ISSN: 2549-0257 (online) 213
The Relationship Between Child Nurturing Pattern, Family
Support, and Language Competence in Children Aged
5-6 Years with Auditory Disorder
Dewi Tirtawati1), Nunuk Suryani2), Rita Benya Adriani1) 1)School of Health Polytechnics Surakarta
2)Faculty of Teaching and Educational Sciences, Sebelas Maret University, Surakarta ABSTRACT
Background: Hearing is one of the important senses for human that functions as a communication tool and education. Lack of hearing ability in children may hinder development and lead to problem in language and speaking ability. In turn it may affect academic achievement. Hearing disorder therefore needs to be detected early. This study aimed to determine the relationship between child nurturing pattern, family support, and language competence in children aged 5-6 years with auditory disorder.
Subjects and Method: This was an analytic and observational study with cross sectional design. It was carried out at “Jala Puspa” Children Observation Garden (Taman Observasi Anak “Jala Puspa”) Dr. Ramelan Navy Hospital, Surabaya, East Java. A total sample of 40 children aged 5-6 years with their parents were selected for this study by simple random sampling. The dependent variable was language competence. The independent variables were child nurturing pattern and family support. The data were collected by a set of questionnaire, and were analyzed by logistic regression.
Results: There were positive relationship between nurturing pattern (OR= 10.05; 95% CI= 1.85-54.73; p= 0.008), family support (OR= 6.76; 95% CI= 1.36-33.51; p= 0.019), and language competence.
Conclusion: Nurturing pattern and family support have positive relationship with language competence.
Keywords: child nurturing pattern, family support, language competence, auditory disorder
LATAR BELAKANG
Pendengaran merupakan salah satu indra yang penting bagi manusia, berfungsi se-bagai alat komunikasi dan pendidikan. Kurang pendengaran pada anak antara la-in karena tuli kongenital. Tuli kongenital, menurut Komite Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian, me rupakan ketulian yang terjadi pada bayi disebabkan faktor-faktor yang mempenga-ruhi kehamilan maupun saat lahir (Nugro-ho et al., 2012). Kurang pendengaran pada
anak mengakibatkan keterlambatan dan kesulitan perkembangan bahasa dan bicara (Watkin et al., 2007). Gangguan keterlam-batan bahasa dan bicara pada anak sema-kin hari tampak semasema-kin meningkat pesat. Beberapa laporan menyebutkan angka ke-jadian gangguan bahasa bicara berkisar 5 – 10% pada anak sekolah (Sari et al., 2015).
Prevalensi keterlambatan perkemba-ngan berbahasa di Indonesia belum pernah diteliti secara luas terutama pada anak dengan gangguan pendengaran. Kendala-nya dalam menentukan kriteria keterlam-batan perkembangan berbahasa. Data di Correspondence:
Dewi Tirtawati
School of Health Polytechnics, Surakarta Email: [email protected]
214 ISSN: 2549-0257 (online) Departemen Rehabilitasi Medik RSCM
tahun 2006 dari 1.125 jumlah kunjungan pasien anak terdapat 10.13% anak terdiag-nosis keterlambatan bicara dan bahasa. Sedangkan di RSUP Sardjito Yogyakarta prevalensi keterlambatan perkembangan bahasa dan bicara anak di instalasi reha-bilitasi medik terapi wicara (speech the-rapy) tahun 2011, anak yang mengalami dislogia sebanyak 235 anak, disaudia 25 anak, disglosia 3 anak, dislalia 8 anak, disartria 17 anak, disfagia 3 anak, gagap 3 anak, disfonia 1 anak (Listyowati, 2012).
Anak yang mengalami keterlambatan bahasa bicara akibat gangguan pendengar-an beresiko mengalami kesulitpendengar-an belajar, kesulitan membaca dan menulis dan akan menyebabkan pencapaian akademik yang kurang secara menyeluruh, hal ini dapat berlanjut sampai usia dewasa muda. Se-lanjutnya orang dewasa dengan pencapaian akademik yang rendah akibat keterlam-batan bahasa bicara, akan mengalami ma-salah perilaku dan penyesuaian psiko-sosial (Sunani, 2013). Keterlambatan perkem-bangan berbahasa juga mempengaruhi kehidupan personal sosial, bahkan kemam-puan hambatan dalam bekerja kelak (Vin-cer et al., 2005).
