• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMILU DAN PROBLEM KONSEPSI KEPEMINPINAN DAN KEKUASAAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PEMILU DAN PROBLEM KONSEPSI KEPEMINPINAN DAN KEKUASAAN"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

www.tebingtinggikota.go.id

P E M I L U

SINERGI

REFERENSI TEBING TINGGI DELI

P E M I L U D I M A T A

M A S Y A R A K A T

PEMILU DAN PROBLEM

KONSEPSI KEPEMINPINAN

DAN KEKUASAAN

P E M I L U 2 0 1 4 : D E K O N S E N T R A S I

K E K U A S A A N

0 0 1 3 5

(2)

D A R I R E D A K S I

ESA HILANG DUA TERBILANG

T

anpa terasa suatu kekuasaan itu ber-jalan hingga di titik akhirnya. Dalam bulan-bulan ini kita dihadapkan pada situasi, di mana perhelatan akbar demokrasi bakal kembali dilaksana-kan anak negeri berkekuatan sekira 248 juta jiwa ini. Pemilihan Umum Legislatif sudah dipersiapkan secara matang oleh lembaga yang diberi wewenang untuk itu. Tugas rakyat adalah, menyuk-seskan Pemilu 2014 dan memastikan bahwa kegia-tan besar itu akan menjadi contoh betapa demokrasi di negeri ini tumbuh dan berkembang secara sehat. Dalam berbagai pandangan, Pemilu merupakan sa-rana untuk alih kekuasaan yang berlangsung se-cara damai dan penuh dengan harmonisasi. Jika selama ini, kekuasaan selalu dialiri oleh darah dan kebencian, maka demokrasi menghapus mua itu. Alih kekuasaan harus dilakukan

se-cara beradab dengan menghilangkan nilai-nilai kekerasan yang umumnya dipraktekkan di masa lalu. Dalam rentang sejarah kemerdekaan kita, rakyat In-donesia sudah melaksanakan Pemilu selama beberapa kali, dimulai pada 1955 yang dikenal sebagai Pemilu terbaik dan dengan tingkat partisipasi yang tinggi dari masyrakat. Kita berharap Pemilu 2014 akan mampu menjadi salah satu Pemilu terbaik di Indonesia, se-hingga mendapat apresiasi dunia. Sudah saatnya, kita menghilangkan mentalitas menerabas dalam dunia politik dengan cara menjauhi praktek politik uang. Politik uang hanya akan memperpanjang daftar bu-ruk praktek demokrasi yang kita jalankan. Karena dengan model itu, akan lahir wakil rakyat dan calon pemimpin yang tidak akan pernah memikirkan na-sib rakyat. Model pemimpin binatang buas ini harus ditentang, karena tidak sesuai dengan harkat kita se-bagai manusia beradab sesuai Sila ke 2 Pancasila.

Pembaca terhormat..

(3)

KETUA PENGARAH Ir.Umar Zunaidi Hasibuan, MM ( WaliKota Tebing Tinggi )

WAKIL KETUA PENGARAH

H. Irham Taufik, SH, M.AP (Wakil WaliKota Tebing Tinggi )

PENGENDALI

H. Johan Samose Harahap, SH, MSP (Sekdako Tebing Tinggi Deli )

PENANGGUNG JAWAB

Ir. H. Zainul Halim

(Asisten Administrasi Umum )

PIMPINAN REDAKSI

Drs. Bambang Sudaryono (Kabag Adm. Humas PP)

WAKIL PIMPINAN REDAKSI

Maslina Dalimunthe.SE (Kasubag Adm. Humas PP)

BENDAHARA :

Jafet Candra Saragih

KOORDINATOR LIPUTAN

Drs Abdul Khalik, MAP

SEKRETARIS REDAKSI

Dian Astuti

REDAKSI

Rizal Syam, Khairul Hakim, Juanda, Ulfa Andriani,S.Sos

LAYOUT DESAIN GRAFIS

Aswin Nasution, ST

FOTOGRAFER :

Sulaiman Tejo, Tomy Erlangga, Agung Purnomo

KOORDINATOR DISTRIBUSI Edi Suardi, S.Sos

Ridwan

LIPUTAN DAN REPORTER

Wartawan Unit Pemko Tebing Tinggi

Redaksi menerima tulis,photo juga surat berisi saran penyempurnaan dari pembaca dengan melampirkan tanda pengenal (KTP, SIM, Paspor) dan Redaksi berhak mengubah tulisan sepanjang tidak mengubah isi dan maknanya.

Bagian Administrasi Humasy Pimpinan dan Protokol Sekreariat Daerah Kota Tebing Tinggi Jl,Dr Sutomo No : 14 Kota Tebing Tinggi Deli Deli

Eimail : [email protected]

Facebook : [email protected] TERBIT SEJAK 16 Juli 2002 SK WALIKOTA TEBING TINGGI

NO.480.05/286 TAHUN 2002

SINERGI

JAFET CHANDRA SARAGIH Koordinator Liputan Layout Desain Grafis

ASWIN NAST,ST

Foto Grafer Sinergi SULAIMAN

Foto Grafer Sinergi TOMY ERLANGGA Foto Grafer Sinergi

AGUNG PURNOMO Redaksi

ULFA ANDRIANI,S.Sos Pimpinan Redaksi

Drs.BAMBANG SUDARYONO

Wakil Pimpinan Redaksi MASLINA DALIMUNTHE,SE

ESA HILANG DUA TERBILANG

J A J A R A N R E D A K S I TA H U N 2 0 1 4

REFERENSI TEBING TINGGI DELI

E D I S I 1 3 5 | M A R E T 2 0 1 4

Pemilu Dan Problem Konsepsi Kepemimpinan Dan Kekuasaan Dekonsentrasi Kekuasaan

P a r t i s i p a s i P e r e m p u a n D a l a m P e m i l u 2 0 1 4

PENDIDIKAN

Masjid Keling’ Berusia 94 Tahun Kembali Dipugar

EKONOMI

Arah Pembangunan 2015, Pengembangan Kegiatan Ekonomi Kreatif

KESEHATAN

Kisah Pilu Para Bayi Tebing Tinggi

(4)
(5)
(6)

S

i n e r g i t a s

Pada masa ini pemilu diselenggarakan oleh Kabinet BH-Baharuddin Harahap (tahun 1955). Pada pemilu ini pemungutan suara dilaksanakan 2 kali yaitu yang pertama untuk memilih anggota Dewan Perwaki-lan Rakyat pada buPerwaki-lan September dan yang kedua untuk memilih anggota Konstituante pada bulan Desember. Sistem yang diterapkan pada pemilu ini adalah sis-tem pemilu proporsional. Pelaksanaan pemilu perta-ma ini berlangsung dengan demokratis dan represen-tatif. Tidak ada pembatasan partai politik dan tidak ada upaya dari pemerintah mengadakan intervensi atau campur tangan terhadap partai politik. Pemilu ini diikuti 27 partai dan satu perorangan. Akan tetapi stabilitas politik yang begitu diharapkan dari pemilu tidak tercapai. Kabinet Ali (I dan II) yang terdiri atas koalisi tiga besar: NU, PNI dan Masyumi terbukti tidak sejalan dalam menghadapi beberapa masalah terutama yang berkaitan dengan konsepsi Presiden Soekarno zaman Demokrasi Parlementer berakhir. Kedua, Demokrasi Terpimpin (1959-1965). Setelah pencabutan Maklumat Pemerintah pada November 1945 tentang keleluasaan untuk mendirikan partai politik, Presiden Soekarno mengurangi jumlah partai politik menjadi 10 parpol. Pada periode Demokrasi Terpimpin tidak diselanggarakan pemilihan umum. Ketiga, Demokrasi Pancasila (1965-1998). Setelah turunnya era Demokrasi Terpimpin yang semi-otorit-er, rakyat berharap bisa merasakan sebuah sistem poli-tik yang demokratis dan stabil. Upaya yang ditempuh untuk mencapai keinginan tersebut diantaranya mel-akukan berbagai forum diskusi yang membicarakan tentang sistem distrik yang terdengan baru di telinga bangsa Indonesia. Pendapat yang dihasilkan dari fo-rum diskusi ini menyatakan bahwa sistem distrik dapat menekan jumlah partai politik secara alamiah tanpa paksaan, dengan tujuan partai-partai kecil akan merasa berkepentingan untuk bekerjasama dalam upaya meraih kursi dalam sebuah distrik. Berkurangnya jumlah partai politik diharapkan akan menciptakan stabilitas politik dan pemerintah akan lebih kuat dalam melaksanakan program-programnya, terutama di bidang ekonomi.

Karena gagal menyederhanakan jumlah partai poli-tik lewat sistem pemilihan umum, Presiden Soe-harto melakukan beberapa tindakan untuk mengua-sai kehidupan kepartaian. Tindakan pertama yang dijalankan adalah mengadakan fusi atau pengga-bungan diantara partai politik, mengelompokkan partai-partai menjadi tiga golongan yakni Golon-gan Karya (Golkar), GolonGolon-gan Nasional (PDI), dan Golongan Spiritual (PPP). Pemilu tahun1977 diada-kan dengan menyertadiada-kan tiga partai, dan hasilnya perolehan suara terbanyak selalu diraih Golkar. Keempat, Masa Reformasi (1998- Sekarang). Pada masa Reformasi 1998, terjadilah liberasasi di segala as-pek kehidupan berbangsa dan bernegara. Politik Indo-nesia merasakan dampak serupa dengan diberikannya ruang bagi masyarakat untuk merepresentasikan politik mereka dengan memiliki hak mendirikan partai politik. Banyak sekali parpol yang berdiri di era awal reformasi. Pada pemilu 1999 partai politik yang lolos verifikasi dan berhak mengikuti pemilu ada 48 partai. Jumlah ini tentu sangat jauh berbeda dengan era orba. Pada tahun 2004 peserta pemilu berkurang dari 48 menjadi 24 parpol saja. Ini disebabkan telah diberlakukan-nya ambang batas (Electroral Threshold) sesuai UU no 3/1999 tentang PEMILU yang mengatur bahwa partai politik yang berhak mengikuti pemilu selan-jutnya adalah parpol yang meraih sekurang-kurangnya 2% dari jumlah kursi DPR. Partai politikyang tidak mencapai ambang batas boleh mengikuti pemilu se-lanjutnya dengan cara bergabung dengan partai lain-nya dan mendirikan parpol baru. Persentase elec-toral threshold dapat dinaikkan jika dirasa perlu seperti persentasi electoral thresold 2009 men-jadi 3% setelah sebelumnya pemilu 2004 hanya 2%. Sekarang kita tengah menghadapi pemilu 2014. Siapa pun dari kita mesti bersiap menyukseskan-nya. Semua upaya dari pemerintah telah dikeluarkan demi pemilu terlaksananya pemilu, termasuk dana yang besar. Sekarang giliran kita, sebagai rakyat, turut berkontribusi untuk pemilu yang demokratis. Mari kita sukseskan pemilu itu! (khairul hakim)

P e m i l u

Di Indonesia, sistem pemerintahan silih berganti mengiringi sistem pemilu.

