KARAKTERISASI MORFOLOGI ANGGREK
Phalaenopsis
HIBRID
FAJAR PANGESTU
DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN
PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Karakterisasi Morfologi Anggrek Phalaenopsis Hibrid adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.
ABSTRAK
FAJAR PANGESTU Karakterisasi Morfologi Anggrek Phalaenopsis Hibrid. Dibimbing oleh SANDRA ARIFIN AZIZ dan DEWI SUKMA.
Anggrek merupakan tanaman hias yang memiliki nilai estetika tinggi dan Phalaenopsis hibrid merupakan salah satu jenis anggrek yang terkenal di Indonesia. Keragaman Phalaenopsis hibrid yang cukup tinggi, sehingga perlu dilakukan karakterisasi untuk mengetahui kemiripan antar Phalaenopsis hibrid maupun dengan Phalaenopsis spesies asli sebagai informasi dasar dalam kegiatan pemuliaan tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari karakter morfologi dan kemiripan antara lima genotipe Phalaenopsis hibrid yaitu empat genotipe hibrid berbunga putih, satu genotipe hibrid berbunga kuning dan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’. Berdasarkan morfologi daun dan bunga, dua dari empat genotipe hibrid berbunga putih memiliki koefisien kemiripan 1.00, tanpa pengamatan pada warna bunga. Semua Phalaenopsis hibrid berkelompok menjadi satu pada koefisien kemiripan 0.729, sementara satu ulangan dari hibrid berbunga kuning memiliki koefisien kemiripan 0.47 dengan perbedaan utama pada bentuk daun dan tipe pembungaan. Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ memiliki koefisien kemiripan 0.528 dengan Phalaenopsis hibrid, perbedaan utama pada bentuk bunga dan tipe pembungaan.
Kata kunci: Bunga, daun, karakter morfologi, koefisien kemiripan, Phalaenopsis hibrid
ABSTRACT
Orchid is one of ornamental plants that have a high aesthetic value and Phalaenopsis hybrid is one type of orchid that was famous in Indonesia. Characterization of Phalaenopsis hybrid should be made to determine the similarity between hybrids and as a basic information on plant breeding activities. The purpose of this study was to study the morphological character and similarity of 5 gentype of Phalaenopsis hybrid i.e, four genotype white flowering hybrid, one genotype yellow flowering hybrids and Phalaenopsis amabilis ‘Cidaun’ ecotype. Based on the morphology of leaves and flowers, two of the four genotype white flowering hybrid have similarity coefficient 1.00, without observation on flower color. Every Phalaenopsis hybrid clustered together on the similarity coefficient 0.729, but one of three replications yellow flowering hybrids have similarity coefficient 0.47 with main differences in leaf shape and flowering types.
Phalaenopsis amabilis ‘Cidaun’ ecotype have similarity coefficient 0.528 with main differences with Phalaenopsis hybrid in flowers shape and flowering types.
KARAKTERISASI MORFOLOGI ANGGREK
Phalaenopsis
HIBRID
FAJAR PANGESTU
Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian
pada
Departemen Agronomi dan Hortikultura
DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN
Judul Skripsi: Karakterisasi Morfologi Anggrek Phalaenopsis Hibrid Nama : Fajar Pangestu
NIM : A24090155
Disetujui oleh
Prof Dr Ir Sandra Arifin Aziz, MS Pembimbing I
Dr Dewi Sukma, SP MSi Pembimbing II
Diketahui oleh
Dr Ir Agus Purwito, MScAgr Ketua Departemen
--Judul Skripsi: Karakterisasi Morfologi Anggrek Phalaenopsis Hibrid Nama : Fajar Pangestu
NIM : A24090155
Disetujui oleh
Prof Dr Ir Sandra Arifin Aziz, MS Dr Dewi Sukma, SP'/ISi Pembimbing I Pembimbing II
• ' : ' ,f I Tanggal Lulus:
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul skripsi yang dilaksanakan sejak bulan Januari 2013 adalah Karakterisasi Morfologi Anggrek Phalaenopsis Hibrid.
Terima kasih penulis ucapkan kepada Prof Dr Ir Sandra Arifin Aziz, MS dan Dr Dewi Sukma, SP MSi selaku pembimbing skripsi, Prof Dr M. Syukur, SP MSi selaku penguji dan Prof Dr Ir Roedhy Poerwanto, MSc selaku pembimbing akademik. Di samping itu penulis juga mengucapkan terimakasih kepada kedua orang tua penulis yang memberikan dukungan, rekan-rekan terutama Agronomi dan Hortikultura 46 yang selalu memberikan dukungan dan bantuannya selama pelaksanaan penelitian, juga kepada dosen dan karyawan Departemen Agronomi dan Hortikultura yang telah memberikan bantuannya dan semua pihak yang telah memberikan dukungan dan bantuan secara langsung maupun tidak langsung selama pelaksanaan studi, penelitian dan penyusunan skripsi.
Semoga skripsi ini akan bermanfaat bagi mahasiswa atau sivitas akademik Institut Pertanian Bogor khususnya dan semua pihak yang memerlukan.
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN ... 1
Latar Belakang ... 1
Tujuan ... 2
Hipotesis ... 2
TINJAUAN PUSTAKA ... 2
Botani Anggrek ... 2
Morfologi Anggrek Phalaenopsis ... 3
Budidaya Anggrek ... 3
Karakterisasi Morfologi ... 4
METODE PENELITIAN ... 4
Bahan Penelitian ... 4
Peralatan Penelitian ... 5
Lokasi dan Waktu Penelitian ... 5
Metode Penelitian ... 5
HASIL DAN PEMBAHASAN ... 13
Data Kuantitatif ... 13
Data Kualitatif ... 15
Perbandingan Data Kuantitatif dan Kualitatif ... 18
Analisis Stomata ... 19
SIMPULAN DAN SARAN... 21
Simpulan ... 21
Saran ... 22
DAFTAR PUSTAKA ... 22
LAMPIRAN ... 24
RIWAYAT HIDUP ... 28
DAFTAR TABEL
1 Rata-rata, panjang daun dan lebar daun beberapa genotipe anggrek Phalaenopsis hibrid dan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ 132 Rata-rata panjang dan lebar bunga, sepal dan petal beberapa genotipe anggrek Phalaenopsis hibrid dan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ 14
3 Rata-rata panjang, lebar dan kerapatan stomata anggrek Phalaenopsis hibrid 20
DAFTAR GAMBAR
1 Phalaenopsis yang digunakan untuk karakterisasi 5
2 Penampang melintang daun 6
3 Tipe tonjolan pada bibir 6
4 Bentuk daun 6
5 Bentuk ujung daun 7
6 Susunan daun 7
7 Bentuk tepi daun 7
8 Tekstur permukaan daun 8
9 Simetri daun 8
10 Tipe pembungaan 8
11 Perhiasan bunga 8
12 Bentuk bunga 9
13 Bentul sepal dorsal dan lateral 9
14 Bentuk petal 9
15 Bentuk ujung sepal dan petal 10
16 Penampang melintang sepal dan petal 10
17 Bibir 10
18 Penampang melintang bibir 11
19 Susunan petal 11
20 Bentuk keping tengah bibir Phalaenopsis 11
21 Tipe Bentuk keping sisi bibir Phalaenopsis 12
22 Tipe penampang keping sisi bibir Phalaenopsis 12
23 Perbedaan bentuk daun Phalaenopsis 13
24 Tipe pembungaan tunggal (a), tandan (b), dan malai (c) 15
25 Dendrogram 18 tanaman anggrek Phalaenopsis hibrid dan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ berdasarkan karakter morfologi pada daun dan bunga 16
26 Phalaenopsis hibrid memiliki whisker (A) dan tidak memiliki whisker (B) 17 27 Perbandingan bentuk bunga Phalaenopsis hibrid dengan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ 17
28 Hibrid bunga putih 3.1dan hibrid bunga putih 3.3 dengan kemiripan bentuk bunga, bentuk petal, dan susunan petal 17
29 Hibrid bunga putih 1.1 dengan hibrid bunga putih 4.1 dengan koefisien kemiripan 1.00 tanpa pengamatan warna bunga 18
30 Stomata pada Phalaenopsis 20
DAFTAR LAMPIRAN
1 Karakter Morfologi Daun Anggrek Phalaenopsis 241
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman hias memiliki arti penting sepanjang sejarah peradaban manusia. Sejak dulu tanaman hias banyak digunakan untuk mengungkapkan perasaan sekaligus sebagai bahan untuk menambah keasrian lingkungan. Berbagai suku bangsa di Asia, Afrika, dan Amerika Latin masih melestarikan kebiasaan penggunaan tanaman hias untuk menyemarakkan upacara adat, keagamaan, dan perayaan hari besar nasional. Pada masa kini, ketika kehidupan masyarakat mulai mapan, penggunaan tanaman hias menjadi populer (Hasim dan Reza 1995).
