• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kebutuhan masyarakat yang semakin beragam merupakan indikasi dari perkembangan sebuah kota. Berbagai macam kebutuhan masyarakat tersedia dalam bentuk fasilitas pelayanan, seperti pendidikan, kesehatan, komersil, dan perkantoran. Tingkat kemudahan masyarakat dalam mendapatkan fasilitas kebutuhan dapat digambarkan dengan persepsi kualitas aksesibilitas. Secara umum, aksesibilitas merupakan tingkat kesempatan dan kemudahan masyarakat dalam mendapatkan keuntungan. Dalam penelitian ini aksesibilitas diukur berdasarkan persepsi masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan pelayanan pendidikan, kesehatan, komersil, dan bekerja.

Lebih lanjut dijelaskan oleh Black dalam Tamin (1997) terkait aksesibilitas dalam prespektif keruangan, bahwa aksesibilitas merupakan suatu ukuran kenyamanan atau kemudahan mengenai cara lokasi tata guna lahan berinteraksi satu sama lain, dan „mudah‟ atau „susah‟ lokasi tersebut dicapai melalui sistem jaringan transportasi. Aksesibilitas yang baik menunjukkan tingginya tingkat kemudahan masyarakat untuk mendapatkan fasilitas yang mereka butuhkan. Dalam penelitian ini, akan dibahas kemudahan mendapatkan fasilitas berupa pendidikan, kesehatan, komersil, dan lokasi bekerja.

Kualitas aksesibilitas dapat diturunkan dari konsep kapabilitas.Kapabilitas sendiri menurut Pramono (2016) ditentukan berdasarkan persepsi masyarakat terhadap ketersediaan dan manfaat dari adanya 40 aset. Aset-aset tersebut yaitu tangible assets/aset fisik (berupa sarana prasarana dan infrastruktur) dan intangible assets/aset non fisik (berupa akses mendapatkan keterampilan, pengetahuan, kualitas kesehatan, kualitas pendidikan, dan jaminan sosial).

Dengan demikian, persepsi kualitas aksesibilitas dalam konsep kapabilitas merupakan kemudahan masyarakat dalam mengakses aset-aset yang dijelaskan

(2)

2 dalam Teori Kapabilitas (Pramono, 2016). Dalam penelitian ini, persepsi kualitas aksesibilitas dibatasi hanya pada pemenuhan kebutuhan pelayanan pendidikan, kesehatan, komersil, dan lokasi bekerja. Dalam Teori Kapabilitas, pemenuhan kebutuhan pelayanan tersebut dapat direpresentasikan dengan 11 aset. Kesebelas aset tersebut merupakan aset-aset yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan masyarakat akan pelayanan pendidikan, kesehatan, komersil, serta sarana prasarana transportasi. Ketersediaan dan sebaran fasilitas/aset dan jaringan transportasi tersebut tercermin dalam struktur ruang wilayah.

Struktur ruang merupakan unsur utama dalam penataan ruang. Menurut UU Nomor 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang, yang dimaksud dengan Struktur Ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional. Kondisi struktur ruang yang ada mempengaruhi pola mobilitas masyarakat dalam mengakses fasilitas. Sebaran fasilitas pelayanan mendorong masyarakat untuk melakukan pergerakan. Sebaran lokasi fasilitas yang ada dalam struktur ruang harus merata dan dapat dijangkau dengan mudah oleh masyarakat.

Dalam penelitian ini, pola pemilihan pergerakan dianalisis menjadi tiga aspek, yaitu pemilihan fasilitas, pemilihan moda pergerakan, dan pemilihan rute yang dilewati untuk mencapai fasilitas. Pemilihan masing-masing aspek ini didasarkan pada persepsi subyektif dari masyarakat sendiri dengan memaksimalkan manfaat yang ada. Faktor pilihan ini dapat dijelaskan dengan Teori Pilihan Rasional (Rational Choice Theory). Teori ini menjelaskan bahwa masyarakat akan memilih tindakan yang paling menguntungkan berdasarkan rasionalitas dan preferensi mereka sendiri. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan Teori Pilihan Rasional dikaitkan dengan pemilihan dalam pola mobilitas.