Pola asuh orang tua berpengaruh da-lam perkembangan bahasa dan bicara anak. Orang tua dengan pola asuh otoriter cende-rung membatasi kasih sayang dan meng-gunakan hukuman yang keras agar anak mematuhi perintah orang tua. Pola asuh dengan tipe permisif orang tua cenderung memberikan kebebasan pada anak untuk melakukan segala hal. Pola asuh tipe demo-kratif memberikan kebebasan dan menum-buhkan kemandirian anak namun tetap di-pantau. Perbedaan pola asuh yang diterap-kan orang tua kepada anak dapat mem-pengaruhi perkembangan kognitif dan ba-hasa anak, dimana disatu sisi orangtua ha-rus bisa menentukan pola asuh yang tepat
dengan mempertimbangkan kebutuhan dan kondisi anak (Candrasari, 2014).
Penanganan keterlambatan bahasa memerlukan waktu yang agak lama serta kerja sama yang baik dari orang tua. Be-berapa anak tidak memperoleh penangan-an dengpenangan-an baik sampai masalah perkem-bangan itu menjadi sesuatu yang tidak da-pat ditangani atau berdampak secara signi-fikan terhadap hal-hal lain. Keterlambatan bahasa sering disertai gangguan lainnya se-suai dengan penyakitnya seperti hiperaktif, tingkah laku yang aneh, sulit untuk diajak kerja sama, maka penanganannya harus di-mulai dengan cara memperbaiki perilaku-nya (Sunani, 2013).
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: “Apakah ada hubungan pola asuh orang tua dengan perkembangan ba-hasa pada anak dengan gangguan pende-ngaran?, apakah ada hubungan dukungan sosial dengan perkembangan bahasa pada anak dengan gangguan pendengaran?, dan Apakah ada hubungan pola asuh orang tua dan dukungan sosial dengan perkem-bangan bahasa pada anak dengan gangguan pendengaran ?”
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pola masuh orang tua dan dukungan keluarga dengan ke-mampuan bahasa pada anak gangguan pen-dengaran usia 5-6 tahun di Taman Obser-vasi Anak Jala Puspa RSAL Dr. Ramelan Surabaya.
SUBJEK DAN METODE
Jenis penelitian ini adalah penelitian penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional. Populasi peneli-tian ini adalah orang tua yang mempunyai anak usia 5-6 tahun yang melakukan peme-riksaan anak dengan gangguan pendengar-an di Tampendengar-an Observasi Anak Jala Puspa RSAL Dr. Ramelan Surabaya sebanyak 247
ISSN: 2549-0257 (online) 215 anak. Teknik sampling yang digunakan
dengan simple random sampling. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 40 ibu yang mempunyai anak dengan gangguan pen-dengaran.
Variabel dalam penelitian ini terdiri dari variabel independen (pola asuh orang tua dan dukungan keluarga), dan variabel dependen yaitu kemampuan bahasa anak dengan gangguan pendengaran. Alat pe-ngumpul data adalah kuesioner dan studi pustaka. Analisis data menggunakan re-gresi logistik.
HASIL
1. Karateristik sampel penelitian
Karakteristik sampel penelitian pada pene-litian ini dibagi menjadi karakteristik sam-pel data kontinu dan data kategorikal Tabel 1. Karakteristik Sampel Data Kontinu
Variabel Min Max Mean SD Pola asuh 109.0 148.0 123.4 7.7 Dukungan
keluarga
24.0 48.0 39.8 4.7
Tabel 1. Menunjukkan bahwa sampel penelitian yaitu orangtua dari anak dengan gangguan pendengaran dengan pola asuh dan dukungan keluarga yang rata-rata baik. Tabel 2. Karakteristik Sampel Data Kate-gorikal Pendidikan n % SD 6 15.0 SMP 11 27.5 SMA 14 35.0 PT 9 22.5 Pekerjaan n % IRT 21 52.5 Swasta 14 35.0 PNS 5 12.5 Kemampuan Bahasa Anak n % Baik 21 52.5 Kurang baik 19 47.5
Tabel 2 hasil karakteristik sampel penelitian menunjukkan bahwa mayoritas ibu memiliki pendidikan SMA yaitu (35.0%), dengan profesi sebagai ibu rumah tangga (52.5%), dan kemampuan bahasa anak baik (52.5%).
