STANDAR MUTU PENDIDIKAN AGAMA DALAM UJIAN NASIONAL1 Oleh Priyo Sudibyo, S.Pd.I
PENDAHULUAN
Pendidikan adalah investasi bagi masa depan suatu negara. Pembangunan serta pertumbuhan suatu negara dimulai dari mempersiapkan sumber daya manusia. Negara yang dikelola oleh sumber daya manusia yang baik akan memberi kemajuan dan hasil optimal. Sebaliknya, sebanyak apapun sumber daya alam yang dimilki negara apabila tidak dikelola dengan baik dan oleh sumber daya manusia yang baik tidak akan dapat bersaing dengan negara yang memiliki SDM yang baik. Sebagai contoh adalah negara Singapura. Singapura adalah negara kecil namun memiliki SDM yang baik sehingga industri dan pemerintahan dikelola dengan baik. Sedangkan Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah namun tak juga kunjung menjadi negara maju.
Pengembangan pendidikan pada dasarnya dapat diwujudan dengan berbagai cara
dengan pengelolaan yang baik “budaya organisasi/manajemen”. Dalam dunia pendidikan dikenal istilah “TQM” (Total Quality manajemen) adalah menejemen pengelolaan pendidikan yang diambil dari dunia industri. TQM digunakan dalam dunia industri digunakan untuk
membuat produk dengan kualitas standar. Menurut Pieterse ini adalah salah satu produk globalisasi yang juga dapat diartikan standarisasi. Dalam dunia industri banyak muncul perusahaan tingkat dunia mengeluarkan produk yang sama seperti yang terjadi pada industri Coca-Cola dan MC Donald kemudian Pierterse menyebutnya dengan Cocalanization dan Mac-Donalisation.2
Dewasa ini pengelolan manajemen berbasis mutu (TQM) dalam pendidikan belum dikelola dengan baik dan sistematis. Namun usaha usaha untuk menuju “kemapanan” dalam pengelolaan pendidikan tahap demi tahap mulai diusahakan. Hal itu mulai nampak dengan
1Disa paika dala se i ar kelas ata kuliah A alisis Ke ijaka Pe didika Isla ya g dia pu oleh Dr.
Arifi, M.Ag Program Studi Magister Pendidikan Islam, Konsentrasi Manajemen dan Kebijakan Pendidikan Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
1
adanya Standar Nasional Pendidikan yang dikeluarkan oleh pemerintah yaitu PP 19 tahun 2005. Meski demikian adanya perbedaan idealisme dan konsep dalam pengembangan pendidikan yang dimilki oleh pemerintah (dalam hal ini adalah kementrian Pendidikan) seringkali membuat pelaksana pendidikan di tingkat lembaga pendidikan (sekolah) merasa kebingungan seperti yang terjadi pada kurikulum 2013 yang dirintis oleh M Nuh. Seiring pergantian menteri Anis Baswedan sebagai menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, kembali memperbolehkan satuan pendidikan apabila ingin kembali menerapakan kuriklum KTSP. Alhasil dalam satu tingkat pendidikan bahkan dalam satu kelas memiliki dua kurikulum yang
berbeda.
PEMBAHASAN
Standar mutu pendidikan
Peningkatan mutu pendidikan adalah hal mutlak dibutuhkan dalam meningkatkan kuliatas sumber daya manusia. Asumsi bahwa pendidikan yang baik akan menghasilkan out-put yang baik, dan out-put yang baik kelak akan menjadi pemerintah yang baik sehinga mengantarkan negara pada kemajuan dan kemapanan. Langkah awal untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan menata tahap demi tahap jenjang pendidikan dari masa pra-sekolah (pre-school), pendidikan dasar, pendidikan menengah hingga pendidikan tinggi. Untuk mengembangkan masing-masing satuan pendidikan di Indonesia memang tidak mudah karena jumlahnya ada puluh ribuan, sehingga langkah awal adalah membuat sistem standar yang diberlakukan di setiap jenjang pendidikan.
