karakteristik yang ketiga adalah jenis pekerjaan lain disamping sebagai nelayan (Tabel 3.) Tabel 3 

Pekerjaan Samping 

  Punya pekerjaan samping  Tidak punya pekerjaan samping 

Jumlah responden  17 

Persentase  34,62  65,38 

Sumber: Hasil Analisis Data

Lebih dari separuh responden (65,38%) menyatakan tidak memiliki pekerjaan samping, hal ini memperlihatkan bahwa kebutuhan hidup mereka sehari-hari telah tercukupi dari hasil menangkap ikan. Hal ini juga terjadi pada nelayan skala kecil di Kabupaten Indramayu yang tergolong sangat baik. Dimana nelayan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya hanya dari hasil melaut, karena dari indikator pendapatan rata-rata per kapita dan indikator konsumsi nelayan skala kecil di Kabupaten Indramayu lebih tinggi bila dibandingkan dengan standar garis kemiskinan BPS per tahun untuk wilayah Jawa Barat (Triyanti dan Firdaus, 2016)

Untuk mengetahui tingkat kepedulian nelayan terhadap pendidikan dilihat dari 4 aspek, yaitu (1) Tingkat kepentingan pendidikan formal bagi nelayan; (2) Tingkat kepentingan

(4)

pendidikan non formal bagi nelayan; (3) Simpanan untuk pendidikan formal; (4) Simpanan untuk pendidikan non fomal.

Dari hasil analisis data diperoleh bahwa 96,15% nelayan menyatakan bahwa pendidikan formal merupakan sesuatu yang sangat penting, sisanya (3,85%) menyatakan cukup penting (Tabel 4).

Tabel 4 

Tingkat Kepentingan terhadap Pendidikan Formal 

 Tingkat Kepentingan  Jumlah Responden (n)  Persentase (%) 

Sangat penting  25  96,15 

Cukup penting  3,85 

Penting 0 0

Tidak penting 

Total  26 100

Sumber: Hasil analisis data

Kondisi ini memperlihatkan bahwa nelayan jaring di Ambon tingkat kepedulian terhadap pendidikan sangat tinggi. Mereka yang sudah berkeluarga dan memiliki anak, menghendaki anaknya sekolah minimal sampai tamat SMA. Jika kesempatan untuk melanjutkan kuliah ada, maka mereka tidak ragu untuk melepas anaknya menuntut ilmu di bangku kuliah.

Jika dibandingkan dengan pendidikan non formal, maka tingkat kepentingannya masih lebih tinggi pendidikan formal. Untuk pendidikan non formal, hanya 57,69% nelayan yang menyatakan sangat penting (Tabel 5).

Tabel 5 

Tingkat Kepentingan untuk Pendidikan Nonformal 

Tingkat Kepentingan  Jumlah Responden (n)  Persentase (%) 

Sangat penting  15  57,69 

Cukup penting  23,08 

Penting  19,23 

Tidak penting 0 0

Total  26  100 

Sumber: Hasil analisis data

Pendidikan nonformal di sini adalah kursus, pelatihan keterampilan, dan penyuluhan, baik yang diadakan oleh Dinas Kelautan dan Perikanan maupun Lembaga swadaya masyarakat.

Responden menjawab bahwa pendidikan nonformal juga penting untuk kelancaran usaha mereka. Salah satu contohnya adalah pelatihan menggunakan global positioning system (GPS) untuk menentukan lokasi gerombolan ikan.

Kepedulian yang tinggi nelayan Ambon terhadap pendidikan terlihat dengan adanya simpanan yang mereka sisihkan untuk biaya pendidikan. Untuk simpanan pendidikan formal 92,31% nelayan memilikinya (Tabel 6).

