50 6 - 21 RAMADLAN 1431 H
TELAAH PENDIDIKAN
SISTEM PENDIDIKAN
YANG DIPERLUKAN UMAT ISLAM
MOHAMMAD DJAFNAN AFANDIE
I
slam adalah agama yang lengkap dan dijamin Allah SwT berlaku hingga akhir zaman. Kelengkapan ajaran Islam digambarkan sebagai sebuah bangunan yang lengkap, indah dan kokoh. Karena itu, proses pendidikan Islam yang benar pun harus bisa menanamkan jiwa dan pengertian Islam yang komplit dan benar ke dalam jiwa murid.Pada zaman Rasulullah saw, pendidikan telah mendapat perhatian yang sangat besar dari beliau, karena kualitas pendidikan akan menentukan kualitas generasi mendatang. Pendidikan bermula dari keluarga, maka kesadaran keluarga untuk menjaga kualitas pendidikan anak-anaknya itu sangat penting. Pendidikan Islam tidak terpisah dari hipotesis utama ajaran Islan, yaitu bertujuan untuk melahirkan generasi yang berakhlak baik (shalih), sehingga akan mendapat surga di hari akhir nanti.
Ada dua macam jenis peserta pendidikan generasi pertama didikan Rasulullah Muhammad saw. Kelompok pertama adalah para professional yang mendapat hidayah Islam, seperti Khabab bin ‘Arab ra (pakar penempaan besi [metallurgist]), Abu Bakar dan Utsman bin ‘Affan ra (peniaga), ‘Umar bin Khattab (diplomat), Salman Al-Farisi (arsitek), dll.
Kelompok kedua adalah anak-anak yang dilahirkan di zaman Rasulullah saw sehingga memperoleh pendidikan Islam sejak dini. Abdullah ibn Umar, Abdullah ibn Mas’ud, dan Mu’adz bin Jabbal antara lain adalah nama-nama yang tersebut dalam daftar kelompok itu. Kedua kelompok itu disebut Rasulullah saw sebagai generasi terbaik umat Islam. Artinya, untuk menjadi seorang Muslim yang baik tidak perlu menjadi kafir terlebih dahulu, melainkan dapat dicapai melalui pendidikan sedari kecil.
Penyakit Pendidikan
Di antara sumber kelemahan umat Islam saat ini adalah kekurangan intelektual dan ulama yang mumpuni. Di tengah suasana yang semakin merasa “tak berdaya” menghadapi tantangan zaman, maka lulusan-lulusan universitas telah lahir menjadi intelektual yang juga merasa tak berdaya. Prof. DR. HM Amien Rais dalam pidato pengukuhan guru besarnya (1999) menyatakan, sumber malapetaka suatu bangsa adalah ketak-berdayaan (jiwa) para intelektualnya. Hal ini tidak terlepas dari kurangnya
ilmu-ilmu agama yang dimiliki para intelektual Muslim saat ini, sebagai hasil dari proses pendidikan yang dialaminya. Dengan kata lain, pendidikan yang dijalankan di sekolah-sekolah Islam saat ini belum melahirkan intelektual yang berjiwa dan berdaya.
Sehubungan dengan hal itu, sekolah-sekolah milik Persyarikatan Muhammadiyah pernah dinilai oleh mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Ki Sarino, bahwa kurikulum sekolah Muhammadiyah sejak zaman penjajahan Belanda adalah mengikuti kurikulum pemerintah ditambah beberapa jam pelajaran agama.
Foto: DIDIK SUJARWO
De
m
o (Vi
si
t ht
tp:
//www.pdfspl
itm
erge
r.c
om
51 SUARA MUHAMMADIYAH 16 / 95 | 16 - 31 AGUSTUS 2010
TELAAH PENDIDIKAN
Menurut beliau kurikulum semacam ini tidak akan mampu melahirkan generasi yang memahami unsur-unsur budaya masyarakatnya (transfer of value). Hasilnya adalah generasi yang sesuai dengan sasaran pemerintah, yakni menjadi pegawai negeri, bukan pemimpin. Semangat kepemimpinan Islam tidak menjadi dengan sempurna, sebenarnya karena ilmu-ilmu yang diberikan di sekolah tidak mencukupi untuk menjadi bekal bagi seorang pemimpin yang mumpuni.
Akibatnya, para tokoh umat yang lahir dari sistem pendidikan seperti itu akan memiliki wawasan yang cenderung birokratis, sehingga mengukur nilai-nilai kejuangan dan agama dari aspek materialistik dan birokratik. Tokoh-tokoh umat yang tidak memiliki ilmu agama yang memadai tidak akan mampu memberikan contoh yang baik dalam kehidupannya. Seorang Kristen warga Jerman pernah mengakui, bahwa kemunduran agama Kristen di Eropa adalah karena tiadanya keteladanan di kalangan pemimpin Agama mereka.
