19 BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI 2.1 Kajian Pustaka
2.1.1 Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu menjadi salah satu hal yang penting dilakukan oleh seorang peneliti karena penelitian terdahulu dapat dijadikan suatu acuan untuk seorang penulis dalam melakukan penelitian serta dapat menjadi suatu sumber referensi baik untuk hal permasalahan yang sama atau berkaitan dengan teori yang sama yang akan digunakan oleh peneliti dalam melakukan penelitian. Penelitian terdahulu juga dapat membantu seorang penulis dalam melihat fenomena-fenomena sejenis yang telah terjadi dan dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam memberikan saran untuk pihak-pihak yang terkait dengan permasalahan yang telah ada berdasarkan penelitian terdahulu. Adapun dalam penelitian ini, penulis memberikan empat contoh atau empat acuan sebagai referensi.
Tabel 1 Penelitian Terdahulu
No. Nama dan judul Hasil Relevansi
1. “Peran Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia (ATKI) dalam
Memperjuangkan Hak TKI (Studi Kasus Capta Indonesia) (Betti Apriani, 2011) Skripsi Mahasiswa Jurusan Sosiologi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
Tujuan ATKI yaitu
berjuan untuk
menegakkan
pengakuan dan
perlindungan atas hak-hak buruh migrant Indonesia khususnya dan buruh migrant seluruh dunia telah
terlaksana. ATKI
berpegang pada
prinsip kemandirian,
kebebasan inisiatif,
Relevansi antara penelitian
yang akan dilakukan
dengan penelitian ini yaitu terdapat pada kesamaan
membaha mengenai
Tenaga Kerja Indonesia (TKI), namun penelitian ini lebih kepada suatu organisasi yang didirikan
untuk memperjuangkan
hak para TKI dan
membantu segala masalah yang dialami oleh TKI
20 pengakuan atas persamaan dan persatuan dalam perjuangan. ATKI bekerjasama dengan institusi yang berkompeten secara berkesinambungan akan membantu mempermudah penyelesaian berbagai kasus yang terjadi. Peran ATKI bukan
hanya sebagai
organisasi yang
menampung para TKI
tetapi ATKI juga
mempu untuk
mendampingi setiap
kasus yang ditangani.
tersebut. Sedangkan
penelitian yang akan
dilakukan lebih kepada
peran dari Pelaksana
Penempatan Tenaga Kerja
Indonesia Swasta
(PPTKIS) dalam mengirim TKI ke luar negeri.
2. “Model Perencanaan
Bagi PJTKI Dan Lembaga Tempat Pelatihan Yang Berkualitas Untuk Mewujudkan Ekspor Tenaga Kerja Yang Profesional”.(Febriani, 2013). Penelitian dimuat dalam jurnal Manajemen dan Kewirausahaan, vol. 4, nomor 1, Januari 2013 ISSN : 2086-5031 Model perencanaan
bagi PJTKI dan
lembaga pelatihan
yang berkualitas
dalam upaya
mewujudkan ekspor
tenaga kerja yang
profesional, antara
lain : calon TKI harus memperhatikan keberadaan dari PJTKI (legal/ilegal), karakteristik TKI, agar bertanggung jawab terhadap pekerjaan, memperhatikan kelengkapan dokumen/administrasi calon TKI, memberikan ketrampilan atau
keahlian kepada calon
TKI agar mampu
mempercepat proses
penyelesaian kerja dan memberikan
Pembekalan Akhir
Relevansi antara penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan terletak
pada subjek penelitian
yaitu sama-sama
membahas tentang
PJTKI/PPTKI. Namun,
disini terdapat sedikit
perbedaan yaitu penelitian ini lebih memfokuskan
tentang model
perencanaan PJTKI yang baik dan benar namun hanya sebatas umum saja, tidak mendetail mulai dari pencarian calon hingga
pemberangkatan calon
yang baik dan benar yang
sesuai dengan hukum.
