• Tidak ada hasil yang ditemukan

dan berbagai implikasi sosial diperhitungkan, begitu juga potensi-potensi lingkungan hidup setempat dimanfaatkan dengzin*tetap menjaga kelestariannya

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "dan berbagai implikasi sosial diperhitungkan, begitu juga potensi-potensi lingkungan hidup setempat dimanfaatkan dengzin*tetap menjaga kelestariannya"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

I1 TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pembangunan Pertanian dan Lingkungan

Pembangunan merupakan upaya terencana dan sistematik yang dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat. Arti dari pembangunan itu sendiri merupakan proses memanfaatkan sumberdaya dam menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia untuk mencapai kesejahteraan manusia. Setiap kegiatan pembangunan selalu melibatkan kehidupan masyarakat yang dibangun beserta dengan lingkungan hidupnya (Koestoer, 2001). Dalam pembangunan masyarakat yang terintegrasi dan berkesinambungan, kehidupan dan berbagai implikasi sosial diperhitungkan, begitu juga potensi-potensi lingkungan hidup setempat dimanfaatkan dengzin*tetap menjaga kelestariannya (Koestoer, 1995). Ada dua ha1 yang menjadi perhatian pada Konsep Bruntland dalam pembangunan yaitu : (1) menyangkut pentingnya memperhatikan kendala sumberdaya dam dan lingkungan terhadap pola pembangunan dan konsumsi, (2) menyangkut perhatian pada kesejahteraan pada generasi yang akan datang (Fauzi, 2004).

Pada

hakekatnya pembangunan yang berkesinambungan adalah

pembangunan yang memenuhi kebutuhan hidup masa sekarang tanpa merugkan generasi yang akan datang (Anwar, 2005).

Tantangan berat yang dihadapi sektor pertanian di masa mendatang adalah paaingan global, sebagai realisasi kesepakatan umum tarif clan perdagangan multilateral GATT/WTO, deklarasi Asia Paszfrc Economic Cooperation (APEC) tentang sistem perdagangan bebas dan investasi secara penuh bagi seluruh anggota ekonomi APEC pada tahun 2020 clan kesepakatan perdagangan bebas di lingkungan negara-negara ASEAN yaitu ASEAN Free Area (AFTA) mulai tahun 2003. Kondisi perekonomian Indonesia memasuki siklus sistem perekonomian dunia yang bercirikan "Ekonomi Tanpa Batas Teritorial Negara". Pada sisi lain secara umum sektor pertanian di Indonesia masih clihadiipkan pada permasalahan standarisasi, ketersediaan stok, kontinuitas suplay, adopsi teknologi dan bioteknologi serta sifat produk pertanian yangperishable (Sa'id dan Intan, 2001).

Sektor pertanian akan tetap memegang peranan strategis dalam perekonomian rakyat, disamping b e f i g s i dalam memenuhi kebutuhan pangan

(2)

masyarakat dalam artian luas juga meningkatkan kesempatan kerja serta usaha terutama pedesaan (Anwar, 2005). Kegiatan pertanian juga dituntut untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani, mengisi dan memperluas pasar baik dalam negeri maupun luar negeri. Dalam mewujudkan pertanian yang tangguh maka peranan sistem agribisnis yang berorientasi pada komersialisasi usaha atau industri pedesaan dan pertanian rakyat modern sangat dibutuhkan (Anwar, 2005).

Permasalahan yang ada dalam pembangunan pertanian adalah keseimbangan kepentingan antara pemenuhan kebutuhan dengan upaya mempertahankan kelestarian lingkungan. Pembangunan yang berbasis sumberdaya alam yang tidak mengindahkan aspek lingkungan akan berdampak negatif pada lingkungan, karena kapasitas daya dukung dan sumberdaya alam itu terbatas (Fauzi, 2004). Ketersediaan sumberdaya dam yang terbatas, arus barang clan jasa yang dihasilkan dari sumberdaya dam tidak dapat dilakukan secara terus menerus (Meadow et al., 1972 daIm Fauzi, 2004) tanpa dilakukan upaya keberlanjutannya Perlu diupayakan suatu sistem pertanian yang menwi optimasi

dan

kontinuitas penggunam sumberdaya lokal dengan mengkombinasikan komponen-komponen yang berbeda dari suatu usaha tani yang saling melengkapi (komplementer) dengan memiliki kemungkinan pengaruh yang sinergtk yang besar.

