• Tidak ada hasil yang ditemukan

Komun dalam Komunikasi atau Bagaimana Te

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Komun dalam Komunikasi atau Bagaimana Te"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

H

a

l.

1

K

o

m

u

n

d

a

la

m

K

o

m

u

n

ik

a

s

i”

H

iz

k

ia

Y

o

s

ie

P

o

li

m

p

u

n

g

Komun dalam “Komunikasi,” atau Bagaimana Teologi ( Kr isten) Dapat

Belajar dar i Komunikasi tentang Peper angan Rohani?

1

Oleh:

Hizkia Yosie Polimpung2

Communicate

Pr onunciation:/ kəˈmjuːnɪkeɪt/

1 share or exchange infor mation, new s, or ideas:

t he pr isoner w as for bidden t o communicate with his family

[w ith object] impart or pass on (information, new s, or ideas): he communicated his findings to t he inspect or

[w ith object] convey or transmit (an emotion or feeling) in a non-ver bal w ay: t he abilit y of good t eacher s t o communicat e t heir ow n ent husiasm; his sudden fear communicated itself

succeed in conveying one's ideas or in evoking under standing in other s: a polit ician must have t he abilit y t o communicat e

(of two people) be able to share and under stand each other 's thoughts and feelings: w e don't seem t o be communicat ing — w e need a br eak fr om each ot her

Origin:

ear ly 16th centur y: fr om Latin communicat - 'shar ed', fr om the verb communicar e, fr om communis (see common)

Common

Pr onunciation:/ˈkɒmən/

2 shared by, coming fr om, or done by tw o or more people, gr oups, or things:

t he t w o r epublics' common bor der pr oblems common to bot h communit ies

 belonging to or involving the w hole of a community or the public at lar ge: common land

Origin:

Middle English: fr om Old Fr ench comun (adjective), fr om Latin communis

*Sumber : Oxfor d English Dictionary (http:/ / oxfor ddictionaries.com)

er t anyaan yang ingin saya jaw ab melalui ar t ikel singkat ini cukup seder hana: apa

yang dapat komunikasi ajar kan bagi t eologi? Mengamat i model-model komunikasi3

yang dominan ber kembang baik di masyar akat dan dunia akademik—sedar i

model linier , inter aksional, tr ansaksional sampai kontekstual dan

kondisional4—maka akan seger a didapati kesan yang secar a implisit ter sir at

1 Makalah disampaikan pada kuliah umum Pr ogr am Pascasar jana Sekolah Tinggi Teologia Inalta, Kelapa

Gading, Jakar ta, 20 Agustus 2011.

2 Penulis adalah pengajar tidak tetap pada STT Inalta. Sehar i-hari sebagai peneliti di PACIVIS Center for

Global Civil Society Studies, Univer sitas Indonesia. Saat ini sedang menyusun diser tasi tentang teologi tata-dunia dar i per spektif psikoanalisis di Pr ogram Doktoral Filsafat, Fakultas Ilmu Budaya, Univer sitas Indonesia.

3 Jika “k” dalam kata komunikasi ter cetak kapital, “K,” maka yang saya maksudkan adalah Komunikasi

sebagai suatu disiplin khusus. Sebaliknya, ia adalah fenomena yang tentangnya ar tikel ini didedikasikan.

4 Liter atur/ buku-teks komunikasi pada umumnya hanya membahas empat model per tama. Model kelima,

model kondisional, saya tambahkan setelah melihat kecender ungan teor itik kontempor er , ter utama yang saya acu di sini, seper ti sekelompok teor itisi media bar u (new media) yang ter gabung dalam Institute of Netw or k Cultur e, Univer sitas Amster dam, pimpinan Geer t Lovink. Kelompok ini sukses menyebar pengar uh sampai selur uh dunia. Tokoh-tokoh simpatisan lainnya, selain saya sendir i, seper ti Jodi Dean, Alexander

(2)

H

a

l.

2

K

o

m

u

n

d

a

la

m

K

o

m

u

n

ik

a

s

i”

H

iz

k

ia

Y

o

s

ie

P

o

li

m

p

u

n

g

bahw a hakikat komunikasi adalah ter sampainya pesan dengan “baik.” Kata “bai k” di sini

mengacu pada, sekaligus menjadi medan evolusi bagi, seder et teor isasi baik dar i dalam

(dan luar ?)5 disiplin Komunikasi itu sendir i. Satu gugus teor i ter tentu akan cender ung

mengukur “baik” dalam ar tian pr oses dan pr osedur yang semestinya, sementar a gugus

teor i lainnya lebih secar a pr agmatis menekankan sampai atau tidaknya pesan yang sesuai

dengan sebagaimana ia dimaksudkan oleh pengir imnya. Gugus-gugus teor itik ter bar u pun

belum benar benar mampu mengesankan standar “baik” lainnya di luar kor idor oper

-mengoper pesan.

