• Tidak ada hasil yang ditemukan

siapkah kita menghadapi krisis perbankan (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "siapkah kita menghadapi krisis perbankan (1)"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Akreditasi = Kualitas

Cover di samping menggambarkan mengenai perjuangan mencapai standar

kualitas puncak dalam proses akreditasi. Tangan memegang kaca pembesar

sebagai lambang proses akreditasi, dan penonjolan pada huruf "A" menyatakan

standar mutu maksimal yang menjadi kepentingan semua prodi/institusi

pendidikan tinggi. Warna jingga menyatakan kepentingan dari isu kualitas.

(Rudy Farid)

Cerita Sampul

06

Lifetime Achievement Award 2013 buat Pendiri Widyatama – Prof. Koebandijah Abdoelkadir (almh)

06

Syukuran Milad Yayasan Widyatama ke-41 Widyatama

07

Lokakarya Pengembangan Kurikulum Fakultas Desain Komunikasi Visual (FDKV)

07

Re-Akreditasi Program Studi Akuntansi D3

07

Silaturahmi Widyatama Dalam Rangka Dies Natalis

08

Universitas Widyatama kembali meraih kejuaraan Binus

National Tax Tournament (BNTT) II Mahasiswa (LIMA) Tingkat Nasional

08

Artentic Widyatama 2013

09

Kuliah Umum Kelas Unggulan Manajemen S1

12

Perguruan Tinggi Diminta Tingkatkan Kualitas Mahasiswa

12

Awas... Kampus Keluarkan Ijazah Bodong

13

Kampus Swasta Keluhkan Proses Akreditasi Lamban

13

Manfaat akreditasi bagi PTN & PTS

13

UMM Bentuk Badan Pengelola Akreditasi

14

Kualitas Lulusan Perguruan Tinggi dan Akseptabilitas Stakeholders

14

Perguruan Tinggi di Indonesia Tertinggal 30 Tahun

berita kampus

mozaik info

daftar isi

15

Membangun PTS = Sinergi Pemerintah, APTISI, ABPTSI

16

Paradigma Kualitas Orientasi Perguruan Tinggi Swasta !!

20

Diperlukan Sinergi Para Pihak

18

Permasalahan Perguruan Tinggi Swasta

23

Mendulang Perguruan Tinggi Swasta Berkualitas

22

Produktivitas Perguruan Tinggi

rubrik utama

09

Kuliah Umum Kelas Unggulan Akuntansi

09

Kuliah Umum Fakultas Bisnis dan Manajemen

09

Studi Banding Universitas Negeri Semarang

10

Visitasi SMAN 5 Tasikmalaya

10

Visitasi SMK dan MA Sekota Sukabumi

10

Visitasi & Try Out SMA ANGKASA BANDUNG

10

Visitasi SMAN 16 Bandung

11

Rekrutmen PT Bank Himpunan Saudara

11

Rekrutmen PT . Daya Adicipta Mustika

11

Rekrutmen PT. Medion

11

Rekrutmen on Campus PT Honda Prospect Motor

(4)

28

Utamatv - Komunitas Wujud dari Dinamika Kreativitas.

26

Siapkah Kita Menghadapi Krisis Perbankan?

30

Dua sejoli, Mengejar Mimpi di Negeri Mode

35

Cafe Et Cetera

36

Super Speed Reading

36

8 Jurus Menulis Artikel dengan Waktu 25 Menit!

37

12 Saran Praktis Cara Berhenti Merokok

37

Mandi Setelah Begadang Bisa Buat Kamu Mati Mendadak

jendela komunitas

buah pikir

gaya hidup

info bandung

28

30

37

widyatama inspiring

info wisata

resensi buku

25

Competency

opini

galeri foto

32

34

5 Tempat yang Harus Didatangi sebelum Lenyap

35

(5)

dinamika perkembangan masyarakat, sekaligus meningkatkan kualitas lulusannya sehingga menghasilkan tenaga kerja yang mampu bersaing, baik di dalam negeri maupun intra-ASEAN. Demikian pula para pengambil kebijakan pendidikan tinggi. Pekerjaan ini memang bukan sesuatu yang mudah, karena memerlukan cetak biru sistem pendidikan secara menyeluruh serta sertifikasi berbagai profesi terkait. Sehingga mampu menciptakan Linking Education to Economy.

PTS dengan jumlah 3.019 dan 2.2 juta mahasiswa, didera keterbatasan sumber daya, serta kurangnya pembinaan dari pemerintah tentunya menghadapi permasalahan besar dalam meningkatkan kualitas diri dan lulusan. Untuk itu, kami mencoba menggali informasi kebijakan, pemikiran dan upaya yang dilakukan pemerintah (via Kopertis), APTISI dan AB PTSI sebagai lembaga yang selayaknya mengambil peran di area masing-masing. Tulisan ini kami sajikan dalam KOMUNITA edisi #9 dengan tema Kualitas (=Akreditasi) PTS.

KOMUNITA juga menyajikan rubrik lain seputar pendidikan tinggi, perbankan, info kualitas & akreditasi yang merupakan olah pikir civitas academica terkait dengan profesi masing-masing menyikapi masalah dari pandangan akademis dan kemasyarakatan. Selain itu kami sajikan tulisan rehat berupa aktivitas Widyatama, profil, lifestyle yang bisa kita simak bersama.

Semoga upaya kami dapat mendorong-kan etos kerja kita sebagai insan-insan yang kreatif dan inovatif.

Vivat Widyatama, Vivat Civitas Academica, Vivat Indonesia dan Nusantara tercinta.

Redaksi - Lili Irahali Pembina

Yayasan Widyatama Universitas WIdyatama

Dewan Ahli

Prof. Karhi Nisjar Sarjudin, SE., MM., Ak. Prof. Dr. Davidescu Cristiana Victoria

Pemimpin Umum

Lili Irahali

Konsultan Media

Otang Fharyana

Redaksi Pelaksana

Sekretaris Redaksi & Sirkulasi

Ferani Yushan

Redaktur Artistik & Lay Out

Rudy Farid Sagir Annisa Bela Pertiwi

Redaktur Info Kampus & Mahasiswa

Noer Adi K Adi Utama

Redaktur Placement Oice, Alumni & Dunia Kerja

Anna Yudiana

Diterbitkan oleh: Yayasan Widyatama

Alamat Redaksi

Jl. Cikutra 204 A Bandung 40125 Gedung A, Lt. 2, Ruang A 215 Tlp. 022 7275855, ext. 122, 228; Fax. 022 7278861

Website : www. widyatama.ac.id Email : [email protected]

Sidang Pembaca yang budiman

,

S

arjana sebagai keluaran perguruan tinggi alih-alih bisa bersaing mengisi dan menciptakan lapangan kerja, sebaliknya justru cenderung meningkatkan jumlah penganggur terdidik. Jumlah penganggur saat ini mencapai 7,17 juta orang. Sebuah ironi bagi daya saing lulusan perguruan tinggi, bila dalam tahun 2015 ketika dimulai perdagangan bebas ASEAN/ ASEAN Economic Communities yang membuka secara luas perdagangan dan lalu lintas orang tanpa pembatasan. Maka tenaga kerja asing dengan berbagai profesi yang dimiliki bakal meramaikan pasar kerja di Indonesia. Bahkan dalam beberapa bidang pekerjaan bakal terancam didominasi tenaga kerja asing. Pasalnya, Indonesia kekurangan tenaga kerja berkeahlian khusus.

(6)

berita kampus

Lifetime

Achievement

Award 2013 untuk

Pendiri Widyatama

Prof. Koesbandijah

Abdoelkadir

(almh)

Syukuran Milad

Yayasan Widyatama

ke-41

Yayasan Widyatama menyelenggarakan syukuran milad ke 41 tahun. Syukuran diselenggarakan hari Jumat di Ruang Seminar lantai 6 Gedung B menjadi tempat diselenggarakannya syukuran ini dengan dihadiri oleh Ketua Badan Pembina Yayasan Widyatama, Ibu Sri Lestari, S.H, Notaris beserta jajarannya dan Rektor Universitas Widyatama, Bapak Dr. Mame S. Sutoko, Ir., DEA beserta jajarannya. Acara syukuran tepat dimulai pukul 09.30 dan berlangsung hikmat.

Pada acara ini pula seluruh pimpinan Yayasan dan Universitas mengucapkan Selamat Tahun Baru 2014 dengan harapan kedepan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Ketua Pembina berharap agar lembaga ini menjadi rumah kedua harus dikembangkan dan dijaga keberlangsungannya. Lembaga dan masing-masing kita memiliki tanggungjawab sejalan dengan koridor, serta aturan main yang menjadi komitmen bersama. Dengan koridor tersebut kita menjalankan peran dan fungsi Prof. Dr. Koesbandijah Abdoelkadir, MS., Ak., CS. dianugerahi

penghargaan khusus Lifetime Achievement Award 2013 dari IAI atas dedikasi beliau yang luar biasa bagi pengembangan profesi akuntansi Indonesia, IAI, sumbangsih beliau menyelenggarakan pendidikan akuntansi sampai akhir hayatnya, serta sebagai wanita akuntan pertama di Indonesia. Penghargaan diberikan pada Prof. Koesbandijah dalam acara Akuntan Award 2013 yang digelar Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) pada 12 Desember 2013.

Pemberian anugerah penghargaan tersebut telah diterima oleh perwakilan keluarga almarhumah, Bapak T. Ontowiryo, S.E., MBA bertempat di Ruang Convention Center Surabaya di kawasan Basuki Rahmat, Surabaya. Anugerah Akuntan Award ini digelar dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun IAI ke-56 di Surabaya, beriringan dengan pelaksanaan Regional Public Sector Conference III. Akuntan Award sendiri mulai diberikan IAI pada tahun ini untuk memberikan penghargaan bagi tokoh-tokoh akuntan yang berjasa mengembangkan profesi ini.

Sebagai penerima anugerah “Akuntan of the Year 2013” adalah CEO PT Garuda Indonesia, Emirsah Satar dan CEO PT Kereta Api Indonesia, Ignasius Jonan. Keduanya dianggap sebagai akuntan profesional terbaik pada saat ini yang berkiprah di sektor bisnis Indonesia. Jonan dan Satar merupakan dua tokoh akuntan Indonesia yang telah membuktikan kepada khalayak bahwa akuntan bisa sukses menjadi business leader. Hal ini semakin menambah keyakinan bagi para akuntan Indonesia untuk terus bersaing di kancah global, terutama dalam rangka menghadapi ASEAN Economic Community 2015.