Dalam masa-masa itu pula pemilu berlangsung secara demokratis.

(7)

U

t a m a

Pemilu Dan Problem Konsepsi Kepemimpinan

Dan Kekuasaan

Oleh: Azeza Ibrahim Rizki, Pengamat Budaya Komunikasi

B

E L A K A N G A N marak beredar berita bahwa orang-orang yang Golput (golon-gan putih/tidak memilih) pada pe-milihan umum 9 April mendatang akan diancam dengan pasal pidana. Ironisnya, ancaman pasal pidana bagi Golput ini sempat diserukan oleh salah satu anggota DPR, yang statusnya “dipilih” oleh masyarakat. Besarnya jumlah masyarakat yang Golput pada pemilu 2014 nanti bagi kebanyakan orang dilihat sebagai se-buah ancaman demokrasi semata. Se-mentara yang lainnya melihat Golput sebagai bentuk gerakan massa untuk “menghukum” partai politik yang gagal menampung aspirasi mereka. Padahal jika kita telisik lebih jauh, tingginya animo masyarakat untuk

Golput dalam pemilu kali ini ada-lah konsekuensi wajar dari sistem politik transaksional yang kita peli-hara bersama-sama selama kurang lebih satu dasawarsa kebelakang. Dikotomi antara Poli-tik, Demokrasi, dan Pemilu Dalam tataran teori, absurd jika mengatakan adanya dikotomi anta-ra politik, demokanta-rasi, dan pemilu (pemilihan umum). Tapi jika meli-hat pada data-data faktual dilapa-ngan, hal yang absurd secara teori dengan mudah dipupus kenyataan. Secara teori, demokrasi adalah se-buah bentuk sistem politik yang men-jadikan pemilihan umum sebagai legitimasi berdirinya sebuah pemer-intahan yang sah. Dengan menggu-nakan suara rakyat yang paling besar,

(8)

Sementara saat para Caleg itu ber -temu mereka ditempatkan dalam gelanggang persaingan untuk mem-perebutkan kekuasaan lewat “suara terbanyak”. Kondisi yang demikian membuat para Caleg, Capres, Cagub, dan calon-calon lainnya menyam-paikan visi dan misi mereka dengan cara yang mirip dengan para sales lapangan untuk merayu konsumen. Pemilu menjadi sebuah pasar besar dimana legislator dan para pemimpin lainnya melakukan jual beli putus dengan para kosntituen dan pemil-ihnya. Sedangkan yang diperjual be-likan adalah produk bernama kekua-saan politik. Dan sekarang bisa kita rasakan bersama efek dari transaksi jual beli putus ini, efek yang pasti adalah bahwa masyarakat kecewa karena transaksi yang mereka laku-kan dengan para perwakilan mere-ka bumere-kanlah transaksi yang jujur. Ketidak jujuran dalam transak-si politik ini dapat kita lihat dari maraknya kasus penyelewengan kekuasaan. Mulai dari politik di-nasti, korupsi, kongkalingkong antar pengusaha dan penguasa, serta manuver-manuver politik kotor para politisi. Lucunya, ketika masyarakat meninggalkan pasar politik demokrasi yang bertempat dalam pemilu itu, para penjaja demokrasi seolah kebakaran jenggot dan mem-inta masyarakat yang kecewa untuk tetap bertransaksi dengan mereka.

Problem Utama: Rusaknya Kon-sep Kepemimpinan dan Kekuasaan Walau masyarakat Indonesia mung-kin mayoritasnya dilanda semangat Golput, tapi tidak lantas mereka kehilangan gambaran akan sosok pemimpin dan penguasa yang ideal. Sayangnya walau mampu meng-gambarkan sosok pemimpin yang ideal, kebanyakan dari kita gagal un-tuk menjelaskan apa itu konsep dasar dari kekuasaan dan kepeimimpinan.

Sebab jika kita hanya berbicara penggamabaran tokoh semata, sangat besar kemungkinan tokoh-tokoh tersebut memiliki konsepsi kepemimpinan yang bertentan-gan satu denbertentan-gan yang lainnya. Kegagalan masyarakat kita un-tuk dapat mengungkapkan kon-sep kepemimpinan dan kekuasaan, serta hanya mampu menggam-barkan tokoh ideal adalah satu dari sekian efek buruk demokrasi yang dibesarkan lewat pop kultur. Dalam cara pandang pop kultur, pola fikir seorang tokoh tidaklah terlalu penting, karena yang pal-ing pentpal-ing adalah popularitas, kemasyhuran, dan ketenaran to-koh tersebut ditengah masyarakat.

Ia diserahkan dari masyarakat ke-pada para perwakilannya, entah itu lembaga legislative atau eksekutif. Konsekuensi sebagai sebuah produk, kekuasaan dan kepemimpinan da-pat diperebutkan dan dipergunakan sesuai dengan kehendak sang pemi-lik. Tidak heran jika kemudian

ban-yak kita temui para pemimpin kita yang menyalah gunakan wewenang kekuasaannya. Mereka yang men-yalah gunakan wewenang tersebut tidak merasa memiliki beban mor-al bahwa kekuasaan dmor-alah sebuah tanggung jawab. Karena menurut mereka, mereka berhak menggu-nakan kekuasaan sesuai keingi-nan mereka karena kekuasaan itu mereka raih lewat jalur kompetisi. Kekuasaan dan kepemimpinan yang dianggap tak lebih dari sekedar produk ini sudah kehilangan nilai-nilai kesakralannya. Nilai amanah yang sudah tercerabut dari konsep kepemimpinan dan kekuasaan han-ya akan melahirkan pemimpin-pem-impin yang justru merusak rakyat yang dipimpinnya. Inilah warisan nyata dari Sekularisme yang kita adposi baik secara sadar ataupun tidak sadar dari peradaban Barat. Kepemimpinan dan Kekua-saan dalam Framework Islam Berbeda secara nyata dengan agama-agama lainnya di dunia, Islam seba-gai agama menawarkan konsep yang jelas dalam seluruh aspek kehidupan manusia. Mulai dari yang terkecil seperti bersuci dan membersihkan diri, sampai pada tatanan memaha-mi kekuasaan dan kepememaha-mimpinan. “Katakanlah (Muhammad) “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa-pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari sia-papun yang Engkau kehendaki”.” -Surat Ali Imron: 26

Cara pandang Islam terhadap konsep kepemimpinan dan kekuasaan sama halnya dengan konsep kehidupan lainnya. Dari Allah SWT dan kem-bali pula kepadaNya. Kekuasaan dan kepemimpinan tidak diperoleh dari proses transaksi politik yang jauh dari nilai-nilai kesakralan. Seba-gaimana hidup itu sendiri, kekuasaan dan kepemimpinan adalah amanah Jadi kita tidak usah merasa sebal

dengan spanduk, flyer, baliho, serta iklan-iklan dari partai atau tokoh politik tertentu. Sebab partai dan para tokoh politik ini merasa bahwa kesuksesan band-band K-Pop yang

tenar lewat berbagai media massa pantas untuk ditiru.

Politik transaksional yang diasuh bersama demokrasi dan pop kultur ini menjadikan kekuasaan serta kepemimpinan layaknya sebuah

(9)

Jika dalam demokrasi politik tran-saksional pennyalah gunaan kekua-saan adalah pengkhianatan ter-hadap rakyat, maka Islam melihat bahwa para penyeleweng kekua-saan adalah pengkhianat yang langsung mengkhianati amanah dari Pencipta langit dan bumi. Maka tidaklah heran jika kita meli-hat sejarah para Shahabat Nabi, betapa kekuasaan dipahami se-bagai sebuah cobaan yang sangat berat. Umar ibn Khattab ra. pun sampai menangis ketika jabatan Amiirul Mu’miniindiamanatkan kepadanya paska wafatnya Abu Bakar. Desakralisasi atau perusa-kan terhadap kesakralan kekuasaan dan kepemimpinan telah meletak-kan umat Islam pada kondisi yang

merugikan dan membingungkan. Di satu sisi umat Islam dihadapkan pada kebutuhan nyata untuk hidup dalam dalam naungan kepemimpi-nan yang Islami, namun disisi lain, hegemoni konstelasi demokrasi den-gan politik transaksionalnya betul-betul mengekang umat dari segala arah. Lantas apakah kita harus mel-akukan pemberontakan untuk me-raih kemenangan, atau ikut terjun dalam arus politik transaksional ini? Jawabannya dapat kita temui dalam sejarah bangsa ini. Ketika Partai Masyumi dengan dasar Islam di-paksa untuk membubarkan diri oleh Soekarno, Masyumi tidak lantas mel-awan dengan mengadakan pember-ontakan atau justru berganti platform menjadi partai dengan dasar

pan-casila. Alih-alih, para tokoh Masy-umi mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dimana darinya lahir para da’i yang menyebarkan syi’ar Islam ke seluruh Indonesia. Dari contoh ini kita bisa melihat, bah-wa perbaikan konsep kepemimpinan dan kekuasaan kita dapat lahir dari ranah diluar kekuasaan. Ranah hara-pan itu adalah ranah ilmu dan pen-didikan. Sebab dengan menginves-tasikan pemuda serta anak-anak kita dengan ilmu dan pendidikan akan dasar-dasar nilai keislaman yang baik dan benar, maka kita telah mem-persiapkan generasi pemimpin masa depan yang siap menerima kekua-saan sebagai amanah dari Allah SWT

(Khalik, dari internet)

U

t a m a

Pemilu 2014 : Dekonsentrasi Kekuasaan

Oleh : Andi Mallarangeng

D

ari hasil hitung cepat terlihat dramanya tidaklah seseder-hana sekedar siapa menang dan siapa kalah. Ternyata Pemilu 2014 menghasilkan partai pemenang yang tidak terlalu senang dengan kemenangannya yang hanya berada pada kisaran 18-19 persen. Maklum, harapannya menang dengan angka 27-35 persen. Ada juga yang melejit, tetapi hanya sampai kisaran 11-12 persen, tidak akan cukup untuk men-gusung sendiri calon presiden. Ada juga partai yang mampu bertahan di posisi ke-2 walau digempur dengan berbagai isu, dan kini harus

merumus-kan kembali langkahnya ke depan. Selain itu, ada juga partai yang jelas-jelas jatuh, terpotong hingga kurang dari separuh perolehan pemilu sebe-lumnya, tetapi dalam hati tetap ber-syukur masih mendapat suara pada kisaran 9-10 persen. Ada lagi partai yang bermimpi mengusung capres dan cawapresnya sendiri, tetapi ternyata hanya mampu lolos tipis dari ambang batas minimal, berada di urutan terakhir, sehingga mimpi indah tadi terpaksa harus dilupa-kan. Tentu saja ada pula partai yang benar-benar bergembira karena ber-hasil memperoleh dukungan yang di

(10)

Bahkan, jika di ukur dari 3 pemenang teratas, total suara mereka pada pemilu 2014 juga lebih kecil dari total suara 3 partai terbesar pada pemilu 2009. Pada pemilu kali ini, total suara PDIP, Golkar dan Ger-indra hanya mencapai 45,84 persen, seperti yang terlihat pada hasil akhir quick count SMRC (Saiful Mujani Research Consulting). Se -mentara total suara Partai Demokrat, Golkar dan PDIP sebagai pemu-ncak perolehan suara pada pemilu 2009 justru mencapai 49,27 persen.

