• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan Dosis Dan Lama Pemaparan Sulfuril Fluorida Pada Kayu Karet Dengan Ketebalan Berbeda Untuk Pengendalian Rayap Kayu Kering

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Hubungan Dosis Dan Lama Pemaparan Sulfuril Fluorida Pada Kayu Karet Dengan Ketebalan Berbeda Untuk Pengendalian Rayap Kayu Kering"

Copied!
75
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN DOSIS DAN LAMA PEMAPARAN SULFURIL

FLUORIDA PADA KAYU KARET DENGAN KETEBALAN

BERBEDA UNTUK PENGENDALIAN RAYAP KAYU KERING

AHMAD MANSURI ALFIAN

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)
(3)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Hubungan Dosis dan Lama Pemaparan Sulfuril Fluorida pada Kayu Karet dengan Ketebalan Berbeda untuk Pengendalian Rayap Kayu Kering adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(4)

RINGKASAN

AHMAD MANSURI ALFIAN. Hubungan Dosis dan Lama Pemaparan Sulfuril Fluorida pada Kayu Karet dengan Ketebalan Berbeda untuk Pengendalian Rayap Kayu Kering. Dibimbing oleh IDHAM SAKTI HARAHAP dan SWASTIKO PRIYAMBODO.

Rayap kayu kering merupakan salah satu hama yang dapat menimbulkan kerusakan berat dan kerugian besar pada produk-produk kayu. Salah satu tindakan yang dilakukan untuk mengendalikan hama ini adalah perlakuan fumigasi. Sulfuril fluorida merupakan salah satu fumigan yang dapat digunakan untuk pengendalian rayap kayu kering. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kombinasi efektif antara dosis dan lama pemaparan dan untuk mempelajari hubungan antara dosis dan lama pemaparan sulfuril fluorida terhadap rayap kayu kering C. cynocephalus yang terdapat di dalam balok kayu karet dengan ketebalan berbeda. Penelitian dilaksanakan dalam 2 tahap, yaitu : (1) Uji pendahuluan untuk menentukan batasan kisaran waktu dan dosis yang digunakan pada uji lanjut, dan (2) Uji lanjut aplikasi sulfuril fluorida dengan beberapa dosis dan waktu terhadap rayap kayu kering di dalam balok uji dengan 3 taraf ketebalan. Uji pendahuluan dilakukan dengan 3 taraf dosis (10-20 g/m3) dengan lama pemaparan 6 jam. Uji lajut aplikasi dan daya penetrasi 10 cm dilakukan dengan 5 dosis (10-30 g/m3) dan 4 lama pemaparan (6-24 jam). Sementara itu, uji lanjut aplikasi dan daya penetrasi 5 cm dan 2.5 cm dilakukan dengan 4 dosis (2-15 g/m3) dan 4 lama pemaparan (1-9 jam).

Hubungan dosis dan lama pemaparan sulfuril fluorida untuk penetrasi kayu karet setebal 10 cm menunjukkan variabel dosis fumigan merupakan variabel yang memberikan pengaruh yang lebih besar daripada variabel lama pemaparan terhadap keefektifan dosis (dosage) sedangkan untuk penetrasi kayu karet setebal 5 dan 2.5 cm menunjukkan hal yang sebaliknya. Aplikasi sulfuril fluorida pada balok kayu karet dengan ketebalan 10 cm untuk pengendalian rayap kayu kering efektif dilakukan dengan dosis 30 g/m3 dan lama pemaparan 18 jam atau dosis 15 g/m3 pemaparan 24 jam. Sementara itu, untuk aplikasi pada kayu karet dengan ketebalan 5 cm efektif dilakukan dengan dosis 10 g/m3 pemaparan 9 jam dan untuk ketebalan kayu karet 2.5 cm efektif dilakukan dengan dosis 15 g/m3 pemaparan 6 jam.

(5)

SUMMARY

AHMAD MANSURI ALFIAN. Dose-Exposure Time Relationship for Application of Sulfuryl Fluoride on Rubber Wood with Different Thicknesses Against the Indo-Malaysian Drywood Termite. Supervised by IDHAM SAKTI HARAHAP and SWASTIKO PRIYAMBODO.

The Indo-Malaysian dry wood termites are one of the pest that can cause severe damage and high losses to wood products. One of the measures taken to control this insect is fumigation treatment. Sulfuryl fluoride (SF) is a fumigant that can be used for termite control. The objective of this study was to determine the effective combination of dose-exposure time and study the dose-exposure time relationship of sulfuryl fluoride against dry wood termite Cryptotermes cynocephalus Light inside rubber wooden block with different thicknesses.

The experiment was conducted in two stages: (1) Preliminary test in to determine range exposure times and doses for sulfuryl fluoride application to C. cynocephalus, and (2) Application of sulfuryl fluoride dosees level and exposure times to C. cynocephalus. Preliminary test was done with 3 doses (10-30 g/m3) with 6 hours exposure time. Application and penetration further testings of 10 cm were done with 5 doses (10-30 g/m3) and 4 exposure times (6-24 hours). Meanwhile, application and penetration further testings of 5 and 2.5 cm were done with 4 doses (2-15 g/m3) and 4 exposure times (1-9 hours).

The results showed that application of sulfuryl fluoride to penetrate of 10 cm showed dose variable is a slightly more important than exposure time, while to penetration of 5 and 2.5 cm showed exposure time variable is a slightly more important than dose of fumigant. Treatment combination of 30 g SF/m3 and 18 hours exposure time and 15 g SF/m3 and 24 hours exposure time were effective to control termites inside wooden block with 10 cm thickness. Meanwhile, the effective treatment to penetrate 5 cm wooden block thickness was combination treatment of 10 g SF/m3 and 9 hours exposure time and to penetrate 2.5 cm wooden block thickness was combination treatment of 15 g SF/m3 and 6 hours exposure time.

(6)

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2015

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

(7)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis berjudul Hubungan Dosis dan Lama Pemaparan Sulfuril Fluorida pada Kayu Karet dengan Ketebalan Berbeda untuk Pengendalian Rayap Kayu Kering adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

(8)

RINGKASAN

AHMAD MANSURI ALFIAN. Hubungan Dosis dan Lama Pemaparan Sulfuril Fluorida pada Kayu Karet dengan Ketebalan Berbeda untuk Pengendalian Rayap Kayu Kering. Dibimbing oleh IDHAM SAKTI HARAHAP dan SWASTIKO PRIYAMBODO.

Rayap merupakan salah satu hama yang dapat menimbulkan kerusakan berat dan kerugian besar pada produk-produk kayu. Sulfuril fluorida merupakan salah satu fumigan yang dapat digunakan untuk pengendalian rayap. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan kombinasi efektif antara dosis dan lama pemaparan dan untuk mempelajari hubungan antara dosis dan lama pemaparan sulfuril fluorida terhadap rayap kayu kering C. cynocephalus yang terdapat di dalam balok kayu karet dengan ketebalan berbeda. Uji aplikasi dan daya penetrasi 10 cm dilakukan dengan 5 dosis (10-30 g/m3) dan 4 lama pemaparan (6-24 jam). Sementara itu, uji aplikasi dan daya penetrasi 5 cm dan 2.5 cm dilakukan dengan 4 dosis (2-15 g/m3) dan 4 lama pemaparan (1-9 jam). Hubungan dosis dan lama pemaparan sulfuril fluorida untuk penetrasi kayu karet setebal 10 cm menunjukkan variabel dosis fumigan merupakan variabel yang memberikan pengaruh yang lebih besar daripada variabel lama pemaparan terhadap keefektifan dosis (dosage) sedangkan untuk penetrasi kayu karet setebal 5 dan 2.5 cm menunjukkan hal yang sebaliknya. Aplikasi sulfuril fluorida pada balok kayu karet dengan ketebalan 10 cm untuk pengendalian rayap kayu kering efektif dilakukan dengan dosis 30 g/m3 dan lama pemaparan 18 jam atau dosis 15 g/m3 pemaparan 24 jam. Sementara itu, untuk aplikasi pada kayu karet dengan ketebalan 5 cm efektif dilakukan dengan dosis 10 g/m3 pemaparan 9 jam dan untuk ketebalan kayu karet 2.5 cm efektif dilakukan dengan dosis 15 g/m3 pemaparan 6 jam.

(9)

SUMMARY

AHMAD MANSURI ALFIAN. Dose-Exposure Time Relationship for Application of Sulfuryl Fluoride on Rubber Wood with Different Thicknesses Against the Indo-Malaysian Drywood Termite. Supervised by IDHAM SAKTI HARAHAP and SWASTIKO PRIYAMBODO.

