IMPLEMENTASI KONSEP “ MOVE PEOPLE NOT CAR”
SEBAGAI UPAYA PERENCANAAN TRANSPORTASI
BERKELANJUTAN
DI KOTA TANGERANG SELATAN
Disusun Oleh:
Ardik Gigih Dwianto (018164735)
Czedrio Tri Putro (018258056)
Feri Andriyas (018209609)
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TERBUKA
Kata Pengantar
Bismillahirrahmanirrahim, Assalamu‘alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah, puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan hidayah-Nya, kami dapat menyelesaikan Karya Tulis dalam rangka mengikuti Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) Universitas Terbuka dengan judul, ‘Impelemetasi Konsep “Move People Not Car” sebagai Upaya Perencanaan Transportasi Berkelanjutan di Kota Tangerang Selatan’.
Terima kasih kepada orang tua kami yang selalu memberi dukungan dan semangat dalam setiap kegiatan yang kami lakukan, terutama dalam pembuatan karya tulis ini. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyusunan karya tulis ini, khususnya kepada Ibu Tina Ratnawati, M.Sc. yang telah banyak memberi masukan dan bimbingan kepada kami.
Kami berharap karya tulis ini dapat memberikan manfaat kepada masyarakat, khususnya pembaca dan dapat memberi masukan kepada pemerintah daerah, khususnya Pemerintah Kota Tangerang Selatan dalam upaya merencanakan transportasi yang berkelanjutan.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan, baik dari segi konten maupun dari tata bahasa. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca untuk penyempurnaan karya tulis ini.
Daftar Isi
Kata Pengantar...i
Daftar Isi...ii
ABSTRAK...iii
PENDAHULUAN...1
TINJAUAN PUSTAKA...2
Transportasi Berkelanjutan...2
Konsep “Move People Not Car”...3
Pemilihan Moda Angkutan...3
METODOLOGI...4
Observasi (Pengamatan Lapangan)...4
Studi Literatur...4
Analisis Deskiptif Kualitatif...4
PEMBAHASAN...4
Masalah Kemacetan di Kota Tangerang Selatan...4
Masyarakat Enggan Menggunakan Transportasi Umum...5
Transportasi Massal di Kota Tangerang Selatan...5
Gambaran Moda Transportasi di Kota Tangerang Selatan...7
Penerapan Konsep “Move People Not Car” dalam Transportasi Berkelanjutan...8
PENUTUP...10
Kesimpulan...10
Saran...10
REFERENSI...10
DI KOTA TANGERANG SELATAN
Ardik Gigih Dwianto1, Czedrio Tri Putro2, Feri Andriyas3
1Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) FMIPA Universitas Terbuka, Tangerang Selatan 2Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) FMIPA Universitas Terbuka, Tangerang Selatan 3Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) FMIPA Universitas Terbuka, Tangerang Selatan
Email korespondensi :
[email protected], [email protected], [email protected]
ABSTRAK
Kota Tangerang Selatan merupakan salah satu daerah penyangga (buffer city) dari DKI Jakarta. Penduduknya sebagian besar pergi keluar kota untuk bekerja dan kembali ke tempat tinggalnya (komuter), sehingga peran transportasi menjadi sangat vital. Banyaknya penduduk yang lebih memilih menggunakan transportasi pribadi dibandingkan transportasi massal membuat kemacetan lalu lintas tak terelakkan, sehingga menghambat mobilitas penduduk maupun pengangkutan barang dan jasa. Penerapan konsep “Move People Not Car” yang menekankan pada pemberian fasilitas kepada orangnya, bukan pada sarana pengangkutnya bisa menjadi salah satu pilihan dalam upaya mengatasi permasalahan lalu lintas tersebut. Tulisan ini mengkaji tentang penerapan konsep “Move People Not Car” di Kota Tangerang Selatan sebagai upaya mewujudkan perencanaan tranportasi yang berkelanjutan. Metode penelitian yang digunakan adalah survei langsung (observasi) dan studi literatur. Data akan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Tulisan ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada Pemerintah Kota Tangerang Selatan untuk memperkaya konsep dalam mengatasi permasalahan lalu lintas, sehingga dapat mewujudkan transportasi yang berkelanjutan.