Salah satu upaya dalam mewujudkan peningkatan mutu pendidikan adalah peraturan pemerintah tahun 19 tahun 2005. PP ini membahas standar mutu pendidikan nasional yang terdiri dari 8 poin Lingkup Standar Nasional Pendidikan yaitu:
a. Standar isi;
Standar Isi adalah isi/materi yang disampaiakan dalam pembelajaran guna mencapai
kompetensi di masing-masing tingkat susuai jenis pendidikan. Standar isi terdiri dari; kerangka dasar dan struktur kurikulum, beban belajar, kurikulum tingkat satuan
pendidikan, dan kalender pendidikan/akademik. b. Standar proses;
2
inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Selain itu, dalam proses pembelajaran seorang pendidik juga mengajarkan keteladanan sebagai upaya penanaman karakter pada peserta didik. Standar ini terdiri dari perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, serta pengawasan proses pembelajaran guna mewujudkan pembelajaran yang baik. Standar proses ini merupakan jalan yang harus ditempuh guna
mengantarakan peserat didik unutk mencapai satandar kompetensi lulusan. c. Standar kompetensi lulusan;
Standar kompetensi lulusan adalah standar yang digunkan untuk menilai serta mengukur kompetensi lulusan peserta didik. Standar ini meliputi standar kompetensi lulusan minimal satuan pendidikan dasar dan menengah, standar kompetensi lulusan minimal kelompok mata pelajaran, dan standar kompetensi lulusan minimal mata pelajaran. Dalam PP no 32 tahun 2013, kompetensi lulusan adalah kriteraia yang berkaitan denan kualifikasi luusan yang terdiri dari aspek sikap, pengetahuan dan ketrampilan.
d. Standar pendidik dan tenaga kependidikan;
Standar pendidik dan tenaga kependidikan mengatur kualifikasi akademik serta kompetensi yang harus dimiliki pendidik dan tenaga kependidikan. Maksud dari kulifikasi akademik adalah standar minimum pendidikan/kursus yang kemudian dapat dibuktikan dengan ijazah atau sertifikat baik pendidik maupun tenaga kependidikan sebelum menjadi pendidik dan tenaga kependidikan (pra-jabatan) . Selain itu, standar ini juga mengatur kompetensi pendidik yang meliputi;
Kompetensi pedagogik;
Kompetensi kepribadian;
Kompetensi profesional; dan
Kompetensi sosial.
Tenaga Kependidikan yang dimaksud meliputi; kepala sekolah/madrasah, pengawas satuan pendidikan, tenaga administrasi, tenaga perpustakaan, tenaga laboratorium, teknisi, pengelola kelompok belajar, pamong belajar, dan tenaga kebersihan.
3
Standar sarana dan prasarana mengatur sarana dan prasarana minimal yang harus dimilliki oleh satuan pendidikan. Sarana tersebut meliputi perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. Untuk prasarana minimal yang harus dimiliki satuan pendidikan adalah lahan, ruang kelas, ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi daya dan jasa, tempat berolahraga,
tempat beribadah, tempat bermain, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. f. Standar pengelolaan;
Standar Pengelolaan adalah perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan meliputi tiga aspek; Standar pengelolaan yang dilakukan oleh satuan pendidikan, Standar pengelolaan yang dilakuakn oleh Pemerintah Daerah dan Standar pengelolaan yang dilakukan Pemerintah.
g. Standar pembiayaan
Standar pembiayaan pendidikan adalah komponen dan besarnya biaya yang dihabiskan dalam satu tahun. Dalam standar nasional pendidikan, standar pembiayaan dapat dikalsifikasi dalam terdiri atas tiga garis besar yaitu :
Biaya investasi satuan pendidikan yang terdiri atas; biaya penyediaan sarana dan prasarana, pengembangan sumberdaya manusia, dan modal kerja tetap.
Biaya personal meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara teratur dan berkelanjutan.
Biaya operasi satuan pendidikan meliputi: Gaji pendidik dan tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada gaji, Bahan atau peralatan pendidikan habis pakai, dan Biaya operasi pendidikan tak langsung berupa daya, air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak, asuransi, dan lain sebagainya.
h. Standar penilaian pendidikan.3
4
Standar penliaian adalah kriteria mengenai mekanisme, prosedur dan instrument peneilaian hasil belajar yang digunkana unutk mengukur ketuntasasn belajar peserta didik. Unutk pendidikan dasar terdiri atas;
Penilaian hasil belajar oleh pendidik (ulangan, kuis dan lain sebagainya)
Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan (ujian tengah semeseter, ujuan akhir semester)
Penilaian hasil belajar oleh Pemerintah (Ujian Nasional, USBN, UMBN dan lain sebagainya)
Berbeda dengan standar penilaian pendidikan pada pendidikan tinggi yang hanya terdiri dari dua model yaitu;
Penilaian hasil belajar oleh pendidik (ulangan, kuis dan sebagainya)
Penilaian hasil belajar oleh satuan pendidikan tinggi (UTS, UAS, sidang skripsi dan sebagainya)
Penilaian pendidikan tinggi tidak melibatkan pemerintah seperti yang terjadi pada pendidikan dasar dan menengah. Hal ini didasarkan pada kematangan pendidikan tinggi untuk mengelola pendidikan secara mandiri sehingga kalender akademik pun berbeda antara perguruan tinggi satu dengan perguruan tinggi yang lain. Meski demikian pemerintah tetap memberikan aturan dalam perundang undangan sebagai acuan umum
pelaksanaan pendidikan di perguruan tinggi.
