STRUKTUR PASAR DAN PERSAINGAN HARGA PADA

34  21  Download (0)

Teks penuh

(1)

STRUKTUR PASAR DAN PERSAINGAN HARGA

PADA PASAR PERSAINGAN SEMPURNA, PASAR MONOPOLI, PERSAINGAN MONOPOLISTIK, DAN PASAR OLIGOPOLI DALAM

PERSPEKTIF KONVENSIONAL DAN ISLAM

Pemakalah :

1. Faruk ( F120415228 )

2. M.Afif Rahman ( F120415233 )

3. Mirza Hasan Syansuri ( F120415234 ) 4. Lailatul Azizah ( F120415232 )

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ekonomi Manajerial

Dosen Pengampu : Dr. Muhammad Hafik H.R Msi

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL FAKULTAS SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM

JURUSAN EKONOMI SYARIAH PROGRAM PASCA SARJANA

(2)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Struktur pasar dalam Islam adalah menggambarkan jumlah pelaku dalam pasar, sekaligus menggambarkan tingkat kompetensi yang terjadi dalam suatu pasar. Struktur pasar dibedakan berdasarkan banyaknya penjual dan pembeli. Secara mudah dikatakan pasar yang terdiri dari banyaknya penjual dengan barang yang relatif homogen disebut pasar persaingan sempurna (perfect competition) sedangkan pasar yang terdiri dari banyak penjual dan barangnya berbeda satu sama lain (terdiferensiasi) disebut pasar bersaing mono-polistik (monopolistic competition) pasar yang hanya ada satu penjual disebut pasar monopoli, pasar yang ada beberapa penjual disebut oligopoli

Dalam penerapannya seringkali timbul pertanyaan seberapa banyak pejual sehingga suatu pasar disebut pasar yang bersaing sempurna. Seberapa terdiferensi barang yang dijual sehingga disebut pasar bersaing monopolistik. Apa batasan beberapa penjual dalam defenisi pasar oligopoli. Secara teknis alat ukur yang dipakai untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah rasio penguasaan pangsa pasar atau sering juga disebut contentration ratio

(cr).1

Ekonomi Islam adalah ekonomi yang mengedepankan pada kebebasan, tetapi kebebasan tersebut diungkapkan lebih pada bentuk kerja sama dibandingkan dalam bentuk persaingan. Tentu saja kerja sama merupakan tema umum dari organisasi sosial Islam. Individu dan kesadaran sosial tidak lepas dari jalinan yang bekerja bagi terwujudnya kesejahteraan lainnya. Inilah ajaran Islam kepada umatnya yang dituangkan dalam Al-Qur’an, yang diekspresikan oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Prinsip persaudaraan sangat ditegaskan dalam Al-Qur’an dan sunah. Utamanya dalam hal pembagian kepemilikan pribadi kepada saudara, guna memperkuat orientasi sosial dikalangan muslim dengan memperkenalkan konsep atas kewajiban

(3)

bersama, dimana tanggung jawab individu dapat dilakukan oleh individu yang lain konsep ini menekankan pada pemenuhan kebutuhan masyarakat dan dorongan individu untuk berusaha memenuhinya.

Keterlibatan pemerintah dalam pasar bukanlah hal yang bersifat sementara atau sesaat. Ekonomi Islam memandang pemerintah dalam pasar merupakan satu kesatuan (co-existing) dengan unit ekonomi lainnya dengan pasar yang permanen dan stabil. Dalam hal ini pemerintah bertindak sebagai perencana, supervisor, produsen juga konsumen.2

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian struktur pasar ?

2. Jelaskan arti pentingnya struktur pasar ?

3. Sebut dan jelaskan ciri dari pasar persaingan sempurna dalam perspektif konvensional ?

4. Sebut dan jelaskan ciri dari pasar persaingan tidak sempurna dalam perspektif konvensional ?

5. struktur pasar dan aturan main dalam ekonomi Islam 6. Peran pemerintah dalam pasar menurut perspektif Islam

(4)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Struktur Pasar

Pasar adalah suatu tempat atau proses interaksi antara permintaan (pembeli) dan penawaran (penjual) dari suatu barang/jasa tertentu, sehingga akhirnya dapat menetapkan harga keseimbangan (harga pasar) dan jumlah yang diperdagangkan.

Jadi setiap proses yang mempertemukan antara pembeli dan penjual, maka akan membentuk harga yang disepakati antara pembeli dan penjual.

Dalam kehidupan sehari-hari kita dapat melihat pasar dalam bentuk fisik seperti pasar barang (barang konsumsi). Secara sederhana pasar dapat dikelompokkan menjadi:3

a. Menurut segi fisiknya, pasar dapat dibedakan menjadi beberapa macam, di antaranya:

1) pasar tradisional 2) pasar raya 3) pasar abstrak 4) pasar konkrit 5) toko swalayan 6) toko serba ada

b. Sedangkan berdasarkan jenis barang yang dijual, pasar dibedakan menjadi beberapa macam di antaranya:

1) pasar ikan 2) pasar sayuran 3) pasar buah-buahan 4) pasar barang elektronik 5) pasar barang perhiasan 6) pasar bahan bangunan 7) bursa efek dan saham.

(5)

Aktivitas usaha yang dilakukan di pasar pada dasarnya akan melibatkan dua subyek pokok, yaitu produsen dan konsumen. Kedua subyek tersebut masing-masing mempunyai peranan yang sangat besar terhadap pembentukan harga barang di pasar.

Struktur Pasar memiliki pengertian penggolongan produsen kepada beberapa bentuk pasar berdasarkan pada ciri-ciri seperti jenis produk yang dihasilkan, banyaknya perusahaan dalam industri, mudah tidaknya keluar atau masuk ke dalam industri dan peranan iklan dalam kegiatan industri. Analisa ekonomi membedakan struktur pasar menjadi 4 jenis yaitu : Pasar Persaingan Sempurna, Pasar Monopoli, Persaingan Monopolistis, dan Pasar Oligopoli

Dalam ilmu ekonomi, pasar, negara, individu dan masyarakat selalu menjadi perbincangan. Oleh karenanya sebelum kita membahas tentang struktur pasar dalam ekonomi Islam, akan lebih baik jika kita mengetahui sistem-sistem pasar. Ada beberapa pandangan ekonom mengenai sistem pasar, diantaranya adalah pasar menurut kapitalisme dan sosialisme yang biasa kita sebut dengan ekonomi konvensional, dan pasar menurut pandangan ekonomi Islam.4

Dalam kapitalisme pasar memainkan peranan yang sangat penting dalam sistem perekonomian. Ekonomi kapitalis menghendaki pasar bebas untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi, mulai dari produksi, konsumsi sampai distribusi. Dalam konsep dasarnya adalah lassez faire (biarkan kami bebas). Maksudnya, pasar tidak boleh diganggu atau diintervensi oleh siapapun, termasuk oleh pemerintah. Dengan kekuatan invisible hand-nya, pasar secara otomatis akan menjawab dan mengatur semua persoalan ekonomi dengan harmonis (Anto, 2003:314).

Sementara itu, sistem ekonomi sosialisme berpandangan sebaliknya, yaitu peranan pasar harus ditiadakan. Negara harus menguasai segala sektor ekonomi untuk memastikan keadilan kepada rakyat mulai dari means of production sampai mendistribusikannya kembali kepada buruh, sehingga mereka juga menikmati hasil usaha.