2. Pengujian Hipotesis
a. Analisis Bivariat
Tabel 3. Uji Chi square Hubungan Pola Asuh dengan Kemampuan Bahasa Anak
Pola Asuh Kemampuan Bahasa OR p Kurang baik Baik Kurang baik 12 7 10.29 0.001 Baik 3 18 Total 15 25
Tabel 3 menunjukkan bahwa terdapat hubungan tentang pola asuh dengan ke-mampuan bahasa anak dan secara statistik signifikan (p = 0.001) dengan nilai Odds Ratio sebesar 10.29 berarti bahwa orang tua dengan pola asuh yang baik mempunyai kemungkinan 10.29 kali lebih besar membuat anaknya mempunyai kemam-puan bahasa yang baik dibandingkan orang tua dengan pola asuh yang kurang baik. Tabel 4. Uji Chi square Hubungan Du-kungan Keluarga dengan Kemampuan Ba-hasa Anak Dukungan keluarga Kemampuan bahasa OR P Kurang baik Baik Lemah 13 6 6.93 0.005 Kuat 5 16 Total 18 32
Tabel 4 menunjukkan terdapat hu-bungan dukungan keluarga dengan ke-mampuan bahasa anak yang secara statistik signifikan (p = 0.005) dengan nilai Odds Ratio sebesar 6.93 berarti bahwa orang tua
216 ISSN: 2549-0257 (online) dengan dukungan keluarga yang kuat
mem-punyai kemungkinan 6.93 kali lebih besar membuat anaknya mempunyai kemam-puan bahasa yang baik dibandingkan orang tua dengan dukungan keluarga yang lemah.
b. Regresi logistik ganda
Tabel 5. Analisis regresi logistik ganda
Varia bel Exp (B) (OR) CI 95% p Uji Wald Batas bawah Batas atas Pola asuh 10.05 1.85 54.73 0.008 Dukungan keluarga 6.76 1.36 33.51 0.019 -2 log likelihood 38.55 Nagelkerke R2 45.8%
Hasil perhitungan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda untuk mengetahui hubungan pola asuh dan du-kungan keluarga dengan perkembangan ba-hasa anak dapat dilihat dari Tabel 5.
Nilai Odd Ratio variabel pola asuh sebesar 10.05 berarti bahwa ibu dengan pola asuh yang baik mempunyai kemung-kinan 10.05 kali lebih besar anaknya me-miliki kemampuan bahasa yang baik diban-ding ibu dengan pola asuh yang kurang baik. Hasil uji wald menunjukkan adanya hubungan antara pola asuh dengan ke-mampuan bahasa anak dan secara statistik signifikan (OR= 10.05; CI 95%= 1.85-54.73; p = 0.008).
Nilai Odd Ratio variabel dukungan keluarga sebesar 6.76 berarti bahwa ibu dengan dukungan keluarga yang kuat mempunyai kemungkinan 6,76 kali lebih besar memiliki anak dengan kemampuan bahasa yang baik dibanding ibu dengan dukungan keluarga yang lemah. Hasil uji Wald menunjukkan adanya hubungan du-kungan keluarga dengan kemampuan ba-hasa anak dan secara statistik signifikan (OR= 6.76; CI 95%= 1.36-33.51; p = 0.019).
Nilai Negelkerke R sebesar 45.8% berarti bahwa kedua variabel bebas (pola asuh dan dukungan keluarga) mampu men-jelaskan kemampuan bahasa anak sebesar 45.8% dan sisanya yaitu sebesar 54.2% dijelaskan oleh faktor lain diluar model penelitian.
