• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ilmu Alamiah Dasar Disaster Managemen an

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Ilmu Alamiah Dasar Disaster Managemen an"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

Ilmu Alamiah Dasar

Disaster Managemen and Insurance

(Bencana Manajemen dan Asuransi)

Oleh :

Sindy Monica Mazer

C1B014129

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Program Studi Manajemen

Universitas Bengkulu

2014

(2)

Puji syukur kami ucapkan atas rahmat ALLAH SWT yang telah memberikan

kesehatan dan kesempatan sehingga dapat menyelesaikan

tugas makalah ini dengan

baik.

Makalah ini ditulis sebagai tugas mata kuliah Ilmu Alamiah Dasar dengan

judul Disater Management & Insurance ( Manajemen Bencana dan

Asuransi )

Kami telah menyelesaikan makalah ini dengan segenap kemampuan dan

pikiran namun kami menyadari bahwa penulisan makalah ini masih belum

sempurna. Oleh karena itu kami mengahrapkan kritik dan saran yang

membangun dari pembaca agar makalah ini dapat mencapai

kesempurnaan dan dapat bermanfaat bagi pembaca.

Bengkulu, 17 November

2014

(3)

DAFTAR ISI

KATA

PENGANTAR... ... 2

DAFTAR

ISI... ... 3

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar

Belakang ... ... 4

1.2 Rumusan

Masalah ... ... 5

1.3 Tujuan

Penulisan... ... 5

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Definisi

bencana... ... 6

2.2 Proses Penanggulangan Bencana di

indonesia... 7 2.3 Asuransi bencana

alam... 11 2.4 Peran asuransi dalam bencana

alam... 12 BB III PENUTUP

3.1

Kesimpulan... ...14

(4)

Saran... ...14

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Berdasarkan pengamatan selama ini, kita lebih banyak melakukan kegiatan pasca bencana (post event) berupa emergency response dan recovery daripada kegiatan sebelum bencana berupa disaster reduction/mitigation dan disaster preparedness. Padahal, apabila kita memiliki sedikit perhatian terhadap kegiatan-kegiatan sebelum bencana, kita dapat mereduksi potensi bahaya/ kerugian (damages) yang mungkin timbul ketika bencana.

Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan sebelum bencana dapat berupa pendidikan peningkatan kesadaran bencana (disaster awareness), latihan penanggulangan bencana (disaster drill), penyiapan teknologi tahan bencana (disaster-proof), membangun sistem sosial yang tanggap bencana, dan perumusan kebijakan-kebijakan penanggulangan bencana (disaster management policies). Untuk mengurangi dampak kerugian akibat bencana ini ada beberapa upaya

yang dilakukan untuk menanggulangi bencana yaitu predisaster

(5)

ini akan semakin besar lagi apabila masyarakat dan negara tidak memiliki sistem manaje men predisaster yang baik. Oleh karena itu saat ini digalakkan penyadaran penti ngnya emergency preparedness sebagai suatu program jangka panjang yang

bertujuan untuk

memperkuat kapasitas dan kemampuan bangsa untuk memanage semua jenis b encana serta memulihkan keadaan pasca bencana hingga ke kondisi pengembangan berkelanjutan dan diadakannya juga asuransi bencana yang dapat membantu para korban bencana tersebut. Asuransi bencana, asuransi jenis ini bisa disebut juga asuransi properti, menyediakan cakupan untuk bencana alam tertentu.

Secara umum kegiatan manajemen bencana dapat dibagi dalam kedalam tiga kegiatan utama, yaitu:

1. Kegiatan pra bencana yang mencakup kegiatan pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, serta peringatan dini;

2. Kegiatan saat terjadi bencana yang mencakup kegiatan tanggap darurat untuk meringankan penderitaan sementara, seperti kegiatan search and rescue (SAR), bantuan darurat dan pengungsian;

3. Kegiatan pasca bencana yang mencakup kegiatan pemulihan, rehabilitasi, dan rekonstruksi.

Kegiatan pada tahap pra bencana ini selama ini banyak dilupakan, padahal justru kegiatan pada tahap pra bencana ini sangatlah penting karena apa yang sudah dipersiapkan pada tahap ini merupakan modal dalam menghadapi bencana dan pasca bencana. Sedikit sekali pemerintah bersama masyarakat maupun swasta memikirkan tentang langkah-langkah atau kegiatan-kegiatan apa yang perlu dilakukan didalam menghadapi bencana atau bagaimana memperkecil dampak bencana.