(6)

Dan terakhir pasar dalam pandangan ekonomi Islam secara umum dapat disampaikan bahwa kemunculan pesan moral Islam dalam pencerahan teori pasar, dapat dikaitkan sebagai bagian dari reaksi penolakan sosialisme dan sekularisme, ataupun secara khusus ideologi-ideologi yang sudah banyak diasumsikan banyak orang sebagai system yang merusak dan memposisikan diri sebagai oposisi dari paham dan pasar bebas di dunia barat. Ajaran Islam dengan tegas menolak sejumlah ideologi ekonomi yang terkait dengan kepentingan investor, menghindari kehidupan duniawi, economic egalitarianism maupun authoritarianism (ekonomi terpimpin atau paham mematuhi seseorang atau badan secara mutlak) (Nasution,2006:158).5

Dalam pengertian yang sangat sederhana, pasar adalah sebagai tempat bertemunya antara penjual dan pembeli. Mereka saling berinteraksi melakukan transaksi jual dan beli barang bahkan jasa pun ada. Oleh karena itu dalam makalah ini penulis akan mencoba membahas tentang bagaimana struktur pasar dalam ekonomi konvensional dan struktur pasar Islami?. Penulis akan mengkomparasikan kedua pandangan tersebut sehingga kita dapat mengetahui perbedaan antara keduanya. Sehingga kita memahami konsep dasar pasar dan struktur pasar yang seharusnya diterapkan sesuai dengan tujuan ekonomi yaitu kemakmuran dan falah.

2.2 Arti Pentingnya Struktur Pasar A. Struktur Pasar

Struktur adalah pengelompokan variabel-variabel yang bernaung dalam satu nama yang sama. Struktur biasa dipakai untuk mengelompokkan beberapa informasi yang berkaitan menjadi sebuah. Struktur pasar menggambarkan jumlah pelaku dalam suatu pasar. Sekaligus menggambarkan tingkat kompetisi yang terjadi dalam suatu pasar tersebut. Struktur Pasar memiliki pengertian penggolongan produsen kepada beberapa bentuk pasar berdasarkan pada ciri-ciri seperti jenis produk yang dihasilkan, banyaknya perusahaan dalam industri, mudah tidaknya keluar atau masuk ke dalam industri dan peranan iklan

(7)

dalam kegiatan industri. Pada analisa ekonomi dibedakan menjadi pasar persaingan sempurna dan pasar persaingan tidak sempurna (yang meliputi monopoli, oligopoli, dan monopolistik).6

Struktur pasar sangatlah penting, karena terkait dengan harga yang akan diterima oleh konsumen. Struktur pasar juga akan mempengaruhi tingkat efisiensi, semakin tinggi jumlah pelaku dalam pasar maka tingkat persaingan akan semakin tinggi sehingga menuntut untuk lebih efisien

B. Pentingnya Struktur Pasar

Struktur pasar sangatlah penting, karena terkait dengan harga yang akan diterima oleh konsumen. Struktur pasar juga akan mempengaruhi tingkat efisiensi, jadi semakin tinggi jumlah pelaku dalam pasar, maka tingkat persaingan akan semakin tinggi sehingga menuntut untuk lebih efisien.

2.3 Ciri Pasar Persaingan Sempurna Dalam Perspektif Konvensional A. Pasar Persaingan Sempurna (Perfect Competitive Market)

Pasar persaingan sempurna adalah suatu industri dimana terdapat banyak penjual dan pembeli, dan setiap penjual maupun pembeli tidak dapat mempengaruhi keadaan di pasar (Sukirno, 1997:229) Secara sederhana, pasar persaingan sempurna adalah pasar yang terdiri dari banyak penjual dengan barang relatif homogen (Karim, 2007:167).

Persaingan sempurna merupakan struktur pasar yang paling ideal, karena dianggap sistem pasar ini adalah struktur pasar yang akan menjamin terwujudnya kegiatan memproduksi barang atau jasa yang sangat tinggi efisiensinya. Akan tetapi dalam prakteknya tidaklah mudah untuk menentukan jenis industri yang struktur organisasinya dapat digolongkan kepada persaingan sempurna murni (Sukirno, 1997:229). Dalam pasar persaingan sempurna,secara teoritis penjual tidak dapat menentukan harga (price taker), dimana penjual akan menjual barangnya sesuai harga yang berlaku di pasar (Karim, 2007:169).

(8)

Menurut Sadono Sukirno (1997), pasar persaingan sempurna mempunyai ciri-ciri sebagai berikut: a. Perusahaan adalah pengambil harga: Pengambil harga atau price taker berarti suatu perusahan yang ada di dalam pasar tidak dapat menentukan atau mengubah harga pasar. Apa pun tindakan perusahaan dalam pasar, ia tidak akan menimbulkan perubahan ke atas harga pasar yang berlaku. Harga barang di pasar ditentukan oleh interaksi diantara keseluruhan produsen dan keseluruhan pembeli, b. Setiap perusahaan mudah keluar atau masuk: Sekiranya perusahaan mengalami kerugian, dan ingin meninggalkan industri tersebut, langkah ini dapat dengan mudah dilakukan. Sebaliknya apabila ada produsen yang ingin melakukan kegiatan di industri tersebut, produsen tersebut dapat dengan mudah melakukan kegiatan yang diinginkannya tersebut, c. Menghasilkan barang serupa: Barang yang dihasilkan berbagai perusahaan tidak mudah untuk dibeda-bedakan. Barang yang dihasilkan sangat sama atau serupa. Barang seperti itu dinamakan dengan istilah barang identical atau homogenous, d. Terdapat banyak perusahaan di pasar: Sifat inilah yang menyebabkan perusahaan tidak mempunyai kekuasaan untuk mengubah harga, e. Pembeli mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai pasar (perfect knowledge).7

Pasar persaingan sempurna memiliki beberapa kebaikan dibandingkan pasar-pasar yang lainnya: a. Persaingan sempurna memaksimumkan efisiensi, b. Kebebasan bertindak dan memilih. Disamping memiliki kebaikan-kebaikan ahli ekonom berpendapat bahwa pasar persaingan sempurna juga memiliki kelemahan dan keburukan antara lain: a. Persaingan sempurna tidak mendorong inovasi, b. Persaingan sempurna adakalanya menimbulkan biaya social, c. Membatasi pilihan konsumen, d. Biaya dalam pasar persaingan sempurna mungkin lebih tinggi, e. Distribusi pendapatan tidak selalu rata.

Pasar persaingan sempurna atau pasar bebas secara teori penjual tidak dapat menentukan harga atau disebut price taker. Dimana penjual

(9)

akan menjualbarangnya sesuai dengan barang yang berlaku dipasar. Dalam kenyataannya pasar persaingan sempurna memiliki derajat yang berbeda-beda

a. Model pasar persaingan sempurna didasarkan pada asumsi :8

1. Semua pengusaha adalah pengusaha lemah, yang sama kuatnya dengan pengusaha lain, dengan demikian tidak ada yang menguasai modal, pasar karena semuanya sama

2. Para pengusaha bersaing hanya dengan kelihaian berusaha dan berprestasi lebih baik dari orang lain

3. Tidak ada yang menghalangi persaingan

4. Karena pengusaha yang tidak efisien akan mati dengan sendirinya, maka hanya pengusaha yang kreatif, efisien itulah yang terus hidup.