Apa yang menjadi kar akter i stik par adigmatik model-model ini, sekaligus yang

belum mampu dilampauinya, adalah sifat instr umentalistik. Kar ena ber laku par adigmatik,

dengan demikian mempengar uhi baik konsepsi dan pr aktik, instr umentalisme komunikasi

hanya memandang komunikasi sebagai alat/ instr umen, layaknya tukang ledeng

memper lakukan kunci inggr is, dan koki memper lakukan pisau dapur . Per lakuan ini

dilakukan sedar i filosofi, teor isasi bahkan sampai per akit an per kakas.6 Par adigma

instr umentalistik ini secar a ber samaan, sekalipun tidak kentar a, menyembunyikan suatu

kar akter istik lainnya, yaitu antr opo-sentr isme (manusia-sentr ik). Manusi a akhir nya

dipandang sebagai penghuni tahta pusat dan ber daulat atas selur uh pr oses komunikasi.

Tidak ada yang salah dengan kecender ungan par adigmatik seper ti ini. Namun jauh-jauh

har i Mar tin Heidegger memper ingatkan, bahw a par adigma seper ti ini (bahasa dia,

teknologisme) r aw an jatuh pada per budakan alam dan or ang lain, sejauh keduanya

dipandang sebagai alat untuk mencapai kepenti ngan egois.

Gallow ay, Nick Dyer -Withefor d, Tiziana Ter r anova, dst. Singkatnya, model kondisional melihat komunikasi sebagai pengkondisian bagi suatu sistem eksploitasi kapitalisme global, tanpa memandang apa pesan yang dikomunikasikan; ter jadinya komunikasi itu sendir i yang penting, seper ti apa komunikasi itu ter jadi: tidak penting. Untuk daftar bacaan model ini, silakan lihat silabus saya untuk mata kuliah Kekuatan Jar ingan Infor masi Global yang saya ampu (ber sama Ibu Suzie Sudar man) di Depar temen Hubungan Inter nasional, Univer sitas Indonesia: http:/ / ui.academia.edu/ HizkiaPolimpung/ Teaching/ manage.

5 Louis Althusser dan Jur gen Haber mas, misalnya, yang menteor ikan komunikasi dengan ber angkat dar i

filsafat.

(3)

H

a

l.

3

K

o

m

u

n

d

a

la

m

K

o

m

u

n

ik

a

s

i”

H

iz

k

ia

Y

o

s

ie

P

o

li

m

p

u

n

g

Saya tidak akan mengelabor asi ini lebih jauh, kar ena memang bukan ini yang ingin

saya t ekankan. Sebagaimana judul di atas, saya ingin memetik pelajar an dar i komunikasi

dar i sudut pandang teologi. Teologi, t heos (tuhan) dan logos (ilmu), dapat secar a minimal

diar tikan sebagai suatu kajian yang menelisik t entang kondisi -kondisi yang dimana Tuhan,

sebagai yang absolut, hadir menyatakan dir i dan kuasanya. Memandang komunikasi

sebagai kondisi bagi kehadir an Tuhan, dengan demikian memandangnya secar a t eologis,

akan ber implikasi pada penggeser an par adigma yang mendasar inya tadi ( antr

opo-sentr isme dan instr umentalisme). Hal ini musti dilakukan kar ena selama manusia ber ada

pada pusat per hatian, analisis teologis tidak akan benar -benar mampu “melihat” Tuhan.

Per geser an par adigma ini nantinya akan mengubah nadir teor i -teor i yang ada,

sekalipun subst ansi teor inya tidak ber ubah. Ar tinya, par adigma ini akan menjadi ker angka

dimana, bagaimana dan kemana teor i-teor i yang sudah ada, dan yang nantinya t er us

ditelor kan, tadi diletakkan sekaligus diar ahkan. Teor i apapun, saat par adigmanya digeser ,

akan ber ubah secar a fundamental. Hal ini demikian semenjak adalah par adigma yang

memungkinkan keselur uhan bangunan teor itik yang nantinya menginspir asikan selur uh

manifestasi dan aplikasi pr aktik; tanpa par adigma, teor isasi menjadi mustahil —apalagi

pr aktik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahw a mengubah teor i secar a fundamental

tidaklah cukup dengan melakukan falsifi kasi empir ik, mengungkap kepentingan

ter sembunyi, at au pembongkar an basis asumsi dar i teor i ter sebut. Lebih dar i itu, ia

mensyar atkan apa yang saya sebut sebagai ‘sabotase par adigmatik’.

