ANALISA KADAR UNSUR Zn DAN Cu PADA KOPI BUBUK (Coffea spp.) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM
SKRIPSI
MUTIARA 060802042
DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
ANALISA KADAR UNSUR Zn DAN Cu PADA KOPI BUBUK (Coffea spp.) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM
Diajukan untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat mencapai gelar Sarjana Sains
MUTIARA 060802042
DEPARTEMEN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
PERSETUJUAN
Judul : ANALISA KADAR UNSUR Zn DAN Cu
PADA KOPI BUBUK (Coffea spp.)
DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI
SERAPAN ATOM
Kategori : SKRIPSI
Nama : MUTIARA
Nomor Induk Mahasiswa : 060802042
Program Studi : SARJANA (S1) KIMIA
Departemen : KIMIA
Fakultas : MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM / FMIPA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Disetujui di Medan, Januari 2011
Komisi Pembimbing :
Pembimbing 2 Pembimbing 1
Prof.Dr.Harry Agusnar.M.Sc.,M.Phill Prof.Dr.Zul Alfian.M.Sc
NIP. 195308171983031002 NIP.195504051983031002
Diketahui/Disetujui oleh :
Departemen Kimia FMIPA USU Ketua,
PERNYATAAN
ANALISA KADAR UNSUR Zn DAN Cu PADA KOPI BUBUK (Coffea spp.) DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI SERAPAN ATOM
SKRIPSI
Saya mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya.
Medan, Januari 2011
PENGHARGAAN
Alhamdulillah, segala puji dan syukur yang teramat besar saya persembahkan kepada Allah SWT yang dengan curahan rahmat serta cinta-Nya saya dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu persyaratan untuk meraih gelar Sarjana Kimia pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara. Serta shalawat dan salam saya sampaikan pada Rasulullah, Muhammad SAW, sebagai tauladan umat.
Selanjutnya saya menyampaikan penghargaan dan cinta kasih yang terdalam dan tulus kepada Ayahanda tercinta Mustafa dan Ibunda tersayang Fatmah (Alm) atas segala doa dan pengorbanan yang telah diberikan kepada saya. Serta tak lupa pula terima kasih untuk abangda Ibrahim, Ali Nafiah, Ahmad Dani, dan Husin, kakanda Muslimah, Serasi, Nurma, Khairiah, dan Intan. Serta seluruh keluarga yang telah memberikan banyak dukungannya.
Dengan segala kerendahan hati, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Prof.Dr.Zul Alfian, M.Sc selaku dosen pembimbing 1 dan Prof.Dr.Harry
Agusnar, M.Sc, M.Phill selaku dosen pembimbing 2 yang telah banyak memberikan pengarahan dan bimbingan hingga terselesaikannya skripsi ini.
2. Dr.Rumondang Bulan Nst, M.S dan Drs.Firman Sebayang, M.S selaku Ketua
dan Sekretaris Departemen Kimia FMIPA USU, serta seluruh staff pegawai Departemen Kimia.
3. Cut Fatimah Zuhra,Ssi., Msi. selaku dosen wali saya yang telah banyak
memberi masukan selama saya mencari ilmu di FMIPA USU.
4. Bapak dan Ibu dosen yang telah memberikan ilmunya selama masa studi saya
di FMIPA USU.
5. Sahabat-sahabat saya, Tiwi, Dila, Tika, Linda, K’Yayuk, K’Ria, K’Cinta, Lia, Juriah, Isma dan Ena terima kasih atas dukungan dan motivasinya selama ini.
6. Teman-teman Kimia Stambuk 2006, Afrima, Uni, Widia, Eko, Nora, Febri,
Nurfitri, Nelvi, Agung, Egy, Sevia, Nia, Meniq, Fatma, Ana, Harry, Ai, Renita dan teman-teman yang lain yang tidak dapat dituliskan namanya satu persatu.
7. Teman-teman dan adik-adik di UKMI AL-FALAK FMIPA USU , Nurhayani,
Dwi Mandarini, Juli Agustina, Jiya, S.K.D, Henny, Qiqi, Ully, Rini, Fitri, saidah, dan Wulan. Terima kasih atas inspirasi, motivasi dan kerjasamanya selama ini.
8. Adik-adik Kimia Stambuk 2007, 2008, dan 2009, Emi, Minah, Novi, Indah,
9. Serta segala pihak yang telah membantu saya menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu semua, semoga Allah membalasnya dengan segala yang terbaik. Amin.
Saya menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan, karena keterbatasan pengetahuan saya. Oleh karena itu saya mengharapkan saran dan masukan yang membangun demi kesempurnaan skripsi ini, dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.
Medan, Januari 2011
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian terhadap kandungan logam Zn dan Cu dari kopi bubuk. Sampel yang dianalisa adalah kopi bubuk industri pabrik dengan kopi bubuk industri rumah tangga yang dianalisa setiap minggu selama satu bulan. Pengukuran konsentrasi logam Zn dan Cu pada kopi bubuk dilakukan dengan menggunakan metode dekstruksi basah.Pelarut yang digunakan adalah HNO 3(p) dan H2SO4(p) serta
pengoksidasinya H2O2 30 % kemudian dianalisis dengan Sepektrofotometer Serapan
Atom pada λspesifik = 213,9 nm(Zn) dan λspesifik = 324,8 nm(Cu).
ANALYSIS OF ZINKUM AND CUPPRUM IN COFFEE POWDER USING ATOMIC ABSORPTION SPECTROPHOTOMETRIC METHODE
ABSTRACT
The research done on the metal content of Zn and Cu from the coffee powder. Samples analyzed are ground coffee with coffee powder factory industry industrial households are analyzed each week for a month. Measurement of Zn and Cu metal concentrations in ground coffee is done by using basah.Pelarut dekstruksi method used was HNO 3 (p) and H 2 SO 4 (p) and pengoksidasinya H 2 O 2 30% and then
analyzed by Atomic Absorption Sepektrofotometer on specific λ = 213.9 nm (Zn) and specificλ = 324.8 nm (Cu).
From the results of research conducted for a sample of coffee powder factory
DAFTAR ISI
Halaman
PERSETUJUAN ii
PERNYATAAN iii
PENGHARGAAN iv
ABSTRAK vi
ABSTRACT vii
DAFTAR ISI viii
DAFTAR TABEL xi
DAFTAR GAMBAR xii
Bab I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang 1
1.2 Permasalahan 2
1.3 Pembatasan Masalah 2
1.4 Tujuan Penelitian 3
1.5 Manfaat Penelitian 3
1.6 Lokasi Penelitian 3
1.7 Metodologi Penelitian 3
Bab II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kopi 4
2.2 Pembuatan Kopi Bubuk 5
2.3 Syarat Mutu Kopi Bubuk 6
2.4 Logam 7
2.4.1 Logam Seng (Zn) 7
2.4.2 Zn Dalam Tubuh Manusia 8
2.4.3 Defesiensi dan Keracunan Zn 8
2.5 Logam Tembaga (Cu) 9
2.5.2 Defesiensi dan Keracunan Cu 10
2.6 Perombakan Bahan Organik dan Biologis 10
2.7 Spektrofotometri Serapan Atom 12
2.7.1 Prinsip Dasar Spektrofotometri Serapan Atom 12
2.7.2 Instrumentasi Spektrofotometri Serapan Atom 13
2.7.3 Gangguan Pada Spektrofotometri Serapan Atom 14
Bab III METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Alat – Alat 16
3.2 Bahan-Bahan 16
3.3 Prosedur Penelitian 17
3.3.1 Penyediaan Sampel 17
3.3.2 Pembuatan Larutan Standar Seng 100mg/L 17
3.3.3 Pembuatan Larutan Standar Seng 10 mg/L 17
3.3.4 Pembuatan Larutan Standar Seng 5 mg/L 17
3.3.5 Pembuatan Larutan Seri Standar Seng 0,5 ; 1,0 ; 1,5 ; 17
dan 2,0 mg/L
3.3.6 Pembuatan Kurva Standar Seng 17
3.3.7 Pembuatan Larutan Standar Tembaga 100mg/L 18
3.3.8 Pembuatan Larutan Standar Tembaga 10mg/L 18
3.3.9 Pembuatan Larutan Standar Tembaga 5mg/L 18
3.3.10 Pembuatan Larutan Seri Standar Tembaga 0,5 ; 1,0 ; 1,5 ; 18
dan 2,0 mg/L
3.3.11Pembuatan Kurva Standar Tembaga 18
3.3.12 Penentuan Kadar Seng dan Tembaga Pada Sampel 18
3.4 Bagan Penelitian 19
3.4.1 Preparasi Sampel 19
3.4.2 Analisis Sampel dengan Metode Dekstruksi Basah 20
4.1 Hasil Penelitian 21
4.1.1 Logam Zn 21
4.1.2 Logam Cu 22
4.2 Pengolahan Data 24
4.2.1 Logam Zn 24
4.2.1.1 Penurunan Persamaan Garis Regresi dengan Metode Least Square 24
4.2.1.2 Koefisien Korelasi 26
4.2.1.3 Penentuan Konsentrasi 26
4.2.1.4 Penentuan Kadar Seng (Zn) pada Kopi Bubuk dalam Satuan mg/kg 28
4.2.2 Logam Cu 29
4.2.2.1 Penurunan Persamaan Garis Regresi dengan Metode Least Square 29
4.2.2.2 Koefisien Korelasi 30
4.2.2.3 Penentuan Konsentrasi 30
4.2.2.4 Penentuan Kadar Tembaga (Cu) pada Kopi Bubuk dalam Satuan 32
mg/kg
4.3 Pembahasan 33
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan 34
5.2 Saran 34
DAFTAR PUSTAKA 35
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1 Data Hasil Pengukuran Kadar Seng pada Kopi Bubuk 37
Dengan Metode Dekstruksi Basah Secara SSA
Tabel 2 Data Hasil Pengukuran Kadar Tembaga pada Kopi Bubuk 37
Dengan Metode Dekstruksi Basah Secara SSA
Tabel 3 Batas Kandungan Logam yang Direkomendasikan untuk 38
Konsumsi Menurut Ketentuan FAO/WHO (JECFA = Joint
Expert Committee on Food Additivies)
Tabel 4 Syarat Mutu Kopi Bubuk 39
Tabel 4.1 Kondisi Alat SSA Merek Shimadzu Tipe AA-6300 21
pada pengukuran Konsentrasi Logam Zn
Tabel 4.2 Data Absorbansi Larutan Seri Standart Zn 22
Tabel 4.3 Kondisi Alat SSA Merek Shimadzu Tipe AA-6300 23
pada Pengukuran Konsentrasi logam Cu
Tabel 4.4 Data Absorbansi Larutan Seri Standar Cu 23
Tabel 4.5 Penurunan Persamaan Garis Regresi dengan Metode Least 25
Square untuk Zn
Tabel 4.6. Data Hasil Pengukuran Absoransi Logam Zn pada Kopi 26
Bubuk Industri Pabrik dan Industri Rumah Tangga dengan
Metode Dekstrusi Basah Secara SSA
Tabel 4.7. Penurunan Persamaan Garis Regresi dengan Metode Least 29
Square untuk Cu
Tabel 4.8. Data Hasil Pengukuran Absorbansi Logam Cu pada Kopi 31
Bubuk Industri Pabrik dan Industri Rumah Tangga dengan
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 4.1 Kurva Kalibrasi Larutan Seri Standar Seng (Zn) 22
ABSTRAK
Telah dilakukan penelitian terhadap kandungan logam Zn dan Cu dari kopi bubuk. Sampel yang dianalisa adalah kopi bubuk industri pabrik dengan kopi bubuk industri rumah tangga yang dianalisa setiap minggu selama satu bulan. Pengukuran konsentrasi logam Zn dan Cu pada kopi bubuk dilakukan dengan menggunakan metode dekstruksi basah.Pelarut yang digunakan adalah HNO 3(p) dan H2SO4(p) serta
pengoksidasinya H2O2 30 % kemudian dianalisis dengan Sepektrofotometer Serapan
Atom pada λspesifik = 213,9 nm(Zn) dan λspesifik = 324,8 nm(Cu).
