1
PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG DAUN DAN BUNGA
MARIGOLD (
Tagetes erecta
) DALAM PAKAN
TERHADAP KUALITAS DAN KANDUNGAN
VITAMIN A TELUR AYAM
SKRIPSI
YOLANDA
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
2 RINGKASAN
YOLANDA. D24080040. 2012.
Pengaruh Pemberian Tepung Daun dan Bunga Marigold (Tagetes erecta) dalam Pakan terhadap Kualitas dan Kandungan Vitamin A Telur Ayam. Skripsi. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.Pembimbing Utama : Ir. Widya Hermana, M.Si. Pembimbing Anggota : Ir. Lidy Herawaty, MS.
Marigold (Tagetes erecta) merupakan tanaman yang telah lama dikenal dan telah dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dan tujuan. Masyarakat pada umumnya menggunakan marigold sebagai anti nematoda, fungisida, dan insektisida karena kandungan terpenoidnya. Marigold juga biasa digunakan sebagai pewarna makanan karena terdapat karotenoid. Dalam bidang peternakan karotenoid dapat digunakan untuk menghasilkan warna yang diinginkan pada produk unggas dan menjadi sumber provitamin A yang dapat diubah menjadi vitamin A dalam tubuh hewan yang pada akhirnya dapat meningkatkan kandungan vitamin A pada produk peternakan.
Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh penggunaan tepung daun, tepung bunga, dan campuran tepung daun dan bunga marigold dalam pakan ayam terhadap kualitas dan kandungan vitamin A pada telur ayam.
Penelitian ini menggunakan 48 ekor ayam petelur fase produksi jenis Hy-Line Brown mulai umur 19 minggu yang dilakukan di Laboratorium Lapang Ilmu Nutrisi Ternak Unggas, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor dengan pemeliharaan selama 11 minggu dari bulan April sampai Juli 2011. Penelitian terdiri dari 4 perlakuan, dan 3 ulangan, setiap ulangan terdiri dari 4 ekor ayam. Perlakuan yang diberikan terdiri atas R0 (perlakuan kontrol), R1 (pakan dengan 5% tepung daun marigold), R2 (pakan dengan 5% tepung bunga marigold), dan R3 (pakan dengan 2,5% tepung daun + 2,5% tepung bunga marigold). Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan sidik ragam (Analysis of Variance/ANOVA), jika didapat hasil yang berpengaruh nyata maka dilakukan uji lanjut dengan menggunakan uji Duncan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi pakan ayam petelur sangat dipengaruhi oleh perlakuan R3. Pakan dengan perlakuan R2 dan R3 berpengaruh nyata meningkatkan produksi telur dan menurunkan angka konversi pakan. Pemberian marigold baik daun, bunga, maupun campuran daun dan bunga sangat berpengaruh nyata meningkatkan skor warna kuning telur. Pemberian pakan yang mengandung marigold baik R1, R2, dan R3 tidak berpengaruh terhadap bobot telur, bobot putih telur, bobot kuning telur, bobot kerabang, tinggi putih telur, Haugh Unit, dan tebal kerabang. Kandungan vitamin A pada kuning telur tertinggi dihasilkan oleh pakan kontrol. Pakan yang mengandung tepung marigold tidak memberikan hasil yang lebih baik pada kualitas telur dibandingkan dengan pakan kontrol, kecuali pada skor warna kuning telur. Pemberian marigold tidak memberi dampak negatif terhadap kualitas telur, sehingga marigold dapat digunakan sebagai sumber warna untuk kuning telur.
3 ABSTRACT
Effect of Marigold Leaves and Flowers Meal (Tagetes erecta) in Diet to Quality and Vitamin A Content of Egg
Yolanda, W. Hermana and L. Herawati
Marigold (Tagetes erecta) is a multipurpose plant. Marigold contain terpenoid and karotenoid that useful for nematocidal, insecticidal activity, and food coloring. The aim of the experiment to study the effect of marigold addition in diet on performance and egg quality of laying hens. The experiment used 48 laying hens that divided into 4 treatments and 3 replicates with 4 laying hens each replication. The treatment diets were R0 (basal diet), R1 (diet with 5% marigold leaves meal/MLM), R2 (diet with 5% marigold flowers meal/MFM), and R3 (diet with 2.5% MLM + 2.5% MFM). The data were analyzed using analysis of variance and significant differences among treatments were tested using Duncan Test. The results showed that using MLM and
MFM in the diet didn’t effect significantly to egg weight, albumen weight, yolk weight, albumen height, shell weight, shell thickness, and Haugh Unit, but for feed consumption and egg yolk colour were very significantly affected (P<0.01). Hen day production and feed conversion were significantly different (P<0.05). The highest content of vitamin A in egg yolk obtained by diet without marigold. Based on the results that the diet with marigold meal didn’t give better result on egg quality than basal diet, exept on egg yolk colour, and has no detrimental effect on egg quality, so marigold can be used for egg yolk pigmentation.
4
PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG DAUN DAN BUNGA
MARIGOLD (
Tagetes erecta
) DALAM PAKAN
TERHADAP KUALITAS DAN KANDUNGAN
VITAMIN A TELUR AYAM
YOLANDA D24080040
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan
pada Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor
DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN
5 Judul : Pengaruh Pemberian Tepung Daun dan Bunga Marigold (Tagetes erecta)
dalam Pakan terhadap Kualitas dan Kandungan Vitamin A Telur Ayam Nama : Yolanda
NIM : D24080040
Menyetujui,
Pembimbing Utama
(Ir. Widya Hermana, M.Si) NIP. 19680110 199203 2 001
Pembimbing Anggota
(Ir. Lidy Herawaty, MS) NIP. 19620914 1968703 2 009
Mengetahui: Ketua Departemen
Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Institut Pertanian Bogor
(Dr. Ir. Idat Galih Permana, MSc.Agr) NIP: 19670506 199103 1 001
6 RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 28 September 1990 di Metro, Lampung. Penulis adalah anak tunggal dari pasangan Bapak A. S. Riyadi dan Ibu R. M. Napitupulu.
Penulis mulai menempuh pendidikan di TK Pertiwi Way Jepara, Lampung Timur dan lulus pada tahun 1996. Penulis kemudian melanjutkan pendidikan dasar dan lulus pada tahun 2002 dari Sekolah Dasar Negeri 1 Gaya Baru Satu, Lampung Tengah. Pendidikan
lanjutan menengah pertama diselesaikan pada tahun 2004 di SMP Negeri 1 Way Jepara, Lampung Timur. Pendidikan menengah atas diselesaikan pada tahun 2008 di SMA Negeri 1 Way Jepara, Lampung Timur.
Penulis diterima sebagai mahasiswa program studi Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor melalui jalur Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada tahun 2008. Selama masa kuliah penulis menerima beasiswa Eka Tjipta Foundation (2008-2012).
7 KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul Pengaruh Pemberian Tepung Daun dan Bunga Marigold (Tagetes erecta) dalam Pakan terhadap Kualitas dan Kandungan Vitamin A Telur Ayam. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Peternakan.
Skripsi ini ditulis berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada bulan April 2011 sampai dengan Januari 2012 bertempat di Laboratorium Lapang Nutrisi Unggas, Depertemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Dramaga, Bogor.
Skripsi ini berisikan informasi tentang pengaruh manipulasi pakan menggunakan tepung marigold yang mengandung karotenoid terhadap ayam petelur dan telurnya. Pakan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kualitas telur ayam yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh penggunaan tepung daun, tepung bunga, dan campuran tepung daun dan bunga marigold dalam pakan ayam terhadap kualitas dan kandungan vitamin A pada telur ayam. Penulis berharap penulisan skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis dan semua pihak yang membutuhkan.
