POLITIK HUKUM
BAB I TENTANG PERSPEKTIF POLITIK HUKUM
OLEH:
Prof.DR.H.GUNARTO,SH.SE.Akt.M.Hum.
Itulah in* supremasi keadilan yang digagas
Gustav Radbruch
Politik Hukum
Secara filosofis, berbicara hukum, berarti
berbicara tentang pengaturan keadilan,
serta memastikan keadilan itu terwujud di
bawah jaminan aturan yang jelas-‐tegas,
sehingga memberi manfaat pada kebaikan
manusia.
Menurut Radbruch Supremasi Keadilan
Pada Dasarnya...
Tidak memisahkan aspek kepastian dan kemanfaatan
dari hal yang paling pokok dalam hukum, yakni keadilan.
Fungsi kepastian hukum (yang berisi keadilan dan
norma norma yang memajukan kebaikan manusia), benar-‐benar berfungsi sebagai peraturan yang ditaati, maka keadilan benar-‐benar mendatangkan manfaat bagi kebaikan manusia, baik sebagai individu maupun sebgai komunitas.
Jadi poli;k hukum...
Lebih mirip suatu etika, yang menuntut agar suatu
tujuan yang dipilih harus dapat dibenarkan oleh akal sehat yang dapat diuji, dan cara yang ditetapkan untuk mencapainya haruslah dapat dites dengan kriteria moral.
Maka sekali lagi, politik hukum selalu bersifat ideal,
dan berangkat dari idealisme. Tepat sekali, jika Padmo Wahyono merumuskan poltik hukum sebagai kebijakan dasar yang menentukan arah, bentuk, maupun isi dari hukum yang akan dibentuk.
Ti;k Tolak Poli;k Hukum
Adalah visi hukum. Berdasarkan visi atau mimpi
itulah, kita format bentuk dan isi hukum yang dianggap capable untuk mewujudkan visi tersebut.
Visi menunjuk pada tujuan ideal yang ingin dicapai.
Tentang tujuan itu sendiri, tiap bangsa, tiap negara, tiap masyarakat, tentu memiliki konsep yang berbeda. Betapapun berbedanya, yang pasti, tidak ada sebuah bangsa, sebuah negara, dan sebuah masyarakat yang memilih tujuan yang buruk.
Hukum sebagai salah satu sumber
daya ar;nya...
Hukum sebagai salah satu sumber daya, dapat saja
dimanfaatkan untuk kepentingan pencapaian tujuan ideal, baik, dan mulia menurut ukuran masing-‐ masing bangsa, negara, atau masyarakat.
Tujuan itulah, biasanya seluruh sumber daya yang
tersedia salah satunya Hukum dimobilisir, demi tercapainya tujuan yang dimaksud
Maka In; Poli;k Hukum Yang
Sesungguhnya...
Ia memikul beban sosial suatu masyarakat, suatu
bangsa, suatu negara untuk mewujudkan tujuan masyarakat, bangsa, dan negara itu. Karenanya, dalam konteks politik hukum, hukum (sebagai milik bersama), tidak boleh ditunggangi oleh kepentingan pihak tertentu untuk mengabdi bagi kepentingan dirinya. Di titik inilah, letak perbedaan antara politik hukum dengan hukum dan politik.
Mengapa dikatakan Poli;k
Hukum..
Jika hukum ditugaskan mengemban misi suatu
masyarakat, suatu bangsa, suatu negara untuk mewujudkan visi yang dituju oleh masyarakat, bangsa dan negara tersebut maka disini terdapat semacam ideologi bersama yang imperatif sifatnya, yakni mewujudkan tujuan bersama. Dengan kata lain, polotik hukum, harus berdimensi common ideology.
Dengan Demikian Poli;k Hukum Memiliki
Fungsi Ideologis Untuk Dua Hal Mendasar:
1. Ia memberi titik-‐tolak dan arah dasar bagi tatanan
hukum dalam mengelola berbagai persoalan di berbagai bidang demi mencapai tujuan bersama.
