Sudut Pandang
Kitab Tawarikh
Kira-kira setengah isi dari kitab Tawarikh sebenarnya merupakan pengulangan kata demi kata dari kitab-kitab Perjanjian lama terdahulu. Penulis-penulis kitab sejarah yang kedua sering mengulangi ibahan yang sudah terdapat dalam sejarah yang pertama, kadang-kadang secara lengkap
dankadang-kadang disunting lagi atau diringkas. Selain itu, mereka juga memasukkan bahan-bahan baru yang belum ada dalam sejarah yang pertama.
Kitab Tawarikh bukan hanya mengulangi cerita dari kitab Samuel dan Raja-raja, tetapi mempunyai warna sendiri yang segar dan khusus, dan memberi bahan yang kaya bagi pemikiran teologis. Ada empat bagian pokok dalam Kitab I-II Tawarikh:
Silsilah dari Adam sampai Daud 1 Taw 1-9 Pemerintahan Daud 1 Taw 10-29
Pemerintahan Salomo 2 Taw 1-9
Pemerintahan raja-raja keturunan Daud 2 Taw 10-36
Sudut Pandang Sejarah
Ada dua pertimbangan penting bagi seorang sejarawan, yakni kesinambungan dan pemilihan bahan. Seorang sejarawan memilih dan menyoroti apa yang ia anggap penting. Kedua pertimbangan itu melibatkan subyektivitas: ahli sejarah membuat keputusan-keputusan berdasarkan apa yang dianggap penting; dan hal itu dipengaruhi sedikit banyaknya oleh minatnya, apakah ekonomi , sosiologi, politik agama, perang, atau kombinasi hal-hal ini.
Penulis kitab Tawarikh bukanlah seorang sejarawan dalam arti modern. Ia tidak menaruh perhatian pada fakta-fakta Israel belaka, malainkan pada makna fakta-fakta tersebut. Namun harus
diperhatikan bahwa karya penulis Kitab Tawarikh ini benar-benar bersifat tafsiran.
Semua itu tidak dimaksudkan untuk mengatakan bahwa laporan penulis kitabTawarikh tidak akurat apabila ia menyimpang dari sumber utamanya, yaitu Kitab Samuel dan Raja-Raja. Albright mencatat bahwa documenter dari masa sebelum pembuangan ditemukan dalam kitab Tawarikh tetapi tidak terdapat dalam kitab Raja-Raja.
Penulis Kitab Tawarikh sering dituduhkurang teliti mengenai angka-angka, khususnya mengenai jumlah tentara yang berperang (Myers 1956). Menurut I Tawarikh 21:5, tentara Israel berjumlah 1.100.000 dan tentara Yehuda 470.000; sedangkan II Samuel 24:9 mencatat tentara sejumlah 800.000 bagi Israel dan 500.000 bagi Yehuda. Tetapi, angka-angka yang diberikan oleh penulis Kitab tawarikhtidaklah selalu lebih besar dari pada angka-angka yang terdapatdalam kitab Samuel dan Raja-Raja.
Boleh jadi, penulis kitab Tawarikh menyalin angka-angka dengan tepat dari sumber yang dipakai oleh penulis Kitab Raja-Raja. Angka-anga sering dibulatkan dan sering juga mempunyai makna simbolis, misalnya 40 tahun dapat berarti satu generasi dan sejuta orang dalam pasukan Zerah dari Etiopia(II Tawarikh 14:9) Mungkin berarti tentara yang sangat besar jumlahnya.
Beberapa perbedaan antara kitab Tawarikh dan sejarah yang pertama mungkin disebabkan oleh selang waktu yang jauh antara penulis kitab Tawarikh dengan peristiwa-peristiwa yang
diceritakannya, mungkin Kitab Tawarikh ditulis sekitar tahun 400 sM. Oleh karena itu penulis memilih peristiwa-peristiwa yang maknanya dianggap abadi khususnya yang menyangkut hubungannya sendiri, menerangkan masa kini dan berusaha belajar bagi dirinya sediri serta mengajarkan kaepada orang-orang sejamannya tentang anugerah dan hukuman Allah yang dahsyat dalam sejarah bangsa Israel. Mereka telah merasakan akibat pembuangan dan tertekan dengan keadaan di tempat mereka
yang baru. Penulis Kitab Tawarikh hendak menceritakan sejarah sedemikian rupa sehingga umat itu dapat yakin bahwa Allah tetap memerintah dan ia juga hendak menekankan pentingnya kesetiaan yang penuh kepada-Nya.
