STRATEGI PENGEMBANGAN UKM BATIK DI KOTA MEDAN
Frida Ramadini 1), Inggrita Gusti Sari Nasution 2) 1)
Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara Kampus USU-Medan
2)
Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Sumatera Utara Kampus USU-Medan
email : [email protected] 1), [email protected] 2)
ABSTRAK
Usaha Kecil dan Menengah (UKM) memiliki peranan dalam pembangunan dan pertumbuhan perekonomian nasional. UKM berperan dalam penyediaan lapangan kerja dan berperan dalam proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat,mendorong pertumbuhan ekonomi dan berperan dalam mewujudkan stabilitas nasional. Dengan keunggulan yang dimiliki, UKM juga memiliki posisi yang strategis bagi pengembangan ekonomi daerah. Pada saat ini industri batik dianggap sebagai sektor yang memiliki nilai kompetitif. Hal ini disebabkan selain karena karakteristiknya yang berbasis kepada budaya, industri batik juga memiliki kemampuan untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan daerah. Namun dalam kasus usaha batik di kota Medan, perkembangan usaha batik di kota Medan masih relatif stagnan meskipun produk ini membawa karakteristik lokal dengan beragam motif etnis khas Sumatera Utara sebagai keunikan produknya. Dengan menggunakan diagram Fishbone dan Force Field Analysis (FFA) untuk mengetahui hambatan yang dihadapi oleh usaha batik di kota Medan, ditemukan bahwa masalah-masalah dalam pengembangan usaha batik di kota Medan muncul di sisi : pengrajin batik,wirausaha, bahan baku dan peralatan, penetrasi pasar, dukungan pemerintah dan konsumen. Maka agar pengembangan usaha batik di kota Medan dapat berjalan dengan optimal diperlukan sinergitas antara 3 (elemen) yaitu pemerintah, pelaku UKM dan akademisi sehingga usaha batik di kota Medan dapat berkembang menjadi produk lokal unggulan daerah. Kata kunci : strategi pengembangan,ukm,batik
I. PENDAHULUAN
Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Indonesia memiliki peranan dalam pembangunan dan pertumbuhan perekonomian nasional. UKM banyak memberikan kontribusi positif yang signifikan terhadap upaya penanggulangan masalah-masalah ekonomi dan sosial di Indonesia.UKM berperan dalam penyediaan lapangan kerja dan berperan dalam proses pemerataan dan peningkatan pendapatan masyarakat,mendorong pertumbuhan ekonomi dan berperan dalam mewujudkan stabilitas nasional. Dengan keunggulan yang dimiliki, UKM juga memiliki posisi yang strategis bagi pengembangan ekonomi daerah.
Dalam rangka pengembangan ekonomi daerah yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, maka pengembangan ekonomi lokal sesuai potensinya menjadi sangat penting . Dengan keunggulan yang dimiliki, UKM menjadi sangat penting untuk mewujudkan pengembangan perekonomian daerah dan pemberdayaan masyarakat (Sulistyastuti,2004). Sebagai bagian dari usaha kecil dan menengah,industri kreatif perlu dikembangkan untuk mewujudkan program pengembangan ekonomi daerah. Hal ini dilakukan dalam rangka mengembangkan potensi daerah dan kreativitas masyarakat sehingga dapat menghasilkan produk yang mempunyai keunggulan bersaing (competitive advantage).
Industri kreatif memerlukan strategi keunggulan bersaing untuk mampu bersaing.Untuk itu industri kreatif perlu mempersiapkan diri sebaik mungkin dan mampu meningkatkan daya saing.Daya saing merupakan kemampuan untuk mempertahankan pangsa pasar. Daya saing mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan produktivitas perusahaan dan memperluas akses pasar. Hal ini akan bermuara kepada peningkatan omzet penjualan dan profitabilitas perusahaan. Indikator-indikator yang dapat digunakan dalam pengukuran daya saing, diantaranya pertumbuhan nilai atau volume output, inovasi produk, pangsa pasar, nilai omzet, kualitas produk, profit, tingkat pendidikan rata-rata pekerja dan pengusaha, jumlah sertifikat standardisasi yang dimiliki dan jumlah paten yang dibeli, standardisasi, jenis teknologi yang digunakan, pemasaran,produksi, produktivitas atau efisiensi, nilai mesin dan peralatan produksi atau nilai asset, jumlah pengeluaran promosi, dan jaringan kerja atau kerja sama dengan pihak lain (Megasari,2014).