ANALYSIS OF ZINKUM AND CUPPRUM IN COFFEE POWDER USING ATOMIC ABSORPTION SPECTROPHOTOMETRIC METHODE
ABSTRACT
The research done on the metal content of Zn and Cu from the coffee powder. Samples analyzed are ground coffee with coffee powder factory industry industrial households are analyzed each week for a month. Measurement of Zn and Cu metal concentrations in ground coffee is done by using basah.Pelarut dekstruksi method used was HNO 3 (p) and H 2 SO 4 (p) and pengoksidasinya H 2 O 2 30% and then
analyzed by Atomic Absorption Sepektrofotometer on specific λ = 213.9 nm (Zn) and specificλ = 324.8 nm (Cu).
From the results of research conducted for a sample of coffee powder factory
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
Kopi adalah suatu jenis tanaman tropis, yang dapat tumbuh dimana saja, terkecuali
pada tempat-tempat yang terlalu tinggi dengan temperatur yang sangat dingin atau
daerah-daerah tandus yang memang tidak cocok bagi kehidupan tanaman
(AAK.1988). Hingga saat ini belum diketahui dengan pasti sejak kapan tanaman kopi
dikenal dan masuk dalam peradaban manusia. Menurut catatan sejarah, tanaman ini
mulai dikenal pertama kali di benua Afrika tepatnya di Ethiopia. Pada mulanya
tanaman kopi belum dibudidayakan secara sempurna oleh penduduk, melainkan masih
tumbuh liar di hutan-hutan dataran tinggi (Najiati et al.2006)
Pada mulanya orang minum kopi bukanlah kopi bubuk yang berasal dari biji,
melainkan cairan dalam kopi yang masih segar atau ada pula yang menggunakan kulit
buah yang disedu dengan air panas. Sudah barang tentu rasanya tidak enak seenak
kopi bubuk, namun dapat juga menyegarkan badan, sehingga penggemarnya pun
belum begitu meluas. Setelah diketemukan cara memasak kopi bubuk yang lebih
sempurna, yaitu menggunakan biji kopi yang masak kemudian dikeringkan dan
dijadikan bubuk sebagai bahan minuman, akhirnya penggemarnya cepat meluas di
berbagai daerah dan bahkan meluas di Afrika sebelah utara(AAK.1988)
Di Indonesia, tanaman kopi diperkenalkan pertama kali oleh VOC pada
periode antara tahun 1696-1699. Penanaman tanaman ini mula-mula hanya bersifat
coba-coba (penelitian), tetapi karena hasilnya memuaskan dan dipandang oleh VOC
cukup menguntungkan sebagai komoditi perdagangan, maka VOC menyebarkan bibit
kopi ke berbagai daerah agar penduduk menanamnya (Najiati et al.2006)
Didalam kopi terdapat logam seng dan logam tembaga yang berasal dari
tempat tumbuhnya kopi tersebut. Jika kopi sudah tercemar akan membahayakan (SNI
01-3542-2004). Logam-logam bahan pencemar yang perlu diwaspadai adalah seperti
seng, tembaga, merkuri,besi, kadmium, kobalt, timbale, nikel yang terlarut dalam air
(Darmono, 1995).
Pencemaran logam pada produk makanan mungkin dapat terjadi pada waktu
pemrosesan makanan dan wadah. Selain itu kontaminasi makanan juga dapat terjadi
dari tanaman pangan (bidang pertanian) yang diberi pupuk dan pestisida yang
mengandung logam (Darmono.1995). Penggunaan pestisida dapat tertinggal dan
tercampur dengan makanan merupakan suatu hal yang perlu diperhatikan
(Winarno.1993)
Berdasarkan uraian tersebut diatas maka peneliti tertarik untuk menganalisa
unsur Zn dan Cu yang terdapat dalam kopi bubuk menggunakan instrumen
Spektrofotometer Serapan Atom (SSA).
1.2Permasalahan
Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah
1. Apakah kadar unsur Zn dan Cu yang terdapat dalam kopi bubuk industri
pabrik dan kopi bubuk industri rumah tangga memenuhi Standar Nasional
Indonesia (SNI)
2. Bagaimanakah perbandingan kadar unsur Zn dan Cu yang terdapat pada kopi
bubuk industri pabrik dengan kopi bubuk industri rumah tangga.
1.3Pembatasan Masalah
1. Penelitian ini dibatasi pada penentuan kadar Zn dan Cu dari kopi bubuk
industri pabrik dan kopi bubuk industri rumah tangga
2. Sampel yang digunakan hanya satu merek
3. Parameter yang dianalisa yaitu logam seng dan tembaga dan diukur dengan
Sepektrofotometer Serapan Atom pada λspesifik = 213,9 nm dan λspesifik = 324,8
1.4 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar seng dan tembaga yang terdapat
dalam kopi bubuk industri pabrik dan kopi bubuk industri rumah tangga, serta untuk
menganalisis apakah kadar seng dan tembaga yang terkandung dalam kopi bubuk
tersebut tidak melampaui baku mutu yang telah ditetapkan sehingga layak
dikonsumsi.
1.5 Manfaat Penelitian
Memberikan informasi kepada masyarakat tentang kadar seng dan tembaga yang
terdapat dalam kopi bubuk industri pabrik dan industri rumah tangga yang beredar
dipasaran.
1.6 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia Analitik Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara
1.7 Metodologi Penelitian
1. Metode pengambilan sampel dilakukan dengan interval waktu persatu minggu
2. Metode dekstruksi yang dilakukan adalaah metode dekstruksi basah dengan
menggunakan pereaksi asam nitrat pekat, asam sulfat pekat, dan asam
peroksida 30 %
3. Penentuan kadar Zn dan Cu yang dilakukan dengan Spektrofotometer Serapan
Atom pada λspesifik = 213,9 nm dan λspesifik = 324,8 nm
4. Cara menghitung kadar seng dan tembaga dari sampel dalam satuan mg/kg
dengan menggunakan data hasil analisis Spektrofotometer Serapan Atom, dan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.1.Kopi
Nama kopi (Coffea spp.)sebagai bahan minuman sudah tidak asing lagi.Didunia
perdagangan dikenal beberapa golongan kopi, tetapi yang paling sering dibudidayakan
hanya kopi arabika, robusta dan liberika. Pada umumnya, penggolongan kopi
berdasarkan spesies, kecuali kopi robusta. Kopi robusta bukan nama spesies karena
kopi ini merupakan keturunan dari beberapa spesies kopi, terutama Coffea canephora.
1. Kopi Liberika (Coffea liberica)
Kopi liberika berasal dari Angola, kemudian masuk ke Indonesia pada tahun
1965. Beberapa varietas kopi liberika yang pernah didatangkan ke Indonesia
antara lain Ardoniana dan Durvei. Meskipun sudah cukup lama masuk ke
Indonesia tetapi hingga kini jumlahnya masih terbatas karena kualitas buah
dan rendemennya rendah.
2. Golongan Ekselsa
Kopi golongan ekselsa mempunyai adaptasi iklim lebih luas seperti kopi
Liberika dan tidak terlalu peka terhadap penyakit HIV. Jenis ini banyak
dibudidayakan didataran rendah yang basah, yaitu daerah yang tidak sesuai
untuk kopi robusta. Kelemahan jenis kopi ini antara lain kurang laku dipasaran
dibanding kopi robusta karena kualitasnya kurang baik.
