• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP NIKAH SIRRI ONLINE.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP NIKAH SIRRI ONLINE."

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

Oleh: Imam Muslimin NIM. C01211025

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Fakultas Syariah dan Hukum Jurusan Hukum Perdata Islam

Prodi Hukum Keluarga Islam Ahwal Al Syakhsiyyah

Surabaya

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id digilib.uinsby.ac.id

iv

ABSTRAK

Skripsi ini adalah hasil penelitian pustaka (library reserch) untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimana praktek nikah sirri online dan bagaimana analisis hukum Islam terhadap nikah sirri online.

Data penelitian dihimpun dengan cara mengumpulkan data dan informasi yang diperoleh dari buku-buku, kajian teks artikel-artikel, wawancara serta literatur lainnya yang mengenai nikah sirri online. Selanjutnya dianalisis dengan teknik analisis deskriptif-Induktif.

Hasil penelitian menyimpulkan bahwapraktik nikah sirri online ini berawal dari banyaknya jasa yang menawarkan kemudahan dalam melakukan pernikahan secara sirri viaonline. Berbagai kemudahan ditawarkan oleh penyedia jasa dalam nikah sirri online antara lain kemudahan dalam melakukan akad atau ijab qabul yang dapat dilakukan secara online dengan cara menggunakan video call melalui aplikasi skype yang dapat bertatap muka secara langsung antara yang menikahkan dengan calon mempelai. Begitu juga dengan wali dan saksinya juga sudah disediakan oleh penyalur jasa nikah sirri online. Meskipun walinya bukan asli dari pihak perempuan dan saksinya pun adalah orang lain, dalam hal ini dapat dikatakan hanya abal-abal saja. Akad pernikahan ini dapat dilaksanakan tanpa harus bertemu secara langsung antara pihak yang menikahkan dengan calon mempelai.

Nikah sirri online dilaksanakan tanpa adanya wali asli dari pihak permpuan dan saksi yang adil untuk dijadikan bukti dalam pernikahan tersebut. Wali dan saksi yang ada dalam nikah sirri online ini hanyalah abal-abal bukan sebenarnya. Begitu juga mengenai ijab qabul yang dilaksanakan dalam nikah sirri online ini hanyalah proses akad jarak jauh antara yang menikahkan dengan yang dinikahkan tidak berada dalam satu tempat secara fisik. Kedua belah pihak melakukan ijab qabul secaraonline dengan bertatap muka melalui videocall saja. Dalam hal ini jumhur ulama tidak membolehkan akad seperti ini karena semua pihak yang bersangkutan dalam proses pernikahan harus ada dalam satu majelis atau satu tempat secara fisik. Dengan demikian menurut Penulis praktik nikah sirri online ini hukumya haram dan tidak sah jika dilakukan.

(7)

i

DAFTAR ISI

SAMPUL DALAM ……….. I

PERNYATAAN KEASLIAN ………. Ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ………... Iii

PENGESAHAN ………... Iv

MOTTO DAN LEMBAR PENGESAHAN………. V

ABSTRAK ………... Vi

KATA PENGANTAR ………...……….. Vii

DAFTAR ISI ...……….……… Ix

DAFTAR GAMBAR……… Xii

DAFTAR TRANSLITERASI ………. Xiii

BAB I PENDAHULUAN ………...

A. LatarBelakangMasalah……….. B. IdentifikasidanBatasanMasalah …...………

C. RumusanMasalah………

D. KajianPustaka ………. E. TujuanPenelitian ………... F. KegunaanHasilPenelitian ……… G. DefinisiOperasional ……… H. MetodePenelitian ……… I. SistematikaPembahasan ……….

1 1 11 12 12 15 15 16 16 20 BAB II LANDASANTEORIPERNIKAHAN ...

A. Pernikahan Menurut Hukum Islam ... B. Dasar Hukum Pernikahan ... C. Syarat dan Rukun Sah Pernikahan ... 1. Syarat Perkawinan ... 2. Rukun Perkawinan ...

(8)

ii

D. Prinsip-prinsip Perkawinan ... 1. Memenuhi Perintah Agama ... 2. Kerelaan dan Persetujuan ... 3. Perkawinan Untuk Selamanya ... 4. Suami Sebagai Tanggung Jawab

dalam Rumah Tangga... E. Tujuan Perkawinan ... F. Pencatatan Perkawinan...

48 48 49 49

50 51 54

BAB III KASUS NIKAH SIRRI ONLINE ... 56

A.Praktek Nikah Sirri Online ... 56

B.Unsur-Unsur dalam Akad Nikah Sirri Online ... 58

C.Pendapat Para Ulama Terhadap Sahnya Akad Dalam PernikahanSirri Secara Online... 61

D.Media OnlineSebagai Sarana Nikah Sirri ... 65

BAB IV ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP NIKAH ... 71

A.Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Pelaksanaan Nikah Sirri Online………... 71

B.Analisis Hukum Islam Terhadap Nikah Sirri Online... 75

BAB V PENUTUP ……… 80

A.Simpulan……….. 80

B.Saran ………. 81

(9)

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Semua makhluk hidup di dunia ini utamanya manusia diciptakan oleh Allah dengan berpasang-pasangan, laki-laki dan perempuan. Dan setiap manusia itu pasti mendambakan kehidupan yang tenteram, dan juga bahagia. Agama Islam adalah agama yang fitrah dan selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan menjaga manusia akan syahwat dan nalurinya serta memberikan kepadanya akan haknya. Akan tetapi, agama Islam tidak melepaskan kendali terhadapnya agar terlepas bebas seperti binatang yang tidak berakal. Namun, Isla>m membersihkan dan membasminya dengan beberapa batasan yang dapat menjadikan manusia di sisi Allah pada tempatnya yang terhormat, di samping juga menjaga masyarakat pada ikatannya dan keserasiannya.

(10)

Artinya: Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.1

Ikatan perkawinan merupakan unsur pokok dalam pembentukan keluarga yang harmonis dan penuh rasa cinta kasih, maka dalam pelaksanaan perkawinan tersebut, diperlukan norma dan hukum yang mengaturnya. Penerapan norma hukum dalam pelaksanaan perkawinan terutama diperlukan dalam rangka mengatur hak, kewajiban, dan tanggung jawab masing-masing anggota keluarga, guna membentuk keluarga yang bahagia dan sejahtera. Perkawinan juga merupakan ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dan perempuan sebagai suami isteri, dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Dan juga suatu cara yang dipilih oleh Allah sebagai jalan bagi manusia untuk beranak, berkembangbiak, dan kelestarian hidupnya, setelah masing-masing pasangan siap melakukan perannya yang positif dalam mewujudkan tujuan perkawinan.2

Al-Quran menyebutkan bahwa suatu perkawinan merupakan akad mitha>qan ghali>zan yang bermakna perjanjian yang kokoh dan sulit terpisahkan.3 Sehingga kiranya perlu dalam melaksanakan suatu perkawinan hendaknya memilih pasangan seperti dari segi agama, nasab, harta dan parasnya, dan apabila kita memilih calon karena agama maka kita akan

1Fahd bin ‘Abdu al-‘Azi>z al-Sa’ud, Quran Kari>m wa Tarjamatu Ma’a>ni>hi bi Lughat al-Indu>ni>siyyah, (Madi>nat Munawwarah: Mujamma’ Ma>lik Fahd li t}ba>’at Mus}h}af al-Shari>f, 2005),354.

(11)

berbahagia. Sebagaimana hadis yang disampaikan oleh Rasulullah dan diriwayatkan Abu Hurairah r.a. :

ُُحَكْنُ ت

ُ

ُُةَأْرَما

ُ عَبْرَِِ

ُ

اَِِاَمِل

اَهِبَسََِِو

اَِِاَمََِِو

اَهِنْيِدِلَو

ُ,

ُِتاَذِبْرَفْظاَف

ُ

ُِنْيِدلا

ُ

ُْتَبِرَت

ُ

كاَدَي

Artinya: ‚Seorang perempuan dinikahi karena empat perkara, karena hartanya,

karena kedudukannya, karena kecantikannya, atau karena Agamanya, maka

pilihlah yang karena Agamanya kamu akan beruntung‛.4

Tujuan perkawinan menurut agama Isla>m ialah untuk memenuhi petunjuk agama dalam rangka mendirikan keluarga yang harmonis. Tanpa adanya kesatuan tujuan antara suami dan isteri dalam keluarga dan kesadaran bahwa tujuan itu harus dicapai bersama-sama, maka dapat dibayangkan bahwa keluarga itu akan mudah mengalami hambatan-hambatan yang merupakan sumber permasalahan besar dalam keluarga, akhirnya dapat menuju keretakan keluarga yang berakibat lebih jauh sampai perceraian.5

Perkawinan tersebut tidak hanya bernilai manusiawi, tetapi juga bernilai ilahiyah, karena itu melaksanakan perkawinan memiliki nilai ibadah kepada Allah di samping memenuhi hajat kemanusiaan. Akad nikah sebagai awal kehidupan berkeluarga, tata caranya datur dengan jelas, agar kelak tujuan perkawinan tersebut dapat tercapai. Tujuan perkawinan dalam Islam adalah memperoleh ketenangan dan menimbulkan rasa saling mencintai dan

4

Sayid al-Ima>m Muhammad bin Isma>’i>l al-kah}la>niy, Subulu as-Sala>mi, jus 3, (t.tp: Hidayah, t.t.), 111.

