• Tidak ada hasil yang ditemukan

108 PENGEMBANGAN KAPASITAS SDM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "108 PENGEMBANGAN KAPASITAS SDM"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

PENGEMBANGAN KAPASITAS SDM MELALUI PENERAPAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN PRODUK PANGAN HASIL INDUSTRI RUMAH

Munthoha1, Agus Mansyur2

1Program Studi Ilmu Hukum, Universitas Islam Indonesia 2Program Studi Teknik Industri, Universitas Islam Indonesia

Email: [email protected]

ABSTRAK

Desa Ngluwar merupaka n wilayah yang berada di pusat pertumvbuhan kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang. Sebagaian besar masyarakat desa Ngluwar bekerja sebagai petani, sedangkan sebagaian kecilnya ada pelaku usaha (UKM) lokal dibidang pengolahan pangan, sehingga sedikit banyak mewarnai pertumbuhan ekonomi desa Ngluwar. Dengan potensi sumberdaya manusia terutama pelaku usaha (UKM) sebenarnya bisa meningkatkan pengembangan potensi lainnya seperti peningkatan budidaya tanaman pangan serta penambahan jumlah sumberdaya manusia yang terlibat dalam usaha (UKM) lokal. Namun dengan latar belakang sebagai masyarakat agraris maka para pelaku usaha (UKM) masih memiliki kultur kerja yang belum berkembangan sebagaimana diharapkan, dimana cara berpikir dan hasil usaha mereka belum berkembangan dengan teknologi pengolahan pangan yang memadai.Pola kerja tradisional masih sangat terasa dimana pengelolaan usaha belum dikembangan dengan manajemen usaha yang modern, pengolahan dibidang pangan (makanan) belum menerapkan teknologi yang baik yang mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produk. Para pelaku usaha masih memiliki keterbatasan dalam meningkatkan jumlah bahan baku lokal dan keterbatasan pengetahuan dan skill menggali potensi bahan pangan lokal yang dapat diolah sebagai produk makanan bernila i. Potensi peningkatan kapasitas sumberdaya manusia dan pengembangan alat produksi memberikan peuang yang baik bagi para pelaku usaha (UKM) desa Ngluwar karena masih tingginya permintaan pasar dan kemampuan serap produk makanan olahan dari wilayah Ngluwar dan sekitarnya. Dengan memberikan pelatihan dan pendampingan kepada para pelaku usaha (UKM) untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produk lokal diharapkan dapat menumbuhkan posisi tawar dalam persaingan produk dengan wilayah lain, sehingga dapat mewujudkan tujuan utama pemerintah desa untuk menekan keterbatasan ekonomi keluarga dan mampu mendorong kesejahteraan masyarakat secara lebih luas.

Kata kunci : Peningkatan kapasistas SDM, peningkatan kualitas produk

ABSTRACT

(2)

the main purpose of the village government to suppress economic limitations families and to encourage the public welfare more large.

Keywords: Increasing the capacity of human resources, improvement of product quality

LATAR BELAKANG

Di negara Inbdonesia ini bahwa Usaha Kecil dan Menengah (UKM) mempunyai peranan

strategis dalam kancah pembangunan teruatama dibidang perekonomian nasional. Peran UKM

mendorong pertumbuhan ekonomi kelas bawah, ini terbukti dengan banyaknya tenaga kerja

yang terserap di berbagai sector UKM. Dengan kondisi ekonomi negara yang stagnan sekalipun

bahwa UKM tetap mampu bertahan dan masih bisa tumbuh dibandingkan dengan usaha yang

berskala besar. Artinya perekonomial nasional masih bisa bertahan dalam krisis karena

didukung oleh keberadaan dari usaha kecil fan menengah ini. Pengembangan UKM sudah

sepantasnya mendapat perhatian yang besar dari semua kalangan, baik pemerintah, perguruan

tinggi maupun para pengusaha besar. Jaringan kemitraan harus dibangun untuk menopang

ketahan ekonomi nasional dengan prinsip saling member keuntungan.

