A. Produk BSM Cicil Emas
BSM Cicil Emas adalah salah satu produk yang disediakan oleh Bank Syariah Mandiri untuk pembiayaan kepemilikan emas berupa emas batangan dengan jangka waktu 2 sampai 5 tahun dengan cara diangsur atau dicicil. Tujuan dari BSM Cicil Emas ini adalah untuk membantu nasabah untuk
membiayai pembelian/kepemilikan emas berupa lantakan (batangan).1
Produk BSM Cicil Emas memiliki beberapa keunggulan yaitu: 1. Aman
Aman artinya emas yang dijadikan objek diansurasikan dan apabila terjadi kerusakan atau pencurian, emas tersebut bisa diganti.
2. Menguntungkan
Harga emas setiap tahunya selalu meningkat menjadikan emas sebagai media investasi yang menguntungkan. Dalam pembiayaan Cicil Emas menggunakan layanan yang profesional karena BSM merupakan perusahaan terpercaya dengan kualitas layanan terbaik. Serta emas dapat diuangkan dengan cara dijual atau digadaikan.
Persyaratan untuk pembiayaan emas sebagai berikut: 1. WNI cakap hukum;
2. Pegawai tetap dengan usia minimal 21 tahun atau sudah menikah dan pada saat jatuh tempo pembiayaan usia maksimal 55 tahun atau belum pensiun; 3. Profesional dan wiraswasta berusia maksimal 60 tahun pada saat
pembayaran jatuh tempo;
4. Pensiunan berusia maksimal 70 tahun pada saat pembiayaan jatuh tempo. Ketentuan jaminan pada pada produk BSM cicil emas :
1. Jaminan adalah barang yang menjadi objek pembiayaan (emas); 2. Pengikatan jaminan dilakukan selama masa pembiayaan;
3. Jaminan tidak dapat di tukar dengan agunan lain; 4. Fisik jaminan disimpan di bank.
Jenis emas yang dibiayai adalah emas lantakan atau batangan minimal 10 gram. Dengan harga perolehan emas ditentukan pada saat akad.
Plafond pembiayaan maksimal 80 % dari harga perolehan untuk emas jenis
lantakan (batangan).2 Supplier emas PT Antam Persero, toko emas atau
perorangan yang telah memiliki kerja sama dengan bank.
Jumlah pembiayaan yang diberikan kepada nasabah BSM cicil emas:
1. Jumlah pembiayaan Cicil Emas BSM maksimal adalah Rp 150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah).
2
2. Jumlah pembiayaan yang diberikan bergantung dari hasil penaksiran petugas gadai, setelah memperhitungkan uang muka (Down Payment). Ketentuan uang muka:
1. Minimal 20% dari harga perolehan emas.
2. Uang muka dibayar secara tunai (tidak dicicil) oleh nasabah kepada bank. Sumber dana uang muka harus berasal dari dana nasabah sendiri (self
financing) dan bukan berasal dari pembiayaan yang diberikan oleh bank.
Biaya- biaya :
1. Biaya administrasi; 2. Biaya angsuran kerugian; 3. Biaya asuransi jiwa; 4. Biaya materai; 5. Biaya ongkos kirim;
6. Denda keterlambatan.3
B. Akad yang digunakan dalam produk BSM Cicil Emas
Dalam produk BSM Cicil Emas, Bank Syariah Mandiri menggunakan
akad murabahah dengan pengikatan agunan menggunakan akad rahn. 1. Murabahah
a. Pengertian Murabahah
Salah satu skim fiqih yang paling popular digunakan oleh perbankan syari’ah adalah skim jual beli murabahah. Transaksi
3
murabahah ini lazim dilakukan oleh rasulullah SAW dan para
sahabatnya. Secara sederhana, murabahah berarti suatu penjualan barang seharga barang tersebut ditambah keuntungan yang disepakati. Misalnya, seorang membeli barang kemudian menjualnya kembali dengan keuntungan tertentu. Berapa besar keuntungan tersebut dapat dinyatakan dalam nominal rupiah tersebut atau dalam bentuk
persentase dari harga pembeliannya, misalnya 10% atau 20%.4
Secara umum pengertian murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan keuntungan yang disepakati, penjual harus memberi tahu harga produk yang ia beli dan menentukan suatu
tingkat keuntungan sebagai tambahannya.5 Harga yang disepakati
dalam murabahah adalah harga jual sedangkan harga beli harus diberitahukan. Jika bank mendapat potongan dari pemasok, maka potongan itu merupakan hak nasabah.