5

(12)

mengasihi. Tujuan perkawinan ini tercermin dalam firman-Nya surat al-Rum ayat 21:

ْأنق قو

ْ

ْققتٰ قياقء

ْكۦْ

ْ ق قعقجقوْاق أ قَقإْ

ْاك ُ ُ أسقتقك ْاهجٰقوأزقأْأ ُكقسُ نقأْ أنقك ْ ُكق ْ ق ق قخْأنقأ

وُر ق قتقيْنمأ ق قك ْ ن ٰقيْٓ ق قلٰقذْ قِْ نقإْۚ ق أۡقرقوْهة دق ْ ُكق أيقب

ْقن

١

ْ

ْ

ْ

Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.6

Menurut ayat tersebut, keluarga Islam terbentuk dalam keterpaduan (saki<nah), penuh rasa cinta (mawaddah) dan kasih sayang (rah}mah). Terdiri dari isteri yang patuh dan setia, suami yang jujur dan tulus, ayah yang penuh kasih sayang dan ramah, ibu yang lemah lembut dan berperasaan halus, putra-putri yang patut dan taat serta kerabat yang saling membina silaturrahmi dan tolong-menolong. Hal ini dapat tercapai apabila masing-masing anggota keluarga tersebut mengetahui hak dan kewajibannya.7

Isla>m mengajarkan dan menganjurkan perkawinan karena akan berpengaruh baik pada pelakunya sendiri, masyarakat, dan seluruh umat manusia serta jalan paling baik dan sesuai untuk menyalurkan dan memuaskan naluri seks dengan kawin badan jadi segar, jiwa jadi tenang, mata terpelihara untuk melihat yang haram, dan perasaan yang tenang menikmati barang yang

6

Fahd bin ‘Abdu al-‘Azi>z al-Sa’ud, Quran Kari>m wa Tarjamatu Ma’a>ni>hi bi Lughat al-Indu>ni>siyyah, (Madi>nat Munawwarah: Mujamma’ Ma>lik Fahd li t}ba>’at Mus}h}af al-Shari>f, 2005), 644.

7

(13)

berharga. Merupakan jalan terbaik untuk membuat anak-anak menjadi mulia, memperbanyak keturunan, melesytarikan hidup manusia serta memelihara nasib yang oleh Islam sangat diperhatikan sekali.

Naluri kebapakan dan keibuan akan tumbuh saling melengkapi dalam suasana hidup dengan anak-anak dan akan tumbuh pula perasaan-perasaan ramah, cinta, dan sayang yang merupakan sifat-sifat baik untuk menyempurnakan kemanusiaan seseorang. Perkawinan akan dapat menyadari tanggung jawab beristeri dan menanggung anak-anak menimbulkan sikap rajin dan sungguh-sungguh dalam memperkuat bakat dan pembawaan seseorang. Juga dapat mendorong usaha mengeksplotasi kekayaan alam yang dikaruniakan Allah bagi kepentingan hidup manusia.8

Pada prinsipnya perkawinan adalah suatu akad, untuk menghalalkan hubungan serta membatasi hak dan kewajiban, tolong menolong antara laki-laki dan perempuan yang antara keduanya bukan muh}rim. Apabila di tinjau dari segi hukum, jelas bahwa pernikahan adalah suatu akad yang suci dan luhur antara laki-laki dan perermpuan, yang menjadi sebab sahnya status sebagai suami isteri dan dihalalkan berhubungsn seksual dengan tujuan mencapai keluarga saki<nah, mawaddah, warah}mah serta saling menyantuni antara keduanya. Suatu akad perkawinan menurut hukum Isla>m ada yang sah dan ada yang tidak sah. Hal ini dikarenakan, akad yang sah adalah akad yang dilaksanakan dengan sesuai syarat-syarat dan rukun-rukun yang lengkap, sesuai dengan ketentuan agama. Sebaliknya akad yang tidak sah, adalah akad

8

(14)

yang dilaksanankan tidak sesuai dengan syarat-syarat serta rukun-rukun perkawinan.9

Akan tetapi pada kenyataannya ada perkawinan-perkawinan yang dilakukan hanya dengan menurut hukum Agamanya saja. Perkawinan seperti ini sering disebut dengan perkawinan sirri, yaitu perkawinan yang tidak terdapat bukti otentik, sehingga tidak mempunyai kekuatan hukum tetap. Praktik nikah sirri masih menjadi fenomena sosial yang cukup marak dan masih menjadi ajang perdebatan di masyarakat. Kebanyakan praktik nikah sirri dilakukan oleh masyarakat awam yang tidak paham akan hukum, walaupun tidak menutup kemungkinan bahwa perkawinan sirri ini dilakukan oleh orang-orang yang memahami akan hukum. Bagi sebagian masyarakat yang masih awam akan hukum menganggap nikah sirri sebagai jalan keluar terbaik dan tidak ada unsur dosa di dalamnya karena telah dilakukan menurut Agama.10

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi yang begitu pesat saat ini membawa paradigma baru dalam memahami berbagai masalah yang muncul dikalangan umat Isla>m. Dengan demikian umat Islam harus bisa menyikapi dengan arif dan bijaksana dalam menyelesaikan persoalan-persoalan yang ada. Sebagaimana yang tidak dapat kita pungkiri bahwa di era digital yang tidak mengenal ruang dan waktu banyak menimbulkan permasalahan baru yang membutuhkan penelaah secara komprehensif untuk

9 Abd. Somad, Hukum Islam: Penormaan Prinsip Syari’ah dalam Hukum Indonesia, (Jakarta:

Kencana Pranada Media Grup, 2012), 126.

(15)

memberikan kepastian hukum Islam tanpa keluar dari koridor al-Quran dan Sunnah yang telah digariskan Allah swt.

Di awal abad XXI, teknologi sangat berkembang pesat.Teknologi informasi dapat dengan mudah diakses kapanpun dan dimanapun kita inginkan. Perkembangan tersebut telah merambah berbagai sektor terutama sektor komunikasi yang berbasis kemudahan dan cepat. Dengan teknologi, berkomunikasi dengan jarak puluhan kilometer pun tidak akan menjadi suatu masalah. Di abad yang serba canggih ini perkembangan teknologi begitu pesat, salah satunya adalah kita dapat mengaksesnya melalui internet.

Internet itu sendiri merupakan sebuah jaringan yang dapat mengakses semua informasi yang kita inginkan. Salah satu peranan yang sangat penting dengan internet itu sendiri adalah sebagai sumber data informasi dan komunikasi. Internet digunakan sebagai sarana pertukaran informasi dari satu komputer ke komputer lain, tanpa dibatasi oleh jarak fisik kedua komputer tersebut. Dua komputer yang sama terhubung ke internet dapat saling berkomunikasi antara satu dengan yang lain, atau pertukaran data dan informasi akses data yang dilakukan dalam waktu yang sangat cepat.11

Dewasa ini internet sudah sangat familiar dikalangan masyarakat, tidak hanya dapat diakses dengan mudah melalui komputer akan tetapi juga via smartphone dan tablet. Sehingga banyak pula yang menggunakan internet untuk berkomunikasi secara online. Online itu sendiri dapat diartikan sebagai suatu keadaan yang sedang menggunakan jaringan internet, terhubung dalam

11 http://www.hasbihtc.com/2014/09/06/apa _itu_internet_pengertian_internet.html / di akses

(16)

jaringan antara satu perangkat komputer dengan perangkat komputer yang lainnya yang saling terhubung sehingga dapat saling berkomunikasi dengan media-media yang tidak dapat bertatap muka secara langsung ataupun dengan saling bertatap muka.12

Terjadinya perkawinan menggunakan alat komunikasi merupakan dampak dari kemajuan teknologi yang sebegitu pesat. Kemajuan tersebut memberikan kemudahan-kemudahan bagi seseorang dalam hubungannya secara individu dengan orang lain. Konteksnya dengan hukum Islam yang bersifat universal, maka hukum yang dimaksud meski juga berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, sehingga bersesuaian dengan kaidah dan usul fiqh itu sendiri, bahwa hukum itu akan berubah sesuai dengan perkembangan zaman, waktu dan perubahan tempat.

Dampak dari kecanggihan teknologi yang berkembang sekarang ini memunculkan sebuah permasalahan Hukum Islam yang terjadi dikalangan masyarakat khususnya bidang perkawinan. Salah satunya saat ini dikalangan masyarakat muncul fenomena nikah sirri online yang marak terjadi di Indonesia khususnya di kota-kota besar seiiring kemajuan teknologi yang berkembang. Perkawinan di luar hukum negara itu cukup dilakukan via online berbekal koneksi internet. Dengan dalih menghindari zina, jasa menikah secara Agama marak di iklankan di dunia maya. Para penikmat libido pun berlomba melakukan model perkawinan tersebut. Sebab, mereka tidak perlu repot-repot menikahi pasangannya di Kantor Urusan Agama (KUA).

12http://www.updatekeren.com/2012/09/pengertian_online.html / di akses pada tanggal 22 April

(17)

Kabanyakan para laki-laki yang melakukan praktik perkawinan tersebut adalah para laki-laki hidung belang yang memanfaatkan cara tersebut untuk melampiaskan hasrat seksualnya semata yang dianggapnya bukan sesuatu yang diharamkan. Sedangkan bagi perempuan yang bersedia dinikahi oleh para lelaki hidung belang kebanyakan adalah perempuan yang bekerja di tempat-tempat hiburan malam seperti tempat karaoke dan lain-lain. Mereka menikah dengan para pelanggan yang sering datang ditempat kerjanya dan sudah kenal lama serta yang sering memberikan uang untuk belanja.