Sedangkan penelitian yang
akan dilakukan lebih
melihat proses rekruitmen, pembinaan hingga proses
pemberangkatan para
calon TKI yang baik dan benar. Sehingga PJTKI
yang ada dapat
21 Pemberangkatan
(PAP) agar TKI
memiliki mental yang kuat serta mengetahui
gambaran bekerja
diluar negeri.
proses yang mereka
lakukan mulai dari awal
hingga pemberangkatan
calon TKI.
3. “Peranan, Tugas Dan
Tanggung Jawab PJTKI Dalam Perekrutan, Penempatan Dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia Di
Luar Negeri Studi
Kasus Di PT. Sahara”. Penelitian dilakukan oleh Alfredo P. Damanik, mahasiswa studi hukum perburuhan Fakultas Hukum, Universitas
Sumatera Utara, tahun 2006.
Hasil penelitian ini yaitu pertama, proses
penempatan dan
pengiriman tenaga
kerja indonesia ke luar
negeri memerlukan
koordiansi antara
tenaga kerja indonesia
sendiri dengan
perusahaan jasa
tenaga kerja indonesia atau perwakilan luar negeri dan pemerintah
untuk dapat
mengirimkan tenaga
kerja yang legal.
Sebelum penempatan di luar negeri tenaga
ekrja indonesia
terlebih dahulu diberi
pendidikan dan
ketrampilan kemudian diseleksi yang akan dikirm keluar negeri. Kedua,tenaga kerja indonesia merupakan devisa/pendapatan negara apabila dikelola dengan cermat dan profesional sesuai dengan ketentuan perundang-undangan. Ketiga, hambatan-hambatan yang
dialami oleh PJTKI di Kota Medan dalam pengiriman TKI ke
luar negeri adalah
kuota yang sangat
minim, kurangnya
sosialisasi program
Relevansi penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan terdapat pada proses penempatan atau pembinaan dan proses
pengiriman, namun
terdapat perbedaan dalam bagian perekrutan calon TKI. Dalam penelitian ini
tidak disebutkan
bagaimana cara rekrutmen para calon TKI sedangkan
penelitian yang akan
dilakukan melihat proses PJTKI mulai dari awal hingga pengiriman TKI.
22
TKI tersebut,
pendapatan TKI legal
lebih sedikit dari
pendapatan TKI
ilegal, prosedur
pengiriman TKI yang
berbelit-belit dan
biaya yang mahal
serta calon TKI yang
kualitasnya rendah
yang menyulitkan dan riskan PJTKI untuk mengirimkannya.
4. “Manajemen PJTKI
(Perusahaan Jasa
Tenaga Kerja
Indonesia) Dalam
Tinjauan Etika Bisnis Islam”.
(Alwi Musa Muzaiyin,
2015). Penelitian
dimuat dalam jurnal
Manajemen PJTKI
Vol.26, No.1 Januari 2015
Manajemen dalam
PJTKI harus dilakukan sesuai dengan etika bisnis islam. Hal ini
merupakan prinsip
utama dalam ajaran islam; etika bisnis islam merupakan suatu hal yang fundamental yang harus diterapkan oleh PJTKI. Didalam etika bisnis islam terdapat
prinsip-prinsip dasar
yang urgent untuk
mengawali implementasi
manajemen PJTKI agar sesuai dengan syariat islam. Ada beberapa
prinsip dalam etika
bisnis islam yang harus
diterapkan dalam
manajemen PJTKI
yang mana bernilaikan
ajaran islam.
Diantaranya ialah :
prinsip keadilan,
tanggung jawab,
peningkatan etos kerja,
dan penguasaan
manajemen.