Termites are one of the pest that can cause severe damage and high losses to wood products. Sulfuryl fluoride (SF) is a fumigant that can be used for termite control. The objective of this study was to determine the effective combination of dose-exposure time and study the dose-exposure time relationship of sulfuryl fluoride against dry wood termite Cryptotermes cynocephalus Light inside rubber wooden block with different thicknesses. Application and penetration testings of 10 cm were done with 5 doses (10-30 g/m3) and 4 exposure times (6-24 hours). Meanwhile, application and penetration testings of 5 and 2.5 cm were done with 4 doses (2-15 g/m3) and 4 exposure times (1-9 hours). The results showed that application of sulfuryl fluoride to penetrate of 10 cm showed dose variable is a slightly more important than exposure time, while to penetration of 5 and 2.5 cm showed exposure time variable is a slightly more important than dose of fumigant. Treatment combination of 30 g SF/m3 and 18 hours exposure time and 15 g SF/m3 and 24 hours exposure time were effective to control termites inside wooden block with 10 cm thickness. Meanwhile, the effective treatment to penetrate 5 cm wooden block thickness was combination treatment of 10 g SF/m3 and 9 hours exposure time and to penetrate 2.5 cm wooden block thickness was combination treatment of 15 g SF/m3 and 6 hours exposure time.

(10)

© Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2015

Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan IPB

(11)

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains

pada

Program Studi Entomologi

HUBUNGAN DOSIS DAN LAMA PEMAPARAN SULFURIL

FLUORIDA PADA KAYU KARET DENGAN KETEBALAN

BERBEDA UNTUK PENGENDALIAN RAYAP KAYU KERING

SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR 2015

(12)
(13)
(14)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala atas segala karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Juni 2014 sampai Oktober 2014 ini ialah Hubungan Dosis dan Lama Pemaparan Sulfuril Fluorida pada Kayu Karet dengan Ketebalan Berbeda untuk Pengendalian Rayap Kayu Kering.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr Ir Idham Sakti Harahap MSi dan Bapak Dr Ir Swastiko Priyambodo MSi selaku pembimbing yang telah banyak memberi saran. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada Bapak Dr Ir Pudjianto MSi selaku ketua Program Studi Entomologi, Ibu Prof Dr Ir Sri Hendrastuti MSc selaku ketua Program Studi Fitopatologi dan Bapak Dr Ir Purnama Hidayat MSc selaku dosen penguji tamu serta staf pengajar Departemen Proteksi Tanaman IPB yang telah memberikan ilmu selama penulis mengikuti pendidikan sehingga dapat dijadikan bekal penulisan karya ilmiah ini. Ucapan terimakasih juga disampaikan kepada Badan Karantina Pertanian yang telah memberikan beasiswa Program Khusus Karantina pada Sekolah Pascasarjana IPB dan Kepala beserta staf Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karatina Pertanian atas bantuan sarana untuk pelaksanaan fumigasi kegiatan penelitian ini. Selain itu, penulis sampaikan terima kasih kepada teman-teman satu angkatan (2013-2014) atas bantuan dan dukungannya.

Ungkapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada ibu, serta seluruh keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya. Akhir kata penulis persembahkan untuk isteri tercinta serta ananda Nadiah Farizah Amirah Alfian dan Naufal Azka Saqib Alfian.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

(15)

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL ix

DAFTAR GAMBAR ix

DAFTAR LAMPIRAN x

PENDAHULUAN 1

Latar Belakang 1

Tujuan Penelitian 2

TINJAUAN PUSTAKA 3

Sulfuril Fluorida 3

Rayap 5

Cryptotermes cynocephalus Light 6

Hubungan Dosis dan Lama Pemaparan Fumigasi 8

BAHAN DAN METODE 10

Waktu dan Tempat 10

Alat dan Bahan 10

Penyiapan Serangga Uji 10

Uji Pendahuluan Aplikasi dan Daya Penetrasi Sulfuril Fluorida 10 Uji Lanjut Aplikasi dan Daya Penetrasi Sulfuril Fluorida 11

Pelaksanaan Fumigasi 11

Prosedur Analisis Data 12

HASIL DAN PEMBAHASAN 13

Uji Aplikasi dan Daya Penetrasi Sulfuril Fluorida 13 Hubungan Dosis dan Lama Pemaparan Sulfuril Fluorida 22

SIMPULAN DAN SARAN 27

Simpulan 27

Saran 27

DAFTAR PUSTAKA 28

LAMPIRAN 30

(16)

DAFTAR TABEL

1 Sifat fisik dan kimia fumigan sulfuril fluorida 4 2 Mortalitas kasta pekerja C. cynocephalus yang diberi perlakuan

fumigan sulfuril fluorida dengan lama pemaparan 6 jam pada ketebalan

kayu yang berbeda 13

3 Mortalitas kasta pekerja C. cynocephalus yang diberi perlakuan 6 dosis fumigan sulfuril fluorida dengan 4 lama pemaparan untuk pengujian

daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm 14

4 Penduga parameter toksisitas sulfuril fluorida terhadap mortalitas kasta pekerja C. cynocephalus dengan berbagai lama pemaparan untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm 16 5 Mortalitas kasta pekerja C. cynocephalus yang diberi perlakuan 5 dosis

fumigan sulfuril fluorida dengan 4 lama pemaparan untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 dan 2.5 cm 18 6 Penduga parameter toksisitas sulfuril fluorida terhadap mortalitas kasta

pekerja C. cynocephalus dengan berbagai lama pemaparan untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 dan 2.5 cm 20 7 Persamaan garis hasil analisis regresi dengan skala logaritmik

hubungan dosis dan lama pemaparan sulfuril fluorida untuk 3 tingkat

mortalitas 22

8 Kalkulasi Ct product 5 dosis fumigan sulfuril fluorida untuk pengujian

daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm 24

9 Kalkulasi Ct product 4 dosis fumigan sulfuril fluorida untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 dan 2.5 cm 26

DAFTAR GAMBAR

1 (a) Kasta pekerja, (b) kasta prajurit, (c) kepala kasta prajurit rayap C.

cynocpehalus 7

2 Balok uji dengan ukuran kayu yang berbeda-beda (50 cm x 5 cm x 5 cm, 50 cm x 10 cm x 10 cm, dan 50 cm x 20 cm x 20 cm) 11 3 Respon mortalitas kasta pekerja rayap C. cynocephalus terhadap

beberapa dosis fumigan sulfuril fluorida untuk pengujian daya penetrasi

pada ketebalan kayu 10 cm 15

4 Respon mortalitas kasta pekerja rayap C. cynocephalus terhadap beberapa lama pemaparan aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian

daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm 16

5 Respon mortalitas kasta pekerja rayap C. cynocephalus terhadap beberapa dosis fumigan sulfuril fluorida untuk pengujian daya penetrasi

pada ketebalan kayu: (A) 5 cm dan (B) 2.5 cm 19

6 Respon mortalitas kasta pekerja rayap C. cynocephalus terhadap beberapa lama pemaparan fumigan sulfuril fluorida untuk pengujian aplikasi dan daya penetrasi pada ketebalan kayu: (A) 5 cm dan (B) 2.5

cm 19

(17)

8 Hubungan dosis dan lama pemaparan aplikasi sulfuril fluorida terhadap kasta pekerja C. cynocephalus pada tingkat kematian 50, 90, dan 95% untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm (A); 5 cm

(B); 2.5 cm (C) 22

9 Grafik nilai Ct product 5 dosis fumigan sulfuril fluorida yang memberikan respon mortalitas rayap kayu kering 100% untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm 25 10 Grafik nilai Ct product 4 dosis fumigan sulfuril fluorida yang

memberikan respon mortalitas rayap kayu kering 100% untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 dan 2.5 cm 26

DAFTAR LAMPIRAN

1 Balok kayu karet dengan ukuran yang berbeda-beda 30

2 Peralatan fumigasi aplikasi sulfuril fluorida 31

3 Analisis ragam aplikasi sulfuril fluorida terhadap kasta pekerja C. cynocephalus untuk 6 dosis (0 – 30 g/m3) pada 4 lama pemaparan pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm 32 4 Analisis ragam aplikasi sulfuril fluorida terhadap kasta pekerja C.

cynocephalus untuk 2 taraf ketebalan kayu dengan 5 dosis (0 – 15 g/m3) pada 4 lama pemaparan pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 5

dan 2.5 cm 32

5 Kegiatan pelaksanaan fumigasi aplikasi sulfuril fluorida 33 6 Hasil analisis probit aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian daya

penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm dengan lama pemaparan 6 jam 36 7 Hasil analisis probit aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian daya

penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm dengan lama pemaparan 12 jam 37 8 Hasil analisis probit aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian daya

penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm dengan lama pemaparan 18 jam 38 9 Hasil analisis probit aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian daya

penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm dengan lama pemaparan 24 jam 39 10 Hasil analisis probit aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian daya

penetrasi pada ketebalan kayu 5 cm dengan lama pemaparan 1 jam 40 11 Hasil analisis probit aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian daya

penetrasi pada ketebalan kayu 5 cm dengan lama pemaparan 3 jam 41 12 Hasil analisis probit aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian daya

penetrasi pada ketebalan kayu 5 cm dengan lama pemaparan 6 jam 42 13 Hasil analisis probit aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian daya

penetrasi pada ketebalan kayu 5 cm dengan lama pemaparan 9 jam 43 14 Hasil analisis probit aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian daya

penetrasi pada ketebalan kayu 2.5 cm dengan lama pemaparan 1 jam 44 15 Hasil analisis probit aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian daya

penetrasi pada ketebalan kayu 2.5 cm dengan lama pemaparan 3 jam 45 16 Hasil analisis probit aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian daya