5. Orang yang berselisih pada waktunya akan bangkit kembali belajar dari kesalahan dan belajar dari keberhasilan orang lain

Antara pasar persaingan sempurna (perfect competition) dan pasar persaingan murni (pure competition) ada sebagian orang membedakannya. Pasar persaingan sempurna menghendaki persyaratan lebih sedikit dari pasar persaingan murni. Apabila persaingan murni hanya mencakup satu derajat kesempurnaan yaitu situasi tanpa adanya monopoli sama sekali. Sedangkan persaingan sempurna pada umumnya mengandung arti terdapatnya mobilitas sempurna dari sumber daya serta adanya pengetahuan yang sempurna baik pembeli maupun penjual.

b. Tambahan Persyaratan Dalam Persaingan Murni9

1. Dalam persaingan murni harus terdapat banyak penjual dan pembeli. Jumlahnya harus banyak, sehingga masing-masing penjual hanya merupakan bagian kecil dari pasar secara keseluruhan. Seorang penjual tidak dapat mempengaruhi harga pasar, satu-satunya unsur yang dikuasai hanyalah kuantitas barang

8 Ismail Namawi. Ekonomi Manajerial Teori dan Aplikasi dalam Bisnis. (Sidoarjo : CV. Dwi Putra Pustaka Jaya, 2014) hal. 292

(10)

yang ditawarkan. Harga dipasar dianggap sebagai datum yang tidak dipengaruhi oleh penjual.

2. Barang yang dihasilkan bersifat homogen, artinya barang yang diproduksi oleh seorang produsen merupakan barang subtitusinya sempurna dari barang yang sama yang diproduksi oleh produsen lain.

3. Adanya kebebasan keluar masuk industri (free entry dan free exit) baik bagi konsumen maupun bagi produsen.

Agar menjadi persaingan sempurna maka harus ditambah persyaratan yaitu : 1. Informasi mengenai pasar (perubahan harga dan permintaan). 2. Tidak adanya hambatan dalam mobilitas sumber-sumber ekonomi dari satu usaha ke usaha yang lain atau dair satu lokasi ke lokasi yang lain.10

2.4 Ciri Pasar Persaingan Tidak Sempurna dalam Perspektif Konvensional A. Pasar Monopoli

Struktur pasar yang bertentangan dengan pasar persaingan sempurna adalah monopoli. Monopoli adalah suatu bentuk pasar dimana hanya terdapat satu perusahaan saja; dan perusahaan ini menghasilkan barang yang tidak mempunyai barang pengganti yang sangat dekat (close substitute) (Sukirno, 1997:261). Frank Fisher menjelaskan kekuatan monopoli sebagai “the ability to act in unconstrained way” (kemampuan bertindak [dalam menentukan harga] dengan caranya sendiri) sedangkan Besanko dkk menjelaskan monopoli sebagai penjual yang menghadapi “little or no competition” (kecil atau tidak ada persaingan) di pasar (Karim, 2007:169).11

Ciri-ciri pasar monopoli sangat berbeda dengan pasar persaingan sempurna, Sadono Sukirno (1997) menerangkan ciri-cirinya sebagai berikut:12

10 Sadono, Sukirno. Mikro Ekonomi Teori Pengantar. (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2007), hal. 297

11 Ibid hal 298

(11)

a. Pasar monopoli adalah industri satu perusahaan. Para pembeli tidak punya pilihan lain, kalau mereka menginginkan barang tersebut maka mereka harus membeli dari perusahaan tersebut, syarat-syarat penjualan sepenuhnya ditentukan oleh monopoli itu.

b. Tidak mempunyai barang pengganti (subtitusi) yang mirip. aliran listrik adalah contoh dari barang yang tidak mempunyai subtitusi yg mirip.

c. Tidak terdapat kemungkinan untuk masuk kedalam industri/pasar. Ada beberapa bentuk hambatan kemasukan ke dalam pasar monopoli, hambatan ini dapat berbentuk Undang-undang, memerlukan teknologi yang canggih dan memerlukan modal yang sangat besar.

d. Dapat menguasai harga. Perusahaan monopoli dipandang sebagai penentu harga (price setter).

e. Promosi iklan kurang diperlukan.

Sedangkan factor-faktor yang menimbulkan pasar monopoli: (1) perusahaan monopoli mempunyai sumberdaya tertentu yang unik dan tidak dimiliki perusahaan lain, (2) Perusahaan monopoli dapat menikmati skala ekonomis dalam kegiatan yang dilakukannya, (3) Pemerintah melalui undang-undang memberikan hak monopoli kepada perusahaan tertentu (Sukirno, 1997:263).

Pasar monopoli memiliki beberapa aspek positif, sebagai mana dikemukakan oleh Suprayitno (2008:212) diantaranya adalah: (1) efisiensi dan pertumbuhan ekonomi: karena laba maksimal; (2) efisiensi pengadaan barang publik: karena skala usaha yang besar; dan (3) peningkatan kesejahteraan masyarakat.

B. Pasar Persaingan Monopolistis

(12)

persaingan monopolistis dapat didefinisikan sebagai suatu pasar di mana terdapat banyak produsen yang banyak menghasilkan barang berbeda corak (differentiated product) (Sukirno, 1997:294). Terdeferensiasinya produk yang dijual memberikan peluang bagi penjual lain untuk menjual barangnya dengan harga yang berbeda (price maker) dengan barang lain yang ada di pasar (Karim, 2007:170).13

Secara formal, Edward Chamberlin dalam Karim (2007:170) memperkenalkan monopolistic Competition pada tahun 1933. Adapun ciri-ciri pasar persaingan monopolistis seperti yang dikemukakan Sadono Sukirno (1997:294) adalah sebagai berikut:14

a. Terdapat banyak penjual: terdapat panyak penjual namun tidak sebanyak seperti dalam pasar persaingan sempurna. Perusahaan dalam pasaran monopolistis mempunyai ukuran yang relatif sama besarnya, keadaan ini menyebabkan produksi sesuatu perusaan adalah sedikit kalau dibandingkan dengan keseluruhan produksi dalam keseluruhan pasar.

b. Barangnya bersifat berbeda corak: ciri ini merupakan sifat yang penting di dalam membedakan di antara pasar persaingan monopolistis dan persaingan sempurna. Produksi dalam persaingan pasar ini berbeda corak dan secara fisik mudah dibedakan.

c. Perusahaan mempunyai sedikit kekuasaan mempengaruhi harga: namun demikian pengaruhnya relatif kecil bila dibandingkan dengan pasar oligopoly atau monopoli. Kekuatan mempengaharui harga oleh perusahaan monopolistis bersumber dari sifat barang yang dihasilkan yaitu bersifat berbeda corak. Perbedaan ini membuat pembeli bersifat memilih, yaitu lebih menyukai barang sesuatu perusahaan dan kurang menyukai barang yang dihasilkan perusahaan lainnya. Maka jika suatu perusahaan menaikkan harga barangnya, ia masih dapat menarik pembeli walaupun jumlah pembelinya tidak sebanyak seperti sebelum menaikkan harga. Sebaliknya, apabila perusahaan

