4 HASIL
4.1 Status Pemanfaatan Sumberdaya Ikan 4.1.1 Produksi ikan pelagis kecil
Produksi ikan pelagis kecil selama 5 tahun terakhir (Tahun 2001-2005) cenderung bervariasi, hal ini disebabkan karena pengoperasian alat tangkap ikan pelagis dilakukan secara trus menerus di perairan Maluku. Kurva hubungan antara produksi (catch), catch per unit effort (CPUE) dengan upaya penangkapan (effort) serta kondisi aktual selama kurun waktu 5 tahun untuk masing-masing jenis ikan pelagis kecil disajikan pada Gambar 18 sampai Gambar 23. Hasil analisis produksi lestari ikan menggunakan model Schaefer, yang menunjukkan upaya penangkapan optimal (f
MSY) dan hasil tangkapan optimum (CMSY).
Gambar 18 Grafik kurva lestari ikan selar.
0,00 0,10 0,20 0,30 0,40 0,50 0,60 MSY = 5.839,47 fopt = 24.165,00 R2 = 0,8993 2002 2003 2004 2005 2006 0 1,000 2,000 3,000 4,000 5,000 6,000 0 20,000 40,000 60,000 P roduk s i ( ton) Effort (trip) 2001
Gambar 19 Grafik kurva lestari ikan layang.
Gambar 20 Grafik kurva lestari ikan tembang.
0,00 0,20 0,40 0,60 0,80 1,00 1,20 MSY = 11.895,00 fopt = 24.387,50 2001 2002 2003 2004 2005 0 1.000 2.000 3.000 4.000 5.000 6.000 7.000 8.000 9.000 10.000 11.000 12.000 13.000 0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 P rodu k s i ( ton) Effort (trip) R2 = 0,8665 0,00 0,10 0,20 0,30 0,40 0,50 0,60 0,70 MSY = 8.176,74 fopt = 28.595,00 2001 2002 2003 2004 2005 0 1.000 2.000 3.000 4.000 5.000 6.000 7.000 8.000 9.000 10.000 0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 P rodu k s i ( to n) Effort (trip) R2 = 0,8899
Gambar 21 Grafik kurva lestari ikan teri.
Gambar 22 Grafik kurva lestari ikan komu.
0,00 0,05 0,10 0,15 0,20 0,25 0,30 0,35 MSY = 4.983,32 fopt = 31.570,00 2001 2002 2003 2004 2005 0 1.000 2.000 3.000 4.000 5.000 6.000 0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 70.000 P roduk s i ( ton) Effort (trip) R2 = 0,8553 0,00 0,01 0,02 0,03 0,04 0,05 0,06 0,07 0,08 0,09 MSY = 1.493,82 fopt = 38.650,00 2002 2004 2003 2005 2006 0 100 200 300 400 500 600 700 800 900 1.000 1.100 1.200 1.300 1.400 1.500 0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 70.000 80.000 P rodu k s i ( ton ) Effort (trip) R2 = 0,7979 2001
Gambar 23 Grafik kurva lestari ikan kembung.
Berdasarkan Gambar 18 sampai Gambar 23, memperlihatkan bahwa ikan layang memiliki tingkat MSY tertinggi sebesar 11.895 ton per tahun dengan effort optimal sebesar 24.387 trip per tahun sedangkan ikan komu memiliki MSY yang paling rendah yaitu 1.493 ton per tahun dengan effort optimal 38.650 trip per tahun. Effort optimal ikan komu (Auxist thazard) memiliki nilai tertinggi yaitu 38.650 trip per tahun dan terendah pada ikan selar sebesar 24.165 trip per tahun.
4.1.2 Produksi ikan pelagis besar
Produksi ikan pelagis besar selama 5 tahun terakhir (tahun 2001-2005) cenderung bervariasi dan tidak mengalami peningkatan yang berarti. Kurva hubungan antara produksi (catch), catch per unit effort (CPUE) dengan upaya penangkapan (effort) serta kondisi aktual selama kurun waktu 5 tahun (2001-2005) untuk masing-masing jenis ikan pelagis besar disajikan pada Gambar 24 sampai Gambar 29. Hasil analisis menunjukkan bahwa ikan cakalang mempunyai nilai MSY tertinggi yaitu sebesar 49.133 ton per tahun dengan effort optimum 49.565 trip per tahun. Ikan layur mempunyai MSY terendah 250,00 ton per tahun dengan effort optimal 500.000 trip per tahun. Hasil analisis produksi lestari ikan
0,00 0,02 0,04 0,06 0,08 0,10 0,12 0,14 MSY = 1.818,05 fopt = 30.150,00 2002 2003 2006 2005 2004 0 200 400 600 800 1,000 1,200 1,400 1,600 1,800 2,000 2,200 0 10,000 20,000 30,000 40,000 50,000 60,000 70,000 P ro duk s i ( ton) Effort (trip) R2 = 0,8747 2001
menggunakan model Schaefer, yang menunjukkan upaya penangkapan optimal (f
MSY) dan hasil tangkapan optimum (CMSY).
Gambar 24 Grafik kurva lestari ikan tuna.
Gambar 25 Grafik kurva lestari ikan tenggiri.
0,00 0,05 0,10 0,15 0,20 0,25 0,30 0,35 0,40 MSY = 9.313,04 fopt = 55.716,67 2000 2001 2002 2003 2004 2005 0 1,000 2,000 3,000 4,000 5,000 6,000 7,000 8,000 9,000 10,000 0 20,000 40,000 60,000 80,000 100,000 120,000 140,000 P rod uk s i ( ton ) Effort (trip) R2 = 0,7663 0,00 0,00 0,00 0,00 0,00 0,01 0,01 2003 2004 2005 2006 2007 0 100 200 300 400 500 600 700 0 40.000 80.000 120.000 160.000 200.000 240.000 280.000 320.000 P ro d u ksi ( to n ) Effort (trip) MSY = 406,13 fopt = 142.500,00 R2 = 0,6064 2002 2001
Gambar 26 Grafik kurva lestari ikan tenggiri papan.
Gambar 27 Grafik kurva lestari ikan tongkol.
0,0000 0,0001 0,0002 0,0003 0,0004 0,0005 0,0006 0,0007 0,0008 0,0009 MSY = 160,00 fopt = 400.000,00 2000 2001 2002 2003 2004 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 0 100.000 200.000 300.000 400.000 500.000 600.000 700.000 800.000 P rod uk s i ( to n) Effort (trip) R2 = 0,8186 0,00 0,05 0,10 0,15 0,20 0,25 0,30 0,35 0,40 MSY = 7.030,82 fopt = 41.925,00 2000 2001 2002 2003 2004 0 1.000 2.000 3.000 4.000 5.000 6.000 7.000 8.000 0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 70.000 80.000 90.000 P rodu k s i ( to n) Effort (trip) R2 = 0,6336 2005 2005
Gambar 28 Grafik kurva lestari ikan cakalang.
Gambar 29 Grafik kurva lestari ikan layur.
0,00 0,50 1,00 1,50 2,00 2,50 MSY = 49.133,78 fopt = 49.565,00 R2 = 0,8058 2000 2001 2002 2003 2004 2005 0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 0 10.000 20.000 30.000 40.000 50.000 60.000 70.000 80.000 90.000 100.000 P rodu k s i ( to n) Effort (trip) 0,0000 0,0002 0,0004 0,0006 0,0008 0,0010 0,0012 MSY = 250,00 fopt = 500.000,00 1998 1999 2000 2001 2002 0 50 100 150 200 250 0 100.000 200.000 300.000 400.000 500.000 600.000 700.000 800.000 900.000 1.000.000 1.100.000 P r oduk s i ( t on)
Effort (trip)
R2 = 0,9417 1998 1999 2000 2001 2002 0 50 100 150 200 250 0 100,000 200,000 300,000 400,000 500,000 600,000 700,000 800,000 900,000 1,000,000 1,100,000 P r oduk s i ( t on)Effort (trip)
2003 2004 20054.1.3 Tingkat pemanfaatan dan tingkat pengupayaan
Berdasarkan nilai maximum sustainable yield (MSY) dan produksi aktual tahun 2005 dari jenis ikan pelagis kecil dan besar maka tingkat pemanfaatan sumberdaya dapat diketahui. Kemudian dari nilai effort optimal dan effort aktual tahun 2005 untuk masing-masing jenis ikan pelagis, maka dapat dihitung tingkat pengupayaan yang terjadi. Tingkat pemanfaatan dan tingkat pengupayaan masing-masing jenis ikan pelagis kecil dan besar disajikan pada Tabel 38 dan Tabel 39 berikut.
Tabel 38 Produksi aktual, tingkat MSY, tingkat pemanfaatan, effort aktual, effort optimal, dan tingkat pengupayaan ikan pelagis kecil di perairan Maluku
No Jenis ikan Produksi
aktual (ton) Tingkat MSY (ton) Tingkat pemanfaatan (%) Effort aktual (trip) Effort optimal (trip) Tingkat pengupayaan (%) 1 Ikan selar 3451,2 5.839 59,10 8.711 24.165 37,01 2 Ikan layang 6765,5 11.895 56,87 9.801 24.387 41,50 3 Ikan tembang 708 8.176 86,58 21.619 28.595 75,60 4 Ikan teri 292 4.983 58,61 25.192 31.570 79,79 5 Ikan komu 355,7 1.493 23,81 20.895 38.650 54,06 6 Ikan kembung 831,3 1.818 45,72 16.718 30,150 55,45
Sumber: data olahan 2009
Tabel 39 Produksi aktual, tingkat MSY, tingkat pemanfaatan, effort aktual, effort optimal, serta tingkat pengupayaan ikan pelagis besar di perairan Maluku
No Jenis ikan Produksi
aktual (ton) Tingkat MSY (ton) Tingkat pemanfaatan (%) Effort aktual (trip) Effort optimal (trip) Tingkat pengupayaan (%) 1 Ikan tuna 93.130 9.313 51,10 120.859 55.716 21,69 2 Ikan tenggiri 40,613 406,13 0,88 128.228 142.500 89,98 3 Ikan tenggiri papan 140 160,00 2,12 77.471 400.000 19,36 4 Ikan tongkol 7.030 7.030 22,23 101.330 41.925 24,16 5 Ikan cakalang 49.133 49.133 13,03 70.445 49.565 14,21 6 Ikan layur 25.00 250,00 2,00 156,046 500.000 30,12
Berdasarkan pada Tabel 38, tingkat pemanfataan ikan pelagis kecil terutama jenis ikan selar, tembang, teri, komu dan kembung di perairan Maluku masih dibawah produksi lestari (MSY). Tingkat pemanfaatan ikan tembang mencapai 86,58% merupakan yang tertinggi diikuti oleh ikan selar (59,10%), ikan teri (58,61%), ikan layang (56,87%), ikan kembung (45,72%) dan yang terakhir adalah ikan komu (23,81%). Sementara itu tingkat pengupayaan ikan pelagis kecil terlihat bahwa ikan teri dengan tingkat pengupayaannya melebihi jenis ikan lain (79,79%) diikuti oleh ikan tembang (75,60%), ikan kembung (55,45%), ikan komu (54,06%), ikan layang (41,50%), dan ikan selar (37,01%).
