• Tidak ada hasil yang ditemukan

RISET DALAM PENGELOLAAN OBAT. Elmiawati Latifah, M.Sc.,Apt

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "RISET DALAM PENGELOLAAN OBAT. Elmiawati Latifah, M.Sc.,Apt"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

RISET DALAM PENGELOLAAN OBAT

(3)

RISET DALAM PENGELOLAAN OBAT

ISBN:

Hak Cipta 2018 pada Penulis

Hak penerbitan pada UNIMMA PRESS. Bagi mereka yang ingin memperbanyak sebagian isi buku ini dalam bentuk atau cara apapun harus mendapatkan izin tertulis dari penulis dan penerbit UNIMMA PRESS.

Penulis:

Elmiawati Latifah, M.Sc.,Apt

Editor:

Dr. Heni Setyowati ER., M.Kes.

Lay out

Zulfikar Bagus Pambuko, MEI.

Desain sampul:

Ahmad Arif Prasetyo

Penerbit:

UNIMMA PRESS

Gedung Rektorat Lt. 3 Kampus 2 Universitas Muhammadiyah Magelang Jl. Mayjend. Bambang Soegeng, Mertoyudan, Magelang 56172

Telp. (0293) 326945

E-Mail: [email protected] Hak Cipta dilindungi Undang-undang All Right Reserved

(4)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis berhasil menyelesaikan buku yang berjudul “Riset

dalam Pengelolaan Obat”. Pengelolaan obat di pelayanan

kesehatan memiliki peran yang signifikan. Pengelolaan obat di Rumah Sakit perlu dilakukan dengan baik, karena pengelolaan obat yang baik akan menjamin kelangsungan ketersediaan dan keterjangkauan pelayanan obat yang efisien, efektif dan rasional. Salah satu upaya untuk terus mempertahankan pengelolaan perbekalan farmasi di RS adalah dengan melakukan kegiatan monitoring dan evaluasi. Evaluasi pengelolaan obat di Rumah Sakit harus dilakukan secara berkala, sehingga diharapkan dengan berkembangnya riset terkait pengelolaan obat dapat menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan mutu pengelolaan obat. Buku ini bertujuan untuk memberikan informasi tentang indikator yang bisa digunakan untuk melakukan riset dalam pengelolaan obat dengan menyesuaikan regulasi yang ada di Indonesia pada era JKN saat ini. Indikator yang dikembangkan pada buku ini masih jarang digunakan dalam riset pengelolaan obat di Rumah Sakit, sehingga diharapkan dapat memberikan masukan dalam peningkatan mutu pengelolaan obat di Rumah Sakit berdasarkan variabel yang berbeda.

Dalam penulisan buku ini penulis mendapatkan bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Rektor Universitas Gadjah Mada 2. Dr. Satibi, M.Si, Apt

(5)

3. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terimakasih untuk semua dukungan yang diberikan.

Akhirnya, penulis berharap semoga buku ini dapat berguna bagi penelitian dalam pengelolaan obat dan dapat memberikan sumbangan bagi ilmu pengetahuan.

Magelang, Februari 2018 Penulis

(6)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

BAB I PENDAHULUAN PENGELOLAAN OBAT ... 1

BAB II SELEKSI OBAT ... 4

BAB III PERENCANAAN OBAT ... 8

BAB IV PENGADAAN OBAT ... 10

BAB V QUALITY ASSURANCE ... 15

BAB VI STRATEGI EKONOMI ... 19

BAB VII SUMBER DAYA MANUSIA ... 22

BAB VIII PENGGUNAAN OBAT RASIONAL ... 26

BAB IX REGULASI DAN LEGISLASI ... 30

BAB X MONITORING DAN EVALUASI ... 36

DAFTAR PUSTAKA ... 40

(7)
(8)

BAB I

PENDAHULUAN PENGELOLAAN OBAT

Menurut (Quick dkk., 2012), siklus manajemen obat terdiri dari tahap selection (seleksi), procurement (pengadaan),

distribution (distribusi) dan use (penggunaan). Masing masing

tahap dalam siklus manajemen obat ini saling terkait sehingga harus dikelola dengan baik agar masing masing dapat dikelola secara optimal. Tahapan yang saling terkait dalam siklus manajemen obat tersebut diperlukan suatu sistem suplai yang terorganisir agar kegiatan berjalan dengan baik dan saling mendukung sehingga ketersediaan obat dapat terjamin yang mendukung pelayanan kesehatan dan menjadi sumber pendapatan rumah sakit yang potensial. Siklus manajemen obat didukung oleh faktor-faktor pendukung manajemen (managemen support) yang meliputi organisasi, administrasi, keuangan, Sistem Informasi Manajemen (SIM) dan sumber daya manusia (SDM). Setiap tahapan siklus manajemen obat, seperti yang tercantum pada Gambar.1 berikut ini harus selalu didukung oleh keempat management

support tersebut sehingga pengelolaan obat dapat berlangsung

(9)

Gambar 1. Siklus Pengelolaan (Quick dkk., 2012)

Pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai harus dilaksanakan secara multidisiplin, terkoordinir dan menggunakan proses yang efektif untuk menjamin kendali mutu dan kendali biaya. Pengelolaan Alat Kesehatan, Sediaan Farmasi, dan Bahan Medis Habis Pakai di Rumah Sakit harus dilakukan oleh Instalasi Farmasi sistem satu pintu. Sistem satu pintu adalah satu kebijakan kefarmasian termasuk pembuatan formularium, pengadaan, dan pendistribusian Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai yang bertujuan untuk mengutamakan kepentingan pasien melalui Instalasi Farmasi. Dengan demikian semua Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang beredar di Rumah Sakit merupakan tanggung jawab Instalasi Farmasi, sehingga tidak ada pengelolaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai di Rumah Sakit yang dilaksanakan selain oleh Instalasi Farmasi (Depkes RI, 2016). Pengelolaan obat merupakan pelaksanaan dari manajemen obat.

Untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang bermutu dan komprehensif, harus didukung oleh

Selection

Use Management support Procurement

(10)

ketersediaan dan keterjangkauan obat, penggunaan obat yang rasional dan keselamatan pasien. Tantangan yang harus diantisipasi dalam periode tahun 2015-2019 adalah disparitas ketersediaan obat antar wilayah, Provinsi dan Kabupaten/ Kota. Salah satu penyebab terjadinya hal ini adalah belum optimalnya pemanfaatan sistem informasi terkait manajemen logistik, misalnya e-logistik, pemantauan e-purchasing sampai dengan pengendalian harga obat (Binfar, 2015).

Komponen dalam pengelolaan obat yang mempengaruhi ketersediaan obat esensial, keterjangkauan obat, perbaikan kesehatan, nilai keuangan, mutu obat, peresepan obat yang rasional, keamanan dan efektifitas obat, penggunaan obat yang tepat oleh pasien dan kualitas obat yaitu :

1. Seleksi obat 2. Pengadaan obat 3. Quality Assurance 4. Strategi Ekonomi 5. Sumber Daya Manusia 6. Penggunaan obat rasional 7. Legislasi dan regulasi 8. Monitoring dan Evaluasi

Kedelapan faktor diatas didukung oleh peran serta pasien, tenaga kesehatan, pemerintah, media, instansi pendidikan dan industri farmasi (Quick dkk., 2012). Berdasarkan latarbelakang ini, penulis akan menjabarkan indikator-indikator kedelapan faktor tersebut yang bisa diimplementasikan dalam riset pengelolaan obat dengan penyesuaian regulasi yang ada di Indonesia.

(11)

BAB II

SELEKSI OBAT

Seleksi adalah proses memilih sejumlah obat dengan rasional dengan tujuan untuk menghasilkan penyediaan yang lebih baik, penggunaan obat yang lebih rasional dan harga yang terjangkau (Satibi, 2014). Pemilihan obat esensial untuk memenuhi kebutuhan kesehatan penduduk, berkualitas tinggi, aman dan efektif adalah hal penting dari kebijakan obat. Ketika sumber daya terbatas, daftar obat esensial dapat membatasi jumlah pembelian yang tidak perlu dimana pendekatan selektif ini untuk menghemat anggaran dan memungkinkan sistem manajemen farmasi yang terbatas sumber dayanya untuk fokus pada obat esensial. Tujuan seleksi obat yaitu adanya suplai yang menjadi lebih baik, pemakaian obat lebih rasional, biaya lebih efektif dan meningkatnya kualitas perawatan (Quality of Care). Tujuan seleksi obat yang rasional adalah meningkatkan ketersediaan obat, drug supply yang reguler dapat meningkatkan outcome kesehatan, mengurangi polifarmasi, meningkatkan terapi obat dan menurunkan biaya, pengadaan, penyimpanan dan distribusi dapat lebih sederhana (Peters, 2006). Kriteria seleksi obat yang dibutuhkan oleh sebagian besar populasi, berdasarkan pola prevelensi penyakit, aman dan manjur yang didukung dengan bukti ilmiah, mempunyai manfaat yang maksimal dengan resiko yang minimal termasuk mempunyai rasio manfaat-biaya yang baik, mutu terjamin dan merupakan sediaan tunggal (Satibi, 2014).