Korelasi antara penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan terdapat
kesamaan dalam hal
Perushaan Jasa Tenaga Kerja Indonesia (PJTKI). Namun terdapat perbedaan
fokus penelitian,
penelitian ini membahas lebih kepada manajemen
dan lebih menekankan
pada ilmu manajemen
islam, sedangkan
penelitian yang akan
dilakukan lebih rinci pada
peran PJTKI dalam
pengiriman tenaga ekrja
indonesia dan lebih
melihat dari sisi ilmu sosiologi
23 Penelitian terdahulu yang telah disampaikan diatas memiliki kesamaan antara satu dengan yang lainnya. Kesamaan antara keempat penelitian diatas yaitu keempat penelitian tersebut sama membahas mengenai topik Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (PPTKIS), namun keempat penelitian tersebut dilakukan diteliti oleh mahasiswa-mahasiswa dari berbagai fakultas dan mereka melihat fenomena yang terdapat pada PPTKIS berdasarkan focus pendidikan mereka, mulai dari bidang hukum hingga managemen yang berbasis islam dalam melihat peran dari PPTKIS itu sendiri. Sedangkan dalam penelitian yang akan dilakukan akan mengakumulasikan dari semua topic topic yang terdapat pada penelitian terdahulu dan dijadikan dalam satu penelitian yang berfokus lebih kepada masyarakat atau kepada ilmu sosiologi.
2.1.2 Coorporate dan Bentuk-Bentuknya
Masyarakat menggunakan barang dan jasa dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka. Barang dan jasa yang mereka gunakan merupakan hasil dari suatu produksi. Perusahaan menggunakan factor-faktor produksi dalam kegiatan produksi yang dilakukan untuk menghasilkan barang dan jasa. Perusahaan dapat diartikan sebagai bagian teknis dari kesatuan organisasi modal dan tenaga kerja yang bertujuan untuk menghasilkan barang-barang atau jasa untuk kebutuhan masyarakat. Berdasarkan pengertian diatas, perusahaan yang dilihat dari produk yang dihasilkan dapat dibagi menjadi 2 yaitu perusahaan jasa dan perusahaan dagang.
24 a. Perusahaan dagang
Perusahaan dagang merupakan suatu perusahaan yang kegiatan pokoknya membeli barang dengan tujuan untuk dijual kembali kapada masyarakat tanpa memproses kembali barang yang telah dibeli. Contoh dari perushaan dagang antara lain yaitu took, supermarket, grosir, serta pusat-pusat perbelanjaan, dan lain sebagainya.
Perusahaan dagang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
1. Pendapatan utama perusahaan berasal dari penjualan barang dagangan. 2. Biaya utama perusahaan berasal dari harga pokok barang yang terjual
dan biaya usaha yang lainnya.
3. Sebagai perantara antara produsen dan konsumen barang.
4. Antara barang yang dibeli dan barang yang dijual tidak ada perubahan. 5. Tujuan utamanya yaitu mendapat laba dari mnejual barang dengan harga
lebih tinggi dari harga beli barang. Kelebihan dari perusahaan dagang yaitu :
1. Menjual barang tanpa mengolah terlebih dahulu.
2. Kualitas barang dapat diketahui secara langsung oleh konsumen. Kekurangan perusahaan dagang yaitu :
1. Diperlukan tempat untuk memajang (display) barang. 2. Diperlukan tempat untuk menyimpan barang.
3. Diperlukan alat angkut untuk mengirim barangkepada konsumen.
4. Barang yang sudah dibeli konsumen dapat dikembalikan (retur) sehingga
perusahaan tidak jadi mem[eroleh penghasilan.8
25 b. Perusahaan jasa
Perusahaan jasa adalah suatau unit usaha yang kegiatannya memproduksi produk yang tidak berwujud (jasa), dengan tujuan untuk mendapatkan laba atau keuntungan. Atau perusahaan jasa dapat diartikan juga sebagai suatu perusahaan yang menjual jasa yang diproduksinya, bertujuan untuk memenuhi kebutuhan para konsumen dan mendapatkan keuntungan. Tapi perusahaan jasapun memerlukan produk fisik atau yang berwujud untuk melakukan kegiatan usahanya. Misalnya seperti perusahaan transportasi umum yang menawarkan jasa transportasi kepada konsumen, maka untuk dapat melakukan kegiatan usahanya perusahaan tersebut memerlukan alat transportasi seperti bus, pesawat atau kapal laut dan alat
transportasi tersebut merupakan produk yang berwujud.9
Dari beberapa penjelasan diatas dapat disimpulkan, perusahaan jasa merupakan perusahaan yang memiliki kegiatan memproduksi dan menyediakan berbagai macam pelayanan misalnya seperti keamanan, kemudahan dan lain-lain kepada konsumen yang membutuhkannya. Maka perusahaan jasa memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Pendapatan berasal dari penjualan jasa.