Pada Tabel 39 terlihat bahwa jenis ikan tuna menempati urutan pertama dengan tingkat pemanfaatan sebesar 51,10%, kemudian ikan tongkol 22,23%, ikan cakalang 13,03%, ikan tenggiri papan 2,12%, ikan layur 2,00%, dan ikan tenggiri 0,88%. Ikan tenggiri (89,98%) merupakan jenis ikan pelagis besar dengan tingkat tingkat pengupayaan pada urutan pertama diikuti oleh ikan layur 30,12%, ikan tongkol (24,16%), ikan tuna (21,69%), ikan tenggiri papan (19,36%), dan ikan cakalang (14,21%).
4.2. Teknologi Penangkapan Tepat Guna 4.2.1. Penilaian dan standardisasi aspek biologi
Analisis terhadap aspek biologi dilakukan untuk melihat apakah jenis alat tangkap yang digunakan untuk pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis kecil di Provinsi Maluku merusak sumberdaya atau tidak. Penilaian aspek biologi unit penangkapan ikan pelagis dititik beratkan pada empat kriteria yaitu CPUE (catch per unit effort), jumlah trip, komposisi hasil tangkapan dan ukuran ikan yang tertangkap.
Hasil penilaian dari aspek biologi disajikan pada Tabel 40 yang memperlihatkan penilaian dan standardisasi aspek biologi unit penangkapan ikan pelagis. Berdasarkan pertimbangan aspek biologi, pengembangan alat tangkap huhate, jaring insang permukaan dan pancing tonda lebih diprioritaskan, diikuti pukat cincin, pukat pantai dan bagan.
Tabel 40 Standardisasi aspek biologi unit penangkapan ikan di perairan Maluku
No Alat Tangkap
Biologi Hasil Standarisasi Total
Rata-rata UP W1 W2 W3 W4 V(W1) V(W2) V(W3) V(W4) 1 Pukat cincin 0,873 30.81 3 1 0.000 0.500 0.000 0.000 35,288 4,41 4 2 Pukat pantai 0,955 225,24 3 1 0.000 0.000 0.000 1.000 31,201 3,90 5 3 Bagan 0,715 14.76 5 1 0.000 0.000 0.500 1.000 22,978 2,87 6 4 Huhate 0,946 58.909 2 3 0.600 0.750 0.500 0.000 5891,69 736,46 1 5 Pancing tonda 0,057 393,72 2 3 1.000 1.000 1.000 1.000 402,78 50,34 3 6 Jaring insang permukaan 0,083 720,34 2 3 0.800 1.000 1.000 1.000 727,23 90,90 2
Sumber: data penelitian 2009 Keterangan:
W1 = CPUE (tahun) W2 = Jumlah trip (tahun)
W3 = Komposisi hasil tangkapan (jumlah jenis) W4 = Ukuran ikan yang tertangkap (skor) UP = Urutan prioritas
V(W1) = CPUE yang distandardisasi dengan fungsi nilai V(W2) = Jumlah trip yang distandardisasi dengan fungsi nilai
V(W3) = Komposisi hasil tangkapan yang distandardisasi dengan fungsi nilai V(W4) = Ukuran ikan yang tertangkap yang distandardisasi dengan fungsi nilai
Penilaian secara keseluruhan dari hasil analisis skoring parameter biologi, alat tangkap huhate urutan pertama dengan nilai sebesar 736,46, jaring insang permukaan prioritas dengan nilai 90,90, dan pancing tonda diurutan ketiga dengan nilai 50,34.
4.2.2 Penilaian dan standardisasi aspek teknis
Analisis unit penangkapan pada aspek teknis sangat berkaitan dengan pengoperasian alat tangkap ikan, apakah termasuk efektif atau tidak untuk dioperasikan. Penilaian pada aspek teknis dilakukan untuk melihat tingkat efektifitas alat tangkap untuk digunakan. Kriteria pada aspek teknis meliputi pengoperasian alat tangkap, daya jangkau operasi, pengaruh lingkungan fisik, selektivitas alat dan penggunaan teknologi. Hasil penilaian dan standardisasi aspek teknis unit penangkapan ikan pelagis kecil disajikan pada Tabel 41. Penilaian dan hasil standardisasi aspek teknis menunjukkan bahwa alat tangkap pancing tonda (2,21) menduduki urutan pertama, diikuti jaring insang permukaan (2,16) diurutan kedua, dan huhate (1,94) pada posisi ketiga.
Tabel 41 Standardisasi aspek teknis unit penangkapan ikan di perairan Maluku
No Alat Tangkap
Teknis Hasil Standarisasi Total
Rata-rata UP X1 X2 X3 X4 X5 V(X1) V(X2) V(X3) V(X4) V(X5) 1 Pukat cincin 1 5 3 1 3 1.000 0.500 0.000 0.000 0.750 15,25 1,52 4 2 Pukat pantai 1 1 5 1 1 0.000 0.000 0.000 1.000 0.000 10 1 6 3 Bagan 3 3 3 1 3 0.000 0.000 0.500 1.000 0.000 14,5 1,45 5 4 Huhate 3 5 1 3 5 0.600 0.750 0.500 0.000 0.600 19,45 1,94 3 5 Pancing tonda 3 5 1 3 5 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 22 2,21 1 6 Jaring insang permukaan 3 5 1 5 3 0.800 1.000 1.000 1.000 0.800 21,6 2,16 2
Sumber: data penelitian 2009
X1 = Pengoperasian alat tangkap (skor)
X2 = Daya jangkau operasi penangkapan (skor) X3 = Pengaruh lingkungan fisik (skor)
X4 = Selektivitas (skor)
X5 = Penggunaan teknologi (skor) UP = Urutan prioritas
V(X1) = Metode pengoperasian alat yang distandardisasi dengan fungsi nilai V(X2) = Daya jangkau unit penangkapan yang distandardisasi dengan fungsi nilai V(X3) = Pengaruh lingkungan fisik terhadap alat tangkap yang distandardisasi
dengan fungsi nilai
V(X4) = Selektivitas yang distandardisasi dengan fungsi nilai
V(X5) = Penggunaan teknologi yang distandardisasi dengan fungsi nilai
4.2.3 Penilaian dan standardisasi aspek sosial
Analisis aspek sosial terhadap ke-enam unit penangkapan ikan pelagis yang melakukan operasi penangkapan di perairan Maluku meliputi kriteria penilaian respon terhadap penerimaan alat tangkap baru (Y1), tingkat pendidikan (Y2), ada tidaknya konflik antar nelayan (Y3), pengalaman kerja sebagai nelayan (Y4), jumlah tenaga kerja (Y5). Nilai pada kriteria penyerapan tenaga kerja berdasarkan jumlah tenaga kerja pada setiap unit penangkapan yang melakukan operasi penangkapan. Nilai-nilai yang diperoleh dari nelayan dari masing-masing alat tangkap dihitung berdasarkan jawaban yang dipilih dengan cara memberikan skor pada saat wawancara (Tabel 42).
Penilaian keunggulan unit penangkapan ikan dari aspek sosial, alat tangkap huhate (2,7) dan pukat cincin (2,4) mempunyai keunggulan sebagai prioritas utama dan kedua. Keunggulan kedua alat tangkap tersebut sebagai prioritas utama
dari beberapa kriteria yaitu huhate pada seluruh kategori penilaian berdasarkan wawancara, sedangkan alat tangkap pukat cincin mengalami kelemahan pada penilaian tingkat pendidikan (Y2), dan konflik antar nelayan (Y3) serta pancing tonda menduduki urutan ketiga (2,38). Setelah dilakukan standardisasi secara keseluruhan terhadap ke-enam jenis alat tangkap ikan pelagis yang melakukan operasi penangkapan di perairan Maluku, maka keunggulan yang diperoleh dari unit penangkapan ikan ditinjau dari aspek sosial adalah alat tangkap huhate (2,7), pukat cincin (2,4), dan pancing tonda (2,38) dan secara keseluruhan dapat dilihat pada Tabel 42
Tabel 42 Standardisasi aspek sosial unit penangkapan ikan di perairan Maluku
No Alat Tangkap
Sosial Hasil Standarisasi Total Rata-rata UP Y1 Y2 Y3 Y4 Y5 V(Y1) V(Y2) V(Y3) V(Y4) V(Y5)
1 Pukat cincin 5 3 1 5 5 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 24 2,4 2 2 Pukat pantai 5 1 3 1 5 0.667 0.000 0.500 1.000 0.444 17,61 1,76 5 3 Bagan 5 1 3 3 1 0.333 0.000 0.000 0.000 0.111 13,44 1,34 6 4 Huhate 5 5 5 5 5 1.000 0.000 0.000 1.000 0.000 27 2,7 1 5 Pancing tonda 5 5 5 5 1 0.000 0.333 0.500 1.000 1.000 23,83 2,38 3 6 Jaring insang permukaan 5 5 5 5 1 0.667 0.000 0.500 0.000 0.000 22,16 2,21 4
Sumber: data penelitian 2009 Keterangan:
Y1 = Respon penerimaan alat tangkap baru (skor) Y2 = Tingkat pendidikan (skor)
Y3 = Ada tidaknya konflik antar nelayan (skor) Y4 = Pengalaman kerja sebagai nelayan (skor) Y5 = Jumlah tenaga kerja per unit alat (skor) UP = Urutan prioritas
V(Y1) = Respon penerimaan alat tangkap baru distandardisasi dengan fungsi nilai
V(Y2) = Tingkat pendidikan yang distandardisasi dengan fungsi nilai
V(Y3) = Ada tidaknya konflik antar nelayan yang distandardisasi dengan fungsi nilai
V(Y4) = Pengalaman kerja yang distandardisasi dengan fungsi nilai V(Y5) = Jumlah tenaga kerja yang distandardisasi dengan fungsi nilai
4.2.4 Penilaian dan standardisasi aspek ekonomi
Keunggulan unit penangkapan ikan dari aspek ekonomi menggunakan kriteria penilaian yaitu penerimaan kotor per trip operasi (Z1), penerimaan kotor per jam operasi (Z2), penerimaan kotor per unit alat tangkap per bulan (Z3), penerimaan kotor per tahun (Z4) dan penerimaan kotor per tenaga kerja (Z5). Hasil penilaian untuk alat tangkap unggulan dari aspek ekonomi menempatkan alat tangkap pancing tonda sebagai unit penangkapan ikan prioritas utama. Alat tangkap pancing tonda unggul pada 5 kriteria penilaian yaitu pada kriteria (Z1), (Z2), (Z3), (Z4), dan (Z5) (Tabel 43). Alat tangkap huhate menduduki urutan kedua (2,77) dan jaring insang menduduki urutan ketiga (2,46) berdasarkan penilaian dan standarisasi aspek ekonomi.
