• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENDEKATAN DESKRIPTIF DAN ANALITIK DALAM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENDEKATAN DESKRIPTIF DAN ANALITIK DALAM"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

© mtz-11/ 02 paper 2016

PENDEKATAN DESKRIPTIF DAN ANALITIK DALAM

PEMBELAJARAN SEJARAH DI SEKOLAH MENENGAH

Mestika Zed

Guru-besar Sejarah Ekonomi dan Direktur Pusat Kajian Sosial-Budaya & Ekonomi (PKSBE), Fakultas Ilmu-Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang.

Assalamulaikum w arahmatullahi w a barakaatuh.

Terima kasih kepada Universitas Jambi, terima kasih kepada FKIP dan Prodi Pendidikan Sejarah, Universitas Jambi, yang telah bertindak sebagai tuan rumah dalam acara yang istimewa ini. Saya merasa mendapat kehormatan untuk berdiri depan ini sekedar berbagi pengalaman dengan para hadirin yang terdiri para pengajar dan mahasiswa FKIP universitas pada umumnya dan pendidikan sejarah khususnya. Panitia seminar telah meminta saya untuk memberikan kuliah umum (studium generale) pagi ini sebagai rangkaian dari kegiatan seminar sejarah nasional yang akan diadakan esok hari, Minggu 4 September 2016, dengan tema besar yang menarik: "Meningkatkan Mutu Lulusan PIPS yang Humanis, Mandiri, dan Barkarakter .

Dalam kuliah umum ini saya diminta untuk membetangkan topik tentang Pendekatan Deskriptif dan Analitik dalam Pembelajaran Sejarah di Sekolah Menengah , sebuah topik yang penting, tetapi juga menantang bagi kita sebagai pendidik atau calon pendidik di bidang sejarah. Sudah menjadi keyakinan saya sejak lama, bahwa idealnya seorang pengajar sejarah yang baik dibekali dengan apresiasi keilmuan di bidang sejarah di satu pihak dan ilmu paedagogik (atau ilmu mendidik) di lain pihak. Gabungan keduanya akan memperkuat kompetensi yang dibutuhkan, yang di dalamnya terjalin

(2)

Pengalaman Belajar dengan Guru Sejarah yang Hebat.

Ketika duduk di bangku sekolah menengah, saya sungguh beruntung memiliki seorang guru mata-pelajaran sejarah yang hebat, yang saya ingat selama-lamanya, sebab beliaulah yang menginspirasi saya ingin menjadi guru sejarah dan memilih jurusan sejarah sebagai pilihan pertama di bangku kuliah. Beliau adalah guru favorite saya, guru sejarah yang sangat antusiastik (bergairah) dalam mengajarkan sejarah dan mampu menarik perhatian murid-murid di kelas. Sewaktu masuk kelas beliau selalu menyapa para siswa dengan penuh ramah. Rasanya beliau hafal nama-nama para murid-murid di kelas kami, dan bahkan juga prilaku dan kepribadian mereka: yang pintar tapi pendiam, yang nakal, suka menggaggu teman belajar, humoris, bodoh tapi nyinyir, yang suka bolos atau sering terlambat masuk kelas, ada pula penebar pesona (biasanya siswi), tukang tidur, penyendiri, bodoh dan pemalu. Tiap tipe prilaku ada julukannya, seringkali dengan panggilan yang lucu-lucu, sehingga membuat para siswa suka ketawa.

Apa yang beliau lakukan sewaktu mengajar, saya ingat betul, bukanlah mencatat atau membacakan daftar fakta-fakta, melainkan menceritakan pengalaman. Masih segar dalam ingatan saya bagaimana beliau menerangkan sejarah Perang Paderi dalam dua episode berbeda di awal abad ke-19: pertama ketika permusuhan sesama orang Minangkabau (kaum adat dan kaum ulama) disebut perang saudara ; kedua perang yang sebenarnya melawan musuh bersama: Belanda. Klimaksnya berakhir dengan penangkapan Tuanku Imam Bonjol, tokoh utama Perang Paderi. Namun yang diceritakan bukan fakta-fakta tentang tahun dan jalannya perang Paderi dan kekalahan Paderi, melainkan menalar fakta-fakta dengan mendeskripiskan kekuatan musuh dan teknologi senjata mereka yang relatif modern. Ini kemudian dibandingkan dengan kekuatan Paderi dengan senjata ruduih (parang), lembing, panah dan senjata laras panjang, kecapik (dalam istilah lokal senapanbalansa), yang biasa digunakan untuk berburu babi.

