• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERNIKAHAN NABI MUHAMMAD DENGAN MAIMUNAH KRITIK HISTORIS HADIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERNIKAHAN NABI MUHAMMAD DENGAN MAIMUNAH KRITIK HISTORIS HADIS"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

PERNIKAHAN NABI MUHAMMAD DENGAN MAIMUNAH

KRITIK HISTORIS HADIS

Fathur Rohim

Abstract: There is nothing wrong if the data and the facts of history become a tool in tracking the validity of honor tradition, according to historical research steps that have been agreed upon by historians. Given the history is a factor in search of honor tradition, despite not getting a deal. However, in the realm of sanad of hadith, the stages of research that has been standardized by muhaddisin seem more accurate than the criteria historians. Therefore, in terms of research sanad we must hold fast to the procedure muhaddisin.

Keywords:sanad hadith, historical research

A. Pendahuluan

Dari segi objek, penelitian atau kritik terhadap sanad dan matan hadis

mempunyai kedudukan yang sama. Keduanya sama-sama penting diteliti untuk

menentukan kualitas hadis.

Sekalipun demikian, dalam urutan penelitian, ulama mendahulukan

kritik sanad dari matan.1 Hal ini tidaklah berarti bahwa kritik terhadap sanad lebih

penting dibandingkan kritik matan. Bagi ulama, keduanya sama-sama penting.

Hanya saja, penelitian terhadap matan akan berarti setelah sanad hadis yang

bersangkutan dapat dikategorikan shahih.

Pendapat semacam ini didasari oleh realitas hadis itu sendiri, di mana

sanad merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan dari hadis. Tanpa sanad,

suatu matan tidak dapat dikatakan dari Rasulullah SAW. Apabila ada suatu

ungkapan yang oleh sekelompok orang dikatakan sebagai hadis, sedangkan

1

Ada standar tertentu yang mereka susun dan baku yang digunakan untuk memverifikasi dan mengklasifikasi hadis-hadis shohih dan doif, Serta ada perangkat khusus yang mereka pergunakan untuk menguji para perawi hadis, untuk mengetahui ke-tsiqoh-an dan kelemahan para perawinya. Lihat Masfar `Asm Allah al-Damini,

(2)

ungkapan itu tidak memiliki sanad sama sekali, maka menurut ulama hadis,

ungkapan tersebut dinyatakan sebagai hadis palsu.2

Dengan kata lain, ulama hadis menganggap penting kritik matan

dilakukan setelah sanad bagi matan itu telah diketahui kualitasnya. Dalam catatan

Syuhudi Ismail, kritik matan dilakukan terhadap sanad yang berkualitas shahih,

atau minimal tidak termasuk “berat” ke-dhaif-annya. Bagi sanad yang berat

ke-dhaif-annya, maka matan yang shahih tidak akan menjadikan hadis yang

bersangkutan berkualitas shahih. Tegasnya, matan yang sanadnya sangat dhaif

tidak perlu diteliti, sebab hasilnya tidak akan memberi manfaat bagi kehujjahan

hadis yang bersangkutan.3

Tampaknya, ada benang merah antara tahapan penelitian hadis tersebut

dengan tahapan penelusuran sejarah yang dipraktekkan para sejarawan dalam ilmu

sejarah. Dalam proses pengumpulan data sejarah, sejarawan juga melakukan hal

yang sama sebagaimana kegiatan para muhadditsin. Mereka menghimpun

data-data sejarah dari sumber yang sekiranya layak dijadikan sumber, dan melakukan

pemilahan data dengan cara memilih dan memberikan kritik terhadap sumber

sejarah. Jika diketahui bahwa tingkat akurasi validitas sumber sejarah tidak kuat

maka data sejarah akan diabaikan dan tidak bisa dianggap sebagai data yang bisa

jadikan referensi.4 Selanjutnya, jika sumber sejarah dinyatakan lolos sensor, data

