Perancangan Dan Pembuatan Alat Pendeteksi Keberadaan Alfatokoferol Pada Paprika Hijau Dengan Menggunakan Sensor Warna TCS3200

76  14  Download (1)

Teks penuh

(1)

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT PENDETEKSI

KEBERADAAN ALFATOKOFEROL PADA PAPRIKA HIJAU

DENGAN MENGGUNAKAN SENSOR WARNA TCS3200

SKRIPSI

Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Sains

SRI KESUMA DEWI 110821030

DEPARTEMEN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

PERNYATAAN

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT PENDETEKSI

KADAR ALFATOKOFEROL PADA PAPRIKA HIJAU DENGAN

MENGGUNAKAN SENSOR WARNA TCS3200

SKRIPSI

Saya mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.

Medan, 26 Agustus 2013

(3)

PERSETUJUAN

Judul : PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT

PENDETEKSI KEBERADAAN

ALFATOKOFEROL PADA PAPRIKA HIJAU

DENGAN MENGGUNAKAN SENSOR

WARNA TCS3200

Kategori : SKRIPSI Nama : SRI KESUMA DEWI

Nomor Induk Mahasiswa : 110821030 Program Studi : EKSTENSI FISIKA Departemen : FISIKA

Fakultas : MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM (FMIPA) UNIVERSITAS SUMATERA

UTARA

Diluluskan di

Medan, 26 Agustus 2013

Diketahui/disetujui oleh Pembimbing I Ketua Departemen Fisika FMIPA USU

(4)

PENGHARGAAN

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan anugerah rahmat

kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Skipsi yang berjudul

Perancangan Dan Pembuatan Alat Pendeteksi Kadar Alfatokoferol Pada Paprika Hijau Menggunakan Sensor Warna TCS3200” dengan sukses. Shalawat serta salam kami panjatkan kepada murabbi kita Nabi Muhammad SAW, yang

karenanya kita bisa menikmati indahnya islam.

Dalam penyusunan laporan ini banyak pihak-pihak lain yang ikut

memberikan bantuan baik moral maupun material sehingga selesai lah skripsi ini.

Oleh karena itu dengan setulus hati penulis ucapkan terima kasih kepada Bapak

Drs. Takdir Tamba, M. Eng.Sc selaku dosen pembimbing pada penyelesaian

skripsi ini yang telah memberikan bantuan dan penuh kepercayaan kepada penulis

untuk menyelesaikan skripsi ini. Ucapan terimakasih juga ditujukan kepada Ketua

dan Sekretaris Departemen Fisika Dr. Marhaposan Situmorang dan Drs.Syahrul

Humaidi M.Sc, kepada koordinator program Ekstensi Fisika Drs. Herli Ginting,

M.S. Dekan dan Pembantu Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan

Alam Universitas Sumatera Utara, semua dosen pada Departemen Fisika FMIPA

USU, pegawai di FMIPA USU, dan terimakasih juga kepada kawan-kawan

seperjuangan kuliah saya.

Kedua orang tua, bapak dan ibu yang selalu memberikan dukungan moril

dan materil serta do‟a yang tiada hentinya. Adik-adikku yang sangat memotivasi dan menginspirasi Andi, Mala, Syahrul. Kak suji, Lia dan Minah yang sudah

membantu menyampur sampel. Penghuni “Hurriyah Apartment”, ida, siska, Ade besar, ifah, mira, ade kecil, nisa, reban, tari, fitri. Terima kasih atas manisnya

(5)

maupun tidak langsung dalam segala hal demi suksesnya penulisan skripsi, yang

tidak dapat disebutkan satu persatu.

Akhirnya dengan kerendahan hati, penulis menyadari bahwa dalam

penulisan skripsi ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu segala kritik dan

saran yang kontsruktif dari semua pihak sangat kami harapkan demi perbaikan

penelitian ini. Semoga penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi penulis

khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.

Medan, Juni 2013

(6)

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT PENDETEKSI

KEBERADAAN ALFATOKOFEROL PADA PAPRIKA HIJAU

DENGAN MENGGUNAKAN SENSOR WARNA TCS3200

ABSTRAK

Vitamin E memiliki manfaat yang sangat banyak untuk manusia. Yaitu untuk

meningkatkan daya tahan tubuh, mengurangi stress, mencegah terjadinya kanker,

dan mencegah terjadinya penyakit jantung. Sekarang ini juga banyak terdapat

metode pengukuran untuk mengetahui kadar atau kuantitas suatu unsur. Salah

satunya adalah untuk mengetahui kadar vitamin E atau Alfatokoferol

menggunakan prinsip Spektrofotometri. Interaksi tersebut menghasilkan

penyerapan (absorbsi).

Berdasarkan uraian tersebut penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk

membuat alat pengukur kandungan alfatokoferol pada paprika hijau secara

otomatis dengan menggunakan instrumen spektrofotometri. Penerapannya alat ini

menggunakan LED putih sebagai sumber cahaya. Prinsip kerjanya cahaya dari

LED meneruskannya ke sampel. Sehingga cahaya ditngkap oleh sensor warna dan

diteruskan ke Mikrokontroller AT89S52 yang daanya merupakan data biner.

Selanjutnya ditampilkan oleh LCD dalam sauan desimal. Hasil pengukuran alat

menunjukkan nilai kasalahan rata-rata sebesar 3% adannya kesalahan pengukuran

glukosa ini disebabkan karena penyimpangan preparasi sampel dan skala

frekuensi yang dihasilkan spektrofotometri kurang stabil.

(7)

DESIGNING AND MAKING PRESENCE DETECTION

EQUIPMENT ALFATOKOFEROL GREEN PEPPERS ON USING

SENSOR COLOR TCS3200

ABSTRACT

Vitamin E has countless benefits for humans . Namely to increase endurance , reduce stress , prevent cancer , and prevent heart disease . Nowadays there are also many measurement methods to determine the extent or quantity of an element . One is to determine levels of vitamin E or Alfatokoferol using the principle of spectrophotometry . This interaction produces absorption ( absorption ) .

Based on the description of the research was done in order to make the content gauges alfatokoferol on green peppers automatically using spectrophotometric instruments . Application of these tools using white LEDs as a light source . The principle works the light from the LED passes to sample . So light ditngkap by the color sensor and forwarded to the daanya AT89S52 microcontroller is binary data . Subsequently displayed by the LCD in decimal sauan . Outcome measurement tool kasalahan showed an average value of 3% adannya glucose measurement error is caused by irregularities sample preparation and the resulting frequency

scale less stable spectrophotometry .

(8)

DAFTAR ISI

BAB II: TINJAUAN PUSTAKA 5

2.1. Cahaya 5

2.1.1. Sifat Gelombang Cahaya 6

2.1.2. Sifat Elektromagnetik Cahaya 6

2. 2. Spektrofotometri 7

2.2.1. Spektrofotometer Uv-Vis 18

2.3. Hukum Lambert-Berr 15

2.4. Alfatokoferol 16

2.5. Paprika 17

(9)

2.6. Sensor Warna TCS3200 22

2.7. Mikrokontroller At89s52 24

2.7.1. CPU (Central Prosesing Unit) 24

2.7.2. Bagian Masuk/Keluaran (I/O) 25

2.7.3. Perangkat Lunak 25

2.7.4. Konfigurasi Pin 26

2.7.5. Organisasi Memori 28

2.8. LCD M1632 30

2.9. LED (Light Emmiting Diode) 33

BAB III: METODE PENELITIAN 35

3. 1. Pembuatan Sistem Keseluruhan 35

3. 2. Rangkaian LED Putih 36

3. 3. Rangkaian Sensor Warna TCS 3200 36

3. 4. Rangkaian LCD LM1632 37

3. 5. Rangkaian Mikrokontroller AT89S52 39

3. 6. Pembuatan Perangkat Lunak 42

3. 7. Pembuatan Larutan Sampel 43

3. 8. Pengujian Alat 44

3. 8.1. Proses Pengambilan Data 44

BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN 45

4.1. Hasil Pengujian Alat 45

4.1.1 Hasil Pengujian Rangkaian Sensor Warna TCS320 45

4.1.2 Hasil Pengujian System Minimum AT89S52 Dan LCD 46

4.1.3 Hasil Pengujian Keseluruhan Sistem 50

(10)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 2.1 Perbandingan nilai gizi paprika merah, kuning, dan hijau 18

Tabel 2.2 Memori CGROM 31

Tabel 2.3 Perintah-perintah pada CGROM 32

(11)

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 2.1 Gambaran umum cara kerja suatu Spektrofotometer 12

Gambar 2.2 Spektrofotometer Uv-Vis 14

Gambar 2.3 Paprika Merah, Kuning, Dan Hijau 19

Gambar 2.4 Sensor warna TCS 3200 22

Gambar 2.5 Konfigurasi pin Mikrokontroller AT89S52 27

Gambar 2.6 Organisasi memori pada Mikrokontroller AT89S52 29 Gambar 2.7 Memori Data pada Mikrokontroller AT89S52 29

Gambar 2.8 DDRAM M1632 30

Gambar 2.9 LCD LM1632 32

Gambar 2.10 Penulisan data ke register perintah 33

Gambar 2.11 Simbol dan bentuk LED 34

Gambar 3.1 Blok diagram pembuaan alat kadar alfaokoferol 35

Gambar 3.2 Rangkaian LED putih 36

Gambar 3.3 Rangkaian sensor warna TCS 3200 37

Gambar 3.4 Rangkaian LCD LM1632 39

Gambar 3.5 Rangkaian Mikrokontroller AT89S52 39

Gambar 3.6 Diagram alir program 42

Gambar 4.1. Rangkaian Pengujian Sensor TCS3200 45

(12)

PERANCANGAN DAN PEMBUATAN ALAT PENDETEKSI

KEBERADAAN ALFATOKOFEROL PADA PAPRIKA HIJAU

DENGAN MENGGUNAKAN SENSOR WARNA TCS3200

ABSTRAK

Vitamin E memiliki manfaat yang sangat banyak untuk manusia. Yaitu untuk

meningkatkan daya tahan tubuh, mengurangi stress, mencegah terjadinya kanker,

dan mencegah terjadinya penyakit jantung. Sekarang ini juga banyak terdapat

metode pengukuran untuk mengetahui kadar atau kuantitas suatu unsur. Salah

satunya adalah untuk mengetahui kadar vitamin E atau Alfatokoferol

menggunakan prinsip Spektrofotometri. Interaksi tersebut menghasilkan

penyerapan (absorbsi).

