Kurangnya Minat Mahasiswa Menggunakan Transportasi Umum Lack of Interest Students Using Public Transportation
Riza Satria Permana
Teknik Elektro Politeknik Negeri Jakarta – Depok
Korespondensi : Riza, Teknik Listrik Politeknik Negeri Jakarta, Gedung D, Jalan Prof.Dr.G.A.Siwabessy, Kampus UI, Depok 16452, HP : 085771853008, E-mail: [email protected]
ABSTRAK
Permasalahan kemacetan Jakarta merupakan permasalahan yang sudah lumrah dan menjadi sesuatu yang vital. Karena dampaknya menjalar ke berbagai aspek kehidupan sehingga menyebabkan krisis dan pemborosan. Apabila permasalahan ini dapat ditanggulangi atau setidaknya diminimalisir maka pembangunan di pusat pemerintahan akan berjalan dengan lebih efisien sehingga dapat mempercepat pembangunan di daerah-daerah lain di Nusantara.
Peran mahasiwa itu sebagai pembelajar sekaligus pemberdaya yang didukung dalam tiga peran, yaitu : agent of change, social control, dan iron stock. Hingga suatu saat nanti, bangsa ini akan menyadari bahwa mahasiswa adalah generasi yang di tunggu-tunggu bangsa ini.
Mahasiswa tentu tidak sama dengan pelajar SMA yang hanya menunggu tugas dari guru mereka. Mahasiswa juga bukan sebuah status untuk kebanggan semata. Namun mahasiswa adalah status yang disematkan kepada pemuda-pemudi Indonesia yang aktif berperan terhadap dirinya sendiri, masyarakat luas juga bangsanya.
Peran mahasiswa begitu luas, tidak sekedar mencakup kegiatan pembelajaran di
universitas mereka, namun juga di setiap lingkungan dimanapun mereka berada. Perlu disadari, mahasiswa adalah kaum intelektual terdidik. Dari sekian banyak kaum intelektual tersebut akan muncul beberapa bibit kaum intelektual yang aktif di berbagai kegiatan yang berlandaskan Tri Dharma perguruan tinggi, yang mampu memberikan sumbangsih terbaik kepada bangsanya. Pemikiran kritis, demokratis, dan konstruktif diharapkan selalu lahir dari pola pikir para mahasiswa.
penanggulangan kemacetan dimulai dari hal kecil seperti menggunakan transportasi umum, tertib dalam berkendara serta mematuhi peraturan lalu lintas sehingga dapat tercipta kenyamanan bagi para pengguna jalan.
ABSTRACT
Jakarta congestion problem is a problem that is commonplace and become something vital. Because of the impact spread to various aspects of life, causing a crisis and wastage. If these problems can be overcome or at least minimized the development in the central
government will run more efficiently so as to accelerate development in the area - another area in the archipelago.
The role of the student as well as empowerment of learners are supported in three roles: agent of change, social control, and the iron stock. Until one day, this nation will realize that the student is a generation in waiting this nation.
Students certainly not the same as high school students who are just waiting for assignment from their teacher. Students also not a status for pride alone. But the status of the student is pinned to the youths - Indonesian girls who actively against itself, the wider community is also the nation.
The role of students is so vast, not only includes learning activities in their universities, but also in every environment wherever they are. Be aware, students are educated intellectuals. Of the many intellectuals will appear some seedlings intellectuals are active in a variety of activities based on the Tri Dharma college, which is able to contribute best to the nation. Critical thinking, democratic, and constructive expected always born out of the mindset of the students.
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Jakarta adalah Kota Megapolitan dengan penduduk yang berjumlah lebih dari 8 juta jiwa dan terus bertambah tiap tahunnya. Pertumbuhan penduduk yang amat pesat ini disebabkan karena pemusatan lokasi kegiatan perekonomian dan pemerintahan untuk kawasan Jabodetabek berada di Jakarta sebagai kota terbesar di Indonesia. Pergerakan penduduk Jakarta sangat
dinamis guna menuju ke tempat aktivitas tiap harinya mereka memenuhi ruas-ruas jalan di dalam kota terutama jalan utama yang menuju ke daerah tujuan. Kemacetan menjadi hal yang tidak dapat dihindari lagi, khususnya pada saat peak hour. Salah satu alternatif pemecahan masalah ini adalah dengan meningkatkan kualitas sarana ataupun prasarana angkutan umum, atau dengan menggunakan jenis angkutan massal. Salah satunya penggunaan Commuter Line bisa menjadi alternatif.