Pengembangan UKM saat ini perlu di dorong untuk mengembangkan keunggulan lokal

(lingkungan internal) menangkap peluang pasar global, dengan dasar sinergi otonomi daerah

dan pasar bebas. Konsep pemikiran pengembangan UKM harus berskala global dengan

diterjemahkan berdasarkan kearifan lokal untuk membangun program berskala local (think

globaly and act locally) sehingga kebijakan pengembangan UKM dapat berjalan sesuai kondisi

dan situasi masyarakat.

Berdasarkan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan

Pembangunan Nasional menjelaskan bahwa visi adalah rumusan umum mengenai keadaan

yang diinginkan pada akhir periode perencanaan. Sebagai sebuah dokumen perencanaan jangka

menengah daerah yang merupakan sebuah rangkaian dokumen perencanaan daerah

bersama-sama dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Magelang

Tahun 2005-2025 (Peraturan Daerah Nomor 28 Tahun 2008), maka visi di dalam RPJMD

Kabupaten Magelang Tahun 2014-2019 haruslah memiliki keterkaitan terhadap pencapaian visi

RPJPD Kabupaten Magelang sebagai kesinambungan pembangunan daerah.

Dengan adanya kebijakan pembangunan yang mengarah pada RPJMD maka pemerintah

kabupaten magelang akan melanjutkan program pembangunan yang lebih tepat sasaran.

Program tahun 2014-2019 dari pemerintah kabupaten Magelang dilaksanakan dengan

memperhatikan situasi dan kondisi Kabupaten Magelang pada masa lalu dan saat ini, tantangan

(3)

yang dimiliki serta dengan tetap memperhatikan motto Kabupaten Magelang yaitu “Gemah Ripah Iman Cemerlang” atau Magelang Gemilang dan Visi Pembangunan Kabupaten Magelang Tahun 2009-2014. Untuk mewujudkan visi pembangunan 5 (lima) tahun maka

ditempuh melalui 6 (enam) misi pembangunan daerah, salah satunya adalah

“ Membangun perekonomian daerah berbasis potensi lokal yang berdaya saing” Desa Ngluwar, Kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang merupakan salah satu wilayah

di Kabupaten Magelang yang memiliki sejumlah UKM yang potensial, dimana para pelaku

usahanya merupakan masyarakat lokal yang melakukan pengolahan produk pangan berbasis

potensi lokal. Seiring adanya kegiatan pendampingan maka muncul beberapa permasalahan

yang dihadapi para UKM berupa keterbatasan skill dan wawasan usaha. Beberapa masalah

tentang pengolahan produk masih bersifat tradisonal, pengemasan dan packing produk masih

sederhana, serta standar produk belum mengacu pada standar BPOM. Oleh karenanya

pelaksanaan program pengembangan UKM akan diarahkan pada pengembangan SDM dan

pembaharuan teknologi melalui bentuk pengabdian kepada masyarakat.

PERMASALAHAN

Keberadaan usaha skala kecil dan menengah (UKM) di Indonesia adalah merupakan

subyek pemikiran yang senantiasa menjadi perjhatian banyak pihak sebab perusahaan skala

kecil ini ada di tiap wialayah terkecil sekalipun, dan dampaknya menciptakan lapangan kerja

yang potensial. Fakta menyatakan bahwa sektor ekonomi UKM memiliki proporsi unit usaha

terbesar berdasarkan statistik UKM tahun 2004-2005

Demikian halnya dengan kecamatan Ngluwar, Kabupaten Magelang merupakan

kecamatan yang berbatasan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta, yaitu berbatasan dengan

kabupaten Sleman dan Kabupaten Kulon Progo. Kecamatan Ngluwar merupakan daerah

pertumbuhan yang cukup menjanjikan sebagai daerah pertumbuhan ekonomi yang tinggi

dimana memiliki 8 desa.

