PERAN HIPNOTERAPI DAN AKUPUNTUR PADA GANGGUAN PSIKOSOMATIS
Wika H.Lubis ,Yusleny Yusuf
PENDAHULUAN
Kurang lebih 400 tahun SM ahli filsafat Hipocrates dan Socrates telah mengutarakan pentingnya peran faktor psikis pada penyakit. Paracelsus ahli kimia menyatakan bahwa kekuatan batin mempunyai pengaruh terhadap kesehatan seseorang. Penggunaan istilah ”psikosomatik” baru digunakan sejak awal tahun 1980-an, meskipun istilah tersebut sudah ditemukan pada abad ke-19 oleh seorang psikiater Jerman Johann Christian Heinroth dan psikiater Inggris John Charles Bucknill. Pada tahun 1818 Heinroth menerbitkan desertasi yang menekankan pentingnya faktor psikososial dalam perkembangan penyakit fisik. Sigmund Freud dkk (1859-1939) mempelajari tentang histeria dan mengemukakan bahwa kelainan somatik dapat disebabkan oleh kelainan psikis1,2.
Antara tubuh dan jiwa tidak dapat terpisahkan. Kegagalan dalam melakukan penyesuaian terhadap berbagai persoalan bukan hanya menimbulkan gangguan psikis/mental saja namun bisa muncul dalam bentuk gangguan pada fisik/tubuh dan sebaliknya, sehinggan gangguan terhadap salah satu diantaranya menimbulkan gangguan pada lainnya. Inilah yang disebut dengan gangguan psikosomatik1,2.
Psikosomatik merupakan gangguan fisik yang disebabkan faktor kejiwaan dan sosial. Emosi yang menumpuk dan memuncak dapat menimbulkan goncangan dalam diri seseorang yang bila berkepanjangan dapat menyebabkan munculnya perasaan tertekan,cemas, kesepian dan bosan yang dapat mempengaruhi kesehatan fisiknya. Selain itu beberapa penyakit fisik juga dapat diperburuk oleh karena faktor mental seperti stress dan kecemasan1,2.
complementary alternative therapy pada gangguan psikosomatis selain herbal, meditation, probiotics, reflexology, therapy relaxaxi dan yoga3.
Dari studi meta analisis yang dilakukan Erick Flammer dan Assen Aladin (21 pasien secara acak) diperoleh hasil hipnoterapi dikatakan efektif dalam pengobatan gangguan psikosomatis4. Frankel FH jugs merekomendasikan hipnosis sebagai salah satu metode pengobatan pada gangguan psikosomatik5.
Awal tahun 1970an, seorang ahli bedah saraf dari hongkong HL Wen mempelajari bahwa akupuntur secara significan mengurangi gejala putus obat. Dilanjutkan tahun 1977, Suaib dan Haq mengevaluasi efektivitas akupuntur pada gejala psikosomatis pasien dengan neurosis sekunder dan diperoleh hasil penurunan ketegangan,kecemasan, kegelisahan kesedihan, sakit kepala,paresthesia cephalic dan nafsu makan. Saat ini akupuntur juga dilirik sebagai salah satu metode yang efektif pada gangguan psikosomatik6.
GANGGUAN PSIKOSOMATIS
Psikosomatis terdiri dari kata psikis (jiwa) dan somatik (raga/badan). Gangguan psikosomatik merupakan gangguan atau penyakit dengan gejala-gejala yang menyerupai penyakit fisis dan diyakini adanya hubungan yang erat antara suatu peristiwa psikososial tertentu dengan timbulnya gejala-gejala tersebut2,7.
Menurut JC Heinroth gangguan psikosomatis adalah adanya gangguan psikis dan somatik yang menonjol dan tumpang tindih yang dalam arti luas ditandai oleh keluhan-keluhan psikis dan somatik yang dapat merupakan kelainan fungsional suatu organ dengan ataupun tanpa gejala obyektif dan dapat pula bersamaan dengan kelainan organik/struktural yang berkaitan erat dengan stressor atau peristiwa psikososial tertentu7,8.
