Smart Tourism
Kampung Di Yogyakarta
AbstractTourism village is a new variant object about tourist a rac on of special interest based the village area or ex. Rukun Kampung and
has strategic role to increase people 's welfare. Good and strong ins tu onal absolutely needed for the existence of tourism village in order the tourism village become more develop because
to manage the event of the tourism village has many aspects. There are many aspects must be applied and well implemented . Therefore, effort to establish good ins tu onal become a priority.
One of the tourism village in Yogyakarta is Kadipaten Tourism Village “Art And Heritage Tourism” in Kadipaten Village, Sub District of Kraton, Yogyakarta. The tourism village is s ll on the developing category. The problem is how the management model
of the tourism village “Art And Heritage Tourism”?, and another problem is how the design pa ern of the local community development that can support the tourism village “Art And Heritage Tourism”?. The aim of the research is to describe of the
management model of the tourism village “Art And Heritage Tourism”. Iden fy potency and inventory of the problem to manage of the tourism village. The research method is descrip ve
qualita ve, Technique of data collec on by observa on, documenta on and interview of 20 informants. Techniques to determine of the informants use purposive par cipa on. Analysis
data using interac ve model trough processes, namely: data reduc on, presenta on of data and conclusion. The result of the
Household Budget, has cultural heritage and almost the people have a sense of art, friendly and polite. The problem that there are
art groups have not entered on agenda of the tourism village, less coordinated also less of facili es and infrastructure, for example: costume. The tourist village has not managed professionally so the
economic value is s ll low. Conclusion: the tourism village has a rac on “Art And Heritage”, less of the involvement of the local economic actors. The image of the tourism village is not yet popular
among local resident. The unprofessional management of tourism village has not been able to develop of the local economy.
Recommenda on: 1. The manager of the tourism village : Increasing the frequency of socializa on about the tourism village ac vi es, make the regular mee ng agenda for all stakeholders to
support the tourism village to be success, involving young genera on in the management of the tourism village, full me officers, op mize the use of cultural heritage. Role of the local government for local economic development, coordina on for economic actors, improve the quality of the tourism promo on. Department of tourism and culture must add mentoring, use of the cultural heritage (Pojok Beteng Lor Kulon and Ndalem Kanoman) for
cultural exhibi on and mentoring.
PENDAHULUAN
Daerah Is mewa Yogyakarta merupakan daerah tujuan wisata, sehingga dak mengherankan jika dari waktu ke waktu jumlah wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta semakin bertambah banyak. Obyek wisata yang dikunjungi bukan saja obyek wisata yang sudah populer seper Kraton Yogyakarta, Tamansari, Candi Prambanan, KRKB Gembiraloka, Taman Pintar dan sebagainya, namun mulai merambah ke obyek-obyek wisata baru yang memiliki prinsip back to nature yang mengedepankan “wajah asli” pedesaan atau perkampungan. Beberapa kampung wisata di Kota Yogyakarta menyuguhkan dan mengembangkan obyek wisata sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Kampung wisata Warungboto mengembangkan seni dan budaya, kampung wisata Dipowinatan menyajikan ak vitas warga masyarakat, kampung wisata Tahunan dengan unggulan industri krea f, kampung wisata Kadipaten Art and Heritage Tourism dan kampung wisata Cokrodiningratan unggulannya Ecology Tourism.
Peneli an ini dilkukan di kampung wisata Kadipaten “Art and Heritage Tourism” yang berada di Kelurahan Kadipaten Kecamatan Kraton Kota Yogyakarta. Kampung ini menawarkan paket wisata agar se ap wisatawan mendapatkan sesuatu yakni “something to see, something to do and some thing to buy”. Secara spesifik Kampung wisata ini memiliki potensi (1) letaknya di lingkungan kraton Yogyakarta, sehingga banyak tempat yang memiliki nilai seni dan cagar budaya, (2) komunitas yang berkarya di bidang seni tari, ba k, dan lukis, (3) adat is adat warga masyarakat yang masih dilestarikan. (4) sikap dan perilaku warga yang selalu mengdepankan e ka, ramah, sopan dan hormat kepada orang lain.
sendiripun mereka tetap dapat berjalan/berhasil tanpa suatu pengorganisasian yang mereka anggap merepotkan. Untuk itu peneli an ini pen ng untuk dilakukan guna menjajagi sistem pembentukan kampung wisata “Art and Heritage Tourism” kemudian menerapkan pola pengembangan komunitasnya.
PERUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana model pengelolaan kampung wisata Art And Heritage Tourism ?
2. Rancangan pola pengembangan komunitas lokal yang bagaimanakah yang mendukung kampung wisata Art And Heritage Tourism?
TUJUAN PENELITIAN
1. Mendeskripsikan Model Pengelolaan Kampung Wisata
2. Mengiden fikasi potensi dan menginventarisasi masalah untuk mengembangkan komunitas lokal.
TINJAUAN PUSTAKA
dikelola dengan baik dan professional layaknya sebuah des nasi daya tarik wisata.
Nilai strategis lain keberadaan kampung wisata adalah dapat menjadi lokomo f baru dalam rangka mendorong dan meningkatkan perekonomian masyarakat dan sekaligus sebagai solusi untuk mengurangi jumlah pengangguran karena pengelolaan kampung wisata sepenuhnya dilakukan oleh masyarakat dan untuk masyarakat kampung setempat. Disamping aspek ekonomi keberadaan kampung wisata juga memberikan dampak posi f dalam rangka menciptakan kondisi lingkungan yang baik, bersih, sehat, sejuk dan ramah.
Upaya pengembangan masyarakat (community development) pada dasarnya merupakan suatu upaya pemberdayaan warga komunitas. Proses pemberdayaan dapat dilakukan secara individual maupun kolek f. Merujuk pada pendapat Friedmann (1993); kemampuan individu “senasib” untuk mengorganisir diri dalam suatu kelompok cenderung dinilai sebagai pemberdayaan yang paling efek f di ngkat komunitas (collec ve self-empowerment). Melalui kelompok akan terjadi suatu dialogical encounter yang menumbuhkan dan memperkuat kesadaran dan solidaritas kelompok. Warga komunitas yang berpar sipasi dalam pengelolaan kampung wisata perlu diorganisasi menurut kepen ngannya. Kepada warga komunitas, baik secara individu ataupun kelompok akan diserahkan tugas-tugas sesuai dengan keperluan kampung wisata. Pengorganisasian warga komunitas pen ng, karena par sipasi warga komunitas dalam kegiatan kampung wisata perlu diarahkan dalam tahap-tahap kegiatan yakni tahap iden fikasi masalah dan kebutuhan, perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi.
METODE PENELITIAN
1. Jenis Peneli an
2. Obyek Peneli an Peneli an dilakukan pada kampung wisata “Art and Heritage Tourism” di Kampung wisata Kadipaten.
3. Teknik Pemilihan Informan
Teknik untuk menentukan informan adalah purposive par cipa on (par sipasi bertujuan) dengan cara memilih orang yang dipandang dapat memberikan keterangan tentang permasalahan sesuai topik peneli an ini, selanjutnya dipergunakan snowball yaitu mulai dari satu key person (tokoh Kunci), terus menggelinding menjadi semakin banyak sampai informan dipandang cukup.
4. Teknik Pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi.
5. Teknik Analisis Data dengan metode deskrip f untuk menggambarkan berbagai fenomena atau kejadian yang berhubungan dengan obyek peneli an. Dalam hal ini dengan menggunakan model interak f melalui ga proses yakni, reduksi data, pemaparan data, dan penarikan kesimpulan.
HASIL PENELITIAN
Dalam peneli an ini untuk memperoleh data primer peneli mewawancarai 20 orang informan, yang dianggap mengetahui tentang kampung wisata Kadipaten. Adapun gambaran informan tersebut dapat dilihat melalui table iden tas informan pada lampiran.
pengelola kampung wisata, juga merumuskan visi dan misi. Visi : Kampung wisata Kadipaten menjadi salah satu obyek daya tarik wisata di Kota Yogyakarta dan misinya: Memberdayakan potensi lokal menuju pasar wisata global.
Kampung Wisata Kadipaten yang memiliki branding art and haritage merupakan perpaduan antara potensi kesenian dengan bangunan cagar budaya.