Transportasi yang cepat, murah, amam, dan nyaman adalah salah satu kebutuhan penting dalam menjakankan aktivitas sehari-hari. Salah satu sarana transportasi dalam kota yang diminati banyak masyarakat adalah dengan Kereta Rel Listrik (KRL) karena harganya yang murah dan waktu perjalanan yang ditempuh juga singkat.
Sebagai agen perubahan, mahasiswa bertindak bukan ibarat pahlawan yang datang ke sebuah negeri lalu dengan gagahnya mengusir penjahat-penjahat dan dengan gagah pula sang pahlawan pergi dari daerah tersebut diiringi tepuk tangan penduduk setempat. Dalam artian kita tidak hanya menjadi penggagas perubahan, melainkan menjadi objek atau pelaku dari perubahan tersebut. Sikap kritis mahasiswa sering membuat sebuah perubahan besar dan membuat para pemimpin yang tidak berkompeten menjadi gerah dan cemas.
Maka lengkaplah peran mahasiwa itu sebagai pembelajar sekaligus pemberdaya yang didukung dalam tiga peran, yaitu : agent of change, social control, dan iron stock. Hingga suatu saat nanti, bangsa ini akan menyadari bahwa mahasiswa adalah generasi yang di tunggu-tunggu bangsa ini.
Mahasiswa tentu tidak sama dengan pelajar sma yang hanya menunggu tugas dari guru mereka. Mahasiswa juga bukan sebuah status untuk kebanggan semata. Namun mahasiswa adalah status yang disematkan kepada pemuda-pemudi Indonesia yang aktif berperan terhadap dirinya sendiri, masyarakat luas juga bangsanya.
Peran mahasiswa begitu luas, tidak sekedar mencakup kegiatan pembelajaran di universitas mereka, namun juga di setiap lingkungan dimanapun mereka berada. Perlu disadari, mahasiswa adalah kaum intelektual terdidik. Dari sekian banyak kaum intelektual tersebut akan muncul beberapa bibit kaum intelektual yang aktif di berbagai kegiatan yang berlandaskan tri dharma perguruan tinggi, yang mampu memberikan sumbangsih terbaik kepada bangsanya.Pemikiran kritis, demokratis, dan konstruktif diharapkan selalu lahir dari pola pikir para mahasiswa.
1.2 Rumusan Masalah
1. Mengapa masih banyak mahasiswa yang berangkat ke kampus dengan menggunakan kendaraan pribadi?
2. Mengapa para mahasiswa tidak menggunakan jasa transportasi Angkot atau Kopaja? 3. Mengapa para mahasiswa tidak menggunakam jasa commuter line?
1.3 Ruang Lingkup
Agar pembahasan dalam karya tulis ini fokus dan terarah pada tujuan yang ingin dicapai, maka karya tulis ini dibatasi, yaitu penelitian ini dilakukan pada mahasiswa yang tinggal di Depok dan kuliah di Jakarta. Kami mengambil sample di kampus-kampus disekitar Jakarta Selatan seperti Politeknik APP, Universitas Pancasila, Kampus Tercinta IISIP, dan STBA LIA.
1.4 Tujuan Penelitian
Untuk mengetahui faktor penyebab mahasiswa tidak menggunakan jasa transportasi umum.
Pada penelitian kali ini kami menggunakan metode penelitian pengisian kuisioner, yakni pertanyaan yang diajukan kepada orang-orang terutama mahasiswa yang berperan dalam timbulnya kemacetan di Jakarta Selatan. Kuisioner ini juga berisikan pertanyaan serta jawaban ya atau tidak dan alasan mengapa menjawab ya atau tidak. Pertanyaan-pertanyaan yang diberikan bertujuan untuk mengetahui apakah mahasiswa menggunakan transportasi umum atau menggunakan transportasi pribadi, dan juga kami dapat mengetahui faktor apa saja yang menyebabkan mahasiswa menggunakan transportasi pribadi.
