• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH MANAJEMEN KUALITAS AIR Pakan Ala

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH MANAJEMEN KUALITAS AIR Pakan Ala"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

MANAJEMEN KUALITAS AIR

“Pakan Alami (Artemia)”

Oleh:

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah ini yang berjudul “Manajemen kualitas air pakan alami (Artemia)”, yang mana makalah ini disusun bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah manajemen kualitas air dalam menempuh pendidikan di Universitas Tadulako.

Saya menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata kesempurnaan. Oleh karena itu, saya selaku penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari teman-teman pembaca demi kesempurnaan makalah ini, semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua.

Demikian makalah ini saya susun, apabila ada kata-kata yang kurang berkenan penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Palu, April 2018

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... ii

DAFTAR ISI... iii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang... 1

1.2 Tujuan... 2

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Morfologi Artemia Salina... 3

2.2 Nutrisi Artemia... 4

2.3 Budidaya Artemia Outdooor Di Tambak... 5

2.4 Kualitas air... 5

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pakan alami merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi

keberhasilan usaha budidaya ikan. Sebagian besar pakan alami ikan adalah

plankton yaitu fitoplankton dan zooplankton. Pakan alami untuk larva atau benih

ikan mempunyai beberapa kelebihan yaitu ukurannya relatif kecil serta sesuai

dengan bukaan mulut larva dan benih ikan, nilai nutrisinya tinggi, mudah

dibudidayakan, gerakannya dapat merangsang ikan untuk memangsanya, dapat

berkembang biak dengan cepat sehingga ketersediaanya dapat terjamin serta biaya

pembudidayaannya relatif murah. Pakan merupakan unsur terpenting dalam

menunjang pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan. Salah satu pakan alami

yang penting dan cocok untuk kebutuhan larva ikan maupun ikan hias adalah

Artemia salina (Priyambodo dan Triwahyuningsih, 2003).

Artemia merupakan pakan alami yang banyak digunakan dalam usaha

budidaya ikan dan udang, di indonesia belum ditemukan adanya artemia, sehingga

sampai saat ini Indonesia masih mangimpor artemia sebanyak 50 ton/tahun.

Walaupun pakan buatan dalam berbagai jenis telah berhasil dikembangkan dan

cukup tersedia untuk larva ikan dan udang, namun artemia masih tetap merupakan

bagian yang esensial sebagai pakan larva ikan dan udang di unit pembenihan.

Keberhasilan pembenihan ikan bandeng, kakap dan kerapu juga memerlukan

ketersediaan artemia sebagai pakan alami esensialnya, serta dengan adanya

(5)

lebih banyak dibandingkan dengan larva udang, maka kebutuhan kista atemia

akan semakin meningkat (Daulay, 1998).

Artemia merupakan pakan alami yang sangat penting dalam pembenihan ikan

laut, krustacea, ikan konsumsi air tawar dan ikan hias. Ini terjadi karena artemia

memiliki gizi yang tinggi, serta ukurannya sesuai dengan bukaan mulut hampir

seluruh jenis larva ikan (Djarijah, 2003). Kebutuhan artemia pada produksi benih

ikan dan udang skala intensif harus dipenuhi dalam waktu beberapa jam saja

karena laju pencernaan pada larva begitu cepat. Sedangkan dalam waktu normal

penetasan kista artemia dalam air laut adalah 24-36 jam pada suhu 25oC.

Penetasan kista (telur) artemia harus dilakukan dalam waktu yang lebih singkat

dan dalam jumlah yang besar. Sehingga dibutuhkan teknologi terapan yang dapat

memenuhi kebutuhan tersebut, teknologi yang telah berkembang untuk menjawab

tantangan tersebut adalah dekapsulasi kista artemia.

1.2 Tujuan

Adapun tujuannya adalah untuk mengetahui kualitas air yang baik pada

(6)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Morfologi Artemia Salina

Menurut Priyambodo dan Triwahyuningsih (2003) sistematika Artemia

salina adalah sebagai berikut :

Filum : Anthropoda

Kelas : Crustacea

Subkelas : Branchiopoda

Ordo : Anostraca

Family : Artemidae

Genus : Artemia

Spesies : Artemia salina

Gambar 1. Morfologi Artemia (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995)

Kista artemia berbentuk bulat berlekuk dalam keadaan kering dan bulat penuh

dalam keadaan basah. Warnanya coklat yang diselubungi oleh cangkang yang

tebal dan kuat. Cangkang ini berguna untuk melindungi embrio terhadap pengaruh

(7)

(Mudjiman, 2008). Artemia dewasa memiliki ukuran antara 10-20 mm dengan

berat sekitar 10 mg. Bagian kepalanya lebih besar dan kemudian mengecil hingga

bagian ekor. Mempunyai sepasang mata dan sepasang antenulla yang terletak

pada bagian kepala. Pada bagian tubuh terdapat sebelas pasang kaki yang disebut

thoracopoda.

Alat kelamin terletak antara ekor dan pasangan kaki paling belakang. Salah

satu antena artemia jantan berkembang menjadi alat penjepit, sedangkan pada

betina antena berfungsi sebagai alat sensor. Jika kandungan oksigen optimal,

maka artemia akan berwarna kuning atau merah jambu. Warna ini bisa berubah

menjadi kehijauan apabila mereka banyak mengkonsumsi mikroalga. Pada

kondisi yang ideal seperti ini, artemia akan tumbuh dengan cepat (Priyambodo

dan Triwahyuningsih, 2003).

