• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEBERMAKNAAN HIDUP PENGGAGAS KOMUNITAS TANOKER LEDOKOMBO.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "KEBERMAKNAAN HIDUP PENGGAGAS KOMUNITAS TANOKER LEDOKOMBO."

Copied!
84
0
0

Teks penuh

(1)

KEBERMAKNAAN HIDUP PENGGAGAS KOMUNITAS

TANOKER LEDOKOMBO

SKRIPSI

Diajukan Kepada UIN Sunan Ampel Surabaya

Guna Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh

Gelar Sarjana Strata Satu Psikologi (S. Psi)

Ikha Fauziah B97211116

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA

(2)
(3)
(4)

INTISARI

Penelitian ini bertujuan untuk mengambarkan kebermaknaan hidup penggagas komunitas Tanoker Ledokombo. Subjek dalam penelitian ini sebanyak dua orang yakni pasangan suami istri. Lokasi penelitian ini dilakukan di tempat komunitas yang telah digagasnya yang terletak di desa Ledokombo Jember. Metode

yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan

menggunakan metode kualitatif sementara pendekatan yang digunakan adalah studi kasus. Adapun dalam penggalian data

menggunakan wawancara mendalam, observasi dan

dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian, kedua subjek memaknai kehidupannya dengan menginginkan bermanfaat kepada lingkungan dan sesama. Kebermanfaatannya ini ditunjukkan dengan menggagas komunitas Tanoker. Melalui komunitas Tanoker ini, SP dan FC memberikan pelayanan untuk masyarakat Ledokombo yang pada awalnya sebagai komunitas belajar dan bermain untuk anak-anak Ledokombo melihat banyaknya anak-anak sebagai yatim sosia. Saat ini SP dan FC bersama komunitasnya ingin menjadikan Ledokombo sebagai wilayah ramah anak, ramah perempuan, dan ramah lingkungan dengan segala upaya yang dilakukan seperti pendampingan untuk ibu-ibu dan bapak-bapak Ledokombo.

(5)

A. KONSEPTUALISASI TOPIK YANG DITELITI a. Definisi Kebermaknaan Hidup ...16

b. Karakteristik Kebermaknaan Hidup ...18

c. Sumber-sumber Makna Hidup ...19

d. Faktor-faktor Kebermaknaan Hidup ...21

e. Komponen Kebermaknaan Hidup ...22

1. PERSPEKTIF TEORITIS ...25

2. Dinamika Psikologi dalam Kebermaknaan Hidup ...28

BAB III METODE PENELITIAN A. JENIS PENELITIAN ...31

B. LOKASI PENELITIAN ...32

C. SUMBER DATA ...33

D. CARA PENGUMPULAN DATA a. Wawancara ...34

b. Observasi ...36

c. Dokumentasi ...37

(6)

F. KEABSAHAN DATA ...39

a. Uji Validitas...39

b. Uji realibilitas ...42

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. DESKRIPSI SUBJEK...42

B. TEMUAN PENELITIAN ...49

1. Deskripsi temuan penelitian ...49

a. Subjek 1 ...49

b. Subjek 2 ...56

2. Analisis temuan penelitian ...62

a. Subjek 1 ...62

b. Subjek 2 ...64

3. Pembahasan ...66

BAB V PENUTUP 1. KESIMPULAN ...72

2. SARAN ...72

DAFTAR PUSTAKA ...74

(7)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 guidance wawancara subjek ...76

Lampiran 2 guidance wawancara informan ...76

Lampiran 3 guidance observasi ...76

Lampiran 4 transkrip wawancara SP ...77

Lampiran 3 transkrip wawancara FC ... ..97

Lampiran 4 transkrip wawancara informan 1 subjek 1(BN) ... 116

Lampiran 5 transkrip wawancara informan 2 subjek 1 (HI) ... 120

Lampiran 6 transkrip wawancara informan 3 subjek 1 (MA) ... 130

Lampiran 5 transkrip wawancara informan 1 subjek 2 (EM)... 134

Lampiran 7 transkrip wawancara informan 2 subjek 2 (ST) ... 142

Lampiran 8 transkrip wawancara informan 3 subjek 2 (TH) ... 147

Lampiran 9 transkrip observasi subjek ... 154

Lampiran 9 dokumentasi ... 159

(8)
(9)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap kehidupan manusia akan berbeda dengan yang lainnya. Manusia

merupakan makhluk yang mempunyai keunikan tersendiri dimana dalam

setiap pengalaman dan perjalanan hidupannya akan memberikan makna

tersendiri karena manusia mempunyai karakter intelektual yang akan bisa

digunakan untuk menemukan kebermaknaan hidupnya. Kebermaknaan

hidup dapat dicapai apabila manusia telah melakukan hubungan sosial

tehadap lingkungannya, karena dengan hubungan sosial manusia akan bisa

mengerti arti tanggung jawab terhadap dirinya untuk apa hidup.

Kehidupan yang akan terus berjalan akan menuntut kepada diri kita untuk

terus berkembang menjadi lebih baik. Agar dapat berkembang kita juga

membutuhkan sebuah interaksi, seperti halnya pendapat dari Frankl,

bahwa kebermaknaan hidup dapat diraih melalui interaksinya dengan

individu lain, individu tidak terlalu fokus pada dirinya sendiri. Melalui

interaksinya dengan individu lain, semua kapasitas yang dimiliki individu

dapat berkembang karena dibutuhkan banyak ketrampilan untuk dapat

menjalin hubungan dengan individu lain (Koeswara, 1992).

Melalui sebuah interaksi, manusia akan menjadi lebih pekah dengan

keadaan lingkungannya dan tentunya hal ini akan memberikan pengaruh

dalam kehidupannya, dengan hal demikianmanusia akan lebih bisa

(10)

2

dan terarah. Seperti halnya yang dilakukan oleh SP dan Farha Ciecik

dalam melakukan perubahan. Perubahan ini semata-mata dilakukan untuk

memenuhi rasa tanggung jawabnya dalam membentuk karakter generasi

muda.Berawal dari kedatangannya dari sebuah kota besar yang kembali ke

kampung halamannya di Desa Ledokombo Kecamatan Ledokombo

Jember, pasangan suami istri ini rela terjun langsung menggarap sebuah

permasalahan sosial yang kompleks. Desa Ledokombo yang dikenal

dengan penduduknya sebagai buruh migran di luar maupun didalam

negeri menjadikan pasangan suami istri ini menggagas sebuah

komunitas.Harapan dari adanya komunitas ini untuk mewadahi anak-anak

dalam mengembangkan potensinya, karena melihat kenyataan anak-anak

desa Ledokombo yang ditinggal oleh orang tuanya untuk bekerja didalam

maupun diluar negeri yang kurang mendapatkan perhatian dan kasih

sayang dari orang tuanya sendiri.

Komunitas yang telah digagasnya ini merupakan sanggar belajar dan

bermain yang dinamakan Tanoker. Tanoker dalam bahasa Madura

diartikan kepompong. Besar harapan dari nama Tanoker yang mana,

kepompong dianggap jelek namun ketika bermetamorfosis nanti akan

membentuk kupu-kupu yang cantik. Komunitas Tanoker ini telah

diresmikan pada Desember 2009 yang mempunyai semboyan belajar,

bermain, bersahabat, bergembira, berkarya secara bersama-sama. Selain

itu, komunitas Tanoker ini sudah mempunyai penstrukturan dalam

(11)

3

Tanoker yang awalnya untuk memenuhi kebutuhan anak-anak Desa

Ledokombo sebagai tempat mengembangkan potensinya lambat laun

mulai dikenal oleh banyak orang hingga luar kota, menariknya komunitas

Tanoker ini menggunakan pendekatan budaya. Pendekatan budaya yang

dilakukan disini dengan mengenalkan permainan tradisional. Permainan

tradisional juga dikenal sebagai permainan rakyat merupakan suatu

kegiatan rekreatif yang tidak hanya bertujuan untuk menghibur diri tetapi

juga sebagai alat untuk memelihara hubungan dan kenyamanan sosial.

Dengan demikian bermain merupakan suatu kebutuhan bagi anak. Jadi

bermain bagi anak mempunyai nilai dan ciri yang penting dalam kemajuan

perkembangan kehidupan sehari-hari termasukdalam permainan tradional

(Semiawan, 2008). Sementara yang menjadikan icon dalam permainan

tradisional di komunitas Tanoker adalah egrang. Egrang adalah sebuah

tongkat yang terbuat dari bambu yang dilengkapi dengan pijakan seperti

tangga sebagai tempat berdiri yang digunakan seseorang agar bisa berdiri

dalam jarak tertentu diatas tanah yang nantinya bisa digunakan untuk

berjalan maupun berlari. Dalam permainan egrang ini diiringi musik

djimbe. Djimbe merupakan alat musik dari Afrika.