Singkatnya, puncak gunung dalam pemilu 2014 leb-ih rendah daripada puncak gunung hasil pemilu 2009. Ada lagi hal menarik lainnya. Jika diukur dari 3 partai terbawah (PPP, Nasdem, Hanura), total suara yang berhasil diraup adalah sekitar 18 pers-en. Pada Pemilu 2009 jumlah ini hanya berada pada kisaran 13 perspers-en. Jadi kalau puncak gunung tadi cenderung merendah, maka kaki gu-nungnya justru cenderung meninggi. Itulah potret Pemilu Legilatif 2014. Puncak gunungnya lebih rendah dan kaki gunungnya lebih tinggi. Otomatis, dengan begitu, perut gunungnya lebih lebar. Art-inya, partai-partai menengah mendapatkan hasil yang lebih besar dibandingkan dengan pemilu sebelumnya. Gunung yang persis den-gan penden-gandaian seperti itu terdapat di Sulawesi Selatan, namanya Gu-nung Lompo Battang, secara literal artinya “guGu-nung berperut besar.”

Apa makna semua itu? Bagi saya, fenomena tersebut dapat disebut se-bagai dekonsentrasi kekuasaan. Bukan penggumpalan, tetapi “pele-baran” dukungan yang relatif merata ke banyak partai. Saat ini, rakyat rupanya lebih suka untuk membagi suara mereka secara meluas ke-pada partai-partai kontestan pemilu. Tidak ada satu pun yang diberi-kan mandat secara dominan untuk berkuasa. Barangkali rakyat saat ini kuatir, jika mandat terlalu besar diberikan kepada salah satu par-tai, resiko penyalahgunaan kewenangan akan menjadi terlalu tinggi. Jadi mungkin bisa disimpulkan, setidaknya untuk sementara ini, bahwa fenomena dekonsentrasi tadi adalah cerminan peningkatan ketidakpercayaan rakyat terhadap politik dan sistem kepartaian kita. Selain itu, ada lagi fenomena lainnya yang juga menarik untuk dipelajari. Jumlah partai yang lolos dari threshold bertambah, dari 9 menjadi 10 partai. Artinya, parlemen akan tambah semarak. Hal ini adalah salah satu keunikan Pileg 2014: ambang batas dinaikkan, dari 2,5 menjadi 3,5 pers-en, namun jumlah partai justru bertambah, bukan berkurang sebagaimana yang diharapkan semula. Apakah hal ini adalah cerminan dari gagalnya gagasan penyederhanaan sistem kepartaian kita? Mudah-mudahan tidak. Dengan semua itu, saat ini bisa dibayangkan bahwa dunia politik dan panggung pengambilan keputusan di DPR RI akan sangat cair dan di-namis. Partai-partai di papan tengah, seperti Partai Demokrat dan PKB, serta partai-partai di papan bawah seperti Nasdem dan Hanura, akan menjadi penyeimbang yang menentukan. Sejauh mereka dapat me-mainkan porsinya dengan kreatif, maka peran mereka akan vital dalam pengambilan berbagai keputusan strategis dalam lima tahun ke depan. Kuncinya adalah kepandaian membangun koalisi dan kerjasa-ma lintas partai. Tak ada partai yang bisa jalan sendiri. Kompro-mi dan moderasi akan mewarnai berbagai kebijakan. Ilmu Kung-fu politik benar-benar harus dimainkan oleh para politisi kita.

Barangkali proses politik dan pengam-bilan kebijakan akan lebih lama, lebih ruwet, lebih berkelok-kelok. Suka atau tidak, itulah harga yang harus dibayar. Rakyat sudah memutuskan, and now we have to live with the consequences.

(11)

Di Amerika Serikat, gejala ini kerap dis-ebut sebagai demosclerosis, sebuah penyak-it dalam sistem demokrasi yang menghalan-gi upaya peningkatan kesejahteraan rakyat.

Singkatnya, dinamika hubungan antara pres-iden dan parlemen kemungkinan akan menjadi lebih kompleks dengan suhu yang lebih tinggi. Bisa dikatakan bahwa tantangan bagi Presiden RI yang baru nanti akan lebih tinggi ketimbang presiden sebelumnya, setidaknya secara politik. Tentu saja, sebagai warga negara yang baik, kita semua mendoakan dan berharap bahwa tokoh yang terpilih nanti akan berhasil melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik. Jokowi, Prabowo, ARB, atau tokoh lain-nya: siapapun yang pada akhirnya berhasil melewati garis finish, kita harapkan akan menjadi pemimpin yang piawai, tokoh yang amanah, serta sosok yang mumpuni. Indonesia harus tetap melangkah maju, betapapun terjal jalan yang terbentang di depan kita. Terlepas dari semua itu, kita juga perlu memetik pelaja-ran dari Pileg 2014. Saya tetap berpendapat bahwa upaya

penyederhanaan partai tetap harus dilanjutkan, walaupun seka-rang jelas bahwa upaya ini bertemu dengan kenyataan pahit.

Sistem pemilu proporsional tertutup maupun terbuka ter-bukti tidak kondusif untuk menyederhanakan sistem pe-milihan sebagaimana yang kita harapkan. Walaupun sis-tem proporsional telah di lengkapi dengan ambang batas yang cukup tinggi (yaitu 3,5 persen) untuk mengelimi-nasi partai-partai gurem, tetapi ia terbukti tidak efektif. Selain itu, sistem proporsional terbuka ini ternyata juga sangat menyulitkan dan membingungkan rakyat. Hal ini tercermin dari begitu tingginya tingkat suara rusak, yang diperkirakan mencapai angka 7-9 persen. Artinya, sekitar 10 juta suara warga negara harus dinyatakan sebagai suara yang tidak sah, sebagian besar karena bingung dalam pe-nentuan antara partai dan kandidat di dapil masing-masing.

Semua itu masih ditambah lagi dengan tingginya angka golput pada pemilu kali ini, yang diperkirakan menca-pai angka di kisaran 30 persen, atau sekitar 60 juta orang.

Belum lagi kalau kita lihat juga sebuah akibat yang me-nyedihkan: kompetisi internal partai ternyata lebih tajam ketimbang kompetisi antar-partai. Kawan separtai harus bertarung dan sikut menyikut untuk memperebutkan kur-si di dapil yang sama, terkadang dengan cara-cara yang jauh dari terpuji. Semua ini bukannya memperkuat sis-tem kepartaian kita, tetapi justru melemahkannya dari dalam. Partai menjadi semakin rapuh, semakin personal, serta semakin tercerai-berai di dalam tubuhnya sendiri.

Saya kira semua itu jauh dari cita-cita kita pada awal era reformasi sekian tahun silam. Kita ingin memperkuat sistem kepartaian, bukan melemahkannya, agar demokrasi Indo-nesia dapat ditopang oleh pilar-pilar yang kokoh dan stabil.

Sistem pemilihan proporsional terbuka sebenarnya diga-gas dengan niat yang cukup mulia, yaitu untuk mendekat-kan kaum politisi di parlemen dengan pemilihnya. Na-mun ternyata hasil yang diperoleh jauh dari itu. Rakyat menjadi bingung, apatis, dan kaum politisi berkompetisi tanpa arah dan ukuran yang jelas. Intinya, what we got is the worst, not the best, sides of many possibilities.

Karena itu, kita harus mulai memikirkan secara serius un-tuk beralih ke sistem pemilu distrik, dengan mekanisme first past the post, dengan satu kursi untuk satu dapil. Han -ya sistem seperti ini -yang bisa menjamin proses penye-derhanaan sistem kepartaian secara berkesinambungan.

(12)

Sistem distrik juga akan memun-culkan wakil-wakil rakyat dengan tingkat responsibilitas yang tinggi. Dan dengan jumlah partai yang lebih sedikit di parlemen, seki-tar tiga atau paling banyak empat partai, pembentukan koalisi dan pengambilan keputusan akan lebih sederhana dan cepat. Presiden pun akan bisa menjalankan pemerin-tahan dengan lebih tenang serta dengan kebijakan-kebijakan yang lebih tertata dan dapat diandalkan.

Tentu saja, peralihan dari sistem proporsional ke sistem distrik tidak akan mudah. Kader-kader partai yang termasuk “pemimpin jenggot”,

yaitu kader yang berakar ke atas teta-pi tidak berakar ke bawah, akan kes-ulitan bersaing dalam sistem distrik, dan karena itu akan menentangnya. Tapi ada satu harapan kita: Pemilu 2014, dan pemilu sebelumnya, tel-ah melatih sebagian politisi kita di berbagai partai untuk berhubungan langsung dan membangun jaringan yang riil di kalangan pemilih. Saya yakin bahwa kader partai semacam ini kini jumlahnya sudah cukup memadai. Karena itu, partai-partai besar yang ada, seperti Partai Gol-kar, PDIP, dan partai lainnya, pasti sudah mampu mengidentifikasi kader-kadernya yang potensial un-tuk bersaing dalam sistem distrik.

Pertanyaannya, maukah dan be-ranikah kita beralih ke sistem baru ini? Kalau tidak, bersiap-siaplah untuk menjalani begitu banyak konsekuensi yang muncul dari sis-tem kepartaian yang terlalu kom-pleks yang di barengi dengan kekuasaan yang terdekonsentrasi.