2. Dalam proses memproduksi jasa, bisa atau tidak memerlukan bantuan dari produksi.
3. Jasa yang diberikan tidak sama, jadi masing-masing konsumen dapat memperoleh jenis pelayanan yang berbeda.
4. Tidak memiliki persediaan produk dalam bentuk fisik, karena produk yang dijual merupakan produk yang tidak berwujud (jasa). Jadi produk
9
26 yang dihasilkan tidak dapat dilihat akan tetapi manfaatnya dapat dirasakan.
5. Biasanya tingkatan harganya memiliki sifat yang tidak mutlak, sebab murah atau mahalnya harga yang ditetapkan oleh perusahaan tergantung tingkat kebutuhan konsumen.
6. Jasa yang dihasilkan tidak bisa disimpan, jadi sekali dibeli maka penggunaannya akan langsung habis.
Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) berdasarkan penjelasan antara perusahaan dagang dan perusahaan dagang, maka masuk kedalam perusahaan jasa. Hal ini dikarenakan Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) mempunyai kegiatan utama yaitu memberikan pelayanan kepada masyarakat mengenai pengiriman Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri. Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) juga membutuhkan tempat seperti pada perusahaan dagang, namun yang berbeda disini tempat yang digunakan oleh perusahaan dagang unuk memamerkan barang dagangan, sedangkan dalam perusahaan jasa dalam hal ini Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) tempat digunakan untuk memberikan layanan kepada masyarakat.
2.1.3 Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) sebagai Lembaga yang Bersifat Non-Formal
Definisi lembaga pendidikan non-formal menurut Philip H. Coombs bahwa lembaga non-formal adalah setiap kegiatan pendidikan yang terorganisir yang diselenggarakan diluar system formal, baik tersendiri maupun merupakan bagian dsri
27 suatu kegiatan yang luas, yang dimaksudkan untuk memberikan layanan kepada sasaran didik tertentu dalam mencapai tujuan-tujuan belajar.10
Menurut Soelaman Joesoef, lembaga non-formal adalah setiap kesempatan dimana terdapat komunikasi yang terarah di luar sekolah dan seseorang memperoleh informasi, pengetahuan, latihan maupun bimbingan sesuai dengan tingkat ketrampilan, sikap dan nilai-nilai yang memungkinkan baginya menjadi peserta-peserta yang efisien dan efektif dalam lingkungan keluarga, pekerjaan bahkan lingkungan masyarakat dan negeranya.11
Definisi yang telah dijelaskan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa lemabaga non-formal merupakan suatu lembaga yang mengadakan kegiatan belajar mengajar yang diadakandi luar sekolaha untuk memenuhi kebutuhan pendidikan peserta untuk mendapat informasi, pengetahuan, latihan dan bimbingan sehingga mempu berfungsi bagi keluarga, masyarakat, tempat bekerja bahkan neaga. Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) termasuk didalam lembaga non-formal karena Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) tidak berbentuk sekolah seperti yang biasa.
Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) merupakan suatu perusahaan jasa yang dimiliki oleh pihak swasta yang berkeinginan untuk mendirikan perusahaan dalam memberangkatkan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri. Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) sendiri melakukan pelatihan untuk para peserta atau calon TKI yang akan diberangkatkan, dimana pelatihan tersebut berbentuk pelatihan bahasa, sopan santun dan pendidikan yang berhubungan dengan pekerjaan yang akan dilakukan oleh calon TKI tersebut.