(18)

17 Hasil analisis probit aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 2.5 cm dengan lama pemaparan 9 jam 47 18 Hasil analisis regresi LD50 aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian

daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm 48

19 Hasil analisis regresi LD90 aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian

daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm 49

20 Hasil analisis regresi LD95 aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian

daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm 50

21 Hasil analisis regresi LD50 aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian

daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 cm 51

22 Hasil analisis regresi LD90 aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian

daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 cm 52

23 Hasil analisis regresi LD95 aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian

daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 cm 53

24 Hasil analisis regresi LD50 aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian

daya penetrasi pada ketebalan kayu 2.5 cm 54

25 Hasil analisis regresi LD90 aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian

daya penetrasi pada ketebalan kayu 2.5 cm 55

26 Hasil analisis regresi LD95 aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian

(19)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia merupakan negara dengan hutan tropis terbesar ketiga di dunia setelah Brazil dan Zaire. Hutan tropis tersebut kaya akan keanekaragaman tanaman hutan (Hezim 2014). Hutan sebagai suatu ekosistem menghasilkan sumberdaya alam berupa kayu yang digunakan sebagai bahan baku produk mebel untuk kebutuhan manusia. Keberadaan organisme perusak kayu sangat berpotensi untuk menimbulkan kerusakan yang berat pada produk hutan berupa kayu. Hal tersebut perlu mendapat perhatian mengingat salah satu produk ekspor unggulan Indonesia adalah dari sektor kehutanan.

Kesepakatan tentang penerapan ketentuan sanitari dan fitosanitari, Organisasi Perdagangan Dunia mempersyaratkan produk-produk yang yang akan diekspor bebas dari OPT yang belum ada di negara tujuan ekspor dan berdasarkan persyaratan negara pengimpor. Mengingat hal tersebut, maka kualitas dan kuantitas produk kayu di Indonesia perlu dijaga.

Salah satu hama utama pada produk kayu adalah rayap. Di Indonesia telah ditemukan tidak kurang dari 200 jenis rayap, lima jenis di antaranya tercatat sebagai perusak kayu dan bangunan gedung yang paling penting, yaitu Coptotermes curvignathus Holmgren, Schedorhinotermes javanicus Kemner, Macrotermes gilvus Hagen, Microtermes inspiratus Kemner, dan Cryptotermes cynocephalus Light (Pearce 1997).

Rayap yang banyak ditemukan merusak produk kayu adalah rayap kayu kering (C. cynocephalus). Serangan rayap kayu kering banyak mengakibatkan kerusakan pada produk kayu, kayu konstruksi bangunan, dan benda-benda lain di dalam bangunan. Kayu yang tidak awet apabila digunakan sebagai bahan bangunan di bawah atap atau sebagai perabot rumah tangga dapat diserang oleh rayap kayu kering segera setelah dipakai. Seringkali penampakan luar kayu yang terserang rayap kayu kering utuh, akan tetapi bagian dalamnya telah hancur (keropos).

Salah satu cara pengendalian rayap kayu kering adalah fumigasi. Fumigasi merupakan pengendalian hama dengan cara menggunakan fumigan dalam lingkungan yang tertutup pada konsentrasi dan lama pemaparan tertentu. Metil bromida telah digunakan selama 40 tahun terakhir sebagai bahan utama fumigasi dalam pengendalian serangga-serangga hama pada bahan simpanan, kemasan kayu, dan pengolahan pangan. Saat ini metil bromida telah dimasukkan ke dalam daftar bahan yang harus dihapus (phasing out) karena termasuk salah satu bahan kimia yang dapat menyebabkan menipisnya lapisan ozon (UNEP 1998). Di bawah ketentuan Protokol Montreal pada tahun 1998 beberapa negara telah mengurangi bahkan menghapus penggunaan metil bromida sebagai bahan fumigasi.

(20)

2

Hubungan antara dosis dan lama paparan fumigan sulfuril fluorida terhadap rayap kayu kering belum banyak diketahui sehingga perlu dilakukan penelitian tentang hal tersebut. Dosis dan lama pemaparan yang efektif juga harus divalidasi untuk fumigan sulfuril fluorida terhadap rayap kayu kering untuk menjamin lama paparan yang singkat dan dosis tinggi yang digunakan dalam pelaksanaan fumigasi. Selain itu, daya tembus sulfuril fluorida pada produk kayu sangat penting diketahui sebagai bahan kajian pengganti penggunaan fumigan metil bromida terhadap kemasan kayu yang selama ini digunakan berdasarkan ISPM No 15.

Tujuan Penelitian

(21)

3

TINJAUAN PUSTAKA

Sulfuril Fluorida

Fumigasi adalah tindakan perlakuan terhadap media pembawa organisme pengganggu tumbuhan dengan menggunakan fumigan ke dalam ruang yang kedap udara pada suhu dan tekanan tertentu. Fumigan bila diberikan dalam konsentrasi dan lama paparan yang sesuai akan dapat membunuh berbagai jenis serangga hama dan organisme tertentu (Anonimous 2007).

Dalam formulasi komersialnya, kandungan sulfuril fluorida (SO2F2) adalah 99.8% dan 0.2% bahan tambahan/inert, dikembangkan oleh perusahaan Dow Chemical di akhir 1950-an sebagai fumigan struktur (EPA 2003). Sulfuril flourida adalah bahan kimia yang tidak berbau dan tidak berwarna, tidak mudah terbakar, non-korosif, dan tidak bereaksi dengan bahan-bahan yang dapat menghasilkan bau atau residu (NPIC 2000).

Sulfuril flourida adalah fumigan berspektrum luas yang sangat baik, karena toksisitasnya yang tinggi terhadap hama sasaran, dispersi yang baik dan kualitas penetrasinya (Tabel 1). Fumigan ini biasanya digunakan untuk pengendalian berbagai hama rumah tangga, termasuk rayap, kumbang penggerek kayu, hama pada museum, kecoa, siput, dan binatang pengerat yaitu tikus dan mencit (EPA 2003).

Sulfuril fluorida memiliki cara kerja yang kompleks. Ion flourida yang terkandung dalam fumigan sulfuril fluorida terutama dapat menghambat serapan oksigen, mengganggu keseimbangan normal fosfat, dan menghambat hidrolisis (pemecahan) asam lemak. Ion flourida dalam sulfuril fluorida diperkirakan mengikat kalsium (dapat menyebabkan kejang-kejang), kalium, dan magnesium. Enzim yang memerlukan ion magnesium untuk fungsi normal dihambat oleh sulfuril fluorida. Enzim tersebut termasuk enolases yang digunakan untuk metabolisme gula dan ATP-ase yang merupakan enzim penting dalam energi sel metabolisme (Caroline 1997).

(22)

4

Tabel 1 Sifat fisik dan kimia fumigan sulfuril flourida

No Deskripsi Sulfuril fluorida

11 Tegangan permukaan 67.5 mN/m (90% larutan jenuh)

12 Spektrum UV Air murni

Untuk menentukan toksisitas sulfuril fluorida terhadap hewan dilakukan pengujian di laboratorium terhadap tikus dan marmut. Nilai LD50 acute oral adalah 100 mg/kg bobot tubuh hewan uji. Pada pengujian penghirupan jangka pendek, sulfuril fluorida cukup toksik (pengujian terhadap tikus, 1 jam LC50 = 17.5 mg/l dan 4 jam LC50 = 2.5 mg/l). Untuk pengujian penghirupan subkronis, peneliti melakukan pemaparan terhadap tikus dan kelinci untuk sulfuril fluorida 6 jam sehari selama 90 hari pada konsentrasi 0, 30, 100, dan 300 ppm. Efek yang diamati pada 100 dan 300 ppm menyebabkan penurunan berat badan, gigi berbintik-bintik, serta kerusakan pada otak, sistem saraf, hati, ginjal, dan paru-paru. Pada pengujian lainnya, hewan mati bila terkena konsentrasi 600 ppm (NPIC 2000).

(23)

5 janin (janin yang mati kemudian diserap ke dalam tubuh ibu) meningkat sekitar 30% untuk semua pengujian pemaparan. Selain itu, hasil penelitian lainnya menunjukkan kejadian tulang abnormal pada keturunan tikus meningkat untuk semua pengujian pemaparan (Caroline 1997).

Rayap

Rayap tergolong dalam Ordo Isoptera. Jenis rayap yang tersebar di seluruh dunia mencapai 2500 spesies yang terbagi ke dalam 7 famili, 15 subfamili, dan 200 genus. Rayap yang menjadi hama sekitar 120 spesies (Tarumingkeng 2001).

Rayap adalah kelompok serangga yang memiliki kemampuan mencerna selulosa, yaitu produk alami yang banyak terdapat di alam misalnya pada kayu, daun, batang, kertas, dan karton. Sudah sejak lama rayap diidentikkan dengan terjadinya kerusakan pada bangunan, komponen kayu dalam rumah, buku, arsip, dokumen serta beberapa jenis tanaman pertanian atau perkebunan seperti karet dan kelapa sawit yang tidak luput dari serangannya (Nandika et al. 2003).