(3)

Pada klimaksnya diceritakan bagaimana heroisme seorang Tuanku Imam Bonjol yang bertempur dengan kendaraan berkuda sambil menghunuskan pedangnya, tetapi lepas dari sergapan musuh. Tokoh Paderi itu baru bisa ditangkap setelah akhirnya dapat dibujuk untuk berunding, tetapi sebenarnya hanyalah tipu-muslihat Belanda untuk menangkap Tuanku Imam Bonjol. Ia ditawan saat berunding dan dijebloskan ke penjara di Padang sebelum dibuang ke Jawa, kemudian dipindahkan ke Manado. Cerita tentang perjalanan Imam Bonjol di atas kapal menuju tempat pembuangan penuh dengan penderitaan. Misalnya di atas kapal, beliau dijebloskan ke kamar yang sempit dan pengap tanpa dilepaskan rantai borgol pada kakinya. Ini mengingatkan kita kepada kisah sedih raja Minangkabau yang terakhir, Sultan Alam Begagarsyah, yang ditangkap Belanda dan dibawa ke Batavia (Jakarta), dengan tangan dan kaki terikat borgol tanpa belas kasihan. Sampai di sini guru sejarah saya menggugah emosi para siswa, diam terpukau oleh kepintaran sang guru bercerita. Tetapi kemudian mengajak para siswa kembali berfikir rasional dengan menarik kesimpulan (generalisasi) secara bersama-sama. Ini dilakukannya lewat beberapa pertanyaan sederhana. Misalnya, apa yang membuat Belanda lebih unggul dalam perang Paderi? Mengapa jumlah pasukan tidak selalu menentukan kalah atau menang dalam sebuah peperangan? Apa yang membuat Tuanku Imam Bonjol dan pengikutnya membenci Belanda berkuasa di daerah mereka?

Rangkaian pertanyaan di atas tidak langsung mengacu pada tahun dan peristiwa, melainkan memerlukan argumen logis sesuai dengan tingkat kematangan berfikir siswa, sedangkan fakta-fakta tentang waktu dan peristiwa sudah terjalin di dalam argumen sebagai pembuktian.

Contoh lain dalam kelas sejarah yang sama, kami mempelajari sejarah pergerakan nasional melalui riwayat hidup tokoh, H. Agus Salim, yaitu seorang pejuang kemerdekaan, yang terkenal dengan semboyan, leiden is lijden

(4)

Tinggal di rumah kontrakan di sebuah gang becek di Betawi, Agus Salim tak menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah formal manapun, apalagi sekolah Belanda, melainkan mendidik sendiri putra-putranya di rumah. Tak penah merasa hidupnya menderita karena itu adalah resiko seorang pemimpin. Dari kesederhanaan hidupnya itu ia ibarat mutiara dalam lumpur, mutiara bangsa yang berkubang dengan suka-duka kehidupan pribadi dan perjuangan tentang sesuatu yang ideal.

Cerita selanjutnya mungkin berlebihan. Namun apa yang ingin dikatakan lewat pengalaman di atas ialah,pertama, bahwa seorang guru sejarah yang hebat di mata para siswa ialah guru yang mampu bercerita dengan baik dan menarik. Belakangan saya teringat dengan pernyataan seorang guru-besar sejarah, yang mengakan . jika kamu ingin menjadi guru sejarah yang hebat kamu perlu mengajar dengan mengandalkan kemampuan bercerita dan sekaligus sebagai pendidik ( If you want to be a great History teacher, you need to work on your ability to tell a story and instructor as well ).

Kedua, guru sejarah yang baik ialah guru yang penuh antusiasme dengan mata-pelajaran yang diampunya; ia memliki passion di bidangnya dan bersikap demokratis terhadap para siswanya. Lebih penting lagi mampu menarik empati (emosi) terhadappengalamansejarah yang diceritakan.

Ketiga, guru sejarah yang hebat mengurangi ketergantungan pada buku teks, kecuali menyeleksi butir-butir standar minimal sesuai dengan instruksi kurikulum. Meskipun demikian, di lain pihak kaya bahan bacaan. Ia mampu menyeleksi buku bacaan terbaik di antara literatur yang berlimpah ruah, yang seringkali membosankan dan kering.