Saya berharap, di tahun-tahun mendatang, akal sehat kita akan kembali berada di depan. Kita harus membangun konsensus baru, agar demokrasi Indonesia menjadi lebih baik lagi. Setuju?

(Khalik, Dikutip dari

www.vivanews.com/analisis).

U

t a m a

P

endidikan

Masjid Keling’ Berusia 94 Tahun Kembali Dipugar

Ada salah satu masjid tua di kota Tebing Tinggi yang sering luput dari perhatian. Masjid itu

dulunya merupakan rumah ibadah atau pura umat Hindu. Dibangun oleh warga India

yang dulu bekerja sebagai buruh kontrak di berbagai perkebunan sekitar Tebing Tinggi

pada era Kolonialisme Belanda.

D

iperkirakan pembangunan pura Hindu itu seusia den-gan rumah ibadah Sikh, yakni Sikh Gurdwara yang terletak di Jalan Imam Bonjol. Pura Hindu itu, tepat berada di persimpangan tiga antara Jalan A. Yani dengan Jalan Sakti Lubis. Umat Islam du-lunya menamakan rumah ibadah yang belakangan diberikan kepada warga Islam keturunan Malabar itu dengan nama ‘Masjid Keling.’ Penerima hibah pura itu adalah Haji Muhammad Bava atau dike-nal dengan panggilan Tuan Bawa. Pengusaha berasal dari Malabar ini, kemudian merenovasi pura itu menjadi masjid. Anak langsung Tuan Bawa, Muhammad Iqbal, saat dikonfiramsi, tidak ingat kapan alih fungsi pura itu menjadi mas-jid. Namun yang pasti peralihan pura menjadi masjid itu

berlang-sung pada era kemerdekaan. Reno-vasi terhadap pura itu utamanya terletak pada mihrab tempat imam. Seingat penulis, Masjid Keling itu dulunya berbentuk unik. Karena se-luruh bangunanya dari dasar pon-dasi hingga ke atas, terlihat tertu-tup. Hanya ada lubang angin di atas bangunan berdekatan dengan atap. Bangunan itu dulunya bercat putih, sehingga kesannya penuh nuansa sakral. Tak banyak umat Islam yang beribadah di sana, karena umumnya hanya diperuntukkan bagi umat Is-lam yang berada di sekitar masjid saja, yakni Jalan Rao. Namun bela-kangan, masjid itu mengalami reno-vasi sekira 1980 an, ketika seorang dermawan muslim bernama Haji Khalid menyanggupi biaya renovasi itu. Ketika masjid itu usai direno-vasi, nama masjid kemudian dirubah menjadi ‘Masjid Al Mukhlis’ yang

(13)

P

e n d i d i k a n

Acara peletakan batu pertama Mas-jid Al-Mukhlis atau yang lebih dike-nal dengan ‘Mesjid Keling’ itu ber-langsung cukup sederhana namun penuh khidmat diawali dengan pem-bacaan ayat-ayat suci Al Quran oleh Al Ustadz Drs Zulkarnain (Kepala KUA Kecamatan Rambutan) serta penyampaian sejarah singkat sepu-tar keberadaan Mesjid yang penuh histori oleh Ketua BKM Al Mukhlis Muhammad Iqbal dan Ketua Panitia Pembangunan Muhammad Abbas. Disebutkan bahwa Mesjid Al Mukh-lis yang usianya hampir satu abad itu pertama kali diwakafkan tahun 1920 dari Bapak Kuti Kaka yang merupakan warga Indonesia ketu-runan India Muslim dan disponsori oleh ‘Kapitan Keling’ untuk diper-gunakan seluruh masyarakat dan jemaah warga sekitarnya. “Pada ta-hun 1950 mesjid yang biasa disebut

dengan panggilan Mesjid Keling ini secara resmi menjadi ‘Mesjid Al Mukhlis’ dan dipugar oleh Mu-hammad Bava yang duduk sebagai nazir beserta warga keturunan India Muslim dan Arab, sedangkan Lu-rah Rahmad waktu itu merangkap sebagai Imam mesjid”, papar Iqbal. Ditambahkan Ketua Panitia Pem-bangunan Mesjid Al Mukhlis Mu-hammad Abbas, bahwa pelaksanaan renovasi total pembangunan mesjid diatas areal lahan seluas 310 meter persegi itu rencananya akan meng-habiskan dana sekitar Rp 1,5 miliar yang diharapkan berasal dari para donator kaum muslimin dan musli-mat serta para pengusaha India Mus-lim dan Arab. “Untuk dana awal telah terkumpul sekitar Rp 350 juta, Insya Allah pembangunannya akan berja-lan berja-lancar”, ujar Abbas, pengusaha Restoran India di kota Tebing Tinggi.

Sebelumnya, Wakil Walikota Tebing Tinggi H Irham Taufik mengata -kan, Pemko Tebing Tinggi sangat mendukung pembangunan Mes-jid Al Mukhlis dalam mening-katkan keimanan dan ketaqwaan masyarakat. “Usai pembangunan nanti diharapkan program mengaji usai sholat maghrib yang meru-pakan program Walikota Tebing Tinggi diaktifkan kembali karena sangat bermanfaat bagi anak muda dan generasi penerus kita”, katanya. Irham Taufik juga berharap agar pembangunan mesjid nantinya juga dibarengi dengan membangun rohani kaum muslimin, “Usai pembangunan nanti, mari kita makmurkan mesjid ini, jangan hanya imam muazin dan makmum saja yang sholat didalamn-ya. Jangan mesjid cantik tapi sunyi dari jemaah”, pesan Irham Taufik.

Khalik

(14)

P

embangunan Kota Tebing Ting-gi sebagai kota jasa yang men-gutamakan promosi kegiatan perdagangan dan jasa, wisata budaya dan wisata kuliner serta percepatan pertumbuhan pusat-pusat pelay-anan akan diarahkan pada pengem-bangan kegiatan ekonomi kreatif. “Pembangunan tahun 2015 teru-tama diarahkan untuk mewujdkan Kota Tebing Tinggi sebagai kota jasa dengan memanfaatkan potensi lokasi sebagai titik sentral wisata Danau Toba dan Ibukota Provinsi Sumut, meningkatkan dan meman-tapkan keterkaitan perdagangan dan jasa secara regional dan nasional dalam mengembangkan kegiatan ekonomi kreatif yang melibatkan koperasi, usaha mikro, kecil dan me-nengah (UMKM), pengembangan pusat seni dan budaya serta mengem-bangkan pusat wisata kuliner”. Hal itu disampaikan Walikota Tebing Tinggi Ir.H.Umar Zunai-di Hasibuan,MM saat membuka Musyawarah Perencanaan Pem-bangunan (Musrenbang) Kota Tebing Tinggi Tahun 2014 di Ge-dung Balai Pertemuan Kartini Kota Tebing Tinggi , Rabu (19/3). Musyawarah Rencana Pembangu-nan Kota Tebing Tinggi Tahun 2014 yang turut dihadiri Wakil Ketua DPRD H Chairil Mukmin Tambunan dan H Amril Harahap, Sekdako Jo-han Samose Harahap, Kepala Bap-peda Tebing Tinggi Gul Bahri Sire-gar SIP MSi, Wakapolres Kompol Zahrie, Danramil 13 Tebing Tinggi Kapt Inf Budiono serta pimpinan SKPD itu ditandai dengan pemuku-lan gong oleh Walikota Tebing Tinggi beserta unsur muspida. Menurut Walikota, forum Musren-bang ini bertujuan untuk penajaman, penyelarasan dan membuat kesepa-katan Rencana Kerja Pembangunan daerah (RKPD) Kota Tebing Tinggi Tahun 2015. “Saya harapkan Mus-rembang ini betul-betul sebagai wa-dah musyawarah bagi segenap stake-holder dalam rangka mendiskusikan berbagai isu kebijakan dan program

Walikota Tebing Tinggi ” Arah Pembangunan 2015,

Pengembangan Kegiatan Ekonomi Kreatif ”

Keterangan gambar :

PUKUL GONG “Musrenbang Tahun 2014 di Kota Tebing Tinggi ditandai dengan pemukulan gong oleh Walikota Tebing Tinggi Ir.H.Umar Zunaidi Hasibuan,MM beserta unsur muspida”

prioritas yang akan di implementa-sikan tahun 2015”, jelas walikota. Pada kesempatan itu, Walikota Tebing Tinggi juga memaparkan berbagai kegiatan yang telah dilak-sanakan Pemko Tebing Tinggi un-tuk tahun anggaran 2013 antara lain, pembangunan Mesjid Agung, pem-bangungan pasar ekonomi kreatif, pembangunan jembatan Iskandar Muda, pembangunan fondasi jem-batan Sungai Padang III, pening-katan jalan AMD, pembuatan ban-gunan pengaman Sungai Padang dan pembangunan dinding penahan tanah Jalan AMD dalam menga-tasi banjir, pembangunan gedung eks Akbid menjadi gedung rawat inap dan gedung kantor RSU Dr H Kumpulan Pane, pembangunan kantor dinas pendidikan serta pem-bangunan kantor Badan Penanggu-langan Bencana Daerah (BPBD). “Sedangkan untuk tahun anggaran 2014 ini, ada beberapa program yang merupakan lanjutan dari program tahun lalu dan beberapa program baru yakni, pembangunan saluran drainase, pembangunan pondasi

jembatan Sungai Padang III, pen-gadaan tempat pembuangan akhir sampah, pembangunan saran prasa-rana meterology legal dan pem-bangunan bendung gerak Bajayu sebagai antisipasi terhadap banjir di Kota Tebing Tinggi ,” paparnya. Sementara itu, Wakil Ketua DPRD Kota Tebing Tinggi H. Chairil Muk -min Tambunan, SE mengatakan, ber-bagai harapan dari masyarakat sudah disampaikan saat Musrembang di tingkat keluarahan dan kecamatan. Meskipun tidak semua bisa dilak-sanakan dikarenakan keterbatasan terutama menyangkut tentang ang-garan, namun sebisanya dibuat skala prioritas pembangunan di Tebing Tinggi yang pada prinsipnya berpi-hak pada kepentingan masyarakat. “Saat ini warga masyarakat semakin kritis, untuk itulah pembangunan kedepan harus transparan. Mela-lui Musrembang ini nantinya Ko-taTebing Tinggi pembangunan akan lebih baik di segala bidang dan ke-berpihakannya terhadap masyarakat semakin nyata”, harapnya.