Ketika sudah sekian lama saling mengenal mereka memutuskan untuk menikah secara sirri biar dapat berhubungan layaknya suami isteri. Dan kebanyakan laki-laki yang menikahi perempuan malam secara sirri banyak yang sudah mempunyai isteri dan anak. Mereka menikah menggunakan jasa penghulu yang bersedia menikahkan keduanya yang paham masalah Agama, namun akad perkawinan tersebut dilangsungkan tidak dalam keadaan bersama-sama, calon mempelai tidak harus datang menemui penghulu dalam artian tidak satu tempat (majelis), melainkan dilaksanakan secara online melalui skype.13

Pada waktu melaksanakan akad nikah sirri online ada juga yang menjadi saksi akan tetapi saksinya tidak jelas apakah itu dari pihak keluarga

13

Skype adalah sebuah program komunikasi dengan tegnologi jaringan telepon internet (p2p) yang dapat mempermudah penggunanya berkomunikasi via web cam dengan bersistemvoip yang

artinya dapat berkomunikasi via suara ataupun videocall,

(18)

atupun bukan dari pihak keluarga. Walinya juga ada melainkan menggunakan penghulu, bukan wali dari keturunan pihak perempuan. Akad nikah dilakukan secara online dengan menggunakan media seperti Skype. Antara calon mempelai dengan penghulu dan saksi tidak perlu tatap muka. Jadi dua insan yang ingin menikah cukup menghubungi jasa nikah online. Pihak penyedia jasa telah menyediakan penghulu, wali dan saksi yang siap secara online menikahkan mereka. Karena online, penghulu disini lebih tidak jelas lagi. Bisa jadi ia ustadz gadungan.14

Selayaknya pasangan suami isteri yang telah melaksanakan akan nikah yang menurut mereka sudah benar dilakukan secara syari’ah dan tidak termasuk perbuatan zina, perempuan yang dinikahi juga mendapatkan jatah uang bulanan layaknya suami isteri. Tetapi dalam praktik perkawinan ini ada kebebasan setelah menikah, perempuan yang dinikahi oleh lelaki hidung belang tersebut diperbolehkan bekerja seperti sedia kala, yakni menjadi wanita penghibur ditempat kerjanya dan si lelaki juga mempunyai kebebasan sendiri.

Permasalahan seperti ini jelas menjadi perdebatan dari banyak kalangan apakah dalam kasus nikah sirri online ini sudah benar menurut ketentuan syarat dan rukun yang dilaksanakan menurut Hukum Islam atopun sebaliknya, menjadikan keharaman yang juga sama dengan perzinahan bagi yang melakukannya.

14

(19)

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut, penulis akan membahasnya dalam skripsi yang berjudul ‚Analisi Hukum Islam Terhadap Nikah Sirri Online ‛

B. Identifikasi dan Batasan Masalah 1. Identifikasi Masalah

Identifikasi diperlukan untuk mengenali ruang lingkup pembahasan

agar tidak terjadi miss understanding dalam pemahaman pembahasannya.

Berdasarkan latar belakang yang diuraikan di atas, maka dapat

diidentifikasikan masalah sebagai berikut:

a. Nikah sirri online termasuk pernikahan yang tidak dilaksanakan dalam satu majelis.

b. Pernikahan yang tidak menghadirkan wali dari pihak keluarga perempuan.

c. Pernikahan yang dilangsungkan hanya dengan melalui media online yaitu dengan bertatap muka melalui skype.

d. Kebanyakan yang melakukan adalah laki-laki hidung belang dan perempuan yang bekerja di tempat hiburan malam.

(20)

2. Batasan masalah

Dari Identifikasi masalah tersebut penulis dapat membatasi masalah sebagai berikut:

a. Nikah sirri online termasuk pernikahan yang tidak dilaksanakan dalam satu majelis.

b. Penghulu, saksi, serta wali yang menikahkan tidak jelas asal-usulnya, walinya juga bukan dari keluarga perempuan.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan dari latar belakang dan batasan masah diatas, maka

penulis merumuskan masalah sebagai berikut ini:

1. Bagaimana pelaksanaan nikah sirri online ?

2. Bagaimana pandangan hukum Islam terhadap nikah sirri online ?

D. Kajian Pustaka

Kajian pustaka terdahulu berguna untuk memperjelas, menegaskan, melihat kelebihan dan kekurangan teori yang digunakan oleh penulis lain. Selain itu juga berguna untuk mempermudah pembaca membandingkan hasil penelitian, serta menghindari plagiatisme.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Af’idatul Aliyah mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya pada tahun 2009 dengan

judul ‚Tinjauan Hukum Islam Terhadap Kasus Taukil Wali Nikah Via

(21)

Di dalam skripsi tersebut peneliti memaparkankan bahwa keberadaan wali nikah yang bertempat tinggal jauh dan sulit dijangkau, terdapatnya masalah keluarga yang membuat wali sengaja tidak menghadiri akad dan taukil wali via telepon dilakukan. Peneliti juga memaparkan akibat hukum menurut Undang-Undang No.1 tahun 1974.15

Pada penelitian lain yang dilakukan oleh Fatah Zukhrufi mahasiswa

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada tahun 2012 dengan judul ‚Tinjauan Hukum Islam Terhadap Akad Nikah Via Net Meeting Teleconference ( Study Atas Pemikiran Hukum Islam K.H M.A Sahal Mahfudh)‛. Di dalam skripsi ini peneliti mengutarakan pandangan seorang tokoh Agama untuk mendapatkan suatu ijtihad hukum Islam terhadap kasus tersebut. Pada kasus tersebut calon mempelai suami berada di luar Negeri sedangkan calon isteri berada di Indonesia.16

Kemudian pada penelitian yang dilakukan oleh Della Putri Citra Arum mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta pada tahun 2009 dengan

judul ‚Study Analisis Hukum Perkawinan Islam Mengenai Hukum Akad

Nikah Melalui Telepon‛. Di dalam skripsi ini peneliti memaparkan pandangan seorang tokoh agama di Indonesia untuk mengkaji lebih dalam tentang apakah diperbolehkan permasalahan tersebut yang juga telah dialami

15

Af’idatul Aliyah, ‚Tinjauan Hukum Islam Terhadap Kasus Taukil Wali Nikah Via Telepon Di KUA Kecamatan Rembang Kabupaten Rembang Jawa Tengah‛ (Skripsi--IAIN Sunan Ampel, Surabaya, 2009).

16

Fatah Zukhrufi, ‚Tinjauan Hukum Islam Terhadap Akad Nikah Via Net Meeting Teleconference ( Study Atas Pemikiran Hukum Islam K.H M.A Sahal Mahfudh)‛, (Skripsi—

(22)

oleh kedua calon mempelai yang berada di tempat yang berbeda dengan melangsungkan akad nikah melalui telepon.17

Penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Mahrom Mahasiswa

Universitas Diponegoro Semarang pada tahun 2008 dengan judul ‚ Ijab Qabul

Yang Dilakukan Melalui Telepon Berdasarkan Undang-Undang No 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan ( Studi Kasus Penetapan Perkara No. 1751/P/1989

Di Pengadilan Agama Kota Jakarta Selatan )‛. Di dalam skrpsi ini peneliti

lebih cenderung untuk menganalisis tentang putusan pengadilan yaitu pertimbangan hukum apa yang dipergunakan oleh hakim untuk menetapkan suatu keputusan yang menolak tentang adanya Ijab qabul melalui telepon.18

Setelah melakuakan analisa terhadap beberapa skripsi tersebut, penulis rasa bahwa pembahasan penelitian tersebut berbeda dengan penelitian penulis

yang berjudul ‚Analisis Hukum Islam Terhadap Nikah Sirri Online‛. Di dalam skripsi ini disajikan data bahwa dikalangan masyarakat yang melakukan praktek nikah sirri online yang akadnya dilangsungkan oleh calon pasangan suami isteri dengan jarak tempat yang tidak begitu jauh ataupun dapat dilakukan ditempat yang sama oleh pasangan suami isteri secara online melalui skype, dan penghulunya atau yang menikahkan tidak berada dalam satu majelis, dengan kata lain berlainan tempat. Perkawinan model ini dilakukan secara online menggunakan media skype sebagai alat untuk

17

Della Putri Citra Arum, ‚Study Analisis Hukum Perkawinan Islam Mengenai Hukum Akad

Nikah Melalui Telepon‛,(Skripsi—Universitas Muhammadiyah, Surakarta, 2009).

18

Mahrom, ‚ Ijab Qabul Yang Dilakukan Melalui Telepon Berdasarkan Undang-Undang No 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan ( Studi Kasus Penetapan Perkara No. 1751/P/1989 Di

(23)

berkomunikasi pada waktu melakukan akad, yang mana penghulunya tidak harus hadir dan wali serta saksinya semuanya ditanggung oleh penghulu.

E. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui pelaksanaan nikah sirri online.

2. Untuk mengetahui pandangan hukum Islam terhadap nikah sirri online.

F. Kegunaan Hasil Penelitian

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat pemikiran bagi disiplin keilmuan pada umumnya dan dapat digunakan untuk hal-hal berikut :

Aspek teoritis : sebagai upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan wawasan khususnya dalam bidang hukum keluarga yang berkaitan dengan media sosial khususnya media sosial skype. Sehingga pelaksanaan perkawinan seperti nikah sirri online ini mempunyai ketentuan hukum yang jelas.

