• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahap Pengembangan Pemikiran Ekonomi Isl

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Tahap Pengembangan Pemikiran Ekonomi Isl"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Al-Qur’an dan Sunnah merupakan sumber utama hukum atau aturan-aturan yang berlaku bagi seluruh umat manusia. Di dalam kedua sumber tersebut terdapat

prinsip-prinsip hidup bagi umat manusia dalam menjalankan tugasnya sebagai khalifah

di bumi.

Dalam ranah ekonomi, al-Qur’an dan Sunnah juga mengatur prinsip-prinsip yang harus di patuhi oleh manusia. Dengan pemikiran yang merupakan proses berpikir

manusia dan kemudian al-Qur’an dan Sunnah menuntun dalam jalannya pengaplikasian pemikiran mereka.

Sejak awal berdirinya Islam, pemikiran tenang ekonomi telah diatur secara

umum, dan para cendekiawan muslim menggunakan prinsip-prinsip yang telah ada

untuk memecahkan masalah yang ada. Selain itu, para cendekiawan muslim juga

mencari sumber-sumber pengetahuan yang datangnya dari luar Islam yang kemudian

diambil manfaatnya yang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam.

Banyak karya-karya pemikir muslim yang di gunakan dalam pengembangan

ilmu pengetahuan pada umumnya dan pengembangan ilmu ekonomi pada khususnya.

Hingga sekarang hasil karya mereka memberikan manfaat yang besar hingga hari ini.

Bentuk pemikiran para cendekiawan muslim dalam ekonomi tidak serta merta

ada begitu saja, semuanya melalui proses yang panjang yang diawali sejak berdirinya

Islam, pentransferan ilmu pengetahuan diabad pertengahan memberikan konstribusi

(2)

Beberapa literatur menyebutkan tahapan perkembangan pemikiran ekonomi

Islam terbagi tiga periode yaitu periode pertama/fondasi (Masa awal Islam – 450 H/1058 M), periode kedua (450 H – 850 H/ 1058 M – 1446 M) dan periode ketiga (850 H – 1350 H/ 1446 M – 1932 M).1

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana perkembangan pemikiran ekonomi Islam pada periode pertama?

2. Bagaimana perkembangan pemikiran ekonomi Islam pada periode kedua?

3. Bagaimana perkembangan pemikiran ekonomi Islam pada periode ketiga?

C. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui dan memahami perkembangan pemikiran ekonomi Islam pada

periode pertama.

2. Mengetahui dan memahami perkembangan pemikiran ekonomi Islam pada

periode kedua.

3. Mengetahui dan memahami perkembangan pemikiran ekonomi Islam pada

periode ketiga.

1Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam, Ekonomi Islam (Cet. IV; Jakarta:

(3)

3 BAB II

TAHAP PENGEMBANGAN PEMIKIRAN EKONOMI ISLAM

Telah di ketahui bersama bahwa dalam prinsip ekonomi Islam manusia hanya

sebagai khalifah atau wakil Allah swt. di muka bumi. Hal ini telah tertuang dalam ayat

al-Qur’an QS An-Najm/53: 31.

ّٰ ّل َو اَم ممَسلا ىّف و ۗ ّض ارَ اْا ىّف اَم َو ّت

“Dan milik Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.”2

Berdasarkan ayat di atas tentunya manusia akan berhati-hati dalam mengelola

hartanya yang sesungguhnya adalah milik Allah swt.. Dalam sejarahnya, para

cendekiawan muslim akan memberikan pemikiran-pemikiran mereka sejalan dengan

prinsip-prinsip di dalam al-Qur’an dan Sunnah.

Dalam tahapan pengembangan pemikiran ekonomi Islam, seperti yang di

sebutkan sebelumnya terdapat tiga tahap pengembangan pemikiran ekonomi Islam

yang penulis dapatkan di beberapa literatur. Penjelasannya adalah sebagai berikut:

A. Periode Pertama/F ondasi (Masa Awal Islam 450 H/1058 M)

1. Perekonomian pada masa Rasulullah saw.

Perekonomian di masa Rasulullah saw. merupakan fondasi awal bedirinya

ekonomi Islam. Rasulullah mengajarkan dan mengaplikasikan prinsip-prinsip dasar

perekonomian yang adil dan bermoral.