Bank harus menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika pembelian itu dilakukan secara hutang. Kemudian bank menjual barang tersebut kepada nasabah dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. Dalam kaitan ini bank harus memberitahu secara jujur harga pokok barang kepada nasabah berikut dengan biaya yang diperlukan. Nasabah membayar harga
4 Adiwarman, Bank Islam Analisis Fiqh dan Keuangan, ( Jakarta : PT. Rajawali Grafindo Pesada, 2004), h.113
5 Muhammad Syafii Antonio, Bank Syariah:Dari toeri ke Praktik, ( Jakarta: Gema Insani, 2001) h. 101
barang yang telah disepakati tersebut dengan jangka waktu yang telah
ditetapkan.6 Pada murabahah, penyerahan barang dilakukan pada saat
transaksi sementara pembayarannya dilakukan secara tunai, tangguh ataupun dicicil. Untuk pembayaran secara cicilan lebih dikenal dengan istilah BBA (Bai’ Bitsaman ‘Ajil). Secara istilah, sebenarnya transaksi jual beli yang dilakukan dengan pembayaran tangguh disebut bai
al-muajjal, sedangkan yang dicicil disebut bai ut-taksid.7
Di antara kemungkinan resiko yang harus diantisipasi antara lain sebagai berikut:
1) Default atau kelalaian, nasabah sengaja tidak membayar angsuran; 2) Fluktuasi harga komparatif. Ini terjadi bila harga suatu barang di
pasar naik setelah bank membelikannya untuk nasabah. Bank tidak bisa mengubah harga jual tersebut;
3) Penolakan nasabah, barang yang dikirim bisa saja ditolak nasabah karena sebab bisa jadi karena rusak dalam perjalanan sehingga nasabah tidak mau menerimanya. Karena itu, sebaiknya dilindungi dengan asuransi. Kemungkinan lain karena nasabah merasa spesifikasi barang tersebut beda dengan yang ia pesan. Bila bank telah menandatangani kontrak pembelian dengan penjualnya. Barang tersebut akan menjadi milik bank. Dengan demikian, bank mempunyai risiko untuk menjualnya kepada pihak lain;
6 Adiwarman , op.cit., h.88
7 Sunarto Zulkifli, Panduan Praktis Transaksi Perbankan Syari’ah, (Jakarta, Zikrul Hakim, 2003) h. 39
4) Dijual, karena murabahah bersifat jual beli dengan utang, maka ketika kontrak ditandatangani, barang itu menjadi milik nasabah. Nasabah bebas melakukan apapun terhadap aset miliknya tersebut, termasuk untuk menjualnya. Jika terjadi demikian, risiko default
akan besar.8
b. Landasan Hukum Murabahah
1) Al-Qur’an 3... ¨≅ymr&uρ ª!$# yìø‹t7ø9$# tΠ§ymuρ (#4θt/Ìh9$# 4 ...