Salah satu jenis tanaman hias penting di dunia adalah anggrek. Para ahli botani menyatakan terdapat lebih dari 25 000 spesies anggrek di dunia. Di Indonesia, plasma nutfah anggrek diperkirakan lebih dari 5 000 jenis (Rukmana 2000), sekitar 80% genera dan spesies anggrek berada di kawasan Asia Tenggara (Amiarsi et al. 1996). Anggrek yang merupakan famili Orchidaceae merupakan salah satu tumbuhan berbunga yang banyak tersebar dan beraneka ragam di dunia, dapat ditemukan di seluruh dunia, kecuali padang pasir yang kering dan daerah yang selalu tertutup salju (Widiastoety et al. 1998; Sandra 2005).
Anggrek merupakan tanaman hias yang mempunyai nilai estetika tinggi. Bentuk dan warna bunga serta karakteristik lainnya yang unik menjadi daya tarik tersendiri dari spesies tanaman hias ini sehingga banyak diminati oleh konsumen, baik di dalam maupun luar negeri. Anggrek yang disukai adalah dalam bentuk bunga potong dan tanaman pot.
Keragaman anggrek yang cukup tinggi di Indonesia, sehingga dibutuhkan suatu penelitian mengenai karakterisasi anggrek sehingga dapat mengetahui kekerabatan/kemiripan dalam famili Orchidaceae. Pada Phalaenopsis hibrid, karakterisasi digunakan untuk mengidentifikasi kedekatan hubungan dari anggrek tersebut ataupun dengan spesies asli. Informasi kedekatan hubungan secara morfologi mencirikan adanya kedekatan hubungan secara genetik yang merupakan informasi dasar yang diperlukan untuk kegiatan pemuliaaan tanaman.
Karakterisasi digunakan untuk mengetahui karakter-karakter tanaman, baik karakter kuantitatif maupun karakter kualitatif (Miswar et al. 2012). Pada anggrek, karakter morfologi daun dan bunga merupakan karakter yang digunakan sebagai penanda untuk membedakan antar kelompok tanaman. Karakterisasi dilakukan berdasar Panduan Karakterisasi Anggrek (Balithi 2007). Bunga merupakan penanda dalam membedakan spesies anggrek dalam satu genus, karena variasi morfologi terdapat pada bunga (Purwantoro et al. 2005).
Tujuan
1. Mengidentifikasi ciri morfologi 5 genotipe anggrek Phalaenopsis hibrid. 2. Mengetahui kekerabatan/kemiripan antar Phalaenopsis hibrid
Hipotesis
Sedikitnya terdapat dua genotipe Phalaenopsis hibrid dengan kemiripan yang tinggi.
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Anggrek
Tanaman anggrek merupakan famili yang memiliki jumlah keragaman yang sangat besar yang tersebar di seluruh dunia (Puspitaningtyas dan Mursidawati 1999). Contoh dari genus anggrek yaitu Phalaenopsis, Dendrobium, Cattleya, Vanda, Paphiopedilum, Renanthera, dan masih terdapat banyak genus yang lain. Anggrek secara umum hidup secara epifit di batang-batang pohon di hutan tropis namun ada juga yang hidup secara terestrial di atas permukaan tanah, saprofit atau litofit (di permukaan batu). Genus Phalaenopsis merupakan anggrek yang hidup secara epifit.
Berdasarkan pola pertumbuhannya, tanaman anggrek dibagi ke dalam dua tipe yaitu, simpodial dan monopodial. Anggrek tipe simpodial batangnya tidak tampak di permukaan media, yang terlihat seperti daun seolah-olah keluar dari rhizomnya, dan biasanya mempunyai anakan. Anggrek monopodial memiliki batang yang tumbuh terus ke atas dan kemudian bunga akan keluar dari antara daun pada titik tumbuhnya (Mattjik 2010). Anggrek yang termasuk dalam jenis simpodial contohnya adalah Dendrobium dan Paphiopedilum, dan yang termasuk dalam jenis monopodial adalah Vanda dan Phalaenopsis
Anggrek memiliki permukaan daun yang dilapisi kutikula (lapisan lilin) yang dapat melindungi tanaman dari serangan hama dan penyakit. Kedudukan daun tersusun secara berjajar berseling. Batang anggrek yang menebal merupakan batang semu yang dikenal dengan pseudobulb (pseudo-semu, bulb-batang yang menggembung), berfungsi sebagai penyimpan air dan makanan untuk bertahan dalam keadaan kering (Sastrapradja 1980). Daun anggrek mengandung klorofil yang membantu dalam penyerapan sinar matahari untuk fotosintesis dalam habitat aslinya di hutan yang kurang cahaya.
3
Bunga merupakan organ penting dari anggrek. Sandra (2005) menyatakan struktur dasar bunga terdiri dari tiga kelopak bunga (sepal) dan tiga mahkota bunga (petal), salah satu petal berfungsi sebagai tempat hinggap serangga yang disebut bibir bunga atau labellum. Bagian inilah yang menjadi ciri khas dalam bunga anggrek sehingga berbeda dengan famili tanaman lainya
Buah anggrek berbentuk kapsular dengan biji yang sangat banyak di dalamnya. Biji berukuran sangat kecil dan halus seperti tepung. Biji-biji tersebut tidak memiliki endosperm (cadangan makanan) sehingga dalam perkecambahannya diperlukan tambahan nutrisi dari luar atau dari lingkungan sekitarnya. Perkecambahan baru terjadi jika biji jatuh pada medium yang sesuai dan melanjutkan perkembangannya hingga menjadi tanaman dewasa (Hew et al. 1997).
Morfologi Anggrek Phalaenopsis
Anggrek merupakan tanaman golongan Monocotyledonae yang termasuk dalam famili Orchidaceae, suatu famili yang sangat besar dan sangat bervariasi. Keragamannya semakin bertambah lagi dengan munculnya anggrek-anggrek hibrid, yaitu anggrek hasil silangan dan kultivar yang jumlahnya sudah mencapai 100 000 spesies (Kencana 2007).
Bentuk bunga anggrek Phalaenopsis ada dua, yaitu bulat (round shape) dan bintang (star). Warna bunga anggrek Phalaenopsis beraneka macam, seperti warna dasar putih, ungu, merah, kuning, hijau, dan cokelat dengan warna lidah bunga yang berbeda. Selain itu, bunga anggrek Phalaenopsis juga memiliki motif yang beragam diantaranya motif titik-titik, garis-garis, blok dan semburat (splash). Susunan bunganya sangat artistik, tersusun rapi, menjuntai ke bawah, dan berselang-seling (Setiawan 2005).