Berdasarkan uraian tersebut penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk

membuat alat pengukur kandungan alfatokoferol pada paprika hijau secara

otomatis dengan menggunakan instrumen spektrofotometri. Penerapannya alat ini

menggunakan LED putih sebagai sumber cahaya. Prinsip kerjanya cahaya dari

LED meneruskannya ke sampel. Sehingga cahaya ditngkap oleh sensor warna dan

diteruskan ke Mikrokontroller AT89S52 yang daanya merupakan data biner.

Selanjutnya ditampilkan oleh LCD dalam sauan desimal. Hasil pengukuran alat

menunjukkan nilai kasalahan rata-rata sebesar 3% adannya kesalahan pengukuran

glukosa ini disebabkan karena penyimpangan preparasi sampel dan skala

frekuensi yang dihasilkan spektrofotometri kurang stabil.

(13)

DESIGNING AND MAKING PRESENCE DETECTION

EQUIPMENT ALFATOKOFEROL GREEN PEPPERS ON USING

SENSOR COLOR TCS3200

ABSTRACT

Vitamin E has countless benefits for humans . Namely to increase endurance , reduce stress , prevent cancer , and prevent heart disease . Nowadays there are also many measurement methods to determine the extent or quantity of an element . One is to determine levels of vitamin E or Alfatokoferol using the principle of spectrophotometry . This interaction produces absorption ( absorption ) .

Based on the description of the research was done in order to make the content gauges alfatokoferol on green peppers automatically using spectrophotometric instruments . Application of these tools using white LEDs as a light source . The principle works the light from the LED passes to sample . So light ditngkap by the color sensor and forwarded to the daanya AT89S52 microcontroller is binary data . Subsequently displayed by the LCD in decimal sauan . Outcome measurement tool kasalahan showed an average value of 3% adannya glucose measurement error is caused by irregularities sample preparation and the resulting frequency

scale less stable spectrophotometry .

(14)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Teknologi semakin berkembang dan perkembangan teknologi dapat dirasakan

oleh semua kalangan, dimana teknologi merupakan hasil dari peradaban manusia

yang semakin maju, yang dirasakan sangat membantu dan mempermudah

manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Begitu juga dengan bidang

elektronika, yang menuntut automatisasi dalam segala hal yang dapat

meringankan pekerjaan manusia dan menjadikan segalanya mudah digunakan dan

dapat mendatangkan keuntungan.

Salah satu teknologi yang bisa bekerja otomatis yaitu sensor warna

TCS3200 digunakan untuk berbagai kebutuhan, salah satu untuk pendeteksian

suatu objek benda atau warna dari objek yang di monitor. Sensor warna TCS3200

juga dapat digunakan sebagai sensor gerak, dimana sensor mendeteksi gerakan

suatu objek berdasarkan perubahan warna yang diterima oleh sensor.

Dengan semua kemajuan teknologi yang ada, analisis instrumen juga

mengalami perkembangan yang pesat. Beberapa sebab yang membuat pesatnya

perkembangan analisis instrumen adanya tuntutan dan kebutuhan analisis terhadap

matriks sampel yang sulit serta diperlukan juga waktu yang singkat. Beberapa

metode yang berkaitan dengan pengukuran kadar suatu unsur diantaranya

menggunakan metode-metode pengukuran, seperti titrasi, kolorimetri,

(15)

contoh adalah metode spektrofotometri, metode ini memerlukan sumber cahaya

dalam proses kinerja alat. Tidak semua orang mampu menggunakan

spektrofotometri, dikarenakan harga alat tersebut relatif mahal.

Berdasarkan latar belakang tersebut penulis bermaksud untuk membuat

sebuah spektofotometer pendeteksi kadar Alfatokoferol pada paprika hijau, yang

lebih sederhana, murah, serta mudah untuk digunakan.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Bagaimana cara merancang dan membuat alat pendeteksi keberadaan

Alfatokoferol pada paprika hijau dengan metode Absorbsi

Sfektrofotometri menggunakan sensor warna TCS3200

2. Bagaimana membuat program pada alat pendeteksi keberadaan

alfatokoferol pada paprika hijau dengan metode absorbsi sfektrofotometri

menggunakan sensor warna TCS3200

3. Bagaimana menguji tingkat akurasi pada alat pendeteksi keberadaan

alfatokoferol pada paprika hijau dengan metode absorbsi sfektrofotometri

menggunakan sensor warna TCS3200

1.3 TUJUAN

Adapun tujuan dan maksud dari penulisan tugas akhir ini adalah :

1. Untuk merancang dan membuat suatu perangkat alat pendeteksi kadar

alfatokoferol pada paprika hijau dengan metode absorbsi sfektrofotometri

menggunakan sensor warna TCS3200.

2. Untuk mengetahui cara pengoperasian alat pengujian keberadaan

alfatokoferol pada paprika.

3. Untuk mengetahui hasil yang diperoleh dari pengujian alfatokoferol pada

(16)

1.4 BATASAN MASALAH

Untuk membatasi penulisan dan penyusunan tugas akhir, maka perlu dibuat

batasan penulisan. Adapun pembatasan masalah dalam penulisan dan penyusunan

tugas akhir ini adalah sebagai berikut :

1. Pengambilan sampel hanya pada paprika hijau

2. Metode yang digunakan adalah metode absorbsi sfektrofotometri

3. Menggunakan sensor warna TCS3200

4. Sampel berbentuk larutan

5. Tidak membahas konsep pengukuran kadar alfatokoferol secara kimia

6. Menggunakan sistem minimum AT895S2

1.5 MANFAAT PENELITIAN

Dengan menggunakan sensor warna TCS3200, diharapkan dapat menghasilkan

suatu alat pendeteksi keberadaan alfatokoferol pada paprika hijau dengan tingkat

akurasi yang cukup baik.

1.6 SISTEMATIKA PENULISAN

Untuk mempermudah pembahasan dan pemahaman maka penulis membuat

sistematika penulisan skripsi ini sebagai berikut :

(17)

Dalam bab ini berisikan mengenai latar belakang, rumusan

masalah, batasan masalah, tujuan penelitian, manfaat

penelitian serta sistematika penulisan.

BAB II TEORI DASAR DAN PENDUKUNG

Berisi tentang landasan teori dari sistem yang akan dibuat

yang berhubungan dengan prinsip kerja dari masing-masing

blok sistem.

BAB III RANCANGAN ALAT DAN SISTEM

Pada bab ini akan dibahas berbagai hal yang berkenaan

dengan perancangan dan pembuatan perangkat keras

maupun perangkat lunak.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Meliputi tentang pengujian dan penganalisaan dari

rangkaian.

BAB V PENUTUP

Mengenai kesimpulan dan saran yang didapat setelah

membuat proyek ini untuk pengembangan proyek

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Cahaya

Cahaya adalah gelombang yang memindahkan tenaga tanpa perambatan massa.

Cahaya adalah penting untuk semua kehidupan di bumi karena ia adalah tenaga

dari matahari, yng dipindahkan ke bumi dalam bentuk cahaya, yang dipakai oleh

tanam-tanaman untuk mensintesiskan karbohidrat dari karbondioksida dan air

(fotosintesis).

Seperti bunyi, cahaya juga memberikan informasi vital tentang

lingkungannya pada binatang. Binatang-binatang yang l ebih tinggi telah

membentuk mekanisme kompleks untuk medeteksi cahaya. Apa yang dilihat

binatang tergantung pada sifat-sifat fisis khusus dari cahaya yang sensitif untuk

matanya. Menusia mempunyai penglihatan warna yang baik (deteksi frekuensi),

sedangkan lebah dapat mendeteksi warna dan polarisasi cahaya.

Tidak seperti bunyi, bagaimanapun, cahaya tidak mempunyai basis di

dalam mekanika. Karena bunyi adalah getaran unsur-unsur udara di bawah

pengaruh kakas-kakas mekanis. Sifat-sifatnya hanyalah konsekuensi

hukum-hukum mekanika yang terterapkan pada unsur-unsur itu. Gelombang cahaya,

dilain pihak, bukanlah getaran dari zat materi apapun, dan dengan demikian

sifat-sifatnya tidak dapat diturunkan dari mekanika. Cahaya adalah fenomena yang

berbeda secara mendasar yang tidak punya basis di dalam mekanika. (Alan H.

(19)

2.1.1 Sifat Gelombang Cahaya

Telah diketahui oleh Aristoteles (384-322 SM) bahwa bunyi disebabkan oleh

getaran-getaran di dalam udara. Pengetahuan ini mungkin didasarkan pada

pengamatan bahwa musik yang dihasilkan oleh dawai-dawai yang bergetar.

Penjelasan yang memadai tentang gelombang bunyi belum dimungkinkan sampai

pada zaman Newton.