Dasar Psikofisiologi Dan Psikopatologi
berkaitan erat dengan gangguan pada sistem saraf autonom vegetatif, sistem endokrin dan sistem imun2,7,8.
1. Gangguan keseimbangan saraf autonom vegetatif
Pada keadaan ini konflik emosi yang timbul diteruskan melalui korteks serebri system limbic hipotalamus sistem saraf autonom vegetatif dengan gejala klinis berupa simpatis-hipertoni, parasimpatis hipertoni, ataksia vegetatif dan amfotoni
2. Gangguan konduksi impuls melalui neurotransmitter
Gangguan konduksi ini disebabkan adanya kelebihan atau kekurangan neurotransmitter di presinaps atau gangguan saensitivitas pada reseptor post sinaps. Beberapa neurotransmitter yang sudah diketahui seperti noradrenalin, dopamine dan serotonin.
3. Hiperalgesia alat visceral
Merupakan konsep dasar terjadinya gangguan fungsional pada organ visceral yaitu visceral hiperalgesia yang mengakibatkan respon reflex yang berlebihan pada alat visceral (konsep ini dikemukakan oleh Meyer dan Gebhart tahun 1994)
4. Gangguan sistem endokrin/hormonal
Stress dapat menyebabkan perubahan fisiologi tubuh akibat terjadinya gangguan hormonal. Perubahan yang terjadi melalui hypothalamic-pituitary-adrenal axis. Hormon-hormon yang berperan antara lain:
hormone pertumbuhan (growth hormone), prolaktin, ACTH dan katekolamin.
5. Perubahan pada sistem imun
Gbr 1. Reaksi tubuh akibat stress (dikutip dari ; http://caramengatasistress/com
Evaluasi Gangguan Psikosomatis
Diagnosis gangguan psikosomatis tidak berbeda dengan diagnosis penyakit lain yaitu dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium serta pemeriksaan penunjang bila diperlukan. Perhatian lebih diutamakan pada anamnesis yang mendalam, pemeriksaan fisik yang teliti serta pemeriksaan laboratorium dan penunjang yang selektif dan indikatif1,8.
Evaluasi diagnosis menggunakan sistem multiaksial lebih memudahkan untuk mendapatkan keterangan yang berguna untuk terapi dan prognosis. Dikenal 5 aksis yang terdiri dari :
Aksis 1: faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi malfungsi atau kondisi klinis (gangguan psikis mencakup ansietas dan atau depresi)
Aksis 2 : Gangguan kepribadian (personality tipe A atau B, introvert, pemarah,dll)
Aksis 3 : Gangguan penyakit fisik (dyspepsia fungsional, asma bronkhiale,dll)
Aksis 5 : Sosio-kultural, fungsi adapatasi dalam 1 tahun terakhir
Dengan menggunakan evaluasi multiaksis tersebut, penanganan pasien psikosomatis dipandang secara luas dari berbagai aspek yaitu aspek psikologis, sosial, fisik, faktor stresor dan fungsi adaptasinya1,8
HIPNOTERAPI
Pada dasarnaya gangguan psikosomatis merupakan hal yang sederhana. Kenapa? Karena begitu masalah yang terpendam didalam pikiran bawah sadar seseorang diketahui, dan masalah tersebut diselesaikan, maka saat itu pikiran memerintahkan tubuh untuk menghilangkan semua gejala-gejala yang muncul dan saat itulah terjadi kesembuhan. Hipnosis atau hipnoterapi merupakan salah satu pilihan untuk menyembuhkan gangguan ini10.
Menurut APA (American Psychological Association) dalam Dictionary of psychology edisi 2007, bukti-bukti ilmiah menunjukan bahwa hipnoterapi bermanfaat dalam mengatasi hipertensi, asma, insomnia, manajemen rasa nyeri akut maupun kronis, anorexia, nervosa, nafsu makan berlebih, merokok dan gangguan kepribadian. Hipnosis atau hipnoterapi dimanfaatkan untuk mendapatkan relaksasi somatik dan visceral, keluar dari konflik dan memodifikasi kepribadian10.
