• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH AKUNTANSI MANAJEMEN STRATEGIS AC

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH AKUNTANSI MANAJEMEN STRATEGIS AC"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

AKUNTANSI MANAJEMEN STRATEGIS

“ACTIVITY BASED COSTING AND CUSTOMER

PROFITABILITY ANALYSIS”

)

Disusun oleh :

1. Diana Putri C

(62201114004)

2. Muhamad Ilham

F

(62201114025)

3. RekaApriani

(62201114017)

UNIVERSITAS NURTANIO BANDUNG

Program Studi Akuntansi

Fakultas Ekonomi

Bandung

(2)
(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat, rahmat dan hidayahNya, sehingga kami diberikan kemudahan dan kelancaran dalam menyelesaikan makalah yang berjudul “Activity Based Costing and Customer Profitability Analysis”.

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas kelompok mata kuliah Akuntansi Manajemen Strategis. Dengan tersusunnya makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada berbagai pihak yang membutuhkan.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kami mengharapkan kritik ataupun masukan yang membangun demi kesempurnaan pembuatan makalah ini untuk masa yang akan datang dan lebih bermanfaat bagi pembaca.

(4)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... i

Daftar Isi ... ii

BAB I Pendahuluan ... 1

1.1. Latar Belakang Masalah ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 1

1.3. Tujuan ... 2

BAB II Pembahasan ... 3

2.1. Activity Based Costing………... 3

2.2. Customer Profitabillity…... 4

2.3. Kasus Allied Office Products………... 10

(5)
(6)

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Bab ini menjelaskan hubungan penerapan observasi dalam mananajemen biaya. Mengapa? Karena dengan memiliki biaya yang akurat perusahaan dapat menentukan produk yang menguntungkan. Informasi biaya yang akurat memberikan keunggulan kompetitif. Ini membantu perusahaan atau organisasi untuk mengembangkan dan melaksanakan strategi dengan memberikan informasi yang akurat tentang biaya produk dan layanan, biaya melayani pelanggan, biaya berurusan dengan pemasok, dan biaya penunjang proses bisnis dalam perusahaan.

1.2. Rumusan Masalah

Dengan pembuatan makalah ini, penyusun berusaha memahami dan menyajikan data yang berhubungan dengan “Activity Based Costing And Customer Profitabillity Analyis”. Oleh karena itu, penyusun mencoba merumuskan permasalahan sebagai berikut:

1. Apa yang dimaksud dengan Activity Based Costing?

2. Apa yang dimaksud dengan Customer Profitabillity Analyis?

1.3. Tujuan

Maksud dari pembuatan makalah ini adalah untuk memperoleh pengetahuan tentang “Activity Based Costing And Customer Profitabillity Analyis”.

(7)

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Activity Based Costing (ABC) 2.1.1. Definisi Activity Based Costing (ABC)

Menurut Bastian Bustami dan Nurlela (2009:25) Activity-Based Costing adalah: “Metode membebankan biaya aktivitas-aktivitas berdasarkan besarnya pemakaian sumber daya dan membebankan biaya pada objek biaya, seperti produk atau pelanggan, berdasarkan besarnya pemakaian aktivitas, serta untuk mengukur biaya dan kinerja dari aktivitas yang terikat dengan proses dan objek biaya”.

Menurut William K. Carter dan Milton F. Usry (2004:496) Activity-Based Costing adalah: “Suatu sistem perhitungan biaya di mana tempat penampungan biaya overhead yang jumlahnya lebih dari satu dialokasikan menggunakan dasar yang memasukkan satu atau lebih faktor yang tidak berkaitan dengan volume (non-volume-related factor)”.

Pengertian ABC (Activity Based Cost) sistem dalam Mulyadi (2003:25) merupakan: “sistem informasi biaya yang menyediakan informasi lengkap tentang aktivitas untuk memungkinkan personil perusahaan melakukan pengelolaan terhadap aktivitas”.

(8)

biaya untuk menentukan biaya kegiatan dan kemudian ke objek biaya. ABC memberikan biaya overhead pabrik untuk biaya objek seperti produk atau jasa dengan mengidentifikasi sumber daya dan kegiatan serta biaya dan jumlah yang dibutuhkan untuk menghasilkan output.