10
Soelaman Joesoef, 1992.Konsep Dasar Pendidikan non formal.. Jakarta: Bumi Aksara.hlm. 50
28 Pelatihan yang dilakukan bertujuan agar para calon TKI dapat melaksanakan tugas mereka dengan baik sata berada di tempat mereka bekerja dan dapat berlaku sopan selayaknya aturan dalam negara tempat mereka bekerja.
2.1.4 Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS)
2.1.4.1 Fungsi dan Kewajiban Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS)
Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) memiliki fungsi pokok yang telah tercantum dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004, ada pun fungsi pokok dari Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) yaitu membrikan pelayanan untuk mempertemukan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya dengan pemberi kerja di luar negeri.12
Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) memiliki kewajiban atas para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang akan mereka berangkatkan atau yang telah mereka berangkatkan. Kewajiban dari Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) dimulai dari :
a. Proses perekrutan calon Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau sebelum dilakukan penempatan.
b. Proses penempatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) c. Proses setelah penempatan atau purna penempatan
Masa-masa sebelum dilakukan penempatan PPTKIS memiliki kewajiban untuk memberikan pelatihan dan ketrampilan kepada calon TKI, melindungi TKI
12
29 tersebut jika terjadi suatu masalah serta mengurus segala keperluan berkaitan dengan keberangkatan atau kepulangan ke daerah asal.
2.1.4.2 Syarat-syarat Mendirikan Pelaksana Penempatan Tenaga Kerja Indonesia Swasta (PPTKIS) Berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004
Perusahaan yang akan menjadi pelaksana penempatan TKI swasta wajib mendapat izin tertulis berupa SIPPTKI dari Menteri. Untuk dapat memperoleh SIPPTKI, pelaksana penempatan TKI swasta harus memenuhi persyaratan :
a. Berbentuk badan hukum perseroan terbatas (PT) yangdidirikan berdasarkan peraturan perundang-undangan.
b. Memiliki modal disetor yang tercantum dalam aktapendirian perusahaan, sekurang-kurangnya sebesar Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah).
c. Menyetor uang kepada bank sebagai jaminan dalam bentukdeposito sebesar Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)pada bank pemerintah.
d. Memiliki rencana kerja penempatan dan perlindungan TKI diluar negeri sekurang-kurangnya untuk kurun waktu 3 (tiga)tahun berjalan.
e. Memiliki unit pelatihan kerja.
f. Memiliki sarana dan prasarana pelayanan penempatan TKI.
2.1.4.3 Tata Cara Penempatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2004
Penempatan TKI di luar negeri hanya dapat dilakukan ke negara tujuan yang pemerintahnya telah membuat perjanjian tertulis dengan Pemerintah
30 Republik Indonesia atau tenaga kerja asing. Penempatan calon TKI/TKI di luar negeri diarahkan pada jabatan yang tepat sesuai dengan keahlian, ketrampilan, bakat , minat dan kemampuan. Penempatan calon TKI/TKI dilaksanakan dengan memperhatikan harkat, martabat, hak azazi manusia, perlindungan hukum, pemerataan kesempatan kerja, dan ketersediaan tenaga kerja dengan mengutamakan kepentingan nasional.
1. Pra Penempatan TKI
Kegiatan pra penempatan TKI di luar negeri meliputi:
a. Pengurusan SIP
Pelaksana penempatan TKI swasta yang akan melakukan perekrutan wajib memiliki SIP dariMenteri.Untuk mendapatkan SIP, pelaksana penempatan TKI swasta harus memiliki:
1. Perjanjian kerjasama penempatan. 2. Surat permintaan TKI dari Pengguna. 3. Rancangan perjanjian penempatan. 4. Rancangan perjanjian kerja.