Dar i r elasi sosial ke komun, via logika

Komunikasi, sebagaimana nukilan dar i kamus Oxfor d di atas, sebagai suatu pr oses

per tukar an ide, pesan maupun infor masi, telah dan akan selalu mensyar atkan suatu r elasi

sosial. Implikasinya dalam, yaitu bahw a tanpa suatu r elasi sosial, maka komunikasi adalah

mustahil. Jelas di sini bahw a komunikasi mendapat suatu kondisi yang memungkinkannya

dar i suatu r elasi sosial. Komunikasi tidak bi sa ber langsung secar a lugu sebagaimana

diaspir asikan par adigma-par adigma dominan tadi. Tidak bisa pula seolah-olah tanpa r elasi

(4)

pandang-H

a

l.

4

K

o

m

u

n

d

a

la

m

K

o

m

u

n

ik

a

s

i”

H

iz

k

ia

Y

o

s

ie

P

o

li

m

p

u

n

g

pandangan sembar i menger nyitan dahi satu sama lain dan tiba-tiba—simsalabim!— pesan

sampai. Secar a analitis, apabila ingin benar -benar mendapatkan gambar an obyektif

mengenai suatu per istiw a komunikasi, maka adalah r elasi sosial yang layak mendapat

fokus per hatian par a analis.

Lalu, apa dan bagaimanakah ter bentuknya r elasi sosi al itu? Saya kir a ini per tanyaan

dasar yang seger a ter lontar . Banyak teor itisi yang sudah mencoba menjaw ab ke ar ah situ.

Ada yang melihatnya sebagai r elasi str uktur al-linguistik, baik secar a gr amatikal (langue)

maupun simbolik (kata, tanda, par ole, dst), yang mengemban tugas sebagi mediator untuk

membahasakan (mer epr esentasikan ke dalam bahasa) apa yang hendak diutar akan. Yang

lain melihatnya sebagai ekspr esi r elasi kelas yang t impang dimana kelas bor juasi (pemilik

modal) menggunakan pr oses-pr oses komunikasi untuk mengeksploitasi kelas pr oletar

(yang tidak memiliki modal dan ter paksa mempeker jakan dir i pada bor juasi) . Ada pula

yang mencoba melihatnya sebagai r elasi kekuasaan, yaitu antar a mer eka yang memiliki

pr ivilese/ kedudukan lebih tinggi yang ter legitimasi secar a mor il (dan ser ingkali ilmiah)

dan or ang yang dicoba disingkir kan atas basis l egitimasi mor il (dan ilmiah) ter sebut. Teor

i-teor i lain mencoba mendekati dalam ker angka per bedaan identitas kultur al, jender , seks,

dst.

Daftar pendekatan dalam tr adisi Komunikasi yang saya sajikan di atas bisa

diter uskan sampai ber lembar -lembar . Namun sayangnya bukan par ade teor i yang ingin

saya lakukan disini. Yang menjadi kesibukan saya di sini adalah tentang kondisi apa yang

memungkinkan suatu komunikasi—bahkan dengan seanter o teor i-teor i tentangnya—

ber langsung. Namun demikian, penting untuk ditekankan bahw a hal ini lantas bukan

ber ar ti teor i-teor i tadi menjadi tidak r elevan dan mesti dikesampingkan. Sama sekali

bukan! Malah sebaliknya, teor i-teor i tadi ingin saya letakan sebagai suatu hasil, output atau

luar an dar i suatu pr oses yang t er jadi dar i r elasi sosial yang notabene menjadi pr a-kondisi

bagi kemungkinan keber langsungan komunikasi (ent ah itu yang ber ikutnya t er w ar nai

secar a bahasa, kelas atau kekuasaan). Yang ingin saya utak-atik di sini adalah

(5)

H

a

l.

5

K

o

m

u

n

d

a

la

m

K

o

m

u

n

ik

a

s

i”

H

iz

k

ia

Y

o

s

ie

P

o

li

m

p

u

n

g

di sini bukanlah “t hr owing t he baby out wit h t he dir t y wat er ”: kar ena apa gunanya

mensabotase par adigma jika t eor inya lantas dibuang?