Sandra (2005) menyatakan bahwa anggrek Phalaenopsis memiliki bentuk daun yang lebar, teksturnya yang lemas dengan susunan tunggal berhadapan. Berbeda dengan Dendrobium, anggrek Phalaenopsis tidak memiliki batang semu dan kalaupun ada tidak terlihat karena sangat pendek. Berdasarkan pola pertumbuhannya, anggrek Phalaenopsis mempunyai pertumbuhan monopodial, yaitu jenis anggrek dengan pertumbuhan ujung batang terus ke atas tanpa batas.
Budidaya Anggrek
Secara alami anggrek Famili Orchidaceae hidup epifit pada pohon dan ranting-ranting tanaman lain, namun dalam pertumbuhannya anggrek dapat ditumbuhkan dalam pot yang diisi media tertentu. (Chan et al. 1994). Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman, seperti faktor lingkungan, antara lain sinar matahari, kelembaban dan temperatur serta pemeliharaan seperti: pemupukan, penyiraman serta pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT).
Tanaman akan berbunga apabila terdapat perbedaan yang cukup antara suhu pada siang hari dengan penurunan suhu pada malam hari. Anggrek yang hidup di dataran tinggi membutuhkan suhu malam berkisar antara 13-18 ºC dan suhu siang berkisar antara 18-21 ºC sedangkan anggrek yang hidup pada dataran rendah membutuhkan suhu malam berkisar antara 21–27 ºC dan suhu siang berkisar antara 27–32 ºC. Pada umumnya anggrek membutuhkan kelembaban udara yang tinggi berkisar antara 60 - 80% (Balithi 2007).
Karakterisasi Morfologi
Karakterisasi adalah suatu kegiatan untuk mengidentifikasi tanaman berdasarkan karakter-karakter yang dimiliki tanaman tersebut (Langenheim dan Thimann 1992). Tidak ada individu yang memiliki sifat-sifat yang sama secara detail. Setelah dilakukan karakterisasi maka dilakukan pengkategorian atau klasifikasi berdasarkan keragaman sifat. Pada anggrek, karakter morfologi daun dan bunga merupakan karakter yang digunakan sebagai penanda untuk membedakan kelompok tanaman (Bechtel et al 1981). Menurut Fauziah (2013) hasil analisis kemiripan 14 genotipe Phalaenopsis spesies asli yang berasal dari genotipe yang sama memiliki koefisien kemiripan sebesar 1.00 atau persentase kemiripan sebesar 100%. Hasil karakterisasi suatu tanaman dapat dijadikan sebagai informasi dasar dalam kegiatan pemuliaan tanaman karena dengan karakterisasi maka akan diketahui kekerabatan antar genotipe yang dikarakterisasi.
METODE PENELITIAN
Bahan Penelitian
5
Gambar 1 Phalaenopsis yang digunakan untuk karakterisasi. Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ (A), hibrid bunga putih 1 (B), hibrid bunga putih 2 (C), hibrid bunga putih 3 (D), hibrid bunga putih 4 (E), hibrid bunga kuning 1 (F).
Peralatan Penelitian
Alat yang digunakan pada penelitian ini adalah benang, penggaris, jangka sorong, meteran dan mikroskop dan kamera.
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Screen House Gunung Batu, Bogor, Jawa Barat dan Micro Technique Laboratory Departemen Agronomi dan Hortikultura, IPB. Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2013 – Juni 2013
Metode Penelitian
Karakterisasi
Karakterisasi anggrek Phalaenopsis akan dilakukan dengan mengamati ciri-ciri fisik yang terdapat pada masing-masing varietas anggrek dan disesuaikan berdasarkan Panduan Karakterisasi Anggrek (Balithi 2007), tanpa melakukan pengamatan pada warna bunga. Parameter yang diamati dibedakan menjadi kuantitatif dan kualitatif. Parameter kuantitatif yang diamati yaitu: panjang daun, lebar daun, panjang bunga, lebar bunga, panjang sepal dan petal serta lebar sepal dan petal. Parameter kualitatif (karakter morfologi anggrek) yang diamati adalah sebagai berikut:
1. Keragaan umum tanaman
1.1 Penampang melintang daun 1. Teret / pesil
2. Bilaterarly compressed (zigomorf/tipe simetri ditekan) 3. Conduplicate (tidak rangkap)
A B C
1 2 3 Gambar 2 Penampang melintang daun 1.2 Tipe tonjolan/kalus pada bibir
1. Lamellate/dilengkapi dengan lempengan
2. Complex/komplek 3. Simple/sederhana
`
1 2 3
Gambar 3 Tipe tonjolan pada bibir 2.1 Daun
2.2 Bentuk daun
1. Subulate/berbentuk jarum 2. Linear/berbentuk
pita/lurus 3. Oblong/lonjong
2. Eliptic/jorong/bujur telur 3. Spathulate/berbentuk
sendok
4. Lanceolate/berbentuk lanset/mata lembing
5. Oblanceolate/ kebalikan lanset
6. Ovate/bulat telur 7. Obovate/bulat telur
sungsang
8. Trullate/berbentuk sekop 9. Cordate/berbentuk jantung 10. Triangular/segitiga
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
11 12
7
2.2 Bentuk ujung daun 1. Acute/lancip/menajam ke
ujung
2. Acuminate/meruncing dengan sisi-sisi yang tajam 3. Apiculate/berujung
runcing
4. Mucronate/berujung suntih dangkal bertulang runcing
5. Obtuse/tumpul
6. Truncate/bentuk pepat/memotong 7. Retuse/romping/tumpul
bertakik sedikit
8. Emarginated/terkoyak, ujung membelah 9. Tridentate/bergigi tiga 10. Praemorse/bergerigi 11. Setose/berbentuk sikat 12. Caudate/berekor
1 2 3 4 5 6 7 8 9
10 11 12
Gambar 5 Bentuk ujung daun
2.3 Susunan daun
1. Convolute/tergulung 2. Duplicate/rangkap
1 2
Gambar 6 Susunan daun 2.4 Bentuk tepi daun
1. Entire/mengutuh 2. Undulate/mengombak 3. Sinuate/berliuk
4. Angulate/menyudut 5. Erose/terkerkah
2.5 Tekstur permukaan daun 1. Glabrous/gundul 2. Rugulose/berkeriput
3. Papillose/seperti papila
1 2 3
Gambar 8 Tekstur permukaan daun 2.6 Simetri daun
1. simetri 2. tidak simetri
1 2 3 4 5 6 Gambar 9 Simetri daun
3. Bunga
3.1 Tipe pembungaan
1. Single flowered/berbunga tunggal/soliter
2. Cymose/perbungaan terbatas
3. Spicate/berpaku-paku/permukaan yang
tertutup berjalar-jarar halus, tegak, dan mendaging
4. Racemose/raceme/tandan 5. Paniculate/malai
1 2 3 4 5 Gambar 10 Tipe pembungaan
3.2 Perhiasan bunga
Terdiri atas 3 sepal dorsal, 2 petal, 1 bibir Keterangan: 1. Sepal dorsal 2. Sepal lateral 3. Petal
4. Bibir
9
3.3 Bentuk bunga
1. Bulat (saling menumpang antara sepal dan petal)
2. Bintang
1 2
Gambar 12 Bentuk bunga 3.4 Bentuk sepal dorsal dan lateral
1. Lanceolate/berbentuk lanset/mata lembing 2. Linear/berbentuk pita/lurus 3. Oblong/lonjong 4. Elliptic/jorong panjang/bujur telur/oval
5. Transverse elliptic/jorong pendek
6. Spatulate/seperti sendok 7. Obovate/bulat telur
sungsang
8. Ovate/bulat telur 9. Circular/agak bulat
1 2 3 4 5 6 7 8 9 Gambar 13 Bentuk sepal dorsal dan lateral