Pembangunan pertanian berkelanjutan merupakan suatu usaha dalam pemenuhan kebutuhan akan hasil-hasil pertanian secara bijak untuk generasi saat ini tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka (Anwar, 2005). Pembangunan perdesaan meialui sistem pertanian berkelanjutan selaras dengan pendekatan agropolitan.

PengembangdWiIayaK dengan Pendekatan Agropoiitan

Agropolitan (Agro = pertanian : Politan = kota) @ah kota pertanian yang

tumbuh d m berkembang yang mampu memacu berkembangnya sistem & usaha agribisnis sehingga &pat melayani, mendorong, menarik, menghela kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) di wilayah sekitarnya (Suwandi, 2005). Kawasan agropolitan, terdiri dari Kota Pertanian dan desa-desa sentra produksi

(3)

pertanian yang ada di sekitarnya, dengan batasan yang tidak ditentukan oleh batasan administrasi Pemerintahan, tetapi lebih ditentukan dengan memperhatikan skala ekonomi yang ada Kawasan Agropolitan adalah Kawasan Agribisnis yang memiliki fasilitas perkotaan (Harun, 2004) mencakup sistem produksi, distribusi dan pemerintah yang mempunyai 20 sampai 100 ribu populasi, dengan modal sebesar 40-60 ribu (Friedmann, 1979). Besaran ini merupakan ukuran efisien untuk mencapai ekonomi eksternal pada produksi dan pasar lokal untuk keluaran industri yang kecil. Pengembangan kawasan agropolitan adalah pembangunan ekonomi berbasis pertanian di kawasan agribisnis, yang dirancang dan dilaksanakan dengan jalan mensinergikan berbagai potensi yang ada untuk mendorong berkembangnya sistem dan usaha agriiisnis yang berdaya saing,

berbasis kerakyatan, berkelanjutan dan terdesentralisasi, yang digerakkan oleh masyarakat dan difasilitasi oleh pemerintah (Anwar, 2005).

Adapun prinsip dasar pengembangan kawasan agropolitan (Suwandi, 2005) :

1. Ciri-ciri Kawasan Agropolitan

a Pendapatan masyarakat pada umumnya bersumber dari pertanian (agribisnis)

b. Kegiatan agiribisnis (ada komoditi unggulan)

c. Hubungan kota dan kawasan (timbal balik) yang harmonis

d. Kehidupan masyarakat di kawasan agropolitan mirip suasana Desa Modern.

2. Persyaratan Kawasan Agropolitan

a. Memiliki lahan yang didukung oleh Sumber Daya Alam (SDA) yang memadai dan telah memiliki komoditi unggulan yang sesuai budaya lokal b. Memililci Kelenibagaan dan PrasaranaISarana Agribisnis

c. Pasar (pasar untuk hasil pertanian, sarana pertanian, pasar lelang/sub agribisnis)

d. Lembaga Keuangan (Bank dan Non BanWLKM)

e. Balai penyuluhan pertanian sebagai klinik konsultasi agribisnis (tempat agribisniq sumber informasi, dan pusat pemberdayaan dan usaha

(4)

f. Percobaanlpengkajian teknologi agribisnis (termasuk inovasi teknologi tepat guna untuk teknologi pertanian dm produk olahannya)

g. Prasarana aksebilitasi (jalan, irigasi, dsb)

h. Merniliki Kelembagaan Petani (koperasi, Asosiasi PetaniIGapoktan, Tani, Kelompok

Usaha)

i. Memiliki Sarana dan Prasarana

umum

(listnk, telepon, dsb) j. Memiliki sarana dan prasarana kesejahtew sosial

k. Menjamin kelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup, sosial budaya clan keharmonisan hubungan kota desa

2 3 Konsep Agribisnis dan Agroindustri

Konsep agribisnis adalah kegiatan menyeluruh dari proses produksi, mengolah hasil, pemasaran dan aktivitas lain yang berkaitan dengan kegiatan pertanian (Soekartawi, 1993) seperti terlihat pada Gambar berikut ini.