sejarah tidak bisa langsung diakses untuk dijadikan referensi yang mempunyai

nilai sejarah yang tinggi, sebelum lebih dahulu dilakukan pengujian terhadap

sumber sejarah dari sisi yang lain.5

Jika demikian keadaannya, sangat wajar jika fakta sejarah

dipertimbangkan untuk menjadi salah satu acuan dalam penelitian sebuah hadis

agar bisa terukur sejauh mana tingkat akurasi kebenaran data dan fakta yang

terkandung dalam matan hadis. Bahkan, perlu dicoba dalam penelitian matan

2

Muhammad Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi. Jakarta: Bulan Bintang, 1992. hlm. 123.

3Ibid.

(3)

hadis menggunakan langkah-langkah penelusuran sejarah yang dijalankan

sejarawan.

Kedudukan Sejarah Dalam Penelitian Matan Hadis

Dalam meneliti kandungan matan, ada ragam acuan yang dikemukakan

ulama. Dari patokan-patokan penelitian yang dikemukakan dapat dibedakan

menjadi dua bagian: acuan yang disepakati dan acuan yang diperselisihkan.

1) Acuan Yang Disepakati

a) Al-Qur`an

Tidak ditemukan perbedaan pendapat di kalangan ulama untuk

menjadikan al-Qur`an sebagai acuan dalam kegiatan kritik matan. Hal ini

disebabkan karena al-Qur`an merupakan Kalam Allah yang sedikitpun

tidak mengandung kebatilan. Allah menjamin keterpeliharaannya sampai

hari kjiamat. Semua umat Islam sepakat untuk menjadikan al-Qur`an

sebagai rujukan utama dari segala persoalan hidup yang dihadapi.6

Dalam hal al-Qur`an sebagai patokan dalam kritik matan,

kandungan makna hadis juga diujikan dengan makna yang dikandung

al-Qur`an. Apabila kedua makna itu sesuai, maka matan hadis itu dinyatakan

maqbul atau dapat diterima. Namun, jika kesimpulan penelitian matan

menyatakan bahwa kandungan matan bertentangan dengan al-Qur`an,

beranti matan hadis itu tidak dapat diterima.

Hal ini telah diisyaratkan oleh Rasul, Rasul SAW. bersabda, “jika

disampaikan hadis kepadamu, maka ujilah hadis tersebut dengan kitab

Allah ta‟ala. Terimalah hadis itu jika sesuai dengan al-Qur`an, dan

tolaklah jika menyallahinya”.7 b) Al-Sunnah

Membandingkan kandungan matan hadis dengan hadis (sunnah)

lainnya juga merupakan langkah kritik matan yang disepakati oleh ulama.

6

Al-Damini, Ibid. hlm. 61

(4)

Tentunya hadis yang dijadikan patokan telah teruji kualitasnya. Dengan

kata lain, hadis penguji telah jelas keshahihannya.

Metode ini berangkat dari keyakinan bahwa tidak mungkin terjadi

perbedaan atau pertentangan yang tidak dapat dikompromikan di antara

hadis Nabi. Dengan membandingkan kandungan matan seperti ini akan

dapat dibuktikan mana matan yang bisa diterima dan yang tidak.

Makna-makna yang mengganjil, rancu, dan menyalahi “adat kerasulan” akan dapat diungkapkan.

2) Acuan Yang Tidak Disepakati

Acuan kritik matan yang tidak disepakati disini maksudnya, ada suatu

acuan yang dikemukakan oleh seorang atau sekelompok ulama sementara

kelompok ulama lainnya tidak mengemukakan acuan tersebut untuk kritik

matan. Ulama yang tidak mengemukakan mungkin menganggap bahwa acuan

tersebut telah tercakup kepada acuan-acuan yang telah dikemukakannya. Atau

menurut mereka, acuan tersebut tidak diperlukan dalam kritik matan.