3.5Bentuk petal 1. Linear/berbentuk
pita/lurus 2. Oblong/lonjong 3. Elliptic/jorong, oval 4. rhombic/belah ketupat
5. Obovate/bulat telur sungsang
6. Spathulate/berbentuk sendok
7. Ovate/bulat telur 8. Semi-circular
1 2 3 4 5 6 7 8 Gambar 14 Bentuk petal
3.6 Bentuk ujung sepal dan petal 1. Acute/lancip/menajam ke
ujung
3. Apiculate/berujung runcing
4. Mucronate/berujung suntih dangkal bertulang runcing
5. Obtuse/tumpul 6. Truncate/bentuk
pepat/memotong
7. Retuse/romping/tumpul bertakik sedikit
8. Emarginated/terkoyak, ujung membelah 9. Tridentate/bergigi tiga 10. Praemorse/bergerigi 11. Setose/berbentuk sikat 12. Caudate/berekor
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Gambar 15 Bentuk ujung sepal dan petal
3.7 Penampang melintang sepal dan petal 1. Concave/cembung
2. Straight/datar
3. Convex/recurving/cekung
1 2 3
Gambar 16 Penampang melintang sepal dan petal Labellum (Bibir)
Gambar 17 Bibir 3.8 Penampang melintang bibir
1. Melengkung ke dalam dengan ujung membalik 2. Melengkung sangat dalam 3. Melengkung agak ke
dalam
4. Datar
5. Membalik agak dalam 6. Membalik sangat dalam 7. Membalik keluar dengan
11
1 2 3 4 5 6 7 Gambar 18 Penampang melintang bibir 4. Keragaan khusus tanaman Phalaenopsis
4.1 Susunan petal 1.Terbuka 2.Bersentuhan
3. saling menumpang
1 2 3 Gambar 19 Susunan petal 4.2 Bibir: bentuk keping tengah
1. Ovate/bulat telur 2. Elliptic/jorong
3. Obovate/bulat telur tungsang 4. Orbicular/bulat
5. Semi-sircular/agak bulat 6. Deltoid/segitiga
7. Obdeltoid/segitiga terbalik 8. Rhombic/belah ketupat
1 2 3 4 5 6 7 8 Gambar 20 Bentuk keping tengah bibir Phalaenopsis
4.3 Bibir: tipe bentuk keping sisi 1. Tipe I
1 2 3
4 5
Gambar 21Tipe bentuk keping sisi bibir Phalaenopsis 4.4 Bibir: tipe penampang keping sisi
1. Tipe I 2. Tipe II 3. Tipe III
1 2 3
Gambar 22 Tipe penampang keeping sisi bibir Phalaenopsis
Setelah didapat data dari hasil pengamatan dilakukan uji t-dunnet terhadap data kuantitatif dengan menggunakan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ sebagai kontrol/pembanding dan juga dibuat tabel deskriptor berdasarkan Panduan Karakterisasi Anggrek (Balithi, 2007), yang selanjutnya digunakan sebagai acuan dalam pembuatan dendrogram dengan aplikasi NTSYS-PC untuk mengetahui kekerabatan/kemiripan antar genotipe Phalaenopsis hibrid.
Anatomi Daun
Pengamatan anatomi daun dilakukan terhadap jumlah stomata, ukuran stomata dan kerapatan stomata. Anatomi daun diamati secara destruktif pada permukaan bagian bawah daun yang telah membuka sempurna (daun ke 3-5). Pengamatan dilakukan dengan membuat preparat dari daun setiap genotipe dengan ukuran 2 cm, kemudian diamati di bawah mikroskop dengan pembesaran 40 x 10, sehingga diketahui jumlah stomata pada setiap preparat, selain itu dilakukan pengukuran stomata pada mikroskop yang telah terhubung dengan komputer. Kerapatan stomata dihitung dengan menggunakan rumus:
Kerapatan stomata = ∑
�� � � �(mm 2)
13
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data Kuantitatif
Panjang daun dan lebar daun
Data kuantitatif karakter morfologi daun terdiri dari jumlah daun, panjang daun dan lebar daun. Hasil uji t-dunnett dengan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ sebagai kontrol disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1 Rata-rata panjang daun dan lebar daun beberapa genotipe anggrek Phalaenopsis hibrid dan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’
Genotipe Panjang Daun(cm) Lebar Daun (cm)
Hibrid bunga kuning 1 27.70* 7.00*
Hibrid bunga putih 1 25.77* 7.10*
Hibrid bunga putih 2 27.13* 7.07*
Hibrid bunga putih 3 23.13* 6.70*
Hibrid bunga putih 4 24.67* 7.80*
Ph. amabilis Cidaun 26.33 6.60
* Angka-angka yang diikuti oleh simbol yang sama menunjukkan hasil tidak berbeda nyata dengan kontrol pada uji t-dunnett taraf α = 5%
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa daun terpanjang terdapat pada hibrid bunga kuning 1 sebesar 27.70 cm dan daun terlebar terdapat pada hibrid bunga putih 4 sebesar 7.80 cm (Tabel 1). Hasil uji t-dunnet menunjukkan bahwa pengamatan yang dilakukan terhadap 6 genotipe terlihat bahwa panjang daun dan lebar daun dari Phalaenopsis hibrid yang diamati tidak berbeda nyata dengan kontrol.
Panjang dan lebar daun tanaman dipengaruhi oleh bentuk daun. Hibrid bunga putih 2, hibrid bunga putih 3, hibrid bunga putih 1, hibrid bunga putih 4 hibrid bunga kuning 1, dan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ memiliki bentuk daun yang sama yaitu lanset terbalik, sedangkan satu ulangan dari hibrid bunga kuning 1 memiliki bentuk daun yang berbeda yaitu bulat telur terbalik.
Gambar 23 Perbedaan bentuk daun Phalaenopsis. Hibrid bunga putih 1 (a) hibrid bunga putih 4 (b) dengan bentuk daun lanset terbalik dan hibrid bunga kuning 3 (c) dengan bentuk daun bulat telur terbalik
Panjang dan Lebar Bunga, Sepal dan Petal
Data kuantitatif karakter morfologi bunga terdiri dari panjang dan lebar bunga, petal, sepal dorsal, sepal lateral Hasil uji t-dunnett dengan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ sebagai kontrol (Tabel 2).
Tabel 2 Rata-rata panjang dan lebar bunga, sepal dan petal beberapa genotipe anggrek Phalaenopsis hibrid dan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’
Genotipe Bunga Petal Sepal Dorsal Sepal Lateral Panjang Lebar Panjang Lebar Panjang Lebar Panjang Lebar
(cm)
K1 8.83 7.63* 4.77* 4.50 4.07* 4.13 4.77 3.17 P1 11.03 10.10* 6.77 5.33 3.57* 5.33 5.47 3.10 P2 10.13 9.62* 6.63 5.20 3.53* 4.70 5.03 2.96 P3 9.50 9.3* 5.97 4.83 3.63* 4.00 4.43 2.83 P4 8.80 8.10* 4.82* 4.27 3.63* 4.13 4.57 3.00 PAC 5.70 7.40 3.70 3.10 3.10 1.30 3.20 1.40
* Angka-angka yang diikuti oleh simbol yang sama menunjukkan hasil tidak berbeda nyata dengan kontrol pada uji t-dunnetttaraf α = 5%
P1, P2, P3, P4: Hibrid bunga putih, K1: Hibrid bunga kuning, PAC: Phalaenopsis amabilis
ekotipe ‘Cidaun’
Berdasarkan hasil pengamatan (Tabel 2) menunjukkan bahwa bunga terpanjang dan bunga terlebar terdapat pada hibrid bunga putih 1 dengan panjang 11.03 cm dan lebar 10.10 cm. Hasil uji t-dunnet menunjukkan bahwa panjang bunga dari 5 genotipe yang diamati berbeda nyata dengan kontrol. Lebar bunga seluruh genotipe tidak berbeda nyata dengan kontrol.