Bogor, Juli 2012
9
Rancangan Percobaan dan Analisis Data ... 17
Perlakuan ... 17
Rancangan Percobaan ... 17
Peubah yang Diamati ... 18
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 20
Konsumsi Pakan ... 20
Produksi Telur ... 21
Konversi Pakan ... 23
Bobot Telur ... 25
Bobot Putih Telur ... 26
Bobot Kuning Telur ... 26
Tinggi Putih Telur ... 27
Bobot Kerabang ... 28
Tebal Kerabang ... 28
Haugh Unit ... 28
Skor Kuning Telur ... 29
Vitamin A Telur ... 30
KESIMPULAN DAN SARAN ... 33
Kesimpulan ... 33
Saran ... 33
UCAPAN TERIMAKASIH ... 34
DAFTAR PUSTAKA ... 35
10 DAFTAR TABEL
Nomor Halaman
1. Karakteristik Performa dan Kualitas Telur Ayam yang Diberi
Marigold ... 4
2. Persyaratan Mutu Pakan Untuk Ayam Ras Petelur Dara (Layer) ... 7
3. Kebutuhan Nutrien Ayam Petelur Umur 18-32 Minggu ... 8
4. Komposisi Sebutir Telur ... 11
5. Kandungan Nutrien Daun dan Bunga Marigold (As fed) ... 15
6. Komposisi Pakan Perlakuan ... 15
7. Kandungan Nutrien Pakan Perlakuan ... 16
8. Rataan Konsumsi Pakan, Produksi Telur, Konversi Pakan dan Konsumsi Nutrien Ayam Petelur ... 20
11 DAFTAR GAMBAR
Nomor Halaman
1. Tanaman Marigold (Tagetes erecta) ... 5
2. Konsumsi Pakan Harian Ayam Petelur ... 21
3. Rataan Produksi Telur Ayam ... 22
4. Konversi Pakan Ayam Petelur ... 24
5. Rataan Skor Kuning Telur ... 30
12 DAFTAR LAMPIRAN
Nomor Halaman
1. Sidik Ragam Produksi Telur ... 39
2. Uji Lanjut Duncan Produksi Telur ... 39
3. Sidik Ragam Konsumsi Pakan Harian ... 39
4. Uji Lanjut Duncan Konsumsi Pakan Harian ... 39
5. Sidik Ragam Rataan Bobot Telur ... 40
6. Sidik Ragam Rataan Bobot Putih Telur ... 40
7. Sidik Ragam Rataan Persen Bobot Putih Telur ... 40
8. Sidik Ragam Rataan Bobot Kuning Telur ... 40
9. Sidik Ragam Rataan Persen Bobot Kuning Telur ... 40
10. Sidik Ragam Rataan Tinggi Putih Telur ... 41
11. Sidik Ragam Rataan Bobot Kerabang ... 41
12. Sidik Ragam Rataan Persen Bobot Kerabang ... 41
13. Sidik Ragam Rataan Tebal Kerabang ... 41
14. Sidik Ragam Rataan Haugh Unit ... 41
15. Sidik Ragam Rataan Skor Kuning Telur ... 42
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Marigold (Tagetes erecta) merupakan tanaman yang telah lama dikenal dan telah dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dan tujuan. Masyarakat pada umumnya menggunakan marigold sebagai anti nematoda, fungisida, dan insektisida karena kandungan terpenoidnya. Marigold juga biasa digunakan sebagai pewarna makanan karena terdapat karotenoid. Karotenoid dapat digunakan untuk menghasilkan warna yang diinginkan pada produk unggas dan menjadi sumber provitamin A yang dapat diubah menjadi vitamin A dalam tubuh hewan yang pada akhirnya dapat meningkatkan kandungan vitamin A pada produk peternakan.
Pangan asal hewan (ternak) merupakan sumber protein dan mengandung asam amino esensial yang tidak disuplai dari bahan pangan lain. Telur merupakan salah satu produk unggas (ayam) yang mempunyai nilai gizi tinggi dan lengkap mengandung asam amino esensial dan non esensial yang cukup lengkap, dan harga relatif murah. Kualitas telur dapat ditentukan dari sifat-sifat fisik dan kimianya. Kualitas telur ayam dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya bangsa ayam, umur, musim, penyakit, lingkungan (suhu dan kelembaban), pakan dan sistem pengelolaan ayam tersebut yang pada akhirnya kualitas ini akan mempengaruhi konsumen dalam menentukan pilihan. Penambahan pakan yang mengandung karotenoid dapat meningkatkan jumlah pigmen karoten dan kandungan vitamin A pada kuning telur. Peningkatan pigmen karoten dapat meningkatkan warna kuning pada telur.
2 Tujuan Penelitian
3 TINJAUAN PUSTAKA
Marigold
Marigold merupakan tanaman yang berasal dari Meksiko yang biasa digunakan sebagai obat tradisional masyarakat Meksiko. Tanaman ini memiliki banyak kegunaan antara lain, sebagai anti nematoda, fungisida, dan sebagai bunga tabur atau karangan bunga dalam tujuan sosial dan keagamaan (Vasudevan et al., 1997). Marigold juga telah digunakan pada bidang farmasi dan pengobatan tradisional karena memiliki aktivitas seperti antibakteri, antimikroba, antioksidan dan antinematoda karena kandungan terpenoid dan flavonoidnya (Gopi et al., 2012). Tanaman ini juga biasa digunakan sebagai pewarna makanan karena karena terdapat karotenoid. dan dapat menjadi sumber pewarna alami pada suplemen pakan ayam yang dapat menghasilkan warna kuning bagi kulit ternak unggas dan telur (Vargas dan Lopes, 1997; Bocanegra et al., 2004). Marigold (Tagetes erecta) sering disebut sebagai kenikir, randa kencana, ades (Indonesia), dan tahi kotok (Sunda). berdasarkan Gopi et al. (2012) marigold diklasifikasikan ke dalam sistem taksonomi sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Ordo : Asterales
Family : Asteraceae
Genus : Tagetes
Jenis : Tagetes Erecta
4 Zat warna utama dalam marigold adalah lutein, karoteniod yang larut dalam lemak (Vargas, 1997). Karotenoid yang terdapat dalam marigold adalah karotenoid yang berwarna kuning seperti karoten (α dan karoten) dan xantofil (lutein dan zeaxantin) (Handelman, 2001). Bunga marigold mengandung karotenoid sebesar 680 mg/kg dan xantofil 156,32 mg/kg (Piccaglia et al., 1998; Hasin et al., 2006). Selain karotenoid tanaman ini juga mengandung flavonoid, polifenol yang berfungsi sebagai antioksidan alami (Ariana et al., 2011).
Penelitian dengan menggunakan tepung marigold dalam pakan ayam petelur telah dilakukan sebelumnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Chowdhury et al. (2008) dan Hasin et al. (2006), penggunaan marigold sebanyak 4% dalam pakan menghasilkan data seperti yang tercantum pada Tabel 1. Chowdhury et al. (2008) menggunakan bunga marigold dalam bentuk tepung sebanyak 4 % dalam pakan ayam petelur Shaver 579 umur 34 minggu yang diberi perlakuan selama 8 minggu. Hasin et al. (2006) menggunakan bunga marigold dalam bentuk tepung sebanyak 4 % dalam pakan ayam petelur Shaver 579 umur 34 minggu yang diberi perlakuan selama 6 minggu.
Tabel 1. Karakteristik Performa dan Kualitas Telur Ayam yang Diberi Marigold
Peubah 4% Marigold* 4% Marigold**
Produksi Telur (%) 71,3 81,1
Konsumsi Pakan (gram/ekor/hari)
118,0 119,6
Bobot Telur (gram) 58,9 62,6
Bobot Putih Telur (gram) 38,75 37,277
Bobot Kuning Telur (gram) 14,31 15,150
Persentase Kerabang (%) 9,7 9,6
Tebal Kerabang (mm) 0,38 0,378
Haugh Unit 80,00 88
Skor Kuning Telur 8,2 9,47
5 Gambar 1. Tanaman Marigold (Tagetes erecta)
Sumber: Foto hasil penelitian, 2011
Vitamin A
Vitamin A adalah zat-zat organik komplek yang dibutuhkan oleh tubuh dalam jumlah yang relatif kecil dan keberadaan vitamin tidak dapat disintesis oleh tubuh. Oleh karena itu, untuk mendapatkan jumlah vitamin yang cukup harus diperoleh dari asupan makanan (Almatsier, 2001). Menurut Widodo (2002), vitamin A berhubungan erat dengan proses reproduksi.
Vitamin A ditemukan dalam bentuk retinol, dalam bentuk retinal dan dalam bentuk asam. Vitamin A umumnya terdapat pada makanan yang berasal dari hewan yang berupa retinol dan retinil ester. Tanaman hanya bisa mensintesa provitamin A saja yaitu karoten (Murray et al., 1999).
Vitamin A memegang peranan yang penting dalam menjaga kesehatan mata, pertumbuhan tulang, kesehatan reproduksi, pembelahan dan diferensiasi sel (proses perkembangan saat suatu sel akan berkembang menjadi jaringan tertentu pada tahap perkembangan embrio) dan sistem kekebalan (Magnuson, 2002; Groff dan Gropper, 1992). National Research Council (1994), merekomendasikan pemberian vitamin A untuk kebutuhan ternak ayam sebesar 8000 IU/kg pakan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan optimal dari ayam petelur yang sedang tumbuh dan memproduksi telur.
Karoteinoid
6 sebagian besar sumber vitamin A yang terdapat dalam bahan-bahan nabati. Beta karoten dalam tanaman dilepas dari protein-proteinnya oleh enzim pencernaan pepsin dalam lambung dan oleh enzim proteolitik dalam usus halus (Piliang, 2002). Di dalam tubuh, karoten yang berasal dari makanan mengalami proses absorbsi dan metabolisme. Setengah dari karoten yang diserap akan diubah menjadi retinol dalam
mukosa usus (Groff dan Grooper, 1992). Karoten yang sering diketahui adalah α, , dan
karoten. Karoten yang paling penting untuk manusia dan hewan adalah -karoten karena mampunyai aktivitas provitamin A yang terbesar (Yuliani dan Marwati, 1997).
Karotenoid belum mengalami kerusakan oleh pemanasan suhu 60°C. Oksidasi terjadi secara acak pada rantai karbon yang mengandung ikatan ganda, kepekaannya terhadap oksidasi membuat karotenoid digunakan sebagai antioksidan yang kekuatannya menyamai tokoferol dan askorbat (Fennema, 1996).
Ayam Petelur
Ayam petelur merupakan ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi telur. Pada awalnya ayam petelur merupakan ayam hutan yang diseleksi secara ketat oleh para pakar selama bertahun-tahun. Ada dua tipe ayam petelur yaitu ayam petelur ringan dan medium (Rasyaf, 1994). Ayam ras petelur memiliki laju pertumbuhan sangat pesat. Pada umur 4,5-5 bulan telah mencapai kedewasaan kelamin dengan bobot badan antar 1,6-1,7 kg (Sudarmono, 2003).
