• Tidak ada hasil yang ditemukan

Keragaman Bakteri Indigenous Rayap dan Pengaruhnya Terhadap Mortalitas Rayap (Coptotermes SP)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Keragaman Bakteri Indigenous Rayap dan Pengaruhnya Terhadap Mortalitas Rayap (Coptotermes SP)"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

ISBN

:

979-799{71.0

PROSIDIl{G

SEITTINAN

ilASIONAI

PEIIOEIOLIAII

Ii,MEN

OAH

DAII

IfiAIIEIANAOATAII

llAHTI

OEOARA

IIiIfi

IAIIJI,TAII

Makassar, 12 September

2006

TIM

PENYUNTING

MAGDATEI{AUTMY,

Ph.D

DRA. S'AFARAEilAN,

M.Si

DRS,

MUH.

RUSI.AII UMAR,

M.Si

PENYETENGGARA

.ll

TI'

JURUSAT{ BIOTOGI

TTIPA-

UI{HAS

IEIIIBAGA

IIIIIU

PEI{GETAHUAN INDOI{ESIA
(2)

O

lndonesian

lnstitute of Sciences

(LlPl)

& Hasanuddin University

(Unhas) 2007

Katalog dalam Terbitan

PENGELOLAAN SUMBER DAYA DAN KEANEKARAGAMAN HAYATI

SECARA BERKELANJUTAN

(Prosiding Seminar Nasional

)

/

Magdalena Litaay, Sjafaraenan,

Muh. Ruslan

Umar.

(Ed.)

-

Jakarta

:

LlPl

Press, 2007

Copy

Rlght

Xll

+

186

HLM

ISBN

:979-799-071-0

l.

KeanekaragamanHayati

ll.

Litaay,

Magdalena

ll.

Sjafaraenan

lll.

Umar, Muh. Ruslan

577

Penerbit

:

LlPl

Press,

anggota

IKAPI

.tr

Tl'

LIPI

Pusat Penelitian

Biologi

-

LlPl

Jln. lr.

H.

Juanda No.

18.

Bogor

Telp.

:

(0251

)

321041,

321038

(3)

KATA PENGANTAR

Puji syukur

kita

panjatkan kepada

Tuhan Yang Maha

Kuasa karena

atas rahmat, karunia dan petunjuk-Nya maka prosiding

Kegiatan

:

.PENGELOLAAN SUMBERDAYA

&

KEANEKARAGAMAN

HAYATI

SECARA BERKELANJUTAN"

Yang

telah

dilaksanakan

di

kota

Makassar

pada

tanggal

12

September 2006, dapat

terlaksana

dengan

baik.

Hasil

kegiatan seminar ini telah dijabarkan dalam laporan kegiatan

yang

telah

diserahkan

panitia

pelaksana

kepada

PBI

Pusat

dan

LlPl

sedangkan prosiding

ini

memuat

tulisan para

pemateri dalam

seminar

dan

makalah pelengkap pada event dimaksud.

Prosiding ini

diharapkan

akan memberikan makna yang berarti bagi

pihak-pihak yang

terlibat dalam pengelolaan sumberdaya

dan

keaneka-ragaman

hayati

yang berkelanjutan di lndonesia Diharapkan prosiding

ini

juga

dapat menjadi referensi untuk memperkaya khasanah ilmu

penge-tahuan dan bermanfaat bagi k'ta semua.

'

Makassar,

. . . ..

...

Marct

2OO7

TTD

Ketua

PBI

Sulawesi Selatan

(4)

DAFTAR ISI HAL JUDUL KATA PENGANTAR DAFTAR ISI Hal i iii Rochadi

Abdulhadi

PROFIL PERHIMPUNAN BIOLOGI

INDONESIA

1

Siti

Nuramaliati

Prijono

PERANAN LIPI SEBAGAI OTORITAS KEILMUAN

BIDANG

10

KOAJSERVASI TUMBUHAN DAN SATWA TERMASUK DALAM

PELAKSANAAN CITES D/

iNDONES/I

Ahmad Jauhat

Arief

PENTINGNYA ILMU PENGETAHUAN

BIALOGI

SEBAGAI

DASAR

26

PENGELOLAAN KEANEKARAGAMAN HAYATI YANG

BERKEUNJUTAN

Magdalena

Litaay

&

Jamaluddin Jompa

KEANEMMGAMANDANPENGELOLAANBERKELANJUTAN

34

SUMBER DAYA HAYATI

LAUT

D]

KAWASAN SPERMONDE

SULEWESI SELATAN

Amran

Ahmad

KEANEKARAGAMAN JENIS TUMBUHAN

DI

TAMAN

NASIONAL

44

BANTI M U R U NG BULU SARAUNG

Rahmawaty &

Alimuddin Ali

KERAGAMAN BAKTERT

tNDtcENaus

RAyAp

&

zENGARUHNvA

I

ss l

TERHADAP MORTALITAS RAYAP (Coptolermes

sp)

\-_,,

Muh.

