• Tidak ada hasil yang ditemukan

DRAFT LAPORAN PENGAMATAN DAN STUDI LITER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "DRAFT LAPORAN PENGAMATAN DAN STUDI LITER"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

DRAFT

LAPORAN PENGAMATAN DAN STUDI LITERATUR STUDIO PERANCANGAN ARSITEKTUR 3

KLINIK SPESIALIS ANAK

Yeremia Alfa Adimurti / 10.11.0110 Yustina Anastasha F. M. / 12.11.0095

Sany Husnainy / 15.A1.0160 Juanita Ratih Artanti / 15.A1.0186

Silvester Archi / 15.A1.0187

(2)

LAPORAN PENGAMATAN DAN WAWANCARA

KLINIK ANAK SATMOKO

dr. Asri Purwanti, , SpA(K), M.Pd

(3)

Pencarian Tempat dan Konfirmasi : Kamis, 20 Agustus 2015, pukul 11.00 WIB Pengamatan : Senin, 24 Agustus 2015, pukul 21.00 WIB Pengamatan dan Wawancara : Jumat, 28 Agustus 2015, pukul 14.00 WIB

Narasumber : Ibu Iis dan ibu Colin

Pewawancara : Yeremia Alfa Adimurti / 10.11.0110 Yustina Anastasha F. M. / 12.11.0095 Sany Husnainy / 15.A1.0160

Juanita Ratih Artanti / 15.A1.0186 Silvester Archi / 15.A1.0187

PROFIL KLINIK

Klinik ini dimiliki oleh dr. Asri Purwanti, SpA(K), M.Pd ( 67 th ) Bentuk pelayanan yang tersedia adalah sebagai berikut : 1. Pelayanan kesehatan anak dan remaja

2. Imunisasi dan vaksinasi

3. Konsultasi pendidikan anak dan remaja

4. Tes tumbuh kembang, anxiety ( kecemasan ), depression ( depresi ) anak dan remaja 5. Konsultasi gizi anak dan remaja

(4)

Informasi Praktek :

 Praktek Pagi : 07.00 – 09.00 ( Senin – Sabtu )  Praktek Malam : 19.00 – 20.30 ( Senin – Minggu )

Adapun pegawai yang membantu dr. Asri Purwanti, SpA(K), M.Pd pada kliniknya, antara lain: 1. Ibu Iis ( perawat suami dokter Asri )

2. Prima ( asisten dokter ) 3. Ibu Colin ( wakil asisten 1) 4. Farida ( wakil asisten 2 )

PROFIL KELUARGA

Pemilik rumah : dr. Asri Purwanti, SpA(K), M.Pd

Merupakan kakak kandung dari Menteri Keuangan Sri Mulyani. Dokter Asri pernah bekerja di timor timur dan menjabat sebagai kepala kesehatan. Dalam meraih gelar profesornya dokter Asri meneliti tentang Down Syndrome. Selain membuka klinik dokter Asri juga membuka praktek di RS Dr karyadi Semarang, RS Panti Wilasa, dan RS Telogorejo.

Suami : RM. H. Edi Susianto, SE ( sudah tidak bekerja dan sedang sakit stroke ) Anak :

1. dr. Aditya Retno Fitri ( sudah menikah dan tinggal di Belanda )

2. dr. Andika Retno Ayuri ( sudah menikah dan tinggal di Semarang Atas ) 3. Renta ( kuliah di Fakultas Kedokteran UNDIP semester 5 )

Berikut ada pula pegawai yang tinggal di rumah dokter Asri : 1. Bu Sri ( asisten rumah tangga )

2. Bapak Mustakim ( driver )

PELAKU DAN AKTIVITAS PADA KLINIK

Dokter : memeriksa pasien dan menulis resep obat di ruang praktek. Asisten : membantu dokter dalam memeriksa pasien.

Wakil asisten 1 : bekerja sebagai apoteker untuk memberikan obat kepada pasien.