IAI memberikan penghargaan kepada tokoh akuntan yang dianggap berdedikasi dalam mengembangkan profesi akuntan. Di antaranya adalah Prof. Zaki Baridwan dan Drs. Soedardjono yang dianugerahi penghargaan khusus atas dedikasi bagi profesi. Kemudian Langgeng Subur dan Rosita Uli Sinaga dianugerahi

penghargaan atas kontribusinya yang luar biasa

dalam pengembangan akuntansi dalam beberapa tahun terakhir. Di samping itu, IAI juga memberikan penghargaan bagi tokoh-tokoh yang telah berpulang lainnya, namun telah menorehkan dedikasi yang luarbiasa bagi pengembangan profesi akuntansi. Mereka adalah (alm.) Dr. Zaenal Soedjais, dan (alm.) Dr. Ronny K. Moentoro.

masing-masing, sekaligus menempa diri, berbagi hati dan semangat, saling mendorong dan menguatkan untuk melayani pendidikan anak bangsa bagi Indonesia yang lebih baik. Sementara itu, Rektor mengharapkan bahwa sustainability lembaga

merupakan kewajiban semua jajaran Widyatama sebagaimana telah ditunjukkan pendiri Widyatama.

(7)

berita kampus

Silaturahmi Widyatama Dalam

Rangka Dies Natalis

Yayasan dan Universitas Widyatama menyelenggarakan silaturahmi dengan dosen tetap Widyatama pada hari Sabtu, 23 November 2013 lalu, bertempat Ruang Seminar Lantai 6 Gedung B, Cikutra. Silaturahmi dimaksudkan membangun komunikasi dan kebersamaan dosen dengan Yayasan dan Universitas sekaligus peluncuran program dana pensiun pegawai dan pedoman perilaku. Dalam sambutannya, Ketua Yayasan menyampaikan komitmen Yayasan berusaha meningkatkan kesejahteraan yang pada kesempatan tersebut meluncurkan dana pensiun. Penjelasan tentang dana pensiun disampaikan oleh perwakilan dari Manulife. Acara diakhiri dengan ramah tamah diiringi live music & demo hidangan Suki.

Re-Akreditasi Program Studi

Akuntansi D3

Program Studi Akuntansi Diploma Tiga Universitas Widyatama menjalani proses re-akreditasi pada hari Senin (28/10). Asesor BAN – PT yang melakukan visitasi adalah Bapak Agustinus Santosa Adiwibowo, Drs., M.Si., Akt. (UNDIP) dan Ibu Lies Zuliati, S.E., M.Si (STIE Indonesia Jakarta). Kegiatan visitasi dibuka oleh Rektor Universitas Widyatama, Dr. Mame S. Sutoko, Ir., DEA beserta jajarannya. Hadir pula Ketua Badan Pengurus Yayasan Widyatama, T. Ontowiryo, S.E., MBA. Kegiatan ini direncanakan berlangsung selama dua hari.

Fakultas Desain Komunikasi Visual (FDKV) menyelenggarakan Lokakarya Pengembangan Kurikulum Program Studi pada hari Kamis (14/11) bertempat di ruang rapat Yayasan Widyatama lantai 1. Lokakarya dibuka tepat pukul 09.00 oleh Ibu Dr. Anne Nurfarina, S.Sn., M.Sn, selaku Dekan FDKV.

Beberapa narasumber dihadirkan guna memperkaya kurikulum FDKV, dengan harapan agar dapat memberikan warna dan nuansa karakter Fakultas di era globalisasi yang dinamis. Peserta lokakarya adalah dosen/ staf pengajar FDKV Universitas Widyatama. Kegiatan ini sesuai dengan susunan acara akan selesai pada pukul 16.30 WIB dengan pemberikan cinderamata bagi seluruh narasumber yang hadir oleh Dekan FDKV.

Lokakarya Pengembangan Kurikulum

(8)

berita kampus

U

niversitas Widyatama kembali berhasil meraih kejuaraan dalam Binus National Tax Tournament (BNTT) II 31 Oktober lalu. Universitas Widyatama diwakili oleh Eva Marwati Febriani, Dea Fadhillah Damai dan Fitriyani meraih juara III dalam kompetisi di bidang perpajakan yang berjalan selama 3 hari.

Binus National Tax Tournament (BNTT) II merupakan sebuah ajang kompetisi di bidang perpajakan berskala nasional yang diselenggarakan untuk yang kedua kalinya oleh Tax Center Binus University dan Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HIMA) Binus University, bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pajak (DJP). Acara ini diselenggarakan atas dasar untuk memotivasi dan mendorong para mahasiswa akuntansi agar dapat meningkatkan daya saing dan lebih kompeten khususnya dalam bidang perpajakan di Indonesia. Pada tahun 2011, mahasiswa UTama juga berhasil

meraih juara 3 dan berlaga di inal melawan

Universitas Indonesia. Tahun 2013 mahasiswa Fakultas Ekonomi kembali berjuang mengikuti kompetisi yang diadakan setiap 2 tahun sekali

ini dan kembali lolos inal juga menghadapi

lawan yang sama yakni Universitas Indonesia. Acara ini diikuti oleh 24 tim yang merupakan perwakilan dari beberapa Universitas di Indonesia. Hari pertama perlombaan (29/10) dimulai dengan tahap pertama penyisihan,

Babak Kualiikasi I, merupakan tahap yang

dilaksanakan secara tim yang diikuti oleh seluruh peserta lomba. Kemudian dilanjutkan

tahap perempat inal, Babak Kualiikasi II, yang

diikuti oleh 16 tim yang berhasil lolos ke babak ini. Hari kedua perlombaan (30/10) dilanjutkan

dengan babak semiinal yang terdiri dari tiga

tahap dan dilaksanakan secara tim, yaitu

Babak Semiinal Part 1, Babak Semiinal Part 2, dan Babak Semiinal Part 3.

Tim Universitas Widyatama berhasil lolos

dalam babak inal (31/10) yang terdiri atas empat tim. Babak inal ini merupakan Babak

Presentasi. Perlombaan yang berlangsung

Artentic Widyatama 2013

Fakultas Desain Komunikasi Visual Universitas Widyatama telah menyelenggarakan “Arthentic” pada 20-21 Desember 2013. Kegiatan ini merupakan acara yang dimotori Senat dan Mahasiswa FDKV. Arthentic meliputi rangkaian kegiatan : Seminar dan Workshop Comic Strip oleh Benny Rahmadi; Pameran Karya; Hiburan Musik dan Tari Tradisional; Lomba Poster “Kebudayaan Masyarakat Indonesia saat ini”

Arthentic mengandung dua kata yang berbeda, yaitu : Art atau seni dan ethnic. Sehingga arthentic memiliki gagasan untuk menggabungkan antara seni dan etnik Indonesia yang asli.

Peserta lomba pada event ini terdiri dari siswa SMA/SMK se -Kota Bandung. Setiap sekolah mengirimkan dua tim dan diperkenankan mengirimkan maksimal satu karya terbaik. Desain bebas dan isi harus sesuai tema yang ditetapkan oleh panitia. Sedang karya yang dilombakan belum pernah dipublikasikan.

Universitas Widyatama Kembali Meraih Kejuaraan

Binus National Tax Tournament

(BNTT) II

di gedung Binus University ini akhirnya mengumumkan para juara, yaitu Juara I, Universitas Indonesia; Juara II, Universitas Indonesia; dan Juara III, Universitas Widyatama. Timnas UTama berharap agar tahun depan Universitas Widyatama dapat berpartisipasi kembali dalam acara ini dan kembali memperoleh juara. Mereka berpesan kepada para

(9)

berita kampus

Kuliah Umum Kelas Unggulan

Manajemen S1

Kelas Unggulan Jurusan Manajemen S1 UTama telah menyelenggarakan kuliah umum pada Sabtu (16/11) dengan pembicara Bapak Pipin Sukandi, S.E., M.M. Bertempat di ruang teater lantai 6 Gedung B, dibilangan Cikutra, kuliah umum dimulai tepat pukul 09.00 WIB sampai dengan selesai.

Mahasiswa kelas unggulan tampak sangat antusias mengikuti kuliah umum ini. Dalam sesi tanya jawab. Kuliah umum diakhiri dengan sesi pemberian cinderamata dari perwakilan prodi kepada pembicara. Kuliah umum merupakan kegiatan annual yang diselenggarakan setiap semesternya.

Kuliah Umum Kelas Unggulan

Akuntansi

Kelas Unggulan Jurusan Akuntansi S1 UTama telah menyelenggarakan kuliah umum pada Sabtu (9/11) lalu bertempat di ruang teater lantai 6 Gedung B, dibilangan Cikutra.

Kuliah yang dimulai pukul 09.00 WIB menghadirkan Bapak Marius Widyarto Wiwied (owner C-59). Mahasiswa kelas unggulan sangat antusias mengikuti kuliah umum ini. Kuliah umum ini diakhiri dengan sesi pemberian cinderamata dari perwakilan prodi kepada pembicara.

Kuliah Umum Fakultas Bisnis dan

Manajemen

Hari Kamis (14/11) Fakultas Bisnis dan Manajemen telah menyelenggarakan Kuliah Umum Pasar Modal dan Investasi dengan tema “Understanding Capital Market and Investment Trend in Indonesia”. Kegiatan ini merupakan salah satu dari agenda kerja program studi Manajemen (S1) guna sosialisasi pemahaman yang lebih mendalam mengenai investasi dan pasar modal di Indonesia. Kuliah umum diselenggarakan di lantai 6 gedung B kampus Cikutra, Bandung. Adapun pembicara yang dihadirkan yaitu Bapak Jefrey Hendrik (Direktur Utama PT. Phintraco Securities) dan Bapak Gilman Pradana Nugraha (Kepala BEI Kantor Perwakilan Bandung). Acara ini dimulai tepat pukul 09.00 WIB dan berakhir pukul 12.30 WIB. Sesi pemberian cinderamata menandai diakhirinya kuliah umum oleh Ketua Program Studi, Ibu Siti Komariah, S.E., M.M kepada para pembicara.