Banda

Selamat,

Jamaluddin Jompa

& Dody

Priosambodo

APLIMSI

MODEL RELASI ENTITI UNTUK

BASISDATA

63

.

KEANEKARAGAMAN

UMUN

DI KEPULAUAN SPERMANDE

Syafyudin Yusuf

LOKASI DAN HAAITAT

BARU

SEBARAN KARANG

Acrapora

69 russelli

(Wallace

1994) Dl

SEKITAR GARIS WALLACEA

Willem Moka

& Robeft Sutjianto

/NYENIAR/SAS/ JEN/S - JEN/S BURUNG A

IR

DISEKITAR

WADUK

77

A]L]

-

BIL] KABUPATEN GOWA SULAWESI SELATAN

Ambeng

PELESTARIAN DAN STRATEGI

PENGELALAAN

87

KEANEMRAGAMAN HAYATI SULWESI SELATAN

(5)

Sri Suhadiyah

&

Elis Tambaru

xeANextmalueN

FL2RA'GREEN BELT"

JALUR

JALAN

97

SIJNGAI, DAN PANTAI DI KOTA MAKASSAR .

Magdalena Litaay

-

otveasins uolusloq

GASTRoPoDA

Dl

RATAAN

109

TERUMBU PIJLAU SALEMO SULAWESI

SEUTAN

EIis Tambaru

KEANEKARAGAMAN JENIS-JENIS TANAMAN BAMBU

DI

117

MBUPATEN

IANA

TORAJA SULAWESI SELATAN

Juhnah

KEANEKAMGAMAN

TIJMBUHAN OBAT TRADISIONAL

DI

122

KECAMATAN POLOMBANGKENG UTARA KABUPATEN

TAMLAR

Mir

Alam

DISTRIBIJTION

OF

PLANT CONTAIN

SAFROLE-RICH

129

FSSENflAL

O/L iN /NDONES/A

Muhammad

Ruslan

Umar

KEANEKARAGAMANSPECIESTUMBIJHANBERHASIAT

136

OBAT YANG

DIMANFAATMN

MASYAMKAT

DESA PASSELORANG

ME.

WAJO SULSEL

Juhiah

& Faizah

Sangaji

BIODIVERSITAS LAMIJN

DI

PERAIRAN PULAU

BARRANG

150

LOMPO DAN BARRANG CADDI SULAWESI

SELAIAN

ile*arma

KEANEMMGAMAN

FLORA DAERAH

PERTAMBAKAN

158

&

PERSAWAHAN KABUPATEN PANGKAJENE SULAWESI

SELATAN .

Eddy

Soekendatsih, Erwin

&

Budi

Widiiandono

/NVENIAR/SAS/ YEGETASI

DI

KAWASAN HUTAN

SEKUNDER

167

MUSIMWAg

BINGIN TELUK, SUMATERA SELATAN

Ambeng

KEANEKARAGAMAN

AVES

PADA EKOS/SIEM

MANGROVE

D!

172

PESI SI R

PANGMJENE, MBUPATEN

PANGKEP

Muhtadin Salam

IDENTIFI]/JSI LUMUT

DI

SEKITAR AIR TERJUN

TAKAPALA

180 MALINO KABUPATEN GOWA
(6)

..asiding Nasional Pengelolaan Sunberdaya & Keanekaragaman Hayati secan Be*elanjutan tsBN 979,799-071-0

KERAGAMAN BAKTERI INDIGENOUS RAYAP DAN PENGARUHNYA TERHADAP MORTALITAS RAYAP (COPTOTERMES SP)

RAC H IVIAWAIY & ALIMUoDIN ALI

Jurusan Biologi FN4'PA UNM lvlakassar

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mempelaj.rri keragaman bakteri indigenus rayap dan

. -::'uhnya

terhadap mortalitas

eyap

(Coptolemes sp). Hasil isolasi bakteri indigenus

,

-:

ekor rayap diperoleh 10 jenis bakteri

yait!