2. Perekrutan dan Seleksi
Proses perekrutan didahuli dengan memberikan informasi kepada calon TKI sekurangkurangnya tentang :
a. Tata cara perekrutan. b. Dokumen yang diperlukan.
c. Hak dan kewajiban calon TKI/TKI.
31 e. Tata cara perlindungan bagi TKI.
Perekrutan calon TKI oleh pelaksana penempatan TKI swasta wajib dilakukan terhadap calon TKI yang telah memenuhi persyaratan:
a. Berusia sekurang-kurangnya 18 (delapan belas) tahun kecuali bagi calon TKI yang akandipekerjakan pada Pengguna perseorangan sekurang-kurangnya berusia 21 ( dua puluh satu)tahun.
b. Sehat jasmani dan rohani.
c. Tidak dalam keadaan hamil bagi calon tenaga kerja perempuan.
d. Berpendidikan sekurang-kurangnya lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) atau yang sederajat.
3. Pendidikan dan Pelatihan Kerja
Calon TKI wajib memiliki sertifikat kompetensi kerja sesuai dengan persyaratan jabatan.mDalam hal TKI belum memiliki kompetensi kerja pelaksana penempatan TKI swasta wajib melakukan penddikan dan pelatihan sesuai dengan pekerjaan yang akan dilakukan. Pendidikan dan pelatihan kerja bagi calon TKI dimaksudkan untuk:
a. Membekali, menempatkan dan mengembangkan kompetensi kerja calon TKI.
b. Memberi pengetahuan dan pemahaman tentang situasi, kondisi, adat istiadat, budaya, agama, dan risiko bekerja di luar negeri.
c. Membekali kemampuan berkomunikasi dalam bahas negara tujuan. d. Memberi pengetahuan dan pemahaman tentang hak dan kewajiban calon
32 4. Pemeriksaan Kesehatan dan Psikologi
Setiap calon TKI harus mengikuti pemeriksaan kesehatan dan psikologi
yang diselenggarakan oleh sarana kesehatan dan lembaga yang
menyelenggarakan pemeriksaan psikologi yang ditunjuk oleh Pemerintah. Pemeriksaan kesehatan dan psikologi bagi calon TKI dimaksudkan untuk mengetahui dengankesehatan dan tingkat kesiapan psikis serta kesesuaian kepribadian calon TKI dengan pekerjaanyang akan dilakukan di negara tujuan.
5. Pengurusan Dokumen
Untuk dapat ditempatkan di luar negeri, calon TKI barus memiliki dokumen yang meliputi:
a. Kartu Tanda Penduduk, Ijazah pendidikan terakhir, akte kelahiran atau surat keterangan kenal lahir.
b. Surat keterangan status perkawinan bagi yang telah menikah melampirkan copy buku nikah.
c. Surat keterangan izin suami atau istri, izin orang tua, atau izin wali. d. Sertifikat kompetensi kerja.
e. Surat keterangan sehat berdasarkan hasil-hasil pemeriksaan kesehatan dan psikologi.
f. Paspor yang diterbitkan oleh Kantor Imigrasi setempat. g. Visa kerja.
h. Perjanjian penempatan kerja. i. Perjanjian kerja.
33 6. Uji kompetensi.
7. Pembekalan akhir pemberangkatan (PAP). 8. Pemberangkatan.
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Teori Struktural Fungsional (Robert K.Merton)
Merton mengkritik hal yang ia anggap sebagai tiga dalil dasar analisis fungsional seperti yang dikembangkan oleh para antropolog. Berikut tiga dalil tersebut :
1. Dalil Kesatuan Fungsional Masyarakat.
Dalil tersebut menganggap bahwa semua kepercayaan social dan budaya dan praktik yang distandarkan bermanfaat bagi masyarakat sebagai suatu keseluruhan dan juga sebagai individu-individu di dalam masyarakat. Pandangan itu menyiratkan bahwa berbagai system social nantinya akan menunjukkan level integrasi yang tinggi. Akan tetapi, Merton berkukuh, kendati hal itu mungkin benar dalam masyarakat primitive yang kecil, generalisasi itu tidak dapat diperluas kepada masyarakat yang lebih besar dan lebih kompleks.