“... Allah telah mengahalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (Al Baqarah: 275). $y㕃r'¯≈tƒ š⎥⎪Ï%©!$# (#θãΨtΒ#u™ Ÿω (#þθè=à2ù's? Νä3s9≡uθøΒr& Μà6oΨ÷t/ È≅ÏÜ≈t6ø9$$Î/ HωÎ) βr& šχθä3s? ¸οt≈pgÏB ⎯tã <Ú#ts? öΝä3ΖÏiΒ 4 Ÿωuρ (#þθè=çFø)s? öΝä3|¡àΡr& 4 ¨βÎ) ©!$# tβ%x. öΝä3Î/ $VϑŠÏmu‘ ∩⊄®∪
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling
memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. dan janganlah kamu membunuh dirimu; Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (an-Nisa [4]:29)
2) Al-Hadist
َلاَق َمﱠلَسَو ِهْيَلَع ُﷲ ىﱠلَص ﱠيِبﱠنلا ﱠنَأ
:
ُةَكَرَبْلا ﱠنِھْيِف ٌثَلاَث
:
،ٍلَجَأ ىَلِإ ُعْيَبْلَا
ِعْيَبْلِل َلا ِتْيَبْلِل ِرْيِعﱠشلاِب ﱢرُبْلا ُطْلَخَو ،ُةَضَراَقُمْلاَو
)
هجام نبا هاور
(
)
Artinya :“Dari Suhaib ar-Rumi r.a bahwa Rosululloh SAW
bersabda “tiga hal yang didalamnya terdapat keberkahan : jual beli secara tangguh, muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah bukan untuk dijual” (HR. Ibnu Majjah).9
َلَمَع ِبْسَكْلا ُلَضْفَأ
ِهِدَيِب ِلُجﱠرلا
ٌر ْوُرْبَم ٍعْيَب ﱡلُكَو
)
ور
دمحا
(
Artinya : “Perolehan yang paling afdal adalah hasil karya tangan
seseorang dan jual beli yang mabrur”. (HR. Ahmad)
3) Landasan ijma’ Ulama
Ulama telah sepakat dan penekunannya sudah berlaku (dibenarkan) sejak zaman Rasulullah sampai hari ini. Dan tidak ada yang menyalahkannya.
4) Fatwa DSN-MUI Nomor: 04/DSN-MUI/IV/2000
Dikatakan bahwa: pertama, dalam jual beli murabahah
dikenal dengan adanya uang muka10 dan kedua, terdapat
ketentuan-ketentuan murabahah yang bersifat umum, ketentuan untuk nasabah, jaminan, hutang, penundaan pembayaran, dan bangkrut dalam murabahah.
Ketentuan-ketentuan murabahah yang bersifat umum adalah: a) Bank dan nasabah melakukan akad murabahah yang bebas
riba;
b) Barang yang diperjual belikan tidak dilarang oleh syariat Islam; c) Bank membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang
yang telah disepakati kualifikasinya;
9 Mardani, Fiqh Ekonomi Syariah, ( Jakarta: Kharism Putra Utama, 2012), cet.1 h.143 10Zainuddin Ali., Hukum Perbankan Syariah, (Jakarta:Sinar Grafika,2008),h.246
d) Bank membeli barang yang diperlukan nasabah atas nama bank sendiri, dan pembelian ini sah dan bebas riba;
e) Bank menyampaikan semua hal yang berkaitan dengan pembelian, misalnya jika pembelian dilakukan secara hutang.; f) Bank menjual barang tersebut kepada nasabah (pemesan)
dengan harga jual senilai harga beli plus keuntungannya. Bank memberitahu nasabah secara jujur mengenai harga pokok barang berikut biaya yang diperlukan;
g) Nasabah membayar harga barang yang telah disepakati tersebut pada jangka waktu tertentu yang telah disepakati;
h) Pihak bank dapat mengadakan perjanjian khusus dengan nasabah untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan atau kerusakan akad tersebut dan jika bank hendak mewakilkan kepada nasabah untuk membeli barang, akad jual beli
murabahah dilakukan setelah barang secara prinsip menjadi
milik bank.11
Ketentuan-ketentuan murabahah bagi nasabah adalah:
a) Nasabah mengajukan permohonan dan perjanjian pembelian suatu barang atau aset kepada bank;
b) Setelah menerima permohonan, bank membeli terlebih dahulu aset yang dipesannya secara sah dengan pedagang;
11
c) Bank menawarkan aset tersebut kepada nasabah dan nasabah harus membelinya sesuai dengan perjanjian yang telah disepakatinya, karena secara hukum perjanjian tersebut mengikat kemudian kedua belah pihak membuat kontrak jual beli;
d) Bank dibolehkan meminta nasabah untuk membayar uang muka saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan;
e) Jika nasabah menolak membeli barang tersebut, biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut;
f) Jika nilai uang muka kurang dari kerugian yang ditanggung oleh bank, bank dapat meminta kembali sisa kerugiannya kepada nasabah;
g) Jika uang muka memakai kontrak urbun sebagai alternatif dari uang muka, maka: pertama jika nasabah memutuskan untuk membeli barang tersebut, ia tinggal membayar sisa harga; dan kedua jika nasabah batal membeli, uang muka menjadi milik bank, maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh pihak bank akibat pembatalan tersebut; dan jika uang muka tidak mencukupi, nasabah wajib melunasi kekurangannya.
