• Tidak ada hasil yang ditemukan

PANCASILLA ESSAY JURNAL PERAN KELUARGA D

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PANCASILLA ESSAY JURNAL PERAN KELUARGA D"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

MATA KULIAH UMUM PANCASILA

NAMA : FATHUR RIZQI PRIYADI

NO.REG : 1402617004

PRODI : GEOGRAFI

FAKULTAS : ILMU SOSIAL

ANGKATAN : 2017

TUGAS : ESSAY JURNAL PERAN KELUARGA DALAM MENERAPKAN NILAI BUDAYA SUKU SASAK DALAM MEMELIHARA LINGKUNGAN

(2)

suku yang ada, memiliki kebudayaan atau ciri khas sebagai identitas yang menjiwai etnik tersebut.

Keanekaragaman kebudayaan Indonesia dapat dilihat dari berbagai ragam adat-istiadat maupun bahasa, yang tentunya memiliki ciri khas karakter pada setiap komunitas budaya itu. Berbahasa lebih dari 300 dialek. Walaupun ada keanekaragaman bahasa dan budaya pada masing-masing daerah ternyata memiliki dasar yang sama, maksudnya berasal dari rumpun bahasa dan jenis budaya yang sama yaitu Astronesia (Weda Kusuma, 2005:59). Dengan melihat fakta bahwa begitu besar potensi budaya di Indonesia maka perlu mendapatkan sekala prioritas dalam berbagai kajian. Menurut Koentjaranigrat (1993:3), Kajian tentang kesukubangsaan lebih penting, karena sebagian besar Negara-negara di dunia bersifat multi etnik, dan di antara 175 negara anggota Perseritkatan Bangsa-bangsa, hanya 12 negara yang berpenduduk kurang lebih homogen, dan arena itu masalah kesukubangsaan merupakan masalah global.

Kemajemukan masyarakat Indonesia itu tidak hanya terwujud dalam berbagai struktur sosial yang dikembangkan sebagai perwujudan adaptasi aktif mereka terhadap lingkungan, melainkan juga dalam keanekaragaman kebudayaan Indonesia itu tidak hanya bersifat mendasar dan mencerminkan pola-pola adaptasi setempat yang berbeda, melainkan juga bersifat tegak lurus, kerena perbedaan pengalaman sejarah yang berlainan. Kenyataan sosial dan kebudayaan tersebut sangat besar pengaruhnya dalam pembangunan bangsa yang dirintais sejak awal kebangkitan bangsa, ( Budhisantosa, 2001 : 1 ).

Sistem kekerabatan merupakan cara untuk mengatur atau cara dalam mengatur hubungan sesama keluarga, sanak famili, teman sejawat maupun teman kerja berdasarkan adanya aturan yang dibuat bersama secara turun temurun maupun berkala. Koentjaraningrat (2005) misalnya menjelaskan bahwa rumah tangga yang merupakan keluarga inti adalah pemegang atau inti dari sistem kekerabatan. Menurut Koentjaraningrat bahwa pasangan suami istri membentuk suatu kesatuan sosial yang mengurus ekonomi rumah tangganya. Rumah tangga biasanya terdiri dari satu keluarga inti, tapi mungkin juga terdiri dari dua sampai tiga keluarga inti (Koentjaraningrat, 2005: 103). Sedangkan yang termasuk keluarga inti adalah suami, istri dan anak-anak mereka yang belum menikah, anak tiri dan anak yang secara resmi diangkat sebagai anak, memiliki hak yang kurang lebih sama dengan hak anak kandung, dan karena itu dapat dianggap pula sebagai anggota dari suatu keluarga inti (Koentjaraningrat, 2003: 106). Jadi secara sederhana dapat dikatakan semakin meluasnya kekerabatan maka akan semakin kompleks pula sistem kekerabatannya, dalam artian kadang-kadang budaya yang dikembangkan oleh suatu kerabat yang serumpun kadang-kadang berbeda dengan kelompoknya yang satu kerabat, bisa karena perpindahan tempat tinggal maupun adanya pengaruh lingkungan, sosial, ekonomi maupun pendidikan. Namun bagaimanapun sistem kekerabatan yang disusun dalam suatu masyarakat dapa kita lihat dari status maupun tingkatan strata sosialnya dalam kehidupan masyarakat.

