1
Perbedaan kualitatif dan kuantitatif sapi betina lokal di Majalengka dengan sapi betina Jabres
Qualitative And Quantitative Character Between Majalengka Local Cow And Jabres Cow
Teguh Muhammad Ramadhan*, Dudung Mulliadi**, Johar Arifin**. Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran
Jalan Raya Bandung Sumedang KM 21 Sumedang 45363 *Alumni Fakultas Peternakan UNPAD Tahun 2014
**Staf Pengajar Fakultas Peternakan UNPAD e-mail : [email protected]
ABSTRAK
Penelitian “Perbedaan Kualitatif dan Kuantitatif Sapi Betina Lokal di Majalengka dengan Sapi Betina Jabres” telah dilaksanakan bulan Nopember 2013, di Kecamatan Kertajati Majalengka Jawa Barat dan Kecamatan Ketanggungan Brebes Jawa Tengah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan sifat kualitatif dan kuantitatif Sapi Betina Lokal di Majalengka dengan Sapi Betina Jabres. Penelitian secara deskriptif, penentuan sampel ternak dilakukan dengan metode purposive sampling. Analisis data kualitatif menggunakan frekuensi relatif dan analisis kuantitatif untuk membedakan antar lokasi menggunakan RAL pola nested. Hasil analisis menunjukan perbedaan yang nyata (P<0,05) pada dua wilayah. Perbedaan sifat kualitatif dan kuantitatif yang muncul pada dua daerah ini disebabkan oleh perbedaan genetik dan lingkungan yakni sistem perkawinan, pola pemeliharaan, vegetasi dan pakan. Hasil analisis sapi betina lokal di Majalengka antara lain warna tubuh merah bata (100%), kaki depan dan belakang berwarna putih (100%), adanya garis punggung (100%), adanya warna putih pada pantat (100%), tidak ada punuk (100%), tanduk kecil (95%) dan tidak ada spot putih pada dahi (100%). Sedangkan Sapi Betina Jabres warna tubuh melahonais (81,25%), kaki depan dan belakang berwarna merah (100%), adanya garis punggung (100%), adanya warna putih pada pantat(100%), tidak berpunuk (75%), tanduk besar (93,75%) dan ada spot putih pada dahi (100%). Secara kuantitatif, sapi betina lokal di Majalengka memiliki rata-rata tinggi pundak 96,5 ± 7,98 cm, panjang badan adalah 92,4 ± 7,09 cm dan rataan lingkar dada adalah 117 ± 5,06 cm. Sedangkan Sapi Betina Jabres memiliki rata - rata tinggi pundak 111,4 ± 4,65 cm, panjang badan 121 ± 7,00 cm dan lingkar dada 146,2 ± 5,94 cm.
Kata Kunci : Sapi Betina Lokal di Majalengka, Sapi Jabres, Sifat Kualitatif, Sifat Kuantitatif.
ABSTRACT
The research of The Qualitative andquantitative character between Majalengka Local Cow and Jabres Cow worked for November 2013 in Kecamatan Kertajati Majalengka, West Java and Kecamatan Ketanggungan Brebes, Central Java. The aim of this research is to known the qualitative and quantitative difference of Majalengka Local Cow and Jabres Cow. The method used for this research the descriptive trought out purposive sampling. The qualitative character
2
Analysisis used Relative Frequency, while Quantitative character used description analysis and difference between location used Nested Variant Analysis. The research shows quite difference (P<0,05) in two areas. The differenc of Mating system, maintenance, vegetasion and woof at two area influence characteristics. The Result of this researche that plumulae of Majalengka Local Cow is sorrel (100%), forefoot and rear foot is white (100%), indicating back line (100%),white spot in a rump (100%), no hump (100%), small horn (95%) and don’t have a white spot on forehead (100%), whereas plumulae of Jabres Cow is melanhois (81,25%), forefoot and rear foot is red (100%), indicating back line (100%), white spot in a rump (100%), no hump (75%), big horn (97,75%) and has a white spot on forehead (100%). The result of Quantitatif character for Majalengka Local Cow is average high-shoulder 96.5 ±7.98 cm, body lenght flat 92.4 ±7.09 cm and chest circular flat 117 ±5.06 cm, whereas Jabres Cow has average high-shoulder 11.4 ±4.65 cm, body lenght flat 121 ±7.00 cm, chest circular flat 146.2 ±5.94 cm. Keywords : Majalengka Local cow , Jabres cow, Qualitative, Quantitative
PENDAHULUAN
Sapi lokal yang termasuk golongan Bos sondaicus diduga berasal dari Indonesia. Sapi golongan Bos sondaicus memiliki karakter kualitatif dan kuantitatif menyerupai Sapi Bali mempunyai ciri-ciri berbadan kecil, warna merah bata, warna putih pada bagian pantat, kaki. Warna tubuh sapi betina tidak mengalami perubahan sedangkan warna tubuh pada sebagian pejantan dewasa mengalami perubahan mendekati hitam, hal ini diduga akibat dari hormon testoteron sehingga terjadi perubahan pola warna.