Secara umum, penerapan Teori Pilihan Rasional digunakan sebagai instrumen untuk menganalisis tindakan ekonomi dan sosial. Teori ini belum

(3)

3 optimal diterapkan terkait pemilihan pergerakan maupun pemilihan pelayanan. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut terkait Teori Pilihan Rasional (Rational Choice Theory) untuk diterapkan dalam aspek pemilihan fasilitas pelayanan, pemilihan moda, dan pemilihan rute.

Dengan demikian, kondisi struktur ruang mempengaruhi pola pergerakan masyarakat dalam mengakses kebutuhan. Pola pergerakan yang terbentuk akan menentukan persepsi masyarakat terhadap kemudahan menjangkau fasilitas (persepsi kualitas aksesibilitas). Pergerakan yang efisien menuju fasilitas pelayanan maka preferensi masyarakat terhadap aksesibilitas menuju fasilitas tersebut, baik. Preferensi masyarakat terhadap kualitas aksesibilitas menentukan kualitas kesejahteraan masyarakat. Persepsi masyarakat yang mudah dalam mengakses dan mendapatkan kebutuhannya, maka masyarakat akan berpersepsi bahwa tingkat kesejahteraannya juga meningkat.

Dalam penelitian ini, tingkat kesejahteraan sosial diukur berdasarkan persepsi masyarakat terhadap pemenuhan aset-aset kebutuhan. Persepsi tersebut dijelaskan dalam Teori Kapabilitas (Pramono, 2016) dimana kesejahteraan masyarakat ditentukan oleh persepsi masyarakat terhadap pemenuhan 40 aset yang terukur dalam Indeks Kapabilitas.

Dengan memahami keterkaitan konsep-konsep diatas, dapat sebagai dasar untuk mendorog terwujudnya struktur ruang yang berkualitas. Keterkaitan tersebut bahwa kondisi struktur ruang akan membentuk pola pergerakan masyarakat dalam mencapai fasilitas kebutuhannya. Pola pergerakan yang terbentuk akan menentukan persepsi masyarakat terkait mudah atau sulitnya suatu fasilitas untuk diakses (persepsi kualitas aksesibilitas). Kualitas aksesibilitas yang baik menunjukkan kemudahan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Mudahnya masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari akan menentukan persepsi masyarakat terhadap tingkat kesejahteraan. Oleh karena itu, dilakukan penelitian ini dengan lokasi di Kabupaten Sleman untuk mengetahui pemenuhan kebutuhan

(4)

4 masyarakat di Kabupaten Sleman yang tercermin dalam kondisi struktur ruang yang ada.

Kabupaten Sleman merupakan salah satu wilayah yang memiliki penggunaan lahan permukiman yang luas yaitu hampir 40% dari luas wilayah. Dari 17 kecamatan yang dimiliki, terdapat kecamatan dengan kepadatan penduduk cukup tinggi dibandingkan dengan kecamatan lain yaitu Kecamatan Depok, Kecamatan Mlati, dan Kecamatan Ngaglik. Adanya ketidakmerataan kepadatan penduduk ini berpengaruh terhadap ketidakmerataan fasilitas pelayanan yang dijangkau oleh masyarakat. Wilayah dengan karakteristik perkotaan seperti ini, merupakan kecamatan dengan kepadatan penduduk yang tinggi dan memiliki ketersediaan fasilitas pelayanan yang lebih memadai.

Masalah yang muncul di tiga kecamatan ini adalah kemacetan. Kemacetan terjadi pada kecamatan yang berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta yaitu Kecamatan Depok dan Kecamatan Mlati(RKPD Kabupaten Sleman, 2016).Selain itu, Kabupaten Sleman juga memiliki banyak masyarakat komuter yang semakin menambah intensitas pergerakan. Adanya kemacetan ditambah dengan aktivitas masyarakat komuter ini menjadi indikasi persepsi masyarakat terhadap tingkat aksesibilitas, menurun.