Ayam petelur tipe medium memiliki bobot tubuh yang cukup berat. Disebut tipe medium karena beratnya berada diantara berat ayam petelur tipe ringan dan tipe berat. Tubuh ayam ini tidak kurus tetapi juga tidak gemuk. Telurnya cukup banyak. Ayam tipe ini juga disebut dengan ayam dwiguna karena menghasilkan telur yang cukup banyak dan juga dapat menghasilkan daging yang banyak. Warna telur yang dihasilkan adalah cokelat dan juga mempunyai warna bulu yang cokelat, oleh karena itu ayam tipe ini disebut petelur cokelat (Rasyaf, 1994).
7 Ayam petelur memiliki kebutuhan nutrient yang berbeda berdasarkan umurnya. Persyaratan mutu pakan untuk ayam ras petelur dara (layer) berdasarkan SNI tercantum pada Tabel 2 dan kebutuhan nutrien ayam petelur umur 18-32 minggu berdasarkan Leeson dan Summers (2005) tercantum pada Tabel 2.
Tabel 2. Persyaratan Mutu Pakan Untuk Ayam Ras Petelur Dara (Layer)
Parameter Satuan Persyaratan
Kadar air % Maks. 14,0
Protein kasar % Min. 16,0
Lemak kasar % Maks. 7,0
Serat kasar % Maks. 7,0
Abu % Maks. 14,0
Kalsium (Ca) % 3,25-4,25
Fosfor (P) total % 0,60-1,00
Fosfor (P) tersedia % Min. 0,32
Energi metabolisme (ME) Kkal/kg Min. 2650
Total aflatoksin μ/kg Maks. 50,0
Lisin % Min. 0,80
Metionin % Min. 0,35
Metionin + sistin % Min. 0,60
Sumber : SNI, 2006
8 Tabel 3. Kebutuhan Nutrien Ayam Petelur Umur 18-32 Minggu
Nutrien Jumlah Nutrien Jumlah
PK (%) 20 Vitamin A (IU) 8000
EM (kkal/kg) 2900 Vitamin D3 (IU) 3500
Ca (%) 4,2 Vitamin E (IU) 50
P tersedia (%) 0,5 Vitamin K (IU) 3
Na (%) 0,18 Biotin (μg) 100
Asam linoleat (%) 1,8 Cholin (mg) 400
Metionin (%) 0,45 Mn (mg) 60
Lisin (%) 0,86 Fe (mg) 30
Iodine (%) 1 Cu (mg) 5
Se (mg) 0,3 Zn (mg) 50
Sumber: Leeson dan Summers, 2005
Konsumsi Pakan
Konsumsi adalah jumlah makanan yang terkonsumsi oleh hewan bila diberikan ad libitum (Parakkasi, 1995). Konsumsi pakan ayam petelur dipengaruhi oleh bangsa ayam, besarnya tubuh ternak, aktivitas ternak, kualitas dan kuantitas pakan, temperatur lingkungan, tahap produksi, perkandangan, pemotongan paruh, luas ruang untuk ayam, air minum dingin dan bersih, tingkat penyakit dalam kandang dan kandungan energi dalam pakan (Wahju, 1997; NRC, 1994). Amrullah (2004) menyatakan bahwa terdapat dua faktor utama yang berpengaruh terhadap konsumsi harian pakan yaitu kandungan kalori pakan dan suhu lingkungan.
Produksi Telur
9 Untuk ayam Hy-Line Brown 2000, persentasi ini meningkat terus dan setelah dua bulan produksi mencapai puncak yaitu pada umur 27-28 minggu dengan produksi mencapai 95%, kemudian perlahan-lahan produksinya kembali berkurang, dengan rata-rata produksi 70%. Ayam yang bertelur terlalu cepat (masak dini) akan menghasilkan telur berukuran kecil dan berlangsung lama (Amrullah, 2004).
Asupan yang tidak mencukupi menyebabkan puncak produksi yang dicapai lebih rendah, begitu juga dengan ukuran telur. Selanjutnya produksi telur lebih cepat menurun dibandingkan dengan ayam yang mendapat asupan zat makanan cukup. Kekurangan suatu zat makanan akan mengubah bentuk kurva produksi telur (Amrullah, 2004).
Konversi Pakan
Konversi pakan merupakan perbandingan antara pakan yang dikonsumsi (gram) dengan produksi telur (gram). Keadaan ini sering disebut dengan pakan per kilogram telur. Angka konversi pakan menunjukan tingkat efisiensi pakan, artinya semakin tinggi angka konversi pakan maka penggunan pakan kurang ekonomis dan sebaliknya (Rasyaf, 1994). Kemampuan ayam ras petelur dalam memanfaatkan pakan sangat baik dan berkorelasi positif. Konversi terhadap penggunaan pakan yang cukup bagus yaitu setiap 2,2-2,5 kg pakan dapat menghasilkan 1 kg telur (Sudarmono, 2003). Faktor-faktor yang berpengaruh pada konversi pakan adalah produksi telur, kandungan energi dalam pakan, bobot badan, kandungan nutrisi dalam pakan dan temperatur udara (Septyana, 2008).
Kualitas Telur
10 langsung, yaitu bentuk, kebersihan, dan keutuhan kerabang. Faktor-faktor kualitas interior tidak dapat dilihat dari luar secara langsung. Pengukuran kualitas interior dapat dilakukan dengan candling (peneropongan) dan pemecahan telur yang meliputi kondisi kuning dan putih telur (USDA, 1983).
Sifat-sifat fisik dan kimia telur menentukan kualitas telur secara keseluruhan, yaitu: kualitas kulit telur, derajat atau kualitas albumen, nilai gizi yang ditujukan untuk kepentingan konsumen, bebas kerusakan-kerusakan, kualitas kuning telur (termasuk pigmentasi), dan dalam beberapa hal, besar telur (Wahju, 2004). Warna kuning telur ditentukan oleh kandungan -karoten yang terdapat pada kuning telur. Manipulasi pakan sering digunakan untuk meningkatkan warna kuning telur. Warna kuning telur ditentukan oleh pakan yang mengandung karotenoid yang mempunyai struktur seperti vitamin A (Yuwanta, 2010).
Komposisi Sebutir Telur
Menurut Anggorodi (1995), komposisi sebutir telur terdiri atas 31% kuning telur, 59% putih telur, dan 10% kerabang telur. Kuning telur mengandung 49,05% air, 16,7% protein, dan lemak 31,6%. Proporsi dan komposisi telur ini dapat bervariasi tergantung dari beberapa faktor antara lain umur ayam, pakan, temperatur, genetik, dan cara pemeliharaan. Persentase berat dan komposisi isi telur secara umum tidak sama untuk segala jenis telur unggas (Yuwanta, 2010). Komposisi sebutir telur disajikan pada Tabel 4.
Berat Telur
11 rasio putih dan kuning telur kemudian akan mempengaruhi jumlah mikro mineral didalamnya (Yuwanta, 2010).
Umur ayam akan meningkatkan berat telur, berat putih telur, dan berat kuning telur. Meningkatnya berat putih telur disebabkan meningkatnya kandungan air, hal ini terbukti bahwa berat kering putih telur menurun selaras dengan meningkatnya umur ayam. Sebaliknya putih telur cair bagian dalam menurun jumlahnya, jumlah putih telur cair bagian dalam menurun jumlahnya, jumlah putih telur cair bagian luar tidak dipengaruhi oleh umur tetapi lebih dominan dipengaruhi oleh lama penyimpanan. Meningkatnya umur ayam juga meningkatkan berat kuning telur yang disertai dengan meningkatnya berat kering kuning telur (Rasyaf, 1994).
Tabel 4. Komposisi Sebutir Telur
Material penyusun Berat (g) Persen dari total telur (%) Rata-rata Ekstrem
Kerabang telur 5,50 9,20 8,5-10,5
Kerabang tipis 0,25 0,40 -
Putih telur 37,00 61,50 57,0-65,0
Kuning telur 17,30 29,00 25,0-33,0
Total 60,00 100,00 -
Bagian yang
dikonsumsi 54,00 90,50 89,0-92,0
Sumber: Yuwanta, 2010
Kerabang Telur
12
Haugh Unit
Penentuan mutu dapat didasarkan kepada derajat kekentalan dan struktur gel albumen (putih telur). Protein dalam putih telur yang dihubungkan dengan struktur gel adalah ovumusin. Haugh unit (HU) adalah satuan kualitas telur yang ditentukan berdasarkan hubungan logaritma pengukuran tinggi putih telur dalam milimeter dan berat telur dalam gram (Wahju, 2004). Ada korelasi positif antara HU dan kandungan ovumisin telur segar. Telur dengan putih telur yang kental (firm) yang mempunyai nilai HU yang tinggi mempunyai kualitas ovumisin yang lebih tinggi (Wahju, 2004). Nilai HU bervariasi antara 20-110 dan pada telur yang baik antara 50-100 (Yuwanta, 2010).