Bacillus

sp1

Eacilus sp2, Bacl/us sp3,

,,.9p4

Bacillus qps, Eacll/us sp6, Bacil/us ap7, Flavobacteium sp1. Flavobacterium

- ..i

Flavahacteium

sp3.

Penelitian

ini

filerupakan peneiitian eksperimen dengan

: _::-nakan rancangan acak kelompok (RAK) yang terdiri atas satu kontrol dan sepuluh

.,

,:n

Perlakuan diberikan pada substrat rayap. Parameter yanq diamati yaitu modalitas

:3n dominansi bakteri indigenus pada rayap yang mati. Hasil penelitian menunjukkan

:

se.nua bakterj rndigenus berpengaruh terhadap mortalitas rayap-

Da

hasil penelitian

: s mpulkan bahwa pemberian bakteri indigenus (Bacl/us sp1 , Bacillus sp2, Bacillus

...llus

sp4,

Baci

us

sps, Bacl/us sp6,

Bacillus

sp7,

Flavabacteium sp1,

:::..erium

sp2 dan Flavobaclerium sp3) dapal menyebabkan mortaliias ierhadap rayap

.::

:kibai

dari sifat patogenitas yang dltinbulkan bakteri tersebut, bakteri indigenus

::-:itensi

!ntuk digunakan sebagai biokontrolterhadap rayap (Coplolermes sp) yaitu

,:

sp1, 8acl/ns sp3,

Eacil/us

sp4,

Bacll/us

sps,

Flavobacteium

spl

dan

:::?rium sp3.

PENDAHULUAN

-:rdisi

iklim

lndonesia sebagai daerah

tropis

menyebabkan

wilayah

ini

r,-,ai

kehangatan, kelembaban dan bahan organik dalam tanah yang tinggi.

=-

{ondisi tersebut perkembangan organisme khususnya organisme perusak

, . -

_:ai bajk sehingga mencapai 1.000.000 jenis serangga, 250.000 jenis

jamur

,:

:-rs

.ayap (Rudi,2002).

=.,ap

adalah sekelompok hewan dalam salah satu ordo yaitu ordo lsoptera

:::

Arl.opoda. Ordo lsoptera

beranggotakan sekitar

2.000 spesies dan

di

;:;

:.ah

tercatat

kurang

lebih

200

spesies (Anonim,

2001).

Nama lain dari : :

r

:.

anai-anai, semut putih, rangas dan laron (Tarumingkeng, 2005).

:

:,:3

di alam sebenarnya memiliki fungsi yaitu menguraikan dan

menghan--

::-:r

alami yang mati, untuk memLrlihkan kesuburan

tanah.

Namun fungsi

'

:::a:

menjadi masalah

yang

serius manakala

yang

mereka uraikan dan '

=-

...

ah kayu penopang struktur bangunan (Setiyadi, 2002).

a.-

..<

..aya

yang telah dilakukan untuk membasmi rayap, secara kimiawi

- :'-

s:e

ch orpyrifos),

secara biologi

(seperti khitosan

dan

penggunaan

:

:;

:

:

'e..ema

carpocapsae sebagai musuh alami rayap), dan secara fisik

_

::

_:::-e.rt

pemasangan perintang, dan pembuatan trench).
(7)

-55-Ptosicting Nasional Pengelolaan Sumberdaya & Keanekaragaman Hayatj secara Be*etanjutan tsBN 979-799.071.0

Kayu merupakan komponen terpenting dalam pembangunan perumahan di

Indonesia. Peningkatan jumlah penduduk mengakibatkan meningkatnya permintaan

akan bahan baku kayu. 80% sampai 85o/o kayu yang ada

di

tndonesia dinyatakan kurang sampai tidak awet terhadap serangan organisme perusak kayu, salah satu-nya yaitu rayap.

Kerugian ekonomis yang diakibatkan serangan .ayap pada bangunan rumah

di

lndonesia besarnya mencapai

Rp.2,67

trilyun pada tahun 2000 dan

pada

bangunan milik pemerintah besarnya mencapai Rp. 300 milyar per tahun.

Sudah banyak

cara

yang dilakukan untuk mengatasi masalah rayap

terse-but. Mulai

dari

pengawetan kayu secara

fisik

maupun nonfisik, penggunaan termi-sida, soil treatment, metode pengumpanan, maupun dengan menggunakan musuh alaminya misalnya predator dan patogennya.