Adapun acuan kritik matan yang tidak disepakati ulama tersebut adalah,

diantaranya:

a) Logika (akal sehat)

Logika dijadikan acuan dalam kritik matan ini dikemukakan oleh

sahabat 8 dan jumhur muhaddisin9 Khatib al-Baghdadi dan Salah al-Din

al-Adhabi10 juga mengemukakan logika sebagai acuan kritik matan.

Pengajuan metode ini berangkat dari pendapat bahwa hadis-hadis

Nabi saw. tidak mungkin bertentangan dengan logika yang benar atau akal

yang sehat. Pengguanaan akal sebagai acuan kritik matan tentu saja

terbatas pada matan-matan yang berisi persoalan yang berada dalam ruang

lingkup yang rasional. Kemudian, logika pikir yang digunakan mestilah

masih berada dalam ruang lingkup hidayah. Jadi, akal yang digunakan

8

Ibid. hlm. 95

9 Ismail, Ibid. hlm. 127 ; Lihat juga Ahmad `Am Hasyim, Manhaj Difa` `an al-Hadits al-Nabawi, Kairo:1989. hlm. 129

(5)

untuk menganalisa kandungan matan bukanlah akal yang bebas, tetapi

tetap berada dalam tuntunan wahyu.

b) Fakta sejarah

Acuan ini dikemukakan oleh ulama hadis11 dan Salah al-Din bin

ahmad al-Adhabi.12

Jika ada sesuatu hadis yang menunjukkan masa dan kejadian masa

lalu, ternyata informasi hadis tersebut tidak sesuai dengan kenyataan

sejarah, maka hadis yang demikian tidak diterima. Ini berarti bahwa kajian

sejarah amat dibutuhkan dalam meneliti kandungan matan hadis yang

menukilkan sejarah.

Acuan ini berangkat dari keyakinan bahwa rasul tidak mungkin

mengungkapkan sesuatu yang tidak faktual. Dan juga sahabat Nabi tidak

mungkin keliru dalam mengungkap sejarah. Bila kesalahan data ini terjadi,

akan segera diketahui atau dikoreksi oleh ulama hadis yang masanya

berdekatan dengan mereka. Jelasnya, kesalahan data sejarah dalam hadis

merupakan indikasi kelemahan yang terdapat pada hadis tersebut.

c) Pokok-pokok ajaran islam

Menurut muhaddisin dan fuqaha, hadis-hadis yang bertentangan

dengan pokok-pokok ajaran Islam tidak dapat diterima13 Karena sesuatu

yang bertentangan dengan pokok-pokok ajaran Islam tidak bisa

dinisbahkan kepada Nabi Muhammad saw.

Menurut fuqaha, hakekat dari kaidah ini sama dengan menguji

hadis dengan menghadapkan kepada al-Qur`an atau hadis lain yang lebih

kuat. Namun dalam hal ini juga mencakup kaidah-kaidah umum yang

sesuai dengan inti atau roh agama.

d) Telaah konteks

Acuan ini relatif lebih baru dibandingkan dengan acuan-acuan lain

yang dipakai dalam kritik matan suatu hadis. Pendekatan kontekstual di

11 al-Damini, Ibid. hlm. 183 ; Ismail, Ibid. hlm. 127 12

Ismail, Ibid. hlm. 128 ; Hasyim, Ibid. hlm. 130

(6)

sini berarti memahami hadis Nabi berdasarkan kaitannya dengan peristiwa

dan situasi ketika hadis itu muncl, dan kepada siapa hadis tersebut

ditujukan. Artinya, hadis Nabi saw. hendaknya tidak ditangkap makna dan

maksudnya hanya melalui redaksi lahiriyahnya, tanpa mengaitkannya

dengan aspek kontekstualnya.14

Yusuf Qardhawi15 menyatakan di antara pemahaman sunnah yang

baik adalah melihatnya berdasarkan sebab-sebab khusus (latar belakang),

atau berkaitan dengan „illat tertentu yang disebutkan dalam nash hadis atau

yang disimpulkan darinya, atau berkaitan dengan suatu „illat tertentu yang

merupakan pemahaman dari realita yang disebutkanoleh hadis. Orang

yang menyelidikinya secara cermat, akan mendapatkan bahwa diantara

hadis ada yang didasarkan kepada pemeliharaan kondisi tertentu demi

suatu kemashlahatan atau mencegah suatu mudharat, atau untuk mengatasi

suatu masalah yang terjadi ketika itu.