Meskipun perekonomian pada masa Rasulullah saw. relatif masih sederhana,

tetapi beliau telah menunjukkan prinsip-prinsip yang mendasar bagi pengelolaan

ekonomi. Karakter umum dari perekonomian pada masa itu adalah komitmennya yang

(4)

tinggi terhadap etika dan norma, serta perhatiannya yang besar terhadap keadilan dan

pemerataan kekayaan. Usaha-usaha ekonomi harus di lakukan secara etis dalam

bingkai syariah Islam, sementara sumber daya ekonomi tidak boleh menumpuk pada

segelintir orang melainkan harus beredar bagi kesejahteraan seluruh umat. Pasar

menduduki peranan penting sebagai mekenisme ekonomi, tetapi pemerintah dan

masyarakat juga bertindak aktif dalam mewujudkan kesejahteraan dan menegakkan

keadilan.3

Tabel 2.1.

Sumber-sumber Pendapatan pada Masa Rasulullah saw.4

Dari kaum Muslim Dari kaum non-Muslim Umum

a. Zakat

3Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam, Ekonomi Islam, h.98.

(5)

Tabel 2.2

Pengeluaran Negara5

Primer Sekunder

a. Biaya pertahanan, seperti; persenjataan, unta, kuda, dan

a. Bantuan untuk orang yang belajar agama di madinah.

b. Hiburan untuk para delegasi keagamaan. c. Hiburan untuk para utusan suku dan negara

serta biaya perjalanan mereka. Pengeluaran untuk duta-duta negara.

d. Hadiah untuk pemerintah negara lain. e. Pembayaran untuk pembebasan kaum

Muslimin yang menjadi budak.

f. Pembayaran denda atas mereka yang terbunuh secara tidak sengaja oleh pasukan Muslim.

g. Pembayaran utang orang yang meninggal dalam keadaan miskin.

h. Pembayaran tunjangan untuk orang miskin. i. Tunjangan untuk sanak saudara Rasulullah

saw.

j. Pengeluaran rumah tangga Rasulullah saw. (hanya sejumlah kecil; 80 butir kurma dan 80 butir gandum untuk setiap istrinya.) k. Persediaan darurat.

2. Perekonomian pada masa Khulafaurrasyidin

a. Abu Bakar as-Shiddiq

Pada masa pemerintahan Abu Bakar as-Shiddiq, pemerintah disibukkan dengan

memerangi orang-orang yang enggan membayar zakat. Di dalam buku Rozalinda

menyebutkan zakat di samping kewajibann agama ia juga menjadi instrumen penting

dalam sumber pendapatan negara dalam Islam. Jika mani’ zakat (orang-orang yang

(6)

enggan membayar zakat) dibiarkan saja, tentu akan menimbulkan masalah terhadap

keuangan negara. Kebijakan fiskal pada masa Abu Bakar as-Shiddiq masih

melanjutkan apa yang dulu telah ada pada masa Rasulullah saw.. Pola pendistribusian

pada masanya adalah pola pendistribusian langsung. Dalam mendistribusikan harta

baitul mal, Abu Bakar menerapkan prinsip kesamarataan, kaum muslimin di berikan

bagian yang sama dari hasil pendapatan negara tanpa melihat status dan

kedudukannya.6

Dari penjelasan di atas diketahui bahwa kebijakan keuangan pada pemerintahan

khalifah pertama Abu Bakar as-Shiddiq relatif sama dengan masa Rasulullah saw.

tetapi di masa pemerintahannya terjadi pemberontakan dari orang-orang yang enggan

membayar zakat dan perlu untuk diselesaikan karena akan mengganggu kestabilan

negara.

b. Umar bin Khattab

Berbeda dengan masa pemerintahan sebelumnya, di masa pemerintahan

khalifah Umar bin Khattab melakukan perluaran wilayah di sekitar jazirah arab yang

menyebabkan pendapatan negara meningkat.