2. Ia mengarahkan dan mengerhkan seluruh potensi
yang dimiliki hukum untuk mewujudkan tujuan bersama dimaksud.
“Hukum dan poli;k” lebih
terarah pada realitas hubungan
;mbal-‐balik dan tarik-‐menarik
antara hukum dan poli;k itu
sendiri
Sedangkan “hukum dan
politik”, tidak seperti itu.
Maka ke;ka Hukum Terkooptasi
Oleh Poli;k...
Maka ketika hukum terkooptasi oleh politik
kepentingannya penguasa atau kelompok tertentu, dan karenanya mewajah represif, diskriminatif, dan ketidakadilan. Kadang juga, hukum mendapat ruang yang relatif otonom ketika politik-‐kekuasaan-‐ kepentingan “orang kuat”, sedikit mengekang diri untuk tidak terlampau melakukan intervensi. Realitas seperti ini, adalah masalah “hukum dan politik”, dan sama sekali bukan persoalan politik.
Jadi dalam perspek-f poli-k hukum
Hukum tidak boleh dimanfaatkan untuk
sembarang tujuan di luar tujuan ideal bersama
dari suatu masyarakat, bangsa, atau negara.
Sedangkan dalam “hukum dan politik”, bukan
tujuan ideal bersama itu yang menjadi fokus
perhatian.
Perhatian “hukum dan politik”, justru terarah
pada soal interaksi dan tarik menarik antara
politik itu sendiri dengan hukum
.Dinamika Interaksi Antara Hukum
Dan Poli;k...
Dinamika interaksi dan tarik menarik antara hukum
dan politik, menjadi obyek kajian yang sangat menarik dibidang sosiologi, sosiologi hukum, dan politik.
Sementara penugasan hukum untuk menjalankan
“misi bersama” demi mewujudkan “visi bersama”, menjadi agenda penting dan utama dalam poltik hukum.
Masalah “Hukum Dan Poli;k” sebagai masalah ilmiah
yang menarik.
Sedangkan Poli;k Hukum, lebih sebagai sebuah
agenda publik yang sangat pen;ng dan menentukan
Jadi tidak semua legal policy, adalah politik hukum.Seperti juga, tidak semua publik policy adalah pro publik. Maka menyamakan begitu saja politik hukum dengan legal policy, merupakan sebuah kekeliruan yang cukup serius.
Sekali lagi, politik hukum, adalah persoalan
pencapaian tujuan bersama. Ada tujuan-‐tujuan (ideal) yang diembankan dan dilekatkan pada hukum untuk mewujudkan. Faktor tujuan ideal itulah yang merupakan poros dari politik hukum.
Oleh karena itu secara garis besar:
Ruang lingkup politik hukum
mencakup tiga hal:
1. T
ujuan ideal yang hendak dicapai melalui
hukum.
2.Cara atau metode yang tepat untuk
mencapai tujuan itu.
3 . K o n fi g u r a s i h u k u m y a n g e f e k t i f
mewujudkan tujuan tersebut.
Secara Historis:
Dari zaman klasik hingga abad ke-‐20, tercatat
sejumlah tugas atau tujuan (ideal) dari hukum antara lain:
Pertama, Zaman klasik;
Mewujudkan dan menjamin kebajikan dan keadilan
umum.
Menjamin eudaimonia (kebahagiaan:Socrates)
Menjamin partisipasi dalam gagasan keadilan (Plato)
Menjamin eksistensi negara yang bermoral dan adil
(Aristoteles)
Lanjutan.
Kedua, abad pertengahan;
Menyelenggarakan keamanan perdamaian,
serta mewujudkan kesalehan sosial. (St.
Agustinus)
Menjunjung hak alamiah manusia untuk
mempertahankan hidup, cinta dan hidup
berkeluarga, kerinduan mengenal Tuhan
dan hidup bersahabat. (Thomas Aquinas)
Lanjutan.