13 Sadono, Sukirno. Mikro Ekonomi Teori Pengantar. (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2007), hal. 302

(13)

menurunkan harga, tidaklah mudah menjual semua barang yang diproduksinya.

d. Masuk ke dalam industri/pasar relatif mudah: masuk kedalam pasar persaingan monopolistis tidak seberat masuk ke pasar monopoli dan oligopoly tetapi tidak semudah masuk pasar persaingan sempurna. Hal ini disebabkan (1) modal yang diperlukan relatif besar dibandingkan dengan perusahaan pada pasar persaingan sempurna; dan (2) harus menghasilkan produk yang berbeda dengan produk yang sudah ada di pasar.

e. Persaingan promosi penjualan sangat aktif: harga bukan penentu besarnya pasar, suatu perusahaan mungkin mejual suatu produknya dengan harga cukup tinggi tetapi masih dapat menarik banyak pelanggan. Sebaliknya, suatu perusahaan mungkin menjual pruduknya dengan harga cukup murah tetapi tidak dapat menarik pelanggan. Oleh karena itu untuk menarik pelanggan, perusahaan harus aktif melakukan promosi, memperbaiki pelayanan, mengembangkan desain produk dan mutu produk.

C. Pasar Oligopoli

Pasar oligopoli adalah pasar yang hanya terdiri atas beberapa perusahaan atau penjual yang menjual produk homogen (sejenis). Pasar Oligopoli yang terjadi atas dua perusahaan atau dua penjual saja disebut pasar duopoli (Sukirno,1997:263).

(14)

produk yang dihasilkan itu tidak homogeny, maka dinamakan oligopoli dengan deferensiasi produk (differentiated oligopoly).15

Ciri-ciri pasar oligopoli, sebagaimana dikemukakan Suprayitno (2008:219-220) sebagai berikut: a. Terdapat beberapa orang produsen dengan konsumen yang relatif banyak sehingga tiap produsen memiliki pengaruh atas harga, b. Terdapat barriers to entry bagi produsen lain sehingga jumlah perusahaan akan cenderung konstan, c. Penguasaan pangsa pasar di tunjukkan dengan nisbah konsentrasi penjualan yang dihitung berdasarkan jumlah atau prosentase aktiva perusahaan terhadap total aktiva, d. Perang harga merupakan suatu hal yang sangat dihindari karena akan menimbulkan kerusakan secara massal dalam pasar oligopoli. Untuk menghindarinya, maka dilakukan kolusi antar perusahaan sehingga cenderung akan menciptakn kartel, e. Salah satu diantara produsen adalah merupakan price leader, f. perusahaan yang tidak mampu bersaing cenderung akan melakukan merger dengan perusahaan yang kuat, g. Inovasi dan penguasaan terhadap teknologi merupakan unsur penting dalam kemajuan perusahaan, h. Perbaikan kualitas produk akan memperluas pangsa pasar dan menurunkan biaya produksi yang tidak akan ditiru dengan cepat oleh pesaing, i. Banyaknya pesaing yang kuat akan memaksa perusahaan melakukan efisiensi dalam biaya secara maksimum.

Kalau dalam monopoli, penjual dapat menentukan harga tanpa khawatir reaksi penjual lain, sedang dalam monopolistis, penjual hanya dapat menentukan harga pada kisaran tertentu karena jika ia menjual di luar kisaran tersebut, maka penjual lain yang menjual barang yang mirip akan merebut pelanggannya.

Sementara dalam pasar oligopoli, dimana ada sedikit penjual yang menjual barang yang sama, maka aksi penjual harus memperhatikan reaksi penjual lain. Ada dua aksi yang dapat diambil penjual yaitu: a. menentukan berapa kuantitas yang akan diproduksinya. Model yang menjelaskan hal ini adalah Cournot Quantity Competition. b.

(15)

Menentukan berapa harga yang akan ditawarkan. Model yang menjelaskan hal ini adalah Bertrand Price Competition (Karim, 175-176).

2.5 Struktur Pasar dan Aturan main dalam Ekonomi Islam

Islam menempatkan pasar pada kedudukan yang penting dalam perekonomian, karakter pasar yang benar-benar bersaing secara sempurna, tetapi berlandaskan kepada nilai-nilai Islam sangat jarang ditemui tetapi bukan berarti tidak ada. Dalam ekonomi konvensional struktur pasar terdiri atas pasar persaingan sempurna, Monopoli, pasar persaingan monopolistis dan oligopoly, sedangkan dalam Islam struktur pasarnya pun tidak jauh berbeda dengan konvensional, akan tetapi ada beberapa penekanan dalam pasar Islami yaitu harga yang adil serta prinsip kebebasan. Dengan kata lain pasar dalam pandangan Islam bukanlah pasar bebas dalam arti sebebas-bebasnya sebagaimana kapitalisme. Dalam perilaku konsumen dan produsen ajaran Islam menganggap bahwa tidak semua barang dan jasa dapat dikonsumsi dan diproduksi. Seorang muslim hanya diperkenankan mengkonsumsi dan memproduksi barang yang halalan toyyiban.16

A. Struktur Pasar Yang Islami

Struktur Pasar yang Islami adalah Pasar yang menciptakan tingkat harga yang adil. Adil dalam hal ini adalah tidak merugikan konsumen maupun produsen, terkait dengan surplus produsen dan surplus konsumen. Struktur Pasar dalam Islam didasarkan atas prinsip kebebasan, termasuk dalam melakukan kegiatan ekonomi.17

B. Kebebasan Ekonomi

Kebebasan ekonomi adalah pilar pertama dalam struktur pasar Islami. Kebebasan ini berdasarkan pada ajaran Islam, yang meliputi : pertanggungjawaban dan kebebasan, sejarah kebebasan ekonomi dalam masyarakat Islam , dengan uraian sebagai berikut:

Pertanggungjawaban dan kebebasan

16 Anita Rahmawati. Ekonomi Mikro Islam. (Kudus : Nora Media Enterprise, 2011), hal. 287

(16)

Prinsip pertanggungjawaban individu merupakan hal yang mendasar dalam ajaran Islam, yang ditekankan oleh Al-Quran dalam berbagai ayat dan perbuatan dan perkataan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Prinsip dari pertanggungjawaban individual ini disebutkan dalam berbagai konteks dan kesempatan secara berbeda sebagai berikut :

1. Setiap orang akan dihisab secara individu, dan ini diterapkan pada Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Tidak ada cara bagi seseorang untuk menebus perbuatan jahatnya, kecuali dengan mencari keridhoan Allah dan melakukan amal baik.

2. Tidak ada konsep dosa turunan dan mempertanggungjawabkan kesalahan orang lain.

3. Tidak ada perantaraan dalam hubungan langsung dengan Allah , Nabi sendiri adalah seorang utusan atau perantaraan tuntutan Allah untuk disampaikan pada manusia. Permintaan maaf harus disampaikan langsung kepada Allah.

4. Setiap individu mempunyai hak penuh untuk berpedoman langsung dengan sumber-sumber hukum Islam (Al-Quran dan hadits).

5. Islam sudah sempurna , tidak seorang pun bisa menambah, menghapus, atau bahkan mengubah satu ayat pun. Setiap pengambilan kesimpulan dari penafsiran ayat adalah pemahaman personal, di mana setap orang dapat berbeda-beda, dan tidak ada seorangpun dapat menyampaikan pemahamannya kepada orang lain.