2.1.2. Manfaat Activity Based Costing System

1) ABC menyajikan biaya produk yang lebih akurat dan informative, yang menuju pada pengukuran kemampuan perolehan laba atas produk yang lebih akurat dan keputusan-keputusan strategis yang diinformasikan dengan lebih baik mengenai harga jual, lini produk, pasar pelanggan dan pengeluaran modal.

2) ABC memberikan pengukuran yang lebih akurat atas biaya-biaya pemacu aktivitas, yang membantu manajer memperbaiki produk dan proses menilai dengan membuat keputusan desain produk yang lebih baik, pengendalian biaya yang lebih baik dan membantu mempertinggi berbagai nilai objek.

3) ABC membantu manajer lebih mudah mengakses informasi tentang biaya-biaya yang relevan dalam membuat keputusan bisnis.

2.1.3. Keterbatasan Activity Based Cost System

1) Pengalokasian

Sekalipun data aktivitas tersedia, banyak biaya-biaya mungkin perlu dialokasikan dan produk-produk yang didasarkan pada ukuran volume berubah-ubah karena secara praktis tidak dapat ditemukan suatu aktivitas khusus yang menyebabkan timbulnya biaya-biaya tidak menjadi mudah.

2) Biaya-biaya yang diabaikan

(9)

pemasaran, periklanan, riset dan pengembangan, teknik produk dan klaim jaminan.

3) Biaya dan waktu yang digunakan

System ABC sangat mahal untuk dikembangkan dan diterapkan.Hal ini juga sangat memakan waktu.Seperti kebanyakan manajemen inovasi atau sistm akuntansi, seringkali memerlukan lebih dari setahun untuk mengembangkan dan melaksanakan ABC dengan berhasil.

2.1.4. Kelebihan dan Kelemahan Metode Activity Based Costing (ABC)

Sebuah sistem yang ada tidak selalu memberikan nilai positif bagi sebuah perusahaan yang menggunakannya tetapi ternyata dapat juga memberikan nilai negatif bagi perusahaan. Sistem Activity Based Costing ternyata memiliki juga kelemahan yang harus diperhitungkan pula oleh perusahaan yang menggunakannya.

1. Kelebihan dari sistem ABC

a. Dapat mengatasi diversitas volume dan produk sehingga pelaporan biaya produknya lebih akurat.

b. Mengidentivikasi biaya overhead dengan kegiatan yang menimbulkan biaya tersebut.

c. Dapat mengurangi biaya perusahaan dengan mengidentifikasi aktivitas yang tidak bernilai tambah.

d. Memberikan kemudahan kepada manajemen dalam melakukan pengambilan keputusan.

2. Kelemahan dari sistem ABC

(10)

b. Tidak menunjukkan biaya yang akan dihindari dengan menghentikan memproduksi lebih sedikit produk.

c. Memerlukan upaya pengumpulan data yang diperlukan guna keperluan persyaratan laporan keuangan.

d. Implementasi sistem ABC belum dikenal dengan baik sehingga prosentase penolakan terhadap sistem ini cukup besar.

2.2. Pengertian Customer ProfitabilityAnalysis 2.2.1 Definisi Customer Profitability Analysis

1) Horngen et al. (2003: 475) mendefinisikan Customer Profitability Analysis adalah analisis dan pelaporan pendapatan yang diperoleh dari pelanggan dan biaya–biaya yang terjadi untuk memperoleh pendapatantersebut. 2) Hilton et al. (2003: 159) mendefinisikan Customer Profitability Analysis

adalah pendekatan manajemen biaya yang mengindentifikasikan biaya dan manfaat dari pelayanan kepada pelanggan atau kelompok pelanggan tertentu untuk meningkatkan profitabilitas organisasi (perusahaan) secara keseluruhan.

Profitabilitas dalam penelitian ini tidak diartikan sebagai kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dalam hubungannya dengan penjualan, namun lebih diartikan sebagai selisih antara laba kotor dengan biaya pelayanan pelanggan.

2.2.2 Pentingnya Customer ProfitabilityAnalysis

(11)

menandingkan biaya jasa yang meningkat dengan manfaat (Hansen dan Mowen, 1999: 176).