AGRIBISNIS Kegiatan usaha:

Mengbasilkan

Menyediakan sarana & prasarana

hplt

Bagi kegiatan pertimian

(industri pupuk, saprodi, pestisida dsb)

Kegiatan pertanian

6

Kegiatan usaha yang

menggunakan hasil pertanian sebagai input

(indnstri pmgolahan

hasil pertank perdagangan bb)

Gambar 2. Mata rantai kegiatan agribinis (Arsjad (1985) dalam Soekartawi, 1993)

Agroindustri adalah pengolahan hasil pertanian dan merupakan bagian dari

enam subsistem agriiisnis yaitu: (1) subsistem penyediaan saprodi dan peralatan, (2) usahatani, (3) pengolahan hasil (agroindustri), (4) pemasaran, (5)sarana dan

(6) pembinaan. Agroindustri berada pada tahapan fase pertumbuhau setelah pembangunan pertanian tetapi sebelum pembangunan tersebut memulai ke tahapan industri (Soekartawi, 2001). Pembangunan Perdesaan dengan agribisnis sebagai Basis Ketahanan Nasional (pangan, tenaga kerja, bahan baku ekspor), pola penanganannya dilaksanakan pada kekuatan kelompok tani perdesaan untuk mengembangkan sistem agribisnis dengan pendekatan agropolitan yang mampu melayani, mendorong, menarik kegiatan pembangunan pertanian wilayah sekitarnya serta percepatan pertumbuhan perdesaan (Soekartawi, 2001). Haridjaja (2003) mengemukakan bahwa percepatan pertumbuhan perdesaan perlu didukung

(5)

dengan penggalian dan pengembangan potensi desa ke

arah

peningkatan pendapatan masyarakat, akan menciptakan suatu kawasan argopolitan yang dapat mensejahterakan demi kernaslahatan masyarakat perdesaan.

Kabupaten Majalengka sebagai salah satu wilayah sudah mengalami otonomi daerah, membutuhkan kemandirian khususnya dalam pembangunan ekonomi sehingga perlu penggalian dan pendayagunaan potensi dan pemberdayaan masyarakat dalam mengelola potensi tersebut. Kabupaten Majalengka yang sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani yang didukung oleh natural resources serta kondisi iklim yang baik selalu menempatkan sektor pertanian sebagai prioritas utama dalam pembangunan. Selain potensi sumberdaya alam, potensi human resources cukup besar dimiliki Kabupaten Majalengka. Terjadinya krisis ekonomi dan moneter membawa

hikmah dan kesadaran untuk m e m m dan memberdayakan sumberdaya alam lokal yang ada sehingga tidak mengalami ketergantungan pada pusat. Pendekatau agropolitan memungkinkan untuk mengembangkan pertanian di kawasan terbatas dalam lingkup kabupaten yang didukung kecamatan baik di perk- maupun pedesaau uetuk usaha pertanian, namun dikelola sungguh- sungguh aspek bisnis dan peningkatan kapasitas masyarakat di sekitarnya (Harun,

2004).

2.4 Pembangunan Agribisnis dan Agroindustri yang Berkelanjutan dalam Agropolitan

Permasalahan dalam pengembangan agribisnis dan agroindustri adalah lemahnya ketekaiatan antar subsistem yaitu distribusi dan penyediaan faktor produksi, proses produksi pertanian, pengolahan dan pemasaran (Soekartawi, 2001). Pengembangan komoditi dalam agribisnis dan agroindustri di pedesaan membutuhkan dukungan sektor penunjang dalam bentuk sarana dan prasarana fisik - dan ekonomi serta keterpaduan perencanaan dan pelaksanaannya.