Tabel 43 Standardisasi aspek ekonomi unit penangkapan ikan di perairan Maluku
No Alat Tangkap
Ekonomi Hasil Standarisasi Total Rata
-rata UP Z1 Z2 Z3 Z4 Z5 V(Z1) V(Z2) V(Z3) V(Z4) V(Z5) 1 Pukat cincin 5 3 5 5 3 1.000 0.556 0.778 0.750 0.444 24,528 2,45 4 2 Pukat pantai 1 1 1 1 1 0.000 0.000 0.000 0.000 0.000 5,0 0,5 6 3 Bagan 1 3 1 3 3 0.556 0.333 0.222 0.250 0.444 12,805 1,28 5 4 Huhate 5 5 5 5 5 0.667 0.556 0.665 0.500 0.333 27,721 2,77 2 5 Pancing tonda 5 5 5 5 5 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 29,0 2,9 1 6 Jaring insang permukaan 1 5 5 5 5 0.667 0.778 0.778 0.750 0.667 24,64 2,46 3
Sumber: data penelitian 2009 Keterangan:
Z1 = Penerimaan kotor/trip operasi (Rp) Z2 = Penerimaan kotor/jam operasi (Rp) Z3 = Penerimaan kotor/alat tangkap/bulan (Rp) Z4 = Penerimaan kotor/tahun (Rp)
Z5 = Penerimaan kotor/tenaga kerja (Rp)
V(Z1) = Penerimaan kotor per trip yang distandardisasi dengan fungsi nilai V(Z2) = Penerimaan kotor per jam yang distandardisasi dengan fungsi nilai V(Z3) = Penerimaan kotor per alat tangkap yang distandardisasi dengan fungsi
nilai
V(Z4) = Penerimaan kotor per tahun yang distandardisasi dengan fungsi nilai V(Z5) = Penerimaan kotor per tenaga kerja yang distandardisasi dengan fungsi
nilai
Berdasarkan rangkuman keunggulan berdasarkan aspek biologi (W1), teknis (X2), sosial (Y3), dan ekonomi (Z4) unit penangkapan merupakan cakupan keseluruhan aspek yang menjadi faktor penilaian. Tujuan determinasi unit penangkapan ikan adalah untuk mendapatkan jenis alat tangkap ikan yang mempunyai keunggulan secara menyeluruh dari aspek-aspek tersebut sehingga cocok untuk dikembangkan di suatu daerah. Hasil analisis skoring yang dilakukan terhadap 6 unit usaha armada penangkapan ikan yang dioperasikan di perairan Maluku disajikan pada Tabel 44. Hasil standardisasi menunjukkan bahwa alat tangkap huhate sebagai unit penangkapan prioritas utama dan diikuti oleh pancing tonda, jaring insang permukaan, serta pukat cincin.
Tabel 44 Rangkuman standardisasi penilaian aspek biologi, aspek teknis, aspek sosial, aspek ekonomi unit penangkapan ikan di perairan Maluku
Unit penangkapan Kriteria penilaian Total Rata-rata UP Aspek biologi Aspek teknis Aspek sosial Aspek ekonomi Pukat cincin 4,41 1,52 2,4 2,45 10,78 2,69 4 Pukat pantai 3,90 1 1,76 0,5 7,16 1,79 6 Bagan 2,87 1,45 1,34 1,28 6,94 1,73 5 Huhate 736,46 1,94 2,7 2,77 743,87 185,96 1 Pancing tonda 50,34 2,21 2,38 2,9 57,83 14,45 2 Jaring insang permukaan 90,90 2,16 2,21 2,46 16,73 4,18 3
Sumber: data olahan 2009
4.3 Aspek berkelanjutan
Keberhasilan suatu operasi penangkapan sangat membutuhkan suatu acuan yang jelas sehingga dalam pelaksanaannya harus didukung dari berbagai macam aspek yang saling berpengaruh terhadapnya. Aspek keberlanjutan merupakan suatu aspek yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan operasi penangkapan ikan karena berbagai macam faktor didalamnya yang harus dilaksanakan seperti: menerapkan teori yang ramah lingkungan, jumlah hasil tangkapan tidak melebihi yang diperbolehkan, penggunaan bahan bakar minyak rendah, menguntungkan, investasi rendah, serta memenuhi ketentuan hukum dan peraturan yang berlaku.
Hasil seleksi aspek berkelanjutan yang dilakukan terhadap semua jenis unit penangkapan ikan yang beroperasi di perairan Maluku dapat disajikan pada Tabel 45
Tabel 45 Hasil seleksi unit penangkapan ikan yang berkelanjutan
No Unit penangkapan
ikan
Kriteria Unit Penangkapan Ikan yang Berkelanjutan Total skor Rata-rata A B C D E F 1 Pukat cincin 2 3 4 3 3 3 18 3 2 Pukat pantai 1 2 1 3 3 1 11 1,83 3 Bagan 2 3 2 2 3 3 15 2,5 4 Huhate 4 4 4 3 3 4 22 3,66 5 Pancing tonda 4 4 4 3 4 4 23 3,83 6 Jaring insang permukaan 4 3 3 3 2 3 18 3 7 Pukat udang 2 2 2 2 2 2 12 2 8 Payang 3 2 3 2 2 3 15 2,5 9 Pukat tarik 2 2 2 2 2 2 12 2 10 Rawai 4 2 2 2 2 2 14 2,33 11 Perangkap 3 4 2 4 4 2 18 3
Sumber: data olahan 2009
Keterangan: A = menerapkan teknologi ramah lingkungan, B= Jumlah hasil tangkapan tidak melebihi TAC, C= menguntungkan, D= investasi rendah, E= penggunaan BBM rendah, F= memenuhi ketentuan hukum dan perundang-undangan yang berlaku
Analisis aspek berkelanjutan dilakukan dengan cara mengolah data yang diperoleh dari jawaban responden sesuai dengan kriteria dan sub kriteria yang terdapat pada acuan analisis aspek berkelanjutan. Masing-masing alat tangkap diberi skor berdasarkan jawaban responden, kemudian skor tersebut dijumlahkan dan diambil nilai rata-ratanya. Kemudian dari keseluruhan nilai rata-rata tersebut diambil nilai rata-rata tertinggi dan terendah. Nilai rata-rata tertinggi dan nilai rata-rata terendah dijumlahkan, kemudian dibagi 2 (dua) untuk memperoleh nilai cutting off sebagai nilai terendah yang diambil untuk menentukan hasil seleksi unit penangkapan ikan.
Nilai rata-rata tertinggi adalah 3,83 (pancing tonda) dan nilai rata-rata terendah adalah 1,83 (pukat pantai) sehingga diperoleh nilai cutting off sebesar 2,83 yang berarti nilai rata-rata terendah yang meperhatikan aspek berkelanjutan adalah 2,83. Berdasarkan Tabel 45, unit penangkapan ikan yang memperhatikan aspek berkelanjutan di perairan Maluku adalah pancing tonda, huhate, jaring insang permukaan, perangkap, bagan, rawai, sedangkan yang tidak memperhatikan aspek berkelanjutan adalah pukat pukat cincin, pukat udang, pukat pantai, dan pukat tarik.
4.4 Aspek ramah lingkungan
Hasil seleksi terhadap aspek ramah lingkungan dari setiap unit penangkapan ikan pelagis kecil dan besar yang mengadakan operasi di perairan Maluku disajikan pada Tabel 46
Tabel 46 Hasil seleksi unit penangkapan ikan berdasarkan aspek ramah lingkungan
Sumber: Olahan data lapangan (2009)
Keterangan: A= selektivitas tinggi, B= tidak destruktif terhadap habitat, C= hasil tangkapan berkualitas tinggi, D= tidak membahayakan nelayan, E= produknya tidak membahayakan konsumen, F= by-catch dan discard minim, G= tidak menangkap species yang hampir punah, H= dampak minimum terhadap biodiversity, I= dapat diterima secara sosial.
Analisis aspek ramah lingkungan dilakukan dengan cara mengolah data yang diperoleh dari jawaban responden sesuai dengan kriteria dan sub kriteria yang terdapat pada acuan analisis aspek ramah lingkungan. Masing-masing alat tangkap diberi skor berdasarkan jawaban responden, kemudian skor tersebut dijumlahkan dan diambil nilai ratanya. Kemudian dari keseluruhan nilai rata-rata tersebut diambil nilai rata-rata-rata-rata tertinggi dan terendah. Nilai rata-rata-rata-rata tertinggi dan nilai rata-rata terendah dijumlahkan, kemudian dibagi 2 (dua) untuk memperoleh nilai cutting off sebagai nilai terendah yang diambil untuk menentukan hasil seleksi unit penangkapan ikan.
Nilai rata-rata tertinggi adalah 3,55 (pancing tonda) dan nilai rata-rata terendah adalah 1,78 (pukat pantai, pukat udang, pukat tarik) sehingga diperoleh nilai cutting off sebesar 2,66 yang berarti nilai rata-rata terendah yang meperhatikan aspek berkelanjutan adalah 2,66. Berdasarkan Tabel 46, unit
No Unit penangkapan
ikan
Kriteria Unit Penangkapan Ikan yang Ramah Lingkungan Total skor Rata-rata A B C D E F G H I 1 Pukat cincin 1 2 3 3 3 3 3 2 3 23 2,55 2 Pukat pantai 1 1 2 2 2 2 2 2 1 16 1,78 3 Bagan 2 3 3 3 3 3 3 2 3 25 2,78 4 Huhate 4 3 3 3 4 3 3 3 3 29 3,22 5 Pancing tonda 4 3 4 4 4 3 3 3 3 32 3,55 6 Jaring insang permukaan 4 3 3 4 3 3 3 3 3 29 3,22 7 Pukat udang 1 2 2 2 1 2 2 2 2 16 1,78 8 Payang 2 2 3 3 3 3 3 3 2 24 2,67 9 Pukat tarik 1 1 2 2 2 2 2 2 2 16 1,78 10 Rawai 3 3 2 3 3 3 3 2 3 25 2,78 11 Perangkap 3 2 2 2 2 3 2 2 3 21 2,33
penangkapan ikan yang memperhatikan aspek ramah lingkungan di perairan Maluku adalah pancing tonda, jaring insang permukaan, huhate, rawai, payang dan perangkap, sedangkan yang tidak memperhatikan aspek berkelanjutan adalah pukat pukat cincin, pukat udang, pukat pantai, dan pukat tarik.