(12)

Penelitian yang dilakukan oleh (Prinja dkk., 2015) tentang ketersediaan obat di India diperoleh hasil bahwa

sistem kesehatan perlu diperkuat dengan membuat obat esensial tersedia untuk pasien. Seleksi berdasarkan obat esensial mempunyai pengaruh terhadap ketersediaan obat dimana ketika sumber daya terbatas, daftar obat esensial dapat membatasi jumlah pembelian yang tidak perlu. Pendekatan selektif ini untuk menghemat anggaran dan memungkinkan sistem manajemen farmasi terbatas sumber daya untuk berkonsentrasi pada obat esensial sehingga meningkatan ketersediaan obat (Quick dkk., 2012). Program obat esensial memiliki dampak yang besar terhadap ketersediaan obat dan penggunaan obat rasional, dari 31 obat esensial rata-rata 27 (88%) yang tersedia di unit kesehatan di wilayah program. Program obat esensial dapat meningkatkan ketersediaan dan penggunaan obat rasional dalam unit kesehatan (Hogerzeil dkk., 1989).

Riset terkait evaluasi seleksi obat di Rumah Sakit Indonesia paling banyak dilakukan dengan mengevaluasi kesesuaian seleksi obat di Rumah Sakit berdasarkan Formularium Nasional dan DOEN, sehingga masih banyak diperlukan penelitian sejenis dengan menggunakan indikator yang berbeda. Riset pengelolaan obat untuk mengukur efisiensi pada tahap seleksi dapat menggunakan indikator sebagai berikut:

Tabel II.1. Indikator Seleksi Obat

Indikator Sumber

Dasar penetapan seleksi obat adalah :

a. Formularium dan standar pengobatan/ pedoman diagnosa dan terapi;

b. Standar Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai yang telah ditetapkan;

c. Pola penyakit

(13)

Indikator Sumber

d. Efektifitas dan keamanan e. Pengobatan berbasis bukti f. Mutu

g. Harga

h. Ketersediaan di pasaran

Dasar penyusunan Formularium Rumah Sakit adalah Formularium Nasional

(Depkes RI, 2016) Formularium Rumah Sakit tersedia untuk

semua penulis Resep, pemberi Obat dan penyedia Obat di Rumah Sakit

(Depkes RI, 2016)

Evaluasi terhadap Formularium Rumah Sakit harus secara rutin dan dilakukan revisi sesuai kebijakan dan kebutuhan Rumah Sakit

(Depkes RI, 2016)

Penyusunan dan revisi Formularium Rumah

Sakit dikembangkan berdasarkan

pertimbangan terapetik dan ekonomi dari penggunaan Obat

(Depkes RI, 2016)

Kriteria pemilihan Obat untuk masuk Formularium Rumah Sakit:

a. Mengutamakan penggunaan Obat generik b. Memiliki rasio manfaat risiko (benefit-risk

ratio) yang paling menguntungkan

penderita c. Mutu terjamin

d. Praktis dalam penyimpanan dan pengangkutan

e. Praktis dalam penggunaan dan penyerahan f. Menguntungkan dalam hal kepatuhan dan

penerimaan oleh pasien

g. Memiliki rasio manfaat biaya (benefit-cost ratio) yang tertinggi berdasarkan biaya langsung dan tidak lansung

h. Obat lain yang terbukti paling efektif secara ilmiah dan aman (evidence based medicines) yang paling dibutuhkan untuk pelayanan dengan harga yang terjangkau

(14)

Indikator Sumber

Rumah Sakit mempunyai kebijakan terkait dengan penambahan atau pengurangan Obat dalam Formularium Rumah Sakit dengan mempertimbangkan indikasi penggunaaan, efektivitas, risiko dan biaya.

(Depkes RI, 2016)

Penggunaan obat di luar Fornas di FKRTL dilakukan setelah mendapat rekomendasi dari Ketua Komite Farmasi dan Terapi (KFT) dengan persetujuan Komite Medik dan Kepala/Direktur RS

(Dirjen Binfar, 2014)

Formularium Nasional didistribusikan di RS (Quick dkk., 2012) Kebijakan obat di RS mendukung penggunaan

Formularium Nasional

(Quick dkk., 2012) Formularium RS tersedia untuk semua

penulis Resep, pemberi Obat dan penyedia Obat di Rumah Sakit

(Depkes RI, 2016)

Obat yang dipilih sesuai dengan Formularium Nasional

(15)

BAB III

PERENCANAAN OBAT

Perencanaan kebutuhan merupakan kegiatan untuk menentukan jumlah dan periode pengadaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai sesuai dengan hasil kegiatan pemilihan untuk menjamin terpenuhinya kriteria tepat jenis, tepat jumlah, tepat waktu dan efisien. Perencanaan dilakukan untuk menghindari kekosongan obat dengan menggunakan metode yang dapat dipertanggungjawabkan dan dasar-dasar perencanaan yang telah ditentukan antara lain konsumsi, epidemiologi, kombinasi metode konsumsi dan epidemiologi dan disesuaikan dengan anggaran yang tersedia (Depkes RI, 2016).

Dalam penentuan dan penghitungan kebutuhan logistik Rumah Sakit, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan yaitu :

1. Berdasarkan pemakaian lalu

2. Perkiraan dengan menggunakan Analisis SWOT, statistik, anggaran, epidemiologi (berdasarkan tren penyakit, informasi catatan medik).

3. Sisa persediaan, slow moving dan fast moving

4. Rekomendasi dari Komite Medis dan Panitia Farmasi Terapi 5. Prioritas berdasarkan VEN (Vital, essensial, Normal/Non

Esensial) (Febriawati, 2013).

Perencanaan adalah salah satu proses pengelolaaan obat yang bertujuan untuk mendapatkan jenis dan jumlah

(16)

yang tepat sesuai kebutuhan, menghindari terjadinya kekosongan obat dan meningkatkan penggunaan obat secara rasional (Quick, dkk., 1997). Riset terkait perencanaan obat di Rumah Sakit Indonesia, paling banyak berupa evaluasi kesesuaian perencanaan obat dengan pengadaan obat dan analisis metode perencanaan obat sehingga masih diperlukan penelitian serupa dengan menggunakan indikator yang berbeda. Riset pengelolaan obat untuk mengukur efisiensi pada tahap perencanaan dapat menggunakan indikator sebagai berikut:

Tabel III.1. Indikator Perencanaan Obat

Indikator Sumber

Pedoman perencanaan mempertimbangkan: a. Anggaran yang tersedia

b. Penetapan prioritas c. Sisa persediaan

d. Data pemakaian periode yang lalu e. Waktu tunggu pemesanan

f. Rencana pengembangan

(Depkes RI, 2016)

Perencanaan dilakukan dengan

menggunakan metode konsumsi,

epidemiologi, kombinasi metode konsumsi dan epidemiologi

(Depkes RI, 2016)

Perencanaan obat terintegrasi pada semua unit

(Quick, dkk., 1997) Sistem Informasi Manajemen mendukung

perencanaan obat di RS

(17)

BAB IV

PENGADAAN OBAT

Pengadaan merupakan kegiatan untuk merealisasikan perencanaan kebutuhan. Pengadaan yang efektif harus menjamin ketersediaan, jumlah dan waktu yang tepat dengan harga yang terjangkau dan sesuai standar mutu. Pengadaan merupakan kegiatan yang berkesinambungan dimulai dari pemilihan, penentuan jumlah yang dibutuhkan, penyesuaian antara kebutuhan dan dana, pemilihan metode pengadaan, pemilihan pemasok, penentuan spesifikasi kontrak, pemantauan proses pengadaan dan pembayaran (Depkes RI, 2016).

Menurut (Quick dkk., 2012), penyebab yang mempengaruhi ketersediaan obat di RS antara lain karena

supplier tidak dapat mengirim permintaan obat,

keterlambatan pengiriman obat ke RS, harga obat yang terlalu mahal, praktisi medis memberikan atau meresepkan obat yang tidak diperlukan pasien atau pemberian beberapa obat untuk mengatasi masalah medis yang seharusnya bisa diterapi oleh satu obat saja dan pasien meminta obat untuk keperluan lain atau tidak sesuai dengan kondisi medis. Faktor-faktor bagian dari pengadaan obat seperti pemilihan

supplier dan transportasi, pelatihan yang tidak memadai pada

Sumber Daya Manusia terkait pengadaan dan pendanaan yang tidak memadai mempengaruhi ketersediaan obat esensial (Tumwine dkk., 2010).

(18)

Penelitian yang dilakukan oleh (Prinja dkk., 2015) tentang ketersediaan obat di India diperoleh hasil bahwa

sistem kesehatan perlu diperkuat dengan membuat obat esensial tersedia untuk pasien. Ketersediaan obat sebesar 45,2% dan 51,1 % di Punjab dan Hayana masih dibawah standar WHO yang disebabkan karena kurangnya pasokan obat. Ketersediaan obat pada sarana kesehatan primer dipengaruhi oleh faktor yang bervariasi diantaranya adalah suplai penggunaan obat, jika sistem suplai obat baik maka obat akan selalu tersedia (Jitta dkk., 2003). Rendahnya ketersediaan obat di sektor publik dan sering terjadinya stock

out telah dilaporkan dalam penelitian lain karena faktor-faktor

seperti kekurangan dana, seleksi obat yang tidak akurat, pengadaan tidak efisien atau mekanisme distribusi dalam rantai pasokan (Cameron dkk., 2009).