Wakil asisten 2 : bekerja sebagai administrasi dan reseptionis yang melayani pasien ( dalam pekerjaannya masih dilakukan dengan menulis tangan, tidak menggunakan komputer )

Pasien :- Mendaftar ke reseptionis - Menunggu antrian untuk diperiksa - Diperiksa oleh dokter - mengambil obat dokter - ke toilet / buang air kecil

(5)

Ruang dan Perabot yang terdapat pada klinik 1. Area pendaftaran

Pintu ruang praktek dokter dari ruang tunggu, di sebelah kanan terdapat meja pendaftaran.

2. Ruang Tunggu dan Toilet

Ruang tunggu dan toilet tersekat oleh dinding partisi kayu.

(6)

3. Ruang Obat

Terdapat perabot berupa: Lemari obat

Perletakan obat yang tidak terlindung, dan terkesan berantakan.

4. Ruang Periksa atau Tindakan

Terdapat Perabot berupa:

(7)

STUDI LITERATUR

RUMAH DAN KLINIK ANAK

Abstrak

Saat ini mobilitas manusia dari satu tempat ke tempat yang lain tergolong tinggi. Padahal, waktu dan jarak adalah dua hal yang kian mahal harganya. Konsep bekerja di rumah dapat menjadi solusi yang tepat dalam menjalankan profesionalitas tanpa mengorbankan keluarga. Termasuk di dalamnya klinik. Namun, adanya klinik di area rumah berbanding terbalik terhadap kebutuhan privasi keluarga. Klinik yang notabenya adalah suatu wadah penawaran jasa kesehatan pastilah mengundang para pasien untuk dating. Tulisan ini menjelaskan bagaimana cara menyiasati adanya klinik pada rumah.

DEFINISI KLINIK

Mengacu pada Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 tahun 2014 mengenai Klinik adalah suatu fasilitas pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan yang menyediakan pelayanan medis dasar dan/atau spesialistik oleh tenaga kesehatan. Tenaga Kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan/atau

keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.

KLASIFIKASI KLINIK

Berdasarkan jenis pelayanan, Klinik dibagi menjadi: a. Klinik Pratama

Klinik pratama merupakan Klinik yang menyelenggarakan pelayanan medik dasar baik umum maupun khusus.

b. Klinik Utama

Klinik Utama merupakan Klinik yang menyelenggarakan pelayanan medik spesialistik atau pelayanan medik dasar dan spesialistik.

Klinik dapat mengkhususkan pelayanan pada satu bidang tertentu berdasarkan cabang/disiplin ilmu atau sistem organ.

Berdasarkan kepemilikan, Klinik dapat dibagi menjadi:

a. Klinik yang dimiliki oleh Pemerintah dan Pemerintah Daerah harus didirikan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

b. Klinik yang dimiliki oleh masyarakat yang menyelenggarakan rawat jalan dapat didirikan oleh perorangan atau badan usaha.

(8)

PERSYARATAN KLINIK Lokasi

a. Pemerintah daerah kabupaten/kota mengatur persebaran Klinik yang diselenggarakan

masyarakat di wilayahnya dengan memperhatikan kebutuhan pelayanan berdasarkan rasio jumlah penduduk.

b. Lokasi Klinik harus memenuhi ketentuan mengenai persyaratan kesehatan lingkungan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

c. Ketentuan mengenai persebaran Klinik tidak berlaku untuk Klinik perusahaan atau Klinik instansi pemerintah tertentu yang hanya melayani karyawan perusahaan, warga binaan, atau pegawai instansi tersebut.

Bangunan

a. Bangunan Klinik harus bersifat permanen dan tidak bergabung fisik bangunannya dengan tempat tinggal perorangan.

b. Ketentuan tempat tinggal perorangan tidak termasuk apartemen, rumah toko, rumah kantor, rumah susun, dan bangunan yang sejenis.

c. Bangunan Klinik harus memperhatikan fungsi, keamanan, kenyamanan dan kemudahan dalam pemberian pelayanan serta perlindungan keselamatan dan kesehatan bagi semua orang termasuk penyandang cacat, anak-anak dan orang usia lanjut.