4.5 Opsi pengembangan unit penangkapan ikan pilihan
Unit penangkapan ikan yang dipilih sebagai opsi pengembangan di perairan Maluku adalah unit penangkapan ikan yang memenuhi lebih baik dan lengkap dari aspek aspek pengembangan, baik aspek biologi, berkelanjutan, dan ramah lingkungan. Analisis opsi pengembangan unit penangkapan ikan di perairan Maluku dilakukan dengan cara mengetahui terlebih dahulu nilai unit penangkapan ikan dari hasil analisis masing-masing aspek, kemudian nilai tersebut dijumlahkan. Selanjutnya nilai tertinggi dan terendah dijumlahkan, kemudian dibagi 2 (dua) untuk menentukan nilai cutting off. Nilai tertinggi adalah 8,38 (pancing tonda) dan nilai terendah adalah 4,61 (pukat pantai). Nilai cutting off sebesar 6,49 yang artinya nilai terendah yang diambil menjadi opsi pengembangan unit penangkapan ikan di perairan Maluku adalah 6,49.
Berdasarkan Tabel 47, unit penangkapan ikan yang menjadi opsi pengembangan di Maluku adalah pancing tonda, huhate, jaring insang permukaan, sedangkan unit penangkapan yang bukan menjadi opsi pengembangan adalah pukat pantai, pukat udang, pukat tarik, perangkap, pukat cincin.
Tabel 47 Hasil seleksi unit penangkapan ikan yang layak dikembangkan di Maluku
No Unit penangkapan ikan
Aspek Seleksi Keterangan
Biologi Berkelanjutan Ramah lingkungan 1 Pukat cincin 1 2 2,33 5,33 2 Pukat pantai 1 1,83 1,78 4,61 3 Bagan 1 2,66 2,78 6,44 4 Huhate 1 3,66 3,22 7,88 5 Pancing tonda 1 3,83 3,55 8,38 6 Jaring insang permukaan 1 3 3,22 7,22 7 Pukat udang 1 2 1,78 4,78 8 Payang 1 2,5 2,67 6,17 9 Pukat tarik 1 2 1,78 4,78 10 Rawai 1 2,33 2,67 6 11 Perangkap 1 2,66 2,33 5,99
4.6 Alokasi unit penangkapan ikan di perairan Maluku
Tujuan pembangunan perikanan di Provinsi Maluku adalah mengoptimalkan produksi sumberdaya hayati perikanan mencapai potensi lestari, serta dalam pengembangannya tidak terlepas dari ketersediaan potensi sumberdaya, tenaga kerja dan faktor penunjang seperti infrastruktur, institusi dan sebagainya. LGP digunakan untuk menentukan jumlah alokasi unit penangkapan, devisiasi tujuan pengelolaan perikanan tangkap dan pemakaian sumberdaya.
Pencapaian tujuan pembangunan perikanan tangkap yang sifatnya kontradiktif membutuhkan suatu pendekatan yang tepat untuk menyerasikan tujuan yang telah ditentukan, sehingga memudahkan pengambil kebijakan untuk mengatasi permasalahan mengenai pengalokasian sumberdaya. Pendekatan optimalisasi alokasi alat penangkapan ikan dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik linear goal programming (LGP), yang dapat memberikan solusi terhadap permasalahaan eksploitasi sumberdaya ikan di perairan Maluku. Solusi LGP yang diperoleh akan meperlihatkan jumlah alokasi alat tangkap, deviasi tujuan pengelolaan perikanan tangkap dan pemakaian sumberdaya.
Target tersebut didasarkan pada tujuan pembangunan perikanan Daerah Maluku, yang mencakup beberapa alat tangkap yang dioperasikan nelayan di Maluku antara lain pukat cincin (purse seine), pukat pantai (beach seine), bagan (liftnet), huhate (pole and line), pancing tonda (troll line), serta jaring insang permukaan (drift gillnet). Pengalokasian sumberdaya perikanan tangkap dapat dilakukan berdasarkan manajemen kapasitas yaitu untuk menyelaraskan kapasitas produktif sumberdaya dengan kemampuan armada demi keberlanjutannya. Untuk itu digunakan target hasil tangkapan maksimum (MSY) sebagai basis, dengan demikian diperlukan hasil estimasi kapasitas alat tangkap saat ini dan kapasitas yang seharusnya dialokasikan serta hasil tangkapannya. LGP terdiri dari persamaan fungsi tujuan, fungsi kendala dan variabel keputusan. Persamaan fungsi tujuan mengekspresikan variabel deviasional dari kendala tujuan yang harus diminimumkan. Variabel deviasional pada fungsi tujuan bermanfaat unuk menampung penyimpangan hasil penyelesaian diatas sasaran dan variabel deviasional yang berfungsi untuk menampung penyimpangan hasil penyelesaian
di bawah sasaran. Variabel deviasional tersebut akan merubah kendala menjadi sarana untuk mencapai sasaran yang dikehendaki.
Penerapan LGP pada hakekatnya akan memberikan informasi penting dalam pengalokasian sumberdaya perikanan tangkap secara optimal, yaitu: 1) berapa alokasi optimal alat tangkap yang digunakan, 2) berapa besar ketercapaian tujuan yang dikehendaki sesuai target yang ditetapkan, dan 3) berapa besar sumberdaya yang dimanfaatkan dalam mencapai tujuan. Berdasarkan target kebijakan pengembangan dan variabel keputusan, maka sasaran yang ingin dicapai dalam optimalisasi alokasi armada penangkapan ikan pelagis di perairan Maluku adalah: (1) Mengoptimumkan ketersediaan sumberdaya ikan (SDI)
Sumberdaya ikan pelagis kecil yang tertangkap di perairan Maluku adalah selar, layang, tembang, teri, komu, dan kembung, sedangkan sumberdaya ikan pelagis besar adalah tuna, tenggiri, tenggiri papan, tongkol, cakalang, dan layur. Persamaan kendala tujuan untuk mengoptimalkan ketersediaan SDI tersebut didasarkan atas nilai TAC (total allowable catch) dan kemampuan masing-masing alat tangkap untuk menangkap ikan pelagis kecil. Adapun perhitungan nilai TAC, kemampuan menangkap alat untuk menyusun persamaan kendala tujuan dapat dilihat pada Lampiran 1.
1) Ikan pelagis kecil
(i) Ikan selar (Selaroides spp)
Potensi lestari (MSY) ikan selar 5839,47 ton/tahun dengan TAC sebesar 4671,58 ton/tahun/unit. Ikan selar ditangkap dengan menggunakan alat tangkap pukat cincin, pukat pantai, dan bagan. Kemampuan pukat cincin untuk menangkap ikan selar adalah sebesar 10753,3 ton/tahun/unit, pukat pantai sebesar 1472,6 ton/tahun/unit, serta bagan 3138,2 ton/tahun/unit. Persamaan kendala tujuan untuk mengoptimalkan ketersediaan sumberdaya ikan selar adalah :
10753,3 X1 + 1472,6 X2 + 3138,2 X3 + DB1 - DA1 <= 4671,58 (ii) Ikan layang (Decapterus russelli)
Potensi lestari (MSY) ikan layang 11895 ton/tahun dengan TAC sebesar 9516 ton/tahun/unit. Ikan layang ditangkap dengan menggunakan alat tangkap pukat cincin, pukat pantai, dan bagan. Kemampuan pukat cincin untuk menangkap
ikan layang adalah sebesar 21.104,8 ton/tahun/unit, pukat pantai sebesar 2782,6 ton/tahun/unit, serta bagan 4673,3 ton/tahun/unit. Persamaan kendala tujuan untuk mengoptimalkan ketersediaan sumberdaya ikan layang adalah :
21.104,8 X1 + 2782,6 X2 + 4673,3 X3 + DB2 - DA2 <= 9516 (iii) Ikan tembang (Sardinella fimbriata)
Potensi lestari (MSY) ikan tembang 8176,74 ton/tahun dengan TAC sebesar 6541,40 ton/tahun/unit. Ikan tembang ditangkap dengan menggunakan alat tangkap pukat cincin, pukat pantai, dan bagan. Kemampuan pukat cincin untuk menangkap ikan tembang adalah sebesar 3347,6 ton/tahun/unit, pukat pantai sebesar 15443,5 ton/tahun/unit, serta bagan 14817,4 ton/tahun/unit. Persamaan kendala tujuan untuk mengoptimalkan ketersediaan sumberdaya ikan tembang adalah :
3347,6 X1 + 15443,5 X2 + 14817,4 X3 +DB3 - DA3< = 6541,40 (iv) Ikan teri (Stolephorus indicus)
Potensi lestari (MSY) ikan teri 4983,32 ton/tahun dengan TAC sebesar 3986,65 ton/tahun/unit. Ikan teri ditangkap dengan menggunakan alat tangkap pukat cincin, pukat pantai, dan bagan. Kemampuan alat tangkap pukat cincin untuk menangkap ikan teri adalah sebesar 1353,5 ton/tahun/unit, pukat pantai sebesar 8722 ton/tahun/unit, serta bagan 9569 ton/tahun/unit. Persamaan kendala tujuan untuk mengoptimalkan ketersediaan sumberdaya ikan teri adalah :
1353,5 X1 + 8722 X2 + 9569 X4 +DB4 - DA4 <= 4983,32 (v) Ikan komu (Auxiss thazard)
Potensi lestari (MSY) ikan komu 1493,82 ton/tahun dengan TAC sebesar 1195,5 ton/tahun/unit. Ikan komu ditangkap dengan menggunakan alat tangkap pukat cincin, pukat pantai, dan bagan. Kemampuan pukat cincin untuk menangkap ikan komu adalah sebesar 1070,1 ton/tahun/unit, pukat pantai sebesar 1359,4 ton/tahun/unit, serta bagan 1110,2 ton/tahun/unit. Persamaan kendala tujuan untuk mengoptimalkan ketersediaan sumberdaya ikan komu adalah :
1070,1 X1 + 1359,4 X2 + 1110,2 X3 + DB5 - DA5 <= 1195,5 (vi) Ikan kembung (Rastreliger kanagurta)
Potensi lestari (MSY) ikan kembung 1818,05 ton/tahun/unit dengan TAC sebesar 1454,44 ton/tahun/unit. Ikan kembung ditangkap dengan menggunakan
alat tangkap pukat cincin, pukat pantai, dan bagan. Kemampuan pukat cincin untuk menangkap ikan kembung adalah sebesar 4525,1 ton/tahun/unit, pukat pantai sebesar 1955,4 ton/tahun/unit, serta bagan 1593,3 ton/tahun/unit. Persamaan kendala tujuan untuk mengoptimalkan ketersediaan sumberdaya ikan kembung adalah :
4525,1 X1 + 1955,4 X2 + 1593,3 X3 +DB6 - DA6 <= 1818,05 2) Ikan pelagis besar