Peningkatan kualitas sumberdaya manusia diperl&an dengan pelatihan profesionalisme usaha, pendidikan manajemen, pelatihan kemampuan penetrasi pasar, serta peranan lembaga finansial yang mendukung agribisnis dan agroindustri (Sudaryanto et al., 2002).

(6)

Pembangunan agribisnis dan agroindustri

ini

sendiri dibutuhkan dalam upaya penguatan perekonomian pedesaan yang berbahan baku utama dari produk pertanian dan menumbuhkan kemandirian serta mengembangkan pertanian yang mengarah pada industrialisasi pertanian. Pembangunan industrialisasi ini dibangun dari pembangunan agribisnis dan agroindustri yang berkelanjutan, dalam artian pembangunan agribisnis dan agroindustri yang dibangun dan dikembangkan dengan memperhatikan aspek-aspek manajemen dan konservasi sumberdaya dam. Semua teknologi yang digunakan serta kelembagaan yang terhiat dalam proses pembangunan . tersebut diarahkan untuk memenuhi kepentingan manusia di masa sekarang maupun mendatang. Teknologi yang digunakan sesuai dengan daya dukung sumberdaya dam, tidak ada degradasi lingkungan, secara ekonomi menguntungkan dan secara sosial diterima oleh masyarakat (Soekartawi, 2001).

Keberlanjutan pembangunan pertanian dipengaruhi oleh jenis komoditas yang diusahakan. Komoditas unggulan merupakan jenis pilihan komoditas yang diusahakan pada daerah setempat yang memiliki sifat-sifat unggul bagi daerah tersebut bila diiandingkan dengan daerah lainnya. Sifat unggul pada kegiatan penelitian yang akan dilakukan ini dapat ditera antara lain dengan : (1) dari segi ekologi pengmahaan komoditas pada suatu lahan dapat memenuhi kebutuhan hidup masyarakat di masa sekarang tanpa merugikan generasi yang akan datang, (2) dari segi ekonomi komoditas yang diusahakan menguntungkan secara hansial dengan jangkauan pasar yang luas dan pemintaan yang tinggi, (3) dari segi sosial pengusahaan komoditas didukung dengan adanya partisipasi masyarakat maupun pemerintah dan (4) dari segi kelembagaan komoditas yang diusahakan didukung pula oleh kebijakan maupun sumberdaya pendukung lainnya. Pembangunan perdesaan melalui sistem pertanian berkelanjutan yang didukung oleh komoditi unggulan dalam pendekatan agropolitan diharapkan dapat memberikau solusi yang tepat untuk mengatasi dan menjawab berbagai pqmasalahan kesenjangan antara desa dengan kota.

2.4.1. Segi Ekologi

Meningkatnya kebutuhan dan persaingan dalam penggunaan lahan khususnya untuk keperluan produksi pertanian memerlukan pemanfaatan yang

(7)

paling menguntungkan dari sumberdaya lahan yang terbatas dan juga melakukan tindakan konservasinya untuk penggunaan masa mendatang (Reijntjes, 1992). Melihat hal tersebut maka dibutuhkan suatu perencanaan penggunaan lahan menyeluruh mengenai tersedianya informasi fiktor fisik lingkungan meliputi sifat dan potensi lahan dengan evaluasi sumberdaya lahan yang berkaitan dengan kesesuaian lahan (Djaenudin et al., 2003).