Salah satu jenis sapi lokal yang termasuk bangsa Bos sondaicus adalah sapi Bali. Hasil domestikasi spesies Bos (Bibos) banteng adalah sapi Bali (Bos sondaicus) atau (Bos javanicus) yang sekarang telah menjadi bangsa ternak asli Indonesia (Martojo, 2003). Sapi Bali menyebar di beberapa wilayah di Nusantara antara lain di Sulawesi, Maluku dan Kalimantan. Sapi Bali disebar oleh pemerintah ke daerah-daerah tersebut sebagai bagian dari program pembangunan yang diintegrasikan dengan program transmigrasi (Indrijani, 2012).
Daya dukung sapi Lokal di Jawa Barat dan Jawa Tengah diduga terdapat beberapa perbedaan. Perbedaan secara geografis antara lain bahwa Daerah Brebes termasuk dataran rendah dengan kondisi suhu 24,5 – 26,3°C mempunyai ketinggian tempat 0 – 300 meter dari permukaan laut, sedangkan di sebagian daerah Jawa Barat salah satunya Majalengka termasuk
3
dataran tinggi dengan kondisi suhu ± 21,4°C, mempunyai ketinggian tempat 500 – 857 meter dari permukaan laut. Suhu udara yang tinggi dapat menghambat dalam proses metabolisme sehingga mempengaruhi konsumsi pakan.
Penurunan kecepatan pertumbuhan tergantung pada pertumbuhan ternak dalam menyesuaikan dirinya terhadap perubahan-perubahan iklim yang terjadi sebagai akibat dari perbedaan ketinggian tempat dari permukaan laut (McDowell, 1974). Temperatur dan kelembaban udara yang tinggi akan menurunkan kecepatan pertumbuhan ternak sebagai akibat dari menurunnya konsumsi ransum, pada temperatur yang tinggi cenderung menurunkan kemampuan ternak untuk mengkonsumsi ransum (Devendra dan Mc. Leroy, 1982). Hal ini sesuai dengan pendapat Kurihara dan Shioya (2003) yang menyatakan bahwa pada suhu lingkungan 28°C dengan kelembaban 40-80% suhu tubuh dan frekuensi pernafasan yang terjadi masih normal, namun lebih dari itu akan berpengaruh terhadap konsumsi pakan, produksi dan pelepasan panas.
Pada aspek pola pemeliharaan ternak, peternak di wilayah Brebes menerapkan sistem semi intensif dan intensif, dimana ternak digembalakan pada pagi hari hingga sore hari dengan memanfaatkan lahan kering dan pinggiran hutan untuk aktifitas penggembalaan. Pada malam hari ternak dikandangkan. Kondisi ini hampir sama dengan di Majalengka sehingga menjadi bagian dari profil peternakan sapi lokal di Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Sistem pemeliharaan dapat mempengaruhi performa ternak, pertambahan bobot badan ternak dan yang berkaitan dengan sifat kuantitatif, antara pemeliharaan intensif dan semi intensif (Abidin, 2008). Pola pemeliharaan yang baik yakni pola pemeliharaan intensif, karena pada pola pemeliharaan intensif pemberian pakan dan pengendalian penyakit lebih terkontrol. Sistem pemeliharaan intensif merupakan pemeliharaan ternak dalam tempat yang terkurung dan makanan telah disediakan di tempat (kandang) (Parakkasi, 1999).
Pakan adalah segala sesuatu yang diberikan kepada ternak yang dapat dimakan dan dicerna serta tidak menggangu kesehatan ternak (Purnomo, 2003). Pakan ternak ruminansia pada
4
umumnya terdiri atas hijauan seperti rumput dan konsentrat, pemberian pakan berupa kombinasi kedua bahan tersebut akan memberikan peluang terpenuhinya zat-zat gizi dan biaya relatif rendah (Parakkasi, 1999).