(i) Ikan tuna (Thunnus sp)
Potensi lestari (MSY) ikan tuna 9313,04 ton/tahun/unit dengan TAC sebesar 7450,72 ton/tahun/unit. Ikan tuna ditangkap dengan menggunakan alat tangkap huhate, pancing tonda, dan jaring insang. Kemampuan alat huhate untuk menangkap ikan tuna adalah sebesar 4715,4 ton/tahun/unit, pancing tonda sebesar 4453 ton/tahun/unit, serta jaring insang 3345,3 ton/tahun/unit. Adapun perhitungan nilai TAC, kemampuan menangkap alat untuk menyusun persamaan kendala tujuan dapat dilihat pada Lampiran 2. Persamaan kendala tujuan untuk mengoptimalkan ketersediaan sumberdaya ikan tuna adalah :
4715,4 X1 + 4453 X2 + 3345,3 X3 + DB7 – DA7 <= 7450,72 (ii) Ikan tenggiri (Scomberomorus commersoni)
Potensi lestari (MSY) ikan tenggiri 406,13 ton/tahun/unit dengan TAC sebesar 324,90 ton/tahun/unit. Ikan tenggiri ditangkap dengan menggunakan alat tangkap huhate, pancing tonda, dan jaring insang. Kemampuan alat tangkap huhate untuk menangkap ikan tenggiri adalah sebesar 18,8 ton/tahun/unit, pancing tonda sebesar 893,2 ton/tahun/unit, serta jaring insang 637,4 ton/tahun/unit. Persamaan kendala tujuan untuk mengoptimalkan ketersediaan sumberdaya ikan tenggiri adalah :
18,8 X1 + 893,2 X2 + 637,4 X3 + DB8 – DA8 <= 324,90 (iii) Ikan tenggiri papan (Scomberomorus gutatus)
Potensi lestari (MSY) ikan tenggiri papan 160 ton/tahun/unit dengan TAC sebesar 128 ton/tahun/unit. Ikan tenggiri papan ditangkap dengan menggunakan alat tangkap huhate dan pancing tonda. Kemampuan alat huhate untuk menangkap ikan tenggiri papan adalah sebesar 17,5 ton/tahun/unit, pancing tonda sebesar
557,1 ton/tahun/unit. Persamaan kendala tujuan untuk mengoptimalkan ketersediaan sumberdaya ikan tenggiri papan adalah :
17,5 X1 + 557,1 X2 + DB9 – DA9 <= 128 (iv) Ikan tongkol (Euthynnus affinis)
Potensi lestari (MSY) ikan tongkol 7030,82 ton/tahun/unit dengan TAC sebesar 5624,65 ton/tahun/unit. Ikan tongkol ditangkap dengan menggunakan alat tangkap huhate dan pancing tonda. Kemampuan alat huhate untuk menangkap ikan tongkol adalah sebesar 5850,3 ton/tahun/unit, pancing tonda sebesar 3710,2 ton/tahun/unit, dan jaring insang sebesar 2212,8 ton/tahun/unit. Persamaan kendala tujuan untuk mengoptimalkan ketersediaan sumberdaya ikan tongkol adalah :
5850,3 X1 + 3710,2 X2 + 2212,8 X3 + DB10 – DA10 <= 5624,65 (v) Ikan cakalang (Katsuwonus pelamis)
Potensi lestari (MSY) ikan cakalang 49133,78 ton/tahun/unit dengan TAC sebesar 39307,02 ton/tahun/unit. Ikan cakalang ditangkap dengan menggunakan alat tangkap huhate dan pancing tonda, dan jaring insang. Kemampuan alat tangkap huhate untuk menangkap ikan cakalang adalah sebesar 100983,7 ton/tahun/unit, pancing tonda sebesar 8534,7 ton/tahun/unit, dan jaring insang permukaan sebesar 7183,7 ton/tahun/unit. Persamaan kendala tujuan untuk mengoptimalkan ketersediaan sumberdaya ikan cakalang adalah :
100983,7 X1 + 8534,7 X2 + 7183,7 X3 + DB11 – DA11 <= 39307,02 (vi) Ikan layur (Istiophorus oriental)
Potensi lestari (MSY) ikan layur 250 ton/tahun/unit dengan TAC sebesar 200 ton/tahun/unit. Ikan layur ditangkap dengan menggunakan alat tangkap pancing tonda, dan jaring insang. Kemampuan pancing tonda untuk menangkap ikan layur adalah sebesar 210,1 ton/tahun/unit, pancing tonda sebesar 124,3 ton/tahun/unit. Persamaan kendala tujuan untuk mengoptimalkan ketersediaan sumberdaya ikan layur adalah :
210,1 X2 + 124,3 X3 + DB12 – DA12 <= 200 3) Memaksimumkan alat tangkap
Meminimumkan alat penangkapan ikan dimaksudkan untuk menentukan alokasi optimal dari enam alat penangkapan ikan antara lain: pukat cincin (purse
seine), pukat pantai (beach seine), bagan (liftnet), huhate (pole and line), pancing tonda (troll line), serta jaring insang permukaan (drift gillnet) yang saat ini beroperasi di perairan Maluku. Berdasarkan data statistik Dinas Perikanan dan Kelautan Maluku tercatat jumlah armada perikanan tangkap untuk kelima alat tersebut sampai tahun 2007 adalah 42902 unit. Namun, dengan pertimbangan keberlanjutan usaha perikanan dan sumberdaya ikan, maka pengalokasian alat penangkapan ikan adalah pukat cincin 272, pukat pantai 435, bagan 1659, huhate 404, pancing tonda 27.471, serta jaring insang permukaan 12.661 unit. Dengan demikian maka model persamaan adalah:
DB13 + 272 X1 + 435 X2 + 1659 X3 + 404 X4 + 27471 X5 + 12661X6 +DB13- DA13>= 42902
dimana:
X1 = alat tangkap pukat cincin X2 = alat tangkap pukat pantai (unit) X3 = alat tangkap bagan (unit) X4 = alat tangkap huhate (unit) X5 = alat tangkap pancing tonda (unit)
X6 = alat tangkap jaring insang permukaan (unit)
Berdasarkan hasil analisis dengan program Lindo, target sasaran untuk mengoptimalkan upaya pengembangan alat penangkapan dapat tercapai. Hal ini di
tunjukkan oleh nilai DB13= 0.
4) Memaksimumkan penyerapan tenaga kerja
Mengoptimalkan penyerapan tenaga kerja merupakan target untuk dicapai melalui pengalokasian optimum alat tangkap di perairan Maluku. Optimalisasi alokasi armada seyogianya dapat menyerap tenaga kerja nelayan pada jumlah tertentu yang tetap menghasilkan efisiensi teknis penangkapan yang lebih tinggi. Sasaran mengoptimalkan jumlah tenaga kerja merupakan bagian dari kebutuhan penangkapan yang berpengaruh terhadap keberhasilan operasi penangkapan ikan. Berdasarkan wawancara dengan nelayan dan pengamatan di lokasi penelitian, rata-rata penyerapan tenaga kerja nelayan untuk masing-masing alat tangkap pukat cincin 25 orang, pukat pantai 14 orang, bagan 4 orang, huhate 28 orang, pancing tonda 2 orang, dan jaring insang permukaan 3 orang. Total sumberdaya manusia nelayan di Maluku berdasarkan data Statistik Perikanan dan Kelautan Maluku tahun 2006 tercatat 114.130 orang. Diasumsikan nelayan pelagis yang
beroperasi di perairan Maluku sekitar 80%, maka jumlah nelayan penuh 91.304 orang. Hal ini tentunya berhubungan dengan erat dengan alokasi upaya penangkapan serta target produksi dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan secara berkelanjutan sehingga diharapkan penyerapan tenaga kerja ditetapkan sesuai dengan alokasi rata-rata nelayan pada setiap alat tangkap. Dengan demikian model persamaan penyerapan tenaga kerja adalah sebagai berikut:
25X1+ 14X2+ 4X3 + 28X4 + 2X5 + 3X6 + DB14+DA14<= 91304 dimana:
X1 = rata-rata penyerapan tenaga kerja nelayan pukat cincin (orang/unit) X2 = rata-rata penyerapan tenaga kerja nelayan pukat pantai (orang/unit) X3 = rata-rata penyerapan tenaga kerja nelayan bagan (orang/unit) X4 = rata-rata penyerapan tenaga kerja nelayan huhate (orang/unit)
X5 = rata-rata penyerapan tenaga kerja nelayan pancing tonda (orang/unit) X6 = rata-rata penyerapan tenaga kerja nelayan jaring insang permukaan (orang/unit)
Hasil analisis dengan program LINDO menunjukkan bahwa target sasaran mengoptimalkan penyerapan tenaga kerja dapat tercapai yang ditunjukkan oleh nilai DB14 = 0.
5) Memaksimumkan penerimaan asli daerah (PAD)
Memaksimumkan PAD adalah merupakan target untuk dicapai melalui pengalokasian alat penangkapan ikan pelagis. Kontribusi setiap alat tangkap dianggap sebagai PAD dari kegiatan perikanan pelagis di perairan Maluku. PAD yang diperoleh dari pungutan hasil perikanan dari setiap alat tangkap dapat ditetapkan 2,25% nilai total penjualan sesuai dengan peraturan yang berlaku di lokasi penelitian. Berdasarkan hasil wawancara dengan nelayan dan data lapangan yang kami temui bahwa setiap kilogram ikan pelagis kecil dijual dengan harga Rp 5000, maka kontribusi pukat cincin sebesar Rp 17.042.005, pukat pantai Rp 2.185.428, bagan Rp 2.010.420, huhate Rp 22.000.000, pancing tonda Rp 8.750.000, jaring insang permukaan Rp 3.000.000. Pungutan yang diperoleh melalui hasil perikanan pelagis di perairan Maluku pada saat kondisi hasil tangkapan maksimum lestari (MSY) yang diestimasi sebesar Rp 1.237.226.693, sehingga model persamaannya dapat dirumuskan sebagai,
17.042.005X1+2.185.428X2+2.010.420X3+22.000.000X4+8.750.000X5+3. 000.000X6 + DB15 + DA15<=1.237.226.693
dimana:
X1 = rata-rata kontribusi PAD oleh pukat cincin (Rp/unit) X2 = rata-rata kontribusi PAD oleh pukat pantai (Rp/unit) X3 = rata-rata kontribusi PAD oleh bagan (Rp/unit) X4 = rata-rata kontribusi PAD oleh huhate (Rp/unit) X5 = rata-rata kontribusi PAD oleh pancing tonda (Rp/unit)
X6 = rata-rata kontribusi PAD oleh jaring insang permukaan (Rp/unit)
Hasil analisis dengan program LINDO, memperlihatkan bahwa target sasaran mengoptimalkan PAD dari pungutan hasil perikanan ikan pelagis dapat tercapai. Hal ini ditunjukkan oleh nilai DB 15 = 0.