1.6
Sistematika Penulisan
Adapun sistematika penulisan dari karya tulis ini kami yang berjudul Kurangnya Minat Mahasiswa Menggunakan Transportasi Umum adalah sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
1.2. Rumusan Masalah
1.3. Ruang Lingkup
1.4. Tujuan Penelitian
1.5. Metode Penelitian
1.6. Sistematika Penulisan
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Landasan Teori
2.2. Penyebab Kemacetan
2.3 Alasan Mahasiswa Tidak Menggunakan Jasa Angkot
2.4 Alasan Mahasiswa Tidak Menggunakan Jasa Commuter Line
BAB III METODE PENELITIAN
BAB IV HASIL PENELITIAN
BAB V PENUTUP
4.1. Kesimpulan
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Landasan Teori
Kemacetan adalah keadaan dimana pada saat tertentu kendaraan yang sedang berjalan melewati suatu ruas jalan berhenti dalam waktu yang singkat maupun lama. Kemacetan
merupakan bukti ketidakberesan pengaturan lalu lintas yang terjadi pada daerah perkotaan, tetapi kemacetan bukanlah sebuah fenomena baru. Hampir semua kota besar baik di negara maju maupun negara yang sedang berkembang masih menghadapi masalah kemacetan paling sedikit pada jam-jam sibuk pagi dan sore hari (Clarkson dan Gary,1988).
Sebagai agen perubahan, mahasiswa bertindak bukan ibarat pahlawan yang datang ke sebuah negeri lalu dengan gagahnya mengusir penjahat-penjahat dan dengan gagah pula sang pahlawan pergi dari daerah tersebut diiringi tepuk tangan penduduk setempat. Dalam artian kita tidak hanya menjadi penggagas perubahan, melainkan menjadi objek atau pelaku dari perubahan tersebut. Sikap kritis mahasiswa sering membuat sebuah perubahan besar.
2.2 Penyebab Kemacetan
Menurut ahli transportasi kemacetan terjadi karena adanya jam atau waktu keluar dan masuknya kendaraan pada jam atau waktu yang bersamaan.
Namun intinya penyebab utama kemacetan adalah terjadi karena kurangnya minat masyarakat terutama mahasiswa untuk menggunakan jasa transportasi umum bahkan semakin bertambahnya jumlah volume kendaraan pribadi, dan salah satu pengguna kendaraan pribadi diantaranya adalah mahasiswa. Mereka berpendapat bahwa dengan menggunaka kendaraan pribadi akan lebih efektif dan efisien.
2.3 Alasan Mahasiswa Tidak Menggunakan Jasa Angkot
Tidak tertariknya mahasiswa untuk naik angkutan umum memang menjadi polemik tersendiri, apalagi naiknya harga BBM yang mengikuti harga pasar internasional juga
Terlebih untuk saat ini mudahnya mendapatkan kredit kendaraan juga jadi alasan kenapa mahasiswa tidak memakai angkutan umum.
Hal tersebut berdampak pada tingkat volume kendaraan di jalan, namun mahasiswa pun juga tidak bisa disalahkan akan ketidakmauannya untuk naik angkot, disisi lain mahasiswa punya alasan tersendiri kenapa tidak mau menggunakan angkot sebagai alat transportasinya sehari-hari.
Berikut adalah beberapa alasan kenapa saat ini mahasiswa tidak mau menggunakan angkutan umum sebagai alat transportasinya :
Ngetem
Sebagai seorang penumpang siapa yang tahan jika sudah diburu waktu untuk sampai ke tempat tujuan, tapi angkutan yang kita naiki malah berhenti di pinggir jalan malahan untuk beberapa saat tidak mau jalan jika kursi belakangnya sudah terisi penuh oleh penumpang. Ngetem memang menjadi polemik tersendiri bagi kenyamanan penumpang terutama mungkin para mahasiswa yang dituntut disiplin oleh para dosennya.
Rokok
Memang, untuk kelas angkutan umum, jarang sekali yang disematkan AC di dalam kendaraannya atau bahkan memang tidak ada sama sekali. Untuk yang mempunyai kebiasaan merokok, tentunya menyenangkan, tetapi untuk para perokok pasif, ya, merekalah korbannya dan itu yang membuat mereka para mahasiswa enggan untuk kembali menggunakan transportasi umum tersebut.