Selain faktor daya dukung lingkungan dan pola pemeliharaan di atas, faktor mobilitas transportasi antar daerah secara tidak langsung dapat mempengaruhi genetik ternak melalui pola migrasi. Migrasi gen dapat terjadi karena penjualan (perdagangan ternak), perkawinan antar populasi pada ladang penggembalaan perbatasan dan sosial budaya, sehingga terjadi perkawinan sapi yang tidak terkontrol. Pola penjualan sapi tersebut antara wilayah buffer zone dan Bumiayu, di mana Bumiayu merupakan pusat jual beli ternak untuk wilayah buffer zone seperti Majalengka, Kuningan dan Brebes Selatan.
Migrasi dan seleksi sangat umum dilakukan dalam memperbaiki ternak, migrasi adalah perpindahan atau masuknya bahan genetik baru kedalam populasi awal atau dari satu populasi ke populasi lain (Widodo, 1981).
Pola Perkawinan yang baik akan berpengaruh pada performa kuantitatif dan kualitatif ternak, dengan perkawinan Inseminasi Buatan, maka genetik suatu ternak akan terjaga performa kuantitatif dan kualitatifnya dan akan menghasilkan keturunan dengan performa yang baik (Williamson dan Payne, 1993).
BAHAN DAN METODE PENELITIAN
Objek dalam penelitian ini adalah Ternak sapi betina lokal di Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka dan sapi betina Jawa Brebes (Jabres) di Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes. Sampel yang diambil sapi betina berumur 18 – 24 bulan (dewasa) dan bukan yang sedang bunting, hal ini untuk menghindari bias bobot badan akibat perbedaan kapasitas uterus.
Penentuan sampel lokasi dilakukan secara Purposive Sampling, yaitu dengan populasi tertinggi, perbedaan pemeliharaan di kedua lokasi tersebut, daya dukung wilayah dan mobilitas ternak. Kabupaten Majalengka bertempat di Kecamatan Kertajati dengan populasi 2.028 ekor
5
dan Kabupaten Brebes bertempat di Kecamatan Ketanggungan dengan populasi 9.191 ekor berdasarkan data statistik peternakan di dua kabupaten tersebut.
Penelitian dilakukan di VBC (Village Breeding Centre) masing-masing wilayah. VBC merupakan basis populasi perbibitan sapi lokal yang merupakan hasil dari penjaringan pemerintah terhadap sapi-sapi yang dikhususkan untuk perbibitan dengan tujuan untuk mempertahankan dan mengembangkan keberadaan, kemurnian serta populasi sapi lokal asli.
Batasan populasi atau kriteria ternak didasarkan pada penjelasan sebelumnya yakni sapi betina dengan keadaan tidak bunting, memiliki kondisi sehat, bangsa sapi dibatasi (mengacu pada Bos sondaicus), berumur dewasa (Tabel.3).
Secara purposive sapi Lokal di Majalengka terdapat VBC yang secara khusus memelihara dan memproduksi sapi Lokal yang disebut dengan istilah sapi kacang, lokasi tersebut berada di Kelompok Ternak Mulia Abadi desa Mekarjaya Kecamatan Kertajati Kabupaten Majalengka. Memperhatikan kriteria di atas hanya terdapat 20 ekor sapi betina lokal di Majalengka yang memenuhi kriteria sebagai sampel ternak.
VBC yang secara khusus memproduksi dan membibitkan sapi Jabres terdapat desa Buara Kecamatan Ketanggungan Kabupaten Brebes. Di wilayah ini terdapat kelompok ternak Sugih Mukti. Memperhatikan kriteria di atas hanya terdapat 16 ekor sapi betina Jabres yang memenuhi kriteria sebagai sampel ternak ekor.
Langkah Kerja Penelitian
Mengamati bagian tubuh sebelah kiri yang menjadi peubah pada sifat kualitatif :
1. Warna tubuh (warna yang dominan pada tubuh) merah, melahonais (merah kecoklatan) dan merah bata, warna kaki putih dan merah (tarsus sampai metatarsus, carpus sampai
metacarpus), ada tidaknya garis belut (sepanjang punggung), dan ada tidaknya warna putih pada pantat.