Persepsi tingkat aksesibilitas menjadi penting untuk dianalisis sebagai pendukung berlangsungnya kegiatan sosial ekonomi masyarakat Kabupaten Sleman. Jika aksesibilitas baik, akan berdampak pada peningkatkan perekonomian khususnya kondisi ekonomi masyarakat. Persepsi tingkat aksesibilitas terhadap pelayanan menjadi salah satu indikasi untuk mengetahui persepsi kesejahteraan masyarakat.

Penelitian mengenai pengaruh persepsi aksesibilitas pelayanan terhadap persepsi kualitas kesejahteraan masyarakat perlu dilakukan sebagai dasar pentingnya upaya peningkatan aksesibilitas pelayanan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan mengetahui tingkat kemudahan mendapatkan fasilitas pelayanan, dapat diketahui tingkat pemenuhan kebutuhan masyarakat.

(5)

5 Terpenuhinya kebutuhan masyarakat menjadi salah satu indikasi peningkatan kesejahteraan sosial, sehingga dapat dilakukan intervensi berupa peningkatan aksesibilitas untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Sleman.

1.2 Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian

Kualitas aksesibilitas pada penelitian ini merupakan persepsi kemudahan masyarakat dalam mengakses fasilitas. Persepsi kualitas aksesibilitas dipengaruhi pola pergerakan masyarakat dalam mengakses fasilitas kebutuhan. Ketersediaan fasilitas tersebut merupakan akibat dari struktur ruang yang ada. Persepsi kualitas aksesibilitas yang tercermin dari pola pergerakan tergantung dari ketersediaan pilihan-pilihan fasilitas layanan yang dibentuk oleh struktur ruang.

Secara umum, dalam literatur dijelaskan bahwa kualitas aksesibilitas hanya ditentukan berdasarkan kondisi empirik keruangan. Dalam konsep struktur ruang, salah satu indikator aksesibilitas yang baik adalah distribusi ketersediaan fasilitas pelayanan dan kondisi infrastruktur transportasi menuju fasilitas layanan. Ketersediaan fasilitas pelayanan dilihat secara kuantitas yaitu dengan melihat jumlah pelayanan yang dapat dijangkau oleh masyarakat berdasarkan Standar Pelayanan Minimum (SPM). Namun, diduga terdapat faktor lain yang mempengaruhi penilaian terhadap aksesibilitas selain aspek keruangan, yaitu faktor persepsi masyarakat. Penilaian aksesibilitas berdasarkan persepsi masyarakat tersebut belum banyak diteliti dan dikaji dalam literatur. Persepsi tersebut yaitu persepsi kemudahan masyarakat dalam mendapatkan fasilitas kebutuhan. Kemudahan tersebut berkaitan dengan pemilihan fasilitas, pemilihan moda, dan pemilihan rute pergerakan menuju fasilitas.

Faktor pilihan tersebut salah satunya dapat dijelaskan dengan Teori Pilihan Rasional (Rational Choice Theory). Teori ini menjelaskan tentang keputusan yang diambil masyarakat terhadap berbagai pilihan yang ada sesuai dengan motivasi dalam diri masyarakat sendiri. Teori ini diaplikasikan pada perilaku manusia secara umum, namun belum terdapat penjelasan rinci tentang penerapannya pada sistem pemilihan pergerakan. Selain itu, keterkaitan antara

(6)

6 wujud struktur ruang dengan pilihan-pilihan pola mobilitas yang dijelaskan dalam Teori Pilihan Rasional dalam rangka pemenuhan kebutuhan belum banyak dijelaskan dalam literatur.

Berdasarkan perumusan masalah dan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penelitian ini dilakukan untuk menjawab pertanyaan berikut :

1. Seberapa tinggi persepsi masyarakat terhadap kualitas aksesibilitas terutama terkait dengan struktur ruang dan sistem transportasi berkontribusi terhadap kualitas hidup masyarakat? 2. Apa saja faktor-faktor terkait struktur ruang yang berpengaruh

terhadap persepsi kualitas aksesibilitas yang tercermin dalam ketersediaan pilihan pola-pola pergerakan yang dapat memberi efisiensi, kenyamanan, dan keamanan?