Menurut Tarumingkeng (2001), berdasarkan lokasi sarang utama atau tempat tinggal, rayap perusak kayu dapat digolongkan pada tipe-tipe berikut, yaitu (1) rayap pohon, yaitu jenis-jenis rayap yang menyerang pohon yang masih hidup, bersarang dalam pohon, dan tidak berhubungan dengan tanah, (2) rayap kayu lembab, yaitu jenis-jenis rayap yang menyerang kayu mati dan lembab, bersarang dalam kayu, dan rayap tidak berhubungan dengan tanah, (3) rayap kayu kering, yaitu jenis-jenis rayap yang hidup dalam kayu mati yang telah kering dan rayap tidak berhubungan dengan tanah, (4) rayap subteran, yaitu jenis-jenis rayap yang umumnya hidup di dalam tanah yang mengandung banyak bahan kayu yang telah mati atau membusuk, tunggak pohon yang telah mati maupun yang masih hidup, dan bersarang dalam kayu yang diserang yang tidak berhubungan dengan tanah tetapi dalam kondisi lembab, dan (5) rayap tanah, yaitu jenis-jenis rayap yang bersarang dalam tanah terutama dekat dengan bahan organik yang mengandung selulosa seperti kayu, serasah, dan humus.

(24)

6

lubang masuk sulit untuk luput dari gigitan mandibelnya. Kasta pekerja merupakan anggota koloni yang sangat penting dalam koloni rayap. Tidak kurang dari 80% populasi dalam koloni rayap merupakan individu-individu pekerja (Tarumingkeng 2000). Kasta pekerja umumnya berwarna pucat dengan kutikula hanya sedikit mengalami penebalan sehingga tampak menyerupai nimfa. Fungsi kasta pekerja adalah mencari makan, merawat telur, membuat dan memelihara sarang, serta membunuh dan memakan rayap-rayap yang tidak produktif (Tambunan dan Nandika 1989).

Rayap dapat berkomunikasi dengan senyawa kimiawi (feromon) yang dikeluarkan dari tubuhnya dan biasanya menggunakan jejak kimiawi dalam mencari makanan. Rayap pekerja yang menemukan sumber makanan akan mengeluarkan feromon penanda jejak (trail following pheromone) yang diikuti oleh rayap pekerja yang berjalan di belakangnya. Rayap dapat menemukan sumber makanan karena mereka mampu untuk menerima dan menafsirkan setiap bau yang esensial bagi kehidupannya. Demikian juga gangguan yang muncul pada koloni dapat dengan cepat dikenali dengan feromon penanda bahaya (alarm pheromone) yang dikeluarkan rayap prajurit. Bau yang dapat dideteksi rayap berhubungan dengan sifat kimiawi feromonnya sendiri (Tarumingkeng 2001).

Menurut Nandika et al. (2003), dalam hidupnya rayap mempunyai beberapa sifat yang penting untuk diperhatikan, yaitu : sifat trophalaxis merupakan sifat rayap untuk berkumpul saling menjilat serta mengadakan pertukaran bahan makanan; sifat cryptobiotic merupakan sifat rayap yang menjauhi cahaya; sifat cannibalism merupakan sifat rayap untuk memakan individu sejenis yang lemah atau sakit, sifat ini lebih menonjol dalam keadaan kekurangan makanan; dan sifat necrophagy merupakan sifat rayap untuk memakan bangkai sesamanya.

Cryptotermes cynocephalus Light

Cryptotermes cynocephalus merupakan salah satu rayap kayu kering. Secara taksonomi C. cynocephalus termasuk dalam Filum Arthropoda, Kelas Insecta, Ordo Isoptera, Famili Kalotermitidae, Genus Cryptotermes (Nandika et al. 2003).

Rayap kayu kering merupakan jenis rayap yang sangat umum terdapat di daerah-daerah tropis, khususnya pada dataran rendah Jawa Barat, Sumatera, Kalimantan, dan Filipina. Penyebaran rayap kayu kering berhubungan dengan iklim lembab. Cryptotermes cynocephalus memiliki prajurit dengan panjang 3.8-4.4 mm, jumlah ruas antena 11-12 segmen (Gambar 1). Panjang kepala dengan mandibel 0.87-0.92 mm, panjang mandibel 0.50-0.57 mm, panjang labrum 0.10-0.11 mm dan lebarnya 0.16-0.17 mm. Pada kasta reproduktif muda berukuran 10 mm. Antenanya memiliki 11 segmen. Segmen kedua lebih panjang dibandingkan segmen lainnya (Nandika et al. 2003).

(25)

7 gerek/terowongan tidak berlapis kapur, berbentuk tidak teratur dengan lebar 3 mm atau lebih, agak memanjang searah serat, saling berhubungan sehingga menyerupai sarang lebah, berisi ekskremen tidak berbentuk serbuk tetapi butiran lonjong atau bulat berdiameter 0.6-0.8 mm, dan tidak terdapat bahan-bahan tanah (Tarumingkeng 2000). Rayap kayu kering menyerang kayu dalam keadaan kering dengan kadar air 10-12% (atau mungkin lebih rendah) yang dinaungi oleh atap pada kelembaban 15% sehingga dapat ditemukan dalam kayu yang benar-benar kering udara (Tambunan dan Nandika 1989).

(a) (b)

(c)

Gambar 1 (a) kasta pekerja, (b) kasta prajurit, (c) kepala kasta prajurit rayap C. cynocephalus

Serangan rayap kayu kering tidak mudah dideteksi sebab hidupnya terisolir di dalam kayu yang digunakan sebagai sarangnya. Tanda serangan rayap ini terdapat butiran-butiran halus, berwarna kecoklatan dengan ujung yang bulat di sekitar kayu yang terserang. Pada bagian luar kayu yang diserang terlihat masih utuh, tetapi bagian dalam telah berlubang-lubang atau rusak, sehingga jika ditekan dengan jari tangan akan nyata bahwa bagian dalamnya sudah hancur (Tarumingkeng 2000).

(26)

8

Hubungan Dosis dan Lama Pemaparan Fumigasi

Fumigasi sebagai cara pengendalian hama dapat dijelaskan secara sederhana sebagai pembentukan udara yang mengandung gas beracun dalam lingkungan yang tertutup pada konsentrasi tertentu dan lama pemaparan tertentu untuk mematikan hama. Tingkat dosis yang digunakan dan lama pemaparan sangat menentukan keefektifan dari suatu fumigan untuk mematikan hama sasaran.

Fumigasi yang efektif dapat dipastikan jika produk konsentrasi-lama pemaparan (Ct product) yang direkomendasikan telah mencapai atau melebihi. Ct product dikalkulasi dengan lama pemaparan dalam jam (h) selama konsentrasi gas yang ada pada saat pelaksanaan fumigasi dan dicatat dalam gram jam per meter kubik (g jam/m3). Jika konsentrasi dalam fumigation chamber tetap konstan, Ct product dapat dikalkulasi hanya dengan mengalikan konsentrasi dengan lama pemaparan. Ct product kemudian harus dihitung dengan menambahkan komponen Ct product yang diperoleh dari konsentrasi rata-rata pengamatan sekuensial dan mengalikannya dengan interval lama pemaparan masing-masing. Untuk fumigation chamber yang ditutup dengan sangat baik dan telah diuji tekanan dengan tingkat kehilangan gas sangat rendah, Ct product dapat dikalkulasi berdasarkan persamaan di bawah ini (FAO 2013) :

Ctn,n+1 =

Dosis (dosage) merupakan fungsi dari konsentrasi (C) dan lama pemaparan (t) (Wikns & Hyne 1994). Hukum Haber yang umum dipahami pada toksikologi, menyatakan C x t = konstan, yang berarti bahwa produk konsentrasi suatu fumigan di udara (C) dan lama pemaparan (t), produk konsentrasi lama pemaparan akan menghasilkan respon biologis yang identik. Jika variabel dosis dan lama pemaparan memiliki peran yang sama maka akan diperoleh hubungan yang sederhana dari bentuk hubungan konsentrasi dan lama pemaparan yaitu C x t = k, di mana k adalah konstanta yang menggambarkan dosis yang diperlukan untuk tingkat tertentu respon, misalnya mortalitas (Witschi 1999). Hubungan konsentrasi dan lama pemaparan berdasarkan Hukum Haber mungkin menjadi sebuah rumusan yang dapat mendeskripsikan secara baik untuk menghitung dosis dalam beberapa keadaan di lapangan, namun Hukum Haber tersebut tidak dapat memberikan penjelasan untuk hubungan dosis/respon lain jika terdapat lebih dari satu variabel dosis.

(27)
(28)

10

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat

Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Entomologi dan Workshop Fumigasi Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian (BUUTMKP), Jalan Raya Kampung Utan-Setu, Desa Mekar Wangi, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni hingga Oktober 2014.