Program pemberdayaan masyarakat bisa dilakukan oleh banyak pihak, termasuk

perguruan tinggi merupakan satu mitra alternatif bagi masyarakat untuk bisa lebih aktif dalam

mengembangkan potensi diri, dan memperbaiki perekonomian keluarga. Dengan adanya

program pendampingan dalam pemberdayaan masyarakat, bisa lebih berperan aktif dalam

menjalankan serta mengembangkan perekonomian yang ada di Desa. Dengan adanya kemitraan

dengan perguruan tinggi diharpkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) masyarakat Desa, dapat

berjalan optimal sesuai dengan potensi yang dimilikinya, baik dari Sumber Daya Alam (SDA)

(4)

Kemauan dan keuletan pelaku usaha di masyarakat dalam menggeluti pekerjaan sebagai

produsen produk pangan dapat dilihat dalam kegiatan produksi dari produk-produknya. Setiap

hari masyarakat (UKM) harus berproduksi karena permintaan pasar selalu terjadi setiap hari,

selain itu keberlangsungan usaha sangat tergantung dari hasil penjualan produk tiap harinya..

Kapasitas produksi masyarakat atas produk yang dihasilkan saat ini diserap pasar dalam

ukuran kiloan, sehingga nilainya sangat ditentukan oleh harga pasar. Sedangkan kemampuan

untuk menemukan pasar baru di luar penjualan kiloan belum mampu bersaingan dengan produk

jadi yang sudah ada di pasar tertentu.

Berdasarkan masih besarnya peluang permintaan produk pangan maka pemerintah Desa

Ngluwar berupaya menumbuhkan potensi lokal berbasis kompetensi sumberdaya manusianya.

Pemanfaatan hasil pertanian dan perkebunannya harus dilakukan secara optimal, yaitu dengan

memanfatkan ilmu Teknologi Pengolahan pangan. Mengingat persaingan cukup tinggi,

produk-produk makanan lokal hasil UKM setempat memerlukan pendampingan oleh perguruan tinggi,

mengingat tingkat pengetahuan dan skill SDM lokal belum mampu mendorong peningkatan

produk yang ada.

Dengan memperhatikan Undang-Undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program

Pembangunan Nasional serta amanatnya dalam rangka meningkatkan produksi dan konsumsi

yang beragam untuk menunjang Program Peningkatan Ketahanan Pangan maka perlu

pembinaan dan pengembangan UKM melalui Diversifikasi Pangan Olahan Berbahan Baku

Lokal.

Oleh karenanya perlu pengawalan terhadap UKM agar memiliki cara produksi yang baik

(CPB) atau dalam bahasa asing dikenal Good Manufacturing Practice (GMP), harus diterapkan

kepada semua aspek-aspek yang berhubungan dengan produksi, agar produk memenuhi

harapan konsumen, berarti bahwa produk yang dibeli pada kenyataanya sama dengan yang

diklaim pada label, tepat digunakan, tidak terkontaminasi dengan apapun yang mungkin

berbahaya dan tidak memiliki kandungan bahan kimiawi yang merusak kesehatan, sehingga

perlu standar pengawetan, pengemasan dan penyimpanan yang baik.

Dengan memperhatikan banyaknya permintaan yang terjadi tiap hari sesungguhnya para

UKM mampu memenuhi permintaan pasar, namun kemampuan belum bisa optimal karena

(5)

Tabel 1 . Potensi Permintaan Pasar

No Produk UKM Kapasitas (1 bal: 2,5Kg) Permintaan

1 Criping Ketela 21 ± 90 - 100 bal / hari ≥ 200 bal/hari

2 Criping Pisang 16 ± 90 - 100 bal / hari ≥ 200 bal/hari

Dari kapasistas produksi 21 UKM saat ini baru mampu menghasilkan ± 90 - 100 bal / hari

criping ketela dan 16 UKM juga baru mampu menghasilkan criping pisang sebanyak ± 90 -

100 bal / hari, karena masih adanya keterbatas kemampuan tiap UKM. Sedangkan potensi

permintaan pasar masih belum mampu dipenuhi, sehingga jika dibiarkan maka potensi pasar

tersebut dapat di raih oleh produk UKM luar wilayah desa Ngluwar.

