viii DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ... iii
HALAMAN MOTTO ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
ABSTRAK ... vii
DAFTAR ISI ... vii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Kerangka Pemikiran ... 7
1. Konsep Organisasi Internasional ... 7
2. Teori Resolusi Konflik ... 9
D. Hipotesa ... 18
E. Tujuan Penelitian ... 18
F. Metode Penelitian ... 19
ix BAB II DINAMIKA KONFLIK INTERNAL SUDAN SELATAN
A. Gambaran Umum Negara Sudan Selatan ... 21
1. Sejarah Negara Sudan Selatan ... 22
B. Akar Konflik Sudan Selatan ... 27
C. Sejarah Hubungan Etnis Dinka dan Etnis Nuer... 28
D. Dinamika Konflik Sudan Selatan 2011 – 2013 ... 33
BAB III PROSES PERDAMAIAN DI SUDAN SELATAN A. Peran IGAD Dalam Proses Perdamaian ... 40
1. IGAD Sebagai Mediator Konflik Sudan Selatan ... 42
2. Upaya IGAD Dalam Mediasi Konflik Sudan Selatan ... 43
B. Komunitas Internasional di Konflik Sudan Selatan ... 48
BAB IV KEGAGALAN IGAD SEBAGAI MEDIATOR KONFLIK SUDAN SELATAN A. Ketidakmampuan IGAD untuk Mengatasi Pembagian Kekuasaan Pembentukan Pemerintah Transisi Nasional ... 56
B. Ketidakmampuan IGAD Sebagai Mediator Untuk Menarik Diri Dalam Konflik Sudan Selatan ... 58
1. Keterlibatan Negara Anggota IGAD ... 59
2. Keterlibatan Aktor Internasional ... 63
x LAMPIRAN – LAMPIRAN
1. Map of South Sudan ... 67
2. South Sudan Crisis Map ... 68
3. Agreement Cessation of Hostilities (COH) ... 69
vii KEGAGALAN INTERGOVERMENTAL AUTHORITY AND DEVELOPMENT (IGAD) DALAM
MENCAPAI KESEPAKATAN DAMAI PADA KONFLIK SUDAN SELATAN
Yeni Yunita Ningsih 20120510444
ABSTRACT
After independence, South Sudan back into conflict is prolonged. The conflict in this
new state trigger by internal political rivalry between President Salva Kiir Maryadit and
former Vice President Riek Machar Teny Dhurgon which then extends to the ethnic divisions.
The civil war that occurred in 2013 have led to thousands of civilians were killed and
hundreds displaced. The growing conflict for approximately one and a half between the
Government of South Sudan led by President Salva Kiir and rebels Maryadit by Riek Machar
Teny Dhurgon can not be resolved through mediation efforts by IGAD.
IGAD is a subregional African organizations that play a role as mediator in the
settlement of the conflict in South Sudan. In this case, IGAD seeks to bring together and make
both parties agree to end the conflict. But the mediation efforts undertaken IGAD bring the
two sides is difficult to reach a peace deal. Therefore, this research focuses on the causes of
the failure of IGAD as a mediator in mediating the conflict in the country, with a research
question Why IGAD as a mediator failed in reaching a peace agreement in South Sudan
conflict? using the concept of International Organizations and Conflict Resolution theory,
this research seeks to analyze the causes of failure of IGAD as a mediator in South Sudan
conflict that occurred in 2013. The results showed that the inability to run the IGAD in the
extraction and termination functions as a mediator in the mediation process in because of the
involvement of various actors both regionally and internationally as well as the presence of
partiality in the negotiations led to the collapse of IGAD in ending the conflict towards a
peaceful settlement.
Key words: South Sudan, civil war, IGAD, the inability of mediators, extraction function,
1
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Konflik bukan lagi menjadi suatu hal yang baru dalam kehidupan manusia sebagai makhluk sosial. Ketika manusia berinteraksi dengan manusia lainnya, akan terdapat perbedaan baik pemahaman, pandangan maupun tujuan akan suatu hal atau bahkan perbedaan kepentingan antar satu sama lainnya. Dalam hal ini, perbedaan pandangan, nilai, kekuatan dan kepentingan oleh berbagai aktor dapat menyebabkan terjadinya konflik.
Konflik yang terjadi dalam sebuah negara merupakan suatu hal yang lazim terjadi di era modern dewasa ini. Berbagai perbedaan antara sebuah kelompok atau lebih, tidak jarang mengalami eskalasi dan harus diselesaikan dengan cara kekerasan seperti perang. Internal Conflict (konflik internal) seperti ini tentu memiliki metode tersendiri dalam penyelesaiannya. Begitu pula dengan konflik -konflik lainnya seperti konflik internasional yang terjadi antara dua negara atau lebih. Konflik Internal sebuah negara adalah salah satu kasus yang sering terjadi bahkan di era modern seperti saat ini.1
Pemberontakan terhadap sebuah pemerintahan merupakan sebuah dinamika yang sering ditemui dalam konteks hubungan internasional. Konflik yang sering terjadi
1
Putra, B. Andika. “Peranan Perserikatan Bangsa - Bangsa Dalam Pemberantasan Kelompok Lord’s
2 berkaitan dengan perebutaan kekuasaan dalam sebuah pemerintahan. Hal yang menjadi pemicu yaitu pihak – pihak yang dengan sengaja menggunakan kekerasan sebagai upaya untuk mencapai kepentingan pihak – pihak tersebut.
Kasus pemberontakan dalam sebuah negara terhadap pemerintahan merupakan kasus yang sering terjadi di Negara-negara khususnya Afrika.Afrika sebagai sebuah benua yang dianggap paling tertinggal dalam konteks perkembangan di masa kini, masih dihadapkan dengan penyelesaian konflik melalui kekerasan, yang tidak jarang berujung pada kematian bagi masyarakatnya.2 Seperti halnya konflik yang terjadi di wilayah Sudan Selatan.
Pada 9 juli 2011, Sudan Selatan di merdekakan menjadi negara Republik Sudan Selatan melalui referendum dan merupakan negara termuda di dunia.3 Sebelum memperoleh kemerdekaan, Sudan Selatan termasuk ke dalam wilayah Republik Sudan.Terpisahnya Sudan Selatan dari bagian Sudan dikarenakan adanya konflik politik, agama dan suku yang berkepanjangan yang mengakibatkan terjadinya perang sipil antara keduanya. Hal ini menyebabkan suasana semakin kacau sehingga menarik banyak perhatian masyarakat internasional yang menyebabkan beberapa inisiatif perdamaian untuk mengakhiri konflik, yang akhirnya dengan membagi negara tersebut pada tahun 2011.4 Kemerdekaan Sudan Selatan di percaya menjadi solusi akhir pada konflik yang terjadi di daerah tersebut. Namun sejak merdeka, Sudan Selatan masih di
2
Ibid.
3
BBC News South Sudan Country Profile,http://www.bbc.com/news world africa. (diakses pada 3 Oktober 2015)
4
3 pengaruhi oleh konflik kepentingan antara pemerintah di Juba dan pihak oposisi (pemberontak Sudan Peoples Liberation Movement Army (SPLM/A)).
Hal tersebut membuat Sudan Selatan kembali terjerumus pada konflik perang saudara yang berlarut – larut hingga masa sekarang. Konflik yang terjadi di Sudan Selatan mulai memanas dan memuncak pada tahun 2013 pasca merdeka. Konflik yang dimulai antara Presiden Salva Kiir Mayadit dengan mantan Wakil Presiden Riek Machar ini mengakibatkan euforia dan sikap optimis masyarakat akan kemerdekaan yang diraih Sudan Selatan pada Juli 2011 sirna.5 Perang sipil yang terjadi di Sudan Selatan sejak Desember 2013 sedikitnya telah memakan korban lebih dari 60.000 jiwa.6 Konflik individu antar Kiir dengan Machar pun memicu konflik etnis antara etnis Dinka dan etnis Nuer yang menjadi konflik bersaudara di Sudan Selatan.7
Konflik Sudan Selatan yang semakin meningkat menjadi perang sipil terbuka mendasari ketegangan dalam masyarakat Sudan Selatan, khususnya antara etnis Dinka dan etnis Nuer, telah menyebabkan pelanggaran hak asasi manusia yang signifikan serta krisis kemanusian. Diperkirakan sekitar 50 ribu orang tewas dalam konflik ini dan lebih dari 1,8 juta warga mengungsi.8 Selain itu, konflik ini juga berdampak buruk pada kelangsungan kedaulatan negara tersebut, mengingat Sudan Selatan merupakan negara yang baru merdeka. Dalam hal ini, tentu diperlukannya penyelesaian dalam mengakhiri konflik tersebut.