Dalam melakukan pengelolaan negara, Umar selalu bermusyawarah dengan

para sahabat. Kebijakan yang di tempuh oleh pemerintahan Umar adalah tidak

mendistribusikan harta baitul mal sekaligus, tetapi dikeluarkan secara bertahap sesuai

dengan kebutuhan.7

6Rozalinda, Ekonomi Islam: Teori dan Aplikasinya pada Aktivitas Ekonomi (Cet. I; Jakarta:

Rajawali Pers, 2014), h.55.

(7)

c. Usman bin Affan

Dalam pendistribusian harta baitul mal beliau tetap mempertahankan sistem

pemberian bantuan dan santunan serta memberikan sejumlah besar uang kepada

masayarakat yang berbeda-beda, meskipun meyakini prinsip persamaan dalam

memenuhi kebutuhan pokok masyarakat, beliau memberikan bantuan yang berbeda

pada tingkat yang lebih tinggi.8

Masa pemerintahan Usman bin Affan yang berlangsung selama dua belas tahun.

Di enam tahun pertama pemerintahan Usman bin Affan berhasil menata

pemerintahannya tetapi pada enam tahun terakhir masa pemerintahannya di warnai

dengan nepotisme, korupsi dan pemberontakan.

d. Ali bin Abi Thalib

Setelah diangkat sebagai Khalifah Islam keempat oleh segenap kaum Muslimin,

Ali bin Abi Thalib langsung mengambil beberapa tindakan, seperti memberhentikan

pejabat yang korup, membuka kembali lahan perkebunan yang telah diberikan kepada

orang-orang kesayangan Usman, dan mendistribusikan pendapatan pajak tahunan

sesuai dengan ketetapan yang telah ditetapkan Umar bin Khattab. Masa

pemerintahannya yang berlangsung selama enam tahun selalu diwarnai dengan

ketidakstabilan politik. Ia harus menghadapi pemberontakan Thalhah, Zubair ibn

al-Awwam dan Aisyah yang menuntut kematian Usman. Berbagai kebijakan tegas yang

diterapkannya menimbulkan api permusuhan dengan keluarga Bani Umayyah yang di

motori oleh Muawiyah bin Abi Sofyan.9 Selain itu juga khalifah Ali bin Abi Thalib

8Adiwarman A. Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, (Ed. III; Jakarta: PT. RajaGrafindo

Persada, 2012), h. 79-80.

(8)

harus meredam pemberontakan dari kaum Khawarij yang keluar dari barisannya

selama perang melawan Muawiyah bin Abi Sofyan.

3. Perekonomian masa tabi’in dan setelahnya a. Zaid bin Ali (80 – 120 H/ 699 – 738 M)

Zaid bin Ali merupakan seorang fukaha yang terkenal di Madinah. Beliau

berpandangan bahwa penjualan suatu barang secara kredit dengan harga yang lebih

tinggi daripada harga tunai merupakan salah satu bentuk transaksi yang sah dan dapat

dibenarkan selama transaksi tersebut dilandasi oleh prinsip saling ridha antar kedua

belah pihak.10

b. Abu Hanifah (80 – 150 H/ 699 – 767 M)

Salah satu kebijakan Abu Hanifah adalah menghilangkan ambiguitas dan

perselisihan dalam masalah transaksi; hal ini merupakan salah satu tujuan syariah

dalam hubungannya dengan jual beli. Pemikiran Abu Hanifah adalah beliau tidak

membebaskan perhiasan dari zakat dan akan membebaskan kewajiban membayar zakat

bagi pemilik harta yang dililit hutang. Beliau tidak memperbolehkan pembagian hasil

panen (muzara’ah) dari penggarap kepada pemilik tanah dalam kasus tanah yang tidak

menghasilkan apapun.11

c. Abu Yusuf (113 – 182 H/ 731 – 798 M)

Abu Yusuf menekankan pentingnya sifat amanah dalam mengelola uang

negara. Beliau juga sangat menentang pajak atas tanah pertanian dan mengusulkan

penggantian sistem pajak tetap (lump sum system) atas tanah menjadi sistem pajak

proporsional (proportional system) atas hasil pertanian. Selain itu, menurutnya negara

10Adiwarman A. Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, h. 12.