C. Sejarah Kebebasan Ekonomi dalam Masyarakat Islam

(17)

1. Penimbunan (ikhtikar).

Mengumpulkan sesuatu dan menahannya dengan menunggu naiknya harga, lalu menjualnya dengan harga yang tinggi.

2. Pematokan Harga.

“Sesungguhnya jual-beli itu (sah karena) sama-sama suka”. (HR Ibnu Majah).

2.6 Peran Pemerintah dalam Pasar menurut Perspektif Islam A. Persaingan Sempurna Plus

Bagaimana gambaran pasar yang diidealkan oleh ajaran Islam? Jika dilihat pada masa kelahirannya (abad 6 M), ternyata ajaran Islam memiliki pandangan yang sangat futuristik. Amat jauh mendahului pemikiran ekonom-ekonom Barat. Demikian pula pemikiran para sarjana muslim pada periode-periode pasca Rasulullah. Pada dasarnya konsep pasar yang Islami adalah seperti apa yang ada dalam ekonomi konvensional disebut dengan pasar persaingan sempurna (perfect competition market) plus, yaitu persaingan dalam bingkai nilai dan moralitas Islam. Dengan kata lain pasar ini bukan pasar bebas dalam arti sebebas-bebasnya sebagaimana kapitalisme. Dalam perilaku konsumen dan produsen ajaran Islam menganggap bahwa tidak semua barang dan jasa dapat dikonsumsi dan diproduksi. Seorang muslim hanya diperkenankan mengkonsumsi dan memproduksi barang yang halalan toyyiban (Anto, 2003:318).18

B. Persaingan Tidak Sempurna, Oligopoli dan Monopoli

Meskipun ajaran Islam menghendaki sebuah struktur pasar yang bersaing sempurna, tetapi Islam tidak melarang adanya oligopoli atau monopoli. Pandangan Islam terfokus pada masalah mekanisme penentuan harga didalam monopoli yang cenderung berpotensi menghasilkan kerugian bagi konsumen, sebab harga ditentukan lebih berorientasi kepada kepentingan produsen saja. Dalam Islam harga harus

(18)

mencerminkan keadilan (thaman al mithl/price equivalen), baik sisi produsen maupun konsumen. Dalam situasi pasar yang bersaing sempurna harga yang adil dapat dicapai dengan sendirinya, sehingga tidak ada intervensi harga dari pemerintah. Tapi jika produsen monopolis dibiarkan begitu saja menentukan harganya sendiri, besar kemungkinan harga yang terjadi bukanlah harga yang adil sebab ia akan mencari (monopolistic rent) atau harga diatas normal. Untuk itu pemerintah perlu, bahkan wajib, melakukan intervensi sehingga harga yang terjadi adalah harga yang adil. Dengan ungkapan sederhana, ajaran Islam tidak mempermasahkan apakah suatu perusahaan merupakan oligopolis maupun monopolis sepanjang tidak mengambil keuntungan diatas normal (Anto, 2003:310). Oleh karena itu ajaran Islam melarang keras perbuatan yang sengaja menahan atau menimbun (hoarding) barang, terutama saat terjadi kelangkaan, dengan tujuan menaikkan harga di kemudian hari (ikhtikar) (P3EI, 2014:333).19

Sedangkan bentuk intervensi pemerintah yaitu kebijakan penetapan harga (price intervention) dan pelarangan terhadap penimbunan (sehingga terjadi kelangkaan) untuk menaikkan tingkat harga (ikhtikar). Jadi pemerintah harus menetapkan harga pada titik yang memberi keadilan bagi produsen dan konsumen. Konsep Islam tentang intervensi harga berpatokan pada konsep harga yang adil. Sebagaimana diungkap oleh Ibnu Qudamah dan Ibnu Taimiyah tentang intervensi harga (Anto, 2003:300-301):

Intervensi harga menurut Ibnu Qudamah: a. Menyangkut kepentingan masyarakat dalam arti luas yaitu melindungi penjual dalam hal keuntungan (profit margin) dan konsumen dalam hal daya beli (purchasing power). Dalam pandangan Islam penjual berhak mendapatkan keuntungan yang wajar dan pembeli berhak membeli dengan harga yang setara dengan manfaat yang diperoleh, b. Bila tidak dilakukan price intervention maka diperkirakan penjual akan menaikkan harga dengan cara ikhtikar atau ghaban faahisy. Dalam hal ini penjual

(19)

merugikan (menzalimi) konsumen, sebab konsumen harus membeli di atas harga pasar, c. Pembeli biasanya merupakan kelompok masyarakat yang lebih luas dibandingkan dengan penjual, sehingga price intervention berarti pula melindungi kepentingan masyarakat, d. Alasan Ibnu Qudamah yang terakhir yaitu untuk melindungi kepentingan masyarakat yang lebih luas sebagaimana juga dianjurkan Al Ghazali.20

Sedangkan intervensi harga menurut Ibnu Taimiyah sebagaimana Ibnu Qudamah yaitu sangat menjunjung tinggi mekanisme pasar yang bebas dan karenanya menentang kebijakan intervensi harga. Namun, ia memahami bahwa dalam situasi-situasi tertentu intervensi ini justru wajib dilakukan sebab Rasulullah pernah melakukannya. Kebijakan intervensi harga ini terbagi menjadi dua jenis yaitu: a. Intervensi harga yang zalim dan tidak sah, apabila menyebabkan kerugian atau penindasan kepada pelaku pasar. Jika harga ditetapka dibawah harga pasar akan merugikan produsen, sementara jika harga ditetapka diatas harga pasar tentu akan merugikan komsumen, b. Intervensi harga yang adil dan sah: jika tidak menimbulkan kerugian dan penindasan kepada pelaku pasar.

Ibnu Taimiyah menjelaskan beberapa keadaan khusus dimana intervensi harga dapat dilakukan yaitu: a. Pada saat masyarakat betul-betul membutuhkan barang seperti saat terjadi bencana kelaparan dan peperangan, b. Para penjual (arba al sila’) tidak mau menjual barang dagangannya kecuali pada harga yang lebih tinggi daripada harga normal

(al qimah al Ma’rufah) padahal konsumen sangat membutuhkannya, c.

Terjadi diskriminasi harga untuk melawan pembeli atau penjual yang tidak mengetahui harga pasar yang sebenarnya, d. Para penjual menawarkan harga yang terlalu tinggi sementara pembelinya menginnginkan terlalu rendah, jika ini dibiarkan terjadi maka akan mengakibatkan kemandekan pasar, e. Para penjual melakukan kolusi, baik dengan sesame penjual ataupun denga kelompok atau seorang pembeli dengan tujuan untuk mempermaikan harga pasar, f. Pemilik jasa, misalnya tenaga kerja, menolak bekerja kecuali pada upah yang lebih

(20)

tinggi dibandingkan tingkat upah yang berlaku dipasar (the prevailing markrt wage), padahal masyarakat membutuhkan jasa tersebut.21

Dengan memperhatikan penjelasan-penjelasan diatas maka dapat diambil kesimpulan bahwa pada prinsipnya kebijakan intervensi harga ini bertujuan untuk: pertama, menghilangkan berbagai masalah yang menimbulkan distorsi pasar, sehingga harga dapat kembali atau setidaknya mendekati tingkatan dalam mekanisme pasar yang kompetitif. Kedua, melindungi masyarakat yang lebih luas.