Hibrid bunga putih 1 memiliki petal terpanjang dan terlebar pada semua genotipe dengan panjang 6.77 cm dan lebar 5.33 cm. Hasil uji statistik menunjukkan panjang petal dari 5 genotipe yang diamati menunjukkan hasil hibrid bunga putih 1, hibrid bunga putih 2, dan hibrid bunga putih 3 berbeda nyata dengan kontrol. Lebar petal menunjukkan bahwa seluruh genotipe yang diamati menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata dengan kontrol.
Panjang sepal dorsal dari 5 genotipe yang diamati tidak berbeda nyata dengan kontrol dan lebar sepal dorsal seluruh genotipe berbeda nyata dengan kontrol. Sepal dorsal terpanjang terdapat pada hibrid bunga kuning 1 sepanjang 4.07 cm. Sepal dorsal terlebar terdapat pada hibrid bunga putih 1 dengan lebar 5.33 cm. Panjang dan lebar sepal lateral yang diamati menunjukkan bahwa seluruh genotipe berbeda nyata dengan kontrol. Sepal lateral terpanjang terdapat pada hibrid bunga putih 1 dengan panjang 5.47 cm dan sepal lateral terlebar terdapat pada hibrid bunga kuning 1 dengan lebar 3.17 cm.
15
Data Kualitatif
Data kualitatif diamati untuk mengetahui keragaman karakter morfologi daun dan karakter morfologi bunga 5 genotipe Phalaenopsis hibrid dan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ serta melakukan pendugaan hubungan kekerabatannya. Karakterisasi pada anggrek penting untuk membedakan dan menggambarkan perubahan pada karakter yang disukai (Okuno dan Fukuoka 2002). Persamaan antar genotipe Phalaenopsis hibrid disebabkan oleh kesamaan sifat genetik pada masing-masing genotipe, karena terdapat pada satu genus yang sama, yaitu genus Phalaenopsis, sedangkan perbedaan pada sifat-sifat tanaman dipengaruhi oleh perubahan lingkungan seperti, nutrisi, suhu, kelembaban, dan iklim (Hardiyanto et al. 2007).
Berdasarkan data karakter morfologi daun dan bunga, 6 genotipe yang diamati memiliki keragaman pada bentuk daun, bentuk ujung daun, susunan daun, tekstur permukaan daun, tipe pembungaan, bentuk bunga, bentuk sepal dorsal, bentuk sepal lateral, bentuk petal, bentuk ujung sepal, bentuk ujung petal, penampang melintang sepal, penampang melintang petal, penampang melintang bibir, susunan petal, ada atau tidaknya whisker, tipe keping sisi, penampang keping sisi, tipe tonjolan pada bibir, dan bentuk keping tengah. Kemiripan pada 6 genotipe yang diamati terdapat pada karakter morfologi daun, yaitu penampang melintang daun, bentuk tepi daun, dan simetri daun. Karakterisasi yang dilakukan tanpa pengamatan warna daun dan bunga. Hasil karakterisasi dalam bentuk tabel deskriptor tersaji dalam lampiran.
Gambar 24 Tipe pembungaan tunggal (A), tandan (B), dan malai (C)
Pendugaan kekerabatan berdasarkan kemiripan morfologi daun dan bunga
Pendugaan hubungan kekerabatan dilakukan pada 15 tanaman dari 5 genotipe Phalaenopsis hibrid dan 3 tanaman spesies asli Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’. Tingkat kemiripan masing-masing individu ditunjukkan pada koefisien kemiripan dengan skala dari 0.00 sampai 1.00. Enam genotipe Phalaenopsis yang diamati menunjukkan kemiripan pada morfologi daun yaitu pada penampang melintang daun, bentuk tepi daun, dan simetri daun, sedangkan untuk morfologi bunga masing-masing genotipe menunjukkan karakter yang berbeda. Berdasarkan pengamatan pada morfologi daun dan bunga membentuk 3 kelompok yaitu hibrid bunga kuning 1.1 pada koefisien kemiripan sebesar 0.47, kelompok Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ pada koefisien kemiripan sebesar 0.528, dan kelompok Phalaenopsis hibrid pada koefisien kemiripan sebesar 0.729. Genotipe yang memiliki kemiripan yang paling tinggi adalah hibrid
bunga putih 1.1 dan hibrid bunga putih 4.1 dengan kofisien kemiripan sebesar 1.00, diduga memiliki kekerabatan yang dekat, namun perlu dievaluasi lebih lanjut karena hasil analisis belum memasukkan pengamatan warna bunga. Hubungan kekerabatan antara dua individu atau populasi dapat diukur berdasarkan kesamaan sejumlah karakter dengan asumsi bahwa karakter-karakter berbeda disebabkan oleh adanya perbedaan susunan genetik (Purwantoro et al. 2005).
Gambar 25 Dendrogram 18 tanaman anggrek Phalaenopsis hibrid dan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ berdasarkan karakter morfologi pada daun dan bunga tanpa pengamatan terhadap warna daun dan bunga
Kekerabatan yang jauh dapat dianalisis melalui karakter kualitatif. Hibrid bunga kuning 1.1 tidak mengelompok dalam kelompok Phalaenopsis hibrid karena memiliki perbedaan utama pada bentuk daun dengan bentuk daun bulat telur terbalik, sedangkan genotipe lainnya memiliki bentuk daun lanset terbalik. Perbedaan lainnya terdapat pada ada atau tidaknya whisker, hibrid bunga kuning 1.1 tidak memiliki whisker sedangkan genotipe lainnya memiliki whisker. Bentuk keping tengah, tipe keping sisi, dan penampang melintang bibir juga merupakan faktor-faktor utama hibrid bunga kuning 1.1 tidak berkelompok dengan Phalaenopsis hibrid lainnya.
Koefisien Kemiripan
0.45
0.50
0.55
0.60
0.65
0.70
0.75
0.80
0.85
0.90
0.95
1.00
P3.1
P3.2
P2.1
P2.3
P4.2
P4.3
P1.1
P4.1
P1.2
P1.3
P2.2
K1.2
K1.3
P3.3
PAC1
PAC2
PAC3
K1.1
A A2 A1 B [image:31.595.78.520.106.626.2]17
[image:32.595.157.456.85.167.2]
Gambar 26 Phalaenopsis hibrid memiliki whisker (A) dan tidak memiliki whisker (B)
Faktor-faktor yang membedakan antara Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ dan Phalaenopsis hibrid antara lain susunan daun, tipe pembungaan, bentuk bunga, bentuk sepal dorsal, bentuk petal, dan penampang melintang petal. Perbedaan utama terdapat pada bentuk bunga dan tipe pembungaan. Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ memiliki bentuk bunga bintang, sedangkan pada kelompok Phalaenopsis hibrid memiliki bentuk bunga bulat. Tipe pembungaan pada Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ merupakan malai, sedangkan pada kelompok Phalaenopsis hibrid memiliki tipe pembungaan tandan.
Gambar 27 Perbandingan bentuk bunga Phalaenopsis hibrid (A) dengan Phalaenopsis amabilisekotipe ‘Cidaun’ (B)
Kelompok Phalaenopsis hibrid mengelompok berdasarkan kemiripan bentuk daun, bentuk tepi daun, simetri daun, sususan daun, tipe pembungaan, bentuk bunga, bentuk keping tengah, tipe tonjolan pada bibir, tipe keping sisi, penampang keping sisi, ada penampang melintang bibir, dan ada atau tidaknya whisker. Kelompok Phalaenopsis hibrid membentuk 3 kelompok yaitu hibrid bunga putih 3.3 pada koefisien kemiripan 0.729, hibrid bunga putih 3.1 pada koefisien kemiripan 0.753 dan kelompok A dan B yang bertemu pada koefisien kemiripan 0.779. Hibrid bunga putih 3.1 dan hibrid bunga putih 3.3 terpisah karena memiliki perbedaan pada bentuk ujung daun dan bentuk sepal dorsal, tetapi memiliki kemiripan bentuk bunga, bentuk petal, dan susunan petal. Kelompok A dan B terpisah karena memiliki perbedaan utama pada penampang melintang petal.