6
3. Tanduk Besar (lebih dari 14 cm) dan tanduk kecil (kurang dari 14 cm) dilakukan dengan mengukur diameter pangkal tanduk, dinyatakan dalam cm
4. Ada dan tidaknya Spot putih pada dahi
Pengukuran tubuh ternak sapi harus benar-benar memperhatikan posisi sapi, sapi sebaiknya berdiri pada tempat yang datar dan keempat kakinya benar-benar harus berpijak tegak dan sejajar.
a) Panjang Badan dilakukan dengan mengukur secara lurus dengan tongkat ukur dari siku (humerus) sampai dengan benjolan tulang (tuber ischii), dinyatakan dalam cm
b) Lingkar Dada dilakukan dengan cara melingkarkan pita ukur pada bagian dada sampai tepat di belakang siku yang dinyatakan dengan cm
c) Tinggi Pundak dilakukan dengan mengukur jarak tegak lurus dari tinggi pundak sampai dengan tanah, dinyatakan dalam cm
HASIL DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Sifat Kualitatif sapi lokal betina di Majalengka dan sapi betina Jabres
Data hasil penelitian mengenai perbedaan sifat kualitatif sapi betina lokal d Majalengka dan sapi betina Jabres tersaji pada Tabel 1
Tabel 1. Data deskriptif kualitatif sapi betina lokal di Majalengka dengan sapi betina Jabres
No Peubah yang diamati Jumlah Frekuensi Relatif
Majalengka Brebes Majalengka Brebes 1 Warna
a. Warna tubuh Merah
Melanhois Merah Bata
b. Warna Kaki bagian bawah
Putih (Tarsal, Carpal) Merah (Tarsal, Carpal)
c. Garis Punggung (Garis Belut)
Ada Tidak Ada
d. Warna putih Pantat
(n) - - 20 20 - 20 - (n) - 13 3 - 16 16 - (persen) - - 100% 100% - 100% - (persen) - 81,25% 18,75% - 100% 100% -
7 Ada Tidak ada 20 - 16 - 100% - 100% - 2 Punuk Ada Tidak Ada - 20 4 12 - 100% 25% 75% 3 Tanduk Besar Kecil 1 19 15 1 5% 95% 93,75% 6,25% 4 Spot putih pada dahi
Ada Tidak ada - 20 16 - - 100% 100% -
Sifat kualitatif sapi Lokal di Majalengka memiliki keseragaman yang tinggi pada berbagai karakter yang di analisis. Sapi Bos sondaicus yang ada dan masuknya sapi Bali, sapi Madura ke Majalengka serta diduga adanya perkawinan acak sehingga akan tetap memiliki keseragaman menyerupai sapi Bali. Keseragaman ini diduga disebabkan adanya perkawinan secara acak dari generasi ke generasi atau pada generasi selanjutnya.
Gambaran ini tampak bahwa adanya sifat-sifat sapi Bali yang diduga masuk ke dalam sapi betina lokal di Majalengka akibat dari perkawinan acak sebelumnya, seperti sapi betina lokal di Majalengka memiliki warna tubuh merah bata, sapi di Majalangka yang berasal dari Bos sondaicus mengalami perkawinan secara acak dengan sapi Madura. Sifat kualitatif lain yang dimiliki sapi betina lokal di Majalengka yakni memiliki garis punggung dan kaki tarsus sampai metatarsus, carpus sampai metacarpus berwarna putih. Karakter ini diwariskan oleh tetuanya sapi Bali, sehingga dari adanya perkawinan acak dari generasi ke generasi mengakibatkan karakter ini tetap bertahan pada keturunannya. Warna putih pada pantat dan tanduk kecil yang dimiliki sapi betina lokal di Majalengka hasil dari perkawinan acak antara sapi lokal di Majalengka dengan sapi Bali dan sapi Madura. Sapi betina lokal di Majalengka tidak memiliki spot putih pada dahi hal ini diduga tidak adanya sapi PO dan Jabres yang masuk ke Majalengka atau hanya sebagian kecil sapi tersebut masuk ke Majalengka akan tetapi tidak melakukan perkawinan sehingga tidak munculnya karakter tersebut pada sapi lokal di Majalengka. Hasil penelitian ini dipertegas dengan hasil penelitian Indrijani (2013), bahwa hal ini hasil perkawinan acak yang lama pada sapi persilangan Jawa dengan sapi Bali atau sapi Madura.