Menurut Mahmud Syaltut, mengetahui hal-hal yang dilakukan oleh

Nabi saw. dengan mengaitkan pada fungsi beliau ketika melakukan hal-hal

tersebut, sangat besar manfaatnya16. Artinya, dalam realitas kehidupan,

Muhammad bisa berfungsi sebagai Rasul, panglima perang, suami, ayah,

teman, dan lain-lain. Dengan demikian, aktifitas Nabi akan terkait erat

dengan peran yang beliau mainkan ketika itu.

Dengan lain kalimat, memahami konteks suatu hadis akan lebih

membantu menilai matan hadis tersebut. Sehingga seorang peneliti matan

tidak dengan mudah menetapkan maqbul mandud-nya, padahal konteks

hadis tersebut berbeda dari yang dia pahami. Mengkaji konteks suatu hadis

tidak dapat dilepaskan dari telaah sirah Nabi serata lingkup sosialnya serta,

tentu saja, asbab wurud al-hadits.

14 Afif Muhammad, Kritik Matan menuju Pendekatan Kontektual atas Hadis Nabi saw.

Dalam Al Hikmah, Bandung, V. 6., 1992. hlm. 23 – 35.

15

Yusuf Qordhowi, Kajian Kritis Pemahaman Hadis Antara Pemahaman Tekstual dan Kontekstual, Terjemahan oleh A. Najiyuallah dari: Madkhal li Dirasati Sunnah al-Nabawiyah, Jakarta: Islamuna Press. 1991, Cet. II, hlm. 180

(7)

Dari sini, diketahui bahwa ulama muhaddisin menaruh perhatian terhadap

fakta sejarah. Mereka memposisikan fakta sejarah sebagai bagian dari salah satu

acuan dalam tahapan penelitian matan hadis. Meskipun sambutan mereka tidak

seratus porsen, namun cukup bagi orang yang meragukan keberadaan fakta

sejarah sebagai salah satu alat pisau analisis matan hadis sebagai pegangan dan

pencerahan dalam pandangannya.

Untuk mengenal lebih lanjut, berikut uraian tentang langkah-langkah

penelitian sejarah yang nantinya bisa dimanfaatkan untuk mengkaji matan hadis

yang bermasalah dari sisi matan dan ada relevansinya dengan fakta sejarah.

Langkah-langkah Kritik Sejarah

Selintas tentang tahapan penelitian sejarah telah diurai pada pendahuluan,

bahwa dalam proses pengumpulan data sejarah, sejarawan melakukan hal yang

sama seperti para muhadditsin. Mereka menghimpun data-data sejarah dari

sumber yang sekiranya layak dijadikan sumber, dan melakukan pemilahan data

dengan cara memilih dan memberikan kritik terhadap sumber sejarah.17 Jika

diketahui bahwa tingkat akurasi validitas sumber sejarah tidak kuat maka data

sejarah akan diabaikan dan tidak bisa dianggap sebagai data yang bisa jadikan

referensi. Selanjutnya, jika sumber sejarah tergolong akurat, data sejarah masih

membutuhkan proses pengujian lebih lanjut dari sisi yang lain, dan belum

dikatakan mempunyai nilai sejarah sebelum proses pengujian selsesai.18

Menurut Hasan Usman: setelah diketahui bahwa sumber sejarah itu valid,

maka langkah selanjutnya adalah mengujinya dari sisi lain, 1) sejarawan harus

mengetahui secara pasti tentang waktu dikodifikasikannya data sejarah tersebut.