C. Ketidaksempurnaan Bekerjanya Pasar

Ketidaksempurnaan bekerja pasar sebagaimana dikemukakan oleh misanan, dkk (2014:329-330) dapat disebabkan oleh beberapa hal:22

1. Penyimpangan Terstruktur: struktur organisasi pasar akan mengganggu mekanisme pasar dengan cara yang sistemetis dan terstruktur pula. Struktur pasar tersebut adalah monopoli, oligopoly, dan persaingan monopilistik. Dalam monopoli, misalnya terdapat halangan untuk masuk (entry barrier) bagi perusahaan lain yang ingin memasuki pasar sehingga tidak ada persaingan antar produsen. Produsen monopoli dapat saja mematik harga tinggi untuk memperoleh keuntungan berlebih. Demikian juga dengan bentuk pasar lainnya, meskipun pengaruh distorsinya tidak sekuat monopoli. Tetapi akan mendistorsi bekerjanya mekanisme pasar yang sempurna.

2. Penyimpangan tidak terstruktur: penyimpangan ini dapat pula mengganggu mekanisme pasar. Contohnya adalah usaha sengaja menimbun untuk untuk menghambat pasokan barang agar harga pasar menjadi tinggi (ikhtikar), penciptaan permintaan semu untuk menaikkan harga (bai an-najasy), penipuan (tadlis), baik itu penipuan kuantitas, kualitas, harga waktu penyerahan barangnya dan taghtir (ketidak pastian).

3. Ketidaksempurnaannya informasi: disebabkan oleh ketidak-sempurnaan informasi yang di miliki para pelaku pasar (penjual dan

21 Adiwarman A. Karim. Ekonomi Mikro Islam. (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2012), hal. 190

(21)

pembeli). Informasi merupakan sesuatu yang penting yang akan menjadi dasar bagi pembuat keputusan. Oleh karena itu, transaksi yang terjadi dalam ketidaksempurnaan informasi itu dilarang dalam Islam, seperti talaqqi rukban (menghalangi transaksi pada harga pasar) dan ghoban fahisy (mengambil keuntungan tinggi dengan memanfaatkan ketidaktahuan konsumen).

D. Dasar dan Prinsip dalam Struktur Pasar Islam

Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa Islam sangat memperhatikan konsep harga dan mekanisme pasar yang sempurna, maka struktur pasar dalam Islam didasarkan atas prinsip kebebasan, termasuk dalam melakukan kegiatan ekonomi. Diantaranya yaitu:23 a. Kebebasan

Ekonomi: Kebebasan ekonomi adalah pilar pertama dalam struktur pasar Islami. Kebebasan ini berdasarkan pada ajaran Islam, yang meliputi; pertanggungjawaban dan kebebasan. Prinsip pertanggungjawaban individu merupakan hal yang mendasar dalam ajaran Islam, yang ditekankan oleh Al-Quran dalam berbagai ayat dan perbuatan dan perkataan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam, (Muhammad, 2004:373-374). b. Kerjasama (Cooperation): Kerjasama Ekonomi Islam adalah sistem ekonomi yang mengedepankan pada kebebasan, tetapi kebebasan tersebut diungkapkan lebih pada bentuk kerjasama dibandingkan dalam bentuk persaingan, c. Keterlibatan Pemerintah: Ekonomi Islam memandang pemerintah dalam pasar merupakan satu kesatuan (

co-existing) dengan unit ekonomi lainnya dengan pasar yang permanen dan

stabil. Keterlibatan pemerintah dalam pasar adalah berkaitan dengan fungsi supervise dan pengawasan melalui dua mekanisme pasar, (Anto, 2003:322). yaitu; 1) Kesungguhan dalam mewujudkan tujuan Negara. 2) Kontrol dilakukan oleh lembaga independent, yaitu Al Hisbah yang berfungsi untuk menegakan aturan main mekanisme pasar, d. Aturan Main: Kahf (1992) menawarkan sejumlah aturan main yang harus dipenuhi untuk menjalankan ekonomi Islam, yaitu; 1. Seluruh alam

(22)

semesta adalah milik Allah Subhanahu Wa Ta’ala, yang berkuasa penuh atas semua Ciptaan-Nya. Manusia adalah mahluk yang paling tinggi derajatnya sebagai khalifah, sehingga diberi kekuasaan untuk melaksanakan fungsi kekhalifahan dan menggali sebanyak-banyaknya keuntungan dan kegunaan dari semua hal selama manusia dapat mengelolanya. 2. Allah Subhanahu Wa Ta’ala membebankan kewajiban tertentu pada manusia, agar masyarakat mengawasi secara keseluruhan aktivitas berdasarkan aturan Islam, yaitu hak-hak yang seseorang tunjukan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah dalam hubungannya dengan hubungan sosial. 3. Tidak menyakiti dan tidak merugikan orang lain. 4. Di dalam Islam, bekerja dinilai sebagai suatu kebajikan dan kemalasan dinilai sebagai suatu sifat buruk. 5. Tingkat minimum kebaikan dibatasi secara jelas. Perilaku tingkat ini dikontrol oleh lembaga sosial, yang pada akhirnya juga ditentukan oleh kekuatan hukum. Inilah prinsip-prinsip yang dapat dijadikan dasar untuk memfungsikan pasar dalam masyarakat Islam.

BAB III PENUTUP

(23)

Struktur pasar dalam ekonomi terbagi menjadi dua yaitu pertama: Pasar Persaingan Sempurna Plus: yaitu merupakan struktur pasar yang paling ideal, karena dianggap sebagai struktur pasar yang akan menjamin terwujudnya kegiatan memproduksi barang atau jasa yang tinggi (optimal) efisiensinya. Dan pasar persaingan sempurna ini terbagi menjadi dua unsur, yaitu; a. Struktur Pasar Persaingan sempurna adalah struktur pasar yang lebih dekat dengan struktur pasar Islami. Bukti kedekatannya adalah: 1) bebas keluar masuk pasar 2) harga ditentukan oleh pasar 3) perfect information, b. Kebebasan ekonomi adalah pilar utama dalam struktur pasar Islami. Karena tidak bertentangan dengan syariat Islam dan tidak menimbulkan kerugian, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain (fairness).

Kedua; Pasar Persaingan Tidak Sempurna, adalah pasar dengan banyak penjual dan pembeli, sehingga harga dapat ditentukan sendiri, baik oleh penjual maupun pembeli. Salah satu bentuk pasar persaingan tidak sempurna adalah pasar monopoli. Pasar monopoli adalah bentuk pasar yang hanya terdapat satu penjual saja. Dalam bentuk pasar ini hanya terdapat satu penjual sehingga praktis tidak ada pesaing (competitor) sehingga penjual atau monopolis leluasa menguasai pasar. Sebagai penjual tunggal, monopolis dapat meraih keuntungan yang melebihi normal. Monopoli dibolehkan, namun membatasi produksi/menjual lebih sedikit barang untuk dapat mengambil keuntungan diatas keuntungan normal (monopoly’s rent/ikhtikar) adalah haram.

(24)

mereka akan berdosa. Dari indikasi ikhtikar, yaitu: a) objek penimbunan merupakan barang-barang kebutuhan masyarakat. b) tujuan penimbunan adalah untuk meraih keuntungan diatas keuntungan normal.