Meskipun tidak ada yang diketahui tentang sifat dasar pada zaman

Newton, adalah wajar untuk berspekulasi bahwa cahaya adalah gelombang, sama

dengan bunyi. Christian Huygens (1629-1695), seorang yang sezaman dengan

Newton, mengembangkan teori gelombang cahaya, tetapi Newton sendiri

menyukai suatu teori yang menyatakan bahwa cahaya terdiri dari zarah nirmassa

(korpuskel). Newton berhipotesis bahwa korpuskel-korpuskel tesebut merambat di

dalam ruang dengan laju tetap dan bahwa ada tipe korpuskel yang berbeda untuk

setiap warna. Keberatan utamanya terhadap teori gelombang adalah bahwa

cahaya, tidak seperti bunyi, tidak kelihatan membelok pada pojok-pojok. (Alan H.

Cromer : 533).

2.1.2 Sifat Elektromagnetik Cahaya

Hukum-hukum dasar keelektrikan dan kemagnetan, yang telah ditemukan dalam

paruh pertama abad ke 19, telah dirumuskan kedalam teori matematis yang

menyeluruh oleh James Clerk Maxwell (1831-1879). Dari teori ini Maxwell

menurunkan bahwa harus ada gelombang elektromagnetik yang terdiri pada

pokoknya dari medan elektrik dan magnetik berosilasi yang merambat di dalam

ruang dengan laju tertentu. Menurut teori Maxwell, laju ini diberikan di dalam

tetapan-tetapan elektrik tertentu yang sangat terkenal yang masuk kedalam teori.

Sewaktu Maxwell menghitung laju gelombang elektromagnetik dari tetapan ini, ia

(20)

Sekarang fisikawan telah terbiasa dengan gelombang elektromagnetik

dengan panjang gelombang berjangkau kurang dari 10-17 m sampai lebih dari 104

m. Hanya gelombang dengan panjang gelombang diantara 4 x 10-7 dan 7 x 10-7

terdeteksi oleh mata manusia dan itu adalah daerah cahaya tampak.

Gelombang-gelombang dengan panjang Gelombang-gelombang yang lebih panjang dan lebih pendek

mempunyai nama-nama khas, seperti misalnya gelombang radio,

mikrogelombang, inframerah, ultraungu, sinar-X, dan seterusnya. (Alan H.

Cromer : 533-534).

2.2. Spektrofotometri

Spektrofotometri merupakan suatu metoda analisa yang didasarkan pada

pengukuran serapan sinar monokromatis oleh suatu lajur larutan berwarna pada

panjang gelombamg spesifik dengan menggunakan monokromator prisma atau

kisi difraksi dengan detektor fototube.

Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitan atau absorban

suatu sampel sebagai fungsi panjang gelombang. Sedangkan pengukuran

menggunakan spektrofotometer ini, metoda yang digunakan sering disebut dengan

spektrofotometri.

Spektrofotometri dapat dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan

visual dengan studi yang lebih mendalam dari absorbsi energi. Absorbsi radiasi

oleh suatu sampel diukur pada berbagai panjang gelombangdan dialirkan oleh

suatu perkam untuk menghasilkan spektrum tertentu yang khas untuk komponen

(21)

2.2.1 Spektrofotometer (Uv-Vis)

Spektrofotometer sesuai dengan namanya adalah alat yang terdiri dari

spektrometer dan fotometer. Spektrometer menghasilkan sinar dari spektrum

dengan panjang gelombang tertentu dan fotometer adalah alat pengukur intensitas

cahaya yang ditransmisikan atau yang diabsorpsi.

Spektrofotometri merupakan satu cabang analisis instrumental yang

membahas tentang interaksi atom atau molekul dengan radiasi elektromagnetik

(REM). Pada prinsipnya interaksi radiasi elektromagnetik dengan molekul

menghasilkan satu atau dua macam kejadian yang mungkin terjadi. Ketiga macam

kejadian yang mungkin terjadi sebagai akibat interaksi atom atau molekul dengan

radiasi elektromagnetik adalah : hamburan (scattering), absorbs (absorption), dan emisi (emission).

Hamburan melahirkan spektrofotometri Raman, absorbs melahirkan

spektrofotometri lembayung ultra (ultra violet) dan tampak (visible) serta spektrofotometri infra merah (infra merah), sedangkan absorbsi yang disertai emisi melahirkan fotolimunesensi yang kemudian dikenal sebagai fluoresensi dan

fosforesensi. Dalam aspek kuantitatif, suatu berkas radiasi dikenakan pada

cuplikan (larutan sampel) dan intensitas sinar radiasi yang diteruskan diukur

besarnya. Radiasi yang diserap oleh cuplikan ditentukan dengan membandingkan

intensitas sinar yang diteruskan intensitas sinar yang diserap jika tidak ada spesies

penyerap lainnya.

Suatu spektrofotometer tersusun dari sumber spektrum tampak yang

kontinyu, monokromator, sel pengabsorpsi untuk larutan sampel atau blanko dan

suatu alat untuk mengukur perbedaan absorpsi antara sampel dan blanko ataupun

pembanding. Sinar ultraviolet mempunyai panjang gelombang 200-400 nm,

sementara sinar tampak mempunyai panjang gelombang 400-700 nm. Molekul

akan bersifat sangat selektif (all or none) terhadap radiasi elektromagnetik

sehingga eksitasi yang terjadi pada panjang gelombang 200 – 2780 nm hanya akan diberikan oleh molekul-molekul yang mempunyai :

- v Ikatan rangkap terkonyugasi

(22)

Spektrum ultralembayung adalah suatu gambaran antara panjang

gelombang atau frekuensi radiasi terhadap intensitas absorbsi (transmisi = T),

absorbs (A), yang dapat digrafik dengan cermat pada system koordinat Cartesian.

Sedangkan cahaya tampak (visible) merupakan cahaya sinambung, artinya cahaya

yang terdiri dari semua panjang gelombang yang mungkin terdapat dalam suatu

jarak tertentu, sebagai contoh bila kita melihat pelangi di langit. Dalam hal ini

dikenal warna komplementer, yaitu pandangan dua warna (spectrum) yang bila

keduanya digabung akan menghasilkan cahaya putih.

Apabila radiasi elektromagnetik dikenakan pada suatu atom, sebagian dari

energi radiasi elektromagnetik tersebut diserap oleh molekul atau atom sesuai

dengan struktur molekul atau atom tersebut. Radiasi cahaya UV-VIS pada

molekul atom atau atom akan menyebabkan terjadinya energy elektronik, sebagai

akibat transisi antara dua tingkat energy elektron dari molekul atau atom. Sistem

atau gugusan atom yang mengabsorbsi radiasi elektromagnetik UV-VIS disebut

gugus kromofor. Boleh dikatakan hamper semua gugus kromofor merupakan ikatan kovalen yang tidak jenuh.

Pelarut atau substituen lain dapat mempengaruhi pita absorbsi yaitu

berpengaruh terhadap intensitas dan kemungkinan juga panjang gelombangnya.

Hal – hal yang berpengaruh tersebut antara lain : 1. Kromofor terkonyugasi

Senyawa organik yang mempunyai struktur molekul dengan ikatan tak jenuh lebih

dari satu disebut senyawa terkonyugasi apabila ikatan tak jenuh tersebut

berselang-seling dengan ikatan tunggal. Senyawa terkonyugasi ini tidak

karakteristik seperti kromofor terpisah, tetapi terjadi interaksi yang

mengakibatkan pengaruh terhadap pita absorbsi yaitu terjadi pergeseran ke

panjang gelombang yang lebih panjang.

2. Auksokrom

Gugus auksokrom adalah gugus fungsional yang mempunyai elektron non

bonding seperti –OH, O-NH2, dan –OCH3 , yang mengabsorbsi radiasi ultra

lembayung jauh dan gugus auksokrom ini tidak mengabsorbsi didaerah ultra

(23)

maka pita absorbsi naik dan juga panjang gelombangnya tergeser kea daerah ultra

lembayung dekat.

Ada empat kemungkinan perubahan pita absorbsi yang disebabkan oleh pelarut

atau auksokrom :

a. Pergesaran batokromik (red shift), yaitu pergeseran kearah panjang gelombang

yang lebih panjang atau kearah frekuensi rendah.

b. Pergeseran hipokromik (blue shift), yaitu pergeseran kearah panjang gelombang

yang lebih pendek atau kearah frekuensi tinggi.

c. Efek hiperkromik, yaitu efek yang menyebabkan kenaikan intensitas.

d. Efek hipokromik, yaitu efek yang menyebabkan penurunan intensitas.

Apabila cahaya monokromatis atau bukan monokromatis dilewatkan pada

suatu media yang homogen dengan intensitas cahaya yang dating (Io), maka

sebagian dari cahaya tersebut dipantulkan (Ir), sebagian diabsorbsi (Ia), dan

sebagian lagi diteruskan (It).

Sehingga dari keadaan tersebut dapat ditulis sebagai :

Io = Ir + Ia + It

Untuk permukaan udara dan gelas (kuvet) harga Ir = ± 4% dan harga Ir

dapat diabaikan karena dalam pengerjaan dengan spektrofotometri digunakan

larutan blanko. Pengukuran serapan pada analisis kuantitatif dengan metode

spektrofotometri baik zat tunggal atau suatu campuran pada prinsipnya harus

dilakukan pada panjang gelombang maksimum (lamda maks). Beberapa alasannya

adalah :

1. Perubahan serapan untuk setiap satuan konsentrasi paling besar terjadi

pada panjang gelombang maksimum sehingga pengukuran pada panjang

gelombang maksimum akan memperoleh kepekaan analisis yang

maksimal

2. Disekitar panjang gelombang maksimum bentuk kurva serapannya datar,

sehingga hukum Lambert-Beer akan terpenuhi

3. Pengukuran ulang serapan panjang gelombang maksimum akan

memberikan kesalahan yang kecil sekali.