Berdasarkan penelitian tersebut, pengadaan obat terutama manajemen pasokan dapat mempengaruhi masalah ketersediaan obat yang ada. Riset terkait pengadaan obat di Rumah Sakit Indonesia paling banyak dilakukan terkait pengendalian persediaan, sehingga masih diperlukan penelitian serupa dengan menggunakan indikator yang berbeda. Riset pengelolaan obat untuk mengukur efisiensi pada tahap pengadaan dapat menggunakan indikator sebagai berikut :

Tabel IV.1. Indikator Pengadaan Obat

Indikator Sumber

Bahan baku Obat disertai Sertifikat

Analisa (Depkes RI, 2016)

Bahan berbahaya menyertakan Material

Safety Data Sheet (MSDS). (Depkes RI, 2016)

Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai mempunyai Nomor Izin Edar

(19)

Indikator Sumber

Masa kadaluarsa (expired date) minimal 2 (dua) tahun kecuali untuk Sediaan

Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai tertentu (vaksin, reagensia, dan lain-lain), atau pada

kondisi tertentu yang dapat dipertanggung jawabkan

(Depkes RI, 2016)

Rumah Sakit memiliki metode pengadaan khusus untuk mencegah kekosongan stok obat

(Eksploratory Study, 2017)

Jika proses pengadaan dilaksanakan oleh bagian lain di luar Instalasi Farmasi maka tetap melibatkan tenaga kefarmasian

(Depkes RI, 2016) RS melaksanakan pengadaan obat melalui

E-Purchasing berdasarkan Katalog

Elektronik (E-Catalogue) sesuai peraturan yang berlaku

(Depkes RI, 2016)

Pengadaan obat melalui E-Purchasing berdasarkan E-Catalogue jika mengalami kendala operasional dalam aplikasi (offline) dilakukan prosedur manual berdasarkan peraturan yang berlaku

(Menkes RI, 2014)

Pembelian secara manual dilaksanakan secara langsung kepada Industri Farmasi yang tercantum dalam Katalog Elektronik (E-Catalogue)

(Menkes RI, 2014)

Instalasi Farmasi dapat memberikan rekomendasi kepada pimpinan RS untuk mengembalikan/menolak dropping

(Depkes RI, 2016) Supplier memiliki legalitas hukum (Quick dkk, 2012) Kontrak termonitor secara efektif (Quick dkk, 2012)

Harga obat terjangkau (Quick dkk, 2012)

Waktu tunggu obat cepat (Quick dkk, 2012)

PBF/Industri Farmasi memiliki sertifikat

(20)

Indikator Sumber

PBF/Industri Farmasi memiliki reputasi

yang baik (Satibi, 2014)

Rata-rata waktu tunggu obat < 2 minggu (Quick dkk, 2012) Tertundanya pembayaran oleh RS sebesar

0%

(Pudjaningsih, 1996) (Quick dkk, 2012) Frekuensi kurang lengkapnya surat

pesanan / kontrak rata-rata 1-9 (Pudjaningsih, 1996) Frekuensi tertundanya pembayaran oleh

rumah sakit terhadap waktu yang disepakati rata-rata 0-25 kali

(Pudjaningsih, 1996) Persentase jumlah item obat yang

diadakan dengan yang direncanakan rata-rata 100-120%

(Pudjaningsih, 1996) Instalasi Farmasi bertanggungjawab

terhadap pengadaan obat (Quick dkk, 2012)

Penanggungjawab pengadaan dibagi dalam masing-masing tahap dari seleksi obat, estimasi kebutuhan, order dan pembuatan kontrak

(Quick dkk, 2012)

Terdapat prosedur tertulis untuk kontrak

dan tender (Quick dkk, 2012)

Proses tender dilakukan secara transparan (Quick dkk, 2012) Manajemen informasi digunakan dalam

prosedur pengadaan (Quick dkk, 2012)

Terdapat prosedur untuk memperoleh

harga dan kualitas supllier yang baik (Quick dkk, 2012) Menggunakan sistem informasi atau

aplikasi komputer dalam mengelola pengadaan

(Quick dkk, 2012) Menerapkan metode ABC VEN untuk

pengendalian persediaan obat (Quick dkk, 2012)

Terdapat prosedur untuk melakukan

monitoring supplier dan kontrak (Quick dkk, 2012) Sediaan yang dibuat di Rumah Sakit

(21)

Indikator Sumber

Sediaan yang dibuat di Rumah Sakit terbatas hanya untuk memenuhi

kebutuhan pelayanan di Rumah Sakit (Depkes RI, 2016) Instalasi Farmasi melakukan pencatatan

dan pelaporan terhadap penerimaan dan penggunaan Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai sumbangan/dropping/ hibah

(Depkes RI, 2016)

Instalasi Farmasi dapat memberikan rekomendasi kepada pimpinan Rumah Sakit untuk mengembalikan/menolak sumbangan/dropping/hibah Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan, dan Bahan Medis Habis Pakai yang tidak bermanfaat bagi kepentingan pasien Rumah Sakit

(22)

BAB V

QUALITY ASSURANCE

Quality Assurance (QA) adalah semua kegiatan yang

diperlukan untuk memastikan bahwa obat yang digunakan pasien aman, efektif dan dapat diterima pasien. Pengendalian mutu adalah mekanisme kegiatan pemantauan dan penilaian terhadap pelayanan yang diberikan, secara terencana dan sistematis sehingga dapat meningkatkan mutu dan menyediakan mekanisme tindakan yang diambil (Depkes RI, 2016) .

Sebagian besar drug quality ditemukan di bagian distribusi dalam pharmaceutical management cycle.

Pemeriksaan fisik obat dilakukan dimulai dari penerimaan produk dari supplier sampai pendistribusian ke pasien. Sebagai tindakan preventif terhadap mutu obat perlu dilakukan pre kualifikasi terhadap supplier sebelum pengadaan, mengembangkan QA, mengembangkan kebijakan terkait drug quality, melaksanakan regulasi yang berkaitan dengan mutu obat (Quick dkk., 2012).

Pendekatan praktis untuk QA antara lain : 1). prosedur untuk menjamin produk obat sesuai standar dan kualitas dengan memperhatikan seleksi obat, seleksi supplier, sertifikasi good manufacturing practice, batch sertification, spesifikasi kontrak; 2). prosedur untuk verifikasi pengiriman yang baik meliputi pre dan post pengawasan serta tes analisa obat. Tujuan dilaksanakannya QA untuk memastikan bahwa setiap obat yang diterima pasien aman, efektif dan standar

(23)

kualitas, memperoleh produk berkualitas yang aman dan efektif melalui seleksi dan pengadaan metode terstruktur, menjaga kualitas produk melalui penyimpanan yang sesuai, distribusi, monitoring dan penggunaan oleh prescriber,

dispenser serta pasien. Outcome dari QA adalah rendahnya

masalah yang timbul karena obat dan berhasil melewati uji mutu obat (Quick dkk., 2012). Kebijakan terkait QA obat akan mempengaruhi ketersediaan obat.

Karakteristik QA antara lain obat-obatan yang dipilih berdasarkan keamanan dan kemanjuran serta dalam bentuk sediaan yang sesuai, pemasok dengan standar kualitas yang telah ditetapkan, obat yang diterima dari pemasok dimonitor untuk memenuhi standar kualitas, obat kemasan memenuhi spesifikasi kontrak, pengemasan ulang dan pengeluaran dengan mempertahankan kualitas, kondisi penyimpanan dan transportasi yang memadai, kualitas produk dimonitoring dan dilaporkan.

Kegiatan pengendalian mutu pelayanan kefarmasian meliputi : 1). perencanaan, yaitu menyusun rencana kerja dan cara monitoring dan evaluasi untuk peningkatan mutu sesuai target yang ditetapkan; 2). pelaksanaan, yaitu monitoring dan evaluasi capaian pelaksanaan rencana kerja (membandingkan antara capaian dengan rencana kerja) serta memberikan umpan balik terhadap hasil capaian; 3. tindakan hasil monitoring dan evaluasi, yaitu dengan melakukan perbaikan kualitas pelayanan sesuai target yang ditetapkan serta meningkatkan kualitas pelayanan jika target sudah tercapai (Depkes RI, 2016).

Cara Distribusi Obat yang Baik (CDOB) adalah bagian dari proses untuk mewujudkan Quality Assurance pada obat, dimana CDOB adalah cara distribusi obat untuk memastikan mutu sepanjang jalur distribusi atau penyaluran sesuai dengan persyaratan dan tujuan penggunaan (Direktorat

(24)

Produksi dan Distribusi Kefarmasian, 2016). Semua pihak yang terlibat dalam distribusi obat dan/atau bahan obat bertanggungjawab untuk memastikan mutu obat dan/atau bahan obat dan mempertahankan integritas rantai distribusi selama proses distribusi. Prinsip-prinsip CDOB berlaku juga untuk obat donasi, baku pembanding dan obat uji klinis.

Penggunaan obat yang tidak efektif, berkualitas buruk, obat-obatan berbahaya dapat menyebabkan kegagalan terapi, eksaserbasi penyakit, resistensi dan kadang-kadang kematian. Hal ini juga merusak kepercayaan dalam sistem kesehatan, tenaga profesional kesehatan, produsen farmasi dan distributor selain itu banyak dana yang akan dihabiskan untuk obat-obatan berkualitas buruk (Mali, 2003).