(9)

memiliki peranan besar dalam menyediakan barang/fasilitas publik, yang dibutuhkan

dalam membangun ekonomi, seperti: jalan, jembatan, bendungan dan irigasi. Dalam

aspek mikro ekonomi, beliau juga telah mengkaji, bagaimana mekanisme harga bekerja

dalam pasar, kontrol harga, serta apakah pengaruh berbagai perpajakan terhadapnya.12

d. Muhammad bin Hasan al-Syaibani (132 – 189 H/ 750 – 804 M)

Dalam risalahnya yang berjudul al-iktisab fi ar-Rizq al-Mustathab membahas

pendapatan dan belanja rumah tangga. Beliau menguraikan perilaku seorang Muslim

yang baik serta keutamaan orang yang suka berderma dan tidak suka

meminta-meminta. Beliau mengklasifikasikan jenis pekerjaan kedalam empat hal yaitu ijarah

(sewa-menyewa), tijarah (perdagangan), zira’ah (pertanian), shina’ah (industri).

Dalam risalahnya yang lain kitab al-Asl, beliau telah membahas masalah kerja sama

usaha dan bagi hasil.13

e. Abu Ubaid al-Qosim ibn Salam (w. 224 H/ 838 M)

Buku yang berjudul al-Amwal ditulis oleh Abu Ubaid al-Qasim ibn Salam

merupakan suatu buku yang membahas keuangan publik/ kebijakan fiskal secara

negara, pengumpulan dan penyaluran zakat, khums, kharaj, fay dan berbagai sumber

penerimaan negara lainnya.14

f. Harith bin Asad al-Muhasibi (w. 243 H/ 859 M)

Beliau menulis buku berjudul al-Makasib yang membahas cara-cara

memperoleh pendapatan sebagai mata pencaharian melalui perdagangan, industri dan

kegiatan ekonomi produktif lainnya. Pendapatan ini harus diperoleh secara baik dan

12Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam, Ekonomi Islam, h. 107.

13Adiwarman A. Karim, Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam, h. 16.

(10)

tidak melampaui batas/berlebihan. Laba dan upah tidak boleh dipungut atau dibayarkan

secara zalim, sementara menarik diri dari kegiatan ekonomi bukanlah sikap Muslim

yang benar-benar Islami. Beliau menganjurkan agar masyarakat harus saling kerjasama

dan mengutuk sikap pedagang yang melanggar hukum demi mencari keuntungan.15

g. Ibnu Miskawaih (w. 421 H/ 1030 M)

Salah satu pandangannya yang terkait dengan aktivitas ekonomi adalah tentang

pertukaran dan peranan uang. Beliau menyatakan bahwa manusia merupakan mahluk

sosial dan tidak bisa hidup sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia

harus bekerja sama dan saling membantu dengan sesamanya.16

h. Mawardi

Gagasannya tentang ekonomi dapat dilihat dalam kitabnya al-Ahkam

as-Sultaniyyah, berbicara tentang pemerintah dan administrasi yang berhubungan dengan

kewajiban pemimpin, pendapatan, pengeluaran publik dan pengawasan pasar.

Menurutnya ada empat lapangan usaha untuk mencari nafkah yaitu pertanian,

perternakan, perdagangan dan industri. Mencari nafkah yang lebih cukup untuk

memenuhi kebutuhan seseorang bisa dibenarkan, dengan tujuan untuk pengeluaran

hal-hal baik. Namun mencari nafkah untuk menimbun kekayaan dan sombong terhadap

orang lain adalah hal yang buruk.17

15Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam, Ekonomi Islam, h. 108.

16Amirudin K.,Dasar-Dasar Ekonomi Islam (Cet I; Makassar: Alauddin Press, 2014), h. 209.