(24)

G. Definisi Operasianal

Hukum Islam : hukum Islam yang dimaksud dalam penelitian ini

yakni Fikih yang mengedepankan pemikiran ijtihad para ulama terhadap hukum yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadis

Nikah Sirri Online : nikah sirri online yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pernikahan dibawah tangan dimana

akadnya dilaksanakan melalui videocall yang

disediakan oleh situs penyedia jasa nikah secara online .

H. Metode Penelitian

Dalam menelusuri dan memahami objek kajian ini penyusun

menggunakan metode penelitian sebagai berikut:

1. Jenis penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang diangkat, maka jenis penelitian ini

dikategorikan sebagai penelitian kepustakaan (library research).

Penelitian kepustakaan adalah salah satu bentuk metode penelitian yang

(25)

2. Data

Data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah yang bersumber dari fenomena-fenomena di masyarakat dan pendapat para ulama kontemporer, serta beberapa artikel dan bahan bacaan terkait dengan nikah sirri online.

a. Data primer, yaitu data yang bersifat utama dan penting atau data dasar yang akan memungkinkan untuk mendapatkan informasi yang diperlukan dan berkaitan langsung dengan pembahasan skripsi ini, yaitu melalui media internet serta wawancara dengan para ulama kontemporer dan kitab-kitab fikih Islam atau artikel-artikel terkait tentang nikah sirri online

b. Sekunder, yaitu merupakan data atau literatur yang akan

menunjang dalam melengkapi dan memperkuat serta memberi penjelasan mengenai sumber data primer, diantaranya:

1) Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, Fikih Islam Wa ‘Adilatuhu

2) Abdurrahman al-Jaziri, al-Fiqh ‘ala Mazahib al-Arba’ah

3) Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah

4) Dan Fikih Munakahat

3. Metode Pengumpulan Data

Dalam merencanakan suatu penelitian, maka tahapan awal sebelum

mengolah dan menganalisis data yaitu merencanakan metode

(26)

tahap penelitian berikutnya adapun metode pengumpulan data yang

digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan suatu cara pengumpulan data yang

menghasilkan catatan-catatan penting yang berhubungan dengan

masalah yang diteliti, sehingga akan diperoleh data yang lengkap.

Dokumentasi ini merupakan kumpulan-kumpulan data berbentuk

tulisan yang dapat bersumber dari buku, jurnal, majalah, maupun

keterangan-keterangan ilmiah lainnnya.19

Adapun dalam penelitian ini metode dokumentasi yang dilakukan

yakni pencarian dan pengumpulan sumber-sumber data yang berkaitan

dengan niakh sirri online. Selain itu, bentuk dokumentasi lainnya yaitu

dokumen berupa artikel-artikel online atau file yang diperoleh untuk

menambah referensi dalam penelitian, maupun kekayaan intelektual

dari peneliti itu sendiri.

b. Studi kepustakaan

Adalah dengan cara mengumpulkan data dan informasi yang

diperoleh baik dari buku-buku, kitab-kitab literatur yakni dengan cara

membaca, memahami dan mencermati keterkaitannya dengan kasus

yang diteliti, kemudian mengumpulkan, menyeleksi dan

menginventarisir data-data tersebut.

(27)

4. Teknik Pengolahan Data

Setelah data yang diperlukan dapat terkumpul selanjutnya penulis akan mengolah data tersebut dengan langkah-langkah sebagai berikut: a. Editing adalah memilih dan menyeleksi data yang telah

diperoleh dari telaah pustaka dan hasil dokumentasi, kemudian penulis mencari kesesuaian, keselarasan, kelengkapan, keslian, kejelasan relevansi, dan keseragaman dengan permasalahan yang akan penulis teliti.

b. Organizing setelah melakukan editing, penulis kemudian melakukan tahap organizing dengan mengatur dan menyusun data-data yang telah diperoleh tersebut dengan sedemikian rupa sehingga menghasilkan bahan untuk menyusun laporan skripsi dengan baik. c. Analyzing yaitu menganalisis data dalam upaya kategorisasi

data yang relevan sebagai dasar penulis untuk mengkaji teori dan mencari hubungan fungsional, dengan tema penelitian.

5. Teknik Analisis Data

(28)

a. Deskriptif

Yaitu menggambarkan atau melukiskan suatu keadaan atau fenomena. Suatu keadaan mengenai kasus nikah sirri online yang marak terjadi di masyarakat.

b. Induktif-deduktif

Yaitu mengungkapkan fakta yang terjadi di masyarakat tentang kasus nikah sirri online selanjutnya dianalisis berdasar hukum Islam sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan mengenai hal tersebut. Supaya dapat menemukan hukum yang kongkrit dalam kasus tersebut, sehingga dapat menemukan hasil yang lebih bijaksana dan akurat.

I. Sistematika Pembahasan

Pembahasan dalam skripsi ini nantinya terdiri dari lima bab yang masing-masing mengandung sub-sub bab, yang mana sub-sub bab tersebut erathubungannya antara satu dengan yang lain. Dari kesatuan sub-sub bab tersebutmenyusun integralitas pengertian dari skripsi.

(29)

Bab kedua, memuat landasan teori tentang pernikahan dalam Islam yang terdiri dari: pengertian dan dasar hukum nikah, rukun dan syarat nikah dalam fiqih Islam dan fiqih munakahat.

Bab ketiga, penulis menyajikan hasil penelitian yang diperoleh dari berbagai literatur yang berkaitan dengan masalah yang akan dikaji, sehingga penulis dapat menjelaskan pelaksanaan nikah sirri online.

Bab keempat, memuat analisis penulis yang terdiri atas analisis terhadap nikah sirri online menurut Hukum Islam.

(30)

22

BAB II

LANDASAN TEORIPERNIKAHAN

A. Pernikahan Menurut Hukum Islam

Pernikahan merupakan sunnatullah yang umum dan berlaku pada semua makhluk-Nya, baik pada manusia, hewan, maupun tumbuh-tumbuhan. Pernikahan adalah suatu cara yang dipilih oleh Allah Swt, sebagai jalan bagi makhluk-Nya untuk berkembang biak dan melestarikan hidupnya.1

Kata nikah atau kawin berasal dari bahasa Arab yaitu ‚حاكنلا‛ dan ‚جاوزلا‛, yang secara bahasa mempunyai arti ‚ئطولا ‛ (setubuh, senggama)2 dan

مضلا ‛(berkumpul). Dikatakan pohon itu telah menikah apabila telah

berkumpul antara satu dengan yang lain.3Secara hakiki nikah diartikan juga dengan berarti bersetubuh atau bersenggama, sedangkan secara majazi bermakna akad.4

Makna nikah berarti al-jam’u dan al-d{hamu yang artinya kumpul.5

Makna nikah (Zawa>j) bisa diartikan dengan aqdu al-tazwi>j yang artinya akad nikah. Juga dapat diartikan (wat}’u al-zaujah) bermakna menyetubuhi isteri. Definisi yang hampir sama dengan di atas juga dikemukakan oleh

1 Slamet Abidin dan Aminuddin, Fiqh Munakahat 1, (Bandung: Pustaka Setia, 1999), 9. 2Ahmad Warson Al-Munawwir, Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka

Progressif, 1997) 1461.

(31)

Rahmat Hakim, bahwa kata nikah berasal dari bahasa arab ‚nika>hun‛ yang merupakan masdar atau asal kata dari kata kerja (fi’il ma>d{i) ‚nakaha‛

sinonimnya ‚tazawwaja‛ kemudian diterjemahkan dalam bahasa Indonesia

sebagai perkawinan. Kata nikah sering juga dipergunakan sebab telah masuk dalam bahasa Indonesia.6

Kata na-ka-ha banyak terdapat dalam al-Qur’an dengan arti kawin, seperti dalam surat an-Nisa’ ayat 3 :7

ۡ غِ

ۡ

ۡ لِۡ

ناݠك݁لس ݐكتۡ اَقأۡ ݗكܢ ݍلخ

ٰۡ قمٰ قتق

ۡٱ

ۡۡقف

ۡناݠكܫلكݛٱ

ۡ

ۡ قݚلمݘۡ ݗككقݕۡ قجܛ قطۡ ܛقݘ

ۡلحهܛ قسلمنݕٱ

ۡ

ۡقفۡناݠك لܯ ݇قتۡ

َ

ا

ق

أۡ ݗكܢ ݍلخۡ غلإقفۡۖقٰ݅قبكرقوۡ قܣٰ

ق كܤقوٰۡ قَ ܥقݘ

ۡ ܠقݓقݖق ۡܛقݘۡ و

ق

دۡقحقܯلܪٰق

ۡناݠك ݠك݇قتۡ

َ

ا

أۡٓ قَ ل

ق

ق

دۡ قݑلٰ قذۡۚ ݗكككݜٰ ق ي

أ

ق

٣

ۡ

ۡ

ۡ

Artinya: ‚Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap

(hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu

mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya‛8

Beberapa penulis juga terkadang menyebut pernikahan dengan kata

perkawinan. Dalam bahasa Indonesia, ‚perkawinan‛ berasal dari kata

‚kawin‛ , yang menurut bahasa artinya membentuk keluarga dengan lawan

jenis, melakukan hubungan kelamin atau bersetubuh. Istilah kawin digunakan secara umum untuk tumbuhan, hewan, dan manusia yang

6 Rahmat Hakim, Hukum Perkawinan Islam, (Bandung: Pustaka Setia, 2000), 11.

7 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam Di Indonesia :Antara Fiqh Munakahat dan Undang-Undang Perkawinan, (Jakarta: Kencana, 2009), 36.