Tidak selamanya kondisi tubuh rayap dalam keadaan yang baik. Adakalanya

rayap memiliki kondisi tubuh yang

tidak

memungkinkan untuk membentuk immun,

sementara populasi bakteri di dalam tubuh nreningkat sehingga tidak bisa terkontrol

dengan baik yang bisa menimbulkan penyakit atau kematian rayap.

Pemberian

bakteri

uji

indigenus

rayap dapat

menambah

populasi

bakteri yang telah ada dalam usus belakang rcyap Coptotetmes sp, sehingga mengganggu kestabilan dalam tubuh rayap itu sendiriyang dapat berakibat pada kematian.

Distribusi bakteri

yang

diidentifikasi pada setiap rayap menunjukkan

kore-lasi

antara bakteri utama usus

dan famili

rayap tersebut.

Adawiyah

dalam

Rustamsjah (2001),

mengemukakan

bahwa dalam

usus .ayap

Coptotermes

cuNignathus

Holmgren

ditemukan

bakteti

Streptococcus

sp, Staprylococcrs

sp

Bacrllus sp, dan

Flavobacteium

sp pada keadaan aerob, sementara dalam keadaan

anaerob fakultatif ditemukan

baKeri

Slreptococcus

sp,

Sfaphylococcus

sp,

dan

Flavobacterium sp

Rayap

C.

cuNignathus

mempunyai

sifat

kanjbalisme

dengan

memakan

spesiesnya

sendiri yang lemah atau sakit.

Disamping

sifat

kanibalismenya itu

sendiri, menurut Rustamsjah (200'1) tayap C. cutvignathus yang sakit kemungkinan disebabkan dari patogenitas bakteriyang berada dalam tubuh rayap itu sendiri.

Penelitian bertujuan untuk mengetahui bakteri indigenus yang diisolasj dari

rayap dapat menyebabkan mortalitas pada rayap

Coploten

es sp, mengetahui ge nus bakteriyang menyebabkan mortalitas paling tinggi pada rayap Coptofermes sp.
(8)

-56-:-=iding

Nasional Pengelolaan Sumbedaya & Keanekatagaman Hayati secaft Be*elanjutan

ISBN 979-799-071-0

METODE PENELITIAN

:.-s

apan isolasi bakteri

Sepuluh

ekor

rayap dicuci dengan aquades

steril, lalu

rayap

diekstraksi

:::-:abung

reaksi yang berisi

5

ml

aquades

steril. Hasil

ekstraksi

dituang

ke

:

:

:-

.awan petri yang berisi media NA dan selanjutnya diinkubasi selama 24 jam

::-::

:-r'ru 300 C dengan posisi cawan terbalik.

Koloni bakteri yang

tumbuh pada

-n:

:

!A

masing-masing

di

reisolasi dan ditumbuhkan kembali pada medium NA

-;::

3i

dapat koloni tunggal.

Selanjutnya bakteri

tersebut

ditumbuhkan dalam

-

i:

:

LB

dan diinkubasi selama 48 jam sebelum diperlakukan pada rayap. Biakan

-

--

:a'<teri

yang diisolasi

dari

tubuh rayap

diidentifikasi

lebih lanjut

untuk

-i'::':-!i

genusnya berdasarkan Holt

el

a/,

1997, meliputi

;

pewarnaan Gram,

-

-:-:

cengecatan endospora, serta uji-uji biokimia lainnya.

-n:.:

bakteri indigenus dan pengujian mortalitas

:

lasukkan

10 ekor rayap ke dalam cawan petri yang berisi kertas saflng

i:

,i;::Jai

makanan bagi rayap yang sebelumnya telah diinkubasikan bakteri uji. :

a'.-

-.

lang

menyebabkan kematian pada rayap, akan di uji lebih lanjut dengan

:

-:

-.-_:

solasi kembali bakteri

yang ada

pada rayap yang

telah

mati kemudian

-i-

i:-.:

koloni yang dominan dari bakteri uji tersebut.

:.-elitian

ini

menggunakan

Rancangan

Acak

Kelompok

(RAK).

Rincian

"1-?

i--.,a

adalah sebagai berikut:

'.'-

=

..)..

Coptotermes sp tanpa pemberian baKeri

:

=

::-.::

Coptotermes sp dengan isolat bakteri 'l

"

= =

.,

z.

Captotemes sp dengan isolat bakteri 2

'.