(5)

negeri tetangga menjadi susah karena terganggu oleh ekspor asap negeri kita.

Semangat pembelajaran sejarah yang dapat dipetik dari pengalaman di atas a.l. ialah: pentingnya pembelajaran kontekstual di mana guru lebih menekankan hubungan sejarah dengan kondisi kekinian; adalah naif dan konyol mengharapkan siswa mengingat segala sesuatu tentang tahun-tahun dan fakta sejarah yang diajarkan. Mereka hanya akan mengingat apa yang relevan dan menarik perhatian mereka guru sejarah yang baik memberi ases kepada siswa tentang apa yang dapat mereka lalukan dengan pengetahuan sejarah yang mereka pelajari ketimbang memaksakan mengingat sebanyak mungkin pengetahuan kognitif tentang fakta-fakta sejarah masa lalu.

Pembelajaran Sejarah Akademik.

Setelah duduk di bangku kuliah barulah saya mulai mengerti, bahwa selama puluhan tahun, kita sebagai pengajar sejarah, telah menyesatkan diri kita ke dalam pahaman sejarah yang keliru. Keliru karena tidak mampu mengubah pengertian publik tentang sejarah sebagai tak lebih dari cerita tentang masa lalu. Lebih celaka lagi, sejarah diajarkan sebagai pengetahuan yang hanya sekedar exercise (latihan) yang menyita perhatian pada hafalan mengingat tahun-tahun dan peristiwa politik. Dalam hal ini guru sejarah terbiasa memberi nilai atau penghargaan berdasarkan seberapa banyak informasi (fakta dan tahun peristiwa) yang dapat direkam dalam kepala (ingatan) para siswa.

Dewasa ini, jika ditanya kepada kebanyakan siswa atau kepada siapa saja yang pernah mendapat pelajaran seajarah hanya sewaktu sekolah menengah (yang kini sudah menjadi sarjana, profesor, pejabat dan kaum porfesional lainnya) apa itu sejarah, maka jawabannya pastilah cerita tentang masa lalu , yang tak ada sangkut pautnya dengan masa kini dan yang akan datang. Ini sungguh menyedihkan dan sekaligus membuktikan bahwa pendidikan sejarah di sekolah menengah kita gagal mengubah pengertian sejarah dari kanon sejarah lama , yakni cerita masa lalu. Karena alasan itu semua orang merasa bisa bercerita dan menulis tentang sejarah. Era Herodotus sekitar 25 abad lalu tampaknya masih belum mengalami perubahan signifikan di lingkungan pengajar sejarah, walaupun sejarah ilmiah sudah hadir sejak Leopold von Ranke mendeklarasikan sejarah sebagai ilmu pada abad ke-19.

(6)

keterampilan bercerita dalam pengajaran sejarah, tetapi bukan cerita yang semena mena, asal jadi, tanpa membedakan cerita fiktif dan faktual, melainkan cerita sejarah yang dibingkai dengan semangat ilmiah atau apa yang lazim disebut pendekatan sejarah kritis. Istilah teknis untuk jenis pengetahuan sejarah yang demikian itu disebut sejarah naratif , yaitu mengurai cerita atau kejadian. Dalam bahasa Inggris, kata narative selalu digunakan untuk kalimat

past tense karena memang sifatnya menyampaikan cerita (telling the story) kejadian yang telah berlalu. Karena terletak di masa silam maka wajar saja bila siswa terkadang mendapatkan pemahaman yang keliru dan tumpang tindih antara teks naratif dan cerita yang semena-mena, yang sering ditujukan sekedar hobi menghibur para pendengarnya.

