• Tidak ada hasil yang ditemukan

Evaluasi Skala Pelayanan Prasarana Pendi (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Evaluasi Skala Pelayanan Prasarana Pendi (1)"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

156 JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 6, No.2 – 2012 ISSN 1978 - 5658

EVALUASI SKALA PELAYANAN PRASARANA PENDIDIKAN

SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN DI KOTA BATU

Joko Santoso, Suhardjono, Septiana Hariyani

Minat Perencanaan Pendidikan, Program Studi Teknik Sipil , Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya Malang

Jl. Mayjen Haryono 167, Malang 65145 – Telp. (0341) 567886, Indonesia E-mail : [email protected]

ABSTRAK

Studi evaluasi skala pelayanan prasarana Sekolah Menengah Kejuruan di Kota Batu dengan analisis diskriptif kondisi eksisting 11 sekolah SMK dengan Permendiknas Standar sarana dan prasarana SMK/MAK Tahun 2008. Hasil yang diperoleh dari studi penelitian 11 SMK di Kota Batu, 3 SMK Negeri dan 8 SMK Swasta dengan berbagai 32 Kompetensi Keahlian, kondisi prasarana pendidikan dengan lahan terluas adalah SMKN 2 seluas 10.500 m2, sedangkan luas lahan terkecil adalah SMK Islam Batu seluas 730 m2. Untuk pelayanan lahan dan bangunan memenuhi lahan, aksesibilitas mudah, menyediakan ruang yang sesuai standar, memiliki ketersediaan listrik minimal 2200 watt dan kondisi bangunan tidak membahayakan yaitu terdapat 18% SMK di Kota Batu tingkat pelayanan akan lahan rendah, 18% tingkat pelayanan akan lahan sangat tinggi, sedangkan 55% memiliki tingkat pelayanan cukup, dan 9% memiliki tingkat pelayanan lahan dan bangunan tinggi. Tingkat Pelayanan prasarana umum terdiri; Ruang Kelas, Perpustakaan dan Laboratorium Biologi, Kimia, IPA, Komputer, Bahasa dan Gambar Teknik SMK Kota Batu 73% Rendah, sedang 18 % dan 9% sangat rendah.Tingkat Pelayanan Ruang pembelajaran Penunjang 27% rendah, 64% sedang dan 9% tinggi. Rata-Rata tingkat pelayanan prasarana 11 SMK di Kota Batu sedang, dan satu SMK pelayanan prasarana tinggi yaitu SMK Islam Batu. 11 Kepala sekolah SMK di Kota Batu menyampaikan evalusi diri prasarana sekolah, Dinas Pendidikan Kota Batu menindaklanjuti dan mengevaluasi secara mendalam sesuai renstra Dinas Pendidikan Kota Batu untuk memenuhi standar pelayanan minimal SMK.

Kata kunci : evaluasi, pendidikan menengah kejuruan, Kota Batu

PENDAHULUAN

Perkembangan industri pariwisata Kota Batu yang meningkat, sangat berdampak pada peningkatan pertumbuhan ekonominya.

Oleh karena, dalam rangka menunjang pertumbuhan ekonomi, penting sekali adanya pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan, SMK sebagai salah satu penyedia sumber daya manusia muda yang terampil yang mampu menciptakan industri kreatif sebagai upaya memenuhi kebutuhan akan kompetisi kebutuhan sumber daya manusia di dunia industri dan mengurangi pengangguran. SMK di Kota Batu terhitung Tahun 2011 ada 12 Sekolah, dengan status 11 yang sudah mendapat izin penyelenggaraan, 1 masih dalam proses pengurusan izin

penyelenggaraan. Sedangkan Program Keahlian berbagai spesifikasi kejuruan mulai dari Program Keahlian Seni, Kerajinan dan pariwisata, Program Keahlian Bisnis dan Manajemen, dan Kelompok Tekhnologi yang kesemuanya menunjang pengembangan Kota Batu sebagai Kota Wisata.

Upaya Kota Batu untuk menyediakan SMK sebagai salah satu sekolah tingkat menengah kejuruan yang memiliki ketrampilan khusus banyak terkendala dengan ketidakmampuan beberapa sekolah dalam menyediakan sarana dan prasarana yang sesuai dengan standar pelayanan minimal kebutuhan pendidikan SMK.

(2)

157 JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 6, No.2 – 2012 ISSN 1978 - 5658

1) Ingin mengetahui kondisi prasarana pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan di Kota Batu.

2) Ingin mengevaluasi skala pelayanan prasarana Sekolah Menengah Kejuruan di Kota Batu dibandingkan dengan Permendiknas Standar sarana dan prasarana SMK/MAK Tahun 2008. 3) Ingin memberikan rekomendasi sebagai

upaya peningkatan pelayanan prasarana sekolah menengah kejuruan di Kota Batu.