8
Tampak bahwa adanya sifat-sifat sapi yang diduga masuk ke dalam sapi betina Jabres seperti warna tubuh melahonais (merah sawo matang kecoklatan) karakter ini diwariskan tetuanya akibat perkawinan antara sapi Bali, sapi Brahman, sapi Madura. Karakter lain yang dimiliki sapi betina Jabres yakni warna kaki berwarna merah yang diwariskan dari sapi Jabres dengan sapi persilangan seperti PO dan sapi Brahman. Garis punggung diwariskan dari sapi Bali. Adanya garis punggung merupakan karakteristik dari sapi Bali. Warna putih pada pantat yang dimiliki sapi betina Jabres hasil dari perkawinan acak antara sapi Bali dan sapi Madura, dimana karakter ini merupakan karakteristik dari kedua sapi tersebut.
Sapi Jabres yang memiliki punuk akibat dari masuknya sapi PO atau sapi Brahman pada jaman Hindia Belanda dan diduga banyak terjadinya perkawinan sehingga memunculkan karakteristik berpunuk, sedangkan tidak adanya punuk pada sapi Jabres dari hasil perkawinan acak generasi selanjutnya dengan sapi-sapi bangsa bos sondaicus dalam waktu yang lama secera terus menerus sehingga karakter yang diwariskan lebih banyak dari bangsa bos sondaicus. Pemunculan tanduk pada sapi lokal memang bukan perhatian utama dalam pembibitan. Besar dan kecilnya tanduk dapat dikarenakan dua hal yaitu faktor genetik dan tatalaksana pemotongan tanduk. Sapi betina Jabres yang memiliki tanduk besar akibat dari faktir genetik. Sedangkan tanduk yang berukuran kecil diduga akibat tatalaksana pada pemeliharaan yaitu dengan melakukan pemotongan tanduk.
Berbeda dengan spot putih pada dahi yang dimiliki sapi betina Jabres. Karakter ini diduga berasal dari sapi PO yang diwariskan kepada keturunannya dan perilaku masyarakat Brebes yang lebih menginginkan atau mempertahankan spot putih pada dahi sehingga karakter ini menjadi ciri khas sapi Jabres. Indrijani (2013) menjelaskan sapi Jabres merupakan keturunan dari sapi Madura, sapi Bali dan sapi Ongole sejak abad ke 16. Pernyataan Indrijani (2013) dipertegaskan Tadjudin (2012) penampilan sapi Jabres merupakan hasil persilangan antara sapi yang mempunyai warna putih yaitu sapi Peranakan Ongole (PO) atau sapi Brahman dengan sapi lokal lain, yang mempunyai warna bulu coklat yaitu sapi Bali atau sapi Madura. Hal serupa
9
diungkapkan Afandi, dkk (2008) bahwa Sapi Jabres diduga merupakan persilangan dari sapi PO dengan sapi Bali atau dengan sapi Madura, sehingga terjadi dua kecenderungan. Pertama cenderung menyerupai Sapi Madura sehingga diduga merupakan hasil perpaduan sapi silangan PO dengan sapi Madura dan cenderung menyerupai sapi Bali sehingga diduga merupakan hasil perpaduan sapi silangan PO dengan Bali.
Deskripsi sifat kuantitatif sapi betina lokal di Majalengka dan sapi betina Jabres
Hasil analisis ukuran tubuh sapi betina lokal di Majalengka di Desa Mekarjaya, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka dan sapi betina Jabres di Desa Buara, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes.
Tabel 2. Rataan, standar deviasi dan koefisien variasi ukuran-ukuran tubuh sapi betina lokal di Majalengka dengan sapi betina Jabres
Peubah Perbedaan ukuran tubuh Majalengka dan Brebes
N Rata-rata Koevisien Variasi
M B M B M B
(ekor) (ekor) (cm) (cm) (persen) (persen)
TP 20 16 96,5±7,98 111,4±4,65* 8,27 4,17
PB 20 16 92,4±7,09 121±7,00* 7,67 5,79
LD 20 16 117±5,06 146,2±5,94* 4,33 4,06
Keterangan: TP=Tinggi Pundak, PB=Panjang Badan, LD=Lingkar Dada, M=Majalengka, B=Brebes *tanda yang sama ke arah kolom menunjukan berbeda nyata
Berdasarkan data pada Tabel 2 secara umum tinggi pundak adalah 96,5 cm dengan standar deviasi sebesar 7,98 cm, panjang badan adalah 92,4 cm dengan standar deviasi 7,09 cm sedangkan lingkar dada adalah 117 cm dengan standar deviasi sebesar 5,06 cm. Aspek genetik menyumbang performa kuantitatif pada sapi betina lokal di Majalengka. Aspek genetik yang penting adalah sistem perkawinan. Perkawinan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi sifat kuantitatif ternak. Sistem perkawinan ternak di Majalengka masih belum terkontrol seperti yang dijelaskan sebelumnya yakni masih membiarkan ternak melakukan kawin alam dan tidak adanya kriteria pejantan sebagai material genetik. Sehingga sifat kuantitatif ternak yang dihasilkan relatif berbadan kecil.