Bangunan Klinik paling sedikit terdiri atas: a. ruang pendaftaran/ruang tunggu; b. ruang konsultasi;

c. ruang administrasi;

d. ruang obat dan bahan habis pakai untuk klinik yang melaksanakan pelayanan farmasi; e. ruang tindakan;

f. ruang/pojok ASI; g. kamar mandi/wc; dan

h. ruangan lainnya sesuai kebutuhan pelayanan. Klinik rawat inap harus memiliki:

a. ruang rawat inap yang memenuhi persyaratan; b. ruang farmasi;

c. ruang laboratorium; dan d. ruang dapur;

Ruang tersebut harus memenuhi persyaratan teknis sesuai dengan ketentuan peraturan

(9)

Prasarana

Prasarana Klinik meliputi: a. instalasi sanitasi; b. instalasi listrik;

c. pencegahan dan penanggulangan kebakaran;

d. ambulans, khusus untuk Klinik yang menyelenggarakan rawat inap; dan e. sistem gas medis;

f. sistem tata udara; g. sistem pencahayaan;

h. prasarana lainnya sesuai kebutuhan.

Ketenagaan

a. Penanggung jawab teknis Klinik harus seorang tenaga medis yang memiliki Surat Izin Praktik (SIP) di Klinik tersebut, dan dapat merangkap sebagai pemberi pelayanan. Tenaga Medis hanya dapat menjadi penanggung jawab teknis pada 1 (satu) Klinik.

b. Ketenagaan Klinik rawat jalan terdiri atas tenaga medis, tenaga keperawatan, Tenaga Kesehatan lain, dan tenaga non kesehatan sesuai dengan kebutuhan.

c. Ketenagaan Klinik rawat inap terdiri atas tenaga medis, tenaga kefarmasian, tenaga keperawatan, tenaga gizi, tenaga analis kesehatan, Tenaga Kesehatan lain dan tenaga non kesehatan sesuai dengan kebutuhan.

d. Jenis, kualifikasi, dan jumlah Tenaga Kesehatan lain serta tenaga non kesehatan disesuaikan dengan kebutuhan dan jenis pelayanan yang diberikan oleh Klinik.

Tenaga medis pada Klinik pratama yang memberikan pelayanan kedokteran paling sedikit terdiri dari 2 (dua) orang dokter dan/atau dokter gigi sebagai pemberi pelayanan.

Tenaga medis pada Klinik utama yang memberikan pelayanan kedokteran paling sedikit terdiri dari 1 (satu) orang dokter spesialis dan 1 (satu) orang dokter sebagai pemberi pelayanan.

Tenaga medis pada Klinik utama yang memberikan pelayanan kedokteran gigi paling sedikit terdiri dari 1 (satu) orang dokter gigi spesialis dan 1 (satu) orang dokter gigi sebagai pemberi pelayanan.

Setiap tenaga kesehatan yang bekerja di Klinik harus bekerja sesuai dengan standar profesi, standar prosedur operasional, standar pelayanan, etika profesi, menghormati hak pasien, serta

mengutamakan kepentingan dan keselamatan pasien.

(10)

Peralatan

Klinik harus dilengkapi dengan peralatan medis dan nonmedis yang memadai sesuai dengan jenis pelayanan yang diberikan.

Peralatan medis dan nonmedis harus memenuhi standar mutu, keamanan, dan keselamatan. Selain memenuhi standar, peralatan medis harus memiliki izin edar sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Peralatan medis yang digunakan di Klinik harus diuji dan dikalibrasi secara berkala oleh institusi pengujian fasilitas kesehatan yang berwenang.

Peralatan medis yang menggunakan sinar pengion harus mendapatkan izin sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Penggunaan peralatan medis di Klinik harus dilakukan berdasarkan indikasi medis

Farmasi

Klinik rawat jalan tidak wajib melaksanakan pelayanan farmasi.

Klinik rawat jalan yang menyelenggarakan pelayanan kefarmasian wajib memiliki apoteker yang memiliki Surat Izin Praktik Apoteker (SIPA) sebagai penanggung jawab atau pendamping. Klinik rawat inap wajib memiliki instalasi farmasi yang diselenggarakan apoteker.