Salah satu sub sektor industri kreatif yang cukup berkembang di Indonesia adalah industri batik. Sejak UNESCO menetapkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia (World Heritage) batik semakin berkembang. Hal ini menjadikan Indonesia memilki banyak jenis batik. Batik Medan hadir dengan beragam motif etnik khas Sumatera Utara yang tampil atraktif dengan motif ornamen dari berbagai macam suku yang
ada di wilayah ini, seperti ornamen Tapanuli Utara (Batak Toba), Mandailing, Tapanuli Tengah, Simalungun, Pakpak Dairi, Karo, Melayu Deli dan Nias. Perkembangan batik Sumut menjadi suatu hal yang menarik untuk diperhatikan . Kondisi saat ini batik khas Sumatera Utara dengan skala usaha kecil (kurang dari sepuluh industri batik) mulai mengalami pertumbuhan. Meskipun pada saat ini produk yang dihasilkan masih hanya merambah pasar lokal, industri ini sangat berpotensi untuk dapat dikembangkan karena dapat mengangkat budaya lokal dan menjadi alternatif pilihan di tengah-tengah tren batik yang kini sedang booming.
Menurut Ramadhini dan Sari (2012), industri batik Sumut berpotensi untuk dikembangkan.Pemberdayaan masyarakat lokal dan motif batik Sumut yang khas dan unik dapat dijadikan sebagai keunggulan produk untuk dapat merebut pasar yang lebih luas merupakan peluang yang bisa didapatkan dalam pengembangan industri batik Sumut.Batik Sumut berpotensi untuk dapat dikembangkan karena dapat melestarikan dan mengangkat budaya lokal dan menjadi alternatif pilihan batik nasional. Hambatan pengembangan industri batik Sumut adalah terletak pada permasalahan ketersediaan bahan baku, keterbatasan sumber daya manusia dan persaingan dengan batik Jawa.Pengembangan dapat dilakukan dengan perbaikan dalam manajemen produksi dan manajemen pemasaran yang baik dan kerja sama dengan berbagai lembaga terkait secara lebih intensif.Hal ini menjadi tantangan sekaligus menjadi permasalahan dalam pengembangan industri batik Sumut khususnya batik Medan yang masih relatif stagnan.
Penelitian ini dilakukan pada UKM batik di kota Medan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi permasalahan UKM batik di kota Medan dan menyusun strategi pengembangan batik di kota Medan. Dengan mengetahui permasalahan yang ada UKM akan dapat mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin untuk mampu bersaing. Dan dengan adanya strategi pengembangan UKM batik diharapkan akan dapat mengembangkan usaha batik sehingga mampu meningkatkan daya saing.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro,Kecil dan Menengah, yang dimaksud dengan Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang memenuhi kriteria Usaha Kecil sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini (Saiman,2009).
Sedangkan yang dimaksud dengan Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih atau hasil penjualan tahunan sebagaimana diatur dalam Undang-Undang ini. Adapun Kriteria Usaha Kecil adalah sebagai berikut :
1. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp.50.000.000,- (lima puluh juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha ; atau
2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp.300.000.000,- (tiga ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.2.500.000.000,- (dua miliar lima ratus juta rupiah)
Sedangkan Kriteria Usaha Menengah adalah sebagai berikut :
1. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp.500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.10.000.000.000,- (sepuluh miliar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha;atau
2. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp.2.500.000.000,- (dua miliar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp.50.000.000.000,- (lima puluh miliar rupiah)
Kendati terdapat beberapa definisi mengenai usaha kecil namun usaha kecil mempunyai karakteristik yang hampir seragam.Pertama, tidak adanya pembagian tugas yang jelas antara bidang administrasi dan operasi.Kebanyakan industri kecil dikelola oleh perorangan yang merangkap sebagai pemilik sekaligus pengelola perusahaan, serta memanfaatkan tenaga kerja dari keluarga dan kerabat dekatnya.Kedua, rendahnya akses industri kecil terhadap lembaga-lembaga kredit formal sehingga mereka cenderung menggantungkan pembiayaan usahanya dari modal sendiri atau sumber-sumber lain seperti keluarga,kerabat,pedagang perantara,bahkan rentenir. Ketiga, sebagian besar usaha kecil ditandai dengan belum dipunyainya status badan hukum (Hindasah,2011).
Menurut Demirbag et,al (2006), keberhasilan usaha kecil dan menengah (small medium enterprises) memiliki dampak langsung terhadap pembangunan ekonomi baik pada negara maju maupun negara berkembang.Usaha kecil dan menengah memiliki kemampuan untuk menciptakan lapangan kerja dengan biaya minimum,mereka adalah pelopor dalam dunia inovasi dan memiliki fleksibilitas tinggi yang memungkinkan usaha tersebut untuk memenuhi kebutuhan pelanggan (Brock dan Evans,1986;ACS dan Audretsch,1990).