Gambar 28 Hibrid bunga putih 3.1 dan hibrid bunga putih 3.3 dengan kemiripan bentuk bunga, bentuk petal, dan susunan petal
A B
Kelompok A berkelompok berdasarkan kemiripan pada penampang melintang daun, bentuk daun, bentuk tepi daun, simetri daun, susunan daun, tipe pembungaan, bentuk bunga, tipe tonjolan pada bibir, tipe keping, penampang melintang bibir, dan ada atau tidaknya whisker. Kelompok A terbagi menjadi 3 yaitu hibrid bunga putih 3.2 pada koefisien kemiripan 0.798, kelompok A1 dan A2 pada koefisien kemiripan 0.823. Kelompok A1 dan A2 terdapat pada kelompok yang terpisah karena masing masing genotipe dalam kelompok tersebut memiliki perbedaan pada bentuk ujung daun, tekstur permukaan daun, bentuk sepal dorsal, bentuk sepal lateral, bentuk petal, susunan petal, penampang melintang petal, penampang keping sisi, bentuk ujung sepal, dan bentuk ujung petal.
Hibrid bunga putih 2.1, hibrid bunga putih 2.3, dan hibrid bunga putih 4.2 terdapat pada koefisien kemiripan 0.913 dan mengelompok dengan hibrid bunga putih 4.3 pada koefisien kemiripan 0.899 yang membentuk kelompok A1. Kelompok A2 terdiri dari hibrid bunga putih 1.1 dan hibrid bunga putih 4.1 dengan koefisien kemiripan 1.00 yang mengelompok dengan hibrid bunga putih 1.2 dengan koefisien kemiripan 0.957, dan kemudian mengelompok dengan hibrid bunga putih 1.3 dengan koefisien kemiripan 0.883. Hibrid bunga putih 1.1 dan hibrid bunga putih 4.1 memiliki warna yang berbeda tetapi memiliki morfologi daun dan bunga yang sama sehingga memiliki koefisien kemiripan 1.00.
Gambar 29 Hibrid bunga putih 1.1 dengan hibrid bunga putih 4.1 dengan koefisien kemiripan 1.00 tanpa pengamatan terhadap warna bunga
Genotipe pada kelompok B mengelompok berdasarkan kemiripan pada penampang melintang daun, bentuk daun, bentuk ujung daun, bentuk tepi daun, simetri daun, susunan daun, tipe pembungaan, bentuk bunga, bentuk sepal lateral, bentuk petal, bentuk keping tengah, tipe tonjolan pada bibir, tipe keping sisi, bentuk ujung petal, penampang melintang bibir, dan ada atau tidaknya whisker. Hibrid bunga kuning 1.2 dan hibrid bunga kuning 1.3 terdapat pada koefisien kemiripan 0.957 dan kemudian mengelompok dengan hibrid bunga putih 2.2 pada koefisien kemiripan 0.804.
Perbandingan Data Kuantitatif dan Kualitatif
Hasil pengelompokan Phalaenopsis secara kuantitatif berdasarkan morfologi daun selaras dengan pengelompokan secara kualitatif. Secara kualitatif bentuk daun dari setiap genotipe Phalaenopsis sebagian besar memiliki bentuk daun yang sama yaitu lanset terbalik, selaras dengan pengelompokan secara kuantitatif dimana masing masing genotipe Phalaenopsis memiliki panjang dan lebar daun yang tidak berbeda nyata.
19
lebar sepal dorsal, dan panjang lebar lateral berbeda nyata. Panjang bunga dipengaruhi oleh bentuk bunga, Phalaenopsis hibrid memiliki bentuk bunga bulat, hal ini menyebabkan Phalaenopsis hibrid memiliki panjang bunga berbeda nyata dengan kontrol. Lebar petal dipengaruhi oleh bentuk petal, lebar petal Phalaenopsis hibrid secara kuantitatif berbeda nyata dengan kontrol hal ini disebabkan bentuk petal Phalaenopsis hibrid memiliki bentuk petal yang berbeda dengan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’. Bentuk sepal dorsal Phalaenopsis hibrid memiliki bentuk yang berbeda dengan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’, secara kuantitatif lebar sepal dorsal Phalaenopsis hibrid berbeda nyata dengan kontrol, karena lebar sepal dorsal dipengaruhi oleh bentuk sepal dorsal. Panjang dan lebar sepal lateral Phalaenopsis hibrid secara kuantitatif berbeda nyata dengan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’, karena secara kualitatif bentuk sepal lateral Phalaenopsis hibrid berbeda dengan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’. Sepal lateral Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ berbentuk oval sedangkan Phalaenopsis hibrid memiliki bentuk sepal lateral yang bervariasi.
Perbandingan data kuantitatif dan kualitatif untuk bentuk daun hibrid bunga kuning 1.1 kurang akurat, karena untuk kuantitatif data bentuk daun dari 3 ulangan hibrid bunga kuning 1 dirata-rata, sedangkan secara kualitatif bentuk dain dari hibrid bunga kuning 1.1 memiliki bentuk daun yang berbeda dibandingkan dengan ulangan yang lainnya.
Analisis Stomata
Analisis stomata bertujuan untuk mengetahui kerapatan dan ukuran stomata pada daun dari Phalaenopsis hibrid. Pengamatan dilakukan pada genotipe hibrid bunga putih 1, hibrid bunga putih 3, hibrid bunga putih 4, hibrid bunga kuning 1 dan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’. Bagian yang diamati adalah permukaan bawah daun. Hibrid bunga putih 2 tidak teramati karena keterbatasan bahan tanaman. Hasil pengamatan stomata pada Phalaneopsis hibrid ditampilkan pada Gambar 30.
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan di bawah mikroskop, dapat dilihat bahwa stomata pada Phalaenopsis berbentuk ginjal dan tidak teratur letaknya. Menurut Rompas et al. (2011), susunan stomata Phalaenopsis amabilis tidak beraturan letaknya, serta berbentuk ginjal dan tipe anomistik yaitu sel sel penjaga tidak beraturan letaknya dan tidak dapat dibedakan dari sel-sel epidermis lainnya. Stomata dikelilingi oleh 4-5 sel tetangga dan dua sel tetangga masing-masing terdapat di samping sebuah sel penutup yang merupakan ciri tumbuhan monokotil (Hidayat 1995).
Gambar 30 Stomata pada Phalaenopsis. Hibrid bunga putih 1 (A), hibrid bunga putih 4 (B), hibrid bunga putih 3(C), hibrid bunga kuning
1 (D) dan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ (E)
Panjang dan lebar stomata diukur untuk menentukan ukuran stomata. Genotipe dengan ukuran stomata terbesar adalah hibrid bunga putih 3 karena memiliki nilai panjang dan lebar tertinggi, sedangkan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ memiliki ukuran stomata terkecil karena panjang dan lebar stomata terkecil.