Connolly dan Ashworth (1994: 34) menyebutkan bahwa banyak organisasi menyatakan memusatkan diri pada pelanggan dan mengenali tingkat pemakaian sumber daya oleh pelanggan, tetapi yang bertentangan bahwa angka dan jumlah (biaya pelayanan pelanggan) tidak diukur dan dilaporkan. Hal ini mengakibatkanperusahaan tidak memahami hubungan angka dan jumlah biaya pelayanan pelanggan dengan akun laba kontribusi pelanggan. Hal ini benar ketika semua biaya relevan pemakaian sumber daya perusahaan oleh pelanggan diperhitungkan. Perusahaan yang tidak waspada, dapat menerima akibat yaitu kerugian bagi perusahaan itu sendiri.

Adapun manfaat yang dapat diperoleh dengan menggunakan Customer Profitability Analysis adalah sebagai berikut (Cannolly dan Ashworth, 1994):

1) Seperangkat strategi petunjuk bagi perusahaan dengan cara memusatkan padapelanggan.

2) Mengidentifikasi konflik yang potensial pada tahap awal dan kemudian membantu memecahkan mereka sebelum sampai ke masa– masagawat.

3) Meyakinkan bahwa sumber alokasi yang langka antara pelanggan menghasilkan pendapatan yangmaksimum.

4) Memusatkan dan mengidentifikasi penurunan biaya melaluibenchmarkinginternal dan eksternal.

5) Membuat perhitungan total investasi dan keputusan harga dan membantu dalam negosiasi denganpelanggan.

6) Memonitor dan mengendalikan laba terus menerus dan kesejahteraan perusahaan.

(12)

Pendekatan analisis biaya pelanggan menggali lebih dalam tingkatan pendapatan

(top line revenue), menganalisis margin, dan dimensi biaya pelayanan (cost to serve) untuk membuka asal usul kontribusi laba pada perusahaan. Dengan cara ini, Customer Profitability Analysis dapat membangkitkan perusahaan dan penyalur untuk mengukur pelanggan individu, segmen tertentu, profitabilitas pasar, dan keluar dari pengukuran biaya dengan rata–rata yang terkadang tidak jelas atau kabur menjadi jelas sehingga diperoleh pemahaman yang berarti.

Berdasarkan uraian diatas maka terdapat tiga alasan utama suatu perusahaan perlu melakukan Customer Profitability Analysis, yaitu:

1. Customer Profitability Analysis memberikan informasi yang lebih akurat dengan menganalisis secara detil pendapatan dan biaya pelayanan masing– masing pelanggan serta keterkaitan antara laba operasi perusahaan dengan pelanggannya.

2. Banyak perusahaan yang mulai berusaha memfokuskan diri pada pelanggannya tetapi tidak mencatat dan memahami hubungan antara angka dan jumlah biaya pelayanan pelanggan.

3. Customer Profitability Analysis adalah alat strategis yang penting yang berpotensi membangkitkan energi perusahaan dan penyalur untuk mulai memikirkan profitabilitas, biaya, pelanggan, dan prosesbisnisnya.

Cotton (dikutip dalam Sunarni, 2006:76) menyebutkan dengan mengetahui kontribusi setiap customer atau kelompok customer terhadap laba perusahaan,maka diharapkan dengan analisa ini perusahaan akan mampu untuk melakukan beberapa hal berikut ini:

1. Melindungi dan mengembangkan perusahaan dengan memfokuskan pada kelompok profitablecustomer

2. Meninjau kembali penetapan harga bagi produk atau jasa yang dihasilkan dengan mendasarkan biaya untuk melayani setiap kelompokcustomer. 3. Mengembangkan business dengan menggunakan biaya yang rendah untuk

melayani customer atau kelompokcustomer

(13)

5. Mampu mendapatkan customer atau kelompok customer yang menguntungkan dari para pihak pesaing.

Harvey (2005) mengatakan bahwa dengan melakukan analisa profitabilitascustomer, perusahaan akan mampu melakukan hal–hal berikut ini:

1. Memutuskan dengan tepat penggunaan sumber–sumber ekonomi perusahaan yang terbatas dengan sebaik-baiknya untuk kepentingancustomer

2. Mengubah kebiasaan atau perilaku customer dalam melakukan pembelian atau mengubah kebiasaan perusahaan dalam melakukan transaksi penjualan agar lebihmenguntungkan.