Untuk menjadi kegiatan ekonomi yang memiliki nilai tambah dan berdaya saing tinggi UKM membutuhkan strategi pengembangan yang terintegrasi, sehingga UKM tidak hanya memiliki keunggulan komparatif tetapi juga memiliki keunggulan kompetitif. UKM batik perlu memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif agar dapat bertahan dan bersaing dalam menghadapi persaingan global. Melihat berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan UKM, maka dibutuhkan suatu strategi pengembangan UKM agar perkembangan UKM di Indonesia berjalan dengan cepat, permasalahan yang dihadapi UKM dapat direduksi, dan UKM mempunyai keunggulan yang kompetitif (Hafsah,2004).
Daya saing merupakan kemampuan untuk mempertahankan pangsa pasar.Daya saing mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan produktivitas perusahaan dan memperluas akses pasar. Hal ini akan bermuara kepada peningkatan omzet penjualan dan profitabilitas perusahaan. Indikator-indikator yang dapat digunakan dalam pengukuran daya saing, diantaranya pertumbuhan nilai atau volume output, inovasi produk, pangsa pasar, nilai omzet, kualitas produk, profit, tingkat pendidikan rata-rata pekerja dan pengusaha, jumlah sertifikat standardisasi yang dimiliki dan jumlah paten yang dibeli, standardisasi, jenis teknologi yang digunakan, pemasaran,produksi, produktivitas atau efisiensi, nilai mesin dan peralatan produksi atau nilai asset, jumlah pengeluaran promosi, dan jaringan kerja atau kerja sama dengan pihak lain (Megasari,2014).
Menurut Tambunan (2002), karakteristik UKM yang memiliki keunggulan kompetitif adalah sebagai berikut : (a) memiliki kualitas SDM yang baik, (b) pemanfaatan teknologi yang optimal, (c) mampu melakukan efisiensi dan meningkatkan produktivitas, (d) mampu meningkatkan kualitas produk, (e) memiliki akses promosi yang luas, (f) memiliki sistem manajemen kualitas yang terstruktur, (g) sumber daya modal yang memadai, (h) memiliki jaringan bisnis yang luas, dan (i) memiliki jiwa kewirausahaan.
III. METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan jenis pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif memungkinkan dalam pengumpulan informasi tentang suatu objek secara lebih rinci untuk melihat makna di balik objek dan memahami fenomena yang ada. Penelitian ini menggunakan data primer (data dasar yang didapatkan di lapangan). Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara dan penyebaran kuisioner. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh pelaku UKM batik di kota Medan yang berjumlah 6 (enam) orang. Teknik sampling dalam penelitian ini adalah Non Probability Sampling yakni sampel jenuh atau sensus dikarenakan jumlah populasi yang tidak banyak jumlahnya maka peneliti memutuskan untuk mengambil semua populasi yang ada untuk dijadikan sampel dalam penelitian ini.
Untuk mengidentifikasi permasalahan yang ada digunakan diagram sebab akibat (diagram ishikawa/fishbone). Diagram ini merupakan alat untuk visualisasi sintesis dari identifikasi faktor penyebab dalam suatu permasalahan. Menurut Tague dalam Adhanita (2004:27), diagram ini dapat digunakan dalam penelitian untuk mengidentifikasi penyebab masalah yang ada atau mengidentifikasi manajemen resiko dalam pelaksanaan sebuah proyek. Sehingga langkah-langkah tindakan dan perbaikan akan lebih mudah dilakukan jika masalah dan akar penyebab masalah teridentifikasi.
Teknik analisis data menggunakan analisis medan kekuatan atau Force Field Analysis (FFA) yang dikembangkan oleh Lewin dan secara luas digunakan untuk menginformasikan pengambilan keputusan, terutama dalam perencanaan dan pelaksanaan program manajemen perubahan dalam organisasi. Menurut Narayanasamy dalam Adhanita (2009), FFA digunakan untuk mencari dan menganalisis kekuatan yang dapat mempengaruhi situasi dan menyebabkan perubahan ke arah positif. Masalah utama yang dihadapi dalam analisis sebab dan akibat (Fishbone) menjadi tujuan dalam analisis FFA. Kemudian mengklasifikasikan faktor kekuatan dan peluang dan faktor kelemahan dan ancaman dengan memberikan nilai berdasarkan kondisi aktual. Kedua faktor akan menjadi kunci untuk menganalisis sejauh mana kita mampu mempengaruhi dan membawa perubahan ke situasi yang lebih baik.