3. Bagaimana rasionalitas pilihan mobilitas masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah dan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka penelitian ini bertujuan untuk :

1. Mengukur persepsi kualitas aksesibilitasmasyarakat dalam mengakses fasilitas pelayanan di Kabupaten Sleman.

2. Mengidentifikasi faktor-faktor struktur ruang yang mempengaruhi persepsi kualitas aksesibilitas di Kabupaten Sleman.

3. Mendeskripsikan pola pemilihan mobilitas yang terdiri dari pemilihan fasilitas, pemilihan moda, dan pemilihan rute

1.4 Keaslian Penelitian

Berikut adalah penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya, yang berkaitan dengan kata kunci pada penelitian ini yaitu : interaksi aspek transportasi dengan guna lahan, pengaruh karakteristik permukiman dengan transportasi, dan nilai aksesibilitas. Fokus amatan penelitian terdapat beberapa kesamaan dengan penelitian ini baik dari segi teori yang digunakan, maupun variabel penelitian.

(7)

7 Tabel 1.1 Keaslian Penelitian

Nama Peneliti

Judul Fokus Lokus Metode Gap

Penelitian Artsswin da Ayu Bungara (S1 PWK UGM/20 13) Nilai Aksesibilitas menuju Taman dan Keterkaitann ya dengan Lokasi Parkir Sekitar pada Taman Tugu Muda di Kota Semarang Fokus pada analisis aspek aksesibilitas (kemudahan pengunjung Taman Tugu Muda dari tempat tinggal) dan keterkaitan (hubungan antara taman dengan lokasi parkir) Lokasi amatan yaitu Tugu Muda meliputi lokasi taman, parkir, dan daerah asal pengunjung. Menggunakan metode deduktif, data berupa data kuantitatif dan diolah secara kualitatif dengan pembobotan. Menggunakan paradigma rasionalistik. Belum mempertimban gkan aspek preferensi masyarakat sebagai salah satu faktor penentu aksesibilitas. Febriana Tri Astuti (S1 PWK UGM/20 10) Hubungan antara Aksesibilitas dengan Kegiatan Perdagangan di Ringroad Utara Nilai aksesibilitas terhadap kegiatan perdaganga n, keterkaitan nilai aksesibilitas dengan Ringroad Utara (Jalan Solo km 9 – Jalan Magelang km 5,7) Menggunakan metode deduktif, data berupa data kualitatif Penentuan tingkat aksesibilitas hanya berdasarkan tata guna lahan yang ada, belum

mempertimban gkan kondisi

(8)

8 perkembang an retail, hubungan aksesibilitas dengan kerapatan kepadatan guna lahan komersil jaringan penghubung dan faktor lain seperti kualitas fasilitas perdagangan itu sendiri. Martina C. Adriana (S1 PWK UGM/20 12) Interaksi Perkembanga n Transportasi dan Guna Lahan pada Kasus Terminal Kembar di Bogor Perkembang an dan aktivitas di kawasan amatan, karateristik terminal, arus lalu lintas, dan arahan pengemban gan Kota dan Kabupaten Bogor Sekitar terminal Laladon dan terminal Bubulak, Bogor. Menggunakan metode deduktif, yang berdasar pada teori dan memandingkan dengan kondisi empiris. Bersifat kualitatif, yaitu mengobservasi kawasan secara subyektif, bukan dari data sekunder dari dinas-dinas terkait Metode pengumpulan data hanya dengan observasi, kurang merepresentasi kan kondisi empiris. Ferdian Jamal (S1 PWK Pengaruh Karakteristik Zona Permukiman Pemilihan moda transportasi oleh Zona permukima n yang diteliti Menggunakan metode deduktif, yaitu mmenguji Belum mempertimban gkan lokasi tujuan sebagai Lanjutan Tabel Keaslian Penelitian

(9)

9 UGM/20 14) terhadap Pemilihan Jenis Moda Transportasi Penduduk yang Bekerja di Kecamatan Sagulung, Kota Batam masyarakat dilihat dari karakteristik zonanya adalah tiap-tiap kelurahan di Kecamatan Sagulung, Kota Batam teori/konsep dengan realita. Bersifat kuantitatif, data berupa angka dan diolah dengan statistik. Menggunakan paradigma positivistik faktor pengaruh pemilihan moda. Belum memakai teori pemilihan rasional yang dapat menjadi dasar dalam penelitian.