Lalu apakah r elasi sosial ter sebut yang mendahului r elasi -r elasi sosial di atas?

Sebelum menjaw ab per tanyaan ini, per lulah ter lebih dahulu dipikir kan per soalan metode:

bagaimana memikir kan r elasi sosi al yang mengkondisikan r elasi -r elasi sosial yang ada?

Memikir kan hal ini secar a ser ius hanya akan menghantar kan analisi s pada suatu par adoks:

mungkinkah memikir kan r elasi sosial sebelum r elasi sosi al pada kenyat aan bahw a sang

analis—kita—telah mau tidak mau, suka tidak suka, ter per angkap pada r upa-r upa r elasi

sosial yang ada. Misalkan, bagaimana mengetahui r elasi sosial sebelum ada r elasi bahasa?

Jika akses analisis ke r ealita adalah melalui bahasa ( bahkan saat ini yang saya ketikkan

adalah manifestasi alfabet-digital dar i suatu sistem bahasa; dan dalam membacanya anda

juga disyar atkan memahami bahasa yang saya pakai!), maka bagaimana mungkin

mengakses r ealitas yang pr a- atau bahkan a-bahasa? Mustahil!

Di sinilah sedikit sentuhan tr ik metodologis bisa membantu. Kali ini dar i disiplin

Logika7, bahkan logika seder hana, dalam hal ini postulasi. Postulat adalah metode univer sal

untuk mencapai aksioma univer sal, atau seder hananya, asumsi yang sudah tidak

diper tanyakan lagi. Aksioma tidak selalu har us secar a empir ik benar at au bisa diver ifikasi;

ia cukup benar secar a logis. Aksioma ini, akhir nya menjadi tidak lebih hanya sebagai

hipo-tesis, suatu tesis/ simpulan sement ar a yang har us ter us-mener us dibuktikan secar a

kongkr it melalui elabor asi pr aktik eksper iment al.

Maka, mencoba mengaplikasikan dalam konteks r elasi yang mengkondisikan

komunikasi dalam ber bagai r upanya, didapat suatu pembalikan logika seder hana sebagai

ber ikut:

Jika ada ket er bahasaan, maka t elah lebih dahulu ada kebisuan, dalam ar ti tidak

ter epr esentasikan oleh bahasa.

7 Lagi-lagi, kata Logika dengan “L” besar menandakan suatu disiplin, sementar a sebaliknya mer upakan

(6)

H

a

l.

6

K

o

m

u

n

d

a

la

m

K

o

m

u

n

ik

a

s

i”

H

iz

k

ia

Y

o

s

ie

P

o

li

m

p

u

n

g

Jika ada ket impangan, maka telah lebih dahulu ada kesetar aan, dalam ar ti tidak

ter atr ibutasikan oleh kepemilikan kapital yang nantinya menjadi justifikasi

penindasan.

Jika ada penyingkir an, maka telah lebih dahulu ada ko-pr esensi (co-pr esence), dalam

ar ti hadir ber sama dalam suatu r uang ter tentu.

Intinya seder hana: jika ada per bedaan, maka telah ter lebih dahulu ada kesamaan. Inilah

kar akter isitik r elasi sosial dasar iah komunikasi. Inilah komun dar i komunikasi, yang

memungkinkan ter ciptanya r elasi-r elasi sosial seper ti misalnya bahasa, kelas dan kuasa.

‘Komun’ (Ing., common; Pr a., commun; Lat ., communis)8 mengisyar atkan suatu kondisi

dimana sekelompok makhluk (or ang, hew an, alam) ber bagi suatu keber samaan.

Status ‘keber samaan’ di sini adalah sebagai obyek yang dimiliki-secar a-ber sama (shar ed

in common), sehingga akan ter amat sangat memiskinkan apabila obyek ini dipahami

semata-mata sebagai suatu benda kongkr it. Malahan, obyek komun tidak sehar usnya

diar tikan dar i ke-benda-annya, melainkan sifat / ajekt if-nya: yaitu sifatnya yang

dimiliki-secar a-ber sama. Hal ini ber ikutnya tidak hanya membaw a kit a pada kesimpulan bahw a

komun adalah selalu tr ansitif (yi., ber obyek), melainkan juga sebaliknya: kar ena dan hanya

kar ena obyek yang dimiliki -secar a-ber sama inilah komun ada.