Menurut Sianipar dan Entang dalam Fatih (2010), adapun tahap-tahap Force Field Analysis (FFA) adalah sebagai berikut :
1. Mengidentifikasi masalah berdasarkan isu strategis. Isu strategis dapat menyangkut aspek kelembagaan. Dari beberapa aspek tersebut dapat diidentifikasi masalah-masalah dalam pengembangan batik. Mengelompokkan masalah-masalah tersebut untuk dianalisis
2. Menganalisis masalah dengan mengidentifikasi berbagai kekuatan pendorong (driving force) dan kekuatan penghambat (restraining force)
Selanjutnya faktor-faktor pendorong dan penghambat dinilai berdasarkan skor. Skor yang diberikan tersebut diberikan berdasarkan aspek-aspek berikut :
1. Urgensi atau bobot faktor dalam mencapai kinerja
2. Dukungan atau kontribusi tiap faktor dalam mencapai kinerja 3. Keterkaitan antar faktor dalam mencapai kinerja
IV.HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Permasalahan UKM Batik Di Kota Medan
Permasalahan dalam pengembangan UKM Batik Di Kota Medan dapat diidentifikasi melalui diagram Ishikawa (Fishbone) berikut ini :
Gambar 4.1 Diagram Ishikawa (Fishbone)
Duri ikan menggambarkan permasalahan yang dihadapi UKM batik di kota Medan, yang terdiri dari permasalahan pengrajin, wirausaha, bahan baku dan peralatan, penetrasi pasar, dukungan pemerintah dan konsumen. Permasalahan pengrajin terletak pada jumlah ketersediaan pengrajin, kurangnya tenaga kerja yang terampil dan kreatif serta pengrajin yang kurang menjiwai seni membatik. Permasalahan wirausaha adalah totalitas dalam berwirausaha, kurangnya semangat dan motivasi berwirausaha dan kurangnya kreativitas wirausaha. Permasalahan bahan baku dan peralatan meliputi bahan baku dan peralatan membatik sulit didapat, bahan baku dan peralatan tergantung dari Pulau Jawa dan bahan pewarna masih menggunakan bahan kimia. Jaringan usaha dan penetrasi pasar mempunyai permasalahan dimana usaha belum memiliki segmen pasar dan target pasar yang jelas, saluran distribusi produk masih sederhana serta promosi belum optimal. Pemerintah belum mendukung pelaku usaha batik sepenuhnya dan konsumen khususnya di kota Medan masih belum mengetahui dan menyukai batik Medan juga menjadi permasalahan lainnya dalam pengembangan UKM batik di kota Medan.
4.2. Faktor Pendukung dan Penghambat Pengembangan UKM Batik di Kota Medan
Setelah memperhatikan permasalahan pengembangan UKM batik di kota Medan dengan menggunakan diagram Fishbone diatas, maka dapat diidentifikasi faktor pendukung dan faktor penghambat UKM batik di kota Medan dalam tabel berikut ini :
Tabel 4.1.
Faktor Pendorong dan Faktor Penghambat Pengembangan UKM Batik Di Kota Medan
Faktor Pendorong (Driving Factors)
Faktor Penghambat (Restraining Factors)
1. Keberadaan batik sebagai warisan budaya
2. Keunikan produk yang menggunakan motif etnik khas Sumut
3. Promosi
4. Daya tarik wilayah
1. Jumlah dan ketersediaan pengrajin batik 2. Totalitas berwirausaha
3. Bahan baku dan peralatan membatik 4. Penetrasi pasar
5. Dukungan pemerintah 6. Konsumen
7. Persaingan dengan batik Jawa dan Malaysia Sumber : Data Primer diolah (2016)
4.3. Analisis Medan Kekuatan (Force Field Analysis)
Teknik Force Field Analysis (FFA) menyatakan bahwa suatu sistem pada keadaan keseimbangan terjadi karena adanya keseimbangan faktor-faktor yang berperan dalam sistem tersebut (Sianipar dan Entang, dalam Fatih,2010). Faktor-faktor yang berperan dalam sistem tersebut terdiri dari faktor pendorong dan faktor-faktor penghambat. Faktor pendorong akan memperkuat keseimbangan menuju kepada apa yang diinginkan berupa kekuatan dan peluang. Faktor-faktor penghambat akan menghambat keseimbangan menjauhi apa yang diinginkan berupa kelemahan dan ancaman. Gambaran faktor-faktor pendorong dan penghambat berikut nilai dorongan dan hambatannya tersaji dalam tabel berikut ini :
Tabel 4.2.