Djaenudin et al. juga (2003) mengemukakan bahwa definisi evaluasi sumberdaya lahan adalah proses untuk menduga potensi sumberdaya lahan

untuk

berbagai penggunaan dengan menerjemahkan informasi-informasi atau arahan penggunaan lahan yang diperoleh dalam bentuk yang dapat dipahami oleh para praktisi seperti petani. Hasil evaluasi sumberdaya lahan dapat digunakan

untuk

membantu perencanam kegiatan berdasarkan kesesuaian lahan pertanian yang dibutuhkan dengan harapan produksi yang akan diperoleh. Salah satu sistem evaluasi lahan yang banyak dikembangkan adalah sistem matching atau mencocokkan antara kualitas dan sifat-sifat lahan dengan kriteria kelas kesesuaim lahan yang disusun berdasakan persyaratan tumbuh komoditas pertanian yang berbasis lahan yang dirancang untuk pemetaan tanah tingkat semi detil pada skala 1 : 50.000 (Djaenudin et al., 2003). Evaluasi sumberdaya lahan dibagi berdasarkan penggunaan lahan yang dipakai diarahkan pada beberapa kelompok yaitu: kelompok tanaman pangan, kelompok tanaman hortikultura, kelompok tanaman perkebunan, kelompok tanaman hijauan pakan temak dan perilcanan.

Masalah lingkungan yang banyak terjadi di bidang pertanian salah satunya disebabkan karena eksploitasi lahan yang berlebihan. Beberapa diantaranya adalah penggunaan pestisida dan pupuk buatan yang semakin meningkat dm pengolahan lahan serta penggunaan air (irigasi) secara berlebihan menyebabkan degradasi kesuburan tanah clan penyusutan air tanah (Coen et al., 1992). Melihat kenyataan tersebut dibutuhkan suatu cara pengolahan lahan maupun produksi agroindustri yang mampu memaksimalkan penggunaan limbah yang dihasilkan dari produk yang

~~

clan meminimallcan kegiatan pencemaran lingkungan yang mempercepat kerusakan tanah tersebut. Kegiatan analisis penentuan kualitas lingkungan adalah salah satu cara untuk mengkaji kegiatan pertanian dengan komoditas yang mampu menekan eksploitasi lahan yang berlebihan tetap terjaga.

(8)

2.4.2. Segi Ekonomi

Dari segi ekonomi ciri yang menonjol pada pengelolaan lahan dan komoditas yang dilakukan petani adalah terbatasnya sumberdaya, wawasan dan teknologi yang dimiliki serta kekurangan modal (Soekartawi, 1986). Segala keterbatasan itu diharapkan dapat diminimalkan dengan penentuan komoditas yang layak veasible) secara ekonomi dengan biaya manfaat yang lebih dibandingkan dengan komoditas lainnya atau memiliki keunggulan komparatif Beberapa faktor yang dapat mengubah keunggulan komparatif diantaranya adalah: a. Pengembangan pola usahatani baru atau perbaikan teknologi.

b. Perubahan biaya produksi dm harga relatif komoditi

c. Perubahan biaya angkutan seperti bila jalan diperbaiki atau rusak.

d. Perbaikan kualitas lahan seperti karena drainase dan irigasi. e. Pengembangan produk substitusi yang lebih murah.

Dengan demikia. setiap daerah dapat memperbaiki posisi ekonominya dengan komoditi tanaman atau temak dengan mencapai keunggulan komparatif komoditas yang diusahakan.

2.4.3. Segi Sosial dan Kelembagaan

Kondisi sumberdaya clan ekosistem pertanian di Indonesia relatif beragam,

dm ha1 itu membutuhkan variasi jenis (kompleks) teknologi untuk menanganinya sesuai dengan kondisi spesifik lokasi. Penyediaan teknologi (usahatani) secara fisik dari luar, terutama yang diperkenalkan secm topdown (oleh pemerintah), belum tentu sesuai dengan permasalahan atau agro-region setempat. Kliksberg (1999) mengatakan bahwa faktor kunci keberhasilan pembangunan adalah modal sosial dan budaya (social capital and culture). Jika konsep dasar atau paradigma yang melatarbelakangi pembangunan pertanian masih terus-menerus mengeeilkan peran sosiobudaya, maka kegagalan demi kegagalan tinggal menmtung bilangan tahm ke tahun atau (bahkan) musim ke musim. Oleh sebab itu sangat wajar jika di berbagai tempat ditemui gejala bahwa kebijakan atau program pembangunan pertanian tidak bisa diterima oleh sistem sosial setempat. Di lapaugan juga banyak ditemukan bahwa pengembangan teknologi yang berasal dari luar, yang idealnya dijadikan "kunci pembuka" percepatan usaha pertanian setempat, dalam kenyataan justru menjadi pengganjal transformasi sosio-budaya setempat (Pranadji, 2004).