PENDAHULUAN
Pertumbuhan penduduk di Indonesia mangalami peningkatan dari waktu ke waktu. Angka kelahiran yang masih tinggi menjadi salah satu penyebab semakin bertambahnya jumlah penduduk di Indonesia. Peningkatan jumlah penduduk tentu akan dibarengi oleh pergerakan masyarakat dalam berbagai aktivitas, dimana transportasi menjadi sarana mobilisasi yang sangat vital.
Secara umum, transportasi dibedakan menjadi 2 (dua), yaitu transportasi pribadi dan transportasi umum. Fenomena yang terjadi, masyarakat lebih cenderung menggunakan transportasi pribadi daripada transportasi umum. Di samping masalah gengsi, faktor keamanan dan kenyamanan yang masih belum terjamin membuat masyarakat enggan menggunakan transportasi umum. Kondisi ini menyebabkan ketimpangan antara pengguna kendaraan pribadi dengan angkutan massal, sehingga menyebabkan kendaraan pribadi semakin lama semakin memenuhi jalan.
Kota Tangerang Selatan sebagai salah satu daerah penyangga (buffer city) ibu kota DKI Jakarta juga tidak terlepas dari malasah tersebut. Berdasarkan data BPS Provinsi Jakarta tahun 2014 sebanyak 8-9% penduduk Kota Tangerang Selatan merupakan penduduk yang pergi keluar kota untuk bekerja dan kembali ke tempat tinggalnya (komuter), dimana jumlah penduduk yang menggunakan kendaraan pribadi jauh lebih banyak. Banyaknya kendaraan pribadi di jalan membuat kemacetan lalu lintas tidak terbendung, sehingga menghambat mobilitas penduduk Tangerang Selatan dalam berbagai kegiatan yang dilakukan.
Untuk mengatasi masalah ini, maka diperlukan suatu sistem transportasi yang dikembangkan secara terencana dan terpadu antar berbagai jenis moda transportasi yang membuat aksesibilitas dan mobilitas meningkat. Salah satu upaya yang dapat digunakan, yaitu dengan menerapkan konsep transportasi berkelanjutan, (Move People Not Car) yang menekankan penyediaan fasilitas pada orang atau barang bukan sarana pengangkutnya. Artinya, konsep ini lebih mengedepankan sisi humanisme agar mengubah mindset orang yang cenderung memilih kendaraan pribadi beralih menggunakan tranportasi umum.
masyarakat penghuni kota (smart people), lingkungan (smart environment), kebijakan pemerintah (smart governance), ekonomi (smart economy), mobilitas (smart mobility), dan konsep smart living. Mobilitas (smart mobility) yang merupakan salah satu indikator smart city tentu berkaitan erat dengan sistem transportasi yang terpadu. Perkembangan suatu kota sendiri juga ditentukan oleh mobilitas yang tinggi, sehingga ‘Move People Not Car’ sangat mendukung konsep smart city di Kota Tangerang Selatan.
Adapun tujuan dari karya tulis ini adalah untuk mengkaji penerapan konsep “Move People Not Car” di Kota Tangerang Selatan sebagai upaya mewujudkan perencanaan tranportasi yang berkelanjutan.
TINJAUAN PUSTAKA Transportasi Berkelanjutan
Menurut World Bank (1996) definisi dari transportasi berkelanjutan adalah transportasi yang melayani tujuan utama sebagai penggerak ekonomi wilayah perkotaan dan perkembangan sosial. Filosofi tersebut mengandung konsekuensi dalam implementasi kebijakan yakni dengan mengembangkan sistem transportasi berbasis angkutan umum. Secara ekstrem, filosofi ini dapat diterjemahkan sebagai kebijakan yang dibuat dengan tujuan untuk membuat para pengendara kendaraan pribadi tidak nyaman sehingga beralih ke transportasi umum.
Untuk mengetahui apakah konsep transportasi berkelanjutan telah diterapkan, ada sejumlah alat ukurnya. Berbagai ahli transportasi membuat sejumlah indikator untuk menilai penerapan suatu sistem transportasi agar bisa disebut transportasi berkelanjutan. Menurut Belaa S.K. dan Brezet J.C. dalam Changing Definition Of Sustainable Transportation, indikator-indikator tersebut diantaranya adalah:
1. Keamanan perjalanan bagi pengemudi dan penumpang
2. Kesenangan dan kenyamanan menggunakan moda transportasi 3. Waktu perjalanan rata-rata: kecepatan dan kemampuan angkutan
4. Pengeluaran rumah tangga untuk membiayai kebutuhan transportasi pribadi lebih rendah
5. Kualitas fasilitas transportasi dan meningkatkan pelayanan terhadap masyarakat difabel
6. Penggunaan energi oleh moda transportasi 7. Emisi CO2 oleh moda transportasi
Konsep “Move People Not Car”
Konsep “Move People Not Car” ini mengembangkan sistem transportasi berbasis massal. Artinya mendorong masyarakat Tangerang Selatan untuk menggunakan angkutan umum sebagai salah satu moda transportasi favorit yang nantinya diharapkan akan menjadi transportasi utama. Jadi, inti dari konsep “Move People Not Car” adalah memindahkan sekaligus orang dalam suatu moda transportasi. Bahkan jika perlu membuat masyarakat tidak nyaman menggunakan kendaraan pribadi dan beralih menggunakan angkutan umum.