Delapan standar di atas adalah standar mutu yang dirumuskan pemerintah untuk memperbaiki mutu pendidikan serta mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Tidak setiap sekolah mampu menerapkan delapan standar yang ditetapkan, nmaun sebagain sekolah khususnya di daerah perkotaan mempu mnegembangkaan standar tersebut. Hal tersebut menjadikan ketimpangan antarta pendidikan di kota (yang cenderung lebih maju dan berkembang) dibandingkan dengan pendidikan yang ada di desa dan daerah daerah pelosok sehingga perlu adanya pemerataan standar pendidikan yang dikawal oleh pemerintah.
Pengembangan Mutu Pendidikan
5
diharapan penerapan pengembangan mutu pendidikan di tingkat satuan pendidikan merujuk pada standar nasional pendidikan.
Upaya lain dalam mengontrol dan meningkatkan mutu pendidikan adalah adanya evalusai, akreditasi dan sertifikasi.4 Evalusi dapat dilaksanakan pada tingkat satuan pendidikan, tingkat daerah karena secara tidak langsung pemerintah daerah bertanggung jawab atas mutu pendidikan di daerah, serta evaluasi pemerintah secara nasional. Menurut hemat penulis kontrol dan pendataan evaluasi pemerintah terhadap mutu pendidikan dapat dilihat dari ujian tingat nasioanal baik UN, USBN atau UMBN.
Upaya Pengembangan mutu pendidikan kedua yang diterapkan oleh pemerintah dalam mengembangkan mutu pendidiakn nasional adalah dengan adanya akreditasi satuan pendidikan. Akreditasi mengukur kelayakan program pada satuan pendidikan yang merujuk padan standar nasioal pendidikan. Akreditasi diselenggarakan oleh badan evaluasi mandiri, untuk tingkat SD/MI akreditasi dilakukan oleb Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M), untuk pendidiakn Non Formal akreditasi diselengarakana oleh Badan Akreditasi Nasional Pendidian Non Formal (BAN PNF), sedangkang untuk pendidikan tinggi dilakasanakan oleh Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Tinggi (BAN PT).
Usaha ketiga yang digunakan dalam mengembangkan mutu pendidikan adalah sertfikasi. Tidak dapat dipungkiri bahwa pendidik memiliki peran penting dalam mutu pendidikan. Guru yang baik akan mampu menyampaikan materi baik siap, pengetahuan dan kratifitas pada peserta didik sehingga dengan adanya program sertifikasi pemerintah mecoba unutk mematok standar guru di satuan pendidikan. Dengan asusmsi jika guru memiliki standar kompeteni yang baik akan berimplikasi pada pengembangan kualitias peserta didik.
Ujian nasional
Salah satu evaluasi dalam upaya peningkatan standar nasional pendidikan yang
dilakukan oleh pemerintah adalah dengan diadakannya ujian nasional. Ujian ini memiliki
sejarah yang panjang dalam dunia pendidikan di Indonesia sejak masih menjadi “ujian negara” hingga kini menjadi “ujian nasional”. Perkembang ujian negara dan kini menjadi ujian nasional
4 PP Tahu 5 Te ta g Peru aha Atas Peratura Pe eri tah No or 9 Tahu 5 Te ta g “ta dar
6
tentu melewati evaluasi, perbaikan, penolakan hingga penyempurnaan sebagai cara untuk mengukur dan menilai pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran tertentu sebagai mana yang dijelaskan dalam Permendikbud nomor 5 tahun 2015. Untuk mengetahui perkembangan UN dari masa ke masa dapat dilihat pada tabel berikut;
Periodesasi Jenis ujian Keterangan
1965-1971 Ujian Negara Pelaksanaan ujian serentak dilakuakan secara nasioanal dengan pengawasan yang ketat. Hal tersebut menyebabkan angaka kelulusan hanya 50%. Masyarakat menganggap sistem ini tidak adil dan menuntut unutk merubah ujian
menjadi ujian sekolah.