Sebagai pengajar sejarah akademik di sebah perguruan tinggi, saya tetap percaya sepenuhnya bahwa cara belajar yang terbaik untuk setiap tingkat mana pun juga, sekolah menengah atau pedidikan tinggi, ialah manakala siswa atau mahasiswa merasa senang dan tertarik dengan bahan yang diajarkan. Kebanyakan guru sejarah yang hebat, yang pernah saya dengar atau temui memiliki suatu keterampilan yang sama: they told stories. Bukankah kata sejarah secara etimologis berasal dari kata Latin, historia, artinya menceritakan kejadian yang telah berlalu, narrative of past events. Akan tetapi, sekali lagi, tentu bukan cerita yang semena-mena karena kata Latin itu (historia) itu selanjutnya juga berarti scientific inquiry (penyelidikan ilmiah). Di situ perlu konsep-konsep relavan perlu ditonjolkan sebagai inti dari ciri zaman tertentu, yaitu apa yang disebut zeitgeist (jiwa zaman). Saya bukan pengajar Sejarah Eropa, tetapi ketika berbicara tentang sejarah Eropa Abad Tengah, saya senang memperkenalkan dan mendiskusikan bersama mahasiswa konsep "segmented sleep" (terbangun dari tidur) yang dikemukakan oleh sejarawan Inggris, Roger Ekirch, guru-besar sejarah pada Virginia Tech University, yang meneliti pola tidur manusia di Abad Tengah dan paralel dengan peradaban zaman gelap (the dark age) Eropa pada Abad Tengah.1 Kita juga bisa memperkenalkan konsep Islam Sufistik sebagai

tipologi agama Islam yang mula-mula berkembang di Indonesia pada fase awal sekitar abad ke-12 san ke-13 dan fenomena ini sedikit banyak juga hadir dalam era kontemporer.

Seadainya guru dan calon sejarah kita menyadari betapa rendahnya penghargaan terhadap guru sejarah selama ini, maka tidak ada jalan lain kecuali berbenah diri, baik individual maupun isntitusional, dengan cara memperkuat basis pengetahuan ilmiah di bidang sejarah dan mutu pengajaran

1A.

(7)

sejarah akademik. Kemampuan bercerita dalam pembeajaran sejarah tetap penting, tetapi itu saja tidak cukup. Pengtehauan sejarah akaemiki harus dibingkai dengan pengetahuan sejarah kritis-ilmiah. Kuncinya ialah pembelajaran sejarah yang bisa menggali dan memperkenalkan konsep-konsep kunci yang relavan dalam setiap zaman sejarah. Dewasa ini ada banyak alternatif metode yang bisa digunakan. Beberapaclues(petunjuk kunci) di atas hanyalah sekedar pemantik inspiratif bagi pengembangan selanjutnya.

Sejarah Naratif dan Analitik.

Pada umumnya mereka yang pernah dan sedang belajar sejarah di perguruan tinggi mengenal dua macam tipe penulisan sejarah. Pertama, yaitu meliput atau menggambarkan sejarah berdasarkan pengetahuan informasi kognitif. Yang lainnya suatu analisis mendalam tentang makna dari persitiwa sejarah yang terjadi. Yang pertama disebut sejarah naratif (atau sejarah disekriptif), yang kedua sejarah analitik . Dewasa ini kebanyakan buku-buku sejarah, artikel dan pengajaran sejarah, berkisar pada tipe sejarah naratif. Sejarah analitik di lain pihak masih relatif jauh dari jangkauan publik dan bahkan juga di kalangan guru sejarah sekalipun. Perkenankan saya membahas keduanya secara agak terinci d bawah ini.

Pendekatan Sejarah Desktiptif-Naratif.

Dalam sejarah naratif pengetahuan sejarah disampaikan dalam bentuk cerita. Boleh jadi sangat menarik karena disampaikan dalam bentuk cerita novel atau cerita sejarah dalam artikel koran. Kebanyakan sejarah ditulis dengan cara demikian, sekali lagi, telling the story. Sejarah naratif selanjutnya dapat diidentifikasi lagi ke dalam dua jenis berikut: sejarah naratif tradisional dan naratif modern.

(8)

Sebaliknya pedekatan sejarah naratif modern berfokus pada struktur dan isi (content) serta pola-pola umum. Pengajar sejarah yang bekerja dengan pendekatan ini cenderung mengabaikan kronologi yang kaku itu. Mereka lebih tertarik menerangkan konsep ketimbang membeberkan fakta-fakta. Pengajar sejarah tipe ini bisa mengatakan bahwa sejarah naratif tradisional terlalu sibuk dengan fakta-fakta tetapi lupa struktur keseluruhan. Dalam kata-kata Prof. Sartono Kartodirdjo, disebutkan terlalu sibuk dengan pohon-pohon, tapi lupa hutannya . Sejarawan J H Hexter dan Christopher Hill, menyebut tipe sejarah naratif tradisional sebagai narator , tukang kumpul fakta-fakta (facts collector) yang ingin memungut semua fakta masa lalu dan memasukkannya dalam sejumlah kotak, kemudian mengikatnya ke dalam bundel yang tersusun rapi. Sejarah tipe naratif tradisional ini memiliki sebutan lain yang agak merendahkan seperti sejarah common sense (atau sejarah orang awam), sejarah publik , sejarah popular , atau dalam istilah Braudelian disebut sejarah peristiwa (histoire evenementille), yaitu suatu bangunan pengetahuan sejarah yang lebih menekankan peristiwa-peristiwa sebatas di atas permukaan (lihat bagan di bawah).