Kita masih sering melihat mobil-mobil di Kota Tangerang Selatan rata-rata digunakan setiap harinya hanya oleh satu atau dua orang saja. Jumlah yang terlalu sedikit untuk ukuran satu mobil yang hanya akan mempersempit kapasitas jalan yang digunakan. Permasalahan yang lain adalah ketika mobil tersebut sudah dijadikan sebagai penunjuk status sosial (gengsi). Dengan melihat hal ini, konsep transportasi berkelanjutan ini mendorong masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi mau beralih menggunakan transportasi umum.
Pemilihan Moda Angkutan
Menurut Tamin (2000), faktor-faktor yang mempengaruhi seseorang untuk memilih suatu moda transportasi, dapat dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu:
1. Karakteristik pelaku perjalanan, antara lain keadaan sosial ekonomi serta tingkat pendapatan, ketersediaan atau kepemilikan kendaraan, kepemilikan surat ijin mengemudi dan struktur rumah tangga.
2. Karakteristik pergerakan, meliputi tujuan pergerakan, waktu terjadinya pergerakan dan jarak perjalanan.
3. Karateristik sistem transportasi yang bisa dilihat dari tingkat pelayanan.
Tingkat pelayanan dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu faktor kuantitatif (lama waktu perjalanan, biaya transportasi, ketersediaan ruang dan tarif parkir) dan faktor kualitatif (kenyamanan, kemudahan, keandalan, keteraturan, dan keamanan).
METODOLOGI
Observasi (Pengamatan Lapangan)
Studi Literatur
Metode pendekatan yang kedua adalah studi literatur. Metode ini mengaharuskan penulis harus membaca literatur, baik dari buku maupun internet terkait transportasi dan kemacetan untuk mendukung penelitian ini.
Analisis Deskiptif Kualitatif
Data yang telah terkumpul baik dari observasi maupun studi literatur kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif.
PEMBAHASAN
Masalah Kemacetan di Kota Tangerang Selatan
Permasalahan transportasi di Kota Tangerang Selatan tidak jauh berbeda dengan kota-kota besar lainnya. Perubahan struktur kota-kota dan perubahan gaya hidup meningkatkan pergerakan manusia. Pergerakan manusia yang cenderung menggunakan kendaraan pribadi akan memenuhi jalan yang berujung pada kemacetan lalu lintas, sehingga menghambat mobilitas penduduk. Saat ini paradigma dalam menangani masalah kemacetan di perkotaan masih dengan cara lama, yaitu dengan pembangunan jalan baru atau perluasan jalan yang sebenarnya sudah tidak tepat lagi. Hal ini terlihat dari statistik yang menunjukkan bahwa penggunaan kendaraan pribadi masih terus meningkat.
Kota Tangerang Selatan yang merupakan kota penyangga dari ibukota DKI Jakarta tidak terlepas dari masalah kemacetan. Masalah ini tentu bukan sesuatu hal yang mudah diselesaikan, apalagi jumlah kendaraan pribadi yang terus meningkat. Kebanyakan penduduk yang melakukan aktivitas, baik di luar (komuter) maupun di dalam kota lebih banyak yang menggunakan kendaraan pribadi, sehingga tidak heran jika Kota Tangerang Selatan tidak luput dari masasalah kemacetan. Berdasarkan data BPS Provinsi Jakarta tahun 2014 menunjukan jumlah penduduk komuter Bodetabek yang melakukan kegiatan di DKI Jakarta adalah 1,38 juta jiwa. Tangerang Selatan sendiri menyumbang 8,68% atau 119.784 jiwa dari total penduduk komuter Bodetabek. Sedangkan, 1.323.619 jiwa penduduk Kota Tangerang Selatan melakukan kegiatannya di dalam kota.
pergerakan manusia yang harus diimbangi dengan kebutuhan sarana dan prasarana transportasi. Kota Tangerang Selatan tentu harus serius menanggapi permasalahan ini.