Masalah yang Dihadapi UKM saat ini Pada umumnya, permasalahan yang dihadapi oleh

Usaha Kecil dan Menengah (UKM), antara lain meliputi:

1) Faktor Internal

a) Terbatasnya Akses Pembiayaan Permodalan merupakan faktor utama yang diperlukan

untuk mengembangkan suatu unit usaha. Minimnya permodalan UKM di desa Ngluwar

disebabkan oleh factor tikat perekonomian keluarga, yaitu UKM yang ada pada

umumnya masih merupakan usaha perorangan atau perusahaan yang sifatnya tertutup,

yang mengandalkan modal dari si pemilik usaha itu sendiri. Sedangakan kemampuan

untuk mengakses pendanaan dari luar masih belum dilakukan karena pola piker dan

kemampuan usahanya dianggap masih kecil sehingga menjadi penghambat kemajuan

usahanya.

b) Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) dari para UKM desa Ngluwar pada dasarnya

tumbuh secara tradisional dan merupakan usaha keluarga berkesinambungan. Pada sisi

lain tingkat pendidikan formal maupun dukungan pengetahuan dan skill masih belum

memadai untuk menopang perkembangan usahanya. Pengaruh system manajemen

pengelolaan usaha keluarga berdampak pada kesulitan berkembang, apalagi

kemampuan untuk memasukan perkembangan teknologi terapan baru untuk

meningkatkan kemampuan dan daya saing produk yang dihasilakn oleh usahanya.

c) Belum adanya dukungan jaringan usaha dan kemampuan penetrasi pasar yang kuat

membuat UKM desa Ngluwar mempunyai banyak keterbatasan menyebabkan sulit

(6)

d) Dengan lemahnya daya serap produk membuat UKM tidak mudah untuk

mengembangkan produksinya secara lebih besar serta kualitasnyapun menjadi kurang

kompetitif. UKM.

e) Factor mentalitas pelaku usaha UKM belum memadai, dimana jiwa kewirausahaan

menjadi hal penting yang sering dilupakan dalam pembinaan dan pengembangan UKM

di pedesaan. Suasana pedesaan yang menjadi latar belakang dari UKM seringkali

memiliki andil juga dalam membentuk kinerja para pelaku usaha UKM. Beberapa

diantaranya konerja atau ritme kerja cenderung datar (kurang aktif) untuk menemukan

peluang-peluang pasar, tidak uletnya membangun jaringan informasi dan kemitraan

yang memperlambat gerak majunya usaha.

2) Faktor Eksternal

a) Iklim usaha belum sepenuhnya kondusif untuk upaya pemberdayaan Usaha Kecil dan

Menengah (UKM. Banyak factor yang mempengaruhi dalam pengabilan kebijakan oleh

pemerintah dalam memberdayakan UKM. Iklim persaingan masih dirasa kurang sehat

dan terkadang merugikan para pelaku usaha kecil.

b) Banyak UKM masih memiliki keterbatasan dalam penyediaan sarana dan prasarana

usaha. Minimnya informasi tentang kemanjuan teknologi terapan mwembuat para

UKM lamban dalam memanfatkan kesempatan itu. Akibatnya masih banyak sarana dan

prasarana yang mereka miliki kurang mendukung kemajuan usahanya.

c) Rendahnya kualitas produk teruatama makanan olahan local (home industry) membuat

UKM tidak mudah bersaing secara lebih luas di lini produknya. Faktornya adalah sifat

produk dengan ketahanan pendek. Sebagian besar produk industri kecil memiliki ciri

atau karakteristik sebagai produk-produk yang kurang bertahan lama. Banyakk factor

meliputi bahan baku kurang baik, system produksi yang kurang memenuhi criteria baik

serta pengemasan produk yang tidak baik.

d) Terbatasnya akses pasar menyebabkan produk yang dihasilkan UKM tidak dapat

dipasarkan secara kompetitif. UKM hanya sebatas melayani konsumen perantara yang

justru ikut menentukan harga pembelian kepada UKM.

e) Dengan keterbatasan akses informasi, UKM akan sedikit banyak memberikan pengaruh

terhadap kemampuan untuk berkompetisi pada produk yang sama dari UKM lain,

sehingga tidak dapat diketahui seberapa besar daya saing dan kualitas produk yang