Warna Kuning Telur
Warna dari kuning telur adalah kuning orange yang disebabkan adanya karotenoid yang mengandung banyak zeaxantin, kriptoxantin, dan lutein (xantofil). Konsentrasi total lutein dan zeaxantin 10 kali lebih banyak dibandingkan dengan kriptoxantin dan apo-karotin, meskipun yang terakhir ini banyak pada jagung dan luzerna sebagai bahan pokok pakan ayam. Pigmen ini (13-15mg/g kuning telur) datang dari hijauan yang dikonsumsi oleh ayam, dan warna kuning telur ini merupakan refleksi dari pakan yang dikonsumsi oleh ayam. Kenaikan warna kuning telur yang berlebihan dapat mengakibatkan penurunan jumlah vitamin A karena ada kompetisi dengan kehadiran xantofil. Warna merah dapat dimanipulasi dengan ekstrak paprika, sitrasantin atau santaxantin sintetis. Warna hijau oleh sodium klorofilin. Klortetrasiklin menyebabkan warna kuning telur menjadi kuning keabuan (Yuwanta, 2010).
Warna kuning telur yang baik bervariasi antara nilai 9-10. Manipulasi pakan sering digunakan untuk meningkatkan warna kuning telur. Warna kuning telur ditentukan oleh pakan yang mengandung karotenoid yang mempunyai struktur vitamin A. Diantara karotenoid tersebut adalah xantofil dan lutein. Pakan yang mengandung 20 ppm xantofil/kg pakan sudah cukup untuk memberikan warna kuning telur (Yuwanta, 2010).
Kandungan Vitamin A Telur
14 MATERI DAN METODE
Lokasi dan Waktu
Penelitian ini dilaksanakan selama enam bulan dari bulan April sampai dengan Desember 2011. Pemeliharaan dilakukan di laboratorium Lapang C Bagian Unggas Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, analisis proksimat dilakukan di Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fapet, IPB dan Laboratorium Pusat Antar Universitas IPB, dan analisa vitamin A dilakukan di Laboratorium Biokimia, FMIPA, IPB dan Balai Besar Industri Agro, Bogor.
Materi
Ternak
Penelitian ini menggunakan 48 ekor ayam petelur fase produksi jenis Hy-Line Brown atau yang biasa dikenal dengan ayam petelur tipe medium atau petelur cokelat
mulai umur 19 minggu dengan pemeliharaan selama 11 minggu. Kandang dan Peralatan
Kandang yang digunakan adalah kandang individual berukuran 80×80×50 cm sebanyak 12 kandang. Setiap kandang terdiri dari 4 ekor ayam yang diberi sekat pada bagian tengahnya, setiap sekat terdiri dari 2 ekor ayam dan dilengkapi dengan tempat pakan dan air minum. Perlengkapan lain yang digunakan adalah tirai plastik, termometer ruangan, terpal, kertas semen, timbangan, plastik pakan, alat tulis dan alat kebersihan.
Peralatan yang digunakan untuk mengukur kualitas fisik telur adalah alat pengukur tebal kerabang, Yolk Colour Fan, meja kaca, timbangan digital AND HL-100 kapasitas HL-100 gram × 0,01 gram, jangka sorong, dan kantong plastik.
Pakan
Bahan pakan penyusun pakan yang digunakan adalah jagung, dedak padi, bungkil kedelai, tepung ikan, CPO, NaCl, CaCO3, premix, dan DL-Metionin tepung
15 Komposisi pakan dan kandungan nutrien pakan perlakuan dapat dilihat pada Tabel 6 dan 7. Berdasarkan analisis menggunakan HPLC, -karoten yang terkandung dalam
pakan kontrol adalah 11β,γγ μg/g.
Tabel 5. Kandungan Nutrien Daun dan Bunga Marigold (As fed) Sampel
Keterangan : * Hasil uji Laboratorium Pusat Antar Universitas, Institut Pertanian Bogor (2011); ** Hasil uji Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fapet, IPB (2011); *** Hasil uji Laboratorium Biokimia, FMIPA, IPB (2012).
16 Tabel 7. Kandungan Nutrien Pakan Perlakuan
Nutrien R0 R1 R2 R3
Keterangan : R0 = kontrol, R1 = penambahan 5% tepung daun, R2 = penambahan 5% tepung bunga, R3 = penambahan 2,5% tepung daun dan 2,5% tepung bunga. BK, EM, PK, LK, SK, Ca, P total merupakan hasil uji Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fapet, IPB (2012).
Prosedur
Persiapan Ternak dan Kandang
Kandang dan peralatannya dibersihkan dan didesinfektan terlebih dahulu sebelum ternak dimasukkan ke kandang untuk mencegah bibit penyakit yang ditimbulkan oleh virus maupun bakteri.
Persiapan Pakan
Tepung daun dan bunga marigold dibuat dengan cara menjemur daun dan bunga marigold terlebih dahulu di bawah sinar matahari sampai mengering dan pengovenan pada suhu 50ºC, selanjutnya daun dan bunga marigold yang sudah kering dihaluskan menggunakan mesin hingga menjadi bentuk tepung. Tepung daun dan bunga tersebut dicampurkan ke dalam pakan sesuai perlakuan dan formulasi yang telah ditentukan sebelumnya.
Pemeliharaan
17 pencatatan produksi telur, dan lainnya. Setiap telur yang diproduksi dicatat dan ditimbang. Telur yang diambil untuk uji kualitas berasal dari produksi telur selama tiga hari setiap minggu, selama tiga minggu.
Rancangan Percobaan dan Analisis Data Perlakuan
Perlakuan yang diberikan pada ayam petelur adalah pemberian tepung marigold pada pakan. Pakan pada penelitian ini dibuat dengan empat perlakuan yaitu:
R0 = Pakan kontrol, tanpa tepung marigold
R1 = Pakan mengandung 5% tepung daun marigold R2 = Pakan mengandung 5% tepung bunga marigold
R3 = Pakan mengandung 2,5% tepung daun marigold dan 2,5% tepung bunga marigold
Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL), menggunakan empat perlakuan dan tiga ulangan, dengan 4 ekor ayam pada setiap ulangan. Berdasarkan Steel dan Torrie (1993) model matematika yang digunakan adalah sebagai berikut :
Yij = µ + ti + eij
Keterangan :
Yij = nilai pengamatan untuk perlakuan pakan yang diberikan (R0, R1, R2 dan R3)
ke-i dan ulangan ke-j µ = rataan umum
ti = pengaruh perlakuan (R0, R1, R2, dan R3) ke-i
eij = error perlakuan (R0, R1, R2, dan R3) ke-i dan ulangan ke-j
18 Peubah yang Diamati
Kualitas Telur. Uji kualitas telur yang dilakukan dalam penelitian ini adalah: a) Bobot Telur (gram/butir)
Diperoleh dengan cara menimbang setiap telur yang dihasilkan satu per satu.
b) Bobot Kuning Telur (gram) dan Persentase Bobot Kuning Telur (%)
Diperoleh dengan menimbang kuning telur yang telah dibuang kalazanya. Bobot kuning telur tersebut kemudian dihitung persentase bobotnya dari bobot telurnya
Persentase bobot kuning telur = Bobot kuning telur × 100% Bobot telur
c) Bobot Putih Telur (gram) dan Persentase Bobot Putih Telur (%)
Diperoleh dengan menimbang putih telur yang telah dipisahkan dari kuning telur. Bobot putih telur tersebut kemudian dihitung persentase bobotnya dari bobot telurnya.
Persentase bobot putih telur = Bobot putih telur × 100% Bobot telur
d) Bobot Kerabang Telur (gram) dan Persentase Bobot Kerabang Telur (%) Diperoleh dengan menimbang kerabang telur yang telah dibersihkan bagian dalamnya. Bobot kerabang tersebut kemudian dihitung persentase bobotnya dari bobot telurnya. Selanjutnya dilakukan transformasi untuk persentase bobot kerabang sebelum dilakukan ANOVA (Steel dan Torrie 1993)
Persentase bobot kuning telur = Bobot kerabang telur × 100% Bobot telur
Transformasi = √ e) Tebal Kerabang Telur (mm)
Pengukuran tebal kerabang dilakukan menggunakan alat mikrometer sekrup pada bagian tengah (equator), ujung tumpul, dan ujung lancip telur kemudian dirata-ratakan.
f) Intensitas Warna Kuning Telur
19 g) Haugh Unit
Haugh Unit didapat dengan cara menghitung secara logaritma terhadap tinggi putih telur kental dan kemudian ditransformasikan ke dalam nilai koreksi dari fungsi berat telur (Yuwanta, 2010). Tinggi putih telur diukur dengan alat jangka sorong.
Haugh unit (HU)
= Log 100 (H + 7,57 - 1,7 . W0,37)
Keterangan : H = tinggi putih telur (mm) W = berat telur (gram) h) Kandungan Vitamin A Telur (IU)
Analisis kandungan vitamin A dilakukan pada kuning telur mengunakan alat High Performance Liquid Cromatography (HPLC). Kuning telur yang dianalisis merupakan hasil komposit dari setiap ulangan dalam perlakuan. Konsumsi Pakan (gram/ekor). Konsumsi pakan diukur setiap minggu dengan cara mengurangi pakan yang diberikan dengan sisa pakan yang tidak dikonsumsi selama satu minggu. Berdasarkan perhitungan, dari konsumsi pakan ini diperoleh konsumsi nutrien ayam petelur yaitu bahan kering, protein kasar, lemak kasar, serat kasar, dan
karoten.
Produksi Telur (Hen Day Production). Persentase produksi telur diukur dengan mencatat produksi telur harian selama pemeliharaan.
Produksi telur = Jumlah telur (butir) × 100% Jumlah ayam pada saat itu (ekor)
Konversi Pakan. Konversi pakan diperoleh dari hasil perbandingan antara pakan yang dikonsumsi (gram) dengan massa telur yang diproduksi (gram).