Evaluasi

Evaluasi adalah pengumpulan dan penggunaan informasi guna pengambilan keputusan. Evaluasi berasal dari kata bahasa inggris “evaluation” yang diserap dalam perbendaharaan istilah bahasa Indonesia dengan tujuan mempertahankan kata aslinya dengan sedikit penyesuaian lafal Indonesia menjadi “evaluasi” yang dapat diartikan memberikan penilaian dengan membandingkan sesuatu hal dengan satuan tertentu sehingga bersifat kuantitatif.

Pelayanan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1997 : 571, pelayanan ádalah perihal atau cara melayani; usaha melayani kebutuhan orang lain dengan memperoleh imbalan (uang). Sedangkan menurut Sodiq A. Kuntoro, M.ED (1978) pelayanan sekolah ini meliputi : penyediaan perpustakaan yang memberi kemungkinan setiap anak dapat belajar secara individual, program khusus untuk anak cepat,anak lambat, kelompok khusus lain, dan alat pengajaran yang memadai seperti laboratorium, jadwal pelajaran yang fleksibel, pengembangan program independent study dan sebagainya.

Undang-undang Republik Indonesia nomor 20 tahun 2003, Pendidikan diselenggarakan dengan memberdayakan semua komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan

pengendalian mutu layanan pendidikan sedangkan hak peserta didik yaitu mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya. Pengertian Pendidikan Kejuruan

Prosser (1949), mengemukakan bahwa pendidikan kejuruan akan lebih efektif jika mampu merubah individu sesuai dengan perhatian, sifat dan tingkat intelegensinya pada tingkat setinggi mungkin, artinya setelah melakukan pendidikan dan pelatihan (diklat) para peserta latihan meningkat keterampilannya. Acuan keberhasilan suatu program pendidikan kejuruan menurut pendapat Lesgold (1996), yaitu harus memperhatikan : (1) Sasaran produk haruslah terdefinisi secara baik, akurat, dan jelas (2) perlengkapan (sarana dan prasarana) yang dibutuhkan untuk mencapai yang telah ditetapkan haruslah mencukupi, (3) spesifikasi tim sukses atau tim pelaksana program yang akan bertanggung jawab terhadap keberhasilan sasaran haruslah lengkap dan jelas, (4) penelitian atau pengkajian terus menerus dan berkesinambungan agar dapat diketahui, sehingga langkah perbaikan. Prasarana Pendidikan

(3)

158 JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 6, No.2 – 2012 ISSN 1978 - 5658

Tahun 2008 Tanggal 31 Juli 2008 memberikan pengertian Prasarana adalah fasilitas dasar untuk menjalankan fungsi

SMK/MAK. Sebuah SMK/MAK

sekurang-kurangnya memiliki prasarana yang dikelompokkan dalam ruang pembelajaran umum, ruang penunjang, dan ruang pembelajaran khusus.

METODE PENELITIAN Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan kuisioner mengenai ketersediaan prasarana pendidikan yang ditujukan kepada 11 sekolah menengah kejuruan (SMK) di Kota Batu pada Tabel 1.

Tabel 1. Variabel dan indikator prasarana

SMK

Variabel Indikator dan penjelasan

A. Lahan

1. Luas lahan minimum dapat menampung sarana dan prasarana untukmelayani 3 rombongan belajar. 2. Lahan efektif adalah lahan yang

digunakan untuk mendirikan bangunan, infrastruktur, tempat bermain/berolahraga/upacara, dan praktik

3. Lahan terhindar daripotensi bahayayang mengancam kesehatan dan keselamatan jiwa, serta memiliki akses untuk penyelamatan dalam keadaan darurat.

4. Lokasi sekolah

5. Kesesuaian dengan peraturan tata ruang

6. Status kepemilikan lahan

B. Bangunan

1. Luas lantai bangunan dihitung berdasarkan banyak dan jenis program keahlian, serta banyak rombongan belajar dimasing-masing program keahlian.

2. Bangunan memenuh I ketentuan tata bangunan berikut: a) Koefisien dasar bangunan

mengikuti Peraturan Daerah atau maksimum 30% dari

luaslahandiluarlahanpraktik; b) Koefisien lantai bangunan dan

ketinggian maksimum bangunan yang ditetapkan dalam PeraturanDaerah; c) Koefisien lantai bangunan

dihitung berdasarkan luas lahan efektif;

d) Jarak bebas bangunan yang meliputi garis sempadan bangunan dengan asjalan, tepi sungai, tepi pantai, jalan kereta api, dan/atau Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) atau

Variabel Indikator dan penjelasan

Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi (SUTET), jarak antara bangunan dengan batas-batas persil,dan jarak antara as jalan dan pagar halaman yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah;

e) Garis sempadan bangunan samping dan belakang mengikuti Peraturan Daerah atau minimum 5 meter. 3. Bangunan dilengkapi izin

mendirikan bangunan dan izin penggunaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

C.Kelompok Ruang Pembelajar an Umum

Ada tidaknya ruang pembelajaran umum dilengkapi dengan jumlah dan fasilitas yang ada di dalamnya

1) ruang kelas, 2) ruang perpustakaan, 3) ruang laboratorium biologi, 4) ruang laboratorium fisika, 5) ruang laboratorium kimia, 6) ruang laboratorium IPA, 7) ruang laboratorium komputer, 8) ruang laboratorium bahasa, 9) ruang praktik gambar teknik.