Masyarakat Enggan Menggunakan Transportasi Umum
Kemacetan di Kota Tangerang Selatan saat ini disumbang oleh masih maraknya penggunaan kendaraan pribadi. Ditambah lagi keinginan masyarakat menggunakan transportasi umum yang masih rendah.
Berdasarkan pengamatan yang kami lakukan ada beberapa faktor yang membuat masyarakat enggan menggunakan transportasi umum, yaitu:
1. Tidak memiliki jadwal yang pasti.
2. Angkutan umum tidak memberikan kepastian waktu tempuh. 3. Rute trayek angkutan umum terbatas.
4. Kualitas angkutan umum yang masih dibawah standar.
Permasalahan ini menjadi alasan masyarakat enggan menggunakan transportasi umum dan lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi. Hal ini tentu menyebabkan ketimpangan antara transportasi umum dan kendaraan pribadi. Jumlah kendaraan pribadi semakin lama akan semakin meningkat hingga pada akhirnya menimbulkan kemacetan dan masalah lainnya.
Transportasi Massal di Kota Tangerang Selatan
Beberapa implementasi tranportasi massal yang sudah dilakukan oleh Pemetintah Kota Tangerang Selatan diantaraya adalah:
a. Angkutan Kota (Angkot)
Angkot adalah sebuah moda transportasi perkotaan yang merujuk kepada angkutan umum dengan rute yang sudah ditentukan. Tangerang Selatan sendiri sudah mempunyai 1600 unit, namun kebanyakan kondisinya masih belum memperhatikan aspek kelayakan dan kenyamanan.
b. Buss Rapid Transit (BRT)
terdapat 5 unit Bus Trans Anggrek dengan kapasitas 29 bangku. Rencananya Bus Tans Anggrek akan melayani 8 koridor, namun saat ini masih dalam tahap percobaan.
c. Bus Kota
Bus kota merupakan salah satu sarana angkutan umum yang masih beroperasi di kawasan Kota Tangerang Selatan. Kebanyakan bus ini melayani rute ke luar kota, khususnya area Jabodetabek.
d. Kereta Api
Kereta api merupakan sarana angkutan umum yang melayani rute Jabodetabek. Moda transportasi massal ini cukup mampu mengatasi masalah kemacetan di Tangerang Selatan, hanya saja trayeknya masih belum menyeluruh.
e. Light Rail Transit (LRT)
LRT merupakan sistem transportasi berupa kerta api ringan yang dapat menggunakan median jalan atau tepi sungai. Pemerintah Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan dan Kabupaten Tangerang berencana membangun sistem transportasi ini dalam upaya mengatasi kemacetan.
Gambaran Moda Transportasi di Kota Tangerang Selatan
Sumber: http://tangseltoday.com/2015/12/20/trans-anggrek-tangsel-sepi-peminat/
Penerapan Konsep “Move People Not Car” dalam Transportasi Berkelanjutan
Melihat fenomena yang terjadi, kebanyakan transportasi umum yang beroperasi di Tangerang Selatan masih kurang memperhatikan aspek kenyamanan, keamanan, kemudahan akses, dan ketepatan waktu, sehingga masyarakat cenderung menggunakan kendaraan pribadi sebagai transportasi utama. Lalu, bagaimana merubah mindset masyarakat untuk beralih menggunakan transportasi umum? Tentunya, diperlukan upaya untuk menarik minat masyarakat agar menggunakan angkutan umum. Konsep ‘Move People Not Car’ merupakan salah satu cara untuk mengatasi permasalahan ini. Konsep yang mengembangkan sistem transportasi berbasis massal ini bisa menjadi strategi dalam upaya mengatasi berbagai masalah transportasi, terutama kecacetan.
Peningkatan kendaraan bermotor dapat dicegah dengan memindahkan sekaligus orang dalam satu moda transportasi massal yang sesuai dengan konsep ‘Move People Not Car’. Hal ini juga sejalan dengan esensi dari smart environment yang mengedepankan transportasi umum dalam upaya mengurangi konsumsi energi. Seperti visi yang diusung Kota Tangerang Selatan sebagai kota cerdas (smart city) maka, penerapan konsep ini juga dapat membentuk interaksi sosial dari masyarakatnya agar cerdas dalam mengatasi permasalahan di Kota Tangerang Selatan (smart people).