Hal ini tentulah mendapat satu bentuk dukungan dari masyarakat

Ledokombo sehingga pasangan suami istri ini berusaha memperkenalkan

komunitas yang telah digagasnya melalui media cetak maupun elektronik.

Seperti yang terangkum dalam harian Jawa Pos 18 Mei 2015 dalam atraksi

(12)

4

tanggal 20 mei, komunitas Tanoker mengadakan pesta rakyat. Atraksi

egrang ini diikuti oleh beberapa siswa TK, SD, hingga SMP. Mereka

menyambut acara tersebut dengan antusias. Tidak hanya gerak jalan diatas

egrang namun mereka menari dan berjoget dengan menggunakan egrang

lagu dangdut dan rock kreatif serta berbagai lagu daerah. Selain itu juga,

setelah berdirinya komunitas Tanoker diadakan festival egrang. Festival

egrang bertaraf internasional ini berhasil diadakan setiap satu tahun sekali

di lapangan desa Ledokombo.Sehingga tak jarang kunjungan tamu dari

berbagai lapisan masyarakat, tidak hanya wisatawan lokal dan wisatawan

luar negeri tapi juga mahasiswa dari berbagai universitas datang di

Ledokombo. Festival egrang ini menjadikan salah satu tujuan wisata

tersendiri bagi para pengunjung.

Keberhasilannya dalam mengenalkan komunitas yang telah digagasnya

ini tidak luput dari keberhasilan pendidikan serta pekerjaan SP dan FC.

Sesuai dengan ilmu yang dipelajari di perguruan tinggi sejak 1990.

Supohardjo sering terlibat dalam kegiatan pengelolaan sumber daya alam

dan manajemen konflik. Keaktifannya terlihat dari banyaknya peran yang

diembannya, misalnya sebagai peneliti, konsultan, fasilitator pelatihan

maupun workshop dalam berbagai jenis kegiatan sosial yang diikutinya.

Bahkan sejak 2011, SP turut bergabung sebagai anggota komisi

penyuluhan Kehutanan Nasional Kementerian Kehutanan RI. Berbeda

dengan suaminya, FC lebih fokus pada bidang pendidikan, gender, dan

(13)

5

studi Sosiologi Universitas Gajah Mada tahun 1995. FC sangat aktif

diberbagai organisasi kegiatan Kalyanamitra Woman Centre, Perhimpunan

Pengembangan Masyarakat Pesantren (P3M), RAHIMA (Pusat

Pendidikan dan Informasi Islam & Hak-hak Perempuan), Lembaga Islam

& Sosial (LkiS), Lembaga Studi dan Pengembangan Perempuan dan Anak

(LSPPA), Institute for Interfaith Dialogue in Indonesia (Interfidei) adalah

beberapa organisasi yang diikutinya. Selain menjadi aktivis, FC juga

merupakan peneliti dan konsultan dengan segudang publikasi paper

penelitian maupun buku. Atas berbagai macam pengabdiannya, FC

sempat memperoleh beberapa penghargaan. Ditahun 2005, FC masuk

dalam “1000 women’s world peace” yang dinominasikan untuk menerima

Noble Peace Prize. Pada 2007, Ashoka International menganugerahi

dengan gelar “a social innovator” atas usahanya melakukan pendekatan

alternatif demi menciptakan kesamaan gender di Indonesia. Tak hanya itu,

FC juga mendapat “She Can Award” dari Tupperware pada 2013 serta

“Kartini Award” dari PT Telkom di tahun 2014

(http://alumni.ugm.ac.id/v3.0/news/id/13). Selain itu, FC pernah menjadi

staf pengajar di fakultas FISIP Universitas Nasional Jakarta.

Melihat segala bidang prestasi, pekerjaan serta hal kemanusiaan yang

telah dilakukan tentu itu bukan hal yang mudah untuk dapat diraihnya

yang tentu memberikan makna bagi kehidupannya. Seperti halnya menurut

Frankl (dalam Koeswara, 1992) setiap bentuk pekerjaan bisamengantarkan

(14)

6

memberikan sesuatu kepada hidup (kehidupan diri dan sesama) yang

didekati secara kreatif dan dijalankan sebagai tindakan komitmen pribadi

yang berakar pada keberadaan totalnya.Jika dikaitkan dalam pendapat

Frankl, tentulah hal yang sudah diberikan serta dilakukan oleh pasangan

suami istri lewat komunitas yang telah digagasnya mempunyai tujuan.

Tujuan yang memang benar itu memang harus direalisasikan, dan pada

realisasinya tersebutpasangan suami istri berusaha mengekspresikan

dirinya dengan bertanggung jawab ingin memberikan manfaat untuk

lingkungan dan sekitarnya.

Setiap orang menginginkan hidupnya bermakna sehingga dapat berguna

bagi dirinya sendiri dan orang lain serta masyarakat dan lingkungan

sekitarnya, selanjutnya akan dapat memunculkan kebahagiaan pada diri

pribadinya. Seperti yang diungkapkan FC kepada peneliti saat wawancara:

“hidup ini berarti buat dirinya dan memberikan arti untuk orang lain”.

Hal serupa juga dikatakan oleh Supohardjo saat wawancara

berlangsung:

“hidup ya harus berarti, bermanfaat buat orang lain”

Seseorang mempunyai cita-cita dan tujuan hidup yang diperjuangkan

denganpenuh semangat dan menjadi arahan bagi segala aktivitasnya.

Seseorang jugamendambakan dirinya menjadi orang yang selalu

bertanggung jawab, paling tidakbagi dirinya sendiri, serta menjadi orang

(15)

7

paling baik bagi dirinya sendiri danlingkungannya. Begitu pula dengan

yang diinginkan oleh penggagas komunitas Tanoker Ledokombo.

Pencarian manusia mengenai makna merupakan kekuatan utama dalam

hidupnya bukan suatu rasionalisasi sekunder dari bentuk insting makna

tersebut adalah unik dan spesifik yang harus dilakukan oleh dirinya sendiri

hanya dengan itu, seseorang akan memperoleh sesuatu yang penting yang

akan memuaskan keinginannya untuk memaknai (Frankl dalam Koeswara,

1992).

Bastaman (1996) menyatakan bahwa terdapat tiga sumber atau nilai

yang dapat digali oleh seseorang dalam hidupnya untuk menemukan

makna hidup serta hidup dengan lebih bermakna. Ketiga nilai itu adalah:

Nilai karya; memberikan sesuatu yang berharga dan berguna pada

kehidupan, Nilai pengalaman/penghayatan; apa yang kita ambil dari

dunia, seperti misalnya mendengarkan musik, menikmati keindahan alam,

dan menikmati hubungan dengan orang yang dikasihi, Nilai sikap;

mengambil sikap positif tentang pengalaman tragis yang tidak bisa diubah,

dalam hal ini yang dapat diubah adalah sikap bukan peristiwan tragisnya.

Menurut Bastaman (2007), setiap manusia selalu mendambakan

kehidupanyang bermakna, sehingga selalu berusaha mencari dan

menemukannya. Makna hidup apabila berhasil ditemukan dan dipenuhi

akan menyebabkan kehidupan ini berarti, mereka yang berhasil

(16)

8

sebab itu setiap seseorang menginginkan dirinya menjadi orang yang

berguna dan berharga bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat dan

lingkungan sekitarnya.

Semenjak komunitas Tanoker digagas oleh SP dan FC, desa

Ledokombo menjadi desa wisata selain itu untuk kegiatan belajar dan

bermain bagi anak-anak. Ibu-ibu mantan buruh migran kini mempunyai

peluang usaha dalam membuat kerajinan tangan. Desa Ledokombo yang

seblumnya dikenal sebagai kaum marginal kini telah berubah dikenal

banyak orang dengan segala pesona dan potensi yang dimiliki.

B. Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas maka fokus penelitian ini:

Bagaimana gambaran kebermaknaan hidup penggagas komunitas Tanoker

(17)

9

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kebermaknaan hidup

penggagas komunitas Tanoker Ledokombo Jember

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi mengenai

kebermaknaan hidup bagi pengembangan disiplin ilmu psikologi pada

umumnya dan psikologi sosial pada khususnya.

2. Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi:

a. Masyarakat

Memberikan wawasan dan kontribusi wacana bagi masyarakat luas

mengenai kebermaknaan hiduppada penggagas komunitas Tanoker

Ledokombo Jember.

b. Peneliti

Diharapkan penelitian ini mampu mampu memberikan kontribusi

(18)

10

E. Keaslian Penelitian

Penelitian yang diajukan ini mengenai Kebermakaan Hidup Pendiri

Komunitas Tanoeker Ledokombo Jember. Tentunya dalam penyampaian

isinya akan dikupas mengenai hal apa yang membuat pendiri komunitas

Tanoker Ledokombo Jember untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang

dirasa itu hal positif. Penelitian ini tentunya mempunyai referensi

penelitian-penelitian sebelumnya sebagai pijakan dan sebagai bahan

pertimbangan dalam ranah keaslian untuk dapat membedakan perbedaan

yang mendasar dari beberapa penelitian terdahulu. Keaslian penelitian ini

akan diungkap mengenai pembahasan beberapa penelitian yang berbeda

dengan peneliti lakukan sebelumnya. Penelitian kebermaknan hidup ini

berupa penelitian kuantitatif, diantaranya:

Dalam jurnal penelitian Kharisma Nail Mazaya dan Ratna Supra

Dewi (2011) dengan judul konsep diri dan kebermaknaan hidup remaja di

panti asuhan menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan yaitu ada

hubungan positif antara konsep diri dengan kebermaknaan hidup pada

remaja di Panti Asuhan. Populasi dalam penelitian ini adalah semua

remaja penghuni panti asuhan di bawah UPT Dinas Sosial Propinsi Jawa

Tengah. Sampel dalam penelitian ini adalah remaja penghuni Panti

Asuhan Ngesti Tomo Jepara, berusia antara 15 sampai 21 tahun. Metode

pengambilan sampel menggunakan purpossive sampling dengan jumlah

sampel 51 orang. Kedua variabel dalam penelitian ini diukur dengan

(19)

11

data yang digunakan yaitu teknik korelasi product moment. Hasil analisis

data diperoleh nilai korelasi rxy = 0,595 dengan p= 0,000 (p < 0,01). Hal

ini menunjukkan ada hubungan positif yang sangat signifikan antara

konsep diri dengan kebermaknaan hidup pada remaja di Panti Asuhan

Sunu Ngesti Utomo Jepara. Artinya semakin tinggi konsep diri yang

dimiliki remaja maka, semakin tinggi pula kebermaknaan hidupnya.

Sebaliknya semakin rendah konsep diri yang dimilikinya, maka semakin

rendah pula kebermaknaan hidupnya. Hasil dari uji korelasi tersebut

menunjukkan bahwa hipotesis diterima.

Pada jurnal penelitian Emma Rianti (2014) dengan judul perbedaan

kebermaknaan hidup pada janda paruh baya karna kematian dan perceraian

ini melibatkan sebanyak 59 orang subjek janda parubaya yang berusia

40-50 tahun yang terdiri dari 40 orang janda paruh baya karena kematian dan

19 orang janda paruh baya karena perceraian. Analisa data dalam

penelitian ini menggunakan uji independent samples t-test yang dianalisis

dengan bantuan SPSS. Analisa ujit-test menunjukkan bahwa ada

perbedaan yang signifikan antara kebermaknaan hidup janda paruh baya

karena kematian dan perceraian diperoleh t = 3,340 dan sig 0,01.

Kebermaknaan 0,01 yakni lebih kecil dari taraf signifikansi 5% (0,05)

yang berarti adanya perbedaan.

Selain dalam penelitian kuantitatif mengenai kebermaknaan hidup

ini, adapun kebermaknaan hidup dibahas dalam penelitian kualitatif,

(20)

12

Penelitian Pika Susana Putri, dkk (2009) dengan judul makna

hidup pada perempuan dewasa yang berperan ganda dimana penelitian ini

dilakukann tiga perempuan yang memiliki waktu kerja 5-6 hari dalam satu

minggu dengan jam kerja 7-8jam dalam sehari. Data diperoleh dengan in

depth interview disertai significant other. Pada hasil penelitiannya

menyatakan bahwa Ketiga subjek berusaha untuk bisamenerima peran

ganda yang mereka jalani dengan berbagai macam pemahaman. Ketiga

subjek memiliki pemahaman diri yang sama yaitu menyadari ekonominya

belum berkecukupan jika hanya mengandalkan penghasilan suami saja.

Ketiga subjek menemukan makna hidupnya masing-masing mereka

berperan ganda dengan tujuan untuk membantu perekonomian orang tua

dan keluaraga, demi meningkatkan taraf hidup keluarga dan untuk

memenuhi kebutuhan hidup, memeberikan yang terbaik untuk

anak-anaknya. Kesamaan tujuan hidup ketiga subjek adalah ingin membantu

suami mencari uang demi kesajahteraan keluarga. Adanya tujuan hidup

membuat ketiga subjek melakukan perubahan sikap yang berbeda-beda

untuk menyeimabangkan peran ganda mereka yaitu menerima beban tugas

ganda dan meyakini dengan bangun lebih awal tugas tugasnya dapat

diselesaikan dengan baik. Ketiga subjek juga memiliki komitmen diri

dalam menjalani peran ganda yaitu mereka berusaha bekerja dengan benar

walaupun ada dua peran yang mereka harus jalani secara bersamaan.

Masing masing subjek juga memiliki komitmen yang berbeda walaupun

(21)

13

jawab untuk menyelesaikan pekerjaan. Ketiga subjek berusaha membagi

waktu antara keluarga dan pekerjaan agar perannyadapat berjalan dengan

seimbang untuk memenuhi makna hidup mereka. Hal demikian

menjadiakan hidup mereka bermakna karena bisa berguna untuk

keluarganya yang pada akhirnya mendatangkan kebahagiaan bagi ketiga

subjek dua subjek merasa berhasil membagi waktu dengan baikdan merasa

bahagia menjalani peran ganda. Ada pula subjek yang merasa telah bisa

membalas jasa orang tuanya dan merasa bisa membahagiakan suami dan

anaknya, dan merasa bisa memberikan yang terbaik untuk

anak-anaknya. Dapat disimpulkan bahwa pada akhirnya ketiga subjek mampu

memaknai kehidupannya secara baik karena ketiganya tidak merasa bahwa

peran gandanya adalah hal yang menyakitkan. Mereka dapat

menyeimbangkan peran ganda mereka.

Pada penelitian Dyanita Ainun Fatwa (2010) subjek penelitian ini

adalah narapidana yang mendapatkan vonis seumur hidup penghuni

Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Madiun. Subjek penelitian berjumlah 2

orang dengan kriteria yaitu penghuni Lembaga Pemasyarakatan Kelas I

Madiun, dijatuhi vonis seumur hidup dan minimal telah lima tahun

menjalani masa pidana. Metode penelitian yang digunakan adalah riwayat

hidup, wawancara mendalam (in depth interview), observasi, dan data

dokumen. Riwayat hidup digunakan sebagai dasar untuk mengetahui latar

belakang subjek. Wawancara dilakukan berdasarkan panduan wawancara

(22)

14

dilakukan pada saat wawancara berlangsung. Data dokumen digunakan

untuk melengkapi data yang telah didapatkan. Hasil penelitian

menggambarkan bahwa subjek pertama sedang berjuang mengupayakan

kebebasannya keluar dari lembaga pemasyarakatan untuk bertahan

menghadapi streskarena usahanya belum terwujud dengan mengontrol diri

membentuk image buildingseperti berperilaku sesuai ketentuan, ramah,

senyum meski hal tersebut tidak sesuaidengan keinginannya. Subjek kedua

menghadapi permasalahan hidup dengan tetapbisa menikmati kesenangan,

memenuhi need untuk pleasure principle, semuaaktivitas yang bisa

menyenangkan dirinya akan dilakukan sembari menunggu hasilusaha yang

dilakukan ibunya karena menurut subjek hidup untuk

menikmatikesenangan tanpa harus bersusah payah.

Dalam penelitian Dyota Puspasari dan Ilhamm Nur Ala (2012) ada

tiga subjek yang menjadi penyandang cacat postnatal disebabkan karena

kecelakaan hingga diamputasi dan kehilangan salah satu anggota

tubuhnya. Informasi mengenai subjek diungkap dengan menggunakan

metode wawancara mendalam sebagai teknik pengumpulan data yang

utama. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah

analisis tematik dengan melakukan koding terhadap hasil transkrip

wawancara yang telah diverbatim, catatan lapangan dan beberapa

dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga subjek

menemukan makna hidupnya dalam menghadapi peristiwa kecelakaan

(23)

15

adalah murni kecelakaan yaitu kecelakaan kerja pada subjek satu dan dua

serta murni kecelakaan lalu lintas pada subjek ketiga. Peristiwa kecelakaan

tersebut juga dianggap sebagai musibah diluar kendali manusia yang

diberikan cobaan dan pembelajaran dari Allah SWT. Hal tersebut

memberikan dampak pada subjek yaitu dapat menerima kondisinya

dengan pasrah dan menerima dengan apa adanya. Subjek menjadi lebih

sabar dalam bertindak dan terjalin hubungan yang lebih harmonis dengan

lingkungan dan keluarga.