Studi Banding Universitas Negeri Semarang

Fakultas Ekonomi Universitas Widyatama kedatangan rombongan dari Universitas Semarang dalam rangka Studi Banding dan Kuliah Kerja Lapangan, hari Rabu (27/11) lalu. Rombongan disambut langsung oleh Bapak Dr. Islahuzzaman, Dekan Fakultas Ekonomi di ruang Seminar Lantai 4 Gedung Rektorat. Hadir pula menyambut Ibu Siti Komariah, S.E., M.M, Ka.Prodi Manajemen S1 dan Bapak Ryan Kurniawan, S.E., M.M, Ka. Prodi Manajemen D3 dan Ibu Erly Serlita, S.E., M.Si, Ak, Ka. Prodi Akuntansi S1.

(10)

berita kampus

Visitasi SMAN 5

Tasikmalaya

SMAN 5 Tasikmalaya melakukan kunjungan ke kampus Universitas Widyatama (UTama) pada Rabu (13/11). Rombongan siswa/i SMAN 5 Tasikmalaya tiba sekitar pukul 12.00 WIB diterima Kepala Biro Marketing UTama. Pimpinan rombongan SMAN 5 Tasik Bapak Rizwan dalam sambutannya mengutarakan maksud dan tujuan dari kunjungannya ke Universitas Widyatama. Salah satu diantaranya adalah ingin mengenal lebih dekat UTama baik dari penyelenggaraan pendidikan tinggi, fasilitas, beasiswa, biaya kuliah dan hidup hingga penempatan alumni di dunia kerja.

Devy Mawarnie P., S.E., MM, selaku Kepala Biro Marketing menyambut dengan hangat kedatangan rombongan siswa/i SMAN 5 Tasikmalaya dengan harapan agar para siswa memahami lebih banyak tentang Universitas Widyatama sesuai dengan keinginan harapan pihak sekolah. Hadir memberikan orientasi adalah perwakilan Fakultas Bahasa, Teknik, Desain Komunikasi Visual dan Mahasiswa Senat Mahasiswa Fakultas Ekonomi, yaitu Panitia Widyatama Math Accounting Competition yang digelar pada 21 - 23 November 2013. Acara Visit ini diakhiri dengan pemberian cinderamata dan Campus Touring Widyatama yang dipandu oleh Tim Marketing Crew.

Visit SMAN 16 Bandung

SMAN 16 Bandung Selasa (26/11) mengunjungi Universitas Widyatama Rombongan iba pukul 14.00 WIB iba dan disambut oleh im Biro Markeing Universitas

Widyatama. Kunjungan yang dipimpinan Bapak Atep Didin H, Wa.Kasek Bagian Kurikulum diikui

sekitar 159 siswa. Para siswa tampak antusias mengikui presentasi dan paparan dari perwakilan Fakultas Teknik, Fakultas

Bahasa dan Fakultas Desain Komunikasi Visual di Gedung auditorium (GSG) Widyatama. Presentasi dan paparan terlihat lebih hidup karena banyak siswa yang akif bertanya. Acara visit memperoleh informasi yang lengkap mengenai Universitas Widyatama bagi para siswa. Touring campus dan sesi foto bersama di depan Main Hall Widyatama mengakhiri rangkaian kegiatan visit ini.

Senin (16/12) Universitas Widyatama (UTama) telah menerima kunjungan dari SMK dan MA Sekota Sukabumi. Rombongan tiba sekitar pukul 11.00 WIB disambut oleh tim Humas Biro Marketing. Pimpinan Rombongan

Bapak Nasrullah, S.Pd selaku Koordinator MGBK SMK Sekota Sukabumi didampingi 39 orang Guru dan Kepala Sekolah serta 190 siswa terpilih.

Adapun maksud kedatangan rombongan ke UTama adalah untuk memberikan pemahaman tentang dunia pendidikan tinggi yang cenderung tidak dilirik oleh siswa lulusan SMK. Hal ini dikarenakan lulusan SMK memiliki mindset untuk siap bekerja. Melalui kunjungan ini diharapkan dapat memberi cara pandangan berbeda. Selain memberikan pemahaman tersebut, kunjungan ini memberikan informasi mengenai Universitas Widyatama secara lebih dekat.

Di akhir acara Kepala Biro memberikan merchand dan cinderamata kepada rombongan serta melakukan sesi foto bersama guna terjalinnya keakraban dan hubungan baik diantara kedua institusi.

Rabu (18/12) UTama telah menerima kunjungan dari SMA ANGKASA Bandung yang mayoritas keluarga besar TNI AU baik itu pengajar dan orang tua siswanya. Rombongan tiba sekitar pukul 10.00 WIB disambut oleh tim Humas Biro Marketing. Pimpinan Rombongan Ibu Tri, S.Pd selaku Guru BK SMA ANGKASA Bandung

didampingi sekitar 4 orang Guru BK dan 105 siswa. Maksud kunjungan adalah untuk menambah wawasan tentang pendidikan tinggi, khususnya UTama.

Visitasi & Try Out

SMA ANGKASA

BANDUNG

(11)

berita kampus

Bertempat di Auditorium GSG Universitas Widyatama menyelenggarakan Job Fair Widyatama 2013 pada 29 - 30 November 2013 lalu. Job Fair menghadirkan sekitar 40 perusahaan, diantaranya : AXA MANDIRI, BANK SAUDARA, BANK OCBC-NISP, PANIN BANK, BANK INDEX, BANK DANAMON, PRUDENTIAL, ADIRA QUANTUM FINANCE, MATAHARI DEPARTMENT STORE, BUSSAN AUTO FINANCE, PT. MBA, MPOWER, SKILL INSTITUTE, DEKARIR. COM

Job Fair terbuka bagi seluruh pengunjung. Selain itu beberapa perusahaan

menyelenggarakan test komprehensif langsung bagi calon karyawan.

Sebagai kelanjutan penyelenggaraan Job Fair, Bagian

Placement Oice dan Career Center Biro Marketing bekerjasama dengan PT Bank Himpunan Saudara menyelenggarakan Rekrutmen on Campus hari Sabtu (30/11). Rekrutmen bertempat di Ruang Seminar lantai 6 gedung B. Agenda rekrutmen adalah walk in interview.

Peserta rekrutmen merupakan pendaftar saat Job Fair

sebanyak 68 orang. Walk in interview dimulai pukul 08.00 s.d 17.00. Diharapkan kegiatan ini dapat menjembatani kebutuhan antara permintaan dan penawaran tenaga kerja di institusi pendidikan.

Rekrutmen PT. Karya Utama Putra Mandiri

Placement Oice dan Career Center UTama bekerjasama dengan PT Karya Utama Putra Mandiri menyelenggarakan Campus Recruitment/Hiring Campus pada Kamis (17/10) bertempat di ruang teater lantai 6 Gedung B. Kegiatan ini dimulai pukul 13.00

WIB sampai dengan selesai. Tahap rekrutment meliputi perkenalan Company Proile dilanjutkan ujian seleksi/test. Peserta rekrutmen terdiri dari alumni berbagai program studi yang ada di Universitas Widyatama. Proses rekrutmen ini direncanakan akan dilakukan secara berkesinambungan setelah penyelenggaraan wisuda digelar di Universitas Widyatama.

Rekrutmen PT.

Daya Adicipta

Mustika

PT Daya Adicipta Mustika

(HONDA)

menyelenggara-kan Campus Recruitment/

Hiring Campus pada hari

Kamis (17/10) bertempat di

ruang seminar lantai

6 Gedung B. Kegiatan

ini dimulai pukul 09.00

WIB sampai dengan

selesai. Tahap rekrutmen meliputi psikotest, test

kepribadian dan

interview

oleh

user

. Peserta

rekrutmen terdiri dari alumni Universitas Widyatama

dengan mayoritas merupakan wisudawan/ti

Gelombang 1 TA 2013/ 2014. Hasil serangkaian

tes dari 65 peserta diperoleh 30 peserta yang

lolos sampai pada tahapan berikutnya. Proses

rekrutmen ini direncanakan akan dilakukan secara

berkesinambungan setelah penyelenggaraan

wisuda digelar di Universitas Widyatama.

Rekrutmen PT. Medion

Placement oice dan Career Center UTama telah menyelenggarakan rekrutment on campus bekerjasama dengan PT. Medion, pada hari Kamis(7/11).

Pelaksanaan rekrutmen yang berlangsung di lantai 6 ruang teater gedung B diikuti 97 orang peserta. Tahap awal test yang diselenggarakan berupa psikotest dan wawancara. Tahap selanjutnya akan dilakukan wawancara dengan user secara langsung.

Kegiatan rekrutmen on campus merupakan kegiatan rutin bagian Placement oice dan Career Center sebagai salah satu implementasi tugas utamanya, yaitu menjembatani alumni dengan dunia usaha dan industri / perusahaan.

Recruitmen on Campus

PT Honda Prospect Motor

PT Honda Prospect Motor Kamis (5/12) bekerjasama dengan Biro Marketing, khususnya Placement Oice dan Career Center menyelenggarakan recruitmenton Campus bertempat di ruang teater lantai 6 gedung B Universitas Widyatama.

Agenda rekrutment adalah psikotest dan wawancara yang dibagi dalam 2 batch. Batch pertama dihadiri oleh 75 peserta dan batch kedua dihadiri oleh 60 peserta. Batch pertama dimulai pukul 09.30 dan batch kedua dimulai pukul 12.30. Hasil seleksi 43 orang yang dinyatakan lolos seleksi. Tahap selanjutnya adalah wawancara dengan user bertempat di kantor pusat PT Honda Prospect Motor.

Rekrutmen PT Bank Himpunan

Saudara

(12)

mozaik info

Kendari (Antara News) - Pengelola Perguruan Tinggi di Indonesia diminta terus berupaya meningkatkan kualitas mahasiswa, sehing-ga saat selesai kuliah dan kembali di tensehing-gah masyarakat dapat memanfaatkan berbagai potensi sumber daya alam yang dimiliki negara ini. Permintaan tersebut disampaikan Gubernur Sulawesi Tenggara, Nur Alam dalam sambutan tertulisnya dibacakan Asisten III Sekretariat Pemerintah Provinsi Sultra, Saemu Alwi pada pembukaan Konferensi Internasional Crisu - Cupt 2013 di Kendari, Kamis. Konferensi Internasional ke-8 Crisu -Cupt 2013 tersebut diikuti pa-ra rektor perguruan tinggi se-Indonesia dan rektor perguruan tinggi dari negara hailand. "Berbagai potensi sumber daya alam yang dimiliki negara Indonesia, hanya bisa menjadi sumber kesejahteraan rakyat, jika dikelola oleh putra-putri terbaik bangsa," katanya.