Kopi arabika berasal dari Ethiopia dan Abessinia. Kopi ini merupakan jenis
pertama yang dikenal dan dibudidayakan, bahkan termasuk kopi yang paling
banyak diusahakan hingga akhir abad ke-19. Setelah abad ke-19, dominasi
kopi Arabika menurun karena kopi ini sangat peka terhadap penyakit HIV,
terutama di dataran rendah.Beberapa varietas kopi Arabika yang banyak
diusahakan di Indonesia antara lain Abesinia, Pasumah, Marago type, dan
congensis.
4. Kopi Robusta
Kopi Robusta berasal dari Kongo. Kopi ini masuk ke Indonesia pada tahun
1900. Beberpa jenis yang termasuk kopi Robusta antara lain Quillou, Uganda,
dan Chanephora. Oleh karena mempunyai sifat lebih unggul, kopi ini sangat
cepat berkembang. Bahkan kopi Robusta termasuk jenis yang mendominasi
perkebunan kopi di Indonesia hingga saat ini.
5. Golongan Hibrida
Kopi hibrida merupakan turunan pertama hasil perkawinan antara dua spesies
atau varietas sehingga mewarisi sifat-sifat unggul kedua induknya. Namun,
keturunan dari golongan hibrida ini sudah tidak mempunyai sifat yang sama
dengan induk hibridnya. Oleh karena itu, pembiakannya hanya dengan cara
vegetatif seperti setek atau sambungan (Najiatai et al,2006)
1.2Pembuatan Kopi Bubuk
Kopi bubuk adalah biji kopi yang disangrai (roasted) kemudian digiling, dengan atau
tanpa penambahan bahan lain dalam kadar tertentu yang tidak membahayakan
kesehatan(SNI 01 – 3542 – 2004).
Pembuatan kopi bubuk bisa dibagi kedalam dua tahap, yaitu tahap
perendangan dan tahap penggilingan.
Perendangan atau penyangraian adalah proses pemanasan kopi beras pada
suhu 200-225oC. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kopi rendang yang
berwarna cokelat kayu manis kehitaman. Kopi beras adalah kopi kering yang
sudah terlepas dari daging buah dan kulit arinya.
Perendangan secara tradisional umumnya dilakukan petani secara terbuka
dengan wajan yang terbuat dari tanah, besi atau baja.Sedang perendangan kopi
oleh pabrik dilakukan secara tertutup dengan mesin\ seperti bath roaster.
2. Penggilingan (penumbukan)
Penggilingan adalah proses pemecahan butir-butir kopi yang telah direndang
untuk mendapatkan kopi bubuk.Penggilingan tradisional dilakukan dengan
cara menumbuk kopi menggunakan alat penumbuk yang disebut lumpang dan
alu.Penggilingan oleh industri atau pabrik menggunakan mesin giling (Najiati
et al.2006).
1.3Syarat Mutu Kopi Bubuk
No Kriteria Uji Persyaratan
1
Kealkalian Abu (ml x
.NaOH/100g)
Maksimal 2,0 mg/kg
Maksimal 30,0 mg/kg
8
9
Timah (Sn)
Raksa (Hg)
Cemaran Arsen (As)
Cemaran Mikroba
Angka Lempeng total
Kapang
Maksimal 40,0 mg/kg
Maksimal 0,03 mg/kg
Maksimal 1,0 mg/kg
Maksimal 106 Koloni/g Maksimal 104 Koloni/g Sumber : SNI 01 -3542- 2004.Kopi Bubuk.Badan Standar Nasional
2.4Logam
Logam dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu logam esensial dan logam nonesensial.
Logam esensial adalah logam yang sangat membantu dalam proses fisiologis makhluk
hidup dengan jalan membantu kerja enzim atau pembentukan organ dari makhluk
yang bersangkutan, yang termasuk logam esensial adalah seng (Zn), tembaga (Cu)
dan selenium (Se).
Logam nonesensial adalah arsen (As), merkuri (Hg), Cadmium (Cd), Timbal
(Pb), Kromium (Cr), dan Aluminium (Al), tetapi beberapa jenis logam lain yang
termasuk kelompok logam esensial dapat pula bersifat racun bila keberadaannya telah
melebihi dari kebutuhan pada proses fsiologi dalam makhluk hidup (Darmono.1995).
2.4.1 Logam Seng (Zn)
Logam zink adalah yang putih kebiru-biruan; Logam ini cukup mudah ditempa dan
liat pada 110-150oC. Zink melebur pada 410 oC dan mendidih pada 906oC. Logamnya yang murni, melarut lambat sekali dalam asam dan dalam alkali; adanya zat-zat
pencemar atau kontak dengan platinum atau tembaga, yang dihasilkan oleh
penambahan beberapa tetes larutan garam dari logam-logam ini, mempercepat reaksi
(Vogel,A.I.1985).
Unsur yang berwarna putih-kebiruan mengkilap, rapuh pada suhu biasa tetapi
putih oksidanya. Sifat lainnya adalah unsur elektropositif, mudah bereaksi dengan O2
tetapi oksida yang terbentuk bersifat melapisi dan menghambat oksidasi selanjutnya;
bereaksi dengan belerang dan unsur logam lainnya (Mulyono.2006)
2.4.2. Zn Dalam Tubuh Manusia
Rata-rata tubuh orang dewasa mengandung 1,4 -2,5 g Zn yang tersebar hampir
disemua sel. Sebahagian besar seng berada di dalam hati , prankeas, ginjal, otot dan
tulang. Jaringan yang banyak mengandung seng adalah bagian mata, kelenjar prostat,
spermatozoa, kulit, rambut dan kuku. Kelebihan seng disimpan di dalam hati dalam
bentuk metalotionein. Lainnya dibawa ke pankreas dan jaringan tubuh lain. Bentuk
simpanan ini akan dibuang bersama sel-sel dinding usus halus yang umurnya 2-5 hari .
Logam seng berperan pula dalam sintesis dan degradasi kalogen,
pembentukan kulit, metabolisme jaringan ikat dan penyembuhan luka, serta dalam
pengembangan fungsi reproduksi laki-laki dan pembentukan sperma, selain itu
sebagai pengangkut sintesis vitamin A, pembentukan antibodi sel, metabolisme
tulang, transpor oksigen, pembentukan struktur dan fungsi membran serta proses
penggumpalan darah (Almatsier,S.2001)
2.4.3. Defesiensi dan Keracunan Zn
Seng adalah yang paling kurang beracun diantara mikro mineral.Tanda-tanda
kekurangan seng adalah gangguan pertumbuhan dan kematangan seksual. Fungsi
pencernaan terganggu, karena gangguan fungsi fankreas dan kerusakan permukaan
saluran cerna. Disamping itu dapat terjadi diare dan gangguan fungsi kekebalan.
Kekurangan seng kronis mengganggu pusat sistem saraf dan fungsi otak.. Kekurangan
seng juga mengganggu fungsi kelenjar tiroid dan laju metabolisme, gangguan nafsu
makan, penurunan ketajaman indra rasa serta memperlambat penyembuhan luka.
Kelebihan seng mempengaruhi metabolisme kolesterol, mengubah nilai
lipoprotein dan dapat mempercepat timbulnya aterosklerosis.Suplemen seng bisa
kaleng yang dilapisi seng . (Sunita.2002).Seng dalam jumlah yang banyak dapat
menyebabkan kematian. Dosis seng yang tinggi juga dapat menghambat penyerapan
besi dari sistem pencernaan (Frances.2006)
2.5 Logam Tembaga (Cu)
Tembaga adalah logam merah muda, yang lunak, dapat ditempa , dan liat. Karena
potensial elektroda standarnya positif, (+0,34 V untuk pasangan Cu/Cu+2) ia tak larut dalam asam klorida dan asam sulfat encer, meskipun dengan adanya oksigen ia bisa
larut sedikit. Asam nitrat yang sedang pekatnya (8M) dengan mudah melarutkan
tembaga (Vogel,A.I.1985 ).Tembaga meleleh pada 1083oC, dan mendidih pada 2.840
o
C. Unsur tembaga di alam dapat ditemukan dalam bentuk logam bebas, akan tetapi
lebih banyak ditemukan dalam bentuk persenyawaan atau sebagai senyawa padat
dalam bentuk mineral.
2.5.1 Cu Dalam Tubuh Manusia
Sebagai logam berat, Cu berada dengan logam-logam berat lainnya seperti Hg, Cd,
dan Cr tetapi logam berat Cu digolongkan kedalam logam berat dipentingkan atau
logam berat esensial, artinya meskipun Cu merupakan logam berat beracun, unsur
logam ini sangat dibutuhkan tubuh meskipun dalam jumlah sedikit.
Kadar Cu dalam tubuh orang dewasa sekitar 50-80 mg, jauh lebih sedikit
daripada Fe dan Zn. Pada manusia Cu paling banyak didapatkan dalam hati dan darah
(Linder,C.M.1992). Logam Cu dibutuhkan untuk sistem enzim oksidatif seperti enzim
askorbat oksidase, sistikrom oksidase, polyfenol oksidase dan lain-lain. Cu juga
dibutuhkan manusia sebagai kompleks Cu-protein yang mempunyai fungsi tertentu
dalam pembentukan hemoglobin, kolagen, pembuluh darah dan myelin otak.