Berdasarkan bukti-bukti penelitian yang tertera diatas mengenai

kebermaknaan hidup dapat dijadikan pijakan dalam penelitian yang akan

dilakukan namun dari penelitian kali ini berebeda dengan penelitian

sebelumnya yang mana dapat dilihat dari subjek beserta tempat lokasi

penelitian. Hal ini tentulah sebagai bukti bahwa permasalahan yang

diangkat peneliti merupakan hasil karya peneliti sendiri, dalam artian tidak

meniru ataupun mengulang penelitian pihak lain.

(24)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Konseptualisasi topik yang diteliti

1. Kebermaknaan Hidup

a. Pengertian Kebermaknaan Hidup

Makna hidup menurut Frankl adalah kesadaran akan

adanya suatu kesempatan atau kemungkinan yang dilatarbelakangi

oleh realitas. Makna hidup adalah hal-hal yang oleh seseorang

dipandang penting, dirasakan berharga, dan diyakini sebagai

sesuatu yang besar serta dapat dijadikan tujuan hidup. Makna

hidup juga memberikan nilai khusus pada seseorang (Koeswara,

1992).

Bastaman menyatakan bahwa makna hidup merupakan

suatu yang dianggap penting, benar dan didambakan serta

memberikan nilai khusus bagi seseorang. Makna hidup bila

berhasil ditemukan dan dipenuhi akan menyebabkan kehidupan ini

dirasakan demikian berarti dan berharga. Pengertian mengenai

makna hidup menunjukkan bahwa didalamnya terkandung juga

tujuan hidup, yakni hal-hal yang perlu dicapai dan dipenuhi. Maka

hidup ini benar-benar terdapat dalam kehidupan itu sendiri,

walaupun dalam kenyataannya tidak mudah ditemukan karena

sering tersirat dan tersembuyi didalamnya. Bila makna hidup ini

(25)

17

dirasakan bermakna dan berharga yang pada gilirannya akan

menimbulkan perasaan bahagia (Bastaman, 2007). Sejalan dengan

hal itu Menurut Yalom (dalam Bastaman, 2007) pengertian makna

hidup sama artinya dengan tujuan hidup yaitu segala sesuatu yang

ingin dicapai dan dipenuhi.

Pendapat Adler, mengatakan bahwa makna hidup

merupakan suatu ‘gaya hidup’ yang melekat, mendiami, dan

menjadi ciri khas individu dalam melakukan interpretasi terhadap

hidupnya. Adapun ‘gaya hidup’ itu bersifat unik yang mana

disebabkan karena perbedaan pola asuh setiap individu pada masa

kanak-kanak (Adler, 2006).

Lain lagi menurut Ancok kebermaknaan hidup adalah

sebuah kekuatan hidup manusia untuk memiliki sebuah komitmen

kehidupan. Makna hidup ini bermula dari adanya sebuah visi

kehidupan, harapan dalam hidup, dan adanya alasan mengapa

seseorang harus tetap hidup. Makna hidup adalah hal-hal yang oleh

seseorang dipandang penting, dirasakan berharga dan diyakini

sebagai sesuatu yang benar serta dapat dijadikan tujuan hidup

(Ancok, 2006).

Menurut Frankl bahwa makna itu melampaui intelektualitas

manusia. Oleh karena itu, ia tidak bisa dicapai hanya dengan proses

akal atau usaha intelektual. Untuk mencapai makna, individu harus

(26)

18

pusat kepribadiannya, dan karena usahanya itu berakar pada

keberadaan totalnya. Dengan tindakan komitmennya itu individu

menjawab tantangan yang muncul didalam hidupnya, memberikan

sesuatu kepada hidupnya (Koeswara, 1992).

Uraian diatas mengenai mengenai definisi kebermaknaan

hidup dapat ditaraik kesimpulan oleh peneliti kebermaknaan hidup

yaitu, hal-hal yang dirasa penting dalam menjalankan kehidupan

serta mempunyai komitmen dan tanggung jawab. Selain itu

kebermaknan hidup merupakan tujuan hidup yang ingin

bermanfaat bagi keluarga, orang terdekat dan lingkungan sekitar

karena apabila kebermaknaan hidup ini dapat diraskan maka akan

menimbulkan kebahagiaan.

b. Karakteristik Kebermaknaan Hidup

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas, perlu

dipahami beberapa sifat khusus dari makna hidup (Bastaman,

2007), diantaranya :

1) Makna hidup itu sifatnya unik, pribadi, dan temporer.

Artinya apa yang dianggap berarti oleh seseorang belum tentu

berarti pula bagi orang lain. Dalam hal ini makna hidup

seseorang dan apa yang bermakna bagi dirinya bersifat khusus,

berbeda tak sama dengan makna hidup orang lain.

(27)

19

Artinya makna hidup benar-benr dapat ditemukan dalam

pengalaman dan kehidupan sehari-hari. Mengingat keunikan

dan kekhususan itu, makna hidup tidak dapat diberikan oleh

siapa pun melainkan harus dicari, dijajaki dan ditemukan

sendiri.

3) Makna hidup memberi pedoman dan arah.

Artinya makna hidup membeikan pedoman dan arah terhadap

kegiatan-kegiatan sehingga makna hidup itu seakan-akan

menantang kita untuk memenuhinya.

c. Sumber-sumber Makna Hidup

Ada tiga nilai yang merupakan sumber makna hidup (Bastaman,

2005) yakni:

1) Creative values (nilai-nikai keatif)

Bekerja dan berkarya serta melaksanakan tugas dengan

keterlibatan dan tanggung jawab penuh pada pekerjaan.

Namun makna hidup bukan terletak pada pekerjaan melainkan

pada sikap dan cara kerja yang mencerminkan keterlibatan

pribadi pada pekerjaannya. Berbuat kebajikan dan melakukan

hal-hal yang bermanfaat bagi lingkungan termasuk usaha

mereliasasi nilai-nilai kreatif.

2) Experiental values (nilai-nilai penghayatan)

Dalam artian menyakini dan menghayati kebenaran,

(28)

20

sangat penting dalam mengembangkan hidup bermakna. Dalam

hal ini cinta kasih merupakan nilai yang sangat penting dalam

mengembangkan hidup bermakna.

Pendalaman nilai-nilai kreatif yang memberikan sesuatu

yang berharga pada lingkungan. Meyakini kebenaran kitab

suci, merasakan keakraban dalam keluarga, menikmati

pemandangan yang indah, merupakan kegiatan-kegiatan yang

berkaitan dengan nilai-nilai penghayatan. Menghayati cinta

kasih misalnya dapat menimbulkan rasa bahagia, kepuasan,

ketentraman, dan perasaan diri bermaknan (Bastaman, 1996).

Erich Fromm (dalam Bastaman, 2007) menyebutkan empat

unsur dari cinta kasih yang murni yakni, perhatian (care),

tanggung jawab (responbility), rasa hormat (respect), dan

pengertian (understanding).

3) Attitudinal values (nilai-nilai bersikap)

Nilai ini lebih menunjukkan menerima dengan tabah dan

mengambil sikap yang tepat terhadap pendeitaan yang tak

dapat dihindari lagi setelah berbagai upaya dilakukan secara

optimal tetapi tak berhasil mengatasinya. Dengan mengubah

sikap diharapkan beban mental akibat musibah mengurang,

bahkan mungkin saja dapat memberikan pengalaman berharga

(29)

21

Penderitaan memang dapat memberikan makna dan guna

apabila kita dapat mengubah sikap terhadap penderitaan itu

menjadi lebih baik lagi (Bastaman, 2007).