Untuk bisa melahirkan putra-putra terbaik bangsa yang berkua-litas tersebut kata gubernur, peran pengelola perguruan tinggi sangat diperlukan. "Tanpa perguruan tinggi yang bisa melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas, berbagai potensi sumber daya alam yang dimiliki tidak akan berarti apa-apa bagi peningkatan kesejahteraan rakyat," katanya. Wilayah Provinsi Sultra sendiri lanjut gubernur sangat kaya dengan potensi sumber daya alam, baik sumber daya alam pertambangan seperti emas, nikel dan sebagainya maupun potensi sumber daya alam pertanian dalam arti luas. Jika sumber daya alam yang dimiliki provinsi ini dikelola dengan baik kata dia, tidak hanya bisa menyejahterakan masyarakat Sultra melainkan juga dapat menjadi sumber kesejahteraan rakyat Indonesia.

Oleh karena itu, lanjut gubernur, perguruan tinggi seperti di Sultra, agar terus berupaya meningkatkan kualitas mahasiswanya, sehingga lulusannya bisa mengelola sumber daya alam yang dimiliki daerah ini. (http://www.antarasultra.com/berita, Kamis, 17 Oktober 2013)

Perguruan Tinggi Diminta

Tingkatkan Kualitas

Mahasiswa

Jakarta – Masyarakat harus kian teliti dalam memilih perguruan tinggi, khususnya terkait dengan akreditasi. Jika salah pilih, legalitas ijazah, menjadi taruhannya. Mulai 10 Agustus 2014 ijazah dinyatakan sah jika dikeluarkan kampus yang institusi dan program studi (prodi)-nya terakreditasi.

Ketua Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Mansyur Ramli menerangkan aturan yang berlaku saat ini masih ketentuan lama. Yakni, persyaratan ijazah legal hanya cukup prodinya yang terakreditasi. Mengacu Undang-Undang 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi (Dikti), ijazah dinyatakan legal jika dikeluarkan kampus yang institusi dan prodinya terakreditasi. “Jika prodinya saja yang terakreditasi, ijazahnya bodong. Masyarakat harus tahu aturan baru ini supaya tidak menyesal,” tuturnya kemarin (13/10).

Meski UU Dikti itu disahkan tahun lalu, pemerintah mem-berlakukan masa transisi. Ketentuan akreditasi instituisi dan prodi untuk legalitas ijazah tersebut berlaku 10 Agustus 2014. Masih ada waktu bagi kampus untuk memasukkan usulan akreditasi instituisi. Jumlah kampus negeri dan swasta saat ini mencapai 3.600 unit. Namun, yang mengantongi akreditasi instituisi baru sekitar 80 unit.

“Masyarakat harus hati-hati memilih kampus. Lebih baik masuk kampus yang terakreditasi instituisi dan prodinya,” tegas Mansyur. Dia mencontohkan kasus di Universitas Nasional (Unas) Jakarta beberapa waktu lalu. Mahasiswa salah satu prodi di fakultas hukum yang baru diwisuda melakukan protes karena ijazah yang mereka pegang ternyata bodong. Mereka kecewa karena saat masuk dan mendaftar kuliah, prodi yang dipilih itu terakreditasi A. Namun, saat mereka diwisuda, akreditasi kampusnya kedaluwarsa.

Mansyur menegaskan bahwa legalitas ijazah didasarkan atas status akreditasi ketika ijazah tersebut dikeluarkan. Bukan ketika mahasiswa mendaftar. Solusinya, kampus menunda wisuda hingga akreditasi yang baru dikeluarkan.

Tahun ini ada sekitar 7.000 prodi yang memasukkan akredi -tasi ke BAN-PT. Tetapi, anggaran di APBN 2013 hanya dialokasi-kan untuk mengakreditasi 3.200 unit. Sisanya otomatis adialokasi-kan dimasukkan atau diluncurkan ke agenda akreditasi tahun depan. “Untuk tahun depan, anggaran akreditasi di BAN-PT juga tidak besar,” terang dia. Mereka mengusulkan anggaran untuk 6.000 kegiatan akreditasi. Tetapi, Kemendikbud memberikan anggaran hanya untuk sekitar 4.000 kegiatan akreditasi. Untuk sekali proses akreditasi, biayanya mencapai Rp 30 juta. Diantaranya untuk tiket pesawat dua orang asesor rata-rata Rp 8 juta. Kemudian juga untuk honor asesor Rp 3 juta dan biaya akomodasi asesor selama visitasi yang nilainya bervariasi sesuai dengan daerahnya. “Uang itu sudah ditanggung pemerintah,” ucapnya. Kampus dilarang memberikan uang atau fasilitas lain seperti hotel kepada asesor yang melakukan visitasi. Pemberian tersebut bisa masuk dalam praktik gratifikasi. Pemberian itu dilarang juga untuk menjaga independensi asesor dalam mengakreditasi kampus. Masa penerbitan akreditasi membutuhkan waktu empat sampai enam bulan. (Jawa Pos, 14 Oktober 2013)

"Ijazah Bodong"

Awas...

(13)

Sindonews.com - Akreditasi bagi perguruan inggi negeri (PTN) maupun

perguruan inggi swasta (PTS) sudah menjadi seperi nyawa. Sayangnya, masih ada dosen, terutama PTN yang belum sadar peningnya akreditasi tersebut. Ketua Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Hari Sutrisno mengatakan, akreditasi juga berguna untuk pengusulan proyek insitusi.

"Misalnya, untuk insitusi akreditasi A bisa mengusulkan proyek dengan nilai sekian miliar atau juta, B sekian juta dan C sekian juta," kata Hari di Yogyakarta, Kamis 26 September 2013. Manfaat lain dari akreditasi adalah bagi lulusan yang ingin bekerja apalagi ingin jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), beberapa instansi mensyaratkan akreditasi. Bahkan beberapa perusahaan swasta sudah mensyaratkan calon tenaga kerjanya harus dari perguruan inggi yang terakreditasi minimal B bahkan harus A. "Makanya para lulusan selalu kita beri copian piagam akreditasi tersebut. Karena kami sadar kebutuhan di dunia kerja saat ini. Kami tentu berharap para dosen semakin menyadari peningnya akreditasi demi menjamin lulusan yang berkualitas," imbuhnya.

Dia menjelaskan berdasarkan pengalamannya sebagai Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT), hal tersebut dikarenakan rasa memiliki program studi (prodi) oleh para dosen masih kurang. "Sebenarnya akreditasi ini banyak kegunaannya. Banyak instansi-instansi yang mensyaratkan tenaga kerjanya berasal dari lulusan prodi yang berakreditasi A. Kalau Pemda umumnya minimal B. Walaupun kita dari universitas negeri yang ternama sekalipun tapi kalau akreditasinya C maka idak bisa mendatar di pemda (pemerintah daerah)," tegasnya. “Bahkan ada lulusan universitas swasta di Yogykarta dengan IPK 4,0 tapi akreditasinya C, waktu mendatar di Pemda DIY ditolak, karena untuk Pemda DIY akreditasinya minimal B,” pungkasnya. (htp://nasional. sindonews.com/, 27 September 2013)

Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Muhadjir Effendy, mengeluarkan keputusan baru tentang pembentukan Badan Pengelola Akreditasi (BPA). Lembaga yang ada di tingkat universitas ini merupakan unsur penunjang akademik yang berkoordinasi dengan Pembantu Rektor I dan bertanggung jawab kepada rektor.

Surat Keputusan nomor 29/SK-Pem/X/2013 itu disertai dengan surat

pengangkatan pejabat BPA. Badan ini dipimpin Dr Ainur Roieq, M.Kes

dan sekretaris Dr Aniek Iriany, MP. Sementara dibawahnya terdapat empat

divisi, meliputi Akreditasi Perguruan Tinggi Nasional dan Internasional (Dr Ilyas Mashuddin, MT), Akreditasi Program Studi (Dr Surya Anoraga, M.Hum), Akreditasi Lab dan Perpustakaan (Dr Henik Sukorini, MP) dan Akreditasi Jurnal (Dr M Syaifuddin,MM).

Dalam beberapa kesempatan, rektor menyatakan akreditasi merupakan keharusan untuk mengukur standar mutu sebuah perguruan tinggi. Pencapaian tertinggi yang diraih UMM dalam Akreditasi Institusi dengan nilai A harus dipertahankan dan terus diperbaiki. Untuk itu BPA dibentuk untuk mengantisipasi sekaligus terus membenahi kualitas yang pada gilirannya bertugas membawa UMM dalam akreditasi internasional.

“Badan ini bukan hanya bersifat sementara, tetapi akan berkelanjutan dalam menata sistem dan manajemen tata kelola di semua aspek, termasuk prodi, laboratorium dan perpustakaan,” kata rektor.

Menurut surat keputusan itu, tugas BPA adalah memimpin, merencanakan, menyelenggarakan dan mengkoordinasi pelaksanaan akreditasi untuk tingkat universitas, prodi dan unit lain. Sedangkan fungsinya, mencakup tujuh poin, di antaranya merencanakan rencana strategis, melakukan siknkronisasi dengan unit terkait, serta memberi pertimbangan teknis terkait pelaksanaan akreditasi. (http://www.umm.ac.id/, 01 November 2013)

mozaik info

Manfaat Akreditasi

bagi PTN & PTS

UMM Bentuk Badan

Kampus Swasta Keluhkan

Proses Akreditasi Lamban

Tak sampai 120 Perguruan Tinggi

yang Sudah Diakreditasi

JAKARTA - Kalangan perguruan tinggi swasta mengeluhkan proses akreditasi institusi dan program studi. Menurut mereka, lambannya akreditasi ini bukan karena kampusnya yang malas. Tetapi pemerintah belum memberikan infrastruktur sistem akreditasi yang memadai.