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengimplementasikan konsep ini, diantaranya dengan menerapkan beberapa hal dibawah ini:
1. Penerapan Konsep Transportasi Berkelanjutan
Definisi World Bank (1996) menyatakan bahwa Sustainable Transportation adalah transportasi yang melayani tujuan utama sebagai penggerak ekonomi wilayah perkotaan dan perkembangan sosial.
Semua kegiatan transportasi dilakukan secara efisien dan efektif baik dari segi pengguna maupun bahan bakar.
Transportasi berkelanjutan menggunakan sumber daya yang efisien, sehingga tidak berdampak pada kerusakan lingkungan (smart environment).
2. Penyusunan Grand Design Transportation
Grand Design Transportation merupakan penyusunan sistem jaringan transportasi sebagai bagian dari sistem transportasi berkelanjutan. Grand Design Transportation dirancang sebagai salah satu perwujudan dari smart mobility di Kota Tangerang Selatan dengan menciptakan sistem transportasi perkotaan yang lebih memprioritaskan pejalan kaki, pesepeda dan transportasi umum yang saling terintegrasi satu sama lain.
3. Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Angkutan Umum di Kota Tangerang Selatan
Penambahan armada
Pengadaan Bus Rapid Transit (BRT)
Perbaikan kualitas armada
4. Pengembangan Teknologi Elektronika, Komputer dan Telekomunikasi untuk Membantu Pengaturan Transportasi.
Teknologi ini dapat berupa Intelligent Transport System atau ITS yang secara sederhana dapat diartikan sebagai penerapan teknologi maju bidang elektronika, komputer dan telekomunikasi. Penggunaan teknologi tersebut sangat dibutuhkan di Kota Tangerang Selatan untuk membantu pengaturan transportasi.
.
5. Pembuatan Kebijakan
Sebuah sistem transportasi berkelanjutan merupakan hasil kerja sama antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Pemerintah bekerja sama dengan dua pilar yang lain untuk membuat kebijakan dalam menciptakan smart living, yaitu kota yang terhindar dari kemacetan, polusi, dan mengutamakan transportasi umum, sehingga mampu memberikan rasa nyaman bagi masyarakatnya.
Kebijakan yang berorientasi pada terciptanya smart living, diantaranya adalah:
Pembatasan jumlah kepemilikan kendaraan pribadi
Pembatasan umur kendaraan pribadi didasarkan pada uji emisi gas buang
Pengadaan program “Hari Senin Gratis Naik BRT” bagi pelajar
Pengadaan program “Bike To Work” “Bike To School”
PENUTUP Kesimpulan
Konsep ‘Move People Not Car’ merupakan dasar pengembangan transportasi berkelanjutan yang memberikan kesadaran kepada pemangku kebijakan, khususnya Pemerintah Kota Tangerang Selatan bahwa penyelenggaraan transportasi sesungguhnya adalah memfasilitasi orang atau barang bukan sarana pengangkutnya. Konsep ini mengandung konsekuensi dalam implementasi kebijakan, yakni dengan mengembangkan sistem transportasi berbasis massal. Secara ekstrem, konsep ini dapat diterjemahkan sebagai kebijakan yang dibuat dengan tujuan untuk membuat para pengendara kendaraan pribadi tidak nyaman sehingga beralih pada transportasi umum.
Saran
Pemerintah Kota Tangerang Selatan harus mempunyai komitmen tinggi dalam upaya menyelesaikan permasalahan transportasi dengan konsep ‘Move People Not Car’ untuk merencanakan transportasi berkelanjutan yang terencana, terpadu, efektif, efisien dan juga mengedepankan sisi humanisme, sehingga masyarakat Kota Tangerang Selatan diharapkan dapat mengubah mindset mereka agar lebih memilih transportasi umum dibandingkan kendaraan pribadi.
REFERENSI
Adisasmita, S.A. 2014. Perencanaan Transportasi. Tangerang Selatan: Universitas Terbuka
K, Beela S. and Brezet J. C. 2007. Changing Definition Of Sustainable Transportation. International Conference ‘Sustainable Urban Areas’. Rotterdam. 25-28 Juni 2007.
World Bank. 1996. Sustainable Transport: Piorities for Policy Reform. Development in Practice Series. Washington, DC: World Bank.