Sudut pandang Politik
Kerajaan Israel utara sudah mendapat kecaman para nabi, karena raja-rajanya yang bukan dari keturunan Daud melaksanakan ibadah Sinkretis. Karena adanya cita-cita profetik seperti itu dank arena berdirinya Kerajaan Utara merupakan kesalahan sejak awalnya. Penulis kitab Tawarikh hanya memuat tentang mereka, bila mereka bersangkut paut dengan Yehuda. Hal itu ditafsirkan sebagai materai hukuman Allah akan kerajaan itu. Kitab Tawarikh member perhatian penuh kepada Yehuda yang tetap hidup setelah pembuangan dan sedang melaksanakan pelayanan rohani dan etis seperti yang pernah dipercayakan kepada seluruh orang Israel. Walaupun rasa permusuhan terhadap orang samaria memang ada, namun itu tidak berasal dari penulis Kitab Tawarikh. Yang mengagumkan Daud dan keturunannya pemerintah Saul dalam pandangan penulisan Daud adalah tokoh yang terpenting dalam pengembangan agama Israel, yang hampir sebanding dengan Musa, berasal dari dia sehingga mereka mengikuti Daud dalam hal yang baik ataupun yang buruk.
Sudut Pandang Politik
Sebagai contoh Kitab tawarikh menekankan karya Allah yang langsung. Kemenangan atau kekalahan dalam pertempuran tidak tergantung pada kegagahan para panglima atau kekuatan lawan, melainkan tergantung pada kehendak Allah dan terkadang pada campur tangan Allah yang ajaib, bahwa mereka menang dalam peperangan oleh kekuatan Tuhan. Kebenaran mengangkat derajat bangsa dan hal ini sesuai dengan penekannya atas pembalasan terhadap perbuatan perorangan. Prinsip ini merupakan bagian dari Teologi kitab Tawarikh, namun prinsip tersebut tentulah tidak berasal dari penulisnya. Dalam gaya kotbahnya sendiri ia hanya menerapkan prinsip-prinsip yang dinyatakan dalam kitab Ulangan (Ul 27-28) dan telah teruji pada jaman Hakim-Hakim, Samuel dan Raja-Raja.
Penulis kitab Tawarikh menggunakan kutipan-kutipan dan cerita-cerita dari kitab-kitab yang lebih awal. Hal ini menggarisbawahi penekannan teologisnya atas otoritas kitab suci. Dari gaya bahasanya ialah apa yang disebut “Khotbah Imamat”. Penulis Kitab Tawarikh tidak hanya mengambil kutipan untuk memasukkan “keseluruhan tulisan profetik” melainkan sebagai penyataan kehendak dan rencana Allah atas umat-Nya dalam keadaan mereka pada jaman penulis itu. Berdasarkan
pandangan yang demikian terhadap penyataan Allah tradisi Yahudi menyebut kitab Yosua, Samuel dan Raja-Raja “Nabi-Nabi Terdahulu”.
Penekanan teologis yang utama dalam kitab tawarikh adalah perhatiannya yang terus menerus terhadap tempat Ibadat, peribadatan dan para petugasnya, orang-orang Lewi. Orang-orang Lewi yang membantu para Imam mempersiapkan kurban dan melayani sebagai pelayan, penyanyi, dan penjaga pintu dirumah Allah, selalu menjadi perhatiannya, walaupun itu tidak berarti ia tidak memberi perhatian pada nabi-nabi. Maka, bisa dimengrti jika penulis tidak menyebut Nabi Elia dan Elisa yang justru sangat penting dalam kitab Raja-Raja. Tidak berarti bahwa ia “memberi tempat yang tinggi kepada orang-orang Lewi lebih dari pada sebelumnya”.
Sejarah yang rumit dari hubungan imam dengan orang lewi tidak membiarkan adanya generalisasi begitu saja. Mungkin orang Lewi baik karena ambisi mereka sendiri ataupun karena kekurangan para Imam. Penulis Kitab Tawarikh sangat memperhatikan pula sifat teokratis umat Israel. Karya Allah yang berlangsung, pola hukuman-imbalan, otoritas kitab suci dan peranan rumah Allah yang penting, semuanya merupakan unsure-unsur dalam pemerintahan Allah atas umat-Nya.
Penulis kitab Tawarih mengidam-idamkan dan berusaha memberi sumbangsih bagi pemulihan zaman Daud dan Salomo yang penuh kegemilangan, tetapi bukan dengan menegakkan kembali kerajaan itu melainkan dengan kembali kepada Ibadat yang benar dan setia kepada Allah. Kepada umat yang
raja-rajanya telah dilucuti, dan terpaksa menaati hukum-hukum Persia, ia memberitakan firman Allah yang penuh harapan : dengan percaya Kepada Tuhan dan memberitakan nabi-nabiNya Yehuda akan mengalami lagi jaman kemuliaan yang sama dengan keemasan dahulu.
Kitab Raja-Raja yang memilih, menyunting, mengolah dan menafsirkan sejarah Israel dari sudut pandang mereka sendiri. Kitab tawarikh menjunjung tinggi rumah Allah dan pelayanannya lebih dari pada para penulis sejarah yang pertama, mungkin karena ia melihat pentingnya memelihara kesetiaan bangsa itu kepada Tuhan dengan memberi banyak perhatian pada ibadat yang benar. Keberhasilan dan kegagalan para pemimpin masa lalu, ia menarik pelajaran moral dan spiritual yang terus menerus berguna dalam kehidupan masyarakat sesudah pembuangan.
Iklan