(32)

menunjukkan proses generatif secara alami. Berbeda dengan itu, nikah hanya digunakan untuk manusia karena mengandung keabsahan secara hukum nasional, adat istiadat dan terutama menurut agama. Makna nikah adalah akad atau ikatan, karena dalam suatu proses pernikahan terdapat ijab (pernyataan penyerahan dari pihak perempuan) dan kabul (pernyataan penerimaan dari pihak laki-laki) selain itu nikah juga bisa diartikan sebagai bersetubuh.9

Dalam al-Qur’an terdapat pula kata nikah dengan arti akad, seperti

tersebut dalam firman Allah surat al-Nisa’ ayat 22:

ۡ

ق

َقو

ۡ

ۡ قݚلمݘۡݗكككذهܛقܝاقحۡ قܩقكقݛۡܛقݘۡناݠكܫلݓݜقܡ

ۡلحهܛ قسلمنݕٱ

ۡ

ۡاݛلرۡۚ قف

قݖقسۡ ܯقݏۡܛقݘۡ اَلر

ۡكݝۥ

ۡ

ۡقغ قَ

ۡ قًيلبقسۡقح

هܛقسقوۡܛًܢ ݐقݘقوًۡܟقشلܫٰق

ۡ

ۡ

Artinya: ‚Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang Telah dikawini

oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang Telah lampau‛.10

Ayat tersebut di atas mengandung arti bahwa perempuan yang dinikahi oleh ayahnya itu haram dinikahi karena ayah telah melangsungkan akad nikah dengan perempuan tersebut, meskipun di antara keduanya telah melangsungkan hubungan kelamin.11.

9Abd. Rachman Assegaf, Study Islam Kontekstual Elaborasi Paradigma Baru Muslim Kaffah,

(Yogyakarta: Gama Media, 2005), 131.

10 Ibid.,., 102

(33)

Para ahli fikih biasa menggunakan rumusan definisi sebagaimana tersebut di atas dengan penjelasan sebagai berikut:12

1. Penggunaan lafaz akad (دقع) untuk menjelaskan bahwa perkawinan itu adalah suatu perjanjian yang dibuat oleh orang- orang atau pihak - pihak yang terlibat dalam perkawinan. Perkawinan itu dibuat dalam bentuk akad karena ia peristiwa hukum, bukan peristiwa biologis atau semata hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan. 2. Penggunaan ungkapan:

ءطولا ةحابا نمضتي

(yang mengandung maksud

membolehkan hubungan kelamin), karena pada dasarnya hubungan laki-laki dan perempuan itu adalah terlarang, kecuali ada hal-hal yang membolehkannya secara hukum syara‘. Di antara hal yang membolehkan hubungan kelamin itu adalah adanya akad nikah di antara keduanya. Dengan demikian akad itu adalah suatu usaha untuk membolehkan sesuatu yang asalnya tidak boleh.

3. Menggunakan kata

جيوزت وا حاكنا ظفلب

, yang berarti menggunakan lafaz na-ka-ha atau za-wa-ja mengandung maksud bahwa akad yang membolehkan hubungan kelamin antara laki-laki dan perempuan itu mesti dengan menggunakan kata na-ka-ha dan za-wa-ja, oleh karena dalam Islam di samping akad nikah itu ada lagi usaha yang membolehkan hubungan antara laki-laki dengan perempuan itu, yaitu

(34)

pemilikan seorang laki-laki atas seorang perempuan atau disebut juga

‚perbudakan‛. Bolehnya hubungan kelamin dalam bentuk ini tidak

disebut perkawinan atau nikah, tapi menggunakan kata ‚tasarri‛. Abu Zahrah mengemukakan definisi nikah, yaitu akad yang menjadikan halalnya hubungan seksual antara kedua orang yang berakad sehingga menimbulkan hak dan kewajiban yang datangnya dari syara‘. 13

Sedangkan di dalam Ensiklopedi Hukum Islam, disebutkan bahwa nikah merupakan salah satu upaya untuk menyalurkan naluri seksual suami istri dalam sebuah rumah tangga sekaligus sarana untuk menghasilkan keturunan yang dapat menjamin kelangsungan eksistensi manusia di atas bumi. Keberadaan nikah itu sejalan dengan lahirnya manusia pertama di atas bumi dan merupakan fitrah manusia yang diberikan Allah SWT terhadap hamba-Nya.14

Perkawinan menurut hukum Islam adalah akad yang sangat kuat atau mith|a>qan ghali>z{an dan merupakan ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita untuk mentaati perintah Allah dan siapa yang melaksanakannya adalah merupakan ibadah, serta untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang saki>nah, mawaddah warahmah.15

Kemudian Hasbi Ash-Shiddieqy memberikan pengertian nikah adalah akad yang memberikan faedah hukum kebolehan melakukan hubungan

13 Abu Zahrah, Al-Ahwal Al-Syakhs{iyah, (Dar El-Fikr Al-‘arabi, 1958), 18.

14 Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedia Hukum Islam Jilid 3, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve,

1996), 1329.

(35)

keluarga (suami istri) antara pria dan wanita dan mengadakan tolong menolong dan memberikan batasan bagi pemiliknya serta peraturan bagi masing-masing.16

Ulama H}anafiyah memberikan pengertian nikah adalah akad yang memberikan faedah dimilikinya kenikmatan dengan sengaja, maksudnya adalah untuk menghalalkan seorang laki-laki memperoleh kesenangan (istimta‘) dari wanita, dan yang dimaksud dengan memiliki di sini adalah bukan makna yang hakiki.17

Definisi ini menghindari kerancuan dari akad jual beli (wanita), yang bermakna sebuah akad perjanjian yang dilakukan untuk memiliki budak wanita.18

Sedangkan menurut ulama Shafi‘iyah, nikah adalah akad yang mengandung ketentuan hukum kebolehan hubungan seksual dengan lafaz nikah atau tajwi>z atau semakna dengan keduanya.19

Ulama Malikiyah mendefinisikan pernikahan adalah akad perjanjian untuk menghalalkan meraih kenikmatan dengan wanita yang bukan mahram, atau wanita Majusiyah, wanita Ahli kitab melalui sebuah ikrar.20

16 Hasbi Ash-Shidieqi, Falsafah Hukum Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1975), 96.

17 Abdurrahman Al-Jaziri, Al Fiqh ‘Ala> Maz|a>hib Al-‘Arba’ah juz 4, (t.tp: Dar El-Hadits, 2004), 8. 18Yusuf Ad-Duraiwisy, Nikah Sirri, Mut’ah dan Kontrak dalam Timbangan Al-Qur’an dan As-Sunnah, Penerjemah Muhammad Ashim, (Jakarta: Darul Haq, 2010), 17.

19 Abdurrahman Al-Jaziri, Al Fiqh ‘Ala> Madh|a>hib Al-‘Arba’ah juz 4, (t.tp: Dar El-Hadits,

2004),8.

(36)

Ulama H}anabilah berkata, akad pernikahan maksudnya sebuah perjanjian yang didalamnya, terdapat lafaz nikah atau tajwi>z atau terjemahan (dalam bahasa lainnya) yang dijadikan sebagai pedoman.21

Dapat diperhatikan dalam definisi-definisi ini, bahwa semuanya mengarah pada titik diperbolehkannya terjadinya persetubuhan, atau dihalalkannya memperoleh kenikmatan (dari seorang wanita) dengan lafaz tertentu.

Dalam Undang-Undang No. 1 tahun 1974 bab 1 pasal 1 disebutkan

bahwa: ‚perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha

Esa‛. Dengan demikian pernikahan adalah suatu akad yang secara

keseluruhan aspeknya dikandung dalam kata nikah atau tazwi>j dan merupakan ucapan seremonial yang sakral.

Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian nikah adalah perjanjian yang bersifat syar‘i yang berdampak pada halalnya seorang (lelaki atau perempuan) memperoleh kenikmatan dengan pasangannya berupa berhubungan badan dan cara-cara lainnya dalam bentuk

yang disyari’atkan, dengan ikrar tertentu secara disengaja.22

21Ibid., 18.

(37)

Nikah sirri secara etimologi berarti rahasia.23 Atau perbuatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi, nikah sirri juga biasa disebut dengan nikah bawah tangan. Istilah pernikahan di bawah tangan ini lahir setelah Undang-Undang Perkawinan berlaku, secara efektif. Pernikahan di bawah tangan pada dasarnya adalah kebalikan dari pernikahan yang dilakukan menurut Undang-Undang. Dengan demikian, makna normatifnya adalah setiap pernikahan yang tidak dilakukan menurut hukum positif, berarti terkategori pernikahan di bawah tangan.24

Nikah sirri dapat diartikan sebagai pernikahan yang rahasia atau dirahasiakan. Dikatakan sebagai pernikahan yang dirahasiakan karena prosesi pernikahan semacam ini sengaja disembunyikan dari publik dengan berbagai alasan, dan biasanya dihadiri hanya oleh kalangan terbatas keluarga dekat, tidak dipestakan dalam bentuk resepsi walimatul ursy secara terbuka untuk umum. Tetapi perkawinan ini sudah memenuhi unsur-unsur perkawinan dalam Islam, yang meliputi dua mempelai, dua orang saksi, wali, ijab-qabul dan juga mas kawin.

Sekalipun pernikahan di bawah tangan adalah wujud aplikatif dari ajaran Isla>m, harus dikaitkan langsung dengan kehidupan kenegaraan dimana masyarakat Isla>m itu berada.