17Akhmad Mujahidin, Ekonomi Islam: Sejarah, Konsep, instrumen, Negara dan Pasar (Cet II;

(11)

B. Periode Kedua (450 H – 850 H/ 1058 M – 1446 M)

Fase kedua yang dimulai abad ke-11 hingga abad ke-15 masehi juga telah

melahirkan para pemikir-pemikir ekonomi Islam. Di dalam buku yang disusun oleh

Muslimin dkk. Menyebutkan bahwa fase ini dikenal sebagai fase yang cemerlang

karena meninggalkan warisan intelektual yang sangat kaya.18 Di antara

pemikir-pemikir ekonomi Islam pada masa itu adalah sebagai berikut:

1. Al-Ghazali (451 – 505 H/ 1055 – 1111 M)

Menurut beliau, seseorang harus memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya dalam

rangka melaksanakan kewajiban kepada Allah swt.. Seluruh aktivitas kehidupannya,

termasuk ekonomi harus dilaksanakan sesuai dengan syariah Islam. Ia tidak boleh

bersifat kikir dan boros. Selain itu beliau juga memberikan nasihat kepada para

penguasa agar selalu memperhatikan kebutuhan rakyatnya serta tidak berprilaku zalim

kepada mereka. Dalam hal pajak, beliau bisa menoleransi penggunaan pajak jika

pengeluaran untuk pertahanan dan sebagainya tidak tercukupi dari kas Negara yang

telah tersedia. Bahkan, negara diperkenankan melakukan peminjaman. Selain di atas,

beliau juga mengemukakan pelarangan riba fadhl karena melanggar sifat dan fungsi

uang, serta mengutuk mereka yang melakukan penimbunan uang dengan dasar uang

itu sendiri dibuat untuk memudahkan pertukaran.19

2. Ibnu Taimiyah (661 – 728 H/ 1263 – 1328 M)

Fokus perhatian Ibnu Taimiyah terletak pada masyarakat, fondasi moral dan

bagaimana mereka harus membawakan dirinya sesuai dengan syariah. Dalam transaksi

18Muslimmin, dkk., Pengantar Ekonomi Islam, (Makassar: Alauddin Pers, 2009), h. 35.

(12)

ekonomi fokus beliau tertuju pada keadilan hanya dapat terwujud jika semua akad

berdasarkan pada kesediaan menyepakati pada semua pihak. Selain itu pandangannya

tentang kewajiban publik juga meliputi pembahasan tentang pengaturan uang,

peraturan tentang timbangan dan ukuran, pengawasan harga, serta pertimbangan

pengenaan pajak yang tinggi dalam keadaan darurat.20

3. Ibnu Khaldun (732 – 808 H/ 1332 – 1404 M)

Secara umum Ibnu Khaldun sangat menekankan pentingnya suatu sistem pasar

yang bebas. Beliau menentang intervensi negara terhadap masalah ekonomi dan

percaya akan efisiensi sistem pasar bebas. Selain itu beliau berpandangan bahwa

penduduk merupakan faktor penting yang mendorong perdagangan internasional.

Dengan jumlah penduduk yang besar maka akan terjadi pembagian dan spesialisasi

tenaga kerja, sehingga akan memperbesar surplus dan perdagangan internasional.

Selain itu pandangan beliau tentang emas dan perak sebagai alat ukur nilai dari

berbagai komuditas.21

4. Nasiruddin Tusi (w. 485 H/ 1093 M)

Beliau menyatakan bahwa spesialisasi dan pembagian tenaga kerja telah

menciptakan surplus ekonomi sehingga memungkinkan terciptanya kerja sama dalam

masyarakat untuk saling menyediakan barang dan jasa kebutuhan hidup. Beliau sangat

menekankan pentingnya tabungan dan mengutuk konsumsi yang berlebihan dan serta

pengeluaran-pengeluaran untuk aset-aset yang tidak produktif. Beliau memandang

pentingnya pembangunan pertanian sebagai fondasi pembangunan ekonomi secara

keseluruhan dan untuk menjamin kesejahteraan masayarakat. Beliau juga

20Amirudin K.,Dasar-Dasar Ekonomi Islam, h. 211-212.