Sumber : Analisis Peneliti, 2016

Secara umum, penelitian yang telah ada sebelumnya terkait dengan aksesibilitas dengan lingkup mikro. Aksesibilitas yang menjadi fokus penelitian-penelitian tersebut terkait dengan sirkulasi dan tata guna lahan yang ada di kawasan amatan. Seperti pada penelitian Artsswinda Ayu Bungara (2013) yang menentukan tingkat aksesibiltas pada taman dengan mempertimbangkan intensitas pergerakan dari kelima jalan menuju taman tersebut. Selain aksesibilitas, keterkaitan taman dengan lokasi parkir juga menjadi fokus dalam penelitian ini. Dalam menentukan tingkat aksesibilitas, penelitian ini hanya mempertimbangkan tingkat kemudahan pengunjung untuk mencapai taman melalui kelima jalan menuju taman tersebut. Penentuan tingkat aksesibilitas belum mempertimbangkan alasan pengunjung dalam memilih rute perjalanan menuju taman yang mereka kunjungi. Hal tersebut menjadi motivasi peneliti dalam mempertimbangkan preferensi masyarakat untuk menentukan tingkat aksesibilitas. Penelitian lingkup mikro juga dilakukan oleh Febriana Tri Astuti (2010) yang berfokus pada hubungan tingkat aksesibilitas dengan perkembangan kegiatan perdagangan di jalan arteri ringroad utara. Hal ini tentu tidak dapat digunakan sebagi pertimbangan penentuan tingkat aksesibilitas dalam lingkup yang lebih luas. Lanjutan Tabel Keaslian Penelitian

(10)

10 Dalam penelitian sebelumnya oleh Martina C. Adriana (2012), dijelaskan tentang keterkaitan perkembangan transportasi dengan guna lahan pada kawasan Terminal Kembar, Bogor. Pengumpulan data dalam penelitian ini berdasar pada teori dan memverifikasi dengan kondisi lapangan. Dalam penelitian ini tidak menggunakan data pendukung berupa data sekunder, sehingga bersifat kurang representatif terhadap apa yang terjadi di lapangan.

Penentuan aksesibilitas juga berkaitan dengan pemilihan moda transportasi menuju fasilitas publik. Pada penelitian Ferdian Jamal (2014) ini, diidentifikasi pengaruh karakteristik zona permukiman terhadap pemilihan moda. Teori yang digunakan hanya terkait karakteristik zona permukiman saja, belum mempertimbangkan faktor preferensi dari masyarakat dalam memilih moda transportasi.

Secara umum, lokasi penelitian sebelumnya tergolong mikro dan tidak dapat diterapkan atau tidak dapat merepresentasikan tingkat aksesibilitas dalam wilayah yang lebih luas, padahal aksesibilitas berkaitan dengan tata guna lahan dalam lingkup yang lebih luas sebagai pembangkit dan penarik perjalanan berupa zona-zona perumahan dan berbagai fasilitas pelayanan lain. Maka dari itu, tingkat aksesibilitas pada kawasan yang mikro tidak dapat merepresentasikan tingkat aksesibilitas dalam wilayah yang lebih luas.

Fokus penelitian yang telah ada masih menilai aksesibilitas berdasarkan keterkaitan guna lahan dengan transportasi. Belum terdapat penelitian yang menggunakan faktor pilihan rasional dari masyarakat atau preferensi masyarakat sebagai penentu tingkat aksesibilitas.Faktor preferensi masyarakat ini penting pengaruhnya dalam mengetahui tingkat aksesibilitas. Hal ini yang mendorong peneliti untuk meneliti lebih lanjut tingkat aksesibilitas bukan hanya dari aspek keruangan, tetapi juga aspek subyektif dari masyarakat.

(11)

11 1.5 Batasan Penelitian

Batasan atau lingkup yang akan dibahas dalam penelitian ini dibagi ke dalam lingkup lokasi dan fokus penelitian.