20 HASIL DAN PEMBAHASAN
Data hasil penelitian berupa konsumsi pakan, produksi telur, konversi pakan serta konsumsi lemak, protein, serat dan vitamin A ayam petelur pada tiap perlakuan tecantum dalam Tabel 8.
Tabel 8. Rataan Konsumsi Pakan, Produksi Telur, Konversi Pakan dan Konsumsi Nutrien Ayam Petelur Keterangan : R0 = Pakan kontrol, tanpa tepung marigold; R1 = Pakan mengandung 5% tepung daun
marigold; R2 = Pakan mengandung 5% tepung bunga marigold; R3 = Pakan mengandung 2,5% tepung daun marigold dan 2,5% tepung bunga marigold; Superskrip dengan huruf besar yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan pengaruh yang sangat berbeda nyata (p<0,01); Superskrip dengan huruf kecil yang berbeda pada baris yang sama menunjukan pengaruh yang berbeda nyata (P<0,05)
Konsumsi Pakan
Berdasarkan hasil sidik ragam, pemberian marigold dalam pakan memberikan pengaruh yang sangat nyata terhadap konsumsi pakan harian ayam petelur (P<0,01). Adanya penambahan marigold dalam pakan cenderung meningkatkan konsumsi pakan harian. Dilihat dari rataan konsumsi pakan harian pemberian campuran tepung daun dan bunga marigold terbukti paling efektif dalam meningkatkan konsumsi pakan harian ayam petelur, seperti yang terlihat pada Gambar 2.
21 petelur pada umumnya, hal ini dapat disebabkan oleh faktor suhu yang cukup tinggi yaitu 26-33ºC. Leeson dan Summers (2005) menyatakan bahwa suhu lingkungan yang tinggi dapat menurunkan konsumsi pakan unggas. Perlakuan R3 mengkonsumsi pakan lebih tinggi dari perlakuan lainnya yaitu sebesar 118,59 g/ekor/hari. Angka konsumsi tersebut sesuai dengan penelitian sebelumnya yang menggunakan marigold sebanyak 4% dengan konsumsi pakan 118 g/ekor/hari (Hasin et al., 2006). Banyak faktor yang dapat mempengaruhi konsumsi pakan, salah satunya yaitu palatabilitas pakan (Anggorodi, 1995). Konsumsi R3 yang tinggi tersebut dapat diakibatkan oleh palatabilitas perlakuan R3 yang cukup tinggi karena warnanya yang agak kehijauan. Penelitian Nuraeni (2005) menunjukkan bahwa ayam lebih menyukai pakan yang berwarna merah atau hijau.
Keterangan : R0 = Pakan kontrol, tanpa tepung marigold; R1 = Pakan mengandung 5% tepung daun marigold; R2 = Pakan mengandung 5% tepung bunga marigold; R3 = Pakan mengandung 2,5% tepung daun marigold dan 2,5% tepung bunga marigold
Gambar 2. Konsumsi Pakan Harian Ayam Petelur Produksi Telur
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa pemberian marigold memberikan pengaruh nyata (P<0,05) pada produksi telur ayam. Pemberian marigold meningkatkan produksi telur ayam. Gambar 3 memperlihatkan rataan produksi tertinggi adalah perlakuan R2 (pakan dengan penggunaan tepung bunga marigold),
22 selanjutnya berturut-turut R3 (pakan dengan penggunaan campuran tepung daun dan bunga marigold), R0 (pakan kontrol), dan R1 (pakan dengan penggunaan tepung daun marigold). Pemberian marigold dapat meningkatkan produksi telur dikarenakan provitamin A yang terkandung dalam marigold tersebut yang diubah menjadi vitamin A di dalam tubuh hewan. Menurut McDowell (2000), vitamin A ini memiliki peran dalam reproduksi dan produksi telur pada unggas. Defisiensi berkelanjutan pada unggas dewasa akan menyebabkan penurunan produksi telur. Dengan adanya penambahan vitamin A dalam pakan dapat memperbaiki produktivitas ayam petelur.
Keterangan : R0 = Pakan kontrol, tanpa tepung marigold; R1 = Pakan mengandung 5% tepung daun marigold; R2 = Pakan mengandung 5% tepung bunga marigold; R3 = Pakan mengandung 2,5% tepung daun marigold dan 2,5% tepung bunga marigold
Gambar 3. Rataan Produksi Telur Ayam
Produksi telur pada perlakuan R3 yang tinggi ini dapat disebabkan oleh faktor konsumsi pakan dan konsumsi nutrien ayam petelur. Ayam dengan perlakuan pemberian pakan campuran daun dan bunga marigold ini memiliki angka konsumsi pakan dan konsumsi nutrien yang tinggi dibandingkan dengan perlakuan lainnya. Ayam dengan perlakuan R3 tersebut mengkonsumsi protein kasar yang lebih tinggi dengan rataan 16,74 gram (Tabel 8). Menurut Wahju (1997), konsumsi protein dapat mempengaruhi produksi telur. Defisien protein yang sangat berat dapat mengakibatkan produksi telur terhenti sama sekali.
23 Data produksi telur diambil saat ayam berumur 24 - 30 minggu. Umur tersebut adalah saat ayam petelur mulai mencapai puncak produksinya (Amrullah, 2004). Rataan produksi ayam petelur dari semua perlakuan berkisar 40,93% - 66,38%. Angka tersebut cukup rendah untuk ukuran ayam petelur yang umurnya mulai mencapai puncak produksi. Rendahnya angka produksi tersebut disebabkan oleh kandungan protein kasar yang rendah dalam pakan yaitu kurang dari 16%. Faktor lain yang mempengaruhi produksi adalah lingkungan. Suhu sangat fluktuatif pada masa pemeliharaan yaitu berkisar 26 - 33ºC. Kondisi tersebut dapat mempengaruhi produktivitas ayam petelur. Menurut Bell dan Weaver (2002), suhu yang baik untuk ayam dewasa yaitu berkisar 18 - 24ºC.
Produksi telur yang rendah pada penelitian ini dapat disebabkan oleh kandungan fosfor yang rendah dalam pakan. Kandungan fosfor total dalam penelitian ini berkisar 1,05% – 1,12% pakan. Wahju (2004), menyatakan bahwa sekitar 1/3 dari fosfor terdapat dalam bentuk non-phytin fosfor dan dapat dipergunakan oleh ayam atau yang biasa disebut dengan fosfor tersedia, dengan demikian fosfor tersedia yang terkandung dalam pakan penelitian ini hanya berkisar 0,35% - 0,37%. Fosfor tersedia yang dibutuhkan ayam petelur umur 18 - 32 minggu adalah 0,5% (Leeson dan Summers, 2005). Fosfor dibutuhkan oleh ayam petelur untuk berproduksi. Produksi telur memiliki korelasi dengan pengeluaran (ekskresi) fosfor yang relatif banyak. Produksi telur erat hubungannya dengan peningkatan katabolisme fosfor dan selama berproduksi fosfor yang hilang dari tubuh lebih banyak daripada fosfor yang disimpan dalam telur (Wahju, 2004).
Konversi Pakan
Pemberian marigold dalam pakan berdasarkan uji sidik ragam memberikan pengaruh terhadap konversi pakan ayam petelur. Perlakuan dengan pemberian tepung bunga marigold (R2) dan campuran daun dan bunga marigold (R3) menurunkan angka konversi pakan seperti yang terlihat pada Gambar 4.
24 memanfaatkan pakan untuk menghasilkan telur. Perlakuan R1 memiliki angka konversi pakan yang tinggi dibandingkan perlakuan lain. Tingginya konversi pakan pada perlakuan R1 pada penelitian ini disebabkan oleh sedikitnya telur yang diproduksi, dapat dilihat dari produksi telur yang tercantum pada Tabel 8. Konversi terhadap penggunaan pakan cukup bagus yaitu setiap 2,2-2,5 kg pakan dapat menghasilkan 1 kg telur (Sudarmono, 2003). Konversi pakan dalam penelitian ini cukup rendah dibandingkan dengan penelitian Hasin et al. (2006) yang menggunakan marigold sebanyak 4% yang mencapai angka konversi sebesar 2,8.
Keterangan : R0 = Pakan kontrol, tanpa tepung marigold; R1 = Pakan mengandung 5% tepung daun marigold; R2 = Pakan mengandung 5% tepung bunga marigold; R3 = Pakan mengandung 2,5% tepung daun marigold dan 2,5% tepung bunga marigold
Gambar 4. Konversi Pakan Ayam Petelur
Hasil penelitian yang dilakukan, yaitu rataan pengujian kualitas telur dan analisis vitamin A pada telur ayam disajikan pada Tabel 9. Pengujian kualitas telur yang dilakukan adalah bobot telur, bobot putih telur, bobot kuning telur, tinggi putih telur, bobot kerabang, tebal kerabang, haugh unit, dan skor warna kuning telur.
25 Tabel 9. Rataan Uji Kualitas dan Kandungan Vitamin A Telur
Peubah Perlakuan marigold; R2 = Pakan mengandung 5% tepung bunga marigold; R3: Pakan mengandung 2,5% tepung daun marigold dan 2,5% tepung bunga marigold; Superskrip dengan huruf besar yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan pengaruh yang sangat berbeda nyata (p<0,01)
Bobot Telur
26 ayam petelur tersebut. Faktor utama yang mempengaruhi bobot telur adalah umur ayam. Semakin meningkat umur ayam, semakin berat telur yang dihasilkan. Faktor lainnya yaitu genetik dan sistem pemeliharaan (Yuwanta, 2010).