Disamping itu, Cu juga terlibat dalam proses pembentukan energi untuk metabolisme
2.5.2 Defesiensi dan Keracunan Cu
Defesiensi Cu tidak jarang terjadi pada bayi prematur atau yang berat badannya
rendah. Defesiensi juga mungkin dapat diakibatkan atau ditingkatkan oleh banyaknya
yang terekskresi melalui urin. Gejala defisiensi Cu termasuk penurunan kadar
Cu-serum dan seruloplasmin, anemia, depigmentasi kulit, rambut kusut, kerusakan otak
(Linder,C.M.1992)
Namun demikian meski sangat dibutuhkan, logam Cu akan berbalik menjadi
bahan racun untuk manusia bila masuk dalam jumlah berlebihan. Bentuk Cu yang
paling beracun adalah debu-debu Cu yang dapat mengakibatkan kematian pada dosis
3,5 mg/kg. Sedangkan daya racun yang dimiliki oleh garam klorida terhidrasi
(CuCl2.2H2O) akan mengakibatkan kematian pada dosis 9,4 mg/kg. Untuk garam
sulfat dalam bentuk terhidrasi (CuSO4.5H2O) daya racun yang dimilikinya akan
mengakibatkan kematian pada dosis 33 mg/kg .Pada manusia, efek keracunan utama
yang ditimbulkan akibat terpapar oleh debu atau uap logam Cu adalah terjadinya
gangguan pada jalur pernafasan sebelah atas,terjadinya kerusakan atropik pada
selaput lendir yang berhubungan dengan hidung (Heryando.1994)
2.6Perombakan Bahan Organik dan Biologis
Untuk menentukan kandungan mineral bahan makanan, bahan makanan dihancurkan
atau didekstruksi terlebih dahulu. Cara yang biasa dilakukan yaitu dengan metode
pengabuan kering (dry ashing) dan pengabuan basah (wet digestion). Pemilihan
metode pengabuan tersebut tergantung pada sifat zat organik dalam bahan, sifat zat
anorganik yang ada dalam bahan, mineral yang akan dianalisa serta sensitivitas yang
digunakan (Apriyanto,A.1989).
a. Dekstruksi Basah
Dekstruksi basah yaitu pemanasan sampel (organic atau biologis) dengan
adanya pengoksidasi kuat seperti asam-asam mineral baik tunggal maupun
pada temperature yang cukup tinggi dan jika pemanasan dilakukan secara
kontinu pada waktu yang cukup lama, maka sampel akan teroksidasi sempurna
sehingga meninggalkan berbagai elemen-elemen pada larutan asam dalam
bentuk senyawa anorganik yang sesuai untuk dianalisis (Anderson,R.1987).
Dekstruksi basah pada prinsipnya adalah penggunaan asam nitrat untuk
mendekstruksi zat organik pada suhu rendah dengan maksud mengurangi
kehilangan mineral akibat penguapan. Pada tahap selanjutnya, proses
seringkali berlangsung sangat cepat akibat pengaruh asam perklorat atau hidrat
peroksida. Dekstruksi basah pada umumnya digunakan untuk menganalisa
arsen, tembaga, timah hitam, timah putih, dan seng.
Ada tiga macam cara kerja dekstruksi basah dapat dilakukan, yaitu :
1. Dekstruksi basah menggunakan HNO3 dan H2SO4
2. Dekstruksi basah menggunakan HNO3,H2SO4 dan HClO4
3. Dekstruksi basah menggunakan HNO3,H2SO4 dan H2O2(Apriyanto,A.1989)
b. Dekstruksi Kering
Dekstruksi kering merupakan yang paling umum digunakan dengan cara
membakar habis bagian organik dan meninggalkan residu anorganik sebagai
abu untuk analisis lebih lanjut. (Anderson,R.1987)
Pengabuan kering dapat diterapkan pada hampir semua analisa mineral,
kecuali merkuri dan arsen. Cara ini lebih membutuhkan sedikit ketelitian
sehingga mampu menganalisa bahan lebih banyak daripada pengabuan basah.
Pengabuan kering dapat dilakukan untuk menganalisa kandungan Ca,P dan K
akan tetapi kehilangan K dapat terjadi apabila suhu yang digunakan terlalu
tinggi. Oleh karena itu, untuk menganalisa K harus dihindari pemakaian suhu
lebih tinggi dari 480oC. Suhu 450oC tidak dapat digunakan jika menganalisa kandungan seng (Zn), yang penggunaan suhu yang terlalu tinggi juga
menyebabkan beberapa mineral menjadi tidak larut (misal timah putih)
2.7Spektrofotometri Serapan Atom
Metode Spektrofotometri Serapan Atom pertama kali dikembangkan oleh Walsh,
Alkamede, dan Melatz (1955) yang ditujukan untuk analisis renik dalam sampel yang
dianalisis. Pada Spektrofotometri Serapan Atom terjadi penyerapan sumber radiasi (di
luar nyala) oleh atom-atom netral dalam keadaan gas yang berada dalam nyala.
Radiasi yang diserap oleh atom-atom netral dalam keadaan gas tadi biasanya radiasi
sinar tampak atau ultraviolet (Mulja,M.1995)
2.7.1 Prinsip Dasar Spektrofotometri Serapan Atom
Jika cahaya dengan panjang gelombang resonansi dilewatkan nyala yang mengandung
atom-atom yang bersangkutan, maka sebagian cahaya itu diserap dan jauhnya
penyerapan berbanding lurus dengan banyaknya atom keadaan dasar yang berada
dalam nyala.
Proses terbentuknya uap yang mengandung atom-atom dalam nyala, dapat
diringkaskan sebagai berikut: bila suatu larutan yang mengandung senyawa yang
cocok dari yang akan diselidiki itu dilewatkan kedalam nyala, terjadilah peristiwa
berikut secara berurutan :
1. Penghilangan pelarut atau evaporasi yang meninggalkan residu padat
2. Penguapan zat padat dilanjutkan denga disosiasi menjadi atom-atom penyususn
2.7.2 Instrumentasi Spektrofotometri Serapan Atom
Sumber Sinar Nyala monokromator detektor
Tempat sampel read out
a. Sumber sinar
Sumber sinar yang lazim dipakai adalah lampu katoda berongga. Lampu ini
terdiri atas tabung kaca tertutup yang mengandung suatu katoda dan anoda.
Katoda sendiri berbentuk silinder beronggga yang terbuat dari logam atau
dilapisi dengan logam tertentu. Tabung logam ini diisi dengan gas mulia (neon
atau argon) dengan tekanan rendah. Neon biasanya lebih disukai karena
memberikan intensitas pancaran lampu yang lebih rendah.
b. Tempat sampel
Dalam anaisis dengan Spektrofotometri Serapan Atom, sampel yang akan
dianalisis harus diuraikan menjadi atom-atom netral yang masih dalam
keadaan asas. Ada beberapa macam alat yang dapat digunakan untuk
mengubah suatu sampel menjadi uap atom-atom yaitu dengan nayala dan tanpa
nyala
• Nyala(Flame)
Nyala digunakan untuk mengubah sampel yang berupa padatan atau cairan
menjadi bentuk uap atomnya, dan juga berfungsi untuk atomisasi.
• Tanpa nyala (Flameless)
Pengatoman dapat dilakukan dalam tungku dari grafit, kemudian tabung
listrik grafit. Akibat pemanasan ini, maka zat yang akan dianalisis berubah
menjadi atom-atom netral (Rohman,A.2007)
c. Monokromator
Monokromator memisahkan, mengisolasi dan mengontrol intensitas dari
radiasi energi yang mencapai detektor. Dapat dianggap sebagai suatu saringan
yang dapat disesuaikan dengan suatu daerah yang spesifik, yang mana
spektrum transmisi yang tidak sesuai akan ditolak. Idealnya monokromator
harus mampu memisahkan garis resonansi. Karena ada beberapa unsur yang
mudah dan ada beberapa unsur yang sulit (Haswell, S.J.1991)
d. Detektor
Detektor pada spektrofotometer serapan atom berfungsi mengubah intensitas
radiasi yang akan datang menjadi arus listrik. Pada spektrofotometer serapan
atom yang umum dipakai sebagai detektor adalah tabung penggandaan foton
(PMT = Photo Multiplier Tube Detector) (Mulja,M.1995)
e. Read out
Sistem pencatat yang digunakan pada instrument SSA berfungsi untuk
mengubah sinyal yang diterima melalui bentuk digital, berarti sistem pencatat
menegah atau mengurangi kesalahan dalam pembacaan skala secara paralaks,
kesalahan interpolasi diantara pembacaan skala dan sebagainya, serta
menyeragamkan tampilnya data, yaitu dalam satuan absorbansi (Haswell,
S.J.1991)
2.7.3 Gangguan Pada SSA dan Cara Mengatasinya
Gangguan diartikan sebagai suatu factor kimia atau fisika yang akan mempengaruhi
jumlah atom pada anlit dalam keadaan dasar (ground state) sehingga akan
menyebabkan bertambah atau berkurangnya bacaan nilai serapan atau unsur yang
Ada beberap faktor gangguan dalam menggunakan SSA :
1. Suhu yang sesuai, suhu gas pembakar harus sesuai dengan suhu unsur yang
akan dianalisis
2. Konsentrasi sampel tidak boleh melebihi kesensitifan dari alat detector SSA.
Ini aan menyebabkan gangguan terhadap garis spectrum dan mengakibatkan
kerusakan pada alat detector SSA
3. Pengaruh penguapan pelarut dan bahan larutan jangan sampai menurunkan
suhu nyala gas pembakar, ini akan menyebabkan bacaan nilai serapan atom
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1.1.Kopi
Nama kopi (Coffea spp.)sebagai bahan minuman sudah tidak asing lagi.Didunia
perdagangan dikenal beberapa golongan kopi, tetapi yang paling sering dibudidayakan
hanya kopi arabika, robusta dan liberika. Pada umumnya, penggolongan kopi
berdasarkan spesies, kecuali kopi robusta. Kopi robusta bukan nama spesies karena
kopi ini merupakan keturunan dari beberapa spesies kopi, terutama Coffea canephora.
1. Kopi Liberika (Coffea liberica)
Kopi liberika berasal dari Angola, kemudian masuk ke Indonesia pada tahun
1965. Beberapa varietas kopi liberika yang pernah didatangkan ke Indonesia
antara lain Ardoniana dan Durvei. Meskipun sudah cukup lama masuk ke
Indonesia tetapi hingga kini jumlahnya masih terbatas karena kualitas buah
dan rendemennya rendah.