Ketua Umum Aptisi (Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia) Edy Suandi Hamid mengatakan, pemerintah harus konsisten menjalankan program akreditasi perguruan tinggi itu. Sebab menurut rektor Universitas Islam Indonesia (UII), urusan akreditasi ini bisa berdampak pada para lulusan perguruan tinggi. Akibat lambannya pengurusan akreditasi, wisudawan bisa dirugikan karena akreditasi terkait ijazah, katanya, Sabtu (12/10).

Edy menegaskan pelaksanaan pelayanan akreditasi yang dilakukan pemerintah melalui BAN-PT (Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi) selama ini masih belum maksimal. Dia menyebutkan sejumlah fakta terkini tentang pelayanan akreditasi itu. Diantaranya adalah jumlah perguruan tinggi yang telah terakreditasi kurang dari 120 unit. Padahal jumlah perguruan tinggi sangat banyak yakni 3.218 unit kampus swasta, 93 kampus negeri, dan 614 perguruan tinggi agama negeri dan swasta serta kampus kedinasan. Tentu jumlah kampus yang baru terakreditasi itu masih sedikit. Pemerintah harus proaktif, katanya.

Edy menegaskan pihak kampus sering dirugikan terhadap lambannya pelayanan akreditasi ini. Padahal dia menyebutkan kampus sudah melayangkan permohonan akreditasi baru ke BAN-PT. Namun pelayanan di BAN-PT lambat karena selalu mengeluh keterbatasan asesor. Menurut Edy solusi dari masalah itu sudah jelas, yakni memperbanyak jumlah asesor. Dia berharap tahun depan proses akreditasi tidak bertumpuk di BAN-PT. Tetapi juga dibagi ke Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM) yang dibuka oleh masyarakat/swasta. Keberadaan LAM ini diharapkan bisa meringankan beban BAN-PT secara signifikan, katanya. Edy berharap proses pembentukan LAM ini bisa berjalan secepatnya. Saat ini peraturan pelaksanaan pembentukan LAM belum ada. (wan, http://berita.plasa.msn.com/, 13 October 2013 | By JPNN)

(14)

mozaik info

Kualitas Lulusan Perguruan Tinggi

dan Akseptabilitas Stakeholders

O

rganization for Economic Co-operation Development (OECD) melaporkan, “Indonesia akan menjadi negara dengan jumlah sarjana terbanyak kelima di dunia pada tahun 2020 mendatang”. Ini merupakan proyeksi dari upaya Indonesia untuk meningkatkan jumlah lulusan perguruan tinggi setiap tahunnya. Padahal di sisi lain, penyerapan lulusan sarjana di Indonesia tergolong lambat. Jumlah pengangguran sarjana pada Februari 2013 telah mencapai 360.000 orang, atau 5,04% dari total pengangguran yang mencapai 7,17 juta orang (data Badan Pusat Statistik). Lebih lanjut OECD menilai, lulusan perguruan tinggi Indonesia gagal mengimbangi keinginan pasar. Banyak perusahaan sulit menemukan orang yang bisa berpikir kritis dan mampu membuat transisi yang mulus dalam bekerja. Hal ini ditengarai karena lulusan perguruan tinggi biasanya tidak memiliki pengalaman kerja yang cukup. Kualitas lulusan yang tidak sesuai dengan kebutuhan dunia kerja itulah yang kemudian menyebabkan penyerapan lulusan sarjana di dunia kerja mengalami pelambatan. Laporan OECD tersebut perlu menjadi warning bagi pengelola dan penyelenggara perguruan tinggi agar lebih awas dan tanggap terhadap perubahan dan perkembangan kebutuhan dunia kerja yang sangat dinamis. Karena bagaimanapun, perguruan tinggi masih dihargai sebagai salah satu pilar penting pembangunan bangsa. Perguruan tinggi diyakini bisa melahirkan generasi yang memiliki ilmu pengetahuan, wawasan, keterampilan, skills, dan kepribadian yang dibutuhkan bagi pembangunan bangsa. Keyakinan semacam itu mengharuskan perguruan tinggi menyelenggarakan pendidikan yang berorientasi pada kebutuhan bangsa, bertanggung-jawab, bermutu, dan berdaya saing tinggi sehingga mampu melahirkan lulusan yang kompeten di bidangnya masing-masing.

Arus perubahan sosial yang selalu berkembang seiring dengan dinamika masyarakat menuntut lulusan perguruan tinggi memiliki kemampuan responsif (responsive capability) terhadap fenomena sosial yang berkembang di sekitarnya. Apalagi menghadapi perkembangan era kompetisi seperti sekarang ini, diperlukan kekuatan daya saing yang tangguh, dimana sumber daya insani atau human capital merupakan kuncinya.

Persaingan dalam penyediaan jasa pendidikan tinggi menjadi tantangan sekaligus peluang untuk melakukan perubahan internal perguruan tinggi jika ingin tetap eksis dan diminati masyarakat. Salah satu challenge itu misalnya diversiikasi bidang pekerjaan yang menuntut kompetensi dan keahlian spesiik. Kondisi ini mengakibatkan

persaingan yang sangat ketat akan dialami para lulusan di dalam dunia kerja. Seperti disinggung pada laporan OECD di atas, masih ada masalah ketidaksinkronan antara keahlian yang diperlukan berbagai lapangan kerja dengan kompetensi lulusan perguruan tinggi. Kualitas lulusan dihadapkan pada akseptabilitas pengguna (users/ stakeholders).

Dampak lainnya adalah pada perubahan persyaratan yang juga sangat ketat di bursa kerja. Persyaratan kerja saat ini tidak hanya menekankan kualitas lulusan pada penguasaan hard skills (kemampuan teknis dan akademis), tetapi juga soft skills berupa kemampuan intra dan interpersonal seperti kemampuan beradaptasi, komunikasi, kepemimpinan, inisiatif, kemauan dan motivasi yang tinggi, komitmen, pengambilan keputusan, optimisme menghadapi hidup, pemecahan masalah, integritas diri (personal habits), keramahan (friendliness, hospitality, sociability), dan sebagainya. Sebagai ilustrasi kenyataan masih rendahnya kualitas lulusan perguruan tinggi di Indonesia itu misalnya pengakuan Lina Marianti, pencari eksekutif (headhunter) di JAC Recruitment, Jakarta. Menurut dia, perusahaan asing menolak lebih dari setengah lulusan universitas yang dia rekomendasikan untuk dipekerjakan. “Kami merekomendasikan lulusan-lulusan terbaik, tetapi yang terbaik itu pun tidak

memenuhi kualiikasi yang diinginkan perusahaan,” kata Lina. "Mereka (pemberi kerja)

mengeluh, lulusan universitas lokal tidak mampu mengaplikasikan teori ke dalam praktik. Mereka lemah dalam keterampilan kepemimpinan dan analitis. Mereka buruk dalam bahasa Inggris dan pengetahuan produk,” tuturnya (www.esq-news.com). Gambaran tersebut menyiratkan banyak hal. Pertama, kualitas lulusan. Kedua, penerimaan pasar pengguna. Dan ketiga, kesiapan perguruan tinggi menghadapi perubahan. Penyediaan lulusan yang berkualitas mengisyaratkan bukan saja

pengetahuan, tetapi juga keahlian/kecakapan spesiik yang dibutuhkan pasar

pengguna. Sebab jika tidak, seperti pernah disinyalir oleh Wakil Presiden, Prof Boediono, “perguruan tinggi yang tidak menjaga kualitas, ibarat pengedar uang palsu yang bisa merusak sistem berkepanjangan” (www.beritasatu.com).

Situasi ini menjadi bukti bahwa ada kesenjangan antara produk perguruan tinggi dengan lapangan kerja yang tersedia. Hal ini merupakan tantangan umum yang dihadapi negara berkembang seperti Indonesia yang sedang bergerak menjadi negara maju. Dalam bahasa ilmiah, situasi ini disebut dengan unintended consequences, yakni ketidaksesuaian antara ilmu yang dipelajari pada saat kuliah dengan bidang kerja yang digeluti. (http://diktis.kemenag.go.id/index.php, Mastuki HS., .Jakarta, 2 Desember 2013)

Harianjogja.com, SLEMAN – Beban perguruan tinggi (PT) yang menumpuk mengakibatkan kualitas universitas di Indonesia tertinggal 30 tahun dari negara-negara maju dan menciptakan lulusan yang tanggung. Tenaga pengajar program studi Kajian Media dan Budaya Populer Sekolah Pascasarjana (SPs) UGM, Budiawan Hartono mengatakan, meski konsep Tri Dharma PT berupa pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan serta pengabdian kepada masyarakat bertujuan positif, tetapi tugas ini justru menjadi beban PT. Apalagi, imbuhnya, saat ini pemerintah terlalu banyak memberikan regulasi yang menghambat gerak PT.

“Birokrasi yang terlampau rumit ini mengakibatkan PT kesusahaan mengajukan penelitian. Tanggung jawab yang dituntut banyak mengakibatkan kami sibuk sendiri. Padahal seharusnya PT menyumbangkan solusi bagi persoalan yang ada,” ujar dia saat ditemui dalam persiapan Dies Natalis ke-30 SPs UGM yang mengangkat tema Kontribusi Sekolah Pascasarjana UGM Dalam Pengembangan Strategi Lokal Menuju Kemandirian Bangsa di kampus setempat, Senin (2/9/2013).

Persoalan ini, kata dia, mengakibatkan PT hanya dapat mengecam atau merasa prihatin terhadap permasalahan bangsa. Bukannya terketuk mencari solusi atas setiap persoalan. Kondisi ini turut mempengaruhi kualitas lulusan PT Indonesia. Sebab mahasiswa hanya terpaku pada teori tetapi tidak dapat memahami ilmu tersebut secara luas. “Paham teori sepenuhnya juga tidak, diminta mengaplikasikan dalam kehidupan nyata juga belum bisa. Lulusan kita akhirnya menjadi lulusan tanggung. Istilahnya, PT kita ketinggalan kereta,” tuturnya.

Direktur SPs UGM, Hartono menambahkan, kondisi inilah yang mengakibatkan kualitas PT Indonesia kalah dengan negara maju. Bila akan dibandingkan, ia menilai setidaknya kualitas PT Indonesia kalah 30 tahun dengan negara maju. Atas alasan itu, SPs UGM berupaya menghadirkan solusi atas setiap permasalahan bangsa. Khusus di DIY, kampus ini berupaya mengembangkan Jogja bagian selatan. Sebab selama ini masyarakat cenderung berkiblat pada potensi yang ada di Gunung Merapi.