1972-1979 Ujian Sekolah Ujian dilakukan oleh sekolah dengan presentasi kelulusan mencapai 100%. Dlam masa ini pengasawasan relatif lebih longgar dan sistem mutu pendidikan menurun.
1980-2002 Evaluasi Belajar Tahap Nasional
kembali terjadi perubahan. Pemerintah mengubahnya menjadi Ebtanas. Kelulusan peserta didik ditentukan dari hasil penggabungan nilai UN dengan ujian sekolah. Dengan sistem ini banyak terjadi manipulasi penilaian (rumus PQR) sehingga angka kelulusan mencapai 100 persen.
2003-2004 Ujian Akhir Nasional
dinamakan Ujian Akhir Nasional (UAN). Pelaksanaan ujian dilakukan secara nasional dan soal ujian dibuat oleh pusat. Sistem ini menetapkan batas minimal nilai kelulusan yakni lebih besar dari 3,00 (2003) dan lebih besar dari 4,00 (2004). Pengawasan ujian dilakukan secara ketat dan UAN
dianggap satu-satunya syarat kelulusan.
2005-sekarang
Ujian Nasional dimulai lagi Ujian Nasional. Ini merupakan kelanjutan dari UAN, batas nilai kelulusan ditingkatkan menjadi lebih besar dari 4,25 (2005-2007) dan lebih besar dari 5,50 (2008-2010).
Usai UN, pada 2011-2013 ada penyempurnaan dari UN
7
Sejak tahun 2008 hingga sekarang istilah UN untuk SD/MI sederajat diubah menjdai UASBN
Table 1. Perkembangan Ujian Nasional dari masa ke masa.5
Ujian yang dilakukan secara serentak pada dasarnya berfungsi unutk mengukur kemampuan siswa sekaligus mengukur kualitas (mutu) pendikan secara nasional. Dalam
beberapa tahun terakhir terjadi banyak polemik dalam pelaksananaan ujian nasional baik dari siswa, orang tua, pengawas bahkan sistem yang digunakan. Dhitta Puti Sarasvati, Direktur
Program Ikatan Guru Indonesia satu diantara sarannya dalam memperbaiki sisten ujian nasioanal adalah dengan meninggalkan paradigma belajar yang menekankan pada ujian. Hal ini sejalan dengan nasihat bapak pendidikan Indonesia ki Hajar Dewantoro;
“Anak-anak dan pemuda pemuda kita sukar dapat belajar dengan tentram karena dikejar kejar oleh ujian yang sangat keras dalam tunututannya. Mereka belajar
tidak untuk kejiwaaannya, sebaliknya mereka belajar untuk nilai-nilai yang tinggi pada
rapot sekolah atau ijazah. Dalam soal ini sebaiknyalah kita para pemimpin perguruan
bersama-sama dengna kementrian PP dan K mencari bagaimana caranya kita dapat
penyakit exemen cultus dan diploma jact (mengkultuskan ijasah dan diploma)”6
Melihat pernyataan yang diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara dapat disimpulkan bahwa polemik dalam dunia pendidikan tidaklah muncul akhir-akhir ini namun sudah ada sejak dulu. Masalah itu muncul dipermukaan salah satu diantara penyebabnya adalah pengelolaan ujian nasional belakangan ini. Pada saat awal mula ditarapkan, UN menjadi syarat penentu kelulusan siswa sehingga UN menjadi mimik buruk bagi siswa, orang tua dan guru. Kejadian ini menimbulkan protes sehingga penalain itu bergeser. Kelulusan siswa 60% ditentukan oleh Un dan 40% ditetukan oleh sekolah sehingga tidak sedikit sekolah yang mengatrol nilai peserta
didiknya agar dapat lulus sekolah. Berbagai kejadian ini memunculkan salah satu kebijakan baru yaitu PERMENDIKBUD 5 tahun 2015 yang mengatur kriteria kelulusan peserta didik, penyelenggaraan ujian nasional, dan penyelenggaraan ujian sekolah/madrasah/pendidikan kesetaraan pada smp/mts atau yang sederajat dan SMA/MA/SMK atau yang sederajat.
Munculnya PERMEN (Peraturan menteri) ini membawa angin segar dalam dunia pendidikan. UN bkan lagi menjadi penentu kelulusan, namun kelulusan dapat dicapai peserta
5 Ujia Nasio al Dari Masa Ke Masa - Ka pus :: Okezo e News, a essed De e er 7, 5,
http://news.okezone.com/read/2014/12/30/65/1085698/ujian-nasional-dari-masa-ke-masa.