Alat dan Bahan

Alat yang digunakan adalah fumigation chamber (± 2 m3), timbangan digital, alat pengukur dosis (interferometer), alat pendeteksi kebocoran (leak detector), Self-contained Breathing Apparatus (SCBA), eye protection (full face mask), protective clothing (baju lengan panjang, sepatu dan kaus kaki), selang monitor, selang distribusi, plastik, kipas angin/blower, dan bor. Bahan yang digunakan adalah fumigan sulfuril fluorida, balok kayu karet (kadar air 15%) dengan variasi ketebalan kayu (2.5; 5; dan 10 cm), rayap kayu kering C. cynocephalus, dan kontainer plastik untuk rearing.

Penyiapan Serangga Uji

Rayap kayu kering C. cynocephalus dikumpulkan dari koloni lapangan kemudian diaklimatisasikan selama 3-5 hari dalam kontainer plastik yang berisi kayu karet dan disimpan di laboratorium pada suhu ruang.

Uji Pendahuluan Aplikasi dan Daya Penetrasi Sulfuril Fluorida

Uji pendahuluan dilakukan untuk menentukan kisaran lama pemaparan minimal yang diperlukan dalam pelaksanaan perlakuan fumigasi yang dikombinasikan dengan kisaran dosis yang digunakan pada uji lanjut. Uji pendahuluan dilakukan dengan melakukan perlakuan fumigasi sulfuril fluorida terhadap balok uji berupa balok kayu karet dengan 3 taraf ketebalan kayu yaitu ukuran 50 cm × 20 cm × 20 cm (ketebalan 10 cm), 50 cm × 10 cm × 10 cm (ketebalan 5 cm) dan 50 cm × 5 cm × 5 cm (ketebalan 2.5 cm). Balok uji dipotong menjadi 2 bagian sama panjang dan pada kedua potongan kayu dibor dengan ke dalaman 10 cm dan diameter lubang bor 0.5 cm (Gambar 2 dan Lampiran 1).

(29)

11

Gambar 2 Balok uji dengan ukuran kayu yang berbeda-beda (50 cm × 5 cm × 5 cm, 50 cm × 10 cm ×10 cm, dan 50 cm × 20 cm × 20 cm)

Uji Lanjut Aplikasi dan Daya Penetrasi Sulfuril Fluorida

Uji lanjut dilakukan dengan perlakuan fumigasi sulfuril fluorida terhadap balok uji yang sama pada uji pendahuluan yang telah diinfestasikan serangga uji sebanyak 50 ekor rayap kasta pekerja dengan 3 taraf ketebalan kayu. Untuk uji daya penetrasi 10 cm, fumigasi dilakukan dengan menggunakan 6 taraf dosis yaitu : 0, 10, 15, 20, 25, dan 30 g/m3 dengan lama pemaparan 6, 12, 18, dan 24 jam. Untuk uji daya penetrasi 5 dan 2.5 cm, fumigasi dilakukan dengan menggunakan 5 taraf dosis yaitu : 0, 2, 5, 10, dan 15 g/m3 dengan lama pemaparan 1, 3, 6, dan 9 jam. Masing-masing perlakuan dilakukan dengan 4 ulangan.

Pelaksanaan Fumigasi

a. Persiapan bahan uji

Balok uji (3 taraf ketebalan kayu) diinfestasikan rayap kayu kering ke dalam lubang uji kemudian balok kayu disatukan lagi dengan menggunakan lakban hitam dan bening.

b. Peletakan bahan uji

Ruang fumigasi berupa fumigation chamber (± 2 m3) diisi dengan komoditas kayu yang telah diinfestasi serangga. Masing-masing bahan uji diletakkan di dalam fumigation chamber, kemudian fumigation chamber ditutup dan dipastikan kedap udara.

c. Pemasangan selang monitor

Sebelum fumigation chamber ditutup sempurna, dipasang instalasi selang kapiler (selang monitor) untuk memonitor gas fumigan dengan posisi ujung selang di tengah-tengah, sedangkan ujung selang lainnya dikeluarkan dari ruang fumigasi.

d. Pelepasan gas

Sebelum pelepasan gas (gasing), terlebih dahulu dilakukan penghitungan dosis aplikasi fumigan yang digunakan. Pelepasan gas pada setiap fumigation chamber dilakukan dengan cara memasukkan fumigan dengan dosis tertentu ke ruang fumigasi. Setelah dilakukan pelepasan gas, dilakukan penutupan lubang bekas gas fumigan dimasukan dan menempelkan tanda peringatan pada fumigation chamber.

(30)

12

Pengukuran konsentrasi gas di dalam fumigation chamber sangat penting agar dapat menentukan konsentrasi gas dengan lama pemaparan selama proses fumigasi. Monitoring ini dilakukan dengan alat pengukur konsentrasi yang dihubungkan dengan ujung selang plastik monitor. Suhu udara luar diukur dengan menggunakan termometer digital.

f. Pembebasan ruang fumigasi

Pembebasan gas (aerasi) dilakukan setelah proses lama pemaparan gas tercapai sesuai masing-masing perlakuan. Pembebasan gas dilakukan dengan membuka plastik pada salah satu bagian sisi fumigation chamber setelah dipastikan bahwa lingkungan tempat fumigasi aman dengan bantuan blower dan belalai pembuangan udara.

g. Pengamatan mortalitas serangga uji

Pengamatan serangga dilakukan di bawah mikroskop dengan mengamati mati atau tidaknya serangga uji tersebut. Pengamatan mortalitas juga dilakukan terhadap serangga yang tidak diberi perlakuan fumigasi (kontrol).

Analisis Data

(31)

13

HASIL DAN PEMBAHASAN

Uji Aplikasi dan Daya Penetrasi Sulfuril Fluorida

Pelaksanaan aplikasi fumigan sulfuril fluorida dilakukan di gedung workshop fumigasi dengan suhu ruangan tempat peletakan fumigation chamber berkisar antara 29 – 33 °C dengan kelembaban relatif (RH) berkisar antara 49 – 79%.

Uji Pendahuluan Aplikasi dan Daya Penetrasi

Hasil uji pendahuluan aplikasi sulfuril fluorida dan daya penetrasinya pada ketebalan kayu 10 cm menunjukkan penggunaan 3 dosis fumigan sulfuril fluorida (10-20 g/m3) dengan lama pemaparan 6 jam menyebabkan mortalitas serangga uji < 20%. Hal ini kemungkinan karena lama pemaparan yang kurang atau dosis yang digunakan masih rendah sehingga fumigan sulfuril fluorida belum dapat memenetrasi kayu setebal 10 cm. Oleh karena itu, dilakukan pengujian lanjutan menggunakan dosis yang lebih tinggi dan lama pemaparan yang lebih lama. Sementara itu, hasil uji pendahuluan untuk daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 dan 2.5 cm pada dosis 10 g/m3, secara berurutan menyebabkan mortalitas serangga uji sebesar 88.0% dan 99.7% sedangkan untuk dosis 15 dan 20 g/m3 menyebabkan mortalitas serangga uji sebesar 100%. Hal ini diakibatkan dosis yang digunakan cukup besar dan lama pemaparan yang cukup lama. Oleh karena itu, dilakukan pengujian lanjutan menggunakan dosis yang lebih rendah dan lama pemaparan yang lebih singkat (Tabel 2).

Tabel 2 Mortalitas kasta pekerja C. cynocephalus yang diberi perlakuan fumigan sulfuril fluorida dengan lama pemaparan 6 jam pada ketebalan kayu menunjukan tidak berbeda nyata berdasarkan uji Tukey dengan taraf 5%

Uji Lanjut Aplikasi dan Daya Penetrasi

(32)

14

Tingkat mortalitas kasta pekerja rayap C. cynocephalus pada uji lanjut aplikasi dan daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm dapat dilihat pada Tabel 3. Secara umum, mortalitas serangga uji akibat aplikasi sulfuril fluorida meningkat dengan semakin tingginya dosis dan peningkatan lama pemaparan. Pada pengujian dengan lama pemaparan 6 dan 12 jam dengan dosis tertinggi tidak menyebabkan mortalitas serangga uji sebesar 100%. Sementara itu, untuk aplikasi dengan lama pemaparan 24 jam hanya dosis terendah (10 g/m3) yang tidak memberikan hasil mortalitas serangga uji sebesar 100%.

Tabel 3 Mortalitas kasta pekerja C. cynocephalus yang diberi perlakuan 6 dosis fumigan sulfuril fluorida dengan 4 lama pemaparan untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm

Rata-rata persentase mortalitas yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata berdasarkan uji Tukey dengan taraf 5%

Tingkat mortalitas serangga uji meningkat tajam pada perlakuan dengan lama pemaparan 12 dan 18 jam untuk pengujian aplikasi dan daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm. Untuk perlakuan dengan lama pemaparan 12 jam terjadi peningkatan dari 46.5% (dosis 20 g/m3) menjadi 85% (dosis 25 g/m3). Sedangkan untuk perlakuan dengan lama pemaparan 18 jam terjadi peningkatan dari 39.5% (dosis 10 g/m3) menjadi 94.5% (dosis 20 g/m3). Mortalitas rayap C. cynocephalus mencapai 100% dengan perlakuan menggunakan dosis 30 g/m3 dengan lama pemaparan 18 jam dan dosis 15 g/m3 pemaparan 24 jam. Penelitian yang dilakukan Su & Scheffrahn (1986) menggunakan Cryptotermes cavifrons yang diletakkan dalam kotak kayu dengan ketebalan kayu 3.8 cm menunjukkan penggunaan dosis 3 mg/liter pada 10 jam pemaparan, 6 mg/liter pada 8 jam pemaparan, dan 12 mg/liter pada 6 jam pemaparan memberikan mortalitas 100%.