(9)

Pada gilirannya disamping sistem usaha pertanian di pedesaan tidak berkembang sesuai harapan juga sistem sosio-budaya setempat mengalami kerusakan serius (Pranadji, 2003). Elemen kebijakan sosio-budaya yang diperkirakan akan berpengaruh besar terhadap percepatan transfonnasi usaha pertanian (paling tidak) mencakup lima hal, yaitu: kompetensi sumberdaya manusia (SDM), tata nilai, keorganisasian usaha pertanian, kepemimpinan, dan struktur sosial. Berikut Garnbar 2 memperlihatkan skema hubungan antara aspek sosio-budaya dan proses peningkatan nilai tambah sumberdaya pertanian dan non-pertanian (Pranadji, 2004).

I

Proses mmg&tm mfa tambah smfmkaya

p e r t a n i a n ~ n a t p e r t a n i a n d i ~

I

Gambar 3. Hubungan antara aspek sosio-budaya dan proses peningkatan nilai tambah sumberdaya pertanian dan non-pertanian melalui transfomasi kelembagaan tradisional di pedesaan (Pranadji, 2004)

Kebijakan transfbrmasi usaha pertanian dapat diartikan sebagai upaya memperbaiki atau meningkatkan kinerja dari kelima elemen sosio-budaya tersebut. (Kebijakan tersebut juga perlu diarahkan untuk mendukung proses pemberdayaan ekonomi pedesaan). Gambar 3 menunjukkan hubungan antara

(10)

aspek sosiobudaya (tradisional) dan proses peningkatan nilai tambah sumberdaya pertanian dalam bingkai transformasi masyarakat pedesaan. Di samping setiap elemen sosio-budaya memerlukan perhatian khusus, hal penting lainnya adalah bagaimana mengintegrasikan dan mensejajarkan proses transformasi sosio-budaya pemerintah, masyarakat (komunitas) dan ekonomi pasar di pedesaaa

Kemitraan Agribisnis dan Agoindustri dalam Sistem Agropolitan

Perpindahan kekuasaan dari orde lama ke orde baru maupun era reformasi mengalami perubahan-perubahan mendasar. Pertumbuhan ekonomi dan pola pembangunan yang berorientasi pada industri, berdampak besar dengan adanya i d a s i dan pengangguran akibat transformasi ekonomi. Dampak yang terjadi memunculkan monopoli terselubung yang menjadikan alokasi sumberdaya menjadi tidak efisien (resource allocation) serta meningkatnya intervensi pemerintah pada semua segi terutama berdampak pula pada distorsi dan

inefisiensi di bidang ekonomi. Masyarakat menjadi tidak terlatih untuk mengutarakan pendapat, kebebasan berkumpul yang sebenarnya telah dijamin oleh UUD 1945 pasal28 hanya menjadi simbol saja. Dampaknya adalah semakin menjadmya fungsi masyarakat

dalam

berpartisipasi untuk menentukan pilihan hidupnya yang disebabkan oleh adanya intervensi pemerintah (top down) pada setiap kegiatan masyarakat. Pada kondisi ini masyarakat tidak pernah menjadi agen pembangunan (development agent) untuk menentukan kegiatan yang t&aik bagi masyarakat itu sendiri. Seringkali yang disebut sebagai agen pembangunan hanyalah lembaga maupun intansi seperti BUMN, koperasi maupun lembaga lainnya bentukan pemerintah. Padahal masyarakat termasuk pemerintah merupakan modal dasar dari agen pembangunan sebagai motor penggerak dan penentu arah kebijakan (Ananda, 2000).