2. Golongan Ekselsa
Kopi golongan ekselsa mempunyai adaptasi iklim lebih luas seperti kopi
Liberika dan tidak terlalu peka terhadap penyakit HIV. Jenis ini banyak
dibudidayakan didataran rendah yang basah, yaitu daerah yang tidak sesuai
untuk kopi robusta. Kelemahan jenis kopi ini antara lain kurang laku dipasaran
dibanding kopi robusta karena kualitasnya kurang baik.
Kopi arabika berasal dari Ethiopia dan Abessinia. Kopi ini merupakan jenis
pertama yang dikenal dan dibudidayakan, bahkan termasuk kopi yang paling
banyak diusahakan hingga akhir abad ke-19. Setelah abad ke-19, dominasi
kopi Arabika menurun karena kopi ini sangat peka terhadap penyakit HIV,
terutama di dataran rendah.Beberapa varietas kopi Arabika yang banyak
diusahakan di Indonesia antara lain Abesinia, Pasumah, Marago type, dan
congensis.
4. Kopi Robusta
Kopi Robusta berasal dari Kongo. Kopi ini masuk ke Indonesia pada tahun
1900. Beberpa jenis yang termasuk kopi Robusta antara lain Quillou, Uganda,
dan Chanephora. Oleh karena mempunyai sifat lebih unggul, kopi ini sangat
cepat berkembang. Bahkan kopi Robusta termasuk jenis yang mendominasi
perkebunan kopi di Indonesia hingga saat ini.
5. Golongan Hibrida
Kopi hibrida merupakan turunan pertama hasil perkawinan antara dua spesies
atau varietas sehingga mewarisi sifat-sifat unggul kedua induknya. Namun,
keturunan dari golongan hibrida ini sudah tidak mempunyai sifat yang sama
dengan induk hibridnya. Oleh karena itu, pembiakannya hanya dengan cara
vegetatif seperti setek atau sambungan (Najiatai et al,2006)
1.2Pembuatan Kopi Bubuk
Kopi bubuk adalah biji kopi yang disangrai (roasted) kemudian digiling, dengan atau
tanpa penambahan bahan lain dalam kadar tertentu yang tidak membahayakan
kesehatan(SNI 01 – 3542 – 2004).
Pembuatan kopi bubuk bisa dibagi kedalam dua tahap, yaitu tahap
perendangan dan tahap penggilingan.
Perendangan atau penyangraian adalah proses pemanasan kopi beras pada
suhu 200-225oC. Tujuannya adalah untuk mendapatkan kopi rendang yang
berwarna cokelat kayu manis kehitaman. Kopi beras adalah kopi kering yang
sudah terlepas dari daging buah dan kulit arinya.
Perendangan secara tradisional umumnya dilakukan petani secara terbuka
dengan wajan yang terbuat dari tanah, besi atau baja.Sedang perendangan kopi
oleh pabrik dilakukan secara tertutup dengan mesin\ seperti bath roaster.
2. Penggilingan (penumbukan)
Penggilingan adalah proses pemecahan butir-butir kopi yang telah direndang
untuk mendapatkan kopi bubuk.Penggilingan tradisional dilakukan dengan
cara menumbuk kopi menggunakan alat penumbuk yang disebut lumpang dan
alu.Penggilingan oleh industri atau pabrik menggunakan mesin giling (Najiati
et al.2006).
1.3Syarat Mutu Kopi Bubuk
No Kriteria Uji Persyaratan
1
Kealkalian Abu (ml x
.NaOH/100g)
Maksimal 2,0 mg/kg
Maksimal 30,0 mg/kg
8
9
Timah (Sn)
Raksa (Hg)
Cemaran Arsen (As)
Cemaran Mikroba
Angka Lempeng total
Kapang
Maksimal 40,0 mg/kg
Maksimal 0,03 mg/kg
Maksimal 1,0 mg/kg
Maksimal 106 Koloni/g Maksimal 104 Koloni/g Sumber : SNI 01 -3542- 2004.Kopi Bubuk.Badan Standar Nasional
2.4Logam
Logam dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu logam esensial dan logam nonesensial.
Logam esensial adalah logam yang sangat membantu dalam proses fisiologis makhluk
hidup dengan jalan membantu kerja enzim atau pembentukan organ dari makhluk
yang bersangkutan, yang termasuk logam esensial adalah seng (Zn), tembaga (Cu)
dan selenium (Se).
Logam nonesensial adalah arsen (As), merkuri (Hg), Cadmium (Cd), Timbal
(Pb), Kromium (Cr), dan Aluminium (Al), tetapi beberapa jenis logam lain yang
termasuk kelompok logam esensial dapat pula bersifat racun bila keberadaannya telah
melebihi dari kebutuhan pada proses fsiologi dalam makhluk hidup (Darmono.1995).
2.4.1 Logam Seng (Zn)
Logam zink adalah yang putih kebiru-biruan; Logam ini cukup mudah ditempa dan
liat pada 110-150oC. Zink melebur pada 410 oC dan mendidih pada 906oC. Logamnya yang murni, melarut lambat sekali dalam asam dan dalam alkali; adanya zat-zat
pencemar atau kontak dengan platinum atau tembaga, yang dihasilkan oleh
penambahan beberapa tetes larutan garam dari logam-logam ini, mempercepat reaksi
(Vogel,A.I.1985).
Unsur yang berwarna putih-kebiruan mengkilap, rapuh pada suhu biasa tetapi
putih oksidanya. Sifat lainnya adalah unsur elektropositif, mudah bereaksi dengan O2
tetapi oksida yang terbentuk bersifat melapisi dan menghambat oksidasi selanjutnya;
bereaksi dengan belerang dan unsur logam lainnya (Mulyono.2006)
2.4.2. Zn Dalam Tubuh Manusia
Rata-rata tubuh orang dewasa mengandung 1,4 -2,5 g Zn yang tersebar hampir
disemua sel. Sebahagian besar seng berada di dalam hati , prankeas, ginjal, otot dan
tulang. Jaringan yang banyak mengandung seng adalah bagian mata, kelenjar prostat,
spermatozoa, kulit, rambut dan kuku. Kelebihan seng disimpan di dalam hati dalam
bentuk metalotionein. Lainnya dibawa ke pankreas dan jaringan tubuh lain. Bentuk
simpanan ini akan dibuang bersama sel-sel dinding usus halus yang umurnya 2-5 hari .
Logam seng berperan pula dalam sintesis dan degradasi kalogen,
pembentukan kulit, metabolisme jaringan ikat dan penyembuhan luka, serta dalam
pengembangan fungsi reproduksi laki-laki dan pembentukan sperma, selain itu
sebagai pengangkut sintesis vitamin A, pembentukan antibodi sel, metabolisme
tulang, transpor oksigen, pembentukan struktur dan fungsi membran serta proses
penggumpalan darah (Almatsier,S.2001)
2.4.3. Defesiensi dan Keracunan Zn
Seng adalah yang paling kurang beracun diantara mikro mineral.Tanda-tanda
kekurangan seng adalah gangguan pertumbuhan dan kematangan seksual. Fungsi
pencernaan terganggu, karena gangguan fungsi fankreas dan kerusakan permukaan
saluran cerna. Disamping itu dapat terjadi diare dan gangguan fungsi kekebalan.
Kekurangan seng kronis mengganggu pusat sistem saraf dan fungsi otak.. Kekurangan
seng juga mengganggu fungsi kelenjar tiroid dan laju metabolisme, gangguan nafsu
makan, penurunan ketajaman indra rasa serta memperlambat penyembuhan luka.
Kelebihan seng mempengaruhi metabolisme kolesterol, mengubah nilai
lipoprotein dan dapat mempercepat timbulnya aterosklerosis.Suplemen seng bisa
kaleng yang dilapisi seng . (Sunita.2002).Seng dalam jumlah yang banyak dapat
menyebabkan kematian. Dosis seng yang tinggi juga dapat menghambat penyerapan
besi dari sistem pencernaan (Frances.2006)
2.5 Logam Tembaga (Cu)
Tembaga adalah logam merah muda, yang lunak, dapat ditempa , dan liat. Karena
potensial elektroda standarnya positif, (+0,34 V untuk pasangan Cu/Cu+2) ia tak larut dalam asam klorida dan asam sulfat encer, meskipun dengan adanya oksigen ia bisa
larut sedikit. Asam nitrat yang sedang pekatnya (8M) dengan mudah melarutkan
tembaga (Vogel,A.I.1985 ).Tembaga meleleh pada 1083oC, dan mendidih pada 2.840
o
C. Unsur tembaga di alam dapat ditemukan dalam bentuk logam bebas, akan tetapi
lebih banyak ditemukan dalam bentuk persenyawaan atau sebagai senyawa padat
dalam bentuk mineral.
2.5.1 Cu Dalam Tubuh Manusia
Sebagai logam berat, Cu berada dengan logam-logam berat lainnya seperti Hg, Cd,
dan Cr tetapi logam berat Cu digolongkan kedalam logam berat dipentingkan atau
logam berat esensial, artinya meskipun Cu merupakan logam berat beracun, unsur
logam ini sangat dibutuhkan tubuh meskipun dalam jumlah sedikit.
Kadar Cu dalam tubuh orang dewasa sekitar 50-80 mg, jauh lebih sedikit
daripada Fe dan Zn. Pada manusia Cu paling banyak didapatkan dalam hati dan darah
(Linder,C.M.1992). Logam Cu dibutuhkan untuk sistem enzim oksidatif seperti enzim
askorbat oksidase, sistikrom oksidase, polyfenol oksidase dan lain-lain. Cu juga
dibutuhkan manusia sebagai kompleks Cu-protein yang mempunyai fungsi tertentu
dalam pembentukan hemoglobin, kolagen, pembuluh darah dan myelin otak.