D.Kelompok Ruang Penunjang

Ada tidaknya ruang pembelajaran umum dilengkapi dengan jumlah dan fasilitas yang ada di dalamnya

1. Ruang pimpinan, 2. Ruang guru, 3. Ruang tatausaha, 4. Tempat beribadah, 5. Ruang konseling, 6. Ruang UKS,

7. Ruang organisasi kesiswaan, 8. jamban,

9. gudang, 10. ruang sirkulasi,

11. tempat bermain/berolahraga. E. Ruang

pembela jaran Khusus

1. Ruang pembelajaran masing-masing

Program Keahlian di SMK Kota Batu

Trianggulasi

Trianggulasi merupakan cara memandang permasalahan/obyek yang dievaluasi dari berbagai sudut pandang. Tujuan agar dapat melihat obyek evaluasi dari semua sisi.

Analisis Data

(4)

159 JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 6, No.2 – 2012 ISSN 1978 - 5658

antara kondisi eksisting dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Standar Sarana Dan Prasarana Untuk Sekolah Menengah Kejuruan / Madrasah Aliyah Kejuruan (SMK/MAK). Analisis tingkat pelayanan prasarana Sekolah Menengah Kejuruan di Kota Batu

Untuk mengetahui terpenuhi dan tidaknya prasarana pendidikan di tiap-tiap SMK maka dilakukan analisis dengan menggunakan skala Guttman, skor 1 (satu) jika item prasarana tersedia dan memenuhi dan skor 0 (nol) jika tidak memenuhi, sehingga diketahui sekolah (SMK) yang memenuhi standar penyediaan prasarana pendidikan.

Metodologi mengukur tingkat pelayanan prasarana pendidikan SMK dilakukan dengan menggunakan skala likert dengan interval 3. Langkah-langkah yang dilakukan dalam menentukan skala tingkat pelayanan antara lain:

1. Menjumlahkan prasarana yang memenuhi standar

2. Menentukan kelas berdasarkan skala linkert

K=1+3.32xlog n………

K= banyaknya kelas, banyaknya kelas yang digunakan dalam penelitian ini ada 3 kelas yaitu:

Kelas 1 : Rendah Kelas 2 : Cukup

Kelas 3 : Tinggi

n= jumlah jenis prasarana yang dinilai

3. Menentukan tingkat pelayanan dengan mengelompokkan berdasar kelas dalam skala likert.

Analisis pengembangan tingkat pelayanan prasarana Sekolah Menengah Kejuruan di Kota Batu

Analisis SWOT adalah analisis yang didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan Strength (kekuatan) dan

Opportunity (peluang), namun secara bersamaan meminimalkan Weakness (kelemahan), dan Threatmen (ancaman) (Rangkuti, 2005:18).

Matriks SWOT

Analisis ini bertujuan untuk mengetahui strategi dasar pemecahan masalah yang dapat diterapkan secara kualitatif. Adapun cara yang dilakukan adalah:

1) SO : Strategi/alternatif pemecahan masalah dengan memanfaatkan kekuatan (S) secara maksimal untuk meraih peluang (O).

2) ST : Staretegi/alternatif pemecahan masalah dengan memanfaatkan kekuatan (S) secara maksimal untuk mengantisipasi ancaman (T) dan berusaha menjadikan maksimal menjadi peluang (O).

3) WO : Strategi/alternatif pemecahan masalah dengan meminimalkan kelemahan (W) untuk meraih peluang (O).

4) WT : Strategi/alternatif pemecahan masalah dengan meminimalkan kelemahan (W) untuk menghindari secara lebih baik dari ancaman (T). Matrik SWOT.

Adapun sistem penilaian yang dilakukan adalah memberikan penilaian dalam bentuk tabel kepada dua kelompok besar, yaitu faktor internal IFAS (Internal Factor Analysis Summary) yang terdiri dari kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) serta faktor eksternal EFAS (ExternalFactor Analysis Summary) yang terdiri dari peluang (opportunity) dan ancaman (threat).

a. Tabel IFAS

Cara-cara penyusunan tabel IFAS (Internal Factor Analysis Summary) adalah sebagai berikut:

(5)

160 JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 6, No.2 – 2012 ISSN 1978 - 5658

2. Tiap faktor dalam kolom II diberi faktor mulai dari 1,0 (sangat penting) sampai dengan 0,0 (tidak penting)

3. Rating dihitung untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor) berdasarkan pengaruh tersebut terhadap pelayanan. Variabel yang bersifat positif (semua variabel yang masuk kategori kekuatan) diberi nilai mulai dari +1 sampai dengan +4 (sangat baik) dengan membandingkannya dengan pesaing lain. Jika kelemahan besar sekali dibandingkan dengan rata-rata pesaing lain, nilainya adalah 4, sedangkan jika kelemahannya di bawah rata-rata, nilainya adalah 1