4) Faktor-faktor Kebermaknaan Hidup

Frankl (dalam Schultz, 1991) merumuskan adanya

faktor-faktor yang mempengaruhi kebermaknaan hidup individu,

yaitu:

a) Spiritualitas

Merupakan sebuah konsep yang sulit untuk dirumuskan,

tidak dapat diturunkan, dan tidak dapat diterangkan dengan

istilah-istilah yang bersifat material, meski spiritual dapat

dipengaruhi oleh dimensi kebendaan. Namun, tetap saja

spiritualitas tidak dapat disebabkan ataupun dihasilkan oleh

hal-hal yang bersifat bendawi tersebut. Istilah spiritual ini

dapat disinonimkan dengan istilah jiwa.

b) Kebebasan

Kebebasan tidak dibatasi oleh hal-hal yang bersifat non

spiritual, oleh insting-insting biologis, apalagi oleh

kondisi-kondisi lingkungan. Manusia dianugerahi kebebasan oleh

Tuhan, dan dengan kebebasan tersebut diharuskan untuk

memilih bagaimana hidup dan bertingkah laku yang sehat

secara psikologis. Individu yang tidak tahu bagaimana cara

(30)

22

adalah individu yang mengalami hambatan psikologis atau

neurotis. Individu yang neurotik akan menghambat

pertumbuhan sekaligus pemenuhan potensi-potensi yang

dimiliki, sehingga akan mengganggu perkembangan

sebagai individu secara penuh.

c) Tanggung Jawab

Individu yang sehat secara psikologis menyadari

sepenuhnya akan beban dan tanggung jawab yang harus

dijalani dalam setiap fase kehidupan, sekaligus

menggunakan waktu yang dimiliki dengan bijaksana agar

hidup dapat berkembang ke arah yang lebih baik.

Kehidupan yang penuh arti sangat ditentukan oleh

kualitasnya, bukan berapa lama atau berapa panjang usia

hidup.

5) Komponen Kebermaknaan Hidup

Menurut Bastaman (2007) makna hidup dapat ditemukan

dalam kehidupan itu sendiri betapapun buruknya kehidupan

tersebut. Makna hidup tidak saja dapat ditemukan dalam

keadaan yang menyenangkan tetapi juga dapat ditemukan

dalam penderitaan selama individu mampu melihat

hikmah-hikmahnya. Disebutkan Frankl (dalam Bastaman, 2007)

(31)

23

dengan lainnya mempunyai hubungan yang erat dan saling

mempengaruhi. Ketiga komponen itu adalah :

a) Kebebasan berkehendak (freedom of will)

Kebebasan berkehendak adalah kebebasan yang

dimiliki oleh seseorang untuk menentukan sikap dalam

hidupnya, menentukan apa yang dianggap penting dan

baik bagi dirinya. Kebebasan dalam hal ini bukanlah

kebebasan yang mutlak dan tanpa batas, namun

kebebasan yang diimbangi sikap tanggung jawab agar

tidak berkembang menjadi kesewenangan.

b) Kehendak hidup bermakna (will to meaning)

Kehendak hidup bermakna adalah hasrat yang

memotivasi setiap orang untuk bekerja, berkarya dan

melakukan kegiatan-kegiatan penting lainnya dengan

tujuan agar hidupnya berharga dan dihayati secara

bermakna.

c) Makna hidup (meaning of life)

Makna hidup adalah sesuatu yang dianggap penting,

benar dan didambakan serta memberi nilai khusus bagi

seseorang. Bila berhasil ditemukan dan dipenuhi akan

menyebabkan kehidupan ini dirasakan demikian berarti

(32)

24

Berbeda dengan Frankl, menurut Crumbaugh &

Maholich (dalam Koeswara, 1992) terdapat enam

komponen kebermaknaan hidup, yaitu:

a) Makna Hidup

Makna hidup adalah segala sesuatu yang dianggap

penting dan berharga bagi individu serta memberi nilai

khusus, dan dapat dijadikan sebagai tujuan hidup bagi

individu tersebut.

b) Kepuasan hidup

Kepuasan hidup adalah penilaian individu terhadap

hidup yang dijalaninya,sejauh mana individu mampu

menikmati dan merasakan kepuasan dalam hidup dan

segala aktivitas yang telah dilakukannya.

c) Kebebasan

Kebebasan adalah perasaan mampu mengendalikan

kebebasan hidup secara bertanggung jawab.

d) Sikap terhadap kematian

Sikap terhadap kematian adalah pandangan dan

kesiapan individu terhadap kematian yang dihadapi oleh

setiap manusia.

e) Pikiran tentang bunuh diri

Pikiran tentang bunuh diri adalah pemikiran individu

(33)

25

f) Kepantasan hidup

Kepantasan hidup adalah penilaian individu terhadap

hidup yang dijalani, sejauhmana merasa bahwa apa

yang telah dialami dalam hidup adalah sebagai sesuatu

hal yang wajar.

Peneliti sepakat dengan pendapat Frankl bahwasannya

komponen kebermaknaan hidup itu terdiri dari tiga hal, yaitu

kebebasan berkehendak, kehendak hidup bermakna, dan makna

hidup itu sendiri. Tiga hal inilah yang membentuk kebermaknaan

hidup menjadi suatu nilai yang memberikan motivasi tersendiri

bagi individu untuk menghasilkan sesuatu yang membanggakan,

baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain, agar hidup yang

dirasakan menjadi lebih berarti dan berharga.

B. Pespektif Teoritis

Setiap orang (normal) senantiasa menginginkan dirinya menjadi

orang berguna dan berharga bagi diri, keluarga, dan lingkungan

masyarakat. Seperti halnya, seorang ayah yang mempunyai keinginan

dikasihi dan dihormati oleh seluruh anggota keluarganya begitupun

dengan anak yang ingin menjadi anak kebanggaan orang tuanya. Itulah

sekelumit keinginan manusia dari sekian keinginan lainnya, yang bila

dibayangkan menggambarkan hasrat yang paling mendasar dari setiap

(34)

26

Keinginan dalam menjalankan hidup bermakna ini dapat

menjadikan motivasi utama pada manusia. Hal inilah yang mendasari

manusia untuk melakukan kegiatan bekerja, berkarya serta menjalankan

perannya agar hidup yang dirasakan merasa berharga dan berarti. Hasrat

untuk hidup bermakna ini bukan sesuatu yang dibuat-buat maupun

diada-adakan melainkan suatu yang benar-benar dirasakan dan dijalankan dalam

kehidupan seseorang. Demi mencapai menjadi seseorang yang merasa

berharga dan bermartabat seseorang akan melakukan kegiatan-kegiatan

yang terarah kepada tujuan hidup yang jelas dan bermakna. Seseorang

yang mempunyai keinginan untuk hidup bermakna menjadikan perasaan

bahagia namun apabila sebaliknya hasratnya tak terpenuhi maka akan

menimbulkan rasa kekecewaan hidup dan penghayatan diri hampa tak

bermakna akan menimbulkan pengembangan diri dan harga diri.

Bagi mereka kemampuan untuk menentukan tujuan hidup, tujuan

pribadi dan menemukan makna hidup merupakan sesuatu yang sangat

berharga dan mempunyai nilai yang tinggi. Bahkan mereka menganggap

usaha untuk menemukan suatu makna hidup itu secara bertanggung jawab

merupakan tantangan. Mereka juga mampu mencintai dan menerima cinta

kasih orang lain, serta menyadari bahwa cinta kasih merupakan salah satu

hal yang menjadikan hidup ini indah. Mereka adalah orang-orang yang

menghayati bahwa hidup dan kehidupan mereka bermakna (Bastaman,

(35)

27

Kehidupan bermakna ini tidak terlepas dari pandangan logoterapi

yang dikembangkan oleh Victor E Frankl. Logoterapi meneknakan

seseorang untuk dapat menyadari secara bertanggung jawab atas dirinya

dan memberinya kesempatan untuk memilih, untuk apa, atau kepada siapa

merasa bertanggung jawab (Frankl, 1985 dalam Koeswara, 1992).

Logoterapi menunjukkan bahwa makna hidup dan sumbernya terdapat

dalam kehidupan itu sendiri, walaupun tidak selalu jelas kelihatan dan

lebih sering tersirat dan tersembunyi didalamnya, logoterapi menunjukkan

cara-cara menemukannya. Selain itu logoterapi juga mengungkapkan

bahwa manusia mampu untuk menemukan dan mengembangkan makna

hidupnya. Terdapat sebagian orang yang lebih bisa memknai hidup lewat

berbagi dengan orang lain serrta merasakan hidupnya lebih bermakna

karena telah memberikan manfaat kepada orang lain. Hal tersebut

menunjukkan bahwa kegiatan berbagi dan peduli sesama tidak luput dari

kehidupan manusia.