Riset pengelolaan obat untuk mengukur efisiensi pada tahap Quality Assurance dapat menggunakan indikator sebagai berikut :

Tabel V.1. Quality Assurance

Indikator Sumber

Terdapat prosedur penerimaan obat untuk menjamin kesesuaian jenis, spesifikasi, jumlah, mutu, waktu penyerahan dan harga yang tertera dalam kontrak atau SP dengan kondisi fisik yang diterima

(Depkes RI, 2016)

Obat diberikan label dengan jelas (Depkes RI, 2016) Obat yang diserahkan kepada pasien

memenuhi standar mutu (Depkes RI, 2016)

Tempat penyimpanan obat tidak dicampur dengan sediaan obat lainnya yang dapat menyebabkan kontaminasi

(Depkes RI, 2016) Terdapat mekanisme yang dilakukan untuk

memastikan bahwa obat disimpan secara benar dan diperiksa secara periodik

(Depkes RI, 2016) Terdapat prosedur penyimpanan obat, vaksin (Depkes RI, 2016)

(25)

Indikator Sumber

dan serum yang memerlukan kondisi penyimpanan khusus dan penamaannya mirip (LASA, Look Alike Sound Alike) Lokasi penyimpanan obat emergensi untuk

kondisi kegawatdaruratan terjamin (Depkes RI, 2016) Terdapat mekanisme penyaluran/

penyerahan Sediaan Farmasi dari tempat penyimpanan sampai kepada unit

pelayanan/pasien untuk menjamin mutu, stabilitas, jenis, jumlah dan ketepatan waktu

(Depkes RI, 2016)

Terdapat prosedur penyimpanan obat yang

menjamin mutu obat (Depkes RI, 2016)

Sarana penyimpanan obat memenuhi syarat

sarana penyimpanan obat yang baik (Depkes RI, 2016) Dilakukan pencatatan suhu lemari pendingin

setiap hari (Depkes RI, 2016)

Cara pendistribusian obat, vaksin dan serum yang memerlukan kondisi khusus sesuai standar

(Depkes RI, 2016) Obat yang diperoleh, disimpan, disediakan,

dikirimkan sesuai syarat dalam CDOB (Badan POM, 2012) Obat dikirimkan ke penerima yang tepat

dengan jangka waktu yang sesuai (Badan POM, 2012)

Kegiatan yang terkait dengan mutu didokumentasikan pada saat kegiatan tersebut dilakukan

(Badan POM, 2012) Penyimpangan terhadap prosedur yang telah

ditetapkan didokumentasikan dan dilakukan pemeriksaan

(Badan POM, 2012) Tindakan perbaikan dan pencegahan yang

tepat diambil untuk memperbaiki dan mencegah terjadinya penyimpangan sesuai dengan prinsip manajemen mutu

(Badan POM, 2012)

Monitoring dan evaluasi dilakukan secara periodik

(Esploratory Study, 2017)

(26)

BAB VI

STRATEGI EKONOMI

Akses bebas biaya obat esensial adalah komponen penting dari cakupan kesehatan dengan memastikan ketersediaan obat esensial bebas secara signifikan mengurangi beban pengeluaran pasien. Kebijakan keuangan dibuat untuk menjaga harga tetap rendah di sektor publik. Mekanisme untuk meningkatkan akses ekonomi obat esensial di semua sektor dengan peningkatan insurance coverage, informasi harga termasuk subtitusi generik, regulasi harga produsen dan regulasi margin (Quick dkk., 2012). Siklus keberlanjutan ini juga dapat berkontribusi untuk program bebas biaya bagi pasien berpenghasilan rendah, mengurangi beban keuangan pemerintah dan pemberian bantuan. Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu kunci untuk pelaksanaan yang efektif dari skema penggunaan biaya (Akashi dkk., 2004).

Keterjangkauan keuangan dapat diperoleh jika sumber daya seimbang dengan biaya dan cukup untuk mendukung kualitas dasar pelayanan untuk tingkat tertentu sesuai dengan permintaan pelayanan kesehatan. Jika permintaan untuk obat-obatan melebihi sumber daya yang tersedia, sistem kesehatan yang tersisa berjalan dengan cara meningkatkan efisiensi, mengurangi permintaan dan meningkatkan sumber keuangan. Permintaan harus selalu dikontrol karena permintaan untuk layanan kesehatan hampir tak terbatas.

(27)

Obat mewakili pengeluaran kesehatan masyarakat pemerintah terbesar kedua, dengan meningkatkan fokus pada obat-obatan penting, pemilihan obat yang rasional, pengadaan obat yang baik, jaminan kualitas dan sistem distribusi yang efisien maka nilai kesehatan masyarakat dan kebutuhan obat dapat terjamin. Harga yang bervariasi oleh Perusahaan Multinasional dapat meredakan masalah ketersediaan obat di negara berkembang dibandingkan dengan strategi harga seragam, sehingga pemerintah juga perlu memperhatikan masalah ini (Mazumdar dan Banerjee, 2012). Pengeluaran obat-obatan menghabiskan hingga 30% dari pengeluaran kesehatan bagi banyak negara sehingga penggunaan rasional sumber daya keuangan sangat dibutuhkan untuk sebuah program kesehatan negara.

Tidak tersedianya anggaran yang memadai merupakan faktor yang dapat mempengaruhi tidak tersedianya obat yang dibutuhkan (Tumwine dkk., 2010). Untuk mencapai keberlanjutan yang lebih efisen dan mekanisme keuangan yang meningkatkan ketersediaan maka ekuitas perlu dipastikan (pilihan keuangan termasuk public financing, asuransi kesehatan, sukarela dan donor financing). Ketika keberlanjutan keuangan tidak seimbang, ini adalah tantangan untuk mempertahankan ketersediaan dengan kualitas obat yang baik, tanpa meningkatkan pengeluaran keuangan atau dengan permintaan terbatas. Supply manajemen dan ketersediaan pada obat primer harus dipertahankan dengan biaya tambahan (Quick dkk., 2012).

Riset pengelolaan obat untuk mengukur efisiensi pada tahap Strategi Ekonomi dapat menggunakan indikator sebagai berikut :

(28)

Tabel VI.1. Strategi Ekonomi

Indikator Sumber

Kebijakan keuangan di Rumah Sakit mendukung pengelolaan obat

(Esploratory Study, 2017) Anggaran obat tersedia dengan cukup untuk

mendukung ketersediaan obat di RS

(Esploratory Study, 2017) Anggaran di Rumah Sakit dapat

dialokasikan dengan tepat waktu

(Esploratory Study, 2017) Ada upaya untuk efisiensi paket biaya di RS

pada era JKN

(Esploratory Study, 2017) Klaim yang diajukan ke BPJS turun tepat

waktu

(Esploratory Study, 2017) Jumlah pasien yang merupakan peserta

asuransi pemerintah (Quick dkk, 2012)

Jumlah pasien yang menggunakan jenis

asuransi swasta (Quick dkk, 2012)

Jumlah pasien umum (Quick dkk, 2012)

Jika RS melakukan kerjasama dengan pihak RS, klaim turun tepat waktu

(Esploratory Study, 2017)

(29)

BAB VII

SUMBER DAYA MANUSIA

Instalasi Farmasi harus memiliki Apoteker dan Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) yang sesuai dengan beban kerja dan petugas penunjang lain agar tercapai sasaran dan tujuan Instalasi Farmasi. Ketersediaan jumlah tenaga Apoteker dan TTK di RS dipenuhi sesuai dengan ketentuan klasifikasi dan perizinan RS yang ditetapkan oleh Menteri. Uraian tugas tertulis dari masing-masing staf Instalasi Farmasi harus ada dan dilakukan peninjauan kembali paling sedikit setiap tiga tahun sesuai kebijakan dan prosedur di Instalasi Farmasi.

Kualifikasi Sumber Daya Manusia (SDM) berdasarkan pekerjaan yang dilakukan, kualifikasi SDM Instalasi Farmasi diklasifikasikan sebagai berikut: 1). untuk pekerjaan kefarmasian terdiri dari apoteker dan TTK 2). untuk pekerjaan penunjang terdiri dari operator komputer/teknisi yang memahami kefarmasian, tenaga Administrasi dan pembantu pelaksana. Untuk menghasilkan mutu pelayanan yang baik dan aman, maka dalam penentuan kebutuhan tenaga harus mempertimbangkan kompetensi yang disesuaikan dengan jenis pelayanan, tugas, fungsi, wewenang dan tanggung jawabnya (Depkes RI, 2016).