Ketentuan mengenai jaminan dalam murabahah adalah:12
a) Adanya jaminan dibolehkan, agar nasabah serius dengan pesanannya;
12
b) Bank dapat meminta nasabah untuk menyediakan jaminan yang dapat dipegang.
Ketentuan mengenai hutang dalam murabahah adalah:
a) Secara prinsip, menyelesaikan hutang nasabah dalam transaksi
murabahah tidak ada kaitannya dengan transaksi lain yang
dilakukan nasabah dengan pihak ketiga atas barang tersebut. Jika nasabah menjual kembali barang tersebut dengan keuntungan atau kerugian, ia tetap berkewajiban untuk menyelesaikan hutangnya kepada bank;
b) Jika nasabah menjual barang tersebut sebelum masa angsuran berakhir, ia tidak wajib segera melunasi seluruh angsurannya; c) Jika penjualan barang tersebut menyebabkan kerugian, nasabah
tetap menyelesaikan hutangnya sesuai kesepakatan awal. Ia tidak boleh memperlambat pembayaran angsuran atau meminta kerugian itu diperhitungkan.
Ketentuan mengenai penundaan pembayaran dalam murabahah adalah :
a) Nasabah yang memiliki kemampuan tidak dibenarkan menunda penyelesaian hutangnya;
b) Jika nasabah menunda-nunda pembayaran dengan sengaja, atau jika salah satu pihak tidak menunaikan kewajibannya, penyelesaian hal ini dilakukan melalui Badan Arbitrase Syari’ah setelah tercapai kesepakatan melalui musyawarah.
Ketentuan mengenai bangkrut dalam murabahah :
Jika nasabah telah dinyatakan gagal menyelesaikan utangnya, bank harus menunda tagihan utang sampai ia sanggup kembali atau
berdasarkan kesepakatan.13
5) Peraturan Bank Indonesia Nomor : 5/9/PBI/2003 Pasal 1
Murabahah adalah perjanjian jual beli antara bank dengan
nasabah dimana Bank Syariah membeli barang yang diperlukan oleh nasabah dan kemudian menjualnya kepada nasabah yang bersangkutan sebesar harga perolehan ditambah dengan
margin/keuntungan yang disepakati antara bank dengan nasabah.14
c. Rukun dan Syarat Murabahah
Perbedaan antara rukun dan syarat menurut ulama Ushul Fiqh bahwa rukun merupakan sifat yang kepadanya tergantung keberadaan hukum dan ia termasuk dalam hukum itu sendiri. Sedangkan syarat merupakan sifat yang kepadanya tergantung keberadaan hukum tapi ia berada diluar hukum itu sendiri. Mengenai rukun perikatan atau sering disebut juga dengan rukun aqad dalam Hukum Islam, terdapat beraneka ragam pendapat dikalangan para ahli fiqh.
Dikalangan mazhab Hanafi bahwa rukun aqad hanya sighat al-‘aqad, yaitu ijab dan kabul. Sedangkan syarat aqad adalah al-‘aqidain (subyek aqad) dan mahallul-‘aqad (obyek aqad). Alasannya adalah
al-
13
Ibid
14
Peraturan Bank Umun yang Melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah, ( Jakarta: Sinar Grafika,2005) h.100
‘aqidanin dan mahallul ‘aqad bukan merupakan bagian dari tasharruf aqad (perbuatan hukum aqad). Kedua hal tersebut berbeda diluar perbuatan aqad. Berbeda halnya dengan pendapat dari kalangan Syafi’i termasuk Imam Ghazali dan kalangan mazhab Maliki termasuk Syihab al-Karakhi, bahwa al-‘aqidain dan mahallul ‘aqad termasuk rukun aqad karena hal tersebut merupakan salah satu pilar utama dalam tegaknya aqad.