4. Bobot dikalikan dengan rating untuk memperoleh faktor pembobotan

5. Skor pembobotan dijumlahkan untuk memperoleh total skor pembobotan b. Tabel EFAS

Cara-cara penyusunan tabel EFAS (External Factor Analysis Summary) adalah sebagai berikut:

1. Kolom I disusun 5-10 faktor-faktor peluang dan ancaman

2. Tiap faktor dalam kolom II diberi faktor mulai dari 1,0 (sangat penting)sampai dengan 0,0 (tidak penting)

3. Rating dihitung untuk masing-masing faktor dengan memberikan skala mulai dari 4 (outstanding) sampai dengan 1 (poor) berdasarkan pengaruh tersebut terhadap pelayanan pendidikan. Variabel yang bersifat positif (semua variabel yang masuk kategori peluang) diberi nilai mulai dari +1 sampai dengan +4 (sangat baik) dengan membandingkannya dengan pesaing. Jika ancaman besar sekali dibandingkan dengan rata-rata pesaing lainnya, nilainya adalah 4, sedangkan jika ancamannya dibawah rata-rata, nilainya adalah 1

4. Bobot dikalikan dengan rating untuk memperoleh faktor pembobotan

5. Skor pembobotan dijumlahkan untuk memperoleh total skor pembobotan

Dari penilaian berdasarkan IFAS dan EFAS diketahui posisi obyek penelitian dalam koordinat pada sumbu x dan y, sehingga diketahui posisinya sebagai berikut (Rangkuti, 2004: 19:20):

1. Kuadran 1 adalah adalah mendukung kebijakan pertumbuhan yang agresif (Growth Oriented Strategy)

2. Kuadran 2 adalah menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang jangka panjang dengan cara strategi diversifikasi (produk/pasar)

3. Kuadran 3 adalah meminimalkan masalah-masalah internal perusahaan sehingga dapat merebut peluang pasar yang lebih baik.

4. Kuadran 4 merupakan situasi yang sangat tidak menguntungkan, perusahaan tersebut menghadi berbagai ancaman dan kelemahan internal. HASIL DAN PEMBAHASAN Kondisi SMK di Kota Batu

SMK Kota Batu terdapat 11 SMK, terdiri dari 3 SMK Negeri dan 8 SMK Swasta dengan 32 Kompetensi Dari 32 Kompetensi Keahlian ada 19 sudah terakreditasi, sedangkan 23 belum terakreditasi.

Jumlah siswa SMK di Kota Batu tahun ajaran 2011-2012 sebanyak 3.285 siswa, siswa terbanyak SMK Negeri 1 Batu 806 siswa, sedangkan siswa terkecil SMK Edith 69 Siswa, sedangkan Jumlah guru adaptif di SMK Kota Batu sebanyak 132 guru terdiri dari Guru PNS adaptif 63 orang, guru non pns adaptif 69 orang. Analisis Tingkat Pelayanan Prasarana SMK

(6)

JURNAL REKAYAS Negeri 2 Batu dan kepem terendah adalah SMK Islam 730m2.

Dapat Diketahui bahw (sebelas) SMK di Kota Batu SMK yang telah memenuhi k akan luasan lahan yaitu SMK Edith dan SMK Maarif

Tabel 2. Pelayanan akan kebutuh

Nama Sekolah

b)Pelayanan Akan Aksesibi Satu sekolah yang mem aksesibilitas yang agak sulit 3 karena belum adanya ang yang melalui sekolah tersebut.

Tabel 3.Aksesibiltas SMK Kota

Nama Sekolah A

SMK Brawijaya

Gambar 1. Pelayanan aksesibila

Batu

SA SIPIL / Volume 6, No.2 – 2012 ISSN 1978 milikan lahan

m Batu seluas hwa dari 11 atu hanya tiga i ketercukupan MKN 2, SMK

miliki tingkat it yaitu SMKN

ilatas SMK Kota

c) Pelayanan Terhad Ruang/Bangunan

Berdasarkan h didapatkan bahwa 72,7 Batu masih belum dapat kebutuhan akan ruang. H di Kota Batu yang suda kebutuhan akan ruang kelas yaitu SMK Brawij SMK Edith.