23 Ahmad Warson Munawir, al-Munawir kamus Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progresif,

1984), 667

(38)

Dalam rumusan ulama fikih, nikah sirri ada dua:

1. Akad yang dilakukan tanpa saksi, tanpa publikasi dan tanpa pencatatan. Para ulama fikih sepakat melarang nikah sirri semacam ini.

2. Akad nikah yang dihadiri oleh para saksi, tetapi mereka diharuskan untuk merahasiakan pernikahan tersebut. Para ahli fikih berbeda pendapat tentang keabsahan nikah sirri semacam

ini. Sebagian ulama seperti Hanafiyah dan shafi’iyah, bahwa

pesan agar saksi merahasiakan terjadinya pernikahan tidak berpengaruh terhadap sahnya akad nikah, sebab adanya saksi telah menjadikan nikah tersebut tidak sirri lagi. Sebagian ulama yang lain, seperti Imam Malik dan ulama yang sepakat dengannya, berpendapat bahwa adanya pesan untuk merahasiakan pernikahan telah mencabut kesaksian dari ruh

dan tujuan dishari’atkannya pernikahan, yaitu publikasi. Oleh

karena itu, pernikahan tersebut tidak sah. Sedangkan menurut Hanabilah hukum nikah sirri semacam ini adalah makruh.25 Dari aspek pernikahannya, nikah sirri tetap sah menurut ketentuan

shari’at, dan pelaku tidak boleh dianggap melakukan tindakan kemaksiyatan,

sehingga berhak dijatuhi sanksi hukum, sebab suatu perbuatan baru dianggap kemaksiyatan dan berhak dijatuhi sanksi di dunia dan di akhirat, ketika perbuatan tersebut terkategori mengerjakan yang haram dan meninggalkan

(39)

yang wajib. Seorang dinyatakan melakukan kemaksiatan ketika ia mengerjakan perbuatan yang haram, atau meninggalkan kewajiban yang

telah ditetapkan oleh shari’at.

Pendapat yang ra>jih (kuat), nikah ini sah, karena syarat-syarat dan rukunnya telah terpenuhi, walaupun tidak diberitahukan kepada khalayak. Sebab kehadiran wali dan dua saksi telah merubah sifat kerahasiaan menjadi sesuatu yang diketahui oleh umum. Semakin banyak yang mengetahui, maka semakin afdhol. Oleh karena itu, dimakruhkan merahasiakan pernikahan supaya pasangan itu tidak mendapat gunjingan dan tuduhan tidak sedap, ataupun persangkaan-persangkaan yang buruk.26

Berdasarkan keterangan tersebut, dapat disimpulkan bahwa pernikahan yang tidak dicatatkan di Lembaga Pencatatan Negara, tidak boleh dianggap sebagai tindakan kriminal. Sehingga pelakunya berhak mendapatkan dosa dan sanksi di dunia, karena pernikahan yang ia lakukan telah memenuhi rukun-rukun pernikahan yang telah ditentukan oleh shari’at.

B. Dasar Hukum Pernikahan

Hukum nikah (perkawinan), yaitu hukum yang mengatur hubungan antara manusia dengan sesamanya yang menyangkut kebutuhan biologis antar jenis, dan hak serta kewajiban yang berhubungan dengan perkawinan tersebut.

(40)

Perkawinan adalah sunnatullah, hukum alam di dunia. Perkawinan dilakukan oleh manusia, hewan, dan juga tumbuh-tumbuhan, karenanya menurut sarjana ilmu alam mengatakan bahwa segala sesuatu kebanyakan terdiri dari dua pasangan. Misalnya, air yang kita minum (terdiri dari oksigen dan hidrogen), listrik ada positif dan negatifnya dan sebagainya.27

Apa yang telah dinyatakan oleh para sarjana ilmu alam tersebut adalah sesuai dengan pernyataan Allah dalam Al-Qur’a>n dalam surat al-Dha>riat ayat 49 sebagai berikut:

ݚلݘقو

ۡ

ۡقغوكܱاݒقܰقܡۡ ݗككاݖق݇قݕۡل ۡقج وقزۡܛقݜ ݐقݖقخۡفح قَۡلم كك

٩

ۡ

ۡ

Artinya: Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.28

Perkawinan itu sangat penting sekali kedudukannya sebagai dasar pembentukan keluarga sejahtera, di samping melampiaskan seluruh cinta yang sah. Itulah sebabnya dianjurkan oleh Allah SWT dan junjungan kita

Nabi Muhammad SAW untuk menikah.29

Diantara dasar hukum dianjurkannya perkawinan adalah sebagai berikut:

27 H.S.A. Al-Hamdani, Risalah Nikah, terjemah Agus Salim, (Jakarta: Pustaka Amani, 2002), 1. 28Departemen Agama RI, al-Qur’an dan Terjemahnya, (Surabaya: Mekar, 2004), 826.

(41)

Q.S. Ar-Ru>m ayat 21

َهْ يَلِإ اوُنُكْسَتِل اًجاَوْزَأ ْمُكِسُفْ نَأ ْنِم ْمُكَل َقَلَخ ْنَأ ِهِتاَيآ ْنِمَو

َكِلَذ ِِ نِإ ًةََْْرَو ًةدَوَم ْمُكَنْ يَ ب َلَعَجَو ا

َنوُركَفَ تَ ي ٍمْوَقِل ٍتاَيآ

.

Artinya: ‚Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.‛ 30

Q.S. An-Nu>r ayat 32

ْمُكِداَبِع ْنِم َنِِِاصلاَو ْمُكْنِم ىَماَيأا اوُحِكْنَأَو

ُهللاَو ِهِلْضَف ْنِم ُهللا ُمِهِنْغُ ي َءاَرَقُ ف اوُنوُكَي ْنِإ ْمُكِئاَمِإَو

ٌميِلَع ٌعِساَو

Artinya: ‚Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.‛31

Q.S. Yasi>n ayat 36

َناَحْبُس

يِذلا

َقَلَخ

َجاَوْزأا

اَهلُك

ا ِِ

ُتِبْنُ ت

ُضْرأا

ْنِمَو

ْ نَأ

ْمِهِسُف

ا َِِو

ا

َنوُمَلْعَ ي

(42)

Artinya: ‚Maha Suci Tuhan yang Telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri

mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.‛32

Rasulullah SAW bersabda :

ْنَع

ِهللا ِدْبَع

لاَق

:

َةَءاَبْلا مكنم َعاَطَتْسا ْنَم ِباَبشلا َرَشْعَم اَي َملَسَو ِهْيَلَع ُهللا ىلَص ِِنلا اَنَل َلاَق

ُهنِإَف ِمْوصلاِب ِهْيَلَعَ ف ْعِطَتْسَي ََْ ْنَمَو ِجْرَفْلِل ُنَصْحَأَو ِرَصَبْلِل ضَغَأ ُهنِإَف ْجوَزَ تَيْلَ ف

ٌءاَجِو ُهَل

Artinya : ‚Dari Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: telah berkata kepada kami Rasulullah SAW, : ‚Hai sekalian pemuda, barangsiapa yang telah

sanggup di antara kamu kawin, maka hendaklah ia kawin. Maka sesungguhnya kawin itu menghalangi pandangan (kepada yang dilarang oleh agama) dan memelihara kehormatan. Dan barangsiapa yang tidak sanggup, hendaklah ia berpuasa. Maka sesungguhnya puasa

itu adalah perisai baginya‛.33

Perkawinan, yang merupakan sunnatullah pada dasarnya adalah mubah tergantung pada tingkat mas}lah}atnya. Oleh karena itu, Imam Izzudin Abdussalam, membagi maslahat menjadi tiga bagian, yaitu:

Mas}lah}at yang diwajibkan oleh Allah Swt. Bagi hamba-Nya. Mas}lah}at wajib bertingkat-tingkat, terbagi kepada fa>d}il (utama), afd}al (paling utama) dan mutawassit} (tengah-tengah). Mas}lah}at yang paling utama adalah mas}lah}at yang pada dirinya mengandung kemuliaan, dapat menghilangkan mafsadah paling buruk, dan dapat mendatangkan kemas}lah}atan paling besar, kemas}lah}atan jenis ini wajib dikerjakan.

32Ibid., 442.

(43)

Mas}lah}at yang disunnahkan oleh shar’i kepada hamba-Nya demi untuk kebaikannya, tingkat mas}lah}at paling tinggi berada sedikit di bawah tingkat mas}lah}at wajib paling rendah. Dalam tingkatan ke bawah, mas}lah}at sunnah akan sampai pada tingkatan mas}lah}at yang ringan yang mendekati mas}lah}at mubah.

Mas}lah}at mubah, bahwa dalam perkara mubah tidak terlepas dari kandungan nilai mas}lah}at atau penolakan terhadap mafsadah. Imam Izzudin

berkata: ‚mas}lah}at mubah dapat dirasakan secara langsung. Sebagian diantaranya lebih bermanfaat dan lebih besar kemaslahatannya dari sebagian yang lain. Maslahat mubah ini tidak berpahala.34

Dengan demikian, dapat diketahui secara jelas tingkatan mas}lah}at di atas. Dapat diketahui bahwa kemaslahatan yang diambil adalah untuk menolak kemafsadatan dan mencegah kemud}aratan. Di sini ada suatu larangan sesuai dengan kadar kemampuan merusak dan dampak negatif yang ditimbulkannya. Kerusakan yang ditimbulkan perkara haram tentu lebih besar dibanding kerusakan pada perkara makruh. Meski pada masing-masing perkara haram dan makruh terdapat perbedaan tingkatan sesuai dengan kadar kemafsadatannya. Keharaman dalam perbuatan zina, misalnya tentu lebih berat dibandingkan keharaman merangkul atau mencium wanita bukan muhrim, meskipun keduannya sama-sama perbuatan haram.35

34 Muhammad Abu Zahra, Ushul Fikih, terjemah, Saefullah Ma’shum, (Jakarta: Pustaka Firdaus,

1994), 558-559.