Menurut David B.Cheek dan Leslie Le Cron dalam bukunya Clinical Hypnoterapy tahun 1968 dalam hipnoterapi ada 7 kunci penting dalam membuka pintu gerbang kesadaran baru tentang pemahaman masalah penyebab timbulnya gangguan psikosomatis yaitu :
a. Konflik internal
Konflik internal muncul karena ada minimal dua bagian dari seorang individu yang saling bertentangan sehingga munculah masalah.
b. Organ language
c. Motivasi
Simptom yang dialami seseorang sering mempunyai tujuan tersembunyi demi keuntungan orang tersebut
d. Pengalaman dimasa lalu (Past experience)
Pengalaman masa lalu yang menyakitkan, sesuai dengan persepsi pikiran bawah sadar mempunyai pengaruh yang sangat kuat dan bertahan lama. e. Identification
Gangguan muncul karena seseorang mengidentifikasi dirinya dengan figure yang dia kagumi atau hormati.
f. Self punishment
Perasaan bersalah atas apa yang sudah dilakukan dimasa lalu sering termanifestasi dalam sebuah prilaku untuk menghukum diri sendiri.
g. Suggestion/Imprint
Kepercayaan yang ditanamkan kepikiran seseorang saat seseorang mengalami emosi yang intens11.
Seorang pakar hipnoterapi terkemuka, Tebbets mengatakan bahwa ada 4 langkah yang harus dilakukan untuk mengatasi penyakit psikosomatis yaitu :
1. Memori yang menyebabkan munculnya simtom harus dimunculkan dan dibawa ke level pikiran sadar sehingga diketahui.
2. Perasaan atau emosi yang berhubungan dengan memori ini harus kembali dialami dan dirasakan oleh klien.
3. Menemukan hubungan antara simtom dan memori.
4. Harus terjadi pembelajaran secara emosi atau pada level pikiran bawah sadar, sehingga memungkinkan seseorang membuat keputusan, di masa depan, yang mana keputusannya tidak lagi dipengaruhi oleh materi yang ditekan (repressed content) di pikiran bawah sadar12.
Sejarah Hipnoterapi
pikiran (state of mind) subjek. Braid merupakan seorang dokter dan ahli bedah dari Skotlandia, dengan spesialisasi pada kondisi mata & otot. Tahun 1843 Braid
menerbitkan karyanya yang berjudul “Neurypnology or The Rationale of Nervous
Sleep Considered In Relation With Animal Magnetism“. Setelah menyimpulkan bahwa fenomena yang dialami pasien dalam proses magnetisme adalah Fenomena tidurnya saraf, Braid menyebut fenomena tersebut hypnotism, singkatan dari neuro-hypnotism. Hypnos sendiri merupakan nama Dewa Tidur & Mimpi dari Yunani. Tahun 1847 Braid menemukan bahwa semua fenomena utama hipnotisme seperti katalepsi, anastesia dan amnesia, dapat diinduksi “tanpa tidur”. Berdasarkan penemuan itu, Braid menyadari bahwa pilihan kata hypnosis kurang tepat, dan mencoba mengubahnya menjadi “monoideism” yang berarti konsentrasi / fokus kepada satu ide. Tetapi sudah terlambat, karena kata hipnosis sudah menjadi populer. James Braid kemudian dikenal oleh banyak orang sebagai Hypnotherapist pertama dan Bapak Hypnotisme Modern12.
Defenisi Hipnoterapi
Hipnotherapi adalah terapi yang dilakukan pada subjek dalam kondisi Hipnosis. Kata "Hipnosis" berarti "tidurnya sistem syaraf". Orang yang terhipnotis menunjukan karakteristik tertentu yang berbeda dengan yang tidak, yang paling jelas adalah mudah disugesti. Hipnotherapi sering digunakan untuk memodifikasi perilaku subjek, isi perasaan, sikap, juga keadaan seperti kebiasaan disfungsional, kecemasan, sakit sehubungan stress, manajemen rasa sakit, dan perkembangan pribadi12.