(6)

tetapi juga perlu diperhatikan juga rehabilitasi psikis yang terjadi seperti ketakutan, trauma atau depresi.

Dari uraian di atas, terlihat bahwa titik lemah dalam Siklus Manajemen Bencana adalah pada tahapan sebelum/pra bencana, sehingga hal inilah yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan untuk menghindari atau meminimalisasi dampak bencana yang terjadi.

1.2 RUMUSAN MASALAH 1. Apa itu bencana ?

2. Bagaimana proses penanggulangan bencana di Indonesia ? 3. Apa itu asuransi bencana alam?

4. Peran asuransi bencana?

1.3 TUJUAN

Tujuan pembuatan makalah ini adalah agar menambah wawasan pembaca tentang bagaimana manajemen penanggulangan bencana dan juga sebagai pem enuhan tugas mata kuliah manajemen bencana dan dampaknya.

BAB II PEMBAHASAN

2.1A. DEFENISI BENCANA

(7)

peristiwa atau masyarakat rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan dan tanah longsor. Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi dan wabah penyakit. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat dan teror. Sedangkan definisi bencana (disaster) menurut WHO adalah setiap kejadian yang menyebabkan kerusakan, gangguan ekologis, hilangnya nyawa manusia atau memburuknya derajat kesehatan atau pelayanan kesehatan pada skala tertentu yang memerlukan respon dari luar masyarakat atau wilayah yang terkena. Bencana adalah situasi dan kondisi yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Tergantung pada cakupannya, bencana ini bisa merubah pola kehidupan dari kondisi kehidupan masyarakat yang normal menjadi rusak, menghilangkan harta benda dan jiwa manusia, merusak struktur sosial masyarakat, serta menimbulkan lonjakan kebutuhan dasar (BAKORNAS PBP). Jenis Bencana Usep Solehudin (2005) mengelompokkan bencana menjadi 2 jenis yaitu :

1. Bencana alam (natural disaster) yaitu kejadian-kejadian alami seperti kejadian-kejadian alami seperti banjir, genangan, gempa bumi, gunung meletus, badai, kekeringan, wabah, serangga dan lainnya.

2. Bencana ulah manusia (man made disaster) yaitu kejadian-kejadian karena perbuatan manusia seperti tabrakan pesawat udara atau kendaraan, kebakaran, huru-hara, sabotase, ledakan, gangguan listrik, ganguan komunikasi, gangguan transportasi dan lainnya.

Sedangkan berdasarkan cakupan wilayah, bencana terdiri dari: 1. Bencana Lokal

Bencana ini biasanya memberikan dampak pada wilayah sekitarnya yang berdekatan. Bencana terjadi pada sebuah gedung atau bangunan-bangunan disekitarnya. Biasanya adalah karena akibat faktor manusia seperti kebakaran, ledakan, terorisme, kebocoran bahan kimia dan lainnya.

2. Bencana Regional

Jenis bencana ini memberikan dampak atau pengaruh pada area geografis yang cukup luas dan biasanya disebabkan oleh faktor alam, seperti badai, banjir, letusan gunung, tornado dan lainnya.

(8)

1. Fase pre impact merupakan warning phase, tahap awal dari bencana. Informasi didapat dari badan satelit dan meteorologi cuaca. Seharusnya pada fase inilah segala persiapan dilakukan dengan baik oleh pemerintah, lembaga dan masyarakat.

2. Fase impact merupakan fase terjadinya klimaks bencana.inilah saat-saat dimana manusia sekuat tenaga mencoba untuk bertahan hidup, fase impact ini terus berlanjut hingga tejadi kerusakan dan bantuan-bantuan yang darurat dilakukan.