6 Dhitta Putri Sarasvati, UN, Kesalahan Sistem (Dalam Buku Hitam Ujian Nasional) (Yogyakarta: Resist Book dan
8
didik setelah; a). menyelesaikan seluruh program pembelajaran, b). memperoleh nilai sikap/perilaku minimal baik dan c). lulus Ujian S/M/PK. Siswa, orang tua serat guru tak perlu lagi khawatir dengan adanya UN yang sebelumnya banyak dikhawatirkan karena menjadi salah satu persyaratan keluusan. Dengan adanya PERMEN ini ada beberapa pertimbanang kelulusan yang ditentukan oleh negara dengan pencapain kompetensi lulusan setelah menyelesaikan program pembelajaran dalam satuan pendidikan.
Mata Pelajaran Pendidikan Agama dalam Ujian Nasional
9
SMALB Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris
dan Matematika
SMK Pada jenjang SMK/MAK atau
bentuk lain yang sederajat, Ujian
Table 2. Dafatar MAPEL yang diujikan dalam UN. 7, 8.
Dari sekian mata pelajaran baik di madrasah dan sekolah yang diujikan dalam ujian nasional
hanya materi materi inti tidak termasuk pelajaran agama meski demikian pelajaran agama adalah salah satu mapel yang diujikan dalam ujian sekolah.
Berdasarkan info yang dilansir pada web kota Banjarnegara pada banjarnegarakab.go.id, pada tahun 2009 kementrian agama menemukan adanya beberapa soal-soal mata pelajaran agama di beberapa daerah tidak memenuhi standar kompetensi lulusan sebagaimana yang tercantum dalam Permendiknas 22 tentang standar isi dan pasal 23 tahun 2006 tentang standar kompetesi lulusan (SKL). Berdasarkan penemuan tersebut guna meningkatkan kualitas pembelajaran pendidikan agama khususnya agama islam maka kementian agama mengajukan mata pelajaran agama memiliki standar tingkat nasioanal. Hal
7 PP 9 TAHUN 5 Te ta g “ta dar Nasio al Pe didika .
8 Ujia Nasio al, Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, June 10, 2015,
10
tersebut disetujui oleh sekda kabupaten banjarnegara H. Syamsudin, S.Pd, M.Pd dan manejadi bagian dari USBN (Ujian Sekolah Berstandar Nasional) dimulai pada tahun ajaran 2011/2012.9
Kesimpulan
Dari pembahasan yang disampaikan dalam makalah ini dengan tema mutu pendidikan dan ujian nasional mata pelajaran dapat disimpulkan bahwa;
1. Dalam upaya peningkatan mutu pendidikan pemerintah telah menyuusun delapan standar nasional pendidikan sebagai acuan pengembangan mutu pendidikan di masing-
masing satuan pendidikan. Delapan standar tersebut adalah standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan dan standar penilaian pendidikan.
2. Mata pelajaran pendidikan agama Islam tidak termasuk dalam mata pelajaran yang diujikan pada Ujian nasional. Namun dengan adanya temuan berupa ketdak sesuaian materi yang diujikan dalam mata pelajaran sesuai dengan Permendiknas 22 tentang standar isi dan pasal 23 tahun 2006 tentang standar kompetesi lulusan (SKL), maka mulai tahun 2012 materi PAI menjadi satu bagin dari USBN (UjianSekolah Berstandar Nasional).
9 UA“BN U tuk Mapel PAI Mulai Dilaksa aka Pada Tahu - Ka upate Ba jar egara, a essed
11
DAFTAR PUSTAKA
Pieterse, Jan Nederveen. Globalization and Culture: Global Mélange. Maryland: Rowman & Littlefield, 2015.
“PP 13 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan,” 2015.
“PP 19 TAHUN 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan,” 2005.
Sarasvati, Dhitta Putri. UN, Kesalahan Sistem (Dalam Buku Hitam Ujian Nasional). Yogyakarta: Resist Book dan CBE Publishing, 2012.
“UASBN Untuk Mapel PAI Mulai Dilaksanakan Pada Tahun 2012 - Kabupaten Banjarnegara.” Accessed December 19, 2015. http://banjarnegarakab.go.id/v3/index.php/berita-165/umum/284-uasbn-untuk-mapel-pai-mulai-dilaksanakan-pada-tahun-2012.
“Ujian Nasional.” Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, June 10, 2015. https://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Ujian_Nasional&oldid=9482087.