2.2 Nutrisi Artemia

Artemia merupakan salah satu pakan alami hidup yang paling banyak

digunakan sebagai pakan larva dalam usaha budidaya, kandunga nutrisi artemia

cukup tinggi yaitu protein 40-60%, karbohidrat 15-20%, lemak 15-20%, abu

3-4%, dan air 1-10%. Kandungan protein mencapai 60% dengan kandungan asam

amino esensial yang lengkap dalam jumlah tinggi. Artemia salina pada umur 1

hari terdapat kandungan asam amino prolin, isoleusin, lisin, dan asam glutamate

yang tinggi, sedangkan pada artemia dewasa umur 30 hari terdapat kandungan

(8)

2.3 Budidaya Artemia Outdoor Di Tambak

Pada dasarnya tambak untuk budidaya artemia terdiri atas tiga bagian, yaitu

petak tendon, petak penguapan, dan petak tambak budidaya, dalam budidaya

artemia ini air laut (salinitas 30-35 ppt) dialirkan ke petakan tendon dengan

kedalaman 60-100 cm menggunakan pompa air. Selanjutnya dari petakan tendon

dialirkan ke petak penguapan sehingga salinitas mencapai 70 ppt dan kemudian

dialirkan ke petak pemeliharaa dengan kedalaman sekitar 40-60 cm (Wibowo

dkk., 2013).

2.4 Kualitas Air

Beberapa sifat fisika air yang berpengaruh dalam budidaya artemia terutama

suhu dan kecerahan air. Suhu air yang optimal yang diperlukan unutk budidaya

artemia adalah suhu optimal untuk pertumbuhan artemia yaitu 20-30%. Artemia

tidak dapat bertahan hidup pada suhu air rendah ayitu kurang dari 6 oC atau suhu

lebih dari 35 oC, tetapi masih dapat bertoleransi pada suhu air 30-34 oC(Wibowo

dkk., 2013).

Artemia sp. secara umum tumbuh dengan baik pada kisaran suhu 25-30 oC.

Kista artemia kering tahan terhadap suhu -273 hingga 100 oC. Artemia dapat

ditemui di danau dengan kadar garam tinggi, disebut dengan brain shrimp. Kultur

biomasa artemia yang baik pada kadar garam 30-50 ppt. Untuk artemia yang

mampu menghasilkan kista membutuhkan kadar garam diatas 100 ppt (Isnansetyo

dan Kurniastuty, 1995). Faktor lain yang penting adalah pH, cahaya, dan oksigen.

Nilai pH berkisar antara 8-9 merupakan nilai yang paling baik, sedangkan pH di

(9)

diperlukan dalam proses penetasan akan sangat menguntungkan bagi

(10)

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Artemia merupakan salah satu pakan alami hidup yang paling banyak

digunakan sebagai pakan larva dalam usaha budidaya, kandunga nutrisi artemia

cukup tinggi yaitu protein 40-60%, karbohidrat 15-20%, lemak 15-20%, abu

3-4%, dan air 1-10%. Kandungan protein mencapai 60% dengan kandungan asam

amino esensial yang lengkap dalam jumlah tinggi. Artemia sp. secara umum

tumbuh dengan baik pada kisaran suhu 25-30 oC. Kista artemia kering tahan

terhadap suhu -273 hingga 100 oC. Artemia dapat ditemui di danau dengan kadar

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Daulay, T., 1998. Artemia Salina (Kegunaan, Biologi dan Kulturnya). INFIS Manual Seri No.12. Direktorat Jendral Perikanan dan International Development Research, Jakarta.

Djarijah, Abbas Siregar. 2003. Pakan Ikan Alami. Kanisius, Yogyakarta.

Isnansetyo dan Kurniastuty. 1995. Teknik Kultur Phytoplankton dan Zooplankton. Pakan Alami Untuk Pembenihan Organisme Laut. Kanasius, Yogyakarta.

Jusadi, Dedy. 2003. Modul Penetasan Artemia. Direktorat Pendidikan Menengah Kejuruan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.

Mudjiman, A. 2008. Makanan Ikan Edisi Revisi. Penebar Swadaya, Jakarta.

Priyambodo dan Wahyuningsih, Tri. 2003. Budidaya Pakan Alami Untuk Ikan. Jakarta : Penebar Swadaya Sumeru, Sri Umiyati, Ir. 2008. Produksi Biomassa Artemia. diakses tanggal 15 November 2008.

Gambar

Gambar 1. Morfologi Artemia (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995)

Referensi

Dokumen terkait

Dengan adanya Perancangan Interior Pusat Informasi Ikan Hias Air Tawar ini kegiatan – kegiatan yang berhubungan dengan ikan hias air tawar dan dilihat dari

Pembenihan ikan air tawar Politani Pangkep meliputi perencanaan pembenihan ikan Nila, persiapan kolam pemeliharaan induk, proses pematangan gonad, seleksi induk

arsitektur untuk kegiatan dalam pusat rekreasi dan pembenihan ikan

Pembenihan ikan air tawar Politani Pangkep meliputi perencanaan pembenihan ikan Nila, persiapan kolam pemeliharaan induk, proses pematangan gonad, seleksi induk

Cacing sutera merupakan pakan alami yang sering digunakan dalam pembudidayaan ikan hias, hal ini dikarenakan cacing sutera tersebut memiliki kandungan protein yang

Ikan Hias adalah jenis ikan baik yang berhabitat di air tawar maupun di laut yang dipelihara bukan untuk konsumsi melainkan untuk memperindah taman/ruang tamu.Banyak orang

4 Hasil pengukuran kualitas air wadag pemeliharaan larva 33 5 Jadwal pemberian pakan larva ikan bawal air tawar 35 6 Hasil pengukuran kualitas air wadah pembesaran ikan bawal

Dua permasalahan yang dihadapi pada budi daya ikan bandeng secara intensif, yaitu ketergantungan usaha pembenihan pada pakan alami, akibat rendahnya kemampuan larva ikan