Instalasi farmasi melayani resep dari dokter Klinik yang bersangkutan, serta dapat melayani resep dari dokter praktik perorangan maupun Klinik lain.

Klinik yang menyelenggarakan pelayanan rehabilitasi medis pecandu narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya wajib memiliki instalasi farmasi yang diselenggarakan oleh apoteker.

Laboratorium

Klinik rawat inap wajib menyelenggarakan pengelolaan dan pelayanan laboratorium klinik. Klinik rawat jalan dapat menyelenggarakan pengelolaan dan pelayanan laboratorium klinik. Laboratorium Klinik pada klinik pratama merupakan pelayanan laboratorium klinik umumpratama sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

(11)

Dalam hal Klinik menyelenggarakan laboratorium klinik yang memiliki sarana, prasarana, ketenagaan dan kemampuan pelayanan melebihi kriteria dan persyaratan Klinik sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4), maka laboratorium klinik tersebut harus memiliki izin tersendiri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

PENYELENGGARAAN

Klinik menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan yang bersifat promotif, preven tif, kuratif dan rehabilitatif.

Pelayanan kesehatan yang bersifat promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif dilaksanakan dalam bentuk rawat jalan, rawat inap, pelayanan satu hari (one day care) dan/atau home care.

Pelayanan satu hari (one day care) merupakan pelayanan yang dilakukan untuk pasien yang sudah ditegakkan diagnosa secara definitif dan perlu mendapat tindakan atau perawatan semi intensif (observasi) setelah 6 (enam) jam sampai dengan 24 (dua puluh empat) jam.

Home care merupakan bagian atau lanjutan dari pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif yang diberikan kepada individu dan keluarga di tempat tinggal mereka yang

bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan atau memulihkan kesehatan atau memaksimalkan tingkat kemandirian dan meminimalkan dampak penyakit.

Klinik rawat inap hanya dapat memberikan pelayanan rawat inap paling lama 5 (lima) hari.

Apabila memerlukan rawat inap lebih dari 5 (lima) hari, maka pasien harus secara terencana dirujuk ke rumah sakit sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Klinik pratama hanya dapat melakukan bedah kecil (minor) tanpa anestesi umum dan/atau spinal. Klinik utama dapat melakukan tindakan bedah, kecuali tindakan bedah yang:

a. menggunakan anestesi umum dengan inhalasi dan/atau spinal; b. operasi sedang yang berisiko tinggi; dan

c. operasi besar.

HAK DAN KEWAJIBAN KLINIK Setiap Klinik mempunyai kewajiban:

a. memberikan informasi yang benar tentang pelayanan yang diberikan;

(12)

c. memberikan pelayanan gawat darurat kepada pasien sesuai dengan kemampuan

pelayanannya tanpa meminta uang muka terlebih dahulu atau mendahulukan kepentingan finansial;

d. memperoleh persetujuan atas tindakan yang akan dilakukan (informed consent); e. menyelenggarakan rekam medis;

f. melaksanakan sistem rujukan dengan tepat;

g. menolak keinginan pasien yang bertentangan dengan standar profesi dan etika serta peraturan perundang-undangan;

h. menghormati dan melindungi hak-hak pasien;

i. memberikan informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai hak dan kewajiban pasien; j. melaksanakan kendali mutu dan kendali biaya berdasarkan ketentuan peraturan

perundang-undangan;

k. memiliki standar prosedur operasional;

l. melakukan pengelolaan limbah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

m. melaksanakan fungsi sosial;

n. melaksanakan program pemerintah di bidang kesehatan; o. menyusun dan melaksanakan peraturan internal klinik; dan

p. memberlakukan seluruh lingkungan klinik sebagai kawasan tanpa rokok.

Setiap Kinik mempunyai hak:

a. menerima imbalan jasa pelayanan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan; b. melakukan kerja sama dengan pihak lain dalam mengembangkan pelayanan;

c. menggugat pihak yang mengakibatkan kerugian;

d. mendapatkan perlindungan hukum dalam melaksanakan pelayanan kesehatan; dan e. mempromosikan pelayanan kesehatan yang ada di Klinik sesuai ketentuan peraturan

perundang-undangan.