2. Dinamika Psikologi dalam Kebermaknaan Hidup

Keadaan manusia yang dapat menghayati hidup bermakna

menunjukkan corak kehidupan penuh semangat dan gairah hidup serta

jauh dari perasaan hampa daalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Tujuan hidup, baik tujuan jangka pendek maupun jangka panjang, jelas

baginya, dengan demikian kegiatan-kegiatan mereka pun menjadi

terarah serta merasakan sendiri kemajuan-kemajuan yang telah mereka

(36)

28

sumber kepuasan dan kesenenangan tersenidri sehingga dalam

mengerjakannya pun mereka lakukan dengan bersemangat dan

bertanggung jawab. Hari demi hari mereka temukan aneka ragam

pengalaman baru dan hal-hal menarik yang kesemuanya menambah

kekayaan pengalaman hidup mereka. Mereka mampu menyesuaikan

diri dengan lingkungan, dalam arti menyadari pembatasan-pembatasan

lingkungan tetapi dalam keterbatasan itu mereka tetap dapat

menentukan sendiri apa yang paling baik mereka lakukan serta

menyadai pula bahwa makna hidup dapat ditemukan dalam kehidupan

itu sendiri, betapa buruk keadaanya (Bastaman, 2007).

Disisi lain, apabila seseorang tidak berhasil menemukan dan

memenuhi makna hidupnya, maka hasratnya untuk hidup bermakna

tidak tercapai. Akibatnya akan mengalami semcaam frustasi yang

disebut frustasi eksistensial dengan keluhan utama menghayati

hidupnya hampa dan tak bermakna (meaningless) yang merupakan

gerbang kearah penderitaan. Dalam pandangan Logoterapi hidup tak

bermakna bukanlah sesuatu penyakit, melainkan semacam kondisi

kehidupan manusia yang dapat menjelmakan gangguan neurosis, sikap

totaliter, dan gaya hidup konformistis. Adapun gangguan neurosis

noogenik (noogenic neurosis). Gejala-gejalanya adalah serba bosan,

hampa, putus asa, kehilangan minat dan inisiatif, kehilangan arti dan

(37)

29

Melihat gambaran diatas, nyatalah bahwa penghayatan hidup

bermakna merupakan gerbang ke arah kepuasan dan kebahagiaan hidup.

artinya hanya dengan memenuhi makna-makna potensial yang ditawarkan

oleh kehidupanlah, penghayatan hidup bermakna tercapai denga kepuasan

dan kebahagiaan sebagai ganjarannya. Mereka menghayati hidup

bermakna benar-benar tahu untuk apa mereka hidup dan bagaimana

mereka menjalani hidup. Hasrat

Hidup Bermakna

Terpenuhi

Kebahagiaan

Hidup Bermakna

Tak terpenuhi

(38)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian metode kualitatif.

Peneliti kualitatif sebagai human instrument, berfungsi sebagai

menetapkan fokus penelitian, memilih informan sebagai sumber

data, melakukan pengumpulan data, menilai kualitas data, analisis

data, menafsirkan data, dan membuat kesimpulan atas temuannya

(Sugiyono, 2012). Human instrument dapat diartikan, manusia

sebagai sumber data dalam penelitian.

Smith (2009) mengatakan bahwa sebagaian peneliti

kualitatif berbicara tentang dunia kehidupan personal, dan mereka

mencoba untuk menggambarkan pengalaman seorang individu

didalam wilayah khusus yang penuh makna dan mengatakan

bahwa riset kualitatif berpusat pada pengalaman dengan demikian

diharapkan dapat mengetahui gambaran kebermaknaan hidup

penggagas komunitas Tanoker Ledokombo Jember.

Secara khusus, pendekatan penelitian yang dipilih adalah

studi kasus. Menurut punch (dalam poerwandari 2005) yang di

definisikan sebagai kasus adalah fenomena khusus yang hadir

dalam suatu konteks yang terbatasi, meski batas-batas antara

fenomena dan kontes tidak sepenuhnya jelas. Kasus itu dapat

(39)

31

bahkan suatu bangsa. Kasus juga berarti pula keputusan, kebijakan,

proses, atau suatu peristiwa khusus tertentu. Beberapa tipe unit

yang dapat diteliti dalam studi kasus : individu-individu,

karekteristik atribut dari individu, aksi dan interaksi, peninggalan

atau artefak perilaku, setting serta peristiwa, atau insiden tertentu.

Sifat dari penelitian studi kasus adalah tentang peristiwa

dan pikiran sampel dengan seakurat mungkin dengan menemukan

faktor-faktor penyebab dan mengetahui pengaruh terhadap

kehidupan subjek saat ini (Moleong, 2004).

Oleh karna itu dengan menggunakan metode studi kasus

membuat peneliti memahami subjek secara mendalam dan

memandang subjek sebagaimana subjek penelitian memahami dan

mengenal dirinya.

B. Lokasi Penelitian

Lokasi yang dijadikan tempat penelitian ini adalah di Jalan

Bungur 73, timur simpang tiga Desa Ledokombo Kecamatan

Ledokombo Kabupaten Jember Jawa Timur. Dimana, kedua subjek

yang akan dijadikan penelitian adalah dengan lokasi yang sama

karena subjek tersebut adalah pasangan suami istri. Dalam

penelitian ini akan dilakukan di rumah dan tempat komunitas yang

digagasnya itu sendiri. Adapun pertimbangan yang mendasari

(40)

32

merupakan tempat subjek melakukan aktivitas sosialnya sehari-hari

dalam mengelolah komunitas yang digagasnya sehingga peneliti

mudah untuk mendapat informasi baik melalui wawancara maupun

observasi. Hal ini dapat dijadikan pertimbangan peneliti mengenai

hubungan subjek dengan lingkungannya terkait topik yang akan

dijadikan penelitian.

C. Sumber Data

Jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif.

Menurut Moleong (2005) yakni data deskriptif berupa kata-kata

tertulis atau lisan bagi orang-orang atau perilaku yang dapat

diamati. Data tersebut meliputi data tentang latar belakang obyek

penelitian dan data hasil wawancara dengan penggagas komunitas

Tanoker Ledokombo Jember yang akan dijadikan informan.

Sumber data adalah dari mana data penelitian dapat

diperoleh. Sedangkan dalam suatu penelitian diketahui bahwa

sumber data dapat di ambil dari :

1. Library Research yaitu data yang berasal dari berbagai

referensi, buku-buku ilmiah, dokumen-dokumen, serta

informasi-informasi lainnya (yang berhubungan dengan

permasalahan penelitian) untuk dijadikan rujukan yang

lebih mendasar atau rasional serta dapat dipertanggung

(41)

33

2. Field Research yaitu mencari data dengan cara terjun

langsung pada obyek penelitian yang bertujuan untuk

memperoleh data yang konkrit tetang segala sesuatu yang

diteliti baik dengan wawancara maupun obeservasi

terhadap subyek dan informan penelitian (Mardalis, 1995).

Adapun yang dijadikan peneliti sebagai sasaran sumber

data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

a. Dalam penelitian ini yang akan menjadi subjek adalah

pasangan suami istri yang telah menggangas komunitas

Tanoker Ledokombo Jember yakni, SP dan FC yang

keduanya berusia 52 tahun.

b. Sedangkan untuk memperoleh informasi pendukung,

peneliti menggunakan informan yakni, staff komunitas

Tanoker Ledokombo, tetangga sekaligus teman subjek

semasa duduk di bangku sekolah dasar, dan rekan kerja

subjek.

D. Cara Pengumpulan Data

1. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dan tanya jawab yang

diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu. Wawancara ini

bertujuan memperoleh pengetahuan tentang makna-makna

(42)

34

diteliti, dan bermaksud melakukan eksplorasi terhadap isu

tersebut, suatu hal yang tidak dapat dilakukan melalui

pendekatan lain (Banister dkk, 1994 dalam Poerwandari, 2005).

Dalam penelitian ini, wawancara yang digunakan adalah

wawancara mendalam (in depth interview) dengan pedoman

umum. Alasan dilakukannya wawancara mendalam adalah

diharapkan peneliti dapat memperoleh pengetahuan

makna-makna subjektif yang dipahami subjek berkenaan dengan topik

yang diteliti, pengalamannya serta seperti apa emosi dan

motifnya dalam melakukan kegiatannya sehingga kemudian

akan dilakukan eksplorasi terhadap topik yang diteliti.

Penggunaan metode wawancara peneliti gunakan untuk

memperoleh data dari subjek mengenai kebermaknaan hidup

penganggas komunitas Tanoker Ledokombo Jember dengan

berpedoman pada guidance wawancara. Wawancara digunakan

peneliti untuk mengungkap gambaran kebermaknaan hidup

yang bersumber dari karakteristik dan sumber makna hidup.

Pedoman wawancara ini bersifat tentative, artinya pedoman

tersebut bisa mengalami pengembangan dari pertanyaan yang

sudah ada dan disesuaikan dengan situasi serta kondisi. Selain

itu, wawancara juga di gunakan untuk menggali informasi

mengenai subjek lebih mendalam melalui informan. Informan

(43)

35

mengetahui subjek atas apa yang dilakukan dan diberikan

subyek pada komunitasnya.