Karenanya tidak selamanya ikhtikar sama dengan Monopoli, apabila dalam monopoli Islami, idealnya bisa berproduksi lebih banyak dan juga bisa menjual dengan harga lebih murah. Dan tidak dilarang menyimpan stok barang untuk keperluan persediaan, asalkan bukan untuk mempermainkan harga pasar. Ikhtikar (Monopoly’s Rent-Seeking Behaviour)

Jadi dapat disimpulkan bahwa struktur pasar dalam Islam adalah menggambarkan jumlah pelaku dalam suatu pasar. Sekaligus menggambarkan tingkat kompetisi yang terjadi dalam suatu pasar tersebut. inilah prinsip-prinsip yang dapat dijadikan dasar untuk memfungsikan pasar dalam masyarakat Islam. Di dalam pasar Islami harus dapat tercipta mekanisme harga yang adil atau harga yang wajar. Monopoli dibolehkan, namun membatasi produksi/menjual lebih sedikit barang untuk dapat mengambil keuntungan diatas keuntungan normal (monopoly’s rent/ikhtikar) adalah haram.

(25)

Dari hal-hal diatas sudah dapat kita lihat, dengan dasar pemikiran yang berbeda atau kontra maka jelaslah jika argument-argumen atau asumsi-asumsi tentang struktur terbentuknya pasar akan berbeda, dimana dimensi agama dalam ekonomi konvensional ditiadakan maka berjalannya mekanisme pasar akan jauh sekali dari moralitas dan nilai-nilai agama.

Mobilitas Sumber Daya Ekonomi 1. Jangka Pendek

Ada faktor produksi yang bersifat tetap, suatu perusahaan ingin mendapatkan laba yang maksimum, untuk itu perusahaan harus memaksimumkan perbedaan antara penerimaan total (SR) dengan biaya total (TC).

Gambar 1. Laba Pasar Persaingan Sempurna

Laba maksimum dapat dihitung dengan jalan mengurangi penerimaan total atau total revenue dengan total biaya (TR - TC).

P

C

0 Q1 Q2 Q

B A

D = AR = MR SRAVC

SRMC SRAC

A

SRMC SRAC

(26)

Gambar 2. Laba Normal Pasar Persaingan Sempurna

Titik A merupakan titik laba normal (point of normal profits). Jadi biaya rata-rata (AC) sama dengan harga, sama dengan pendapatan rata-rata dan output Qe1 adalah output yang dapat mendatangkan laba normal.

Gambar 3. Penutupan Usaha Pasar Persaingan

Pada gambar di atas pendapat rata-rata (AR) tidak dapat menutup Biaya rata-ratanya (AC). Pendapatan rata-rata hanya cukup untuk mem-biayai variabel rata-rata.

2. Jangka Panjang

0 Qe1 Q

D1 = AP1 = M

0 Qe2 Q

SRMC

SRAC

SRAVC

D2 = AR2 = Mr2

C

P2

P A

LRAC SRAC

(27)

Gambar 4.

Bertambahnya jumlah perusahaan baru dalam industri atau pasar akan menyebabkan kurva penawaran industri bergeser dari kanan dengan kurva permintaan tertentu. Hal ini akan menyebabkan turunnya harga yang pada akhirnya akan mengurangi pendapatan marginal (MR). Jadi laba murni akan hilang dan keseimbangan menjadi SRMC = LRMC = MR = P = D.

Gambar 5. Ekuilibrium dengan Masuknya Saingan Baru Pada intinya penyesuaian dalam pasar monopolistik adalah sama halnya dengan model pasar lainnya. Jika perusahaan ingin mendapatkan laba maksimal maka perusahaan akan menyamakan penerimaan marjinal

C B

LRMC SRMC

Pm

Pe

Ps

0 Qe Qn MR1 Q3 MR

d1

d M

E

B A

LRMC

(28)

dengan biaya marjinal. Biaya rata-rata jangka panjang < LRAC dan biaya marjinal jangka pangjang dengan permintaan yang dihadapi adalah kurva d. Pada titik A Pm dan kuantitas sebesar Qm. Sehingga perusahaan memperoleh keuntungan.

3.2 Saran

Agar mekanisme pasar dapat berjalan dengan baik dan memberikan

mutual goodwill bagi para pelakunya, maka nilai-nilai moralitas mutlak harus ditegakkan. Secara khusus nilai moralitas yang mendapat perhatian penting dalam pasar adalah persaingan yang sehat (fair play), kejujuran (honesty), keterbukaan (tranparancy) dan keadilan (justice). Nilai-nilai moralitas ini memiliki akar yang kuat dalam ajaran Islam, sebagaimana dicantumkan dalam berbagai ayat Al Qur’an. Untuk itulah Rasulullah telah menetapkan beberapa larangan terhadap praktek praktek bisnis negatif yang dapat menganggu mekanisme pasar yang Islami.

Hal-hal yang Dapat Mengganggu Mekanisme Pasar

Struktur pasar monopoli, duopoli, oligopoli dan kompetisi monopolistik akan mengganggu mekanisme pasar dengan cara yang sistematis dan terstruktur. Struktur pasar. Dalam monopoli, misalnya, terdapat halangan untuk masuk (entry barrier) bagi perusahaan lain yang ingin memasuki pasar sehingga tidak terdapat persaingan antar produsen. Produsen monopolis dapat saja mematok harga tinggi untuk memperoleh keuntungan di atas normal (monopolistic rent). Demikian pula pada bentuk pasar lainnya, meskipun pengaruh distorsinya tidak sekuat monopoli, akan mendistorsi bekerjanya mekanisme pasar yang sempurna.

Selain itu juga terdapat faktor faktor insidental dan temporer yang mengganggu mekanisme pasar, antara lain:

a. Talaqqi rukban, yaitu mencegah masuknya pedagang desa ke kota (entry

(29)

امهنعهلللللل

ا يلللضلرسابع نبا نع هيبأ نع سوو اط نبهلللللل

ا دبعنع

:

دابل ر ض احعبللليلللللو ،نابلللكلل

ر لا اوقللللتللل

ه لللللل

للللل

الوسر لاق لاق

...