6) Meminimumkan penggunaan BBM
Berdasarkan hasil analisis data lapangan, jenis BBM untuk kegiatan penangkapan ikan oleh nelayan di perairan Maluku terdiri dari bersin, solar, dan minyak tanah. Total alokasi BBM untuk kegiatan perikanan sekitar 5000 liter/trip dan penggunaan ini merupakan patokan maksimum sehingga tidak berimplikasi terhadap pembengkakan biaya BBM yang menyebabkan armada tidak bisa beroperasi. Kenaikan harga dan pengurangan subsidi BBM berdampak pada pola operasi penangkapan, karena BBM merupakan komponen terbesar biaya operasi yang harus ditanggung oleh nelayan. Kebijakan kenaikan harga BBM dan pengurangan subsidi tentunya merupakan ancaman bagi kelangsungan usaha penangkapan.
Penggunaan BBM rata-rata dari armada penangkapan yang mengadakan operasi menunjukkan bahwa pukat cincin sekitar 200 liter/trip, pukat pantai 10 liter/trip, bagan 20 liter/trip, huhate 3000 liter/trip, pancing tonda 100.5 liter/trip, serta jaring insang permukaan 75 liter/trip. Alat tangkap pukat pantai, bagan, adalah merupakan alat tangkap yang menggunakan bahan bakar pada lampu sebagai sumber cahaya untuk mengumpulkan ikan. Dengan demikian, model persamaan matematis mengoptimalkan penggunaan BBM dalam pengembangan alat penangkapan ikan di perairan Maluku adalah:
200X1 + 10X2 + 20X3 + 3000X4 + 100.5X5 + 75X6 + DB16-DA16<= 5000 dimana:
X1 = penggunaan BBM oleh kapal pukat cincin (liter/trip) X4 = penggunaan BBM oleh kapal huhate (liter/trip)
X5 = penggunaan BBM oleh kapal pancing tonda (liter/trip)
X6 = penggunaan BBM oleh kapal jaring insang permukaan (liter/trip)
Tabel 48 memperlihatkan tentang alokasi optimal unit-unit penangkapan ikan pelagis yang diharapkan dapat direkomendasikan penambahan atau pengurangan alat tangkap yang dioperasikan di perairan Maluku.
Tabel 48 Alokasi alat tangkap dan solusi optimal perikanan pelagis di perairan Maluku
No Jenis Armada Hasil Optimalisasi
Aktual (unit) Solusi optimal Basis (unit) Penambahan /pengurangan Keterangan
1 Pukat cincin (X1) 272 257 -15 Upaya yang di tempuh untuk
pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis di perairan Maluku adalah dengan penambahan unit tangkap dan perluasan daerah penangkapan 2 Pukat pantai (X2) 435 260 -175 3 Bagan (X3) 1659 1419 -240 4 Huhate (X4) 404 1457 +1053 5 Pancing tonda (X5) 27471 40940 +13469 6 Jaring insang (X6) 12661 30000 +17339
Sumber: data penelitian 2009
Hasil analisis LGP terhadap unit penangkapan ikan pelagis terlihat bahwa pengembangan berdasarkan solusi optimal untuk pukat cincin, pukat pantai, bagan, huhate, pancing tonda, dan jaring insang permukaan masing-masing 257 unit, 260 unit, 1419 unit, 1457 unit, 40940 unit, dan 30000 unit. Kenaikan jumlah alat tangkap untuk dikembangkan, antara lain: huhate (1053 unit), pancing tonda (13469 unit), dan jaring insang (17339 unit). Pengurangan terjadi pada jumlah alat tangkap pukat cincin (15 unit), pukat pantai (175 unit), serta bagan (240 unit).
Pengurangan jumlah alat tangkap ikan pelagis kecil (pukat cincin, bagan, dan pukat pantai) disebabkan karena alat tangkap ini dianggap tidak ramah lingkungan sehingga kalau hal ini tidak ditindak-lanjuti akan mempengaruhi stok sumberdaya yang ada di perairan Maluku. Kenaikan jumlah alat tangkap ikan pelagis besar sangat berpengaruh pada sumberdaya sehingga pengelolaan dilakukan akan tetap berkelanjutan. Upaya yang ditempuh dalam pemanfaatan sumberdaya perikanan adalah dengan penambahan jumlah armada penangkapan, perbaikan alat tangkap dengan penggunaan teknologi tepat guna, serta perluasan daerah penangkapan dengan memperhatikan aturan yang berlaku sehingga dapat meningkatkan pendapatan nelayan dan pendapatan asli daerah. Kebijakan yang ditempuh berdasarkan solusi optimal basis pengembangan perikanan pelagis di
perairan Maluku dalam pencapaian sasaran pengembangan yang dilakukan secara bertahap.
4. 7 Modifikasi Prototipe Alat Tangkap di Perairan Maluku
Desain armada penangkapan harus sesuai dengan fungsinya seperti ukuran kapal, alat tangkap, mesin yang digunakan diharapkan akan berpengaruh terhadap pengelolaan potensi sumberdaya perikanan. Di Maluku, pengoperasian ketiga alat tangkap antara lain: huhate, pancing tonda, jaring insang permukaan memberikan kontribusi yang cukup besar bagi pengembangan perikanan di daerah ini. Namun, masih terdapat berberapa kelemahan dari alat-alat tangkap ini dan perlu dikaji serta diusulkan prototipe sehingga akan diperoleh bentuk yang akan dikembangkan dimasa datang, yang adalah sebagai berikut:
4.7.1 Alat tangkap huhate (pole and line) 4.7.1.1 Joran pancing huhate
Konstruksi dari joran pancing huhate yang digunakan nelayan di Maluku umumnya sudah cukup sempurna ditinjau dari segi teknis. Dari segi teknis, suatu kelemahan pada alat huhate terdapat pada joran pancing, yang mana sampai sekarang nelayan masih menggunakan batang bambu. Pengembangan alat tangkap ini dapat dilakukan dengan mempergunakan modifikasi joran pancing yang lebih kokoh (kuat), lentur, ringan dan tahan lama. Karakteristik joran pancing saat ini dan modifikasi baru yang akan dikembangkan disajikan pada Tabel 49
Tabel 49 Spesifikasi joran pancing saat ini dan arahan penyempurnaannya yang akan dikembangkan
Spesifikasi Kelemahan Arahan penyempurnaan Kondisi yang diharapkan
1. Joran 1 Joran pancing masih menggunakan bambu
Menggunakan bahan fiber glass dengan tulang dari bahan stainless steel
1 Lebih ringan 2Tidak tahan terhadap
benturan keras
2 Tidak menguras tenaga pemancing
3 Mudah lapuk 3 Lebih kuat
4 Jenis bambu tersebut sukar diperoleh di alam
4 Tahan terhadap benturan keras 5 Bambu yang digunakan
cukup berat
5 Umur pakai panjang
6 Tidak mudah lapuk
7 Tidak mudah patah
Dasa dalam ope bahwa ter mengakiba tangkapan hasil tangk Suat memerluk panjang d mengkomp dikembang diharapkan alat tangk dapat berp Gambar d modifikas Gambar 3 ar pertimba erasi penang rlihat bahwa atkan pema n seringkali kapan jatuh tu kelemah kan biaya ya dan meningk mpensasikan gkan di m n dapat me kap huhate pengaruh t desain tang i baru, dapa G 1 Modifika angan untuk gkapan cak a ukuran jo ancing men i melewati h kelaut. han dari ang lebih be katnya efis kelemahan masa yang embantu ne dengan teta terhadap pe gkai pancin at dilihat pa Gambar 30 si joran pan k membuat m kalang deng oran (3 met ngalami ke bagian dec modifikasi esar. Meskip iensi penan n tersebut s akan data elayan khus ap memper engelolaan ng yang se ada Gambar Joran panci ncing yang a modifikasi p an menggu ter) diangga sulitan pad ck kapal se prototipe pun demikia ngkapan me sehingga d ang. Modif susnya nela rhatikan asp sumberday ekarang dig 30 dan Gam ing huhate s akan dikem prototipe jo unakan kapa ap terlalu p da saat pan ehingga me alat huh an, dengan u erupakan fa apat dipert fikasi yang ayan yang pek-aspek l ya perikana gunakan ol mbar 31 saat ini. mbangkan pa oran baru, k al huhate sa panjang seh ncing, ikan enyebabkan hate ini a umur pakai aktor yang imbangan u g diusulkan mengopera lingkungan an dan kela leh nelayan ada kapal hu karena aat ini ingga hasil ikan adalah yang dapat untuk n ini asikan yang autan. n dan uhate.
Perbandingan hasil tangkapan yang diperoleh antara joran pancing yang terbuat bambu dengan joran pancing modifikasi dari fiberglass dapat disajikan pada Tabel 50
Tabel 50 Perbandingan karakteristik joran pancing bambu dan joran pancing fiberglass
Joran pancing bambu Joran pancing fiberglass
1 Berat ikan hasil tangkapan yang diangkat dengan joran ini dapat mencapai 9,2 kg
Berat ikan hasil tangkapan yang diangkat dengan joran fiberglass mencapai >10,5 kg 2 Waktu yang dibutuhkan dalam 30 menit
untuk 1 orang pemancing dalam mengangkat ikan hasil tangkapan mencapai 25 ekor
Jumlah hasil tangkapan dapat mencapai 35 ekor
Sumber: data penelitian 2009
4.7.1.2 Kapal huhate
Di Maluku, kapal huhate (pole and liner) dapat digolongkan dalam dua jenis, yakni rurehe dan motor ikan. Rurehe adalah kapal huhate berukuran kecil yang menggunakan sistem motor tempel (outboard engine system) dimana ruang para pemancing terdapat di bagian buritan kapal, sedangkan motor ikan adalah kapal huhate berukuran lebih besar dari rurehe yang menggunakan motor dalam (inboard engine system) dan ruang para pemancing berada di bagian haluan kapal. Pengembangan perikanan huhate di Maluku ditinjau dari sisi peningkatan upaya penangkapan kaitannya dengan potensi sumberdaya ikan, khususnya dengan tujuan pemanfaatan sumberdaya ikan cakalang, masih memiliki peluang yang cukup besar.
Umumnya pembangunan kapal huhate (pole and line) di Maluku masih dilakukan di galangan kapal rakyat tanpa menggunakan acuan yang jelas sebagai indikator untuk membuat sebuah kapal yang layak, padahal dengan menggunakan desain dan perhitungan-perhitungan yang matang maka sebuah kapal akan layak untuk dibuat. Sekarang ini proses pembuatan kapal ikan yang digunakan untuk tujuan penangkapan, masyarakat masih menggunakan teknik-teknik tersendiri sesuai keahlian yang mereka miliki sehingga kadang-kadang mereka salah dalam perhitungan dan menyebabkan kapal akan mengalami gangguan pada saat operasi di laut.