=

=.,2.

Captotermes sp dengan isolat bakteri 3

'.

. =.,=.

aaototemes

sp dengan isolat bakted 4

'

=

..,.:

aaclatennes sp dengan isolat bakteri 5

'.

= =

i:2.

:.ploterrnes

sp denqan isolat bakteri 6

'.

: ...-..

:.plcletmes

sp dengan isolat bakteri 7

:,

=

::,::

:i.irleil1es

sp dengan isolat bakteri 8

:

=

..,'=a

::::.ae,"rgs

sp dengan isolat bakteri

I

:

-

=..'1

:.ri:i:errres

sp dengan isolat bakteri 10

=

?''--a-.a.^

r-ortalitas dilakukan dengan cara mencatat jumlah rayap yang

': t- :'--':

-"aja

ilas

Coptotermes

sp.

pada

masing-masing

perlakuan.

4.-ir --is

rF:'-jrs

<a terdapat morialitas

pada

kontrol dengan

menggunakan
(9)

-57-Ptosidittg Nasional Pengelolaan Sunberdaya & Keanekangaman Hayati secan Betkelanjutan ISBN 979-799-071-0

,=

o'-t

l.,oo

100 cl

P

=

Mortalitas terkoreksi

P'

=

Mortalitas pengamatan

C

=

Mortalitas kontrol

Data yang

diperoleh

di

analisis dengan analisis

varians

(ujj F)

pada

taraf kepercayaan

q

0,05.

Untuk mengetahui

perbedaan

antar

perlakuan

dilanjutkan

dengan uji BNT pada taraf kepercayaan q 0,05.

HASIL DAN PEMBAHASAN

l.

BaKe.i lndigenus

Rayap

Hasil isolasi bakteri

pada

l0

ekor rayap ditemukan 10 bakteri yang berbeda berdasarkan hasil identifikasi morfologi maupun pengujian biokimiawi.

2.

Mortalitas

Rayap

Hasil

pengujian

baKeri

indigenus terhadap mortalitas

rayap

ditunjukkan pada

Tabel

1.

Tabel 1..Rata-rata Persentase Jumlah Mortalitas Terkoreksi

Rayap

Pedakuan yang Diberi Bakteri lndigenus Selama 10 Hari Pengamatan.

Perlakuan Hasil Penaamatan Ulanoan

x

2 3

Kontrcl 0 0 0 0.00

BacrTlus sD.'l 90.09 90.09 90.09 90.09

Bacillus so.2 80.08 70.o7 90.09 80.08

Bacl/us sp.3 90.09 90,09 90,09 90.09 Bacillus sD.4 90.0s 90,09 90 09 90,09 . Eacll/us sp.5 90.09 90 09 90,09 90,09

86cl/rs

so.6 80.08 90.09 70,07 80.08 Bacillus so.7 90.09 80.08 90,09 80.75 Flavobacterium so1 s0.09 90,09 90.09 90,09 Flavobacterium sg2 90.09 90 09 80.08 80,75 Flavobacterium sD3 90.09 90,09 90,09 s0.09

Perbedaan

rataan

mortalitas

antara

perlakuan

bakteri indigenus

rayap

dengan kontrol dan perbedaan antar perlakuan bakteri indigenus setelah dilakukan uji BNTo0 05 ditunjukkan pada Tabel 2.

3,

Pengaruh Patogenitas Bakteri lndigenus

Pengaruh patogenitas bakteri indigenus diindikasikan dengan koloni bakteri

uji yang

dominan setelah diadakan pengisolasian kembali

pada

rayap

yang

mati
(10)

hEEiding Naslonal Pengelolaan Sumbedaya & Keenekaagaman Hayati secaft Be'i{elaniutan

tsBN 979.799-071-0

Tabel

2.