Akibat dari kebijakan yang salah arah ini, berdampak negatif bagi kehidupan masyarakat. Kesenjangan ekonomi tel& memunculkan masalah kompeks antara lain meningkatnya arus migtasi penduduk desa ke kota, meningkatnya kemiskinan masyarakat, meningkatnya jumlah penganggum dan eksploitasi sumberdaya alam. Kegiatan pembangunan pada era reformasi dalam otonomi daerah ini pun memunculkan isu paradigma baru yaitu kegiatan yang

(11)

berbasis masyarakat (bottom up). Kenyataan ini semakin diperkuat dengan banyaknya suatu kegiatan pemerintah yang berhenti di tengah jalan maupun gaga1 dilaksanakan karena tidak adanya dukungan dan partisipasi dari masyarakat. Pelibatan masyarakat sedari awal oleh pemerintah dalam suatu kegiatan pembangunan menjadi hal yang penting mengingat masyarakat merupakan bagian dari kegiatan pembangunan itu sendiri. Pengembalian fungsi masyarakat sebagai agen pembangunan dan menjadi subyek pembangunan telah mengludupkan kembali arti maupun peran dari partisipasi masyarakat itu sendiri. Salah satu cara

partisipasi masyarakat itu adalah dengan konsep kemitraan. Konsep kemitraan yang digunakan adalah tipe sinergi yaitu sinergi yang bertujuan untuk

. .

rnemmmakan kelemahan dan memperkuat keunggulan pihak-pihak yang terkait dalam kegiatan agribisnis dan agroindustri. Pola kemitraan berbasis pada kesadaran saling membutuhkan dan saling mendukung masing-masing pihak yang bermitra.

Kemitraan agriibis

dan

a g r o i n d h dibutuhkan antar pelaku agribisnis dari hulu (petani) ke hilir (investor maupun pedagang yang bennitra dengan petani) untuk keberlanjutan proses kegiatan. Pola kemitraan yang tepat sasaran

dibutuhkan sebagai salah satu strategi guna menyambungkan kerja sama antara pengusaha kecil dengan usaha menengah atau besar disertai pembinaan dan pengembangan yang berkelanjutan dengan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat dan saling menguntungkan (Surnardjo et al., 2004). Upaya untuk mewujudkan kemandirian pembangunan dengan pola kemitraan ini dengan pengolahan potensi wilayah itu sendiri, dimana ketergantungan dengan pusat dapat diminimalkan.

Bentuk kemitraan yang dibutuhkan untuk mensinergikan potensi-potensi positif dengan meminimumkan kelemahan yang ada dari setiap elemen-elemen yang terkait pada suatu wilayah maupun masyarakat. Bentuk kesinergian yang dibutuhkan berupa petani menyediakan lahan, sarana d& tenaga kerja sedangkan pihak pengusaha menyediakan modal dan penjaminan pasar, sedangkan pemerintah daerah (PEMDA) menyediakan bimbingan teknis dan dukungan kebijakan yang dikeluarkan sert.. institusi semacam lembaga pendidikan menyediakan tenaga ahli dalam bidang yang terkait. Gambaran ini menurut

(12)

Sumardjo et al. (2004), memperlihatkan bahwa konsep kernitman agribisnis menjadikan salah satu pilihan yang prospektif bagi pengembangan iklim bisnis yang sehat di Indonesia pada masa yang akan datang, sehingga bila dijalankan

akan dapat menjembatani kesenjangan antar subsisitem dalam sistem bisnis hulu

-

hilir (produsen-industri pengolahan-pemasaran) maupun hulu - hulu (sesarna produsen).

Gambar

Gambar  2.  Mata  rantai  kegiatan  agribinis  (Arsjad  (1985)  dalam  Soekartawi,  1993)
Gambar  3.  Hubungan  antara  aspek  sosio-budaya dan  proses  peningkatan  nilai  tambah sumberdaya pertanian dan non-pertanian melalui transfomasi  kelembagaan tradisional di  pedesaan (Pranadji,  2004)

Referensi

Dokumen terkait