Rataan bobot telur dari dari semua perlakuan berkisar 61,95 – 63,73 gram. Berdasarkan SNI (2008) bobot telur tersebut termasuk besar untuk ukuran telur konsumsi (lebih dari 60 gram/butir) dan mendekati ukuran bobot yang diinginkan oleh konsumen yaitu berkisar 65 – 70 gram/butir. Bobot telur pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan pada penelitian Hasin et al. (2006) yang menggunakan 4% tepung marigold yaitu 58,9 gram/butir.
Bobot Putih Telur
Berdasarkan hasil sidik ragam, didapatkan bahwa pemberian marigold tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap bobot putih telur ayam dan persentasenya. Hal ini menunjukkan juga bahwa manipulasi pakan dengan penambahan marigold tidak mempengaruhi bobot putih telur. Faktor-faktor yang mempengaruhi bobot maupun persentase putih telur selain dari pakan adalah berat telur, tipe atau strain, umur ayam, temperatur, genetik, cara pemeliharaan, kesehatan ayam, jumlah produksi telur/tahun dan terutama lama penyimpanan telur (Yuwanta, 2010).
Nilai rataan bobot putih telur tiap perlakuan berkisar 38,41 – 41,25 gram/butir dengan rataan persentase 65,82% - 67,33%. Angka tersebut sesuai Yuwanta (2010), bahwa nilai relatif bobot putih telur adalah sekitar 37 gram/butir dari total bobot 60 gram. Rataan bobot putih telur pada penelitian ini di atas 37 gram/butir karena bobot utuh telurnya juga di atas 60 gram. Persentase bobot putih telur juga menunjukan angka yang cukup tinggi, berdasarkan Stadelman dan Cotterill (1995) pada umumnya persentase bobot putih telur berkisar 60%. Bobot putih telur dalam penelitian ini sesuai rendah dibandingkan dengan penelitian Chowdhury et al. (2008) yang menggunakan 4% tepung marigold yaitu 37,277 gram.
Bobot Kuning Telur
27 penyimpanan telur (Yuwanta, 2010). Manipulasi pakan yang dilakukan dalam penelitian ini, yaitu perlakuan pemberian tepung marigold dalam pakan ayam petelur, berdasarkan sidik ragam ternyata tidak berpengaruh nyata terhadap bobot kuning telur pada semua perlakuan. Hal tersebut membuktikan bahwa faktor pakan bukanlah faktor utama yang dapat mempengaruhi bobot kuning telur ayam. Faktor utama yang mempengaruhi adalah umur ayam. Umur ayam akan meningkatkan berat telur, berat putih telur, dan berat kuning telur yang disertai dengan meningkatnya berat kering kuning telur.
Rataan dari semua perlakuan berkisar 13,84 – 14,45 gram/butir telur dan persentasenya 21,78% - 23,27%. Persentase bobot putih telur ini tergolong rendah. Kuning telur menempati 30% - 33% dari total bobot telur (Stadelman dan Cotterill, 1995). Bobot kuning telur dalam penelitian ini lebih rendah dibandingkan pada penelitian Chowdhury et al. (2008) yang menggunakan 4% tepung marigold yaitu 15,15 gram.
Bobot kuning telur dapat dipengaruhi oleh konsumsi. Ayam petelur mendeposit lemaknya di dalam kuning telur. Lemak kuning telur tersusun atas komplek lemak-protein dalam bentuk Low Density Lipoprotein (LDL) atau lipoprotein yang sangat rendah densiti dan lipovitelin dalam bentuk ikatan bebas. Lipoprotein tersebut mengandung 90 % lemak dan menempati 2/3 dari berat kering kuning telur (Yuwanta, 2010). Pada penelitian ini, bobot kuning telur tidak sejalan dengan jumlah lemak yang dikonsumsi (Tabel 8). Hal tersebut diduga karena adanya pengaruh deposit lemak di tempat lain selain pada kuning telur, yaitu pada lemak abdomen.
Tinggi Putih Telur
28 Bobot Kerabang
Berdasarkan hasil uji statistik, pemberian marigold dalam pakan ayam petelur tidak berpengaruh nyata terhadap bobot kerabang dan persentasenya dalam telur. Berdasarkan nilai rataan bobot kerabang telur dan persentasenya ini lebih tinggi dari angka bobot kerabang pada umumnya. Bobot kerabang dalam penelitian ini berkisar 6,71 – 6,94 gram dengan persentasenya 10,80% – 11,10 %. Umumnya kerabang telur memiliki bobot sekitar 9% - 12% dari bobot telurnya (Stadelman dan Cotterill, 1995). Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kualitas kerabang antara lain suhu penanganan telur, penyakit, umur, dan kandungan kalsium dalam pakan (Dwi, 2006). Persentase kerabang telur pada penelitian ini lebih tinggi dibandingkan pada penelitian Chowdhury et al. (2008) yang menggunakan 4% tepung marigold yaitu 9,6%.
Tebal Kerabang
Tebal kerabang telur dari keempat perlakuan ternyata tidak ada pengaruh yang nyata akibat pemberian tingkat marigold dalam pakan. Faktor-faktor yang mempengaruhi tebal kerabang telur yaitu sifat genetik, pakan, umur ayam, dan suhu lingkungan. Rataan tebal kerabang dari semua perlakuan berkisar 0,34 – 0,37 mm. Hasil penelitian membuktikan bahwa tebal kerabang telur sudah masuk dalam kategori baik, sesuai dengan pendapat Yuwanta (2010) tebal kerabang telur ayam pada umumnya 0,3-0,4 mm dan disarankan bahwa tebal kerabang telur jangan kurang dari 0,33 mm, karena telur mudah pecah terutama dalam proses transportasi, (Wiradimadja et al., 2004). Tebal kerabang dalam penelitian ini mendekati hasil pada penelitian Chowdhury et al. (2008) yang menggunakan 4% tepung marigold yaitu 0,378 mm.
Haugh Unit
29 mempunyai nilai HU putih telur lebih besar dari 72. Hasil uji statistik menunjukkan bahwa penggunaan marigold dalam pakan tidak berpengaruh nyata terhadap nilai Haugh Unit. HU dalam penelitian mendekati penelitian Chowdhury et al. (2008) yang menggunakan 4% tepung marigold yaitu 88. Faktor yang berpengaruh terhadap Haugh Unit adalah keadaan putih telur. Tinggi putih telur menurun dengan semakin lamanya penyimpanan, dengan demikian HU juga dipengaruhi oleh penyimpanan (Zakiyurrahman, 2006; Muchtadi dan Sugiono, 1992).
Skor Kuning Telur
Warna kuning telur diamati dengan menggunakan Yolk Colour Fan dari Roche, rataan yang diperoleh dari keempat perlakuan seperti disajikan pada Gambar 4. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa intensitas warna kuning telur secara nyata dipengaruhi oleh pakan perlakuan yang diberi perlakuan tepung marigold. Pakan perlakuan baik R1, R2, maupun R3, ketiganya memperlihatkan intensitas warna kuning yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Keadaan ini disebabkan adanya perbedaan kandungan karotenoid pakan yang diberi tepung marigold. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna kuning telur dipengaruhi oleh penggunaan bahan pakan yang mengandung karotenoid dalam pakan. Warna dari kuning telur adalah kuning orange yang disebabkan adanya karotenoid yang mengandung banyak zeaxantin, kriptoxantin, dan lutein (xantofil) (Yuwanta, 2010). Karotenoid yang terdapat dalam marigold adalah karotenoid yang berwarna kuning seperti karoten (α dan karoten) dan xantofil (lutein dan zeaxantin) (Handelman, 2001).
30 Keterangan : R0 = Pakan kontrol, tanpa tepung marigold; R1 = Pakan mengandung 5% tepung daun marigold; R2 = Pakan mengandung 5% tepung bunga marigold; R3 = Pakan mengandung 2,5% tepung daun marigold dan 2,5% tepung bunga marigold
Gambar 5. Rataan Skor Kuning Telur
Perlakuan R3 (campuran daun dan bunga) memiliki rataan skor warna kuning tertinggi yaitu 10,50 mendekati dengan penggunaan suplemen pigmen sintetis sebesar 30 mg/kg pakan yang menghasilkan skor warna 11 setelah 12 minggu perlakuan (Chowdhury et al., 2008). Tingginya skor warna kuning telur perlakuan R3 penelitian ini disebabkan oleh tingginya konsumsi pakan ayam petelur pada perlakuan ini, yang dapat meningkatkan konsumsi karotenoid ayam tersebut. Daun dan bunga memiliki jenis karotenoid yang berbeda, menurut Stahl et al. (1989), gabungan beberapa karotenoid dapat menimbulkan hasil yang lebih maksimal dibandingkan satu jenis komponen karotenoid.
Vitamin A Telur
Pemberian pakan yang berbeda dalam penelitian ini memberikan pengaruh terhadap kandungan vitamin A pada kuning telur ayam, disajikan pada Gambar 5. Berdasarkan hasil analisis, kandungan vitamin A kuning telur tertinggi terdapat pada perlakuan R0, selanjutnya R3, R1, dan terendah adalah R2.