(3)

keagamaan (Sasongko 2005:5). Masyarakat Dusun Limbungan juga mengenal prinsip patrelinear yakni mengikuti garis keturunan ayah dan jika terjadi perkawinan maka anak hasil perkawinan tersebut akan mengikuti gelar kebangsawanan ayahnya. Suku sasak juga mempunyai sistem patrialisme atau suatu paham dimana keputusan tertinggi adalah seorang ayah atau suami. Seperti masyarakat biasanya bahwa ayah atau suami berkewajiban untuk mencari nafkah. Dalam setiap masyarakat manusia, akan di jumpai keluarga batih (“nuclear family). Keluarga batih tersebut merupakan kelompok sosial kecil yang terdiri dari suami, istri beserta anak-anaknya yang belum menikah. Keluarga batih tersebut lazimnya juga di sebut rumah tangga, yang merupakan unit terkecil dalam masyarakat sebagai wadah dan proses pergaulan hidup seperti di sebutkan di atas. Suatu keluarga batih dianggap sebagai suatu sistem sosial, oleh karena memiliki unsur-unsur sistem sosial yang ada pada pokoknya mencakup kepercayaan, perasaan, tujuan, kaidah-kaidah, kedudukan, dan peranan, tingkatan atau jenjang, sanksi, kekuasaan dan fasilitas lainnya (Soerjono Soekanto, 2009: 1). Keluarga merupakan lingkungan sosial budaya yang paling kecil, dan merupakan wadah dimana terjadi proses yang saling mengkait antara unsur-unsur kebendaan dan spiritual.

Pendidikan moral atau sikap sangat tergantung dari pendidikan yang di dapatkan, keluarga yang berperan utama dalam membentuk moral anak sebelum dibentuk di lingkungan yang lebih lagi. Moral anak yang baik dibentuk oleh keluarga yang memberikan perhatian baik kepada anak, tujuannya agar anak tidak merasa diteledorkan atau kesepian. Dalam sebuah keluarga, ayah dan ibu memiliki peran sangat penting dalam sebuah rumah tangga terlebih mengangkut masa depan anak nya. Interaksi dan komunikasi antara ayah dan ibu terhadap anak nya, memiliki arti penting dalam sebuah keluarga. Ayah mendidik anak nya agar memiliki rasa percaya diri, memberikan motivasi kepada anaknya agar mampu berprestasi, dan mengajarkan anaknya untuk bertanggung jawab. Pendidikan atau ajaran yang diberikan oleh ibu kepada anaknya, mempunyai arti agar anaknya memiiki akhlak dan perilaku yang baik dalam kehidpan sehari-harinya, sesuai dengan norma yang berlaku. Dan ibu juga memberikan kasih sayang dan dapat menjaga anaknya dari perbuatan yang tidak diinginkan dengan cara menasehati dan memberikan penjelasan kepada anaknya.

(4)

Jadi, peran budaya yang ada khususnya budaya suku sasak sangat membantu anak dalam pembentukan moral anak menjadi lebih baik selain mendapatkannya di sekolah. Keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat akan membentuk moral anak menjadi lebih baik lagi. Moral yang baik akan menghasilkan sesuatu yang baik pula selama budaya itu mengandung nilai kebaikan dan keharmonisan sikap anak.

(5)

Daftar Pustaka :

1. THE INFLUENCE OF LEARNING STRATEGIEAS AND STYLES OF

THOUGHT ON THE ABILITY OF STUDENTS TO SOLVE ENVIRONMENTAL PROBLEMS (Budiman @Prof.Dr. Nadiroh, M.Pd)

2. https://www.researchgate.net/publication/315531951_PERMUKIMAN_TRADI SIONAL_SUKU_SASAK_DI_DUSUN_SENARU

3. https://murdilalu.wordpress.com/2012/03/24/sistem-sosio-kultural-masyarakat-sasak-di-lombok-timur/

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan sosial dari keluarga, atasan, dan rekan kerja berperan signifikan terhadap resilient self-efficacy guru

Menurut Azwar (2015) penyakit infeksi lebih banyak diderita masyarakat dengan status sosial ekonomi rendah artinya, jika suatu keluarga mempunyai tingkat ekonomi yang

Hasil penelitian menunjukan: (1) Pendampingan LSM yang mengarah pada ketahanan sosial keluarga anak jalanan adalah (a) aspek pendidikan, (b) aspek ekonomi, (c)

Untuk itu, perlu disusun suatu kerangka sistem untuk membuka kepekaan masyarakat sebagai bentuk public check and ballances yang tujuan untuk mengembalikan kepercayaan

1) Leininger pada tahun 1976, keluarga merupakan suatu sistem sosial yang dapat menggambarkan adanya jaringan kerja dari orang-orang yang secara reguler