1. Kesenian (Art)
Kampung wisata Kadipaten terbagi menjadi 15 RW, dan hampir se ap RW mempunyai kelompok kesenian.
a. Pusat Pela han tari Siswo Among Bekso
Yayasan Siswo Among Bekso merupakan organisasi sosial yang bergerak di bidang kesenian, dan sebagai pusat pela han tari yang didirikan sejak jaman Sultan Hamengku Buwono IX, tepatnya berdiri pada tahun 1953. Tarian yang diajarkan oleh Siswo Among Bekso, adalah tari klasik, terutama tarian yang sering dipentaskan di lingkungan Kraton Yogyakarta, untuk menyuguh tamu yang berkunjung di Kraton. Jenis tarian itu antara lain Tari Gambyong, Bedoyo, Srimpi, Klono Topeng dan Wayang Orang. SekretariatYayasan Siswo Among Bekso di Dalem Kanoman sampai saat ini masih menyelenggarakan la han tari se ap hari Senin, Selasa, Kamis dan Jum at pukul 16.00 – 18.00. Jumlah siswa 23 orang yang masih duduk di SMP dan SMA.
Yayasan Siswo Among Bekso bekerja sama dengan Dalem Kanoman
Gamelan Kanoman
Gamelan di Dalem Kanoman dipergunakan untuk pentas seni dan la han karawitan.
dalam bidang seni tari, terutama pada saat kunjungan wisatawan dari manca negara, dan pada acara Dinner dihibur tarian yang bersifat kolosal dengan melibatkan banyak penari, mementaskan serial sendra tari Ramayana dengan durasi 30 menit. Selain tari Ramayana, juga ada tarian lain seper Tari Klana, beksan Menak dan Tari olek.
b. Kelompok kesenian Obahing Magersari Manunggal (OMM) 114 Kelompok ini sebenarnya bukan hanya bergerak dibidang seni saja, tetapi juga bidang sosial, olah raga dan kerohanian. Kegiatan kesenian merupakan ak vitas yang paling menonjol, sehingga terkesan hanya sebagai kelompok kesenian saja. Kesenian yang sering ditampilkan oleh OMM berpijak pada tari klasik Yogyakarta yang tujuannya untuk melestarikan seni tradisional, yang saat ini sudah semakin kurang mendapat dukungan dari generasi muda. Pada umumnya penari OMM sudah memiliki banyak pengalaman, karena sebagian anggota dari kelompok ini sering diminta pentas pada acara Dinner di Dalem Kanoman. Selain itu kelompok ini se ap tahun selalu diminta tampil pada pagelaran Ramayana di lingkungan Candi Prambanan, mengisi acara panggung Trimur (ruang tertutup), yang jadwal pentasnya se ap bulan November sampai dengan bulan Februari. Dalam satu bulan frekuensi pentas antara 3 - 4 kali. Selain itu OMM juga mempunyai agenda ru n tahuhan, bahwa se ap tahun selalu pentas (gebyakan) menampilkan pagelaran wayang orang di Dalem Kanoman.
c. Gejog Lesung Puspo Sworo
HUT Kota Yogyakarta dan Pasar Malam dan Perayaan Sekatenan, tetapi juga sering tampil pada hajatan tertentu. Jumlah anggota sekitar 40 orang baik pemain musik, penyanyi maupun penarinya, dan dalam satu tahun rata-rata pentas 4-5 kali selain pentas ru n tersebut. Tahun 2010 pernah menjadi juara III ngkat Kota Yogyakarta.
d. Gojek Lesung Kendalisodo
Di RW 7 memiliki kelompok kesenian Gojek Lesung, diberi nama Kendalisodo, yang pada prinsipnya sama dengan Gejog Lesung, penampilannya disamping nyanyian dan tarian, tetapi juga diselingi dengan lawak/dagelan, sehingga membuat penonton terhibur dengan guyonannya. Kelompok kesenian ini pernah memperoleh juara II pada lomba Gojek lesung ngkat Provinsi yang diselenggarakan di Kabupaten Bantul pada tahun 2012.
e. Kelompok Orkes Keroncong Lansianos
Di RW 6 terdapat kelompok kesenian Orkes Keroncong Lansia Nostalgia yang disingkat Lansianos. Sesuai dengan namanya Nostalgia, kelompok kesenian ini pelakunya sebagian besar merupakan generasi yang usianya sudah tua. Orkes Keroncong Lansia Nostalgia walaupun pemainnya sudah “sepuh”, tetapi mereka giat berla h, apalagi menjelang pentas pada acara-acara tertentu. Lansianos sebenarnya bukan keroncong asli namun sudah merupakan modifikasi dikombinasi dengan lagu-lagu barat yang bernuansa akus k.
f. Sanggar Tari Condro Radono
Kadipaten mendapat tugas untuk mengkoordinasikan acara ART POINT JOGJA, yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Yogyakarta. Adapun lokasi pentas telah ditentukan antara lain di halaman KR, Alun-alun Sewandono Pura Pakualaman dan di lapangan Karang Kotagede. Sanggar Condro Radono ditunjuk sebagai koordinator sekaligus deserahi tugas sebagai penyelenggara opening seremonial.
g. Bang Bung Imam Baskari.
Komunitas musik akus k anak muda Kadipaten dibentuk untuk menyalurkan bakat dan kreasi para pemuda setempat, dengan menciptakan musik yang terbuat dari bahan bambu. Selain itu Bang Bung Imam Baskari juga dapat menghibur wisatawan lewat alunan musik pop modern atau dangdut yang dikemas dalam nuansa indahnya view sunset di atas situs Pojok Beteng Lor Kulon (Musical at sunset heritage).
h. Kirab Budaya.
dan agar dak terjadi kesalahan dalam memahami tradisi dan ajaran agama, maka kampung Kadipaten mengadakan pengajian akbar mengundang Kyai Muhaimin untuk memberikan tausiyah mengenai perbedaanantara tradisi dan agama. Dengan cara itu akan memudahkan orang dalam membedakan kegiatan mana yang tergolong musrik dan kegiatan mana yang dak musrik. Dari uraian Kyai Muhaimin ini ternyata acara ruwahan itu dak termasuk musrik, karena acara tersebut bukan tertuju untuk sesaji, tetapi kuliner yang dikemas dalam budaya dan dinilai untuk mendapatkan kejuaraan.
2. Bangunan cagar budaya (Heritage)
Cagar budaya yang terdapat di Kadipaten pada dasarnya merupakan bangunan-bangunan lama milik Karaton Yogyakarta, yang pada saat ini masih dilestarikan dan dimanfaatkan bagi kepen ngan masyarakat maupun digunakan untuk kepen ngan pendidikan. Beberapa bangunan cagar budaya/haritage, yang berada di wilayah Kelurahan Kadipaten antara lain Dalem Mangkubumen, Dalem Kanoman, Plengkung Jogoboyo (di sebelah barat), Plengkung Jogosuro (di sebelah utara), Tugu Pojok Beteng (Lor Kulon).
a. Dalem Mangkubumen
Pada awalnya merupakan bangunan sebagai tempat nggal bagi keluarga Pangeran Mangkubumi, sebelum dinobatkan sebagai raja di Kraton Yogyakarta. Kompleks dalem ini terdiri dari beberapa bangunan rumah yang besar bermo an bangunan kraton, walaupun umurnya sudah ratusan tahun namun masih berdiri kokoh karena kualitas bahan bangunan dari
bahan-bahan pilihan yang sangat baik. Setelah sekian lama Dalem Mangkubumen tersebut dak lagi dimanfaatkan sebagai tempat nggal keluarga Mangkubumi, pernah digunakan sebagai rumah sakit, sebagai tempat kuliah mahasiswa Gadjah Mada dan sekarang dipergunakan sebagai Kampus Universitas Widya Mataram Yogyakarta (UWMY). Dengan berdirinya UWMY yang memiliki beberapa Fakultas sehingga banyak mahasiswa dari berbagai daerah yang menimba ilmu di perguruan ggi tersebut. Disamping itu Dalem Mangkubumen juga sering dipergunakan untuk pentas seni. Dengan demikian Dalem Mangkubumen mengalami pergeseran fungsi yang semula sebagai tempat nggal golongan ningrat, beralih fungsi sebagai pusat pelayanan kesehatan, sebagai pusat pendidikan, dan sebagai arena pentas budaya, yang berar menjadi tempat yang memiliki fungsi sosial.
b. Dalem Kanoman
manuk nom dan sebagainya) Penari diambil dari Yayasan Siswa Among Bekso, yang dipimpin R.M. Dinu Satomo, biaya satu kali pertunjukan Rp. 4.750.000,- untuk 15 orang, dan apabila menghendaki tambahan, maka biaya dihitungkan se ap orang tambah Rp. 275.00,-. Selain itu bagi wisatawan yang ingin mencoba la han singkat tari klasik khas Kraton Yogyakarta yang berkarakter halus dan memiliki filosofis nggi akan dila h langsung oleh penari kraton yang profesional (Java dance short course) gambar dapat di lihat pada lampiran.
c. Plengkung Jogoboyo dan Jogosuro
Kraton Yogyakarta di kelilingi oleh pagar berupa tembok, yang di ga pojoknya terdapat beteng yang dikenal dengan nama sesuai dengan letak/posisi beteng tersebut berada. Posisi beteng bagian selatan disebelah mur terkenal dengan sebutan Pojok Beteng Wetan, posisi beteng sebelah selatan bagian barat terkenal dengan Pojok Beteng Kulon dan yang berada di sudut sebelah utara bagian barat dikenal Pojok Beteng Lor Kulon. Sebagai pertanyaan mengapa disisi utara bagian mur dak terdapat Betengnya ?
Dibeberapa tempat terdapat pintu masuk ke kraton, yang ditandai dengan bangunan yang berbentuk lengkungan sehingga dikenal dengan nama Plengkung. Di Kadipaten terdapat 2 plengkung yaitu Plengkung Jaga boyo yang terletak dibagian barat yaitu yang menuju ke arah perempatan Taman Sari dan Plengkung Jogosuro yang terletak di bagian utara yaitu di wilayah Gerjen.
d. Pojok Beteng Lor Kulon
yang ditampilkan : Tari garapan kreasi baru berbasis tari klasik diberi nama Tari Pisungsung Kadipaten, Tari Solawat, Joget Mataram, Jathilan, Gejok Lesung.
e. Wisata Belanja (Rotowijayan Shopping Tourism).
Sebagai sarana pendukung kampung wisata Kadipaten terdapat pusat belanja barang-barang produksi khas Yogya berupa barang kerajinan seper ba k tulis, ba k cap, logo keraton Yogyakarta, kaos oblong Jogja dan handycra unik dan krea f lainnya. Barang-barang tersebut diperdagangkan di sepanjang jalan Rotowijayan, yang lokasinya berada di dekat obyek wisata kraton. Bagi wisatawan yang sudah menikma keindahan kraton, dan selanjutnya akan membeli cindera mata atau bahkan oleh-oleh khas Jogya, mereka dapat berkunjung dan belanja di Rotowijayan. Oleh karena itu situasi kompleks wisata belanja ini ramai dikunjungi baik wisatawan dari dalam negeri, maupun wisatawan asing. Terlebih pada libur akhir pekan, libur hari-hari besar, maupun pada musim liburan anak sekolah. Diantara barang dagangan yang dipajang di show room sepanjang jalan Rotowijayan, beberapa diantaranya merupakan produk lokal, seper ba k dan kaos Oblong di produksi di wilayah ini juga. Apabila wisatawan akan menyaksikan dan praktek secara langsung bagaimana proses memba k dan menyablon kaos dapat dilayani oleh pelaku usaha.
PEMBAHASAN
Dari hasil pengamatan dan wawancara dengan beberapa informan, dihasilkan data:
1. Iden fikasi Potensi
Pengelola Kampung Wisata Kadipaten telah menyusun Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, sebagai dasar untuk mengembangkan potensi Art and Heritage. Harapannya Kampung Wiasata tersebut dapat menarik lebih banyak wisatawan baik Agenda tahunan.
Puasa, tepatnya pada bulan Ruwah untuk melestarikan tradisi dan budaya Jawa. Di kampung wisata Kadipaten acara ini sudah berlangsung 2 kali.
b. HUT Kota Yogyakarta, Kampung Wisata ini selalu diberi kesempatan untuk mengisi acara kesenian dalam rangka memeriahkan hari jadi Kota Yogyakarta.
c. Even mengisi panggung hiburan Pasar Malam dan Perayaan Sekaten (PMPS). Se ap tahun pengelola juga merencanakan berpar sipasi dalam memeriahkan PMPS di Alun-Alun Lor, menampilkan kesenian lokal yang ada di Kadipaten.