Adapun, potensi pesisir laut selatan DIY tidak hanya berkisar pasir besi. Jauh di dasar lautan DIY ini terdapat kandungan bahan bakar minyak (BBM) berlimpah. Potensi ikan yang dihasilkan pun beragam. “Kami tengah berupaya mengubah mindset penduduk dari mistis ke masa depan. Hal ini sesuai petunjuk Pak Sultan [Gubernur DIY], menjadikan kehidupan bahari sebagai pendukung ekonomi Jogja. Tidak mudah memang, karena sama saja menggeser budaya,” ujarnya. (http://www.solopos.com/2013/09/03/, Selasa, 3 September 2013)

Perguruan Tinggi di

Indonesia

(15)

Tantangan Indonesia saat ini adalah kualitas SDM. Dengan potensi penduduk 238 juta orang yang 75 % adalah usia produktif tidak didukung dengan pendidikan yang memadai. Padahal kita dihadapkan dengan era global dengan antara lain disepakatinya Asean Economic Community 2015 yang tinggal satu tahun lagi. Melalui kesepakatan ini arus lalu lintas tenaga kerja antar negara ASEAN dimungkinkan. Bila daya saing manusia Indonesia rendah tentunya akan tergeser di negerinya sendiri. Jadilah mereka terpinggirkan dalam pembangunan kesejahteraan diri dan bangsanya.

PTS tentunya sangat bisa berpartisipasi meningkatkan daya saing manusia Indonesia. asalkan mendapat kesempatan, serta pembinaan yang tepat dari pemerintah selaku penentu kebijakan pendidikan nasional. Ini semua memang sudah termaktub dalam peraturan perundangan, Tetapi realitanya masih lemah dalam implementasi dan pelaksanaan.

Esensi Perguruan Tinggi

Pendidikan di perguruan tinggi tidak lepas dari pemikiran pada pentingnya pelestarian eksistensi manusia, dalam arti membantu manusia lebih manusiawi, lebih berbudaya, sebagai manusia yang utuh berkembang menyangkut daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif) – Ki Hajar Dewantara. Atau bisa disebut, “educate the head, the heart, and the hand !”

Perguruan tinggi selain mencetak individu yang memiliki ilmu juga harus dapat melahirkan individu-individu yang dapat menerapkan, mengembangkan ilmu yang didapatkannya sehingga memberi kemaslahatan bagi masyarakat atau menjadi kata hati umat manusia, kata hati bangsa dan bahkan kata hati kehidupan. Inilah dimensi utuh yang harus dipersiapkan perguruan tinggi yang tentunya berpengaruh pada proses pembelajaran, kurikulum dan iklim pembelajaran. Setiap perguruan tinggi memiliki dan mengembangkan otonomi masing-masing yang tentunya sebuah kecakapan. Melalui otonomi ini perguruan tinggi membuat pilihan dan mempertanggungjawabkan akan hasil dari pilihannya dalam memilih alternatif-alternatif untuk melahirkan para sarjana yang terbaik sehingga berpengaruh sangat signiikan terhadap kurikulum, iklim pembelajaran yang diciptakan dan dibangun (Rektor UPI, Prof. Dr. H. Sunaryo Kartadinata, M.Pd., 2013).

Dengan demikian esensi perguruan tinggi adalah memberikan pendidikan kepada peserta didik agar memiliki kecerdasan jiwa, budi dan intelektualitas. (Lee)

Membangun PTS = Sinergi

Pemerintah, Aptisi & ABPTSI

berkesinambungan, konsisten serta adil. Ketua AB PTSI Jawa Barat, Drs. Sali Iskandar menjelaskan bahwa peta PTS di Jawa Barat (473) terdiri atas : 20 % adalah PTS mapan, mampu mandiri, 30 % PTS menengah, 50 % PTS bawah. Dari peta tersebut tentunya memerlukan perlakuan tepat dalam pelaksanaan kebijakan pembinaannya. AB PTSI selaku asosiasi yayasan penyelenggara pendidikan pada prinsipnya mendukung upaya-upaya meningkatkan kualitas PTS. Tetapi asosiasi mengharapkan perlakuan yang adil agar PTS dalam mengelola pendidikan mendapat pembinaan yang sesuai. Sejauh ini AB PTSI telah mengajak dan melakukan konsolidasi dengan anggotanya untuk terus meningkatkan diri dalam pengelolaan pendidikan tinggi mereka dengan memberikan sosialisasi model penyelenggaraan PT yang baik. AB PTSI selalu melakukan harmonisasi dengan pihak terkait – baik di eksekutif maupun legislatif- dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Hal senada disuarakan pula oleh APTISI Wil. IV A Jawa Barat dalam Musyawarah Wilayah ke-4 yang menggaris-bawahi masalah kualitas. Kualitas menjadi kunci untuk melahirkan sarjana yang berkompeten. PTS pada saat ini mendidik 72 % mahasiswa sehingga perhatian pada kualitas perlu ditingkatkan. Ini menjadi tantangan bagi PTS bagaimana seluruh proses pendidikan dijamin dengan sistem manajemen mutu yang baik. Upaya-upaya PTS untuk meningkatkan sarana dan prasarana, mutu dosen, mutu lulusan seharusnya mendapat dukungan pemerintah. Keberadaan PTS memberikan akses luas kepada masyarakat untuk mendapatkan pendidikan tinggi sekaligus menjamin kualitas pendidikan tinggi sehingga menghasilkan sarjana dengan kompetensi dan karakter yang kuat.

APTISI menekankan isu-isu penting yang perlu dibahas bersama seluruh stakeholder terkait dengan : a) Penataan organisasi PTS menuju PTS yang sehat, b) Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing terkait produk Akademik, c) Peningkatan akuntabilitas dan pencitraan publik yang menjamin proses pendidikan di PTS taat hukum yang berlaku, d) Pemerataan dan perluasan akses pendidikan bagi masyarakat di seluruh Indonesia, dan e) Pembinaan PTS - sebagai peran serta masyarakat - oleh pemerintah secara seimbang.

Kopertis Wil IV Jabar Banten, Prof. Dr. Ir. Abdul Hakim Halim, M.Sc menegaskan perguruan tinggi dituntut menyelenggarakan pendidikan dengan sebaik-baiknya serta tentunya semakin meningkatkan kualitas. Harapannya bahwa apa yang didapat di perguruan tinggi tak hanya ilmu pengetahuan tetapi kemampuan juga harus didapat. Pemerintah berkehendak agar para lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja. Keinginan pemerintah terhadap PTS bukan besaran atau jumlah lulusan (output) yang dihasilkan, tetapi outcome atau kualitas lulusan yang bisa dihasilkan PTS dan bagaimana manfaatnya bagi kemajuan bangsa ini.

rubrik utama

P

embangunan memang sudah menetapkan pendidikan sebagai salah satu prioritas, namun dalam implementasinya diperoleh kesan bahwa penanganan pendidikan masih pragmatis (straight to the problem) belum dalam perspektif jangka panjang dan longitudinal. Hal semacam ini sulit untuk bisa mengatasi masalah pendidikan itu sendiri serta akan kurang memberikan sumbangan yang besar terhadap pemecahan masalah ekonomi. Linking Education to Economy masih belum terpaut. Kesenjangan lainnya, terletak dalam proses pendidikan yang tampak pada proses kegairahan atau motivasi belajar yang belum tinggi, semangat kerja yang relatif rendah. Ada gejala-gejala menurunkan disiplin nasional, generasi santai, sikap hidup yang masih menunggu, konsumtif, tradisional yang belum kreatif produktif modern. Gejala-gejala tersebut merupakan indikasi kesenjangan atau kriteria produktivitas kualitas manusia yang relatif rendah, baik dalam proses maupun iklim pendidikan. Apabila kesenjangan itu dibiarkan berlarut-larut dapat menggangu laju pembangunan. Oleh karena itu, memang seharusnya Kementerian Pendidikan & Kebudayaan terus bergiat melalui kebijakan-kebijakan peningkatan profesionalisme maupun tata kelola pendidikan yang lebih akuntabel, berkualitas, dan terstandarisasi nasional maupun internasional.

PTS memang menjadi perhatian masyarakat, disamping jumlahnya yang fantastis (3.019 dibandingkan 238 juta penduduk dan sebarannya tidak merata), 2,2 juta lebih mahasiswa belajar di PTS, jumlah lulusan sekitar 233.522 orang yang bakal terjun ke duia kerja. Karena itu, perhatian pemerintah selayaknya lebih dikembangkan. Pembinaan ini diperlukan untuk menjamin proses pendidikan berjalan dengan benar, serta semakin produktif dan berkualitas.

Perguruan tinggi swasta (PTS) pertama dan tertua lahir tahun 1945 di Yogyakarta, kemudian bermunculan perguruan-perguruan tinggi swasta berikutnya yang kini telah memberi sumbangsih bagi pengembangan sumber daya manusia Indonesia. Sekitar 3.102 perguruan tinggi tersebar, 95 diantaranya berstatus PTN, selebihnya adalah PTS. Sekitar 72 % mahasiswa belajar di PTS sisanya di PTN. Memang kualitas penyelenggaraan pendidikan di PTS sangat beragam. Dalam realitas tersebut kebijakan pemerintah dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi dirasakan berat sebelah. Dalam arti ada ketidakadilan dalam perlakuan terhadap PTS dan PTN. Ketidakadilan yang kemudian menimbulkan pergesekan.

(16)

rubrik utama

Paradigma Kualitas, Orientasi

PERGURUAN TINGGI SWASTA !!

Perguruan tinggi

khususnya perguruan

tinggi swasta dihadapkan

permasalahan terkait

kontribusi mereka bagi

pembangunan bangsa.

Mereka dihadapkan pada

produktivitas, kualitas

dan akreditasi. Untuk

itu kami menemui Prof.

Dr. Abdul Hakim Halim,

M.Sc – KOPERTIS Wil.

IV Jawa Barat & Banten.

Berikut wawancara

dengan beliau mensikapi

permasalahan perguruan

tinggi swasta.