Penyelenggara Klinik wajib:

a. memasang nama dan klasifikasi Klinik;

b. membuat dan melaporkannya kepada dinas kesehatan daftar tenaga medis dan tenaga kesehatan lain yang bekerja di Klinik dengan menyertakan:

 nomor Surat Tanda Registrasi (STR) dan Surat Izin Praktik (SIP) bagi tenaga medis;  nomor surat izin sebagai tanda registrasi atau Surat Tanda Registrasi (STR), dan

Surat Izin Praktik (SIP) atau Surat Izin Kerja (SIK) bagi tenaga kesehatan lain.

c. melaksanakan pencatatan untuk penyakit-penyakit tertentu dan melaporkan kepada dinas kesehatan kabupaten/kota dalam rangka pelaksanaan program pemerintah sesuai

(13)

PERSYARATAN LINGKUNGAN BANGUNAN KESEHATAN 1. Lingkungan Bangunan Rumah Sakit

a. Lingkungan bangunan rumah sakit harus mempunyai batas yang kelas, dilengkapi dengan agar yang kuat dan tidakmemungkinkan orang atau binatang peliharaan keluar masuk dengan bebas. b. Luas lahan bangunan dan halaman harus disesuaikan dengan luas lahan keseluruhan sehingga tersedia tempat parkir yang memadai dan dilengkapi dengan rambu parkir.

c. Lingkungan bangunan rumah sakit harus bebas dari banjir. Jika berlokasi di daerah banjir harus menyediakan fasilitas/teknologi untuk mengatasinya.

d. Lingkungan rumah sakit harus merupakan kawasan bebas rokok

e. Lingkungan bangunan rumah sakit harus dilengkapi penerangan dengan intensitas cahaya yang cukup.

f. Lingkungan rumah sakit harus tidak berdebu, tidak becek, atau tidak terdapat genangan air dan dibuat landai menuju ke saluran terbuka atau tertutup, tersedia lubang penerima air masuk dan disesuaikan dengan luas halaman

g. Saluran air limbah domestik dan limbah medis harus tertutup dan terpisah, masing-masing dihubungkan langsung dengan instalasi pengolahan limbah.

h. Di tempat parkir, halaman, ruang tunggu, dan tempat-tempat tertentu yang menghasilkan sampah harus disediakan tempat sampah.

i. Lingkungan, ruang, dan bangunan rumah sakit harus selalu dalam keadaan bersih dan tersedia fasilitas sanitasi secara kualitas dan kuantitas yang memenuhi persyaratan kesehatan, sehi ngga tidak memungkinkan sebagai tempat bersarang dan berkembang biaknya serangga, binatang pengerat, dan binatang pengganggu lainnya.

2. Konstruksi Bangunan Rumah Sakit a. Lantai

1) Lantai harus terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata, tidak licin, warna terang, dan mudah dibersihkan.

2) Lantai yang selalu kontak dengan air harus mempunyai kemiringan yang cukup ke arah saluran pembuangan air limbah

3) Pertemuan lantai dengan dinding harus berbentuk konus/lengkung agar mudah dibersihkan b. Dinding

(14)

c. Ventilasi

1) Ventilasi alamiah harus dapat menjamin aliran udara di dalam kamar/ruang dengan baik. 2) Luas ventilasi alamiah minimum 15 % dari luas lantai

3) Bila ventilasi alamiah tidak dapat menjamin adanya pergantian udara dengan baik, kamar atau ruang harus dilengkapi dengan penghawaan buatan/mekanis.

4) Penggunaan ventilasi buatan/mekanis harus disesuai kan dengan peruntukkan ruangan. d. Atap

1) Atap harus kuat, tidak bocor, dan tidak menjadi tempat perindukan serangga, tikus, dan binatang pengganggu lainnya.

2) Atap yang lebih tinggi dari 10 meter harus dilengkapi penangkal petir. e. Langit-langit

1) Langit-langit harus kuat, berwarna terang, dan mudah dibersihkan. 2) Langit-langit tingginya minimal 2,70 meter dari lantai.