Faktor yang harus ada (Rukun) dalam akad murabahah adalah: 1) Pelaku (pemilik modal maupun pelaksana usaha);
2) Objek murabahah (modal dan kerja); 3) Persetujuan kedua belah pihak (ijab-qabul);
4) Nisbah keuntungan.15
Syarat-syarat Murabahah dapat dilaksanakan, yaitu: 1) Pihak yang berakad.
a) Cakap hukum;
b) Sukarela (ridha), tidak dalam keadaan dipaksa/terpaksa/ dibawah tekanan;
2) Objek yang diperjual belikan.
1) Tidak termasuk yang diharamkan/ dilarang; 2) Bermanfaat;
3) Penyerahannya dari penjual ke pembeli dapat dilakukan secara langsung;
4) Merupakan hak milik penuh pihak yang berakad, dan
5) Sesuai spesifikasinya yang diterima pembeli dan diserahkan penjual.
3) Akad/ sighat
a) Harus jelas dan disebutkan secara spesifik dengan siapa berakad;
b) Antara ijab kabul (serah terima) harus selaras baik dalam spesifikasi barang maupun harga yang disepakati;
c) Tidak mengandung klausul yang bersifat menggantungkan keabsahan transaksi pada hal/kejadian yang akan datang, dan
d) Tidak membatasi waktu.16
d. Murabahah Dalam Perbankan
Bank-bank Islam umumnya mengadopsi murabahah untuk memberikan pembiayaan jangka pendek kepada para nasabah guna pembelian barang meskipun mungkin nasabah tidak memiliki uang untuk membayar. Murabahah sebagaimana yang digunakan dalam perbankan Islam, prinsipnya didasarkan pada dua elemen pokok yaitu harga beli dan biaya terkait atas barang serta kesepakatan atas labanya (mark up).
16Nurul Huda dan Mohamad Heykal, Lembaga Keuangan Islam Tinjauan Teoritis dan
Ciri dasar kontrak murabahah adalah sebagai berikut:
1) Pihak pembeli harus memiliki pengetahuan tentang biaya-biaya terkait dan tentang harga asli barang dan batas laba harus ditetapkan dalam persentase dari total harga plus biaya-biaya;
2) Objek yang diperjual belikan adalah barang komoditas dan harus dibayar dengan uang;
3) Objek yang diperjualbelikan harus ada dan dimiliki oleh pihak penjual atau wakilnya dan dapat diserahkan secara langsung, dan 4) Pembayaran yang dilakukan oleh pembeli dapat ditangguhkan
(angsuran).
e. Skema Transaksi Murabahah
Gambaran transaksi murabahah dapat dilihat dari alur skema sebagai berikut :
1) Dimulai dari pengajuan pembelian barang oleh nasabah , pada saat itu nasabah menegoisasikan harga barang, margin, jangka waktu pembayaran, dan besar angsuran perbulan.
2) Bank sebagai penjual selanjutnya mempelajari kemampuan nasabah dalam membayar piutang murabah. Apabila rencana pembelian barang tersebut disepakati oleh kedua belah pihak, maka buatlah akad murabahah, isi akad murabahah setidaknya
mencangkup berbagai hal agar rukun murabahah terpenuhi dalam transaksi jual beli yang dilakukan.
3) Setelah akad disepakati pada murabahah dengan pesanan bank selanjutnya melakukan pembelian kepada pemasok, akan tetapi pada murabahah tanpa pesanan, bank dapat langsung menyerahkan barang kepada nasabah karena telah memilikinya terlebih dahulu. Pembelian barang kepada pemasok dalam murabahah dengan pesanan dapat diwakilkan kepada nasabah atas nama bank.
4) Barang yang diinginkan oleh pembeli selanjutnya diantar oleh pemasok kepada nasabah pembeli.
5) Setelah menerima barang, nasabah pembeli selanjutnya membayar kepada bank. Pembayaran kepada bank biasanya dilakukan dengan cara mencicil sejumlah uang tertentu selama jangka waktu yang disepakati.