Satu jam bersama Prof. Abdul Hakim Halim

Sesungguhnya Kopertis sebagai salah satu otoritas pendidikan tinggi serta representasi pemerintah memandang hakekat perguruan tinggi dan khususnya perguruan tinggi swasta (PTS) sebagai penyelenggara, pengelola pendidikan tinggi harus seperti apa dan harus bagaimana ?

Pendidikan tinggi merupakan pendidikan lanjutan dari pendidikan sebelumnya, dan sebagai terminal akhir pendidikan formal yang menghantarkan peserta didik memasuki dunia kerja. Karena itu perguruan tinggi dituntut menyelenggarakan pendidikan dengan sebaik-baiknya serta tentunya semakin meningkatkan kualitas. Dulu, orientasi perguruan tinggi hanya berkisar pada pengetahuan, misal lulusan ekonomi dulu ditanya apa yang kamu ketahui ? Tetapi sekarang yang ditanya adalah kamu bisa apa ? Harapannya bahwa apa yang didapat di perguruan tinggi tak hanya ilmu pengetahuan tetapi kemampuan juga harus didapat. Pemerintah berkehendak agar para lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja. Keinginan pemerintah terhadap PTS bukan besaran atau jumlah lulusan (output) yang dihasilkan, tetapi outcome atau kualitas lulusan yang bisa dihasilkan PTS dan bagaimana manfaatnya bagi kemajuan bangsa ini. Pada awalnya paradigma kualitas lulusan PTS cukup mendapat tanggapan yang beragam. Ada yang beranggapan merupakan sebuah hal yang

sangat merepotkan bagi perguruan tinggi. Tetapi bila melihat jauh ke depan dimana negara lain menunjukkan kualitas pendidikan di perguruan tingginya maju sangat pesat. Maka kualitas pendidikan tinggi merupakan sebuah keharusan supaya bangsa kita tidak tertinggal jauh dari bangsa lain. Tahun 2015 yang mulai mendekat dengan adanya kebebasan aliran dana, produk, tenaga kerja tanpa mengenal batas dapat berakibat cukup fatal bila bangsa ini tidak menanggapinya dengan serius terutama para penyelenggara pendidikan tinggi. Lulusan-lulusan dari negara lain dapat bebas bekerja mencari pekerjaan di negara ini. Apabila kita tidak siap, maka dipastikan lulusan-lulusan dari perguruan tinggi kita hanya jadi penonton saja. Kurang dari 2 (dua) tahun lagi menuju 2015 merupakan waktu yang kurang ideal untuk mendorong peningkatan kualitas pendidikan di perguruan tinggi, tetapi sebetulnya hal ini sudah digaungkan dari beberapa tahun ke belakang. Hanya saja karena kurang mendapat respon yang cepat atau diabaikan hal ini terus terjadi.

Apa permasalahan mendasar terkait pendidikan tinggi dan perguruan tinggi kita sehingga demikian lambat ?

Salah satu hal yang paling mendasar dari

(17)

ilmu, proses pendidikan dan tata kelola yang mencakup kaidah-kaidah pendidikan yang

manageable.

Dimana letak kaitan kualitas dan akreditasi ?

Saat ini semua sepakat bahwa kualitas merupakan sebuah ukuran perguruan tinggi yang diterima di masyarakat. Secara sederhana kualitas sebuah perguruan tinggi dilihat dari akreditasi bukan dari gedung yang mewah atau biaya yang mahal. Akreditasi A untuk perguruan tinggi yang telah menjalankan kegiatan pendidikannya yang sudah sama dengan rata-rata minimum kegiatan pendidikan internasional atau dapat dianggap sudah berada di atas rata-rata pendidikan nasional. Akreditasi B untuk perguruan tinggi yang telah menjalankan kegiatan pendidikannya yang sama dengan rata-rata kegiatan pendidikan nasional atau berada di atas batas minimum kegiatan pendidikan nasional dan akreditasi C untuk perguruan tinggi yang menjalankan kegiatan pendidikannya berada di batas minimum kegiatan pendidikan nasional. Dengan aturan sekarang dari pemerintah, setiap jurusan program studi yang diijinkan diselenggarakan dalam sebuah perguruan tinggi sudah masuk ke akreditasi C dan kemudian perguruan tinggi tersebut mendaftarkan pengakreditasian program studinya untuk diakreditasi supaya tidak berada dalam bawah minimum standar. Jadi akreditasi adalah sebagai salah satu standar kualitas yang secara umum diterapkan dan menjadi acuan bersama. Karena itu, untuk menyongsong tahun 2015 setiap perguruan tinggi harus memiliki inisiatif sendiri meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikannya lebih tinggi, tidak boleh malas dan harus selalu bekerja keras bahkan bekerja lebih keras dibandingkan yang lain. Mulai dari diri sendiri, dari hal yang kecil dan mulai dari sekarang. (Fe, Lee)

pemicu dari lambatnya peningkatan kualitas perguruan tinggi di Indonesia. Permasalahan mendasar yang ada di lapangan dalam penyelenggaraan perguruan tinggi menurut para penyelenggara adalah masalah dana. Tetapi menurut otoritas dalam hal ini Kopertis itu bukan merupakan masalah terbesar, yang paling besar adalah mentalitas atau etos kerja. Dana hanya merupakan indikator saja, yang paling besar adalah kerja keras dan keinginan kuat untuk lebih maju yang paling penting. Jadi sebetulnya

mindset yang salah dari individu yang berdampak ke organisasi penyelenggara pendidikan. Yang akhirnya mengakibatkan sebuah perguruan tinggi tidak dapat meningkatkan kualitas tapi justru dapat mengakibatkan degradasi kualitas.

Mindset kita yang harus dirubah sehingga etos kerja berubah dari yang asalnya kerja asal-asalan dengan sikap yang minimalis menjadi perfektionis dalam bekerja sehingga hasilnya terukur terus meningkat.

Perguruan tinggi swasta sebagai sebuah entitas yang menyelenggarakan pendidikan tinggi tentunya memerlukan produktivitas dalam pengelolaan lembaganya ?

Eisiensi, efektiitas dan produktiitas merupakan terminologi yang ada dalam menjalankan penyelenggaraan pendidikan tinggi bagi sebuah perguruan tinggi yang berorientasi pada kualitas. Unsur-unsur yang harus ada supaya eisiensi, efektiitas dan produktiitas tercapai dalam kaitannya dengan outcome/ kualitas perguruan tinggi supaya market-in

(dalam hal ini lulusan perguruan tinggi dapat terserap oleh dunia usaha) antara lain adalah fasilitas yang mencukupi, manajemen yang baik dalam perguruan tinggi dengan leadership

yang kuat, mahasiswa yang berkualitas bukan asal mahasiswa yang asal-asalan menuntut

Pesan Ketua

KOPERTIS WIL IV:

UNTUK PTS &

YAYASAN

Berbincang dengan Prof. Halim sungguh menyenangkan, beliau begitu terbuka dan berbicara apa adanya..

Dalam perbincangan tersebut Ketua Kopertis Wil IV berpesan kepada institusi perguruan tinggi swasta dan yayasan. Dalam pesannya Ketua Kopertis IV mengungkapkan kualitas pendidikan tinggi

sesungguhnya berangkat dari upaya perguruan tinggi dan bagaimana perguruan tinggi dikelola. Permasalahannya kebanyakan perguruan tinggi mengalami mis manajemen. Padahal ke depan perguruan tinggi secara bertahap harus berkualitas.

Kriteria perguruan tinggi yang bakal menjadi pilihan masyarakat adalah perguruan tinggi yang berkualitas. Karena itu, pesan untuk manajamen perguruan tinggi :

"Jangan menjual ijazah yang harus diperhatikan justru agar perguruan tinggi berupaya menjadi perguruan tinggi berkualitas. Maka visi bagi perguruan tinggi untuk 10 tahun ke depan, yang dijabarkan dalam startegi, program-program serta kegiatan menjadi sangat penting. Kepada Yayasan, jangan sekali-kali perguruan tinggi sebagai lahan mencari uang. Perguruan tinggi adalah tempat untuk membangun generasi mendatang, yang tentunya memerlukan pengorbanan, diantaranya uang. Nah kalau kita sudah punya minat berkontribusi di bidang pendidikan ya lakukan secara maksimum. Dan jangan mengharap sesuatu dan bertanya apa yang akan saya dapatkan. Apa yang kita punya berikan, idealisme selayaknya demikian. Seperti jaman perang kemerdekaan, para pejuang dulu, mereka memberikan yang mereka punya dan mereka berjuang tidak mengharapkan sesuatu. Sebagai pimpinan yayasan dan mempunyai dana berikan sebaik-baiknya untuk keperluan pendidikan. Jadi tujuannya harus pada pendidikan, kalau memang ingin berada di situ". (lee)

Abdul Hakim Halim.

Prof. Dr. Ir. M.Sc

Lahir 14 September 1956 (lima puluh enam tahun lalu) di Cianjur, Jawa Barat

Ketua Kopertis Wil. IV Jawa Barat dan Banten Mulai menjabat 2009 - sekarang

Anggota Senat Institut Teknologi Bandung (ITB), 2010 – sekarang

Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB), 1981 – sekarang

Ketua KKSM FTI, Institut Teknologi Bandung (ITB), 2007 - 2008 Ketua Komisi Pasca FTI, Institut Teknologi Bandung (ITB), 2007 - 2008 Ketua Departemen TI, Institut Teknologi Bandung (ITB), 2004 - 2007

Koordinator Program Doktor TI, Institut Teknologi Bandung (ITB), 2002 -2004 Sekretaris Program MM, Institut Teknologi Bandung (ITB), 2001 – 2002 Sekretaris Prodi Teknik Industri, Institut Teknologi Bandung (ITB), 1998 – 2002 Pendidikan :

S1 - Teknik Industri ITB

S2 - Teknik & Manajemen Indutri ITB

(18)

rubrik utama

APTISI Wil IV A Jawa Barat, Musyawarah Wilayah ke-4

Bangsa Indonesia dengan 238 juta penduduk merupakan bangsa terbesar di ASEAN yang menghuni wilayah seluas 1,9 juta km2 daratan dan 3,1 juta km2 lautan, dengan potensi sumber daya alam yang beragam dan kaya. Indonesia membutuhkan SDM yang berpengetahuan dan berketrampilan tinggi, berbadan sehat dan mempunyai karakter yang kokoh yaitu : jujur, disiplin, peduli dan bertanggungjawab.