Perbandingan

Antar

Rataan Mortalitas Perlakuan

dari

Bakteri lndigenus

Rayap dengan menggunakan Uji BNT oo.os

Bakteri

Rata-Rata

Mortalitas

Rayap

Kontrol Bacl/us so6 80.08"

Bacillussoz

80.08"

Baci

us so7

80.75*

Flavobacte

um sD2

80.75*

Bacli{us

sol

90.09c Bacillus so3 90.09" Bacillus sD4 90,09c Bac,7/us sp5

90,09'

Flavobacteium

sg1 90,09"

Flavobacteium

sp3 90,09" <€ier_anoan :

Angka-angka yang diikuti dengan huruf yang sama tidak berbeda nyata dengan taraf uji

BNT

" 0.05. =0,89

Tabel 3. Bakteri lndigenus Hasil Reisolasi lerhadap Rayap Mati

Jumlah Koloni Bacillus sD1 +++ Bacillus so2 +++ Bacri,/rs so3 ++ Bacillus so4 ++ Bacl/us sps + Bacll/us sp6 +++

Bacillrc

sD7 +++ Flavobacterlum

.o1

Flavobacteium

so2 +++ Flavobactedum sc'3 + <elfangan : +++ = sangat oomanan

++

= Dominan

+

:

Tidak Dominan

Menurut Hawley (2003),

baKeri

patogen adalah bakteri penyebab penyakit

gE

menggunakan senyawa organik dari jaringan hidup. Kemampuan suatu

mikro-:€anisme

patogenik untuk

menyebabkan

infeksi

(patogenitasnya)

di

pengaruhi

g

hanya

oleh

sifat-sifat mikroba

itu

sendiri, tetapi

juga oleh

kemampuan inang

.rli-*

menahan infeksi (Pelczar, 1986).

Ketidakseimbangan mikroflora yang kehadirannya penting bagi tubuh

(sela-r.

berfungsi secara normal)

dapat

menyebabkan penyakit (Anonim,

2005).

Flora

E

rrtal akan berkembang menjadi parasit terhadap inang manakala kesejmbangan

r4!rte'

makanannya

terganggu sebagai akjbat

dari

perubahan lingkungan yang

Er

nrenguntungkan (Djide, 2003).
(11)

Prosiallng Nasiona! Pengelolaan Sumberdaya & Keanekangaman Hayati secata 8e*elaniutan

ISBN 979-799-071-0 Berdasarkan pernyataan di atas, diduga bahwa pemberian bakteri indigenus

yang

merupakan mikroflora

dari

rayap

dapat

meningkatkan

jumlah

bakteri dalam

tubuh rayap. Hal ini menyebabkan adanya ketidakseimbangan jumlah yang disertei

dengan adanya ketidakseimbangan dalam pemenuhan kebutuhan

makanan

baKeri di dalam tubuh rayap sehingga menyebabkan

baKeri

indigenus berkembang

seba-gai

parasit

bagi

rayap

dan dapat

mengakibatkan

kematian

pada

rayap

sebagai

inangnya. Kematian

yang terjadi pada

rayap selain disebabkan

karena

pengaruh pemberian bakteri indigenus, juga disebabkan karena sifat alamiah rayap itu sendiri'

yaitu

memiliki

sifat

kanjbalisme

seperti

yang

terjadi pada

perlakuan

Bacl/us

sp2

Bac,l/us

sp3.

Bacittus

sp4

Baciilus

sps,

Bac,'7us

sp6,

Bacillus

sp7 dan

perlakuan

Flavobacterium

sp2

(Lampiran

3).

Menurut Nandika (2003),

dalam

kehidupannya,

rayap memiliki beberapa sifat penting, salah satunya adalah kanibalisme yaitu sifat rayap untuk memakan individu sejenis yang lemah atau sakit.

Hasit analisis

sidik

ragam

dan uji

BNTq 0,05 menunjukkan perbedaan yang

nyata antara kontrol dengan setiap perlakuan, sedangkan antar perlakuan ada yang

berbeda nyata ha!

initerlihat

pada tabel 2, dimana pada perlakuan Bacl/us sp2 dan

Baci{us

sp6 berbeda nyata dengan perlakuan Baclilus sp1,3,

4'

5'

Flavobaclerium

sp1,3, sedangkan pedakuan

Bacillus

sp7

dan Flavobacterium

sp2

tidak

berbeda

nyata dengan

perlakuan

Bacl/us

sp1,3,4,5,

dan

Flavohacteium sp1'3,

demikian

pula dengan perlakuan Baaillus sp2, gacllius sp6

Setelah dilakukan

reisolasi

terhadap bakteri dari

tubuh

rayap

yang

mati,

diperoleh

bakeri

indigenus yang jumlahnya sangat dominan dalam media tumbuh

yaitu bakteri Flavobacterium 5p2,

Baci

us

sp1, Bacillus 6p2' Bacillus

sp6,

Bacl"'s

sp7, dan. BaKeri

indigenus yang jumlahnya dominan

dalam

media

tumbuh

yaitu

ba(ei

Flavobacterium

sp1,

Baciltus

sp3,

dan

Bacfl/us

sp4'

sedangkan

bakteri

Bacilius

sps

da

Flavobactetium

sp3 dalam media tumbuh jumlahnya

tidak dominan.