Disamping itu, Cu juga terlibat dalam proses pembentukan energi untuk metabolisme
2.5.2 Defesiensi dan Keracunan Cu
Defesiensi Cu tidak jarang terjadi pada bayi prematur atau yang berat badannya
rendah. Defesiensi juga mungkin dapat diakibatkan atau ditingkatkan oleh banyaknya
yang terekskresi melalui urin. Gejala defisiensi Cu termasuk penurunan kadar
Cu-serum dan seruloplasmin, anemia, depigmentasi kulit, rambut kusut, kerusakan otak
(Linder,C.M.1992)
Namun demikian meski sangat dibutuhkan, logam Cu akan berbalik menjadi
bahan racun untuk manusia bila masuk dalam jumlah berlebihan. Bentuk Cu yang
paling beracun adalah debu-debu Cu yang dapat mengakibatkan kematian pada dosis
3,5 mg/kg. Sedangkan daya racun yang dimiliki oleh garam klorida terhidrasi
(CuCl2.2H2O) akan mengakibatkan kematian pada dosis 9,4 mg/kg. Untuk garam
sulfat dalam bentuk terhidrasi (CuSO4.5H2O) daya racun yang dimilikinya akan
mengakibatkan kematian pada dosis 33 mg/kg .Pada manusia, efek keracunan utama
yang ditimbulkan akibat terpapar oleh debu atau uap logam Cu adalah terjadinya
gangguan pada jalur pernafasan sebelah atas,terjadinya kerusakan atropik pada
selaput lendir yang berhubungan dengan hidung (Heryando.1994)
2.6Perombakan Bahan Organik dan Biologis
Untuk menentukan kandungan mineral bahan makanan, bahan makanan dihancurkan
atau didekstruksi terlebih dahulu. Cara yang biasa dilakukan yaitu dengan metode
pengabuan kering (dry ashing) dan pengabuan basah (wet digestion). Pemilihan
metode pengabuan tersebut tergantung pada sifat zat organik dalam bahan, sifat zat
anorganik yang ada dalam bahan, mineral yang akan dianalisa serta sensitivitas yang
digunakan (Apriyanto,A.1989).
a. Dekstruksi Basah
Dekstruksi basah yaitu pemanasan sampel (organic atau biologis) dengan
adanya pengoksidasi kuat seperti asam-asam mineral baik tunggal maupun
pada temperature yang cukup tinggi dan jika pemanasan dilakukan secara
kontinu pada waktu yang cukup lama, maka sampel akan teroksidasi sempurna
sehingga meninggalkan berbagai elemen-elemen pada larutan asam dalam
bentuk senyawa anorganik yang sesuai untuk dianalisis (Anderson,R.1987).
Dekstruksi basah pada prinsipnya adalah penggunaan asam nitrat untuk
mendekstruksi zat organik pada suhu rendah dengan maksud mengurangi
kehilangan mineral akibat penguapan. Pada tahap selanjutnya, proses
seringkali berlangsung sangat cepat akibat pengaruh asam perklorat atau hidrat
peroksida. Dekstruksi basah pada umumnya digunakan untuk menganalisa
arsen, tembaga, timah hitam, timah putih, dan seng.
Ada tiga macam cara kerja dekstruksi basah dapat dilakukan, yaitu :
1. Dekstruksi basah menggunakan HNO3 dan H2SO4
2. Dekstruksi basah menggunakan HNO3,H2SO4 dan HClO4
3. Dekstruksi basah menggunakan HNO3,H2SO4 dan H2O2(Apriyanto,A.1989)
b. Dekstruksi Kering
Dekstruksi kering merupakan yang paling umum digunakan dengan cara
membakar habis bagian organik dan meninggalkan residu anorganik sebagai
abu untuk analisis lebih lanjut. (Anderson,R.1987)
Pengabuan kering dapat diterapkan pada hampir semua analisa mineral,
kecuali merkuri dan arsen. Cara ini lebih membutuhkan sedikit ketelitian
sehingga mampu menganalisa bahan lebih banyak daripada pengabuan basah.
Pengabuan kering dapat dilakukan untuk menganalisa kandungan Ca,P dan K
akan tetapi kehilangan K dapat terjadi apabila suhu yang digunakan terlalu
tinggi. Oleh karena itu, untuk menganalisa K harus dihindari pemakaian suhu
lebih tinggi dari 480oC. Suhu 450oC tidak dapat digunakan jika menganalisa kandungan seng (Zn), yang penggunaan suhu yang terlalu tinggi juga
menyebabkan beberapa mineral menjadi tidak larut (misal timah putih)
2.7Spektrofotometri Serapan Atom
Metode Spektrofotometri Serapan Atom pertama kali dikembangkan oleh Walsh,
Alkamede, dan Melatz (1955) yang ditujukan untuk analisis renik dalam sampel yang
dianalisis. Pada Spektrofotometri Serapan Atom terjadi penyerapan sumber radiasi (di
luar nyala) oleh atom-atom netral dalam keadaan gas yang berada dalam nyala.
Radiasi yang diserap oleh atom-atom netral dalam keadaan gas tadi biasanya radiasi
sinar tampak atau ultraviolet (Mulja,M.1995)
2.7.1 Prinsip Dasar Spektrofotometri Serapan Atom
Jika cahaya dengan panjang gelombang resonansi dilewatkan nyala yang mengandung
atom-atom yang bersangkutan, maka sebagian cahaya itu diserap dan jauhnya
penyerapan berbanding lurus dengan banyaknya atom keadaan dasar yang berada
dalam nyala.
Proses terbentuknya uap yang mengandung atom-atom dalam nyala, dapat
diringkaskan sebagai berikut: bila suatu larutan yang mengandung senyawa yang
cocok dari yang akan diselidiki itu dilewatkan kedalam nyala, terjadilah peristiwa
berikut secara berurutan :
1. Penghilangan pelarut atau evaporasi yang meninggalkan residu padat
2. Penguapan zat padat dilanjutkan denga disosiasi menjadi atom-atom penyususn
2.7.2 Instrumentasi Spektrofotometri Serapan Atom
Sumber Sinar Nyala monokromator detektor
Tempat sampel read out
a. Sumber sinar
Sumber sinar yang lazim dipakai adalah lampu katoda berongga. Lampu ini
terdiri atas tabung kaca tertutup yang mengandung suatu katoda dan anoda.
Katoda sendiri berbentuk silinder beronggga yang terbuat dari logam atau
dilapisi dengan logam tertentu. Tabung logam ini diisi dengan gas mulia (neon
atau argon) dengan tekanan rendah. Neon biasanya lebih disukai karena
memberikan intensitas pancaran lampu yang lebih rendah.
b. Tempat sampel
Dalam anaisis dengan Spektrofotometri Serapan Atom, sampel yang akan
dianalisis harus diuraikan menjadi atom-atom netral yang masih dalam
keadaan asas. Ada beberapa macam alat yang dapat digunakan untuk
mengubah suatu sampel menjadi uap atom-atom yaitu dengan nayala dan tanpa
nyala
• Nyala(Flame)
Nyala digunakan untuk mengubah sampel yang berupa padatan atau cairan
menjadi bentuk uap atomnya, dan juga berfungsi untuk atomisasi.
• Tanpa nyala (Flameless)
Pengatoman dapat dilakukan dalam tungku dari grafit, kemudian tabung
listrik grafit. Akibat pemanasan ini, maka zat yang akan dianalisis berubah
menjadi atom-atom netral (Rohman,A.2007)
c. Monokromator
Monokromator memisahkan, mengisolasi dan mengontrol intensitas dari
radiasi energi yang mencapai detektor. Dapat dianggap sebagai suatu saringan
yang dapat disesuaikan dengan suatu daerah yang spesifik, yang mana
spektrum transmisi yang tidak sesuai akan ditolak. Idealnya monokromator
harus mampu memisahkan garis resonansi. Karena ada beberapa unsur yang
mudah dan ada beberapa unsur yang sulit (Haswell, S.J.1991)
d. Detektor
Detektor pada spektrofotometer serapan atom berfungsi mengubah intensitas
radiasi yang akan datang menjadi arus listrik. Pada spektrofotometer serapan
atom yang umum dipakai sebagai detektor adalah tabung penggandaan foton
(PMT = Photo Multiplier Tube Detector) (Mulja,M.1995)
e. Read out
Sistem pencatat yang digunakan pada instrument SSA berfungsi untuk
mengubah sinyal yang diterima melalui bentuk digital, berarti sistem pencatat
menegah atau mengurangi kesalahan dalam pembacaan skala secara paralaks,
kesalahan interpolasi diantara pembacaan skala dan sebagainya, serta
menyeragamkan tampilnya data, yaitu dalam satuan absorbansi (Haswell,
S.J.1991)
2.7.3 Gangguan Pada SSA dan Cara Mengatasinya
Gangguan diartikan sebagai suatu factor kimia atau fisika yang akan mempengaruhi
jumlah atom pada anlit dalam keadaan dasar (ground state) sehingga akan
menyebabkan bertambah atau berkurangnya bacaan nilai serapan atau unsur yang
Ada beberap faktor gangguan dalam menggunakan SSA :
1. Suhu yang sesuai, suhu gas pembakar harus sesuai dengan suhu unsur yang
akan dianalisis
2. Konsentrasi sampel tidak boleh melebihi kesensitifan dari alat detector SSA.
Ini aan menyebabkan gangguan terhadap garis spectrum dan mengakibatkan
kerusakan pada alat detector SSA
3. Pengaruh penguapan pelarut dan bahan larutan jangan sampai menurunkan
suhu nyala gas pembakar, ini akan menyebabkan bacaan nilai serapan atom
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1Alat-alat
- Spektrofotometri Serapan Atom AA-6300 Shimadzu
- Alat-alat gelas pyrex
- Pipet volume pyrex
- Hot Plate Fisons
- Oven Fisher
- Botol akuades
- Corong
- Spatula
- Kertas saring Whatman No.42
- pH meter Hanna
3.2Bahan-bahan
- Bubuk kopi
- Larutan induk seng 1000 mg/L
- Larutan induk tembaga 1000 mg/L
- Akuades
- H2SO4 97 % E.Merck
- H2O2 30 % E.Merck
3.3Prosedur Penelitian 3.3.1 Penyediaan Sampel
Bubuk kopi dimasukkan kedalam cawan penguap, lalu dikeringkan didalam oven pada
suhu 105oC selama 5 jam dan dimasukkan kedalam desikator.