3. Mampu mengarahkan akivitas pemasaran dan kekuatan tenaga penjual dengan tepat pada target pasar yang menguntungkan bagi paraperusahaan. 4. Mampu melakukan negosiasi harga dan potongan harga bagi setiap

customer dengan lebih baik, berbeda-beda tergantung pada kontribusi

customer pada profitabilitasperusahaan.

2.2.3. Penerapan Customer ProfitabilityAnalysis

Ada berbagai macam metode yang digunakan untuk menerapkan Customer Profitability Analysis, antara lain:

Customer Profitability Analysis menurut Supriyono (1987 :229). Untuk memperoleh laba yang optimal dari pelanggan, suatu perusahaan perlu mengetahui besarnya biaya yang telah dikeluarkan untuk melayani pelanggannya. Biaya–biaya tersebut berupa biaya pemasaran baik biaya pemasaran langsung maupun tidak langsung.

Biaya pemasaran ini mengurangi laba kotor yang diperoleh perusahaan sehingga laba yang diterima menjadi kecil. Analisa laba pelanggan dapat dilakukan dengan langkah – langkah sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi pelanggan sesuai dengan analisis pelanggan yang dikehendaki.

(14)

3. Menentukan besarnya harga pokok penjualan untuk setiap pelanggan sesuai konsep yang digunakan.

4. Menghitung laba kotor atas penjualan atau batas kontribusi kotor setiap pelanggan.

5. Menentukan besarnya biaya pemasaran langsung untuk setiappelanggan. 6. Menghitung laba pelanggan atau kontribusi setiap pelanggan sebelum

diperhitungkan biaya pemasaran tidak langsung dan biaya administrasidan umum

7. Menghitung biaya pemasaran tidak langsung dan biaya administrasi dan umum

8. Menghitung lababersih

Setiap customer membutuhkan penanganan yang berbeda – beda dari pihak manajemen. Masing – masing kategori dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Potential

Daerah ini menunjukkan pendapatan yang rendah namun prosentase kemampuan menghasilkan laba pelanggan tinggi. Untuk pelanggan dalam kategori ini, perusahaan harus meningkatkan usaha penjualan yang diikuti oleh aktivitas pelayanan yang lebih baik.

2. Winners

Daerah ini menunjukkan pendapatan yang tinggi disertai prosentase kemampuan menghasilkan laba pelanggan yang tinggi pula. Untuk pelanggan dalam kategori ini, perusahaan harus mempertahankan usaha penjualan dan aktivitas pelayanan yang telah diberikan.

3. Losers

Daerah ini menunjukkan pendapatan yang rendah dan diikuti dengan prosentase kemampuan menghasilkan laba pelanggan yang rendah. Untuk pelanggan dalam kategori ini perusahaan harus membatasi aktivitas pelayanan tambahan untuk menekan biaya yang ditimbulkan dari hal tersebut. Selain itu pihak manajemen perlu memusatkan perhatian untuk meningkatkan nilai penjualan bagi pelanggan dalam kategori ini.

4. Problems

(15)

kategori ini perusahaan harus mencari penyebab rendahnya kontribusi laba dari pelanggan ini meskipun nilai pembeliannya tergolong besar.

Kelebihan dari analisis ini setelah perhitungan, laba bersih masing– masing customer dapat dikelompokkan dalam 4 kategori sehingga perusahaan dapat mengetahui customer mana yang potensial dalam meningkatkan laba perusahaan. Sedangkan kelemahan dari analisis ini, sulitnya mengelompokkan

customer ke dalam setiap kategori yang ada, karena muncul banyak metode dalam pengelompokkancustomer.

Customer Profitability Analysis menurut Wiwik Sunarni (2006:76)

Penerapan Customer Profitability Analysis sebagai upaya untuk mengetahui tingkat profitabilitas setiap customer atau kelompok customer dapat dilakukan melalui 6 tahap berikut :

1) Mengidentifikasi dan mendefinisikan kelompok customer atau customer

berdasarkan kebutuhan perusahaan. Pengelompokkan kosumen dapat dilakukan berdasarkan kelompok umur, gender, jumlah unit perorder, frekuensi pemesanan per periode, profesi, jenis usaha, tempat tinggal dan seterusnya.