Identifikasi Faktor Pendorong dan Faktor Penghambat Pengembangan UKM Batik Di Kota Medan
No Faktor Pendorong (Driving Factors) TNB No Faktor Penghambat (Restraining Factors) TNB 1 2 Kekuatan Keunikan Produk
Batik sebagai warisan budaya
5,50 4,40 1 2 3 4 Kelemahan
Jumlah dana ketersediaan pengrajin Totalitas berwirausaha
Bahan baku dan peralatan Penetrasi pasar
2,60 2,60 2,34 1,68
TOTAL KEKUATAN 9,90 TOTAL KELEMAHAN 9,22
3 4
Peluang
Daya tarik wilayah Promosi 3,52 5,50 5 6 7 Ancaman
Dukungan pemerintah yang belum optimal Konsumen
Persaingan dengan batik Jawa dan Malaysia
3,60 3,24 2,32
TOTAL PELUANG 9,02 TOTAL ANCAMAN 9,16
TOTAL FAKTOR PENDORONG 18,92 TOTAL FAKTOR PENGHAMBAT 18,38
Sumber : Data Primer diolah (2016) Keterangan : TNB = total nilai bobot
Tabel diatas menggambarkan faktor-faktor pendorong dan penghambat dalam analisis medan kekuatan (force field analysis). Berdasarkan hasil analisis faktor pendorong dan penghambat diperoleh total nilai bobot faktor (TNB) dari keseluruhan total faktor pendorong adalah 18,92 dan hasil analisis faktor-faktor penghambat diperoleh nilai total THB sebesar 18,38. Nilai total faktor pendorong 18,92 lebih besar dari nilai total faktor penghambat 18,38. Dengan demikian pengembangan telah berada pada posisi ke arah positif yang berarti UKM batik di kota Medan memiliki peluang pasar yang prospektif untuk dikembangkan.
Adapun yang menjadi faktor kunci dalam pengembangan batik di kota Medan dapat diketahui dengan menentukan faktor kunci keberhasilan (FKK). FKK ini diperoleh dari menentukan variabel yang memiliki bobot terbesar dalam faktor pendorong dan faktor penghambat. Hasil analisis menyatakan FKK dalam pengembangan batik tercantum pada tabel berikut ini :
Tabel 4.3.
Faktor Kunci Keberhasilan UKM Batik
Faktor Pendorong (Driving Factors) Faktor Penghambat (Restraining Factors) Kekuatan Keunikan Produk Kelemahan Totalitas Berwirausaha Peluang Promosi Ancaman Dukungan Pemerintah Sumber : Data Primer diolah (2016)
4.4. Identifikasi Solusi Dan Aktivitas Dalam Pengembangan Batik Di Kota Medan
Kota Medan sebagai salah satu kota yang memiliki tingkat heterogenitas yang tinggi mulai memiliki batik etnis. Walaupun batik bukanlah budaya yang ada di Sumatera Utara khususnya di kota Medan namun beberapa tahun terakhir batik sudah mulai dikembangkan. Keunikan yang terdapat pada batik Medan terletak pada motif ornamen yang dipadukan dengan motif ulos dari berbagai etnik suku di Sumatera Utara. Motif batik disesuaikan dengan 5 (lima) etnis Batak yang ada di Sumatera Utara, yaitu Mandailing, Tapanuli Utara (Toba), Simalungun, Karo, Pakpak Dairi dan Tapanuli Tengah. Motif dari lima etnis Batak itu diantaranya adalah corak dari kain ulos Batak, seperti motif Hari Hara Sundung Di Langit yang menunjukkan ciri khas Batak Toba dan motif Pani Patunda dari Simalungun. Selain itu motif Melayu seperti Pucuk Rebung, Semut Beriring, dan Itik Pulang Petang. Motif Toba terdiri dari Desa Nawalu, Gorga Sitompi. Batak Mandailing dengan motif Matahari juga dikembangkan sebagai motif batik Medan.
Setelah melihat adanya 4 (empat) faktor kunci keberhasilan pengembangan batik Medan, maka dapat diberikan beberapa solusi dan aktivitas yang dapat dilakukan untuk pengembangan batik Medan, antara lain : 1. Keunikan Produk Sebagai Faktor Kekuatan Untuk Pengembangan Batik Medan
Dengan melihat berbagai motif etnik tersebut, batik Medan sudah memiliki keunikan tersendiri dibandingkan dengan batik dari daerah lainnya. Namun motif-motif tersebut masih terlihat kaku dan kombinasi warna yang kontras, sehingga terkesan batik Medan hanya dapat digunakan untuk acara formal saja seperti acara adat dll. Oleh karena itu solusi yang dapat ditawarkan agar batik Medan dapat lebih berkembang antara lain memodifikasi paduan warna agar menjadi lebih menarik perhatian konsumen, mengembangkan desain batik dengan banyak variasi dan tidak hanya menjadikan kain batik sebagai pakaian resmi saja tetapi menjadikan kain batik sebagai pakaian fashionable dan juga batik dapat dikembangkan menjadi produk-produk dekorasi rumah (home décor) dan kerajinan tangan (handycraft). 2. Promosi Sebagai Faktor Peluang Dalam Pengembangan Batik Medan
Sejauh ini pasar batik Medan masih terbatas pada kalangan tertentu seperti instansi pemerintah, swasta, sesama pengrajin dan persatuan guru di Medan. Masih banyak masyarakat Medan yang belum mengetahui bahwa Medan memiliki batik. Kurangnya pengetahuan masyarakat akan batik Medan disebabkan oleh kurang gencarnya promosi batik Medan. Promosi yang dilakukan selama ini adalah terbatas pada mengikuti pameran lokal yang diselenggarakan oleh dinas-dinas terkait Pemko Medan. Promosi dengan menggunakan media sosial juga belum optimal digunakan. Solusi yang dapat ditawarkan untuk mengatasi permasalahan ini adalah pelaku UKM harus lebih aktif dan gencar membuat program-program promosi seperti mengikuti ajang pameran dengan skala nasional secara mandiri dan tidak hanya tergantung pada pemerintah daerah saja, dan juga harus lebih aktif mengikuti perkembangan bentuk-bentuk promosi melalui media sosial, sehingga masayarakat luas lebih banyak mengenal produk batik Medan. Selain itu pelaku UKM sebaiknya mempunyai outlet penjualan yang tetap yang berfungsi untuk mempromosikan dan membantu pemasaran produk batik Medan.