3.3.2 Pembuatan larutan standar Seng 100 mg/L
Sebanyak 5 mL larutan induk logam seng 1000 mg/L dimasukkan kedalam labu takar
50 mL lalu diencerkan dengan aquades sampai garis tanda lalu dihomogenkan.
3.3.3 Pembuatan larutan standar Seng 10 mg/L
Sebanyak 5 mL larutan induk logam seng 100 mg/L dimasukkan kedalam labu takar
50 mL lalu diencerkan dengan aquades sampai garis tanda lalu dihomogenkan.
3.3.4 Pembuatan larutan standar Seng 5 mg/L
Sebanyak 25 mL larutan induk logam seng 10 mg/L dimasukkan kedalam labu takar
50 mL lalu diencerkan dengan aquades sampai garis tanda lalu dihomogenkan.
3.3.5 Pembuatan larutan Seri Standar Seng 0,5 ; 1,0 ; 1,5 dan 2,0 mg/L
Sebanyak 5; 10; 15 dan 20 mL larutan seng 5 mg/L dimasukkan dalam 4 buah labu
takar 50 mL kemudian diencerkan dengan akuades sampai garis tanda dan
dihomogenkan sehingga diperoleh larutan seri standar seng 0,5; 1,0; 1,5; dan 2,0
mg/L.
3.3.6 Pembuatan Kurva Standar
Larutan seri standar seng 0,5 mg/L dibuat pH 3 kemudian diukur
absorbansinya dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom pada λspesifik =
213,9 nm. Perlakuan dilakukan sebanyak 3 kali dan dilakukan hal yang sama untuk
3.3.7 Pembuatan larutan standar Tembaga 100 mg/L
Sebanyak 5 mL larutan induk logam Tembaga 1000 mg/L dimasukkan kedalam labu
takar 50 mL lalu diencerkan dengan aquades sampai garis tanda lalu dihomogenkan.
3.3.8 Pembuatan larutan standar Tembaga 10 mg/L
Sebanyak 5 mL larutan induk logam Tembaga 100 mg/L dimasukkan kedalam labu
takar 50 mL lalu diencerkan dengan aquades sampai garis tanda lalu dihomogenkan.
3.3.9 Pembuatan larutan standar Tembaga 5 mg/L
Sebanyak 25 mL larutan induk logam Tembaga 10 mg/L dimasukkan kedalam labu
takar 50 mL lalu diencerkan dengan aquades sampai garis tanda lalu dihomogenkan.
3.3.10 Pembuatan larutan Seri Standar Tembaga 0,5 ; 1,0 ; 1,5 dan 2,0 mg/L
Sebanyak 5; 10; 15 dan 20 mL larutan Tembaga 5 mg/L dimasukkan dalam 4 buah
labu takar 50 mL kemudian diencerkan dengan akuades sampai garis tanda dan
dihomogenkan sehingga diperoleh larutan seri standar seng 0,5; 1,0; 1,5; dan 2,0
mg/L.
3.3.11 Pembuatan Kurva Standar
Larutan seri standar Tembaga 0,5 mg/L dibuat pH 3 kemudian diukur
absorbansinya dengan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom pada λspesifik =
324,8 nm. Perlakuan dilakukan sebanyak 3 kali dan dilakukan hal yang sama untuk
larutan seri standar 1,0; 1,5; dan 2,0 mg/L.
3.3.12 Penentuan Kadar Seng dan Tembaga pada Sampel
Sebanyak 5 g sampel kering dimasukkan kedalam gelas erlenmeyer 250 mL
kemudian ditambahkan 10 ml HNO3 pekat dan 2 mL H2SO4 pekat dicampur ratakan
sehingga diperoleh larutan sampel.
Larutan sampel tersebut ditambahkan 5 mL HNO3 pekat dan 3 mL H2O2 30 %
kemudian dipanaskan diatas hot plate selama 30 menit sampai terbentuk larutan
Hasil dekstruksi disaring dengan kertas saring Whatman No.42 kemudian
filtrat diencerkan dengan akuades sampai garis tanda dalam labu takar 50 mL dan
diatur pH=3. Absorbansi larutan seng dan tembaga diukur dengan Spektrofotometer
Serapan Atom pada λspesifik = 213,9 nm dan λspesifik = 324,8 nm. (Perlakuan dilakukan
sebanyak 3 kali dan dilakukan hal yang sama untuk kopi bubuk buatan rumah tangga).
3.4 Bagan Penelitian
3.4.1. Preparasi Sampel
Dimasukkan kedalam cawan penguap
Dikeringkan didalam oven pada suhu 105 oC selama 5 jam
Dimasukkan kedalam desikator
Sampel kopi bubuk
3.4.2.Analisis Sampel dengan Metode Dekstruksi Basah (SNI 01-3551-2000)
Dimasukkan kedalam gelas erlenmeyer 250 ml
Ditambahkan 10 mL HNO3 pekat
Ditambahkan 2 mL H2SO4 pekat
Dipanaskan diatas hot plate selama 30 menit
Didinginkan
Ditambahkan 5 ml HNO3 pekat
Ditambahkan 3 ml H2O2 30 %
Dipanaskan diatas hot plate selama 30 menit
Didinginkan
Disaring dengan kertas saring whatman No.42
Diencerkan dengan aquades dalam labu takar 50 mL
Dibuat pH = 3
Diukur absorbansi Zn dengan Spektrofotometer Serapan Atom
pada λspesifik = 213,9 nm
Diukur absorbansi Cu dengan Spektrofotometer Serapan Atom
pada λspesifik = 324,8 nm 500 g sampel kering
Larutan sampel
larutan kuning jernih
Filtrat Residu
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Logam Zn
Kondisi alat Spektrofotometer Serapan Atom(SSA) pada pengukuran konsentrasi logam Zn dapat dilihat pada table 4.1
Tabel 4.1 Kondisi Alat SSA Merek Shimadzu Tipe AA-6300 pada Pengukuran
Konsentrasi Logam Zn
No Parameter Logam Zn
1
2
3
4
5
6
Panjang gelombang (nm)
Tipe Nyala
Kecepatan aliran gas pembakar(L/min)
Kecepatan aliran udara (L/min)
Lebar celah (nm)
Ketinggian tungku(mm)
213,9
Udara-C2H2
2,0
15,0
0,7
Tabel 4.2 Data Absorbansi Larutan Seri Standart Zn
Konsentrasi (mg/L) Absorbansi Rata-Rata
0,0000 0,0035
0,5000 0,2317
1,0000 0,4043
1,5000 0,5604
2,0000 0,7719
Gambar 4.1 Kurva Kalibrasi Larutan Seri Standar Seng (Zn)
4.1.2 Logam Cu
Tabel 4.3 Kondisi Alat SSA Merek Shimadzu Tipe AA-6300 pada Pengukuran Konsentrasi Logam Cu
No Parameter Logam Zn
1
2
3
4
5
6
Panjang gelombang (nm)
Tipe Nyala
Kecepatan aliran gas pembakar(L/min)
Kecepatan aliran udara (L/min)
Lebar celah (nm)
Ketinggian tungku(mm)
324.8
Udara-C2H2
1,8
15,0
0,7
7
Tabel 4.4 Data Absorbansi Larutan Seri Standar Cu
Konsentrasi (mg/L) Absorbansi Rata-Rata
0,0000 0,0004
0,5000 0,0521
1,0000 0,1126
1,5000 0,1410
Gambar 4.2 Kurva Kalibrasi Larutan Seri Standar Tembaga (Cu)
4.2 Pengolahan Data
4.2.1 Logam Zn
4.2.1.1 Penurunan Persamaan Garis Regresi dengan Metode Least Square
Tabel 4.5 Penurunan Persamaan Garis Regresi dengan Metode Least Square
Persamaan garis regresi untuk kurva kalibrasi dapat diturunkan dari persamaan garis
y = αx + b
Dimana :
α = slope
b = intersept
Selanjutnya harga slope dapat ditentukan dengan mengunakan metode least square sebagai berikut :
α = 2
Dengan mensubtitusikan harga-harga yang tercantum pada table 4.5 pada persamaan ini maka diperoleh :
Maka diperoleh persamaan garis :
y = 0,3731x + 0,0213
4.2.1.2Koefisien Korelasi
Koefisien korelasi dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :
[
]
2Maka koefisien korelasi untuk Seng (Zn) adalah :
[
] [
]
0,9358 0,99684.2.1.3. Penentuan Konsentrasi
Untuk menghitung konsentrasi dari logam Zn, maka diambil salah satu data hasil pengukuran absorbansi pada logam Zn dari sampel kopi bubuk pada minggu tertentu.Data dapat dilihat pada tabel 4.6.