Zaman Renaissance, AuHlarung, dan Abad
Ke-‐19;
Mewujudkan otonomi manusia.
Menjamin kebebasan individu.
Menjaga tertib hukum negara (positivisme hukum)
Menciptakan tatanan masyarakat sosialis (Karl Marx)
Lanjutan.
Keempat, Abad ke-‐20:
Menjaga hak-‐hak asasi manusia (tradisi
Inggris)
Menjamin keadilan dalam masyarakat
(Stammler,Radburch)
Mewujudkan kepentingan umum (Cordoso
dan Pound)
Menjaga kepentingan umum dan individu
Mengenai tujuan
“mewujudkan kesejahteraan umum”
Tugas politik hukum adalah menciptakan
aturan dan sistem implementasi hukum
yang menjamin pemerataan anggaran,
penghapusan kemiskinan, penyediaan
fasilitas publik yang merata, pemberantasan
KKN, mendorong sektor ekonomi
produktif, atau membuka kases ekonomi
lebih besar bagi pelaku ekonomi kecil dan
menengah, dan lain sebagaianya.
Poli;k Hukum Sebagai Agenda Hukum
Mengenai politik hukum sebagai agenda
hukum, adalah bahwa dalam tugasnya
mewujudkan tujuan bersama, maka hukum
harus hadir dalam wujud hakikinya sebagai
hukum, yakni:
Menjamin pengaturan yang adil memberi
kepastian hukum , dan mendistribusi
manfaat.
Bagi Poli;k Hukum ...
Bagi Politik Hukum masalah masyarakat miskin harus
ditangani lewat pengaturan yang lebih adil, misalnya melalui regulasi hukum mengenai hak dan kewajiban menyangkut akses ekonomi.
Hukum harus mengatur secara adil sedemikian rupa
sehingga golongan masyarakat yang tidak mampu memperoleh ekses yang cukup untuk meraih
Lanjutan...
Jadi nilai-‐nilai ideal yang melekat pada hukum
(keadilan, kepastian, dan kemanfaatan), merupakan basis dan titik tolak dari politik hukum.
Dan karena raison d’etre hukum adalah untuk
melayani kepentingan umum, maka semua unsur hukum yaitu keadilan, kepastian, dan kemanfaatan, merupakan milik bersama untuk melayani kepentingan bersama (volonte generale). Disinilah letak sifat ideal yang melekat dalam politik hukum dan politik hukum selalu berdimensi ideal.
Posisi Hukum Dalam Poli=k Hukum
Hukum, dalam politik hukum, pertama-‐
tama adalah merupakan instrumen. Ia
merupakan alat yang dipakai untuk
mewujudkan tujuan.
Kedua, hukum dalam konteks politik
hukum,adalah pembawa misi. Ia menjadi
wadah yang menampung segala keinginan
dan aspirasi mengenai berbagai hal yang
ingin ditata dan dicapai
.Lanjutan.
Ketiga, hukum dalam konteks politik
hukum, adalah piranti managemen. Ia
menata kepentingan-‐kepentingan secara
adil, menetapkan apa yang harus dilakukan
dan yang tidak boleh dilakukan, mengatur
hak dan kewajiban individu-‐kelompok-‐
lembaga, menyiapkan sanksi, dan
dilengkapi lembaga/aparat penegaknya.
Lanjutan...
Dalam sekalian posisi tersebut diatas, hukum
memiliki kapabilitas yang potensial untuk membawa misi pencapaian tujuan yang ingin diwujudkan. Ia merupakan sumber daya publik yang memiliki segala kelengkapan yang diperlukan bagi keperluan pencapaian tujuan.
Hukum memiliki dasar legalitas, memiliki dasar
legitimasi (karena dibuat oleh lembaga representatif), memiliki daya ikat yang memaksa, dilengkapi sanksi, dan ditegakkan oleh institusi yang sah. Itulah posisi sentral hukum dalam konteks politik hukum.