Kotor
Kondisi yang paling sering ditemui saat menggunakan angkutan umum, membuat para penumpang termasuk mahasiswa tidak nyaman dengan keadaan seperti ini. Bukan hanya kotor saja, mungkin ada bau-bau yang tidak enak untuk dicium jika kondisinya seperti itu. Memang bukan sepenuhnya kesalahan dari si supir atau pun pemilik angkot, pasti saat akan mulai jalan, angkot pasti bersih, tidak ada kesadaran dari penumpang yang mungkin membuang bekas makan atau minum sembarangan atau pun puntung rokok yang dibuang di dalam angkutan umum.
Kriminalitas
angkutan umum, seperti pencopetan penculikan, dan pemerkosaan kerap terjadi di angkutan umum.
Ugal-ugalan
Selain kriminalitas, para mahasiswa menilai bahwa cara mengemudi supir pun tidak mementingkan keselamatan para penumpangnya karena mengejar setoran, mereka bertindak seolah jalan raya adalah sirkuit sehingga mereka memacu kendaraannya tidak pada batas yang ada. Padahal sudah banyak kasus kecelakaan karena tindakan para pengemudi angkutan umum yang ugal-ugalan seperti itu.
Kenyamanan
Akumulasi dari semua hal yang disebutkan di atas adalah ketidaknyamanan saat menaiki angkutan umum ini. Benar-benar masih di bawah standar kalau untuk alasan kenyaman saat menaiki angkutan umum. Banyak para mahasiswa tidak nyaman dengan kondisi dalam angkutan umum, selain sesak bila penumpang penuh dan juga segala jenis penumpang ada di dalam angkutan umum, hal inilah yang tidak membuat para penumpang nyaman ketika berada dalam angkutan umum.
2.4 Alasan Mahasiswa Tidak Menggunakan Jasa Commuter Line
Commuter line atau biasa kita sebut KRL ( Kereta Rel Listrik ) merupakan salah satu upaya pemerintah dalam mengatasi kemacetan. Tapi hal ini masih dinilai kurang, karena terbukti di Jakarta hingga kini masalah kemacetan belum terselesaikan.
Banyak kalangan masyarakat salah atunya adalah mahasiswa, mereka menilai bahwa ketertarikan untuk menggunakan fasilitas umum seperti Commuter Line masih kurang, mereka menilai bahwa fasilitas yang ada didalam Commuter Line masih kurang seperti AC yang ada pada gerbong sering tidak bekerja, sehingga para pengguna jasa angkutan umum Commuter Line ini seperti mahasiswa mengeluhkan dirinya ketika berada didalam rangkaian kereta karena AC pada rangkaian tersebut tidak bekerja dan kondisi didalam gerbong begitu padat dan sesak.
BAB III
METODE PENELITIAN
Pada penelitian kali ini kami menggunakan metode penelitian pengisian kuisioner, yakni pertanyaan yang diajukan kepada orang-orang terutama mahasiswa yang berperan dalam
timbulnya kemacetan di Jakarta Selatan. Kuisioner ini juga berisikan pertanyaan serta jawaban ya atau tidak dan alasan mengapa menjawab ya atau tidak. Pertanyaan-pertanyaan yang
diberikan bertujuan untuk mengetahui apakah mahasiswa menggunakan transportasi umum atau menggunakan transportasi pribadi, dan juga kami dapat mengetahui faktor apa saja yang
BAB IV
HASIL PENELITIAN
Menurut hasil penelitian yang kami lakukan 3 dari 5 mahasiswa yang berdomisili di Depok dan berkuliah di Jakarta mengatakan bahwa dirinya berangkat ke kampus menggunakan kendaraan pribadi. Dan mereka juga mengataka bahwa kemacetan sering terjadi di sepanjang jalan Raya Lenteng Agung hingga jalan Raya Pasar Minggu.
Para mahasiswa mengatakan bahwa fasilitas yang diberikan oleh jasa angkutan umum seperti angkot, dan Commuter Line masih jauh dari yang mereka harapkan. Para supir angkot sering ngetem sehingga itu membuat para mahasiswa terlambat untuk datang ke kampus. Selain itu tingkat kebersihan dan keamanan pada jasa angkutan umum seperti ankot masih sangat kurang.
Selain angkot, para mahasiswa pun mengeluh kesahkan tentang fasilitas yang ada pada Commuter Line, mereka mengatakan ketidak tarikannya terhadap jasa transportasi Commuter Line disebabkan sering terjadi delay sehingga penumpang menumpuk di statsiun.