5
Humaeniah, “Krisis di Sudan: Perjuangan Rakyat Sudan Selatan Menuntut Kemerdekaan Tahun 1956-2011,”. http://repository.upi.edu.(di akses pada tanggal 3 Oktober 2015)
6
JonLunn. CivilWarinSouthSudan:aprime,hlm.2,http://researchbriefings.(di akses pada 4 Oktober 2015)
7
Carlo Koos & Thea Gutschke, “South Sudan‟s Newest War: When Two Old Men Divide a
Nation,”GIGA Focus (German: German Institute of Global and Area Studies, 2014), hlm. 4. http://southsudan.igad.int/. (Diakses pada tanggal 5 Oktober 2015)
8 RudiHendrik, ”
4 Di kawasan yang rawan konflik seperti Afrika, peran dari aktor internasional seperti Intergovernmental Authority on Development (IGAD) sangat penting. IGAD adalah organisasi sub regional yang terdiri dari tujuh negara yang bertujuan untuk mencapai perdamaian regional, kemakmuran dan integrasi.9 Dalam konflik Sudan Selatan, IGAD berupaya untuk menyelesaikan konflik melalui perundingan serta mediasi secara bertahap antara Salva Kiir Mayadit dengan Riek Machar. IGAD melakukan mekanisme dan memonitori jalannya perundingan perdamaian yang terjadi di Sudan Selatan. Misinya adalah mendukung proses mediasi dengan memantau, menyelidiki dan melaporkan kepatuhan kedua belah pihak dalam Perjanjian perdamaian.10
Pada12 Januari 2014, dalam mediasi yang dilakukan oleh IGAD, pihak oposisi dan pemerintah dipertemukan untuk mengakhiripermusuhan dan mencapai kesepakatan melalui Agreements on Cessation of Hostilities and Question of Detainees yang ditandatangani pada 23 Januari 2014 di Addis Abbaba. Namun, pada akhirnya perjanjian ini gagal diimplementasikan. 11 Selanjutnya IGAD berusaha untuk mengadakan putaran – putaran perundingan antara pihak yang bertikai untuk mencapai perjanjian damai. Namun, dalam perkembangannya, perjanjian perdamaian antara Kiir dan Machar yang di monitori oleh IGAD (Intergovernmental Authority on Development) belum menemui titik temu kesepakatan.
9
Sally Healy, Peacemaking In The Midst Of War : Anassessment Of IGADs Contribution To Regional Security, November 2009,hal 1.
10
http://southsudan.igad.int/. (Diakses pada tanggal 9 Oktober 2015)
11Delta Anggara Putri “
Analisis Penyebab Konflik di Sudan Selatan : Kemunculan Kembali Perang
5 Pemerintah Salva Kiir dan mantan wakil presidennya Riek Machar sepakat untuk melakukan kesepakatan damai paling lambat 5 Maret 2015.12 Namun, lewat dari tanggal yang telah ditentukan, kesepakatan damai antara Salva Kiir dan Riek Machar gagal diimplementasikan secara nyata dan tidak sesuai dengan ekspektasi yang di inginkan oleh pihak mediator.13Jon Lunn memaparkan bahwa penyebab dari gagalnya perjanjian perdamaian tersebut adalah tidak adanya keinginan yang kuat dari kedua pihak yang bertikai untuk menghentikan konflik.14Hal ini berbahaya mengingat konflik berkepanjangan yang terjadi di Sudan Selatan ini telah mendapat predikat sebagai perang saudara yang brutal dengan kejahatan genosida dan jumlah korban yang besar oleh dunia internasional.15
IGAD sebagai fasilitator dalam konflik antara Salva Kiir dan Riek Machar telah melakukan beberapa upaya dalam mendamaikan kedua pihak tersebut. Kesepakatan mengenai dihentikannya permusuhan pada beberapa perundingan yang telah di laksanakan, semuanya telah dilanggar dan belum menunjukan adanya kemajuan apa pun.16 Selain itu, kesepakatan perjanjian perdamaian antar kedua pihak tersebut gagal diimplementasikan karena melampaui batas waktu yang telah di tentukan dalam mencapai kesepakatan akhir.
12IGAD,”
Message From H.E Dessalegn, Prime Minister of The Federal Democratic Republic of Etthiopia and Chairperson of The IGAD Assembly To The People of South
Sudan”,http://southsudan.igad.int/ (di akses pada 14 oktober 2015)
13
Lolyta Dwi Anjani: “Peran IGAD dalam Konflik Sudan Selatan”https://www.academia.edu(di akses pada 15 oktober 2015)
VOA Indonesia, “Presiden Sudan Selatan Dan Panglima Pemberontak
6 Pasca kegagalan implementasi perjanjian perdamaian tersebut, konflikpun kembali memanas dan menelan banyak korban jiwa. Banyaknya usaha yang telah di lakukan IGAD selama setahun lebih sebagai mediator dalam menangani konflik di Sudan Selatan yang pada pelaksanannya IGAD gagal membawa perdamaian antara kedua belah pihak yang bersengketa. Oleh karenanya, penulis akan meneliti berbagai penyebab kegagalan IGAD dalam mencapai kesepakatan damai pada konflik Sudan Selatan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat di rumuskan suatu pokok permasalahan yaitu : “Mengapa Intergovernmental Authority on Development
(IGAD) sebagai mediator dalam konflik di Sudan Selatan gagal mencapai kesepakatan damai ?
C. Kerangka Pemikiran
Dalam menganalisis rumusan masalah di atas, maka penulis menggunakan Konsep Organisasi Internasional dan Teori Resolusi Konflik
1. Konsep Organisasi Internasional
7 Mengingat bahwa kerjasama internasional tidak selalu harus berbentuk organisasi internasional. Mungkin saja di laksanakan melalui perjanjian (treaty) atau kesepakatan (agreement) saja, yang bukan berupa perjanjian untuk membentuk suatu organisasi internasional. Oleh karenanya, selain unsur – unsur berupa kerjasama yang ruang lingkupnya melintasi batas negara, mencapai tujuan – tujuan yang di sepakati bersama dan baik antar pemerintah maupun non – pemerintah. Organisasi internasional juga perlu unsur – unsur terkait struktur organisasi yang jelas dan lengkap serta melaksanakan fungsi secara berkesinambungan. Dalam mencapai tujuannya, organisasi internasional diharapkan dapat menjalankan fungsinya dengan baik serta berkesinambungan, sehingga tujuan tersebut tidak menyimpang dari yang telah di tetapkan. Setiap organisasi internasional juga memiliki peranan dan fungsinya masing – masing.
Viotti dan Kauppi menjelaskan bahwa organisasi internasional dalam isu-isu tertentu berperan sebagai aktor yang independen dengan hak-haknya sendiri. Organisasi internasional juga memiliki peranan penting dalam mengimplementasikan, memonitor dan menengahi perselisihan yang timbul dari adanya keputusan-keputusan yang dibuat oleh negara-negara.
8 Rekonsiliator merupakan pihak yang di bentuk atas kesepakatan pihak yang bersengketa, atau yang telah ada sebelumnya dalam melakukan resolusi konflik.17
Dari pemaparan di atas, IGAD sebagai organisasi internasional berperan sebagai mediator dalam penyelesain konflik Sudan Selatan. Hal tersebut dapat di lihat dari misinya sebagai mediator dalam mendukung proses mediasi dengan memantau, menyelidiki serta melaporkan kepatuhan kedua belah pihak dalam perjanjian perdamaian.
2. Teori Resolusi Konflik
Teori resolusi konflik telah menjadi begitu kompleks dalam ranah hubungan internasional, terutama bagi akademisi hubungan internasional dewasa ini. Pada dasarnya, pengertian dari resolusi konflik dapat kita lihat berdasarkan pengertian konflik itu sendiri.
Boulding menggambarkan konflik sebagai suatu situasi dimana adanya perebutan atau pertentangan antar kelompok dan kompetisi internasional diantara kepentingan dan nilai yang mewarnai dinamika kekuasaan.18 Ketika konflik melibatkan instrumen-instrumen kekerasan maka konflik dapat berdimensi negatif. Setelah membahas tentang pengertian konflik, maka kita akan lebih mudah membahas tentang resolusi konflik. Resolusi konflik (conflict resolution) adalah pandangan yang berangkat dari asumsi
17
Situmorang dalam Paraeira, Andre. Perubahan dan Perkembangan Studi Hubungan Internasional.
Bandung: Citra Aditya Bakti, 1999.hal.35
18
9 bahwa dengan lebih merujuk pada sebab-sebab konflik, maka dalam jangka panjang struktur hubungan dari pihak-pihak yang bertikai dapat diselesaikan.19
Dalam konteks hubungan internasional, konflik dapat dibagi menjadi dua kategori yaitu external conflict (konflik eksternal) dan internal conflict (konflik internal). Dimana External conflict melibatkan lebih dari satu negara sedangkan internal conflict terjadi dalam suatu negara. Konflik internal pada suatu negara dapat disebabkan oleh berbagai hal seperti konflik politik, ekonomi, etnis, perdagangan, perbatasan dan sebagainya. Selain itu, Konflik internal dalam suatu negara tidak jarang di sebabkan adanya perebutan kekuasaan dalam politik yang akan berujung pada konflik bersenjata. Konflik seperti ini tidak jarang mengalami keberlanjutan. Hal tersebut akan menimbulkan kerugian materi, dan memakan korban jiwa yang tidak sedikit. Tentulah kedua belah pihak maupun pihak luar yang menyaksikan menginginkan konflik dapat di akhiri.
Dalam setiap konflik selalu di cari jalan penyelesaian. Konflik terkadang dapat di selesaikan oleh kedua belah pihak yang bertikai secara langsung. Namun, tak jarang pula harus melibatkan pihak ketiga untuk menengahi dan mencari jalan keluar baik oleh negara atau sebagai organisasi regional bahkan organisasi internasional.