Di sisi lain dukungan pemerintah dalam mempromosikan batik Medan juga sangat berperan. Hal yang bisa dilakukan adalah dengan cara memberikan kesempatan kepada pelaku UKM untuk diikutsertakan dalam pameran dengan skala yang lebih besar baik di dalam maupun di luar negeri, bukan hanya sekedar mengikutsertakan produk UKM tanpa ada pelaku UKM nya.
3. Totalitas Berwirausaha Sebagai Faktor Kelemahan Dalam Pengembangan Batik Medan
Pelaku UKM harus memiliki mental wirausaha bukan mental makelar. Pelaku UKM harus dapat menciptakan produk yang bernilai tinggi dengan kualitas yang baik. Dibutuhkan keseriusan dan totalitas dalam menghasilkan produk dengan terus belajar berinovasi dan mengembangkan kreativitas. Produk yang diciptakan harus punya karakter yang kuat dan mengikuti perkembangan fashion yang ada saat ini. Pelaku UKM harus mendokumentasikan motif dengan baik karena mode itu berputar kembali biasanya setelah 10 tahun pembeli akan mencari kembali motif yang dulu pernah dibelinya. Selain itu wirausaha harus aktif menjalin kerjasama dengan pihak-pihak tertentu misalnya bermitra dengan hotel,restoran,kantor yang ada di kota Medan untuk melakukan penawaran produk batik bukan saja dalam bentuk pakaian tetapi produk batik yang sudah dimodifikasi dalam bentuk home décor, dll. Untuk itu wirausaha harus mampu memberdayakan pengrajin agar lebih kreatif dengan cara mengambil tenaga kerja dari kota batik lainnya. Lalu membentuk komunitas pengrajin dan menunjuk koordinator yang bertanggung jawab, diharapkan nantinya para koordinator ini dapat memberikan multiplier effect bagi masyarakat sekitarnya.
4. Dukungan Pemerintah Sebagai Ancaman Dalam Pengembangan Batik Medan
Kurang optimalnya dukungan pemerintah dalam pengembangan batik Medan menjadi ancaman bagi pelaku UKM batik di kota Medan. Selama ini dukungan, keaktifan dan perhatian dari pemerintah belum serius dalam mengembangkan usaha batik di kota Medan, masih terbatas pada pelatihan dan pameran yang lebih banyak bersifat lokal dan kurangnya pembinaan yang dilakukan oleh SKPD (satuan kerja perangkat daerah) terkait. Seharusnya dinas-dinas terkait dapat mendukung dan membantu para pengrajin maupun wirausaha seperti memberikan pelatihan yang rutin dan tindak lanjutnya serta memberikan kesempatan
kepada pengrajin maupun wirausahanya untuk mempromosikan batik melalui ajang pameran yang berskala nasional/internasional, seperti Inacraft, dll. Dan perlu upaya pemerintah untuk lebih membudayakan batik dengan cara mewajibkan pegawai negeri, pegawai swasta dan anak sekolah pada hari-hari tertentu untuk menggunakan batik Medan. Permasalahan sulitnya mendapatkan pengrajin yang terampil bisa diatasi dengan cara memberdayakan anak-anak jalanan untuk terlibat dalam proses membatik, karena anak-anak jalanan memiliki potensi untuk berkarya dan berkreasi. Hal ini merupakan salah satu langkah yang dilakukan pemerintah kota Bogor untuk mengatasi kesulitan mendapatkan tenaga kerja untuk membatik.