Hubungan Pola Asuh Orangtua de-ngan Kemampuan Bahasa Anak
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan pola asuh dengan kemam-puan bahasa dan secara statistik signifikan dengan (p = 0.008), di mana semakin baik pola asuh yang diterapkan orag tua kepada anaknya maka semakin baik pula kemam-puan bahasa anak. Hasil ini mendukung penelitian dari Yani dan Wurandiati (2012) bahwa ada hubungan yang signifikan anta-ra pola asuh oanta-rang tua dengan perkemba-ngan personal sosial, motorik dan bahasa anak prasekolah.
Pola asuh orang tua merupakan faktor yang penting dalam membentuk watak, ke-pribadian, kecerdasan emosional, pemben-tukan konsep diri dan penanaman nilai-nilai bagi anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar agar anak dapat mandiri, tumbuh dan berkembang secara sehat dan optimal. Latifah et al (2009) menyatakan bahwa setiap keluarga dalam melakukan proses pengasuhan anak tentu saja bertujuan untuk mengoptimal-kan pertumbuhan dan perkembangannya secara holistik. Pola asuh orang tua ber-peran penting karena keluarga merupakan komunikasi pertama dimana anak akan di-didik dan dibentuk karakter pribadinya, orang tua yang bisa memberikan contoh yang baik akan berdampak baik pula, be-gitu juga sebaliknya.
Menurut Sujiono (2005) secara garis besar pengasuhan tercermin dalam dua dimensi perilaku orang tua. Dimensi per-tama adalah tingkat dan tipe kontrol yang dilaksanakan oleh orang tua terhadap
peri-ISSN: 2549-0257 (online) 217 laku anaknya, pada satu sisi terdapat orang
tua yang sangat mengontrol dan sangat menuntut kepada anak, disisi lain ada orang tua yang tidak pernah menuntut ke-pada anak dan juga jarang mengontrol anak. Dimensi kedua menyangkut keterli-batan orang tua dan tanggap tidaknya me-reka terhadap anak, pada sisi lain ada orang tua yang relative tidak terlibat dengan anaknya dan kadang-kadang seolah me-nolak anaknya.
Orangtua memiliki cara dan pola ter-sendiri dalam mengasuh dan membimbing anak. Cara dan pola tersebut tentu akan berbeda antara satu keluarga dengan kelu-arga yang lainnya. Pola asuh orangtua me-rupakan gambaran tentang sikap dan peri-laku orangtua dan anak dalam berinteraksi, berkomunikasi selama mengadakan kegia-tan pengasuhan. Dalam kegiakegia-tan memberi-kan pengasuhan ini, orangtua amemberi-kan membe-rikan perhatian, peraturan, disiplin, hadiah dan hukuman, serta tanggapan terhadap keinginan anaknya.
Sikap, perilaku, dan kebiasaan orang tua selalu dilihat, dinilai, dan ditiru oleh anaknya yang kenudian semua itu secara sadar atau tidak sadar akan diresapi kemu-dian menjadi kebiasaan pula bagi anak-anaknya. Hal ini akan berpengaruh terha-dap perkembangan anak (Muryanti, 2013).
Hubungan Dukungan Keluarga dengan Kemampuan Bahasa Anak
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan dukungan keluarga dengan kemampuan bahasa dan secara statistik sig-nifikan dengan (p = 0.019), di mana sema-kin kuat dukungan keluarga yang diterima ibu maka akan semakin baik pula kemam-puan bahasa anak.
Hasil penelitian ini mendukung pene-litian dari Suryanto et al., (2014) yang me-nyatakan bahwa peran keluarga dan du-kungan sosial mempengaruhi proses
tum-buh kembang, hal tersebut menunjukkan bahwa pemberdayaan keluarga terbukti mampu meningkatkan perkembangan ba-lita, baik pada indikator personal sosial, bahasa, motorik halus, motorik kasar (masing-masing dengan p value 0.000). Kesimpulannya adalah peningkatan peran keluarga dan dukungan sosial dapat mem-berikan efek positif terhadap pertumbuhan dan perkembangan personal sosial, bahasa, motorik pada balita.