(7)

METODE

Atas berbagai masalah yang dihadapi oleh masyarakat di Desa Ngluwar, khususnya di

maka disusun solusi yang dapat dilaksanakan selama pelaksanaan KKN PPM, yaitu :

a. FGD, yaitu melaksanakan dialog dengan para UKM yang masih aktif dalam usahanya

guna menemukenali permasalahan utama dari usahanya dan penguatan komitmen

usaha yang berorientasi pada kebutuhan pasar.

b. Pemetaan dan identifikasi bahan baku pangan lokal yang potensial digunakan dalam

pembuatan produk pangan.

c. Perencanaan kegiatan bisnis (bisnis plan) di tingkat kelompok sasaran.

d. Penerapan Teknologi pengolahan pangan pada produk unggulan serta pemasarannya

berbasis konsep ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal) untuk meningkatkan daya saing

UKM.

e. Melaksanakan Penyediaan teknologi terapa berupa alat pendukung usaha yang dapat

meningkatkan kualitas produk secara terpadu.

f. Pelatihan pengolahan pangan local secara baik dan benar.

g. Pelatihan Manajemen usaha dan administrasi keuangan UKM

h. Pendampingan masyarakat UKM Desa Ngluwar agar ada keberlanjutan kegiatan

usahanya sesuai dengan prinsip ASUH.

PELAKSANAAN PROGRAM

Pelaksanaan Program meliputi :

a. Dialog dengan para UKM menemukenali permasalahan utama dan penguatan

komit-men usaha berorientasi pasar

b. Penyuluhan Kewirausahaan dalam UKM (Bisnis Plan)

c. Praktek pembuatan Bisnis Plan di kelompok UKM

d. Pengenalan Teknologi Pengolahan Pangan

e. Pengenalan Pangan Berbahan Baku Lokal (gambaran macam dan sifat masing-masing

bahan serta gizi bahan makanan)

f. Pengenalan Bahan Tambahan Pangan (BTP)

g. Good Manufacturing Practice (GMP)/ Cara Produksi yang Baik (CPB)

h. Manajemen Pangan dengan konsep ASUH (Aman, Sehat, Utuh dan Halal) / sanitasi,

hygiene dan keamanan pangan.

i. Perencanaan dan Cara Mendesain Kemasan

(8)

k. Praktik Pengolahan Pangan Lokal

l. Penyediaan fasilitas produksi untuk mendukung peningkatan kuantitas dan kualitas

produk pangan.

m. Pelatihan pemasaran produk secara sederhana dan efektif .

n. Pelatihan Administrasi dan Keuangan Usaha.

Profil Mitra kerjasama

a. Para pelaku usaha (UKM) Desa Ngluwar sudah lama memiliki pengolahan produk pangan

yang dihasilkan industri rumah tangga. Para pelaku usaha (UKM) jumlahnya cukup

lumayan untuk ukuran Desa di kabupaten Magelang yaitu berkisar 81 UKM. Hasil produk

olahan pangan tersebut dipasarkan ditingkat lokal dan keluar wilayah kecamatan Ngluwar

b. Berdasarkan potensi yang paling menonjol adalah industri pengolahan produk makanan,

diantaranya meliputi :

c. Dari 81 unit usaha (UKM) dengan produk pada tabel di atas, bahwa produk yang paling

besar diserap pasar adalah produk berbahan ketela dan pisang. Produk berbahan ketela dan

pisangpun jenisnya adalah criping. Sedangkan sebagian produk lainnya masih

membutuhkan waktu untuk berkembangan seperti produk criping.

d. Dengan kondisi di atas maka pada tahun 2014 telah diupayakan untuk menumbuh

(9)

untuk memberi nilai tambah bagi usaha masyarakat, baik usaha yng sudah berjalan maupun

warga masyarakat yang akan merintis atau memulai usaha baru.

e. Para UKM desa Ngluwar sesungguhnya memiliki banyak permintaan produk yang cukup

besar. Diantara produk yang paling banyak diminati adalah produk criping pisang dan

criping ketela. Mulai tahun tahun 2000 banyak pihak telah mengupayakan pembinaan

hasil-hasil pertanian dan perkebunan namun belum masimal karena dukungan banyak

pihak masih sebatas pembinaan pengetahuan dan skill yang tidak berkelanjutan sehingga

hasil yang diharpkantidak bias mempengaruhi perubahan ekonomi keluarga di masyarakat.