Masalah lain yang berpengaruh pada pendidikan adalah tantangan ekonomi masyarakat di masa depan yang dijangka akan semakin industrialistik, dan karenanya semakin profesionalistik. Masyarakat serupa itu akan semakin individualistik, sehingga akan terjadi alienasi antara seseorang dengan masyarakatnya. Keperluan berkomunikasi sesama anggota masyarakat cukup tersalurkan melalui fasilitas komunikasi dan kelompok-kelompok kecil dalam bentuk klub sekantor atau sehobi, dsb. Seiring dengan itu tekanan mental akan meningkat. Dalam keadaan seperti ini masyarakat memerlukan sentuhan hati yang “profetik” yang lebih dari zaman sebelumnya. Pemberian materi tentang “ibadah hati”— untuk menghindari kerancuan dengan istilah sufisme yang mungkin identik dengan aliran-aliran tasawuf dan upacaranya—patut diperhatikan di sekolah-sekolah kita. Di sisi lain akan muncul hal-hal baru yang dapat menjadi masalah hukum yang baru pula. Sebagai contoh, telah terjadi suatu diskusi masalah fiqih yang hangat di tahun-tahun 1950-an, mengenai masalah transfusi darah; tahun 1970-an, mengenai transplantasi organ; tahun 1980-an, mengenai euthanasia; tahun 1990-an, mengenai bayi tabung, dan lain-lain. Di bidang-bidang lain pun muncul persoalan serupa, seperti masalah MLM (multi level marketing).
Pendidikan Islam yang Ideal
Secara umum pendidikan Islam yang diperlukan adalah yang memenuhi kriteria sebagai berikut: 1. Mampu mewariskan pemahaman tentang nilai-nilai ke-Islaman yang utuh dan seimbang; 2. Melatihkan kebiasaan hidup yang sesuai dengan akhlak Islam; 3. Memberikan bekal asas bagi kemampuan profesional; 4. Memberikan bekal asas untuk memahami persoalan-persoalan agama yang baru dan mungkin muncul di masa depan; 5. Memberikan
bekal asas bagi kemampuan kepemimpinan.
Butir pertama dan kedua dari daftar di atas adalah hasil dari proses pewarisan nilai-nilai (transfer of values) yang dapat dilakukan melalui keteladanan orang-tua, guru, pamong dan lingkungannya. Bentuk pendidikan pesantren atau sekolah berasrama (boarding school) adalah bentuk yang memungkinkan proses-proses itu terjadi serentak melalui contoh dan implementasi langsung. Integrasi pengajaran pesantren dan sekolah menengah (SMP dan SMA) dalam satu paket (tinggal di asrama selama 6 tahun) adalah pilihan yang paling mungkin.
Pemberian materi kepemimpinan dapat diberikan melalui pengaturan jadwal kegiatan, salat berjamaah, permainan, perlombaan, latihan khutbah, diskusi, berorganisasi, kepanduan, kebersihan, dll. Secara khusus penulis ingin menyampaikan perlunya dilakukan perubahan teknik pengajaran bahasa Arab dengan cara-cara yang sistematik dan pemberian contoh kalimat dari ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits, sehingga materi beberapa pelajaran dapat diringkaskan. Peranan peralatan audio-visual untuk membantu hafalan ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits sangat diperlukan.
Kemampuan menyerap nilai-nilai ijtihad—salah satu ciri khas Muhammadiyah—dapat diberikan untuk tingkat SMA dengan memaparkan Fiqih Perbandingan Mazhab segera setelah materi Ilmu Fiqih, Ilmu Ushul Fiqih dan Mantiq diberikan. Pemberian contoh kasus serupa dengan yang diuraikan dalam buku Nailul Authar adalah perlu. Materi Akidah Rububiyah dan Uluhiyah dalam pelajaran tauhid dapat diperkaya dengan pendekatan Falsafah sebagaimana digunakan Syeikh Muhammad Abduh dalam kitab Risalah Tauhid, terutama untuk tingkat SMA.
Dengan sistem pendidikan serupa ini diharapkan murid memiliki wawasan dan bekal yang memadai untuk menjadi seseorang yang menjalani ajaran Islam dengan baik. Walaupun belum dapat disebut “ahli agama”, tetapi diharapkan dapat menjadi “agamawan”, sehingga dapat menjadi teladan bagi keluarga dan lingkungannya.
Pendidikan berasrama selama SMP dan SMA ini telah dilakukan sejak lama di banyak negara-negara terkemuka di dunia, seperti Jerman, Inggeris, India, Korea, Jepang dan Malaysia untuk menghasilkan kader bangsa yang terbaik. Sekolah-sekolah milik Muhammadiyah sampai saat ini umumnya masih berorientasi pada kurikulum yang ditetapkan oleh pemerintah dan tidak berasrama. Pengayaan dengan materi-materi agama masih minim diberikan, dengan pengecualian pada sedikit madrasah-madrasah tertentu, seperti Madrasah Mu’allimin dan Mu’allimat di Yogyakarta.l
______________________________________________