3. Fase post impact merupakan saat dimulainya perbaikan dan penyembuhan dari fase darurat. Juga tahap dimana masyarakat mulai berusaha kembali pada fungsi kualitas normal. Secara umum pada fase post impact para korban akan mengalami tahap respons fisiologi mulai dari penolakan (denial), marah (angry), tawar-menawar (bargaing), depresi (depression) hingga penerimaan (acceptance).

2.2PROSES PENANGGULANGAN BENCANA DI INDONESIA

1. Peralatan

Dalam upaya menanggulangi bencana alam yang terjadi di negeri ini tentunya akan membutuhkan berbagai peralatan logistik, berikut ini beberapa kebutuhan logistik yang dibutuhkan dan siap pakai saat bencana terjadi:

a. Alat transportasi baik darat, laut, dan udara b. Alat-alat berat

c. Tenda yang berukuran besar maupun kecil d. Peralatan medis dan obat-obatan

e. Makanan instant

f. Alat penyedia air bersih g. dll

Peralatan diatas merupakan suatu yang vital karena tanpa adanya peralatan-peralatan tersebut, penanggulangan bencana akan sangat sulit dilakukan.

Proses Manajemen logistik dalam penanggulangan bencana ini meliputi delapan tahapan terdiri dari:

(9)

3. Pergudangan dan/atau Penyimpanan 4. Pendistribusian

5. Pengangkutan

6. Penerimaan di tujuan 7. Pertanggungjawaban

Delapan tahapan Manajemen Logistik dan Peralatan tersebut dilaksanakan secara keseluruhan menjadi satu sistem terpadu. Rincian kegiatan dan tujuan masing-masing tahapan Manajemen Logistik dan Peralatan itu adalah sebagai berikut:

1. Perencanaan/Inventarisasi Kebutuhan

a. Proses Inventarisasi Kebutuhan adalah langkah-langkah awal untuk mengetahui apa yang dibutuhkan, siapa yang membutuhkan, di mana, kapan dan bagaimana cara menyampaikan kebutuhannya.

b. Inventarisasi ini membutuhkan ketelitian dan keterampilan serta kemampuan untuk mengetahui secara pasti kondisi korban bencana yang akan ditanggulangi.

c. Maksud dan Tujuan Perencanaan/Inventarisasi kebutuhan adalah :

d. Contoh formulir Inventarisasi pada Lampiran memberikan gambaran langkah-langkah apa saja yang dibutuhkan dalam melaksanakan proses ini. e. Inventarisasi kebutuhan dihimpun dari :

a) Laporan-Laporan; b) Tim Reaksi Cepat; c) Media Massa; d) Instansi terkait;

f. Perencanaan Inventarisasi kebutuhan terdiri dari : a. Penyusunan standar kebutuhan minimal.

b. Penyusunan kebutuhan jangka pendek, menengah dan panjang. 2. Pengadaan dan/atau Penerimaan

(10)

b. Proses penerimaan atau pengadaan logistik dan peralatan untuk penanggulangan bencana dilaksanakan oleh penyelenggara penanggulangan bencana dan harus diinventarisasi atau dicatat. Pencatatan dilakukan sesuai dengan contoh formulir dalam lampiran.

c. Maksud dan Tujuan Penerimaan dan/atau Pengadaan:

1. Mengetahui jenis logistik dan peralatan yang diterima dari berbagai sumber.

2. Untuk mencocokkan antara kebutuhan dengan logistik dan peralatan yang ada.

3. Menginformasikan logistik dan peralatan sesuai skala prioritas kebutuhan. 4. Untuk menyesuaikan dalam hal penyimpanan.

d. Sumber Penerimaan dan/atau Pengadaan e. Proses Penerimaan dan/atau Pengadaan

a. Proses pengadaan logistik dan peralatan penanggulangan bencana dilaksanakan secara terencana dengan memperhatikan jenis dan jumlah kebutuhan, yang dapat dilakukan melalui pelelangan, pemilihan dan penunjukkan langsung sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

b. Penerimaan logistik dan peralatan melalui hibah dilaksanakan berdasarkan peraturan dan perundangan yang berlaku dengan memperhatikan kondisi pada keadaan darurat.