Tabel 3 Rata-rata panjang, lebar dan kerapatan stomata anggrek Phalaenopsis hibrid dan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’
Genotipe Panjang (nm) Lebar (nm) Kerapatan (mm-2)
K1 29555.53 25895.70 13.50 P1 36446.83 30875.96 11.80
P3 36576.74 32503.59 13.50 P4 35150.81 26590.55 13.50 PAC 24705.19 18717.10 23.78
P1, P3, P4: Hibrid bunga putih, K: Hibrid bunga kuning, PAC: Phalaenopsis amabilis
Cidaun
C D
A B
[image:35.595.35.458.78.478.2]21
Tabel 4 Rasio panjang, lebar, dan kerapatan stomata anggrek Phalaenopsis hibrid dengan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’
Genotipe Rasio Panjang - PAC Rasio lebar - PAC Rasio kerapatan - PAC
K1 1.20 1.38 0.57
P1 1.48 1.65 0.50
P3 1.48 1.74 0.57
P4 1.42 1.42 0.57
Rata-rata 1.39 1.55 0.55
P1, P3, P4: Hibrid bunga putih, K: Hibrid bunga kuning, PAC: Phalaenopsis amabilis
Cidaun
Ukuran stomata berpengaruh terhadap tingkat ploidi dan tingkat ploidi berpengaruh terhadap ukuran bunga. Menurut Poespodarsono (1988), perbedaan tingkat ploidi menunjukkan perbedaan ukuran sel dan stomata. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Damayanti (2007) yang menyatakan bahwa pisang genotipe AK8P dengan tingkat ploidi triploid yang memiliki ukuran sel epidermis dan stomata yang lebih besar dibanding genotipe lainnya yang memiliki tingkat ploidi diploid. Menurut Nurhasanah (2011) pada tanaman rapeseed tanaman tetraploid mempunyai ukuran kuncup bunga dan bunga yang lebih besar dibandigkan tanaman diploid.
Secara keseluruhan dapat dilihat bahwa rata-rata rasio panjang dan lebar stomata Phalaenopsis hibrid dengan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ (Tabel 4) sebesar 1.39 untuk panjang stomata dan 1.55 untuk lebar stomata, menunjukkan bahwa rata rata ukuran stomata Phalaenopsis hibrid lebih besar dari Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’, berbanding lurus dengan ukuran bunga Phalaenopsis hibrid yang lebih besar dari Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’. Rasio kerapatan stomata Phalaenopsis hibrid dengan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ sebesar 0.55, menunjukkan bahwa rata-rata kerapatan stomata Phalaenopsis hibrid lebih kecil dari Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Karakter kuantitatif pada daun dan bunga Phalaenopsis hibrid dan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ menunjukkan nilai yang beragam. Hasil analisis statistik dengan uji t-dunnet menunjukkan beberapa parameter tidak berbeda nyata dengan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ sebagai kontrol adalah panjang daun, lebar daun, lebar bunga, panjang sepal dorsal, lebar, dan panjang petal hibrid 1 bunga kuning dan hibrid bunga putih 4.
yang memiliki warna berbeda memiliki morfologi daun dan bunga yang sama. Phalaenopsis hibrida dengan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ memiliki koefisien Phalaenopsis hibrid dengan Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’ memiliki koefisien kemiripan sebesar 0.528 kecuali hibrid bunga kuning 1.1 yang membentuk kelompok sendiri pada koefisien kemiripan 0.47 akibat perbedaan utama bentuk daun dan tipe pembungaan.
Ukuran stomata masing-masing Phalaenopsis hibrid lebih besar dari Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’, diduga ukuran stomata berpengaruh terhadap ukuran bunga, karena bunga Phalaenopsis hibrid lebih besar dari Phalaenopsis amabilis ekotipe ‘Cidaun’.
Saran
Bahan yang digunakan untuk karakterisasi Phalaenopsis hibrid sebaiknya berasal dari tempat yang sama dan mengetahui tetua-tetua dari Phalaenopsis yang digunakan untuk karakterisasi. Pada penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan Panduan Pengujian Individual (PPI) Phalaenopsis.
DAFTAR PUSTAKA
[BALITHI] Balai Penelitian Tanaman Hias. 2007. Panduan Karakterisasi Tanaman Anggrek. Jakarta: Pusat penelitian dan pengembangan hortikultura, Badan penelitian dan pengembangan pertanian.
Amiarsi D, Syaifullah, Yulianingsih. 1996. Komposisi terbaik untuk larutan perendaman bunga anggrek potong Dendrobium Sovia Deep Pink. J Hort. 9(1):45-50.
Bechtel H, P Cribb, E Launert. 1981. The Manual of Cultivated Orchid Species. Poole Dorset (UK): Blandford Press.
Chan CL, A Lamb, PS Shim, JJ Wood. 1994. Orchid of Borneo Vol I: Introduction and Selection of Species. Kota Kinabalu & Kew (MY): The Sabah Society and RBG Kew
Damayanti F. 2007. Analisis jumlah kromosom dan anatomi stomata pada beberapa plasma nutfah pisang (musa sp.) asal Kalimantan Timur. Bioscientiae. 4(2):53-61.
Fauziah N. 2013. Karakterisasi anggrek Phalaenopsis spp. spesies asli Indonesia [skripsi]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor.
Hardiyanto, Mujiarto E, Sulasmi ES. 2007. Kekerabatan genetik beberapa spesies jeruk berdasarkan taksonometri. J Hort. 17(3):203-216.
Hasim I, M Reza. 1995. Krisan. Jakarta (ID): PT Penebar Swadaya.
Hew CS, JWH Young. 1997. The Physiology of Tropical Orchids in Relation to the Industry. Singapore: World Scientific.
Hidayat EB, Suradinata TS. 1990 Penuntun praktikum anatomi tumbuhan. Bandung (ID): F-MIPA ITB, Bandung.
23
Langenheim JH, KV Thimann. 1982. Botany Its Relation to Human Affairs. Toronto (CA): John Wiley and Sons, Inc.
Mattjik NA. 2010. Budi Daya Bunga Potong dan Tanaman Hias. Purwito A, editor. Bogor (ID): IPB Press.
Miswar ZF, Sukarmin, F Ihsan. 2012. Teknik karakterisasi kuantitatif beberapa genotipe nenas. Buletin Teknik Pertanian. 17(1): 10-13.
Nurhasanah. 2011. Deteksi dini ploidi tanaman dengan menggunakan flow cytometry. Bioprospek. 8(2): 55-61.
Okuno F, S Fukuoka. 2002. An enhancement strategy for rice germplasm: DNA marker-assisted in identification of beneficial QTL resistance to rice blast, In JMM Engels, VR Rao, AHD Brown and MT Jackson, eds. Managing Plant Genetic Diversity. Rome (IT): CABI Publishing. p 301-306.
Poespodarsono S. 1988. Dasar-Dasar Ilmu Pemuliaan Tanaman. Bogor (ID): IPB Purwantoro A, E Ambarwati, F Setyaningsih. 2005. Kekerabatan antar anggrek
spesies berdasarkan sifat morfologi tanaman dan bunga. Ilmu Pertanian. 12 (1): 1-11.
Puspitaningtyas DM, S Mursidawati. 1999. Koleksi Anggrek Kebun Raya Bogor. Vol 1, No 2. Bogor (ID): UPT Balai Pengembangan Kebun Raya- LIPI. Rompas Y, Henry RL, Rumondor JM. 2011. Struktur sel epidermis dan stomata
daun beberapa tumbuhan suku Orchidaceae. J Bioslog. 1(1): 13-19.
Rukmana R. 2000. Budidaya anggrek bulan. Yogyakarta (ID): Penerbit Kanisius. Sandra E. 2005. Membuat Anggrek Rajin Berbunga. Jakarta (ID) Penebar
Swadaya.
Sastrapradja, S. 1980. Jenis-jenis Anggrek. Jakarta: . Lembaga Biologi Nasional LIPI.
Setiawan H. 2005. Usaha Pembesaran Anggrek. Jakarta (ID): Penebar Swadaya. Sutiyoso Y. 2006. Merawat Anggrek. Jakarta (ID): Penebar swadaya.
Widiastoety D, N Solvia, Syafni. 1998. Kultur embrio pada anggrek Dendrobium. J Hort. 7(4):860-868.