(13)

merekomendasikan pengurangan pajak, di mana berbagai pajak yang tidak sesuai

dengan syariah Islam harus dilarang.22

5. Al-Maqrizi (w. 845 H/ 1441 M)

Al-Maqrizi melakukan studi khusus tentang uang dan kenaikan harga-harga

yang terjadi secara periodik dalam keadaan kelaparan dan kekeringan, selain itu beliau

juga mengidentifikasi tiga sebab dari masalah ini yaitu korupsi dan administrasi yang

buruk, beban pajak yang berat terhadap para penggarap dan kenaikan pasokan mata

uang fulus. Beliau menegaskan bahwa uang emas dan perak merupakan satu-satunya

mata uang yang dijadikan standar nilai sebagaimana yang ditentukan syariah,

sedangkan penggunaan fulus sebagai mata uang dapat menimbulkan kenaikan

harga-harga, fulus dapat diterima jika dibatasi penggunaannya yakni pada transaksi yang

berskala kecil. 23

C. Periode Ketiga (850 H – 1350 H/ 1446 M – 1932 M)

Di dalam bukunya Adiwarman A. Karim menjelaskan bahwa masa ini dikenal

dengan fasek stagnasi atau fase dimana tertutupnya pintu ijtihad. Pada fase ini para

fuqaha hanya menulis catatan-catatan para pendahulunya dan mengeluarkan fatwa

yang sesuai dengan aturan standar bagi masing-masing mazhab. Namun terdapat

gerakan pembaharu selama dua abad terakhir yang menyeru untuk kembali kepada

al-Qur’an dan hadis nabi sebagai sumber pedoman hidup. Tokoh-tokoh pemikir ekonomi

Islam pada fase ini antara lain diwakili oleh Shah Wali Allah dan Muhammad Iqbal.24

22Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam, Ekonomi Islam, h. 114.

23Amirudin K.,Dasar-Dasar Ekonomi Islam, h. 212-213.

(14)

1. Shah Wali Allah (1114 – 1176 H/ 1703 – 1762 M)

Beliau berpendapat bahwa manusia adalah mahluk sosial, kesejahteraan

manusia terletak pada kerja sama yang terjadi pada berbagai bentuk seperti tukar

menukar, kontrak bagi hasil, pembagian hasil panen. Perjudian dan segala bentuk riba

melanggar semangat kerja sama tersebut. Beliau juga membicarakan faktor produksi

yaitu sumber alam, khususnya tanah yang menurutnya harus dibagi secara adil. Selain

itu beliau juga menganalisis penyebab kemunduran dan kemiskinan negara. Beliau

menemukan kemewahan hidup, korupsi, pelayanan masyarakat yang tidak efisien, gaji

pegawai yang tinggi, pemungutan pajak yang menekan. Semua ini menyebabkan orang

kehilangan semangat kerja dan akhirnya hasil produksi menurun.25

2. Muhammad Iqbal (1289 – 1356 H/ 1873 – 1938 M)

Dalam karyanya Puisi dari Timur, beliau menunjukkan tanggapan Islam

terhadap kapitalisme barat dan reaksi ekstrem dari komunisme. Beliau menganalisis

dengan tajam kelemahan kapitalisme dan komunisme dan menampilkan suatu

pemikiran ‘poros tengah’ yang dibuka oleh Islam. Keadilan sosial merupakan aspek

yang mendapat perhatian besar darinya, dan beliau menyatakan bahwa negara memiliki

tugas yang besar untuk mewujudkan keadilan sosial ini. Zakat yang hukumnya wajib

dalam Islam, dipandang memiliki posisi yang strategis bagi penciptaan masyarakat

yang adil.26

25Akhmad Mujahidin, Ekonomi Islam: Sejarah, Konsep, instrumen, Negara dan Pasar , h. 11.