Hipnosis didefinisikan sebagai suatu kondisi pikiran dimana fungsi analitis logis pikiran direduksi sehingga memungkinkan individu masuk ke dalam kondisi bawah sadar (sub-conscious/unconcious), di mana tersimpan beragam potensi internal yang dapat dimanfaatkan untuk lebih meningkatkan kualitas hidup.
Mekanisme Kerja Hipnoterapi
Sampai sekarang masih belum jelas, bagaimana sebenarnya mekanisme kerja hypnotherapy. Beberapa ilmuwan berspekulasi bahwa hipnotherapi menstimulir otak untuk melepaskan neurotransmiter, zat kimia yang terdapat di otak, encephalin dan endhorphin yang berfungsi untuk meningkatkan mood sehingga dapat mengubah penerimaan individu terhadap sakit atau gejala fisik lainnya. Sementara menurut Profesor John Gruzelier, seorang pakar psikologi di Caring Cross Medical School, London, guna menginduksi otak dilakukan dengan
mem provokasi otak kiri untuk non aktif dan memberikan kesempatan kepada otak kanan untuk mengambil kontrol atas otak secara keseluruhan. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat otak fokus pada suatu hal secara monoton menggunakan suara dengan intonasi datar (seolah-olah tidak ada hal penting yang perlu diperhatikan) 12.
Secara umum mekanisme kerja hypnotherapy sangat terkait dengan aktivitas otak manusia. Aktivitas ini sangat beragam pada setiap kondisi yang diindikasikan melalui gelombang otak yang dapat diukur menggunakan alat bantu EEG (Electroenchepalograph). Berikut diuraikan berbagai gelombang otak disertai dengan aktivitas yang terkait:
1. Beta ( 14 - 25 Hz)(normal);
Atensi, kewaspadaan, kesigapan, pemahaman, kondisi yang lebih tinggi diasosiasikan dengan kecemasan, ketidaknyamanan, kondisi lawan/lari
2. Alpha (8 – 13 Hz)(meditatif);
Relaksasi, pembelajaran super, fokus relaks, kondisi trance ringan, peningkatan produksi serotonin, kondisi pra-tidur, meditasi, awal mengakses pikiran bawah sadar (unconscious)
3. Theta (4 – 7 Hz)(meditatif);
dipelajari, hypnogogic imagery, meditasi mendalam, lebih dalam mengakses pikiran bawah sadar (unconscious)
4. Delta (0,5 – 3 Hz)(tidur dalam);
Tidur tanpa mimpi, pelepasan hormon pertumbuhan, kondisi non fisik, hilang kesadaran pada sensasi fisik, akses ke pikiran bawah sadar (unconscious) dan memberikan sensasi yang sangat mendalam ketika diinduksi dengan Holosinc12.
Peran Hipnoterapi pada Gangguan Psikosomatis
Hipnoterapi dilakukan pada gangguan psikosomatik dengan orientasi kepada pasien sendiri untuk lebih banyak berperan dalam ‘membuka’ kesadaran pasien untuk mengetahui masalah utamanya dan membantu pasien untuk menyembuhkan atau menyelesaikan masalahnya oleh dia sendiri sehingga pasien merasa menjadi lebih nyaman dengan kondisinya dan dapat menerima kondisinya, sehingga tidak mengganggu aktifitasnya atau kegiatannya sehari-hari.Sedangkan untuk gangguan fisik murni (somatik), hipnoterapi berperan sebagai penunjang/pelengkap terhadap proses penyembuhannya dengan membantu masalah psikisnya12.
Hipnoterapi mempunyai peranan me-relaksasikan tubuh secara general, membawa individu keluar dari konflik dan memodifikasi kepribadian yang mungkin mempunyai pengaruh yang memperberat gangguan psikosomatis10.