Pada umumnya konfigurasi dasar setiap spektrofotometer berupa susunan

(24)

Gambar 2.1 Gambaran Umum Cara Kerja Spektrofotometer

Beberapa sumber radiasi yag dipakai pada spektrofotometer adalah lampu

deuterium, lampu tungsten dan lampu merkuri. Lampu deuterium dapat dipakai

pada daerah panjang gelombang 180 – 370 nm (daerah UV pekat). Karena pada rentangan panjang gelombang tersebut lampu deuterium memberikan gambaran

energi radiasi yang lurus. Sedangkan pada panjang gelombang 486 dan 651,1 nm

memberikan dua garis spektra yang dapat dipakai untuk menggeser ketetapan

panjang gelombang pada spektrofotometer. Lampu tungsten merupakan campuran

filamen tungsten dan gas iodine (halogen). Lampu tungsten dapat dipakai pada

panjang gelombang 380-900 nm, sedangkan lampu merkuri merupakan suatu

lampu yang mengandung uap merkuri tekanan rendah. Biasanya lampu merkuri

ini digunakan pada daerah ultraviolet khususnya disekitar panjang gelombang 365

nm.

Monokromator

Monokromator berfungsi untuk mendapatkan radiasi yang memancarkan

(25)

polikromatis. Monokromator pada spektrofotometer biasanya terdiri dari susunan

celah masuk – filter – prisma – kisi – celah keluar. Sampel kompartemen

Tempat sampel (sampel kompartemen) berupa kuvet atau sel adalah wadah

untuk zat yang dianalisa. Dianjurkan setiap kali memakai kuvet selalu dibersihkan

dengan alcohol absolute atau direndam didalamnya.

Detektor

Detektor merupakan suatu bagian spektrofotometer yang penting karena

kualitas detector akan menentukan kualitas spektrofotometer. Fungsi detector

didalam spektrofotometer adalah mengubah signal radiasi menjadi signal

elektronik. Pada detector diinginkan kepekaan radiasi yang tinggi terhadap radiasi

yang diterima, dengan tingkat kebisingan yang rendah, kemampuan respon

kuantitatif dan signal elektronik yang ditansfer oleh detector dapat diaplikasikan

oleh penguat (amplifier) ke recorder.

Amplifier atau penguat dan Visual display

Amplifier dibutuhkan saat signal elektronik yang dialirkan setelah

melewati detector untuk menguatkan karena penguat dengan resistensi masukan

yang tinggi sehingga rangkaian detector tidak tersadap habis yang menyebabkan

(26)

Gambar 2.2 Spektrofotometer UV-VIS

2.3. Hukum Lambert-Berr

Hukum Lambert-Beer merupakan hukum yang mendasari metode absorbsi

spektrofotometri. Apabila suatu berkas dengan intensitas Io melewati suatu

larutan, maka sebagian sinar akan diserap sehingga intesitas radiasi yang

diteruskan I menjadi lebih kecil dari Io (Hayati, 2007) :

T = I0I T = Transmittan (%)

Hukum Lambert-Beer menunjukkan hubungan sebagai berikut (Khopkar,

1990:195):

T = �

�0 = 10

–abc

Log (T) = �

�0 = -abc

Log 1

� ) = log �

�0 = abc = A

Dimana :

I = intensitas sinar yang diteruskan

I0 = intensitas sinar awal

T = transmitansi (%)

(27)

b = jarak tempuh optik

c = konsentrasi

Hukum di atas dapat ditinjau sebagai berikut :

1. Jika suatu berkas radiasi monokromatik yang sejajar jatuh pada medium

pengabsorpsi pada sudut tegak lurus setiap yang lapisan yang sangat

kecilnya akan menurunkan intensitas berkas.

2. Jika suatu cahaya monokromatis mengenai suatu medium yang transparan,

laju pengurangan intensiats dengan ketebalan medium sebanding dengan

intensitas cahaya.

3. Intensitas berkas sinar monokromatis berkurang secaraeksponensional bila

konsentrasi zat pengabsorpsi bertambah.

2.4. Alfatokoferol

Alfa tokoferol adalah antioksidan yang larut dalam lemak yang terdapat di dalam

sel. Alfa tokoferol ditemukan sekitar awal 1920-an. Nama tokoferol pertama kali

digunakan oleh Evans. Tokoferol berasal dari kata Yunani, tokos berarti kelahiran bayi, phero berarti membawa kemajuan dan ol menunjukkan bahwa molekulnya mengandung alkohol.

Vitamin E adalah istilah umum untuk menunjukkan semua aktifitas

biologi vitamin E alami, yaitu d-alfa-tokoferol. Di alam, terdapat 8 substansi yang

memiliki aktifitas vitamin E, yaitu kelompok tokoferol (d-alfa, d-beta, d-gamma

dan delta-tokoferol) dan kelompok tokotrienol (alfa, beta, gamma, dan

d-delta-tokotrienol). Kedua kelompok ini berbeda dalam hal metilasi dan rantainya.

Dari semuanya, d-alfa-tokoferol mempunyai aktifitas biologik yang paling tinggi

sehinga dijadikan sebagai standard bagi yang lain.

Vitamin E atau tokoferol termasuk antioksidan primer yang dapat

mencegah terjadinya rentetan reaksi radikal bebas. Tokoferol atau vitamin E

(28)

minyak zaitun,, kacang-kacangan, biji gandum, dan sayuran berwarna hijau. Pada

hewan seperti daging sapi, unggas, atau ikan.

Vitamin E lebih tepat disebut sebagai antioksidan daripada vitamin.

Karena tidak seperti vitamin yang lain, vitamin E tidak bertindak sebagai

ko-faktor bagi reaksi enzimatik. Vitamin E juga tidak menimbulkan suatu penyakit

yang khas seperti vitamin yang lain. Defisiensi vitamin E dapat terjadi jika

terdapat malabsorbsi lemak, bayi prematur dan penderita yang mendapat nutrisi

parenteral total. Efek dari intake vitamin E yang inadekuat biasanya baru tampak

dalam jangka panjang dan biasanya berhubungan dengan penyakit kronis, seperti

kanker dan atherosklerosis.

Fungsi utama vitamin E adalah mencegah peroksidasi membran fosfolipid.

Karakteristik vitamin E yang lipofilik memungkinkan tokoferol berada di lapisan

dalam sel membran (Halliway dan Getteridge, 1992).Tokoferol OH dapat

memindahkan atom hidrogen dengan satu elektron ke radikal bebas dan

membersihkan radikal bebas sebelum radikal bebas bereaksi dengan protein

membran sel atau bereaksi membentuk lipid peroksidasi. Tokoferol-OH yang

bereaksi dengan radikal bebas membentuk tokoferol-O. Tokoferol-O sendiri

adalah radikal bebas juga. Tokoferol-O akan bereaksi lagi dengan vitamin C

membentuk semidehidroaskorbat, suatu radikal bebas yang lemah.

2.5. Paprika

Paprika memiliki nama latin Capsicum annuum 1 dan berasal dari Amerika

Selatan. Di Indonesia, paprika banyak dibudidayakan di Jawa, Bali, dan Nusa

Tenggara Barat. Terdapat berbagai Varietas paprika berdasarkan warna buahnya,

diantaranya paprika hijau, kuning, merah, atau unggu yang sering digunakan

untuk salad. Berdasarkan rasanya, paprika dibedakan atas dua jenis, yaitu paprika

(29)

Capsicin, yaitu zat yang menimbulkan rasa pedas cabe.

2.5.1. Kandungan dan Manfaat Paprika

Kandungan gizi yang paling umum pada paprika adalah karoten, vitamin B serta

vitamin C. Sedangkan dalam paprika hijau, tiap 100gramnya mengandung protein

0.9g, lemak 0.3g, karbohidrat 4.4g, kalsium 7.0mg, besi 0.4mg, fosfor 22mg,

vitamin A 540 IU, vitamin B1 22.0mg, vitamin B2 0.002mg, nyacin 0.4mg dan

vitamin C 160mg.

Tabel 2.1 Perbandingan nilai gizi paprika merah, kuning, dan hijau per 100 gr

Kandungan gizi per 100 gram bahan Paprika merah Paprika hijau Paprika kuning

Energi (kkal) 26 20 27

Protein (g) 0,99 0,86 1

Lemak total (g) 0,3 0,17 0,21

Lemak jenuh (g) 0,06 0,06 0,03

Lemak tak jenuh tunggal (g) 0,01 0,01 -

Lemak tak jenuh ganda (g) 0,16 0,06 -

Karbohidrat (g) 6,03 4,64 6,32

Serat (g) 2 1,7 0,9

Gula (g) 4,2 2,4 -

Kalsium (mg) 7 10 11

Besi (mg) 0,43 0,34 0,46

Magnesium (mg) 12 10 12

Fosfor (mg) 26 20 24

Kalium(mg) 211 175 212

Natrium (mg) 2 3 2

Seng (mg) 0,25 0,13 0,17

(30)

Mangan (mg) 0,11 0.12 0,12

Selenium (mg) 0,1 80,4 0,3

Vitamin C (mg) 190 0,06 183,5

Thiamin (mg) 0,05 0,03 0,03

Riboflavin (mg) 0,09 0,48 0,03

Niacin (mg) 0,98 0,22 0,89

Vitamin B6 (mg) 0,29 11 0,17

Folat (mkg) 18 0 26

Vitamin B12 (mkg) 0 370 0

Vitamin A (IU) 3.131 0,37 200

Vitamin E (mg) 1,58 7,4 -

Vitamin K (mkg) 4,9 7,4 -

sumber: www.nutritionanalyzer.com

Gambar 2.3 Paprika Merah, Kuning, dan Hijau

Berikut 4 manfaat besar dari buah paprika untuk kesehatan

1. Meningkatkan kekebalan tubuh. Paprika mengandung gizi yang sangat

tinggi, terutama vitamin C. Kandungan vitamin C dalam paprika lebih

tinggi dibandingkan dalam kandungan vitamin C dalam jeruk ( 30-50 mg

(31)

C terlibat dalam beberapa proses penting tubuh, mulai dari mengangkut

lemak, pengangkutan elektron dari berbagai reaksi enzimatik, pembuatan

kalogen ( protein berserat yang membentuk jaringan ikat pada tulang ),

pemacu gusi yang sehat, menjaga tingkat kolesterol, memelihara

kekebalan, untuk penyembuhan luka dan meningkatkan fungsi otak agar

dapat bekerja maksimal.