Proses pembuatannya dilakukan tanpa perencanaan desain dan konstruksi, tetapi pada pola kapal huhate yang dibangun terlebih dahulu harus berdasarkan
spesifikasinya yang diinginkan pembeli. Hasil dari proses pembangunan kapal tersebut memang dapat digunakan untuk melakukan operasi penangkapan, tetapi pemenuhan standar kelayakan pengoperasian kapal belum diketahui. Kapal yang dibuat oleh desainer kapal yang ada di daerah Maluku secara keseluruhan hampir mempunyai ukuran yang hampir sama. Kelemahannya yaitu terletak pada ukuran panjang dan lebar kapal terlalu kecil sehingga stabilitas tidak berfungsi dengan baik. Beberapa daerah di Maluku yang melakukan pembangunan kapal huhate antara lain: Desa Tulehu, Waai, Negeri Lima, Hila.
Operasi penangkapan ikan dari unit-unit perikanan huhate yang dilakukan di perairan Maluku adalah dengan sistem sistem one-day-fishing. Artinya bahwa pada saat menjelang pagi nelayan setelah memperoleh ikan umpan, kemudian mereka menuju ke daerah penangkapan yang dianggap sebagai tempat operasi penangkapan, setelah mendapatkan hasil tangkapan dan pada saat itu juga nelayan kembali ke fishing base. Hasil tangkapan yang diperoleh kadang-kadang langsung dijual kepasar ataupun disimpan di cold storage. Umumnya rata-rata waktu operasi penangkapan mulai dari pelayaran dari pangkalan pendaratan, pencarian kelompok ikan, pemancingan kelompok ikan hingga kembali ke pangkalan pendaratan dari unit-unit huhate di Maluku adalah 10 jam. Karakteristik kapal huhate saat ini dan modifikasi baru yang akan dikembangkan dapat dilihat pada Tabel 51
Tabel 51 Spesifikasi kapal huhate saat ini dan modifikasi baru yang akan dikembangkan
Spesifikasi Arahan penyempurnaan Kondisi yang diperoleh 1. Ukuran panjang 14,83, Lebar
3,24, tinggi 2,50 m
Modifikasi kapal yang lebih panjang dan lebar
1 Ukuran panjang 15,26, lebar 3,64, tinggi 2,62 m
2 Flyng deck 2,00 m 2 Flyng deck 1,40 m
3 Palka ikan 1,00m3 (2 buah),1,2m3
(2buah), 1,5m3 (2buah), palka umpan hidup 1.50 m 3
(2 buah)
3 Volume palka ikan 1,2m3(2bh); Volume 1,5m3(2bh); Volume 1,7 m3
(2 bh), palka es 2,3m3 (2bh), palka umpan hidup1,75 m3
(3 bh), palka air tawar Volume 500 liter (2 buah)
4 Jumlah pancing 30 buah dengan bahan dari bambu
4 Jumlah Joran pancing dengan bahan fiber glass (30 bh) dengan panjang 2,75 m
5 Peralatan navigasi belum lengkap (kompas, SSB, peta laut)
5 Peralatan navigasi kompas, life jacket, hand GPS, SSB, peta laut. 6 Menggunakan bahan kayu yang di
laminating dengan fiberglass
6 Menggunakan bahan fiberglass 7 Mesin listrik 2 kWh 7 Mesin listrik Merk Yanmar 5 kWh Sumber: data penelitian 2009
2,50 m Gambar 32 De Gambar 33
esain kapal huh
Desain kapal hu 1 1 hate (pandangan uhate (pandang 1 2 1 2 n samping) saat
gan atas) saat ini
3 4 ini di perairan M i di perairan Ma 4 Maluku aluku 5 Keter 1 Ba tan 2 Ba 3 Ru 4 Ru 5 W 6 Te ge angan: ak penampungan ngkapan ak umpan uang kemudi uang ABK C empat pemantaua rombolan ikan hasil an
Gambar 34 K Gambar 35 K 7 Kapal huhate (p Kapal huhate (p 6 andangan dari s andangan atas) 4 samping) yang a
yang akan dike 3 9 akan dikemban embangkan di p 2 2 1 1 1 gkan di Maluku perairan Maluku 1 8 u u 1 Bak penam tangkapan 2 Bak umpa 3 Ruang kem 4 Ruang AB 5 Tempat pe 6 Ruang tem peralatan 7 WC 8 Tempat p 9 Ruang m Keterangan: mpungan hasil an mudi BK emantauan mpat penyimpanan tangkap pemancingan mesin n
Gambar 32 dan Gambar 33 memperlihatkan desain kapal huhate saat ini di perairan Maluku. Desain kapal huhate saat ini dimodifikasi sehingga didapatkan suatu bentuk desain kapal yang lebih efektif dalam pengelolaan sumberdaya ikan pelagis besar di perairan Maluku. Modifikasi kapal huhate (Gambar 34 dan Gambar 35) dilakukan hanya dengan merubah ukuran panjang, lebar, tinggi serta memodifikasi palka dengan penambahan styrofoam pada dinding palka.
Dibandingkan dengan desain kapal huhate yang dimiliki nelayan di Maluku, hanya satu keunggulan dari modifikasi prototipe kapal huhate yang diusulkan dengan sistem motor dalam ini adalah dapat memproduksikan skipjack loin. Kesesuaian ukuran kapal ataupun model kapal dengan ukuran alat, jenis ikan target, kebutuhan bahan bakar akan mempengaruhi kondisi kapal pada saat beroperasi yang berdampak pada keselamatan pelayaran secara umum. Hal ini didukung oleh pendapat Unus et al (2005) yang mengatakan bahwa suatu operasi penangkapan dapat optimal apabila dapat memperhatikan faktor keselamatan, pelayaran di laut, karena operasi penangkapan ikan merupakan aktifitas yang beresiko tinggi, selanjutnya dikatakan juga bahwa unsur kecelakaan sering terjadi laut pada kapal-kapal ukuran < 12 meter dan presentase kecelakaannya 54%, jenis kecelakaan tenggelam sebesar 40,66%.
4.7.1.3 Modifikasi palka kapal huhate yang diusulkan pengembangannya
Terdapat kelemahan pada sebagian besar pole and liner yang ada di Maluku antara lain: pada kapal dengan inboard engine, desain palka hanya menghasilkan produk untuk pasaran lokal dan belum dimodifikasi untuk menghasilkan produk skipjack loin yang merupakan suatu bentuk produk ekspor. Hanya ada satu hal yang diusulkan untuk penyempurnaan konstruksi modifikasi palka dirubah agar dapat berfungsi untuk menghasilkan produk skipjack loin yang merupakan suatu bentuk produk eksport yang belakangan ini permintaan akan produk tersebut sangat tinggi. Gambar 36 menunjukkan bentuk desain palka kapal huhate saat ini serta Gambar 37 menunjukkan modifikasi palka yang diusulkan pengembangannya di perairan Maluku
Peru dinding p terjadi pa (1998) me adalah den desain pal pada Tabe Tabel 52 Spesif 1 Desain pa terbuat dar fiberglass 2 Tidak men Styrofoam dinding pal 3 Desain p untuk pasar lokal Sumber: d Mod dinding p dibuat ini kapal huh ubahan ben palka denga ada hasil ta enyatakan b ngan meng lka kapal h el 52 2 Spesifika penyem fikasi lka hanya i lapisan m nggunakan pada lka K t alka hanya kebutuhan l data peneliti difikasi pal palka tanpa mempunya ate saat ini
Gambar ntuk palka d an tujuan angkapan. H bahwa unt ggunakan bu huhate saat asi desain mpurnaannya Kelemah Tidak memproduksi loin Kualitas hasil t tidak baik ian 2009
lka ini han merubah ai beberapa k antara lain: 36 Desain p dengan car dapat mem Hal ini sep tuk memper usa (styrofo ini dan ara
n palka k a han dapat skipjack M de sty di tangkapan nya diubah bentuk pal kelebihan b : 1) mempe palka kapal ra penamba mperlambat pendapat de rtahankan k oam) pada p ahan penye kapal huha Arahan penyempurn Modifikasi palka engan penam yro foam inding palka h dengan m ka yang ad bila dibandin erlambat pro l huhate saat ahan bahan proses pe engan IPPT kualitas ika peti atau p empurnaann ate saat in naan a kapal mbahan pada 1Pen pad 2 Mo ket 15 3Biay mo bes dii tan dip 4 Me pem tan 5 Me skip menambah da. Modifik ngkan deng oses pembu t ini styrofoam embusukan TP DKI Ja n pasca tan alka. Spesi nya dapat d ni dan ar Kondisi yan diperoleh ambahan styr da palka kapal h odifikasi palka d tebalan styrofoa cm ya pembuatan odifikasi palka c
sar tetapi dapat mbangi dengan ngkapan yang peroleh emperlambat pr mbusukan pada ngkapan enghasilkan pro pjack loin styrofoam kasi palka gan kondisi sukan pada pada yang akarta ngkap fikasi dilihat rahan g rofoam huhate dengan am 5-cukup n hasil roses a hasil oduk pada yang palka a hasil
tangkapan yang siap modifikas pembuatan tangkapan memperol modifikas terlihat pa Tabel 53 P d 1 Dapa 2 Daya palka 3 Kond cepat Sumber: d Gamb 4.7.2 Ala 4.7.2.1 Al Pada Maluku, p yakni: 1) u n, 2) mutu h untuk di ek i palka in n modifikas n ikan pel leh perubah i yang dibu ada Tabel 53 Perbandinga di perairan M Desain p t menampung tahan hasil a mencapai 7 j disi es dalam data penelit bar 37 Modi t tangkap p lat pancing a alat tangk pada umum ukuran sena hasil tangkap kspor yang ni mempun si palka ini lagis besar han perband uat untuk d 3 an desain pa Maluku alka saat in g 450 ekor/palk tangkapan d am m palka menc tian 2009 ifikasi palka pancing ton tonda kap pancing mnya ditem ar yang digu Stryro foa apan merupa akhir-akhir nyai keteba i cukup bes r yang di dingan desa dikembangk
alka saat ini
ni ka M di dalam D 12 cair lebih K a yang akan nda (troll li tonda (trol mukan bebe unakan nom am pada palka akan suatu b r ini permin alan styrof sar tapi dap
peroleh d ain palka ka kan di pera i dengan mo M Menampung 67 Daya tahan ha 2 jam Kondisi es dala n dikembang ine) ll line) yang erapa kelem mor 800 term Dindin dengan keteb bentuk prod ntaannya se foam 5-15 pat diimban dari kapal apal huhate iran Maluk odifikasi pa Modifikasi p 75 ekor/palka asil tangkapan am palka lamb gkan pada k g digunakan mahan pada masuk kateg ng palka dari f balan 5-15 cm duk skipjack emakin ting cm, 4) ngi dengan huhate. U e saat ini de ku adalah se alka kapal h alka n dapat menc bat mencair kapal huhate n oleh nelay a konstruks gori ukuran fiberglass k loin gi, 3) biaya hasil Upaya engan eperti huhate apai e. yan di sinya, senar
yang kecil untuk menangkap ikan tuna. Diameter senar yang kecil efektif untuk memperdayai ikan agar tidak melihat dan terusik oleh senar yang digunakan, akan tetapi hanya mampu menangkap ikan tuna dengan berat 50 – 60 kg, tapi itu pun memerlukan waktu yang lama untuk memperoleh ikan yang telah terkait. Sementara terhadap ikan tuna yang beratnya di atas 60 kg, sering terjadi putusnya senar tersebut, 2) tidak digunakannya bahan pelindung senar pada bagian dekat mata pancing dapat menyebabkan putusnya senar karena tidak tahan terhadap gesekan gigi ikan sewaktu penarikan ikan yang sudah terkait pada mata pancing, 3) tidak menggunakan swivel sehingga menyebabkan kusutnya senar, serta 4) kail yang digunakan masih berbentuk/tipe “J” (J-shaped) yang mana sering terbukanya mata pancing pada saat penarikan ikan tuna yang telah terkait pada mata pancing menyebabkan lolosnya ikan, sehingga gagal tangkap. Kelemahan-kelemahan pada konstruksi alat pancing tonda dapat di atasi bila menggunakan ukuran senar yang lebih besar misalnya nomor 1000 sampai 1500 dengan tipe kail circle-shapped No.1, yang dilengkapi dengan swivel, bahan pelindung pada bagian senar dekat mata pancing. Tabel spesifikasi modifikasi alat tangkap pancing tonda serta kondisi yang diharapkan dapat disajikan pada Tabel 54
Tabel 54 Spesifikasi modifikasi alat tangkap pancing tonda.