3. Pergudangan dan Penyimpanan

a. Proses penyimpanan dan pergudangan dimulai dari data penerimaan logistik dan peralatan yang diserahkan kepada unit pergudangan dan penyimpanan disertai dengan berita acara penerimaan dan bukti penerimaan logistik dan peralatan pada waktu itu.

b. Pencatatan data penerimaan antara lain meliputi jenis barang logistik dan peralatan apa saja yang dimasukkan ke dalam gudang, berapa jumlahnya, bagaimana keadaannya, siapa yang menyerahkan, siapa yang menerima, cara penyimpanan menggunakan metoda barang yang masuk terdahulu dikeluarkan pertama kali (first-in first-out) dan atau menggunakan metode last-in first-out. c. Prosedur penyimpanan dan pergudangan, antara lain pemilihan tempat, tipe gudang, kapasitas dan fasilitas penyimpanan, system pengamanan dan keselamatan, sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

(11)

a. Berdasarkan data inventarisasi kebutuhan maka disusunlah perencanaan pendistribusian logistik dan peralatan dengan disertai data pendukung: yaitu yang didasarkan kepada permintaan dan mendapatkan persetujuan dari pejabat berwenang dalam penanggulangan bencana.

b. Perencanaan pendistribusian terdiri dari data: siapa saja yang akan menerima bantuan, prioritas bantuan logistik dan peralatan yang diperlukan, kapan waktu penyampaian, lokasi, cara penyampaian, alat transportasi yang digunakan, siapa yang bertanggung jawab atas penyampaian tersebut.

c. Maksud dan Tujuan Pendistribusian adalah :

a) Mengetahui sasaran penerima bantuan dengan tepat.

b) Mengetahui jenis dan jumlah bantuan logistik dan peralatan yang harus disampaikan.

c) Merencanakan cara penyampaian atau pengangkutannya. 5. Pengangkutan

a. Berdasarkan data perencanaan pendistribusian, maka dilaksanakan pengangkutan.

b. Data yang dibutuhkan untuk pengangkutan adalah: jenis logistik dan peralatan yang diangkut, jumlah, tujuan, siapa yang bertanggungjawab dalam perjalanan termasuk tanggung jawab keamanannya, siapa yang bertanggungjawab menyampaikan kepada penerima.

c. Penerimaan oleh penanggungjawab pengangkutan disertai dengan berita acara dan bukti penerimaan logistik dan peralatan yang diangkut.

d. Maksud dan Tujuan Pengangkutan:

1. Mengangkut dan atau memindahkan logistik dan peralatan dari gudang penyimpanan ke tujuan penerima

2. Menjamin keamanan, keselamatan dan keutuhan logistik dan peralatan dari gudang ke tujuan.

3. Mempercepat penyampaian. e. Jenis Pengangkutan

a. Jenis pengangkutan terdiri dari angkutan darat, laut, sungai, danau dan udara, baik secara komersial maupun non komersial yang berdasarkan kepada ketentuan yang berlaku.

(12)

a. Langkah-langkah yang harus dilaksanakan dalam penerimaan di tempat tujuan adalah:

b. Mencocokkan antara data di manifest pengangkutan dengan jenis bantuan yang diterima.

c. Men-check kembali, jenis, jumlah, berat dan kondisi barang.

d. Mencatat tempat pemberangkatan, tanggal waktu kedatangan, sarana transportasi, pengirim dan penerima barang.

e. Membuat berita acara serah terima dan bukti penerimaan. 7. Pertanggungjawaban

a. Seluruh proses manajemen logistik dan peralatan yang telah dilaksanakan harus dibuat pertanggung jawabannya.

b. Pertanggungjawaban penanggulangan bencana baik keuangan maupun kinerja, dilakukan pada setiap tahapan proses dan secara paripurna untuk seluruh proses, dalam bentuk laporan oleh setiap pemangku proses secara berjenjang dan berkala sesuai dengan prinsip akuntabilitas dan transparansi

2.3Asuransi Bencana Alam

Asuransi bencana, asuransi jenis ini bisa disebut juga asuransi properti, menyediakan cakupan untuk bencana alam tertentu, seperti kebakaran, angin topan, gempa bumi dan vandalisme. Banyak pemilik rumah membeli bentuk “komprehensif” asuransi pertama, yang mungkin termasuk kerusakan yang paling umum, tetapi kemudian mencari perlindungan tambahan untuk bahaya tertentu. Mereka yang tinggal di dataran banjir misalnya,dapat membeli asuransi untuk kerusakan air, sementara pemilik rumah di daerah rawan gempa bumi dapat menambahkan asuransi gempa bumi.

(13)

asuransi setidaknya cukup untuk menutupi biaya hipotek, yang akan memberikan perlindungan yang cukup untuk mengembalikan properti jika terbakar ke tanah sehari setelah penjualan selesai.

Premi untuk asuransi jenis ini umumnya dihitung berdasarkan dari nilai properti, usia bangunan, metode konstruksi dan bencana alam yang dikenal di daerah tersebut. Agen asuransi mungkin menawarkan kebijakan bencana tambahan seperti banjir, gempa bumi dan cakupan badai, tetapi pemilik rumah mungkin harus mempertimbangkan manfaat terhadap premi yang lebih tinggi. Beberapa kebijakan mungkin terdengar sembrono, tapi kerusakan yang disebabkan oleh gempa bumi, misalnya, bisa sangat besar. Asuransi badai di satu daerah mungkin terdengar otomatis, tetapi beberapa pemilik rumah dapat menyimpan uang pada premi dengan tidak menambahkannya ke kebijakan yang komprehensif, karena kerusakan dapat ditutupi tanpa perlu untuk cakupan ekstra

2.4Peran Asuransi dalam bencana alam

Asuransi hadir karena ada risiko dan ada yang menderita kerugian. Sayangnya di Indonesia, asuransi terkesan elitis. Polis asuransi dimiliki oleh korporasi atau orang-orang mampu, belum merata dipunyai oleh MBR. Akibatnya, fungsi asuransi sebagai pemindahan risiko atau berbagi risiko belum termanfaatkan maksimal.

Jika penyebabnya adalah karena masyarakat belum sadar, maka kewajiban pemerintah dan industri asuransi untuk memberikan pendidikan dan sosialisasi intensif. Jika MBR tidak mampu bayar premi, kreativitas pemerintah dibutuhkan untuk menyubsidi premi bagi yang tidak mampu.

Skema subsidi premi di daerah rawan bencana bisa dilakukan. Di era otonomi daerah, Pemda bisa mengkaji intensif keuntungan menyubsidi premi dibandingkan harus merehabilitasi pascabencana tanpa kontribusi industri asuransi. Jika ada bencana, pemerintah bisa berbagi dengan asuransi.

Sampai saat ini, produk asuransi yang didesain untuk MBR masih sangat minim, hanya beberapa perusahaan yang mengembangkan. Padahal produk khusus dengan premi kecil, serta persyaratan dan pengurusan klaim yang simpel, bisa menjadi magnet untuk MBR.

Asuransi mikro (microinsurance) mendesak untuk dikembangkan di Indonesia. Asuransi untuk MBR ini memang tidak terlalu menjanjikan premi signifikan. Dalam laporan MicroInsurance Centre (2007) dengan tajuk The Landscape of Microinsurance in the World’s 100 Poorest Countries, asuransi mikro diIndonesia relatif tidak berkembang. Inilah yang membuat penetrasi asuransi diIndonesia masih rendah.