Persyaratan Pejabat Pembuat Komitmen dalam tim pengadaan obat adalah memiliki integritas, disiplin tinggi, tanggung jawab dan kualifikasi teknis serta manajerial untuk melaksanakan tugas, mampu mengambil keputusan, bertindak tegas dan memiliki keteladanan dalam sikap dan perilaku serta tidak pernah terlibat Korupsi Kolusi Nepotisme

(30)

(KKN), menandatangani pakta integritas, tidak menjabat sebagai pengelola keuangan, memiliki Sertifikat Keahlian Pengadaan Barang/Jasa. Sedangkan persyaratan manajerial Pejabat Pembuat Komitmen adalah berpendidikan paling kurang Sarjana Strata Satu (S1) dengan bidang keahlian yang sedapat mungkin sesuai dengan tuntutan pekerjaan, memiliki pengalaman paling kurang 2 (dua) tahun terlibat secara aktif dalam kegiatan yang berkaitan dengan Pengadaan Barang/ Jasa, memiliki kemampuan kerja secara berkelompok dalam melaksanakan setiap tugas/pekerjaannya. Anggota Panitia/ pejabat pengadaan harus memiliki integritas, disiplin dan tanggungjawab dalam melaksanakan tugas, memahami pekerjaan yang akan diadakan, memahami jenis pekerjaan tertentu yang menjadi tugas Pejabat Pengadaan yang bersangkutan, memahami isi dokumen, metode dan prosedur pengadaan, tidak mempunyai hubungan keluarga dengan Pejabat yang menetapkannya sebagai anggota Pejabat Pengadaan, memiliki Sertifikat Keahlian Pengadaan Barang/ Jasa sesuai dengan kompetensi yang dipersyaratkan, menandatangani Pakta Integritas (Presiden RI, 2010).

Logistic manager harus bisa meningkatkan

ketersediaan obat dan mengurangi distribution cost. Community participant (contributing, consulting, managing) dapat meningkatkan ketersediaan obat dan supply health

provider serta dapat menjamin ketersediaan dan harga obat

yang rendah (Quick dkk., 2012). Kurangnya pelatihan yang cukup dalam perhitungan kebutuhan obat merupakan salah satu penyebab yang mempengaruhi ketersediaan karena kemungkinan staf tidak tahu cara memprediksi berapa banyak obat yang dibutuhkan, pelatihan juga berperan penting dalam hal penyimpanan obat (Tumwine dkk., 2010). Berdasarkan penelitian faktor yang mempengaruhi ketersedoaan obat adalah kurangnya logistic skill, manajemen persediaan yang tidak baik, dana dan kurangnya persediaan.

(31)

Logistic manager harus bisa meningkatkan ketersediaan obat

dan mengurangi distribution cost. Community participant

(contributing, consulting, managing) dapat meningkatkan

ketersediaan obat dan supply health provider dan dapat menjamin ketersediaan dan low cost obat (Quick dkk., 2012).

Program di India, pelatihan tenaga kesehatan dimasukkan dalam kebijakan Obat Esensial baru, dari tahun 1994 dan seterusnya (Chaudhury, 2005). Riset pengelolaan obat untuk mengukur efisiensi pada tahap Sumber Daya Manusia dapat menggunakan indikator sebagai berikut :

Tabel VII.1. Sumber Daya Manusia

Indikator Sumber

Terdapat struktur organisasi/divisi (Quick, dkk., 1997) Selalu dilakukan revisi pada struktur

organisasi/divisi dan job description pada masing-masing posisi

(Quick, dkk., 1997) Job description pada masing-masing posisi

tersedia (Quick, dkk., 1997)

Masing-masing staf memiliki copy job

description (Quick, dkk., 1997)

Orientasi kepada staf yang baru selalu

diberikan dalam bentuk pelatihan (Quick, dkk., 1997) Terdapat buku petunjuk prosedur bagi staf

pengadaan obat yang baru (Quick, dkk., 1997)

Staf menerima pelatihan manajemen

pengelolaan obat (Quick, dkk., 1997)

Pelatihan pengelolaan obat dilakukan selama

3 tahun terakhir (Quick, dkk., 1997)

Pelatihan dilakukan terencana (Quick, dkk., 1997) Komunikasi dari pimpinan kepada bawahan

dilakukan secara langsung (Quick, dkk., 1997)

Terdapat penilaian kinerja reguler dengan

catatan tertulis (Quick, dkk., 1997)

Supervisi rutin dilakukan

(32)

Indikator Sumber

Terdapat prosedur tentang pengelolaan obat (Eksploratory Study, 2017) Prosedur tentang pengelolaan obat diterapkan

oleh SDM

(Eksploratory Study, 2017) Rapat koordinasi diagendakan secara rutin (Quick, dkk., 1997) Rasio pasien dan apoteker adalah 1 : 50 (Depkes RI, 2016)

(33)

BAB VIII

PENGGUNAAN OBAT RASIONAL

Salah satu faktor penentu keberhasilan pelayanan kefarmasian, secara umum pelayanan kesehatan adalah penggunaan yang rasional. WHO memberikan definisi sebagai berikut : pasien menerima obat yang sesuai dengan kebutuhan kliniknya, pada dosis yang tepat secara individual, waktu pemakaian yang terukur dan terjangkau harganya. Secara biomedik, hal itu ditentukan oleh kriteria tepat obat, tepat indikasi, obat sesuai mengenai khasiat, aman, cocok, buat pasien yang bersangkutan, murah, tepat dosis, tepat cara pakai, waktu pemakaian, tepat pasien, tepat dispensing (termasuk pemberian informasi dan konseling dan pasien patuh serta terikat pada tindakan yang dilakukan untuk kepentingannya (Quick dkk., 2012).

Penggunaan obat yang rasional terjadi ketika pasien menerima obat sesuai dengan kebutuhan klinisnya dalam dosis yang memenuhi kebutuhan individu mereka sendiri, untuk jangka waktu yang cukup dan pada biaya terendah (Zelman, 2015). Prescriber dan pasien berkontribusi dalam penggunaan obat yang tidak rasional. Prescriber bisa meresepkan obat yang terlalu banyak, terlalu sedikit atau obat yang tidak sesuai dan bisa meresepkan obat yang tepat tetapi salah dosis, formulasi atau lama pemakaian. Selain itu, pasien berkontribusi penggunaan obat yang tidak rasional melalui pengobatan sendiri, berbagi obat atau tidak menyelesaikan rejimen pengobatan yang diresepkan.

(34)

Kerugian dari resep obat yang tidak rasional telah diperkirakan dapat mengurangi ketersediaan obat sebesar 50% (WHO, 1993). Obat-obatan harus digunakan secara tepat, aman dan hanya bila diperlukan. Penggunaan obat yang tidak rasional termasuk berlebihan, sedikit digunakan dan tidak digunakan, disebabkan oleh faktor-faktor seperti kurangnya sistem regulasi yang memadai, kekurangan obat esensial dan ketersediaan obat yang tidak penting, kurangnya informasi obat objektif dan pengaruh promosi obat.

Terlalu sering menggunakan obat, sedikit digunakan atau penyalahgunaan obat-obatan (juga disebut digunakan sebagai obat yang tidak rasional) dapat menyebabkan bahaya selain dapat membuang sumber daya yang terbatas juga mengancam keselamatan. Promosi penggunaan obat yang rasional sebagai bagian dari sistem kesehatan dapat meningkatkan obat-obatan berkualitas dan layanan farmasi lebih banyak tersedia serta dapat diakses di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah (Zelman, 2015).

Sebuah kebijakan obat nasional harus mempromosikan peresepan yang rasional, dispensing dan penggunaan obat pada pasien. Berbagai pendekatan telah dikembangkan dalam upaya untuk mempromosikan resep rasional. Pelatihan sebelum dan pada saat pelayanan juga dapat meningkatkan penggunaan obat yang rasional. Pelatihan yang tidak memadai pada profesional kesehatan, kurangnya kontrol obat-obatan dan pengeluaran obat-obatan oleh personil yang tidak terlatih akan menyebabkan penggunaan irrasional dari obat-obatan. Penggunaan obat yang rasional dapat membantu meningkatkan penggunaan obat di sektor publik dan swasta.

Penggunaan obat rasional wajib disertakan dengan informasi obat. Lebih dari 50% pengeluaran obat terbuang karena peresepan yang irrasional (Quick dkk., 2012), menjabarkan faktor dari pihak dokter yang berpengaruh pada ketersediaan obat adalah praktisi medis memberikan/

(35)

meresepkan obat yang tidak diperlukan pasien atau pemberian beberapa obat untuk mengatasi masalah medis yang seharusnya bisa diterapi satu obat saja.

Menurut (Quick, dkk., 1997), faktor dari pihak pasien yang berpengaruh pada ketersediaan obat adalah pasien meminta obat untuk keperluan lain atau tidak sesuai dengan kondisi medis saat itu. Obat sebaiknya digunakan dengan cara yang tepat, aman dan ada saat dibutuhkan. Penggunaan obat yang irrasional termasuk didalamnya overuse, underuse, yang disebabkan kurangnya regulasi sistem yang memadai, informasi yang tidak lengkap dan pengaruh yang kuat dari promosi obat pada prescriber dan pasien (Quick dkk., 2012).

Training untuk prescriber diperlukan untuk menurunkan

penggunaan obat yang tidak rasional dan mempertahankan ketersediaan obat, selain keamanan dan efikasi penggunaan obat, hal lain yang dianggap penting pada prescriber adalah meresepkan nama obat generik, harga, memperhatikan supply

logistic, distribusi, penyimpanan, kualitas obat pada obat yang

tersedia dan stabilitas obat.