Agar solusi dan aktivitas di atas dapat direalisasikan untuk pengembangan UKM batik di kota Medan, diperlukan suatu model pengembangan . Model yang dapat digunakan adalah model sinergitas sebagai suatu strategi dan langkah nyata pengembangan UKM batik di kota Medan yang komprehensif. Sinergi dapat dilakukan antara pemerintah (government), pelaku UKM (businessman) dan akademisi (academician), seperti terlihat pada gambar berikut ini :
Gambar 4.2
Model Sinergitas Pengembangan Batik Di Kota Medan
Pengembangan UKM batik bisa berjalan jika ada kerjasama yang baik dari 3 (tiga) elemen tersebut. Ketiga elemen tersebut harus mampu berperan dalam pengembangan UKM. Pemerintah memiliki tanggung jawab yang besar dalam mengoptimalisasi potensi yang ada pada UKM. Pemerintah diharapkan mampu menjadi pembuat kebijakan yang memberi kemudahan bagi UKM untuk mengembangkan usahanya. Dan dalam mengemban tanggung jawab ini pemerintah membutuhkan dukungan dari berbagai pihak. Salah satunya adalah akademisi yang berperan melalui fungsi perguruan tinggi dalam bidang pengabdian masyarakat dan juga riset-riset yang diarahkan dalam pengembangan UKM batik di kota Medan. Selain itu juga diperlukan kegiatan diskusi ilmiah yang menghadirkan akademisi dan pelaku UKM untuk saling bertukar pikiran atau pendapat dalam kegiatan brainstorming. Jika elemen pemerintah, UKM dan akademisi berjalan masing-masing tanpa adanya sinergi maka bisa jadi yang dikerjakan suatu elemen akan saling meniadakan atau tumpang tindih.
V. Kesimpulan Dan Saran 5.1. Kesimpulan
Adapun yang menjadi kesimpulan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Permasalahan yang dihadapi oleh pelaku UKM batik di kota Medan terdiri dari permasalahan pengrajin, wirausaha, bahan baku dan peralatan, jaringan usaha dan penetrasi pasar, dukungan pemerintah dan konsumen.
2. Keberadaan batik sebagai warisan budaya, keunikan produk yang menggunakan motif etnik khas Sumut dan promosi dan daya tarik wilayah merupakan faktor-faktor pendorong pengembangan UKM batik di kota Medan. Sedangkan jumlah dan ketersediaan pengrajin batik, totalitas berwirausaha, bahan baku dan peralatan membatik, penetrasi pasar, dukungan pemerintah, konsumen dan persaingan dengan batik Jawa dan Malaysia merupakan faktor-faktor penghambat pengembangan UKM batik di kota Medan.
3. Berdasarkan analisis medan kekuatan (force field analysis) dengan melihat skor tertinggi maka ada 4 (empat) kunci keberhasilan yang menjadi kekuatan, peluang, kelemahan dan ancaman.
4. Keunikan produk merupakan faktor kekuatan, promosi merupakan faktor peluang, totalitas berwirausaha merupakan faktor kelemahan dan dukungan pemerintah merupakan faktor ancaman. 5. Model sinergitas dapat digunakan sebagai suatu strategi dan langkah nyata pengembangan UKM batik
di kota Medan yang komprehensif. Sinergi dapat dilakukan antara pemerintah (government), pelaku UKM (businessman) dan akademisi (academician)
Peran Pemerintah Kebijakan Bimbingan Pembinaan
Pelaku UKM Batik
Akademisi Penelitian Pengabdian Brainstorming
5.2. Saran
Beberapa saran yang dapat diberikan dalam pengembangan UKM batik di Kota Medan adalah sebagai berikut:
1. Pelaku UKM harus memiliki mental wirausaha bukan mental makelar.Pelaku UKM harus dapat menciptakan produk yang bernilai tinggi dengan kualitas yang baik. Dibutuhkan keseriusan dan totalitas dalam menghasilkan produk dengan terus belajar berinovasi dan mengembangkan kreativitas. Produk yang diciptakan harus punya karakter dan mengikuti perkembangan fashion yang ada saat ini. Pelaku UKM harus mendokumentasikan motif dengan baik karena mode itu berputar kembali biasanya setelah 10 tahun pembeli akan mencari kembali motif yang dulu pernah dibelinya.
2. Dibutuhkan dukungan, keaktifan dan perhatian dari pemerintah secara serius dalam mengembangkan ukm batikl di kota Medan. Seperti diskusi bersama antara pemerintah dengan pelaku UKM. Diperlukan program pemerintah untuk terus memajukan ukm batik di kota Medan seperti aksi dari pemimpin daerah yang menunjukkan rasa cinta akan produk batik kota Medan.
3. Akademisi harus ikut berperan serta dalam pengembangan UKM batik di kota Medan melalui kegiatan riset dan pengabdian pada masyarakat yang diarahkan pada pengembangan UKM, khususnya UKM batik di kota Medan.
DAFTAR PUSTAKA
Acs,Z., Audretsch, D., 1990, The Economics of Small Firms : A European Challenge, Kluwer Academic Publishers, Norwall MA.
