• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tugas bahasa indonesia (16). docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Tugas bahasa indonesia (16). docx"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS BAHASA INDONESIA

OLEH :

AHMAD RUDIANSYAH

TEKNIK SIPIL

(2)

Idiolek

Bila kita membandingkan bahasa seseorang dengan bahasa seorang yang lain, maka akan tampak bahwa setiap orang memiliki beberapa keistimewaan yang tidak dimiliki orang lain, walaupun mereka sama-sama anggota dari suatu masyarakat bahasa. Abiq dalam kebiasaan sehari-harinya suka mengucapkan kata "ya kan", sedangkan temannya Imron tidak suka dengan kebiasaan seperti itu. Pilihan kata pun dalam mengungkapkan sesuatu berbeda antara satu orang dengan orang yang lain, namun mereka sebenarnya pemakai satu bahasa, perbendaharaan dari satu bahasa. Tutur kata setiap anggota masyarakat bahasa yang ditandai perbedaan-perbedaan kecil semacam itu disebut idiolek.

Idiolek adalah ragam bahasa yang unik pada seorang individu. Hal ini diwujudkan dengan pola pilihan kosakata atau idiom (leksikon individu), tata bahasa, atau pelafalan yang unik pada setiap orang.

Contoh : Presiden SBY terkesan hati-hati dalam berbicara dan penekanan kata pada bagian tertentu saat berpidato.

Perkembangan Ejaan Bahasa Indonesia

1. Ejaan Van Ophuysen

Ejaan Van Ophuysen ditetapkan pada tahun 1901 dan diterbitkan dalam sebuah buku Kitab Logat Melajoe. Sejak ditetapkannya itu, Ejaan Van Ophuysen pun dinyatakan berlaku. Sesuai dengan namanya ejaan itu disusun oleh Ch.A.Van Ophuysen, yang dibantu oleh Engku Nawawi gelar Soetan Ma’moer dan Moehammad Taib Soetan Ibrahim. Sebelum Ejaan Van Ophuysen disusun para penulis pada umumnya mempunyai aturan sendiri-sendiri dalam menuliskan konsonan, vokal, kata, kalimat, dan tanda baca. Oleh karena itu, sistem ejaan yang digunakan pada waktu itu sangat beragam. Terbitnya Ejaan Van Ophuysen sedikit banyak mengurangi kekacauan ejaan yang terjadi pada masa itu.

Ada beberapa hal yang cukup menonjol dalam Ejaan Van Ophuysen antara lain sebagai berikut :

a. Huruf y ditulis dengan j. Misalnya : sayang ditulis sajang. b. Huruf u ditulis dengan oe. Misalnya :umum ditulis oemoem.

c. Huruf k pada akhir kata atau suku kata ditulis dengan tanda koma diatas, misalnya :rakyat ra’yat, dll.

d. Huruf j ditulis dengan dj, misalnya :Jakarta ditulis Djakarta e. Huruf c ditulis dengan tj, misalnya :pacar ditulis patjar

(3)

2. Ejaan Republik(Ejaan soewandi)

Ejaan Republik ialah ejaan baru yang disusun oleh Mr. Soewandi. Penyusunan ejaan baru dimaksudkan untuk menyempurnakan ejaan yang berlaku sebelumnya yaitu Ejaan Van Ophuysen juga untuk menyederhanakan sistem ejaan bahasa Indonesia. Pada tanggal 19 Maret 1947, setelah selesai disusun ejaan baru itu diresmikan dan ditetapkan berdasarkan surat keputusan menteri pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan Republik Indonesia Nomor 264/Bhg.A, tanggal 19 Maret 1947. Ejaan baru itu diresmikan dengan nama Ejaan Republik.

Ejaan Repubik lazim disebut Ejaan Soewandi karena nama itu disesuaikan dengan nama orang yang memprakarsainya. Seperti kita ketahui, Soewandi merupakan nama Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan ketika ejaan itu disusun oleh karena itu, kiranya wajar jika ejaan yang disusunnya juga dikenal sebagai Ejaan Soewandi. Ada beberapa perbedaan antara ejaan ini dengan ejaan sebelumnya, diantaranya:

1. Gabungan huruf oe dalam Ejaan Van Ophuysen diganti dengan u dalam Ejaan Republik 2. Bunyi hamzah (‘) dalam Ejaan Van Ophuysen diganti dengan k dalam Ejaan Republik 3. Kata ulang boleh ditandai dengan angka dua dalam Ejaan Republik

4. Huruf e taling dan pepet dalam Ejaan Republik tidak dibedakan

5. Tanda trema (“) dalam Ejaan Van Ophuysen dihilangkan dalam Ejaan Republik

Meskipun dimaksudkan untuk menyempurnakan ejaan yang berlaku seelumnya, Ejaan Republik ternyata masih memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan itu antara lain karena huruf-huruf seperti F,V,X,Y,Z,SJ(Sy) dan Ch(Kh) yang lazim digunakan untuk menulis kata-kata asing tidak dibicarakan dalam ejaan baru itu. Padahal, huruf-huruf tersebut pada masa itu masih merupakan permasalahan dalam bahasa Indonesia.