(15)

15 BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Pada periode pertama yaitu pada masa Rasulullah saw. perekonomian saat itu

masih relatif sederhana, pada saat itu merupakan fondasi awal dibangunnya

perekonomian Islam berlandaskan al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw.. Dimasa khulafaurrasyidin perekonomian Islam mengalami peningkatan

dengan bertambahnya jumlah kas baitul mal dan permasalahan perekonomian

yang lebih kompleks, sehingga para khalifah saat itu mengambil tindakan

mengeluarkan kas negara dengan skala prioritas. Setelah masa

khulafaurrasyidin berakhir, muncul pemikir-pemikir ekonomi Islam dari

kalangan tabi’in dan di bawahnya. Seperti Zaid bin Ali yang berbicara tentang

kredit atau Abu Hanifah yang berbicara tentang penghilangan ambiguitas

dalam bertransaksi.

2. Diperiode kedua, masa ini dikenal sebagai fase kecemerlangan di mana

banyak pemikir-pemikir ekonomi Islam yang meninggalkan warisan

intelektual yang sangat kaya. Seperti Al-Ghazali, Ibnu Taimiyah, Ibnu

Khaldun dll.

3. Diperiode ketiga, masa ini dikenal sebagai masa stagnasi. Pada masa ini para

fukaha hanya mencatat kembali catatan para pendahulunya dan mengeluarkan

fatwa yang sesuai dengan aturan masing-masing mazhab. Tetapi pada masa

itu muncul beberapa pemikir-pemikir Islam yang menyeru untuk kembali

(16)

B. Implikasi

Dengan kayanya warisan intelektual pemikir-pemikir ekonomi Islam pada saat

itu, tidak terlepas dari pentransferan ilmu pengetahuan dari pemikir-pemikir

non-muslim. Baru setelah itu masuklah masa kememasan Islam dengan kemudian di

lanjutkan dengan pentransferan kembali ilmu pengetahuan ke dunia barat yang

membawa termasuk pemikiran-pemikiran ekonomi para cendekiawan Islam

(17)

17

DAFTAR PUSTAKA

Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam. Ekonomi Islam. Cet. IV; Jakarta: Rajawali Pers, 2012.

Kementerian Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Bandung: Cordoba, 2017.

Rozalinda. Ekonomi Islam: Teori dan Aplikasinya pada Aktivitas Ekonomi. Cet. I; Jakarta: Rajawali Pers, 2014.

Karim, Adiwarman A.. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Ed. III; Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2012.

K. Amirudin. Dasar-Dasar Ekonomi Islam. Cet I; Makassar: Alauddin Press, 2014.

Mujahidin, Akhmad. Ekonomi Islam: Sejarah, Konsep, instrumen, Negara dan Pasar. Cet II; Jakarta: Rajawali Pers, 2013.

Gambar

Tabel 2.1.

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian didapatkan 6 tema utama yang terdapat dalam pengalaman pasien kanker stadium lanjut yang menjalani kemoterapi yaitu: pengetahuan tentang kemoterapi,

Berdasarkan hasil penelitian peneliti berkaitan dengan kebijakan Pemerintah Daerah Kabupaten Kubu Raya tersebut, bahwa kebijakan Penataan Pedagang Kaki Lima

tujuan pembelajaran dinilai sangat baik seperti 57.7% dari 26 siswa, dinilai baik sekitar. 42.3% dari

Pada penelitian hubungan antara status identitas dengan harapan remaja, status identitas vokasional mengarah pada konsep Marcia (1993), yaitu kemampuan peserta didik dalam

Baca petikan di bawah dengan telitinya, kemudian buat satu rumusan tentang langkah- langkah meningkatkan pencapaian mata pelajaran Sains dan Matematik dan kebaikan

bahwa dengan memberikan kesempatan melakukan kontak kulit ke kulit antara ibu dan bayi segera saat di meja operasi dapat memberikan rasa nyaman pada ibu serta

Oleh karena itu, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk melatih petani gaharu di Desa Pejaring mengaplikasikan teknologi bio-induksi sebagai

In the context of Islamic education, religious moral values ( Akhlâq al-karîmah ) into core and an integral part in every movement an effort that is structurally formal education is