Peran Hipnoterapi pada Gangguan Gastrointestinal
kurang praktis dalam kehidupan modern namun menunjukan hypnosis berkepanjangan mempunyai efek anti stress9. Magnus Simren et al juga menyimpulkan hipnoterapi menurunkan respon sensoris dan motoris gastrocolonic pada IBS12. Crasileck dan Hall (1975) melaporkan bahwa 70 kasus anorexia nervosa yang diobati dengan hipnoterapi menunjukan hasil yang nyata10.
Peran Hipnoterapi pada Gangguan Cardiovascular
Gangguan cardiovascular secara erat merupakan respon dari gangguan emosi. Ketakutan akan menyebabkan takikardia, penyempitan pembuluh darah splenikus dan naiknya tekanan darah. Hipertensi esensial juga berhubungan langsung dengan kondisi psikis yang disebut dengan psychocardiovascular. Dengan hipnoterapi individu dapat menurunkan respon cardiovascular tersebut. Cobb and rose (1973) menemukan tingginya insiden hipertensi pada petugas pengendali lalu lintas udara. Shapiro et al (1997) menyimpulkan hipnoterapi dapat membantu mengontrol hipertensi10.
Peran Hipnoterapi pada Gangguan Pernafasan
Emosi memainkan peranan langsung terhadap tingkat,irama dan pola pernafasan. Sedih atau cemas menghasilkan desah, takut menghasilkan pernafasan yang dangkal dan santai menghasilkan pernafasan perut yang nyaman. Faktor psikologis juga sangat berhubungan erat dengan kejadian asma. Edward (1960) menyimpulkan bahwa hipnoterapi sangat membantu mengurangi kecemasan baik antisipatif dan serangan panic dengan jalan meningkatkan dilatasi bronchiolar dan menurunkan resistensi saluran nafas10.
Peran Hipnoterapi pada Gangguan Kulit
AKUPUNTUR
Akupuntur merupakan salah satu pengobatan tradisional Tiongkok yang tidak melalui penggunaan metode ilmiah sehingga mendapat berbagai kritik berdasarkan pemikiran ilmiah. Tidak ada basis anatomis atau histologist yang secara fisik dapat diverifikasi tentang keberadaan titik akupuntur atau meridian akupuntur13.
Akupunktur merupakan terapi yang intensif dan holistik yang meningkatkan kualitas hidup pasien psikosomatis dengan membantu untuk memperlambat atau membalikkan proses dimana kecemasan, depresi dan bentuk lain dari tekanan psikologis ditransformasikan ke symptom fisik. Proses ini, disebut "somatisasi", yang kurang dipahami di pengobatan Barat, meskipun akupuntur sudah terlibat dalam banyak kasus yang terlihat dalam praktek medis umum. Pengobatan tradisional Cina ini memberikan penjelasan tentang bagaimana Faktor endogen meliputi emosi negatif (stress psikososial) menghasilkan penyakit13.
Defenisi Akupuntur
Akupuntur berasal dari bahasa latin : acus artinya jarum dan pungere artinya tusuk yang dalam pengertian luasnya merupakan teknik memasukkan atau memanipulasi jarum ke dalam titik akupuntur tubuh. Menurut ilmu akupuntur, teknik ini bermanfaat untuk memulihkan kesehatan dan kebugaran dan mengobati rasa sakit, kecemasan dan depresi13.
Teori akupuntur
Teori umum akupuntur didasarkan pada premis bahwa fungsi tubuh diatur
oleh energi yang disebut “qi” dimana energi ini mengalir didalam tubuh.