Tabel 4.6. Data Hasil Pengukuran Absoransi Logam Zn Pada Kopi Bubuk Industri Pabrik dan Industri Rumah Tangga dengan Metode Dekstrusi Basah Secara SSA
Sampel Minggu Absorbansi Absorbansi
Keterangan :
KBP : Kopi Bubuk Industri Pabrik
KBRT : Kopi Bubuk Industri Rumah Tangga
Konsentrasi logam Zn untuk sampel kopi bubuk industri pabrik dapat dihitung dengan mensubtitusikan nilai Y (absorbansi) minggu I untuk perlakuan I kepersamaan garis regresi
Konsentrasi dinyatakan dalam bentuk :
X ± d (mg/L)
d=t(P.dk)Sx
d=4,30 x 0,1x0,0002
d=86 x 10 -5 mg /L
Dari data hasil pengukuran kadar seng pada kopi bubuk industri pabrik pada minggu I untuk perlakuan I dengan metode dekstruksi basah adalah sebesar :
0,5879 ± 0,00086 mg /L.
4.2.1.4 Penentuan Kadar seng (Zn) Pada Kopi Bubuk Dalam Satuan mg/kg
Pengukuran kadar seng (Zn) dalam kopi bubuk industri pabrik pada minggu I untuk perlakuan I dengan metode dekstruksi basah dengan Spektrofotometer Serapan Atom :
Kadar logam Zn = x mg kg
4.2.2 Logam Cu
4.2.2.1 Penurunan Persamaan Garis Regresi dengan Metode Least Square
Tabel 4.7. Penurunan Persamaan Garis Regresi dengan Metode Least Square untuk Cu
Persamaan garis regresi untuk kurva kalibrasi dapat diturunkan dari persamaan garis
y = αx + b
Dimana
α = slope
b = intersept
Selanjutnya harga slope dapat ditentukan dengan mengunakan metode least square sebagai berikut :
Dengan mensubtitusikan harga-harga yang tercantum pada table 4.7 pada persamaan ini maka diperoleh :
α 0,1010
Maka diperoleh persamaan garis :
y = 0,1010x + 0,0019
4.2.2.2Koefisien Korelasi
Koefisien korelasi dapat ditentukan dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :
r =
Maka koefisien korelasi untuk tembaga (Cu) adalah :
r =
4.2.2.3. Penentuan Konsentrasi
Tabel 4.8. Data Hasil Pengukuran Absorbansi Logam Cu pada Kopi Bubuk Industri Pabrik dan Industri Rumah Tangga dengan Metode Dekstrusi Basah Secara SSA
Sampel Minggu Absorbansi Absorbansi
Rata-Rata (A)
KBRT : Kopi Bubuk Industri Rumah Tangga
Konsentrasi logam Zn untuk sampel kopi bubuk industri pabrik dapat dihitung dengan mensubtitusikan nilai Y (absorbansi) minggu I untuk perlakuan I kepersamaan garis regresi :
Konsentrasi dinyatakan dalam bentuk :
X ± d (mg/L)
1
Dari daftar t student untuk n=3, dengan derajat kebebasan (dk) = n-1 = 3-1 = 2.
Untuk derajat kepercayaan 95% (P = 0,05) nilai t = 4,30 maka :
d=t(P.dk)Sx
d=4,30 x 0,1x0,004
d=0,00172 mg /L
Dari data hasil pengukuran kadar tembaga pada kopi bubuk industri pabrik pada minggu I untuk perlakuan I dengan metode dekstruksi basah adalah sebesar :
1,1904 ± 0,00172 mg /L
4.2.2.4 Penentuan Kadar Tembaga (Cu) Pada Kopi Bubuk dalam Satuan mg/kg
Pengukuran kadar seng (Zn) dalam kopi bubuk industri pabrik pada minggu I untuk perlakuan I dengan metode dekstruksi basah dengan Spektrofotometer Serapan Atom :
Kadar Logam Cu= x mg kg
4.3 Pembahasan
Penelitian ini dilakukan dengan membandingkan kadar Zn dan Cu pada kopi bubuk industri pabrik dan kopi bubuk industri rumah tangga dengan variasi persatu minggu pengambilan sampel.
Penelitian ini dilakukan untuk membuktikan apakah kadar Zn dan Cu yang terkandung dalam kopi bubuk tersebut masih dalam batas terkendali. Menurut syarat mutu SNI 01-3542-2004 tentang kopi bubuk, kadar maksimum cemaran Zn dan Cu adalah 40 mg/kg.(SNI 01 -3542- 2004.Kopi Bubuk.Badan Standar Nasional)
Kurva kalibrasi larutan seri standar Zn dan Cu (tabel 4.5 dan tablel 4.7) dibuat dengan memvariasikan konsentrasi larutan standar Zn dan Cu dengan menggunakan metode Least Square sehingga diperoleh persamaan garis linear untuk Zn, y = 0,1010x + 0,0019 dengan grafik pada gambar 1, dan untuk Cu, y = 0,1010x + 0,0019 dengan grafik pada gambar 2.
Dalam penentuan apakah suatu penelitian memiliki titik yang sejajar pada kurva kalibrasi dengan harga slope positif dapat dilihat dari perhitungan koefisien korelasi untuk Zn = 0,9968 dan Cu=0,9953. Hal ini menunjukkan adanya hubungan atau korelasi positif antara konsentrasi dengan absorbansi. Pada penelitian analitik, grafik kurva kalibrasi yang baik ditunjukkan dengan harga r ≥ 0,99. (Miller
J.C.N.1986)
Dari hasil penelitian diperoleh bahwa kadar Zn dan Cu untuk masing-masing sampel berbeda-beda. Untuk kopi bubuk industri pabrik,logam Zn mengalami peningkatan pada minggu ke II dan IV, dan logam Cu mengalami peningkatan pada minggu ke II.Untuk kopi bubuk industri rumah tangga,logam Zn mengalami peningkatan pada minggu ke II dan logam Cu mengalami peningkatan pada minggu ke III.
Perbedaan ini kemungkinan disebabkan oleh kondisi geografis yang berbeda dari tiap lahan perkebunan kopi tersebut, proses pengolahan seperti perendangan ,penggilingan dan pengemasan juga menjadi faktor yang menyebabkan kadar logam pada kopi bubuk tersebut berbeda.
Untuk sampel kopi bubuk industri pabrik diperoleh konsentrasi rata-rata untuk Zn = 7,872 mg/kg dan untuk Cu= 13,256 mg/kg.Untuk sampel kopi bubuk industri rumah tangga diperoleh konsentrasi rata-rata untuk Zn=13,071 mg/kg dan untuk Cu = 11,990 mg/kg.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang dilakukan diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Untuk sampel kopi bubuk industri pabrik diperoleh konsentrasi untuk :
a. Zn = 7,872 mg/kg
b. Cu = 13,256 mg/kg.
Untuk sampel kopi bubuk industri rumah tangga diperoleh konsentrasi untuk :
a. Zn =13,071 mg/kg
b. Cu = 11,990 mg/kg.
2. Kadar seng dan tembaga yang terkandung dalam kopi bubuk yang dianalisa
tersebut masih sesuai dengan syarat mutu SNI 01-3542-2004.
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
AAK. 1988. Budidaya Tanaman Kopi. Yogyakarta: Kanisius
Almatsier, S. 2001. Prinsip dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Anderson, R. 1987. Sample Pretreatment and Separation. New York: Jhon Wiley and Sons
Apriyanto, A. 1989. Analisis Pangan.Bogor:Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Pusat antar Universitas Pangan dan Gizi.
Darmono. 1995. Logam Berat dalam Sistem Biologi Makhluk Hidup. Jakarta: UI-Press
Frances, S. 2006. Nutrition Consep And Cpntroversis. Edisi kesepuluh. Amerika: Thomson Wadsworth
Greenberg, A.et al. 1985. Standart Methhods for The Examination of Water and
Wastewater. Sixth Edition. DC: American Public Health Association.
Haswell, S.J. 1991. Atomoc Absorption Spectrometry Theory,Design,and application. New York: Elsevier Science Publishing Company Inc.
Heryando, P. 1994. Pencemaran dan Toksikologi Logam Berat. Jakarta: Pt.Rineka Cipta
Khopkar, S.M. 2002. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: UI-Press
Linder, C.M. 1992. Biokimia Nutrisi dan Metabolisme. Jakarta: UI-Press
Mulja, M. 1995. Analisis Instrumental. Surabaya: Airlangga University Press
Mulyono. 2006. Kamus Kimia.Cetakan Pertama. Jakarta: Gramedia
Rohman, A. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
SNI-01-3542-2004. Tahun 2004. Kopi Bubuk. Badan Standar Nasional
Vogel, A.I. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro Dan Semimikro. Jakarta: PT Kalman Media Pustaka
Vogel,A.I. 1994. Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Edisi Kelima. Jakarta : PT Kalman Media Pustaka
Tabel 1. Data Hasil Pengukuran Kadar Seng pada Kopi Bubuk dengan Metode Dekstruksi Basah Secara SSA
No Sampel Minggu Kadar Logam
Zn(mg/L)
Kadar Logam Zn(mg/Kg)
1 KBP I 0,5879 ± 0,00086 5,879
II 0,9704 ± 0,00077 9,704
III 0,61150 ± 0,00043 6,150
IV 0,9575 ± 0,00086 9,575
2 KBRT I 1,2889 ± 0,00100 12,889
II 1,4151 ± 0,00129 14,151
III 1,2351 ± 0,00052 12,351
IV 1,2891 ± 0,00069 12,891
Tabel 2. Data Hasil Pengukuran Kadar Tembaga pada Kopi Bubuk dengan Metode Dekstruksi Basah Secara SSA
No Sampel Minggu Kadar Logam
Cu(mg/L)
Kadar Logam Cu(mg/Kg)
1 KBP I 1,1904 ± 0,00172 11,904
II 1,4145 ± 0,00172 14,145
III 1,3149 ± 0,00215 13,149
IV 1,3825 ± 0,00129 13,825
2 KBRT I 1,1188 ± 0,00129 11,188
II 1,1911 ± 0,00125 11,911
III 1,2918 ± 0,00215 12,918