(33)

15 Pola hubungan antara dosis fumigan sulfuril fluorida dengan mortalitas kasta pekerja rayap C. cynocephalus menurut lamanya pemaparan fumigan menunjukkan pola hubungan yang searah (positif), yaitu bertambahnya dosis diikuti dengan meningkatnya mortalitas rayap C. cynocephalus (Gambar 3). Respon mortalitas kasta pekerja rayap C. cynocephalus pada lama pemaparan 18 jam dengan dosis fumigan sulfuril fluorida 10, 15, dan 20 g/m3 terjadi pola peningkatan mortalitas rayap C. cynocephalus yang sangat tinggi yaitu 39.5; 63.5; dan 94.5%. Pola peningkatan mortalitas rayap C. cynocephalus pada lama pemaparan 6 jam menjadi tinggi pada penggunaan dosis 20, 25, dan 30 g/m3. Sementara itu, untuk lama pemaparan 12 jam pola peningkatan mortalitas rayap C. cynocephalus menjadi tinggi pada penggunaan dosis 15, 20, dan 25 g/m3.

30 beberapa dosis fumigan sulfuril fluorida untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm. ● 6 jam, ---■--- 12 jam, ---♦--- 18 jam, ▲-- 24 jam.

(34)

16

Gambar 4 Respon mortalitas kasta pekerja rayap C. cynocephalus terhadap beberapa lama pemaparan aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm. ● 0 g/m3, ---■

---10 g/m3, ---♦--- 15 g/m3, ▲-- 20 g/m3, ►-- 25 g/m3, ◄ 30 g/m3.

Data mortalitas uji lanjut aplikasi sulfuril fluorida dan daya penetrasinya pada ketebalan kayu 10 cm untuk 4 lama pemaparan terdapat dosis yang menghasilkan tingkat mortalitas ≥ 50% sehingga selanjutnya diolah dengan analisis probit untuk menentukan nilai LD50 dan LD95. Hasil analisis probit untuk semua uji lanjut aplikasi sulfuril fluorida menunjukkan bahwa nilai LD50 dan LD95 semakin kecil dengan meningkatnya lama pemaparan (Tabel 4). Hal ini sesuai dengan terjadinya peningkatan mortalitas mulai dari lama pemaparan 6 dan 12 jam serta peningkatan mortalitas semakin tinggi pada lama pemaparan 18 dan 24 jam.

Tabel 4 Penduga parameter toksisitas sulfuril fluorida terhadap mortalitas C. cynocephalus kasta pekerja dengan berbagai lama pemaparan untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm

a: intersep garis regresi probit; b: kemiringan garis regresi probit; GB: Galat baku; SK : Selang kepercayaan

(35)

17 sulfuril fluorida. Nilai LD95 untuk masing-masing lama pemaparan 6, 12, 18, dan 24 jam secara berurutan adalah 41.337; 32575; 21.894; dan 9.963 g/m3. Nilai LD50 mengalami penurunan dari lama pemaparan 6 jam ke 18 dan 24 jam secara berurutan sebesar 48.51% dan 61.19%. Sedangkan untuk nilai LD95 mengalami penurunan dari lama pemaparan 6 jam ke 18 dan 24 jam secara berurutan sebesar 47.04% dan 75.90%. Hal ini kemungkinan karena dengan semakin lama pemaparan maka fumigan sulfuril fluorida mampu menembus kayu dengan ketebalan kayu 10 cm melalui pori-pori kayu.

Hasil analisis ragam pengaruh dosis sulfuril fluorida dan lama pemaparan terhadap mortalitas kasta pekerja rayap C. cynocephalus untuk aplikasi sulfuril fluorida dan daya penetrasinya pada ketebalan kayu 5 dan 2.5 cm menunjukkan bahwa perlakuan menggunakan 2 taraf ketebalan kayu, 5 taraf dosis sulfuril fluorida (0, 2, 5, 10, dan 15 g/m3) dan 4 lama pemaparan aplikasi sulfuril fluorida (1, 3, 6, dan 9 jam) berpengaruh sangat nyata terhadap respon mortalitas serangga uji (F-hit > F-tab) pada P = 0.01. Selain itu, interaksi antara perlakuan menggunakan 2 taraf ketebalan kayu dengan 5 taraf dosis, 2 taraf ketebalan kayu dengan 4 lama pemaparan, 5 taraf dosis dengan 4 lama pemaparan serta interaksi antara ketiga perlakuan tersebut (2 taraf ketebalan kayu, 5 taraf dosis, dan 4 lama pemaparan) juga menunjukkan berpengaruh sangat nyata terhadap respon mortalitas serangga uji (F-hit > F-tab) pada P = 0.01 (lampiran 4).

Hasil uji lanjut aplikasi sulfuril fluorida dan daya penetrasinya pada ketebalan kayu 5 dan 2.5 cm dapat dilihat pada Tabel 5. Seperti pada daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm, uji lanjut pada ketebalan kayu 5 dan 2.5 cm menghasilkan mortalitas serangga uji yang makin meningkat dengan semakin besarnya dosis dan peningkatan lama pemaparan. Aplikasi dengan lama pemaparan 1 jam daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 dan 2.5 cm, secara berurutan menghasilkan mortalitas di bawah 10% dan 20%. Aplikasi dengan lama pemaparan 3 jam, daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 cm hanya menghasilkan mortalitas 59.5% sedangkan daya penetrasi pada ketebalan kayu 2.5 cm sudah mencapai mortalitas 96%. Mortalitas serangga uji mencapai 100% dicapai pada lama pemaparan 9 jam dengan dosis aplikasi yang tertinggi (15 g/m3) untuk daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 cm, sedangkan daya penetrasi pada ketebalan kayu 2.5 cm, mortalitas telah mencapai 100% dengan lama pemaparan 6 jam.

Tingkat mortalitas serangga uji meningkat tajam pada perlakuan dengan lama pemaparan 6 jam untuk pengujian aplikasi dan daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 dan 2.5 cm. Untuk daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 cm terjadi peningkatan dari 28.5% (dosis 5 g/m3) menjadi 72.5% (dosis 10 g/m3). Sedangkan untuk daya penetrasi pada ketebalan kayu 2.5 cm terjadi peningkatan dari 46.0% (dosis 5 g/m3) menjadi 99.0% (dosis 10 g/m3). Uji efikasi yang dilakukan oleh Bess dan Ota (1960) menggunakan Cryptotermes brevis yang disimpan dalam kotak kayu menunjukkan hasil aplikasi fumigan sulfuril fluorida dengan lama pemaparan minimal 1.5 jam dengan konsentrasi 32 mg/liter dengan cepat memenetrasi kayu sebesar 3.2 cm dan menghasilkan mortalitas rayap C. brevis sebesar 100%.

(36)

18

aplikasi dan daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 cm, perlakuan dosis 2 dan 5 g/m3 dengan lama pemaparan selama 1 jam serta dosis 2 g/m3 pemaparan dengan 3 jam memberikan hasil mortalitas serangga uji yang tidak berbeda nyata dengan kontrol. Sedangkan pada pengujian aplikasi dan daya penetrasi pada ketebalan kayu 2.5 cm perlakuan dosis 2 g/m3 dengan lama pemaparan selama 1 dan 3 jam yang memberikan hasil mortalitas serangga uji yang tidak berbeda nyata dengan kontrol. Sementara itu, perlakuan menggunakan dosis 15 g/m3 dengan lama pemaparan 6 jam serta dosis 10 dan 15 g/m3 pemaparan 9 jam menunjukkan hasil mortalitas serangga uji yang tidak berbeda nyata untuk daya penetrasi 5 dan 2.5 cm.

Tabel 5 Mortalitas kasta pekerja C. cynocephalus yang diberi perlakuan 5 dosis fumigan dengan 4 lama pemaparan untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 dan 2.5 cm

Rata-rata persentase mortalitas yang diikuti oleh huruf yang sama menunjukan tidak berbeda nyata berdasarkan uji Tukey taraf 5%

(37)

19

Gambar 5 Respon mortalitas kasta pekerja rayap rayap C. cynocephalus terhadap beberapa dosis fumigan sulfuril fluorida untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu: (A) 5 cm dan (B) 2.5 cm. ● 1 jam,

---■--- 3 jam, ---♦--- 6 jam, ▲-- 9 jam.