2. Dalil Fungsionalisme Universal.
Semua bentuk social dan budaya yang distandarkan mempunyai fungsi-fungsi positif. Merton berargumen bahwa hal tersebut bertolak belakang dengan yang kita jumpai di dunia nyata. Jelas bahwa tidak setiap struktur, adat kebiasaan, ide, dan seterusnya, mempunyai fungsi-fungsi positif.
34 Semua aspek masyarakat yang distandardisasi tidak hanya mempunyai fungsi-fungsi positif, tetapi juga menggambarkan bagian-bagain dari cara kerja keseluruhan yang mutlak ada. Dalil tersebut menghasilkan ide bahwa semua struktur dan fungsi secara fungsional adalah untuk masyarakat. Tidak ada struktur dan fungsi-fungsi yang lain yang dapat bekerja sebaik struktur-struktur dan fungsi-fungsi yang dijumpai didalam masyarakat sekarang ini. Kritik Merton selanjutnya ialah bahwa setidaknya kita harus bersedia mengakui bahwa ada berbagai alternative structural dan fungsional yang terdapat dalam masyarakat.
Sejak awal Merton menjelaskan bahwa analisis fungsional-struktural
berfokus pada kelompok-kelpompok, organisasi-organisasi,
masyarakat-masyarakat dan kebudayaan-kebudayaan. Dia menyatakan bahwa setiap objek
yang dapat ditundukkan kepada analisis fungsional-struktural harus
“menggambarkan suatu item yang distandarkan”(yakni terpola dan berulang). Dia memaksudkan hal-hal seperti “peran-peran, pola-pola kelembagaan, proses-proses social, pola-pola budaya, emosi-emosi yang terpola secara budaya, norma-norma social, prganisasi kelompok, struktur social, alat-alat pengendalian social, dan sebagainya.
Menurut Merton, fungsi-fungsi didefinisikan sebagai “konsekuensi-konsekuensi yang diamati yang dibuat untuk adaptasi atau penyesuaian suatu system tertentu. Akan tetapi, ada suatu bias ideologis yang jelas ketika orang hanya berkonsekuensi-konsekuensi positif. Perlu dicatat bahwa fakta social yang satu dapat mempunyai konsekuensi-konsekuensi negative untuk fakta social yang lainnya. Untuk mengoreksi penghilangan serius tersebut yang terjadi di dalam
35 fungsionalisme struktur awal, Merton mengembangkan ide mengenai disfungsi. Sebagaimana struktur-struktur atau lembaga-lembaga dapat berperan dalam pemeliharaan bagian-bagian lain system social, mereka juga dapat mempunyai konsekuensi-konsekuensi negative untuknya.
Merton juga memperkenalkan konsep fungsi nyata (manifest) dan fungsi laten. Kedua istilah itu juga telah menjadi tambahan penting bagi analisis fungsional. Dalam istilah-istilah sederhana, fungsi nyata (manifest) adalah yang disengaja, semnetara fungsi laten tidak disengaja. Merton menjelaskan bahwa konsekuensi-konsekuensi yang tidak diantisipasi dan fungsi-fungsi laten tidak sama. Fungsi-fungsi laten adalah satu tipe konsekuensi yang tidak diantisipasi, tipe yang bermanfaat untuk system yang ditunjuk. Akan tetapi, ada dua tipe lainnya konsekuensi yang tidak diantisipasi : “konsekuensi-konsekuensi disfungsional untuk suatu system yang ditunjuk, dan hal itu terdiri dari disfungsi-disfungsi laten” dan “konsekuensi-konsekuensi tidak relevan bagi system yang mereka pengaruhi baik secara fungsional maupun disfungsional.