Penggunaan obat yang rasional sebagai unsur penting pemberian layanan kesehatan. Oleh karena itu ada kebutuhan untuk menetapkan dan menerapkan kebijakan obat yang bertujuan untuk memastikan tidak hanya obat yang efektif dan aman dengan kualitas yang baik tersedia dengan harga terjangkau, namun juga obat-obatan tersebut digunakan secara rasional. Penyebab penggunaan obat yang tidak rasional juga disebabkan tidak ada formularium nasional yang diterbitkan dan tersedia untuk praktisi medis, standar resep yang berbeda, tidak ada protokol terapeutik, tidak ada program pelatihan formal untuk para praktisi,

prescribers memiliki sedikit kesempatan untuk mengakses

informasi obat yang tidak bias dan tidak ada panduan untuk meresepkan obat-obatan penting, tidak ada badan peninjau obat di berbagai tingkat perawatan kesehatan yang memantau

(36)

persediaan dan penggunaan obat, memastikan penggunaan obat-obatan secara ekonomis serta memastikan persediaan obat kritis penting yang memadai di instansi (Obeidallah dkk., 2000). Riset pengelolaan obat untuk mengukur efisiensi pada tahap Penggunaan Obat Rasional dapat menggunakan indikator sebagai berikut :

Tabel VIII.1. Penggunaan Obat Rasional

Indikator Sumber

RS memiliki mekanisme yang dapat

mengidentifikasi kemungkinan masalah POR (Quick dkk, 2012) Penyebab terjadinya kasus POR adalah

ketidaktepatan obat, dosis dan duplikasi terapi

(Eksploratory Study, 2017)

Penyebab terjadinya kasus POR adalah ketidakpatuhan pasien

(Eksploratory Study, 2017)

Penyebab terjadinya kasus POR adalah kurangnya informasi obat kepada pasien

(Eksploratory Study, 2017)

Terdapat kebijakan untuk meningkatkan

POR (Quick dkk, 2012)

Ada regulasi untuk mengontrol POR (Quick dkk, 2012) Ada sosialisasi dari pemerintah untuk

meningkatkan POR (Quick dkk, 2012)

Dokter mengikuti standar dan proses

monitoring POR (Quick dkk, 2012)

Referensi tersedia untuk prescriber

mengenai informasi obat (Quick dkk, 2012)

Terdapat instrumen untuk mengevaluasi

resistensi antibiotik (Quick dkk, 2012)

Ada intervensi untuk meningkatkan POR (Quick dkk, 2012) Hasil dari intervensi untuk peningkatan POR

disosialisasikan kepada stakeholder (Quick dkk, 2012) Ada monitoring dan evaluasi efektivitas dan

efek samping terapi obat (Depkes RI, 2016)

Ada tindak lanjut setelah dilakukan

monitoring dan evaluasi efektifitas dan efek samping terapi obat

(Eksplarotory Study, 2017)

(37)

BAB IX

REGULASI DAN LEGISLASI

Kebijakan obat nasional adalah komitmen politik dimana pemerintah menjamin efikasi dan dan keamanan obat yang terjangkau, dapat diakses dan rasional (Quick dkk., 2012). Pemerintah merupakan penggerak utama yang membuat dan mengimplementasi kebijakan obat. Kebijakan obat nasional juga dapat mencakup tujuan ekonomi (misalnya, untuk mengurangi penggunaan devisa untuk impor farmasi atau untuk menyediakan lapangan kerja di berbagai bidang seperti dispensing, prepackaging atau produksi dan tujuan pembangunan nasional (meningkatkan transportasi internal dan sistem komunikasi, mengembangkan produksi farmasi nasional atau untuk mengambil sikap atas hak kekayaan intelektual di bidang tertentu). Terlepas dari keadaan tertentu suatu negara, sebuah National Medicine

Policy (NMP) secara komprehensif harus menentukan peran

publik dan sektor swasta. Selain itu, kebijakan tersebut harus peduli dengan efisiensi; ekuitas (keadilan dalam akses); berkesinambungan (kemampuan untuk memberikan manfaat lanjutan ke masa depan tanpa bergantung pada dukungan eksternal) dan transparansi dengan akuntabilitas yang jelas. Pada akhirnya, NMP harus mengatasi masalah akses ke obat esensial sebagai bagian dari kewajiban pemerintah untuk memenuhi hak warga negaranya untuk kesehatan.

Pemerintah adalah kekuatan pendorong penting dalam merancang dan melaksanakan kebijakan obat. Melalui kebijakan obatnya, negara berusaha untuk menjamin

(38)

ketersediaan dan aksesibilitas yang efektif, berkualitas tinggi dan untuk memastikan penggunaan yang benar. Pemerintah bukan satu-satunya yang terlibat dalam NMP, sebuah kemitraan diperlukan yang melibatkan kementerian kesehatan, keuangan dan industri, profesional kesehatan termasuk dokter dan apoteker; retailler; akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan kelompok konsumen; industri farmasi (nasional dan multinasional) (Quick dkk., 2012)

Kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk meningkatkan ketersediaan, keterjangkauan dan penggunaan obat yang rasional yang mana dilakukan supply sebesar 60% sampai 90% obat yang dikonsumsi di banyak negara berkembang. Di sektor farmasi, lisensi wajib dimiliki untuk mengurangi kompetisi penurunan harga dan untuk memastikan ketersediaan obat yang dibutuhkan. Di negara berkembang ketersediaan obat sangat ditekankan oleh

National Medicine Policy.

Tujuan dari kebijakan obat nasional dan manajemen farmasi antara lain dengan membuat obat esensial secara fisik tersedia dan mudah diakses oleh seluruh penduduk, menjamin keamanan, khasiat dan mutu obat yang diproduksi dan didistribusikan, meningkatkan kehadiran di fasilitas kesehatan dengan meningkatkan kredibilitas dan penerimaan sistem kesehatan; mempromosikan resep rasional, dispensing dan penggunaan pasien obat-obatan. Peningkatan akses ketersediaan obat bisa dilakukan dengan strategi dalam regulasi antara lain pengembangan standar dan task shifting. Seluruh kerangka bergantung pada kebijakan, hukum, dan peraturan, yang bila didukung oleh tata kelola yang baik, membangun dan mendukung komitmen publik untuk pasokan obat esensial. National Medicine Policy (NMP) memberikan dasar yang kuat untuk mengelola pasokan farmasi. Pemerintah harus memastikan bahwa semua obat-obatan yang tersedia di pasar lokal memenuhi standar dasar.

(39)

Selain itu, standar kualitas yang sama diterapkan pada pasar terbuka harus diterapkan untuk obat-obatan diperoleh melalui sektor publik (Quick dkk., 2012).

Berdasar Surat Edaran Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 167 Tahun 2014, pengadaan obat harus dilaksanakan berdasarkan prinsip penyelenggaraan pemerintah yang baik dan bersih, prinsip keadilan, transparansi, profesional dan akuntabel untuk mendapatkan produk yang berkualitas dengan harga yang wajar baik untuk program Jaminan Kesehatan Nasional maupun program kesehatan lainnya. Untuk mempermudah pengadaan obat, Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) telah menetapkan Katalog Elektronik (e-catalogue). Obat yang berisi daftar harga, spesifikasi dan penyedia obat. Regulasin ini dimaksudkan untuk menjamin ketersediaan dan pemerataan obat yang aman, bermutu, dan berkhasiat untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatatan, perlu dilaksanakan pengadaan obat secara transparan, efektif, efisien serta hasilnya dapat dipertangungjawabkan (Menkes RI, 2014). Berdasarkan Permenkes No.63 tahun 2014 tentang Pengadaan Obat Berdasarkan Katalog Elektronik (e-catalogue) pasal 2 : pengaturan pengadaan obat berdasarkan Katalog Elektronik (e-catalogue) bertujuan untuk menjamin transparansi/ keterbukaan, efektifitas dan efisiensi proses pengadaan obat dalam rangka memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan yang hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.

Untuk mempermudah pengadaan obat, Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) telah menetapkan Katalog Elektronik (catalogue) obat. Sistem

e-catalog obat adalah sistem informasi elektronik yang memuat

informasi seputar daftar nama obat, jenis, spesifikasi teknis, harga satuan terkecil dan pabrik penyedia. Pengadaan obat generik yang sudah termuat dalam dilaksanakan melalui

(40)

mekanisme e-purchasing. Berdasarkan Permenkes no. 63 tahun 2014 tentang Pengadaan Obat berdasarkan Katalog Elektronik (e-catalogue) pasal 3 ayat 1 : Seluruh Satuan Kerja di bidang kesehatan baik Pusat maupun Daerah dan FKTP atau FKRTL Pemerintah melaksanakan pengadaan obat melalui e-purchasing berdasarkan Katalog Elektronik

(e-catalogue) sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Penggunaan obat yang tidak efektif, berkualitas rendah atau obat-obatan berbahaya dapat mengakibatkan kegagalan terapi, eksaserbasi penyakit, resistensi terhadap obatan dan kematian. Hal ini juga merusak kepercayaan dalam sistem kesehatan, tenaga kesehatan, produsen farmasi dan distributor. Untuk melindungi kesehatan masyarakat, pemerintah perlu menyusun undang-undang dan peraturan yang komprehensif dan membangun otoritas regulasi nasional yang efektif untuk memastikan bahwa manufaktur, perdagangan dan penggunaan obat-obatan diatur secara tepat dan masyarakat memiliki akses ke informasi yang akurat pada obat-obatan. Legislasi harus memberikan dasar untuk memastikan bahwa produk farmasi yang berkualitas dapat diterima, aman dan mempunyai efikasi yang baik. Kerangka dalam legislasi dan regulasi antara lain otoritas regulasi obat, pendaftaran dan perizinan obat antara lain Quality Assurance, termasuk pemeriksaan dan penegakan hukum;

pharmacovigilance; peraturan resep dan distribusi dan

infrastruktur untuk pemerintahan yang baik dalam obat-obatan (Quick dkk., 2012).