3) Kerangka langit-langit harus kuat dan bila terbuat dari kayu harus anti rayap. f. Konstruksi

Balkon, beranda, dan talang harus sedemikian sehingga tidak terjadi genangan air yang dapat menjadi tempat perindukannyamuk Aedes.

g. Pintu

Pintu harus kuat, cukup tinggi, cukup lebar, dan dapat mencegah masuknya serangga, tikus, dan binatang pengganggu lainnya.

h. Jaringan Instalasi

1) Pemasangan jaringan instalasi air minum, air bersih, air limbah, gas, listrik, sistem pengawasan, sarana telekomunikasi, dan lain-lain harus memenuhi persyaratan teknis kesehatan agar aman digunakan untuk tujuan pelayanan kesehatan.

2) Pemasangan pipa air minum tidak boleh bersilangan dengan pipa air limbah dan tidak boleh bertekanan negatif untuk menghindari pencemaran air minum.

i. Lalu Lintas Antar Ruangan

(15)

2) Penggunaan tangga atau elevator dan lift harus dilengkapi dengan sarana pencegahan

kecelakaan seperti alarm suara dan petunjuk penggunaan yang mudah dipahami oleh pemakainya atau untuk lift 4 (empat) lantai harus dilengkapi ARD (Automatic Rexserve Divide) yaitu alat yang dapat mencari lantai terdekat bila listrik mati.

3) Dilengkapi dengan pintu darurat yang dapat dijangkau dengan mudah bila terjadi kebakaran atau kejadian darurat lainnya dan dilengkapi ram untuk brankar.

j. Fasilitas Pemadam Kebakaran

(16)

PERMASALAHAN ARSITEKTURAL

Terdapat permasalahan arsitektural dimana kedua fungsi antara rumah dan klinik memiliki sifat yang berbeda. Rumah membutuhkan suatu tingkat keprivasian yang lebih tinggi dibandingkan dengan klinik.

Kelebihan Konsep Bekerja di Rumah:

1. Efisiensi waktu dan biaya ( tidak perlu sewa tempat, tidak butuh waktu lama untuk mencapai tempat kerja)

2. Bisa lebih dekat dengan keluarga 3. Fleksibel mengatur waktu istirahat. Kekurangan Konsep Bekerja di Rumah:

1. Harus siap dengan tambahan biaya listrik, air dan jaringan komunikasi

2. Harus siap dengan area parkir tambahan, untuk pegawai maupun untuk pasien.

Langkah mengkombinasikan 2 fungsi yang berbeda antara Rumah dan Klinik tidak lain dan tidak bukan adalah dengan cara cermat membuat organisasi ruang, berikut penjabaranya:

1. Pikirkan Zonning Ruang

Mewadahi dua fungsi sekaligus membuat kita harus berpikir cerdik, dan tepat guna agar manfaat kedua fungsi sesuai dengan yang kita butuhkan dan inginkan. Hal yang pertama yang harus dipikirkan adalah pemisahan area. Apakah fungsi hunian dan klinik dipisah secara ekstrem dengan membuat bangunan terpisah, namun masih berada dalam satu halaman rumah? Atau dibuat seatap dengan rumah? Apabila seatap, maka pentingnya perencanaan sirkulasi. Sirkulasi yang ideal adalah tidak saling mengganggu antara fungsi hunian dan klinik. Konsep ini dapat diterjemahakan dengan membuat pintu masuk yang berbeda.

2. Orientasi dan Sirkulasi Ruang

Orientasi atau tata ruang yang baik akan menunjang kenyamanan pengguna saat berada di dalam ruang. Tak heran jika banyak konsep interior yang menggarisbawahi orientasi dan sirkulasi ruang sebagai hal yang harus diperhatikan dengan cermat. Beberapa poin penting yang perlu dicatat antara lain:

a. Hitung jumlah pengguna; b. Data kebutuhan furniture; c. Atur sirkulasi;

d. Pilih furniture yang sesuai dengan ukuran ruang; e. Atur tata letak furniture;

(17)

DAFTAR PUSTAKA

Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 9 tahun 2014 tentang Klinik

Referensi

Dokumen terkait