Sebab, semakin jauh waktu antara kejadian sejarah dan kodifikasinya, semakin

pudar nilai sejarah yang terkandung. Ingatan seseorang terkadang tidak bisa

diandalkan, maka semakin lama rentan waktu antara penulis dan waktu kejadian

peristiwa itu terjadi, semakin berkurang kejelasan sejarahnya, meskipun penulis

berusaha untuk mengerahkan kemampuannya untuk merefiwu ingatannya. 2)

penulis harus tahu tentang tempat dimana sejarah dibukukan. Apakah penulis

17HasanUsman, Ibid.

hlm.82

18

(8)

adalah saksi sejarah yang menyaksikan peristiwa langsung di tempat kejadian

perkara, tidak jauh dari tempat peristiwa atau dari jarak jauh yang kemudian

mengandalkan ingatan dan khayalan belaka. Hal itu cukup berpengaruh terhadap

kebenaran berita.

Setelah sumber data dinyatakan benar-benar valid dan semua fakta telah

diteliti pembukuannya dari sisi waktu dan tempat, barulah seorang peneliti sejarah

memulai pekerjaan analisisnya.19 Dalam hal analisis ini mereka menggunakan dua

cara:20

a. Kritik Positip Internal, yaitu menganalisis kata demi kata yang tersusun dalam

bahasa sumber untuk menemukan kebenaran makna kata dan maksud dari

penulisnya. Untuk tujuan ini, penulis sejarah harus memperhatikan beberapa hal

yang terkait, sebagai berikut :

1. Bahasa mengalami perkembangan dari masa ke masa, oleh karenanya

sejarawan harus memahami makna kata yang dipakai pada masa penulis.

2. Ada perbedaan makna kata antara satu tempat dengan yang lain, maka

sejarawan harus paham tentang dialek lokal di mana data sejarah dibukukan.

3. Uslub kitab tertentu berbeda dari penulis yang satu dengan yang lain maka

penguasaan terhadap bahasa penulis menjadi suatu keniscayaan.

4. penafsiran terhadap kata harus memperhatikan kontek umum bagi teks

sejarah.

b. Kritik Negatip Internal, yaitu menganalisis sumber data dan fakta agar dapat

dipilah antara yang cacat dan dipercaya. Untuk mencapai tujuan yang

diinginkan, sejarawan sebaiknya melakukan serangkaian pengujian sebagai

berikut:21

1. Ada kemungkinan penulis sejarah berdusta karena sebab-sebab tertentu,

maka sejarawan harus mengetahui : 1). Apa tujuan penulis membukukan

19 Muhammad Mustafa Azami, Manhaj al-Naqd `Inda al-Muhadditsin Nasy`atuhu wa Tarikhuhu, Riyadl, al-Imariyah, 1982, hlm. 93;

20Ibid.

; lihat juga Hasan Usman, Ibid. hlm. 100.

21

(9)

tulisan sejarahnya secara umum maupun khusus, 2). Adakah kemaslahatan

didalamnya?.

2. harus diketahui, apakah ada kemungkinan penulis sejarah menulisnya dalam

keterpaksaan di luar kemampuannya sehingga ia harus berbohong dan

mengingkari kenyataan.

3. Kadangkala penulis mempunyai kecenderungan dan memihak pada keluarga,

kelompok, strata sosial, etnis dan lain-lain. Apakah keberpihakannya

berpeluang untuk membohongi fakta.

4. apakah ia menulis hanya untuk memenuhi permintaan sponsor (dalam hal ini

pemerintah) agar tidak menghebohkan masyarakat umum.