Rumah Sakit harus menyusun kebijakan terkait manajemen penggunaan obat yang efektif. Peninjauan ulang kebijakan sangat membantu RS memahami kebutuhan dan prioritas dari perbaikan sistem mutu dan keselamatan penggunaan obat yang berkelanjutan. RS perlu mengembangkan kebijakan pengelolaan obat untuk meningkatkan keamanan, khususnya obat yang perlu

(41)

diwaspadai (high- alert medication) (Peraturan Menteri Kesehatan RI, 2016).

Berbagai faktor yang memberikan kontribusi untuk akses terhadap obat antara lain aspek ekonomi, undang-undang, kebijakan, kekurangan pengetahuan, perilaku sosial, legislasi, kebijakan dan kurangnya pengetahuan yang sangat saling terkait (Vranken dkk., 2016). Pilihan kebijakan seperti peningkatan promosi obat generik dan mekanisme pendanaan alternatif diperlukan untuk meningkatkan ketersediaan obat, mengurangi harga dan memperbaiki keterjangkauan pendanaan (Cameron dkk., 2009). Sebuah kebijakan harga dibutuhkan dan harus dimasukkan ke dalam kebijakan obat nasional. Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan ketersediaan obat generik yang terjangkau. Sebuah paket kebijakan yang diambil akan memastikan ketersediaan yang lebih baik di sektor publik, baik dengan penargetan yang lebih baik dari yang ada untuk obat-obatan pada obat-obatan prioritas atau dengan meningkatkan anggaran publik untuk obat esensial dan akan menempatkan tekanan pada harga generik sektor swasta. Kebijakan ini juga meninjau praktek pembelian untuk memastikan lebih besar efisiensi. Sebuah kebijakan generik juga harus dibuat untuk mempromosikan obat generik, meningkatkan kesadaran konsumen dan memperkenalkan insentif untuk apoteker dan dokter untuk meresepkan dan menggunakan obat generik (Babar dkk., 2007).

Di Bangladesh, Kebijakan Obat Nasional tahun 1982 berperan dalam meningkatkan pasokan obat-obatan penting kualitas dengan harga yang terjangkau, terutama di tahun-tahun awal implementasi kebijakan. Studi ini meneliti status hasil dari tujuan Kebijakan Obat Nasional, dalam hal ketersediaan dan rasional penggunaan obat dalam pelayanan kesehatan primer fasilitas di Bangladesh, termasuk keterjangkauan oleh konsumen (Ahmed dan Islam, 2012).

(42)

Riset pengelolaan obat untuk mengukur efisiensi pada tahap Regulasi dan Legislasi dapat menggunakan indikator sebagai berikut :

Tabel IX.1. Regulasi dan Legislasi

Indikator Sumber

Inspektor menggunakan checklist untuk

melakukan pemeriksaan pengelolaan obat (Quick dkk, 2012) Ada sistem audit untuk mengevaluasi sistem

pemeriksaan (Quick dkk, 2012)

Ada tindakan untuk menegakkan regulasi

dan hukum farmasi di RS (Quick dkk, 2012)

Tindakan penegakan diberlakukan secara administratif atau melalui tindakan pengadilan

(Quick dkk, 2012) Terdapat sistem untuk melaporkan masalah

produk farmasi (Quick dkk, 2012)

Tindakan perbaikan dilakukan terhadap

masalah yang dilaporkan (Quick dkk, 2012)

RS menyusun kebijakan terkait pengelolaan

obat (Depkes RI, 2016)

Rumah Sakit menyusun kebijakan terkait

manajemen pengunaan Obat yang efektif. (Depkes RI, 2016) Rumah Sakit mengembangkan kebijakan

pengelolaan Obat untuk meningkatkan keamanan, khususnya Obat yang perlu diwaspadai (high-alert medication).

(Depkes RI, 2016)

Kebijakan internal RS ditinjau setahun

(43)

BAB X

MONITORING DAN EVALUASI

Monitoring dan evaluasi merupakan suatu pengamatan dan penilaian secara terencana, sistematis dan terorganisir sebagai umpan balik perbaikan sistem dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan. Monitoring dan evaluasi harus dilaksanakan terhadap seluruh proses tata kelola Sediaan Farmasi, Alat Kesehatan dan Bahan Medis Habis Pakai sesuai ketentuan yang berlaku. Berdasarkan waktu pelaksanaan evaluasi, dibagi menjadi 3 (tiga) jenis program evaluasi, yaitu : 1). prospektif adalah program dijalankan sebelum pelayanan dilaksanakan, contoh: standar prosedur operasional dan pedoman; 2). konkuren adalah program dijalankan bersamaan dengan pelayanan dilaksanakan, contoh: memantau kegiatan konseling Apoteker, peracikan Resep oleh Asisten Apoteker; 3). retrospektif adalah program pengendalian yang dijalankan setelah pelayanan dilaksanakan, contoh: survei konsumen, laporan mutasi barang, audit internal.

Untuk menjamin mutu Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit, harus dilakukan pengendalian mutu Pelayananan Kefarmasian yang meliputi monitoring dan evaluasi (Depkes RI, 2016). Evaluasi adalah cara menganalisis kemajuan menuju tujuan dan sasaran pertemuan, hal Ini harus membangun dan menggunakan sistem monitoring. Evaluasi dilakukan pada awal program yang digunakan untuk memberikan penilaian yang jelas dari kebutuhan. Evaluasi paruh waktu dapat memberikan informasi berharga tentang

(44)

seberapa baik program bekerja sedangkan evaluasi akhir menghasilkan review yang lengkap.

Indikator atau kriteria yang baik adalah sesuai dengan tujuan, informasinya mudah didapat, singkat, jelas, lengkap dan tidak menimbulkan berbagai interpretasi serta rasional. Dalam pelaksanaan pengendalian mutu pelayanan kefarmasian dilakukan melalui kegiatan monitoring dan evaluasi yang harus dapat dilaksanakan oleh Instalasi Farmasi sendiri atau dilakukan oleh tim audit internal (Depkes RI, 2016). Salah satu indikator yang digunakan untuk melakukan monitoring dan evaluasi adalah indikator ketersediaan obat esensial, sehingga diperoleh rata-rata ketersediaan obat dan dapat diidentifikasi masalah ketersediaan obat yang ada sehingga dapat meningkatkan ketersediaan obat di pelayanan kesehatan (Quick dkk., 2012).

Uji coba secara acak dari Zimbabwe melaporkan program pengawasan yang disediakan pengajaran dan pedoman manajemen stok dan kepatuhan terhadap pedoman pengobatan. Teknisi farmasi dilatih untuk mengawasi sejumlah sampel fasilitas kesehatan baik manajemen stok atau kepatuhan terhadap standar pedoman pengobatan. Data awal menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan dalam ketersediaan di semua fasilitas tetapi hasilnya setelah lebih dari 12 bulan menunjukkan bahwa indikator manajemen stok meningkat secara signifikan dan ketersediaan keseluruhan juga meningkat (meskipun kurang signifikan) (Nunan dan Duke, 2011).

Pelaksanaan suatu National Medicine Policy (NMP) harus secara rutin dipantau dan pengaruhnya harus dievaluasi secara berkala. Persyaratan untuk monitoring dan evaluasi perlu dimasukkan dalam kebijakan itu sendiri dan staf serta anggaran yang memadai perlu dialokasikan, penggunaan indikator yang tepat membantu mengukur

(45)

kemajuan dan membutuhkan perbaikan. Sebuah sistem untuk monitoring dan evaluasi berfungsi sebagai alat pengelolaan yang memungkinkan penilaian berkelanjutan kemajuan dan membantu membuat keputusan manajemen dalam menanggapi masalah yang diidentifikasi. Temuan, hasil dan rekomendasi dari monitoring dan evaluasi tim harus didiskusikan dengan para pemangku kepentingan nasional dan dijadikan sebagai dasar untuk mengidentifikasi masalah, mencari solusi dan meningkatkan kinerja.

Sebuah monitoring dan evaluasi sistem pendokumentasian juga harus menyediakan transparansi dan akuntabilitas serta menciptakan standar yang perbandingannya dapat dibuat antara negara dan daerah dari waktu ke waktu dimana semua informasi ini dapat menghasilkan bukti yang diperlukan untuk mendukung kebijakan. Proses evaluasi tergantung pada jenis indikator dan kriteria yang digunakan serta pada ketersediaan data yang memadai. Faktor yang paling penting dalam efektivitas hukum dan peraturan obat adalah sejauh mana kerangka legislatif selaras dengan kebijakan nasional dan situasi yang ada di sektor farmasi.