Kembali pada komunikasi, komun sebagai r elasi dasar iah sekaligus titik aw al yang

memungkinkan komunikasi adalah selalu tentang ber bagi kesamaan dalam ber bagai

r upanya: ber bagi kebisuan yang tak ter per ikan bahasa; ber bagi keset ar aan pr a-atr ibutasi

kepemilikan; ber bagi kehadir an-ber sama/ ko-pr esensi dalam satu r uang ter tentu. Inilah

komun: ialah yang menjadikan tidak r elevan selur uh per bedaan dan ketidak-set ar aan,

ter utama dalam pr oblem kali ini, yang dipr asyar atkan komunikasi; ia jugalah yang pada

gilir annya akan menjadikan mustahil ter jadi, bahkan sekedar untuk ter pikir kan, selur uh

eksploitasi, diskr iminasi, dominasi dan penyingkir an ber dasar kan per bedaan dan

ketidak-setar aan ter sebut.

(7)

H

a

l.

7

K

o

m

u

n

d

a

la

m

K

o

m

u

n

ik

a

s

i”

H

iz

k

ia

Y

o

s

ie

P

o

li

m

p

u

n

g

Dar i tr ik logika seper ti ini, maka akan muncul car a bar u dalam memahami r elasi -r elasi

sosial tadi yaitu, sebagaimana t elah saya singgung diatas, sebagai suatu akibat—dan

penyebab aki bat ini adalah suatu pr oses deviasi (pelencengan). Deviasi yang dimaksud di

sini tidak, jangan, dan memang sama sekali bukan dalam kategor i mor al absolut yang

memiliki konotasi bur uk; deviasi di sini har us tetap dilihat sebagai konsekuensi logis.

Memikir kan deviasi adalah seseder hana seper ti memikir kan bahw a telah ter jadi sesuatu

yang mengganggu kondisi aw al sehingga menyebabkan kondisi yang sekar ang ini. Sehingga

memahami komunikasi sebagai r elasi sosi al—linguistik, kelas, kuasa—sama saja melihat

komunikasi sebagai suatu deviasi. Ya! Komunikasi pada hakikatnya adalah suatu devi asi !

Pr asyar at fundamental dar i komunikasi adalah ketidak-setar aan. Apa ar tinya? Saya kir a

menunjukkan dengan jelas bahw a komun telah-selalu hilang dar i komunikasi. Sehingga

kata ‘komun’ dalam ‘komunikasi’ tidak lebih dar i tr ik r etor is ilusif untuk menyamar kan

kondisi bahw a dalam komunikasi, obyek yang secar a-ber sama tidak lagi

dimiliki-secar a ber sama.9

Komunikasi, t eologi dan peper angan mer ebut komun kembali

Penting untuk saya gar is-baw ahi tebal-tebal di sini bahw a kebisuan, kesetar aan,

ko-pr esensi, atau singkatnya kesamaan ini adalah memang univer sal, namun b u k a n dalam

ar tian yang tr ansenden mengaw ang-aw ang. Univer salitas di sini adalah univer salitas yang

imanen, dalam ar ti inher en ter dapat pada r elasi sosi al ter sebut. Univer salitas ini didapat

bukan dar i keper cayaan buta sebagai ungkapan pasr ah yang sangat tipis dengan kemalasan

dan kepengecutan ber juang mencar i kebenar an; ia didapat dar i ger ak aktif dan militan

untuk mengubah keadaan secar a paksa! Univer salitas ini melampaui segala kemungkinan

dan kepengapan situasi yang ada. Dengan demikian, univer salit as ini t idak ada di langit ; i a

adalah Tuhan di bumi— Tuhan yang t elah-selalu ada t inggal (dw ell) di ant ar a kit a.

Implikasinya, melihat komunikasi secar a teologis sama saja melihat bagaimana komunikasi

sebagai suatu pengkondisian bagi hadir nya Tuhan di bumi; dan semenjak status Tuhan

9 Dar i pembacaan seper ti ini, maka saya kir a adalah suatu lelucon apabila mengir a komunikasi dapat

(8)

H

a

l.

8

K

o

m

u

n

d

a

la

m

K

o

m

u

n

ik

a

s

i”

H

iz

k

ia

Y

o

s

ie

P

o

li

m

p

u

n

g

yang univer sal ini sama dengan st atus komun—yang telah hilang seir ing dengan

munculnya komunikasi—maka dapat dir umuskan suatu per an t eologis bagi komunikasi,

yaitu mer ebut komun kembali!