(Juanda)

(15)

P

roduksi sampah kota Tebing Tinggi per hari, saat ini mencapai 117,67 ton. Sedangkan Dinas Ke-bersihan dan Pertamanan hanya mampu mengangkut sampah masyarakat itu sekira 77,94 ton saja. Itu berarti ada sekira 39 ton sampah yang berserakan setiap harinya. Diper-luan peran masyarakat, bagaimana mengelola sampah yang berserak itu menjadi bermanfaat secara ekonomis. Hal itu disampaikan Wakil Wali Kota Tebing Tinggi (Alm) H. Irham Taufik, SH, MAP, di acara pembukaan ‘Pelati-han Pengelolaan Sampah’ di aula kantor BPMK Jalan Gn. Leuser, Selasa Maret lalu. “Peran masyarakat sangat pentng, selain sebagai produsen sampah, masyarakat juga harus menjadikan sampah itu bernilai ekonomis, sehingga tidak terbuang percuma dan merusak lingkungan,” ujar Wakil Wali Kota. Diterangkan, di antara sampah yang memiliki nilai ekonomis tinggi adalah sampah non organic. Sampah jenis itu tidak bisa melebur dengan tanah dalam waktu cepat, seperti plastik, sterplon, besi aluminium, kaleng dan bahan

lainnya. Jenis sampah ini bisa bernilai ekonomis jika pemanfaatannya dilaku-kan dengan kreatif. Demikian pula den-gan sampah orden-ganic, jika dimanfaatkan dengan pengetahuan yang ada, sampah jenis ini bisa menjadi pupuk kompos dan penyubr tanah dan tanaman. “Jelas sampah bisa menambah pendapatan jika diperlakukan secara kreatif,” ujar Irham. Kadis Kebersihan dan Pertamanan Hj. Rusmiaty Harahap, ST, disela kegiatan, mengatakan pelatihan pemanfaatan sampah ini sebagai bentuk kepedulian Pemko Tebing Tinggi menambah peng-etahuan masyarakat. Jika selama ini, ujar Rusmiaty, sampah sering meng-huni sungai, selokan, rawa-rawa serta tanah lekuk tempat tampungan air, di-harapkan nantinya tidak lagi terjadi jika budaya memanfaatkan sampah muncul. “Tentu saja upaya ini sebagai salah satu cara agar kota Tebing Tinggi bisa mem-peroleh Adipura nantinya,” harap dia. Hadir dalam pelaksanaan pelatihan pengelolaan sampah, Yayasan Bank Sampah Mutiara Medan Drs Effendi Agus, Komunitas Peduli Adipura Med-an, Marwan Ashari Harahap dan Yayasan Hayati Indonesia Medan Abdul Muid

serta 150 orang peserta dari tiga puluh lima kelurahan yang ada di Kota Tebing Tinggi yang tergabung dalam PKK. Narasumber, Abdul Muid dari Yayasan Hayati Indonesia mengharapkan bah-wa peningkatan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah sehingga sampah dapat dimamfaatkan kembali oleh masyarakat dan melatih masyarakat dalam pengelolaan sampah serta mem-bangun kreativitas masyarakat dalam rangka pengelolaan sampah organik dan non organik. Hal Ini sesuai den-gan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor:03/PRT/M/2013 ten-tang penyelenggaraan prasarana dan sarana persampahan dalam penan-ganan sampah rumah tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga. “Setelah pemahaman dan pengetahuan masyarakat Kota Tebing Tinggi tentang pengelolaan sampah yang berwawasan lingkungan dan berperan aktif dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Masyarakat Kota Tebing Tinggi akan se-hat serta diharapkan adanya penurunan kuantitas sampah yang diangkut ke TPA sehingga bisa memperpanjang umur tempat pembuangan sampah,”jelasnya.

Pemko Tebing Tinggi melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan, sejak lama terus melakukan berbagai pemba-ruan dalam pengelolaan sampah agar sampah yang selama ini terbuang dan merusak lingkungan bisa dimanfaat-kan. Beberapa terobosan yang telah di-lakukan, misalnya pembentukan kope-rasi sampah untuk pemulung di TPA. Juga melakukan langkah terobosan dengan melakukan pemilahan terha-dap sampah organic dan non-organic. Diharapkan, dalam jangka waktu ke depan, pengelolaan sampah terpadu akan mendapat respon masyarakat. Salah satunya yang diharapkan adalah pembentukan komunitas bank sampah.

**Khalik

Produksi Sampah T.Tinggi Capai 117,67 Ton/Hari

(16)

Kisah Pilu Para Bayi Tebing Tinggi

D

alam beberapa bulan belakangan ini, kota Tebing Tinggi kebanjiran kisah pilu para bayi. Ada kisah tentang bayi yang dibuang dan berhasil diselamat-kan. Ada juga kisah bayi yang harus berjuang hidup hingga ke Jakarta, karena kemurahan para dona-tor. Ada juga kisah bayi yang diculik. Atau ada bayi yang berkelamin ganda (hermafrodit) serta anak yang

dilarikan orang tuanya sendiri, karena konflik rumah tangga.

Semua kisah itu merupakan cermin betapa kota ini masih harus mem-benahi lingkungannya, agar menjadi kota yang ramah pada anak dan bali-ta. Kota ramah anak seperti yang dicanangkan Pemko Tebing Tinggi harus mampu memberikan solusi yang nyaman kepada keluarga, jika suatu saat si anak mengalami masalah. Tulisan ini, mencoba merekam sejumlah ce-rita pilu anak-anak di kota Tebing Tinggi ini agar bisa jadi renungan bersama. Si Yatim Usia 8 Bulan Berjuang Untuk Hidup Hingga Ke Jakarta

Aisyah Hairani namanya. Usianya pun masih delapan bulan. Tapi dalam usia yang masih singkat itu, dia telah yatim, karena saat mel-ahirkannya, sang ibu harus menghembuskan nafas terakhirn-ya, meninggalkan si bayi bersama suami tercinta Hermansyah, 38. Tak hanya predikat yatim yang harus disandangnya. Bayi yang diberi orang tuanya nama awal yang mengambil nama istri Rasulullah SAW itu, sejak awal kelahiran, telah pula divonis dokter mengalami kelainan jantung. Tapi, ayahnya Hermansyah, warga Kel. Bagelen, Kec. Padang Hilir, kota Tebing Tinggi tak bisa berbuat apa-apa atas penyakit bawaan anak semata wayangnya itu. “Apalah daya aku cuma buruh bangunan, dari mana uang mengobati anakku,” ujar Herman, Sabtu pekan lalu. Hanya pasrah, dia membawa anaknya pulang dan merawat Aisyah seadan-ya. Kondisi itu membuat kelainan jantung bawaan yang diidap bayi mungil

itu, ternyata kian parah. Herman pun segera membawanya ke RSUD dr.H.Kumpulan Pane menggunakan fasilitas Jamkesda, sejak Januari 2014.

Perobatan seadanya yang diberikan pihak rumah sakit, ternyata tak membuat peru-bahan banyak terhadap penyakit kelainan jantung Aisyah. Bahkan, terakhir bayi mungil itu justru telah divonis mengi-dap penyakit jnautng bocor. Tak ada lagi harapan untuk bisa menyembuhkan sakit di bayi, pikir Hermansyah. Hanya saja, pria yang dikala mudanya aktif mem-bina remaja masjid itu tak putus asa.Dia, menyampaikan permohonan kepada kepala RSUD dr. H. Kumpulan Pane, dr. H. Nanang F Aulia, SpPK agar menolong kehidupan buah hatinya itu. Sebagai war-ga sekampung (Bagelen), dr. Nanang pun tergerak hatinya untuk berusaha mengo-bati penyakit Aisyah. Kepala RSUD itu, merujuk Aisyah berobat ke RSU Adam Malik di Medan. “Di sini belum mampu mengobati penyakit ini, kita terpaksa ru-juk ke Medan,” kata Nanang, suatu kali. Tapi, pihak RSU H. Adam Malik juga angkat tangan. Rumah sakit besar di Medan itu mengaku belum memiliki alat yang lengkap untuk menangani bayi de-lapan bulan bernama Aisyah Hairani itu. Tak mau menyerah, Nanang pun mel-apor ke Wal Kota Tebing Tinggi untuk segera membawa Aisyah menuju Jakarta, tepatnya ke RSU Harapan Kita. Lapo-ran itu mendapat dukungan Ir.H.Umar Zunadi Hasibuan, MM, dan melakukan langkah-langkah yang diperlukan. Kepala RSUD kota Tebing Tinggi itu, langsung mengontak pihak RSU Harapan Kita dan Kementerian Sosial guna mendapatkan bantuan penyelamatan Aisyah. “Kedua lembaga itu respek dan kita segera mem-bawa Aisyah ke Jakarta,” tegas Nanang didampingi beberapa bawahannya.Tim untuk membawa Aisyah Hairani bero-bat ke Jakarta sudah dibentuk dan ten-gah melakukan usaha memuluskan pero-batan bayi berusia delapan bulan itu. “Segala sesuatuanya telah kita lakukan. Tolong doakan agar Aisyah bisa sembuh,” harap dokter spesialis patologis klinis itu.

Bayi penderita kelainan jantung yang dirujuk ke Jakarta

(17)

Ketika hal itu disampaikan kepada Her-mansyah, terlihat mata pria ringkih itu berkaca-kaca, tapi rona wajahnya terli-hat cerah. Seakan mengisyaratkan hara-pan yang besar, mudah-mudahan Gusti Allah mengabulkan doa yang selalu dilantunkannya saat sholat agar Aisyah Hairani bisa terus hidup menemani hari-harinya hingga tua kelak. “Sampaikan terima kasihku kepada banyak donator yang telah menolongku selama ini,” pesan Herman, menutup pembicaraan.