Dukungan keluarga menurut Francis dan Satiadarma (2004) merupakan bantu-an/ sokongan yang diterima salah satu anggota keluarga dari anggota keluarga lainnya dalam rangka menjalankan fungsi-fungsi yang terdapat di dalam sebuah keluarga. Penelitian yang ada menemukan bahwa dukungan sosial dari keluarga rupakan hal yang paling efektif dalam me-ngurangi beban pada perempuan sedang-kan dukungan sosial dari tempat kerja lebih efektif untuk laki-laki.
Pentingnya dukungan sosial pada keluarga juga diungkapkan oleh Holahan dan Moos yang menemukan bahwa duku-ngan sosial dari keluarga lebih berpengaruh kepada mood dibandingkan dengan duku-ngan sosial dari lingkuduku-ngan kerja pada perempuan (Huda, 2012).
Dukungan sosial keluarga sebagai sumber emosional, informasional atau pen-dampingan yang diberikan oleh orang- orang disekitar individu untuk menghadapi setiap permasalahan dan krisis yang terjadi sehari-hari dalam kehidupan. Sehingga anggota keluarga yang mendapatkan duku-ngan penuh dari anggota keluarga lain akan lebih termotivasi untuk melakukan suatu hal dalam hal ini adalah menghadapi ma-salah kemampuan bahasa pada anak (Kail and Cavanaug, 2000).
Keluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan manusia, tempat
218 ISSN: 2549-0257 (online) individu belajar dan menyatakan diri
sebagai makhluk sosial. Di dalam keluarga individu belajar memperhatikan keinginan orang lain dan bekerja sama. Pengalaman-pengalaman berinteraksi dalam keluarga turut menentukan tingkah lakunya ter-hadap orang-orang lain di luar keluarga, termasuk tetangga di lingkungan tempat tinggalnya maupun temannya. Keluarga dapat menjadi pemberi dukungan yang uta-ma bagi seseorang dalam menemukan kua-litas serta kuantitas bantuan yang didapat-nya (Huda, 2012).
Keterbatasan dalam penelitian ini adalah: Penelitian ini hanya dilakukan pada anak usia 5 - 6 tahun di Taman Observasi Anak Jala Puspa sehingga hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan ditempat lain dan hanya berbatas pada pasien yang melakukan kunjungan di RSAL Dr. Rame-lan Surabaya dan Instrumen penelitian menggunakan kuesioner untuk menggali data mengenai variabel pola asuh dan du-kungan keluarga sehingga kurang mela-kukan observasi dan wawancara mendalam terhadap ibu untuk melihat pola asuh apa yang diterapkan kepada anaknya.
Kesimpulan dalam penelitian ini ada-lah terdapat hubungan positif yang secara statistik signifikan antara pola asuh dengan kemampuan bahasa pada anak (OR= 10.05; CI 95%= 1.85-54.73; p= 0.008), dan terdapat hubungan positif yang secara statistik signifikan antara dukungan keluar-ga denkeluar-gan kemampuan bahasa pada anak (OR= 6.76; CI 95%=1.36 -33.51; p= 0.019).
Implikasi dalam penelitian ini adalah secara teoretis hasil penelitian diketahui bahwa ada pengaruh pola asuh orangtua dan dukungan keluarga dengan kemam-puan bahasa pada anak dengan gangguan pendengaran. Hal ini dapat mempertegas bahwa teori dari Hurlock (2006) tentang faktor yang mmpengaruhi kemampuan ba-hasa terbukti kebenarannya.
Sedangkan implikasi praktis Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkem-bangan bahasa pada anak dengan gangguan pendengaran dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain pola asuh orangtua dan dukungan keluarga. Sehingga bisa diguna-kan oleh praktisis kesehatan terutama praktisi terapi wicara dalam memberikan terapi untuk menggabungkan faktor pola asuh orangtua dan dukungan keluarga agar tercapai tujuan sesuai yang diharapkan.
DAFTAR PUSTAKA
Chandrasari JP (2014). Hubungan Pola Asuh Ornag Tua dengan Perkem-bangan Bahasa Anak Prasekolah Ba-hasa Anak Prasekolah di RA Semai Benih Bangsa Al-Fikri Manca Bantul. Naskah Publikasi. Yogyakarta: Pro-gram Studi Ilmu Keperawatan Seko-lah Tinggi Ilmu Kesehatan „Aisyiyah Yogyakarta.