Memahami Tuhan di bumi, atau Tuhan yang imanen, bukankah ini yang dimaksudkan

malaikat kepada par a mur id Yesus yang hanya bi sa menganga melihat Yesus per

lahan-lahan ter angkat ke sur ga: “Hai or ang-or ang Galilea, mengapakah kamu ber dir i melihat ke

langit? Yesus ini, yang ter angkat ke sor ga meninggalkan kamu, akan dat ang kembali

dengan car a yang sama seper ti kamu melihat Dia naik ke sor ga” (Kis. 1: 10-11).

Jika benar Tuhan ada di antar a kita, lalu mengapa kita masih melihat ke “langit”?—tidak

ada apa-apa di sana. Tuhan bisa diakses kapan saja, di mana saja! Tidak per lu pula ia har us

dimediasi oleh r upa-r upa mediasi, mulai bar ang-bar ang (yang dianggap) sakr al,

minyakminyakan, asesor is per hiasan, bahkan sampai bahasabahasa doa puitis ( atau yang dibuat

-buat?). Bukankah ini yang dihar apkan Tuhan saat ia menur unkan api r oh kudus pada

Pentakost a? (Ki s. 2)—yaitu supaya setiap or ang diber i kuasa untuk mengemban

pember itaan kabar suka-cita bahw a “kar ena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,

sehingga ia telah mengar uniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap or ang yang per caya

kepada-Nya tidak binasa, melainkan ber oleh hidup yang kekal” (Yoh. 3:16).

Syar atnya hanya satu, per ubahan par adigma pikir , per ubahan logika! Bukankah ini

yang juga dihar apkan Hukum Kasih yang ter sohor itu—“kasihilah Tuhan Allahmu dengan

segenap hatimu, dan dengan segenap jiw amu, dan dengan segenap pikir anmu” (Mat. 22:

37)—dengan “mengasihi dengan segenap pikir an”? Mengakses Tuhan melalui pikir an

adalah memikir kan apa yang t idak t er pikir kan. Bukankah Paulus memaksudkan yang

demikian ini dalam sur atnya kepada jemaat di Filipi—“[ J] adi akhir nya, saudar a-saudar a,

semua yang benar , semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang

manis, semua yang sedap didengar , semua yang disebut kebaji kan dan patut dipuji,

(9)

H

a

l.

9

K

o

m

u

n

d

a

la

m

K

o

m

u

n

ik

a

s

i”

H

iz

k

ia

Y

o

s

ie

P

o

li

m

p

u

n

g

Pikir an dan logika memainkan per an penting dalam aksesi kepada iman, sekalipun hati

dan jiw a juga tidak bi sa dir emehkan, kar ena pembalikan logika sebagaimana saya

demonstr asikan di at as mer upakan sat u-sat unya jalan yang bisa dilakukan manusia

r asional untuk mengakses kebenar an yang sama sekali tidak dikenal dunia devian har i ini,

dunia dimana komun sudah ter ampas. Kebenar an ini asing bagi dunia komunikasi yang

ter cir ikan sebagai r elasi linguistik, kelas dan kuasa. Suatu kebenar an yang per sis seper ti

yang ber ulang kali diper ingatkan sejak Nabi Yesaya sampai Rasul Paulus, “[ y] ang tidak

per nah dilihat oleh mata, dan tidak per nah didengar oleh telinga, dan yang tidak per nah

timbul di dalam hati manusia” (Yes. 64:4; Kis. 2:9).

Tuhan lepas dar i r elasi per bedaan, r elasi kelas dan r elasi kuasa. Lantas untuk apa

melihat ke atas, menunggu datangnya Tuhan? Tuhan sudah tur un, dan jika ia diimani

secar a aktif, ia akan menyatakan dir inya. Iman tidak dapat diver ifikasi secar a empir is, ia

hanya dapat “diver ifikasi” (jika kat a ini masih r elevan digunakan), bahkan sekaligus

sebagai satu-satunya jalan mendapatkannya, secar a logis. Bukankah ini sudah

diimplikasikan dalam definisi pur ba iman dar i Paulus sebagai “dasar dar i segala sesuatu

yang kita har apkan dan bukti dar i segala sesuatu yang tidak kita lihat” (Ibr . 11:1)? Yang

diper lukan adalah subyek-subyek militan yang taat dan setia kepada keyakinan imannya

dan memper juangkannya untuk memer angi segala deviasi yang telah mer enggut komun

har i ini. Ini saatnya untuk mer ayakan kedat angan Tuhan di dunia.