31 Keterangan : R0 = Pakan kontrol, tanpa tepung marigold; R1 = Pakan mengandung 5% tepung daun marigold; R2 = Pakan mengandung 5% tepung bunga marigold; R3 = Pakan mengandung 2,5% tepung daun marigold dan 2,5% tepung bunga marigold
Gambar 6. Kandungan Vitamin A Kuning Telur Ayam
Pemberian marigold tidak meningkatkan kandungan vitamin A pada telur ayam. Kandungan -karoten dalam pakan yang sangat mempengaruhi kandungan vitamin A produk ternak karena -karoten merupakan provitamin A memiliki aktivitas vitamin A yang paling besar dibandingkan dengan karotenoid lainnya (McDowell, 2000). Adanya -karoten yang terkandung dalam marigold pada pakan perlakuan tidak mempengaruhi kandungan vitamin A pada telur. Kandungan vitamin A pada kuning telur dalam penelitian ini lebih rendah dibandingkan pada umumnya yaitu 1000 IU/100gram. Beberapa faktor yang mempengaruhi kandungan vitamin A dalam telur selain -karoten adalah faktor absorbsi dan transpor vitamin A dalam tubuh hewan tiap individu (McDowell, 2000). Kenaikan warna kuning telur yang berlebihan seperti yang terjadi pada penelitian ini dapat mengakibatkan penurunan jumlah vitamin A karena ada kompetisi dengan kehadiran xantofil. Penyimpanan juga dapat menurunkan kandungan vitamin A dalam telur (Yuwanta, 2010).
33 KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Pemberian marigold baik tepung bunga, tepung daun maupun campurannya meningkatkan skor warna kuning telur. Pemberian pakan yang mengandung marigold tidak mempengaruhi bobot telur, bobot putih telur, bobot kuning telur, tinggi putih telur, Haugh Unit, bobot kerabang, tebal kerabang. Pemberian pakan yang mengandung marigold tidak meningkatkan kandungan vitamin A pada kuning telur. Pakan dengan tepung marigold tidak memberikan hasil yang lebih baik pada kualitas telur ayam, kecuali pada warna kuning telur, dan tidak mengakibatkan dampak yang merugikan terhadap kualitas telur, sehingga marigold dapat digunakan sebagai sumber zat warna alami pada pembentukan warna kuning telur.
Saran
34 UCAPAN TERIMAKASIH
Puji dan syukur yang penulis haturkan kehadirat Allah SWT karena dengan segala rahmat, hidayah dan pertolongan-Nya penulis dapat menyesaikan skripsi ini.
Penulis mengucapkan terimakasih yang tak terhingga kepada Ir. Widya Hermana selaku dosen pembimbing akademik sekaligus pembimbing utama dalam pembuatan skripsi ini dan kepada Ir. Lidy Herawaty, MS selaku dosen pembimbing anggota yang sangat membantu, membimbing, mengarahkan, serta memberikan saran-saran yang sangat bermanfaat hingga skripsi ini dapat terselesaikan. Kepada Prof. Dr. Dewi Apri Astuti, M.S. sebagai dosen pembimbing PKM penelitian. Kepada Dikti yang telah memberikan dana pelaksanaan PKM penelitian. Kepada Dr. Ir. Ibnu Katsir Amrullah, M.S. sebagai dosen pembahas seminar sekaligus dosen penguji sidang, serta kepada Prof. Dr. Ir. Iman Rahayu H.S., MS sebagai dosen penguji sidang. Penulis juga sangat berterimakasih kepada kedua orangtua tercinta yang selalu menjadi pahlawan terbaik, mendoakan, memberi dukungan dan melakukan semua hal yang terbaik untuk penulis, terimakasih atas segala segala sesuatu yang sangat berharga yang telah diberikan selama ini. Kepada keluarga besar penulis yang telah memberikan motivasi dan semangat.
Kepada rekan penelitian Meta Asterizka dan Liza Nur Aziza, terimakasih atas kerjasama dan pengalaman yang berharga ini. Kepada para sahabat yang sangat memberi dukungan dan membantu kegiatan penelitian penulis, Ari Akbar, Andi Eka, Yuda Pratomo, Dara Oktisari dan Feri Anasari, terimakasih atas bantuan dan perhatian yang telah diberikan. Keluarga besar Genetic 45 dan teman-teman yang selalu mendampingi penulis sehari-hari.
Penulis juga mengucapkan terimakasih kepada Eka Tjipta Foundation atas beasiswa yang telah diberikan. Terakhir, terimakasih kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang yang berperan dan membantu kegiatan penelitian dan penulisan skripsi penulis secara langsung maupun tidak langsung. Terimakasih atas segala kebaikan, perhatian, dan dukungan yang diberikan. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak yang membacanya.
35 DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, S. 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Amrullah, I.B. 2004. Nutrisi Ayam Petelur. Lembaga Satu Gunungbudi, Bogor. Anggorodi, H. R. 1995. Nutrisi Aneka Ternak Unggas. Gramedia Pustaka Utama,
Jakarta.
Ariana, M., A. Samie, M.A. Edriss & R. Jahanian. 2011. Effects of powder and extract form of green tea and marigold, and α-tocopheryl acetate on performance, egg quality and egg yolk cholesterol levels of laying hens in late phase of production. Journal of Medicinal Plants Research 5(13) : 2710-2716.
Bell, D.D. & W.D. Weaver. 2002. Chicken Meat and Meat Production. 5th Edition. Kluwer Academic Publishers, Norwell.
Bocanegra, E.S., X.O. Osorio & E.O.O. Rondon. 2004. Evaluation of xanthophylls extracted from Tagetes erectus (marigold flower) and Capsicum sp. (red pepper paprika) as a pigment for egg-yolks compare with synthetic pigments. International Journal of Poultry Science 3 (11): 685-689
Chowdhury, S.D., B.M. Hassin, & S.C. Das. 2008. Evaluation of marigold flower and orange skin as source of xantophyll pigment for the improvement of egg yolk color. The Journal of Poultry Science 45: 265-272.
Dwi, L. T. 2006. Hubungan antara konsumsi kalsium dengan berat telur, tebal kerabang dan specific gravity telur ayam arab. Skripsi. Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, Malang.
Fennema O. R. 1996. Food Chemistry. 3rd Edition. Marcel Dekker Inc, New York. Gopi, G., A. Elumalai & P. Jayasri. 2012. A concise review on Tagetes erecta.
International Journal of Phytopharmacy Research 3: 16-19.
Groff, J. L. & S. S Gropper. 1992. Advanced Nutrition and Human Metabolism. Wadsworth Thomson Learning, Mexico.
Handelman, G. J. 2001. The evolving role of carotenoids in human biochemistry. Nutrition. 17 (10): 818-822.
Hasin, B.M, A.J.M. Ferdaus, M.A. Islam, M.J. Uddin & M.S. Islam. 2006. Marigold and orange skin as egg yolk color promoting agents. International Journal of Poultry Science 5 (10): 979-987.
Leeson, S. & J. D. Summer. 2005. Commercial Poultry Nutrition. 3rd Edition. University Press, Nottingham.
36 McDowell, L. R. 2000. Vitamins in Animal and Human Nutrition. 2nd Edition. Iowa
State University Press, Ames.
Muchtadi, T. R., & Sugiono. 1992. Ilmu Pengetahuan Bahan Pangan. Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Murray, R.K., D. K. Granner, P.A. Mayes, & V. W. Rodwell. 1999. Biokimia Harper. Penerjemah: Hartono, A. Penerbit Buku Kedokteran, Jakarta.
National Research Council. 1994. Nutrient Requirement of Poultry. 9th Edition. National Academy Press, Washington D.C.
Nuraeni. H. 2005. Kandungan vitamin A dalam hati dan karkas ayam pedaging yang diberi daun katuk (Sauropus androgynus) dalam pakan. Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Parakkasi, A. 1995. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. UI-Press, Jakarta. Piccaglia, R., M. Marotti. & S. Grandi. 1998. Lutein and lutein ester content in
different types of Tagetes patula and T. erecta. Journal Industrial Crop and Product. 8: 45-51.
Piliang, W. G. 2002. Nutrisi Vitamin Volume I. Edisi ke-5. IPB Press, Jakarta. Rasyaf, M. 1994. Beternak Ayam Petelur. Penebar Swadaya, Jakarta.
Stadelman, W.J. & O.J. Cotterill. 1995. Egg Science and Technology. 4th Edition. The Hawort Press, Binghamton.
Stahl, W., A. Junghans, B. De Boer, E.S. Driomina, K. Briviba, & H. Sies. 1998. Carotenoids mixture protect multilamellar liposome against oxidative damage: synergistic effects of lycopene and lutein. FEBS Letters 427: 305-308.
Standar Nasional Indonesia. 2008. Telur Ayam Konsumsi SNI-3926:2008. Badan Standarisasi Nasional, Jakarta.
Standar Nasional Indonesia. 2006. Pakan Ayam Ras Petelur (Layer) SNI 01-3929-2006. Badan Standarisasi Nasional, Jakarta.
Steel. R.G. D. & J. H. Torrie. 1993. Prinsip dan Prosedur Statistik. Terjemahan : M. Syah. Gramedia, Jakarta.
Sudarmono, A.S. 2003. Pedoman Pemeliharaan Ayam Ras Petelur. Kanisius, Yogyakarta.