Jawaban atas semua pertanyaan tersebut akan menghantarkan sejarawan

untuk bisa menilai apakah penulis sumber sejarah tergolong orang yang dapat

dipercaya atau sebaliknya, dan apakah data dan fakta yang ditulisnya berdasarkan

realitas nyata atau penuh dengan kebohongan.22

Penelitian Matan Hadis dengan Metode Historis

Penelitian matan hadis ini mencoba mengangkat hadis nabi yang berbicara

persoalan akad nikah antara Nabi Muhammad saw. dengan istri beliau yang

bernama Maimunah. Dipilihnya hadis tersebut, mengingat hadis ini banyak

menimbulkan pro dan kontra di kalangan muhadditsin. Munculnya pro dan kontra

yang ada disebabkan oleh banyak faktor yang terkait dengan matan hadis itu

sendiri. Di antaranya :

1. Ada perbedaan matan yang sangat mencolok antara periwayatan yang

transmisi sanadnya melalui sahabat Ibn Abbas dengan jalur periwayatan yang

transmisi sanadnya melalui sahabat Abi Rafi` dan Maimunah sendiri.

Perbedaan itu dapat dilihat dalam penggunaan kalimat :

ىُتو وزحي ىهو

للاح ىهو اهت

, yakni, ibarat tersebut ditulis Ibn Abbas dalam riwayatnya, yang berarti, Rasulullah menikahi Maimunah dalam kondisi berihram dan

beliau tinggal bersama Maimunah dalam kondisi sudah halal (sudah selesai

22Ibid.

(10)

ihram). Sedangkan matan hadis sahabat Abi Rafi` menggunakan ibarat :

ىهو

للاح ىهو اهت ىُتو للاح

dan Maimunah menggunakan ibarat :

اهجوشت

للاح ىهو

.

Dua ibarat terakhir, dapat dipahami bahwa Rasulullah saw. menikahi Maimunah dalam keadaan nabi sudah selesai ihram atau sebelum

ihram dan beliau tinggal bersama istrinya (Maimunah) dalam keadaan sudah

halal (selesai ihram).

2. Matan hadis yang transmisi sanadnya melalui Ibn Abbas, dari sisi pemahaman

maknanya berbenturan dengan hadis lain yang menjadi bagian dari ajaran

Islam yang berlaku. Di mana syari`at mengatakan bahwa dalam kondisi ihram

seorang muslim tidak diizinkan menikah, menikahkan, dan bahkan melamar

sekalipun. Pemahaman ini dapat dijumapai dalam kitab-kitab fiqih, karena

memang sudah merupakan paham jamhur ulama`. Pendapat ini nampaknya

berpegangan pada hadis nabi yang berbunyi :

حكُي لاو حكُي لا وزحًنا

ةطخي لاو

.23

3. Kandungan matan hadis ini, di satu sisi bertentangan dengan data sejarah dan

di lain pihak ada kesamaan. Hal ini, disebabkan oleh adanya keberpihakan

penulis sejarah terhadap isi matan hadis yang memang sudah tampak

berbenturan dan bertolak belakang. Misalnya Ibn Katsir 24 dan al-Thabari25 ,

mereka berpendapat bahwa pernikahan Rasul dengan Maimunah terlaksana

dalam perjalana Rasul menuju Makkah dan dalam keadaan ihram. Sedangkan

penulis sejarah yan lain, seperti Shofiyurrohman al-Mubarokfuri, 26

Muhammad al-Ghazali,27 dan Imam Ghazali Sa`id28 tidak menyebutkan secara

23

Muhammad bin Yazid Abu Abdullah al-Quzwaini, Sunan Ibn Majah, bab al-Nikah, 1956. CD-al-Kutub al-Tis`ah.

24

Abu al-Fida` al-Hafid Ibn Katsir al-Dimisyqi, al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, J. 4. hlm. 233.

25

Abi Ja`far Muhammad bin Jarir al-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1988, J. 2. hlm. 143.

26

Shofiyurrohman al-Mubarokfuri, al-Rohiq al-Makhtum, Beirut: al-Risalah Nasyirun, 1999, hlm. 385.

27 Muhammad al-Ghazali, Fiqh al-Sirah,

(11)

detail kecuali hanya menuturkan bahwa pada saat umrotul qodlo` , nabi

Muhammad melangsungkan pernikahan dengan seorang janda yang bernama

Maimunah binti al-Harits al-Hilaliyah dan mereka tinggal di Makkah selama

tiga hari, kemudian pulang ke Madinah setelah permohonan Nabi untuk

memperpanjang izin tinggal di Makkah ternyata ditolak orang Quraisy.