Balita Hermafrodit Ditemukan

Fenomena manusia berkelamin gan-da atau dikenal dengan istilah her-mafrodit, kembali ditemukan. Sosok balita berusia 3,5 tahun itu bernama Rafa Andika Nasution (foto), anak pa-sangan A.Hamid Nasution, 25, dan Misni, 24, warga Link.02, Kel. Padang Merbau, Kec. Padang Hulu. Atas ban-tuan pihak kelurahan, Jum’at (21/3), balita berkelamin ganda itu dirujuk ke RSUD dr.H.kumpulan Pane un-tuk mendapatkan penanganan medis. Namun, kasus dikategorikan langka ini tidak dapat ditangani pihak RSUD kota Tebing Tinggi, maka dalam waktu dekat Rafa akan dirujuk ke Medan guna mendapatkan penanganan lebih jauh. “Dokter sudah melakukan pemeriksaan dan benar ditemukan dua alat kelamin di kemaluan Rafa,” ujar Drektur RSUD melalui Kabid Pelayanan dr. Jhonly. Diterangkan, dari hasil pemeriksaan, ditemukan dua alat kelamin pada Rafa, yakni kelamin perempuan dan pria, di mana masing-masing kelamin itu punya lubang hingga ke dalam tu-buh balita itu. “Kita belum memiliki alat khusus untuk melakukan ope-rasi terhadap Rafa, jadi kita rujuk di Medan, setelah keluarga setuju,” ujar dr. Jhonly. Hasil pemeriksaan ahli me-dis di Medan, baru bsa me-disimpulkan Rafa berkelamin ganda atau bukan. Rafa sendiri, diakui kedua orang tuan-ya, memiliki sifat keperempuan-perem-puanan dalam kesehariannya. Selain itu,

Rafa juga mengalami penyakit terdapat lubang di langit-langit mulutnya. Selama ini, aku Misni, keluarga tidak bisa ber-buat apa-apa, karena mereka merupakan keluarga tidak mampu. “Ya kami biar-kan saja lah macam mana lagi, kami tak mampu membawanya berobat,” terang Misni. Diakui, kondisi Rafa itu mem-buat keluarga tertekan, sehingga kondisi itu lebih cenderung didiamkan keluarga Akibatnya, hingga berusia 3,5 tahun, Rafa Andika Nasution belum memiliki akte kelahiran. “Kami terpaksa menun-da membuat akte kelahiran Rafa, karena bingung mau dibikin laki-laki atau per-empuan,” terang Misni. Selain dana un-tuk membiayai itu tak ada, karena ayah Rafa hanya seorang kuli pacul yang mengambil upahan d lading masyarakat. Syukur kondisi Rafa dan keluarga diketahui Lurah Kel. Padang Mer-bau M. Hafril Fadly, S.ST yang segera mengurus segala sesuatunya untuk dirujuk ke RSUD kota Tebing Tinggi. “Kita sekarang sedang men-gurus segala hal terkait administras-inya untuk pengobatan,” ujar Fadly.

Fenomena hermafrodit pada manusia sudah terjadi lama. Tradisi syariat Islam menyebut manusia hermafrodit sebagai khuntsa, atau dalam istilah modern dise-but interseks. Fenomena ini muncul dari kisah-kisah Yunani, akinbat perkawinan sedarah atau incest. Dikisahkan, bahwa manusia yang pertama kali turun ke bumi adalah manusia hermafrodit. Seir-ing waktu kemudian eduanya terpisah. Namun, fenomena hermafrodit itu, tidak hanya khas milik mitologi Yunani. Pada banyak suku lain juga ditemukan hal sama, misalnya pada suku-suku di pedalaman Papua Nugini

dan Kepulauan Pasifik.

8 Bulan Bayi Gizi Buruk Tanpa Penanganan

Delapan bulan seorang Balita gizi bu-ruk bernama Rahmad Agus Kurni-awan, tidak ditangani instansi terkait. Padahal, balita itu sudah dibawa ke Dinas Kesehatan dan Posyandu se-tempat, namun belum mendapat pen-anganan sebagaimana layaknya.

Bayi gizi buruk

(18)

Hal itu disampaikan orang tua balita gizi buruk itu Selamat, 40, dan is-trinya Syarifah Aini, 37, kemarin, dikediamannya, Link.01, Kel. Satria, Kec. Padang Hilir, kota Tebing Tinggi. Balita penderita gizi buruk itu, meru-pakan anak ketiga dari pasangan suami istri itu, juga mengidap penyakit atsma atau sesak nafas. Mereka berharap agar Pemko Tebing Tinggi segera mem-perhatikan keberadaan anak mereka. “Sudah delapan bulan bayi kami be-lum mendapatkan perhatian apa-pun dari pemerintah,” keluh ibunya. Disampaikan, kedua pasutri itu, per-nah mendatagi Dinas Kesehatan, na-mun balita itu tidak mendapat perha-tian. “Mau ke Posyandu, di sana tak penimbangan berat badan anak kami. Jadi cemana lagi kami buat,” cetus Se-lamat yang sehari-hari hanya bekerja mocok-mocok. Sedangkan sang istri hanya berjualan makanan anak-anak. Diakui dengan pekerjaan itu, mereka tak mampu membeli kebutuhan gizi yang cukup buat anak-anak mereka. Pihak Puskesmas Kel. Satria, saat di-mintai wartawan keterangan, terke-san saling lempar informasi dan beru-saha mengelak. Namun, salah seorang petugas bidang gizi Puskesmas Satria Jhon Malau, mengakui benar penyakit yang dialami Rahmad Agus Kurni-awan adalah gizi buruk. Kabarnya, setelah kedatangan wartawan, petu-gas kesehatan buru-buru mendata-ngi kediaman balita gizi buruk itu membawa beberapa kotak susu bayi. Sedangkan Plt. Kadis Keseharan Riswandy, SE, tak berhasil dite-mui, untuk memint aketeran-gan soal balita gizi buruk ini. Berdasarkan APBD TA 2014, ang-garan sektor kesehatan di kota Tebing Tinggi mencapai Rp94 milyar lebih. Anggaran itu lebih besar dari APBD TA 2013 lalu, diperkirakan sekira Rp83 milyar lebih saja. Namun, dengan ang-garan sebesar itu, masih ditemukan adanya balita penderita gizi buruk.

Dilarikan Orang Tua, Nur Sila 5 Bulan Tak Kembali

Nur Sila, 3, anak dari Murni, 45, warga Link.01, Kel. Durian, Kec. Bajenis, kota Tebing Tinggi, telah lima bulan raib, pasca diambil seorang penarik betor. Bahkan, oknum yang mengambil Nur Sila meminta ibunya tidak usaha lagi mencari anaknya, karena telah diberikan kepada orang lain. Padahal, Murni telah mencari anak itu, ke berbagai tempat. Seperti penuturan Murni, kemarin, di kediamannya, pasca dibawa pria pe-narik bettor beinisial An alias Kentong, 57, Murni telah mencari anaknya itu ke berbagai tempat, mulai dari sekitar kota hingga ke luar kota, namun tak ber-hasil. “Saya sudah mencarinya kemana-mana, tapi tak ada hasilnya, tolonglah kami,” ujarnya kepada wartawan. Diceritakan, raibnya Nur Sila berawal dari datangnya An alias Kentong ke ru-mah Murni sekira pukul 10.00 pada 25 Agustus 2013 lalu. Pria itu, meminta agar Nur Sila diizinkan untuk diajak naik betor keliling kota bersama dia. Semula keluarga Murni tidak men-gizinkan, namun karena balita itu me-nangis minta diberi izin, orang tua itu tidak tega dan akhirnya meng izinkan. Usai dibawa, hingga sore hari, Balita itu tidak juga di antar pulang oleh An. Bahkan, setelah di cari ke tempat An

sering mangkal di Jalan TC Sosial dan

di Simpang Sidikalang, hingga larut malam keduanya tak berhasil ditemui.

Ditemukan Di Kerubungan Semut, Bayi itu Bernama ‘Tegar’

Takdir. Kata inilah yang pas meng-hubungkan pertemuan antara sang ayah angkat dengan anak angkatnya. Si ayah bernama Kompol dr. Romy Sebastian, Kepala Rumah Sakit Bhayangkara kota Tebing Tinggi bertemu anak angkatnya dalam kondisi mengenaskan. Anak 4 bulan itu dibawa ke RS Bhayangkara setelah hampir menghembuskan

na-fas terakhir, karena ditinggalkan be-gitu saja oleh orang tuanya di jalanan. Hanya Tuhan yang tahu, siapa orang-tua bayi malang yang kala itu diperkira-kan berusia 4 bulan. ‘Tegar’ pihak kepolisian memberi namanya. Saat ditemukan di akhir Desember 2013 oleh sejumlah warga di kawasan Sim-pang Binjai, Desa Paya Pasir, Kabu-paten Serdang Bedagai, tubuh bayi itu hanya dibalut kain tipis berwarna biru dan dibungkus sepotong plastik, bah-kan tubuh mungil yang kurus dan lusuh itu sudah dikerubungi oleh semut. Su-ara tangisan Tegar pun tak sekeras ke-tika malam itu didengar oleh beberapa orang warga yang melintasi lokasi di-mana Tegar dibuang oleh orangtuanya.

“Tegar yang saat ini sudah beda den-gan Tegar dua bulan lalu, badannya gemuk tidak kurus lagi dan makannya tetap bergizi, ibunya banyak (para per-awat) tapi bapak-nya cuma satu, Rom-my Sebastian, Tuhan telah menitip-kan ‘Tegar Rommy Sebastian’ kepada saya, kami siap merawat dan membe-sarkan dia”, ujar Kompol dr Rommy Sebastian ketika ditemui wartawan, Senin (24/2) di RS Bhayangkara, Ja-lan Pahlawan, kota Tebing Tinggi.

Beruntung Tuhan masih tetap menjaga makhluk mungil satu ini.

Saat ditemukan nafas Tegar yang sudah lemah masih mampu

bertahan hingga mendapat pertolongan dan perawatan pihak medis di Rumah Sakit

Bhayangkara Polres Tebing Tinggi. Saat dalam perawatan di RS milik Polri itulah sang bayi

bertemu dengan ayar angkatnya. Sang ayah langsung bersimpati

pada si bayi dan bertekad menjadikannya sebagai anak.

Tapi itu cerita sekira dua bulan lalu.

(19)

Perwira menengah pindahan dari Polda Banten ini mengaku, sebe-lum menemukan Tegar, Tuhan tel-ah memberikan isyarat kepadanya melalui mimpi. “Sebulan sebelum ditemukannya Tegar, saya bermim-pi melihat seorang ibu yang mem-buang anak-nya lalu saya marah ke-pada ibu tersebut, lantas saya ambil dan rawat anak itu, ternyata mimpi itu jadi kenyataan, saya mendapat titipan seorang anak dari Allah”, ujar dr Rommy yang sudah satu tahun bertugas di Tebing Tinggi.

Mengapa dia diberi nama ‘Tegar’ ? perwira berpangkat melati satu ini menceritakan betapa memprihatin-kannya kondisi bayi tersebut saat pertama kali ditemukan. “Sangkin lemahnya bayi itu saat ditemukan dalam kondisi pingsan dan nafas-nya sudah satu-satu, beruntung ibu-ibunya (para perawat rumah sakit) cukup profesional, bayi malang itu tetap tegar bertahan untuk hidup sehingga sangat cocok kalau diberi nama ‘Tegar’, Lengkapnya Tegar Rommy Sebastian”, ujar dr Rommy.