Pola hubungan antara lama pemaparan fumigan sulfuril fluorida dengan mortalitas rayap C. cynocephalus untuk pengujian aplikasi dan daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 dan 2.5 cm menurut dosis fumigan menunjukkan pola hubungan yang searah (positif) yaitu makin lama pemaparan maka tingkat mortalitas rayap C. cynocephalus semakin meningkat (Gambar 6). Respon mortalitas rayap C. cynocephalus untuk pengujian aplikasi dan daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 dan 2.5 cm dengan dosis 2 g/m3 dengan lama pemaparan 1 – 6 jam menunjukkan pola peningkatan mortalitas yang rendah sedangkan dengan lama pemaparan 6 – 9 jam menunjukkan pola peningkatan yang tajam. Untuk pengujian aplikasi dan daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 cm, perlakuan dengan dosis 5, 10, dan 15 g/m3, pola peningkatan mortalitas rayap C. cynocephalus tinggi dengan lama pemaparan 1 – 9 jam. Untuk pengujian aplikasi dan daya penetrasi pada ketebalan kayu 2.5 cm, perlakuan dengan dosis 10 dan 15 g/m3, pola peningkatan mortalitas rayap C. cynocephalus tinggi dengan lama pemaparan 1 dan 3 jam tetapi pada lama pemaparan 3 – 9 jam, pola peningkatan mortalitas rayap C. cynocephalus sangat rendah.

(38)

20

Data mortalitas uji lanjut untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 dan 2.5 cm, dari 4 lama pemaparan yang diaplikasikan terdapat 3 lama pemaparan dengan dosis yang menghasilkan tingkat mortalitas ≥ 50% sehingga selanjutnya dilakukan analisis probit untuk menentukan nilai LD50 dan LD95. Hasil analisis probit untuk semua uji lanjut aplikasi dan pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 dan 2.5 cm menunjukkan bahwa nilai LD50 dan LD95 semakin kecil dengan meningkatnya lama pemaparan aplikasi (Tabel 6). Hal ini sesuai dengan terjadinya peningkatan mortalitas mulai dari lama pemaparan 3 sampai dengan 9 jam.

Tabel 6 Penduga parameter toksisitas sulfuril fluorida terhadap mortalitas kasta pekerja C. cynocephalus dengan berbagai lama pemaparan untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 dan 2.5 cm

Lama

a: intersep garis regresi probit; b: kemiringan garis regresi probit; GB: Galat baku; SK : Selang kepercayaan

Berdasarkan nilai LD50 dan LD95 untuk uji lanjut aplikasi sulfuril fluorida dan daya penetrasinya pada ketebalan kayu 5 dan 2.5 cm menunjukkan bahwa lama pemaparan fumigan sulfuril fluorida memiliki pengaruh terhadap toksisitas sulfuril fluorida. Nilai LD95 untuk daya penetrasi 5 dan 2.5 cm dengan lama cm, nilai LD50 mengalami penurunan dari lama pemaparan 3 jam ke 6 dan 9 jam secara berurutan sebesar 30.98% dan 88.59% sedangkan untuk nilai LD95 mengalami penurunan secara berurutan sebesar 33.09% dan 72.72%.

(39)

21 bagian dalam kayu karena kayu tersusun dari sel-sel yang telah mati sehingga pada bagian tengah sel akan akan terbentuk rongga, bahkan antar dinding sel pun terdapat rongga penghubung (noktah). Oleh karena kayu bersifat porus sehingga memungkinkan terjadinya aliran bahan berwujud cair apalagi gas masuk ke dalam kayu (Haygreen 1993).

Sumber : Pandit & Kurniawan 2008

Gambar 7 Struktur anatomi kayu karet berupa pori yang terlihat berdasarkan penampang transversal kayu karet (perbesaran 30x)

(40)

22

Hubungan Dosis dan Lama Pemaparan Sulfuril Fluorida

Bentuk umum hubungan antara dosis dan lama pemaparan adalah Cn t = k (Winks 1984), dimana C, konsentrasi; t, lama pemaparan; n, indeks toksisitas; k, dosis untuk tingkat kematian spesifik. Indeks toksisitas memberikan ukuran relatif pentingnya konsentrasi dan lama pemaparan untuk menghasilkan dosis (dosage).

Berdasarkan hasil analisis regresi dengan skala logaritmik, hubungan antara dosis dan lama pemaparan untuk pengujian aplikasi dan daya penetrasi pada ketebalan kayu 10, 5, dan 2.5 cm diperoleh persamaan garis untuk 3 tingkat mortalitas 50, 90, dan 95% (Tabel 7 dan Gambar 8).

Tabel 7 Persamaan garis hasil analisis regresi dengan skala logaritmik hubungan dosis dan lama pemaparan sulfuril fluorida untuk 3 tingkat mortalitas Dosis

(41)

23 Untuk pengujian aplikasi dan daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm, dari persamaan regresi tersebut diperoleh hubungan antara dosis dan lama pemaparan dari model Cn t = k sebagai berikut: LD50 : C1.465t = 661.94; LD90 : C1.140t = 425.40; LD95 : C1.072t = 388.11. Sementara itu, untuk pengujian aplikasi dan daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 dan 2.5 cm diperoleh hubungan antara dosis dan lama pemaparan secara berurutan sebagai berikut: LD50 : C0.465t = 11.10; LD90 : C0.469t = 18.54; LD95 : C0.470t = 21.47 dan LD50 : C0.549t = 9.21; LD90 : C0.786t = 24.73; LD95 : C0.895t = 39.06.

Nilai indeks toksisitas pada pengujian aplikasi dan daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm adalah > 1 maka model tersebut menunjukkan bahwa variabel dosis fumigan merupakan variabel yang memberikan pengaruh yang lebih besar daripada variabel lama pemaparan terhadap keefektifan dosis (dosage) untuk pengendalian rayap kayu kering. Sementara itu, untuk pengujian aplikasi dan daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 dan 2.5 cm diperoleh nilai indeks toksisitas < 1, maka model tersebut menunjukkan bahwa variabel lama pemaparan merupakan variabel yang memberikan pengaruh yang lebih besar daripada variabel dosis fumigan terhadap keefektifan dosis (dosage) untuk pengendalian rayap kayu kering. Penelitian yang dilakukan oleh Su et al. (1989) menggunakan rayap Coptotermes formosanus yang dipaparkan langsung dengan fumigan sulfuril fluorida dengan cara diletakkan di cawan petri menunjukkan bahwa C0.93t = k merupakan model yang menggambarkan hubungan terhadap efikasi fumigan sulfuril fluorida untuk pengendalian rayap C. formosanus. Nilai indeks toksisitas antara pengujian aplikasi dan daya penetrasi pada ketebalan kayu kayu 10 cm berbeda dengan 5 dan 2.5 cm karena dosis fumigan dan lama pemaparan aplikasi berbeda. Untuk pengujian aplikasi dan daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 dan 2.5 cm dosis fumigan sulfuril fluorida yang digunakan rendah. Menurut Su & Scheffrahn (1986), penyimpangan dari model sederhana Cn t = k terjadi ketika sulfuril fluorida menembus hambatan kayu yang basah untuk mencapai C. formosanus yang dihasilkan pada konsentrasi rendah. Hal ini disebabkan kelarutan fumigan sulfuril fluorida dalam air (20 °C) yang rendah yaitu 1040 mg/l (Leis 2007).

(42)
(43)

25

Gambar 9 Grafik nilai Ct product 5 dosis fumigan sulfuril fluorida yang memberikan respon mortalitas rayap kayu kering 100% untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm. ♦ 10 menunjukkan nilai Ct product yang semakin meningkat dengan semakin lamanya lama pemaparan. Nilai Ct product untuk daya penetrasi 5 dan 2.5 cm dengan perlakuan menggunakan dosis 2, 5, 10, dan 15 g/m3 yang diaplikasikan dengan lama pemaparan 9 jam secara berurutan sebesar 26.5; 75.3; 94.0; dan 130.0 g jam/m3.

(44)

26

Tabel 9 Kalkulasi Ct product 4 dosis fumigan sulfuril fluorida untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 dan 2.5 cm

(45)

27

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Hubungan dosis dan lama pemaparan sulfuril fluorida untuk penetrasi kayu karet setebal 10 cm menunjukkan variabel dosis fumigan merupakan variabel yang memberikan pengaruh yang lebih besar daripada variabel lama pemaparan terhadap keefektifan dosis (dosage) sedangkan untuk penetrasi kayu karet setebal 5 dan 2.5 cm menunjukkan hal yang sebaliknya. Aplikasi sulfuril fluorida pada balok kayu karet dengan ketebalan 10 cm untuk pengendalian rayap kayu kering efektif dilakukan dengan dosis 30 g/m3 dan lama pemaparan 18 jam atau dosis 15 g/m3 pemaparan 24 jam. Sementara itu, untuk aplikasi pada kayu karet dengan ketebalan 5 cm efektif dilakukan dengan dosis 10 g/m3 pemaparan 9 jam dan untuk ketebalan kayu karet 2.5 cm efektif dilakukan dengan dosis 15 g/m3 pemaparan 6 jam.

Saran

(46)

28

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2007. Manual Fumigasi Fosfin. Badan Karantina Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta.

Caroline C. 1997. Fumigant factsheet: sulfuryl fluoride. Journal of Pesticide Reform. 17(2):17-20.

Dow AgroSciences. 1999. General information on Vikane Gas Fumigant [internet]. Indianapolis (US): Dow AgroSciences LLC; [diunduh 2014 Juni 2]. Tersedia pada: http://www.pestgon.com/ PDF / General % 20 Information % 20on % 20 Vikane.pdf.