Secara lengkap hadis tentang pernikahan Nabi Muhammad dan Maimunah

adalah sebagai berikut:

Dengan adanya masalah-masalah yang telah diurai diatas, dapat

disimpulkan bahwa memang matan hadis tersebut perlu diteliti kembali dan perlu

28

(12)

dicermati, sehingga akar persoalaan yang menimbulkan pro dan kontra dapat

dicairkan dan bisa dicarikan solusi.

Jika kembali pada metode penelitian sejarah yang digambarkan

sebelumnya, maka yang perlu diperhatikan terlebih dahulu di sini adalah waktu

dan tempat serta penutur hadis.

Dilihat dari sisi waktu penulisan hadis, memang tidak ditemukan referensi

yang menunjuk pada tanggal maupun hari kapan ditulisnya kedua hadis tersebut.

Tetapi terkait dengan waktu, dijelaskan bahwa Ibn Abbas sebagai salah seorang

perawi hadis tersebut, pada saat peristiwa itu terjadi, ia masih berusia 10 tahun,

karena dalam sejarah, disebutkan bahwa ia lahir 3 tahun sebelum hijrah.

Sedangkan peristiwa pernikahan Rasul dengan Maimunah berlangsung pada saat

Nabi melaksanakan Umrah al-Qadlo` pada tahun ke 7 hijriyah, sehingga

diragukan ia menulis hadis tersebut pada usianya yang masih belum baligh.

Dilihat dari sisi tempat dan penutur hadis, Maimunah sebagai pelaku

peristiwa, tentu ia hadir pada saat peristiwa berlangsung, menyaksikan dari jarak

yang sangat dekat, dan ia menuturkan sendiri hadis tersebut tentu nilai sejarahnya

lebih tinggi daripada yang menulis dari jarak jauh dan penulisnya bukan pelaku

peristiwa. Di sisi lain, ada indikasi bahwa Ibn Abbas pada saat kejadian tidak ada

dalam rombongan Nabi, karena menurut sebagian pendapat ia hijrah ke Madinah

pada tahun ke 9 hijriyah dan ia bertemu nabi pada usia 13 tahun.

Di Pihak lain, hadis Abi Rafik juga dianggap lebih akurat dari hadis Ibn

Abbas. Abi Rafik sebagai seorang yang menyaksikan peristiwa dan bahkan hadir

ditengah-tengah Rasul pada saat peristiwa pernikahan berlangsung, Tentu nilai

sejarah penuturannya lebih tinngi. Abi Rafik, dalam catatan sejarah, bahkan

diminta oleh Nabi untuk mengantar Maimunah ke desa Sarif di mana Maimunah

tinggal bersama Rasul.

Berdasarkan data dan fakta sejarah tersebut dapat disimpulkan bahwa

hadis riwayat Maimunah dan Abi Rafik yang mengatakan bahwa nabi menikahi

(13)

Mengenai kritik internal, semua ahli hadis telah sepakat bahwa semua para

sahabat Nabi Adil dan penulisan hadisnya lepas dari tendensi apapun. Kita harus

berhusnuddzan bahwa para sahabat nabi menuliskan hadis karena niatan mencari

ridla Allah semata dan untuk menyebarkan ilmu Allah. Sehingga tidak perlu lagi

ada kritik internal negatif. Sedangkan kritik internal positif, tetap perlu dijalankan,

terkait dengan kebahasan, uslub dan pemahaman makna yang sesuai dengan

pemaknaan pada saat itu. Dalam hal ini, agar tidak terkesan ada pro dan kontra

antara hadis Ibn Abbas dengan hadis Maimunah dan Abi Rafik, maka solusi yang

mungkin bisa diambil adalah memberikan makna yang memang memungkinkan

untuk dipahami sedemikian. Adapun makna yang dianggap sesuai dari ibarat :

للاح ىهو اهت ىُتو وزحي ىهو

adalah, Rasul menikahi Maimunah sedang

beliau berada pada bulan Haram (Dzul Kaidah) dan dalam kondisi halal. Makna

tersebut sesuai dengan makna syair :

ايزحي حفيهخنا ٌافع ٍتا اىهتق

لاوذخي ههثي رأ ىهف اعذف

Kata

ايزحي

dalam syair tersebut diartikan "dalam bulan haram".