(44)

Oleh karena itu, meskipun perkawinan itu asalnya muba>h, namun dapat berubah menurut ah}ka>mal khamsah (hukum yang lima) menuirut perubahan keadaan:

Nika>h wa>jib. Nika>h diwajibkan bagi orang yang telah mampu menambah takwa. Nika>h juga wa>jib bagi orang yang telah mampu, yang akan menjaga jiwa dan menyelamatkannya dari perbuatan haram. Kewajiban ini tidak akan terlaksanakan kecuali dengan nika>h.

Nika>h h}ara>m. Nika>h diharamkan bagi orang yang tahu bahwa dirinya tidak mampu melaksanakan hidup berumah tangga melaksanakan kewajiban lahir seperti memberi nafkah, pakaian, tempat tinggal, dan kewajiban batin seperti mencampuri isteri.

Nika>h sunnah. Nika>h disunnahkan bagi orang-orang yang sudah mampu tetapi ia masih sanggup mengendalikan dirinya dari perbuatan h}ara>m, dalam hal seperti ini maka nika>h lebih baik dari pada membujang karena membujang tidak diajarkan dalam Isla>m.

Nika>h muba>h, yaitu bagi orang yang tidak berhalangan untuk nika>h dan tidak ada dorongan untuk menikah, belum membahayakan dirinya, ia belum wajib menikah dan tidak h}ara>m bila untuk tidak menikah dulu.36

Dari uraian tersebut di atas menggambarkan bahwa dasar perkawinan menurut Isla>m, pada dasrnya bisa menjadi wa>jib, hara>m, sunnah, dan muba>h tergantung dengan keadaan mas}lah}at atau mafsadatnya.

(45)

C. Syarat dan Rukun Sah Pernikahan

Berkaitan dengan rukun dan syarat perkawinan ini, Amir Syarifudin menyatakan, kedua hal tersebut menentukan suatu perbuatan hukum, terutama yang menyangkut dengan sah atau tidaknya perbuatan tersebut dari segi hukum. Kedua kata tersebut mengandung arti yang sama dalam hal bahwa keduanya merupakan sesuatu yang harus diadakan. Dalam hal suatu acara perkawinan umpamanya rukun dan syarat perkawinan tidak boleh tertinggal, dalam arti perkawinan tidak sah bila keduanya tidak ada atau tidak lengkap.37

Keduanya mengandung arti yang berbeda dari segi bahwa rukun itu adalah sesuatu yang berada di dalam hakikat dan merupakan bagian atau unsur yang mewujudkannya, sedangksan syarat adalah sesuatu yang berada diluarnya dan tidak merupakan unsurnya. Syarat itu ada yang berkaitan dengan rukun dalam arti syarat yang berlaku untuk setiap unsur yang menjadi rukun. Ada pula syarat itu berdiri sendiri dalam arti tidak merupakan kriteria dari unsur-unsur rukun. 38

1. Syarat Perkawinan

Syarat-syarat perkawinan merupakan dasar bagi sahnya perkawinan. Apabila syarat-syaratnya terpenuhi, maka perkawinan itu sah dan menimbulkan adanya segala hak dan kewajiban.39

37 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam, ..., 59 38Ibid.,.

(46)

Secara garis besar syarat sahsnya perkawinan dibagi menjadi dua yaitu yang pertama adalah halalnya seorang wanita bagi calon suami yang akan menjadi pendampingnya. Artinya tidak diperbolehkan wanita yang hendak dinikahi itu berstatus sebagai muhrimnya, dengan sebab apapun, yang mengharamkan pernikahan di antara mereka berdua, baik itu bersifat sementara maupun selamanya. Syarat kedua saksi yang mencakup hukum kesaksian dan kesaksian dari wanita yang bersangkutan.40

Menurut Abu Zahrah dalam kitabnya al-Ah}wa>l as-Syakhs{iyah, membagi syarat-syarat perkawinan ini dalam 3 macam yaitu:

Pertama, syarat sah adalah syarat-syarat yang apabila tidak dipenuhi, maka akad itu dianggap tidak ada oleh syara’. Yang mana dari akad itu timbul hukum-hukum yang dibebankan oleh syara’. Kedua, syarat pelaksanaan yaitu syarat-syarat yang bila tak ada, maka tidak ada hukum apa-apa tiap-tiap orang yang berakad. Ketiga, syarat keberlangsungan yaitu syarat yang kedua pihak tidak memerlukan akad apabila tidak ada syarat-syarat tersebut.41

Syarat sah nikah (Syarat S{ih}h}ah) : hadirnya para saksi. Saksi tersebut minimal dua orang laki-laki dan dua wanita yang balig{, berakal, merdeka, mendengar dan memahami ucapan dua pihak yang

40Syaikh Kamil Muhammad ‘Uwaidah, Fiqh Wanita, Penerjemah: M. Abdul Ghoffar, (Jakarta:

Pustaka Al-Kautsar, 1998), 405.

(47)

berakad, beragama Islam. Kemudian calon istri adalah wanita yang bukanlah mahram si lelaki. Baik mahram abadi maupun sementara.42

Syarat terlaksananya akad nikah (Syarat Nafa>z{). Demi terlaksananya akad nikah, orang yang mengadakannya haruslah orang yang mempunyai kekuasaan mengadakan akad nikah. Jika orang yang mengurusi akad mempunyai kecakapan yang sempurna dan mengakadkan dirinya sendiri, maka akad tersebut sah dan dapat diberlakukan. Demikian halnya jika dia mengadakan akad bagi orang di bawah kekuasaannya, atau orang yang mewakilkan penyelenggaraan akad kepada dirinya.43

Mayoritas fuqaha’ menyatakan bahwa wanita tidak dapat mengakad nikahkan dirinya sendiri. Akad nikah tidak bisa terjadi dengan ungkapan wanita, meskipun wali tidak mempunyai hak memaksa dirinya. Wanita dan walinya bekerja sama memilih dan memilah calon suami. Namun wali dari wanita itulah yang akan mengakadkan akad nikah.44

Syarat keberlangsungan nikah (Syarat Luzu>m). Pada dasarnya akad nikah adalah akad yang berlangsung terus menerus. Tidak boleh membatalkan akad tersebut secara sepihak. Dalam artian tidak boleh melepaskan akad itu dari asalnya, melainkan perbuatan menghentikan

42Ibid., 58.

(48)

hukum-hukum akad nikah. Talak merupakan salah satu hak yang dimiliki suami sebagai konsekuensi dari terjadinya akad nikah.

Akad nikah adalah suatu kewajiban yang mengharuskan keberlangsungan. Karena tujuan syari‘at dari pernikahan tidak akan tercapai tanpa adanya keberlangsungan nikah itu sendiri. Kehidupan rumah tangga yang baik, pendidikan anak, dan pemeliharaan mereka pasti memerlukan sebuah keberlangsungan jangka panjang. Syarat keberlangsungan nikah (syarat luz>um) dalam mazhab H}anafi adalah hendaklah wali yang menikahkan orang yang tidak/ kurang cakap adalah ayah, kakek atau anaknya sendiri. Hendaklah mahar yang diterima wanita dewasa yang menikahkan dirinya sendiri adalah setara dengan mahar mis{il (yang berlaku umum). Wanita dewasa yang berakal hendaknya tidak menikahkan dirinya dengan orang yang

sekufu’. Hendaknya jangan sampai ada penipuan status kafa‘ah dalam

akad yang tersimpan berlarut-larut.

Dalam permasalahan syarat pernikahan Ulama fuqaha’ berselisih pendapat. Perselisihan itu terjadi karena perbedaan pola pikir mereka dan dasar hukum yang mereka gunakan. 45

a. Menurut H}anafiyah, syarat pernikahan berkaitan dengan s}igat, dua orang yang berakad (suami istri) dan persaksian. Adapun penjelasan secara rinci sebagai berikut:

(49)

1) S}igat (ijab kabul)

Ijab dan kabul dianggap sah apabila memenuhi syarat sebagai berikut:

a) Menggunakan redaksi-redaksi khusus yang mengandung ungkapan menikah, baik s{ari>h (inka>h, tajwi>z)

b) Ijab dan kabul berada dalam satu majlis

c) Antara ijab dan kabul tidak ada perbedaan yang signifikan d) Ucapan s{igat dapat didengar oleh kedua orang yang

berakad yaitu wali dan mempelai pria

e) S{igat perkawinan tidak mengisyaratkan adanya batasan waktu. Karena yang demikian adalah termasuk nikah

mut‘ah

f) Dua orang yang berakad (suami dan istri)

Syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh kedua mempelai yang akan melangsungkan perkawinan adalah berakal, balig, merdeka, calon istri halal untuk dinikahi serta calon istri dan suami telah diketahui identitasnya.

2) Persaksian

(50)

b. Syarat-syarat perkawinan menurut Imam Syafi‘i berkaitan erat

dengan s}igat, wali, dua mempelai dan saksi masing-masing dijelaskan pada uraian di bawah ini.