2. Observasi

Istilah observasi dari bahasa latin berarti melihat dan

memperhatikan. Istilah ini diarahkan pada kegiatan

memperhatikan secara akurat, mencatat fenomena yang

muncul, dan mempertimbangkan hubungan antar aspek dalam

fenomena tersebut. Observasi selalu menjadi bagian dalam

penelitian psikologis, dapat berlangsung dalam konteks

laboratorium (eksperimental) maupun dalam konteks alamiah

(Banister dkk dalam Poerwandari, 2005). Patton menegaskan

observasi merupakan metode pengumpulan data esensial dalam

penelitian dengan pendekatan kualitatif (Poerwandari, 2005).

Selain itu tujuan observasi adalah mendeskripsikan setting

yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung,

orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian dilihat

dari perspektif mereka yang terlibat dalam kejadian yang

dialami tersebut (Poerwandari, 2005).

Pada penelitian ini akan dilakukan observasi secara

langsung. Peneliti akan turun ke lapangan, dimana peneliti akan

datang dan melihat secara langsung aktitivitas yang dilakukan

oleh subjek serta melihat apa yang sudah diberikan ditempat

(44)

36

dengan berkarya, bekerja, dan bertanggung jawab dalam

komunitasnya selain itu melihat interaksi sosial subjek dengan

masyarakat maupun lingkungannya.

3. Dokumentasi

Dokumentasi dalam penelitian ini adalah berupa

dokumen-dokumen yang dapat diakses oleh peneliti dari subjek yang

dapat menambah informasi data bagi penelitian. Dokumen

sudah lama digunakan dalam penelitian sebagai sumber data

karena dalam banyak hal dokumen sebagai sumber data

dimenfaatkan untuk menguji, menafsirkan, bahkan untuk

meramalkan (Moelong, 2009:30). Pada penelitian ini, dokumen

yang digunakan adalah berupa beberapa foto kegiatan subjek.

E. Prosedur Analisis dan Interpretasi Data

Analisis data merupakan proses akhir dalam penelitian

kualitatif Creswell (dalam Susanto, 2013). Menurut Creswell,

(dalam Susanto, 2013) terdapat langkah dalam menganalisis data

sebagaimana berikut ini :

1. Mengelolah dan menginterpretasi data untuk dianalisis.

Langkah ini melibatkan transkrip wawancara.

Menscening materi, mengetik data lapangan, atau

(45)

37

jenis-jenis yang berbeda tergantung dari sumber

informasi.

2. Membaca keseluruan data. Dalam tahap ini, menulis

catatan-catatan khusus atau gagasan-gagasan umum

teeentang data yang diperoleh.

3. Menganalisi lebih detail dengan mengkoding data.

Coding data merupakan proses mengelolah meteri

informasi menjadi segmen-segmen tulisan sebelum

memakainya.

4. Memerapkan proses koding untuk mendiskripsikan

setiing. Orang–orang, kategori, dan tema-tema yang

akan dianalis.

5. Menunjukkan bagaimana diskripsi dan tema-tema ini

akan disajikan kembali dalam narasi atau laporan

kualitatif.

6. Mengisterpretasi atau memaknai data.

Beberapa langkah dalam analisis data kualitatif diatas, akan

diterapkan dalam penelitian ini. Dalam penelitian ini data yang

didapat ditulis dalam transkrip wawancara, lalu koding, dipilih

tema-temasebagai hasil temuan dan selanjutnya dilakukan

(46)

38

F. Keabsahan Data

Validitas dan Reliabilitas data

1. Uji Validitas

Validitas penelitian kualitatif berbeda dengan penelitian

kuantitatif, validitas tidak memiliki konotasi yang sama dengan

penelitian kualitatif, tidak pula sejajar dengan reliabilitas (yang

berarti pengujian stabilitas dan konsistensi respon) ataupun

generalisasi (yang berarti validitas eksternal atau hasil

penelitian yang dapat diterapkan pada setting , orang, atau

sampel yang baru) dalam penelitian kualitatif mengenai

generalisasi dan reliabilitan kualitatif Craswell (dalam Susanto,

2013). Validitas dalam penelitian kualitatif didasarkan pada

kepastian apakah hasil penelitian sudah akurat dari sudut

pandang peneliti, partisipasi, atau pembaca secara umum,

istilah validitas dalam penelitian kualitatif dapat disebut pula

dengan trusworthiness, authenticity, dan credibility Creswell

(dalam Susanto, 2013).

Sugiono (2014) terdapat dua macam validitas penelitian yaitu,

validitas internal dan validitas eksternal. Validitas internal

berkenaan dengan derajat akurasi penelitian dengan hasil yang

dicapai. Sedangkan validitas eksternalberkenaan dengan derajat

akurasi apakah hasil penelitian dapat digeneralisasikan atau

(47)

39

Dalam penelitian ini, uji validitas yang digunakan adalah:

a. Triangulasi

Triangulasi (Moleong, 2014) yaitu teknik pemeriksaan

keabsahan data dengan melakukan pengecekan atau

perbandingan terhadap data yang diperoleh dengan sumber

atau kriteria yang lain diluar data itu, untuk meningkatkan

keabsahan data. Pada penelitian ini, triangulasi yang

dilakukan adalah:

1) Triangulasi sumber, yaitu dengan cara

membandingkan apa yang dikatakan oleh

subyek dengan dikatakan informan dengan

maksud agar data yang diperoleh dapat dipercaya

karena tidak hanyadiperoleh dari satu sumber saja

yaitu subyek penelitian, tetapi data juga diperoleh

dari beberapa sumber lain seperti tetangga atau

teman subyek,

2) Triangulasi metode, yaitu dengan cara

membandingkan data hasil pengamatan dengan

data hasil wawancara dan membandingkan data

hasil pengamatan data hasil wawancara dengan

isi dokumen yang berkaitan. Dalam hal ini

peneliti berusaha mengecek kembali data yang

(48)

40

b. Menggunakan bahan referensi

Bahan referensi ini merupakan alat pendukung untuk

membuktikan data yang ditemukan oleh peneliti. Seperti data

hasil wawancara perlu didukung dengan adanya rekaman

wawancara. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan alat

perekam untuk merekam hasil wawancara dengan informan.

Sedangkan dalam uji validitas eksternal dalam penelitian

kulitatif, peneliti dalam membuat laporan harus memeberikan

uraian yang rinci, jelas, sistematis, dan dapat dipercaya.

Dengan demikian pembaca menjadi jelas atas hasil penelitian

tersebut. Sehingga dapat memutuskan bisa atau tidaknya untuk

(49)

41

2. Uji Reliabilitas

Dalam penelitian kualitataif uji reliabilitas dilakukan dengan

mengaudit keseluruhan proses penelitian. Caranya dilakukan oleh

auditor yang independen yaitu dosen pembimbing skripsi untuk

mengaudit keseluruhan aktivitas peneliti dalam melakukakn

penelitian. Bagaimana peneliti mulai menentukan masalah,

memasuki lapangan, menentukan sumber data, melakukakn

analisis datan melakukkan uji keabsahan dan sampai kesimpulan

harus dapat ditunjukkan oleh peneliti. Menurut Faisal (dalam

Sugiono, 2011) jika peneliti tidak mempunyai dan tidak

menunjukkan jejak aktivitas lapangannya maka reliabilitas

(50)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Partisipan

Penelitian ini dilaksanakan kurang lebih selama 45 hari yakni

dimulai pada bulan pertama yang dilakukan pada bulan Agustus hingga

September 2015 kemudian dilanjutkan pada bulan November, hal ini

dilakukan peneliti karena jarak penelitian yang ditempuh jauh sehingga

peneliti perlu untuk bimbingan kepada dosen pembimbing. Wawancara

pada bulan kedua ini dilakukan peneliti dengan alasan masih ada

wawancara lanjutan untuk melengkapi data yag masih dibutuhkan.

Penelitian ini tentunya tidak lepas dari berbagai kendala dan

rintangan yang dihadapi peneliti dalam proses penelitian. Kendala yang

ditemui peneliti saat penelitian berlangsung diantaranya, yang pertama

adalah tentang proses perizinan dalam penelitian yang akan dilakukan.