Muhammad Syafi’i Antonio menjelaskan dalam bukunya, bahwa tahap-tahap transaksi murabahahsebagai berikut:
1) Nasabah dan bank melakukan pendekatan yang saling memerlukan, nasabah memerlukan benda dan bank memerlukan nasabah sebagai bagian dari kegiatan bank;
2) Setelah terjadi titik temu dan kesepakatan, dua pihak melakukan akad jual-beli murabahah;
3) Bank membeli benda yang diperlukan oleh nasabah ke penjual; 4) Penjual atas nama bank mengirim barang ke nasabah;
5) Nasabah menerima barang dan dokumen ; dan
6) Nasabah membayar ke bank.17
2. Rahn
a. Pengertian Rahn
Rahn secara etimologis, berarti tsubut (tetap) dan dawam
(kekal,terus menerus). Dikatakan ma’rahin artinya air yang diam (teknang). Ni’mah rahinah, artinya nikmat yang terus menerus/kekal. Ada yang mengatakan bahwa rahn adalah habs (menahan). Adapun
Rahn secara terminologis adalah menjadikan harta benda sebagai
jaminan utang itu dilunasi (dikembalikan), atau dibayarkan harganya jika tidak tidak dapat mengembalikanya. Sedangkan menurut Bank Indonesia, rahn adalah akad penyerahan barang harta (marhun) dari nasabah (rahin) kepada bank (murtahin) sebagai jaminan sebagian atau
seluruh hutang.18
b. Landasan Syariah Rahn
1) Dalil Al-Quran adalah firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 283
*
βÎ)uρ
óΟçFΖä.
4’n?tã
9xy™
öΝs9uρ
(#ρ߉Éfs?
$Y6Ï?%x.
Ö⎯≈yδÌsù
×π|Êθç7ø)¨Β
(
÷βÎ*sù
z⎯ÏΒr&
Νä3àÒ÷èt/
$VÒ÷èt/
ÏjŠxσã‹ù=sù
“Ï%©!$#
z⎯Ïϑè?øτ$#
…çμtFuΖ≈tΒr&
È,−Gu‹ø9uρ
©!$#
…çμ−/u‘
3
Ÿωuρ
(#θßϑçGõ3s?
nοy‰≈y㤱9$#
4
⎯tΒuρ
$yγôϑçGò6tƒ
ÿ…çμ¯ΡÎ*sù
ÖΝÏO#u™
…çμç6ù=s%
3
ª!$#uρ
$yϑÎ/
tβθè=yϑ÷ès?
ÒΟŠÎ=tæ
∩⊄∇⊂∪
17 Muhammad Syafi’i Antonio, op.cit. h.152 18 Mardani, op.cit, h. 289
283. jika kamu dalam perjalanan (dan bermu'amalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, Maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang[180] (oleh yang berpiutang). akan tetapi jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, Maka hendaklah yang dipercayai itu menunaikan amanatnya (hutangnya) dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu (para saksi) Menyembunyikan persaksian. dan Barangsiapa yang menyembunyikannya, Maka Sesungguhnya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Ayat di atas merupakan dalil bahwa rahn diperbolehkan dalam perjalanan atau tidak dalam perjalanan. Pemberian jaminan dalam perjalanan hanyalah sebagai contoh umum, karena dalam perjalanan biasanya tidak ada penulis atau saksi.
2) Dasar hadist diantaranya adalah hadist yang bersumber dari Aisyah r.a.:”
ىلِإ ﱟيِد ْوُھَي ْنِم اًماَعَط ىَرَتْشا َمﱠلَسَو ِهْيَلَع ُﷲ ﱠلَص ِﷲ ُل ُسَر ﱠن َ◌
ٍدْيِدَح ْنِم اًع ْرِد ُهَنَھَرَو ٍلَجَأ
“ Bahwa Rasulullah SAW membeli makanan dari seorang Yahudi
dan beliau mengadaikan baju besinya kepadanya. (HR.
Bukhari-muslim).” 3) Hadist anas:
ل اَق ٍسَنَأ ْنَع
:
َدْنِع اًع ْرِد مﱠلَسَو ِهْيَلَع ُﷲ ىﱠلَص ِﷲ ُلوُسَر َنَھَر
ِهِلِھَ ِلأ اًرْيِعَش ُهْنِم َذَخ َأَو ِةَنْيِدَمْلاِب ّيِدْوُھَي
“Dari Anas ia berkata: Rasulullah Saw menggadaikan baju perang kepad seorang yahudi di Madinah, dan dari orang yahudi itu beliau mengambil sya’ir (jagung) untuk keluarganya. (HR. Ahmad,
Al-Bukhari, nasa’i dan Ibnu Majah).”