Untuk mengukur pencapaian standar yang telah ditetapkan diperlukan indikator, yang menunjukkan pada ukuran kepatuhan terhadap standar yang telah ditetapkan. Indikator dibedakan menjadi: 1). Indikator persyaratan minimal yaitu indikator yang digunakan untuk mengukur terpenuhi tidaknya standar masukan, proses dan lingkungan; 2). Indikator penampilan minimal yaitu indikator yang ditetapkan untuk mengukur tercapai tidaknya standar penampilan minimal pelayanan yang diselenggarakan.

Riset pengelolaan obat untuk mengukur efisiensi pada tahap Monitoring dan Evaluasi dapat menggunakan indikator sebagai berikut :

(46)

Tabel X.1. Monitoring dan Evaluasi

Indikator Sumber

Terdapat program/unit yang melakukan

monev pengelolaan obat (Quick dkk, 2012)

Monitoring pengelolaan obat berdasarkan

pada aktivitas yang spesifik (Quick dkk, 2012)

Metode yang digunakan untuk memperoleh

sumber informasi monitoring cukup efektif (Quick dkk, 2012) Hasil monitoring dilakukan review dan

didistribusikan secara rutin (Quick dkk, 2012)

Umpan balik diberikan kepada staf (Quick dkk, 2012) Ada tindakan yang dilakukan jika ditemukan

masalah pengelolaan obat setelah dilakukan monitoring dan evaluasi

(Quick dkk, 2012) Indikator yang digunakan sudah terstandar (Quick dkk, 2012) Pihak yaag membuat indikator terlibat dalam

proses, output dan hasil dari indikator (Quick dkk, 2012) Pencapaian tujuan program dinilai secara

berkala melalui evaluasi formal (Quick dkk, 2012)

Evaluasi dimulai dengan pernyataan yang

jelas sebagai pertanyaan dasar (Quick dkk, 2012)

Pertanyaan yang digunakan fokus pada

pengumpulan informasi (Quick dkk, 2012)

Metode yang digunakan untuk memperoleh

informasi cukup efektif (Quick dkk, 2012)

Dalam melakukan evaluasi tim melibatkan

pihak internal (Quick dkk, 2012)

Dalam melakukan evaluasi tim melibatkan

pihak eksternal (Quick dkk, 2012)

Dalam melakukan evaluasi tim melibatkan

(47)

DAFTAR PUSTAKA

Ahmed, S.M. dan Islam, Q.S., 2012. Availability and rational use of drugs in primary healthcare facilities following the national drug policy of 1982: is Bangladesh on right track? Journal of Health, Population and Nutrition, 99– 108.

Akashi, H., Yamada, T., Huot, E., Kanal, K., dan Sugimoto, T., 2004. User fees at a public hospital in Cambodia: effects on hospital performance and provider attitudes.

Social Science & Medicine, 58: 553–564.

Babar, Z.U.D., Ibrahim, M.I.M., Singh, H., Bukahri, N.I., dan Creese, A., 2007. Evaluating drug prices, availability, affordability, and price components: implications for access to drugs in Malaysia. PLoS Med, 4: e82.

Badan POM, 2012. Pedoman Teknis Cara Distribusi Obat Yang

Baik. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat dan

Makanan RI No HK.03.1.34.11.12.7542, Jakarta.

Binfar, 2015. Rencana Aksi Program 2015-2019 Program

Kefarmasian Dan Alat Kesehatan. Direktorat Jenderal

Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan.

Cameron, A., Ewen, M., Ross-Degnan, D., Ball, D., dan Laing, R., 2009. Medicine prices, availability, and affordability in 36 developing and middle-income countries: a secondary analysis. The lancet, 373: 240–249.

Chaudhury, R., 2005. Quality medicines for the poor: experience of the Delhi programme on rational use of drugs. Health Policy and Planning, 20: 124–136.

(48)

Depkes RI, 2016. Standar Pelayanan Kefarmasian Di Rumah

Sakit No.72. Departemen Kesehatan Republik

Indonesia, Jakarta.

Direktorat Produksi dan Distribusi Kefarmasian, 2016.

Kebijakan Dan Implementasi Sistem Distribusi Obat.

Direktorat Produksi dan Distribusi Kefarmasian, Jakarta.

Dirjen Binfar, 2014. Pedoman Penerapan Formularium

Nasional Nomor HK.02..03/III/1346/2014. Direktorat

Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan, Jakarta.

Febriawati, H., 2013. Manajemen Logistik Farmasi Rumah

Sakit, Pertama. ed. Gosyen Publishing, Yogyakarta.

Hogerzeil, H., Sallami, A., Walker, G.A., dan Fernando, G., 1989. Impact of an essential drugs programme on availability and rational use of drugs. The Lancet, 333: 141–142.

Jitta, J., Whyte, S.R., dan Nshakira, N., 2003. The availability of drugs: what does it mean in Ugandan primary care.

Health Policy, 65: 167–179.

Mali, G.K., 2003. Effective medicines regulation: ensuring safety, efficacy and quality. World Health Organization,

Geneva, .

Mazumdar, M. dan Banerjee, D.S., 2012. On price discrimination, parallel trade and the availability of patented drugs in developing countries. International

Review of Law and Economics, 32: 188–195.

Menkes RI, 2014. Peraturan Menteri Kesehatan RI No 63

Tentang Pengadaan Obat Berdasarkan Katalog

(49)

Nunan, M. dan Duke, T., 2011. Effectiveness of pharmacy interventions in improving availability of essential medicines at the primary healthcare level: Improving availability of essential medicines. Tropical Medicine &

International Health, 16: 647–658.

Obeidallah, W., Mahariq, M., Barzeq, H., Zemli, M., Piva, P., Velásquez, G., dkk., 2000. Drug situation analysis for the West Bank and Gaza Strip.

Peters, D., 2006. The Drug Management Cycle: Selection, Four. ed. The Johns Hopkins University, Maryland.

Presiden RI, 2010. Peraturan Presiden Republik Indonesia

Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Peraturan Presiden Republik Indonesia,

Jakarta.

Prinja, S., Bahuguna, P., Tripathy, J.P., dan Kumar, R., 2015. Availability of medicines in public sector health facilities of two North Indian States. BMC Pharmacology and

Toxicology, 16: .

Pudjaningsih, D., 1996. 'Pengembangan Indikator Efisiensi Pengelolaan Obat di Farmasi Rumah Sakit'. Magister Manajemen Farmasi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Quick, Embrey, Martha, dan Dukes, Graham, 2012. MDS 3 :

Managing Access to Medicines and Health Technologies.

Management Science For Health.

Quick, Rankin, J.R., Laing, R.O., dan O’Connor, R.W., 1997.

Managing Drug Supply : The Selection, Procurement, Distribusion, and Use of Pharmaceuticals in Primary

(50)

Health Care,, second edition. ed. Connecticut, Kumarin

Press Inc.

Satibi, 2014. Manajemen Obat Di Rumah Sakit. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Tumwine, Y., Kutyabami, P., Odoi, R.A., dan Kalyango, J.N., 2010. Availability and expiry of essential medicines and supplies during the ‘pull’and ‘push’drug acquisition systems in a rural Ugandan hospital. Tropical Journal of

Pharmaceutical Research, 9: .

Vranken, M.J., Lisman, J.A., Mantel-Teeuwisse, A.K., Jünger, S., Scholten, W., Radbruch, L., dkk., 2016. Barriers to access to opioid medicines: a review of national legislation and regulations of 11 central and eastern European countries. The Lancet Oncology, 17: e13–e22. WHO, 1993. How to Investigate Drug Use in Health Facilities

Selected 382 Benjamin SC Uzochukwu et Al. Drug Use Indicators. Action Programme on Essential Drugs. World

Health Organization., Geneva.

Zelman, W., 2015. Promoting The Rational Use Of The Rational Of Medicines. US Agency for International

(51)
(52)

Gambar

Gambar 1. Siklus Pengelolaan (Quick dkk., 2012)
Tabel II.1. Indikator Seleksi Obat
Tabel III.1. Indikator Perencanaan Obat
Tabel IV.1. Indikator Pengadaan Obat
+4

Referensi

Dokumen terkait

Untuk membuat jadwal yang sebenarnya dilakukan dengan melibatkan proporsi jumlah pelanggan pada tiap interval waktu, yaitu dengan membagi proporsi interval waktu

Kuesioner yang dirancang ditujukan untuk memperoleh informasi mengenai 1) tingkat kepentingan dan tingkat kepuasan responden terhadap 21 atribut kualitas website,

Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai efektifitas larvasida terhadap kematian larva nyamuk Aedes aegypti instar III dengan

Selanjutnya program ini digunakan untuk mengkarakterisasi pori beberapa sampel citra batuan. Perangkat lunak yang dibuat dapat menentukan karakteristik pori batuan,

Tujuan utama dari kegiatan perancangan sistem adalah untuk memberikan gambaran tentang model sistem baru yang akan diterapkan baik dari sisi teknologi, desain

(1) Kepala Badan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a mempunyai tugas memimpin, mengoordinasikan perencanaan, pengendalian dan evaluasi pembangunan

Keabsahan data dapat dilakukan dengan beberapa cara dalam penelitian kualitatif untuk menjamin data yang diperoleh.. Untuk menetapkan keabsahan data diperlukan teknik

Gambar 7 adalah sequence diagram operator desa, dimana interaksi Operator Desa pada sistem adalah untuk mendaftakan menyiapkan semua Kelompok-kelompok tani yang ada di tiap