Sudaryani, T. 2006. Kualitas Telur. Penebar Swadaya, Jakarta. Suprapti, L. 2002. Pengawetan Telur. Kanisius, Yogyakarta.
37 Vargas, F.D. & O. P. Lopez. 1997. Effects of enzymatic treatments on carotenoid extraction from marigold flowers (Tagetes erecta). Food Chemistry, 58 (3): 255-258.
Vasudevan, P., S. Kasyap & S. Sharma. 1997. Tagetes: A Multipurpose Plant. Bioresource Technology, 62: 29-35.
Wahju, J. 2004. Ilmu Nutrisi Unggas. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Widodo, W. 2002. Nutrisi dan Pakan Unggas Kontekstual. Fakultas Peternakan
Universitas Muhammadiyah, Malang.
Winarto, L. 2010. Tagetes Berguna Bagi Kita. Deptan. BPTP, Sumatera Utara. http://sumut.litbang.deptan.go.id/ind/index.php/component/content/article/15-benih/53-tagetes-erecta-berguna-bagi-kita [4 Juli 2012]
Wiradimadja, R., H. Burhanuddin & D. Saefulhadjar. 2004. Peningkatan kadar vitamin A pada telur ayam melalui penggunaan daun katuk (Sauropus androgynus L.merr) dalam pakan. Universitas Padjajaran, Bandung.
Wirahadikusumah M. 1985. Biokimia: Metabolisme Energi, Karbohidrat dan Lipid. Penerbit Institut Teknologi Bandung, Bandung.
Yuliani, S. & T. Marwati. 1997. Tinjauan katuk sebagai bahan makanan tambahan yang bergizi. Warta Tumbuhan Obat Indonesia (The Journal on Medicinal Plants) 3(3): 55-56.
Yuwanta, T. 2010. Telur dan Kualitas Telur. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
39 Lampiran 1. Sidik Ragam Persen Produksi Telur
SK db JK KT Fhitung F0,05 F0,01
Perlakuan 3 1380,376 460,125 5,064* 4,07 7,59
Error 8 726,954 90,869
Total 11 2107,330
Keterangan: db = derajat bebas; JK = jumlah kuadrat; KT = kuadrat tengah
Fhitung = nilai F yang diperoleh dar i hasil pengolahan data F0,05 = hasil pengolahan data dengan taraf kesalahan sebesar 5% (α = 0,05) F0,01 = hasil pengolahan data dengan taraf kesalahan sebesar 1% (α = 0,01)
* = menunjukkan hasil yang berbeda nyata
Lampiran 2. Hasil Uji Duncan Persen Produksi Telur
Perlakuan Subset for alpha = 0,05
N 1 2
R1 3 40,9297
R0 3 51,6440 51,6440
R2 3 66,3265
R3 3 66,3832
Sig. 0,206 0,107
Lampiran 3. Sidik Ragam Konsumsi Pakan
SK db JK KT Fhitung F0,05 F0,01
Perlakuan 3 306,134 102,045 977,675** 4,07 7,59
Error 8 0,835 0,104
Total 11 306,969
Keterangan: ** = menyatakan hasil yang sangat berbeda nyata
Lampiran 4. Hasil Uji Duncan Konsumsi Pakan
Perlakuan Subset for alpha = 0,01
N 1 2
R2 3 106,7133
R1 3 106,8567
R0 3 107,2200
R3 3 118,5867
40 Lampiran 5. Sidik Ragam Bobot Telur
SK db JK KT Fhitung F0,05 F0,01
Perlakuan 3 5,26 1,75 0,24 4,07 7,59
Error 8 57,91 7,24
Total 11 63,17
Lampiran 6. Sidik Ragam Bobot Putih Telur
SK db JK KT Fhitung F0,05 F0,01
Perlakuan 3 14,00 4,67 1,18 4,07 7,59
Error 8 31,72 3,96
Total 11 45,72
Lampiran 7. Sidik Ragam Persen Bobot Putih Telur
SK db JK KT Fhitung F0,05 F0,01
Perlakuan 3 16,03 5,34 2,39 4,07 7,59
Error 8 17,91 2,24
Total 11 33,94
Lampiran 8. Sidik Ragam Bobot Kuning Telur
SK db JK KT Fhitung F0,05 F0,01
Perlakuan 3 0,71 0,24 2,09 4,07 7,59
Error 8 0,90 0,11
Total 11 1,61
Lampiran 9. Sidik Ragam Persen Bobot Kuning Telur
SK db JK KT Fhitung F0,05 F0,01
Perlakuan 3 4,11 1,37 1,08 4,07 7,59
Error 8 10,17 1,27
41 Lampiran 10. Sidik Ragam Tinggi Putih Telur
SK db JK KT Fhitung F0,05 F0,01
Perlakuan 3 0,12 0,04 0,12 4,07 7,59
Error 8 2,77 0,35
Total 11 2,89
Lampiran 11. Sidik Ragam Bobot Kerabang Telur
SK db JK KT Fhitung F0,05 F0,01
Perlakuan 3 0,18 0,06 0,55 4,07 7,59
Error 8 0,86 0,11
Total 11 1,04
Lampiran 12. Sidik Ragam Persen Bobot Kerabang Telur
SK db JK KT Fhitung F0,05 F0,01
Perlakuan 3 0,16 0,05 0,464 3,50 5,95
Error 8 0,90 0,11
Total 11 1,06
Lampiran 13. Sidik Ragam Tebal Kerabang Telur
SK db JK KT Fhitung F0,05 F0,01
Perlakuan 3 0,0010 0,0003 1,0257 4,07 7,59
Error 8 0,0026 0,0003
Total 11 0,0036
Lampiran 14. Sidik Ragam Haugh Unit
SK db JK KT Fhitung F0,05 F0,01
Perlakuan 3 2,59 0,86 0,11 4,07 7,59
Error 8 64,93 8,12
42 Lampiran 15 Sidik Ragam Skor Warna Kuning Telur
SK db JK KT Fhitung F0,05 F0,01
Perlakuan 3 24,83 8,28 15,82** 4,07 7,59
Error 8 4,19 0,52
Total 11 29,02
Keterangan: ** = menunjukkan hasil yang sangat berbeda nyata
Lampiran 16. Hasil Uji Duncan Skor Warna Kuning Telur
Perlakuan Subset for alpha = 0,01
N 1 2
R0 3 6,667
R2 3 9,3867
R1 3 9,6667
R3 3 10,5000
1 PENDAHULUAN
Latar Belakang
Marigold (Tagetes erecta) merupakan tanaman yang telah lama dikenal dan telah dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan dan tujuan. Masyarakat pada umumnya menggunakan marigold sebagai anti nematoda, fungisida, dan insektisida karena kandungan terpenoidnya. Marigold juga biasa digunakan sebagai pewarna makanan karena terdapat karotenoid. Karotenoid dapat digunakan untuk menghasilkan warna yang diinginkan pada produk unggas dan menjadi sumber provitamin A yang dapat diubah menjadi vitamin A dalam tubuh hewan yang pada akhirnya dapat meningkatkan kandungan vitamin A pada produk peternakan.
Pangan asal hewan (ternak) merupakan sumber protein dan mengandung asam amino esensial yang tidak disuplai dari bahan pangan lain. Telur merupakan salah satu produk unggas (ayam) yang mempunyai nilai gizi tinggi dan lengkap mengandung asam amino esensial dan non esensial yang cukup lengkap, dan harga relatif murah. Kualitas telur dapat ditentukan dari sifat-sifat fisik dan kimianya. Kualitas telur ayam dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya bangsa ayam, umur, musim, penyakit, lingkungan (suhu dan kelembaban), pakan dan sistem pengelolaan ayam tersebut yang pada akhirnya kualitas ini akan mempengaruhi konsumen dalam menentukan pilihan. Penambahan pakan yang mengandung karotenoid dapat meningkatkan jumlah pigmen karoten dan kandungan vitamin A pada kuning telur. Peningkatan pigmen karoten dapat meningkatkan warna kuning pada telur.
2 Tujuan Penelitian
3 TINJAUAN PUSTAKA
Marigold
Marigold merupakan tanaman yang berasal dari Meksiko yang biasa digunakan sebagai obat tradisional masyarakat Meksiko. Tanaman ini memiliki banyak kegunaan antara lain, sebagai anti nematoda, fungisida, dan sebagai bunga tabur atau karangan bunga dalam tujuan sosial dan keagamaan (Vasudevan et al., 1997). Marigold juga telah digunakan pada bidang farmasi dan pengobatan tradisional karena memiliki aktivitas seperti antibakteri, antimikroba, antioksidan dan antinematoda karena kandungan terpenoid dan flavonoidnya (Gopi et al., 2012). Tanaman ini juga biasa digunakan sebagai pewarna makanan karena karena terdapat karotenoid. dan dapat menjadi sumber pewarna alami pada suplemen pakan ayam yang dapat menghasilkan warna kuning bagi kulit ternak unggas dan telur (Vargas dan Lopes, 1997; Bocanegra et al., 2004). Marigold (Tagetes erecta) sering disebut sebagai kenikir, randa kencana, ades (Indonesia), dan tahi kotok (Sunda). berdasarkan Gopi et al. (2012) marigold diklasifikasikan ke dalam sistem taksonomi sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Ordo : Asterales
Family : Asteraceae
Genus : Tagetes
Jenis : Tagetes Erecta