1) S{igat\

Beberapa syarat sah s{igat pernikahan yaitu: a) Tidak ada ta‘lik (penggantungan)

b) Menggunakan kata tajwi<z, inka<h atau musytaq dari keduanya

2) Wali

Syarat-syarat wali dalam perkawinan adalah:

a) Atas kemauan sendiri (tidak ada paksaan dari orang lain) b) Berjenis kelamin laki-laki

c) Masih berstatus mahram dengan mempelai perempuan d) Baligh

e) Berakal f) Adil

g) Tidak dalam kendali atau kekuasaan orang lain h) Penglihatan masih normal,

(51)

3) Suami

Pernikahan seorang pria akan sah apabila memenuhi ketentuan-ketentuan berikut:

a) Tidak ada hubungan mahram dengan calon istri baik dari garis nasab, rad{a>‘ah, mus{a>harah

b) Tidak dipaksa c) Identitasnya jelas 4) Istri

Pernikahan seorang wanita akan sah apabila memenuhi ketentuan-ketentuan berikut:

a) Tidak ada hubungan mahram dengan calon suami b) Identitasnya jelas

c) Terbebas dari hal-hal yang menghalanginya untuk menikah. Seperti: mah}ram, telah bersuami, dalam keadaan idah, dan lain sebagainya.

5) Dua saksi

Syarat bolehnya seseorang menjadi saksi dalam pernikahan antara lain:

a) Bukan dua orang hamba sahaya b) Bukan dua orang wanita

c) Bukan dua orang yang fasik

(52)

Artinya baik calon suami maupun istri harus disebutkan nama atau sifat-sifat fisiknya dengan jelas supaya tidak terjadi kesalahpahaman dan kesamaran. Adapun redaksi akadnya menggunakan lafaz inka>h atau tajwi>z. Selain itu juga

disyari’atkan antara ijab dan kabul tidak ada jeda waktu yang lama.

2) Pilihan dan rela.

Orang yang telah dewasa dan berakal walaupun seorang budak, apabila berkeinginan untuk menikah, maka dia tidak boleh dipaksa oleh siapapun. Dia memutuskan menikah atas kemauan hati nuraninya sendiri.

3) Wali.

Dalam masalah wali, H}anabilah mensyaratkan tujuh perkara. Yaitu laki-laki, berakal, balig, merdeka, It-tifa>q Ad-Di>n (persamaan agama), cerdas dan berkomitmen untuk berbuat baik terhadap perkawinan.

4) Persaksian.

Syaha>dah (persaksian) dalam perkawinan akan dihukumi sah apabila datang dua pria muslim, balig, berakal, adil, maupun berbicara dan mendengar dengan baik.

(53)

2. Rukun Perkawinan

Jumhur ulama sepakat bahwa rukun perkawinan itu terdiri atas:46 a. Adanya calon suami dan istri yang akan melakukan perkawinan.

Islam hanya mengakui perkawinan antara laki-laki dan perempuan dan tidak boleh lain dari itu, seperti sesama laki-laki atau sesama perempuan. Allah SWT berfirman dalam surat an-Nu>r ayat 32 :

ُمِهِنْغُ ي َءاَرَقُ ف اوُنوُكَي ْنِإ ْمُكِئاَمِإَو ْمُكِداَبِع ْنِم َنِِِاصلاَو ْمُكْنِم ىَماَيأا اوُحِكْنَأَو

ٌميِلَع ٌعِساَو ُهللاَو ِهِلْضَف ْنِم ُهللا

Artinya: ‚Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.‛ 47

b. Adanya wali dari pihak calon pengantin wanita

Wali adalah orang yang menyertai, mengatur, menguasai, memimpin atau melindungi. Dalam perkawinan, maksudnya ialah orang yang berkuasa mengurus atau mengatur perempuan yang di bawah perlindungannya.48

46 Slamet Abidin dan H.Aminuddin, Fiqh Munakahat I, (Bandung: CV Pustaka Setia, 1999)

64-68.

(54)

c. Adanya dua orang saksi.

Akad perkawinan mesti disaksikan oleh dua orang saksi supaya ada kepastian hukum dan untuk menghindari timbulnya sanggahan dari pihak-pihak yang berakad di belakang hari. Hadis{ Nabi SAW:

اَل

َحاَكِن

اِا

يِلَوِب

ْيَدِاَشَو

ٍلْدَع

Artinya: ‚Tidak ada pernikahan kecuali dengan wali dan dua orang saksi yang adil‛49

d. S{igat akad nikah

yaitu ijab kabul yang diucapkan oleh wali atau wakilnya dari pihak wanita dan dijawab oleh pengantin pria.

Ijab adalah ucapan yang keluar lebih awal dari salah seorang yang

melakukan akad, seperti ucapan ayah istri: ‚Aku nikahkan engkau

dengan anak perempuanku Fulanah,‛ atau ucapan suami:

‚Nikahkan aku dengan anak perempuanmu Fulanah‛, sedangkan

yang dimaksud kabul adalah ucapan yang keluar setelah ijab dari salah seorang yang melakukan akad, seperti (calon) suami berkata

kepada ayah (calon) istri setelah ijab: ‚Aku terima pernikahan

anak perempuanmu,‛ atau ayah (calon) istri berkata kepada suami

setelah ijab: ‚Aku telah nikahkan engkau dengan anak

perempuanku Fulanah‛.50

49Abu ‘Isa Muhammad ‚Isa bin Saurah, Sunan At-Tirmizi Juz 2, (Beirut Lebanon: Dar El-Fikr,

2005) 351

(55)

Dalam Ensiklopedia Hukum Islam dikemukakan bahwa rukun berasal dari bahasa Arab rakana, yarkunu, ruknan, ruku>nan artinya tiang sandaran atau unsur. Rukun adalah suatu unsur yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari suatu perbuatan yang menentukan sah atau tidaknya perbuatan tersebut dan ada atau tidak adanya perbuatan tersebut.51

Rukun, yaitu sesuatu yang mesti ada yang menentukan sah atau tidaknya suatu pekerjaan (ibadah), dan sesuatu itu termasuk dalam rangkaian pekerjaan itu, seperti membasuh muka ketika wudu dan takbiratul ih}ram ketika s}alat. Atau adanya calon pengantin laki-laki dan perempuan dalam perkawinan.52

Rukun menentukan sah atau tidaknya suatu perbuatan atau peristiwa hukum. Jika salah satu rukun dalam peristiwa atau perbuatan hukum itu tidak terpenuhi maka berakibat tidak sahnya perbuatan tersebut dan statusnya adalah batal demi hukum. Demikian pula menurut ulama fikih, bahwa rukun menentukan sah atau batalnya perbuatan hukum. Suatu perbuatan atau tindakan hukum dinyatakan sah apabila terpenuhi seluruh rukunnya, dan perbuatan hukum itu dinyatakan tidak sah jika tidak terpenuhi salah satu atau lebih atau semua rukunnya.53

Sedangkan menurut jumhur ulama, rukun adalah sesuatu yang menentukan esensi suatu perbuatan, baik rukun itu merupakan bagian dari

51 Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedia Hukum Islam, Jilid 5, cet 4, (Jakarta: Ichtiar Baru Van

Hoeve, 2000), 1510

52 Abdul Hamid Hakim, Maba>di Awaliyah Juz 1, (Jakarta: Bulan Bintang, 1976), 9. 53 Neng Djubaidah, Pencatatan Perkawinan dan Perkawinan Tidak Dicatat, (Jakarta: Sinar

(56)

perbuatan itu atau tidak. Misalnya, ‘a>qid (orang yang berakad) menurut jumhur ulama adalah rukun karena menentukan terbentuknya akad, oleh karena itu ‘a>qid adalah bukan syarat. Menurut kalangan ini rukun ada tiga, yaitu orang yang berakad (subjek hukum) hal yang diakadkan (ma’qu>d

‘alaih), dan s}ighah, yaitu ijab dan kabul. Demikian pula dalam hal perkawinan, orang yang berakad adalah adalah calon suami dan wali calon isteri, hal yang diakad

Referensi

Dokumen terkait

1) Penentuan tarif taksi yang biasa digunakan di kota besar adalah atas dasar jarak “meteran” yang dipakai, yang biasanya dengan suatu tarif awal yang lebih

Meskipun kondisi sarana dan prasarana di SMA Negeri 1 pangkep berada dalam kategori ideal guru penjas harus mampu memanfaatkan dan menggunakan secara maksimal

Oleh karenanya aktor dapat menentukan apakah sebuah struktur itu akan membatasi (constraining) atau justru menjadi kemungkinan peluang (enabling). Dengan berdasarkan pada

Penelitian ini membahas tentang perkuatan lentur balok beton bertulang menggunakan GFRP (glass fiber reinforced polymer) dan Wiremesh. Balok yang digunakan mempunyai dimensi

Sebelum melakukan penelitian, peneliti belum melihat dan menemukan bentuk buku dan kajian lainnya yang membahas tentang partisipasi politik pemilih pemula pada

Wajib pajak akan memenuhi kewajiban perpajakannya bila memandang bahwa sanksi perpajakan akan lebih banyak merugikannya (Nurgoho, 2006).. menemukan bahwa sikap

Penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan implementasi, berbagai macam kendala, dan solusi alternatif mengatasi kendala implementasi kompetensi pedagogik

Sebagai kesimpulan, defisiensi zinc bukan merupa- kan faktor risiko diare akut menjadi melanjut, tetapi dengan catatan bahwa diperlukan jumlah subjek lebih banyak yang