2. Mencegah penyakit mata. Selain vitamin C, paprika juga mengandung

vitamin A dan beta karoten. Paprika merah mengandung vitamin A

sebanyak 3.131 IU. Lagi-lagi, paling tinggi diantara jenis paprika lainnya.

Vitamin A bermanfaat untuk mencegah penyakit mata, pertumbuhan sel,

sistem kekebalan tubuh, reproduksi, serta menjaga kesehatan kulit.

3. Mencegah kanker. Kandungan beta karoten dalam paprika mencegah

timbulnya kanker karena beta karoten bekerja sebagai antioksidan yang

menstabilkan radikal berinti karbon. Semakin tua umur paprika, maka

kandungan beta karoten akan semakin tinggi. Selain itu, paprika juga

mengandung likopen. Sebuah penelitian yang dilakukan Unversitas Yale

terhadap 473 orang pria menemukan fakta bahwa pria tidak mengidap

kanker prostat memiliki lebih banyak likopen dalam darahnya

dibandingkan mereka yang sakit. Sedangkan penelitian di Universitas

Harvard pada tahun 2002, menunjukkan bahwa laki-laki yang

mengkonsumsi likopen dalam jumlah banyak memiliki resiko penyakit

kanker yang lebih rendah, khususnya kanker prostat.

4. Meningkatkan kualitas sperma. Likopen dalam paprika ternyata juga

bermanfaat untuk sistem reproduksi. Konsumsi likopen, terutama pada

paprika merah, diyakini dapat meningkatkan kualitas reproduksi. Hal ini

karena likopen meningkatkan jumlah sperma, menjaga struktur sperma,

dan meningkatkan motilitas ( pergerakan ) sperma. Likopen merupakan

salah satu dari 650 jenis karotenoid yang secara normal terdapat dalam

konsentrasi tinggi di dalam testis. Jika konsentrasi likopen rendah, maka

pria hal ini menjadi salah satu penyebab pria mengalami infertilitas (

(32)

5. Mengobati Keseleo. Capsaicins senyawa yang terkandung dalam paprika

juga mengandung banyak manfaat. Bisa mem-blok transmisi rasa sakit

dari kulit ke sumsum tulang belakang dan mencegah sensasi rasa sakit. Ini

sangat membantu dalam mengobati penyakit yang terkait dengan nyeri

termasuk keseleo.

6. Membakar Kalori. Mengonsumsi paprika mempercepat metabolisme dan

membantu membakar lebih banyak kalori. Konsumsi paprika juga

mengurangi berat badan karena diet lemak tinggi. Hal ini juga

menyebabkan sekresi cairan pencernaan dan mencegah gangguan alat

cerna

7. Rambut. Ekstrak paprika adalah salah satu penyubur rambut terbaik

sekaligus menumbuhkan rambut baru. Paprika juga akan mencegah

kerusakan mahkota Anda sekaligus membantu mempertahankan rambut

tetap tebal.

2.5.2. Cara Mengolah, Memilih, dan Menyimpan Yang Baik

Pengolahan paprika hendaknya dilakukan dengan benar agar tidak mengurangi

nilai gizinya. Agar kadar vitamin C tak cepat menguap, sebaiknya paprika

dimasukkan ke dalam masakan pada akhir proses memasak atau dicampur dengan

salad. Penyimpanan paprika hendaknya dilakukan secara tepat. Kandungan

vitamin C bisa berkurang, bahkan hilang, jika paprika yang telah terbelah

dibiarkan lama terkena udara. Menurut Irna (2005), kiat memilih dan menyimpan

paprika yang baik adalah sebagai berikut:

1. Pilih paprika yang kulitnya masih licin, berkilat dan tidak kusam.

2. Perhatikan ujung paprika dekat batangnya. Jika ada sedikit saja warna

hitam atau cokelat keabu-abuan, paprika itu sudah mulai membusuk di

(33)

3. Pilih paprika yang keras untuk memastikan bahwa kualitasnya masih

bagus dan baru.

4. Jika dibeli dalam keadaan terbungkus plastik, segera buka kemasannya

agar tidak lembab.

5. Simpan paprika dalam kantong plastik yang telah dilubangi sebelum

dimasukkan ke dalam kulkas, sehingga tahan untuk jangka waktu lama.

6. Paprika jangan dibiarkan dalam keadaan terbelah jika tidak akan langsung

dimakan karena vitamin C yang terkandung di dalamnya bisa

berkurang/hilang.

2.6. Sensor Warna Tcs3200

Sensor warna merupakan sebuah modul sensor warna yang berbasis Sensor TAOS

TCS3200 yang digunakan melakukan pengukuran warna RGB(Read, Green, Bue)

dari sebuah objek. Modul sensor ini memiliki fasilitas untuk merekam hingga 25

data warna yang akan disimpan dalam EEPROM. Modul sensor ini dilengkapi

dengan antarmuka UART TTL dan I2C.

Gambar 2.4 Sensor Warna TCS 3200

Module Sensor Warna TCS3200 menggunakan chip TAOS TCS3200

(34)

mendeteksi dan mengukur intensitas warna tampak. Beberapa aplikasi yang

menggunakan sensor ini diantaranya pembacaan warna, pengelompokkan barang

berdasarkan warna, ambient light sensing and calibration, pencocokan warna, dan

banyak aplikasi lainnya.

Chip TCS3200 memiliki beberapa photodetector, dengan masing-masing

filter warna yaitu, merah, hijau, biru, dan clear. Filter-filter tersebut

didistribusikan pada masing-masing array. Module ini memiliki oscilator yang

menghasilkan pulsa square yang frekuensinya sama dengan warna yang dideteksi.

Dimensi modul DT-SENSE Color Sensor yaitu :

1. Tanpa spacer : 4,8 cm (p) x 4,8 cm (l) x 2,8 cm (t).

2. Dengan spacer : 4,8 cm (p) x 4,8 cm (l) x 4,6 cm (t).

Spesifikasi DT-SENSE Color Sensor yaitu: 1. Berbasis sensor TAOS TCS3200D.

5. Tersedia fitur penyimpanan 25 buah data warna.

6. Pin input/output kompatibel dengan level TTL/CMOS. 7. Dilengkapi dengan antarmuka UART TTL dan I2C.

8. Konfigurasi komunikasi serial adalah : baudrate 9600 bps, 8 data bit, 1 stop bit, tanpa parity, dan tanpa flow control.

9. Antarmuka I2C mendukung bit rate data hingga 50 kHz.

10.Pada antamuka I2C modul ini dapat di-cascadehing yang terdiri dari :

(35)

 Tersedia perintah white balance untuk membaca referensi warna putih dan black balance untuk membaca nilai referensi warna hitam melalui command set.

 Kebutuhan catu daya 4,8 - 5,4 VDC.

 Tersedia deskripsi dan penjelasan command set yang didukung oleh modul ini.

 Tersedia contoh program uji untuk antarmuka I2C.

2.7. Mikrokontroller AT89S52

Mikrokontroler adalah mikroprosessor yang dirancang khusus untuk aplikasi

kontrol, dan dilengkapi dengan ROM, RAM dan fasilitas I/O pada satu chip.

AT89S52 adalah salah satu anggota dari keluarga MCS-51/52 yang dilengkapi

dengan inte rnal 8 Kbyte Flash PEROM (Programmable and Erasable Read

Only Memory ), yang memungkinkan memori program untuk dapat deprogram

kembali. AT89S52 dirancang oleh Atmel sesuai dengan instruksi standar dan

susunan pin 80C5.

Mikrokontroler AT89S52 memiliki :

1. Sebuah CPU ( Central Processing Unit ) 8 Bit. 2. 256 byte RAM ( Random Acces Memory ) internal.

3. Empat buah port I/O, yang masing masing terdiri dari 8 bit.

4. Osilator internal dan rangkaian pewaktu.

5. Dua buah timer/counter 16 bit Lima buah jalur interupsi ( 2 buah interupsi eksternal dan 3 interupsi internal).

6. ebuah port serial dengan full duplex UART (Universal Asynchronous Receiver Transmitter).

(36)

8. EPROM yang besarnya 8 KByte untuk memori program.

9. Kecepatan maksimum pelaksanaan instruksi per siklus adalah 0,5 μs pada frekuensi clock 24 MHz. Apabila frekuensi clock mikrokontroler yang digunakan adalah 12 MHz, maka kecepatan pelaksanaan instruksi

adalah 1 μs.

2.7.1 CPU ( Central Prosesing Unit )

Bagian ini berfungsi mengendalikan seluruh operasi pada mikrokontroler. Unit ini

terbagi atas dua bagian, yaitu unit pengendali atau CU ( Control Unit ) dan unit aritmatika dan logika atau ALU ( Aritmetic logic Unit ) Fungsi utama unit pengendali adala h mengambil instruksi dari memori (fetch) kemudian menterjemahkan susunan instruksi tersebut menjadi kumpulan proses kerja

sederhana ( decode), dan melaksanakan urutan instruksi sesuai dengan langkah-langkah yang telah ditentukan program ( execute). Unit aritmatika dan logika merupakan bagian yang berurusan dengan operasi aritmatika seperti penjumlahan,

pengurangan, serta manipulasi data secara logika seperti operasi AND, OR, dan

perbandingan.

2.7.2 Bagian Masuk/Keluaran (I/O)

Bagian ini berfungsi sebagai alat komunikasi serpih tunggal dengan piranti di luar

sistem. Sesuai dengan namanya, perangkat I/O dapat menerima maupun memberi

data dari /ke serpih tunggal. Ada dua macam piranti I/O yang digunakan, yaitu

piranti untuk hubungan serial UART (Universal Asynchronous Receiver

(37)

Serpih tunggal keluarga MCS-51 memiliki bahasa pemrograman khusus yang

tidak dipahami oleh jenis serpih tunggal yang lain. Bahasa pemrograman ini

dikenal dengan nama bahasa assembler yang memiliki 256 perangkat instruksi.

Namun saat ini pemrograman mikrokontroler dapat dilakukan dengan

menggunakan bahasa C. Dengan bahasa C, pemrograman mikrokontroler menjadi

lebih mudah, hal ini karena dengan format bahasa C akan secara otomatis diubah

menjadi bahasa assembler dengan format file hexa. Perangkat lunak pada

mikrokontroler dapat dibagi menjadi lima kelompok sebagai berikut :

1. Instruksi Transfer Data

Instruksi ini berfungsi memindahkan data, yaitu antar register, dari memori ke

memori, dari register ke memori dan lain lain.

2. Instruksi Aritmatika

Instruksi ini melaksanakan operasi aritmatika yang meliputi penjuml ahan,

pengurangan, penambahan satu (increment), pengurangan satu (decrement),

perkalian dan pembagian.

3. Instruksi Logika dan Manipulasi Bit

Berfungsi melaksanakan operasi logika AND, OR, XOR, perbandingan,

penggeseran dan komplemen data.

4. Instruksi Percabangan

Berfungsi untuk mengubah urutan normal pelaksanaan suatu program. Dengan

instruksi ini, program yang sedang dilaksanakan akan meloncat ke suatu alamat

tertentu.

5. Instruksi Stack, I/O, dan Kontrol

Instruksi ini mengatur penggunaan stack, memba ca/menulis port I/O, serta

(38)

2.7.4 Konfigurasi Pin

Mikrokontroler AT89S52 mempunyai 40 pin dengan catu daya tunggal 5 Volt.

Ke-40 pin tersebut digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.5 Konfigurasi pin Mikrokontroller AT89S52

Fungsi dari masing-masing pin AT89S52 adalah :

1). Pin 1 sampai 8 (Port 1) merupakan port pararel 8 bit dua arah ( bidirectional) yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan ( general purpose).

2). Pin 9 merupakan pin reset, reset aktif jika mendapat catuan tinggi.

3). Pin 10 sampai 17 (Port 3) adalah port pararel 8 bit dua a rah yang memiliki

fungsi pengganti sebagai berikut :

 P3.0 (10) : RXD (port serial penerima data)

 P3.1 (11) : TXD (port serial pengirim data)

 P3.2 (12) : INT0 (input interupsi eksternal 0, aktif low)

 P3.3 (13) : INT1 (input interupsi ekstrernal 1, a ktif low)

 P3.4 (14) : T0 (eksternal input timer / counter 0)

 P3.5 (15) : T1 (eksternal input timer / counter 1)

 P3.6 (16) : WR (Write, aktif low) Sinyal kontrol penulisan data dari port 0 ke memori data dan input-output eksternal.

(39)

4). Pin 18 sebagai XTAL 2, keluaran osilator yang terhubung pada kristal.

5). Pin 19 sebagai XTAL 1, masukan ke osilator berpenguatan tinggi, terhubung

pada kristal.

6). Pin 20 sebagai Vss, terhubung ke 0 atau ground pada rangkaian.

7). Pin 21 sampai 28 (Port 2) adalah port pararel 8 bit dua arah. Port ini mengirim

byte alamat bila pengaksesan dilakukan pada memori eksternal.

8). Pin 29 sebagai PSEN (Program Store Enable) adalah sinyal yang digunakan untuk membaca, memindahkan program memori eksternal (ROM / EPROM)

ke mikrokontroler (aktif low).

9). Pin 30 sebagai ALE (Address Latch Enable) untuk menahan alamat bawah voltage) pada saat memprogram internal flash memori pada mikrokontroler. 11). Pin 32 sampai 39 (Port 0) merupakan port pararel 8 bit dua arah. Berfungsi

sebagai alamat bawah yang dimultipleks den gan data untuk mengakses

program dan data memori eksternal.

12). Pin 40 sebagai Vcc, terhubung ke +5 V sebagai catuan untuk mikrokontroler.

2.7.5 Organisasi Memori

Semua serpih tunggal dalam keluarga MCS-51 memiliki pembagian ruang alamat

untuk program dan data. Pemisahan memori program dan memori data

memperbolehkan memori data untuk diakses oleh alamat 8 bit. Sekalipun

demikian, alamat data memori 16 bit dapat dihasilkan melalui register DPTR

(Data Point Register). Memori program hanya bisa dibaca tidak bisa ditulis karena disimpan dalam EPROM. Dalam hal ini EPROM yang tersedia di dalam

(40)

Gambar 2.6 Organisasi Memori pada Mikrokontroller AT89S52

a) Memori Program

Pada EPROM 8 Kbyte, jika EA (External Access) bernilai tinggi, maka

program akan menempati alamat 0000 H sampai 0FFF H secara internal. Jika EA

bernilai rendah maka program akan menempati alamat 1000 H sampai FFFF H ke

pr ogram eksternal.

b) Memori Data

Memori data internal dipetakan seperti pada gambar di bawah ini Ruang

memorinya dibagi menjadi tiga blok yaitu bagian 128 bawah, 128 atas, dan ruang

SFR ( Special Function Register)

Gambar 2.7 Memori Data pada Mikrokontroller AT89S52

(41)

byte berikutnya, di at as bank-bank register, membentuk suatu blok ruang memori

yang bisa teralamati per bit ( bit addressable). Alamat-alamat bit ini adalah 00 H hingga 7F H. Semua byte yang berada di dalam 128 bawah dapat diakses baik

secara langsung maupun tidak langsung. Bagian 128atas hanya dapat diakses

dengan pengalamatan tidak langsung. Bagian 128 atas dari RAM hanya ada di

dalam piranti yang memiliki RAM 256 byte.

2.8. LCD 1632

M1632 adalah merupakan modul LCD dengan tampilan 16 x 2 baris dengan

konsumsi daya yang rendah. Modul ini dilengkapi dengan mikrokontroler yang

didisain khusus untuk mengendalikan LCD. Mikrokontroler HD44780 buatan

Hitachi yang berfungsi sebagai pengendali LCD ini mempunyai CGROM

(Character Generator Read Only Memory), CGRAM (Character Generator

Random Access Memory) dan DDRAM (Display Data Random Access Memory).

DDRAM

DDRAM adalah merupakan memori tempat karakter yang ditampilkan

berada. Contoh, untuk karakter „A‟ atau 41H yang ditulis pada alamat 00, maka karakter tersebut akan tampil pada baris pertama dan kolom pertama dari LCD.

Apabila karakter tersebut ditulis di alamat 40, maka karakter tersebut akan tampil

(42)

Gambar 2.8 DDRAM M1632 (diambil dari data sheet HD44780)

CGRAM

CGRAM adalah merupakan memori untuk menggambarkan pola sebuah

karakter di mana

bentuk dari karakter dapat diubah-ubah sesuai keinginan. Namun memori ini akan

hilang saat power supply tidak aktif, sehingga pola karakter akan hilang.

CGROM

CGROM adalah merupakan memori untuk menggambarkan pola sebuah

karakter di mana pola tersebut sudah ditentukan secara permanen dari HD44780 sehingga pengguna tidak dapat mengubah lagi. Namun karena ROM bersifat

permanen, maka pola karakter tersebut tidak akan hilang walaupun power supply

tidak aktif Pada gambar 2, tampak terlihat pola-pola karakter yang tersimpan

dalam lokasi-lokasi tertentu dalam CGROM. Pada saat HD44780 akan

menampilkan data 41H yang tersimpan pada DDRAM, maka HD44780 akan

mengambil data di alamat 41H (0100 0001) yang ada pada CGROM yaitu pola

karakter A.

(43)

(44)

Gambar 2.9 LCD LM1632

Register

HD44780, mempunyai dua buah Register yang aksesnya diatur dengan

menggunakan kaki RS. Pada saat RS berlogika 0, maka register yang diakses

adalah Register Perintah dan pada saat RS berlogika 1, maka register yang diakses

adalah Register Data

Register Perintah

Register ini adalah register di mana perintah-perintah dari mikrokontroler ke

HD44780 pada saat proses penulisan data atau tempat status dari HD44780 dapat

dibaca pada saat pembacaan data.