Tabel 4. Pelayanan terhad

Nama Sekolah Berdasarkan hasil su di Kota Batu hanya s belum bisa menyediak kapasitas daya 2.200 Wiyata Bakti Husada memiliki daya listrik seb

Tabel 5. Ketersediaan listr

Nama Sekolah

e) Kondisi Bangunan Berdasarkan data diketahui bahwa 90,0% memiliki kondisi bang

161 78 - 5658

adap Kebutuhan

hasil kuisioner ,7% SMK di Kota at memenuhi standar . Hanya 23,7% SMK dah dapat memenuhi g khususnya ruang ijaya, SMKN 2, dan

adap kebutuhan Pemenuhan akan strik 2200 watt

Ketersediaan listrik 2.200 watt

(7)

JURNAL REKAYAS membahayakan dan 9,1% sekolahan memiliki bang berbahaya yaitu SMK Putikec f) Tingkat Pelayanan Lahan

Tabel 7. Tingkat Pelayanan Laha

Nama Sekolah Tingkat

keterpenuhan

Tabel 6. Kondisi bangunan SMK

Nama Sekolah Kond SMK Brawijaya

g) Analisis Tingkat Pelaya Pembelajaran Umum Berdasarkan Permendikn sarana dan prasarana SMK/M 2008 ruang pembelajaran um tiap SMK tidak sama disesua jurusan yang ada di masing-m

Tabel 8. Tingkat Pelaya

Pembelajaran Um

Nama sekolah Bobot

SMK Brawijaya 3 SMK Islam Batu 5 SMK Putikecwara 2

SMKN 3 5

SMKN 17 Agustus 3

SMKN 2 6

SMKN 1 5

SMK Muhamadiyah 4 SMK Edith 3 SMK Wiyata Bakti Husada 3 SMK Maarif 4

Ket Klasifikasi tingkat pelayanan

• 0-14.6 rendah ecwara karena

rata-rata kodisi bangun rusak.

an dan Bangunan SMK di Kota Batu

han dan Bangunan SMK di Kota Batu esibilitas Pemenuhan akan

Bangunan/Ruang

Ketersediaan listrik 2.200 watt

Kondisi

uaikan dengan masing SMK. yang dimanfaatkan u proses belajar mengaja terkait dengan kebutuh kebutuhan ruang akan kebutuhan ruang akan aktivitas siswa dan

lain-162

pelayanan prasarana MK Kota batu

Pelayanan Ruang unjang

jang atau ruang ang adalah ruangan untuk kelancaran jar khususnya yang tuhan administrasi , an tenaga pengajar, an pengakomodiran

(8)

JURNAL REKAYAS

Tabel 9. Tingkat Pelaya

Pembelajaran Pe

Nama sekolah Bobot

SMK Brawijaya 11

SMK Islam Batu 14 SMK Putikecwara 7

SMKN 3 12

SMKN 17 Agustus 12

SMKN 2 11

SMKN 1 12

SMK Muhamadiyah 8

SMK Edith 10

SMK Wiyata Bakti Husada 13

SMK Maarif 13

i) Analisis Tingkat Pelaya Pembelajaran Khusus Ruang pembelajaran khusus yang digunakan untuk kegi mengajar program keahlian, ruang pembelajarn khusus ter jurusan atau program keahl masing SMK. Rata-rata keb ruang untuk ruang pembelaj adalah 63-64m2.

layanan ruang penunjang

yanan Ruang

s adalah ruang egiatan belajar n, penyediaan tergantung dari hlian masing-ebutuhan luas lajaran khusus

kat pelayanan khusus SMK

SMK Islam Batu

0-2,6 : rendah SWOT, dapat diketahui Faktor Internal Kekuatan

1) Tingkat pelayana bangunan cukup. 2) Lokasi sekolahan

dijangkau.

3) Sudah terlayani lis standar.

4) Rata-rata kondisi baik.

5) Tingkat pelay pembelajaran pen sedang.

Kelemahan

1) Belum mencukupi lahan.

2) Belum mencukupi akan bangunan bai

163 78 - 5658

tingkat pelayanan jaran khusus SMK di tu

kat

Bobot Tingkat pelayanan

mbangan Prasarana nggunakan Analisis ui sebagai berikut.

nan lahan dan an yang mudah listrik sesuai dengan i bangunan cukup layanan ruang enunjang rata-rata

(9)

164 JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 6, No.2 – 2012 ISSN 1978 - 5658

untuk prasarana umum, penunjang dan khusus.

3) Tingkat pelayanan ruang pembelajaran umum rata-rata masih rendah.

4) Tingkat pelayanan ruang pembelaran khusus rata-rata masih rendah.

Faktor Eksternal Peluang:

1) Kebijakan pengembangan SMK

2) Adanya alokasi dana dalam penyediaan sarana dan prasarana pendidikan.

Ancaman:

1) Adanya perbedaan persepsi kebijaksanaan pendidikan dalam rangka peningkatan penyelenggaraan pendidikan.

j) Analisis Evaluatif Tingkat Pelayanan Prasarana SMK di Kota

Tabel 11. Analisis evaluatif tingkat pelayanan prasarana SMK di Kota Batu

Variabel

Permendiknas No 40 tahun 2008 Tentang

standar Sarana dan Prasarana Kondisi Eksisting Analisis

Lahan

• Luas lahan minimum dapat menampung sarana dan prasarana untuk melayani 3 rombongan belajar.

• Lahan efektif adalah lahan yang digunakan untuk mendirikan bangunan, infrastruktur,tempat

bermain/berolahraga/upacara,dan praktik

• Lahan terhindar dari potensi bahaya yang mengancam kesehatan dan keselamatan jiwa, serta memiliki akses untuk penyelamatan dalam keadaan darurat.

• Lokasi sekolah

• Kesesuaian dengn peraturan tata ruang

• Status kepemilikan lahan

• 55% SMK di Kota Batu memiliki lahan

• 91% sekolah mudah terjangkau transportasi

• 100 % memiliki lahan

• Rata-rata lahan SMK di Kota Batu kekurangan lahan., hanya 1 sekolah yang memenenuhi SMK N 3 Kota Batu

• Status kepemilikan lahan 5 sekolah milik yayasan, milik pemerintah dan tanah hibah

• 1 SMK di Kota Batu yang sulit terjangkau transportasi yaitu SMK N 3 Batu

• 11 SMK di Kota Batu, terdapat 8 sekolah yang memiliki lahan Rendah yaitu SMK Brawijaya, SMK Islam, SMK Putikecewara, SMK N 3, SMK 17 Agustus, SMK Edith, SMK Wiyata Bakti dan SMK Ma’arief. Sedangkan 3 SMK yang tingkat pelayanan sedang yaitu; SMK N 2, SMK N 1 dan SMK Muhamdiyah

• Pelayanan tentang aksesibilitas tidak ada jalur angkot menuju sekolah SMKN 3 karena lokasi

Bangunan

1. Luas lantai bangunan dihitung berdasarkan banyak dan jenis program keahlian, serta banyak rombongan belajar dimasing-masing program keahlian.

2. Bangunan memenuhi ketentuan tata bangunan berikut:

a) Koefisien dasar bangunan mengikuti

• Luas lantai bangunan 11 SMK di kota Batu terkecil di SMK N 2 batu

• Koefesien lantai lantai

• Luas lahan yang digunakan bangunan di SMK N masih sangat kecil dari luas

b) Peraturan Daerah atau maksimum 30% dari luaslahan diluar lahan praktik;

c) Koefisien lantai bangunan dan ketinggian maksimum bangunan yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah;

d) Koefisien lantai bangunan dihitung berdasarkan luas lahan efektif;

c) Jarak bebas bangunan yang meliputi garis sempadan bangunan dengan asjalan, tepi sungai, tepi pantai, jalan kereta api, dan/atau Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) atau Saluran UdaraTegangan Ekstra

• bangunan terbesar di SMK

Islam batu yaitu 1.76

• 11 SMK di kota Batu memiliki listrik 2.200 Watt 10 SMK , ada 1 SMK yang daya listrik 900 watt yaitu SMK Wiyata Bakti Husada

• 10.500 m2 digunakan

bangunan 900 m2

• Koefesien lantai dasar bangunan terbesar di SMK Islam karena luasan bangunan lebih besar dari pada lahan.

(10)

165 JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 6, No.2 – 2012 ISSN 1978 - 5658

Variabel

Permendiknas No 40 tahun 2008 Tentang

standar Sarana dan Prasarana Kondisi Eksisting Analisis

Tinggi (SUTET), jarak antara bangunan dengan batas-bataspersil, dan jarak antaraas jalan dan pagar halaman yang ditetapkan dalam Peraturan Daerah;

d) Garis sempa dan bangunan samping dan belakang mengikuti Peraturan Daerah atau minimum 5meter. 3. Bangunan dilengkapi izin mendirikan bangunan dan izin penggunaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Kelompok Ruang Pembelajaran Umum

Ada tidaknya ruang pembelajaran umum dilengkapi dengan jumlah dan fasilitas yang ada di dalamnya

1) ruang kelas,

2) ruang perpustakaan,

3) ruang laboratorium biologi,

4) ruang laboratorium fisika,

5) ruang laboratorium kimia,

6) ruang laboratorium IPA,

7) ruang laboratorium komputer,

8) ruang laboratorium bahasa,

9) ruang praktik gambar teknik.

• Kondisi ruang pembelajaran

umum di kota Batu 72.7% belum memenuhi standar

• SMK yang memenuhi ruang pembelajran dari 11 sekolah adalah 23.7 %

• ,Analisis pelayanan prasarana

umum SMK ada 7 sekolah yang pelayanan rendah, , sedang 4 sekolah pelayanan sedang ,

Kelompok Ruang Penunjang

Ada tidaknya ruang pembelajaran umum dilengkapi dengan jumlah dan fasilitas yang ada di dalamnya

1. Ruang pimpinan, 2. Ruang guru, 3. Ruang tatausaha, 4. Tempat beribadah, 5. Ruang konseling, 6. Ruang UKS,

7. Ruang organisasikesiswaan, 8. Jamban,

9. Gudang, 10. Ruang sirkulasi,

11. Rempat bermain/berolahraga.

• Ada 3 SMK di kota Batu memiliki ruang penunjang minim yaitu; SMK Muhammadiyah, SMK Ma’arief dan SMK Negeri 3 Batu

• Pemenuhan akan Ruang penunjang ada 1 sekolah yang memiliki pelayanan tinggi yaitu SMK Islam Batu, pelayanan rendah yaitu; SMK Putikecwara, SMK Muhamadiyah

Ruang pembelajaran Khusus

1. Ruang pembelajaran masing-masing Program Keahlian

• Rata-rata masing-masing program keahlian yang ada di kota Batu masih kekurangan jumlah ruangan khusus dan luasan

• Pemenuhan ruang pelayanan prasana khusus 11 SMK di Kota Batu rendah

2) Masih lemahnya penyediaan data dan informasi serta belum tuntas dan belum dinamisnya program pemetaan pendidikan (school mapping).

(11)

166 JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 6, No.2 – 2012 ISSN 1978 - 5658

4) Makin tingginya persaingan kualitas SDM antar negara di dunia.

Tabel 13. Matrik IFAS (Internal Factor

Analysis Strategy)

No Faktor Bobot

(B)

Nilai (N) BxN

Kekuatan

1 Tingkat pelayanan lahan dan bangunan cukup

0,1 3 0,3

2 Lokasi sekolahan yang mudah dijangkau

0,05 2 0,1

3 Sudah terlayani listrik sesuai dengan standar

0,05 2 0,1

4 Rata-rata kondisi bangunan cukup baik

0,2 3 0,6

5 Tingkat pelayanan ruang mbelajaran penunjang rata-ata sedang

0,1 3 0,3

Total 0,5 1,4

Kelemahan

1 Belum mencukupi kebutuhan akan lahan

0,15 4 0,6

2 Belum mecukupinya

ketersediaan akan bangunan baik yang digunankan untuk prasarana umum, penunjang dan khusus

0,15 4 0,6

3 Tingkat pelayanan ruang pembelajaran umum rata-rata masih rendah

0,1 3 0,3

4 Tingkat pelayanan ruang pembelajaran khusus rata-rata masih rendah

0,1 3 0,3

Total 0,5 1,8

Tabel 12. Matrik EFAS (External Factor

Analysis Strategy)

No Faktor Bobot (B) Nilai

(N)

BxN

Peluang

1 Kebijakan pengembangan SMK

0,3 4 1,2

2 Adanya alokasi dana dalam penyediaan sarana dan prasarana pendidikan

0,3 4 1,2

Total 0,6 2,4

Ancaman

1 Adanya perbedaan persepsi kebijaksanaan pendidikan dalam rangka peningkatan penyelenggaraan pendidikan;

0,15 3 0,45

2 Masih lemahnya penyediaan data dan informasi serta belum tuntas dan belum dinamisnya program pemetaan pendidikan (school mapping);

0,05 2 0,1

3 Masih belum optimalnya pelaksanaan monitoring dan

evaluasi;

0,1 2 0,2

4 Makin tingginya persaingan kualitas SDM antar negara di dunia;

0,1 3 0,3

Total 0,4 1,05

Sehingga:

X = S + (-W)

= 1,4+(-1,8) = 0,4 Y = O + (-T) = 2,4+(-1,05) = 1,35

Berdasarkan pada hasil perhitungan maka strategi peningkatan pelayanan prasarana SMK di Kota Batu berada di Kuadran I pada Ruang B dengan Stable Growth Strategy, yaitu strategi pertumbuhan stabil dimana pengembangan dilakukan secara bertahap dan target disesuaikan dengan kondisi, dimana factor eksternal dan internal seimbang dan mendukung untuk peningkatan pelayanan prasarana SMK di Kota Batu

KESIMPULAN

Kesimpulan yang dapat diambil adalah; 1. Data eksisting kondisi 11 SMK di Kota

Batu memliki 3.285 siswa ,terbanyak SMK 1 Batu 806 siswa, sedangkan terkecil SMK Edith 69 siswa, guru di SMK Kota Batu terbagi menjadi 3 yaitu guru adaptif 132 guru, guru normatif 119 guru dan guru produktif 128 guru pemenuhan guru rata sudah cukup, namun ada sekolah yang kelebihan dan kekurangan, lahan terluas SMK N 2 10.500 m2 dan terkecil SMK Wiyata Bakti Husada 400 m2, bangunan milik pemerintah 3 sekolah Negeri dan 8 sekolah swasta milik yayasan, ruang penunjang masing, ruang pembelajaran umum dan ruang pembelajaran khusus rata-rata di Kota Batu masih kurang dan masing belum memenuhi standar lahan 2. Rata-Rata tingkat pelayanan SMK di

Kota Batu SMK N 1 Batu sedang, SMK N 2 Kota Batu sedang , SMK N 3 sedang, SMK Brawijaya sedang, SMK Islam tinggi, SMK Putikecwara rendah, SMK 17 Agustus sedang, SMK Muhamadiyah sedang, SMK Edith sedang, SMK Ma’arief sedang dan SMK Wiyata Batu sedang.

(12)

167 JURNAL REKAYASA SIPIL / Volume 6, No.2 – 2012 ISSN 1978 - 5658

prasarana SMK di Kota Batu berada di Kuadran I pada Ruang B dengan Stable Growth Strategy, yaitu strategi pertumbuhan stabil dimana pengembangan dilakukan secara bertahap dan target disesuaikan dengan kondisi, dimana faktor eksternal dan internal seimbang dan mendukung untuk peningkatan pelayanan prasarana SMK di Kota Batu, maka perlu peningkatan luas lahan untuk SMK di Kota Batu,

penambahan ruang dan

menstandarkan ukuran kelas, penyediaan prasarana umum, prasarna penunjang dan prasana khusus karena 11 SMK di Kota Batu belum 100% memenuhi standar pelayanan minimal, untuk lahan, bangunan, infrastruktur, ruang pembelajaran umum, ruang penunjang dan ruang pembelajaran khusus Sekolah Menengah Kejuruan sesuai Permendikanas tahun 2008 tentang standar sarana dan prasarana SMK.

Saran-saran

Karena hasil penelitian ini berupa teori, maka kebenarannya tidak bersifat mutlak, tetapi benar pada saat tertentu pada kondisi tertentu pada saat penelitian dilakukan. Oleh karena itu sehubungan dengan hasil penelitian ini perlu dikemukakan saran-saran sebagai berikut: 1. Hasil akhir penelitian menggunakan

metode analisis diskriptif sangat tergantung pada keakuratan memilih responden sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai, sehingga ketelitian dan kehati-hatian dalam memilih responden sangat berpengaruh terhadap hasil akhir penelitian.

2. Perlu dilakukan penelitian yang lebih mendalam mengenai pelayanan prasarana SMK di Kota Batu dengan melibatkan komponen masyarakat yang lebih luas sehingga didapatkan hasil yang lebih memuaskan (tentunya dengan menyediakan waktu yang cukup).

3. Sesuai dengan permendiknas no 40 tahun 2008 tentang standar sarana dan prasarana SMK sekolah wajib melaksanakannya terhitung sejak ditetapkan peraturan ini, Kepala Sekolah mengusulkan ke Dinas Pendidikan tentang standar prasarana minimal seklahnya.

4. Dinas Pendidikan Kota Batu segera menindaklanjuti tentang kondisi pelayanan prasarana SMK untuk memenuhi kebutuhan standar pelayanan minimal 11 SMK di Kota Batu.

DAFTAR PUSTAKA

Amirin, Tatang M. 2011. "Pengertian sarana dan

prasarana pendidikan."

tatangmanguny.wordpress.com

Alan Lesgold, 1996, Transitions Work and Learning Implications for Assessment: Universitas of Pittburgh

Charles Allen Prosser, Thomas Henry, 1994, Vocational Eduacation in Democracy;

Amirican Technical Society Cornell

University

Kuntoro, Sodiq. 1978.

http://id.shvoong.com/socialsciences/educatio n/2190383-pengertian-pengaturan atau pelayanan sekolah

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 40 Tahun 2008 Tanggal 31 Juli 2008 Tentang Standar Sarana dan Prasarana SMK/MA Rangkuti Reddy, 2008. Analisis SWOT Teknik

Membedah Kasus Bisnis, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Gambar

Tabel 1. Variabel dan indikator prasarana SMK
Tabel 2. Pelayanan akan kebutuhtuhan lahan
Gambar 2. Tingkat ppelayanan prasarana
Gambar 3.
+2

Referensi

Dokumen terkait

Penilaian hasil belajar untuk semua mata pelajaran pada kelompok ilmu pengetahuan.. dan teknologi dilakukan melalui ujian sekolah/madrasah untuk menentukan kelulusan

PEMERINTAH KABUPATEN LAMPUNG BARAT SEKRETARIAT DAERAH. PEJABAT

Agar skor tes yang diperoleh dapat dipercaya maka butir soal tes harus

Pejabat pengadaan Barang/Jasa pada Badan Lingkungan Hidup Kebersihan dan pertamanan akan melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa dengan metode Pengadaan Langsung untuk Paket pekerjaan

Digital Repository Universitas Jember... Digital Repository

Adapun ringkasan hasil evaluasi administrasi, teknis, dan biaya untuk seluruh peserta yang dievaluasi adalah sebagai berikut

ini diharapkan dapat memberikan pembelajaran musikdengan media dan teknologi di bidang pendidikan seni musik di lingkungan sekolah, khususnya SLB-A. Seperti yang diharapkan

STRATEGI BISNIS DALAM MERAIH KEUNGGULAN BERSAING MELALUI METODE ANALISIS SWOT (STUDI PADA IGA-IGA BAKSO MAS ELO JALAN MARELAN RAYA.. MEDAN)