Pada umumnya langkah penyelesaian konflik terbagi atas dua, yaitu: cara penyelesaian secara damai, yaitu pihak-pihak yang bertikai bermufakat dalam mencari penyelesaian secara persahabatan dan penyelesaian dengan cara paksaan atau dengan kekerasan. 20 Pada pembahasan ini, penulis lebih memfokuskan penyelesaian konflik
19
Vinsensio Dugis, Konflik dan Resolusi Konflik, CSGS Publisher,Surabaya hal.54
20
10 secara damai. Secara umum, cara yang dapat ditempuh pihak-pihak yang berkonflik secara damai dapat dikelompokkan kedalam empat bagian, yaitu:21
1. Negosiasi langsung, merupakan perundingan antara pihak-pihak yang berkonflik yang dalam prosesnya dapat saja melibatkan pihak lain di luar pihak-pihak yang terlibat langsung dalam konflik.
2. Mediasi (Mediation), merupakan bentuk penyelesaian konflik yang melibatkan pihak lain yang berfungsi sebagai penengah.
3. Arbitrasi (Arbitration), merupakan penyelesaian konflik yang mana peran pihak ketiga memiliki posisi yang lebih dalam menentukan proses perundingan, yang dimungkinkan karena kewibawaan atau kekuatan lain, seperti politik dan ekonomi yang dimiliki oleh pihak ketiga, serta legitimasi yang dipunyai.
4. Pengadilan, merupakan bentuk penyelesain konflik yang tanpa harus mendapatkan persetujuan dari kedua belah pihak yang bertikai, pengadilan dapat menggunakan kekuasaannya untuk menyelesaikan konflik. Dimana pengadilan memiliki sifat otonom dan daya paksa.
Negosiasi
Pengertian negosiasi dalam International Relations Political Dictionary: Fifth Edition dijelaskan bahwa negosiasi adalah teknik diplomasi untuk mewujudkan perdamaian dalam proses penyelesaian perbedaan dan pencapaian kepentingan nasional masing-masing pihak.22
Berdasarkan pengertian dari negosiasi tersebut, maka benang merah yang dapat diambil yaitu negosiasi merupakan suatu proses penyelesaian konflik antar dua atau
21
Op.,Cit. Vinsensio Dugis hal 56 - 66
22
Oxford Dictionaries on line, Negotiation,
11 lebih pihak untuk mencari jalan keluar yang lebih baik sehingga dapat meminimalisir kerugian yang di timbulkan baik yang bersifat materi maupun korban jiwa. Apabila upaya penyelesaian dengan cara negosiasi tidak dapat di tempuh lagi, maka di butuhkan keterlibatan pihak ketiga dalam proses penyelesaian konflik.
Penyelesaian konflik antara pemerintah Salva Kiir dan pihak pemberontak, Riek Machar telah berlangsung dalam kurun waktu yang lama dan memakan korban jiwa serta kerugian materi yang tidak sedikit, dalam hal ini, kedua belah pihak tetap pada pendiriannya masing – masing sehingga sulit bagi kedua belah pihak untuk menyelesaikan konflik secara langsung. Maka, di perlukannya negosiasi yang menggunakan peran pihak ketiga atau mediator.
Mediasi
Mediasi menurut Garry Goopaster adalah suatu proses negosiasi pemecahan masalah di mana pihak luar yang tidak memihak (imparsial) bekerja sama dengan pihak-pihak yang bersengketa untuk membantu mereka memperoleh kesepakatan perjanjian yang memuaskan.
12
Mediator
Mediator adalah pihak netral yang membantu para pihak dalam proses perundingan guna mencari berbagai kemungkinan penyelesaian sengketa tanpa menggunakan cara memutus atau memaksakan sebuah penyelesaian.23 Dalam hal ini, mediator bertugas untuk membantu para pihak yang bersengketa bernegosiasi dengan lebih efektif untuk mencari penyelesaian atas masalah-masalah sengketa. Selain itu, mediator juga mengontrol jalannya negosiasi namun tidak berkuasa atas hasil dalam negosiasi tersebut.
Adapun beberapa syarat yang harus di penuhi sebelum menjadi mediator bagi pihak – pihak yang bersengketa, yaitu :24
1. Kehadiran mediator disetujui dan di terima oleh semua pihak yang bersengketa 2. Sebagai penengah, pendapatnya dapat di terima oleh semua pihak yang
bersengketa
3. Memiliki kredibilitas tinggi
Oleh karenanya, mediator harus dapat menjalankan perannya secara baik dan benar. Kredibilitas seorang mediator merupakan hal yang sangat penting pada proses mediasi dalam penyelesaian konflik.
23
Muslih Mz. Mediasi : Pengantar Teori dan Praktek. http://wmc-iainws.com/artikel/16-mediasi-pengantar-teori-dan-praktek di akses pada 16 Oktober 2015
24
13
Kredibilitas Mediator
Keberhasilan mediator dalam proses penyelesaian konflik, tergantung pada kredibilitas dan kemampuan aktor yang menjadi mediator.25 Dimana kredibilitas sangat tergantung pada sikap netral dan kemampuan dari mediator. Dalam hal ini, pihak melihat sikap tidak memihak dari kepentingan aktor sebelum terlibat dalam konflik dan menilai kemampuan dari kekuatan dalam menggunakan pengaruh aktor tersebut. Oleh karena itu, mediator harus mempunyai hal – hal antara lain :26
1. Persuasi (Persuasion)
Kemampuan mediator untuk memberikan masa depan yang lebih baik dengan menunjukan bahwa dengan perdamaian kedua belah pihak akan mendapatkan hasil yang lebih baik dari pada melanjutkan konflik
2. Ekstraksi (Extraction)
Kemampuan mediator menggali proposal dari satu pihak dimana pihak lain melihat bahwa proposal tersebut menguntungkan pihak lain.
3. Terminasi
Kemampuan mediator untuk menarik diri dari proses mediasi. Mediator dalam hal ini harus dapat menarik diri dan meninggalkan pihak dalam proses mediasi dan menyerahkan semua keputusan kepada para pihak untuk melanjutkan konflik. Dalam proses ini, apabila ada kelelahan berkonflik maka para pihak akan merasa sensitif ketika mediator menarik diri.
4. Limitasi (limitation)
25
Ibid
26
14 Kemampuan mediator untuk menahan alternatif para pihak dan memberikan alternatif yang lebih baik. Mediator dalam hal ini harus dapat menolak proposal para pihak dan memberikan bentuk mediasi yang lebih dapat di terima.
5. Deprivasi
Kemampuan mediator menyembunyikan sumber daya pada satu pihak atau kedua belah pihak. Dalam hal ini mediator harus mempunyai kekuatan menekan kepada para pihak dengan cara memberikan dukungan atau hukuman pada satu pihak sebelum melakukan mediasi
6. Gratifikasi
Kemampuan mediator menambahkan sumber daya pada hasil mediasi. Dalam hal ini mediator harus bisa menekan dengan memberikan sumber daya kepada salah satu pihak atau kedua belah pihak pada saat perdamaian terwujud.
Dari pembahasan di atas, penulis memfokuskan langkah penyelesaian konflik secara damai pada konflik Sudan Selatan. Dimana cara penyelesaian konflik yang ditempuh oleh Pemerintah Sudan Selatan dan Pemberontak dalam usaha penyelesain konflik yang berkepanjangan antara kedua belah pihak yaitu melalui mediasi yang melibatkan peran pihak ketiga (mediator). Pemerintah Sudan Selatan dan Pemberontak menyadari bahwa usaha penyelesaian konflik dengan kekerasan hanya akan menimbulkan kerugian yang lebih besar baik secara materi maupun korban jiwa.
15 kekuatannya. IGAD dalam melakukan mediasi konflik Sudan Selatan memiliki kemampuan yaitu :
1. Persuasi (Persuasion)
IGAD dalam hal ini telah berhasil membawa kedua belah pihak untuk melakukan pembicaraan damai di bawah mediasi IGAD.IGAD dalam hal ini memberikan pandangan bahwa dengan tekanan dari masyarakat internasional untuk mengakhiri konflik akan mengakibatkan pemerintah Sudan Selatan kesulitan dalam menjalin hubungan dengan negara manapun sehingga opsi untuk pelakukan perdamaian merupakan solusi yang lebih baik daripada melanjutkan konflik. Hal ini di karenakan kondisi Sudan Selatan yang semakin meningkatnya kekerasan di wilayah tersebut.
2. Ekstraksi ( Extraction)
Dalam hal ini, IGAD tidak mampu mengakomodasi kepentingan kedua belah pihak dalam perundingan. Pihak oposisi menganggap perundingan pembentukan pemerintah transisi tidak adil atau memihak pada pemerintah Sudan Selatan sehingga membuat pihak oposisi tidak percaya terhadap perundingan tersebut.
3. Terminasi
16 4. Limitasi (limitation)
IGAD mempunyai kemampuan dalam menolak proposal yang di ajukan pihak pemberontak untuk menurunkan Salva Kiir dari jabatannya. Selain itu, IGAD mempunyai kemampaun dalam hal menyampaikan alternatif lain ketika pembicaraan menjadi buntu. IGAD dalam hal ini memberikan proposal COH yang menjadi dasar pembicaraan perdamaian .
5. Deprivasi
Dalam hal ini, IGAD menggunakan dukungan internasional sebagai alat penekan. Dukungan internasional tersebut adalah sanksi diplomatik PBB, Uni Eropa, Amerika Serikat terkait embargo senjata, larangan perjalanan, pembekuan aset dan sebagainya.
6. Gratifikasi
Selain tekanan yang bersifat hukuman, IGAD juga menjanjikan aliran bantuan uni eropa dan negara – negara lainnya apabila perdamaian dapat terwujud di Sudan Selatan.
D. Hipotesa
17
E. Tujuan Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, penulisan bertujuan untuk memberikan pemaparan tentang : Seberapa besar peran Intergovermental Authority On Development (IGAD) sebagai organisasi sub – regional di Afrika dalam menangani konflik di Sudan Selatan serta sebagai bahan analisis terkait kegagalan Intergovermental Authority On Development dalam melakukan mediasi pada konflik internal Sudan Selatan ini.
F. Jangkauan Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis akan memaparkan tentang konflik internal yang terjadi di Sudan Selatan dan upaya mediasi yang di lakukan oleh Intergovermental Authority On Development serta mengapa Intergovermental Authority On Development
sebagai mediator gagal dalam memediasi konflik tersebut.
Jangkauan penelitian ini diawali pada bulan Desember 2013 ketika konflik di Sudan Selatan memanas, sampai dengan Maret 2015 terkait kesepakatan akhir untuk mencapai kesepakatan damai, yang mana IGAD telah melakukan berbagai upaya negosiasi antar pihak yang bertikai dalam konflik internal di Sudan Selatan.
G. Metode Penelitian
18
H. Sistematika Penulisan
Adapun Sistematika dari Penulisan penelitian ini akan di susun dalam empat bab, yaitu :
Bab 1 Bab ini memuat mengenai Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Kerangka Teori, Hipotesa, Metode Penelitian, Jangkauan Penelitian dan Sistematika Penulisan.
Bab II Pada bab ini, penulis akan menjelaskan Dinamika konflik internal di Sudan Selatan yang berisi pembahasan gambaran umum Sudan Selatan, latar belakang terjadinya konflik internal Sudan Selatan, baik dari segi kronologis, pemicu dan dinamika konflik Sudan Selatan 2011-2013
Bab III Pada bab ini, penulis akan menjelaskan Peran IGAD dalam proses Perdamaian di Sudan Selatan yang berisi pembahasan peran IGAD sebagai meditor konflik Sudan Selatan dan Upaya IGAD dalam proses mediasi serta keterlibatan komunitas internasional pada konflik Sudan Selatan.
Bab IV Pada bab ini, penulis akan menjelaskan kegagalan IGAD sebagai mediator konflik Sudan Selatan
19
BAB II
DINAMIKA KONFLIK INTERNAL SUDAN SELATAN
Pada bab II ini penulis akan memaparkan lebih jauh dinamika konflik internal yang terjadi di Sudan Selatan yang nantinya akan memperjelas berbagai uraian penulis sebelumnya. Konflik internal yang berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama di Sudan Selatan belummenemukan titik damai. Hal ini di mulai pasca kemerdekaan negara tersebut. Konflik yang pada awalnya bermula dari perebutan kekuasaan menjadi semakin luas dengan adanya perseteruan antar etnis, hal ini kemundian terulang kembalinya perang saudara di Sudan Selatan. Konflik berkepanjangan ini juga berdampak pada penderitaan bagi kelangsungan hidup masyarakat dan krisis kemanusian serta dampak buruk pada pembangunan negara yang baru saja merdeka.
A. Gambaran Umum Negara Sudan Selatan
Sudan Selatan merupakan negara pecahan dari Sudan yang memiliki luas wilayah sebesar 644.329 km2.1Terletak di Afrika Timur dengan ibu kota atau pusat pemerintahannya di Juba.Negara termuda di dunia yang berbentuk republik ini berbatasan dengan Sudan di bagian Utara, Ethiopia di bagian barat, Kenya di bagian Tenggara, Uganda di bagian Selatan, Kongo di bagian Barat Daya, serta Republik Afrika Tengah di bagian barat. Selain itu, Sudan selatan meliputi kawasan rawa yang luas,yang di bentuk oleh sungai nil, dan di sebut Bahrul Jabal.
1
20
Jumlah populasi penduduk Sudan Selatan yang sebesar 11.090.104 jiwa terdiri dari etnis Dinka, Nuer, Kakwa, Bari, Azande, Shilluk, Kuku, Murle,Mandari, Didinga, Ndogo, Bviri, Lndi, Anuak, Bongo, Lango, Dungotona, dan Acholi.2Sudan Selatan memisahkan diri dari Republik Sudan dengan membentuk sebuah negara baru pada 9 juli 2011, hal ini kemudian secara resmi menjadikanSudan Selatan sebagai negara termuda di dunia dan terdaftar sebagai anggota ke-196 di PBB3. Sudan Selatan juga bergabung menjadi anggota Uni Afrika serta telah mendaftarkan diri untuk bergabung dengan Persemakmuran Komunitas Afrika Timur, Dana Moneter Internasionaldan Bank Dunia.
Sudan Selatan terbagi menjadi 10 negara bagian yang di antaranya Central Equatoria , Timur Equatoria , Jonglei , Lakes , Northern Bahr el Ghazal , Unity , Upper Nile , Warab , Western Bahr el Ghazal , Western Equatoria.4
1. Sejarah Negara Sudan Selatan
Secara historis, sejarah Sudan Selatan dapat di telusuri dari masa kolonialisasi inggris pada tahun 1924, di mana Inggris menjalankan politik isolasi dalam kebijakan pemisahan pemerintahan Sudan menjadi Sudan Utara yang wilayah penduduknya di dominasi oleh etnis arab yang memeluk islam dengan Sudan Selatan yang wilayah penduduknya merupakan mayoritas etnis kulit hitam Afrika dengan menganut paham animisme dan kristen.5
2
Ibid.
3
BBC.South Sudan Profile.http://www.bbc.com/news/worldafrica(di akses pada 18Oktober 2015)
4
Ibid
5
21
Inggris menerapkan kebijakan larangan berpergian dengan alasan untuk mencegah penyebaran penyakit malaria dari wilayah Selatan. Namun, kebijakan ini berdampak pada wilayah Sudan Utara dan Selatan yang semakin teisolasi satu sama lain, sehingga sikap saling tidak percaya antar wilayah meningkat, ditambah dengan adanya doktrin Inggris yang membangun kesadaran identitas penduduk Sudan wilayah selatan, bahwa mereka adalah penduduk asli Afrika yang berbeda dengan penduduk Sudan wilayah Utara. Akibatnya, Kebijakan kolonial Inggris ini yang menjadi salah satu sumber konflik yang berkepanjangan.
Pada tahun 1946, Inggris memutuskan untuk menggabungkan Sudan Utara dan Selatan menjadi wilayah administratif dengan menjadi kesatuan negara tunggal dan berpusat di Khartoum, Sudan Utara.
Pada tahun 1955, setahun sebelum Sudan dimemerdekakan oleh Inggris,telah terjadi pemberontakan di sejumlah kota di Sudan wilayah selatan,dimana sejumlah anggota Korps Ekuatorial yang semula menjadi penjaga keamanan di Sudan wilayah selatan menjadi penggerak pemberontakan. Pemberontakan ini disebabkan karena adanya ketakutan masyarakat Sudan wilayah selatan akan rencana Inggris untuk memerdekakan Sudan menjadi satu wilayah negara dengan kota Khartoum di wilayah Sudan utara sebagai pusat pemerintahannya. Masyarakat Sudan di wilayah selatan khawatir akan dominasi oleh komunitas masyarakat dari utara, ditambah lagi dengan tidak ada wakil dari Sudan wilayah selatan ketika terjadi perundingan rencana kemerdekaan dengan Inggris dan ditetapkannya bahasa Arab sebagai bahasa resmi Sudan yang mana bahasa Arab adalah bahasa mayoritas di Sudan wilayah utara.
22
Pada Januari 1971, mantan Letnan Tentara Sudan, Joseph Lagu membentuk gerakan baru dengan mengumpulkan dan menyatukan semua kelompok gerakan pemberontakan yang pro Sudan Selatan termasuk Anyanya kedalam sebuah gerakan yang bernama Southern Sudan Liberation Movement (SSLM) atau Gerakan pembebasan Sudan Selatan. Gerakan ini melakukan berbagai macam negosiasi dengan pihak pemerintahan pusat untuk mencapai sebuah perjanjian yang disepakati bersama.
Tertekan oleh gerakan pemberontakan yang terjadi di daerah Sudan Selatan, pemerintah Sudan yang dipimpin oleh Jaafar Nimeiry dan SSLM yang dipimpin oleh Joseph Lagu, sepakat untuk menghentikan perang melalui Perjanjian Addis Ababa pada tanggal 27 Maret 1972 di Addis Ababa, ibukota Ethiopia. Perjanjian ini berisi pembentukan pemerintahan otonomi tunggal yang memiliki otoritas di seluruh wilayah Sudan selatan, pendirian Konsul Eksekutif Tinggi untuk mengurusi tata daerah, kecuali urusan militer, hubungan luar negeri, keuangan, dan ekonomi, Serta penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa utama di wilayah Sudan selatan.6 Di sepakatinya perjanjian ini membawa pada akhir dari perang sipil pertama tahun 1955-1972.
2) Perang Sipil Kedua (1983-2005)
Kaum Fundamentalis Islam di wilayah utara merasa tidak puas dengan perjanjian Addis Ababa, yang mana memberikan otonomi khusus kepada wilayah Sudan selatan. Lalu, pada tahun 1983, Presiden Nimeiry menyatakan
6
23
bahwa Sudan adalah negara Islam dengan penegakkan hukum Islam di seluruh wilayah Sudan. Hal ini secara tidak langsung mengakhiri otonomi khusus Sudan wilayah selatan.
Oleh karena itu, perang sipil kedua Sudan yang bermula pada tahun 1983, disebabkan oleh realisasi perjanjian Addis Ababa yang tidak sesuai dengan harapan masyarakat di Sudan Selatan. Dalam penerapannya, pemerintahan pusat yang pada awalnya menjanjikan sebuah pemerintahan otonomi bagi Sudan Selatan, justru melanggar. Kasus intervensi dalam pemilihan umum, serta pengabaian terhadap perkembangan sosio-ekonomi Sudan Selatan mewarnai 11 tahun penerapan perjanjian Addis Ababa.Namun,negosiasi perdamaian masih terus berlanjut, sampai pada 19 November 2004.
Kedua pihak menandatangani sebuah deklarasi yang memberikan komitmen kepada kedua belah pihak untuk melakukan finalisasi perjanjian perdamaian komprehensif (Comprehensive Peace Agreement) sebelum Desember 2004. Akhirnya pada Januari 2005, perjanjian damai antara pemerintah Sudan & pemberontak di Selatan(SPLA) dicapai melalui perundingan di Nairobi, Kenya.
24
Pada Januari 2011, referendum untuk menentukan nasib Sudan Selatan dilaksanakan. Keputusan untuk mengadakan sebuah referendum, merupakan salah satu perjanjian yang telah disetujui oleh kedua pihak (SPLA/M dan pemerintahan Khartoum) dalam perjanjian perdamaian komprehensif tahun 2005. Referendum dilaksanakan 6 tahun pasca pengaplikasian perjanjian Naivasha serta bersifat mengikat. Hasil dari referendum tersebut adalah lebih dari 90% rakyat Sudan Selatan memilih untuk di merdekakan. Sehingga pada 9 Juli 2011, Sudan merdeka dengan Salva Kiir sebagai presidennya dan kota Juba sebagai Ibukotanya.
B. Akar Konflik Sudan Selatan
Republik Sudan Selatan telah mengalami konflik perang sipil yang berkepanjangan selama beberapa dekade hingga kini. Negara tersebut merupakan negara termuda di dunia yang mendapatkan kemerdekaan dari hasil perjanjian perdamaian komprehensif 2005. Namun setelah memisahkan diri, kondisi Sudan Selatan justru tidak lebih baik, justru Sudan Selatan kembali terjebak dalam konflik internal maupun eksternal. Seperti masih terjadinya pemberontakan ataupun konflik antar etnis
Krisis yang terjadi di Sudan Selatan saat ini, jika kita lihat dari sejarahnya, merupakan permasalahan yang terjadi sejak berdirinya gerakan Sudan People’s
Liberation Movement (SPLM). 7 Dimana Salva Kiir dan Riek Machar merupakan
7
25
anggota dari SPLM. Meskipun keduanya anggota dari SPLM namun secara politis adalah rival. Hal tersebut di karenakan terdapatnya perbedaan pendapat atas visi dan kepemimpinan, yang mengarah kepada perjuangan internal dua faksi. Salah satu faksi terdiri atas golongan separatis yang konon menyatakan kemerdekaan langsung dari Sudan Selatan sebagai tujuan utama dari gerakan, sementara faksi lainnya terdiri dari golongan Serikat yang bertujuan lebih kepada memperjuangkan transformasi Sudan yang lama menjadi The New Sudan.8
Oleh karenanya, SPLM sering mengalami berbagai kendala internal seperti perbedaan ideologi hingga pada perebutan kekuasaan. Meskipun perbedaan dalam SPLM pada dasarnya bersifat taktis dan ideologis, namun perselisihan yang terjadi antara dua faksi tersebut membawa pada identitas anggotanya yang berbeda. yaitu nuer melawan dinka. Hal tersebut di picu oleh persaingan politik antar keduanya.9
Dalam hal ini, jelas terlihat bahwa SPLM sebagai gerakan yang terdiri dari berbagai kelompok, tentara dan pemimpin – pemimpin suku memiliki beragam kepentingan. Dimana persatuan yang terjalin di antara mereka, tidak benar – benar di dasarkan atas kepentingan kolektif. Dengan kata lain, tidak ada hal lain yang menyatukan mereka selain keinginan besar untuk memerdekan diri dari Khartoum.10
8
Peter adwok Nyaba. The politics of liberation in south sudan : an insiders view. 1996. Africa : Fountain Publication. Hal 51
9
The Sudd Institute,South Sudan’s Crisis: Its Drivers, Key Players, and Post-conflict Prospects,2014 hal.2
10
26
C. Sejarah Hubungan Etnis Dinka dan Etnis Nuer
John Garang dan Samuel Gai Tut (1984)
Pada 1984, perebutan kekuasaan antara Dinka dan Nuer yang terjadi pada kepemimpinan John Garang (dari etnis Dinka) dengan Samuel Gai Tut(dari etnis Nuer). Keduanya merupakan pemimpin yang berjuang untuk kebebasan Sudan Selatan, namun memiliki basis ideologi yang berbeda.
John Garang akhirnya membunuh lawannya,yaituSamuel Gai Tut dan mengambil kepemimpinannya.11Setelah meninggalnyaSamuel Gai Tut, William Abdallah Chuol yang merupakan sorang pemimpin militer Nuer menguasai pasukan Gai Tut yang hampir seluruhnya suku Nuer untuk melanjutkan perang melawan pasukan John Garang. Saat itulah perpecahan ideologi antara John Garang dan pendukung Samuel berkembang menjadi pertempuran Nuer melawan dominasi Dinka, namun William Abdallah Chuol tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap warga sipil, sehingga pertempuran tersebut hanya sebatas pada antar pasukan bersenjata.12
John Garang dan Riek Machar, (1991)
Pada tahun 1991, konflik etnis Dinka dan Nuer semakin meluas karena adanya ketidaksepakatan politik antara John Garang dan Riek Machar.Hal ini di picu pemberontakan beberapa anggota SPLM termasuk salah satunya Riek, komandan seniorSPLA terhadap kepemimpinan John dalam SPLM yang di anggap terlalu
11
Thon Agany Ayiei, The New Sudan Vision (NSV),understanding the tribal , political, economic,aspects, of the current south sudan civil war and their complications in achieving a peaceful, lasting solution.(Diakses pada 20 Oktober 2015)
12
27
sentralistik.13 Selain itu, perselisihan Machar dengan John Garang didasarkan pada perbedaan ideologis mengenai tujuan gerakan yang juga pemicu awal ketegangan tersebut.
Machar sebagai separatis mendukung pemisahan penuh Sudan Selatan dari Sudan, sementara John yang berasal dari serikat, yang mempunyai visi untuk membentuk Sudan baru yang bersatu. Namun, pertempuran ini berbeda dengan perang pada tahun 1984. 14
Perang tahun 1991 ini merupakan pertempuran besar pertama yang terjadi antara Dinka dan Nuer.15 Hal inimengakibatkan penderitaan yang berdampak buruk terhadap warga sipil di kedua belah pihak. Pada 28 Agustus 1991, Riek Machar dan lam akol, bersama dengan beberapa anggota SPLM melakukan kudeta terhadap kepemimpinan john garang,yang di sebut Deklarasi Nasir. Namun, percobaan kudeta tersebut gagal. Dan menimbulkan perpecahan internal dalam keanggotaan SPLM/A.16
September 1992, muncul dua kelompok pecahan baru di dalam SPLA yang masing-masing dipimpin oleh William Nyuon Bany dan pada bulan Februari 1993, muncul faksi pemberontakan ketiga oleh Kerubino Kwanyin Bol. Pada tanggal 5 April 1993, ketiga faksi pemberontak ini bersatu dan membentuk SPLA United dan menjadi saingan baru bagi SPLA pimpinan John Garang yang menyebabkan gerakan tersebut di ambang kehancuran pada tahun 1992 – 1994. (The Sudd Institute, South Sudan’s Crisis:
Its Drivers, Key Players, and Post-conflict Prospects,2014 hal.2-3)
28
Perpecahan internal tersebut juga menyebabkan timbulnya perpecahan antara komunitas Dinka dan Nuer, yang mana persaingan politik juga semakin buruk tiap tahunnya. Perang yang mematikan kemudian terjadi antara dua komunitas tersebut serta menanamkan kebencian bagi kedua kubu, bahkan memicu insiden yang lebih besar yang di sebut bor massacre.17
Fraksi SPLM Nasir mulai melemah, yang menyebabkan Riek Machar memutuskan untuk bergabungdengan pemerintah Sudan, yang akhirnya menandatangani apa yang dikenal sebagai Perjanjian perdamaian Khartoum pada tahun 1997. Bergabungnya Riek Machar dengan Khartoum di dasari pada rasa frustasi Riek Machar karena gagal dalam melakukan kudeta serta faksinya terpecah – pecah menjadi lebih dari sepuluh kelompok.18. Namun, lambat laun Riek Machar menyadari bahwa perjanjiannya dengan khartoum tidak efektif, yang mana lebih menguntungkan pemerintah dalam setiap kesempatan. Sehingga Riek Machar mulai melakukan komunikasi dengan John Garang, terlebih terdengar kabar bahwa Khartoum dan John akan melakukan pembicaraan damai, setelah penandatangan protokol Machakos.19
Riek Machar menyadari bahwa ia bisakehilangan lebih jauh jika kesepakatan diantara Khartoum dan SPLM tercapai tanpa dia di Sudan Selatan. Hal ini kemudian sampai pada perjanjian genjatan senjata antara SPLM Nasir yang dipimpin oleh Riek dan John Garang selaku pemimpin SPLM tahun 1999.20
17Bor Masscare,pembantaian pasukan sebagian besar Nuer yang setia kepada Machar menyerang
masyarakat Dinka di dalam dan sekitar Bor. 18
Op.,CitThe Sudd Institute, South Sudan’s Crisis: Its Drivers, Key Players, and Post-conflict Prospects.hal 3
19
Protokol Machakos,Kesepakatan Damai antara Pemerintah Sudan dan SPLM mengenai sebuah negara Independen bagi Sudan Selatan.Di tandatangani di Kenya, Mackos
20
29 Gambar.1.1
Commander Salva Kiir (with beard and uniform) together with Nuer and Dinka chiefs at Wunlit, March 1999. Sumber : Sharon Elaine Hutchinson
Pada 8 Maret 1999, melalui The Wunlit Dinka – Nuer Covenant di Wunlit, Bahr el Ghazal, Sudan di bawah naungan New Sudan Council of Churches (NSCC), di tanda tangani oleh pemimpin etnis Dinka dan Nuer, pemimpin sipil,tokoh masyarakat, orang tua, pemimpin gereja, wanita dan pemuda, perjanjian ini menyatakan mengakhiri konflik bersenjata yang telah berlangsung antara Dinka dan Nuer dan dengan genjatan senjata secara permanen.termasuk berbagai tindakan permusuhan, penculikan antar suku, masalah perbatasan, berbagai perselisihan, perampasan ternak, kawin paksa, perlunya menghormati kebebasan bergerak, perdagangan antar komunal, para pengungsi di himbu untuk kembali ke rumah mereka dan membangun hubugan baik dengan kelompok masyarakat lain.21
21
30
Pada tahun 2002 John Garang dan Machar berdamai dan kembali bekerja sama menuju pembebasan Sudan Selatan dari Sudan. Kembalinya RiekMachar dan Lam Akol ke SPLM membantu menyatukan rakyat Sudan Selatan sebelumdeklarasi kemerdekaan Sudan Selatan,pemimpin SPLM berusaha memperbaharui upaya rekonsiliasi untuk menyatukan seluruh kekutan Sudan Selatan sebelum kemerdekaan.22
Hubungan antar keduanya terlihat telah membaik,dimana machar kemudian menduduki jabatan tertinggi ketiga dalam struktur kekuasaan SPLM, setelah john garang dan wakilnya, salva kiir. Perdamaian ini pun berlangsung cukup lama hingga kemerdekaan sudanselatan tercapai. hal tersebut tergambar dari keputusan Salva Kiir sebagai pemimpin partai sekaligus calon presiden pertama di Sudan Selatan dengan menggandeng Riek sebagai wakil presidennya.23
D. Dinamika Konflik Sudan Selatan 2011 - 2013
Kekerasan yang terjadi di wilayah Sudan Selatan pada tahun 2013 muncul ketika Riek Macharberniat untuk berkompetisi dalam pemilu 2010 dengan menantang Salva Kiir dan berusaha untuk menggantikan kepemimpinan partai sehingga memprovokasi terjadinya ketegangan internal dalam SPLM pada saat itu.24
Presiden Salva Kiir secara terbuka menolak untuk bekerjasama dengan Machar dan sekjen SPLM, Pagan Anum, dan berniat untuk menunjuk orang – orang pilihannya
22
IbidThe Sudd Institute, South Sudan’s Crisis: Its Drivers, Key Players, and Post-conflict Prospectshal.3 23
Ibid 24
31
sendiri. Namun, ketegangan tersebut kemudian dapat segera diselesaikan oleh partai delegasi pertemuan Konvensi Nasional dengan cara mempertahankanstatus quo.25
Hal tersebut untuk menjamin kelangsungan dan kesatuan partai dalam menghadapi pemilu 2010.26Perselisihan yang terjadi antara Riek Machar dan Salva Kiir terselesaikan dengan Salva Kiir memilih Riek Machar sebagai calon wakil presiden dalam pemilu 2010. 27
Pencalonan Salva Kiir dan Riek Machar berhasil memenangkan pemilu di Sudan Selatan sebagai Presiden dan Wakil Presiden. Namun, kedudukan tersebut tidak mampu bertahan lama yang dikarenakan ketegangan muncul kembali pada tahun 2011, ketika Riek Machar dan Salva Kiir saling bertentangan atas konstitusi transisional. Dimana Presiden Salva Kiir menuduh Riek Machar menjalankan pemerintahan paralel (pemerintahbayangan yang dipimpin oleh machar) dan menyebarkan rancangan konstitusinya sendiri.28Ketegangan muncul dan kembali memburuk saat itu.
Maret 2013, pertemuan biro politik, organ politik tertinggi SPLM menjadi kacau setelah Machar, Pagan Amun, dan Madam Nyan dengan secara terbuka menyatakan niat mereka untuk menantang presiden untuk menjadi pemimpin partai dan presiden selanjutnya.29 Hal ini membuat Presiden marah dan merasa di khianati.
April 2013, presiden mencabut hak pencalonan wakil presidennya dengan alasan bahwa hak tersebut tidak dapat diberikan kepada Machar karenaia masih menjabat sebagai wakil presiden Sudan Selatan, dan Machar tidak dapat melaksanakan
The Sudan Institute. South Sudan Crisis : its drives,key players, and post conflict prospect. hal.3
28
Op.,Cit. A. Awolich,Abraham.hal 2
29
32
semua tugasnya di Sudan Selatan dan Khartoum pada saat itu.Presiden kemudian mengambil peran penuh yang mengakibatkan munculnya dugaan bahwa presiden berusaha menggunakan kekuasaannya secara utuh. Machar menganggap bahwa kepentingan politik adalah motivasi utama di balik keputusan presiden tersebut .(Abraham.A.Awolich,the unwarranted carnage in south sudan, hal 2 – 3)
Pada 23Juli 2013, Presiden Salva Kiir mengambil keputusan yang mengejutkan dengan memecat Wakil Presiden, Riek Machar, di tangguhkannya Sekretaris SPLMumum, Pagan Amum serta sejumlah anggota senior SPLM lainnya tanpa memberikan alasan apapun.30Hal tersebut menimbulkan reaksi negatifpara pihak yang menganggap keputusan Salva Kiir adalah tindakan yang sangat tidak dapat dibenarkan. Tindakan yang di lakukan oleh Salva Kiir bukan semata-mata tanpa tidak adanya sebab melainkan karena adanya keinginan Machar untuk maju sebagai calon presiden dari SPLM pada pemilu 2015.Kedua belah pihak telah mendapat dukungan dari berbagai kelompok bersenjata.
Dalam konflik Sudan Selatan ini, tidak hanya memanas dalam kubu internal partai SPLM namun juga etnis dari dua tokoh pemimpin pemberontak tersebut. Sejarah gesekan lama etnis antar keduanya telah mempengaruhi terjadinya banyak pembunuhan.31Hal tersebut di karenakan dua pemimpin pemberontak berasal dari etnis yang berbeda, dimana Presiden Salva Kiir memimpin etnis Dinka, sedangkan Machar
30
Op.Cit.,Carlo Koos,Hal 2.
31
33
berasal dari etnis Nuer, yang selanjutnya memberikan dampak tersendiri terhadap hubungan antara dua etnis terbesar di Sudan Selatan. 32
Pada 15 Desember 2013, konflik Sudan Selatan memanas yang di sebabkan dari adanya kekerasan di antara dua komunitas etnis tersebut. Dimana suku Dinka yang merupakan pengawal presiden berusaha untuk melucuti rekan – rekannya dari suku Nuer yang berada di ibu kota Juba.33Pertempuran antar kelompok etnis tersebut telah memicu bentrokan yang menewaskan sekitar 20 orang tewas.34Hal tersebut selanjutnya memicu adanya aksi – aksi kekerasan lainnya yang menimbulkan korban jiwa yang lebih banyak. Setelah pecahnya kekerasan, Presiden Salva Kiirmemerintahkan penahanan terhadap politisi yang di anggap telah menantang pemerintah.
Politisi tersebut merupakan tokoh kunci dalam SPLM, yang terdiri daribeberapaanggota Biro SPLM Politik (unit tertinggi partai): Pagan Amum, Riek Machar, Deng Alor, JohnLuk Jok, Kosti Manibe, dan Taban Deng, dimana mereka mewakili berbagai kelompok etnis (Dinka, Nuer, Shilluk, danKelompok equatorian).35
Dalam hal ini, Kiir menuduh Machar dan pejabat SPLM lainnya mencobamenggulingkan pemerintahannya dan merencanakan kudeta. Namun,Riek Machar membantah tuduhan tersebut, yang mana pertempuran itu terjadi atas kesalahpahaman diantara pengawal presiden dan Kiir atas serangan yang di targetkan
32
Index Mundi. Central African Republic Vs South Sudan: Factsbook
33
34
pada Nuer di Juba. Pada hari yang sama muncul laporan dari pemberontakan oleh tentara nuer di Bor dan bentrokan etnis di Unity.36
Hal tersebut menyebabkan terjadinya bentrokan antara tentara pemerintah,
Sudan Peoples Liberation Army (SPLA), yang setia kepada presiden dan tentara yang mendukung Machar. Selanjutnya Machar,Taban, dan AlfredLadu Gore menghindari penangkapan, di mana Machar melarikan diri ke utara (Jonglei) setelah terjadinya bentrokan yang menyebabkan sejumlah pengawalnya tewas dan di tangkap.37
Machar beserta sekutu politiknya menganggap bahwa Presiden Kiir telah menjadi semakin diktator.Pada 21 Desember dengan tahun yang sama, Machar secara terbuka menyatakan pemberontakan, serta menyatakan bahwa pasukan yang memberontak di Jonglei dan Unitydalam menanggapi serangan terhadap Nuer, kini setia kepadanya. Konflik yang bermula dari persaingan politik internal ini berkembang menjadi konflik bersenjata dan perpecahan etnis.
Pasca pernyataan pemberontakan oleh Riek Machar, mengakibatkan terjadinya pembunuhan yang menargetkan pada warga sipil yang di dasarkan pada etnis di Juba. Hal ini menggambarkan implikasi etnis secara langsung dari perebutan kekuasaan politik antara Kiir dan Machar. Kekerasan yang terjadi diantara kedua etnis tersebut menyebabkanpemberontakan diberbagai daerah di Sudan Selatan. Seperti halnya pertempuran sengit antara unit tentara yang setia kepada pasukan pemerintah dan pemberontak yang setia kepada Machar menyebar ke negara bagian Jonglei, Unity, Central Equatoria, dan Upper Nile.38Selain itu, Pemberontakan akhirnya menyebar ke
35
kota-kota strategis lainnya yaitu Bor, Bentiu, dan Malakal. Dimana pertikaian bersenjata di kota Bor diawali dengan serbuan serdadu pemerintah Sudan Selatan.39
Dalam hal ini, para pejuang yang setia dengan mantan wakil presiden, Rick Machar, berhasil merebut kendali kota Bentiu yang merupakan ibukota negara bagian Unity.Adanya dukungan dari pihak lain terhadap Machar membuat permasalahan semakin rumit di antara dua pemberontak tersebut. Dimana Machar mendapat dukungan dari 10.000 desertir tentara dan sejumlah milisi lokal.
Konflik berkepanjangan yang terjadi di Sudan Selatan telah merenggut banyak korban jiwa,terutamamasyratakt sipil yang tidak terlibat dalam konflik tersebut maupunyang bukan berasal dari etnis Dinka dan Nuer.Menurut laporan Human Rights Watch, kedua belah pihak telah melakukan kejahatan yang mengerikan dengan adanya pembantaian, pembunuhan etnis, dan penjarahan bantuan kemanusiaan.40
Konflik yang terjadi sejak Desember 2013 tersebut telah memakan ribuan korban jiwa. Selain itu, konflik tersebut juga menyebabkan banyaknya korban yang cedera dan kehilangan tempat tinggalnya. Selanjutnya, para anggota kelompok pemberontak Machar menggunakan media berupa radio dalam menyebarkan sikap kebencian dan mendesak para pria untuk memperkosaperempuan yang berasal dari etnik lain.
Hal tersebut menarik perhatian dunia internasional, atas tindakan yang melanggar hak asasi manusia. Hal ini menyebabkan banyaknya organisasi internasional yang mulaimemperhatikan konflik di Sudan Selatan. Seperti PBB yang melalui
39
DW Akademie, PemberontakSudan Selatan Rebut Kota Bor, (diakses 1 januari 2016).
40
36
UNMISS telah menyelamatkan sekitar 500 warga sipil, yang sebagian besar cedera dan juga melindungi warga yang terus berdatangan ke pangkalan PBB.41Dimana sebanyak dari 75 ribu lebih mengungsi di markas UNMISS yang ada di Juba, Bor, Bentiu, Malakal, dan Pariang.42
41
Ibid
42
37 BAB III
PROSES PERDAMAIAN DI SUDAN SELATAN
IGAD sebelumnya pernah menjadi mediator dalam perang saudara ke dua antara Utara – Selatan di Sudan (1983- 2005). Dalam mediasinya IGAD berhasil membawa Sudan Selatan mencapai kemerdekaannya melalui Comprehensiv Peace Agreement 2005. Namun, Sudan Selatan mengalami kembali perang saudara yang dimana IGAD kembali terlibat dalam mediasi konflik tersebut. Selain itu, konflik di Sudan Selatan telah menjadi fokus perhatian negara – negara lain terkait kepentingan kemanusiaan dan keamanan menjadi dasar keterlibatan bagi negara – negara tersebut. Bab ini akan membahas upaya perdamaian yang di lakukan oleh IGAD, pihak lain, serta faktor – faktor yang mempengaruhi terhentinya mediasi sehingga membawa IGAD gagal untuk membawa keberhasilan pada kesepakatan damai kedua belah pihak.
A. Peran IGAD dalam Proses Perdamaian
38 Pada tahun 1974 – 1984, kawasan Afrika Timur mengalami kekeringan dan bencana alam yang parah sehingga menyebabkan kelaparan, degradasi ekologi,dan kesulitan ekonomi di wilayah tersebut.1 Kekeringan dan kelaparan ini telah menjadi fokus perhatian bagi negara- negara di kawasan Afrika, khususnya Afrika Timur yang membuat beberapa negara mengambil langkah melalui pendekatan regional dalam mengatasi masalah regional tersebut.2
Pada tahun 1983- 1984, enam negara di Tanduk Afrika yaitu Djibouti, Ethiopia, Kenya, Somalia, Sudan dan Uganda ( Eritrea bergabung pada akhir 1993) mengambil tindakan melalui PBB untuk mendirikan sebuah organisasi regional Intergovernmental Authority on Drought and Development (IGADD) . Pada 16 Januari 1986, Majelis Kepala Negara dan Pemerintahan bertemu untuk menandatangani Perjanjian secara resmi dibentuknya IGADD dengan Markas Besar di Djibouti.3
IGADD bertujuan sebagai badan kerjasama untuk menyelesaikan isu – isu mengenai kekeringan dan penggurunan. Pertengahan tahun 1990-an, anggota IGADD memutuskan untuk merevitalisasi yang bertujuan tidak hanya pada keamanan regional dan dialog politik tetapi juga pada pembangunan ekonomi dan perdagangan dalam sub – region. 4 Semakin meningkatnya permasalahan yang terjadi di sub – region yang antara lain perang sipil yang terjadi di Uganda, Ethiopia yang menghasilkan kemerdekaan
1
Africa Union, Intergovernmental Authority For Development (IGAD), http://au.int/en/recs/igad (di akses 2 januari 2016)
2
IPI (International Peace Institude), East africa and the Intergovernmental Authority on Development hal. 1
3
Op.Cit. Africa Union 4
39 Eritrea pada tahun 1991, dan perselisihan antar negara anggota menyebabkan pembicaraan dalam IGADD tidak lagi hanya sebatas pada masalah kekeringan dan pembangunan.
Pada 18 April 1995, kepala negara dan pemerintah bertemu di KTT luar biasa di Addis Ababa dan menyetujui untuk merevitalisasi otoritas dan memperluas wilayah kerjasama sub – region. Salah satu motivasi utama untuk merevitalisasi IGADD adalah keberadaan IGADD yang memiliki banyak masalah pada organisasi dan struktural yang membuat pelaksanaan tujuan dan prinsip-prinsip menjadi tidak efektif.5
Pada 21 Maret 1996, kepala negara dan pemerintah bertemu di KTT luar biasa ke-dua di Nairobi, Kenya menyetujui dan mengadopsi perjanjian mendirikan
Intergovermental Authority On Development (IGAD) dengan memiliki 3 area prioritas kerjasama yaitu6:
1) Pencegahan, manajemen, resolusi konflik dan urusan kemanusiaan. 2) Pembangunan infrastruktur(komunikasi dan transportasi)
3) perlindungan lingkungan dan keamanan pangan.
1. IGAD sebagai Mediator Konflik Sudan Selatan
Konflik di Sudan Selatan telah menjadi fokus perhatian banyak pihak untuk menyelesaikannya. Hal ini menimbulkan kepedulian pihak lain, khususnya IGAD dalam penyelesaian konflik dinegara muda tersebut. Adanya peran mediator dalam konflik Internasional menjadi hal yang mungkin untuk membantu suatu negara dalam mengatasi konflik tersebut.