Spesifikasi lama Arahan penyempurnaan Kondisi yang diharapkan 1. Ukuran senar terlalu kecil
(N0 800)
Modifikasi prototipe alat pancing tonda untuk dikembangkan di perairan Maluku
1 Ukuran senar besar (No 1000-1500)
2 Type kail “J” shapped 2 Type kail cyrcle shapped No 1 3 Tidak menggunakan bahan
pelindung dekat senar 3 Menggunakan bahan pelindung dekat senar
4 Tidak menggunakan swivel 4 Menggunakan swivel dekat mata pancing
5 Ikan yang terkait pada mata pancing mudah terlepas
5 Ikan yang terkait sukar untuk terlepas 6 Menggunakan satu mata
pancing
6 Dapat dioperasikan lebih dari 1 unit pancing
Sumber: data penelitian 2009
Tabel 54 menunjukkan perbandingan spesifikasi alat tangkap pancing tonda saat ini dengan kondisi yang diharapkan. Pada kondisi ini diharapkan modifikasi yang diusulkan dapat membantu nelayan dalam meningkatkan pendapatan.
Gambar desain alat tangkap pancing tonda yang dioperasikan oleh nelayan saat ini serta gambar modifikasi prototipe alat pancing tonda yang diusulkan
untuk dik Gambar 3 Gambar 3 Gamba Hasi yang dius penangkap ini. Tabel 55 1 2 Sumbe kembangka 9 8 Desain p Maluku ar 39 Mod dikem il perbandin sulkan se pan dilakuk Perbanding yang diusu Panc Hasil tangk ekor/trip) Berat ikan kg
er: data pen
n di peraira pancing tond . difikasi prot mbangkan m ngan keung esuia hasil kan di perair gan keungg ulkan untuk cing tonda s kapan relati hasil tangka nelitian 2009 an Maluku da yang dio totipe alat menangkap ggulan panc tangkapan ran Maluku gulan alat p dikembang saat ini if sedikit ( apan 0,8 kg-9 dapat disaj operasikan n pancing to ikan tuna d cing tonda n yang dip u dapat disaj pancing ton kan Modi (11 Relatif ekor/tri -35 Berat ik kg Monofila Horseha Rubber Plastic/Bone ajikan pada nelayan saa onda yang di perairan M saat ini de peroleh pad jikan pada
nda saat ini
ifikasi yang f lebih b ip) kan dapat m amen air/ Maize Gambar 38 at ini di per diusulkan u Maluku. engan modi da saat op Tabel 55 be i dan modi g diusulkan banyak (16 mencapai > 45 8 dan rairan untuk fikasi perasi erikut fikasi 6 5
4.7.2.2 Kapal pancing tonda
Salah satu jenis usaha perikanan tangkap yang memiliki prospek sangat baik untuk dapat dikembangkan di Provinsi Maluku pada saat ini adalah pancing tonda (troll line). Pengembangan perikanan pancing tonda di Maluku dilihat dari sisi peningkatan upaya penangkapan kaitannya dengan potensi sumberdaya ikan, khususnya dengan tujuan pemanfaatan sumberdaya ikan cakalang dan tuna besar yang tersedia, memiliki peluang yang cukup besar. Kapal tonda adalah kapal penangkapan ikan yang digunakan untuk menangkap ikan ekonomis penting seperti cakalang, tuna besar dan tenggiri yang memiliki kecepatan renang yang tinggi. Metode penangkapan pancing tonda adalah mengejar kelompok ikan-ikan , maka diperlukan kecepatan kapal yang tinggi dan ruang dek yang luas.
Berdasarkan Gambar 40 dan Gambar 41 terlihat bahwa kapal tonda yang dimiliki nelayan di Maluku dengan daerah penangkapan yang luas dan jauh dari tempat pendaratan memiliki beberapa kelemahan lain seperti: 1) ukuran kapal yang relatif kecil (p x l x d = 7 sampai 8 x 0,80 x 1,05 m) dengan daya tampung hasil tangkapan sebesar 0,5 ton, 2) kapal tidak dilengkapi dengan peralatan navigasi maupun peralatan keselamatan kerja di laut, 3) mesin yang digunakan berbahan bakar bensin, 4) kapal tidak dilengkapi dengan tempat penyimpanan hasil tangkapan (cool box) yang memadai sehingga penanganan hasil tangkapan tidak efisien akibat ukuran kapal terlalu kecil, 5) sering terjadi kecelakaan di laut, serta 6) kapal tidak laik laut pada saat laut berombak/bergelombang.
Keunggulan kapal pancing tonda yang dioperasikan di perairan Maluku saat ini belum dapat mengatasi kelemahan yang ada sehingga perlu pengembangan lanjutan tentang modifikasi kapal dengan keunggulan yang sangat membantu nelayan sehingga dapat meningkatkan produktifitas. Ukuran kapal yang lebih besar disamping lebih laik laut dan daya tampung hasil tangkapan yang lebih besar, juga dapat meningkatkan kenyamanan kerja. Sedangkan perlengkapan kompas dan life-jacket dapat digunakan untuk menghindari tersesatnya nelayan di laut khususnya pada waktu cuaca berkabut atau pada jarak dimana tidak lagi terlihat pulau sebagai objek baringan, serta jika terjadi kecelakaan di laut, nelayan dapat menggunakannya sebagai tindakan penyelamatan pertama.
1,05 m m Gambar 40 D Gambar 41 D Desain kapal pa Desain kapal pa
ancing tonda (pa
ancing (pandang
andangan sampi
gan atas) tonda s
3 1,05 m
ing) saat ini di M
saat ini di Malu 2 1,05 m Maluku. uku. 1 Ketera 1 Tem 2 Tem 3 Tem angan: mpat mesin mpat duduk nelayan mpat cool box
Berdasarkan pada kelemahan, maka diusulkan modifikasi prototipe kapal tonda untuk dikembangkan di perairan Maluku dengan spesifikasinya dapat dilihat pada Tabel 56
Tabel 56 Spesifikasi dan kondisi positif yang diharapkan kapal pancing tonda di perairan Maluku
Spesifikasi lama Kelemahan Spesifikasi baru Kondisi positif yang diperoleh 1 Ukuran kapal kecil Pekerjaan pelaksanaan
Operasi penangkapan tidak efektif
1 Ukuran kapal diperbesar Pelaksanaan operasi penangkapan dapat berjalan dengan lancar 2 Daya tampung 0,5 ton Hasil tangkapan tidak
maksimal
2 Daya tampung 0,8 ton Hasil tangkapan dapat lebih banyak ditampung
3 Tidak dilengkapi dengan peralatan navigasi atau peralatan keselamatan kerja di laut
Dapat menyebabkan hilangnya nelayan di laut
3 Dilengkapi dengan
peralatan navigasi seperti life jacket dan kompas
Dapat membantu nelayan dalam keselamatan kerja di laut
4 Menggunakan bahan bakar bensin
Biaya operasional besar 4 Menggunakan bahan bakar minyak tanah
Dapat menekan biaya operasional sehingga dapat menguntungkan nelayan
5 Tidak dilengkapi dengan peralatan penanganan hasil tangkapan yang efektif
Hasil tangkapan hanya untuk konsumsi lokal
5 Dilengkapi dengan modifikasi cool box yang baru
Produk hasil tangkapan dapat di eksport
6 Jumlah ABK 2 orang Operasi penangkapan tidak efektif
6 Jumlah ABK > 2 orang Dapat menambah lapangan pekerjaan 7 Mesin 25 PK Kecepatan kapal lebih
lambat karena disesuaikan dengan ukuran kapal
7 Mesin 40 PK Kecepatan kapal lebih besar sehingga olah gerak kapal lebih baik Sumber: data penelitian 2009
Sasaran yang dicapai pada kajian prototipe pancing tonda (troll line) adalah: 1) tersedianya konsep tentang teknologi penangkapan ikan pada perikanan pancing tonda (troll line) serta informasi lainnya yang berguna bagi nelayan maupun investor yang ingin menanamkan modal pada jenis usaha perikanan ini, 2) terjadinya peningkatan produktifitas, 3) tercapainya peluang pemanfaatan optimal sebesar jumlah tangkapan yang diperbolehkan khususnya terhadap sumberdaya ikan madidihang dan cakalang yang merupakan spesies target utama, melalui peningkatan jumlah unit penangkapan pancing tonda, 4) bertambahnya lapangan kerja baru sehingga dapat mengurangi pengangguran, 5) tercapainya kualitas produksi yang tinggi sehingga memperbesar peluang ekspor, 6) meningkatnya pendapatan nelayan. Deskripsi bentuk dimensi utama modifikasi kapal pancing tonda sistem outboard engine yang akan dikembangkan di perairan Maluku disajikan pada Gambar 42