3. Ejaan Pembaharuan

Ejaan pembaharuan merupakan suatu yang direncanakan untuk memperbaharui Ejaan Republik.Di bentuk pada tanggal 19 juli 1956. Konsep Ejaan pembaharuan dikenal dengan ejaan Prijono-Katoppo,sebuah nama yang di ambil dari dua nama tokoh yang pernah mengetuai panitia ejaan itu. Awalnya profesor Prijono yang mengetuai panitia itu, lalu menyerahkan kepemimpinannya kepada E.Katoppo karena masa itu Profesor Prijono di angkat menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan sehingga tidak sempat lagi melanjutkan tugasnya sebagai ketua panitia ejaan kemudian dilanjutkan oleh E.Katoppo.

Konsep Ejaan Pembaharuan yang menarik ialah di sederhanakannya huruf-huruf yang berupa gabungan konsonan dengan huruf huruf tunggal. Atau bersifat fonemis artinya setiap fonem dalam ejaan itu di usahakan hanya di lambangkan dengan satu huruf.

(4)

e. Gabungan konsonan sj di ubah menjadi š

4. Ejaan Melindo

Melindo ialah akronim dari Melayu-Indonesia.Merupakan ejaan yang di susun atas kerja sama antara pihak Indonesia Slamet Muljana dan pihak Persekutuan Tanah Melayu (malaysia) di pimpin oleh Syed Nasir bin Ismail. Yang tergabung dalam Panitia Kerja Sama Bahasa Melayu-Bahasa Indonesia. Tahun 1959 berhasil merumuskan ejaan yaitu ejaan Melindo. Awalnya Ejaan Melindo di maksudkan untuk menyeragamkan ejaan yang di gunakan di kedua negara tersebut. Namun karena pada masa itu terjadi ketegangan politik antara Indonesia dan malaysia, Ejaan itupun akhirnya gagal diresmikan. Sebagai akibatnya pemberlakuaan ejaan itu tidak pernah di umumkan.

Dalam ejaan melindo tidak jauh beda dengan ejaan pembaharuan, karena ejaan itu sama-sama berusaha menyederhanakan ejaan dengan menggunakan sistem fonemis. Hal yang berbeda ialah dalam ejaan Melindo gabungan konsonan tj, seperti pada kata tjinta Di ganti dengan c menjadi cinta. Juga gabungan konsonan nj, seperti pada kata njonja di ganti dengan huruf nc yang sama sekali masih baru.

5. Ejaan Baru (Ejaan LBK)

Merupakan lanjutan dari rintisan panitia ejaan melindo. Pelaksananya pun terdiri dari panitia Ejaan LBK (Lembaga bahasa dan Kasusaatraan, sekarang bernama Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa) juga dari panitia Ejaan bahasa Melayu yang berhasil merumuskan ejaan yang disebut Ejaan Baru. Namun lebih di kenal dangan ejaan LBK. Konsep Ejaan ini di susun berdasarkan beberapa pertimbangan antara lain:

a) Pertimbangan Teknis yaitu pertimbangan yang menghendaki agar setiap fonem di lambangkan dengan satu huruf.

b) Pertimbangan Praktis yaitu pertimbangan yang menghendaki agar perlambangan secara teknis itu di sesuaikan dengan keperluan praktis seperti ke adaan percetakan dan mesin tulis.

c) Pertimbangan Ilmiah yaitu Pertimbangan yang menghendaki agar perlambangan itu mencerminkan studi yang mendalam mengenai kenyataan bahasa dan masyarakat pemakainya. Adapun perubahan-perubahan yang terdapat pada ejaan ini dengan ejaan-ejaan sebelumnya, diantaranya:

a) Gabungan konsonan dj di ubah menjadi j, misalnya : remadja → remaja, djalan → jalan. b) Gabungan konsonan tj di ubah menjadi c, misalnya : tjakap → cakap, batja → baca. c) Gabungan konsonan nj di uban menjadi ny, misalnya : sunji → sunyi, njala → nyala. d) Gabungan konsonan sj di ubah menjadi sy, misalnya : sjarat → syarat, sjair → syair. e) Gabungan konsonan ch di ubah menjadi kh, misalnya : tachta → takhta, ichlas → ikhlas. f) Huruf j di ubah menjadi y, misalnya : padjak → pajak, djatah → jatah.