Yano S, I Terashima. 2008. Determination mechanisms of leaf anatomy and chloroplast characteristics in sun and shade leaves. Toyonaka (JP): Department of Biology Graduate School of Science Osaka University. Young PS, HN Murthy, PK Yeuep. 2001. Mass multiplication of protocorm-like
LAMPIRAN
Lampiran 1 Karakter Morfologi Daun Anggrek Phalaenopsis
Genotipe Ulangan Variabel Daun Penampang Melintang Bentuk Bentuk Ujung Susunan Bentuk Tepi Simetri Tekstur Permukaan Hibrid bunga
putih 1 1 Zigomorf
Lanset
sungsang Tumpul Rangkap Utuh Asimetri Keriput
2 Zigomorf
Lanset
sungsang Tumpul Rangkap Utuh Asimetri Keriput
3 Zigomorf
Lanset
sungsang Tumpul Rangkap Utuh Asimetri Keriput Hibrid bunga
putih 2 1 Zigomorf
Lanset
sungsang Lancip Rangkap Utuh Asimetri Gundul
2 Zigomorf
Lanset
sungsang Lancip Rangkap Utuh Asimetri Gundul
3 Zigomorf
Lanset
sungsang Lancip Rangkap Utuh Asimetri
Tidak teratur Hibrid bunga
Putih 3 1 Zigomorf
Lanset
sungsang Lancip Rangkap Utuh Asimetri Gundul
2 Zigomorf
Lanset
sungsang Lancip Rangkap Utuh Asimetri Gundul
3 Zigomorf
Lanset
sungsang Tumpul Rangkap Utuh Asimetri Gundul Hibrid bunga
putih 4 1 Zigomorf
Lanset
sungsang Tumpul Rangkap Utuh Asimetri Keriput
2 Zigomorf
Lanset
sungsang Lancip Rangkap Utuh Asimetri Keriput
3 Zigomorf
Lanset
sungsang Lancip Rangkap Utuh Asimetri Keriput
Hibrid bunga
kuning 1 1 Zigomorf
Bulat telur
sungsang Tumpul Rangkap Utuh Asimetri Keriput
2 Zigomorf
Lanset
sungsang Lancip Rangkap Utuh Asimetri Keriput
3 Zigomorf
Lanset
sungsang Lancip Rangkap Utuh Asimetri Keriput Phalaenopsis
Amabilis 1 Zigomorf
Lanset
sungsang Lancip Tergulung Utuh Asimetri Gundul
Cidaun 2 Zigomorf
Lanset
sungsang Lancip Tergulung Utuh Asimetri Gundul
3 Zigomorf
Lanset
25
Lampiran 2 Karakter Morfologi Bunga Anggrek Phalaenopsis
Genotipe Bunga Tipe pembungaan Bentuk Bentuk Sepal dorsal Bentuk Sepal
Lateral Bentuk petal
Bentuk ujung sepal Bentuk ujung petal Penampang melintang sepal Hibrid bunga
putih 1 1 Tandan Bulat Bulat telur Bulat telur Belah ketupat Lancip Tumpul Cekung
2 Tandan Bulat Bulat telur Bulat telur Belah ketupat Lancip Memotong Cekung
3 Tandan Bulat
Bulat telur
sungsang Bulat telur Belah ketupat Tumpul Memotong Cekung
Hibrid bunga
putih 2 1 Tandan Bulat Oval Oval Belah ketupat Lancip Tumpul Cekung
2 Tandan Bulat
Bulat telur sungsang
Bulat telur
sungsang Belah ketupat Lancip Tumpul Cembung
3 Tandan Bulat Bulat telur Oval Belah ketupat Lancip Tumpul Cekung
Hibrid bunga
putih 3 1 Tandan Bulat Oval
Bulat telur
sungsang Belah ketupat
Berujung suntih bertulang runcing Tumpul bertakik Cekung
2 Tandan Bulat
Bulat telur
sungsang Bulat telur Belah ketupat Tumpul Tumpul Cekung
3 Tandan Bulat
Bulat telur
sungsang Oval Agak bulat
Tumpul
bertakik Tumpul Cekung
Hibrid bunga
putih 4 1 Tandan Bulat Bulat telur Bulat telur Belah ketupat Lancip Tumpul Cekung
2 Tandan Bulat
Bulat telur
sungsang Oval Belah ketupat Lancip Tumpul Cekung
3 Tandan Bulat Bulat telur Oval Belah ketupat Lancip Tumpul Cekung
Hibrid bunga
kuning 1 1 Tunggal Bulat Bulat telur Bulat telur Belah ketupat Lancip
Tumpul
bertakik Cekung
2 Tandan Bulat Bulat telur Bulat telur Belah ketupat Lancip Tumpul Datar
Phalaenopsis
amabilis Cidaun 1 Malai Bintang Lurus Oval
Bulat telur
sungsang Tumpul Tumpul Cembung
2 Malai Bintang Lurus Oval
Bulat telur
sungsang Tumpul Tumpul Cembung
3 Malai Bintang Lurus Oval
Bulat telur
sungsang Tumpul Tumpul Cembung
Lampiran 2 Karakter Morfologi Bunga Anggrek Phalaenopsis
Genoptie Bunga Penampang melintang bibir Penampang melintang petal Susunan
petal Whisker
Tipe keping sisi Penampang keping sisi Tipe tonjolan kalus pada bibir Bentuk keping tengah Hibrid bunga
putih 1 1 Melengkung sangat dalam Cekung Terbuka Ada 5 2 Kompleks Segitiga terbalik
2 Melengkung sangat dalam Cekung Terbuka Ada 5 2 Kompleks Segitiga terbalik
3 Melengkung sangat dalam Cekung Terbuka Ada 5 2 Kompleks Segitiga terbalik
Hibrid bunga
putih 2 1 Melengkung sangat dalam Cekung Terbuka Ada 5 2 Kompleks Segitiga terbalik
2 Melengkung sangat dalam Datar Terbuka Ada 5 2 Kompleks Segitiga terbalik
3 Melengkung sangat dalam Cekung Terbuka Ada 5 2 Kompleks Segitiga terbalik
Hibrid bunga
putih 3 1 Melengkung sangat dalam Cekung Terbuka Ada 5 2 Kompleks Segitiga terbalik
2 Melengkung sangat dalam Cekung Bersentuhan Ada 5 2 Kompleks Segitiga terbalik
3 Melengkung sangat dalam Datar Terbuka Ada 5 2 Kompleks Segitiga terbalik
Hibrid bunga
putih 4 1 Melengkung sangat dalam Cekung Terbuka Ada 5 2 Kompleks Segitiga terbalik
2 Melengkung sangat dalam Cekung Terbuka Ada 5 2 Kompleks Segitiga terbalik
3 Melengkung sangat dalam Cekung Bersentuhan Ada 5 2 Kompleks Segitiga terbalik
Hibrid bunga
kuning 1 1 Melengkung agak ke dalam Datar Terbuka
Tidak
27
2 Melengkung sangat dalam Datar Terbuka Ada 5 1 Kompleks Segitiga terbalik
3 Melengkung sangat dalam Datar Terbuka Ada 5 2 Kompleks Segitiga terbalik
Phalaenopsis amabilis
Cidaun 1 Melengkung sangat dalam Cembung Terbuka Ada 5 2 Sederhana Segitiga terbalik
2 Melengkung sangat dalam Cembung Terbuka Ada 5 2 Sederhana Segitiga terbalik
3 Melengkung sangat dalam Cembung Terbuka Ada 5 2 Sederhana Segitiga terbalik
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 27 Juli 1991 dari Ayah Junaidi dan Ibu Mariyam Mahdalena. Penulis adalah putra kedua dari tiga bersaudara. Tahun 2008 penulis menyelesaikan studi di SMA Negeri 71 Jakarta dan pada tahun yang sama penulis terdaftar sebagai mahasiswa Universitas Katolik Atma Jaya dan tahun 2009 penulis terdaftar sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) dan diterima di Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian.