• Tidak ada hasil yang ditemukan

INCREASING SHORT-STORY WRITING ABILITY THROUGH STUDENT COLLABORATION TECHNIQUE CLASS VII SMP NEGERI 1 AMBARAWA ACADEMIC YEAR 2012/2013

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "INCREASING SHORT-STORY WRITING ABILITY THROUGH STUDENT COLLABORATION TECHNIQUE CLASS VII SMP NEGERI 1 AMBARAWA ACADEMIC YEAR 2012/2013"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

ABSTRAK

PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS CERPEN MELALUI TEKNIK KOLABORASI SISWA KELAS VII SMP NEGERI 1

AMBARAWA TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Oleh Ratin Supriadi

Permasalahan yang melatarbelakangi penelitian ini adalah rendahnya kemampuan menulis siswa kelas VII SMP Negeri 1 Ambarawa tahun pelajaran 2012/2013. Kemampuan menulis siswa yang rendah tersebut dapat dilihat dari hasil kerja siswa dalam pembuatan karya tulis maupun hasil kerja siswa dalam bentuk tugas menulis yang lain, misalnya membuat paragraf, menulis cerita, dan karya yang lainya. Siswa masih melakukan kesalahan-kesalahan yang dapat dilihat dari berbagai sudut, misalnya dari segi penulisan huruf kapital, penggunaan struktur kalimat, bahasa yang tidak runtut, kerapian, kelengkapan pola penulisan, pilihan kata atau diksi yang kurang tepat atau tidak sesuai, kalimat tidak efektif, dan kesalahan penggunaan Ejaan yang Disempurnakan (EYD).

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik kolaborasi tipe Dyadic Essay (Menulis Esai Berpasangan) untuk meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas VII 1. Dengan teknik tersebut guru harus dapat menumbuhkan kreativitas siswa, memotivasi siswa, dan memberikan inovasi belajar sehingga pembelajaran yang dilakukan dapat berjalan secara aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan.Dalam pembelajaran guru dapat mengaitkan antara materi yang dipelajarinya dengan pengalaman-pengalaman yang pernah dialami oleh siswa sehingga siswa akan lebih memahami materi pembelajaran yang diberikan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknik kolaborasi tipe Dyadic Essay (Menulis Berpasangan) dapat meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas VII 1 SMP Negeri 1 Ambarawa. Hal ini tampak pada peningkatan analisis proses dan hasil belajar. Siklus pertama diperoleh nilai rata-rata 69,66 dengan ketuntasan belajar 70,59 %, siklus dua diperoleh nilai rata-rata 70,12 dengan ketuntasan belajar 73,53 %, dan siklus tiga diperoleh nilai rata-rata 72,14 dengan ketuntasan belajar 76,47 %. Dengan demikian, kemampuan menulis cerpen siswa setiap siklus mengalami peningkatan dan indikator keberhasilan telah tercapai.

(3)
(4)
(5)

Halaman

DAFTAR TABEL xiii

DAFTAR GAMBAR xiv

DAFTAR LAMPIRAN xv

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 8

1.3 Tujuan Penelitian ... 8

1.4 Manfaat Penelitian ... 9

BAB II LANDASAN TEORI 2.1.1 Pengertian Menulis ... 10

2.1.2 Menulis sebagai Aspek Keterampilan Berbahasa ... 13

2.1.3 Tujuan dan Faktor-Faktor yang Memengaruhi Menulis ... 14

2.1.4 Karangan ... 16

2.1.4.1 Langkah Membuat Karangan ... 16

2.1.4.2 Kerangka Karangan yang Baik ... 17

2.1.4.3 Unsur-Unsur Karangan ... 18

2.1.4.4 Pola Pengembangan Karangan ... 20

2.1.4.5 Kriteria Karangan yang Baik ... 21

2.2 Menulis Cerpen ... 24

2.2.1 Pengertian Cerpen ... 24

2.2.2 Unsur-Unsur Cerpen ... 27

2.2.3 Teknik Penulisan Cerpen ... 29

2.3. Teori Belajar dan Pembelajaran ... 32

2.3.1 Teori Belajar Vygotsky ... 32

2.3.2 Teori Belajar John Piaget ... 32

2.4 Strategi Pembelajaran Bahasa ... 33

2.4.1 Pembelajaran Kontekstual ... 34

2.4.2 Komponen Pembelajaran Kontekstual ... 35

2.5 Teknik Kolaborasi ... 39

2.5.1 Dyadic Essay (Menulis Esai Berpasangan) ... 40

(6)

3.2.1 Tempat Penelitian ... 47

3.2.2 Waktu Penelitian ... 47

3.3. Teknik Pengumpulan Data ... 48

3.3.1 Teknik Pengamatan ... 48

3.3.2 Teknik Dokumentasi ... 48

3.3.3 Teknik Tes ... 49

3.4. Teknik analisis Data ... 49

3.5 Indikator Keberhasilan ... 50

3.6 Prosedur Penelitian ... 50

3.6.1 Tahap Perencanaan ... 51

3.6.2 Tahap Tindakan... 52

3.6.3 Tahap Observasi... 56

3.6.4 Tahap Refkessi ... 56

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Identitas SMPN 1 Ambarawa Kabupaten Pringsewu ... 58

4.1.1 Letak Geografis ... 58

4.1.2 Sejarah Singkat SMPN 1 Ambarawa ... 59

4.1.3 Visi Misi Sekolah ... 59

4.1.4 Keadaan Guru, Siswa , dan Prasarana ... 61

4.2 Hasil Penelitian ... 62

4.2.1 Perencanaan Tindakan Siklus Satu ... 65

4.2.2 Pelaksanaan Tindakan Siklus Satu... 66

4.2.3 Tahap Observasi Siklus Satu... 67

4.2.4 Tahap Refleksi Siklus Satu ... 82

4.3 Hasil Penelitian Siklus Dua ... 85

4.3.1 Perencanaan Tindakan ... 86

4.3.2 Pelaksanaan Tindakan ... 87

4.3.3 Tahap Observasi ... 88

4.3.4 Tahap Refleksi ... 102

4.3 Hasil Penelitian Siklus Tiga ... 104

4.3.1 Perencanaan Tindakan ... 106

4.3.2 Pelaksanaan Tindakan ... 106

4.3.3 Tahap Observasi ... 108

4.3.4 Tahap Refleksi ... 121

4.3 Pembahasan ... 123

4.3.1 Pembahasan Penelitian ... 124

4.3.1.1 Rencana Pelaksanaan Tindakan ... 124

4.3.1.2 Proses Pelaksanaan Pembelajaran ... 126

4.3.1.3 Proses Evaluasi Pembelajaran ... 130

4.3.1.4 Peningkatan Nilai Kemampuan Menulis Cerpen ... 135

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 138

(7)

DAFTAR PUSTAKA 142

(8)

BAB I PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang

Keterampilan berbahasa terdiri atas empat aspek keterampilan yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis (Haris dikutip oleh Tarigan, 2008: 1). Keempat aspek keterampilan tersebut saling berhubungan dan melengkapi. Keempat keterampilan berbahasa tersebut merupakan keterampilan yang harus dikuasai oleh siswa. Siswa dikatakan berhasil belajar bahasa Indonesia jika telah menguasai keempat aspek tersebut. Dengan demikian, siswa harus menguasai kompetensi dasar dalam berkomunikasi secara lisan yang dituangkan dalam kegiatan mendengarkan dan berbicara,

sedangkan komunikasi secara tertulis dituangkan dalam kegiatan membaca dan menulis serta mengapresiasi karya sastra.

Setiap keterampilan berhubungan dengan proses-proses yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikiranya. Semakin terampil seseorang

berbahasa semakin cerah dan jelas pula jalan pikiranya. Keterampilan hanya dapat diperoleh dan dikusai dengan jalan praktik dan banyak berlatih. Melatih

(9)

Keterampilan menulis merupakan keterampilan berbahasa yang dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Menulis merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif.

Keterampilan menulis tidak datang secara otomatis tetapi harus melalui berlatih dan praktik secara teratur. Menulis adalah kegiatan melaporkan/memberitahukan, dan mempengaruhi maksud serta tujuan seperti itu hanya dapat dicapai dengan baik oleh orang-orang yang dapat menyusun pikiranya dan mengutarakanya dengan jelas, kejelasan ini bergantung pada pikiran, organisasi, pemakaian kata-kata, dan struktur kalimat (Morsey dikutip oleh Tarigan, 2008: 4).

Keterampilan menulis sudah diajarkan sejak siswa Sekolah Dasar. Namun dalam kenyataanya masih dijumpai siswa yang kurang mampu dalam hal menulis. Keterampilan menulis harus dimiliki siswa melalui pelatihan yang terus menerus baik mengenai hal yang pernah dialami maupun hal-hal yang terjadi di lingkungan untuk dijadikan bahan penulisanya. Keterampilan menulis perlu dikuasai siswa karena keterampilaan ini sebagai alat komunikasi yang fungsional, yaitu untuk menyatakan ide atau gagasan kepada orang lain secara tidak langsung.

Kesulitan menulis sering kita jumpai pada karangan yang utuh karena penulis memerlukan pengetahuan yang luas dan kompleks. Penulis hendaknya memiliki pengetahuan tentang topik menulis, pengumpulan bahan, penyampaian ide atau gagasan, penggunaan kalimat yang efektif, pemilihan kata yang baik memilih bentuk wacana, hubungan antarparagraf sehingga membentuk wacana yang utuh.

(10)

digolongkan menjadi dua jenis karangan, yaitu karangan fiksi dan nonfiksi. Bahasa yang digunakan dalam karangan fiksi bersifat imajinasi dan tidak menuntut penggunaan bahasa baku, sedangkan karangan nonfiksi lebih mementingkan akal, pikiran, dan bahasa yang digunakan adalah bahasa baku. Kemampuan menulis siswa pada umumnya masih rendah. Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) telah dibagi dalam SK dan KD yang

didalamnya terdapat keterampilan menulis. Namun, dalam kenyataanya di sekolah pembelajaran teknik menulis yang baik kurang fokus karena keterbatasan waktu dan siswa hanya dituntut untuk mencari informasi yang ada di dalam teks.

Sebagai penulis pemula siswa kelas VII SMP banyak mengalami kesulitan dalam menemukan ide untuk menulis, mencari bahan dan mengembangkanya menjadi tulisan yang utuh, misalya menulis cerpen. Berdasarkan pengalaman selama mengajar rata-rata siswa kurang tertarik untuk menulis sehingga siswa menganggap bahwa pekerjaan menulis adalah pekerjaan yang sulit dan tidak menarik. Agar pelajaran menulis menjadi menarik peran guru sangat berpengaruh terhadap keberhasilan menulis dengan menggunakan metode yang tepat terhadap pelajaran tertentu atau materi tertentu terutama menulis sehingga anak yang tidak berbakat pun senang dan tertarik untuk menulis.

Menulis cerpen pada dasarnya sama dengan menulis teks yang lain. Dalam cerpen terdapat syarat-syarat yang sama dengan karangan yang lain, hanya bentuk panjang pendeknya saja yang membedakan. Namun cara memulai menulis, menentukan ide, mencari bahan dan cara pengembanganya tidak memiliki

(11)

cerpen adalah 1 ) cerita pendek, 2) sifat naratif atau kisahan, dan 3) fiksiatau rekaan.

Berdasarkan data yang diperoleh selama pembelajaran menulis diperoleh rata-rata nilai 67,4 kurang dari KKM yang telah ditentukan yaitu 68, sedangan persentase yang diperoleh adalah 71,3. Oleh karena itu, kemampuan menulis siswa masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari hasil pekerjaan siswa terutama masalah menulis, baik menulis fiksi maupun nonfiksi kita jumpai kesalahan baik struktur bahasa, pilihan kata yang tidak sesuai kesesuaian isi, kepaduan antarparagraf, kalimat tidak efektif, dan penggunaan Ejaan yang Disempurnakan (EYD) yang masih salah.

Hal ini sesuai dengan pendapat Badudu (1985: 28) mengatakan bahwa bahasa pelajar dan mahasiswa sampai sekarang ini masih tetap belum memuaskan. Siswa sebagai penulis pemula sering membuat tulisan yang tidak sesuai dengan kaidah kebahasaan antara lain penggunaan EYD, pemilihan kata, penyusunan kalimat, kesesuaian isi, dan keterpaduan antarparagraf. Pelanggaran-pelanggaran terhadap kaidah kebahasaan masih kita jumpai hingga saat ini.

Menulis cerpen merupakan salah satu pengembangan kegiatan menulis siswa secara utuh walaupun cerpen tidak sepanjang karangan-karangan yang lain. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi permasalahan dalam pembelajaran menulis antara lain:

1. Faktor siswa

(12)

Siswa menganggap menulis merupakan hal yang sulit dilakukan oleh orang yang tidak berbakat menulis sehingga tidak termotivasi untuk menulis.

Siswa sering mengalami kesulitan untuk memilih atau menemukan gagasan yang ingin disampaikan atau ditulis, merangkai gagasan dalam bentuk kalimat atau paragraf, memulai menulis dan mengakhiri atau menutup tulisan atau karangan. 2. Guru/pengajar

Guru sangat berperan untuk menentukan keberhasilan dalam proses belajar

mengajar. Penggunaan metode pembelajaran yang tidak tepat akan mempengaruhi interaksi proses belajar mengajar. Hal ini biasanya terjadi akibat metode yang digunakan kurang kreatif, inovatif dan kurang menyenangkan. Guru masih menggunakan metode tradisional, yakni metode ceramah, tanya jawab, diskusi, dan penugasan, sehingga pembelajaran yang berlangsung kurang menarik, membosankan dan akhirnya siswa pun tidak termotivasi untuk belajar.

(13)

Pendekatan pembelajaran kolaboratif dengan teknik Dyadic Essay yakni siswa dikondisikan untuk aktif secara fisik dan mental. Melalui aktivitas mental inilah diharapkan terciptanya kesempatan bagi siswa untuk meningkatkan pemahaman mereka terhadap materi pembelajaran. Selama proses tukar pendapat, bertukar informasi maupun adu argumentasi yang berlangsung dalam pembelajaran melalui pertantaan-pertanyaan yang diajukan masing-masing siswa secara bergantian dan mempersiapkan jawaban yang dibuat oleh masing-masing siswa, setiap siswa berkesempatan untuk mengekspresikan apa yang dipahaminya kepada orang lain, mengklasifikasi ide, maupun menawarkan alternatif ide dengan membandingkan antara jawaban yang disiapkan dengan jawaban siswa lainya .

Inti dari Dyadic Essay adalah guru menyampaikan materi, kemudian para siswa bergabung dalam kelompoknya yang terdiri dari 2 – 6 orang yang bersifat heterogen untuk membaca dilanjutkan membuat pertanyaan-pertanyaan dan membuat persiapan jawaban kemudian pertanyaan tersebut disampaikan ke siswa lain secara bergantian. Jika waktu yang disediakan tidak mencukupi, siswa dapat membuat pertanyaan tersebut di luar jam pelajaran kemudian dilanjutkan pada pertemuan yang akan datang sehingga siswa dapat lebih menguasai materi lebih mendalam. Setelah proses pembelajaran selesai dilaksanakan, para siswa diberi tugas secara individu dan menyerahkan pekerjaannya kepada guru.

(14)

Barkley, 2012: 371) . Proses pembelajaran dengan teknik ini mendorong siswa untuk bisa bertanggung jawab terhadap belajarnya sendiri. Melalui teknik ini diharapkan siswa dapat meningkatan kemampuan mengapresiasi dalam

penguasaan kosa kata dan menuangkan ide-ide dalam menulis cerpen. Penulis mengambil teknik Dyadic Essay karena dengan teknik ini siswa akan dapat menggali kembali pengalaman-pengalaman selama pembelajaran yang sudah diperoleh sebelumnya, baik pengalaman di kelas maupun pengalaman di luar kelas. Siswa membaca sebuah cerpen kemudian mengamati hal-hal yang

berhubungan dengan cara penulisan cerpen, dilihat dari penulisan judul, kalimat efektif, kesesuaian isi, pengembangan paragraf, pola pengembangan paragraf, penggunaan huruf kapital, dan penggunaan tanda baca. Dengan demikian, siswa mencari sendiri-sendiri ide-ide yang berhubungan dengan unur-unsur cerpen dan bagaimana cara membuat cerpen yang baik kemudian didiskusikan dengan kelompoknya secara berpasangan dengan membuat pertanyaan-pertanyaan dan menyiapkan jawabanya masing-masing untuk ditukar dengan pasanganya di dalam kelompok. Masing-masing siswa berhak untuk mencari alasan jika terjadi perbedaan jawaban untuk mencari jawaban yang paling sempurna. Siswa

menyimpulkan sendiri bagaimana cara menulis cerpen yang baik berdasarkan hasil diskusi yang dilakukan. Setelah selesai diskusi siswa menulis cerpen secara individu berdasarkan simpulan yang dibuat oleh siswa. Dengan demikian,

kemampuan menulis cerpen akan meningkat.

(15)

pembelajaran di kelas. Melalui model ini setiap anggota kelompok harus bekerja sama secara aktif untuk mencapai tujuan yang ditentukan. Melalui model ini penulis berasumsi dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa karena terdapat kompetisi masing-masing siswa untuk membuktikan kemampuanya kepada siswa lain dan terjadi kompetisi antarkelompok. Pembelajaran dengan teknik ini

membuat siswa aktif dan mandiri untuk mencari penyelesaian masalah dan mengomunikasikanya dengan siswa lain sehingga materi pembelajaran yang disampaiakn dapat dikuasai dengan baik. Dengan menguasai teknik menulis cerpen yang baik siswa akan menguasai teknik menulis secara umum, sehingga keterampilan menulis dapat dikuasai dengan baik.

1.2Rumusan masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, masalah dalam penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut.

Bagaimanakah meningkatkan kemampuan menulis cerpen siswa kelas VII SMP Negeri 1 Ambarawa dengan teknik kolaborasi Dyadic Essay?

1.3Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah tersebut tujuan penelitian ini adalah

(16)

1.4Manfaat Penelitian a. Bagi Siswa

Penelitian ini bermanfaat bagi siswa untuk meningkatkan kemampuanya dalam menulis cerpen. Belajar menulis cerpen bukan merupakan hal yang sulit dan membosankan melainkan hal yang menyenangkan dan menarik.

b. Bagi Guru

Manfaat bagi guru diharapkan dapat

1. Memotivasi guru untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan menerapkan teknik kolaborasi.

2. Meningkatkan kualitas pembelajaran yang berpusat pada siswa (student center) dan bukan berpusat pada guru (teacher center).

3. Memotivasi guru untuk memecahkan masalah-masalah pembelajaran di kelas dengan melaksanakan penelitian tindakan kelas yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan profesionalisme sebagai guru dan untuk perbaikan proses pembelajaran.

c. Manfaat bagi Sekolah

(17)

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1Pengertian Menulis

Menulis merupakan keterampilan berbahasa yang harus dipelajari secara terus menerus. Tulisan yang baik adalah tulisan yang dapat memberikan informasi kepada pembaca secara jelas. Menurut Tarigan (2008: 22) menulis adalah

menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafis yang menghasilkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafis tersebut dan dapat memahami bahasa dan grafis itu.

Menurut Suparno dan Yunus (2003: 13) aktivitas menulis melibatkan beberapa unsur, yaitu penulis sebagai penyampaian pesan, isi tulisan, saluran atau media, dan pembaca. Menulis merupakan suatu kegiatan penyampaian pesan

(komunikasi) dengan menggunakan bahasa tulis sebagai alat atau medianya.

Menurut Widyamartaya (1991: 9) mengemukakan pengertian menulis sebagai proses kegiatan pikiran manusia yang hendak mengungkapkan kandungan jiwanya kepada orang lain atau kepada diri sendiri dalam bentuk tulisan.

(18)

langsung melalui tulisan penulis dapat mendeskripsikan sesuatu kepada orang lain sehingga pembaca dapat melukiskan apa yang disampaikan. Semakin baik tulisan yang disampaikan semakin baik pula pesan yang diterima oleh orang lain.

Ciri-ciri tulisan yang baik harus dapat mencerminkan kemampuan penulis: a) mempergunakan nada yang serasi,

b) menyusun bahan-bahan yang tersedia menjadi suatu keseluruhan yang utuh, c) menulis dengan jelas dan tidak samar-samar memanfaatkan struktur kalimat,

bahasa, dan contoh-contoh sehingga maknanya sesuai dengan yang diinginkan oleh penulis,

d) menulis secara meyakinkan, menarik minat para pembaca terhadap pokok pembicaraan serta mendemonstrasikan suatu pengertian yang masuk akal dan cermat mengenai hal itu,

e) mengkritik naskah tulisanya yang pertama serta memperbaikinya. Mau dan mampu merevisi naskah pertama merupakan kunci bagi penulisan yang tepat guna atau efektif,

(19)
[image:19.595.108.579.108.754.2]

Tabel 2.1 Rubrik penilaian komponen keterampilan menulis cerpen No Komponen Aspek yang

Dinilai

Deskripsi Skor

1 Pemilihan dan perumusan judul Ketepatan pemilihan dan perumusan judul

1. Siswa merumuskan judul dengan

menuliskan tiga kriteria (menggunakan kalimat efektif, EYD yang benar, dan sesuai dengan topik)

2. Siswa merumuskan judul dengan menuliskan dua kriteria

3. Siswa merumuskan judul hanya menuliskan satu kriteria saja

4. Siswa merumuskan judul tidak memenuhi ketiganya

3

2 1 0

2 Relevansi Isi Kejelasan topik, dan perincian detail-detail, definisi, klasifikasi, identifikasi, komparasi, dan proses

1. Siswa merumuskan topik dengan isi karangan dengan kriteria (topiknya jelas, penjelasan secara rinci, menggunakan definisi, komparasi, dan isi sesuai dengan topik)

2. Siswa merumskan topik dengan menuliskan empat kriteria

3. Siswa merumskan topik dengan menuliskan tiga kriteria

4. Siswa merumskan topik dengan menuliskan dua kriteria

5. Siswa merumuskan topik hanya menuliskan satu kriteria saja

5

4 3 2 1

3 Organisasi gagasan

Ketepatan dan kelengkapan pola

pendahuluan, isi, dan penutup

1. Siswa mengembangkan karangan dengan pola pendahuluan, isi, dan penutup. 2. Siswa mengembangkan karangan dengan menuliskan dua pola saja

3. Siswa mengembankan karangan denga satu pola saja

3 2 1

4 Bahasa

Ketepatan penyusunan paragraf, kalimat, diksi, bentuk kata, ketepatan makna

1. Siswa mengembangkan paragraf dengan merumuskan kalimat utama dengan tiga pikiran penjelas dengan memperhatikan kalimat, diksi, bentuk kata, dan ketepatan makna

2. Siswa mengembangkan paragraf denga merumuskan kalimat utama dengan dua pikiran penjelas dengan memperhatikan kalimat, diksi, bentuk kata, dan ketepatan makna

3. siswa mengembangkan paragraf dengan merumuskan kalimat utama dengan satu pikiran penjelas dengan memperhatikan kalimat, diksi, bentuk kata, dan ketepatan makna

3

2

(20)
[image:20.595.109.573.107.342.2]

Tabel 2.1 Lanjutan

No Komponen Aspek yang Dinilai

Deskripsi Skor

5 Mekanik

Ketepatan penggunaan ejaan, kerapian dan tulisan, kejelasan dan ketepatan penulisan kata

1. Siswa melakukan kesalahan ejaan, kerapian tulisan, kejelasan dan ketepatan penulisan kata dengan kesalahan kurang dari 5

2. Siswa melakukan kesalahan ejaan, kerapian tulisan, kejelasan dan ketepatan penulisan kata 6 - 10

3. Siswa melakukan kesalahan ejaan, kerapian tulisan, kejelasan dan ketepatan penulisan kata 11-15

5. Siswa melakukan kesalahan ejaan, kerapian tulisan, kejelasan dan ketepatan penulisan kata 15 -20

5. Siswa melakukan kesalahan ejaan, kerapian tulisan, kejelasan dan ketepatan penulisan kata dia atas 21

5

4

3

2

1

Sumber: Sri Wahyuni (2012: 72) dengan perubahan seperlunya Perhitungan nilai akhir adalah skala 0 – 100 adalah sebagai berikut.

Perolehan skor

Nilai Akhir = X 100 % Skor maksimal

2.1.2 Menulis sebagai Aspek Keterampilan Berbahasa

Bahasa merupakan alat komunikasi yang dimiliki manusia yang paling efektif berupa lambang atau simbol-simbol yang mengandung pikiran atau perasaan. Berkomunikasi berarti menyampaikan pikiran, perasaan kepada pihak lain sehingga orang lain akan mengetahui apa yang disampaikan oleh penulis.

(21)

tidak dapat dilakukan oleh semua orang. Seseorang akan pandai menulis jika sering berlatih secara terus menerus.

Konfius dikutip oleh Silberman (2006: 132) mengatakan bahwa (1) yang saya dengar, saya lupa; (2) yang saya lihat, saya ingat; (3) yang saya kerjakan, saya pahami. Pernyataan Konfius tersebut dapat dijelaskan apabila kegiatan belajar siswa lebih dominan mendengar daripada melakukan suatu kegiatan belajar, penguasaan materi yang mampu diserap siswa sangat terbatas dan kurang menyenangkan, kemungkinan siswa mudah melupakanya. Dengan demikian, disarankan agar proses pembelajaran dilakukan melalui keterlibatan siswa dalam melakukan/mengerjakan sesuatu yang bersifat praktis dalam rangka menemukan pengalaman baru dan memahami materi pembelajaran.

(22)

Setiap jenis tulisan mengandung beberapa tujuan yang dapat dikategorikan sebagai berikut.

a. Memberitahukan atau mengajar. b. Meyakinkan atau mendesak. c. Menghibur atau menyenangkan.

d. Mengutarakan/mengekspresikan perasaan dan emosi yang berapi-api.

Untuk dapat menulis karangan dengan baik ada beberapa faktor yang

memengaruhi, sebagaimana dikemukakan oleh Tarigan (2008: 23) mengatakan bahwa penulis yang ulung adalah penulis yang memanfaatkan situasi yang tepat. Seseorang dapat dikatakan mampu menulis dengan baik apabila ia dapat

mengungkapkan pikiran, perasaan maksud dan tujuan dengan jelas sehingga orang lain dapat mengerti dan memahami apa yang disampaikan oleh penulis.

Situasi atau faktor yang memengaruhi penulisan tersebut adalah

1) maksud dan tujuan sang penulis (perubahan yang diharapkannya akan terjadi pada diri pembaca),

2) pembaca atau pemirsa (apakah pembaca itu orang tua, kenalan atau teman sang penulis),

(23)

(1) menguasai pengetahuan bahasa yang meliputi penguasaan kosakata aktif, kaidah gramatikal, dan penguasaan gaya bahasa,

(2) memiliki penalaran yang baik, dan

(3) memiliki pengetahuan yang baik dan mantap mengenai objek garapannya.

2.1.4 Karangan

Mengarang merupakan proses memperkirakan sesuatu yang akan ditulis dalam cerita. Sebuah kerangka karangan mengandung rencana kerja, memuat ketentuan-ketentuan pokok bagaimana suatu topik harus diperinci dan dikembangkan. Menurut Tarigan menulis atau mengarang merupakan proses menggambarkan suatu bahasa sehingga pesan yang disampaikan penulis dapat dipahami pembaca. Disisi lain Tarigan (2008: 20) mengemukakan bahwa menulis karangan

merupakan komulasi beberapa paragraf yang tersusun secara sistematis, unit, ada bagian utama pengantar, isi, dan penutup, ada progresi semua memperbincangkan sesuatu serta tertulis dalam bahasa yang sempurna. Menurut Widyamartaya dikutip oleh Dalman (2012: 85) mengarang adalah suatu proses kegiatan berpikir manusia yang hendak menggunakan kandungan jiwanya kepada orang lain atau diri sendiri dalam tulisannya.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa mengarang adalah menyampaikan gagasan yang ada dalam pikiran ke dalam bentuk tulisan untuk dipahami oleh pembaca.

2.1.4.1 Langkah Membuat Karangan

(24)

Menyusun kerangka karangan akan membantu untuk mengembangkan karangan yang baik. Dengan membuat kerangka karangan akan terlihat dengan jelas masalah yang diceritakan dan dapat dikembangkan dengan jelas alur cerita yang dikembangkan. Dalam kerangka karangan memuat pikiran pokok dan pikiran-pikiran penjelas sehingga pengembanganya lebih teratur dan runtun.

Kerangka karangan yang baik akan menghindari kesalahan-kesalahan yang mungkin terjadi. (Keraf, 1993: 133) menyampaikan manfaat dari kerangka karangan bagi penulis sebagai berikut.

1) Membantu penulis untuk menyusun karangan secara teratur.

2) Dapat memudahkan penulis untuk menciptakan klimaks yang berbeda. 3) Dapat menghindari penulisan sebuah gagasan sampai dua kali atau lebih. 4) Memudahkan penulis untuk mencari materi pembantu.

2.1.4.2 Kerangka Karangan yang Baik

Kerangka karangan adalah suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan yang akan digarap (Keraf, 1993 : 132). Kerangka karangan yang baik akan menghasilkan pengembangan karangan yang baik pula. Kerangka karangan yang baik harus memenuhi peryaratan sebagai berikut.

a) Tesis atau Pengungkapan maksud harus jelas.

Pengungkapan yang harus disampaikan harus dirumuskan dengan jelas struktur kalimatnya yang baik, jelas menampilkan topik yang dijadikan landasan uraian.

(25)

c) Pokok-pokok dalam kerangka karangan harus disusun secara logis.

Hubungan logis dari pokok-pokok yang tercakup dalam kerangka karangan harus memperlihatkan identitas-identitas tertentu, berupa penempatan- penempatan pokok-pokok tersebut secara vertikal.

d) Harus menggunakan pasangan simbol yang konsisten.