Tahapan Realisasi Program

Pada pelaksanaan KKN di desa Ngluwar telah dilakukan pertemuan awal dengan

masyarakat teruatama mengundang kelompok UKM untuk memaparkan progran KKN

Tematik, terkait program-program yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat sasaran.

Selanjutnya dilakukan kegiatan berdasarkan acuan program yang telah disusun dalam

program-program KKN PPM meliputi :

a. Dialog dengan para UKM menemukenali permasalahan utama dan penguatan komitmen

usaha berorientasi pasar, dimana para UKM yang ada di desa Ngluwar masih bersifat

tradisional dalam pengelolaan, dan pemahaman terhadap pasar masih sebatas jualan produk.

Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 3 dan 4 Agustus 2016 jam 19.30 WIB.

Gambar 3. Dialog dengan para pelaku usaha lokal (UKM)

b. Pemetaan bahan pangan lokal yang potensial untuk pengolahan produk pangan baru.

Beberapa bahan pangan yang dikelola masyarakat masih ada yang belum diolah dan masih

dijual mentah dari hasil budidaya tanaman pangan. Olehkarenanya perlu pemetaan ulang

dan pendampingan untuk memberikan bantuan pemikiran ataupun skliil biladibutuhkan

untuk pengolahan pasca budidaya. Pelaksanaan ini dilakukan membutuhkan kecermatan

(10)

tambah atau tidak sehingg mampu menaikan harga jual yang lebih baik. Dilaksanakan mulai

tanggal 4 Agustus 2016 hingga waktu 12 Agustus 2016

Gambar 4. Pemetaan Potensi bahan pangan lokal

c. Pendampingan kepada para UKM lokal untuk melihat kembali unit usahanya yang sedang

berjalan guna melihat potensi berkembangnya usaha melalui pengelolaan yang baik dan benar.

Proses ini memberikan dampingan pembelajaran secara utuh kepada para UKM berdasarkan

kasus usaha masing-masing UKM. Proses ini membutuhkan waktu yang cukup panjang. Proses

ini diarahkan hingga pembelajaran pada Perencanaan Bisnis UKM skala kecil hingga menengah

(Bisnis Plan). Dilaksanakan mulai tanggal 6 Agustus 2016 dan diharapkan bisa mendampingan

beberapa UKM hingga tanggal 13 Agustus 2016

Gambar 5. Penyuluhan Bisnis Plan bagi beberapa UKM lokal

Gambar 6. Pendampingan Pemahaman Bisnis Plan bagi beberapa UKM lokal

d. Pembinaan para UKM local agar memiliki wawasan dan mengerti perlunya produk yang di

(11)

dilakukan pendampingan untuk mengikuti aturan dan ketentuan mengenai produksi makanan

yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH) sesuai yang disyaratkan oleh pemerintah melalui

BPOM. UKM didampingi untuk mendaftar produknya guna mendapatkan ijin produksi (PIRT)

terhadap usaha produksi makanan olahan yang menjadi sumber pendapatan keluarganya.

Dilaksanakan tanggal 14 s/d 15 Agustus 2016.

Gambar 7. Pendampingan kepada para UKM untuk mewujudkan produk terstandart BPOM

e. Sebagai bagian dari proses pembinaan dan pengembangan UKM maka KKN UII bekerjasama

dengan Pemerintah Desa Ngluwar untuk meningkatkan kemampuan produksi para UKM yang

ada. Dari beberapa UKM yang ada terdapat beberapa yang masih membutuhkan pendampingan

guna meningkatkan kemampuan produksinya. Salah satunya adalah dengan memberikan

bantuan alat-alat produksi yang sesuai dan dibutuhkan para UKM tersebut. Bersama pemerintah

desa maka para UKM diberikan pengarahan tentang motivasi dan kemampuan berwirausaha

Agar para UKM memiliki semangat untuk menumbuhkembangkan usahanya keraha yang lebih

baik.