Tuhan datang ke dunia untuk memimpin manusia yang per caya padanya (dan memang

kepada hanya yang demikian saja) dalam peper angan r ohani. Peper angan r ohani, bukanlah

menumpas habis or ang-or ang yang ber beda (secar a suku, agama, r as, golongan,

kepentingan politik, kelas, dst.). Peper angan r ohani, ber angkat dar i pemikir an logika

imanen tadi, adalah peper angan untuk mengkonfr ontasi selur uh pr oses-pr oses deviasional

yang menyebabkan umat manusia ter cer abut dar i komun: ter pecah-pecah, ter adu-domba,

saling menindas satu sama lain seper ti yang har i ini sedang ter jadi. Ketimpangan,

diskr iminasi, ketidak-set ar aan yang ker ap menghiasi pelatar an media infor

masi-komunikasi cetak, digital, visual dan jejar ing kita har i-har i ini bukanlah tanpa penyebab—

(10)

H

a

l.

1

0

K

o

m

u

n

d

a

la

m

K

o

m

u

n

ik

a

s

i”

H

iz

k

ia

Y

o

s

ie

P

o

li

m

p

u

n

g

kur angnya kepemimpinan, kendor nya supr emasi hukum, dst. Lebih dar i itu, semuanya

mer upakan efek dar i pengkondisian sistemik yang deviasional. Pengkondisian sistemik

inilah yang semestinya diper angi. Bukankah ini yang dimaksud Paulus saat

memper ingatkan bahw a “per juangan kita bukanlah melaw an dar ah dan daging, tet api

melaw an pemer intah-pemer intah, melaw an penguasa-penguasa, melaw an

penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melaw an r oh-r oh jahat di udar a.”

Lalu bagaimanakah ber per ang dengan ber angkat dar i logika imanensi ini? Atau lebih

tepatnya, apa yang har us dilakukan set elah mengubah logika, menentukan aksioma

keset ar aan, dan ber juang dengan ber angkat dar i keteguhan iman akan aksioma ter sebut?

Untuk ini, Yesus, dengan member i dir i disalibkan, member i contoh par adigmat ik (dan

bukan contoh mentah-mentah bahw a or ang har us disalib untuk melaw an!) yang baik, yaitu

ber per ang dengan car a yang t ak t er pahami. Pelajar an par adigmatik per law anan Yesus

adalah bahw a Ia, dengan member i dir i disalibkan, tidak hanya melaw an maut alias r ezim

penindasan sang Iblis. Lebih dar i itu, dengan member i dir i disalibkan, Yesus melawan sist em

pengkondisian yang membat asi jangkauan kemungkinan car a per lawanan t er hadap sist em

it u dilakukan!10 Yesus masuk ke jantung sistem dan menghujamnya dengan telak. Yang

dilakukan Yesus tidak hanya menumpas sistem per budakan dosa, lebih dar i itu, Ia juga

menghajar sistem yang memungkinkan sistem per budakan dosa ter sebut. Yesus mampu

keluar dar i dan ber balik melaw an anggapan umum tentang per law anan yang mungkin,

sebagaimana disediakan oleh sistem ber piki r dominan seper ti misalnya yang

diolok-olokkan or ang Yahudi kepadanya saat disalib: memanggil sebatalion malaikat,

menggunakan kuasa Allah untuk tur un dar i salib, dst . (Mat. 27: 39-44; Mr k. 15:29-32; Luk.

23:35-39).

10 Sistem yang saya maksud telah-selalu melakukan mekanisme ber tahan yang demikian: ia mengantisipasi

(11)

H

a

l.

1

1

K

o

m

u

n

d

a

la

m

K

o

m

u

n

ik

a

s

i”

H

iz

k

ia

Y

o

s

ie

P

o

li

m

p

u

n

g

Ber paling kepada ide-ide muluk nan melangit tentang hak asasi manusia dan

kemanusiaan univer sal—bukan dalam ar tian logis, melainkan ekstr a-ter est er ial dar i “dunia

lain”—atau sekedar pada ide-ide munafik (hipokr it) sehar i-har i seper ti ‘kasihan’, ‘iba’, dan

keder maan filantr opis (char it y), seper ti yang ker ap disuntikkan r angsangannya oleh

ber bagai r upa r ealit y show dan film-film seper ti Laskar Pelangi, adalah mengulangi

kebodohan menyedihkan mur id-mur id Yesus yang hanya bisa menganga dungu sembar i

mengantar kenaikan gur unya dengan tatapan lugu. (Penting: baca catatan kaki!)11

Ber har ap ada or ang diluar sana—pemimpin ideal yang ber kar akter istik, ber gelar lulusan

“luar neger i,” ber pakaian dan ber atr ibut r elijius—sama saja mengingkar i dan menolak

kenyataan bahw a api Pantekosta telah dihinggapkan pada kita semua sehingga kita semua

memiliki segala potensialitas yang dibutuhkan untuk memer angi seanter o musuh.