Gangguan aliran energi ini diyakini bertanggung jawab akan timbulnya penyakit. Akupuntur ditujukan untuk memperbaiki ketidakseimbangan dalam aliran energi
“qi” ini oleh stimulasi lokasi anatomi pada atau dibawah kulit (disebut point atau
Sejarah Akupuntur
Akupuntur saat ini sedang dimasukkan dalam metode pengobatan barat terutama untuk pengobatan nyeri, nausea, asma dan gangguan neurologis. Sejak tahun 1970an terdapat 7 studi banding yang telah dipiblikasikan untuk membandingkan peran akupunktur vs terapi konvensional dalam mengatasi depresi. Kurland mempublikasikan 3 wanita dengan depresi berat yang diterapi dengan EAT (electroacupuncture therapy) menunjukan remisi yang significan dan ditoleransi baik. Seorang ahli bedah saraf dari hongkong HL Wen mempelajari bahwa akupuntur secara significan mengurangi gejala putus obat. Suaib dan Haq mengevaluasi efektivitas akupuntur pada gejala psikosomatis pasien dengan neurosis sekunder dan diperoleh hasil penurunan ketegangan,kecemasan, kegelisahan kesedihan, sakit kepala,paresthesia cephalic dan nafsu makan6.
Mekanisme Kerja Akupuntur
Meski mekanismenya belum diketahui namun diduga berhubungan dengan peningkatan zat neurobiological aktif. Data penelitian menunjukan bahwa akupunture merangsang pelepasan norepinephrin, serotonin dan dopamine6.
Peran Akupuntur pada Gangguan Psikosomatis
Beberapa manfaat titik-titik akupuntur dapat dilihat dari tabel berikut : 15
KESIMPULAN
Gangguan psikosomatik merupakan gangguan atau penyakit dengan gejala-gejala yang menyerupai penyakit fisis dan diyakini adanya hubungan yang erat antara suatu peristiwa psikososial tertentu dengan timbulnya gejala-gejala tersebut.
Hipnoterapi dilakukan pada gangguan psikosomatik dengan orientasi kepada pasien sendiri untuk lebih banyak berperan dalam ‘membuka’ kesadaran pasien untuk mengetahui masalah utamanya dan membantu pasien untuk menyembuhkan atau menyelesaikan masalahnya oleh dia sendiri sehingga pasien merasa menjadi lebih nyaman dengan kondisinya dan dapat menerima kondisinya
DAFTAR PUSTAKA
1. Budihalim S. Mujadid E. Kedokteran psikosomatik: pandangan dari sudut ilmu penyakit dalam. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,Simadibrata M, Setiati S,penyunting. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi V. penerbit interna publishing. 2011. hlm.2089-92
2. Mello LLD. Psychosomatic Disorders. Institute for studies in Psychotherapy and Emotional Body-work. Toronto. 2012
3. National Institute of Health. Irritable Bowel Syndrome. National Center for complementary and alternative medicine web. Accessed at http://nccam.nih.gov/health/digestive/IrritableBowelSyndrome.htm
4. Flammer E, Alladin A. The efficacy of hypnotherapy in the treatment of psychosomatic disorders: meta-analytical evidence. Int J Clin Exp Hypn. 2007;55(3):251-74
5. Frankel FH. Hypnosis as a treatment method in psychosomatic medicine. Int J Psychiatry Med. 1975;6(1-2):75-85
6. Jalynytchev V. Role of Acupuncture in the treatment of depression. 2009 7. Mujadid E. Shatri H. Gangguan psikosomatik: gambaran umum dan
patofisiologinya. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I,Simadibrata M, Setiati S,penyunting. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Edisi V. penerbit interna publishing. 2011. hlm.2093-97
8. Shatri H. Diagnosis dan tatalaksana praktis gangguan psikosomatis. Dalam : Mudjadid E, Shatri H, Putranto R,penyunting. Scientific meeting in psychosomatic medicine 2012. Penerbit interna publishing. 2012. hlm 1-7 9. Reaksi tubuh akibat stress. Available at http://caramengatasistress/com 10.Sunnen GV. Hypnosis in psychosomatic Medicine. 2010.
11.Gunawan AW. Memahami penyakit psikosomatis. 2010. 12.Kusuma TE. Peranan Hipnoterapi untuk kesehatan. 2013
Medicine. Department of Internal Medicine, Sahlgrenska University Hospital, Sweden. 2004