D

alam rangka memenuhi tuntutan SDM yang tinggi tersebut maka dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi dituntut dapat memberikan akses luas kepada masyarakat untuk mendapatkan pendidikan tinggi sekaligus menjamin kualitas pendidikan tinggi sehingga menghasilkan sarjana dengan kompetensi dan karakter yang kuat. Beberapa kebijakan dan strategi dalam bidang pendidikan yang perlu diperhatikan pemerintah dan kalangan pendidikan tinggi adalah : a) Peningkatan Equalitas dalam pendidikan dengan meningkatkan APK PT dari 16 % tahun 2011 menjadi 21 % tahun 2015; b) Peningkatan Quality dengan cara : (1) meningkatkan kemampuan mahasiswa sesuai dengan kebutuhan sumberdaya lokal untuk pertumbuhan ekonomi dan (2) mengembangkan

learning process dan character building yang membentuk karakter jujur, disiplin dan kerja keras; c) Meningkatkan Relevancy pendidikan dengan cara : (1) meningkatkan jumlah Entrepreneur dari 0,24 % tahun 2011 menjadi 2,53 % dari angkatan kerja tahun 2015 dan mengembangkan pendidikan berbasis teknik dibanding sosial sesuai kebutuhan industri atau daerah, mengembangkan pendidikan multidisiplin sesuai kebutuhan daerah; serta d) Meningkatkan Competitiveness dengan cara : (1) mengembangkan

competency and talent track yaitu penelusuran bakat dan minat siswa sejak dini mulai SMP ke SMK atau SMU, dan SMU/SMK ke jenjang Vokasi, Sarjana dan Pascasarjana. (2) mendorong universitas

riset untuk menghasilkan jurnal, paten dan HAKI. Terkait dengan upaya peningkatan daya saing melalui peningkatan equalitas, quality, relevancy dan competitiveness, maka APTISI menekankan isu-isu penting yang perlu dibahas bersama seluruh stakeholder terkait dengan : a) Penataan organisasi PTS menuju PTS yang sehat, b) Peningkatan mutu, relevansi dan daya saing terkait produk Akademik, c) Peningkatan akuntabilitas dan pencitraan publik yang menjamin proses pendidikan di PTS taat hukum yang berlaku, d) Pemerataan dan perluasan akses pendidikan bagi masyarakat di seluruh Indonesia, dan e) Pembinaan PTS - sebagai peran serta masyarakat - oleh pemerintah yang seimbang.

APTISI sebagai Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia mempunyai tanggungjawab menyadarkan semua pihak terkait peningkatan

daya saing, sebab APTISI adalah organisasi induk seluruh organisasi perguruan tinggi di Indonesia dan salah satunya wadah kebersamaan antar perguruan tinggi swasta yang penyelenggaraannya untuk memperjuangkan terciptanya sistem pendidikan tinggi yang berdaya guna. Peran perguruan tinggi swasta dalam sistem pendidikan nasional dalam rangka mencerdaskan bangsa adalah nyata. Akselerasi peran perguruan tinggi swasta tersebut dalam menghadapi persaingan global merupakan kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. PTS pada saat ini menampung 72 % mahasiswa, sehingga perannya harus mendapat perhatian yang serius dari seluruh pihak dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan tinggi. Dalam rangka mencapai hasil guna yang diharapkan, kebersamaan antar perguruan tinggi swasta dan penyelenggaranya merupakan sebuah kekuatan yang harus selalu ditumbuh-kembangkan. Oleh karena itu, APTISI perlu menerima dan mengelaborasi isu-isu terkini yang dapat diangkat untuk dapat dibicarakan dan diseleasikan bersama, sehingga akan terlihat nyata kontribusi APTISI yang menaungi unsur-unsur pimpinan perguruan tinggi swasta dan unsur-unsur pimpinan yayasan.

Dari Persaingan ke Sinergi

Peningkatan daya saing dalam rangka ASEAN Economic Community (AEC) 2015 membutuhkan sinergi antar perguruan tinggi dan antar negara. Peranan PTS dalam pendidikan tinggi di Indonesia masih cukup besar, karena 2,2 juta lebih mahasiswa atau 72 % berada di PTS. Oleh sebab itu perhatian pemerintah terhadap PTS patut lebih dikembangkan. Pembinaan

PERMASALAHAN

PERGURUAN TINGGI SWASTA

(19)

tersebut untuk menjamin bahwa proses pendidikan dilakukan dengan benar, serta kualitas dapat terus ditingkatkan.

Beberapa permasalahan yang perlu introspeksi adalah banyaknya pendirian PTS dan Program Studi. Jumlah PTS di atas 3.000 menyebabkan jumlah mahasiswa PTS rata-rata di bawah 1.000 dan hanya mencapai 261 orang. Kondisi demikian tidak memungkinkan PTS mempunyai sumberdaya yang cukup untuk meningkatkan kualitas akademik yang mencakup sarana dan prasarana serta kesejahteraan dosen agar dapat bekerja lebih fokus. Permasalahan lain adalah produktivitas yang rendah dalam lulusan. Tingkat angka eisiensi edukasi rata-rata 11 % dan PTS 10 %. Hal ini menunjukkan bahwa lama kuliah di PTS lebih panjang. Kondisi tersebut dapat disebabkan lambannya dalam proses perkuliahan, terbatasnya sarana laboratorium, dan kurang intensifnya proses bimbingan akademik dan tugas akhir, selain ketersediaan waktu dan kualitas dosen.

Oleh sebab itu, kesadaran antar perguruan tinggi swasta untuk bersinergi dan melakukan resource sharing perlu dilakukan. Hal yang penting juga melakukan proses regionalisasi atau international looking agar dapat melihat perkembangan PTS lain atau perguruan di luar negeri sehingga semangat bekerjasama bisa saling terbentuk. Persaingan antar PTN dan PTS, antara PTS dengan PTS memang akan terus terjadi. Namun demikian hubungan positif antara orientasi pasar dengan kinerja perguruan tinggi harus dapat ditingkatkan.

Terkait kondisi PTS saat ini, persaingan antar PTS tidak boleh dibiarkan tanpa kendali yang menyebabkan organisasi menjadi tidak sehat serta penurunan kualitas. PTS harus diingatkan kembali makna pendidikan yang luhur dalam mendidik anak bangsa menjadi berkompeten dan jujur. Oleh sebab itu, kompetisi antar PTS harus dijamin oleh sistem manajemen mutu yang disepakati semua pihak. Organisasi APTISI (yang terdiri atas 3.200 perguruan tinggi) hendaklah mampu mengubah persaingan tersebut menjadi sebuah sinergi yang membawa manfaat bagi kesejahteraan bersama. Dengan perkataan lain, setiap anggota APTISI diharapkan berkompetisi secara sehat memasarkan produknya serta berkompetisi dengan sejumlah perguruan tinggi asing. Untuk kepentingan itu, sebagai induk organisasi, APTISI harus membina para anggotanya untuk senantiasa melakukan peningkatan mutu proses pendidikan, peningkatan mutu layanan kepada semua stakeholder, dan peningkatan mutu lulusan menjadi komitmen bersama dari semua anggota agar tetap mampu bersaing secara sehat.

Maka salah satu jalan adalah APTISI harus mampu menangkap isu-isu terkini yang ada di masyarakat untuk ditanggapi dan dibahas sehingga mampu menjadikan salah satu jalan keluar dalam menyelesaikan permasalahan isu yang bergulir pada masyarakat, tidak mendiamkan dan mempetieskan.

Permasalahan PTS

Isu-isu yang berkembang di kalangan PTS adalah isu yang berbentuk respon positif maupun negatif, isu yang dikarenakan perkembangan jaman yang menuju globalisasi. PTS tidak bisa berpangku tangan terhadap isu atau permasalahan yang ada di sekitar perguruan tinggi swasta atau masalah bangsa dan negara. Beberapa permasalahan PTS adalah :

a. Dis-Equalitas PTN dan PTS. Pemerintah bermaksud menaikkan APK dari 18 % menjadi 25 %. Program ini membutuhkan dana yang sangat besar, dan pemerintah hanya mampu menyediakan dana 40 – 60 %. Oleh sebab itu, peran PTS sebagai sumbangsih masyarakat menjadi sangat na bagi bangsa dan negara. Namun demikian pemerintah justru kan dikotomi PTN dan PTS. Dikotomi ini sangat terlihat dari pola belanja Negara khususnya di Depdiknas dimana untuk pembinaan atau bantuan bagi PTS (3.200 PTS) kurang dari 6 % dari anggaran yang disalurkan oleh

DIKTI, sementara PTN menerima kurang lebih 94 % dari total anggaran, padahal jumlah PTN adalah 85.

b. Masalah Quality. Kualitas menjadi kunci untuk melahirkan sarjana yang berkompeten. PTS pada saat ini mendidik 72 % mahasiswa sehingga perhatian pada kualitas perlu ditingkatkan. Ini menjadi tantangan bagi PTS bagaimana seluruh proses pendidikan dijamin dengan sistem najemen mutu yang baik. Upaya-upaya PTS untuk meningkatkan sarana dan prasarana, mutu dosen, mutu lulusan harus dapat didukung peme- rintah.

c. Masalah Relevancy. Masalah relevansi pada saat ini menjadi masalah yang serius bagi pendidikan tinggi. Banyaknya pengangguran adalah salah satu dari kurang adanya relevansi. Dunia industri membutuhkan banyak sarjana berbasis teknik untuk manufaktur, namun demikian dunia pendidikan banyak menawarkan pendidikan berbasis sosial, mana program studi sampai 62 % terdiri ilmu sosial. Hal inilah yang menyebabkan tidak bertemunya antara lulusan PT dan kebutuhan industri. Oleh sebab itu, menjadi tantangan PTS untuk melakukan sinergi dengan industri dan pemerintah daerah untuk mengembangkan program studi dan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan daerah yang bersifat spesiik.

Gambar

Tabel 1    Hasil Stress Test pada Juni 2013
Gambar 2   Distribusi Total Simpanan berdasarkan simpanan yang

Referensi

Dokumen terkait