Pada proses perizinan penelitian ini, peneliti memasukkan surat izin

beserta proposal penelitian kepada komunitas Tanoker pada bulan Juli

selanjutnya surat izin penelitian akan diproses dan peneliti diminta untuk

menunggu selama dua minggu. Setelah peneliti menunggu dalam dua

minggu, peneliti menghubungi pihak keseketariatan komunitas Tanoker

namun karena banyaknya acara, komunitas Tanoker belum memberikan

izin untuk penelitian dan pada akhirnya peneliti baru akan bisa memulai

(51)

43

penelitian, peneliti meminta subjek untuk menandatangani surat

pernyataan sebagai respoden, kendala yang kedua adalah masalah jarak,

dikarenakan penelitian ini terletak di Desa Ledokombo Jember peneliti

harus pulang pergi Surabaya Jember hal itu dilakukan peneliti untuk

melakukan bimbingan kepada dosen pembimbing selain itu, peneliti juga

perlu mencari beberapa referensi buku, dankendala yang terakhir yakni

masalah kepada subjek, karena subjek mempunyai aktivitas dan kesibukan

diluar rumah itu hampir setiap hari bahkan dihari libur sekalipun sehingga

mengharuskan peneliti menunggu waktu yang tepat untuk melakukan

wawancara selain itu peneliti juga perlu membangun rapport hal ini

dilakukan untuk membangun rasa kedekatan dengan subjek. Sementara

untuk melengkapi data dari subjek, peneliti membutuhkan informan.

Informan ini merupakan salah satu kunci dalam penggalian data mengenai

subjek. Pada pemilihan informan, peneliti diarahkan dan diberikan saran

oleh kedua subjek.

Selain tekhnik wawancara dalam mencari data, penelitian ini

menggunakan tekhnik observasi. Observasi ini dilakukan dengan melihat

aktivitas sehari-hari subjek. Observasi ini dilakukan peneliti juga dengan

mengikuti acara maupun agenda subjek yang dihadiri. Seringkali peneliti

terlibat dalam acara workshop yang diikuti oleh subjek. Hal ini dilakukan

peneliti untuk mengetahui aktivitas subjek.

Dari beberapa proses yang sudah dijalankan peneliti, maka dibawah ini

(52)

44

1. Profil subjek pertama

Nama :SP

Lahir :Jember, Jawa Timur, 9 Juli 1963

Istri :FC

Alamat saat ini :Jl.Bungur, Simpang Tiga Kecamatan

Ledokombo Jember

Agama :Islam

Usia :52 tahun

Pendidikan :S-1 jurusan Manajemen Hutan Fakultas

Kesehatan UGM

S-2 Manjemen Pembanguanan Sosial

FISIPOL UI

S-3 Sosiologi FISIPOL UI

SP adalah seorang aktivis yang lahir di Jember pada 52 tahun masa

silam. SP yang memiliki kulit khas indonesia yakni sawo matang

dengan rambut panjangnya yang kesehariannya diikal kuncir kuda.

Darah keturunan madura jawa ini pada masa kecilnya dihabiskan di

tempat kelahirannya namun ketika setelah lulus dari SMA SP

melanjutkan studinya di UGM pada tahun 1991 dengan mengambil

jurusan manajemen hutan setelah itu pada tahun 2011 melanjutkan

studi magister di UI dan pada tahun 2011 menyelesaikan gelar

doktornya di FISIPOL UI. Pengalaman kerja yang dimiliki sebagai

(53)

45

manajemen konflik dalam sumberdaya alam sejak tahun 1999 selain

itu SP juga pernah menjadi peneliti maupun konsultan untuk berbagai

topik terkait pengelolaan sumberdaya alam khususnya hutan sejak

tahun 1990. Karir yang dijalankan tersebut dikembangkan di kota

besar tempat SP sebelum kembali di kampung halamannya sekarang.

Namun pada tahun 2009 SP meninggalkan Jakarta dengan kembali

ke kampung halamannya karena keadaan ibunya yang sudah sepuh.

Disaat kepulangannya, SP menemui berbagai macam masalah

marginal pada masyarakat Ledokombo. Hal demikian yang

menjadikan SP bersama istrinya menggagas komunitas Tanoker.

2. Profil subjek dua

Nama :FC

Lahir : Ambon, 26 Juni 1963

Suami : SP

Alamat saat ini :Jl.Bungur, Simpang Tiga Kecamatan

Ledokombo Jember

Agama :Islam

Usia :52 tahun

Pendidikan :Fakultas Ushuludin IAIN Sunan Kalijaga

Pascasarjana Jurusan Sosiologi UGM

Aktifitas :Pendiri rumah belajar dan bermain \

(54)

46

Aktivis Perempuan

Trainer gender

Farha Abdul Kadir Assegaf yang lebih dikenal dengan nama FC

adalah perempuan yang berusia 52 tahun yang dikarunia dua anak

laki-laki. Masa studinya dilewati di IAIN Sunan Kalijaga lalu dilanjutkan

di Pascasarjana Sosiologi UGM. Perempuan berdarah arab ambon ini

dikenal sebagai aktivis perempuan yang menyuarakkan pensetraan

gender. Oleh karena hal itu, FC dikenal sebagai konsultan perempuan

hal itu juga dapat dilihat dari pengalaman kerjanya yang seringkali di

lembaga pusat pelayanan perempuan. Namun pada tahun 2009 FC

berpulang ke kampung halaman suaminya dan bersama suaminya FC

menggagas komunitas Tanoker. Berbekal pengalamannya menjadi

aktivis perempuan, FC yang pernah mendirikan Lembaga Studi dan

Pengembangan Peremmpuan dan Anak (LS-PPA) menelusuri desa

suaminya. FC menemukan banyak anak-anak yang tim secara

struktural. Ayah dan ibu dari anak-anak tersebut banyak yang bekerja

sebagai buruh migran dan juga pedagang kecil serta ojek. Melihat

kenyataan seperti itu, FC merasa prihatin dan ingin membawa

perubahan baru terlebih dari segi pendidikan mereka. FC yang pernah

menjadi staf pengajar di fakultas FISIP Universitas Nasional Jakarta

ini kian rajin mengumpulkan bahan untuk membuat anak-anak tersebut

mempunyai semangat belajar yang tinggi. Bersama sang suami yang

(55)

47

demi satu anak-anak Ledokombo sekaligus masyrakatnya secara

keseluruhan.

3. Profil informan 1 dari subjek 1

Nama :BN

Jenis kelamin :Pria

Alamat saat ini :Krajan Sumber Lesung Ledokombo

Usia :42 tahun

Hubungan dengan subjek :Staff komunitas Tanoker

4. Profil informan 2 dari subjek 1

Nama :HI

Jenis kelamin :Wanita

Alamat saat ini :Sumber Lesung Ledokombo

Usia :52 tahun

Hubungan dengan subjek :Tetangga subjek, kakak kelas subjek

di SD

5. Profil informan 3 dari subjek 1

Nama : MA

Jenis kelamin : Pria

Alamat saat ini :Sumber Salak Ledokombo

Usia : 48 tahun

(56)

48

6. Profil informan 1 dari subjek 2

Nama :EM

Jenis kelamin :Wanita

Alamat saat ini :Sumber Lesung Ledokombo

Usia :52 tahun

Hubungan dengan subjek :Rekan serta tetangga FC

7. Profil informan 2 dari subjek 2

Nama : ST

Jenis kelamin : Pria

Alamat saat ini : Ambulu Jember

Usia : 34 tahun

Hubungan dengan subjek : Staff Tanocraft

8. Profil informan 3 dari subjek 2

Nama : TH

Jenis kelamin : Perempuan

Alamat saat ini : Bekasi

Usia : 48 tahun

(57)

49

B. Temuan Penelitian

1. Deskripsi temuan penelitian

Dalam penelitian ini subjek memaparkan banyak data yang nantinya

akan diolah oleh peneliti. Berdasarkan data yang sudah diperoleh

oleh peneliti akan mengungkapkan dan menjawab dari fokus

peneliti yang sudah dipaparkan pada BAB I.

Berikut ini adalah gambaran subjek mengenai kebermaknaan

hidupnya:

a. Subjek 1 (SP)

Kebermaknaan hidup SP dilakukan dengan memberikan

manfaat dan arti bagi orang-orang yang ada di sekitarnya.

Hidup ya harus berarti, bermanfaat buat orang lain, dan itu yang menjadikan pedoman bagi saya dan dalam makna kan terkandung tujuan ya, jadi ya memang tujuan saya ingin bermanfaat bagi orang

banyak bagi keluarga” (W.SP.100915.20)

Bentuk nyata dari kebermanfatan SP ini juga dirasakan oleh

Baisuni dan M.Ali yang menilai bahhwa SP mempunyai

rasa berbagi kepada orang-orang yang disekitarnya.

“Dia itu sebenarnya punya rasa kasihannya

itu loh saya salut cara berbaginya itu, ya

biasalah namanya manusia”

(W.B.190915.06)

“Misal ada apa ya kayak bagi-bagi rezeki

Referensi

Dokumen terkait