Gambar 8. Penyerahan bantuan alat produksi bagi UKM dari mahasiswa dan pengarahan

pembinaan dari Desa

f. Bagi para UKM telah memiliki berbagai produk hasil usahanya dengan segala kemampuannya,

dan masing-masing punya teknik atau cara yang berbeda dalam pengolahan bahan baku sebagai

dasar produknya. Dengan menggunakan alat rekayasa produk maka para UKM telah mencoba

menggunakan teknologi yang lebih baik dari sebelumnya. Para UKM selama ini menggunakan

pisau atau alat pemotong lain untuk mengolah bahan baku seperti ketela, pare, kentang atau

(12)

menghemat tenaga, memudahkan pemotongan bahan sesuai ukuran yang sama. Pelaksanaannya

dilakukan tanggal 18 Agustus 2016.

Pemotongan manual

(pisau) Tangan

Gambar 9. Pengenalan Teknologi Pengolahan bahan Pangan

g. Pengenalan Pangan Berbahan Baku Lokal (gambaran macam dan sifat masing-masing bahan

serta gizi bahan makanan) melalui 2 kali penyuluhan kepada para UKM maupun warga

masyarakat sekitar. Kegiatannya dilaksanakan pada tanggal 20 dan 21 Agustus 2016.

Gambar 10. Penyuluhan Pangan Berbahan Baku Lokal (macam dan sifat - gizi makanan)

Selanjutnya dilakukan beberapa praktek mengenai pengolahan bahan makanan pilihan lain

sebagai produk baru (ketela, jagung dan tepung). Dilaksanakan pada tanggal 22 s/d 23 Agustus

(13)

Gambar 11. Praktek Pengolahan Pangan Berbahan Baku Lokal

h. Dari beberapa produk para UKM dapat di evaluasi melalui kegiatan penyuluhan tentang konsep

pemasaran baik yang sederhana. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 25 Agustus 2016.

Pemasaran juga berkaitan dengan pola pengemasan produk para UKM yang selama ini sudah

ada. Pengemasan dapat dipilah berdasarkan permintaan pasar dan kebutuhan konsumen.

Gambar 12. UKM dan masyarakat dikenalkan desain kemasan menarik sesuai kebutuhan

produk

Beberapa produk dijual berdasarkan konsumen yang menghendaki dengan model ukuran

tertentu dan model curah, sehingga pengemasan akan menyesuaikan pilihan konsumen tersebut.

Dengan adanya dua moidel serapan pasar oleh konsumen maka mahasiswa mendorong untuk

melakukan pengemasan yang baik dan tahan terhadap segala kondisi. Beberapa contoh kemasan

di atas merupakan kemasan untuk melayani model konsumen menengah keatas sehingga

diperlukan pengenalan konsep pengemasan yang baik dan menarik.

Sedangkan pengemasan yang memenuhi konseumen tertentu model kemasannya tertentu pula

(14)

Gambar 13. Pengolahan dan Produk olahan

Gambar 14. Pengemasan produk olahan

Gambar 15. Pengemasan produk olahan kg, gram dan ball

i. Sebagai tahap lanjutan dari pembinaan bagi para UKM adalah memberikan penyuluhan

terhadap segala yang terkait administrasi, seperti penyuluhan keuangan, penghitungan HPP

(15)

Gambar 17. Penyuluhan administrasi dan Keuangan

j. Proses hasil pembinaan UKM diharapkan ada umpan balik dari masyarakat luas maka

dilakukan pameran produk UKM di tingkat Kecamatan untuk siar produk terhadap masyarakat

luas. Beberapa produk ditampilkan dan di tunjukkan pula profil Desa Ngluwar tahap awal

(editan awal) sebagai gambaran tentang usaha-usaha masyarakat di berbagai bidang.