Meski telah memiliki dua orang anak yang kini tinggal bersama kakek dan nenek-nya di Surabaya, Kompol dr Rommy Sebastian men-gaku akan merawat dan membe-sarkan Tegar hingga dewasa. “Kita akan rawat dan besarkan Tegar, dan jika kelak ada orang yang mengaku sebagai orangtua-nya Tegar akan kita tes DNA dan kalau cocok, akan diproses sesuai hukum pidana ka-rena telah menelantarkan anak”, tegas pria berwajah oriental ini. (Khalik, dari berbagai sumber)

Bayi yang diselamatkan dari kerubung semut bersama orang tua angkatnya

(20)

TAMAN KOTA SEBAGAI RUANG TERBUKA

HIJAU BERMANFAAT SOSIAL

Oleh : Zulfadli Matondang, S.Sos

R

uang Terbuka Hi-jau menurut UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Pena-taan Ruang adalah area memanjang atau jalur dan atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersi-fat terbuka sebagai tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah ataupun sengaja ditanam. Undang-undang tersebut juga meng-atur tentang proporsi untuk ruang ter-buka hijau sedikitnya 30% dari luas wilayah kota. Proporsi 30% tersebut merupakan ukuran minimal untuk menjamin keseimbangan ekosistem kota, baik keseimbangan sistem hi-drologi dan sistem mikroklimat, maupun sistem ekologis lain, yang selanjutnya akan meningkatkan ket-ersediaan udara bersih yang

diperlu-kan masyarakat, serta sekaligus da-pat meningkatkan nilai estetika kota. Menurut Chafid Fandeli (2004) Ru -ang Terbuka Hijau Kota merupakan bagian dari penataan ruang perko-taan yang berfungsi sebagai kawasan lindung. Kawasan hijau kota terdiri atas pertamanan kota, kawasan hijau hutan kota, kawasan hijau rekreasi kota, kawasan hijau kegiatan olah raga, kawasan hijau pekarangan. RTH diklasifikasikan berdasarkan status kawasan, bukan berdasarkan bentuk dan struktur vegetasinya. RTH bertujuan untuk menjaga ket-ersediaan lahan sebagai kawasan resapan air. Dilihat dari aspek planologis perkotaan RTH dihara-pkan dapat menjaga keseimban-gan antara lingkunkeseimban-gan alam dan lingkungan binaan yang berguna untuk kepentingan masyarakat.

Keberadaan RTH memberikan kes-erasian lingkungan perkotaan se-bagai sarana pengaman lingkun-gan perkotaan yang aman, nyaman, segar, indah, dan bersih (Roswidy-atmoko Dwihatmojo, 2012).

Taman Kota (Taman Pinkra)

Taman Pinkra atau yang lebih dike-nal dengan Taman Kota merupa-kan salah satu ruang terbuka hijau yang berada di Kota Tebing Ting-gi. Lokasinya berada di Kelura-han Rambung Kecamatan Tebing Tinggi Kota, letaknya sangat strat-egis karena masih di pusat kota dan di jalur lintas Pematang Siantar – Medan. Dulunya taman ini merupa-kan lapangan Pusat Industri Kera-jinan Rakyat atau disingkat Pinkra.

(21)

Taman ini dibangun oleh Satuan Kerja Penataan Bangunan dan Ling-kungan Sumatera Utara Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementrian Pekerjaan Umum pada tahun 2011. Pengelolaannya saat ini oleh Pemer-intah Kota Tebing Tinggi melalui Dinas Kebersihan dan Pertamanan.

Karena letaknya yang strategis dan tidak jauh dari pusat kota, setiap harinya taman ini banyak dikun-jungi oleh masyarakat yang mel-akukan berbagai aktifitas. Secara umum, aktifitas pengunjung di ta -man dapat dikategorikan dalam dua bentuk, pertama aktifitas aktif sep -erti berolahraga (jogging, volley, basket, futsal, bermain-main, atau sekedar berjalan-jalan). Sementera aktifitas pasif adalah duduk-duduk, berteduh, mengobrol dan lain-lain. Kehadiran taman di tengah kota ini disambut antusias oleh masyarakat Kota Tebing Tinggi, hal tersebut da-pat terlihat dari animo masyarakat memanfaatkan taman kota ini. Ra-mainya pengunjung terutama di hari-hari libur menunjukkan bahwa masyarakat Kota Tebing Tinggi san-gat membutuhkan ruang terbuka hijau di tengah kota sebagai me-dia rekreatif. Keterbatasan taman kota dengan berbagai fasilitas me-nyebabkan antusiasme masyarakat yang tinggi dengan kehadiran Ta-man Kota/ TaTa-man Pinkra yang dilengkapi berbagai fasilitas ini.

Fungsi Sosial Taman

Secara alamiah kota tentunya men-galami perkembangan seiring den-gan bertambahnya jumlah penduduk dan meningkatnya aktifitas ekonom -inya. Maka secara perlahan semakin bertambah bangunannya sementara luasnya tidak mengalami pertamba-han. Seperti terlihat pada kota-kota pada umumnya (terutama kota-kota besar), perkembangan kota yang pesat akan menyebabkan munculnya berbagai permasalahan sosial baru. Kota sebagai pusat aktifitas ekonomi juga menjadi pusat aktifitas adminis -trasi pemerintahan, pendidikan dan lainnya menyebabkan warga kota disibukkan dengan rutinitas harian. Karena hal tersebutlah maka ruang sosial dan ruang rekreatif menjadi ke-butuhan dari masyarakat kota untuk menghilangkan kepenatan dan stress. Namun sayangnya lahan yang se-makin sempit menyebabkan semak-in berkurangnya ruang publik, maka di kota-kota besar sering terlihat anak-anak bermain bola di jalan ka-rena kekurangan lapangan olah raga. Taman kota sebagai ruang terbuka hijau dan sekaligus ruang publik me-miliki manfaat yang sangat penting. Selain secara ekologis untuk menjaga keseimbangan alam dan lingkungan, juga bermanfaat secara sosial sebagai media ekspresi dan interaksi sosial. Meski Kota Tebing Tinggi bu-kan kategori kota besar, tetap saja perkembangan kota harus dicer-mati untuk mengendalikan dampa-knya terutama menekan dampak negatif dari laju pertumbuhannya yang pesat. Ketersediaan Ruang Ter-buka Hijau dan ruang publik lain-nya di kota ini diharapkan men-jadi salah satu wadah menekan dampak negatif pembangunan kota. Pemanfaatan Taman Kota/ Ta-man Pinkra oleh masyarakat men-unjukkan ciri masyarakat kota

yang membutuhkan ruang rekre-atif keluarga, olah raga dan ber-main masyarakat. Dalam pengama-tan penulis, setiap harinya taman ini ramai dikunjungi masyarakat. Aktifitas rekreatif diharapkan se -cara psikis mendukung kesehatan jiwa masyarakat yang mendukung pembangunan mental masyarakat.

Budaya Taman

Berkunjung dan beraktifitas di ta -man dapat dikatakan menjadi bu-daya masyarakat, karena menjadi kebiasaan dan kebutuhan. Namun pemanfaatan fungsi taman ini harus semakin dikembangkan dengan memenuhi kebutuhan masyarakat yang lebih luas. Ke depan taman di kota ini bukan hanya sebagai tempat bermain, berolahraga dan bersantai saja namun bisa men-jadi pusat kebudayaan masyarakat. Luas taman ini 9.638 m²

dengan berbagai fasilitas yang antara lain lapangan olah raga (basket dan bola voli), mushola,

air mancur, tempat bermain anak-anak, lampu taman, tempat

sampah, toilet umum, patung Deblot Sundoro sebagai

dekorasi taman dan bangku-bangku taman.

Ekspresi seni dan budaya masyarakat bisa ditampilkan di sini yang tentunya didukung

dengan berbagai fasilitas seperti internet gratis, panggung seni, perpustakaan

dan lain-lain. Memang dalam pengamatan penulis Taman Pinkra ini belum pernah

dijadikan sebagai panggung pertunjukan seni, perlombaan

dan sebagainya. Bahkan mungkin taman ini bisa dijadikan sebagai tempat rapat-rapat kantor, seminar

dan diskusi sebagaimana halnya hotel atau kafe di

kota-kota lain

(22)

Kenapa begitu sangat pentingnya Perempuan dibahas dan dibicarakan pada Pileg yang sekarang ini, karena memang telah mendapat ruang yang besar dan diatur dalam UU No 2 ta-hun 2008 dan di ubah dengan UU No. 8/2012 tentang Partai Politik yang salah satu poinnya tertera pasal 53 keterwakilan 30% perempuan yang isinya menerangkan dalam 3 (tiga) orang bakal calon legislatif sekurang - kurangnya 1 (satu) perem-puan ke ikut sertaannya pada Pileg.

Selanjutnya dikuatkan lagi den-gan Peraturan KPU No 7 Tahun 2013 pasal 11 tentang pencalo-nan Anggota Legislatif menje-laskan tentang pengajuan daftar bakal calon dimana Partai Politik wajib menyertakan perempuan sekurang – kurangnya 30 persen dari setiap daerah pemilihan (Dapil).

Hal ini membuktikan pengakuan negara dalam berdemokrasi untuk menghargai gender perempuan yang juga berhak dalam ikut serta pada perpolitikan di Indonesia, sehingga sebuah Partai Politik berkewajiban atau keharusan meletakan atau juga memasukkan dalam susunan calon legislatif baik di DPRD Provinsi, DPRD Kota/Kabupaten dan DPR RI sesuai dengan Undang – Un-dang sebanyak 30% keterwakilan perempuan yang diajukan kepada

Komisi Pemihan Umum (KPU).

Untuk itulah setiap Partai politik berlomba mencari calon legislatif (caleg) perempuan yang dianggap berpotensi dalam mendulang suara pemilih bahkan mendapat kursi di parlemen supaya bergabung di Par-tainya, sehingga dengan demikian Partai tersebut dianggap telah men-gusung keterwakilan perempuan dan berharap dapat bisa mendongkrak elektabilitas dan popularitas Partain-ya di tengah – tengah masPartain-yarakat. Namun begitu banyak juga Patai Politik yang hanya menjadikan caleg perempuan sebagai peleng-kap yang untuk dimamfaatkan tak ubahnya sebagai pemanis dan ak-sesoris belaka tanpa diikutkan lebih jauh dalam program – pro-gram diusung oleh partai tersebut.