10
Hasil analisis ukuran sapi betina Jabres umur 18-24 bulan di Desa Buara, Kecamatan Ketanggungan, Kabupaten Brebes Tabel 2. Tinggi pundak adalah 111,4 ± 4,65 cm, panjang badan adalah 121 ± 7,00 cm sedangkan lingkar dada adalah 146,2 ± 5,94 cm. Keseragaman populasi sapi betina Jabres terbentuk sebagai manifestasi faktor genetik dan lingkungan. Keseragaman yang muncul diduga akibat populasi pada wilayah tersebut yang disebabkan oleh beberapa faktor antara lain aspek genetik dan aspek lingkungan. Aspek genetik berpengaruh terhadap performa sifat kuantitatif sapi betina Jabres. Aspek genetik yang penting adalah perkawinan, sistem perkawinan ternak di Brebes berbeda dengan Majalengka. Sistem perkawinan sapi di Brebes lebih terkontrol seperti yang telah dijelaskan sebelumnya yakni pejantan yang digunakan memiliki karakter kuantitatif di atas rata-rata ( Tinggi pundak 111,1±10 cm, panjang badan 119,2±5 cm, lingkar dada 162±20 cm) dan secara kualitatif memiliki warna spot putih pada dahi, sehingga peluang terjadinya inbreeding sangat kecil.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian sapi betina lokal di Majalengka dan sapi betina Jabres dapat disimpulkan bahwa secara kualitatif terdapat perbedaan sifat antar lokasi, yaitu terletak pada warna tubuh, warna kaki (tarsus sampai metatarsus, carpus sampai metacarpus) punuk, tanduk dan warna spot pada dahi, sedangkan secara kuantitatif terdapat perbedaan tinggi badan, lingkar dada dan panjang badan.
DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Z. 2008. Penggemukan Sapi Potong. PT. Agro Media Pustaka. Jakarta. Hal. 43-60. Affandhy, L., Aryogidan D.M. Dikman, 2008. Tampilan reproduksi berbagai plasma nutfah sapi
potong lokal Indonesia. Loka Penelitian Sapi Potong, Grati-Pasuruan.
Devendra, C. dan G. B, Mc Leroy. 1982. Goat and Sheep Production In Tropics. Intermediate Tropical Agriculture Series.
11
Indrijani, A. Johar ,Dudi, Wendry SP, Romi Z, Hilmia, 2012. Kajian Identifikasi Sapi Lokal Jawa Barat Dalam Mendukung Swasembada daging sapi. Laporan Penelitian. Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat. Bandung.
Indrijani. H., Dudi, J. Arifin, H. Hilmia, R. Zamhir, W. Setiadi. 2013. Identifikasi Sapi Lokal Jawa Barat Dalam Mendukung Program Swasembada Daging Sapi. Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat. Bandung.
Kurihara, M. and S. Shioya. 2003. Dairy Cattle Management In Hot Environment. (http//www.fffc.agent.org/library/abstract/eb529.htm,). Diaksestanggal25 maret 2014 Martojo. 2003. Indegenous Bali Cattle. The Best Suited. Cattle Breed For Sustainable Small
Farm in Indonesia. Laboratory of Animal Breeding and Genetic, Faculty of Animal Science, Bogor Agricultur University, Indonesia.
Mc Dowell, R. E. 1974. Improvement of Livestcok Production in Warm Climate. W. H. Freeman and Co., San Francisco.
Parakkasi A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Cetakan Pertama.Penerbit UIP, Jakarta.
Peraturan Menteri Pertanian No. 284/Kpts/LB.430/8/2012 tentang penetapan rumpun sapi Jabres. Purnomo. A. 2003. Diktat Kuliah Ilmu Ternak Potong dan Kerja. Fakultas Peternakan Universitas Diponogoro. Semarang. Diunduh hari selasa 25-03-2014 jam 15.20
http://eprints.undip.ac.id/21195/1/1060-ki-fp-05.pdf
Tadjudin, 2012. Proposal RumpunSapiJabres.PemerintahKabupatenBrebes. Jawa Tengah. Widodo. 1981. Peternakan Kambing. Jakarta.
Williamson, G. And W. J. A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.