Armada yang tersedi pun dinilai masih kurang sehingga terjadi penumpukkan penumpang, dan jika kereta telah tiba merek berebut tempat dan akhirnya berakibat pada sesaknya dan penuh didalam gerbong kereta.
Sebagai mahasiswa yang merupakan golongan intelektual maka wajib agar bersikap kritis terhadap permasalahan kemacetan Jakarta. Secara intelektual mahasiswa dapat melakukan pengkajian agar masalah tersebut dapat ditanggulangi.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Setelah membaca karya tulis diatas, dapat disimpulkan bahwa:
a) Kemacetan merupakan situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. b) Kemacetan terjadi karena jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan dan dapat
disebabkan faktor – faktor lain.
c) Cara menanggulangi dan meminimimalisir kemacetan adalah dengan pembangunan sarana dan prasarana bagi para pengguna jalan, dan memperbaiki fasilitas kendaraan umum sehingga pengguna kendaraan pribadi mau beralih pada kendaraan umum karena kenyamanan yang didapatnya.
d) Sebagai agen perubahan, mahasiswa bertindak bukan ibarat pahlawan yang datang ke sebuah negeri lalu dengan gagahnya mengusir penjahat-penjahat dan dengan gagah pula sang pahlawan pergi dari daerah tersebut diiringi tepuk tangan penduduk setempat. Dalam artian kita tidak hanya menjadi penggagas perubahan, melainkan menjadi objek atau pelaku dari perubahan tersebut. Sikap kritis mahasiswa sering membuat sebuah perubahan besar
e) Sebagai mahasiswa kita harus kritis dan menanggapi dengan cepat permasalahan kehidupan yang terjadi saat ini seperti permasalahan kemacetan di Jakarta . Paling tidak dari hal kecil seperti berangkat ke kampus dengan menggunakan kendaraan umum, sehingga untuk hal besar kita akan lebih siap menghadapinya bahkan dapat
menanggulanginya. 5.2 Saran
a) Meningkatkan fasilitas kendaraan umum.
DAFTAR PUSTAKA
Reno. (2014). Alasan Penyebab Kemacetan di Kota Besar. Diakses dari
http://informid.com/alasan penyebab-kemacetan-di-kota-besar/ (11/12/2015)
Kompas.com.(2013). Macet Abadi di Lenteng Agung. Diakses dari
http://megapolitan.kompas.com/read/2013/07/15/1148262/Macet.Abadi.di.Jalan.Lenteng.Ag ung (11/12/2015)
Febrilisaumi. (2014). Kemacetan di Ibu Kota. Diakses dari
https://febrilisaumi.wordpress.com/kemacetan-di-ibukota/ (12/12/2015)
Steven, Wira. (2011). Dampak Kemacetan-Kemacetan Lalu Lintas. Diakses dari
http://wirasteven.blogspot.co.id/2013/03/dampak-kemacetan-kemacetan-lalu-lintas.html
(14/12/2015)
Angelina.(2014).Dampak Kemacetan di Jakarta Barat.Diakses dari
http://fxangelina.blogspot.co.id/2014/11/karya-tulis-bahasa-indonesia-dampak.html
(14/12/2015)
Adhityahadi.(2013).Kemacetan di Lenteng Agung Belum Teratasi. Diakses dari http://www.kompasiana.com/adhityavito/kemacetan-di-lenteng-agung- belum-teratasi_552af306f17e61e557d623c5 (14/12/2015)
Wijaya,Awi Muliadi. (2010). Faktor-Faktor Penyebab Kemacetan Lalu Lintas di Jakarta dan Alternatif Pemecahan Masalah. Diakses dari http://www.infodokterku.com/index.php/en/90 daftar-isi-content/macam-macam-info/transportasi/137-faktor-faktor-penyebab-kemacetan lalu-lintas-di-jakarta-dan-alternatif-pemecahan-masalah-sebelum-kiamat-jakarta-pasti-bisa bebas-macet-lalu-lintas (16/12/2015)
Gustian. (2013). Peran Mahasiswa (Agen of Change, Social Control, dan Iron
Diakses dari http://bloggustian.blogspot.co.id/2013/09/kritikan-terhadap-pemimpin-bangsa.html (16/12/2015)