Gambar 18. Pameran di Kecamatan Ngluwar : produk alternative dari hasil pelatihan kepada

(16)

Gambar 19. Profil Desa Ngluwar : beberapa tampilan halaman profil

KESIMPULAN

Program kegiatan KKN UII di desa Ngluwar ini masih tahap awal sehingga kegiatan

masih belum banyak, yaitu mulai seleksi awal mahasiswa hingga pelaksanaan beberapa

kegiatan KKN yang direncanakan. Oleh karenanya kegiatan yang terlaporankan masih

sementara. Maka dapat disimpulkan meliputi :

1. Kegiatan-kegiatan awal persiapan dan pembinaan melalui program sudah dilaksanakan

guna mewujudkan hasil yang diharapkan.

2. Kegiatan dialog dan pemetaan usaha masyarakat UKM dan kegiatan dampingan

perencanaan usaha sudah dilaksanakan sehingga kegiatan KKN sudah berjalan sesuai

dengan arah dan sasaran program.

3. Beberapa luaran seperti

a. adanya pemahaman tentang pentingnya melakukan perencanaan bisnis tradisional

melangkah pada perencanaan bisnis yang lebih maju.

b. terlatihnya kelompok usaha masyarakat dalam pembuatan rencana usaha kedepan

dengan berbasis potensi wilayah.

c. Terpetakannya bahan-bahan hasil budidaya lokal yang potensi untuk dikembangkan

sebagai alternative diversifikasi produk makanan lokal (seperti tumbuhan

gagan-gaganan, pace dan kenikir)

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Direktorat Riset dan Pengabdian masyarakat

(17)

hibah untuk pelaksanaan kegiatan Pengabdian Masyarakat KKN-PPM (Kuliah Kerja

Nyata-Program Pemberdayaan Masyarakat) ini.

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. 1995. Daftar Komposisi Zat Gizi Pangan Indonesia. Departemen

Kesehatan RI, Indonesia, Departemen Kesehatan, Direktorat Jenderal Pembinaan

Kesehatan Mayarakat, Jakarta.

Undang-Undang RI Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan.

Gambar

Gambar 3. Dialog dengan para pelaku usaha lokal (UKM)
Gambar 4. Pemetaan Potensi bahan pangan lokal
Gambar 7. Pendampingan kepada para UKM untuk mewujudkan produk terstandart BPOM
Gambar 10. Penyuluhan Pangan Berbahan Baku Lokal (macam dan sifat - gizi makanan)
+5

Referensi

Dokumen terkait

Penyelenggaraan proses pembelajaran yang dilakukan oleh lembaga pendidikan belum maksimal sesuai apa yang diharapkan, dimana permasalahan yang muncul atau mengemuka ke

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, dalam kegiatan penelitian ini diharapkan menghasilkan luaran sebagai berikut: (1) Teridentifikasinya permasalahan

Dari Latar belakang yang menunjukkan bahwa masih pentingnya untuk memotivasi kegiatan IKM dan UKM di atas, maka Peneliti dalam penelitian ini mengambil Judul:

Latar belakang pada penelitian ini yaitu terdapatnya kader yang belum mampu mengetahui dasar-dasar jurus tapak suci, maka melalaui peranan nilai ketapak sucian

Lanjar.com sebagai media bisnis online di harapkan menjadi sarana pelaku bisnis UKM (Usaha Kecil dan Menengah) dan pebisnis online, yang diharapkan menjadi penopang yang

Sehubungan dengan latar belakang permasalahan tersebut, dipandang perlu melakukan kajian kebijakan pengembangan kompetensi SDM sektor pariwisata pada era reformasi birokrasi, yang

Dari latar belakang, yang telah diuraikan diatas, terdapat tiga rumusan masalah yang menjadi pokok bahasan yaitu : Mengapa pelaku usaha hotel Yusro belum melakukan prosedur

berdasarkan dari surver ke tiap pelaku UMKM di desa Cibadak lebih beragam pada pengusaha kecil dari pada pengusaha mikro, dimana latar belakang ekonomi juga merupakan alasan utama, akan