Adanya bakteri indigenus yang dominan pada tubuh rayap mengindikasikan

bahwa bakteri tersebut mampu menginfeksi dan mampu berkembangbiak di dalam

tubuh

inangnya. Bakteri

yang

memiliki kemampuan tersebut

adalah

bakteri yang

bersifat

patogen.

Menurut Pelczar (1986), untuk

menimbulkan penyakit menular,

suatu

patogen harus

dapat

memasuki

tubuh

inang,

dapat

bermetabolisme dan

berkembang biak di dalam jaringan inang, dapat menahan pertahanan tubuh inang dan dapat merusak inang.

mati

setelah diberikan

bakteri

indigenus

Bacl/rs

sp5

dan

diduga disebabkan karena toksin yang dihasilkan

oleh

bakteri

Rayap

yang

Flavobacterium sp3

(12)

-60-Ptosiding Nasionat Pengetotaan Sumberdaya & Keanekamgaman Hayati secam Be*etanjutan tsBN 979-799-071_0

:-.rsebut (Tabel

3).

Meskipun

koloni bakteri Bacl/us

sps

dan

Flavobacterium

sp3

:lak

dominan dalam media tumbuh setelah diadakan reisolasi terhadap rayap yang

-ati,

namun bakteti

Flavobacterium

sp3

(demikian

juga

baKerj

Bacittus

sp4)

-enyebabkan

mortalitas rayap yang tinggi dalam waktu yang

cepat.

Diduga bahwa

:lksin

yang

dihasilkan

oleh bakteri

indigenus

tersebut

berupa eksotoksjn,

hal

ini

:

sebabkan karena tjdak adanya peningkatan jumlah bakteri uji datam tubuh rayap.

!!gnurut Pelczar (1986),

kemampuan

suatu

mjkroorganisme

untuk

menghasilkan

.Jatu

toksin yang

mempunyai

efek

buruk

terhadap

inang

dan

keampuhan toksin :e.sebut merupakan

faKor

penting

bagi

organisme untuk menyebabkan penyakit.

-.ksin

yang

dihasilkan

dapat

berupa eksotoksin (toksin

yang

diekskresikan

ke

-edium

sekjtarnya) ataupun endotoksin (tersimpan dalam selnya).

Bakteri indigenus Bacillus

sp1-7

dan

Flavobacterium sp1_3

pada

tubuh

=/ap

merupakan simbion bagi rayap, yang beberapa diantaranya membantu rayap

:a am mencerna selulosa sehingga dapat digunakan rayap sebagai sumber energi.

lenurut

Tarumingkeng

(2005),

proses pelumatan selulosa

di

dalam tubuh

rayap

-e;ibatkan

protozoa flagellata dan beberapa bakterj, dimana protozoa menguraikan

:€

ulosa menjadi polimer-polimer selulosa, dan bakteri menggunakan polimer terse_

:-l

dan menghasilkan monomer-monomer yang djbutuhkan oleh rayap.

Hubungan

di

antara

bakteri indjgenus

pada tubuh

rayap

tidak

diketahui

-3ra

pasti.

lrenurut

Dwidjoseputro

(2005),

hubungan

antar spesies

mikroorga_ - s.ne dapat berupa; tidak saling mengganggu

(netralisme), persaingan (kompetisi),

-

aJp berlav/anan (antagonisme), komensalisme, sinergisme, parasitisme

dan

pre_

:::Crisme.

Adanya bakteri indigenus yang keberadaannya sangat dominan dalam tubuh

1.ap

(Baci

us

sp1, Baci

us

$p2,

Bacillus

sp6,

Bacl/us sp7

dan

Flavobacterrum

:::

diduga memitiki interaksi antagonjs dengan spesies bakteri

tainnya.

Djmana

,..esles bakteri uji menghasilkan sesuatu yang meracuni spesies lainnya sehtngga

,..€.adaannya

di

dalam

tubuh rayap

sangat dominan. l\renurut

Dwidjosepdtro

::!5),

zat yang

dihasjlkan

oleh

bakteri yang

dapat

menentang kehidupan mjkro_

:':??isme

lain dapat berupa suatu ekskret

maupun

sjsa makanan.