Francis, Satiadarma (2004). Pengaruh Dukungan Keluarga terhadap Kesem-buhan Ibu yang Mengidap Kanker Payudara. Jurnal Ilmiah Psikologi. ARKHE. Th. 9/no.01/2004.
Huda N (2012). Kontribusi Dukungan Sosial terhadap Kepuasan Hidup, AFEK Menyenangkan dan Afek tidak Menyenangkan pada Dewasa Muda yang Belum Menikah, Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Gunadarma. Hurlock (2006). Perkembangan Anak.
Jakarta: Erlangga.
Kail, Cavanaugh (2000). Human-Develop-ment: A Life-Span View. America: Wadsworth.
Listyowati D (2012). Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan dan Sikap Ibu Tentang Stimulasi Bahasa dengan Per kembangan Bahasa Anak Usia 1-3 Ta-hun di PAUD Mekar Sejati Janti Catur Tunggal Depok Sleman Yogyakarta.
ISSN: 2549-0257 (online) 219 Naskah Publikasi. Yogyakarta:
Pro-gram Studi S1 Ilmu Keperawatan Fa-kultas Ilmu Kesehatan Universitas Respati Yogyakarta.
Muryanti, Purnaningrum WD, Tirtawati D (2013). Peran Pola Asuh Orang Tua dalam Kemampuan Bahasa Anak Usia 4–5 Tahun. Jurnal Terpadu Ilmu Ke-sehatan, Jilid 3: 172-174
Nugroho DA, Zulfikar, Muyassaroh (2012). Kemampuan Auditorik Anak Tuli Kongenital Derajat Sangat Berat dengan dan Tanpa Alat Bantu Dengar. Medica Hospitalia. 1 (2): 80-82. Sari SNL, Memy YD, Ghanie A (2015).
Ang-ka Kejadian Delayed Speech Disertai Gangguan Pendengaran pada Anak yang Menjalani Pemeriksaan Pen-dengaran di Bagian Neurootologi IKTHT-KL RSUP Dr.Moh. Hoesin. Jurnal Kedokteran dan Kesehatan. 2 (1): 121-127.
Sujiono (2005). Bagaimana Bersikap Pada Anak Agar Anak Prasekolah Anda Ber sikap Baik. Jakarta: Gramedia Pusta ka Utama.
Sunanik (2013). Pelaksanaan Terapi Wicara dan Terapi Sensori Integrasi pada Anak Terlambat Bicara, Jurnal Pen-didikan Islam, 7 (1): 19-44.
Suryanto S, Purwandari H, Mulyono WA (2014). Dukungan Keluarga dan So-sial Dalam Pertumbuhan dan Per-kembangan Personal Sosial, Bahasa
dan Motorik Pada Balita di Kabupaten Banyumas. Jurnal Kesehatan Mas-yarakat. 10 (1): 103-109.
Vincer MJ, Cake H, Graven M, Dodds L, McHugh S, Fraboni T (2005). A Popu-lation-Based Study to Determine The Performance of the Cognitive Adaftive Test/Clinical Linguistic and Auditory Milestone Scale To Predict The Men-tal DevelopmenMen-tal Index at 18 Months on the Bayley Scale Of Infant Deve-lopment–II in Very Preterm Infants. Pediatric. 1 (1): 864-7.
Watkin P, MacCann D, Law C, Mullee M, Petrou S, Stevenson J, Worsfold S, Yuen HM, Kennedy C (2007). Language Ability in Children With Permanent Hearing Impairment: The Influence of Early Management and Family Participation. Pediatrics. 120 (3): 694-701.
Yani LY, Wurandiati E (2012). Hubungan Pola Asuh Orang Tua dengan Perkem-bangan Personal Sosial, Motorik dan Bahasa Anak Prasekolah di PAUD Al-Hidayah. Mojokerto: Prodi D III Kebi-danan STIKES Bina Sehat PPNI Mojokerto.