Adhanita,Septiara., 2013, Pengembangan Batik Jambi Motif Sungai Penuh Sebagai Bentuk Kontribusi Pada Pembangunan, Jurnal Pembangunan Wilayah & Kota Semarang, Semarang.
Brock,W., and Evans,D., 1986, The Economics of Small Business : Their Roles and Regulations in US Economy, Holmes & Meier Publishers, Teaneck, NJ.
Demirbag,M.,Tatoglu,E.,Tekinsus,M., and Zaim,S., 2006, An Analysis of The Relationship Between TQM Implementation And Organizational Performance : Evidence From Turkish SMEs, Journal of Manufacturing Technology Management. Fatih, Cholid., 2010, Strategi Pengembangan Agroindustri Perikanan Laut Di Kabupaten Tuban, J-SEP Vol. 4 No. 3 Hafsah,M.J., 2004, Upaya Pengembangan Usaha Kecil danMenengah(UKM), Infokop,No.25TahunXX, Jakarta. Hindasah,Lela., 2011, Strategi Survival Dan Faktor-FaktorPenentu Survival Industri Kecil (Studi Empiris Industri Gegabah,Kasongan,Bantul,Yogyakarta, Prosiding Seminar Internasional Dan Call For Papers “Towards Excellent Small Business”, Yogyakarta.
Hisrich,Robert D., And Michael P. Peters., 2005, Entrepreneurship.Fifth Edition, McGraw-Hill Higher Education, New York.
Hutagalung, Raja Bongsu.,Syafrizal Helmi Situmorang.,Frida Ramadini., 2010, Kewirausahaan, USU Press, Medan. Lupiyoadi, Rambat., 2007, Entrepreneurship From Mindset ToStrategy, Salemba Empat, Jakarta.
Megasari, Kartika Ayu., 2014, Identifikasi Kesiapan Daya Saing Industri Kecil Menengah(IKM) Alas Kaki Di Kota Mojokerto Menghadapi PasarBebas, Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Universitas Brawijaya, Malang.
Nasution, Lazuardi., 2013, Bonus Arus Bebas Tenaga Kerja Terampil 2015 : Indonesia Harus Tingkatkan Daya Saing. Bulletin Kerjasama Perdagangan Internasional, Kementerian Perdagangan RI, Edisi I, Jakarta.
Pusparini,Hesti., 2011, Strategi Pengembangan Industri Kreatif di Sumatera Barat, Artikel Perencanaan Pembangunan Pascasarjana, Universitas Andalas, Padang.
Rizal, HB Achmad., dkk 2012, Kajian Strategi Optimalisasi Pemanfaatan Lahan Hutan Rakyat Di Provinsi Sulawesi Selatan (Study on Optimalisation Strategy of Private Forest Land Utilization in South Sulawesi), Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan Vol.9 No.4
Syamwil,Rodia., 2015, .Pengembangan Batik Berbasis Zat Warna Alam Untuk Menunjang Pariwisata Kabupaten Kendal (StudiKasus Di Batik Linggo), Prosiding Seminar Nasional IENACO. Semarang.
Suliyanto.,dkk 2015, Persepsi Generasi Muda Terhadap Profesi Pengembangan Batik Tulis Di Purbalingga, 3rd
Economics & Business Research Festival Vol.18 No.1.
Sulistyastuti,Dyah Ratih., 2004, .Dinamika Usaha Kecil Dan Menengah (UKM) Analisis Konsentrasi Regional UKM di Indonesia 1999-2001, Jurnal Ekonomi Pembangunan, Jakarta.
Sugiyono., 2013, Metode Penelitian Bisnis, Alfabeta, Bandung.
Saiman, Leonardus., 2009, Kewirausahaan,Teori,Praktek Dan Kasus-Kasus, Salemba Empat,Jakarta. Tambunan,T., 2002, Usaha Kecil danMenengah di Indonesia ;Beberapa Isu Penting, Salemba, Jakarta. Zimmerer W.Thomas., Scarborough M.Norman., 2008,.Kewirausahaan danManajemen Bisnis Kecil, Salemba Empat, Jakarta.
Fitnline.com/artikel/read/batik-medan. Diakses tanggal 31 Agustus 2016 Pukul 10.00 Wib.
BIODATA PENULIS
1. Frida Ramadini, memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (SE), Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, lulus tahun 1996. Tahun 2002 memperoleh gelar Magister Manajemen (MM) dari Program Studi Magister Manajemen Universitas Sumatera Utara, lulus tahun 2002. Saat ini sebagai Staf pada Program Studi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Inggrita Gusti Sari Nasution, memperoleh gelar Sarjana Ekonomi (SE), Program Studi Ilmu Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia Yogyakarta, lulus tahun 2003. Tahun 2007 memperoleh gelar Magister Sains (M.Si) dari Program Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara, lulus tahun 2007. Saat ini sebagai Staf pada Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.