Dengan mengartikan

وزحي

"dalam bulan haram" maka antara tiga hadis

yang sama-sama bercerita tentang pernikahan Rasul, tidak lagi berbenturan satu

sama lain. Sehingga pelaksanaan nikah Rasul berlansung di tanah haram Makkah

di bulan Haram dan beliau dalam keadaan halal. Dengan demikian pula, antara

hadis tersebut dengan hadis yang melarang kawin, mengawinkan, dan melamar

sekaligus tidak berbenturan.

Penutup

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tidak ada salahnya jika data

dan fakta sejarah dijadikan alat Bantu dalam penelusuran kesahihan matan hadis,

sesuai dengan langkah-langkah penelitian sejarah yang telah disepakati oleh

(14)

matan hadis, meskipun tidak mendapatkan kesepakatan. Akan tetapi dalam ranah

sanad hadis, tahapan penelitian yang telah dibakukan oleh muhaddisin tampak

lebih akurat dari pada kriteria sejarawan. Oleh karenanya, dalam hal penelitian

sanad kita harus berpegang teguh pada prosedur muhaddisin.

DAFTAR PUSTAKA

al-Bukhari, Muhammad bin Ismail, Shahih al-Bukhari, bab al-Maghazi, 3926.CD. Kutub al-Tis`ah

al-Damini, Masfar `Asm Allah, Maqayis Naqd Mutun al-Sunnah. 1984.

al-Dimisyqi, Abu al-Fida` al-Hafid Ibn Katsir, al-Bidayah wa al-Nihayah, Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah,

al-Ghazali, Muhammad, Fiqh al-Sirah, Dar al-Kutub al-Haditsah,

al-Mubarokfuri, Shofiyurrohman, al-Rohiq al-Makhtum, Beirut: al-Risalah Nasyirun, 1999,

al-Nisaburi, Abi al-Husein Muslim bin al-Hujjaj, Shohih Muslim, bab al-Nikah, 2529.CD- al- Kutub al-Tis`ah.

al-Quzwaini, Muhammad bin Yazid Abu Abdullah, Sunan Ibn Majah, bab al-Nikah, 1956. CD-al-Kutub al-Tis`ah.

al-Thabari, Abi Ja`far Muhammad bin Jarir, Tarikh al-Umam wa al-Muluk,

Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1988,

al-Tirmidzi, Muhammad bin Isa Abu Isa, Sunan al-Tirmidzi, bab al-Haj, 770, CD- al-Kutub al-Tis`ah

Azami, Muhammad Mustafa, Manhaj al-Naqd `Inda al-Muhadditsin Nasy`atuhu wa Tarikhuhu, Riyadl, al-Imariyah, 1982,

Hasyim, Ahmad `Am, Manhaj al-Difa` `an al-Hadits al-Nabawi, Kairo:1989.

(15)

Muhammad, Afif, Kritik Matan menuju Pendekatan Kontektual atas Hadis Nabi saw. Dalam Al Hikmah, Bandung, V. 6., 1992.

Qordhowi, Yusuf, Kajian Kritis Pemahaman Hadis Antara Pemahaman Tekstual dan Kontekstual, Terjemahan oleh A. Najiyuallah dari: al-Madkhal li Dirasati al-Sunnah al-Nabawiyah, Jakarta: Islamuna Press. 1991, Cet. II,

Sa`id, Imam Ghazali, Rekonstruksi Perjalanan Haji Rasulullah SAW, Surabaya: Diantama, 2003.

Referensi

Dokumen terkait