1) Agenda insidental
a. Mengisi hiburan pada saat diundang pada acara pernikahan, tasyakuran, hari ulang tahun dan lain-lain. b. Agenda khusus kerjasama dengan Dinas Pariwisata dan
Budaya 2) Agenda ru n
Khusus kelompok kesenian Obahing Magersari Manunggal 114, se ap tahun pada bulan November sampai dengan bulan Februari selalu diminta untuk mengisi panggung kesenian Tri Mur (panggung tertutup) di lingkungan Candi Prambanan berupa sendratari Ramayana. Walaupun jadwalnya dak tentu yang jelas kelompok kesenian ini pentas rata-rata 3-4 kali dalam satu bulan.
2. Inventarisasi Masalah
Namun kampung wisata Kadipaten juga memiliki masalah:
a. Masih ada kelompok kesenian yang belum masuk agenda kampung wisata yakni even di Dalem Kanoman yang dikelola secara pribadi. b. Kegiatan pendukung wisata masih berjalan sendiri-sendiri, kurang
terkoordinir
KESIMPULAN
a. Model pengelolaan kampung wisata Kadipaten untuk agenda tahunan dikelola langsung oleh pengelola kampung wisata sedangkan untuk agenda incidental dan agenda khusus ap kelompok dikelola oleh masing-masing pengurus.
b. Kampung Wisata “Art and Heritage Tourism” memiliki daya tarik wisata khususnya untuk wisatawan nusantara dan juga mancanegara.
c. Keterlibatan pelaku ekonomi lokal pendukung kampung wisata masih rela f kecil.
d. Image kampung wisata belum populair di kalangan warga setempat. e. Pengelolaan kampung wisata, belum dilaksanakan secara
professional, belum memiliki personal pengelola yang penuh waktu. f. Kampung wisata belum mampu mengembangkan ekonomi lokal,
walaupun sudah mulai tampak secara embrional khusunya pelaku seni OMM dan Pusposworo pelaku seninya sudah memperoleh penghasilan walaupun jumlahnya masih sangat kecil. Kecuali bagi pengusaha wisata belanja di jalan Rotowijayan mampu meraup keuntungan yang besar dari hasil usahanya.
REKOMENDASI
a. Pengelola Kampung Wisata
1) Menambah frekuensi sosialisasi tentang kegiatan kampung wisata dilingkungan warga Kadipaten, sehingga mereka akan merasa memiliki yang pada akhirnya dapat berpar sipasi dalam mempromosikan kampung wisata di Kadipaten.
2) Perlu membuat agenda pertemuan ru n (secara periodik) yang diiku semua stakeholders pendukung kampung wisata, sehingga terjadi koordinasi antar pusat-pusat kegiatan yang ada di kampung Kadipaten.
4) Untuk menjaga keprofesioanalan dalam pengelolaan kampung wisata perlu petugas yang menangani secara penuh waktu.
5) Perlu mengop malkan penggunaan tempat-tempat cagar budaya seper pojok beteng lor kulon yang dapat menarik wisatawan, seper Alun Alun Kidul yang kini ramai dikunjungi wisatawan.
b. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan
1) Perlu menambah kegiatan pendampingan, dengan memanfaatkan tempat cagar budaya (Pojok Beteng Lor Kulon dan Dalem Kanoman) untuk tempat pamer budaya yang diiku oleh kampung wisata yang lain secara bergan an sekaligus digunakan untuk melaksanakan monitoring
2) Menambah frekuensi kegiatan promosi, khususnya untuk wisatawan mancanegara
c. Pemerintah Kelurahan.
1) Untuk menambah peran pemerintah kelurahan dalam pengembangan ekonomi lokal, khususnya di bidang pariwisata, hendaknya bidang pariwisata masuk ke salah satu seksi yang ada.
2) Pemerintah kelurahan dapat melaksanakan koordinasi terhadap pelaku-pelaku ekonomi yang ada di wilayahnya untuk mengembangkan promosi pariwisata di Kadipaten.
DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Jenderal Pariwisata Republik Indonesia, 2010, Pedoman Koordinasi Perencanaan Pembangunan Pariwisata Daerah, Jakarta.
Friedman, John. 1991. Empowermnet: The poli cs of Alterna ve Development. Blackwell. Cambridge & Oxford. UK