(5)

6. Ejaan Bahasa Yang Disempurnakan (EYD)

Ejaan Yang disempurnakan (EYD) diresmikan oleh Presiden Republik indonesia Soeharto pada tanggal 16 Agustus 1972. merupakan lanjutan dari ejaan baru atau ejaan LBK. Pedoman ejaan bahasa Indonesia di sebut pedoman umum, karena dasarnya hanya mengatur hal-hal yang bersifat umum. Namun ada hal-hal-hal-hal lain yang bersifat khusus, yang belum di atur dalam pedoman itu, yang di sesuaikan dengan bertitik tolak pada pedoman umum itu. Ejaan Yang Disempurnakan merupakan hasil penyempurnaan dari beberapa ejaan yang di susun sebelumnya, terutama ejaan republik yang di padukan pula dengan konsep konsep ejaan pembaharuan, ejaan melindo dan ejaan baru.

Bahasa prokem atau Bahasa gaul adalah ragam bahasa Indonesia nonstandar yang lazim digunakan di Jakarta pada tahun 1970-an yang kemudian digantikan oleh ragam yang disebut sebagai bahasa gaul. Bahasa prokem ditandai oleh kata-kata Indonesia atau kata dialek Betawi yang dipotong dua fonemnya yang paling akhir kemudian disisipi bentuk -ok- di depan fonem terakhir yang tersisa. Misalnya, kata bapak dipotong menjadi bap, kemudian disisipi -ok-menjadi bokap. Diperkirakan ragam ini berasal dari bahasa khusus yang digunakan oleh para narapidana. Seperti bahasa gaul, sintaksis dan morfologi ragam ini memanfaatkan sintaksis dan morfologi bahasa Indonesia dan dialek Betawi.

Contoh kalimat yang sesuai dengan EYD (Ejahan Yang Disempurnakan) : 1. Puji dan syukur marilah kita panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. 2. Bimbinglah hambaMu ini ya Rab !

3. Hanya kepadaMu lah kami meminta. 4. Nikmatmu begitu dahsyat ya Rab.

5. Puji dan syukur marilah kita panjatkan kepada Tuhan Yang Kuasa. 6. Ayah bertanya, “Peringkat berapa kamu sekarang ?”

(6)

Bahasa Pergaulan

Bahasa prokem Indonesia atau bahasa gaul atau bahasa prokem yang khas Indonesia dan jarang dijumpai di negara-negara lain kecuali di komunitas-komunitas Indonesia. Bahasa prokem yang berkembang di Indonesia lebih dominan dipengaruhi oleh bahasa Betawi yang mengalami penyimpangan/ pengubahsuaian pemakaian kata oleh kaum remaja Indonesia yang menetap di Jakarta.

Kata prokem sendiri merupakan bahasa pergaulan dari preman. Bahasa ini awalnya digunakan oleh kalangan preman untuk berkomunikasi satu sama lain secara rahasia. Agar kalimat mereka tidak diketahui oleh kebanyakan orang, mereka merancang kata-kata baru dengan cara antara lain mengganti kata ke lawan kata, mencari kata sepadan, menentukan angka-angka, penggantian fonem, distribusi fonem, penambahan awalan, sisipan, atau akhiran. Masing-masing komunitas (daerah) memiliki rumusan sendiri-sendiri. Pada dasarnya bahasa ini untuk memberkan kode kepada lawan bicara (kalangan militer dan kepolisian juga menggunakan).

Selain itu, Bahasa Prokem pun memiliki beberapa imbuhan dan partikel yang kini telah menjadi bagian dari bahasa Indonesia dan sering digunakan, seperti : Deh / Dah, Dong, Sih, Nih, Tuh, Kok, Kan, dan Yah.

Beberapa contoh kalimatnya : - Jangan gitu deh...

- Apa sih? Mau tau aja...

Referensi

Dokumen terkait

Karena kini pengguna hijab banyak juga menggunakan pakaian-pakaian yang digunakan oleh mereka yang tak berhijab dengan sedikit modifikasi agar bisa disebut sebagai busana

Kelompok usaha salak pondoh di Kecamatan Turi memang tumbuh subur dan menjadi usaha kelompok masyarakat, demikian juga yang dikemukakan oleh Pak Sarno salah satu mitra

Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan terkait Standard Operational Procedures (SOP) penangguhan hutang dan pelaksanaannya yang dilakukan oleh BNI Syariah

Kebijakan luar negeri diwujudkan melalui kerja sama dengan negara lain dalam wujud diplomasi pertahanan yang bertujuan untuk mencapai kepentingan

merupakan data yang diperoleh dari sampel dalam penelitian tersebut. Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes. 51) dijelaskan,. “tes merupakan suatu alat

Tulisan ini menyajikan hasil penelitian pengaruh lokasi, jenis dan diameter terhadap produktivitas pohon penghasil biji tengkawang yang terdapat di Kabupaten Sintang dan

60 Pembahasan lebih komprehensif mengenai aliran fungsionalisme teks seperti dikutip Esack, lihat Buckley, “The Hermeneutical Deadlock Between Revelationists, Textualists,

Rafinat pada praktikum ekstraksi cair-cair (air sebagai fasa kontinyu) yang merupakan fasa organik (TCE) tidak dapat mengikat OH - dari titran NaOH dalam waktu yang lama,