“Janganlah kamu ‘papak’ (pergi berjumpa kafilah sebelum sampai di kota dan sebelum mereka tahu harga pasar) barang yang dibawa (dari luar kota). Barang siapa ‘dipapak’ lalu dibeli dari padanya (sesuatu), maka apabila yang empunya (barang itu) datang ke pasar maka ia berhak khiyar

(hak untuk buat menjadikan atau membatalkan penjualan sebelum datang ke pasar”. (HR Muslim dari Abu Hurairah).

b. Mengurangi timbangan, karena barang yang dijual dengan harga yang sama untuk jumlah yang lebih sedikit. Allah berfirman dalam surat Al Muthaffifin ayat 1-3 yang berbunyi sebagai berikut:

اذإو ﴾﴿نوفوتسي سانلا ىلع اولاتكا اذإ نيذلا ﴾﴿نيففطملل ليو

نور س خي مهونلللزلل

و وأ مهول اك

(30)

هدشأ غلبي ىتح نسحأ يه يتلاب لإ ميتيلا لام اوبرقتلو

اذإو اهعسول إ اسفن فلكن ل ط س قلاب نازي ملاو ليكل ا اوف وأ و

هب مللكللاللصلل

و مكل ذ اوفوأهلللللل

ا دهعبو ىبرقاذ ناك ولو اولدعاف متلق

نلللوللرللكللذت مكل عل

“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat”. (QS. Al An’am: 152)

c. Menyembunyikan barang cacat, karena penjual mendapat harga yang baik untuk kualitas yang buruk. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam pernah melalui satu timbunan (bijian-bijian) makanan, lalu Beliau masukkan tangannya dan basah. Beliau lantas berkata, “Apa ini hai penjual makanan?” Penjual itu menjawab, “kena hujan ya Rasulullah !”. Rasulullah kembali bertanya, “Mengapa engkau tidak taruh ini di sebelah atas supaya orang-orang dapat melihat? Barangsiapa menipu maka bukan dari golonganku !” (HR Muslim dari Abu Hurairah). “Penjual dan pembeli keduanya bebas memilih selagi keduanya belum berpisah. Jika mereka jujur dan jelas maka diberkahilah (oleh Allah) jual belinya itu. Tetapi jika mereka menyembunyikan cacat dan dusta maka terhapuslah keberkahan jual beli itu” (HR Bukhari-Muslim).

d. Menukar kurma kering dengan kurma basah, karena takaran kurma basah ketika kering tidak sama dengan kurma kering yang ditukar.

e. Menukar satu takar kurma kualitas bagus dengan dua takar kurma kualitas sedang, karena setiap kualitas kurma memiliki harga berbeda.

(31)

: -

-

“Dari Ibn Umar radhiallahu anhu ia berkata, “saya telah beli minyak di pasar. Takkala sudah menjadi hak saya, seorang laki-laki bertemu saya dan ia beri kepada saya untung yang baik buat minyak itu. Ketika saya hendak pukul tanganya (tanda jadi jual beli), seseorang dari belakang memegang siku saya, lalu saya berpaling ternyata Zaid bin Tsabit. Ia berkata, Jangan jual ini di mana tuan beli hingga dibawa ini ke tempat tuan, karena Rasulullah melarang dijual barang-barang di mana dibeli hingga dibawa pedagang-pedagang ke tempat mereka” (HR Ahmad)

(32)

maka masyarakat luas dirugikan oleh sekelompok kecil yang lain. Agar harga kembali pada posisi harga pasar maka pemerintah dapat melakukan berbagai upaya menghilangkan penimbunan ini (misalnya dengan penegakan hukum), bahkan juga dengan intervensi harga. Dengan harga yang ditentukan ini maka para penimbun dapat dipaksa (terpaksa) menurunkan harganya dan melempar barangnya ke pasar. Tetapi, tidak termasuk dalam ikhtikar adalah penumpukan yang dilakukan pada situasi ketika pasokan melimpah, misalnya ketika terjadi panen besar, dan segera menjualnya ketika pasar membutuhkannya. Dalam situasi panen besar seperti ini maka bisa dibayangkan ketika tidak ada pihak yang bersedia membeli atau menumpuk hasil panen tersebut maka harga yang terbentuk di pasar akan semakin melemah. Hal ini justru merugikan petani yang dalam hal ini merupakan kelompok besar dalam masyarakat.

h. Ghaban faa-hisy besar yaitu menjual di atas harga pasar akibat ketidaktahuan pembeli akan harga pasar. Ibnu Umar meriwayatkan masyarakat Arab biasa membeli bahan pangan langsung dari pemilik unta, tetapi Nabi melarang mereka membelinya sampai bahan itu dijual di pasar (HR Bukhari).

Islam memberi perhatian yang besar terhadap kesempurnaan mekanisme pasar. Mekanisme pasar yang sempurna adalah resultan dari kekuatan yang bersifat masal dan impersonal, yaitu merupakan fenomena alamiah. Pasar yang bersaing sempurna dapat menghasilkan harga yang adil bagi penjual maupun pembeli. Karenanya, jika mekanisme pasar terganggu maka harga yang adil tidak akan tercapai. Demikian pula sebaliknya, harga yang adil akan mendorong para pelaku pasar untuk bersaing dengan sempurna. Jika harga tidak adil maka para pelaku pasar akan enggan untuk bertransaksi atau terpaksa tetap bertransaksi dengan menderita kerugian. Oleh karena itu Islam sangat memperhatikan konsep harga yang adil dan mekanisme pasar yang sempurna.

(33)

Jumhur ulama sepakat bahwa penetapan harga adalah kebijakan yang tidak dianjurkan oleh ajaran Islam jika pasar dalam situasi normal. Satu dari empat mazhab terkenal, yaitu Hambali, menolak keras kebijakan penetapan harga ini. Ibnu Qudamah (1374 H) mengajukan dua argumentasi mengenai hal ini, yaitu: Pertama, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam tidak pernah menetapkan harga walaupun penduduk menginginkannya (sebagaimana hadist di atas). Jika penetapan harga ini dibolehkan niscaya Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam akan melaksanakannya; Kedua, menetapkan harga adalah ketidakadilan (zulm) yang dilarang.

Ulama fikih sepakat menyatakan bahwa ketentuan penetapan harga ini tidak dijumpai dalam Al-Qur’an. Adapun dalam hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dijumpai beberapa riwayat yang menurut logikanya dapat diinduksikan bahwa penetapan harga itu dibolehkan dalam kondisi tertentu. Faktor dominan yang menjadi landasan hukum at-tas’ir al jabari, menurut kesepakatan ulama fikih adalah al-maslahah al-mursalah (kemaslahatan).

Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim al-Jauziyah, ulama mazhab Hanafi seperti Abu Yusuf berpendapat bahwa dalam situasi lonjakan harga secara fantastis karena ulah para spekulan dan pedagang pihak pemerintah dapat mengambil tindakan tegas dalam rangka pengendalian harga dan mematoknya secara adil dengan mempertimbangkan kepentingan pedagang maupun pembeli. Alasan mereka adalah pemerintah dalam syariat Islam memiliki fungsi, peran dan kewenangan untuk mengatur kehidupan masyarakat demi kemaslahatan bersama mereka.

(34)

DAFTAR PUSTAKA

A Karim Adiwarman, Ekonomi Mikro Islam, jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2012

Arsyad Lincolin, Ekonomi Manajerial Ekonomi Mikro Terapan Untuk

Manajemen Bisnis, BPFE : Yogyakarta, 2015

Nawawi Ismail, Ekonomi Manajerial Teori Dan Aplikasi Dalam Bisnis, Sidoarjo : Cu Dwi Putra Pustaka jaya, 2014

Rahardja Pratama, Pengantar Ekonomi Mikro, Jakarta Rineka Cipta, 2010

Rahmawati Anita, Ekonomi Mikro Islam, KUDUS : Nora Media Enterprise, 2011

Figur

Gambar 1. Laba Pasar Persaingan Sempurna

Gambar 1.

Laba Pasar Persaingan Sempurna p.25
Gambar 3. Penutupan Usaha Pasar Persaingan

Gambar 3.

Penutupan Usaha Pasar Persaingan p.26
Gambar 5. Ekuilibrium dengan Masuknya Saingan Baru

Gambar 5.

Ekuilibrium dengan Masuknya Saingan Baru p.27

Referensi

Memperbarui...