Dow AgroSciences. 2002. Sulfuryl fluoride gas fumigant [internet]. Indianapolis (US): Dow AgroSciences LLC; [diunduh 2014 Mei 24]Tersedia pada: http://msdssearch.dow.com/PublishedLiteratureDAS/dh_0061/0901b8038 00618fb.pdf.

[EPA] Environmental Protection Agency. 2003. Structural fumigation using sulfuryl fluoride: DowElanco's Vikane™ gas fumigant [internet]. North Carolina: Office of Research and Development United States EPA; [diunduh 2014 Maret 7]. Tersedia pada: http://www.epa.gov/ spdpublc / mbr / casestudies/volume2/sulfury2.html.

[FAO] Food and Agriculture Organizatiton. 2013. Towards integrated commodity and pest management in grain storage [internet]. Roma (IT): Agriculture and Consumer Protection FAO; [diunduh 2014 Desember 5]. Tersedia pada: http://www.fao.org/docrep/x5048e/x5048e0s.htm.

Hasan T. 1986. Rayap dan Pemberantasannya: Penanggulangan dan Pencegahan. Jakarta (ID): Yasaguna.

Haygreen JG. 1993. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu. Yogyakarta (ID): Gajah Mada University Press.

Hezim F. 2014. Rusaknya sumber daya hutan akibat penebangan liar (illegal logging) [internet]. Surabaya (ID): Pusat Studi Ilmu dan Teknologi Lingkungan Universitas Airlangga; [diunduh 2014 Mar 10]. Tersedia pada: http://fairulfh.blogspot.com/ 2014 / 01 / makalah - rusaknya-sumber-daya-hutan.html.

Krieger RI, editor. 2001. Handbook of Pesticide Toxicology. 2nd ed. Volume 2 Agents. California (US): Academic Press.

Krishna K, Weesner FM, editor. 1969. Biology of Termites. Vol 2. New York and London: Academic Press.

(47)

29

Rahmawati D. 1996. Perkiraan kerugian ekonomis akibat serangan rayap pada bangunan perumahan di Indonesia [skripsi]. Bogor: Fakultas Kehutanan IPB Su NY, Scheffrahn RH. 1986. Field comparison of sulfuryl fluoride susceptibility

among three termite species (Isoptera: Kalotermitidae, Rhinotermitidae). J Econ Entomol. 79:903-908.

Schneider BM, Hartsell PL. 1998. Control of stored product pests with Vikane® gas fumigant (sulfuryl fluoride). Di dalam: Highley E et al., editor. Stored Product Protection. Proceedings of the 7th International Working Conference on Stored-Product Protection; 1998 October 14-19; Beijing (CN). Chengdu (CN): Sichuan Publishing House of Science and Technology. Hlm 406-408.

Su NY, Osbrink WLA, Scheffrahn RH. 1989. Concentration-time relationship for fumigant efficacy of sulfuryl fluoride against the formosan subterranean termite (Isoptera: Rhinotermitedae). J. Econ. Entomol. 82(1): 156-158. Tambunan B, Nandika D. 1989. Deteriorasi Kayu oleh Faktor Biologis. Bogor

(ID): Pusat Antar Universitas Bioteknologi, Institut Pertanian Bogor.

Tarumingkeng RC. 2000. Manajemen Deteriorasi Hasil Hutan. Jakarta (ID): UKRIDA Press.

Tarumingkeng RC. 2001. Biologi dan perilaku rayap [internet]. Bogor (ID): Pusat Studi Ilmu Hayati Institut Pertanian Bogor; [diunduh 2014 Mar 7]. Tersedia pada: http://www.rudyct.com/biologi_dan_perilaku_rayap.htm. [UNEP] United Nations Environment Programme. 1998. Report of the Methyl

Bromide Technical Options Comitte. Assessment of alternatives to Methyl Bromide. United Nations Enviroment Programme. Nairobi. ISBN: 92-807-1730-8

Winks RG. 1984. The toxicity of phosphine to adults of Tribolium castaneum (Herbst): time as a dosage factor. J Stored Prod Res. 20:45-56.

Winks RG, Hyne EA. 1994. Measurement of resistance to grain fumigants with particular reference to phosphine. Di dalam: Highley E et al., editor. Stored Product Protection. Proceedings of the 6th International Working Conference on Stored-Product Protection; 1994 April 17-23; Canberra (AU). Walligford (UK): CAB International. Hlm 244-250.

(48)

30

Lampiran 1 Balok kayu karet dengan ukuran kayu yang berbeda-beda

A. Balok kayu karet dengan ukuran 50 cm x 20cm x 20 cm

B. Balok kayu karet dengan ukuran 50 cm x 10 cm x 10 cm

(49)

31 Lampiran 2 Peralatan fumigasi aplikasi sulfuril fluorida

A. Fumigation chamber (± 2 m3)

B. Timbangan digital dan tabung fumigan sulfuril fluorida

(50)

32

Lampiran 3 Analisis ragam aplikasi sulfuril fluorida terhadap kasta pekerja C. cynocephalus untuk 6 dosis (0 – 30 g/m3) pada 4 lama pemaparan pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm

Sumber DB JK KT Fhit Ftabel

0.05 0.01 Dosis (D) 5 62737.5 12547.5 191.70** 2.342 3.283 Lama

pemaparan (t)

3 30430.3 10143.4 154.97** 2.732 4.066

D x t 15 10413.5 694.2 10.61** 1.808 2.298

Galat 72 4712.7 65.5

Total 95 108294.0

Keterangan : **) berbeda nyata pada P = 0.01

Lampiran 4 Analisis ragam aplikasi sulfuril fluorida terhadap kasta pekerja C. cynocephalus untuk 2 taraf ketebalan kayu dengan 5 dosis (0 – 15 g/m3) pada 4 lama pemaparan pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 dan 2.5 cm

Sumber DB JK KT Fhit Ftabel

0.05 0.01 Ketebalan

kayu (K) 1 2870.9 2870.9 106.08** 3.920 6.851 Dosis (D) 4 87587.5 21896.9 809.05** 2.447 3.480 Lama

pemaparan (t)

3 59872.0 19957.3 737.38** 2.680 3.949

K x D 4 1212.2 303.1 11.20** 2.447 3.480

K x t 3 1069.4 356.5 13.17** 2.680 3.949

D x t 12 23254.8 1937.9 71.60** 1.834 2.336

K x D x t 12 1666.5 138.9 5.13** 1.834 2.336

Galat 120 3247.8 27.1

Total 159 180781.2

(51)

33

Lampiran 5 Kegiatan pelaksanaan fumigasi aplikasi sulfuril fluorida

A. Infestasi serangga uji ke dalam lubang uji pada balok kayu karet (a) dan balok kayu karet disatukan lagi setelah infestasi serangga uji (b)

B. Peletakan balok kayu karet ke dalam fumigation chamber; (a) balok kayu karet 50 cm x 20 cm x 20 cm, (b) balok kayu karet 50 cm x 10 cm x 10 cm dan 50 cm x 5 cm x 5 cm

(52)

34

D. Pelepasan gas (gassing); gas disalurkan dari tabung fumigan sulfuril fluorida (a) dan bagian ujung selang distribusi dimasukkan ke dalam fumigation chamber (b)

E. Deteksi kebocoran pada fumigation chamber

(53)

35

(54)

36

Lampiran 6 Hasil analisis probit aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm dengan lama pemaparan 6 jam

(55)

37

(56)

38

(57)
(58)

40

Lampiran 10 Hasil analisis probit aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 cm dengan lama pemaparan 1 jam

(59)

41

Lampiran 11 Hasil analisis probit aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 cm dengan lama pemaparan 3 jam

(60)

42

Lampiran 12 Hasil analisis probit aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 cm dengan lama pemaparan 6 jam

(61)

43

Lampiran 13 Hasil analisis probit aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 5 cm dengan lama pemaparan 9 jam

(62)

44

(63)

45

(64)

46

(65)

47

(66)

48

Lampiran 18 Hasil analisis regresi LD50 aplikasi sulfuril fluorida untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm

SUMMARY OUTPUT

Regression Statistics

Multiple R 0.95926019 R Square 0.92018011 Adjusted R Square 0.88027017 Standard Error 0.06427944

Observations 4

ANOVA

df SS MS F Significance F

Regression 1 0.095265551 0.095266 23.05641 0.040739809 Residual 2 0.008263692 0.004132

Total 3 0.103529243

Coefficients Standard Error t Stat P-value Lower 95% Upper 95% Lower 95.0% Upper 95.0%

Gambar

Tabel 1  Sifat fisik dan kimia fumigan sulfuril flourida
Gambar 1  (a) kasta pekerja, (b) kasta prajurit, (c) kepala kasta prajurit rayap C.
Gambar 2  Balok uji dengan ukuran kayu yang berbeda-beda (50 cm × 5 cm ×
Tabel 3  Mortalitas kasta pekerja C. cynocephalus yang diberi perlakuan 6 dosis fumigan sulfuril fluorida dengan 4 lama pemaparan untuk pengujian daya penetrasi pada ketebalan kayu 10 cm
+7

Referensi

Dokumen terkait