Sebalikya pendekatan sejarah deskriptif-naratif modern bekerja atas landasan kerangka kerja teoretis ilmiah. Salah satu model yang biasa digunakan ialah berupaya menggambarkan peristiwa sejarah secara deskriptif-kronologis, tetapi bukan sekedar menjejerkan fakta-fakta belaka. Untuk itu ada beberapa unsur (komponen) kunci yang perlu diperhatikan:

(i) alur cerita (kejadian historis), mengacu pada arah jalannya perstiwa, kadangkala disebuteksposisi, yaitu susunan cerita dari awal, tengah hingga akhir. Susunannya bisa maju (progresif), kilas balik (flash back) atau gabungan.

(ii) Plot (bidang atau suasana) yang akan diliput, digambarkan, dideskripsikan secara selektif. Dengan kata lain plot adalah informasi yang ingin ditonjolkan dan/ atau dihilangkan. Penulis novel dan sutradara film, umumnya sangat kreatif dalam membangun plot berdasarkan imajinasi kreatif tanpa terikat dengan fakta-fakta. Namun dalam sejarah naratif, selalu terkait dengan fakta. Misalnya dalam mengajarkan sejarah proklamasi kemerdekaan 1945, seorang guru sejarah bisa mulai dengan memotret rumah tempat proklamasi itu diadakan atau mendeskripsikan suasana penyusunan teks proklamasi dan seterusnya. Di situ ada klimaks dan antiklimaks yang membawa pendengar cerita atau pembaca sejarah naratif ke dalam tempat dan suasana khas tertentu.

(iii) Koligasi (colligation), suatu istilah ilmu fisika untuk merujuk pada unsur

(9)

sejarah naratif koligasi, sejarawan Collingwood, menggunakan istilah itu sebagai unsur yang mengikat inner connection (hubungan dalam) antara rangkaian fakta-fakta dalam suatu peristiwa sejarah.

(iv) Struktur, yaitu bangunan pengetahuan sejarah secara keseluruhan yang tersusun dari komponen-komponen yang disebutkan di atas, sehingga membentuk pengertian yang utuh tentang gambaran sejarah yang dituturkan atau ditulis.

Guru sejarah yang terpelajar secara akademik, tentu tidak lagi cukup mengandalkan common sense (akal sehat sehari-hari), sepeti yang ditemukan dalam sejarah naratif tradisional, melainkan dengan bimbingan pengetahuan akademik di bidangnya.

Pendekatan Sejarah Kritis-Analitik.

(10)

Penutup.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji mengenai kompetensi kepribadian guru dalam melakukan pendekatan psikologis, pembentukan perilaku anak, upaya-upaya yang dilakukan,

Berbeda dengan berbagai kajian yang disebutkan, artikel ini bertujuan untuk melakukan analisis kritis terhadap konsep dialog otentik menurut Calvin E Shenk yang

Menimbang : bahwa untuk melaksanakan ketentuan dalam Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1997 tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa, sebagaimana telah

Kemudian dalam artikel Traditional Market (Pasar Tradisional) terjadi 13 pergeseran yaitu 9 pergeseran struktur (structural shifts), 2 pergeseran unit (unit shifts),

[r]

Fokus penelitian ini adalah: kurikulum Program Studi Pendidikan Sosiologi dan Antropologi di FIS UNNES pada awal berdirinya dan yang berlaku sekarang: Mata kuliah yang

Peningkatan hasil belajar biologi pada siklus I penggunaan model PBL pada siswa kelas VII SMPN 1 Rimba Melintang tahun pelajaran 2015/2016 dilakukan

Hal ini didukung oleh data dari Lingkaran Survei Indonesia (2014) dalam survei nasional terhadap 1890 sampel yang tersebar di seluruh Indonesia, hasilnya menunjukkan bahwa