(5)

Tabel 6  

Simpanan untuk Pendidikan Formal 

Jumlah simpanan/bulan  Jumlah Responden (n)  Persentase (%) 

> 100.000  30,77 

50.000 – 100.000  23,08 

< 50.000 atau tidak tentu 10 34,45

Tidak punya  7,69 

Total  26  100 

Sumber: Hasil analisis data

Dari Tabel 6 dapat dilihat bahwa nelayan yang tidak memiliki simpanan untuk biaya pendidikan formal hanya 7,69%. Hal ini merupakan suatu yang sangat baik, karena nelayan generasi yang akan datang akan memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi dari orang tuanya.

Simpanan untuk pendidikan nonformal tidak sebaik simpanan untuk pendidikan formal (Tabel 7).

Tabel 7 

Simpanan untuk Pendidikan Formal 

Jumlah simpanan/bulan  Jumlah Responden (n)  Persentase (%) 

> 100.000  26,92 

50.000 – 100.000  7,69 

< 50.000 atau tidak tentu  26,92 

Tidak punya 10 38,46

Total  26  100 

Sumber: Hasil analisis data

Berdasarkan Tabel 7 dapat dilihat bahwa nelayan yang tidak memiliki simpanan untuk pendidikan nonformal ada 38,46%. Nilai ini menunjukkan bahwa nelayan Ambon lebih mementingkan pendidikan formal.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh kesimpulan bahwa tingkat kepedulian nelayan jaring di Ambon terhadap pendidikan sangat tinggi. Hal ini didukung dengan pernyataan mereka bahwa pendidikan formal merupakan hal yang sangat penting, begitu juga dengan pendidikan formal. Selain dengan kedua pernyataan tersebut, mereka juga memiliki dana simpanan untuk kepentingan pendidikan mereka.

DAFTAR PUSTAKA

BPS Ambon. 2016. Kota Ambon Dalam Angka 2016.

Mahendra, A. D., & Woyanti, N. (2014). Analisis Pengaruh Pendidikan, Upah, Jenis Kelamin, Usia dan Pengalaman Kerja Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja (Studi di Industri Kecil Tempe di Kota Semarang). Doctoral dissertation, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Diponegoro

(6)

Noviyanti,R; Sugeng H.W; Eko S.W; Mulyono S.B; Budi H. (2015). Analysis of Self-Capacity and Education Level of Fishermen at Pasirbaru and Cidadap Villages, Sukabumi Regency.

International Institute for Science, Technology and Education. Vol 5, No 21 (2015), p 177- 183.

Rahman, A. 2013. Pengaruh Karakteristik Individu, Motivasi Dan Budaya Kerja Terhadap Kinerja Pegawai Pada Badan Keluarga Berencana Dan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Donggala : Jurnal E-Jurnal Katalogis, Volume I Nomor 2.

Satria, A. 2002. Pengantar Sosiologi Masyarakat Pesisir. Jakarta: Cidesindo.

Tanto, D., Dewi, S. M., & Budio, S. P. (2012). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Produktivitas Pekerja Pada Pengerjaan Atap Baja Ringan Di Perumahan Green Hills Malang. Rekayasa Sipil, 6(1), 69–82.

Triyanti, R., dan Firdaus, M. 2016. Tingkat Kesejahteraan Nelayan Skala Kecil Dengan Pendekatan Penghidupan Berkelanjutan Di Kabupaten Indramayu. Jurnal Sosek KP Vol.

11 No.1. Jakarta

Referensi

Dokumen terkait

Admin Menu Pendapatan Penerima Pendapatan Usaha Menu Beban Pembayaran Beban Usaha &lt;extends&gt; &lt;extends&gt; &lt;extends&gt; Penerimaan Pendapatan Pembayaran

Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara adanya gangguan organ dengan prognosis (p = 0,03), pasien malaria falciparum berat dengan gangguan organ

Kesimpulan dari penelitian ini adalah waktu pelepasan tourniquet dapat mempengaruhi kadar kalium dan disarankan untuk bagi tenaga medis untuk melepaskan tourniquet

[r]

Stages of data mining techniques used in this research are Data Collection, Data Preprocessing which includes Replace Missing Value, Normalization, and Feature