Mengikuti teladan Yesus bukanlah menjiplak mentah-mentah yang ter ter a dalam

Alkitab. Namun yang lebih penting adalah memetik t eladan par adigmat ik dar inya dan

mener apkannya dalam kehidupan har i ini. Ke-har i-ini-an ber bicar a t entang aktualitas yang

spesifik secar a t empor al. Konsekuensinya, “har i ini” satu milenium lalu ber beda dengan

“har i ini” seabad yang lalu, atau sew indu yang lalu. “Har i ini” ber bicar a tentang suatu

kondisi kekinian yang “aktual ter jadi” (act ually exist ing). Tanpa pendasar an pemahaman

tentang tentang apa yang secar a aktual sedang ter jadi—misr epr esentasi, ketimpangan,

penyingkir an: singkatnya per ampasan komun—maka Alkitab tidaklah lebih sebagai

11 Ter amat penting untuk diklar ifikasi! Saya katakan munafik, kar ena secara psikoanalitis, per

(12)

H

a

l.

1

2

K

o

m

u

n

d

a

la

m

K

o

m

u

n

ik

a

s

i”

H

iz

k

ia

Y

o

s

ie

P

o

li

m

p

u

n

g

skr iptur a antik yang tidak memiliki r elevansi har i ini. Akibatnya, par a pembaca Alkitab

akan ber akhir pada kesimpulan a la Dan Br ow n, yaitu Yesus ber hubungan seksual dengan

Mar ia. Memper lakukan teladan Yesus sebagai t eladan par adigmat ik, maka akan membuat

or ang untuk kembali ke per gumulan dan pender itaannya sehar i-har i—Ya! Anda har us

mender ita!—dan ber per ang dar i sana.

Dengan ber bekal logika imanen ini, saya kembali ke per gumulan saya di aw al, yaitu

komunikasi. Kembali ke model komunikasi konvensional yang mengimplikasikan suatu

hakikat bahw a komunikasi mer upakan suatu alat penyampai pesan. Bagaimana per an

komunikasi dalam teologi setelah elabor asi teladan par adigmatik Yesus tadi? Apakah teor

i-teor i tadi lantas dibuang begitu saja kar ena justr u menjustifikasi misr epr esentasi,

eksploitasi dan diskr iminasi? Dengan tegas saya jaw ab: tidak! Teor i -teor i komunikasi tadi

hanya per lu digeser par adigmanya. Refor mulasi teologis bagi par adigma teor i-teor i

komunikasi pada gilir annya akan memposisikan komunikasi sebagai pr oses untuk

menepuk pundak or ang-or ang di sekitar kita sembar i ber kata, “hai saudar a-saudar iku,

mengapa engkau ber dir i melihat ke langit? Tuhanmu ada di antar amu. Pakai logikamu,

per tebal imanmu dan tunggu apa lagi?—ber siaplah ber per ang! Rebut kembali komun!”

Referensi

Dokumen terkait

Struktur komunitas mangrove yang ada di beberapa lokasi pesisir Pulau Nusalaut juga diketahui memiliki kondisi baik dengan nilai penting dan jenis yang beragam.. Kerapatan

Demikian Adendum Dokumen Pengadaan Secara Elektronik Pasca Bencana Alam Talud Penahan Ombak di Desa Waha ini di buat untuk diperhatikan dan diikuti oleh seluruh

[r]

(2) Kepada Veteran Pembela Kemerdekaan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (2) diberikan Tunjangan Veteran sebesar Rp 540.000,00 (lima ratus empat puluh

bahwa dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut maka Pemerintah Negara Republik Indonesia aktif mengambil bagian dalam usaha yang dilakukan

dukungan materi kepada saya, adik saya Rahmi yang mendukung dan telah. selalu, mendoakan dan

85.44 Kawat, kabel (termasuk kabel koaksial) diisolasi (termasuk diemail atau dianodisasi), dan konduktor listrik diisolasi lainnya, dilengkapi dengan penghubung maupun tidak;

The hypothesis of this research states that there is significant difference between listening ability of the seventh grade students of MTs N Gembong Pati in the academic