2) Mengidentifikasi faktor–faktor yang menyebabkan adanya perbedaan perlakuan ataupun fasilitas yang digunakan dalam melayani setiap kelompokcustomer.

3) Menganalisa cara yang telah digunakan perusahaan untuk melayani kelompok customer secaraberbeda.

4) Mengidentifikasi sumber–sumber ekonomi perusahaan yang telah digunakan untuk melayani setiap kelompok customer. Sumber ekonomi dapat berupa karyawan, alat transportasi, gudang, kegiatan administrasi dan lain sebagainya. Kebanyakan sumber ekonomi perusahaan digunakan secara bersama bagi pelayanancustomer.

(16)

secara bersama, maka perlu dialokasikan setiap customer untuk dapat diketahui jumlah sumber ekonomi yang dibutuhkan bagi pelayanan setiap

customer untuk dapat diketahui jumlah sumber ekonomi yang dibutuhkan bagi pelayanan setiap customer. Agar alokasi sumber ekonomi ke setiap

customer dilakukan secara akurat, maka dasar aktivitas atau yang lebih dikenal dengan activity Based Costing (ABC) merupakan cara yang paling tepat.

6) Mempertemukan hasil penjualan setiap kelompok customer dengan biaya yang dibutuhkan untuk melayaninya untuk menentukan besarnya laba setiapkelompokcustomer.

Biaya merupakan cerminan nilai dari sumber ekonomi perusahaan yang dikonsumsi oleh setiap kelompok customer. Tingkat profitabilitas dapat di lihat dari jumlah laba setiapkelompok customer atau dengan rasio antara laba dengan jumlah penjualanan per kelompok.

Tingkat profitabilitas setiap customer dapat dilihat dari jumlah laba setiap kelompok customer atau dengan rasio antara laba dengan jumlah penjualan per kelompok pelanggan.

1) Mengindentifikasi dan mengelompokkan pelanggan berdasarkan daya tersambung.

2) Menganalisa cara perusahaan dalam melayani setiap kelompokpelanggan. 3) Mengindentifikasi pendapatan, BPP, subsidi, dan menghitung laba kotor

setiap golongan tarif pada kelompok pelangganbisnis.

4) Mengalokasikan biaya tidak langsung ke kelompok pelangganbisnis. 5) Menyusun Customer Profitability AnalysisReport

(17)

2.3. Kasus Allied Office Product

Kasus Allied Office Products Allied Office Product adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur dalam pembuatan segala macam jenis kertas dan form seperti amplop, kertas tulis, kartu ucapan, dan kartu pesan. Pada tahun 1988, Allied Product Company memperluas bisnis mereka dalam bidang layanan manajemen persediaan. Allied berkeyakinan bahwa bisnis layanan manajemen persediaan ini akan mendatangkan nilai tambah dan terbilang unik dibandingkan dengan para perusahaan pesaingnya. Allied juga memulai program yang dinamakan Total Form Control (TFC), dimana program ini menyediakan berbagai layanan seperti layanan yang berkaitan dengan pergudangan dan distribusi form (termasuk pendanaan persediaan), serta pengendalian persediaan dan pelaporan penggunaan form. Allied menggunakan jaringan sistem komputer yang canggih utnuk memonitor persediaan milik pelanggannya, penggunaa form, dan aktivitas pemesanan. Mereka menyediakan informasi-informasi berkaitan dengan hal tersebut dalam bentuk yang sederhana dan mudah untuk dibaca oleh pihak manajemen pelanggan. Layanan distribusi Allied terdiri dari layanan Pick Pack dan Desk Top Delivery. Return on investment TFC mengalami penurunan yang mengindikasikan bahwa perusahaan tidak dikelola dengan baik. Hal ini berkaitan dengan biaya yang seharusnya dikenakan terhadap klien. Tidak fair ketika dua klien membeli produk dalam jumlah yang sama, tetapi salah satu menyimpan inventori lebih lama dan menginginkan pengiriman secara bertahap. Seharusnya klien dibebankan biaya yang sesuai. Masalah yang dihadapi oleh Allied adalah :

1) Customer Profitability”. Tidak semua pelanggan menguntungkan tetapi dengan bantuan ABC dapat diketahui pelanggan mana yang menguntungkan.