Penulisan Data ke Register Perintah

Penulisan data ke Register Perintah dilakukan dengan tujuan mengatur tampilan

LCD, inisialisasi dan mengatur Address Counter maupun Address Data. Gambar

menunjukkan proses penulisan data ke register perintah dengan menggunakan

mode 4 bit interface. Kondisi RS berlogika 0 menunjukkan akses data ke Register

Perintah. RW berlogika 0 yang menunjukkan proses penulisan data akan

dilakukan. Nibble tinggi (bit 7 sampai bit 4) terlebih dahulu dikirimkan dengan

diawali pulsa logika 1 pada E Clock. Kemudian Nibble rendah (bit 3 sampai bit 0)

dikirimkan dengan diawali pulsa logika 1 pada E Clock lagi. Untuk mode 8 bit

interface, proses penulisan dapat langsung dilakukan secara 8 bit (bit 7 … bit 0)

(45)

Gambar 2.10 Penulisan Data ke register Perintah

2.8. Light Emmiting Diode (LED)

Light Emmiting Dioda atau lebih dikenal dengan sebutan LED (light-emitting

diode) adalah suatu semikonduktor yang memancarkan cahaya monokromatik

yang tidak koheren ketika diberi tegangan maju. Gejala ini termasuk bentuk

elektroluminesensi. Warna yang dihasilkan bergantung pada bahan semikonduktor

yang dipakai, dan bisa juga dekat ultraviolet, tampak, atau inframerah.

LED juga disebut "Solid State Lighting" karena chip LED disolder ke Printed

Circuit Board (PCB) dan oleh karena itu tidak memiliki artikel-artikel yang

longgar / filamen seperti bola lampu pijar, atau zat beracun seperti gas merkuri

(46)

Gambar.2.3. Simbol dan gambar LED

LED dulu umumnya digunakan pada gadget seperti ponsel serta komputer.

Sebagai pesaing lampu bohlam dan neon, saat ini aplikasinya mulai terus meluas

dan bahkan bisa kita temukan pada korek api yang kita gunakan, lampu

emergency dan sebagainya. LED sebagai model almpu masa depan dianggap

(47)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Pembuatan Sistem Keseluruhan

Sistem yang dirancang bertujuan untuk mengukur kandungan Alfatokoferol pada

paprika hijau, adapun perancangan alat yang digunakan dalam penelitian ini

seperti dalam gambar 3.1 dibawah ini:

LED

Gambar 3.1 Blok Diagram Pembuatan Alat Kadar Alfatokoferol

Cara kerja alat ini adalah sumber cahaya LED putih memancarkan cahaya dengan

panjang gelombang tertentu yang mengenai sampel yang sudah di ekstrak terlebih

dahulu. Kemudian, masukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 50 ml dengan

penambahan etanol masing-masing sampel berbeda ukuran konsentrasinnya.

Larutan pada sampel menyerap cahaya putih dan meneruskan cahaya sesuai

dengan warna pada sampel, sehingga cahaya dari sampel larutan alfatokoferol

langsung ditangkap oleh sensor warna, yang akan menghasilkan warna dengan

komposisi RGB tertentu.

Intensitas cahaya yang diteruskan akan menjadi lebih kecil daripada

(48)

warna dan disambungkan dengan mikrokontroler. Setelah diperoleh hasilnya,

keluaran mikrokontroler berupa data biner kandungan alfatokoferol yang

selanjutnya oleh LCD ditampilkan dalam satuan desimal. Kemudian nilai RGB

dari masing-masing dikalibrasi pada nilai nm yang terkandung pada sampel.

3.2. Rangkaian LED Putih

Led putih menghasilkan cahaya sebesar 32 lumen per watt (lm/W), bentuk fisik

lampu LED putih yang digunakan sebagai lampu penerangan merupakan

kumpulan (kluster) LED putih yang sudah disatukan dan dikemas sedemikian

rupa sehingga membentuk sebuah sumber cahaya. Led putih membutuhkan

tegangan sebesar 5 V untuk dapat menyala dengan baik, dengan hambatan sebesar

330 volt. Seperti tampak pada Gambar 3.2 berikut:

Gambar 3.2 Rangkaian LED putih

3.3. Rangkaian Sensor Warna TCS3200

Rangkaian Blok sensor warna pada sistem ini menggunakan modul sensor

warna DT-Sense Color Sensor yang menggunakan TCS3200 sebagai sensor warna-nya. Modul sensor ini dapat menyimpan hingga 25 data warna yang akan

disimpan pada EEPROM.

Output dari rangkaian blok sensor warna ini akan diproses oleh

mikrokontroller sehingga nantinya mikrokontroller dapat menampilkan hasil

(49)

Gambar 3.3 Rangkaian Blok Sensor Warna

Pengenalan warna pada sensor warna dipengaruhi oleh pencahayan

yang masuk ke sensor , antara lain : tingkat refleksivitas obyek, kondisi cahaya sekitar, ukuran obyek, dan jarak antara lensa ke obyek

3.4. Rangkaian LCD LM1632

LCD (Liquid Crystal Display) merupakan salah satu jenis tampilan yang dapat digunakan untuk menampilkan angka (numerik) atau karakter. LCD terdiri atas

tumpukan tipis dari dua lembar kaca dengan pinggiran yang tertutup rapat. Antara

dua lembar kaca tersebut diberi bahan kristal cair (Liquid Crystal) yang tembus cahaya. Permukaan luar dari masing-masing keping kaca mempunyai lapisan

penghantar tembus cahaya seperti oksida timah atau oksida indium. (Woollard,

2006)

Proses mengirim/mengambil data dari M1632 bisa dijabarkan sebagai

berikut :

1. RS harus disiapkan dulu, untuk menentukan jenis data seperti yang telah

(50)

2. R/W di-nol-kan untuk menandakan akan diadakan pengiriman data ke

sinyal E disatukan, pada E menjadi 1, M1632 akan meletakkan datanya di

DB0….DB7, data ini harus diambil sebelum sinyal E dinolkan kembali.

Untuk menghubungkan dengan mikrokontroller, pemakai LCD M1632

dilengkapi dengan 8 jalur data (DB0….DB7) yang dipakai untuk menyalurkan

kode ASCII maupun perintah pengatur kerjanya M1632. Selain itu dilengkapi

pula dengan E, R/W dan R/S seperti layaknya komponen yang kompetibel

dengan mikroprosesor. RS (Register Select) dipakai untuk membedakan jenis data

yang dikirim M1632, kalau RS=0 datayang dikirim adalah perintah untuk mengatur kerja M1632, sebaliknya kalau RS=1 data yang akan dikirim adlah kode

ASCII yang ditampilkan. M1632 mempunyai seperangkat perintah untukmengatur

tata kerjanya,perangkat perintah tersebut meliputi perintah untuk menghapus

tampilan, meletakkan kembali kusor pada baris huruf pertama baris pertama,

menghidupkan/mematikan tampilan dan lain sebagainya.

Untuk tampilan dipergunakan LCD Dot Matrik 2 x 16 karakter.

Sinyal-sinyal yang diperlukan oleh LCD adalah RS dan Enable, sinya l RS dan Enable

dipergunakan sebagai input yang outputnya dipakai untuk mengaktifkan LCD.

LCD akan aktif apabila mikrokontroller memberikan instruksi tulis pada LCD.

Saat kondisi RS don‟t care dan enable 0 maka LCD tetap pada kondisi semula, pengiriman data ke LCD dilakukan saat RS berlogika 0 dan enable berlogika 1.

instruksi dikirim pada LCD bila keadaan RS berlogika 1 dan enable berlogika 1.

(51)

Gambar 3.4 Rangkaian LCD 1632

3.5. Rangkaian Mikrokontroller AT89S52

Rangkaian ini berfungsi sebagai pusat kendali dari seluruh sistem yang ada.

Rangkaian mikrokontroler ditunjukkan pada gambar 3.3 berikut ini:

(52)

Pin 31 External Access Enable (EA) diset high (H). Ini dilakukan karena

mikrokontroller AT89S8252 tidak menggunakan memori eskternal. Pin 18 dan 19

dihubungkan ke XTAL 12 MHz dan capasitor 33 pF. XTAL ini akan

mempengaruhi kecepatan mikrokontroler AT89S8253 dalam mengeksekusi setiap

perintah dalam program. Pin 9 merupakan masukan reset (aktif tinggi). Pulsa

transisi dari rendah ke tinggi akan me-reset mikrokontroller ini. Pin 32 sampai 39

adalah Port 0 yang merupakan saluran/bus I/O 8 bit open collector dapat juga

digunakan sebagai multipleks bus alamat rendah dan bus data selama adanya

akses ke memori program eksternal.

Pada port 0 ini masing masing pin dihubungkan dengan resistor 4k7 ohm.

Resistor 4k7 ohm yan dihubungkan ke port 0 befungsi sebagai pull up( penaik tegangan ) agar output dari mikrokontroler dapat mntrigger transistor. Pin 1

sampai 8 adalah port 1. Pin 21 sampai 28 adalah port 2. Dan Pin 10 sampai 17

adalah port 3. Pin 39 yang merupakan P0.0 dihubungkan dengan sebuah resistor

330 ohm dan sebuah LED. Ini dilakukan hanya untuk menguji apakah rangkaian

minimum mikrokontroler AT89S52 sudah bekerja atau belum. Dengan

memberikan program sederhana pada mikrokontroler tersebut, dapat diketahui

apakah rangkaian minimum tersebut sudah bekerja dengan baik atau tidak.

Jika LED yang terhubug ke Pin 39 sudah bekerja sesuai dengan perintah

yang diberikan, maka rangkaian minimum tersebut telah siap digunakan. Pin 20

merupakan ground dihubungkan dengan ground pada power supplay. Pin 40

merupakan sumber tegangan positif dihubungkan dengan + 5 volt dari power

supply.