Untuk wilayah Kota Tebing Tinggi sendiri sesuai data yang ada pada KPU bahwa keterwakilan 30% per-empuan dari susunan pengajuan bakal calon Legislatif untuk 12 (dua belas) partai Politik yang ada sep-erti Nasdem, Hanura, PKS, PDIP, Golkar, Demokrat, PAN, Gerindra, PKB, PPP dan PBB serta PKPI telah memenuhi ketentuan UU tersebut sesuai dengan Dapil yang ada, un-tuk Dapil I wilayah Padang Hilir untuk keterwakilanya telah mel-ebihi kuota perempuan sebanyak

36%, pada Dapil II Padang Hulu/ Tebing Tinggi Kota sejumlag 30% dan Dapil III Bejenis/Rambutan juga sudah mencukupi sebanyak 30%, yang pada Pemilu 2009 lalu keterwakilan perempuan di DPRD Tebing Tinggi mendapat dua kursi.

Pa r t i s i p a s i Pe r e m p u a n

D a l a m Pe m i l u 2 0 1 4

Ketika kita berbicara tentang Pemilu Legislatif 2014 maka tidak terlepas dari keikut

sertaan perempuan dalam kancah dan dinamika politik untuk memasuki atau mengambil

peran kursi parlemen untuk turut menuangkan buah pikirnya dalam tatanan Negara dan

Pemerintahan.

(23)

Nah bagaimana peran perempuan tersebut, agar tidak hanya sebagai pelengkap keterwakilan dari partainya, un-tuk itu perempuan harus menyadari bahwa keikut ser-taannya dalam berdemokrasi pada pileg bukan sekedar hanya ikut – ikutan tetapi turut berjuang merebut dan menpengaruhi masyarakat agar memilihnya. Dengan per-juangannya itu tidak tertutup kemungkinan pamilih me-naruh harapan dan penantian terhadap perempuan.

Dengan kata lain, berbicara tentang apa yang dapat dilaku-kan dengan status dan kedududilaku-kannya sebagai perempuan. Secara umum, peran perempuan (women’s role) dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok; peran yang di -mainkan secara langsung (straight role), dan peran tidak langsung (no straight role). Yang dimaksud dengan peran secara langsung adalah peran yang secara langsung di-lakukan oleh perempuan dan pengaruhnya langsung da-pat dirasakan. Adapun peran secara tidak langsung adalah peran yang secara tidak langsung dilakukan perempuan, dan pengaruhnya pun dirasakan secara tidak langsung.

Jika kita mengukur partisipasi politik perempuan, tentang persamaan hak (gender) untuk memilih dan dipilih, terlihat bahwa perempuan lebih ban-yak digunakan sebagai alat untuk memobilisasi suara untuk Partai selama kepentingan berjalan.

Agar tidak terjadi pemamfaatan seperti itu maka kip-rah perempuan dalam arena publik juga dapat dite-lusuri dalam pentas sejarah nasional bangsa Indone-sia sebagai motivasi dan contoh dalam perjuangnya yakni perjuangan kaum perempuan di masa pen-jajahan kolonial tak kalah heroiknya dengan kaum pria. Kita kenal Cut Nyak Dien, tokoh pejuang perempuan yang tangguh asal Aceh, Cut Meutia, juga Kartini, yang hingga kini namanya sering di-jadikan simbol gerakan emansipasi perempuan.

Sesungguhnya secara de jure tidak ada per-bedaan antara laki-laki dan perempuan dalam pemilu. Tetapi de facto-nya, perbedaan itu men-ukik tajam. Sudah berkali-kali pesta itu dilaku-kan, namun kesenjangan masih berlangsung di pemilu, dan perempuan selalu disimpang sejarah.

Dewasa ini, banyak dijumpai perempuan yang ak-tif berkiprah di ruang publik (politik). Seperti akak-tif menjadi politisi, anggota parlemen, menteri, dan meraih posisi di jabatan publik lainnya. Oleh ka-rena itu, upaya berbagai kalangan untuk menuntut kuota 30% bagi perempuan dalam sistim politik, cukup relevan dengan dinamika masyarakat saat ini.

Persoalannya kembali kepada kaum perem-puan sendiri. Mampukah di tengah rimba per-politikan yang begitu kompleks, keras dan banyak wilayah abu-abu, kaum perempuan tetap menjaga marwah dan izzah-nya seba-gai seorang ibu, istri dan pemimpin yang baik.

Kita berharap di Pesta Demokrasi Pemilihan Umum legislatif pada 9 April 2014 mendata-ng selain berjalan demokratis dan elegan, lebih berkualitas, baik prosedural maupun substansial. Posisi dan peran perempuan kader partai politik yang menjadi calon legislatif, sejatinya menjadi pelopor demokrasi yang akan menciptakan iklim politik yang sehat dan ramah. Untuk itu, dibutuh-kan sebuah strategi kampanye kaum perempuan yang perlu dikemas lebih humanis, dan menarik.

(24)

Bagi perempuan yang terjun ke poli-tik saat ini momentum Pemilu harus menjadi peluang untuk membuk-tikan eksistensi kaum perempuan di bidang politik. Jika seorang per-empuan ingin berkiprah di politik, dan ingin dikenal publik, dia wajib bekerja keras seperti halnya Laki-laki. Lagi pula perempuan memiliki banyak aspek yang tidak dimiliki lawan jenisnya untuk mendulang empati pemilih, kelebihan yang dimiliki perempuan seperti teliti, telaten,dan cepat serta penuh per-hatian sehingga mampu mempen-garuhi membawa pada kemajuan.

Upaya yang kemudian harus diban-gun perempuan adalah bagaima-na mengubah sistem yang dinilai menghambat perempuan dalam menjalankan upaya mereka mel-anjutkan gerakan dalam membawa aspirasi perempuan itu sendiri. sis-tem pendidikan yang dinilai dapat menghambat diupayakan untuk diatasi kemudian budaya yang tel-ah dibangun selama ini perltel-ahan- perlahan-lahan diubah demi kepentingan

perempuan untuk turut serta dalam melaksanakan gerakan tersebut.

Sudah seharusnyalah perempuan, ketika akan merebut atau menuju kursi Parlemen jangan hanya sekedar bunga atau pelengkap karena me-menuhi aturan kuota menurut UU, tetapi harus perlu membekali dengan kemampuan, kekuatan, pemikiran, punya kreativitas, ketegasan dan misi ke depan, serta memperkaya pengetahuan dibidang politik guna membahas dan menyelesaikan per-masalahan dalam segala hal teruta-ma persoalan perempuan itu sendiri.

Berikutnya adalah bagaimana per-empuan bisa dan harus mendukung dari gerakan perempuan untuk pe-rubahan secara menyeruh sehingga peran dan program yang pro per-empuan dapat dikembangkan dan dibangun dengan adanya partisipasi perempuan dalam setiap proses baik itu politik, ekonomi dan lainnya. dan yang lebih akhir nantinya dari gerakan adalah program yang lebih kearah kesejahteraan perempuan

pada umumnya yang tertuang dalam regulasi sistem negara Indonesia.

Dalam kesempatan politik pada Pemilu pileg ini kita berharap per-empuan dapat berupaya dan beru-saha memperoleh keberhasilannya atas perjuangnya berkiprah merebut kursi di parlemen, begitu juga den-gan para caleg perempuan diKota Tebing Tinggi yang tadinya pada Pemilu 2009 hanya 2 (Dua) kursi hendak dapat meningkat lebih dari yang lalu. Namun semuanya tergan-tung dari perjuangan perempuan itu sendiri dalam mempengaruhi dan mengajak dengan mengembangkan isu – isue yang pro perempuan agar pemilih terutama pemilih perempuan tersebut memilih perempuan, Semo-ga kedepannya akan lahir Kartini – Kartini baru sebagai pejuang wanita. Kita ucapkan selamat hari Perm-puan Sedunia pada bulan Maret ini, dan selamat juga hari Kartini yang akan jatuh pada April mendatang.

**( Edi Suardi)

Generasi Berencana

Oleh : Drg Dina Kamarina,MKes

S

ebagaimana diketahui ber-dasarkan hasil Sensus Pen-duduk Tahun 2010, jumlah remaja usia 10-24 tahun di Indonesia berjumlah 63.443.448 atau 27,6% dari jumlah penduduk Indonesia 237,6 juta jiwa. Pada usia ini, Remaja sangat rentan terhadap risiko yang dikenal dengan TRIAD Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) antara lain Seksualitas, HIV/ AIDS, NAPZA, dan bahkan Pernika-han Dini yang sekarang memang kerap terjadi, baik di kota maupun di desa dengan berbagai alasan dan motivasi. Masa remaja seringkali dihubungkan dengan mitos dan stereotip mengenai penyimpangan dan ketidakwajaran. Hal tersebut dapat dilihat dari ban-yaknya teori-teori perkembangan yang

membahas ketidakselarasan, gangguan emosi dan gangguan perilaku seba-gai akibat dari tekanan-tekanan yang dialami remaja karena perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya maupun akibat perubahan lingkungan.

Masa remaja merupakan masa per-alihan dari anak-anak yang sangat menentukan bagi kehidupan masa depan selanjutnya. Remaja melalui masa transisi yang terbagi menjadi 5 hal (Youth Five Life Transitions) antara lain :

1. Melanjutkan sekolah (Continue Learning)

2. Mencari pekerjaan (Start Working) 3. Memulai kehidupan berkeluarga

(Form Families)

4. Menjadi anggota masyarakat (Exer-cise Citizenship)

5. Mempraktekkan hidup sehat (Prac-tice Healthy Life)

Berdasarkan uraian di atas, untuk melak-sanakan transisi kehidupan remaja, Badan Kependudukan dan Keluarga Berancana (BKKBN) telah mengembangkan Program GenRe (Generasi Berencana) yaitu pen-ingkatan assets/capabilities, pengemban-gan resources/opportunities dan pelayanan second chance (kesempatan kedua). Pro-gram tersebut dimaksudkan untuk menja-min kelangsungan hidup remaja. Sebab, pelaksanaan kelima transisi kehidupan remajaakan sangat ditentukan keberhasi-lannya oleh berhasil atau tidaknya remaja mempraktekkan kehidupan yang sehat. Bila gagal, kemungkinan besar remaja yang bersangkutan akan mengalami kegagalan pada keempat bidang kehidupan yang lain.

Referensi

Dokumen terkait