(18)

Perhitungan Biaya Layanan Distribusi untuk Pelanggan A dan B dengan Sistem Perhitungan Biaya Baru Pelanggan A Pelanggan B.

Pelanggan A Pelanggan B Freight charge $2.250 Charge “desk top”

($29.41 x 26 desktop)

(19)

pendapatan yang lebih besar kepada perusahaan, karena pelangganr B menggunakan banyak jasa perusahaan. Ketergantungan pelanggan B begitu tinggi terhadap perusahaan, dikarenakan lebih banyak memanfaatkan fitur perusahaan daripada pelanggan A yang selama ini berperan sebagai pembeli biasa yang tidak terlalu merepotkan perusahaan. Oleh karena itu, perusahaan Allied bisa mempertahankan pelanggan B dan pelanggan A sekaligus dengan prinsip ABC, karena aktivitas yang mereka bebankan ke perusahaan berbeda, dan pendapatan yang diterima oleh perusahaan seharusnya berbeda pula. 3.4 Keputusan Implementasi Sistem Penetapan Harga SBP Menurut kelompok kami, divisi TFC patut untuk mengimplementasikan Service based Pricing di dalam kegiatan operasinya. Penerapan SBP akan membantu manajemen untuk membebankan biaya kepada konsumen sesuai pelayanan yang didapatkan konsumen tersebut. Tidak adil ketika dua klien membeli produk dalam jumlah yang sama, tetapi salah satu menyimpan inventori lebih lama dan menginginkan pengiriman secara bertahap. Seharusnya klien dibebankan biaya yang sesuai. SBP membantu perusahaan untuk memperoleh pendapatan yang lebih besar dengan menciptakan charges for services yang tidak ditawarkan oleh cost based system. Ketika ROI perusahaan menurun dalam beberapa waktu terakhir, SBP memberikan kesempatan untuk menciptakan sistem pembiayaan yang memberikan pertumbuhan pendapatan yang lebih stabil. Namun mungkin sistem SBP ini tidak menjamin bahwa profitabilitas TFC akan meningkat, dengan bantuan ABC system (yang berguna untuk mengetahui pelanggan yang menguntungkan dan yang tidak), SBP akan memberikan kontribusi yang besar terhadap net sales dari divisi TFC. 3.5 Saran Manajerial untuk Allied Mengenai Bisnis TFC Manajemen memiliki beberapa aspek menguntungkan dalam operasi mereka dalam menjalankan bisnis mereka seperti memiliki proporsi yang lebih besar dari pusat distribusi dan layanan yang diberikan. Namun, mereka kurang dalam pelayanan kepada klien mereka.

(20)

untuk mengawasi dan memberikan saran pada setiap perubahan yang harus dilakukan untuk meningkatkan bisnis dan membawanya ke pandangan positif terhadap perusahaan. Adapun beberapa poin saran yang dapat ditambahkan sebagai berikut:

1. Penyesuaian pengelolaan kawasan dengan tingkat pelayanan. Alasannya adalah karena meskipun rekening nasabah A dan B keduanya membuat penjualan tahunan $79.320 dengan biaya produk menjadi $50.000, sistem saat ini dikenakan biaya layanan yang sama. Meskipun account tersebut adalah sama hanya dalam produk yang dijual, mereka berbeda dalam tingkat layanan yang diperlukan oleh Sekutu.

2. Layanan dan maintenance‟ harus sama dengan semua klien, baik kecil atau besar.

(21)

BAB III KESIMPULAN

1. Kesimpulan

Metode manajemen biaya yang canggih seperti Activity Based Costing (ABC) banyak diterapkan pada perusahaan – perusahaan dunia. ABC membantu perusahaan mengurangi distorsi yang disebabkan oleh sistem penentuan harga pokok tradisional, sehingga dengan ABC dapat diperoleh biaya produk yang lebih akurat. ABC menyediakan pandangan yang jelas bagaimana perusahaan membedakan produk, jasa dan aktivitas yang memberikan kontribusi dalam jangka panjang.

(22)

Referensi

Dokumen terkait