3.6. Pembuatan Perangkat Lunak (Software)

Sistem perangkat keras sebagai pengendali tidak akan dapat bekerja jika tidak

disertai dengan peangkat lunak sebagai pengatur keseluruhan sistem. Perangkat

(53)

langka-keseluruhan sistem, sehingga nantinya dapat ditentukan arah kendali atau proses

dari sistem yang dibuat. Mikrokontroler merupakan pengendali utama dari

keseluruhan sistem ini. Mikrokontroler tidak akan bisa berfungsi jika di dalamnya

tidak dimasukkan sebuah program (perangkat lunak). Perangkat lunak yang

dirancang pada sistem ini menggunakan sebuah bahasa pemrograman yang berupa

bahasa Assembler.

(54)

No

Yes

3.6

.

(55)

3.7. Pembuatan Larutan Sampel

Alat otomatisasi pengukur kadar Alfatokoferol ini menggunakan sampel larutan

Alfatokoferol (vitamin E) yaitu paprika hijau, yang nantinya akan diuji pada alat

tersebut agar diketahui ketepatan niali pembacaannya. Sampel yang digunakan

untuk penelitian ini adalah ekstrak Vitamin E murni. Pada penelitian ini dibuat

sepuluh sample yang dilarutkan dengan etanol hingga 50 ml. Pembuatann sampel

dilakukan dengan cara melarutkan 10 ml alfatokoferol murni dalam 50 ml Etanol

sehingga didapatkan alfatokoferol 10 % sebagai larutan stok sesuai rumus persen :

% Alfatokoferol = 100 ������ ���� �� x 100%

Setelah itu, untuk mendapatkan alfatokoferol dengan kadar tertentu, maka

diambil dari larutan stok kemudian diencerkan sampai volume 10 ml sesuai

dengan rumus berikut :

M1 V1= M2 V2 Dimana :

V1= �

2 �2

�1 M1 = Kosentrasi larutan stok (%)

M2 = Kosentarsi larutan yang

diinginkan (%)

V1 = Volume dari larutan stok

V2 = Volume larutan yang diinginkan

(56)

3.8. Pengujian Alat

3.8.1. Proses Pengambilan Data

Pengambilan data dilakuan dengan menggunakan 11 sampel yang telah terukur

kadar alfatokoferolnya secara perhitungan. Adapun langkah-langkahnya sebagai

berikut :

a) Membuat larutan sampel dengan perhitungan kadar alfatokoferol

sebagaimana telah dijelaskan pada sub pokok bahasan 3.7

b) Meletakkan satu persatu larutan sampel pada rangkaian sistem.

c) Sampel diuji keberadaan alfatokoferolnya menggunakan alat uji

keberadaan alfatokoferol.

d) Mengamati dan mencatat hasil pengujian yang ditampilkan pada

LCD.

e) Membandingkan hasil pengujian alat dengan pengujian semula.

f) Membuat regresi dari hasil pengujian sebenarnya dengan hasil

(57)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengujian Alat

Secara umum, pengujian ini bertujuan untuk mengetahui apakah alat dapat bekerja

sesuai dengan spesifikasi perencanaan yang telah ditetapkan. Pengujian dilakukan

untuk kerja perangkat keras pada masing-masing blok rangkaian penyusun sistem,

antara lain Sensor, Mikrokontroler, LCD dan pengujian alat secara keseluruhan.

4.1.1 Hasil Pengujian Rangkaian Sensor Warna TCS3200

Pengujian rangkaian sensor warna TCS230 dapat dilakukan dengan menggunakan

rangkaian seperti pada Gambar 4.1:

(58)

Berdasarkan hasi pengujian rangkaian sensor warna TCS3200 yang mengacu pada

Gambar 4.1, maka diperoleh data seperti pada tabel 4.1 berikut:

Tabel 4.1 Hasil pengujian rangkaian sensor TCS3200

No Kadar Perhitungan (%) Hasil Keluaran Alat

0 0 Tidak

1 1 Ada

2 2 Ada

3 3 Ada

4 4 Ada

5 5 Ada

6 6 Ada

7 7 Ada

8 8 Ada

9 9 Tidak

10 10 Tidak

Dari hasil pengujian tabel 4.1 di atas dapat dilihat bahwa keberadaan

alfatokoferol pada sampel berada pada kosentrasi 1 – 8 %, pengujian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan sensor dalam pengukuran alat.

4.1.2 Hasil Pengujian Sistem Minimum AT89S52 Dan LCD

Pengujian terhadap mikrokontroler AT89S52 dan LCD dilakukan untuk

memeriksa apakah terdapat kesalahan dalam perangkat lunak yang sudah disusun

untuk mengisi data serta menampilkannya pada LCD. Pengujian dilakukan

(59)

Figur

Gambar 2.3 Paprika Merah, Kuning, dan Hijau

Gambar 2.3

Paprika Merah, Kuning, dan Hijau p.30
Gambar 2.4 Sensor Warna TCS 3200

Gambar 2.4

Sensor Warna TCS 3200 p.33
Gambar 2.5 Konfigurasi pin Mikrokontroller AT89S52

Gambar 2.5

Konfigurasi pin Mikrokontroller AT89S52 p.38
Gambar 2.7 Memori Data pada Mikrokontroller AT89S52

Gambar 2.7

Memori Data pada Mikrokontroller AT89S52 p.40
Gambar 2.6 Organisasi Memori pada Mikrokontroller AT89S52

Gambar 2.6

Organisasi Memori pada Mikrokontroller AT89S52 p.40
Gambar 2.8 DDRAM M1632 (diambil dari data sheet HD44780)

Gambar 2.8

DDRAM M1632 (diambil dari data sheet HD44780) p.42
Tabel 2.3 Perintah-perintah pada Memori CGROM

Tabel 2.3

Perintah-perintah pada Memori CGROM p.43
Gambar 2.10 Penulisan Data ke register Perintah

Gambar 2.10

Penulisan Data ke register Perintah p.45
Gambar.2.3. Simbol dan gambar LED
Gambar.2.3. Simbol dan gambar LED p.46
Gambar 3.1 Blok Diagram Pembuatan Alat Kadar Alfatokoferol

Gambar 3.1

Blok Diagram Pembuatan Alat Kadar Alfatokoferol p.47
Gambar 3.2 Rangkaian LED putih

Gambar 3.2

Rangkaian LED putih p.48
Gambar 3.3 Rangkaian Blok Sensor Warna

Gambar 3.3

Rangkaian Blok Sensor Warna p.49
Gambar 3.4 Rangkaian LCD 1632

Gambar 3.4

Rangkaian LCD 1632 p.51
Gambar 3.5 Rangkaian Mikrokontroller AT89S52

Gambar 3.5

Rangkaian Mikrokontroller AT89S52 p.51
Gambar 4.1 Rangkaian Pengujian Sensor TCS3200

Gambar 4.1

Rangkaian Pengujian Sensor TCS3200 p.57
Gambar 4.1, maka diperoleh data seperti pada tabel 4.1 berikut:

Gambar 4.1,

maka diperoleh data seperti pada tabel 4.1 berikut: p.58
Tabel 4.1 Hasil pengujian rangkaian sensor TCS3200

Tabel 4.1

Hasil pengujian rangkaian sensor TCS3200 p.58
Tabel 4.2 Data masukan dan keluaran pada LCD

Tabel 4.2

Data masukan dan keluaran pada LCD p.60
Gambar 4.2 Rangkaian Pengujian Mikrokontroler

Gambar 4.2

Rangkaian Pengujian Mikrokontroler p.60
Gambar 1. Tampilan Sistem minimum dan LCD

Gambar 1.

Tampilan Sistem minimum dan LCD p.66
GAMBAR RANGKAIAN

GAMBAR RANGKAIAN

p.75

Referensi

Memperbarui...

Lainnya : Perancangan Dan Pembuatan Alat Pendeteksi Keberadaan Alfatokoferol Pada Paprika Hijau Dengan Menggunakan Sensor Warna TCS3200 Latar Belakang Perancangan Dan Pembuatan Alat Pendeteksi Keberadaan Alfatokoferol Pada Paprika Hijau Dengan Menggunakan Sensor Warna TCS3200 RUMUSAN MASALAH TUJUAN BATASAN MASALAH MANFAAT PENELITIAN Cahaya Spektrofotometri Perancangan Dan Pembuatan Alat Pendeteksi Keberadaan Alfatokoferol Pada Paprika Hijau Dengan Menggunakan Sensor Warna TCS3200 Hukum Lambert-Berr Alfatokoferol Perancangan Dan Pembuatan Alat Pendeteksi Keberadaan Alfatokoferol Pada Paprika Hijau Dengan Menggunakan Sensor Warna TCS3200 Paprika Perancangan Dan Pembuatan Alat Pendeteksi Keberadaan Alfatokoferol Pada Paprika Hijau Dengan Menggunakan Sensor Warna TCS3200 Sensor Warna Tcs3200 Perancangan Dan Pembuatan Alat Pendeteksi Keberadaan Alfatokoferol Pada Paprika Hijau Dengan Menggunakan Sensor Warna TCS3200 Mikrokontroller AT89S52 Perancangan Dan Pembuatan Alat Pendeteksi Keberadaan Alfatokoferol Pada Paprika Hijau Dengan Menggunakan Sensor Warna TCS3200 LCD 1632 Perancangan Dan Pembuatan Alat Pendeteksi Keberadaan Alfatokoferol Pada Paprika Hijau Dengan Menggunakan Sensor Warna TCS3200 Light Emmiting Diode LED Pembuatan Sistem Keseluruhan Rangkaian LED Putih Perancangan Dan Pembuatan Alat Pendeteksi Keberadaan Alfatokoferol Pada Paprika Hijau Dengan Menggunakan Sensor Warna TCS3200 Rangkaian Mikrokontroller AT89S52 Pembuatan Perangkat Lunak Software . Pembuatan Larutan Sampel Pengujian Alat Hasil Pengujian Alat