Bakteri indi_

:-e--.rs

yang

keberadaannya

di

dalam tubuh rayap

clominan (Flavobacterium sp1,

:::.rs

sp3,

dan

Baci us

sp4)

diduga

jnteraksi

yang terjadi yaitu

kompetisi yaitu

:€-saing dalam mendapatkan makanan yang

juga

dibutuhkan oleh spesies bakteri

i--,;a

Sedangkan interaksi

yang terjadj pada

bakteri indjgenus yang jumlahnya

'

:r-al

di dalam

tubuh

rayap

(Bacl/us

sp5

dan

Flavobacteium

sp3) diduga meru_

:.:F..

interaksi yang. netral, hal

ini

disebabkan karena meskipun bakteri

uji

meng_
(13)

-Ptosialing Nasional Pengelolaan Sufiberdeya & Keanekahgaman Hayatj

s;cad

Berketanjutan ISBN 979.799-071-O

hasilkan eksotoksin

yang

ikut

termakan oleh

rayap,

tidak

mempengaruhi jumlah

bakter"i yang berada di dalam tubuh rayap tersebut, dengan kata lain

ekso{oksin

itu hanya bersifat meracuni rayap.

KESIMPULAN

Dari

hasil analisis data

dan

pembahasan,

maka

dari

penelitian

ini

dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut; bakteri indigenus dapat menyebabkan mortalitas

pada

rcyap

Coptotermes

sp.

cenus

bakteri

yang

menyebabkan mortalitas paling tinggi yaitu BacrTus sp1,3,4,5 dan Flavobacterium

spl,3.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

2001.

Biologi

dan

Pengendalian

Rayap Hama Bangunan

di

tndonesia.

(http://rudyct.tripod.com/dethh/biotermite.pdO. Akses, 22 Oktober 2005. Djide, Natsir M, dkk. 2003. Mikrobiologi Farmasi Terapan.

Makassar:

UNHAS.

Dwidjoseputro, D. 1975. Pengantar lvikrobiologi.

Malang;

lKlP Malang.

Hawley, B. Louise.2003. Mikrobiologidan Penyakit lnfeksi.

Jakarta:

Hipokrates.

lbrahim, Masni. 1997. EfeKivitas

Pengendalian Rayap

Tanah

(Coptotermes spp)

pada Kayu Bangunan di Kawasan Perumahan dengan Menggunakan Spora

Jamur

Beauveia

bassiana

Vuill

pada Musim Hujan. Skripsi. Makassar

:

Fakultas Pertanian dan Kehutanan Universitas Hasanuddin. Madjid, B. 2004. Diktat Kuliah Mikrobiologi. Makassar:UNHAS.

Nandika,

Dodi

dkk.

2003.

Rayap Biologi

dan

Pengendaliannya.

Sukarta

:

Muhammadiyah UniveIsity Press.

Rudi. 2002. Status Pengawetan Kayu di lndonesia.

(htioi//www.havati.ipb.com/biolooi dan oerilaku. ravaD. htm). Akses 24-10-05. Rustamsjah. 2001. Rekayasa Model Simbiose

Bakteridan

Protozoa Dengan Rayap

Tanah (Coptotermes curvignathus Holmgren).

([email protected]). Diakses tanggal 25 September 2005.

Sjahrurachman,

Agus. 2006.

Biologi

Molekuler

Faktor

Virulensi

Bakteri. (www.temoo.co.id/medika/arsio/122002yous-3.htm). Diakses tanggal

Setiadi, Rudi.

2002.

Membasmi

Rayap,

Sang

Pemakan

Kayu.

(http.//Pikiran-rakyat.com/cetak/1l04l11lcaktawalallainnyas. htm). Akses 24 Oktober 2005. Tarumingkeng, C. Rudy. 2004. Biologi dan Pengendalian Rayap Hama Bangunan di

lndonesia. (http://rudyct.tripod.com/dethh/biotermite.pd0 Diakses tanggal.22 November 2005.

Gambar

Tabel  1..Rata-rata  Persentase  Jumlah  Mortalitas  Terkoreksi  Rayap  Pedakuan  yang Diberi  Bakteri  lndigenus  Selama  10  Hari Pengamatan.
Tabel  2.  Perbandingan  Antar  Rataan  Mortalitas  Perlakuan  dari  Bakteri  lndigenus Rayap  dengan  menggunakan  Uji BNT  oo.os

Referensi

Dokumen terkait