(14)

Corporate social responsibility (CSR) seharusnya tidak hanya dipahami sebagai charity, bantuan bencana, atau program bina lingkungan. CSR sebaiknya menjadi program berkesinambungan dan terencana. Paradigma CSR sebagai tanggung jawab sosial bisa bermanifestasi dalam banyak bentuk. Dalam industri asuransi, paradigma tersebut dapat diterjemahkan dengan memberikan jaminan asuransi bencana untuk daerah rawan atau mengembangkan asuransi mikro yang pro rakyat kecil.

Dengan paradigma CSR, maka tidak akan menggunakan kalkulasi untung-rugi untuk menyelenggarakannya, sebab ini sebuah bentuk kepedulian. Seperti lazimnya bisnis, industri asuransi jelas akan menghitung keuntungan ketika akan mengeluarkan produk asuransi atau menjamin suatu risiko. Dengan kata lain, jika peluang kerugian sangat tinggi atau dampaknya sangat besar, biasanya perusahaan asuransi enggan menjaminnya.

Bisa juga perusahaan asuransi akan menerapkan tarif premi atau risiko sendiri yang besar. Jika ini yang dilakukan untuk daerah bencana yang sebagian besar dihuni oleh MBR, maka percuma saja. Masyarakat tidak akan sudi membeli polis asuransi.

Di sinilah yang dimaksud sebagai bentuk kepedulian industri asuransi. Jika industri atau perusahaan lain bisa menerjemahkan CSR dalam bentuk bantuan, maka industri asuransi memiliki cara lain, yakni menjamin risiko bencana.Toh belum tentu juga bencana terjadi, alias perusahaan asuransi belum tentu membayar klaim.

Industri asuransi harus bermakna bagi rakyat kecil. Bagitu juga perannya yang dibutuhkan untuk mengembangkan asuransi mikro. Masyarakat sejatinya membutuhkan perlindungan dari kerugian finansial. Pelaku industri asuransi umum dan asuransi jiwa harus punya komitmen komunal untuk mengembangkan suatu produk yang terjangkau MBR.

Asuransi mikro, meskipun tak menjanjikan premi besar layaknya premi dari sektor korporasi, tetapi akan mampu memberikan efek jangka panjang. Efek itu berupa tumbunya kesadaran massif berasuransi. Jika asuransi terjangkau masyarakat secara luas, maka masyarakat akan mengenal asuransi. Pada gilirannya, mereka akan mengetahui manfaat positif asuransi.

Selanjutnya, tidak mustahil mereka akan membutuhkan proteksi asuransi yang lebih. Mereka mungkin akan menaikkan uang/harga pertanggungan atau minta jaminan proteksi untuk harta bendanya yang lain. Selain itu, asuransi yang menjangkau suatu keluarga, maka itu pendidikan gratis turun-temurun untuk anak cucunya. Sehingga tanpa susah payah industri asuransi untuk berpromosi, anak cucu dalam keluarga tersebut sudah sadar asuransi.

(15)

Masyarakat yang menderita akibat bencana butuh kepedulian semua pihak dengan caranya masing-masing. Industri asuransi, selain bisa memberikan bantuan donasi, juga punya cara yang khas untuk membantu saudara-saudara kita yang ditimpa bencana. Tinggal kemauan semua pihak, industri asuransi dan pemerintah.

BAB III PENUTUP

3.1. KESIMPULAN

Bencana adalah konsekuensi dari kombinasi aktivitas alami (suatu peristiwa fisik, seperti letusan gunung, gempa bumi, tanah longsor), nonalam (gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi dan wabah penyakit) dan bencana sosial (konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat dan teror). Karena ketidakberdayaan manusia, akibat kurang baiknya manajemen keadaan darurat, sehingga menyebabkan kerugian dalam bidang keuangan dan struktural, bahkan sampai kematian. Kerugian yang dihasilkan tergantung pada kemampuan untuk mencegah atau menghindari bencana dan daya tahan mereka.

(16)

Asuransi hadir karena ada risiko dan ada yang menderita kerugian. Dan kreativitas pemerintah dibutuhkan untuk menyubsidi premi bagi yang tidak mampu.

3.2 SARAN

Referensi

Dokumen terkait