4) Dasar ijma’ adalah bahwa kaum muslim sepakat diperbolehkan
rahn secara syariat tetapi tidak diwajibkan.
5) Kaidah fiqh
” Bahwa pada dasarnya semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkanya.”
Dari dasar hukum tersebut dapat diambil praktik rahn secara normatif dan teknis antara lain:
a) Bolehnya menahan harta orang lain sebagai jaminan utang, pada dasarnya untuk kebutuhan komsumtif.
b) Pemeliharaan barang menjadi tanggung jawab murtahin, sehingga dia boleh menarik biaya pemeliharaan dengan akad ijarah.
c) Kepemilikan barang tetap pada rahin, sehingga biaya pemeliharaanya menjadi tanggungjawabnya.
d) Pemanfaatan barang jaminan tetap pada rahin, kecuali diizinkanya
dimanfaatkanya oleh murtahin. 19
Menurut Akhmad Mujahidin para ulama berbeda pendapat tentang rukun rahn, menurut Jumhur ada empat, yaitu:
a) Sighat;
b) Rahin dan murtahin;
19 H. Akhmad Mujahidin, Hukum Perbankan Syariah, (Jakarta: Raja wali press, 2016) cet 1,h. 91
c) Marhun, dan
d) Utang (marhun bih).
Adapun menurut ulama Hanafiyah rukun akad rahn adalah ijab kabul saja.
Syarat rahn menurut jumhur:
a) Syarat sighat rahn, menurut ulama hanafiyah tidak boleh dikaitkan dengan syarat tertentu karena rahn sama dengan jual beli,menurut jumhur boleh saja asal mendukung akad rahn.
b) Syarat orang yang melakukan akad adalah balig dan berakal. Menurut ulama hanfiyah berakal saja, mumayis boleh melakukan akad rahn asal persetujuan wali.
c) Syarat marhun, 1) dapat dijual; 2) bernilai;
3) jelas dan tertentu; 4) milik sah;
5) harta utuh;
6) dapat diserahkan;20
Fatwa DSN MUI yang menjadi salah satu rujukan yang berkenaan dengan akad rahn diantaranya adalah:
1) Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 25/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn.
20
Bahwa pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan
utang dalam bentuk Rahn dibolehkan.21
2) Fatwa Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia No: 26/DSN-MUI/III/2002 tentang Rahn emas.
a) Rahn emas dibolehkan berdasrkan prinsip rahn.
b) Ongkos dan biaya penyimpanan barang (marhun) ditanggung oleh penggadai (rahin).
c) Ongkos sebagaimana dimaksud ayat 2 besarnya didasarkan pada pengeluaran yang nyata-nyata diperlukan.
d) Biaya penyimpanan barang (marhun) dilakukan berdasarkan
akad ijarah.22
C. Fatwa DSN MUI No. 77/DSN-MUI/V/2010 Tentang Jual Beli Emas Secara Tidak Tunai
Memutuskan
Pertama : Hukum
Jual beli emas secara tidak tunai, baik melalui jual beli biasa atau jual beli murabahah, hukumnya boleh (musbah, jaiz) selama emas tidak menjadi alat tukar yang resmi (uang)
Kedua : Batasan dan Ketentuan
21 M. Ichwan Sam, dkk, Himpunan Fatwa Keuangan Syariah, (Jakarta: Penerbit
Erlangga, 2014), h. 738 22
1. Harga jual (tsaman) tidak boleh bertambah selama jangka waktu perjanjian meskipun ada perpanjangan waktu setelah jatuh tempo.
2. Emas yang dibeli dengan pembayaran tidak tunai boleh dijadikan jaminan (rahn).
3. Emas yang dijadikan jaminan sebagaimana dimaksud dalam angka 2 tidak boleh dijual belikan atau dijadikan objek akad lain yang menyebabkan
perpindahan kepemilikan.23
23