5
Ibid
6
40 Krisis yang terjadi di Sudan Selatan semakin meningkat pada 15 Desember 2013, membuat negara – negara IGAD mengambil inisiatif untuk menyelesaikan konflik tersebut. IGAD membentuk tim mediasi yang terdiri dari Ethiopia, Uganda, Sudan, dan Kenya untuk membantu Sudan Selatan dalam menyelesaikan konfliknya. Dimana Ethiopia sebagai ketua tim dalam proses mediasi yang terdiri dari menteri luar negeri keempat negara tersebut. Ban Ki Moon selaku sekretaris jenderal PBB mendukung upaya IGAD untuk menjadi mediator dalam melakukan mediasi pada krisis di Sudan Selatan. Dalam hal ini, IGAD tidak hanya terlibat dalam mediasi , tetapi juga dalam proses negosiasi antara pemerintah dan pemberontak.7
1. Upaya IGAD Dalam Mediasi Konflik Sudan Selatan
Intergovernmental Authority on Development (IGAD) telah memainkan peran utama dalam mengamankan perdamaian bagi negara Sudan Selatan yang retak dan sebelum terlibat dalam mediasi yang membuat pembentukan negara bagi Sudan
Selatan. 15 Desember 2013, Konflik Sudan Selatan semakin meningkat yang di
karenakan kekerasan pecah di garis suku antara Dinka dan Nuer yang menyebabkan konflik mematikan. Melihat kondisi Sudan Selatan yang semakin parah membuat IGAD mengirimkan menteri luar negerinya yang terdiri dari negara Republic Federal Ethiopia, Kenya dan Sudan secara formal ke Juba, Republik Sudan Selatan pada 19 Desember untuk berkonsultasi dengan para pemimpin Sudan Selatan yang terlibat konflik.
Menteri Luar negeri Ethiopia, Kenya,dan Sudan melakukan kunjungan selama tiga hari ke Juba, Republik Sudan Selatan untuk mengatur pembicaraan dengan pemerintah Sudan Selatan. Pertemuan tersebut membicarakan agenda politik yang akan
7
41 di bicarakan dalam pembicaraan damai dengan pemimpin – pemimpin faksi SPLM. Dalam menindak lanjuti pembicaraan tersebut, kepala negara Afrika Timur melakukan Konferensi Tingkat Tinggi IGAD dalam menentukan pembicaraan damai penyelesaian konflik Sudan Selatan.
Pada 27 Desember 2013, Ketua majelis dan pemerintah menyelenggarakan pertemuan KTT IGAD di Nairobia, Kenya yang di hadiri oleh seluruh kepala negara anggota IGAD. Peserta pertemuan menawarkan bantuan mediasi untuk menyelesaikan konflik yang sudah berlangsung satu setengah tahun. Pertemuan tersebut membicarakan
Agreement Cessation of Hostilities (COH) , pembentukan Pemerintah Transisi Nasional ,dan kesepakatan pembagian kekuasaan sebagai solusi krisis politik yang terjadi di Sudan Selatan.8
Selain itu, hasil komite yang di keluarkan di Nairobia memberikan faksi Riek Machar waktu empat hari untuk meletakkan senjata mereka, yang selanjutnya IGAD memperingatkan akan mengambil tindakan lebih untuk menghentikan konflik. Para pemimpin IGAD menolak untuk menggulingkan pemerintahan yang dipilih secara demokratis di negara tersebut, dan mengatakan perubahan harus datang melalui proses demokrasi.
Presiden Salva Kiir secara formal menyetujui tawaran perundingan tanpa syarat untuk menyelesaikan konflik yang berlangsung dengan di bawah mediasi IGAD. Faksi SPLM menerima tawaran IGAD untuk menyelesaikan konflik, dimana pimpinan faksi SPLM adalah Riek Machar. Penerimaan tawaran IGAD sebagai mediator oleh pemerintah Sudan Selatan dan SPLM di wujudkan dengan pertemuan pendahuluan pada
8
42 4 januari 2014 untuk menentukan agenda perundingan. Putaran pembicaraan perdamaian konflik sudan selatan di lakukan selama enam putaran dengan empat putaran gagal.
Putaran pertama terjadi pada 23 Januari 2014 di Adis Ababa, Ethiopia, dimana dalam mediasi yang dilakukan oleh IGAD, pihak oposisi dan pemerintah dipertemukan yang dalam putaran pertama ini pembicaran hanya mencakup tiga poin subtantif yaitu
Agreements on Cessation of Hostilities,pelepasan tahanan politik yang merupakan milisi Rieck Machar serta Penarikan pasukan militer Uganda (UPDF). Namun, penjanjian tersebut gagal di implementasikan.
Putaran pembicaraan kedua di laksanakan pada 10 Juni 2014, dalam putaran ini kembali pada pembicaraan aktual terkait keberlanjutan perjanjian yang telah di tanda tangani namun di langgar. Pada kenyataannya pihak-pihak yang berkonflik masih terus melakukan penyerangan dengan menargetkan warga sipil yang seringkali di dasarkan pada identitas etnis mereka.9 IGAD memerintahkan kepada kedua pihak untuk tidak saling mencari kemenangan politik, karena yang terpenting adalah perdamaian.
Pada 9 Mei 2014 di adakan kembali perundingan yang memfokuskan pada perjanjian gencatan senjata berkelanjutan antara pemerintah dan pemberontak antara kedua belah pihak. pertemuan ini dimediasi oleh blok regional Afrika Timur IGAD (otoritas Antar pemerintah untuk pembangunan).10 Namun, hasil dari perundingan tersebut hanyalah sebatas perundingan ditempat, hal ini disebabkan karena selepas perundingan masih banyak pelanggaran yang dilakukan oleh kedua belah pihak.
9
Op.Cit.,Delta Anggara Putri, hal.2
10
43 Selanjutnya, pembicaraan tersebut dilanjutkan kembali pada 01 Februari 2015 sesuai dengan agenda mediasi IGAD.11Dimana Presiden Salva Kiir dan mantan wakil presidennya Dr. Riek Machar menyetujui akan pembicaraan lanjutan dari negosiasi perdamaian guna mencapai kesepakatan persatuan pemerintahan. Keduanya sepakat akan menjawab akhir dari perundingan selambat - lambatnya pada 05 Maret 2015.
Pasca perundingan pada 1 Februari 2015, IGAD kembali mengadakan perundingan pada tanggal 2 Februari 2015 terkait negosiasi konflik tersebut yang disepakati secara final paling lambat tanggal 5 Maret 2015, dan mendirikan pemerintahan transisi pada tanggal 9 Juli 2015.12 Hasil dari perundingan tersebut, Presiden Salva Kiir dan mantan wakil presidennya Riek Machar telah mencapai kesepakatan bersama untuk melakukan perjanjian genjatan dan membentuk Pemerintahan baru yakni presiden tetap dijabat oleh Salva Kiir dan Riek Machar masuk kembali menjabat sebagai wakil presiden.
Kesepakatan gencatan senjata tersebut ditandatangani pada 2 Februari 2015 dalam pertemuan di Addis Ababa, Ethiopia, dengan bantuan dari blok Afrika Timur (IGAD).13 IGAD sebagai mediator perdamaian di Sudan Selatan akan memberikan sanksi apabila kedua belah pihak melanggar perjanjian yang disepakati, sanksi tersebut kemudian dilaporkan pada Dewan Keamanan PBB dan Uni Afrika.14
11IGAD,”
Message From H.E Dessalegn, Prime Minister of The Federal Democratic Republic of Etthiopia and Chairperson of The IGAD Assembly To The People of South
Sudan”,http://southsudan.igad.int/ (di akses pada 6 Maret 2016)
12
Antara News, “Pembicaraan perdamaian Sudan Selatan dihentikan”,http://www.antaranews.com(di akses pada 6 Maret 2016)
13
VOA Indonesia, “Presiden Sudan Selatan Dan Panglima Pemberontak Sepakati
Perdamaian”,http://www.voaindonesia.com. (di akses pada 6 Maret 2016)
14
Metro Tv News :“Sudan Selatan dan Pemberontak Sepakati Gencatan
44 Pada 20 Februari 2015, pihak pemerintah salva kiir dan oposisi riek machar kembali dijadwalkan untuk mengadakan pertemuan dengan harapan agar kesepakatan tersebut telah disetujui sebelum tanggal 5 Maret 2015. Jon Lunn memaparkan bahwa saat itu IGAD mencoba mendamaikan kedua pihak dengan pendekatan “IGAD Plus” (yang dilakukan dengan bantuan Troika (Amerika Serikat, Inggris, dan Norwegia).Pendekatan ini melibatkan koordinasi yang lebih besar dan peningkatan tekanan oleh semua pemangku kepentingan internasional yang terlibat.15
Pada pertemuan final 5 Maret 2015, Kedua belah pihak tidak menghadiri seperti yang telah di jadwalkan untuk mencapai kesepakatan damai, dimana hal tersebut di karenakan pemberontak secara tegas menolak penawaran pembagian kekuasaan dalam pembentukan pemerintah transisi antara Salva Kiir dan Riek Machar yang di anggap tidak adil. Penolakan yang dilakukan oleh pemberontak secara otomatis menggugurkan persetujuan yang di sepakati pada pertemuan sebelumnya.
B. Komunitas Internasional di Konflik Sudan Selatan
Perbedaan kepentingan yang di bawa baik pihak yang berkonflik di tambah aktor internasional yang terlibat konflik membuat proses perdamaian berlangsung lama. Aktor internasional juga membawa kepentingannya ketika terlibat dalam konflik tersebut. Adapun aktor internasional yang terlibat dalam konflik Sudan Selatan yaitu pendukung IGAD (PBB,Uni Afrika, Uni Eropa, Troika), Amerika Serikat serta China.
15