1.5.1 Lingkup Lokasi

Wilayah amatan dari penelitian ini yaitu Kabupaten Sleman, khususnya kawasan perumahan yang ada di 3 kecamatan yang ada di Kabupaten Sleman, yaitu Kecamatan Mlati, Kecamatan Depok, dan Kecamatan Ngaglik. Pemilihan kecamatan ini berdasarkan kepadatan penduduk yang paling tinggi di Kabupaten Sleman yang merepresentasikan tingginya intensitas pergerakan. Pertimbangan ini juga berdasarkan letak tiga kecamatan ini yang berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta dan merupakan kawasan aglomerasi perkotaan. Karakteristik perkotaan yang dimiliki ketiga kecamatan ini sesuai untuk merepresentasikan aksesibilitas Kabupaten Sleman dan pengaruhnya terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat.

1.5.2 Fokus Penelitian

Fokus substansi yang akan dibahas dalam penelitian ini meliputi :

a. Persepsi masyarakat terhadap kemudahan pemenuhan fasilitas b. Persebaran lokasi perumahan di Kabupaten Sleman sebagai

bangkitan perjalanan

c. Persebaran lokasi pelayanan publik di Kabupaten Sleman sebagai tarikan perjalanan, berupa fasilitas pendidikan, kesehatan, komersil, dan lokasi kerja.

d. Pola hubungan distribusi perumahan dan fasilitas e. Pola pergerakan dan rasionalitas pilihan pergerakan

f. Ragam pemilihan lokasi pelayanan, moda yang digunakan, dan rute yang dilewati untuk menuju fasilitas pelayanan

g. Kondisi sarana prasarana transportasi penghubung perumahan dengan fasilitas

(12)

12 h. Persepsi kesejahteraan masyarakat berdasarkan tingkat kepuasan

pemenuhan pelayanan. 1.6 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat dilakukannya penelitian ini adalah :

1. Kontribusi Teoritik Keilmuan

a. Sebagai pendetailan penerapan Teori Pilihan Rasional dalam pola pergerakan

b. Sebagai pertimbangan perencanaan struktur ruang yang didasarkan pada penerapan Teori Pilihan Rasional yang terintegrasi dengan Teori Kapabilitas

2. Bagi Pemerintah

a. Sebagai pertimbangan merencanakan dan memperbaiki struktur ruang b. Sebagai pertimbangan dalam peningkatan dan pemerataan kuantitas

dan kualitas fasilitas pelayanan publik

c. Sebagai pertimbangan dalam upaya peningkatan kesejahteraan sosial masyarakat

Referensi

Dokumen terkait

Maka dapat disimpulkan bahwa hipotesa nol (Ho) ditolak, yang berarti ada hubungan antara kehilangan hubungan dengan teman-teman atau keluarga dengan kualitas hidup

Yaitu dengan membeli perusahaan yang telah didirikan atau dirintis dan diorganisir oleh orang lain dengan nama dan organisasi usaha yang sudah ada.. Hal ini dilakukan karena

Gambar 1(a) dan 1(b) merupakan persamaan regresi linear kadar air PRCR yang disimpan pada suhu 25 ºC, 35 ºC dan 45 ºC selama 8 minggu yang dikemas menggunakan kemasan

Pada penelitian ini didapatkan bahwa hasil uji statistik didapatkan p-value sebesar 0,000 (p-value<0,05) yang berarti terdapat ada hubungan antara status gizi

Asumsi ini didukung oleh pengamat strategis, Riri Satria (2007) yang menyatakan bahwa ketidakmungkinan taksi tarif bawah untuk meremajakan armada disangkal oleh Express yang

Dalam konteks living law tentang cerai talak di Aceh, kecendrungan fikih mazhab Syafi’i telah kuat tertanam dalam masyarakat sehingga mazhab hukum lokal ini sulit untuk

Input data, yaitu: data Sumber PLN, Trafo, Saluran, dan beban yang diperoleh dari sistem yang terkait dengan catu daya Kawasan GI PUSPIPTEK dalam hal ini menggunakan catu

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dipaparkan pada tabel 4.1, maka profil kemampuan dasar siswa di SMK Pembangunan Nasional Purwodadi yang muncul melalui