Penggunaan simbol yang konsisten mencakup dua hal yaitu pemakaian angka dan huruf sebagai penanda tingkatan dan urutan unit-unitnya, dan tipografi atau penempatan angka dan huruf penanda tingkatan dari tiap teks dari tiap unit kerangka karangan (Keraf, 1993: 152).

2.1.4.3 Unsur-Unsur Karangan

Unsur-unsur karangan akan mempengaruhi bentuk karangan yang dibuat. Bukan hanya satu unsur saja melainkan ada beberapa unsur yang harus diperhatikan dakam karangan. Menurut Akhadiah (1997: 46) unsur-unsur tersebut meliputi (1) isi, (2) aspek kebahasaan, dan (3) teknik penulisan.

1. Isi Karangan

Isi karangan merupakan salah satu hal penting dalam sebuah karangan. Isi karangan berupa gagasan-gagasan yang penting yang merupakan

pengembangan topik tertentu. Gagasan yang baik didukung oleh beberapa hal yaitu

1. Pengoperasian gagasan yaitu kepaduan hubungan antarparagraf; 2. Kesesuaian isi dengan tujuan penulisan

(26)

2. Aspek Kebahasaan

Aspek kebahasaan juga memengaruhi hasil karangan yang baik. Isi karangan yang baik akan lebih baik jika didukung dengan kebahasaan yang baik pula.Unsur-unsur kebahasaan yang dapat dijadikan petunjuk bahasa yang baik dalam

karangan sebagai berikut.

a. Paragraf

A.L. Becker dikutip oleh Tarigan (2008: 94) mengemukakan paragraf adalah satuan atau unit yang ditandai oleh hadirnya jenis-jenis slot (celah) tertentu. Paragraf merupakan bagian yang terkecil dalam sebuah karangan. Paragraf adalah seperangkat kalimat yang tersusun logis dan sistematis yang merupakan satu kesatuan ekspresi pikiran yang relevan dan mendukung pikiran pokok yang tersirat dalam keseluruhan karangan (Tarigan, 2008: 5). Paragraf yang baik adalah paragraf yang mengandung makna, pikiran, ide pokok yang relevan dengan ide pokok seluruh karangan.

a. Kalimat di dalam karangan harus efektif agar informasi yang disampaikan dapat lebih jelas dan tidak menimbulkan penafsiran ganda bagi pembaca. b. Ejaan dalam penulisan yang dipakai berpedoman pada Ejaan Yang

Disempurnakan. Karena banyaknya aturan yang ada dala EYD maka tidak semua yang ada dalam EYD dibahas dalam penelitian ini. Dalam sebuah cerpen biasanya terdapat cara penulisan kalimat langsung dan tidak langsung yang di dalamnya sudah memuat beberapa tanda baca yang dikemukakan antara lain: pemakaian huruf kapital, tanda titik, tanda koma, tanda petik, dan tanda di akhir kalimat.

(27)

4. Menggunakan Teknik Penulisan yang Baik.

Penulisan yang baik bukan hanya bagus atau tidaknya tulisan, namun ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Walupun bagus jika tidak sesuai dengan EYD berarti belum memenuhi kriteria tulisan yang baik.Teknik penulisan yang baik dapat dilihat dari kerapian karangan, keterkaiatan judul dengan isi karangan, kesan umum yang menarik bagi pembaca, serta karangan yang kohesif ( Akhadiah 1997: 116).

2.1.4.4 Pola Pengembangan Karangan

Pola pengembangan karangan harus dilakukan secara runtun agar mudah dipahami oleh pembaca tentang aluratau urutan dalam sebuah cerita. Pola pengembangan karangan yang baik meliputi pendahuluan, isi, dan penutup. Dalam sebuah karangan pembaca akan menelusuri cerita dimulai dengan

pendahuluan sebagai penafsiran apa saja yang ingin diceritakan kemudian menuju isi karangan dan diakhiri dengan penutup. Fungsi dari masing-masing pola pengembangan karangan sebagai berikut.

1. Pendahuluan

Dalam pendahuluan terdapat sejumlah pertanyaan yang harus dipertimbangkan oleh penulis. Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat dimulai dengan bagaimanakah cara saya menarik minat pembaca? Bagaimana caranya saya disenangi oleh pembaca dan lain-lain. Menurut Tarigan (2008: 104) fungsi pendahuluan adalah a. Menarik minat pembaca;

b. Mengarahkan perhatian pembaca;

(28)

d. Menjelaskan bila dan bagaimana suatu hal dibicarakan. 1. Isi

Bagian isi merupakan perantara antara bagian pendahuluan dan penutup. Isi karangan merupakan penjelasan atau pembahasan dari suatu ide yang

dikembangkan dalam sebuah karangan. Dalam bagian ini dibahas hal-hal yang berhubungan dengan fakta, yaitu generalisasi, spesifikasi, klasifikasi,

perbandingan, pertentangan, analogi, sebab akibat, dan ramalan atau imajinatif (Akhadiah, 1997: 46).

2. Penutup

Penutup merupakan akhir dari sebuah cerita. Dalam penutup akan terlihat apakah cerita tersebut berakhir atau belum. Tarigan dikutip oleh Gustira (2012: 16) mengemukakanbahwa penutup memuat hal-hal sebagai berikut.

a. Kesimpulan

b. Penekanan bagaian-bagian tertentu c. Klimaks

d. Melengkapi

e. Merangsang pembaca mengerjakan sesuatu tentang apa yang sudah dikerjakan atau diceritakan.

2.1.4.5 Kriteria Karangan yang Baik

(29)

1. Tema

Tema adalah ide sebuah ide/gagasan yang ingin disampaikan pengarang dalam ceritanya (Suyanto, 2012: 54). Menurut Jakob Sumarjo dan Saini K.M. (1998: 56) tema adalah ide sebuah cerita. Tema secara khusus dapat dilihat dari dua sudut yaitu sudut karangan yang sudah selesai dan dari sudut proses penyusunan sebuah karangan. Dilihat dari sudut karangan yang sudah selesai tema adalah suatu amanat utama yang disampaikan oleh penulis melalui karanganya. Sedangkan dilihat dari proses tema adalah suatu perumusan dari topik yang akan dijadikan landasan pembicaraan dan tujuan yang akan dicapai melalui topik tadi. Tema yang baik adalah tema yang memiliki kejelasan, kesatuan, keutuhan, dan keaslian (Keraf, 2008: 108). Tema akan menjadi jelas apabila memiliki hubungan dengan isi karangan. Karangan yang memiliki satu gagasan sentral berarti adanya kesatuan tema. Keutuhan pengembangan tema maksudnya tema diperinci secara logis, dan utuh, keaslian tema dimiliki apabila pengarang mengemukakan pikiran dan perasaan dengan jujur. Sebuah tema akan dinilai setinggi-tingginya bila telah dikembangkan secara jujur dan segar, digarap secara terperinci dan jelas, sehingga dapat menambah informasi yang berharga bagi perbendaharaan pengetahuan pembaca (Keraf, 2003: 121).

(30)

Paragraf harus memiliki ide pokok yang dikembangkan menjadi paragraf. Paragraf yang baik harus memiliki syarat-syarat tertentu, seperti yang dikemukakan (Akhadiah, 1997: 148) sebagai berikut.

a. Kesatuan

Kesatuan dalam paragraf adalah semua kalimat yang membina paragraf itu secara bersama-sama menyatakan suatu hal, suatu tema tertentu. Paragraf dianggap memilki kesatuan jika kalimat-kalimat dalam paragraf itu tidak terlepas dari topiknya atau selalu relevan dengan topik.

b. Koherensi atau kepaduan

Yang dimaksud koherensi atau kepaduan dalam paragraf adalah kekompakan hubungan antarkalimat yang satu dengan yang lain dan membentuk paragraf. Pembaca dapat dengan mudah memahami dan mengikuti jalan pikiran penulis tanpa hambatan karena ada loncatan pikiran yang membingungkan.

c. Pengembang paragraf

Pengembang paragraf adalah penyusunan atau perincian dari gagasan-gagasan yang membina paragraf itu.

2. Keselaran Isi dengan Judul

Karangan yang baik memilki kesesuaian antara isi dengan judul. Judul sebuah karangan akan menggambarkan secara singkat isi yang terdapat di

dalam sebuah karangan. Keraf (2003: 320) mengatakan judul dikatakan baik apabila memenuhi kriteria sebagai berikut.

a. Singkat b. Provaktif

(31)

3. Ketepatan Susunan Kalimat

Ketepatan sebuah kalimat sangat penting. Hal ini dimaksudkan untuk

memudahkan pembaca menungkan ide-ide pokok paragraf. Begitu pula hubungan kalimat yang satu dengan kalimat yang lain diungkapkan secara tepat akan ikut menentukan kejelasan gagasan.

4. Ketepatan Memilih Kata atau Diksi

Ketepatan memilih kata atau diksi akan mempengaruhi efek makna yang ditimbulkan oleh kata tersebut. Dalam memilih kata terdapat dua penyetaraan yang harus diperhatikan yaitu ketepatan dan kesesuaian. Ketepatan menyangkut makna, aspek logika kata-kata, kata yang dipilih harus secara tepat

mengungkapkan pengertian yang akan disampaikan. Persyaratan kesesuaian menyangkut kecocokan anatara kata yang digunakan dengan situasi atau kesempatan dan keadaan pembaca (Akhadiah, 1997: 82).

5. Ketepatan Penggunaan Ejaan

Ejaan yang tepat adalah yang sesuai dengan Pedoman Umum Bahasa Indonesia. Jadi, ejaan memegang peranan penting dalam karangan, Hal yang tercakup dalam penggunaan ejaan adalah pemakaian huruf kapital, penulisan kata, penulisan unsur serapan dan pemakaian tanda baca (Finoza dikutip oleh Gustira, 2012: 17).

2.2 Menulis Cerpen 2.2.1 Pengertian Cerpen

Cerpen atau cerita pendek adalah cerita yang berbentuk prosa yang relatif pendek, selesai dibaca dalam “sekali duduk”. Baik duduk santai, duduk antrean di stasiun, halte bus, ruang periksa dokter, atau di tempat lain (Sumarjo, 1998: 30).

(32)

setting yang terbatas, tidak beragam, dan tidak kompleks. Cerita pendek dibagi dalam tiga kelompok, yakni cerita pendek, cerita pendek yang panjang (long short story), dan cerita pendek yang pendek yang pendek (short-short story). Batasan cerita pendek sangat relatif menurut Jacob Sumarjo yang dikutip oleh Eko Sugiarto membagi 1) cerpen yang pendek terdiri setengah halaman folio atau satu halaman folio 2) cerpen yang terdiri 4 sampai 15 halaman folio 3) cerpen yang panjang terdiri atas 20 sampai 30 halaman folio.

Menurut Sugiarto (2013: 37) Cerpen adalah salah satu karya fiksi yang memiliki ciri khas yang membedakannya dengan bentuk fiksi prosa lain. H.B. Jassin (1983: 71) mengatakan bahwa cerpen adalah cerita pendek yang mengambil hanya bagian sarinya saja. Pengarang tidak dapat disuruh bercerita sesuka hatinya. Oleh karena itu, kejadian-kejadian pun perlu diberi perhatian secara khusus atau perlu dibatasi supaya cerita tidak terlalu panjang. Cerita pendek harus lebih padu daripada roman atau novel.

(33)

Kusumah dan Puji Santoso (2008:98) menyatakan bahwa cerita pendek adalah ragam cerita yang memiliki ciri-ciri:

1. Kisahan yang memberikan kesan tunggal dan dominan tentang satu tokoh, satu latar, dan satu situasi dramatik.

2. Bentuknya sederhana karena kurang dari 10.000 kata.

3. Berisi satu ide pusat dan tidak diberi kesempatan memunculkan ide sampingan. 4. Dimensi ruang dan waktu lebih sempit bila dibandingkan dengan novel atau

roman.

5. Hanya menceritakan satu kejadian atau satu peristiwa yang paling menarik sehingga dapat menimbulkan kesan impresif.

6. Memperlihatkan kepaduan dari berbagai unsur yang membentuknya.

Hasannudin yang dikutip oleh Kusumah (2008: 447) menyatakan cerita pendek adalah cerita rekaan yang memusatkan diri pada satu tokoh dalam satu situasi pada satu saat, hingga memberikan kesan tunggal terhadap pertikaian yang mendasari cerita tersebut.

(34)

2.2.2 Unsur-Unsur Cerpen

Cerpen merupakan karya fiksi yang dibangun oleh unsur-unsur cerita yaitu: 1) Tema

Tema adalah ide sebuah cerita ( Sumardjo dan Saini K.M, 1998: 56). Tema adalah ide/gagasan yang ingin disampaikan pengarang dalam ceritanya (Suyanto, 2012: 54).Tema merupakan sumber gagasan atau ide dasar sebuah cerita yang

dikembangkan menjadi sebuah karangan. Tema merupakan pokok permasalahan dalam suatu cerita.

2) Plot/Alur

Alur adalah rangkaian peristiwa yang saling berkaitan karena hubungan sebab akibat (Suyanto, 2012: 50). Plot atau alur merupakan pola pengembangan peristiwa-peristiwa yang terbentuk oleh hubungan sebab akibat. Alur dalam cerpen biasanya satu urutan peristiwa yang diikuti sampai cerita berakhir. 3) Penokohan

Penokohan atau perwatakan adalah cara pengarang menampilkan tokoh-tokoh dan watak-wataknya dalam suatu cerita (Suyanto, 2012 : 46). Penokohan merupakan cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter-karakter tokoh dalam cerpen. Minderop dikutip Suyanto (2012: 46) mengemukakan metode-metode karakteristik tokoh, yaitu dengan cara

a. Metode telling , yaitu sesuatu pemaparan watak tokoh dengan mengandalkan eksposisi dan komentar langsung dari pengarang. Melalui metode ini

(35)

b. Metode showing, yakni penggambaran karakterisasi tokoh dengan cara tidak langsung (tanpa ada komentar atau penuturan langsung oleh pengarang), tapi dengan cara disajikan antara lain melalui dialog dan tingkah tokoh.

4) Latar

Menurut Sumarjo dan Saini K.M. (1998: 82) latar adalah tempat tertentu, daerah tertentu, orang-orang tertentudengan watak-watak tertentuakibat situasi

lingkungan atau zamanya, cara hidup tertentu, dan cara berpikir tertentu. Menurut Abrams dikutip Suyanto (2012: 50)Latar adalah tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan. Suyanto (2012: 50) mengklasifikasikan latar sebagai berikut.

1. Latar tempat, yaitu latar yang merupakan lokasi tempat terjadinya peristiwa cerita, baik itu nama kota, jalan, gedung, rumah, dan lain-lain;

2. Latar waktu, yaitu latar yang berhubungan dengan saat terjadinya peristiwa cerita, apakah berupa penanggalan, penyebutan peristiwa sejarah,

penggambaran situasi malam, pagi, siang, sore, dan lain-lain; 3. Latar sosial, yaituu keadaan yang berupa adat istiadat, budaya,

nilai-nilai//norma, dan sejenisnya yang ada di tempat peristiwa cerita. 4. Sudut pandang/ Point of View

(36)

aku. Pencerita ekstern bersifat sebaliknya, ia tidak hadir dalam teks (berada di luar teks) dan menyebut tokoh-tokoh dengan kata ganti orang ketiga atau menyabut nama (Suyanto, 2012: 53). Dengan demikian, sudut pandang dapat dikatakan tempat atau letak di mana seseorang melihat objek karangan. Dalam Sudut pandang pengarang dapat terlibat langsung atau sebagai pengamat.

5. Amanat

Amanat merupakan ajakan moral atau pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca.

6. Gaya Bahasa (Style)

Gaya adalah cara khas pengungkapan seseorang (Jakob Sumarjo dan Saini K.M., 1998: 92). Gaya bahasa adalah cara mengungkapkan bahasa seseorang pengarang untuk mencapai efek estetis dan kekuatan daya ungkap (Suyanto, 2012: 51). Gaya bahasa adalah bahasa yang digunakan pengarang dalam bercerita untuk menciptakan suatu nada persuasif serta merumuskan dialog yang memperlihatkan hubungan antarsesama tokoh.

2.2.3 Teknik Penulisan Cerita Pendek

(37)

Kuntowijoyo dikutip Kusumah (2008: 448) menyampaikan 4 teknik membuat cerpen, yaitu

1. Menstrukturalisasi pengalaman

Teknik yang pertama ini menyusun dan merangkaikan berbagai pengalaman yang sering dialami oleh manusia kemudian merangkaian menjadi sebuah kisah yang ditata secara menarik dalam sebuah cerpen. Semua pengalaman yang tersebar dimana-mana tidak pernah utuh. Oleh karena itu, pengarang harus membuat pengalaman yang terpotong-potong menjadi sebuah struktur yang utuh, terpadu, dean bermakna. Berbagai pengalaman itulah yang harus disusun, ditata, diatur sedemikian rupa sehingga menarik untuk dibaca sesuai dengan alur pemikiran pengarangnya.

2. Menstrukturalisasi imaji

Setiap pengarang memiliki imaji yang berbeda-beda sesuai dengan keinginan yang akan dituangkan dalam bentuk cerpen. Seorang pengarang harus memiliki imajinasi mengenai struktur cerita yang akan dibuatnya. Dalam menghadapi berbagai persoalan, peristiwa, tokoh, latar waktu, latar tempat, status sosial yang dialami manusia menjadi sebuah cerpen yang menarik. Dengan imaji pengarang melengkapi, mengubah, merangkai, merekat, menata dan menyulap pengalaman yang sepotong-potong menjadi sebuah struktur yang punya makna. Jadi, menstrukturalisasi imajinasi adalah upaya penulis membangun atau merangkaikan peristiwa-peristiwa, tokoh-tokoh, dan latar menjadi sebuah bangunan yang bernama cerpen yang bermakna.

(38)

Setelah berbagai pengalaman dirangkaikan dengan imajinasi kemudian memasukan atau memberikan nilai-nilai dalam cerpen itu. Struktur nilai yang ada dalam cerpen dapat berasal dari nilai agama, filsafat, ilmu pengetahuah, kata-kata mutiara, pandangan hidup sehari-hari, nasihat yang terungkap dalam pribahasa, dan ajaran tentang kesempurnaan hidup.

4. Menstrukturalisasi tokoh

Langkah keempat dalam membuat cerpen adalah menunjuk pada orang atau pelaku dalam cerita yang saling menjalin hubungan sehingga membentuk struktur cerita. Tokoh-tokoh tersebut dapat berhubungan, membangun relasi, dan merespon tokoh lain sehingga membentuk bangunan cerita. Siapa saja tokoh cerita tersebut, apakah peran dan fungsi masing-masing tokoh, dan bagaimanakah jalinan antar tokoh. Menstrukturalisasi tokoh berarti mengungkapkan atau menuliskan ciri-ciri tokoh yang menjadi watak dan kepribadianya, baik melalui gambaran secara fisik, sosial, maupun

psikologisnya dalam bertingkah laku, berbuat, berdialog dalam batinya serta atau fungsinya dalam menghidupkan cerita.

Menurut Arman (2010: 28) menulis cerpen dimulai dari menentukan ide, membuat garis besar, menulis judul, membuat paragraf pembuka menentukan tokoh, sudut pandang, alur, latar, gaya, kalimat efektif, logika, dan kalimat penutup.

(39)

menjadi sebuah bangunan cerita pendek yang utuh, terpadu selaras, dan menarik.

2.3 Teori Belajar dan Pembelajaran 2.3.1 Teori belajar Vygotsky

Salah saatu prinsip kunci yang diturunkan adalah penekanan pada hakikat sosial dari pembelajaran. Ia mengemukakan bahwa siswa belajar melalui interaksi dengan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu (Slavin, 2000: 36). Berdasarkan teori ini dikembangkan pembelajaran kooperatif, yaitu siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temanya.

Teori Vigotsky yang lain mengatakan bahwa siswa belajar konsep paling baik apabila konsep itu berada dalam daerah perkembangan terdekat atau zona of proximal development siswa. Daerah perkembangan terdekat adalah tingkat perkembangan sedikit di atas tingkat perkembangan seseorang saat in. Teori ini menghendaki pembelajaran yang bermakna bukan hanya hafalan saja.

2.3.2 Teori John Piaget

(40)

maksudnya struktur pengetahuan baru dibuatatau dibangun atas dasar struktur pengetahuan yang sudah ada. Akomodasi maksudnya struktur pengetahuan yang sudah ada dimodifikasi untuk menampung dan menyesuaikan dengan hadirnya pengalaman baru.

2.4 Strategi Pengajaran Bahasa Stern dikutip oleh Slavin (2000: 37) telah mengemukakan adanya sepuluh

strategi yang turut mempengaruhi keberhasilan pengajaran dan pembelajaran bahasa. Kesepuluh strategi itu adalah

1. strategi perencanaan: gaya pembelajaran pribadi atau strategi pembelajaran positif,

2. strategi empatik: pendekatan yang penuh toleransi dan ramah tamah terhadap bahasa sasaran,

3. strategi aktif: pendekatan aktif terhadap tugas-tugas pembelajaran,

4. strategi eksperimental: pendekatan metodis dan fleksibel mengembangkan bahasa baru itu dalam suatu sistem yang teratur dan secara konstan memperbaikinya,

5. strategi formal: kecakapan atau keterampilan teknis untuk menangani suatu Bahasa,

6. strategi semantik: secara konstan mencari makna suatu kata, frase, dan lain-lain, 7. strategi praktis: keinginan besar untuk mempraktikan bahasa yang sedang dipelajari,

8. strategi komunikasi: keinginan untuk memakai bahasa yang sedang dipelajari dalam komunikasi nyata,

(41)

pemakaian bahasa,

10. stategi internalisasi: mengembanngkan bahasa kedua secara terus menerus sebagai suatu sistem acuan tersendiri dan belajara berpikir di dalamnya. Berdasarkan strategi tersebut pengajar tidak boleh lupa bahwa mereka mengajar insan secara keseluruhan dan sudah sepantasnyalah setiap proses pengajaran harus membuat baik para pembelajar maupun para pengajar sehingga lebih kaya secara emosional dan memiliki pengertian yang lebih banyak. Para pengajar dan

pembelajar harus dapat membuat kemajuan yang pesat dan menggunakan waktu belajar mereka di kelas sebaik mungkin demi tercapainya tujuan pembelajaran.

2.4.1 Pembelajaran Kontekstual

(42)

Berdasarkan beberapa pendapat pakar di atasa dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kontekstual adalah proses penggabungan pembelajaran yang mengaitkan kehidupan nyata para siswa dengan bahan pembelajaran yang sedang dipelajari. Dengan demikian siswa dapat mengamati keadaan lingkungan di sekitar siswa untuk memperoleh pengalaman belajar secara langsung.

2.4.2 Komponen Pembelajaran Kontekstual

Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama, yaitu konstruktivisme (constructivism), inkuiri (inquiry), bertanya (questioning), masyarakat belajar (learning community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), penilaian sebenarnya (authentic assessment). Sebuah kelas dikatakan menggunakan CTL jika menerapkan ketujuh prinsip tersebut dalam pembelajaran. Ketujuh prinsip tersebut adalah sebagai berikut.

1) Konstruktivisme (Constructivisme).

Pendekatan ini pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif proses belajar mengajar.

Konstruktivisme merupakan landasan berpikir (filosofi) pendekatan

(43)

Pengetahuan akan berkembang melalui pengalaman. Pemahaman akan berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila selalu diuji dengan pengalaman yang baru.

2. Menemukan (inquiry)

Menemukan merupakan bagian inti dari kegiatan pembelajran berbasis CTL.

Pengetahuan dan ketrempailan yang diperoleh siswa bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri. Siswa diberi kesempatan untuk berperan sebagai ilmuan kecil dengan menggunakan rasa ingin tahu terhadap sesuatu. Siswa dapat mengamati dan mempertanyakan sebuah fenomena yang ada menguji kebenaran mereka kemudian mengambil kesimpulan. Guru harus merancang kegiatan yang merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan, apapun materi yang diajarkanya. Siklus inkuiri terdiri hal-hal sebagai berikut.

(1) Observasi; (2) Bertanya; (3) Mengajukan dugaan; (4) Pengumpulan data; (5) Penyimpulan. sedangkan langkah-langkah kegiatan menemukan (inkuiri): (1) Merumuskan masalah (dalam mata pelajaran apapun); (2) Mengamati atau melakukan observasi; (3) Menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar, laporan, bagan, tabel, dan karya lainya; (4) Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru atau audien yang lain.

1) Bertanya (Questioning)

(44)

terhadap suatu objek yang diamati. Pengetahuan yang dimiliki seseorang bermula dari „bertanya‟ . Questioning (bertanya) merupakan strategi utama

pembelajaran yang berbasis CTL. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai

kemampuan berpikir siswa. Dalam sebuah pembelajaran yang produktif, kegiatan bertanya berguna untuk (a) menggali informasi, baik administrasi maupun akademis, (b) mengecek pemahaman siswa, (c) membangkitkan respon kepada siswa, (d) mengetahui sejauh mana keingin tahuan siswa; (e) Mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa, (f) memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru, (g) membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, (h) menyegarkan pengetahuan siswa.

Aktivitas bertanya dapat ditemukan ketika siswa berdiskusi, bekerja dalam kelompok, ketika menemui kesulitan, mengamati dan sebagainya. Untuk mengungkap informasi sebanyak-banyaknya kegiatan bertanya dapat

dilakukan berbagai arah, yaitu antara siswa dengan siswa, siswa dengan guru, guru dengan siswa atau dengan sumber lain sehingga pembelajaran akan berlangsung lebih hidup, lebih nyata, lebih menyenangkan, dan lebih efektif.

2) Masyarakat Belajar (Learning Community)

Konsep Learning Community menyarankan agar hasil pembelajaran

(45)

paling tahu, dan semua pihak mau saling mendengarkan. Jika hal ini terjadi berarti setiap orang akan kaya dengan pengetahuan dan pengalaman.

3) Pemodelan (Modelling)

Pemodelan adalah adanya sesuatu untuk ditiru. Dalam pembelajaran model

bukan hanya guru saja melainkan siapa saja dapat dijadikan model yang relevan dengan kegiatan pembelajaran. Model dapat di rancang dengan melibatkan siswa atau pihak lain.

4) Refleksi (Reflection)

Refleksi merupakan pemikiran yang aktif dan berkesinambungan.Cara

berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. Refleksi merupakn reaksi atau menghubungkan antara peristiwa atau pengetahuan yang baru diterima dengan sesuatuyang sudah dialaminya.

5) Penilaian yang sebenarnya (Authentic Assesment)

Keberhasilan rangkaian kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan oleh guru dan siswa dapat diukur melalui penilaian. Penilaian ditekankan pada penilaian yang sebenarnya selama dan sesudah proses pembelajaran.

(46)

2.5 Teknik Kolaborasi

Berkolaborasi berarti bekerja bersama-sama dengan orang lain. Dalam praktiknya pembelajaran kolaboratif berarti siswa bekerja secara berpasangan atau dalam kelompok kecil untuk mencapai tujuan pembelajaran bersama. Pembelajaran kolaboratif berarti belajar melalui kerja kelompok, bukan belajar dengan bekerja sendiri. Setiap anggota kelompok harus bekerja sama secara aktif untuk meraih tujuan yang telah ditentukan. Semua anggota kelompok harus memiliki kontribusi yang setara baik ketika mereka mengerjakan tugas yang sama maupun ketika mereka mengerjakan tugas yang berbeda-beda dalam sebuah tujuan pembelajaran. Menurut Barkley (2012: 8) Pembelajaran kolaboratif adalah perpaduan dua atau lebih pelajar yang bekerja bersama-sama dan berbagi beban kerja secara setara sembari, secara perlahan, mewujudkan hasil-hasil pembelajaran yang diinginkan.

Pembelajaran kolaboratif didasarkan pada asumsi epistemologi yang berbeda dan berasal dari konstruktivisme sosial. Menurut Matthews dikutip oleh Barkley (2012: 8) Mengatakan pembelajaran kolaboratif adalah sebuah pedagogi yang pusatnya terletak dalam asumsi bahwa manusia selalu menciptakan makna bersama dan proses tersebut selalu memperkaya dan memperluas wawasan

mereka. Pembelajaran kolaboratif dapat berlangsung apabila pelajar dan pengajar bekerja sama untuk menciptakan pengetahuan. Tugas yang diberikan dalam kelompok kecil harus mendapat dukungan dari sesama murid dan perbedaan sudut pandang, pengetahuan, dan keterampilan akan menjadikan pembelajaran

kolaboratif sangat berharga dalam pembelajaran (Silberman, 2013: 124).

Pengetahuan adalah sesuatu yang dibangun manusia melalui dialog dan

(47)

sana.” Pengetahuan senantiasa menanti manusia untuk ditemukan. Pembelajaran

kolaboratif berasumsi bahwa pengetahuan merupakan produk sosial yang dihasilkan melalui konsensus bersama di antara para sejawat yang

berpengetahuan. Dalam pembelajaran kolaboratif ingin menghindari

ketergantungan pelajar terhadap pengajar yang berperan pemegang otoritas, baik atas subjek yang diajarkan maupun proses belajar.

Metode pembelajaran kolaborasi menekankan pentingnya interaksi yang

mendukung dan akuntabilitas individual. Siswa bukan hanya harus belajar bekerja sama, melainkan mereka harus bertanggung jawab terhadap pembelajaran teman satu timnya dan jugapembelajaran diri mereka sendiri. Slavin, secara khusus menekankan agar kelompok-kelompok yang berhasil harus dapat mendukung akuntabilitas individual dan imbalan tim. “Tidak cukup,” dia mengatakan, “Hanya sekadar menyuruh para siswa untuk bekerja sama, mereka harus punya alasan untuk menganggap serius pencapaian satu sama lain” (Slavin dikutip oleh

Berkley, 2012: 14). Kolaborasi yang dilakukan hanya pada proses pembelajranya saja. Namun, pada saat penilaian dilakukan secara individu.

2.5.1 Dyadic Essay (Menulis Esai Berpasangan)

Teknik Dyadic Essay digunakan untuk menuliskan sebuah pertanyaan esai dan sebuah model jawaban untuk tugas membaca, kuliah atau persentasi lainya. Pada periode kelas selanjutnya, pasangan siswa saling bertukar pertanyaan, menuliskan respon untuk pertanyaan pasangan kemudian bertukar, membaca, dan

(48)

berhubungan dengan kegiatan tersebut. Kegiatan ini juga memberi kesempatan kepada siswa untuk berlatih merespon pertanyaan-pertanyaan esai dengan keuntungan tambahan mendapatkan respon-respon sampl yang dapat digunakan untuk membandingkan jawaban mereka.

2.5.2 Deskripsi Pelaksanaan Menulis Cerpen dengan Teknik Dyadic Essay Pembelajaran menulis cerpen memerlukan waktu yang cukup lama untuk mengarahkan siswa menjadi penulis yang baik karena siswa harus memiliki keahlian khsusus dalam hal menulis. Untuk memperoleh hasil menulis cerpen yang baik perlu ada cara mempelajari cara penulisanya. Melalui teknik ini siswa dilatih untuk menemukan sendiri hal-hal yang berkaitan dengan tujuan

pembelajaraan.

Prosedur

1. Di luar kelas siswa merenungkan apa yang sudah mereka peroleh dari kegiatan pembelajaran misalnya tugas membaca membaca cerpen kemudian merumuskan serta menuliskan sebuah pertanyaan esai.

2. Pada lembar kertas lain siswa mempersiapkan model respon untuk pertanyaan mereka sendiri (biasanya dalam beberapa paragraf)

3. Siswa membawa sebuah salinan pertanyaan esay dan model jawaban mereka ke dalam kelas.

(49)

5. Siswa bertukar model jawaban dan membandingkan serta menentukan perbedaan yang terdapat dalam jawaban yang ada di dalam kelas dengan model jawaban mitra mereka.

6. Pasangan mendiskusikan respon mereka, pertama untuk satu pertanyaan esai kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan esai lainya, memeri perhatian pada perbedaan gagasan yang sama dann tidak sama.

Teknik Dyadic Essay merupakan teknik yang digunakan untuk materi membaca dan menulis. Teknik ini dilakukan melalui proses membaca kemudian membuat pertanyaan-pertanyaan dan kemungkinan jawaban yang mungkin terjadi.

Pengembangan Dyadic Essay merupakan pengembangan metode baru dalam pengajaran kolaboratif sebagai upaya untuk meningkatkan pembelajaran yang menarik dan menyenangkan.

Pengembangan teknik ini digunakan untuk pembelajaran menulis dengan merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi dengan

(50)

Kegiatan dengan teknik Dyadic Essay akan berhubungan dengan 1) kelompok membaca; 2) kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan cerita; 3) menulis berpasangan; 4) menulis pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan cerita; 5) menulis jawaban-jawaban yang mungkin timbul dengan beberapa paragraf; 6) pemeriksaan oleh pasangan.

Daftar-daftar pertanyaan dapat dimulai dengan beberapa pertanyaan yang bersifat umum antara lain.

a) Menjelaskan mengapa (atau menjelaskan bagaimana) ...? b) Mengapa ... adalah penting?

c) Bagaimana ... dan ... bisa sama? d) Apakah ... yang terbaik dan mengapa? e) Apakah solusi untuk masalah ...?

f) Bagaimana ... berkaitan dengan apa yang kita pelajari sebelumnya?

Teknik Dyadic Essay dalam pengajaran cerpen yang dilakukan guru adalah menyampaikan materi yang berhubungan dengan cerpen seperti latar, karakter tokoh, isi cerita dan cara membuat cerpen. Setelah diadakan tanya jawab kemudian para siswa bergabung dalam kelompoknya yang terdiri atas 2 – 5 orang yang bersifat heterogen untuk membaca sebuah cerpen dilanjutkan membuat pertanyaan-pertanyaan dan membuat persiapan jawaban yang kemungkinan

(51)

proses pembelajaran selesai dilaksanakan, para siswa diberi tugas secara individu dan menyerahkan pekerjaannya kepada guru.

(52)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK), model yang digunakan dalam penelitian ini adalah model Kemmis dan Mc. Taggart yang meliputi empat tahapan sebagai berikut.

1. Tahap Perencanaan

Rencana tindakan ini mencakup semua langkah tindakan secara rinci tindakan yang dilakukan mulai dari materi/bahan ajar, rencana pembelajaran yang mencakup teknik pembelajaran, skenario pembelajaran, mempersiapkan instrumen penelitian, dan merancang tindakan.

2. Tahap Tindakan

Tahap ini merupakan implementasi/pelaksanaan dari semua rancangan yang telah dibuat.Tahap pelaksanaan tindakan dilakukan di dalam kelas yang merupakan realisasi dari teori pendidikan dan teknik pembelajaran yang sudah disiapkan. 3. Tahap Pengamatan

(53)

sejawat). Pengamat dari luar tidak boleh terlibat terlalu dalam dan mengintervensi terhadap pengambilan keputusan tindakan yang dilakukan oleh peneliti.

4. Tahap Refleksi

Tahap refleksi merupakan tahap memproses data yang diperoleh dari pengamatan untuk mengetahui bagian manakah yang perlu diperbaiki dan yang sudah

mencapai tuujuan penelitian. Tahap ini dapat juga memunculkan kelebihan dan kekurangan setiap tindakan yang akan dijadikan dasar perencanaan siklus selanjutnya.

Hubungan keempat tahapan tersebut dipandang sebagai siklus yang dapat dilihat pada gambar berikut.

Siklus 1

[image:53.595.111.498.379.558.2]

Gambar 3.1 Siklus PTK Model Kemmis dan Mc Taggart (dengan perubahan seperlunya)

Hubungan Perencanaan, Tindakan, Pengamatan, dan Refleksi Model Kurt Lewin. 3.2 Tempat dan waktu penelitian

3.2.1 Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas VII 1 semester genap SMP Negeri 1 Ambarawa Kabupaten Pringsewu tahun pelajaran 2012/2013.

Permasalahan Pelaksanaan

tindakan I Perencanaan

tindakan I

Refleksi I

Pengamatan/ pengumpulan data II

Jika ada masalah baru belum terselesaikan

(54)

3.2.2 Waktu Penelitian

[image:54.595.115.504.242.650.2]

Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai dengan bulan April 2012 semester genap tahun pelajaran 2012/2013. Pelaksanaan PTK dilaksanakan sesuai dengan jadwal pembelajaran.

Tabel 3.1 Jadwal kegiatan penelitian di SMPN 1 Ambarawa Pringsewu

No Rencana kegiatan Des

2012 Januari 2013 Februari 2013 Maret 2013 April 2013

3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

I Persiapan

1 Pra penelitian v v v V

2 Seminar propsal v v

1 Izin penelitian v

II Pelaksanaan 1 2 Siklus satu Siklus dua v v III Pelaporan

1 Penyusunan laporan

v v v v

2 Seminar hasil v

3 Perbaikan seminar

v

4 Ujian tesis v

3.3 Teknik Pengumpulan Data

(55)

3.3.1 Teknik Pengamatan

Pengamatan digunakan untuk mendapatkan data yang berupa peristiwa, aktivitas, dan tempat. Tujuan pengamatan untuk menjelaskan situasi yang diteliti, aktivitas yang dilakukan untuk memperoleh data yang sebenarnya. Pengamatan atau observasi yang dilakukan dengan observasi peran total atau complete participan. Dalam halini peneliti menjadi bagian dari kelompok yang diamati, peranan yang sebagai peneliti tidak terlihat sehingga ia dapat mengamati kelompok yang diteliti secara alamiah karena kelompok yang diamati tak menyadari bahwa mereka sedang diamati (Setiyadi, 2006: 241).

Dalam penelitian ini observasi dibantu oleh teman sejawat yang berkedudukan sebagai guru Bahasa Indonesia di SMPN 1 Ambarawa. Observasi dilakukan dengan mengamati kegiatan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran menulis cerpen, menjelaskan materi pembelajaran, memotivasi siswa, proses tanya jawab dengan siswa, pengelolaan kelas, memberikan penilaian, dan memberikan umpan balik proses pembelajaran. Observasi juga dilakukan untuk mengamati aktivitas yang dilakukan oleh siswa selama proses pembelajaran.

3.3.2 Teknik dokumentasi

(56)

3.3.3 Teknik Tes

Dalam penelitian ini tes dilaksanakan setiap akhir siklus atau pada saat pemberian tugas. Alat pengumpul datanya berupa soal bentuk uraian. Tes dilakukan untuk mengukur kemampuan menulis cerpen siswa dengan hasil yang diperoleh siswa kelas VII 1 SMP Negeri 1 Ambarawa.

3.4 Teknik Analisis Data

Analisis data dilakukan sejak awal awal penelitian, selama proses dan

pembelajaran berlangsung.Teknik yang digunakan adalah teknik analisis wacana dan anailis isi. Analisis wacana merupakan kajian yang meneliti dan menganalisis bahasa yang digunakan secara alamiah, baikdalam bentuk lisan maupun tulisan (Stubbes dikutip oleh Rusminto, 2009: 5). Teknik analisis isi menurut Setiyadi (2006: 266) mengatakan bahwa dalam proses analisis data menggunakan analisis isi sangat tepat untuk menganalisis data yang tertulis dan kurang tepat untuk data yang terekam. Analisi Isi (Content Analysisi) yaitu analisis yang dimulai dari mengelompokkan data berdasarkan kategori-kategori, atau tema-tema tertentu, kemudian data tersebut disatukan ke dalam kategori atau tema sejenis (Setiyadi, 2006: 265). Dengan mengelompokkan data ke dalam kategori atau tema sejenis akan memudahkan peneliti untuk melihat isi yang terkandung dari berbagai data yang telah dikelompokkan ke dalam masing-masing kategori.

Adapun langkah-langkah yang ditempuh dalam menganalisis data melalui sejumlah tahapan sebagai berikut.

(57)

telah ditetapkan;

3) merekap data penilaian yang diperoleh siswa untuk setiap aspek yang diteliti; 4) menjumlahkan nilai yang diperoleh siswa pada setiap aspek kemudian mencari nilai rata-ratanya.

5) menghitung siswa yang tuntas KKM

6) menentukan tingkat ketercapaian rata-rata presestase ketuntasan belajar.

3.5 Indikator Keberhasilan

Siklus dalam penelitian ini tidak dapat ditentukan secara pasti bergantung pada pencapaian nilai siswa. Pada siklus I pembelajaran dikatakan berhasil jika

kemampuan menulis cerpen siswa mencapai KKM yang telah ditentukan yaitu 68. Indikator keberhasilan jika 75% dari jumlah siswa 34 anak telah mencapai KKM.

a. Prosedur Penelitian

Prosedur dalam penenelitian ini merupakan sebuah rangkaian tahap penelitian dari awal hingga akhir yang merupakan proses penelitian sistem berputar atau

berdaur. Suharsimi Arikunto (2010: 104) mengembangakan prosedur penelitian yangmencakup tahapan-tahapan sebagai berikut:

kegiatan dengan desain PTK model Kemmis dan Mc Taggart adalah sebagai berikut.

(1) Perencanaan (2) Tindakan (3) Observasi (4) Refleksi

(58)
[image:58.595.112.491.121.419.2]

Berikut ini siklus kegiatan PTK model Kemmis dan Mc Taggart 1. siklus 1 Siklus 2

Gambar 3.2 Siklus PTK Model Kammis dan Mc Taggart

Rencana tindakan yang diterapkan pada penelitian ini meliputi tahapan-tahapan.

3.6.1. Tahap Perencanaan

Dalam tahap perencanaan peneliti merencanakan skenario pembelajaran dan menyiapkan fasilitas yang mendukung pelaksanaan skenario tindakan. Rencana ini disimulasikan untuk memberikan gambaran tindakan yang akan dilakukan. Melalui kegiatan simulasi ini peneliti dapat mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan timbul.

Adapun langkah yang dilakukan pada tahap ini adalah:

1. Membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan teknik Kolaboratif tipe Dyadic Essay.

Perencanaan tindakanan I

Permasalahan Pelaksanaan

tindakan I

Refleksi I Pengamatan/

pengumpulan data Masalah baru hasil refleksi Pelaksanaan tindakan II Perencanaan tindakan II

Refleksi II Pengamatan/

(59)

2. Mengembangkan skenario pembelajaran.

3. Menyiapkan alat, bahan, dan sumber belajar termasuk sarana pendukung 4. Mengembangkan format evaluasi pembelajaran.

5. Melakasanakan pembelajaran. 6. Melaksanakan evaluasi.

7. Menyiapkan kegiatan refleksi guna menemukan pemecahan masalah untuk siklus berikutnya

3.6.2 Tahap Tindakkan

Pada tahap tindakan proses pembelajaran berlangsung di kelas yang akan diteliti yaitu kelas VII 1 SMP Negeri 1 Ambarawa pada waktu pelajaran bahasa

Indonesia. Tindakan siklus pertama, waktu pembelajaran berlangsung selama 4 x 40 menit ( 2 x pertemuan = 2 x tindakkan).

Pelaksanaan pembelajaran tindakan kesatu 2 x 40 menit, siklus satu

Adalah sebagai berikut. Guru mengucapkan salam untuk memulai pelajaran, mengondisikan, dan mengecek kehadiran siswa, dan menyampaikan standar kompetensi yaitu mengungkapkan berbagai informasi dalam bentuk narasi dan pesan singkat dan kompetensi dasar, yaitu mengungkapkan pengalaman menjadi narasi dengan memperhatikan cara penulisan kalimat efektif dan sesuai dengan EYD. Menulis pesan singkat sesuai dengan isi dengan menggunakan kalimat efektif dan bahasa yang santun.

Tujuan pembelajarannya adalah siswa dapat menulis narasi dalam bentuk cerpen dengan baik dan benar. Guru menjelasan cara menulis cerpen yang baik,

(60)

Siswa membentuk kelompok yang terdiri atas empat sampai lima orang secara acak. Guru membagikan teks contoh cerpen kemudian siswa disuruh membaca dalam hati. Setelah membaca dilanjutkan membuat pertanyaan-pertanyaan dan membuat persiapan jawaban, jika terjadi perbedaan jawaban siswa berhak untuk memberikan argumentasi yang baik untuk memperkecil jawaban yang berbeda dengan yang sudah disiapkan. Kemudian pertanyaan tersebut disampaikan ke siswa lain secara bergantian. Daftar pertanyaan berhubungan dengan isi cerita, latar, alur, karakter, dan masalah lain yang berhubungan dengan cerita. Jika waktu yang disediakan tidak mencukupi, siswa dapat membuat pertanyaan tersebut di luar jam pelajaran kemudian dilanjutkan pada pertemuan yang akan datang sehingga siswa dapat lebih menguasai materi secara mendalam. Setelah proses pembelajaran selesai dilaksanakan, para siswa diberi tugas untuk menulis beberapa pertanyaan tentang topik yang dipelajari secara individu untuk dibahas pada pertemuan berikutnya.. Sebelum pertemuan ditutup siswa diberi kesempatan untuk merefleksi materi atau bertanya tentang kesulitan dalam mengerjakan tugas.

Rencana tindakkan kedua pada siklus pertama, waktu pertemuan 2 x 40 menit. Guru mengucapkan salam untuk memulai pelajaran, mengondisikan, dan mengecek kehadiran siswa sebelum pembelajaran dilanjutkan. Guru

(61)

pilih sendiri, guru mengarahkan yang berkaitan dengan kemampuan siswa. Para siswa membuat konsep karangan cerpen, setelah berkonsultasi dengan teman satu timnya atau kelompoknya dan kepada guru mengenai gagasan-gagasan mereka dan rencana pengaturan. Setelah pekerjaan selesai, hasil tulisan siswa

dikumpulkan. Guru dan kolaborator memberikan pertanyaan kepada siswa untuk mengetahui tanggapan mereka terhadap proses menulis cerpen yang telah

berlangsung, dan menutup pembelajaran dengan salam.

Pada siklus kedua, tindakan yang dilakukan berdasarkan refleksi pada siklus pertama. Kompetensi dasarnya adalah menulis narasi. Skenario pembelajaran tindakan kesatu, siklus kedua adalah sebagai berikut. Guru membuka pelajaran dengan salam, memeriksa kehadiran dan menyampaikan kompetensi dasarnya, yaitu siswa dapat menulis narasi. Tujuan pembelajarannya adalah siswa dapat menulis cerpen dengan baik dan benar. Guru membagi para siswa beberapa kelompok yang terdiri dari empat atau lima orang secara heterogen . Guru membagikan teks contoh tulisan cerpen dan siswa disuruh membaca dalam hati. Setelah membaca dilanjutkan membuat pertanyaan-pertanyaan dan membuat persiapan jawaban, jika terjadi perbedaan jawaban siswa berhak untuk

(62)

pembelajaran selesai dilaksanakan, para siswa diberi tugas untuk menulis beberapa pertanyaan tentang topik yang dipelajari secara individu untuk dibahas pada pertemuan berikutnya. Sebelum pertemuan ditutup siswa diberi kesempatan untuk merefleksi materi atau bertanya tentang kesulitan dalam mengerjakan tugas. Pada akhir pertemuan guru menanyakan kepada siswa tentang kesulitan dalam mengerjakan tugas.

Pada pertemuan kedua siklus kedua, tindakan yang dilakukan pada kegiatan awal guru mengucapkan salam siswa berdoa, mengecek kehadiran siswa. Guru

(63)

3.6.3 Tahap Observasi

Tahap observasi ini dilakukan dengan melaksanakan pengamatan selama berlangsungnya proses pembelajaran baik aktivitas guru maupun siswa dengan menggunakan instrumen yang telah dipersiapkan. Hal ini dilakukan untuk melihat aktivitas siswa pada saat tindakan berlangsun

Gambar

Tabel 2.1 Rubrik penilaian komponen keterampilan menulis cerpen
Tabel 2.1 Lanjutan
Gambar 3.1 Siklus PTK Model Kemmis dan Mc Taggart (dengan  perubahan seperlunya)
Tabel 3.1 Jadwal kegiatan penelitian di SMPN 1 Ambarawa Pringsewu
+2

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini dikarenakan dengan jumlah murid yang sedikit dalam satu kelas membuat guru bisa total dalam memberikan perhatian kepada murid ketika mengajar.. Para murid

Berdasarkan penjelasan di atas maka penulis tertarik untuk meneliti dan mendalami kewajiban seorang suami yang muallaf, penulis akan menuangkan pemikiran dalam

Sehingga sesuai dengan PERPRES NO 54 TAHUN 2010 Pasal 83 Ayat (1) maka dinyatakan Pelelangan Gagal.. Demikian Berita Acara Pelelangan Gagal ini dibuat untuk dipergunakan

Setelah mengikuti perkuliahan ini, mahasiswa diharapkan memahami seni desain web sebagai sarana informasi digital, keterampilan teknis me-layout serta memberikan kemampuan dan

Diueresis dapat terjadi setelah 2-3 hari post partum. Diueresis terjadi karena saluran urinaria mengalami dilatasi. Kondisi ini akan kembali normal setelah 4 minggu

Dalam penulisan ilmiah ini, penulis membahas tentang bagaimana proses investasi yang terjadi pada usaha jasa angkutan umum (D.08) milik Bapak H.M Mansyur, Jakarta Selatan

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul “ANALISIS PELAKSANAAN PEMBERIAN RUJUKAN PASIEN PESERTA JAMINAN KESEHATAN NASIONAL (JKN) DI PUSKESMAS PADANG BULAN

Hasil: Berdasarkan uji hipotesis dengan metode Mc Nemar didapati nilai p sebesar 0,021 (CI 95%) yang menunjukkan bahwa ada hubungan antara kejadian limfadenitis TB pada